Anda di halaman 1dari 58

DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

V. PEMAHAMAN DAN SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA DAN


PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

Konsultan secara seksama talah mempelajari Dokumen Lelang serta Kerangka Acuan Tugas
(TOR). Pada prinsipnya kedua dokumen tersebut untuk memberikan gambaran yang jelas
mengenai tujuan proyek, ruang lingkup dan keluaran (output) yang diinginkan dari jasa
konsultansi ini. Untuk lebih menghasilkan ouput yang optimal maka ada beberapa tanggapan
dan saran terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK) sebagaimana sebagai berikut ini :

4.1 Pemahaman dan Saran terhadap Personil

Pada Kerangka Acuan Kerja yang di terbitkan pertama kali, disyaratkan


1. Team Leader adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 7 tahun
2. Ahli Struktur Jembatan adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 5 tahun
3. Ahli Bahan dan Material adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 5 tahun
4. Ahli Geodesi adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 5 tahun
5. Ahli Kuantitas & Biaya adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 5 tahun
6. Ahli Hidrologi/Hidraulika adalah Ahli Madya SDA dengan pengalaman 5 tahun

Kemudian di adenddum menjadi


1. Team Leader adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 5 tahun
2. Ahli Struktur Jembatan adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 3 tahun
3. Ahli Bahan dan Material adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 3 tahun
4. Ahli Geodesi adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 3 tahun
5. Ahli Kuantitas & Biaya adalah Ahli Madya Jalan/Jembatan dengan pengalaman 3 tahun
6. Ahli Hidrologi/Hidraulika adalah Ahli Madya SDA dengan pengalaman 3 tahun
Berdasarkan pemikiran kami menurunkan kualifikasi tenaga ahli untuk melaksanakan pekerjaan
ini sudah tepat sasaran,hal ini dapat menghemat biaya personil tanpa mengurangi kualitas hasil
perencanaan, sedangkan yang harus di optimalkan adalah biaya-biaya non personil seperti biaya
penyelidikan soil, dengan alokasi dana yang cukup akan diperoleh hasil penyelidikan yang
maksimal.
Tetapi menurut hemat kami, pemakain tenaga ahli masih terlalu banyak, misalnya tenaga ahli

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -1
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

bahan dan material dapat di rangkap oleh ahli kuantitas dan biaya, karena lingkup subpekerjaan
item ini saling terkait. Kemudian pemakain ahli hidrologi sebenarnya dapat di rangkap oleh ahli
geodesi, kemudian kualifikasi ahli hidrolika/hidrologi dipersyaratkan Ahli Madya SDA menurut
hemat kami terlalu luas, karena untuk menghitung hidrologi perencanaan jembatan cukup
dengan ahli jembatan saja.
Kemudian pemakain tenaga ahli selain team leader menurut hemat kami cukup Ahli Muda
dengan pengalaman 4 tahun, secara hirarki kualifikasi di bawah team leadar

4.2 Pemahaman dan Saran terhadap Fasilitas Pendukung

Untuk fasilitas pendukung kami kira sudah cukup, hal itu dikarenakan bentuk kontrak yang akan
di laksanakan adalah Lump Sum, artinya dengan fasilitas pendukung yang disediakan harus
mampu menghasilkan output yang di inginkan oleh penguna jasa.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -2
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

V. URAIAN PENDEKATAN METODOLOGI DAN RENCANA KERJA

5.1 Pendekatan dan Metodolgi

Untuk mendapatkan hasil perencanaan yang sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) seperti
yang disyaratkan dalam dokumen lelang, maka acuan yang akan digunakan sebagai dasar atau
refrensi dalam pelaksanaan desain harus berpedoman pada NSPM bidang Bina Marga.
Jembatan merupakan struktur yang perlu direncanakan dengan baik agar dapat berfungsi
dengan optimal.
Lingkup persyaratan dalam perencanaan jembatan adalah :
1. Persyaratan umum perencanaan,
2. Penjaminan Mutu,
3. Persyaratan lintasan air,
4. Persyaratan geometrik,
5. `P engaman lalu lintas,
6. Persyaratan tahan gempa,
7. Persyaratan-persyaratan pemeliharaan,
8. Prasarana umum (utilitas) yang terkait.

Dalam melaksanakan persyaratan di atas dokumen yang akan digunakan sebagai refrensi
adalah sebagai berikut :
a. SNI 03-1725-1989, Pedoman perencanaan pembebanan jembatan jalan raya.dan
Pembebanan untuk Jembatan RSNI T-02-2005
b. SNI 2838:2008, Standar perencanaan ketahanan gempa untuk jembatan
c. SNI 03-2850-1992, Tata cara pemasangan utilitas di jalan
d. RSNI T-02-2005, Standar pembebanan untuk jembatan.
e. RSNI T-03-2005, Standar perencanaan struktur baja untuk jembatan RSNI T-12-2004,
Standar perencanaan struktur beton untuk jembatan Pd-T-13-2004-B, Pedoman
penempatan utilitas pada daerah milik jalan
f. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/SE/M/2010 tentang peta gempa 2010.
g. Bridge Design Code, Volume 1 and Volume 2, Bridge Management System 1992,

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -3
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum.


h. Bridge Design Manual, Volume 1 and Volume 2, Bridge Management System 1992,
Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum.
i. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan (Maret 1992).
j. AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993
k. Design Manual for Roads and Bridges Vol. 1 Section 3, BD 49/93, “Design Rules for
Aerodynamic Effects on Bridges”, 1993.
l. Tata cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota edisi No.038/T/BM/1997 September
1997
m. Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Pt.T-01-2002-B
n. Pedoman Perencanaan Perkerasan Beton Semen Pd.T.14-2003.
o. Pedoman Perencanaan Separator Jalan Pd.T-15-2004-B
p. Pedoman Perencanaan Median Jalan Pd.T-17-2004-B
q. Peraturan Struktur Beton untuk Jembatan, RSNI T-12-2004.15
r. Ketentuan Desain dan Revisi Desain Jalan dan Jembatan , Direktur Jenderal Bina
Marga no UM 0103 –Db/242, Maret 2008
s. Panduan Analisa Harga Satuan, No. 008/BM/2008, Direktorat Jenderal Bina Marga,
Departemen Pekerjaan Umum.

1). Persyaratan umum perencanaan jembatan


Persyaratan umum perencanaan jembatan ini digunakan sebagai pedoman untuk ketentuan
perencanaan struktur-struktur jembatan yang tidak lazim (extraordinary bridge) seperti
jembatan dengan beban rencana yang sangat besar atau umur rencana yang sangat panjang
dan yang menggunakan bahan-bahan atau cara-cara baru, instansi yang berwenang
dapat menetapkan keadaan khusus mengenai persyaratan pembebanan atau kekuatan.

a. Dasar perencanaan
Perencanaan harus berdasarkan prosedur-prosedur yang memberikan kemungkinan-
kemungkinan yang dapat diterima untuk mencapai suatu keadaan batas selama umur
rencana jembatan. Metode-metode perancangan tegangan kerja yang konvensional
dianggap memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam peraturan y a n g b e r l a k u .
Jembatan tidak dirancang untuk seluruh kemungkinan beban dan kondisi ekstrem seperti
kondisi yang timbul dalam keadaan perang. Namun, setiap aksi atau pengaruh yang
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -4
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

mungkin terjadi dan dapat diramalkan sebelumnya secara rasional harus dipertimbangkan
dalam desain/perencanaan, termasuk metode pelaksanaan.
Tebal pelapisan ulang lapis permukaan di atas lantai jembatan hanya diperbolehkan satu kali
dengan tebal maksimum 50 mm dan diperhitungkan dalam desain sebagai beban mati.
Dalam pelaksanaannya, jalan pendekat dan lantai jembatan harus berada pada elevasi yang
sama.

b. Pokok-pokok perencanaan (design objectives)


Struktur jembatan yang berfungsi paling tepat untuik suatu lokasi tertentu adalah yang paling
baik memenuhi pokok-pokok perencanaan jembatan yang meliputi:
a) Kekuatan dan stabilitas struktur (structural safety);
b) Keawetan dan kelayakan jangka panjang (durability);
c) Kemudahan pemeriksaan (inspectability);
d) Kemudahan pemeliharaan (maintainability);
e) Kenyamanan bagi pengguna jembatan (rideability);
f) Ekonomis
g) Kemudahan pelaksanaan;
h) Estetika;
i) Dampak lingkungan pada tingkat yang wajar dan cenderung minimal

c. Faktor Keselamatan
Tanggung jawab utama perencana jembatan akan mengedepankan keselamatan
masyarakat umum , dimana perencana harus mendapatkan suatu jembatan yang memiliki
keselamatan struktural (structural safety) yang memadai.

d. Keawetan (durability)
Jembatan harus dibuat dari bahan yang berkualitas serta menggunakan standar yang tinggi
dalam proses fabrikasi dan perakitannya. Baja struktur harus terlindung dari korosi,
memiliki system lapis pelindung (coating) atau proteksi katodik (cathodic protection)
yang berusia panjang. Baja tulangan dan baja prategang pada komponen beton yang
terekspos udara atau air harus terlindung secara memadai dengan salah satu atau
kombinasi dari pelindung epoxy dan/atau galvanis, selimut beton, kepadatan beton, komposisi
kimia beton, pengecatan permukaan beton atau proteksi katodik. Baja prategang di dalam
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -5
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

selongsong harus di injeksi dengan graut (grouts) atau tindakan lain yang melindungi
dari korosi. Bahan yang terbuat dari aluminium harus di insulasi secara elektrikal dari
komponen baja dan beton.
Perlindungan juga harus tersedia untuk material yang mudah rusak akibat radiasi sinar
matahari dan polusi udara. Pertimbangan lebih harus diberikan terkait dengan keawetan
material yang berhubungan langsung dengan tanah dan/atau air.
Jembatan harus dirancang untuk dapat meminimalkan pengaruh yang dapat mempercepat
kerusakan pada komponen akibat bentuk dan geometri elemen yang ada (self-protecting
measures). Sebagai contoh, tindakan berikut ini dapat dilakukan, namun tidak terbatas pada
hal tersebut saja misalnya, menyediakan kemiringan yang cukup pada permukaan atas pilar
dan kepala jembatan untuk dapat mengeluarkan air yang turun akibat penggunaan
sambungan lantai tipe terbuka.

e. Mudah diperiksa (inspectability)


Tangga inspeksi, jalan pemeriksaan, catwalk, lubang pemeriksaan yang tertutup, akses
penggantian lampu penerangan dan sebagainya akan disediakan ketika tujuan pemeriksaan
dinilai tidak mudah diperoleh.

f. Mudah dipelihara (maintainability)


Sistem struktur tertentu yang diperkirakan kegiatan pemeliharaannya sulit dilakukan akan
dihindari. Daerah di sekitar dudukan perletakan dan di bawah sambungan lantai harus
dirancang untuk pendongkrakkan, pembersihan, perbaikan dan penggantian perletakan dan
sambungan. Titik pendongkrakan harus di tentukan dalam rencanan dan struktur harus
dirancang untuk gaya pendongkrakan yang diperlukan. Lubang-lubang (cavities) dan sudut-
sudut yang dapat mengundang manusia atau hewan harus dihindari atau dibuat tertutup.

g. Keamanan dan kenyamanan pengguna (rideability)


Lantai jembatan harus dirancang untuk menghasilkan pergerakan lalu lintas yang mulus.
Pada jalan yang diperkeras, pelat injak (structural transition slab) harus dipasang diantara
jalan pendekat dan kepala jembatan.
Sudut pada sambungan lantai beton yang terlewati oleh lalu lintas harus dilindungi dari
kemungkinan tergerus atau gompal. Apabila lantai beton tanpa lapis permukaan aspal
digunakan, pertimbangan harus diberikan untuk menyediakan ketebalan tambahan + 10 mm
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -6
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

untuk keperluan penyesuaian profil lantai dengan cara penggerindaan (grinding) dan sebagai
kompensasi berkurangnya ketebalan akibat tergerus.

h. Utilitas
Jika diperlukan perlengkapan a k a n dibuat untuk mendukung dan memelihara tempat
terpasangnya utilitas.

i. Perubahan bentuk (deformation)


Jembatan a k a n direncanakan sedemikan rupa untuk menghindari pengaruh struktural
dan psikologi yang tidak diinginkan akibat perubahan bentuk yang terjadi. Dalam hal
ini perhitungan tambahan juga harus diberikan pada jembatan bersudut (skewed),
batasan lendutan ijin berdasarkan bahan jembatan dan tipe struktur.

j. Pertimbangan pelebaran di masa depan


Untuk keperluan ini pada j embatan gelagar, kapasitas balok terluar (exterior beams)
harus dihitung setara dengan balok lainnya (interior beams) kecuali jika diasumsikan tidak
mungkin/tidak akan untuk dilakukan pelebaran jembatan di masa yang akan datang. Untuk
hal yang sama, pertimbangan pada saat perencanaan bangunan bawah juga perlu
dilakukan untuk memungkinkan menerima beban pada kondisi jembatan yang telah
diperlebar.

k. Kemudahan dikerjakan (constructability)


Jembatan yang akan direncanakan tidak hanya harus dapat direncanakan dengan baik,
namun juga harus dapat dilaksanakan/dibangun, oleh karena itu seorang perencana juga
harus memiliki wawasan tentang teknik-teknik konstruksi jembatan dan komponen
komponennya sehingga gambar yang diterbitkan dari proses perencanaan dapat
dilaksanakan.

l. Ekonomis
Jembatan yang akan doesain atau rencana akan memperhatikan faktor ekonomis dari
sumber pendanaan untuk pelaksanaan jembatan tersebut kelak setelah selesai
direncanakan. Pemilihan tipe bangunan atas, penentuan jumlah dan panjang bentang dan
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -7
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

sebagainya akan menentukan seberapa besar biaya yang diperlukan untuk membangun
jembatan tersebut. Tipe jembatan serta komponen yang digunakan juga menentukan besar
kecilnya life cycle cost dari jembatan. Biaya total jembatan (total cost) akan
mencakup biaya awal pembangunan (initial cost), biaya pengoperasian (operational cost)
dan biaya pemeliharaan/penggantian komponen (maintenance cost) yang harus menjadi
pertimbangan pada saat perencanaan jembatan. Pada table 1 dari berbagai literature,
disajikan sebagai referensi awal dalam pemilihan bangunan atas berdasarkan bentang
ekonomisnya.

Tabel 1 Pedoman umum penentuan bentang ekonomis


No Tipe Bangunan Atas Bentang Ekonomis (m)
1 Pelat Beton Bertulang 0 – 15
2 Gelagar Beton T 10 – 18
3 Mod Gelagar Beton T 18 – 25
4 Gelagar Boks Beton Bertulang 25 – 40
5 Gelagar I Beton Pratekan 25 – 40
6 Gelagar Boks Baja 40 – 300
7 Rangka Baja (Steel Truss) 40 – 200
8 Pelengkung Baja (Steel Arch) 150 – 400
9 Beruji Kabel (Cable Stayed) 200 – 500
10 Gantung (Suspension) 300 – 2000

n. Estetika
Jembatan pada umumnya memiliki nilai estetika karena memiliki bentuk yang unik
dibandingkan bangunan di sekitarnya. Pada saat perencanaan jembatan, pertimbangan
estetika dapat dipilih untuk menentukan bentuk visual jembatan yang diinginkan. Hal seperti
ini biasanya terjadi pada suatu daerah yang menginginkan jembatan menjadi ciri khas
(landmark) dari daerah tersebut.

2). Tahapan perencanaan


Tahapan perencanaan adalah untuk menemukan struktur yang akan memenuhi pokok-
pokok perencanaan. Tahapan perencanaan bersifat uji coba yang dimulai dari suatu
definisi masalah dan berkembang dalam hasil yang berguna setelah beberapa percobaan
dan modifikasi.

a. Filosofi perencanaan
Perencanaan jembatan dapat dilakukan menggunakan dua pendekatan dasar untuk

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -8
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

menjamin keamanan struktural yang diizinkan, yaitu rencana tegangan kerja dan rencana
keadaan batas. Kedua pendekatan tersebut memberikan jawaban yang serupa, tetapi
keduanya menggunakan nilai beban rencana berbeda dan deskripsi berbeda untuk faktor
keamanan.

b. Rencana tegangan kerja (working stress design)


Rencana tegangan kerja adalah pendekatan elastik yang digunakan untuk memperkirakan
kekuatan atau stabilitas dengan membatasi tegangan dalam struktur sampai tegangan ijin
sebesar ± 1/2 dari kekuatan struktur aktual pada beban kerja. Tegangan ijin tersebut
diperoleh dengan membuat beberapa toleransi untuk stabilitas tidak linier dan pengaruh
bahan pada kekuatan unsur terisolasi. Tegangan ijin sebenarnya juga besaran kekuatan
ultimit yang dibagi dengan faktor keamanan. Banyak yang menilai metode ini kurang
efisien dalam mencapai tingkat keamanan yang konsisten bila faktor keamanan
digunakan pada bahan saja. Namun demikian, metode rencana tegangan kerja adalah
metode yang relatif sederhana dan konservatif sehingga untuk beberapa hal
penggunaannya masih diijinkan,walaupun metode ini tidak digunakan dalam pedoman
perencanaan.

c. Rencana keadaan batas (limit states)


Rencana keadaan batas adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan
perencanaan dimana semua fungsi dan bentuk struktur telah diperhitungkan. Pada saat
mencapai keadaan batas, pada jembatan diasumsikan terdapat jumlah reaksi yang
sedemikian besarnya sehingga mengakibatkan jembatan runtuh/tidak layak layan atau telah
terjadi kegagalan (failure).Kejadian kegagalan tersebut umumnya dikelompokkan menjadi
dua kategori yaitu keadaan batas ultimit (runtuh) dan keadaan batas layan. Pada rencana
keadaan batas, margin keamanan digunakan lebih merata pada seluruh struktur melalui
penggunaan faktor keamanan parsial, dimana faktor keamanan terbagi antara beban dan
bahan yang mengijinkan ketidakpastian pada dua komponen tersebut.

Dalam praktiknya dan mengingat kondisi kurangnya data beban dan kapasitas aktual maka
digunakan suatu pendekatan semi-probabilistik yang sebagian berdasarkan analisis statistik
dan sebagian lagi berdasarkan korelasi dari perencanaan terdahulu. Faktor beban dan faktor
reduksi yang digunakan mengikuti peraturan/standar yang berlaku seperti peraturan
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -9
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

pembebanan, peraturan beton dan peraturan baja RSNI T-02-2005 (Revisi SNI 03-1725-
1989).
Persamaan sederhana untuk menggambarkan Rencana Keadaan Batas adalah sebagai
berikut
“ Faktor Reduksi Kekuatan x Kapasitas Nominal ≥ Faktor Beban x Beban Nominal”

Penggunaan faktor beban dan faktor reduksi harus mengikuti peraturan di dalam standar
perencanaan yang berlaku, seperti RSNI T-03-2005 untuk struktur baja dan RSNI T-12-2004
untuk struktur beton.

d. Keadaan batas ultimit


Aksi-aksi yang menyebabkan sebuah jembatan menjadi tidak aman disebut aksi-aksi ultimit
dan reaksi yang diberikan jembatan terhadap aksi tersebut disebut dengan keadaan batas
ultimit. Keadaan batas ultimit terdiri dari hal-hal berikut.
a) Kehilangan keseimbangan statis karena sebagian atau seluruh bagian jembatan
longsor, terguling atau terangkat ke atas;
b) Kerusakan sebagian jembatan akibat lelah/fatik dan atau korosi hingga suatu
keadaan yang memungkinkan terjadi kegagalan;
c) Keadaan paska elastik atau purnatekuk yaitu satu bagian jembatan atau lebih
mencapai kondisi runtuh. Pada keadaan plastis atau purna tekuk, aksi dan
reaksi jembatan
diperbolehkan untuk didistribusikan kembali dalam batas yang ditentukan dalam
bagian perencanaan bagi material yang bersangkutan;
d) Kehancuran bahan fondasi yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan
atau kehancuran bagian utama jembatan.
Suatu aksi ultimit didefinisikan sebagai aksi yang terlampaui 5% selama umur rencana
jembatan

e. Keadaan batas layan


Keadaan batas layan akan tercapai ketika reaksi jembatan sampai pada suatu nilai
sehingga:
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -10
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

a) mengakibatkan jembatan tidak layak pakai, atau


b) menyebabkan kekhawatiran umum terhadap keamanan jembatan, atau
c) secara signifikan mengurangi kekuatan atau masa layan jembatan.

Keadaan batas layan adalah suatu kondisi pada saat terjadi:


a) perubahan bentuk (deformasi) yang permanen pada pondasi atau pada sebuah
elemen penyangga utama setempat,
b) kerusakan permanen akibat korosi, retak, atau kelelahan/fatik,
c) getaran, dan
d) banjir pada jaringan jalan dan daerah di sekitar jembatan yang rusak
karena penggerusan pada dasar saluran, tepi sungai, dan jalan hasil timbunan.

Aksi yang menyebabkan keadaan batas layan disebut aksi daya layan yang mempunyai 5%
kemungkinan dilampaui per tahun.

f. Metode analisis
Analisis untuk semua keadaan batas akan didasarkan atas asumsi elastis linier kecuali bila
cara-cara nonlinier disetujui atau dinyatakan dalam pedoman ini oleh instansi yang
berwenang. Keadaan plastis atau redistribusi paska tekuk dari aksi dan respons jembatan
yang diizinkan dalam peraturan, harus berdasarkan atas asumsi elastis linier.
Analisis untuk perencanaan tegangan kerja harus berdasarkan asumsi bahwa bahan
berperilaku elastis linier. Redistribusi aksi dalam perencanaan tegangan kerja tidak
diperbolehkan. Keadaan batas yang ditentukan ini dimaksudkan untuk menghasilkan
jembatan yang dapat dibangun (buildable), melayani lalu lintas (serviceable), dan secara
aman mampu memikul beban rencana sesuai umur rencana yang disyaratkan.
Jembatan dan komponen-komponennya akan diperiksa juga untuk:
- Kestabilan keseluruhan,
- Umur fatik, dan
- Kestabilan aerodinamis.
Persyaratan keadaan batas ultimit, keadaan batas layan, tegangan, lendutan, retak, atau
getaran dan persyaratan lain selengkapnya dapat mengacu pada persyaratan dalam

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -11
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

AASTHO LRFD Bridge Design Specification 4th edition 2007.

3) Umur rencana

Sesuai dengan ketentuan Umur rencana untuk jembatan dibuat untuk masa layan
selama 75 tahun kecuali :
a) jembatan sementara atau jembatan yang dapat dibongkarpasang, dibuat dengan
umur rencana 20 tahun.
b) jembatan khusus yang memiliki fungsi strategis yang ditentukan oleh instansi
yang berwenang, dibuat dengan umur rencana 100 tahun.
c) terdapat peraturan dari instansi yang berwenang yang menetapkan umur rencana
yang lain.
Perkiraan umur rencana tidak berarti bahwa struktur jembatan tidak dapat berfungsi lagi di
akhir umur rencana, atau tidak juga berarti bahwa jembatan masih dapat dilalui selama
selang waktu tersebut tanpa perlu diperiksa dan dipelihara secara teratur dan memadai.
Perlu ditekankan bahwa jembatan sebagaimana hampir pada seluruh bangunan dengan
struktur modern memerlukan pemeriksaan yang teratur dan bila diperlukan perbaikan
langsung hendaknya di bawah pengawasan yang berwenang. Harus dipertimbangkan
sarana-sarana jalan masuk dan langkah-langkah yang diperlukan untuk memudahkan
pemeriksaan dan pemeliharaan serta penggantian komponen. Selain itu, harus disediakan
ruang kerja yang memadai di sekitar bagian jembatan seperti perletakan, siar muai, dan
angkur prategang.
Prosedur standar harus digunakan untuk menggambar jembatan dan memberi ukuran pada
komponennya. Bila menggunakan singkatan, singkatan itu juga harus distandarkan.
Jika umur rencana elemen-elemen seperti perletakan dan siar muai kurang dari umur
bangunan utama, harus dirancang untuk dibuat sarana yang memudahkan penggantian.
Selain itu, bahan-bahan perlengkapan harus diperinci agar jembatan dapat dipergunakan
kembali.

3). Analisa Struktur Abutmen

A. Kombinasi Beban

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -12
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Berdasarkan Kombinasi Beban untuk Perencanaan Tegangan Kerja sesuai dengan Tabel
Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, kombinasi yang digunakan adalah sebagai berikut.

Tabel Kombinasi Beban Untuk Perencanaan Tegangan Kerja


Aksi Kom bina si
1 2 3 4 5 6 7
Aksi Tetap X X X X X X X
Beban Lalu Lintas X X X X O O O
Pengaruh Temperatur O X O X O O O
Arus/Hanyutan/Hidro/Daya Apung X X X X X O O
Beban Angin O O X X O O O
Pengaruh Gempa O O O O X O O
Beban Tumbukan O O O O O O X
Beban Pelaksanaan O O O O O X O
Tegangan berlebihan yang diperbolehkan 0 25% 25% 40% 50% 30% 50%

Panjang tumpuan minimum

balok girder Tinggi balok girder

Tebal dudukan girder


Abutmen girder

Gambar Tumpuan Balok Struktur Atas ke Abutmen

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -13
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Tebal pile cap

Lebar pile cap

Lebar pile cap


Gambar Lebar dan Tebal Pile Cap

B. Notasi Gaya Gaya

Xv
surcharge load = q GW

V15 H
V27 dan H28
16 GD Y h
H17
akibat gempa
V27 dan H28
V13 dan H14 V1
V13 dan H14
akibat surcharge
V11 dan H12 H
H24

V11 dan H12 V8


0.25 m
akibat tek. tanah Y
1.00 m
+
OB X
TW +

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -14
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Xv
GW
el. 2
H18 V11
el. 3 V2 GD Y h
H12
H19
V3 H17
V1 el. 1
el. 9 el. 10 H26
H25 0.25 m
V9 V10
el. 8

TW

el. 8

el. 6 el. 5 el. 7


H22 H21 0.25
H23
V5 m
V6 V7 1.00 m
el. 4 H20
O
V4
B
Gambar Notasi Gaya-Gaya

Tabel Notasi Gaya-Gaya


No Notasi Keterangan Tipe Tipe Tipe beam
gaya dinding peralihan cap

1 V1 Berat sendiri elemen 1

2 V2 Berat sendiri elemen 2

3 V3 Berat sendiri elemen 3

4 V4 Berat sendiri elemen 4

5 V5 Berat sendiri elemen 5

6 V6 Berat sendiri elemen 6

7 V7 Berat sendiri elemen 7

8 V8 Berat sendiri elemen 8

9 V9 Berat sendiri elemen 9

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -15
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23


10 V10 Berat sendiri elemen 10

11 V11 Komponen ver. dari tek. tanah aktif

12 H12 Komponen hor. dari tek. tanah aktif

Komponen vertikal dari tekanan akibat beban


13 V13
surcharge

Komponen horizontal dari tekanan akibat beban


14 H14
surcharge

15 H15 Gaya vertikal dari struktur atas

16 H16 Gaya horisontal dari struktur atas

17 H17 Gaya inersia gempa elemen 1

18 H18 Gaya inersia gempa elemen 2

19 H19 Gaya inersia gempa elemen 3

20 H20 Gaya inersia gempa elemen 4

21 H21 Gaya inersia gempa elemen 5

22 H22 Gaya inersia gempa elemen 6

23 H23 Gaya insrsia gempa elemen 7

24 H24 Gaya inersia gempa elemen 8

25 H25 Gaya inersia gempa elemen 9

26 H26 Gaya inersia gempa elemen 10

Komponen vertikal dari tambahan tekanan tanah


27 V27
gempa

Komponen horisontal dari tambahan tekanan tanah


28 H28
gempa

B. Analisa Pondasi Tiang Pancang


Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis kelompok pondasi tiang dengan metode
perpindahan adalah sebagai berikut :
a. Pondasi dianggap sebagai bangunan 2 dimensi
b. Tiang dianggap bersifat elastis-linier terhadap gaya tekan, gaya tarik tiang dan lenturan
c. Konstanta pegas dalam arah vertikal, arah mendatar dan rotasi pada kepala tiang dianggap konstant
d. Tumpuan dianggap kaku (rigid) dan berputar ke pusat gabungan tiang

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -16
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

a. Bidang X-Y, dan 


Vo

X Mo Ho
O hi
Muka tanah

i > 0 i < 0
Y
x 0 
y

Gambar Tata Sumbu Bidang X-Y, dan 

b. Bidang X-Z

X
O

Gambar Tata Sumbu Bidang X-Z

Titik referensi O bisa ditentukan sembarang, tetapi disarankan agar titik referensi yang digunakan
terlatak pada dasar pile-cap di titik pusat dari pile cap tersebut.

B. Perpindahan Titik referensi

Perpindahan dari titik referensi dapat ditentukan dengan menyelesaikan 3 persamaan dengan 3
variabel di bawah.
Axx   x  Axy   y  Ax    H o
Ayx   x  Ayy   y  Ay    Vo
Ax   x  Ay   y  A    M o

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -17
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Dengan mengasumsikan bahwa dasar dari pile-cap adalah horizontal, maka koefisien-koefisien
pada persamaan sebagai berikut.

Axx   K 1  cos 2  i  K v  sin 2  i 
Axy  Ayx   K v  K 1   sin  i  cos i 

Ax  Ax   K v  K 1   xi  sin  i  cos  K 2  cos i 


Ayy   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  i 
 
Ay  Ay   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  1  xi  K 2  sin  i 
 
A   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  1  xi2  ( K 2  K 3 )  sin  i  K 4 

Ho = Gaya horizontal yang bekerja pada dasar pile-cap


Vo = Gaya Vertikal yang bekerja pada dasar pile-cap
Mo = Momen yang bekerja terhadap titik referensi
x = Perpindahan titik referensi dalam arah horizontal
y = Perpindahan titik referensi dalam arah vertikal
 = Sudut rotasi dari pile-cap
xi = Koordinat sumbu x dari puncak tiang
i = Sudut yang dibentuk oleh sumbu tiang pancang dengan bidang vertikal

K1,K2,K3,dan K4 masing masing adalah konstanta pegas dalam arah lateral jika koefisien reaksi
permukaan horizontal k diasumsikan konstant terhadap kedalaman dan panjang pemancangan (l)
dianggap cukup panjang dimana nilai l > 3/.
 adalah nilai karakteristik dari tiang pancang yang dihitung dengan persamaan berikut

kD -1
 4 m
4EI
k = Koefisien daya tangkap reaksi permukaan/ horizontal sub grade reaction coefficient.
D = Diameter dari tiang pancang
EI = Kekakuan lentur dari tiang pancang
h = Panjang tiang pancang yang terletak bebas di atas permukaan tanah

Konstant pegas dalam arah lateral K1,K2,K3,dan K4 masing-masing dihitung dengan rumus berikut.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -18
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Tabel Rumus Menghitung Konstanta Pegas


Kekuatan Kepala tiang Kepala Tiang Sendi
h0 h=0 h0 h=0
12 EI 3EI
K1 4 EI 3 2 EI 3
(1  h) 3  2 (1  h) 3  0.5

K2 = K3 K1 2 EI 2 0 0
2
4 EI 1  h   0.5
3

K4 2 EI 0 0
1  h 2 1  h 3  2

h = panjang tiang pancang yang terletak bebas di atas permukaan tanah


1
  h

Besarnya koefisien daya tangkap reaksi permukaan (k) menurut standar teknik di Jepang dapat
diperkirakan dengan menggunakan metode berikut.
1

k  ko  y 2

3

k o  0 .2  E o  D 4

ko = Harga k jika pergeseran pada permukaan dibuat sebesar 1 cm.


y = Besarnya pergeseran yang akan di cari
Eo = Modulus deformasi tanah pondasi, biasanya diperkirakan dengan formula Eo = 28 N
N = Nilai SPT di sekitar permukaan tanah
D = Diameter tiang

Jika persamaan (7.1), persamaan (7.2) dan persamaan (7.3) diselesaikan, maka akan diperoleh
perpindahan dari titik pile cap yang dinyatakan dalam perpindahan dari titik referensi x ,y, dan .

C. Perpindahan Kepala Tiang

Berdasarkan perpindahan dari titik referensi, maka dapat dihitung perpindahan dari setiap kepala
tiang sebagai berikut.
 xi'   x  cos i  ( y   )  sin  i

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -19
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

 yi'   x  sin  i  ( y   )  cos i

’xi dan ’yi adalah masing masing perpindahan kepala tiang ke i dalam arah lateral dan aksial.

D. Gaya Luar Pada Kepala Tiang

Gaya luar yang seolah-oleh bekerja pada masing-masing kepala tiang dapat dihitung dari
besarnya perpindahan pada masing-masing kepala tiang tersebut. Rumus yang digunakan untuk
menghitung perpindahan masing-masing kepala tiang adalah sebagai berikut

PNi  K v   yi'

PHi  K i   xi'  K 2  

M ti   K 3   xi'  K 4 

PNi = gaya aksial yang bekerja pada kepala tiang


PHi = gaya lateral yang bekerja pada kepala tiang
Mti = momen yang diperhitungkan bekerja pada kepala tiang.

Kv adalah konstanta pegas dalam arah aksial dari tiang yang menyatakan besarnya gaya dalam arah
vertikal pada kepala tiang yang menyebabkan perpindahan sebesar 1 satuan dalam arah vertikal pada
kepala tiang. Kv diperkirakan dari kurva pembebanan penurunan (load settlement curve) dari percobaan
pembebanan vertikal pada tiang. Untuk pemakaian praktis Kv dapat ditentukan secara empiris.
Cara empiris yang digunakan untuk jalan raya di Jepang adalah dengan menggunakan persamaan
berikut.
Ap  E p
Kv  a 
l
Ap = Luas penampang netto dari tiang (cm2)
Ep = Modulus elastisitas tiang (kg/cm2)
L = Panjang tiang (cm)
D = Diameter tiang (cm)
Parameter a dihitung sebagai berikut

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -20
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Tabel Rumus Menghitung Parameter a


l
Tiang yang terbuat dari pipa baja a  0.027  0 .2
D
l
Tiang beton pratekan/prestress a  0.041  0.27
D
l
Tiang yang di cor ditempat a  0.022  0.05
D

E. Reaksi Perletakan Pada Kepala Tiang

Reaksi perletakan pada kepala tiang yang disebabkan oleh gaya luar yang bekerja (PNi,PHi, dan Mti)
ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
Vi  PNi  cos i  PHi  sin  i

H i  PNi  sin  i  PHi  cos i

F. Validasi Hasil Analisis


Pemeriksaan dari hasil analisis dilakukan dengan menggunakan 3 persamaan berikut

H  H i o

V  V
i o

 M  V ti i  xi   M o

G. Daya Dukung Tiang Dalam Arah Lateral

Daya dukung tiang dalam arah lateral di tentukan dari persamaan berikut

Tabel Rumus Menghitung Daya Dukung Lateral Tiang


Kv  D
Tiang yang terbenam dalam tanah Ha  a

4 EI   3
Tiang yang menonjol di atas tanah Ha  a
1  h

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -21
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

a adalah besarnya perpindahan standar. Besarnya a biasanya diambil 10 mm untuk kondisi normal dan
15 mm untuk kondisi gempa.

H. Pemeriksaan Daya Dukung Kelompok Tiang

Untuk mengetahui apakah konfigurasi dari kelompok pondasi tiang yang digunakan mencukupi atau tidak,
perlu dilakukan pemeriksaan terhadap gaya-gaya yang bekerja pada setiap pondasi yang dibandingkan
terhadap daya dukung pondasi tersebut baik dalam arah aksial maupun lateral. Pemeriksaan dilakukan
untuk masing masing pondasi dengan membandingkan nilai PNi dan PHi masing-masing tiang terhadap
daya dukung ijin aksial dan lateral untuk 1 pondasi.


H Mt

X- h 
y1
Muka tanah
lm O
y2
+
X f

Gambar Tata Sumbu Tiang

I. Momen Lentur Maksimum Pada Tiang Pancang


Setelah memenuhi persyaratan daya dukung, langkah berikutnya adalah mendisain tiang
pancang beserta sambungannya. Untuk melakukan proses tersebut diperlukan lokasi serta
besarnya momen dan gaya geser maksimum pada tiang pancang.
Ada 2 kemungkinan lokasi momen maksimum pada tiang. Kemungkinan pertama adalah pada kepala
tiang dan kemungkinan yang ke dua adalah pada jarak lm dari muka tanah.

1. Momen Lentur Pada Kepala Tiang

Momen lentur pada kepala tiang dihitung dengan persamaan berikut


M o   M t   Hho

K. Lokasi Momen Terbesar Selain di Kepala Tiang

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -22
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Kemungkinan lokasi momen maksimum selain pada kepala tiang adalah pada jarak lm dari muka tanah.
Jarak tersebut dihitung sebagai berikut

1 1
lm  tan 1
 1  2  (h  ho )

L. Momen Pada Jarak lm dari muka tanah

Besarnya momen lentur pada jarak lm dari muka tanah dihitung sebagai berikut

Mm  
H
1  2  h  ho 2  1  exp l m 
2

M. Gaya-gaya Disain Sambungan Tiang Pancang

Pondasi tiang pancang umumnya terdiri dari segmen segmen pondasi dengan kedalaman
tertentu. Pada sambungan antara segmen pondasi tiang pancang tersebut perlu dilakukan
analisis untuk mendisain sambungan antar segmen tiang pancang. Untuk dapat mendisain
sambungan tersebut diperlukan besarnya gaya geser dan momen lentur pasa lokasi sambungan
yang ditinjau.

N. Gaya Geser

Gaya geser pada sembarang lokasi pada tiang pancang dihitung dengan persamaan pada Tabel
. Perhatikan perjanjian tanda untuk nilai x

Tabel Gaya Geser Sepanjang Tiang


Untuk x < 0 S  H
Untuk x > 0 S   He  x cos x  1  2  h  ho sin x 

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -23
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

O. Momen

Momen lentur pada sembarang lokasi pada tiang pancang dihitung dengan persamaan pada Tabel .
Perhatikan perjanjian tanda untuk nilai x.

Tabel Momen Sepanjang Tiang

Untuk x < 0 M   H  x  h   M t   H  x  h  ho 

e  h  ho  cos x  1   h  ho sin x 
H  x
Untuk x > 0 M 

P. Kurva Lenturan Tiang
Kelebihan lain dari metode perpindahan adalah bahwa kita dapat menentukan kelenturan dari
setiap pondasi tiang.

1. Persamaan Lenturan Tiang (cm)


Persamaan lenturan setiap pondasi tiang adalah seperti yang pada Table 5.11.
Tabel Persamaan Lenturan Tiang

Untuk x < 0 y1 
H
6 EI 3
 
 3 x 3  3 3 h  h0 x 2  31  2  h  h0 x  31   h  h0 

e  x 1   h  h0 cos x   h  h0 sin x 


H
Untuk x > 0 y2 
2 EI 3

2. Peralihan Kepala Tiang  (cm)

Kemiringan kepala tiang  dihitung dengan persamaan berikut

 
1  h   12
3
H
1  h 
2
M
3EI 3 2 EI 2
t

3. Peralihan Muka Tanah f (cm)


Perpindahan tiang arah horizontal tepat di muka tanah disebut peralihan muka tanah yang dihitung
dengan rumus berikut.
1   h  ho 
f  Ht
2 EI 3

II. Pondasi Sumuran

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -24
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

A. Batasan Pondasi Sumuran


Pondasi sumuran adalah pondasi yang dibangun dengan menggali cerobong tanah berpenampang
lingkaran dan dicor dengan beton atau campuran batu dan mortar. Pondasi sumuran diklasifikasikan
sebagai pondasi dangkal atau pondasi langsung dengan persyaratan perbandingan kedalaman tertanam
terhadap diameter lebih kecil atau sama dengan 4. Jika nilai perbandingan tersebut lebih besar dari 4
maka pondasi tersebut harus direncanakan sebagai pondasi tiang.

B. Persyaratan Teknis

Persyaratan teknis pondasi sumuran adalah


a. Tekanan dari konstruksi jembatan pada bagian bawah pondasi sumuran tersebut harus lebih kecil
atau sama dengan tegangan ijin tanah (  ijin).
b. Pondasi sumuran harus aman terhadap penurunan yang berlebihan.
c. Pondasi sumuran harus aman terhadap penggerusan atau kedalaman pondasi sumuran harus lebih
besar dari kedalaman maksimum penggerusan. Jika kedalaman pondasi sumuran lebih kecil dari
kedalaman maksimum penggerusan maka diperlukan perlindungan terhadap pondasi sumuran
tersebut.
d. Diameter pondasi sumuran harus dibuat  1.5 meter untuk kemudahan pelaksanaan
e. Pondasi sumuran tidak boleh digunakan pada kondisi tanah dimana lapisan atas terdiri dari tanah
lunak dengan ketebalan > 3 dan < 6 – 8 meter
f. Penggalian terbuka selama proses konstruksi pondasi sumuran tidak disarankan.
g. Jika selama pelaksanaan pondasi sumuran muka air tanah cukup tinggi, maka perlu dilakukan upaya
menurunkan elevasi muka air tanah di lokasi konstruksi dengan menggunakan pompa air.
h. Jika lokasi kepala jembatan yang melintasi sungai mengurangi penampang basah sungai, maka
diperlukan perlindungan gerusan pada kaki/bagian atas pondasi sumuran. Alternatif lainnya adalah
bentang jembatan di perbesar.

Pokok perencanaan pondasi sumuran untuk dapat mendukung bangunan bawah dan struktur atas dapat
dinyatakan sebagai berikut
a. Pondasi sumuran harus mempunyai keawetan yang memadai untuk penggunaan yang dipilih
b. Tanah pendukung harus memberikan daya dukung dan ketahanan geser yang memadai
c. Struktur pondasi sumuran harus mempunyai kekuatan memadai
d. Penurunan dan perpindahanhorisontal tidak boleh menimbulkan pengurangan kekuatan pada
komponen-komponen struktural.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -25
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Dalam perencanaan pondasi sumuran analisa yang harus dilakukan adalah:


a. Analisa kestabilan terhadap guling
b. Analisa ketahanan terhadap geser
c. Analisa kapasitas daya dukung tanah
d. Analisa penurunan
e. Analisa stabilitas secara umum

C. Kestabilan Terhadap Guling


Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung dengan persamaan berikut :

SFguling 
M R

M O

MO = Jumlah dari momen-momen yang menyebabkan struktur terguling dengan titik pusat putaran di
titik O. MO disebabkan oleh tekanan tanah aktif yang bekerja pada elevasi H/3.
MR = Jumlah dari momen-momen yang mencegah struktur terguling dengan titik pusat putaran di titik O.
MR merupakan momen-momen yang disebabkan oleh gaya vertikal dari struktur dan berat
tanah diatas struktur.

Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 2.8 Nilai minimum dari angka keamanan terhadap geser
yang digunakan dalam perencanaan adalah 2.2

D. Ketahanan Terhadap Geser

Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser dihitung berdasarkan persamaan berikut

SFgeser 
F R

F D

FD = Jumlah dari gaya-gaya horizontal yang menyebabkan stuktur bergeser. FD disebabkan oleh
tekanan tanah aktif yang bekerja pada struktur
FR = Jumlah gaya-gaya horizontal yang mencegah struktur bergeser. FR merupakan gaya gaya
penahan yang disebabkan oleh tahanan gesek dari struktur dengan tanah serta tahan yang
disebabkan oleh kohesi tanah.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -26
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

V tan  Bc 2  Pp
SFgeser 
2

Ph

Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 4.4.4, Nilai 2 biasanya diambil sama dengan sudut
geser tanah  untuk beton pondasi yang dicor ditempat dan 2/3 dari nilai  tanah untuk pondasi beton
pracetak dengan permukaan halus. Sedangkan nilai c2 biasanya diambil 0.4 dari nilai kohesi c tanah

Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 2.8 Nilai minimum dari Angka Keamanan terhadap
guling yang digunakan dalam perencanaan adalah 2.2

E. Daya Dukung Tanah Dasar

Tekanan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang terjadi pada dasar pondasi sumuran harus dipastikan
lebih kecil dari daya dukung ijin tanah. Daya dukung tanah pada dasar pondasi sumuran ditentukan
dengan cara yang sama seperti dalam menentukan daya dukung pondasi dangkal.

Untuk memudahkan analisis, bentuk sumuran berupa lingkaran dengan diameter D dapat di
ekivalensikan menjadi bentuk empat persegi dengan dimensi B x B. Besarnya nilai B dihitung
sebagai berikut.

  D2
B
4

Pemeriksaan tegangan yang terjadi dilakukan seperti dalam perencanaan pondasi dangkal segi empat.
Hal pertama yang perlu diperiksa adalah eksentrisitas dari gaya-gaya ke pondasi dengan dengan
menggunakan persamaan berikut
B M net
eks  
2 V
Tegangan kontak ke tanah dasar dihitung dengan persamaan berikut

mak
q min 
V 1  6  eks 
B  B 
Jika nilai eksentrisitas beban eks > B/6 maka tegangan kontak minimum q min akan lebih kecil dari 0. Hal ini
adalah sesuatu yang tidak diharapkan. Demikian juga jika tegangan kontak maksimum qmak lebih besar

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -27
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

dari daya dukung ijin. Jika hal ini terjadi maka lebar pondasi B perlu di perbesar atau diameter pondasi D
perlu diperlebar.

F. Tekanan Tanah Lateral


Tekanan tanah yang bekerja pada pondasi sumuran disebakan adalah tekanan tanah aktif dan
tekanan tanah pasif. Tekanan tanah pasif yang digunakan dalam analisis didasarkan tekanan
tanah pada keadaan diam “at rest”.

G. Gaya Gaya Yang Bekerja Pada Pondasi Sumuran


Notasi gaya-gaya yang bekerja pada pondasi sumuran diberikan pada Gambar 5.12 di bawah.

Surcharge Load
q V Gaya Luar V, H, dan M
harus sudah memasukkan
Lapisan tanah 1 (urugan) : C1,1, tekanan tanah aktif dari
M
dan 1 lapisan 1 (urugan)
Batas tanah urugan H
Lapisan tanah 2 : C2, 2, dan
2 Muka tanah efektif setelah
Tekanan tergerus
Tanah Tekanan
Aktif Tanah
Lapisan Pasif
2 Lapisan
Batas Lapisan tanah 2
2Tekanan
Lapisan tanah 3 : C3, 3, dan Tanah
3 Pasif
Tekanan Muka air tanah
Lapisan
Tanah tertinggi 3
Aktif
Tekanan
Lapisan
Tekanan 3 air
air

O
Gambar Gaya-Gaya Yang Bekerja Pada Pondasi Sumuran

Penulangan Abutmet dan Pile Cap


Abutmen diasumsikan sebagai kolom, sehingga desain berdasarkan kaedah-kaedah yang berlaku pada
kolom, baik kolom persegi maupun kolom bulat
Penampang Persegi Dengan Tulangan Pada 2 Sisi
A. Kasus A : Garis Netral Terletal Pada Penampang (  1)

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -28
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

’ N
d Da e
b
1
/2Atot 1
/2h Db
y=ht
al t
 'a
½(1+)
n
ht ht
garis
ht
netral
1
/2Atot
T
d al

a
b
n
Gambar Kasus A : Garis Netral Terletal Pada Penampang

Berdasarkan Gambar diatas total gaya pada tulangan dapat dinyatakan sebagai

 '    1
Na  1 nAtot  a  a   1  'b bht n  2  

2 2
 n n  

Total momen dari tulangan terhadap titik pusat kolom adalah

  'a  a   'b bht


2
Ma  nAtot 2 ht    n 2
1 1
4
2
 n n 
Resultan gaya tekan pada beton adalah
Db  1
2  'b bht
Resultante momen dari tegangan tekan beton terhadap titik pusat kolom adalah
 'b bht2
Mb  1
2  'b bht n  1 2 ht  1 3 ht  
12

3  2 2 
Keseimbangan gaya N = Na + Db memberikan

 1
N 1  'b bht n  2    1 2  'b bht

2

Persamaan diatas bisa dinyatakan dalam bentuk

N   1 
 1
  n  2  
bht 'b  
2
 

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -29
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Keseimbangan momen terhadap titik pusat penampang Ne = Ma + Mb akan memberikan

 'b bht2  'b bht2


N e 
4
n 
2

12
3  2 2  
Persamaan ini dapat juga dituliskan sebagai berikut

 3  2  
N e 1
n 2
bht b ' ht 12 4
Jika persamaan disubtitusikan akan diperoleh persamaan berikut
3n 2
 3  2  

e 

ht  1
6  6n  2  
 
Misalnya digunakan parameter ’o dimana
N
 'o  (
bht
maka persamaan (10.8) dapat dinyatakan sebagai

 'o   1 
 1
  n  2  
 'b  
2
 
B Kasus B : Garis Netral Terletal di Luar Penampang (  1)

’
d b Da
1
/2Ato 1
/2 Db
tal ht  'a
½(1+) e
n N
ht
h
t ht
y=ht
1
/2Ato
T
tal
d
 'a
b
n
’
garis
Gambar Kasus B : Garis Netral Terletak di Luar Penampang
b1
netral

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -30
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Untuk kasus dimana garis netral terletak diluar penampang, yang berbeda hanyalah gaya dan momen
pada beton. Berdasarkan Gambar diatas, tegangan tekan pada tepi serat yang tertekan dekat garis netral
dinyatakan dengan persamaan berikut
 1
 'b1   'b

Resultante gaya tekan pada beton adalah
Db  1
2  'b  'b1 bht
 1
Db  1  'b bht  2  

2

Lokasi resultante gaya tekan beton Db terhadap titik pusat kolom adalah
 'b 2 'b1
eb  1 h  1 3 ht
 'b  'b1
2 t

ht
eb 
62  1
Resultante momen akibat gaya tekan beton terhadap titik pusat penampang beton adalah Mb = Db*eb.
 'b bht2
Mb 
12
Keseimbangan gaya N = Na + Db memberikan

 1  1
N 1  'b bht n  2    1 2  'b bht  2  
 
2
 
Persamaan ini bisa dinyatakan dalam bentuk

N  1  1 
 1
2   n  2  
bht 'b    
2

Keseimbangan momen terhadap titik pusat penampang Ne = Ma + Mb memberikan

 'b bht2  ' bh 2


N e  n 2  b t
4 12
Persamaan diatas dapat juga dituliskan sebagai berikut

N e 1  1 3n 2 
    
bht b ' ht 12    
1 3n 2
 
e  

ht  1  1
6 2    6n  2  
   

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -31
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Misalnya digunakan parameter ’o dimana


N
 'o 
bht

 'o  1  1 
 1
2   n  2  
 'b    
2

C. Rumus Umum
Dari kedua kasus diatas didapat 2 buah persamaan yang berlaku secara umum yaitu
3n 2
2  
e 

ht 6  6n (2  1 )

1

 '0 1  1 
 1  n (2  ) 
 'b 2   
dimana
1   untuk   1

1
1  2  untuk   1

 2   3  2  untuk   1

1
2  untuk   1

N
 'o 
bht

Penampang Persegi Dengan Tulangan Pada 4 Sisi


Dalam analisis kolom persegi dengan tulangan tersebar merata pada keempat sisi, tulangan yang terletak
pada kedua sisi tepi diasumsikan tersebar merata berupa pelat tipis dengan ketebalan
1 Atot b
t 4

ht 4

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -32
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

A. Kasus A : Garis Netral Terletal Pada Penampang (  1)

n’b ’b
d e N
1
1
/2ht
/4Atota
ht
l y=ht
’a
½(1+)
ht h
t

garis netral
1 1
/4Atota /4Atota
l l
1
/4Atota
l
d
t a
b n
Gambar Kasus A : Garis Netral Terletal Pada Penampang

Dengan mengasumsikan bahwa resultante gaya pada tulangan yang dekat dengan garis netral sebagai
N1, resultante gaya pada tulangan yang jauh dari garis netral sebagai N2, dan resultante gaya pada
tulangan pada tepi penampang sebagai N3, , total gaya pada tulangan dapat dinyatakan sebagai Na = N1
+ N2 + N3
Na  1
4 Atot  'a  a   1 2 ht 2t  'a  a 
dimana

 1  
 'a  n 'b 1  
 2 

 1  
 a  n 'b 1   (
 2 

 1
Na  1  'b bht n  2  

2

Resultante momen dari gaya-gaya pada tulangan terhadap titik pusat penampang adalah

ht  'a  a   1 2 ht 2t ht  'a  a 


1
Ma  1
4 Atot 1
2
6
 'b bht2
Ma  n 2
6

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -33
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Resultan gaya tekan pada beton adalah


Db  1
2  'b bht
Resultante momen dari tegangan tekan beton terhadap titik pusat kolom adalah
 'b bht2
Mb 
12
3  2 2  
Keseimbangan gaya N = Na + Db memberikan

 1
N 1  'b bht n  2    1 2  'b bht

2

Persamaan (10.35) bisa dinyatakan dalam bentuk

N   1 
 1
  n  2  
bht 'b  
2
 

Keseimbangan momen terhadap titik pusat penampang Ne = Ma + Mb memberikan

 'b bht2  'b bht2


N e 
6
n 
2

12
3  2 2  
Persamaan diatas dapat juga dituliskan sebagai berikut

 3  2  
N e 1
n 2
bht b ' ht 12 6
B. Kasus B : Garis Netral Terletal di Luar Penampang (  1)

n’b ’b
’a e
d
1
1 /2
/4Ato
ht h
tal y=ht
t½(1+
N e
)ht ht

1 1
/4Atot /4Ato
al 1 tal
/4Ato
d tal

t a
b ’b1

garis
netral
Gambar Kasus B : Garis Netral Terletak di Luar Penampang

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -34
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Untuk kasus dimana garis netral terletak diluar penampang, yang berbeda hanyalah gaya dan momen
pada beton. Berdasarkan Gambar 10.4, resultante gaya tekan pada beton adalah

 1
Db  1  'b bht  2  

2

Resultante momen akibat gaya tekan pada beton terhadap titik pusat penampang adalah Mb = Db*eb yang
akan memberikan
 'b bht2
Mb 
12

Keseimbangan gaya N = Na + Db memberikan

 1  1
N 1  'b bht n  2    1 2  'b bht  2  
 
2
 

Bahaya Tekuk Pada Lentur Dengan Gaya Normal


Menurut Peraturan Beton Indonesia 1971 dan SIN 1992, bahaya tekuk pada lentur dengan gaya normal
diperhitungkan dengan memberikan eksentrisitas tambahan kepada eksentrisitas awal dari gaya normal
yang bekerja.
Jika eksentrisitas awal dari gaya normal adalah e0, maka untuk memperhitungkan bahaya tekuk, kepada
e0 tersebut harus ditambahkan eksentrisitas-eksentrisitas tambahan e1 dan e2. Jadi, penampang beton
harus diperhitungkan terhadap gaya normal N yang mempunyai eksentrisitas total
e  eo  e1  e2
Eksentrisitas tambahan e1 dihitung dengan persamaan berikut
2
 l 
e1  C1C2  k  ht
 100ht 

lk = Panjang tekuk kolom


C1 = 1 (untuk kolom segi empat)
C1 = 1.15 (untuk kolom bundar)
C2 = Koefisien yang harus diambil dari Tabel 10.1

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -35
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Tabel Koefisien C2 Untuk Menghitung Eksentrisitas Tambahan


eo C2 C2
ht untuk baja lunak dan sedang untuk baja keras

0.00 4.00 4.40


0.05 5.86 6.45
0.10 6.32 6.96
0.15 6.54 7.19
0.20 6.66 7.32
0.25 6.74 7.41
0.30 6.79 7.47
0.35 6.83 7.52
0.40 6.86 7.55
0.45 6.89 7.58
0.50 6.92 7.60
0.60 6.94 7.63
0.70 6.96 7.65
0.80 6.98 7.67
0.90 6.99 7.69
1.00 7.00 7.70

Eksentrisitas tambahan e2 dihitung dengan persamaan berikut


e2  0.15ht
Eksentrisitas awal eo terdiri dari 2 komponen yaitu
e0  e01  eo 2
dimana
M
e01 
V
dan
ht
e02   0.02meter
30

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -36
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Menurut Peraturan Beton Indonesia 1971, panjang tekuk lk dari kolom dan secara umum diambil seperti
pada Tabel berikut
Tabel Panjang Tekuk
lk = 2 lt Pada kolom yang terjepit pada satu ujungnya dan bebas pada ujung yang lain
lk = lt Pada kolom dengan sendi-sendi pada kedua ujungnya
Pada kolom yang terjepit pada kedua ujungnya, tetapi dimana ujung yang satu terhadap
lk = lt ujung lainnya dapat bergoyang di dalam bidang lentur dalam arah tegak lurus pada
sumbu kolom
lk = 0.7 lt Pada kolom yang terjepit pada satu ujungnya dan bersendi pada ujung lainnya
Pada portal panjang, apabila ujung-ujungnya berhubungan kaku dengan pondasi
dan/atau balok-balok yang mempunyai momeninersia paling sedikit sama seperti kolom,
lk = 0.7
dalam hal ini balok-balok tersebut juga harus berhubungan kaku dengan bagian-bagian
konstruksi lain
lk = 0.9 lt Pada portal panjang untuk keadaan lain

Dimana lt adalah tinggi atau panjang teoritis dari kolom

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -37
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

5.2 RENCANA KERJA

Jenis Penanganan Jembatan yang memerlukan perencanaan teknis meliputi:


a.Rehabilitasi Jembatan Pekerjaan ini meliputi perkuatan, pelebaran dan
penambahan atau penggantian elemen jembatan termasuk rehabilitasi
bangunan pelengkap
b.Penggantian Jembatan, Yang termasuk Pekerjaan ini adalah penggantian
jembatan pada jalan yang telah ada.
c.Pembangunan Jembatan, Pekerjaan ini meliputi duplikasi jembatan dan
pembangunan jembatan baru dan duplikasi jembatan termasuk
overpass/underpass dan terowongan jalan raya.

A PELAKSANAAN PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

Tahapan perencanaan teknis jalan pada umumnya mencakup kegiatan sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data Lapangan


a. Survai Pendahuluan Untuk Jembatan
Survai pendahuluan disini dilakukan sebagai tahap awal untuk mendapatkan data -
data lapangan yang diperlukan dalam proses perencanaan jembatan untuk
pembangunan baru maupun penggantian jembatan, dengan kegiatannya diantaranya
mencatat semua data pada lokasi jembatan lama yang sudah ada maupun yang
belum ada, guna menentukan perkiraan, saran yang diusulkan, meliputi :
1. Survai Geometrik
Kegiatan yang dilakukan pada survai pendahuluan adalah
a. Mengidentifikasi/memperkirakan secara tepat penerapan desain geometrik (alinyemen
horisontal dan vertikal) berdasarkan pengalaman dan keahlian yang harus dikuasai
sepenuhnya oleh Highway Engineer yang melaksanakan pekerjaan ini dengan
melakukan pengukuran-pengukuran secara sederhana dan benar (jarak, azimut dan
kemiringan dengan helling meter) dan membuat sketsa desain alinyemen horizontal
maupun vertikal secara khusus untuk lokasi-lokasi yang dianggap sulit, untuk
memastikan trase yang dipilih akan dapat memenuhi persyaratan geometrik yang
dibuktikan dengan sketsa horizontal dan penampang memanjang rencana trase jalan.
b. Didalam penarikan perkiraan desain alinyemen horizontal dan vertikal harus sudah
diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan kebutuhan perencanaan untuk lokasi-

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -38
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

lokasi : galian dan timbunan.


c. Semua kegiatan ini harus sudah dikonfirmasikan sewaktu mengambil
keputusan dalam pemilihan lokasi jembatan dengan anggota team yang saling terkait
dalam pekerjaan ini.
d. Di lapangan harus diberi/dibuat tanda-tanda berupa patok dan tanda banjir, dengan
diberi tanda bendera sepanjang daerah rencana dengan interval 50 m untuk
memudahkan tim pengukuran, serta pembuatan foto-foto penting untuk pelaporan dan
panduan dalam melakukan survai detail selanjutnya.
e. Dari hasil survai recon ini, secara kasar harus sudah bisa dihitung perkirakan volume
pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan perkiraan rencana biaya secara
sederhana dan diharapkan dapat mendekati desain final.

2. Survai Topografi
Kegiatan yang dilakukan pada survai topografi adalah
a. Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok beton Bench
Mark di awal dan akhir Pelaksanaan. b) Mengamati kondisi topografi.
b. Mencatat daerah - daerah yang akan dilakukan pengukuran khusus serta
morfologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan koridor.
c. Membuat rencana kerja untuk survai detail pengukuran.
d. Menyarankan posisi patok Benchmark pada lokasi/titik yang akan dijadikan referensi.

3. Survai Rencana Jembatan


Kegiatan yang dilakukan pada survai rencana jembatan adalah
a. Menentukan dan memperkirakan total panjang, lebar, kelas pembebanan jembatan,
tipe konstruksi, dengan pertimbangan terkait dengan LHR, estetika, lebar sungai,
kedalaman dasar sungai, profil sungai/ada tidaknya palung, kondisi arus dan arah
aliran, sifat-sifat sungai, scouring vertikal/horisontal, jenis material bangunan atas yang
tersedia dan paling efisien.
b. Menentukan dan memperkirakan ukuran dan bahan tipe abutmen, pilar, fondasi,
bangunan pengaman (bila diperlukan) dengan mempertimbangkan lebar dan kedalaman
sungai, sifat tebing, sifat aliran, endapan/sedimentasi material, benda hanyutan,
scouring yang pernah terjadi.
c. Memperkirakan elevasi muka jembatan dengan mempertimbangkan MAB (banjir),
MAN (normal), MAR (rendah) dan banjir terbesar yang pernah terjadi.
d. Menentukan dan memperkirakan posisi/letak lokasi jembatan dengan
mempertimbangan situasi dan kondisi sekitar lokasi, profil sungai, arah arus/aliran

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -39
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

sungai, scouring, segi ekonomi, sosial, estetika yang terkait dengan alinyemen
jalan, kecepatan lalu lintas rencana, jembatan darurat, pembebanan tanah timbunan
dan quarry.
e. Dari hasil survai recon ini secara kasar harus sudah bisa dihitung perkiraan volume
pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan perkiraan rencana biaya secara
sederhana dan diharapkan dapat mendekati desain final.

3. Survai Geologi dan Geoteknik


Kegiatan yang dilakukan pada survai pendahuluan geologi dan geoteknik adalah
a. Mengamati secara visual kondisi lapangan yang berkaitan dengan
karakteristik tanah dan batuan.
b. Mengamati perkiraan lokasi sumber material (quarry) sepanjang lokasi pekerjaan.
c. Memberikan rekomendasi pada Higway Engineer dan Bridge Engineer berkaitan
dengan rencana trase jalan dan rencana jembatan yang akan dipilih.
d. Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi khusus (rawan longsor, dll).
e. Mencatat lokasi yang akan dilakukan pengeboran maupun lokasi untuk test pit.
f. Membuat rencana kerja untuk tim survai detail

4. Survai Hidrologi/Hidrolika
Kegiatan yang dilakukan pada survai Hidrologi/Hidrolika adalah a) Mengumpulkan data
curah hujan.
a. Menganalisa luas daerah tangkapan (catchment area).
b. Mengamati kondisi terain pada daerah tangkapan sehubungan dengan dengan
bentuk dan kemiringan yang akan mempengaruhi pola aliran.
c. Mengamati tata guna lahan.
d. Menginventarisasi bangunan drainase existing.
e. Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi penting. g) Membuat rencana kerja untuk
survai detail.
f. Mengamati karakter aliran sungai/morfologi yang mungkin berpengaruh terhadap
konstruksi dan saran-saran yang diperlukan untuk menjadi pertimbangan dalam
perencanaan berikutnya.

5. Survai Lingkungan
Kegiatan yang dilakukan pada survai dampak lingkungan adalah :
a. Inventarisasi terhadap zona lingkungan awal yang bertujuan untuk mengidentifikasi
komponen lingkungan yang sensitif

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -40
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

b. Aspek Fisik, kimia dan biologi.


c. Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat.
d. Pencatatan lokasi bangunan bersejarah, kuburan, fasilitas umum dsb.
e. Pengambilan contoh air.
f. Pengamatan kondisi.
g. Foto dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan analisa.
h. Membuat rencana kerja untuk survai detail.

6. Foto Dokumentasi

a. Foto asli, perlu dilakukan sebagai bukti nyata kondisi lokasi jembatan
b. Pengambilan medan yang difoto disarankan minimal 4 arah (dua memanjang dan
dua melintang)
Saran dan catatan – catatan lain :
Setiap masing masing kelompok kegiatan dan saran-saran di atas agar dibuatkan
sketsa/denah serta catatan yang terkait dengan rencana item pekerjaan (misalnya lokasi
jembatan, lokasi titik sondir dan bor, profil sungai serta data yang terkait dengan
hidrologi secara visual dll) yang semuanya dilengkapi ukuran-ukuran (perkiraan) yang
penting

b. Survai Topografi untuk jembatan


Survai topografi dilakukan sepanjang lokasi as jalan pada jembatan yang sesuai dengan rencana
lokasi jembatan yang dikehendaki. Pertimbangan lokasi jembatan didasarkan rekomendasi dari Studi
Kelayakan.
Daerah sekitar sungai yang perlu diukur meliputi :
 200m pada kiri dan kanan sungai sepanjang jalan.

 100m pada kiri dan kanan as jalan pada daerah sungai.


 50m dari kiri dan kanan tepi sungai.
Pekerjaan Topografi meliputi pekerjaan :
1. Pekerjaan Perintisan
a. Pekerjaan perintisan berupa merintis atau membuka sebagian daerah yang akan
diukur sehingga pengukuran dapat berjalan lancar.
b. Peralatan yang dipakai untuk perintisan adalah parang, kampak dan
sebagainya.
c. Perintisan diusahakan mengikuti koridor yang telah diplot di atas peta topografi

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -41
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

atau atas petunjuk Kepala Satker/Project officer.


2. Pekerjaan pengukuran

a. Sebelum melakukan pengukuran harus diadakan pemeriksaan alat yang baik yang
sesuai dengan ketelitian alat dan dibuatkan daftar hasil pemeriksaan alat tersebut.
b. Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang mudah dikenal dan aman, dibuat titik
tetap (BM) yang diambil dari titik triangulasi atau lokal.
c. Awal dan akhir kegiatan hendaknya diikatkan pada titik-titik tetap (BM).
d. Pekerjaan pengukuran topografi sedapat mungkin dilakukan di sepanjang rencana
as jalan (mengikuti koridor rintisan) dengan mengadakan pengukuran-pengukuran
tambahan pada daerah persilangan dengan sungai dan jalan lain sehingga
memungkinkan diperoleh as jalan sesuai dengan standar yang ditentukan.
1) Pengukuran Titik Kontrol Horizontal
 Pengukuran titik kontrol dilakukan dalam bentuk poligon tertutup.
 Sisi poligon atau jarak antara titik poligon maksimal 100 meter
diukur dengan peges ukur (meteran).
 Patok-patok untuk titik-titik poligon adalah patok kayu, sedang
patok-patok untuk titik ikat adalah dari beton.
 Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur Theodolit jenis Wild-
T2.

2) Titik-titik ikat (BM) harus diukur sudutnya dengan alat yang sama dengan
alat pengukuran poligon, jaraknya diukur dengan pegas (meteran)/jarak
langsung, ketelitian poligon adalah sebagai berikut :
 Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10” kali akar jumlah
titik poligon.
 Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5”.
 Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal kegiatan, dan pada
setiap jarak 5 km (kurang lebih 60 titik poligon) pada titik akhir
pengukuran.
 Pengamatan matahari pada tiap titik dilakukan dalam 4 seri (4
biasa dan 4 luar biasa).

3) Pengukuran Titik Vertikal


 Jenis alat yang digunakan untuk pengukuran ketinggian

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -42
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

adalah cukup dengan alat waterpass jenis NAK-2 atau yang


setingkat.
 Untuk pengukuran ketinggian dilakukan dengan double stand
dengan perbedaan pembacaan maksimum 2 mm.
 Rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, dalam
arti
 pembagian skala jelas dan sama.
 Setiap kali pengukuran dilakukan 3 (tiga) pembacaan, benang atas,
tengah dan bawah.
 Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah
(BB), mempunyai kontrol pembacaan : 2BT = BA + BB.
 Ketelitian pengukuran tidak boleh melampaui 10 kali akar D.
 Referensi leveling menggunakan referensi koordinat geografis.

4) Pengukuran Situasi

 Pengukuran situasi dilakukan dengan alat Tachimetri (To).


 Ketelitian alat yang dipakai adalah 10“.
 Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana jalan harus
mencakup semua keterangan yang ada di daerah tersebut.
 Untuk tempat–tempat jembatan atau perpotongan dengan jalan
lain, pengukuran harus diperluas (lihat pengukuran khusus).
 Tempat-tempat sumber material jalan yang terdapat di sekitar jalur
jalan perlu diberi tanda di atas peta dan di photo (jenis dan lokasi
material).

5) Pengukuran Penampang Memanjang


 Pengukuran Penampang memanjang dilakukan di sepanjang
sumbu rencana jalan.
 Alat yang digunakan adalah jenis Theodolit atau alat ukur lain
yang mempunyai ketelitian yang sama.

6) Pengukuran Penampang Melintang

 Pengukuran penampang melintang pada daerah yang datar

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -43
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

dan landai dibuat setiap 50 m dan pada daerah-daerah tikungan/


pegunungan setiap 25 m.
 Pada daerah yang menikung, dari as jalan ke arah luar 25 m
dan ke arah dalam 75 m.
 Lebar pengukuran penampang melintang 50 m ke kiri dan
ke kanan as jalan.
 Khusus untuk perpotongan dengan sungai/jalan dilakukan dengan
ketentuan khusus (lihat pengukuran khusus).
 Alat yang digunakan adalah sejenis TS.

7) Pengukuran Khusus Jembatan

 Pengukuran situasi daerah sepanjang jembatan harus mencakup


semua keterangan yang ada di sepanjang jalan dan jembatan,
misalnya: rumah, pohon, pohon pelindung jalan, pinggir jalan,
pinggir selokan, letak gorong-gorong serta dimensinya, tiang
listrik, tiang telepon, batas-batas bangunan jembatan, sawah,
kebun, arah aliran air dan lain sebagainya.
 Patok Km dan Hm yang ada pada tepi jalan harus diambil dan
dihitung koordinatnya. Ini dimaksudkan untuk memperbanyak titik
referensi pada penemuan kembali sumbu jalan yang direncanakan.
 Daerah yang diukur 200 meter panjang masing-masing oprit
jembatan, 100 meter pada kiri dan kanan as jalan pada daerah
sungai, 50 meter kiri dan kanan as jalan yang mencakup patok
DMJ.
 Alat yang digunakan adalah sejenis Wild-To.

8) Pemasangan Patok – Patok

 Patok beton dibuat dengan ukuran 15x15x60 cm dan harus dipasang


2 (dua) buah, masing-masing pada awal/akhir, dan pada patok antara,
dipasang dengan interval 1 km dan berpotongan antara rencana jalan dengan
sungai 2 buah seberang – menyeberang.
 Patok beton tersebut harus tertanam kedalam tanah sepanjang ± 45 cm
(yang terlihat di atas tanah ± 15 cm).

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -44
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23


 Patok-patok (BM) diberi tanda BM dan Nomor Urut.
 Untuk memudahkan pencarian patok kembali, sebaiknya pada pohon-
pohon di sekitar patok diberi cat atau pita atau tanda- tanda tertentu
misalnya …. (nomor urut/ 2008).
 Patok poligon maupun patok station diberi tanda cat kuning dengan
tulisan hitam yang diletakan di sebelah kiri ke arah jalannya
pengukuran.
 Khusus untuk profil memanjang titik-titiknya yang terletak di sumbu jalan
diberi paku yang dilingkari cat kuning sebagai tanda.

9) Perhitungan dan Penggambaran Peta


 Perhitungan koordinat poligon utama didasarkan pada titik–titik ikat yang
dipergunakan.
 Penggambaran titik–titik poligon harus didasarkan pada hasil perhitungan
koordinat, tidak boleh secara grafis.
 Gambar ukur yang berupa gambar situasi dalam kertas millimeter dengan
skala 1:1000 untuk situasi jalan dan skala 1:500 untuk situasi jembatan.
 Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur begitu pula semua
keterangan–keterangan penting. Ketinggian titik tersebut perlu dicantumkan.

c. Survai Geoteknik Jembatan


Penyelidikan geoteknik disini merupakan bagian dari penyelidikan tanah yang mencakup seluruh
penyelidikan lokasi kegiatan berdasarkan klasifikasi jenis tanah yang didapat dari hasil tes dengan
mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan material guna menentukan jenis/ tipe
pondasi yang tepat dan sesuai tahapan kegiatannya, sebagai berikut:
1. Mengadakan penyelidikan tanah dan material di lokasi pelaksanaan
jembatan yang akan dibangun dengan menetapkan lokasi titik-titik bor yang
diperlukan langsung di lapangan.
2. Melakukan penyelidikan kondisi permukaan air (sub-surface) sehubungan dengan
pondasi jembatan yang akan dibangun.
3. Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi pelaksanaan,
kemudian dituangkan dalam bentuk penggambaran peta termasuk sarana lain
yang ada seperti jalan pendekat/oprit, bangunan pelengkap/ pengaman dan lain
sebagainya.
4. Pekerjaan pengambilan contoh dengan pengeboran (umumnya terhadap

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -45
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

undisturbed sampling) dimaksudkan untuk tujuan penyelidikan lebih lanjut di


laboratorium untuk mendapatkan informasi yang lebih teliti tentang parameter-
parameter tanah dari pengetesan Index Properties (Besaran Indeks) dan Engineering
Properties (Besaran Struktural Indeks).
5. Penyelidikan tanah untuk desain jembatan yang umum dilaksanakan di lingkungan
Bina Marga dengan bentang > 60 m (relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi)
digunakan bor-mesin (alat bor yang digerakkan dengan mesin) di mana kapasitas
kedalaman bor dapat mencapai 40 m disertai alat split spoon sampler untuk Standar
Penetration Test ( SPT ) menurut AASHTO T 206 – 74. Sedangkan untuk
bentang < 60m (relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan peralatan
utama lapangan yang terdiri atas:

a. Alat sondir dengan bor tangan (digerakkan dengan tangan).


Pengeboran harus dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan (bila
tidak ditentukan lain) untuk mendapatkan letak lapisan tanah dan jenis
batuan beserta ukurannya dan harus mencapai tanah keras/batu dan
menembus sedalam kurang lebih 3.00 m.
b. Boring dan sampling harus dikerjakan dengan memakai ”Manual
Operated Auger” dengan kapasitas hingga kedalaman 10 m.
c. Alat tes sondir type “Gouda” atau sejenisnya, antara lain “Dutch Cone
Penetrometer” yang memakai sistem metrik dan harus dilengkapi
dengan “Friction Jacket Cone”, kapasitas tegangan konus minimum 250

kg/cm2 dan kedalamannya dapat mencapai 25 m.

6. Pada setiap jembatan, penyelidikan tanah yang dibutuhkan pada


masing- masing lokasi rencana pondasi harus sudah menetapkan
penggunaan jenis bor dan posisi lubang bor yang direncanakan serta
jumlah titik bor minimal satu titik boring, yaitu satu titik bor mesin
atau satu set bor tangan dan sondir, tergantung bentang rencana
jembatannya. Hal ini tergantung pada kondisi area (alam dan lokasi),
kepentingan stuktur dan tersedianya peralatan pengujian beserta
teknisinya.
7. SPT dilakukan pada interval kedalaman 1,50 m s/d 2,00 m untuk
diambil contohnya (undisturbed dan disturbed).
8. Mata bor harus mempunyai diameter yang cukup untuk mendapatkan
undisturbed sample yang diinginkan dengan baik, dapat digunakan
Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -46
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

mata bor steel bit untuk tanah clay, silt dan mata bor jenis core barrel.
9. Digunakan casing (segera) bilamana tanah yang dibor cenderung
mudah runtuh.
10. Untuk menentukan besaran index dan structural properties dari
contoh- contoh tanah, baik yang terganggu (disturbed) maupun
yang asli (undisturbed) tersebut di atas dan contoh material (quarry),
maka pengujian di laboratorium dikerjakan berdasarkan spesifikasi
SNI, SK SNI, AASHTO, ASTM, BS dengan urutan terdepan sebagai
prioritas pertamanya.
11. Laporan penyelidikan tanah dan material harus pula berisi ‘analisa
dan hasil’ daya dukung tanah serta rekomendasi jenis pondasi yang
sesuai dengan daya dukung tanah tersebut dan hasil bor log
dituangkan dalam bentuk tabel/formulir bor log dan form drilling log
yang dilengkapi dengan keterangan/data diantaranya tentang tipe bor
yang digunakan, kedalaman lapisan tanah, tinggi muka air tanah,
grafik log, uraian lithologi, jenis sample, nilai SPT, tekanan kekuatan
(kg/cm2), liquid/ plastis limit, perhitungan pukulan (SPT) dan lain
sebagainya.
Hasil pelaksanaan survai berdasarkan data yang didapat, dilakukan pengujian
laboratorium yang telah memenuhi persyaratan, untuk jenis pengujian tanah sampel
ditunjukkan pada Tabel Berikut

Tabel Spesifikasi Pengujian Tanah di Laboratorium.

NO. PENGUJIAN ACUAN Keterangan


SIFAT INDEKS

1 Kadar air ASTM D 2216-92

2 Batas susut ASTM D 427-93

3 Batas plastis ASTM D 4318-93 - Fresh Condition

4 Batas cair SK-SNI M-07-1989-F - oven dried 100 oC

5 Analisa saringan SNI-03-3423-1994

6 Berat Jenis ASTM D 854-92 Gunakan ' Wet method '

7 Berat isi SNI-1742-1989

8 Chloride Content K.H. Head, Vol.1, 1984

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -47
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

9 Carbonate Content K.H. Head, Vol I, 1984

10 Sulphate Content K.H. Head, Vol. 1, 1984

SIFAT KUAT
GESER TANAH

11 Direct Shear SNI 03-2813-1992 - Fresh sample dengan Penjenuhan

ASTM D 3080-90 - Fresh sample tanpa Penjenuhan

- Fresh sample dioven 70 oC selama


satu hari
SIFAT
PEMAMPATAN
TANAH
12 Swelling ASTM D 4546-90 - Fresh Condition- Dioven 40 oC
dan 70 oC selama satu hari

KEPADATAN

13 Pemadatan

SIFAT KELULUSAN

14 Permeabilitas KH Head Vol. 2 1984 Manual of Soil Laboratory Testing.


Gunakan metode

Falling Head

d. Survai Hidrologi Jembatan


Survai hidrologi lengkap digunakan untuk melengkapi parameter -parameter desain jembatan
yang dalam hal ini jembatan yang dimaksud adalah jembatan diatas lalu lintas sungai atau
saluran air, untuk ini pengumpulan data untuk analisa hihrologi perlu diperhatikan sebagai
berikut:

1. Karakteristik daerah aliran (Catchment Area) dari setiap gejala aliran yang harus dipelajari
dengan cermat dari peta topografi maupun pemeriksaan langsung di tempat yang meliputi data
curah hujan, tata guna lahan, jenis permukaan tanah, kemiringan dan lain-lain.
2. Karakteristik sungai yang meliputi:
a. Kecepatan aliran dan gejala arah;
b. Debit dan daerah pengaruh banjir;
c. Tinggi air banjir, air rendah dan air normal;
d. Lokasi penggerusan (scouring) serta jenis/sifat Erosi
e. Kondisi aliran permukaan pada saat banjir.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -48
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

3. Analisa hidrologi yang diperlukan untuk jembatan yang melintas sungai, sebelum tahap
perhitungan/perencanaan hidrolika dari alur sungai, adalah untuk menentukan:
a) Debit banjir dalam alur sungai jembatan atau debit maksimum sungai selama
periode ulang banjir rencana yang sesuai.
b) Perkiraan tinggi maksimum muka air banjir yang mungkin terjadi dan semua
karakteristiknya.
c) Kedalaman air (air banjir, air rendah dan air normal)
4. Untuk menentukan elevasi tinggi muka jembatan diperlukan suatu perkiraan tinggi maksimum
banjir yang mungkin terjadi, ditetapkan dan diperhitungkan dengan periode ulang banjir
rencana atau dalam kurun waktu rencana sebagai berikut:
a) Untuk jembatan panjang/besar (konstruksi khusus) diperhitungkan dengan
periode ulang 100 tahunan.
b) Untuk jembatan biasa/tetap termasuk gorong-gorong diperhitungkan dengan
periode ulang 50 tahunan.
c) Untuk jembatan sementara, perlintasan saluran air dan jembatan yang
melintas di atasnya diperhitungkan dengan periode ulang 25 tahunan.
d) Untuk keperluan analisa hidrologi ditetapkan dengan periode ulang 50
tahunan.
e) Untuk perhitungan scouring berdasarkan jenis tanah dasar sungai dan
debit serta kecepatan aliran arus sungai.
f) Dalam menentukan besar debit banjir maksimum dalam kurun waktu
rencana tersebut, dipakai pendekatan berdasarkan analisa frekwensi
dari suatu data curah hujan lebat. Di sini perlu ditinjau hubungan/korelasi
antara curah hujan dan aliran sungai.
g) Metode untuk menentukan besar debit banjir tersebut diklasifikasikan
3 cara yaitu:
1) Cara statistik/kemungkinan-kemungkinan;

- Bersifat teoritis dan dalam peramalan debit


banjir berdasarkan data – data banjir – banjir masa lalu.
- Memerlukan waktu yang agak lama karena pengamatan
didasarkan dari suatu aliran sungai.

2) Cara hidrograf/sintetik;

- Cocok digunakan untuk daerah dengan aliran sungai

s/d luas 5000 km2 sedang untuk ukuran s/d

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -49
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

20000 km2 bisa digunakan dengan membuat unit


hidrograf untuk masing- masing anak sungai yang
kemudian diambil rata-ratanya.
- Cara ini dianggap paling baik untuk perhitungan debit

3) Rumus empiris/metode rasional;


- Metode perhitungannya sangat sederhana dan praktis.
- Digunakan jika tidak terdapat data yang cukup.
2
- Umumnya dipakai di daerah dengan luas aliran s/d 25 km (di
perkotaan) Catatan :

Dari ketiga metode tersebut, disarankan menggunakan cara pertama


sebelum cara ke dua dan ke tiga, namun sangat tergantung pada
ketersediaan data lapangan

4. Analisa drainase ditetapkan dengan kala ulang (return period) 25 tahun dan 50 tahun
yang pemilihannya terlebih dulu dikonsultasikan dengan pihak Pemberi Tugas.
5. Dari hasil survai dan analisa yang dilakukan, antara lain dapat ditentukan elevasi
jembatan dan bangunan pengaman terhadap gerusan, tumbukan air dan debris.

B. Perencanaan Teknis
1. Pokok-Pokok Perencanaan
Perencanaan jembatan dapat dilakukan menggunakan dua pendekatan dasar untuk menjamin
keamanan struktural yang diijinkan, yaitu Rencana Tegangan Kerja (WSD) dan Rencana Keadaan
Batas (Limit State). Struktur jembatan yang berfungsi paling tepat untuk suatu lokasi tertentu
adalah yang paling baik memenuhi pokok-pokok perencanaan berikut ini:
1. Kekuatan dan stabilitas struktur
2. Kenyamanan bagi pengguna jembatan
3. Ekonomis
4. Keawetan dan kelayakan jangka panjang
5. Kemudahan pemeliharaan
6. Estetika
7. Dampak lingkungan pada tingkat yang wajar dan cenderung minimal
Untuk memenuhi pokok-pokok perencanaan tersebut, persyaratan dalam perencanaan harus
dipenuhi sesuai dengan ketentuan Peraturan perencanaan Jembatan BMS ’92 sebagai
berikut:

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -50
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

a. Persyaratan umum perencanaan


b. Persyaratan Analisa Struktur
c. Persyaratan Perencanaan Pondasi
d. Persyaratan Perencanaan Elemen Struktur Jembatan

Agar tingkat standar kualitas perencanaan tertentu sesuai persyaratan dapat dicapai, maka panduan atau
Manual Perencanaan Jembatan (Bridge Design Manual) BMS ’92 harus menjadi pegangan dalam
menetapkan
Metodologi Perencanaan
Pemilihan dan Perencanaan Struktur Jembatan
Perencanaan Elemen Struktur Jembatan
Perencanaan Pondasi, Dinding Penahan Tanah dan Slope Protection
Dan lain sebagainya

2. Kriteria Perencanaan
1. Peraturan-peraturan yang dipergunakan
2. Mutu material yang dipergunakan

3. Metode dan asumsi pada perhitungan


4. Metode dan asumsi dalam penentuan pemilihan type struktur atas,
struktur bawah dan pondasi
5. Metode pengumpulan data lapangan
6. Program komputer yang dipergunakan dan validasi kehandalan yang
dinyatakan dalam bentuk bench mark terhadap contoh studi
7. Metode pengujian pondasi

3. Pembebanan jembatan
Beban-beban harus direncanakan berdasarkan aturan-aturan yang ada dalam
Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92, dan harus
merupakan kombinasi dari
1. Beban berat sendiri
2.Beban mati tambahan
3.Beban hidup
4.Beban sementara
5.Beban-beban sekunder

4 Analisa Struktur
1. Perencanaan struktur jembatan harus didasarkan pada Peraturan
Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92. Prinsip-prinsip
dasar untuk perencanaan struktur jembatan adalah Limit States atau

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -51
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Rencana Keadaan Batas.


2. Analisis mencakup idealisasi struktur dan pondasi pada aksi beban
rencana sebagai suatu model numerik. Dari model tersebut gaya dalam
dan deformasi serta stabilitas keseluruhan struktur dapat dihitung.
Pendekatan analisis dapat menggunakan paket software struktur komersil
yang mana terlebih dahulu dilakukan validasi dengan menggunakan contoh-
contoh yang diketahui (dapat menggunakan contoh dari text book) dan
dilakukan pengecekan secara manual untuk menyakinkan keakuratan hasil
analisis.
3. Untuk analisis struktur jembatan dapat dilakukan dengan pendekatan:

a. Linear Elastik,
b. Linear Dinamik,
c. Non-linear elastic,
d. Response Spectrum,
e. Time History Analysis atau
f. pendekatan Plastisitas.

Penggunaan pendekatan analisis plastis harus mendapat persetujuan dari pemberi tugas. Khusus
untuk jembatan bersifat fleksibel seperti jembatan gantung pejalan kaki, analisis terhadap
aeroelastik perlu dilakukan.

4. Penentuan kapasitas penampang dari elemen struktur jembatan


dapat menggunakan paket software komersil yang memiliki kemampuan
pengecekan terhadap parameter design sesuai dengan peraturan
perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92. Penggunaan
paket software dengan standard selain Peraturan Perencanaan Jembatan
(Bridge Design Code) BMS ’92 harus mendapat persetujuan dari pemberi
tugas.

h. Tahapan Perencanaan Teknis Jembatan


1. Pengumpulan dan Analisa Data Lapangan
a. Survai pendahuluan (mengacu kepada POS Survai Pendahuluan)
b. Survai lalu lintas (mengacu kepada POS Survai Lalu Lintas)
c. Pengukuran Geodesi (mengacu kepada POS Survai Geodesi)
d. Penyelidikan geoteknik/geologi (mengacu kepada POS Survai Geoteknik)
e. Survai hidrologi (mengacu kepada POS Survai Hidrologi)

2. Perencanaan Geometri dan alinyemen jembatan


Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -52
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

a) Kendala alinyemen horisontal dan vertikal


b) Kendala geoteknik
c) Profil topografi
d) Kendala di bawah lintasan atau sungai/laut
e) Tinggi permukaan air laut
f) Kebutuhan tinggi bebas vertical
3. Penentuan bentang dan lebar jembatan
a) Profil topografi
b) Kendala banjir tertinggi 50 tahun terakhir
c) Teknolgi konstruksi (kemudahan dalam pelaksanaan)
d) Faktor ekonomis
e) Kebutuhan lalu lintas berdasarkan hasil survai lalu lintas
f) Prediksi lalu lintas masa depan
g) Kemungkinan dan kemudahan pelebaran jembatan pada masa akan datang
4. Pemilihan bentuk struktur jembatan
a) Kendala geometri
b) Kendala material dan ketersediaannya.
c) Kecepatan pelaksanaan
d) Kesulitan perencanaan dan pelaksanaan
e) Pemeliharaan jembatan
f) Biaya konstruksi

5. Perencanaan struktur atas jembatan


Perencanaan struktur atas jembatan harus direncanakan sesuai dengan
aturan- aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge
Design Code) BMS ’92 atau peraturan lain yang relevan yang disetujui oleh
pemberi tugas. Prinsip- prinsip dasar untuk perencanaan struktur jembatan
adalah Limit States atau Rencana Keadaan Batas, dengan memperhatikan
beberapa faktor berikut ini:

a) Pembebanan pada struktur atas jembatan harus dihitung


berdasarkan kombinasi dari semua jenis beban yang secara fisik akan
bekerja pada komponen struktur jembatan.
b) Kekuatan struktur atas jembatan harus direncanakan berdasarkan
analisis struktur dan cara perhitungan gaya-gaya dalam yang ditetapkan

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -53
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

di dalam standar/ peraturan yang disebut diatas dan khususnya


berhubungan dengan material yang dipilih.
c) Deformability, lawan lendut dan lendutan dari struktur atas jembatan
harus dihitung dengan cermat, baik untuk jangka pendek maupun
jangka panjang agar tidak melampaui nilai batas yang diijinkan oleh
standar/peraturan yang digunakan.
d) Umur layan jembatan harus direncanakan berdasakan perilaku jangka
panjang material dan kondisi lingkungan di lokasi jembatan yang
diaplikasikan pada rencana komponen struktur jembatan khususnya
selimut beton, permeabilitas beton, atau tebal elemen baja, terhadap
resiko korosi ataupun potensi degradasi meterial.

6. Perencanaan struktur bawah jembatan


Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek kekuatan dukung dan
stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan tekanan tanah vertikal ataupun horisontal dan
harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge
Design Code) BMS ’92, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah
a. Struktur bawah jembatan harus direncanakan untuk menanggung
beban struktur atas melalui komponen tumpuan, yang sudah
merupakan kombinasi terbesar dari semua beban struktur atas, beserta
beban-beban yang bekerja pada struktur bawah yaitu: tekanan tanah
lateral, gaya-gaya akibat aliran air, tekanan air, gerusan, tumbukan
serta beban-beban sementara lainnya yang dapat bekerja pada
komponen struktur bawah.
b. Kekuatan struktur bawah harus ditentukan berdasarkan analisis
struktur dan cara perencanaan kekuatan yang ditetapkan di dalam
peraturan yang berhubungan dengan material yang digunakan.
c. Perletakan jembatan harus direncanakan berdasarkan asumsi yang
diambil di dalam modelisasi struktur dengan memperhatikan kekuatan
dan kemampuan deformasi komponen perletakan seperti karet
elastomer yang mengacu kepada SNI 03-4816-1998 “Spesifikasi
bantalan karet untuk perletakan jembatan”
d. Deformasi yang potensial terjadi khususnya penurunan harus
diperhatikan di dalam perencanaan struktur bawah. Penurunan
harus diantisipasi dan dihitung dengan cara analisis yang benar

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -54
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

berdasarkan data geoteknik yang akurat, dimana pengaruh dari


potensial penurunan diferensial dari struktur bawah, bila ada harus
diperhitungkan dalam perencanaan struktur atas.
e. Jika gerusan dapat mengakibatkan terkikisnya sebagian tanah
timbunan di atas atau di samping suatu bagian struktur bawah
jembatan maka pengaruh stabilitas dari massa tanah harus
diperhitungkan secara teliti.
f. Umur layan rencana struktur bawah harus direncanakan berdasarkan
perilaku jangka panjang material dan kondisi lingkungan khususnya
bila berada di bawah air yang diaplikasikan pada rancangan
komponen struktur bawah khususnya selimut beton, permeabiitas
beton atau tebal elemen baja terhadap resiko korosi ataupun potensi
degradasi material.

7. Perencanaan pondasi jembatan

Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek kekuatan dukung
dan stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan beban struktur atas dan harus
mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan
(Bridge Design Code) BMS ’92, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah a) Analisis dapat
dilakukan terpisah atau terintegrasi dengan analisis struktur jembatan. Penggunaan paket
software komersil, harus dilakukan validasi terlebih dahulu dengan menggunakan contoh
dari text book dan dicek secara manual untuk mendapatkan keyakinan.

Pondasi jembatan pada umumnya dapat dipilih dari jenis :

1) Pondasi dangkal/pondasi telapak


2) Pondasi caisson
3) Pondasi tiang pancang (jenis end bearing atau friction)
4) Pondasi Tiang Bor
5) Pondasi jenis lain yang dianggap sesuai

Penentuan jenis dan kedalaman pondasi dilakukan berdasarkan kondisi


lapisan tanah dan kebutuhan daya dukung untuk struktur bawah serta batasan
penurunan pondasi. Secara umum kondisi dan kendala lapangan yang harus
dipertimbangkan adalah

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -55
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

1. Pembebanan dari struktur jembatan


2. Daya dukung pondasi yang dibutuhkan
3. Daya dukung dan sifat kompresibilitas tanah atau batuan
4. Penurunan yang diijinkan dari struktur atas/bawah jembatan
5. Tersedianya alat berat dan material pondasi
6. Stabilitas tanah yang mendukung pondasi
7. Kedalaman permukaan air tanah
8. Perilaku aliran air tanah
9. Perilaku aliran air sungai serta potensi gerusan dan sedimentasi
10. Potensi penggalian atau pengerukan di kemudian hari yang berdekatan dengan pondasi

Khususnya untuk penggunaan pondasi tiang, penentuan jenis dan panjang tiang harus dilakukan
berdasarkan kondisi lapangan di lokasi rencana jembatan, khususnya kondisi planimetri serta
berdasarkan atas evaluasi yang cermat dari berbagai informasi karakteristik tanah yang tersedia,
perhitungan kapasitas statik vertikal dan lateral, dan/atau berdasarkan riiwayat/pengalaman sebelumnya.

8. Perencanaan jalan pendekat


a. Perencanaan jalan pendekat jembatan termasuk komponen pelat
injak harus memperhatikan kesinambungan ukuran dan
ketinggian jembatan. Apabila jalan pendekat dibuat dari tanah
urugan maka harus diperhatikan potensi penurunan jangka
panjang dari lapisan tanah pendukung/atau urugan tanah yang
menjadi tumpuan perkerasan jalan pendekat.
b. Potensi penurunan tanah harus dihitung secara cermat berdasarkan hasil penyelidikan
tanah.

9. Perencanaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman


a. Perencanaan komponen bangunan pelengkap dan pengaman dalam pekerjaan perencanaan
jembatan harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan di dalam acuan:
 Undang-undang RI No.14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
 Pedoman marka jalan, Pd T-12-2004-B
b. Perencanaan komponen pelengkap dan pengaman jembatan meliputi:
 Rambu dan marka pada jembatan
 Pagar pengaman jembatan
 Lampu penerangan pada jembatan
 Struktur pengaman pada pilar jembatan terutama untuk menghindari tumbukan
langsung dengan pilar jembatan (seperti fender pengaman atau sejenisnya)

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -56
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

10. Penggambaran

Gambar rencana harus ditampilkan dalam format yang sesuai dengan petunjuk dari
pengguna jasa dan/atau instansi yang berkompeten untuk pengesahan dokumen
perencanaan. Gambar rencana harus ditampilkan dalam format A3 untuk dokumen
lelang dan Format A1 untuk keperluan kegiatan pelaksanaan konstruksi di lapangan.
Gambar rencana harus terdiri dari urutan sebagai berikut:
a. Sampul luar dan sampul dalam
b. Daftar isi
c. Peta lokasi jembatan yang dilengkapi dengan peta jaringan jalan eksisiting dan petunjuk
arah utara mata angin
d. Daftar simbol (legenda) dan singkatan
e. Daftar rangkuman volume pekerjaan

f. Potongan memanjang, potongan melintang dan denah jembatan dengan skala 1:100
g. Gambar detail dengan skala 1:20, yang mencakup pelat lantai kendaraan,
struktur atas, struktur bawah dan pondasi jembatan
h. Gambar standar
i.
11. Spesifikasi Teknik
Penyusunan spesifikasi teknik harus mengacu kepada gambar rencana dan harus
memperhatikan semua aspek pelaksanaan konstruksi serta dapat menjelaskan
secara rinci metode dan urutan pelaksanaan termasuk jenis dan mutu material yang
digunakan.

12. Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya


Penyusunan jenis item pekerjaan harus sesuai dengan spesifikasi yang digunakan, perhitungan volume
pekerjaan harus dilakukan secara rinci berdasarkan daftar item pekerjaan yang dibuat sesuai dengan
gambar rencana dan tabel perhitungan harus mencakup semua jenis pekerjaan.

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -57
DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS

Perencanaan Teknis Jembatan Nasional Provinsi Jambi- PR.23

Proposal Teknis, PT.AKBAR JAYA KONSULTAN j.o CV. KARYA MULYA MANDIRI -58