Anda di halaman 1dari 3

Nama : Dwiki Alfajri

NIM : 02011281722140

Presiden Tidak Bisa Dipilih Berulang-Ulang!

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia memiliki sejarah yang hampir sama tuanya
dengan sejarah Indonesia. Dikatakan hampir sama sebab pada saat proklamasi 17
Agustus 1945, bangsa Indonesia belum memiliki pemerintahan. Barulah sehari kemudian, 18
Agustus 1945, Indonesia memiliki konstitusi yang menjadi dasar untuk mengatur
pemerintahan (UUD 1945) dan lembaga kepresidenan yang memimpin seluruh bangsa. Dari
titik inilah perjalanan lembaga kepresidenan yang bersejarah dimulai.
Sejarah perjalanan lembaga kepresidenan Indonesia memiliki keunikan tersendiri,
sebagaimana tiap-tiap bangsa memiliki ciri khas pada sejarah pemimpin mereka masing-
masing. Perjalanan sejarah yang dilalui lembaga kepresidenan diwarnai setidaknya tiga atau
bahkan empat konstitusi. Selain itu ini boleh dikatakan “hanya” diatur dalam
konstitusi. Peraturan di bawah konstitusi hanya mengatur sebagian kecil dan itupun letaknya
tersebar dalam berbagai jenis maupun tingkatan peraturan. Ini berbeda dengan
lembaga legislatif dan lembaga yudikatif yang memiliki undang-undang mengenai susunan
dan kedudukan lembaga itu sendiri. Lain daripada itu masalah tokoh dan periodisasi juga
memerlukan pencermatan lebih lanjut.
Pembatasan periode jabatan Presiden merupakan salah satu upaya untuk mencegah
terjadinya pemegang jabatan kekuasaan yang terus menerus yang diyakini akan menjadi
sumber keabsolutan dan penyimpangan kekuasaan. Karena itu pada Perubahan Pertama UUD
1945 dilakukan perubahan ketentuan Pasal 7 yang semula menentukan "Presiden dan Wakil
Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. dan sesudahnya dapat dipilih
kembali", diubah menjadi "Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima
tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali
masa jabatan". Dengan perubahan tersebut maka periode masa jabatan Presiden dan Wakil
Presiden menjadi lebih tegas, yaitu hanya boleh memegang jabatan yang sama selama dua
kali atau periode. Dengan demikian kejadian seseorang menjabat presiden sebanyak 6 (enam)
periode, masa pemerintahan Presiden Soeharto, tidak terulang lagi.
Masa republik keenam adalah periode diberlakukannya UUD 1945 setelah mengalami
proses perubahan ketatanegaraan yang fundamental yang tetap dinamakan UUD 1945. Secara
tepatnya periode ini dihitung mulai 10 Agustus 2002 sampai terjadinya perubahan yang
fundamental terhadap konstitusi.
Dengan perubahan I-IV konstitusi selama masa republik V maka terjadi perubahan
yang sangat fundamental dari segi ketatanegaraan. Dan dapat dikatakan lembaga-lembaga
negara, termasuk lembaga kepresidenan, mendapatkan kekuasaan, susunan dan kedudukan,
tugas dan wewenang, serta hak dan kewajiban yang baru menurut “konstitusi yang baru”.
Salah satunya menurut mantan anggota PAH I dari PPP, Lukman Hakim Saifuddin,
perubahan pasal 7 UUD 1945 sebelum amandemen itu berbunyi seperti berikut:
"Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan
sesudahnya dapat dipilih kembali."
Saat itu dalam agenda I yang dibahas pada tahun 1999, kata dia, semua fraksi
menyepakati perubahan pasal 7 UUD 1945 itu. "Tidak ada satu pun fraksi yang menolak
termasuk Fraksi TNI/Polri," kata Lukman yang saat ini menjabat Wakil Ketua MPR dalam
perbincangannya dengan Tempo, Kamis (19/8).
Menurut Lukman, kesepakatan itu dicapai karena semua fraksi menganggap
Indonesia perlu belajar dari kepemimpinan dua presiden sebelumnya: Soekarno dan
Soeharto.
Karena pasal itu, kata Lukman, Seokarno mengangkat dirinya sebagai presiden
seumur hidup. Begitu pun Soeharto, yang mencoba mengakali pasal itu. Dimana ia selalu
dipilih terus hingga enam periode.
Mantan Wakil Ketua PAH I BP MPR, Slamet Effendy Yusuf, menambahkan
pembatasan terhadap masa kepemimpinan Presiden perlu dilakukan karena untuk
keberlangsungan demokrasi. "Jangan sampai demokrasi membuat masyarakat
mengkultuskan individu," ujarnya dalam percakapannya dengan Tempo, Kamis (19/8).

Lukman dan Slamet memerinci bahaya jika masa jabatan presiden tak dibatasi. Inilah
bahayanya:

 Seseorang akan otoriter

 Abuse of Power, menyalahgunakan kekuasaan

 Regenerasi kepemimpinan nasional macet

 Seseorang bisa menjadi diktator

 Timbulnya kultus individu

Dan juru bicara Mahkamah Konstitusi (MK) Fajar Laksono berkomentar juga
tentang perubahan yang terjadi di pasal 7 UUD 1945 ini, ia mengatakan presiden dan wakil
presiden tak bisa menjabat lebih dari dua periode sesuai UUD 1945 dan Undang-Undang
Pemilu. Pasal 7 UUD 1945 pasca amandemen menyatakan presiden dan wakil presiden
memegang jabatan selama lima tahun. Sesudahnya mereka dapat dipilih dalam jabatan yang
sama hanya untuk satu kali masa jabatan.

"Secara hukum, tidak boleh ada orang menjabat sebagai presiden atau wakil
presiden lebih dari dua kali masa jabatan," kata Fajar saat dihubungi Tempo, Selasa, 27
Februari 2018. Fajar mengatakan aturan itu hasil amandemen dengan semangat pembatasan
jabatan untuk menghindari kesewenang-wenangan yang bisa merugikan masa depan
demokrasi.

Pasal 169 huruf N Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu pun
menjelaskan, syarat menjadi presiden dan wakil presiden adalah belum pernah menjabat di
posisi itu selama dua kali masa jabatan untuk jabatan yang sama.

Fajar menuturkan satu kali masa jabatan presiden dan wakil Presiden berlangsung
selama lima tahun, seperti diatur UUD 1945. Dalam Putusan MK Nomor 22/PUU-
VII/2009, aturan mengenai lamanya satu masa jabatan kembali dipertegas. "Orang
dikatakan menjabat satu kali periode itu hitungannya kalau sudah menjabat setengah atau
lebih dari masa jabatan." Artinya, presiden atau wakil presiden yang sudah menjabat selama
2,5 tahun atau lebih sudah dihitung menjabat selama satu periode.

Menurut Fajar, aturan itu berlaku bagi pejabat dengan masa jabatan yang diemban
secara berturut-turut ataupun dengan jeda. Selama sudah dua kali menjabat, kesempatan
untuk maju kembali sudah tertutup. "Perdebatan soal apakah jabatan itu dijabat dua kali
berturut-turut atau dengan jeda jadi tidak relevan.” Karena hukum tidak memperkenankan
pejabat yang sudah dua kali memegang jabatan presiden atau wapres.

Secara historis, rumusan pembatasan masa jabatan dua periode ini lahir dari
kehendak untuk membatasi kekuasan presiden dan wakil presiden dengan
mempertimbangkan pengalaman presiden soeharto selama 32 tahun masa orde baru yang
pertama melalui Tap MPR Nomor XIII/MPR/1998. Kekuasaan Presiden soeharto sangat
besar dan semakin besar karena bisa menjabat tanpa adanya batasan jabatan periode.

Kalau tidak ada pembatasan masa jabatan dikhawatirkan akan menyalahgunakan


jabatannya, baik fasilitas, finansial maupun pengaruh yang mereka miliki sebagai Presiden
karena semakin lama berkuasa seseorang berkecenderungan untuk menyalahgunakan
kekuasaannya. Maka pemberian batasan masa dalam suatu jabatan adalah untuk menjaga
ketika kekuasaan itu dikuasai oleh satu orang yang akan berakibat akan terjadinya
pemerintahan yang otoriter karena akan sangat berbahaya jika ia dibiarkan berada dalam
tangan yang sama untuk jangka waktu tak terhingga.

Namun meskipun masa jabatan telah dibatasi. Presiden tetap dapat saja dijatuhkan
dari kedudukannya selama masa jabatan. Secara konstitusional, Presiden dapat dijatuhkan
dari kedudukannya apabila ia melakukan tindak kriminal ataupun kesalahan prinsipil dalam
melaksanakan tugasnya menurut Undang-Undang Dasar. i

i
Refrensi :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_lembaga_kepresidenan_Indonesia
2. https://nasional.tempo.co/read/272307/kenapa -masa-jabatan-presiden-perlu-dibatasi
3. https://nasional.tempo.co/read/1064831/mk-presiden-dan-wapres-tak-bisa-menjabat-lebih-
dari-dua-periode
4. https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20180507/281625305932524
5. http://limc4u.com/uud-1945/penjelasan-pasal/penjelasan-pasal-7-sampai-pasal-7c-uud-
1945/
6. http://digilib.uinsby.ac.id/23846/1/A.%20Faris%20Ramadani_C03206007.pdf
7. Jimly Asshiddiqie, Pergumulan Peran Pemerintah Dan Parlemen Dalam Sejarah Telaah
Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara, (Jakarta; UI Press, 1996)