Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

pembangunan nasional karena upaya memajukan bangsa tidak akan efektif

apabila tidak memiliki dasar yang kuat, yang salah satunya adalah derajat

kesehatan masyarakat yang tinggi. Untuk mempercepat keberhasilan

pembangunan kesehatan tersebut diperlukana kebijakan pembangunan

kesehatan yang lebih dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua

sektor terkait yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat (Depkes RI, 2007).

Salah satu program pokok kesehatan adalah pemberantasan penyakit

menular dengan salah satu sasaran yang hendak dicapai yaitu menurunnya

angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi kurang dari 20

per 100.000 penduduk di suatu wilayah, dan secara nasional 5 per 100.000

penduduk dengan angka kematian (CFR) di rumah sakit menjadi di bawah

1% (Depkes RI, 2010).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu

penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang banyak

ditemukan di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Dalam beberapa

tahun terakhir terjadi peningkatan terhadap penyebaran kasus DBD di

daerah urban dan semi urban, sehingga hal tersebut menjadi perhatian

utama kesehatan masyarakat internasional (World Health Organization,

2012).
1
2

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang

disebabkan oleh virus dengue dengan gambaran klinis demam, nyeri otot

dan nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,

trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD, terjadi perembesan

plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi yaitu peningkatan

hematokrit atau penumpukan cairan di rongga tubuh (Sudoyo dkk, (2009),

dikutip dalam jurnal Kurniawan.T, 2013).

Dengue adalah penyakit yang diperantarai oleh nyamuk betina

terutama spesies Aedes aegypti dan sebagian kecil oleh Aedes albopictus

yang mengandung virus dan tersebar ke seluruh wilayah, yang menurut

World Health Organization (WHO) dalam beberapa tahun terakhir

dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko seperti curah hujan, suhu dan

urbanisasi (Kurniasary, 2015).

Berdasarkan World Health Organization (WHO 2015), diperkirakan

50 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun dan sekitar 2,5 miliar orang

hidup di negara-negara endemik DBD. Wabah demam berdarah

merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, Myanmar, Sri Lanka,

Thailand dan Timor-Leste yang berada di daerah tropis dan zona

khatulistiwa, di mana nyamuk Aedes aegypti tersebar luas di perkotaan

dan pedesaan dengan beberapa serotipe virus yang beredar.

Menurut catatan World Health Organization (WHO 2010),

diperkirakan 500.000 pasien DBD membutuhkan perawatan di rumah

sakit dalam setiap tahunnya dan sebagian besar penderitanya adalah


3

anakanak. Ironisnya, sekitar 2,5% diantara pasien anak tersebut

diperkirakan meninggal dunia (Mufidah, (2012) dikutip dalam jurnal

Kurniawan.T, 2013).

Jumlah kasus DBD banyak tidak dilaporkan dan terjadi

kesalahan klasifikasi pada kasus ini. Penelitian terbaru menunjukkan

390 juta infeksi dengue per tahun, dimana 96 juta bermanifestasi klinis

dengan berbagai derajat. Penelitian lain menyatakan, prevalensi DBD

diperkirakan mencapai 3,9 milyar orang di 128 negara berisiko

terinfeksi virus dengue (WHO, 2015). Demam Berdarah Dengue

banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis dimana Asia

menempati urutan pertama di dunia dalam jumlah penderita DBD

setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga

tahun 2009, WHO mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan

kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Kurniasary, 2015.)

Di Indonesia penyakit DBD ini ditemukan pertama kalinya di

Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan

24 orang diantaranya meninggal dunia dengan Angka Kematian/Case

Fatality Rate sebesar (41,3%) dan sejak itu, penyakit DBD ini

menyebar ke seluruh Indonesia (Kurniasary, 2015).

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di

Indonesia pada bulan Januari sampai Februari 2016 sebanyak 8.487 orang

penderita DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak


4

yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai

43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis

Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini,

kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD dilaporkan ada di 12 Kabupaten

dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1) Provinsi Banten,

yaitu Kabupaten Tangerang; 2) Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Kota

Lubuklinggau; 3) Provinsi Bengkulu, yakni Kota Bengkulu; 4) Provinsi

Bali, yaitu Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar; 5) Provinsi Sulawesi

Selatan, yaitu Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo; 6)

Provinsi Gorontalo, yaitu Kabupaten Gorontalo; serta 7) Provinsi Papua

Barat, yakni Kabupaten Kaimana; 8) Provinsi Papua, yakni Kabupaten

Mappi 9) Provinsi NTT, yakni Kabupaten Sikka; 10) Provinsi Jawa

Tengah, yaitu Kabupaten Banyumas; 11) Provinsi Sulawesi Barat, yakni

Kabupaten Majene. Sepanjang bulan Januari dan Februari 2016, kasus

DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan

jumlah kematian 25 orang pada bulan Januari 2016 sedangkan pada bulan

Februari tercatat sebanyak 116 orang dengan jumlah kematian 9 orang.

Hasil data tersebut menunjukan adanya penurunan KLB di Indonesia

sepanjang bulan Januari sampai Februari 2016.

Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti DBD masih menjadi

masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan baik di

perkotaan maupun di pedesaan. Pada beberapa tahun terakhir, penyakit


5

yang ditularkan oleh nyamuk cenderung mengalami fluktuatif. Untuk

provinsi Sulawesi Selatan, Bidang Penanggulangan Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan,

merilis data penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2014

sebesar 2.333 kasus 23 meninggal, 2015 sebanyak 5,030 kasus dan 48

meninggal, sedangkan pada tahun 2016 sebanyak 4.818 kasus dan 30

meninggal, (P2PL Sulawesi Selatan).

Kepala bidang P2PL Dinas kesehatan Sulawesi selatan

mengatakan, data yang terinput tersebut berdasarkan laporan dari Rumah

Sakit Umum Daerah (RSUD) di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Berikut

data panderita DBD yang dirilis P2PL Dinkes Sulsel sepanjang Januari

2016:1. Luwu Utara 80 orang, 2. Pangkep 77 orang, 1 meninggal, 3.

Gowa 72 orang, 1 meninggal. 4. Palopo 67 orang. 5. Bulukumba 28

orang, 1meninggal. 6. Luwu Timur 27 orang. 7. Maros 24 orang 8. Barru

24 orang, 1meninggal. 9. Wajo 24 orang 10. Enrekang 20 orang. 11. Bone

19 orang, 3 meninggal 12. Makassar 16 orang. 13. Sinjai 16 orang. 14.

Sidrap 7 orang. 15. Soppeng 7 orang 16. Bantaeng 5 pasien. 17. Luwu 5

orang. 18. Takalar 4 orang, 19. Tana Toraja 4 orang. 20. Pare-pare 2

orang 21. Jeneponto, tidak ada 22. Pinrang, tidak ada 23. Selayar, tidak

ada 24. Toraja Utara, tidak ada.

Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kabupaten Barru tahun 2016

kasus DBD di daerah tersebut dari tahun ke tahun cenderung fluktuatif.

Pada tahun 2016 KLB DBD terjadi di semua Kecamatan yang ada di
6

wilayah Kabupaten Barru. dan kasus terbanyak terjadi di Kecamatan

Malusetasi pada wilayah kerja Puskesmas Mallusetasi.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Barru bahwa

pada tahun 2014 jumlah kasus DBD yang ditemukan sebanyak 52 kasus,

pada tahun 2015 jumlah penderita DBD yang ditemukan sebanyak 72

kasus, dan pada tahun 2016 di temukan 223 kasus, (P2PL Dinas

Kesehatan Kabupaten Barru). Untuk tahun 2017 pada bulan januari

terdapat 5 kasus DBD, pada bulan februari tidak terdapat penderita DBD,

pada bulan Maret, terdapat 1 penderita DBD dan untuk bulan april dan

Mei Belum ada laporan Penderita Demam Berdarah.

Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai macam program atau

usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah seperti memberikan

penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan DBD dan bahayanya

baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui berbagai media,

serta menjalin kerja sama dengan lintas sektoral serta penyadaran

peningkatan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan dengan

pencegahan DBD dan bahayanya untuk mengurangi wabah DBD yang

menyebabkan banyak korban. Walaupun demikian namun DBD tetap

belum teratasi dengan baik dan mencapai target. (Depkes RI, 2007).

Berdasarkan profil Puskesmas Pekkae terjadi fluktuatif pada

penyakit DBD dari tahun 2014 sampai dengan 2016 secara berturut-turut

adalah sebagai berikut: tahun 2014 terdapat 10 kasus, 2015 terdapat 52

kasus, 1 meninggal dan 2016 terdapat 35 kasus. Dan untuk tahun 2017 dari
7

Januari hingga maret terdapat 15 kasus DBD dan untuk bulan April dan

Mei belum ada laporan kejadian DBD.

Untuk wilayah kerja Puskesmas Pekkae di lima desa yaitu pada

tahun 2014, desa Tellumpanua terdapat 3 kasus DBD, desa Lalolang 4

kasus DBD, desa Tanete 3 kasus DBD, desa Lipukasi 0 kasus DBD, dan

Desa Garessi 0 kasus DBD. Pada tahun 2015 desa Tellumpanua terdapat 8

kasus DBD, desa Lalolang terdapat 14 kasus DBD, 1 meninggal. Desa

Tanete 16 kasus DBD, desa Lipukasi 5 kasus DBD, dan desa Garessi

terdapat 8 kasus DBD. Pada tahun 2016 desa desa Tellumpanua terdapat 4

kasus DBD, desa Lalolang terdapat 12 kasus DBD. Desa Tanete 9 kasus

DBD, desa Lipukasi 4 kasus DBD, dan desa Garessi terdapat 6 kasus

DBD.

Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang gambaran Pengetahuan, Tindakan dan Lingkungan Masyarakat

dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkae Kelurahan

Tanete Kabupaten Barru Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merumuskan “Bagaimana

gambaran Pengetahuan, Tindakan dan Lingkungan Masyarakat

Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Tanete

Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2017?”.


8

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran Pengetahuan, Tindakan dan

Lingkungan Masyarakat Dengan Kejadian Demam Berdarah

Dengue di Kelurahan Tanete kecamatan Tanete Rilau Kabupaten

Barru Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat dengan

kejadian Demam Berdarah Dengue di di Kelurahan Tanete

kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2017.

b. Untuk mengetahui gambaran tindakan Masyarakat dengan

kejadian Demam Berdarah Dengue di di Kelurahan Tanete

kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2017.

c. Untuk mengetahui gambaran lingkungan Masyarakat dengan

kejadian Demam Berdarah Dengue di di Kelurahan Tanete

kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2017.


9

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Memperkaya ilmu pengetahuan, kompetensi, dan

pengalaman berharga bagi peneliti dalam melakukan penelitian

“Gambaran Pengetahuan, Tindakan dan lingkungan Masyarakat

dengan kejadian DBD di Kelurahan Tanete kecamatan Tanete Rilau

Kabupaten Barru Tahun 2017”.

2. Manfaat Institusi

Sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam pemecahan

masalah pada program kesehatan bidang penyakit menular, khususnya

masalah pencegah penyakit DBD agar dapat dijadikan sebagai

monitoring dan evaluasi program pemberantasan penyakit menular

(P2M).

3. Manfaat praktis

Menambah pengetahuan dan pengalaman khusus dalam

melakukan penelitian ilmiah terhadap Pengetahuan, Tindakan dan

lingkungan Masyarakat dengan kejadian DBD di di Kelurahan

Tanete kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2017.


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)

1. Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue merupakan salah penyakit menular yang di

sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan mendadak oleh nyamuk Aedes

aegypti, yang ditandai dengan demam selama 2-7 hari tanpa penyebab

yang jelas disertai dengan lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati disertai tanda

perdarahan di kulit berupa bintik merah, lebam (echymosis) atau ruam

(purpura). kadang-kadang disertai dengan mimisan, berak darah, muntah

darah, kesadaran menurun atau renjatan (syok) (Depkes RI, 2010).

Menurut Depkes RI (2013), Demam berdarah dengue (DBD)

merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes yang

terinfeksi dengan salah satu dari empat virus dengue. Virus tersebut dapat

menyerang bayi, anak-anak dan orang dewasa. Sedangkan menurut

Depkes RI (2011), Demam berdarah dengue adalah penyakit akut yang

disebabkan oleh Virus DBD dan ditularkan kepada manusia melalui

gigitan nyamuk (Aedes aegypti atau Aedes albopictus) yang terinfeksi

virus DBD.

Demam dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit

kepala, nyeri otot, sendi dan tulang. Penurunan jumlah sel darah putih dan

ruam-ruam. Demam berdarah dengue/dengue hemorraghagic fever (DHF)


11

adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi

perdarahan. Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi

darah dan pasien jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma.

Keadaan ini disebut dengue shock syndrome (DSS) (Mardiana, 2010).

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia. Pada tahun 2011 tercatat terjadi 65.432 kasus dengan 595

kematian di Indonesia dengan angka Case Fatality Rate (CFR) DBD

sebesar 0,91% dan IR27,56/100.000 penduduk dengan daerah terjangkit

mencapai lebih dari 78% kabupaten/kota. Tiga provinsi dengan kasus

DBD tertinggi adalah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Jawa Barat, dan

Jawa Tengah (Depkes RI, 2012).

2. Etiologi

Penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue dari

genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui

gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus dengue. Virus Dengue

penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan

Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod

virus Arbovirosis yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili

Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: DEN-1, DEN2, DEN-3,

DEN-4 (Depkes RI, 2010).

Di Indonesia pengamatan virus dengue yang di lakukan sejak tahun

1975 di beberapa rumah sakit menunjukkan ke empat serotipe di temukan

dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang


12

dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik

yang berat (Depkes RI, 2012).

3. Patogenesis dan Patofisiologi

Secara umum, kelainan yang terjadi pada penyakit DBD akibat

adanya kebocoran plasma yang disebabkan oleh Virus dengue. Hal ini

disebabkan oleh Virus dengue yang dapat menyebabkan kerusakan pada

kapiler sehingga dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding

pembuluh darah dan penurunan volume plasma. Akibatnya, plasma akan

keluar ke ekstravaskular (ruang interstisial dan rongga serosa). Sedangkan

pada intravaskular akan terjadi peningkatan konsentrasi plasma

(hematrokrit/HT meningkat, trombosit menurun, dan leukosit menurun.

Selain itu, akibat virus dengue menginfeksi endotel dan menyebabkan

gangguan fungsi dari endotel maka pembuluh darah tidak berfungsi dengan

baik dan mengakibatkan kebocoran darah. Apabila kebocoran ini terjadi

pada pembuluh darah kulit akan tampak bercak-cak kemerahan pada kulit

yang disebut petekiae. Sedangkan bila terjadi kebocoran pada saluran

pencernaan akan menyebabkan perdarahan yang terus menerus (Soedarmo,

(2010) dikutip dalam jurnal Kurniawan.T, 2013)

Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel

target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon imun

non-spesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas

komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3a dan

C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas


13

kapiler celah endotel melebar lagi. Akibat kejadian ini maka terjadi

ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan

terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi,

hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan

syok hipovolemik. Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada

terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya

merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD (Depkes RI,

2010).

4. Gambaran Klinis

Menurut Sudjana (2010) dalam skripsi (Zulaikha.U, 2014) gambaran

klinis penderita dengue terdiri atas fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase

pemulihan.

a. Pada fase febris

Biasanya demam mendadak tinggi terus menerus berlangsung

selama 2-7 hari (380C-400C), naik turun (demam bifosik) dan tidak

mempan obat antipirektik. Kadang-kadang suhu tubuh sangat tinggi

sampai 400C disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh

tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus

ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia,

mual dan muntah dapat terjadi kejang demam. Akhir fase demam

merupakan fase kritis pada demam berdarah dengue. Pada saat fase

tersebut sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ke 3, 4, 5 adalah

fase kritis yang harus dicermati pada hari ke 6 dapat terjadi syok
14

kemungkinan dapat terjadi perdarahan dan kadar trombosit sangat

rendah (<20.000/ul). Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda

perdarahan seperti ptekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat

pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.

b. Fase kritis

Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis

menghilang setelah demam turun sertai keluarnya keringat, perubahan

pada denyut nadi dan tekanan darah, akan teraba dingin di sertai dengan

kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi,

sebagai akibat dari perembasan plasma yang dapat bersifat ringan atau

sementara. Pada kasus berat, keadaan umum pada saat atau beberapa saat

setelah suhu turun antara 3-7 terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit

teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, sianosis di

sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai

tidak teraba dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan

permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya

berlangsung selama 24–48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh

lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit dibawah

100.000/mm3 (trombositopeni). Pada saat akan terjadi syok pasien

mengeluh nyeri perut.

c. Fase Pemulihan

Bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari

ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48–72 jam


15

setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih

kembali, hemodinamik stabil dan dieresis membaik.

5. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), klasifikasi penyakit

Demam Berdarah Dengue yaitu:

a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya

(Dengue Without Warning Signs). Kriteria dengue tanpa tanda

bahaya dan dengue dengan tanda bahaya:

1) Bertempat tinggal di atau bepergian ke daerah endemik dengue.

2) Demam disertai 2 dari hal berikut: mual, muntah, ruam, sakit dan

nyeri, uji tournikuet positif, lekopenia, adanya tanda bahaya.

3) Tanda bahaya adalah nyeri perut atau kelembutannya, muntah

berkepanjangan, terdapat akumulasi cairan, perdarahan mukosa,

letergis, lemah, pembesaran hati >2cm, kenaikan hematokrit

seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat.

4) Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti

kebocoran plasma tidak jelas)

b. Dengue Berat (Severe Dengue)

Kriteria dengue berat: kebocoran plasma berat, yang dapat

menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress pernafasan.

Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi gangguan organ berat, hepar

(AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ
16

lain). Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat

dilakukan uji tourniquet.

6. Siklus Penularan Demam Berdarah Dengue

Siklus hidup dan prilaku nyamuk Aedes aegypti:

Telur Jentik Kepompong Nyamuk

Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk kurang lebih dari

9-10 hari:

a. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak

100 butir.

b. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran ± 0,80

mm

c. Telur ini ditempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6

bulan

d. Telur itu akan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang dari 2

hari setelah terendam air

e. Jentik kecil yang menetas dari telur itu akan tumbuh menjadi besar

yang panjangnya 0,5-1 cm

f. Jentik Aedes aegyptiakan selalu bergerak aktif dalam air, geraknya

berulangulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas

(mengambil udara) kemudian turun, kembali kebawah dan seterusnya.

g. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan

air biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air.


17

h. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi

kepompong

i. Kepompong berbentuk koma

j. Gerakannya lambat

k. Sering berada dipermukaan air

l. Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk Aedes aegypti menyenangi area gelap dan benda-benda

berwarna hitam atau merah. Nyamuk ini banyak ditemukan di bawah

bangku, meja, kamar yang gelap, atau dibalik baju-baju yang di gantung.

Nyamuk ini menggigit pada siang hari (pukul 09-10) dan sore hari (pukul

16.00-17.00), demam berdarah sering menyerang anak-anak karena anak-

anak cenderung duduk didalam kelas selama pagi sampai siang hari.

(Anggraeni, (2010) dalam tesis Widodo. P.N, (2012).

Menurut Sitio (2008) yang dikutip dalam dalam tesis Widodo. P.N,

(2012), Penularan DBD antara lain dapat terjadi di semua tempat yang

terdapat nyamuk penularnya, tempat yang potensial untuk penularan

penyakit DBD antara lain:

a. Wilayah yang banyak kasus DBD atau rawan endemis DBD.

b. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang,

orang dating dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya

pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar seperti sekolah,

pasar, hotel, puskesmas, rumah sakit dan sebagainya.


18

c. Pemukiman baru di pinggir kota, karena dilokasi ini, penduduk

umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka memungkinkan

diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus

dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

7. Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)

a. Distribusi Penyakit DBD

1) Distribusi Penyakit DBD Berdasarkan Variabel Umur dan Jenis

Kelamin

Kasus DBD pada jenis kelamin selama ini tidak terlihat

kerentanan pada kelompok mana, berdasarkan data distribusi kasus

berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008, persentase penderita

laki-laki dan perempuan hampir sama. Jumlah penderita berjenis

kelamin laki-laki adalah 10.463 orang (53,78%) dan perempuan

berjumlah 8.991 orang (46,23%). Hal ini menggambarkan bahwa

risiko terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama,

tidak tergantung jenis kelamin, dan data Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia dalam Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010

menyebutkan bahwa penyakit DBD termasuk kedalam sepluh

penyakit terbesar pada pasien rawat inap rumah sakit di Indonesia

dengan jumlah kasus pada laki-laki 30.232 kasus dan 28.883 kasus

pada perempuan (Anonim, 2011).


19

Sedangkan distribusi golongan umur pada kasus DBD di

Indonesia dari tahun 1993 sampai tahun 2009 terjadi pergeseran,

dimana pada tahun 1993 sampai tahun 1998 kelompok umur terbesar

kasus DBD adalah kelompok umur dibawah 15 tahun. Akan tetapi,

mulai dari tahun 1999 sampai tahun 2009 kelompok umur terbesar

kasus DBD cenderung pada kelompok umur diatas 15 tahun

merupakan kelompok umur dengan kasus DBD terbanyak di

Indonesia. Sedangkan, penyebab kematian dengan jumlah yang

signifikan pada kasus DBD terdapat pada kelompok umur dibawah

15 tahun. Namun saat ini kasus DBD telah menyerang semua

kelompok umur, bahkan lebih banyak pada usia produktif (Anonim,

2013).

2) Distribusi Penyakit DBD Berdasarkan Tempat

Penyakit DBD dapat menyebar pada semua tempat kecuali

tempat dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut karena

pada tempat yang tinggi dengan suhu yang rendah siklus

perkembangan Aedes aegypti tidak sempurna. Daerah yang

terjangkit demam berdarah pada umumnya adalah kota atau

wilayah yang padat penduduknya. Hal ini disebabkan dikota atau

wilayah yang padat penduduk rumahrumahnya saling berdekatan,

sehingga lebih memungkinkan penularan penyakit demam

berdarah mengingat jarak terbang Aedes aegypti 100 m.

Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang


20

terjangkit disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi

penduduk, adanya pemukiman baru, dan terdapatnya vektor

nyamuk hampir diseluruh pelosok tanah air serta adanya tipe virus

yang bersikulasi sepanjang tahun (Depkes RI, 2010).

3) Distribusi Penyakit DBD Berdasarkan Waktu

Musim penularan demam berdarah pada umumnya terjadi

pada awal musim hujan (permulaan tahun dan akhir tahun). Hal ini

dikarenakan pada musim hujan vektor penyakit demam berdarah

populasinya meningkat dengan bertambah banyaknya sarang

nyamuk diluar rumah sebagai akibat sanitasi lingkungan yang

kurang bersih, sedang pada musim kemarau Aedes aegypti

bersarang di bejana yang selalu terisi air seperti bak mandi,

tempayan, drum, dan tampungan air (Depkes RI, 2010).

b. Determinan Penyakit DBD

Berdasarkan model segi tiga epidemiologi (triangle

epidemiology) yang dikutip dalam tesis Widodo. P.N (2012), ada tiga

factor yang berperan dalam timbulnya suatu penyakit yaitu pejamu,

agen penyakit dan lingkungan (host, agent and environment).

1) Agent

Agent penyebab penyakit demam berdarah dengue adalah

virus Dengue yang termasuk kelompok arthropoda borne virus

(Arboviruses). Anggota dari genus Flavivirus, famili flaviviridae


21

yang di tularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan juga nyamuk Ae.

albopictus yang merupakan vektor infeksi DBD.

2) Host (Penjamu)

Penjamu adalah manusia atau organisme yang rentan oleh

pengaruh agent dalam penelitian ini yang diteliti dari faktor

penjamu adalah (umur, pendidikan, pekerjaan, motivasi,

pengetahuan dan sikap) dalam peran serta masyarakat terhadap

kewaspadaan dini pencegahan penyakit DBD.

3) Environment

Lingkungan adalah kondisi atau faktor berpengaruh yang

bukan bagian agent maupun penjamu, tetapi mampu

menginteraksikan agent penjamu. Dalam penyebaran penyakit

DBD faktor lingkungan seperti tempat penampungan air sebagai

perindukan nyamuk Aedes aegypti, ketinggihan tempat suatu

daerah mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk dan virus,

curah hujan serta kebersihan lingkungan.

c. Tata Laksana Kasus Demam Berdarah Dengue

Dalam penatalaksanaan kasus demam berdarah dengue dikutip

oleh WHO (2009) menyatakan bahwa dasar pengobatan demam

berdarah Dengue adalah pemberian cairan ganti secara adekuat.

Penderita DBD tanpa renjatan tersebut dapat di beri minum banyak

1,5-2 liter perhari, berupa air putih, teh manis, sirup, susu, oralit.

Terhadap penderita DBD yang tidak disertai dengan renjatan tersebut


22

dapat diberikan dengan penurun panas. Karena besarnya risiko bahaya

yang mengancam, setiap orang yang diduga menderita DBD harus

sesegera mungkin di bawa ke rumah sakit.

Perawatan di rumah sakit diperlukan untuk pemantauan

kemungkinan terjadinya komplikasiyaitu perdarahan dan renjatan

(shock). Pada orang dewasa kemungkinan ini sangat kecil dan banyak

terjadi pada anak-anak. Penderita biasanya mengalami demam 2-7 hari

diikuti fase kritis 2-3 hari. Pada fase kritis ini, suhu menurun tetapi

risiko terjadinya penyakit justru meningkat bahkan bila tidak diatasi

dengan baik dapat menimbulkan kematian.

d. Pencegahan Penyakit DBD

Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan

yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier

(Depkes RI, 2012).

1) Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk

mempertahankan orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang

sehat menjadi sakit. Secara garis besar, upaya pencegahan ini dapat

berupa pencegahan umum dan khusus. Surveilans untuk nyamuk

Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi,

kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan

waktu dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran dengue, dan

tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang dipakai, untuk


23

memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan

pengendalian vektor. Data tersebut akan memudahkan pemilihan

dan penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan

dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan

yang dilakukan adalah survei jentik. Pengendalian vektor,

surveilans kasus, dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk

merupakan pencegahan primer.

2) Pencegahan Sekunder

Pencegahan tingkat kedua ini murupakan upaya manusia

untuk mencegah orang yang sakit agar sembuh, menghambat

progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi dan mengurangi

ketidakmampuan. Pencegahan skunder dapat dilakukan dengan

cara mendeteksi penyakit secara dini dan pengadaan pengobatan

yang cepat dan tepat.

Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD

dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan masyarakat dengan cara:

a) Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit

DBD, berikan pertolongan pertama dengan banyak minum,

kompres dingin dan berikan obat penurun panas yang tidak

mengandung asam salisilat serta segera bawa ke dokter atau

unit pelayanan kesehatan.

b) Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan

pemeriksaan/diagnosa dan pengobatan segaera melaporkan


24

penemuan penderita atau tersangka DBD tersebut kepada

Puskesmas, kemudian pihak Puskesmas yang menerima laporan

segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengamatan

penyakit dilokasi penderita dan rumah disekitarnya untuk

mencegah kemungkinan adanya penularan lebih lanjut.

c) Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi

dan kejadianluar biasa (KLB) kepada Camat, dan Dinas

Kesehatan Kota/Kabupaten, disertai dengan cara

penanggulangan seperlunya serta diagnosis dan diagnosis

laboratorium.

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi

ketidakmampuan dan mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan

tingkat ketiga ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan organ

yang cacat. Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat

simptomatik dan suportifyaitu dukungan pada penderita serta

mendirikan pusat-pusat rehabilitasi medik.

e. Virus Dengue

Virus tersebut menyebabkan demam dengue yang bersifat

asimptomatik. Infeksi oleh salah satu jenis virus akan menghasilkan

imunitas atau kekebalan yang bersifat seumur hidup terhadap jenis virus

dengue yang sama, namun tidak memiliki perlindungan silang (cross

protection) yang bersifat jangka panjang untuk melawan ketiga jenis


25

virus dengue lainnya. Perlindungan silang bersifat sementara yaitu

hanya bertahan selama ≤2 bulan. Infeksi oleh jenis serotip lainnya akan

meningkatkan risiko berkembangnya dengue yang lebih berat (World

Health Organization-Dengue and Severe Dengue Fact Sheet, 2012).

Genotip yang berbeda telah di Identifikasi dari masing–masing

serotip, menyorotin luas variabilitas genetik dari serotip virus dengue.

Diantara semua genotip tersebut, genotip dari virus DEN-2, DEN-3

adalah yang paling sering berhubungan dengan dengue berat mengiringi

infeksi dengue skunder. (World Health Organization-The Virus, 2012).

f. Vektor Penular Demam Berdarah Dengue

Vektor demam berdarah dengue di Indonesia adalah nyamuk

Aedes aegypti sebagai vektor utama dan Aedes albopictus sebagai

vektor sekunder. Spesies tersebut merupakan nyamuk pemukiman,

stadium pradewasanya mempunyai habitat perkembangbiakan di tempat

penampungan air/wadah yang berada di permukiman dengan air yang

relatif jernih. Nyamuk Aedes aegypti lebih banyak ditemukan

berkembang biak di tempat-tempat penampungan air buatan antara lain

bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, ban

bekas dan sejenisnya di dalam rumah meskipun juga ditemukan di luar

rumah di wilayah perkotaan, sedangkan Aedes albopictus lebih banyak

ditemukan di penampungan air alami di luar rumah, seperti axilla daun,

lubang pohon, potongan bambu dan sejenisnya terutama di wilayah


26

pinggiran kota dan pedesaan, namun juga ditemukan di tempat

penampungan buatan di dalam dan di luar rumah. Spesies nyamuk

tersebut mempunyai sifat anthropofilik, artinya lebih memilih

menghisap darah manusia, di samping itu juga bersifat multiple feeding

artinya untuk memenuhi kebutuhan darah sampai kenyang dalam satu

periode siklus gonotropik biasanya menghisap darah beberapa kali

(Depkes RI, 2010).

g. Penyebaran Nyamuk Aedes Aegypti

Menurut WHO (2009), Aedes aegypti tersebar luas di wilayah

tropis dan subtropis Asia Tenggara dan terutama di sebagian besar di

wilayah perkotaan. Penyebaran Aedes aegypti di pedesaan akhir-akhir

ini relatif sering terjadi yang dikaitkan dengan pembangunan sistem

persediaan air pedesaan dan perbaikan sistem transportasi. Di wilayah

yang agak kering seperti India, Aedes aegypti merupakan vektor

perkotaan dan populasinya secara khas berfluktuasi bersama air hujan

dan kebiasaan penyimpanan air. Pada negara lain di Asia Tenggara yang

curah hujannya melebihi 200 cm per tahun, populasi Aedes aegypti

ternyata lebih stabil dan ditemukan di daerah perkotaan, pinggiran kota

dan daerah pedesaan. Karena kebiasaan penyimpanan air secara

tradisional di Indonesia, Myanmar dan Thailand, kepadatan nyamuk

mungkin lebih tinggi di daerah pinggiran kota dari pada di daerah

perkotaan.
27

Ketinggian merupakam faktor yang penting untuk membatasi

penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Di India, Aedes aegypti dapat

ditemukan pada ketinggian yang berkisar dari nol meter sampai 1000

meter di atas permukaan laut. Ketinggian yang rendah (kurang dari 500

meter) memiliki tingkat kepadatan populasi nyamuk sedang sampai

berat. Sementara daerah pegunungan (dia atas 500 meter) memiliki

populasi nyamuk yang rendah. Di negara-negara Asia Tenggara,

ketinggian 10001500 meter di atas permukaan laut tampaknya

merupakan batas bagi penyebaran Aedes aegypti. Di bagian lain dunia,

nyamuk spesies ini dapat ditemukan di wilayah yang jauh lebih tinggi,

misalnya di Kolombia sampai mencapai 2200 meter.

h. Siklus hidup aedes aegepti

Menurut World Health Organization, South East Asia Region

(2010), Nyamuk Aedes aegypti memiliki fase kehidupan yang cukup

kompleks dengan perubahan bentuk, fungsi, dan Habitat. Fase

kehidupan nyamuk terdiri dari empat fase meliputi: fase telur, larva,

pupa, dan dewasa. Fase kehidupan nyamuk tersebut terbagi dua, yaitu

fase aquatic atau didalam air yaitu saat fase telur larva dan pupa dan

fase terrestial atau di darat yaitu saat fase dewasa.

Nyamuk Aedes aegypti membutuhkan air yang jernih untuk

tempat perkembangbiakannya dan lebih suka tempat penampungan air

yang jernih untuk tempat perkembangbiakannya dan lebih suka tempat

penampungan air yang terdapat didalam rumah dan digunakan dalam


28

aktifitas rumah tangga sehingga dapat meningkatkan keberadaan

nyamuk tersebut dirumah (Kholedi, et al, (2012) yang dikutip dalam

Skripsi Zulaikha. U, (2012).

Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna,

yaitu: telur - jentik - kepompong - nyamuk. Stadium telur, jentik dan

kepompong hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas

menjadi jentik dalam waktu ±2 hari setelah telur terendam air. Stadium

jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong

berlangsung antara 2–4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk

dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3

bulan (Depkes RI, 2010).

i. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

1) Telur

Nyamuk Aedes aegypti betina meletakkan telurnya sebanyak 50-

120 telur pada air yang mengandung materi organik didalam konteiner

yang terbuka dan permukaan konteiner gelap serta berada di tempat

yang teduh dan tidak terkena matahari (World Health Organization,

South East Asia Region, 2010; Centers for Disease Control and

Prevention, 2012). Telur di letakkan satu per satu di atas permukaan air

yang jernih atau menempel pada dinding tempat penampungan air

(World Health OrganizationSouth East Asia Region, 2010).

Kebanyakan nyamuk Aedes aegypti betina meletakkan telur di

beberapa tempat selama fase gonotropik. Perkembangan embrio


29

biasanya berlangsung selama 48 jam pada lingkungan yang hangat dan

lembab. Ketika perkembangan embrio selesai, telur dapat bertahan

dalam periode pengawetan yang lama (lebih dari satu tahun). Telur

akan menetas menjadi larva pada konteiner yang menggenang, tetapi

tidak semua telur menetas pada waktu yang sama. Kapasitas telur

nyamuk untuk kondisi iklim (World Health Organization-South East

Asia Region, 2010; American Mosquito Control Association, 2011).

2) Jentik (Larva)

Menurut Depkes RI (2010), ada 4 tingkat (instar) jentik sesuai

dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu:

a) Instar I: berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm

b) Instar II: 2,5-3,8 mm

c) Instar III: lebih besar sedikit dari larva instar II

d) Instar IV: berukuran paling besar 5 mm

Lamanya perkembangan larva akan bergantung pada suhu,

ketersediaan makanan, kepadatan larva pada sarang. Pada kondisi

optimum waktu yang dibutuhkan mulai dari penetasan sampai

kemunculan nyamuk dewasa akan berlangsung sedikitnya selama

tujuh hari termasuk dua hari untuk masa menjadi kepompong.

Akan tetapi pada suhu rendah mungkin akan membutuhkan

beberapa minggu untuk kemunculan nyamuk dewasa.

3) Survei Jentik (Pemeriksaan Jentik)

Survei Jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut:


30

a) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat

perkembangbiakan Nyamuk Aedes Aegypti (dengan mata

telanjang) untuk mengetahui adanya tidaknya jentik.

b) Jika memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar

seperti bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air

lainnya, jika pandangan pertama tidak menemukan jentik maka

harus ditunggu selama 1/2 -1 menit untuk memastikan bahwa

benar jentik tidak ada.

c) Jika memeriksa tempat penampungan air yang berukuran kecil

seperti vas bunga, pot tanaman, dan botol yang airnya keruh,

maka airnya perlu di pindahkan ketempat lain.

d) Ketika memeriksa jentik di tempat yang agak gelap atau airnya

keruh, maka di gunakan senter (Merdawati, (2010) dalam skripsi

Zulaikha. U, (2014).

4) Kepompong (Pupa)

Fase Pupa merupakan fase istirahat, dimana tidak ada

pemberian makanan, tetapi pupa sering berpindah-pindah tempat

merespon perubahan cahaya dan bergerak dengan memutar ekornya

ke arah bawah atau area yang terlindungi. Pupa bergerak dengan

menggerakkan abdomen dan sirip kaudal yang mirip dayung.

Kepompong berbentuk seperti koma. Bentuknya lebih besar

namun lebih ramping dibanding jentiknya. Kepompong berukuran

lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata kepompong nyamuk


31

lain. Kepompong merupakan tahapan yang tidak memerlukan makan

namun tidak seperti sebagian besar insekta, kepompong nyamuk

berenang sangat aktif dapat berenang dengan mudah saat terganggu.

Tahap kepompong pada nyamuk Aedes aegypti umumnya

berlangsung selama 2-3 hari. Saat nyamuk akan melengkapi

perkembangannya dalam cangkang kepompong, kepompong akan

naik ke permukaan dan berbaring sejajar dengan permukaan air

untuk persiapan munculnya nyamuk dewasa (Depkes RI, 2010).

5) Nyamuk Dewasa

Nyamuk dewasa setelah muncul dari kepompong akan

mencari pasangan untuk kawin untuk mengadakan perkawinan.

Setelah kawin, nyamuk siap mencari darah untuk perkembangan

telur demi keturunannya. Nyamuk jantan setelah kawin akan

istirahat, dia tidak mengisap darah, tetapi cairan tumbuhan,

sedangkan nyamuk betina menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan

rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan

bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki (Depkes RI, 2010).

j. Bionomik Nyamuk Aedes aegypti

1) Perilaku Makan

Nyamuk Aedes aegypti mayoritas bersifat antropofilik, yaitu senang

hidup di dalam rumah, meskipun nyamuk tersebut dapat memperoleh

makanan dari hewan berdarah panas (World Health Organization, South


32

East Asia Region, 2010). Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya

pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang

hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00-10.00 dan 16.00-

17.00. Nyamuk Aedes aegypti tidak menggigit pada malam hari, tetapi

nyamuk tersebut dapat menggigit di malam hari pada ruangan yang

terang. Aktivitas puncak nyamuk dalam menggigit bervariasi menurut

lokasi dan musim. Tidak seperti nyamuk lain Aedes aegypti mempunyai

kebiasaan mengisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu

siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan

demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit (Depkes

RI, 2010).

2) Perilaku Istirahat

Setelah mengisap darah, nyamuk Aedes aegypti ini akan hinggap dan

(beristirahat) di dalam atau kadang-kadang di luar rumah berdekatan

dengan tempat perkembangbiakannya. Lebih dari 90% populasi nyamuk

Aedes aegypti beristirahat biasanya di tempat-tempat yang agak gelap

dan lembab, tempat yang terpencil di dalam rumah atau bangunan,

termasuk kamar, toilet, kamar mandi dan dapur. Tempat di dalam rumah

yang sering di jadikan tempat istirahat yaitu di bawah kursi,

tempattempat yang menggantung seperti: pakaian dan gorden, serta di

dinding. Sebagaian kecil sering pula di temukan di luar rumah seperti:

pada tanaman, atau ditempat terlindungi. Di tempat-tempat ini nyamuk


33

menunggu proses pematangan telurnya (World Health Organization,

South East Asia Region, 2010).

Nyamuk Aedes aegypti memiliki jarak terbang rata-rata 400

meter, dan dapat terbang lebih jauh misalnya karena angin atau terbawa

kendaraan (World Health Organization, 2012). Nyamuk Aedes aegypti

dewasa memiliki masa hidup selama 3-4 minggu. Selama musim hujan,

dimana kelangsungan hidup lebih lama, risiko transmisi virus lebih besar

(World Health Organization, South East Asia Region, 2010; Central for

Disease Control and Prevention, 2012).

3) Tempat Perkembangbiakan

Depkes RI (2010), menyatakan tempat perkembangbiakan

utama aedes aegypti ialah tempat-tempat penampungan air berupa

genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana di dalam

atau sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidak

melebihi jarak 500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak

dapat berkembang biak di genangan air yang langsung

berhubungan dengan tanah. Jenis tempat perkembangbiakan

nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari,

seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan

ember.
b) Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari

seperti (Non TPA) seperti: tempat minum burung, vas bunga,


34

perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol,

plastik dan lain-lain).


c) Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon,

lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang

dan potongan bambu.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai,

nyamuk betina akan meletakan telurnya di dinding tempat

perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada

umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ±2 hari

setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat

mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur itu di tempat yang

kering (tanpa air) dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu -2ºC

sampai 42ºC, dan bila tempat-tempat tersebut kemudian tergenang

air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih

cepat.

k.Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), beberapa metode

pengendalian vektor telah banyak diketahui dan digunakan oleh program

pengendalian DBD di tingkat pusat dan di daerah yaitu:

1) Manajemen Lingkungan

Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan

untuk mengurangi bahkan menghilangkan habitat perkembangbiakan

nyamuk vektor sehingga akan mengurangi kepadatan populasi.

Manajemen lingkungan hanya akan berhasil dengan baik kalau


35

dilakukan oleh masyarakat, lintas sektor, para pemegang kebijakan

dan lembaga swadaya masyarakat melalui program kemitraan.

Sejarah keberhasilan manajemen lingkungan telah ditunjukkan oleh

Kuba dan Panama serta Kota Purwokerto dalam pengendalian

sumber nyamuk.

a) Pengendalian Biologis

Pengendalian secara Biologis merupakan upaya

pemanfaatan agent biologi untuk pengendalian vektor DBD.

Beberapa agen biologis yang sudah digunakan dan terbukti

mampu mengendalikan populasi larva vektor DB/DBD adalah

dari kelompok bakteri, predator seperti ikan pemakan jentik dan

cyclop (Copepoda).

b) Pengendalian Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi masih paling populer baik

bagi program pengendalian DBD dan masyarakat. Penggunaan

insektisida dalam pengendalian vektor DBD bagaikan pisau

bermata dua, artinya bisa menguntungkan sekaligus merugikan.

Insektisida kalau digunakan secara tepat sasaran, tepat dosis,

tepat waktu dan cakupan akan mampu mengendalikan vektor dan

mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan organisme

yang bukan sasaran. Penggunaan insektisida dalam jangka

tertentu secara akan menimbulkan resistensi vektor.

c) Perlindungan Individu
36

Untuk melindungi pribadi dari risiko penularan virus DBD

dapat dilakukan secara individu dengan menggunakan repellent,

menggunakan pakaian yang mengurangi gigitan nyamuk. Baju

lengan panjang dan celana panjang bisa mengurangi kontak

dengan nyamuk meskipun sementara. Untuk mengurangi kontak

dengan nyamuk di dalam keluarga bisa memasang kelambu pada

waktu tidur dan kasa anti nyamuk. Insektisida rumah tangga

seperti semprotan aerosol dan repellent: obat nyamuk bakar,

vaporize mats (VP), dan repellent oles anti nyamuk bisa

digunakan oleh individu. Pada 10 tahun terakhir dikembangkan

kelambu berinsektisida atau dikenal sebagai Insecticide Treated

Nets (ITNs) dan tirai berinsektisida yang mampu melindungi

gigitan nyamuk.

8. Faktor yang mempengaruhi kejadian DBD

Menurut segitiga epidemiologi, suatu penyakit termasuk DBD dapat

timbul akibat pengaruh dari 3 faktor berikut:

a. Agent

Agent merupakan penyebab infeksi, dalam penyakit DBD disebabkan

oleh virus. Sedangkan vektornya merupakan nyamuk Aedes. Virus Aedes

mampu bermultiplikasi pada kelenjar ludah dari nyamuk Aedes Aegepty.

Maka pengontrolan terhadap virus dengue dapat dilakukan dengan

pengontrolan vektornya yakni nyamuk Aedes.


37

Jumlah kepadatan vektor Aedes dalam suatu daerah dapat menjadi patokan

potensial penyebaran DBD.

b. Host

Terjadinya penyakit DBD pada seseorang ditentukan oleh faktor-

faktor yang ada pada host itu sendiri. Kerentanan terhadap penyakit DBD

dipengaruhi oleh imunitas dan genetik.

1) Imunitas

Status imunitas dari host merupakan komponen penting yang

menentukan perkembangan penyakit DBD. Ditemukan kejadian DBD

meningkat pada kasus:3

a) Anak yang pernah terinfeksi dengue

Fase akut dari dengue mampu menghasilkan imunitas

homotypic jangka lama. Selain itu, dalam beberapa penelitian

menyebutkan dapat terjadi imunitas yang bersifat cross reactive

heterotypic. Namun jika antibodi dari imunitas cross reactive

heterotypic tersebut memudar dan gagal menetralkan virus Dengue

dalam infeksi sekunder. Antibodi tersebut menjadi mampu memacu

pathogenesis penyakit sehingga dapat terjadi demam berdarah

dengue.
38

b) Bayi dengan maternal dengue antibody yang minim.

Pasif IgG dengue antibody dari ibu jika dimiliki oleh bayi

dibawah umur 1 tahun dalam taraf dibawah level penetralisir virus,

memiliki kapabilitas meningkatkan replikasi virus sehingga dapat

terjadi demam berdarah dengue pada infeksi primer.

2) Genetik.

Sebuah penelitian oleh J.F.P Wagenaar, dkk, telah

membuktikan keterlibatan beberapa HLA (Human Leukocyte

antigen) dan polimorfisme genetik umum dapat mempengaruhi

kerentanan terhadap DBD. Keberagaman tersebut mampu

memberikan kerentanan atau ketahanan kepada host terhadap virus

dengue. Berikut ini sifat yang diberikan oleh gen HLA tertentu:

a) Ketahanan terhadap virus:

HLA alel class 1: A29, A33, B13, B14, B44, B 52, B62, B76,

B77

b) Kerentanan terhadap virus:

HLA alel class 1: A1, A2, A24, B blank, B46, B51

c) HLA alel class 2

d) Fc gamma-receptor

e) Vitamin D receptor
39

c. Environment

Pengaruh dari lingkungan yang mendukung berkembangnya

virus ataupun vektor dari penyakit DBD antara lain

1) Geografis dan Iklim

Dengue utamanya ditemukan di daerah tropis. Karena Vektornya

yaitu nyamuk Aedes membutuhkan iklim yang hangat.15 Ketinggian

juga merupakan faktor penting dalam distribusi nyamuk Aedes. Di

Asia Tenggara ketinggian 1000-1500 meter di atas permukaan laut

merupakan batas penyebaran nyamuk Aedes.2.

2) Faktor lingkungan lain

Kebersihan lingkungan, kondisi tempat penampungan air, dan

kondisi tempat pembuangan sampah menjadi salah satu faktor

penting dalam perkembangan nyamuk Aedes. Kondisi tersebut dapat

dihindari dengan perilaku pencegahan yang dilakukan oleh

masyarakat sendiri. Dalam rumah tangga, hendaknya dapat

dilakukan oleh setiap anggota keluarga. (dikutip dalam Tesis

Widodo.N, 2012).

B. Tinjauan Tentang Pengetahuan

a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan

sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh


40

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar

pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran yaitu telinga

dan indra penglihatan yaitu mata (Notoatmodjo, 2012) dalam skripsi

Aboesina (2012).

Menurut (Notoatmodjo 2012), dalam Aboesina (2012), pengetahuan

merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2011), pengetahuan adalah

sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses

belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam, seperti motivasi dan

faktor luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan sosial

budaya.

b. Proses terjadinya Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo 2011), dalam Aboesina (2012) pengetahuan

mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru

didalam diri orang tersebut terjadi proses sebagai berikut:

a. Kesadaran (Awareness), dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi (obyek).


b. Merasa (Interest), tertarik terhadap stimulasi atau obyek tersebut

disini sikap obyek mulai timbul.


c. Menimbang-nimbang (Evaluation), terhadap baik dan tidaknya

stimulasi tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah

lebih baik lagi.


d. Mencoba (Trial), dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu

sesuai dengan apa yang dikehendaki.


41

e. Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulasi.


c. Tingkat Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo 2012), di kutip dalam skripsi Zulaikha. U

(2014) pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan yaitu:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya, pada tingkatan ini reccal (mengingat kembali)

terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan ini adalah yang

paling rendah.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar tentang objek

yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh dan

lain-lain.

c. Aplikasi (Application);
42

penerapan diartikan apabila orang yang telah memahami objek

yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip

yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis);

analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan

atau memisahkan kemudian mencari hubungan antara

komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek

yang diketahui.

e. Sintesis (Synthesis);

sintesis menunjuk kemampuan seseorang untuk merangkum dan

meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-

komponen pengetahuan yang dimiliki atau kemampuan untuk

meringkas dengan kata-kata dan kalimat sendiri tentang hal-hal yang

telah dibaca atau didengar, dan membuat kesimpulan.

f. Evaluasi (Evaluation);

evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini

dengan sendirinya didasarkan pada suatu critera yang ditentukan

sendiri atau normanorma yang berlaku dimasyarakat.

C. Tinjauan Tentang Tindakan

1. Definisi Tindakan
43

Pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tindakan

adalah sesuatu yang dilakukan, perbuatan. Tindakan yang dilaksanakan

untuk mengatasi sesuatu

2. Tingkat-tingkat praktek atau tindakan adalah sebagai berikut:


a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan

tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat

pertama. Misalnya, seorang ibu dapat memilih jenis alat kontrasepsi

yang cocok dengan dirinya.


b. Respon terpimpin (guided response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai

dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

Misalnya seorang ibu dapat mencuci dan memotong-motong sayur

dengan benar mulai dari cara mencuci dan memotong sayur hingga

lamanya memasak.
c. Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar

secara otomat is atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka

orang tersebut sudah dapat mencapai praktek tingkat tiga. Misalnya

seorang ibu yang sudah mengimunisasikan bayinya pada umur-umur

tertentu tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.

d. Adaptasi (adaptation)

Adaptasi adalah suatu paktek atau tindakan yang sudah

berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi

tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya ibu dapat


44

memilih makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang

murah dan sederhana.

Pengukuran praktek atau tindakan dapat dilakukan secara tidak

langsung yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang

telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu. Pengukuran

juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi

tindakan atau kegiatan responden.

Allah Ta’ala berfirman:


‫ت أكنيثديفكنم كويكنعففوُ كعنن ككثثيِرر‬
‫صيِبكرة فكبثكماَ كككسبك ن‬ ‫كوكماَ أك ك‬
‫صاَبكفكنم ثمنن فم ث‬

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan

oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian

besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

D. Tinjauan Tentang Lingkungan


1. Definisi Lingkungan

Lingkungan adalah sesuatu yang ada diluar host, baik benda mati,

benda hidup atau abstrak seperti suasana yang berbentuk akibat dari

interaksi semua elemen-elemen tersebut termasuk host yang lain.

Lingkungan mencangkup subfaktor yang sangat luas diantaranya yaitu

lingkungan fisik, lingkungan biologik dan lingkungan sosial budaya.

a. Lingkungan Fisik

Aedes Aegypti tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis di Asia

Tenggara dan terutama tersebar di sebagian besar wilayah perkotaan,

pedesaan. Penyebaran Aedes Aegypti relatif sering terjadi dan


45

dikaitkan dengan pembangunan sistim persediaan air di pedesaan dan

sistem transportasi. Di Asia Tenggara yang curah hujannya melebihi

200 cm pertahun ternyata nyamuk Aedea Aegypti ini lebih stabil dan

ditemukan didaerah perkotaan, pinggiran kota dan di daerah pedesaan.

b. Lingkungan Biologik

Di Asia Tenggara penggunaan preparat biologik untuk

mengendalikan populasi nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan salah

satu vektor penyebab dengue terutama pada tahap larvanya, hanya

menjadi kegiatan lapang yang berskala kecil. Penggunaan ikan sebagai

pencegahan biologik sudah semakin banyak digunakan untuk

mengendalikan nyamuk Aedes Aegypti di kumpulan air yang banyak

(TPA) atau air di kontainer yang besar di negara-negara Asia Tenggara.

Kegunaan dan keefesian alat pengendali ini bergantung pada jenis

penampung yang dipakai.

c. Lingkungan Sosial budaya

Masyarakat dan lembaga pemerintah harus menunjukkan

perhatian yang tulus terhadap penderitaan manusia, misalnya angka

kesakitan dan angka kematian penderita DBD di negara tersebut,

kerugian ekonomi bagi keluarga dan negara dan bagaimana mamfaat

program tersebut bisa memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.

Penggunaan sumberdaya harus terus didorong kapanpun koordinator

program pengendalian dengue dapat memanfaatkan pembuatan

peralatan yang dibutuhkan masyarakat lokal, tenaga pemerintah


46

perbaikan penyediaan air atau kelompok masyarakat dan pemuda

untuk tidak membuang ban bekas, wadah tak terpakai lainnya

dilingkungan.

(dikutip dalam jurnal Indah Kurnia, 2013).

E. Tinjauan Tentang Puskesmas


1. Definisi Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas

adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya

kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama,

dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk

mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah

kerjanya. (Permenkes RI No.75 Tahun 2014).

2. Tujuan Pembangunan Kesehatan Di Puskesmas

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas

bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:

a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan

kemampuan hidup sehat;


b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
c. Hidup dalam lingkungan sehat; dan
d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat.


3. Puskesmas menyelenggarakan fungsi:

a. penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

b. penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

4. Wilayah Kerja
47

Wilayah kerja puskesmas meliputi suatu kecamatan atau sebagian

dari kecamatan. Factor kapadatan penduduk, luas daerah, keadaan

gegrafis dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan

pertimbangan dalam menetukan wilyah kerja Puskesmas.


48

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti

Landasan teori dalam penyusunan kerangka konsep diidentifikasi

beberapa variable yang terlibat dalam kerangka konsep yang disusun baik

variabel yang bersifat independen maupun variabel yang bersifat dependen

sebagai berikut:

1. Demam berdarah dengue

Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus

dengue. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis dan

menginfeksi luas dibanyak negara di Asia Tenggara. Terdapat empat jenis

virus dengue, masing-masing dapat menyebabkan demam berdarah baik

ringan maupun fatal (Department of Health Hongkong, 2014). DBD

ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya

nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terdapat hampir

diseluruh daerah Indonesia (Candra, 2010).

2. Pengetahuan

Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010),

Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, telinga,

dan sebagainya).
49

3. Tindakan

Tindakan adalah aturan yang dilakukan, melakukan/mengadakan

aturan- aturan untuk mengatasi sesuatu atau perbuatan. Adanya hubungan

yang erat antara sikap dan pengetahuan merupakan kecenderungan untuk

bertindak. Tindakan nampak menjadi lebih konsisten, serasi, sesuai

dengan sikap bila sikap individu sama dengan sikap kelompok dimana ia

adalah bagiannya atau anggotanya (Purwanto 2006).

4. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,

baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh

terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada

dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal

balik yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

Pemerintah memegang peranan penting dalam mempengaruhi

pengetahuan seseorang mengenai demam berdarah baik itu melalui

penyuluhan kesehatan maupun program- program yang diadakan untuk

mencegah DBD, misalnya program PSN Plus, pembentukan unit Pokja

(kelompok kerja), Pokjanal (kelompok kerja fungsional) di tingkat desa/

kelurahan maupun jumantik (juru pemantau jentik) (dikutip dalam jurnal

Aboesina Sidiek 2012).


50

B. Bagan Kerangka Konsep


Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara variable-variabel

yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian, variable yang dijabarkan

dibawah ini (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan

Tindakan Kejadian
DBD

Lingkungan

Keterangan:

: Variabel independen

: Variabel dependen

Gambar 3.1: Bagan Kerangka Konsep

C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif


Definisi operasional mendefinisikan variable secara operasional

berdasarkan karakteristik yang di amati, sehingga untuk melakukan observasi

atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek fenomena (Hidayat,

2011).

1. Definisi Operasional
a. Pengetahuan
51

Merupakan kemampuan masyarakat dalam mengerti tentang

penyakit DBD yang berkaitan dengan etiologi, manifestasi dan

pencegahan DBD.
Kriteria Objektif
Dalam penelitian ini keriteria obektif yang digunakan berdasar

kepada Arikunto 2006 dimana pengetahuan seseorang dapat diukur

dengan menggunakan alat ukur Baik dan Kurang, seperti dibawah ini:

1) Baik jika skor total ≥ 76%

2) Kurang jika skor total 56%–75 %.

Skala Guttman (kuesioner)

Skala variabel: Ordinal

b. Tindakan
Tindakan adalah segala tindakan yang dilakukan secara nyata

untuk melakukan pencegahan DBD yang terdiri dari manajemen

lingkungan, perlindungan diri, abatisasi, pengendalian biologis. Yang

terdiri dari 12 pertanyaan.


Kriteria Objektif

Baik : jika jawaban ≥ 6

Kurang : jika jawaban < 6

Skala likert (kuesioner)

Skala variabel: Ordinal

c. Lingkungan
Adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia serta

mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun


52

tidak langsung. Yang meliputi observasi pengamatan lingkungan

sperti pemantauan jentik, kondisi rumah dan keadaan container.


Kriteria Objektif:

1. baik jika skor total ≥ 76%

2. cukup jika skor total 56%–75 %.

3. kurang jika skor total < 56%


Skala likert (kuesioner)
Skala Variabel: ordinal
53

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam Penelitian ini

mmenggunakan pendekatan studi kuantitatif penelitian ini bersifat

deskriptif dengan melalui metode penelitian cross sectional, yang

bertujuan untuk memperoleh gambaran pengetahuan, tindakan, dan

lingkungan masyarakat dengan kejadian DBD di Kelurahan Tanete

Kecamatan Taneterilau Kabupaten Barru. Metode penelitian ini

menggunakan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-

angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2012).

Pada desain cross sectional mempelajari hubungan penyakit dan

paparan dengan mengamati status paparan penyakit atau outcome lain, jadi

pada desain ini juga mencoba mengamati hubungan paparan dan yang

ditimbulkan dengan menggunakan beberapa kombinasi paparan.

Pada jenis ini, variable independen dan dependen nilai secara

stimulant pada suatu saat jadi tidak ada tindak lanjut. Tentunya tidak

semua objek penelitian harus di observasi pada hari atau waktu yang sama,

akan tetapi baik variable independen dan dependen dinilai hanya satu kali

saja. Cara ini dilakukan dengan melakukan survey wawancara atau

menyebarkan kuesioner pada responden penelitian (Nursalam, 2016).


54

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Pekkae, di

Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan ada tanggal 06 Juni s/d 06 Juli

tahun 2017.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas:

objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2012).

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di

kelurahan Tanete Kecamatan Tanete Rilau Kabuapten Barru dengan

jumlah 756 kepala keluarga.

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2011)” sampel adalah bagian dari jumlah

dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Berdasarkan

pengertian diatas dapat disimpulkan sampel adalah bagian dari

populasi yang hendak diteliti dan mewakili karakteristik dari populasi.


55

a. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai

dengan ketentuan rumus besar sampel dengan menggunakan

rumus Slovin sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012).

Keterangan:

n: Ukuran sampel

N: Besar sampel populasi sasaran

e: Batas toleransi (derajat ketetapan yang di inginkan (10%)).

b. Besar sampel

Cara penarikan sampel menurut rumus Slovin oleh

(Notoatmodjo, 2012.)

88,3 = 88

Sampel berjumlah 88 kepala keluarga, dari

Kelurahan Tanete yang merupakan wilayah kerja dari

Puskesmas Pekkae Kabupaten Barru.


56

D. Pengumpulan dan Penyajian Data

1. Pengumpulan Data

Data sekunder tentang angka kesakitan dan kematian akibat

penyakit DBD serta data mengenai kesehatan lingkungan diperoleh

dengan cara observasi data di dinas kesehatan Kota Barru Bidang

P2PL dan Puskesmas Pekkae. Sedangkan data primer didapatkan

dengan cara melakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan

kuesioner dan melakukan pengamatan pada populasi yang telah

ditetapkan sebagai sampel penelitian.

2. Penyajian Data

Data yang telah diolah dan dianalisis selanjutnya disajikan dalam

bentuk tabel dan dijelaskan dalam bentuk narasi.

E. Analisis Data

Setelah dilakukan proses pengumpulan dan penyajian data, langkah

selanjutnya adalah melakukan proses analisis data. Tujuan analis data

adalah agar data yang dikumpulkan memiliki arti/makna yang dapat

berguna untuk mengatsi masalah kesehatan (Amran, 2012). Adapun

analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari satu

tahap yaitu:

1. Analisis univariate

Analisis univariat merupakan suatu analisis untuk

mendeskripsikan masing-masing variable yang diteliti. Pada penelitian


57

ini analisis univariate menggunakan analisis persentase dari seluruh

responden yang diambil dalam penelitian, dimana akan

menggambarkan bagaimana komposisinya ditinjau dari beberpa segi

sehingga dapat dianalisis karakteristik responden. Analisis univariate

dilakukan untuk menganalisis variable-variabel karakteristik individu

yang ada secara deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi

dan proporsinya. Analisis univariate pada penelitian ini dilakukan pada

variable penelitian ynag meliputi: 1) Data demogarfi masyarakat yang

terdiri dari umur, Pendidikan, dan jenis kelamin; 2) pengetahuan

masyarakat tentang Demam Berdarah Dengue; 3) Tindakan pencegahan

Demam Berdarah Dengue; 4) Lingkungan Masyarakat yang meliputi

Observasi Pengamatan Lingkungan

F. Etika Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menekankan masalah etika yang perlu

diperhatikan selama penelitian yaitu:

1. Lembar Persetujuan Penelitian

Lembar persetujuan ini diberikan sebelum penelitian dilakukan

agar responeden pengetahuan maksud, tujuan, dan manfaat penelitian.

jika responden bersedia meneliti maka mereka harus menandatangani

lembar persetujuan penelitian, jika tidak peneliti harus menghargai hak-

hak responden.
58

2. Tanpa Nama (anoni mousity)

Peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar

pengumpulan data yang diisi oleh responden, tetapi menuliskan kode

pada lembar pengumpulan data yang diberikan kepada responden.

3. Kerahasiaan (confidentially)

Kerahasiaan responden akan dijamin oleh peneliti, baik sebuah

informasi maupun masalah-masalah lainnya yang diberikan oleh

responden. (Hidayat, 2008).


59
60