Anda di halaman 1dari 26

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

DISMENORE PRIMER

Oleh :

Pembimbing :

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

ii
PRAKATA

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................................... ii

PRAKATA ....................................................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ v

DAFTAR TABEL ............................................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

BAB II TINJUAN PUSTAKA ......................................................................................... 2

2.1 Definisi Dismenore Primer ............................................................................... 2

2.2 Etiologi Dismenore Primer ............................................................................... 2

2.3 Epidemiologi Dismenore Primer ...................................................................... 3

2.4 Siklus Menstruasi .............................................................................................. 3

2.5 Faktor Risiko Dismenore Primer ...................................................................... 6

2.6 Gejala Dismenore Primer .................................................................................. 9

2.7 Patofisiologi Dismenore Primer ........................................................................ 10

2.8 Diagnosis Dismenore Primer ............................................................................ 12

2.9 Terapi Dismenore Primer .................................................................................. 13

2.10 Diagnosis Banding Dismenore Primer ............................................................ 17

BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 19

3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 19

3.2 Saran .................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 20

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Siklus Mentruasi ............................................................................................. 6

Gambar 2. Patofisiologi Nyeri pada Dismenore Primer ................................................... 11

Gambar 3. Faktor Risiko dan Kejadian Nyeri Menstruasi ............................................... 11

Gambar 4. Alur Diagnosis Dismenore Primer ................................................................. 13

Gambar 5. Algoritma Tatalaksana Dismenore Primer ..................................................... 17

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Dosis NSAID untuk Dismenore Primer ............................................................. 14


Tabel 2. Perbedaan Dismenore Primer dan Sekunder ...................................................... 18

vi
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan menstruasi menimbulkan masalah kesehatan yang cukup besar pada


remaja wanita karena gangguan menstruasi tidak hanya mempengaruhi kesuburan di masa
mendatang, tapi juga mempengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.
Gangguan menstruasi yang paling sering dialami remaja saat ini salah satunya yaitu
dismenore.1 Dismenore adalah nyeri pada saat mnstruasi, biasanya berupa kram rahim yang
berlokasi perut bawah bagian tengah. Dismenore umumnya diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer merupakan kondisi nyeri
haid yang dihubungkan dengan siklus ovulasi dan merupakan hasil dari kontraksi
myometrium, yang dapat dibuktikan bahwa tidak ada penyebab lain dari timbulnya nyeri haid
tersebut. Sedangkan, dismenore sekunder merujuk pada nyeri selama menstrusi yang
berhubungan dengan keadaan patologis pada pelvis, seperti endometriosis, adenomiosis, atau
mioma uteri.2
Etiologi dismenore primer diduga salah satunya adalah ketidakseimbangan jumlah
sekresi prostaglandin selama menstruasi, dalam hal ini terjadi peningkatan prostaglandin F2-
alfa yang merupakan siklooksigenase (COX-2) yang mengakibatkan hipertonus dan
vasokonstriksi pada myometrium sehingga terjadi iskemia dan nyeri pada bagian bawah
perut.1,4 Gejala tersering yang dialami remaja yaitu nyeri yang bisa mengurangi performa
seseorang dalam aktivitas sehari-hari maupun performa di sekolah. Pada kenyataannya bahwa
dismenore adalah penyebab utama absen (ketidak hadiran) berulang di sekolah pada remaja
wanita.1 Dismenore primer normalnya memang terjadi pada beberapa tahun pertama setelah
seseorang menarke.3
Sebanyak 90% dari remaja wanita di seluruh dunia mengalami masalah saat
menstruasi dan 50% dari remaja wanita tersebut mengalami dismenore primer.4 Berdasarkan
penelitian yang dilakukan di Jepang didapatkan bahwa dismenore primer banyak terjadi pada
remaja wanita usia 12 sampai 15 tahun.1 Beberapa faktor risiko yang diduga sebagai factor
yang berubungan dengan kejadian dismenore primer yaitu: usia menarke (usia pertama kali
menstruasi) <12 tahun, nulipara, siklus menstruasi yang memanjang, merokok, adanya
riwayat keluarga dengan dismenore primer, dan obesitas.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Dismenore Primer


Dismenore primer didefinisikan sebagai nyeri, kram/kejang pada abdomen bagian
bawah yang terjadi sebelum dan/atau selama menstruasi dan dapat dibuktikan tidak
adanya kondisi patologis pada pelvis.5 Dismenore primer adalah kondisi yang
berhubungan dengan siklus menstruasi dan merupakan hasil dari kontraksi myometrium
tanpa adanya penyakit lain yang berhubungan.2

2.2 Etiologi Dismenore Primer


Etiologi dismenore selama ini diabaikan dalam waktu yang cukup lama, namun
belakangan ini penelitian-penelitian untuk mengetahui etiologi dari dismenore telah
banyak dilakukan. Pickles adalah orang pertama yang mengungkapkan bahwa etiologi
dari dismenore adalah “menstrual stimulant”dan belakangan diketahui bahwa stimulant
menstruasi yang dimaksud yaitu prostaglandin E2 dan F2. Ada banyak penelitian yang
menghubungkan kejadian dismenore dengan aksi prostaglandin sebagai etiologinya,
dimana jumlah prostaglandin E2 dan F2 meningkat pada kasus dismenore, mioma dan
lain-lain. Prostaglandin E2 dan prostaglandin F2 sangat tinggi konsentrasinya yang
disekresi di endometrium dan dalam cairan menstruasi wanita dengan dismenore primer.
Prostaglandin F2 adalah uterokonstriktor oksitosik yang kuat sehingga apabila terdapat di
dalam Rahim maka akan menimbulkan rasa sakit yang hebat seperti yang terjadi pada
kasus dismenore dan juga menyebabkan menstrual bleeding. Sedangkan, peran
prostaglandin E2 sendiri tidak diketahui secara pasti tetapi prostaglandin E2 dapat
meningkatkan sensibilitas dari saraf.6
Penyebab meningkatnya kadar prostaglandin pada dismenore primer tidak
diketahui secara pasti. Dismenore primer terjadi pada siklus ovulasi dan seperti yang
diketahui bahwa hormon steroid pada ovarium mempengaruhi kontraktilitas uterus.
Namun, meskipun tidak ditemukan adanya abnormalitas kadar hormonal pada wanita
dengan dismenore primer tidak mampu mematahkan alasan ilmiah hubungan antara
dismenore primer dengan prostaglandin.6
Faktor lain yang juga berhubungan dengan etiologi dismenore primer adalah
sintesis leukotrin pada uterus, peningkatan sekresi vasopressin, endotelin atau faktor
activator dari trombosit. Faktor psikologi dan kondisi serviks dahulu dianggap sebagai

2
etiologi terpenting pada kasus dismenore primer, namun saat ini kedudukan kedua faktor
tersebut telah disingkirkan oleh penemuan tentang hormone dan prostaglandin yang
diduga berperan lebih besar pada kejadian dismenore primer. Namun demikian, kita harus
tetap mengakui bahwa beberapa pasien yang mengalami dismenore primer karena
gangguan psikologis berupa somatisasi. Faktor emosional juga berperan dalam kejadian
dismenore primer.6

2.3 Epidemiologi Dismenore Primer


Dismenore adalah salah satu masalah ginekologi yang paling sering terjadi pada
wania usia reproduksi. Dismenore primer biasanya mulai terjadi pada usia remaja, tapi
hanya terjadi setelah siklus ovulasi dimulai: 20-45% dari remaja wanita terjadi ovulasi 2
tahun setelah menarke, dan 80% terjadi 4-5 tahun setelah menarke. Secara keseluruhan,
prevalensi dismenore primer pada remaja wanita antara 60% sampai dengan 90% dan
menurun seiring dengan pertambahan usia. Namun, hanya sekitar 15% dari remaja wanita
yang mencari pengobatan untuk keluhan nyeri menstruasinya. Pada penelitian yang
dilakukan di Sweden pada remaja wanita usia 19 tahun 72% dilaporkan mengalami
dismenore dan hanya 38% yang melakukan pengobatan, 15% yang membatasi aktivitas
sehari-harinya meskipun telah mendapatkan pengobatan, dan 8% absen di sekolah
ataupun di tempat kerja setiap kali menstruasi. Beratnya dismenore berkaitan langsung
dengan volume dan durasi menstruasi. Suatu penelitian kohort menunjukkan bahwa
prevalensi dismenore menurun 67% ketika usia mencapai 24 tahun, dengan 10%
dilaporkan tetap membatasi aktivitas sehari-hari. Beratnya dismenore juga menurun pada
wanita yang telah melahirkan, tapi tidak menurun pada wanita yang keguguran atau
aborsi, dismenore juga menurun pada pengguna kontasepsi oral.2 Pada penelitian yang
dilakukan pada wanita pekerja tekstil didapatkan hasil 94.6% mengalami dismenore
selama lebih dari 12 bulan.7

2.4 Siklus Menstruasi


Menstruasi adalah suatu keadaan fisiologis atau normal, merupakan peristiwa
pengeluaran darah, lendir dan sisa-sisa sel secara berkala yang berasal dari mukosa uterus
dan terjadi relatif teratur mulai dari menarche sampai menopause, kecuali pada masa
hamil dan laktasi. Lama perdarahan pada menstruasi bervariasi, pada umumnya 4-6 hari,
tapi 2-9 hari masih dianggap fisiologis. Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya
estrogen dan progesterone secara tiba-tiba, terutama progesteron pada akhir siklus

3
ovarium bulanan. Dengan mekanisme yang ditimbulkan oleh kedua hormon di atas
terhadap sel endometrium, maka lapisan endometrium yang nekrotik dapat dikeluarkan
disertai dengan perdarahan yang normal. Selama siklus menstruasi, jumlah hormon
estrogen dan progesterone yang dihasilkan oleh ovarium berubah. Bagian pertama siklus
menstruasi yang dihasilkan oleh ovarium adalah sebagian estrogen. Estrogen ini yang
akan menyebabkan tumbuhnya lapisan darah dan jaringan yang tebal diseputar
endometrium. Di pertengahan siklus, ovarium melepas sebuah sel telur yang dinamakan
ovulasi. Bagian kedua siklus menstruasi, yaitu antara pertengahan sampai datang
menstruasi berikutnya, tubuh wanita menghasilkan hormone progesteron yang
menyiapkan uterus untuk kehamilan. FSH adalah hormon glikoprotein yang memacu
pematangan folikel selama fase folikuler dari siklus. FSH juga membantu LH memacu
sekresi hormone steroid, terutama estrogen oleh sel granulosa dari folikel matang. LH
berperan dalam steridogenesis dalam folikel dan penting dalam ovulasi yang tergantung
pada mi-cycle surge dari LH. Aktivitas siklik dalam ovarium atau siklus ovarium
dipertahankan oleh mekanisme umpan balik yang bekerja antara ovarium, hipotalamus,
dan hipofisis.2,17
Siklus menstruasi dibagi menjadi siklus ovarium dan siklus endometrium. Di
ovarium terdapat tiga fase, yaitu fase folikuler, fase ovulasi dan fase luteal. Di
endometrium juga dibagi menjadi tiga fase yang terdiri dari fase menstruasi, fase
proliferasi dan fase ekskresi.2,17
a. Fase Proliferatif
Pada fase proliferatif terjadi proses perbaikan regeneratif, setelah endometrium
mengelupas sewaktu menstruasi. Permukaan endometrium dibentuk kembali dengan
metaplasia sel-sel stroma dan pertumbuhan keluar sel-sel epitel kelenjar endometrium
dan dalam tiga hari setelah menstruasi berhenti, perbaikan seluruh endometrium sudah
selesai. Pada fase proliferatif dini, endomentrium tipis, kelenjarnya sedikit, sempit,
lurus, dan dilapisi sel kuboid, dan stromanya padat. Fase regeneratif dini berlangsung
dari hari ke tiga siklus menstruasi hingga hari ke tujuh, ketika proliferasi semakin
cepat. Kelenjar-kelenjar epitel bertambah besar dan tumbuh ke bawah tegak lurus
terhadap permukaan. Sel-selnya menjadi kolumner dengan nukleus di basal sel-sel
stroma berploriferasi, tetap padat dan berbentuk kumparan. Pembelahan sel terjadi
pada kelenjar dan stroma. Pada saat menembus endometrium basal, masing-masing
arteri berjalan lurus, tetapi pada lapisan superfisial dan media arteri berubah menjadi
spiral.2,17

4
b. Fase Luteal
Pada fase luteal, jika terjadi ovulasi maka endometrium akan mengalami perubahan
yang nyata, kecuali pada awal dan akhir masa reproduksi Perubahan ini mulai pada 2
hari terakhir fase proliferatif, tetapi meningkat secara signifikan setelah ovulasi.
Vakuol-vakuol sekretorik yang kaya glikogen tampak di dalam sel-sel yang melapisi
kelenjar endometrium. Pada mulanya vakuol-vakuol tersebut terdapat di bagian basal
dan menggeser inti sel ke arah superfisial. Jumlahnya cepat meningkat dan kelenjar
menjadi berkelok-kelok. Pada hari ke enam setelah ovulasi, fase sekresi mencapai
puncak. Vakuol-vakuol telah melewati nukleus. Beberapa di antaranya telah
mengeluarkan mukus ke dalam rongga kelenjar. Arteri spiral bertambah panjang
dengan meluruskan gulungan. Apabila tidak ada kehamilan, sekresi estrogen dan
progesteron menurun karena korpus luteum menjadi tua. Penuaan ini menyebabkan
peningkatan asam arakidonat dan endoperoksidase bebas di dalam endometrium.
Enzim-enzim ini menginduksi lisosom sel stroma untuk mensintesis dan mensekresi
prostaglandin (PGF2α dan PGE2) dan prostasiklin. PGF2α merupakan suatu
vasokonstriktor yang kuat dan menyebabkan kontraksi uterus, PGE2 menyebabkan
kontraksi uterus dan vasodilatasi, sedangkan prostasiklin adalah suatu vasodilator,
yang menyebabkan relaksasi otot dan menghambat agregasi trombosit. Perbandingan
PGF2α dengan kedua prostaglandin meningkat selama menstruasi. Perubahan ini
mengurangi aliran darah melalui kapiler endometrium dan menyebabkan pergeseran
cairan dari jaringan endometrium ke kapiler, sehingga mengurangi ketebalan
endometrium. Hal ini tersebut menyebabkan bertambahnya kelokan arteri spiral
bersamaan dengan terus berkurangnya aliran darah. Daerah endometrium yang
disuplai oleh arteri spiral menjadi hipoksik, sehingga terjadi nekrosis iskemik. Daerah
nikrotik dari endometrium mengelupas ke dalam rongga uterus disertai dengan darah
dan cairan jaringan, sehingga menstruasi terjadi.2,17
c. Fase Menstruasi
Pada fase menstruasi lapisan endometrium superifisial dan media dilepaskan, tetapi
lapisan basal profunda endometrium dipertahankan. Endometrium yang lepas bersama
dengan cairan jaringan dan darah membentuk koagulum di dalam uterus. Koagulum
ini segera dicairkan oleh fibrinolisin dan cairan, yang tidak berkoagulasi yang
dikeluarkan melalui serviks dengan kontraksi uterus. Jika jumlah darah yang
dikeluarkan pada proses ini sangat banyak mungkin fibrinolisin tidak mencukupi
sehingga wanita in mengeluarkan bekuan darah dari serviks.2,17

5
Gambar 1. Siklus Mentruasi17
2.5 Faktor Risiko Dismenore Primer
Berbagai faktor risiko dismenore primer telah diidentifikasi dalam berbagai
literatur dengan hasil prevalensi yang sangat beragam. Faktor risiko ini berhubungan
dengan meningkatnya kejadian dismenore primer. Faktor risiko tersebut antara lain:4
a. Menarke usia dini
Haid yang pertama kali dialami seorang wanita adalah menarke. Menarke merupakan
indeks pematangan fisik dari organ reproduksi seorang wanita. Pada penelitian Charu
et al. disebutkan bahwa rata-rata usia menarke umumnya pada umur 12-14 tahun.
Berdasarkan survey nasional, rata-rata usia menarke remaja putri di Indonesia adalah
12,96 tahun dengan prevalensi menarke dini sebesar 8,8%. Menarke usia dini
memiliki kaitan dengan beberapa komplikasi kesehatan termasuk penyakit
ginekologi. Wanita dengan usia menarke dibawah 12 tahun atau menarke dini

6
memiliki kesempatan 23% lebih tinggi untuk terjadinya dismenore dibandingkan
dengan wanita yang menarke pada usia 12-14 tahun. Pada penelitian dijelaskan
bahwa pada anak wanita yang mengalami menarke dini mengalami paparan
prostaglandin yang lebih lama sehingga menyebabkan kram dan nyeri pada perut.
Hubungan antara menarke dini dengan pola ormonal dari siklus menstruasi
merupakan faktor risiko penting terjadinya dismenore primer. Wanita dengan
menarke dini memiliki konsentrasi estradiol serum lebih tinggi tetapi hormon
testosterone dan dehidroepiandrosteron dalam konsentrasi yang lebih rendah.
Peningkatan hormon estradiol memiliki peran dalam mengatur onset pubertas pada
wanita. Peningkatan produksi hormon estradiol oleh tubuh dapat dipicu oleh
tingginya asupan daging maupun susu dari sapi yang disuntikkan hormon
pertumbuhan untuk meningkatkan produksi susu.4
b. Riwayat keluarga
Charu et al. mengemukakan bahwa 39.46% wanita yang menderita dismenore memiliki
keluarga dengan keluhan dismenore seperti ibu atau saudara kandung. Maka terdapat
korelasi yang kuat antara predisposisi familial dengan dismenore. Hal ini disebabkan adanya
faktor genetik yang memperngaruhi sehingga apabila ada keluarga yang mengalami
dismenore cenderung mempengaruhi psikis wanita tersebut. Pada penelitian Mool Raj et al.
pada wanita dengan riwayat anggota keluarga (ibu atau saudara) dengan keluhan dismenore
memiliki 3 kali kesempatan lebih besar mengalami dismenore dibandingkan wanita tanpa
riwayat keluarga dismenore.4,8
c. Indeks Massa Tubuh
Kejadian dismenore berhubungan dengan status gizi seorang wanita. Salah satu pengukuran
status gizi yaitu berdasarkan indeks masa tubuh (IMT).17 Wanita dengan indeks masa tubuh
(IMT) kurang dari berat badan normal dan kelebihan berat badan (overweight) lebih
mungkin untuk menderita dismenore jika dibandingkan dengan wanita dengan IMT
normal.13 Pada penelitian Manorek et al. di salah satu Sekolah Menengah Atas di Manado di
temukan dari 23% siswi dengan status gizi tidak normal (gemuk dan kurus), 75,8%
diantaranya mengalami dismenore. Sehingga dapat disimpulkan bahwa status gizi berkaitan
erat dengan tingkat kejadian dismenore. Pada wanita dengan IMT kurang dari berat normal
dapat menjadi salah satu faktor konstitusi yang dapat menyebabkan kurangnya daya tahan
tubuh terhadap rasa nyeri sehingga dapat terjadi dismenore. Selain itu pada pasien dengan
berat badan kurang dari normal ditemukan adanya kekurangan energi kronis yang dapat
menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sedangkan pada wanita dengan kelebihan berat
badan cenderung memiliki lemak yang berlebih yang dapat memicu timbulnya hormon yang

7
dapat mengganggu sistem reproduksi pada saat haid sehingga dapat menimbulkan nyeri.17
Ditemukan bahwa kelebihan berat badan memiliki frekuensi dismenore primer dua kali lebih
besar dibandingkan dengan kekurangan berat badan dan memungkinkan mengalami nyeri
yang lebih lama.4,8
d. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji
Menurut Singh et al. dalam hasil penelitiannya, dari total wanita yang mengisi kuisioner
didapatkan 79,43% memiliki kebiasaan memakan makanan cepat saji (junk food) didapatkan
16,82% di antaranya menderita dismenore.18 Makanan cepat saji memiliki kandungan gizi
yang tidak seimbang yaitu tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula, dan rendah serat.19
Kandungan asam lemak yang terdapat di dalam makanan cepat saji dapat mengganggu
metabolisme progesteron pada fase luteal dari siklus menstruasi. Akibatnya terjadi
peningkatan kadar prostaglandin yang akan menyebabkan rasa nyeri pada saat dismenore.
Prostaglandin terbentuk dari asam lemak yang ada dalam tubuh. Setelah ovulasi terjadi
penumpukan asam lemak pada bagian fospolipid pada sel membran. Pada saat kadar
progesteron menurun sebelum haid, asam lemak yaitu asam arakidonat dilepaskan dan
mengalami reaksi berantai menjadi prostaglandin yang dapat menimbulkan rasa nyeri saat
haid. Selain dismenore, kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji juga dapat
menimbulkan oligomenore, hipermenore, dan sindrom pre-menstruasi.4,8
e. Durasi perdarahan saat menstruasi
Durasi pendarahan saat haid normalnya empat sampai dengan 5 hari. Pada penelitian Kural
et al. dilaporkan dari 100 wanita yang menderita dismenore didapatkan 20% wanita tersebut
memiliki durasi perdarahan lebih dari 5 sampai 7 hari. Dengan analisis tersebut
menggambarkan wanita dengan perdarahan durasi lebih dari 5 sampai 7 hari memiliki 1,9
kali lebih banyak kesempatan untuk menderita dismenore. Lama durasi haid dapat
disebabkan oleh faktor psikologis maupun fisiologis. Secara psikologis biasanya berkaitan
dengan tingkat emosional wanita yang labil ketika akan haid. Sementara secara fisiologi
lebih kepada kontraksi otot uterus yang berlebihan atau dapat dikatakan sangat sensitive
terhadap hormone, akibatnya endometrium dalam fase sekresi memproduksi hormone
prostaglandin yang lebih tinggi. Semakin lama durasi haid, maka semakin sering uterus
berkontraksi akibatnya semakin banyak pula prostaglandin yang dikeluarkan sehingga timbul
rasa nyeri saat haid.4,8
f. Terpapar asap rokok dan konsumsi kopi
Pada studi epidemiologi menunjukan adanya hubungan antara dismenore dengan beberapa
faktor risiko lingkungan, termasuk merokok dan konsumsi kopi. Pada penelitian Chen et al.
pada 165 wanita yang terpapar asap rokok dan mengkonsumsi kopi, 13,3% di antaranya
menderita dismenore. Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara dismenore

8
dengan wanita yang terkena asap rokok secara pasif. Dilaporkan pada wanita yang terpapar
asap rokok secara pasif menderita dismenore dengan waktu yang lebih lama dibandingkan
yang tidak tepapar. Pengaruh merokok pasif pada dismenore diamati terjadi peningkatan
sebesar 30% dibandingkan dengan yang tidak merokok pasif. Mekanisme biologis yang
mempengaruhi kejadian dismenore diakibatkan dari nikotin yang bersifat vasokonstriktor
sehingga mengakibatkan berkurangnya aliran darah yang menuju endometrium. Selain itu,
asap rokok juga dipercaya memiliki sifat anti estrogenik. Kemampuan individu untuk
mengkonversi metabolit beracun asap rokok ke gugus yang kurang berbahaya penting untuk
meminimalkan efek kesehatan yang merugikan dari senyawa-senyawa yang terkandung di
dalam rokok. Gen yang berperan dalam detoksifikasi senyawa berbahaya ini adalah gen
CYP1A1. Dan dilaporkan bahwa gen CYP1A1 memiliki kecenderungan menurunkan risiko
dismenore.22 Mengkonsumsi kopi juga dapat mecetuskan nyeri saat haid, hal tersebut
dikarenakan kafein yang terkandung dalam kopi bersifat vasonkonstriksi terhadap permbuluh
darah sehingga menyebabkan aliran darah ke uterus berkurang dan menyebabkan kram.
Namun belum ditemukan penelitian mengenai kadar kafein yang dapat mengakibatkan
dismenore.4,8
g. Alexythimia
Pada penelitian Faramarzi et al. dari 360 siswi yang berpartisipasi 178 (49,4%) siswi di
antaranya memperlihatkan ciri-ciri alexithymia. Secara psikologis didapatkan hubungan
antara alexithymia dengan keadaan dismenore primer. Alexythimia didefinisikan sebagai
seseorang dengan kesulitan mengidentifikasi perasaan dan sulit untuk membedakan antara
perasaan dengan sensasi tubuh dari rangsangan emosional. Pada pasien alexithymia sulit
untuk menggambarkan dan menghargai perasaan orang lain, yang diduga menyebabkan
kurang empati terhadap orang lain. Faktor risiko dismenore 3,3 kali lebih tinggi pada wanita
dengan alexythimia. Pada penderita didapatkan ciri-ciri sindrom pramenstruasi yang sangat
menonjol. Gejala pramenstruasi dialami oleh wanita reproduksi terjadi pada akhir fase luteal
dari siklus haid. Gejala pramenstruasi mencakup psikologis dan fisik. Gejala psikologis
dapat berupa kecemasan, gangguan tidur serta peningkatan ambang nyeri. Sedangkan secara
fisik berupa nyeri punggung, sakit kepala, payudara membengkak, perut kembung dan
muntah.4,8

2.6 Gejala Dismenore Primer


Gejala dismenore primer yang terjadi adalah nyeri pada perut timbul sebelumnya,
bersamaan dengan permulaan haid, dan berlangsung beberapa jam namun bisa sampai
bertahan hingga beberapa hari, rasa nyeri kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada
perut bawah, tetapi dapat menyebar hingga ke daerah pinggang dan paha, selain adanya rasa

9
nyeri pada sebagian orang dapat juga disertai dengan rasa mual, muntah, sakit kepala, diare,
iritabilitas, dan sebagainya.9,10

2.7 Patofisiologi Dismenore Primer


Berbagai bukti ilmiah mengindikasikan bahwa dismenore primer disebabkan oleh
iskemia myometrium yang mengarah pada frekuensi dana lama kontraksi uterus. Sebuh
penelitian untuk menilai aliran darah uterus dengan menggunakan USG Doppler
menunjukkan bahwa terjadi resistensi pada uterus dan arteri arkuata pada hari pertama
menstruasi dan hal ini secara signifikan terjadi pada wanita dengan dismenore primer
dibandingkan pada wanita tanpa keluhan dismenore, hal ini dapat disimpulkan bahwa
terjadinya konstriksi pembuluh darah uterus menyebabkan timbulnya nyeri.2
Sekresi endometrium terdiri atas substansi asam arakhidonat, yang akan dikonersi
menjadi prostaglandin F2 Alfa, prostaglandin E2, dan leukotrin selama menstruasi.
Prostaglandin F2 Alfa selalu menstimulasi kontraksi uterus dan merupakan mediator
primer pada dismenore. Konsentrasi prostaglandin F2 Alfa dan prostaglandin E2 pada
endometrium berkorelasi dengan beratnya dismenore. Pengobatan dengan inhibitor
siklooksigenasi (COX) menurunkan kadar prostaglandin pada cairn menstruasi dan
menurunkan aktivitas kontraksi uterus.2
Kontraksi otot polos uterus menyebabkan kram, kejang pada abdomen bawah dan
nyeri punggung seperti yang terjadi pada dismenore dan induksi prostaglandin pada
persalinan atau aborsi. Pada wanita dengan dismenore primer, kontraksi uterus pada awal
menstruasi mulai meningkat dari tekanan basal (>10 mmHg), umumnya tekanan
intrauterine lebih tinggi sekitar 150-180 mmHg dan dapat mencapai 400 mmHg, hal ini
lebih sering terjadi (>4-5/10 menit) dan tidak ritmik serta tidak dikoordinasi dengan baik.
Ketika tekanan intrauterine melebihi tekanan arteri pada suatu waktu maka akan terjadi
iskemia yang menghasilkan produk metabolic anaerob yang dapat menstimulasi neuron
nyeri tipe C, yang berkontribusi terhadap terjadinya nyeri pada dismenore. Selain itu,
prostaglandin F2 Alfa dan prostaglandin E2 juga dapat menstimulasi bronkus, usus,
kontraksi otot polos pembuluh darah yang menyebabkan bronkokonstriksi, mual, muntah,
diare dan hipertensi. Nyeri (kram/kejang) menstruasi sifatnya hilang timbul, bervariasi
dari segi intensitas nyeri, dan biasanya berlokasi di tengah pada region suprapubik, tetapi
beberapa wanita mengeluhkan adanya nyeri pada paha dan punggung bawah.2

10
Gambar 2. Patofisiologi Nyeri pada Dismenore Primer5

Gambar 3. Faktor Risiko dan Kejadian Nyeri Menstruasi5

11
2.8 Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan dismenore primer, pada anamnesis perlu digali berbagai riwayat
termasuk usia, paritas, usia menarke, hari pertama haid terakhir, durasi menstruasi,
dan keteraturan siklus menstruasi.11 Adapun karakteristik gejala yang sering
dikeluhkan pasien dengan dismenore primer yaitu nyeri perut bawah atau nyeri
pelvis dengan atau tanpa penjalaran nyeri ke punggung atau paha, dengan onset
pertama kali 6 sampai 12 bulan setelah menarke. Nyeri biasanya terjadi selama 8
sampai 72 jam dan biasanya terjadi pada saat menstruasi. Gejala lain yang dapat
berhubungan yaitu nyeri punggung, sakit kepala, diare, mual atau muntah. Riwayat
keluarga dapat membantu dalam membedakan antara dismenore primer dan
dismenore sekunder. Dismenore primer harus dibedakan dengan dismenore sekunder
dengan menggali riwayat pasien, mulai dari riwayat keluarga biasanya pasien dengan
riwayat keluarga menderita endometriosis pada keturunan tingkat pertama mengarah
pada dismenore sekunder. Sekitar 10% dewasa muda dan remaja dengan dismenore
merupakan dismenore sekunder dengan penyebab tersering yaitu endometriosis.
Perubahan waktu dan intensitas nyeri atau dyspareunia mengarah pada
endometriosis, dan adanya riwayat gangguan aliran menstruai ,emgarah pada
adenomiosis atau leiomyoma. Pada anamnesis penting ditanyakan riwayat infeksi
menular seksual atau riwayat adanya keputihan perlu dicurigai adanya penyakit
radang panggul.11,12
b. Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan fisis yang dapat dilakukan pada pasien dengan dismenore primer yaitu
pemeriksaan pelvis namun pemeriksaan pelvis hanya dilakukan pada remaja wanita
yang tela berhubungan seksual dan tidak dilakukan pada remaja wanita dengan
dismenore primer tanpa riwayat berhubungan seksual. Namun apabila terdapat
kecurigaan suatu endometriosis maka pemeriksaan pelvis, pemeriksaan vaginal
Toucher, dan rectal Toucher wajib dilakukan. Biasanya pasien dengan dismenore
primer tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan pelvis, vaginal toucher maupun
rectal toucher.2,11
c. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dismenore primer dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisis. Pemeriksaan penunjang berupa laparoskopi diindikasikan jika etiologi masih
belum diketahui setelah dilakukan emeriksaan non invasif. USG transvaginal hanya

12
dilakukan apabila terdapat kecurigaan besar suatu dismenore sekunder. Pemeriksaan
lain yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan Beta-HCG untuk menyingkirkan suatu
kehamilan, swab vagina dan swab endoserviks jika dicurigai suatu penyakit radang
panggul atau infeksi menular seksual, pemeriksaan dara lengkap, laju endap darah,
dan urinalisis. Pemeriksaan sitology serviks anya diindikasikan apabila terdapat
kecurigaan suatu keganasan.2,11

Gambar 4. Alur Diagnosis Dismenore Primer5

2.9 Terapi Dismenore Primer


Berbagai jenis terapi telah diusulkan secara luas untuk menangani dismenore,
diantaranya pengaplikasian heat, diet, vitamin, terapi herbal, latihan, dan intervensi
kebiasaan, tidak lupa juga obat-obat tradisional seperti penggunaan NSAIDs dan
kontrasepsi oral.2 Tujuan terapi pada dismenore primer adalah mengurangi nyeri sehingga
pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya tanpa pembatasan.13
a. Terapi Lini Pertama
Terapi lini pertama untuk dismenore primer umumnya melibatkan Non Steroid Anti-
inflammatory Drugs (NSAIDs) atau kontrasepsi hormonal, namun tidak ada
penelitian yang secara langsung membandingkan kedua metode tersebut, sehingga

13
tidak dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai pemilihan terapi tersebut mana yang
lebih efektif.13
NSAIDs: Analgesik sederhana (khususnya NSAIDs) dapat mengurangi nyeri pada
dismenore primer dengan cara menginhibisi sintesis prostaglandin dan menjadi terapi
utama pada beberapa dekade terakhir.16 Analgesik sederhana paling sering digunakan
secara bebas dalam hal ini tanpa resep dokter oleh para remaja, dimana analgesic
yang paling sering digunakan yaitu asetaminofen, aspirin, ibuprofen, dan naproxen.
Sebuah penelitian randomisasi menyimpulkan bahwa penggunaan NSAIDs lebih
efektif dibandingkan dengan placebo dalam pengobatan nyeri pada dismenore
primer dan NSAIDs dapat menurunkan angka ketidak-hadiran remaja di sekolah
ataupun di tempat kerja. Akan tetapi, perlu digaris bawahi aspirin tidak diindikasikan
untuk pasien anak dan remaja. Berbagai jenis NSAIDs digunakan dalam pengobatan
dismenore primer tetapi tidak satupun literature menunjukkan jenis NSAID mana
yang lebih baik dibandingkan dengan jenis lain. Konsekuensinya, pilihan NSAID
bergantung pada harga dan ketersediaannya, namun ada juga beberapa pasien yang
alergi ataupun mengalami gangguang gastrointestinal dalam menggunakan NSAID.
Pemberian NSAID dimulai pada saat menstruasi dilanjutkan 2 sampai 3 hari
berikutnya dan diberikan tiap siklus menstruasi, namun pada wanita dengan
dismenore berat perlu diberikan NSAID 1-2 hari sebelum menstruasi.2,13meskipun
inhibitor selektif COX2 telah diakui mampu mengobati dismenore primer akan tetapi
lebih mahal dan mempunyai risiko yang lebih besar sehingga penggunannya harus
dibatasi pada wanita dengan risiko tinggi mengalami gangguan gastrointestinal
sebagai efek samping penggunaan inhibitor COX2.2,14
Tabel 1. Dosis NSAID untuk Dismenore Primer2

Kontrasepsi Hormonal: Meskipun NSAID dapat mengurangi nyeri pada penderita


dismenore primer dengan persentase yang besar, tetapi 20% sampai 25% akan gagal

14
dengan terapi NSAID. Ketika NSAID gagal atau dikontraindikasikan pada pasien
atau ketika pasien menginginkan penggunaan kontrasepsi, maka kontrasepsi
hormonal merupakan metode yang juga cukup efektif dalam mengobati dismenore
primer. Kontrasepsi hormonal dapat mengobati dismenore primer dengan
menyebabkan regresi pada endometrium, pemendekan masa proliferasi
endometrium, dan membatasi aktivitas kelenjar sekresi pada endometrium. Metode
kontrasepsi hormonal yang paling sering diindikasikan yaitu pil kombinasi, namun
bisa juga menggunakan kontrasepsi lain seperti patch kontrasepsi, ring kontrasepsi,
injeksi medroxyprogesteron, dan intrauterine levonogestrel. Kontrasepsi tersebut
juga dapat digunakan karena mempunyai mekanisme kerja yang sama. Sebuah studi
randomisasi menyimpulkan bahwa penggunaan dosis rendah hingga sedang pil
kombinasi (20-35 mcg ethinyl estradiol) memberikan hasil yang lebih tinggi
disbanding placebo dalam mengurangi nyeri pada dismenore primer dan dapat
mengurangi jumlah ketidak-hadiran di sekolah atau di tempat kerja. Sebuah studi
juga menyarankan penggunaan pil kombinasi generasi ketiga (yang terdiri atas
desogestrel, etonogestrel, dan norgestimate) mungkin lebih efektif disbanding pil
kombinasi generasi kedua (yang terdiri atas levonogestrel dan noretindrone) dalam
mengobati nyeri, tetapi penemuan ini tidak diteliti lebih lanjut dan tidak ada
penelitian yang membandingkan antara efektivitas penggunaan pil kombinasi
generasi ketiga dengan genrasi pertama dan kedua. Akan tetapi, dibandingkan
dengan placebo, pil kombinasi lebih sering menyebabkan mual, sakit kepala dan
penambahan berat badan. Perlu diingat bahwa efek samping yang jarang terjadi pada
penggunaan kontrasepsi hormonal adalah gangguan vascular seperti tromboemboli,
infark miokard, dan stroke sehingga perlu dilakukan skrining faktor risiko penyakit-
penyakit tersebut sebelum memulai penggunaan kontrasepsi hormonal.13
Pil kombinasi sebaiknya tidak diberikan pada kondisi berikut:15
 Wanita usia ≥35 tahun dengan hipertensi dan/atau riwayat merokok.
 Wanita dengan riwayat keluarga atau faktor risiko penyakit thrombosis arteri
atau vena.
 Wanita dengan perdarahan uterus abnormal yang belum terdiagnosis
 Wanita dengan amenore yang belum diidentifikasi
 Wanita dengan penyakit hati dan kandung empedu, migrein dan galaktore.

15
b. Terapi Alternatif
Banyak pasien yang lebih memilih pengobatan secara alami dalam menangani
dismenore primer, dan berbagai literatur juga mendukung penggunaan beberapa jenis
diet, herbal dan metode pengobatan alternatif.13
Meskipun banyak herbal dan suplemen diet yang menyebar luas dan dilaporkan
dapat membantu mengatasi nyeri pada dismenore seperti vitamin B1, vitmin B6,
vitamin E, magnesium, dan minyak ikan tetapi dari studi disimpulkan bahwa
suplemen yang mempunyai cukup bukti mengenai keefektifannya yaitu vitamin B1
(defisiensi vitamin B1 dapat menyebabkan kram otot), magnesium (pemberian
suplementasi magnesium dapat menurunkan kadar prostaglandin). Namun, tidak ada
studi yang menunjukkan dosis efektif dari pemberian vitamin tersebut. Selain itu,
pada beberapa studi juga menunjukkan bahwa pemberian suplementasi vitamin D
dapat memperbaiki keadaan pasien dengan dismenore primer, hal ini dikarenakan
kadar vitamin D yang tinggi dapat mengurangi sintesis prostaglandin.13 Terapi lain
seperti akupuntur, yoga, masase, dan exercise memiliki evidance based yang
lemah.11Tindakan operasi dalam hal ini histerektomi tidak perlu dilakukan pada
dismenore primer.6
Selain terapi di atas, dapat pula dilakukan sutu terapi yang disebut TENS
(Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), terapi ini merupakan salah satu
metode efektif dan tidak berbahaya untuk mengurangi nyeri pada dismenore primer.
Terapi ini menggunakan impuls 0,2 san 1 ms dengan frekuensi 70-100 Hz,
pengaplikasiannya dilakukan di regio inferior abdomen, regio sakroiliaka, dan 2 level
terbawah vertebra lumbal.6

16
Gambar 5. Algoritma Tatalaksana Dismenore Primer11

2.10 Diagnosis Banding Dismenore Primer


Dalam menegakkan diagnosis dismenore primer yang paling penting untuk
disingkirkan yaitu dismenore sekunder sebagai diagnosis banding. Berikut adalah tabel
yang memperlihatkan perbedaan antara dismenore primer dan sekunder.

17
Tabel 2. Perbedaan Dismenore Primer dan Sekunder

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dismenore primer didefinisikan sebagai nyeri, kram/kejang pada abdomen bagian
bawah yang terjadi sebelum dan/atau selama menstruasi dan dapat dibuktikan tidak
adanya kondisi patologis pada pelvis. Ada banyak penelitian yang menghubungkan
kejadian dismenore dengan aksi prostaglandin sebagai etiologinya, dimana jumlah
prostaglandin E2 dan F2 meningkat pada kasus dismenore, mioma dan lain-lain.
Prostaglandin E2 dan prostaglandin F2 sangat tinggi konsentrasinya yang disekresi di
endometrium dan dalam cairan menstruasi wanita dengan dismenore primer.
Prostaglandin F2 adalah uteroknstriktor oksitosik yang kuat sehingga apabila terdapat di
dalam Rahim maka akan menimbulkan rasa sakit yang hebat seperti yang terjadi pada
kasus dismenore dan juga menyebabkan menstrual bleeding. Faktor risiko dari dismenore
primer diantaranya menarke usia dini, paparan asap rokok, konsumsi kopi, alexythimia,
konsumsi makanan cepat saji, dan riwayat keluarga.
Adapun patofisiologi dismenore primer dihubungkan dengan produk asam
arakidonat yang akan diubah menjadi prostaglani F2 Alfa dan prostaglandin E2 yang
menyebabkan resistensi pembuluh darah uterus dan kontraksi otot polos uterus sehingga
timbul rasa nyeri. Gejala tersering yaitu nyeri perut bawah bisa menjalar sampai ke paha
atau punggung bawah. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Terapi yang menjadi lini pertama saat ini yaitu pemberian NSAID dan kontrasepsi
hormonal. Diagnosis banding dari dismenore primer adalah dismenore sekunder yang
bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti endometriosis, adenomiosis, penyakit
radang panggul, infeksi menular seksual, dan lain-lain.

3.2 Saran
Tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurna sehingga penulis harapkan
adanya kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya penulis bisa lebih memaksimalkan
diri dalam pembuatan tugas selanjutnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Kazama M, et al. Prevalence of Dysmenorrhea and Its Correlating Lifestyle Factors in


Japanese Female Junior High School Students. Nigata University. 2015: Japan
2. Fritz, MA, Leon S. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition.
Lippincott Williams & Wilkins Kluwer Business. 2011: USA.
3. Fallatah SA, et al. The Prevalence of Dysmenorrhea among Woman. Te Egyptian Journal
of Hospital Medicine. 2018: Cairo.
4. Alatas F, Larasati TA. Dismenore Primer dan Faktor Risiko Dismenore Primer pada
Remaja. Universitas Lampung. 2016: Lampung.
5. Lacovides S, et al. Wat we know about primary dysmenorrea today: a critical review.
Oxford University Press. 2015: South Africa.
6. Botell ML, Bermudez MR. Basic Gynecology: Dysmenorrhoea. InTech. 2012: China.
7. Arafa AE, et al. Epidemiology of dysmenorrhea among workers in Upper Egypt: A cross
Sectional Study. Middle East Fertility Journal. 2017: Egypt.
8. Ammar, Rohima U. Faktor Risiko Dismenore Primer pada Wanita Usia Subur di
Kelrahan Ploso Kecamatan Tambaksari Surabaya. Universitas Airlangga. 2016:
Surabaya.
9. Sultana A, et al. Aetiopathogenesis and Clinical Features of Dysmenorrhoea (Usr-t-
tamth) in Traditional Unani Medicine and Contemporary era: A literary Research.
Assosiation of Humanitas Medicine. 2016: India.
10. Joshi T, et al. Primary dysmenorrhea and its effect on quality of life in young girls.
International Journal of Medicine Science and Public Healt. 2015: India.
11. Osayande AS, Mehulic S. Diagnosis and Initial Management of Dysmenorrhea.
American Academy of Family Physicians. 2014: America.
12. DHMH/FHA/CMCH. Dysmenorrhea. Maryland State Family Planning Program Clinical
Guidelines. 2011.
13. Sturpe, A. Deborah. The Management of Primary Dysmenorrhea. US Pharm. 2013:
Maryland.
14. Sanctis VD, et al. Primary Dysmenorhhea in Adolescents:Prevalence, Impact and Recent
Knowledge. Pediatric Endocrinology Reviews. 2015: Italy.
15. Lindeque BG. Dysmenorrhoea. South Africa Family Practice. 2015: Pretoria.
16. Family planning NSW. The Menstrual Cycle and period problems. NSW Ministry of
Healt. 2012.
17. Hector, et al. Prevalence, Impact and Treatment of Primary Dysmenorrhea in workers of
An Academic and Research Intitute. Mexican Journal Of Medical Research. 2013:
Mexico.

20