Anda di halaman 1dari 17

LI.

I Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas


L.O 1.1 Definisi
Keadaan perubahan reaktivitas dimana tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap benda
asing. (Dorland, W.A Newman (1996) Kamus Kedokteran Dorland Edisi 26. Jakarta, EGC.)
Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang
pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. ( Imunologi UI )
Hipersensitivitas adalah keadaan berubahnya reaktivitas, ditandai dengan reaksi tubuh
berupa respons imun yang berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai benda asing.
(Kamus Dorland, Edisi 29)
Hipersensitvitas adalah refleksi dari sistem imun yang berlebihan (Imunologi Abbas,2016)
Hipersensitivitas adalah reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang pernah
dipajankan atau dikenal sebelumnya. (Baratawidjaja & Rengganis, 2014)

L.O 1.2 Klasifikasi


Pembagian menurut waktu timbulnya reaksi:
a. Reaksi cepat
Reaksi cepat terjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam . ikatan silang
antara allergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi penglepasan
mediator vasoaktif. Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau
anafilaksis local.
b. Reaksi intermediet
Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam.
Reaksi ini melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan
melalui aktivasi komplemen dan atau sel NK / ADCC. Manifestasi reaksi
intermediet dapat berupa:
i. Reaksi transfuse darah, eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik
autoimun
ii. Reaksi arthus local dan reaksi sistemik seperti serum sickness, vaskulitis
nekrotis, glomerulonephritis, artritis rheumatoid dan LES
Reaksi intermediet diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan pejamu yang
disebabkan oleh sel neutrophil atau sel NK.
c. Reaksi lambat
reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah terjadi pajanan dengan antigen
yang terjadi oleh aktivasi sel Th. Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T
mengaktifkan sel efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh
reaksi lambat adalah dermatitis kontak, reaksi M. tuberculosis dan reaksi penolakan
tandur.
MENURUT WAKTU TIMBULNYA
- Reaksi cepat: terjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam
- Reaksi intermediet: terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam
- Reaksi lambat: terlihat sampai sekitar 48 jam setelah terjadi pajanan dengan antigen
(Imunologi Ed 11,2014)

(Robbin, Basic Phatology 9)


Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitivitas Tipe I (tipe cepat)
Terjadi karena pembentukan ikatan silang IgE di membran basophil darah atau sel
mast jaringan oleh antigen. Pengikatan silang ini menyebabkan sel mengalami
degranulasi, membebaskan bahan-bahan seperti histamin, leukotrien, dan faktor
kemotaktik eosinophil, yang memicu anafilaksis, asma, hay fever, atau urtikaria
(biduran) pada orang yang terkena.
2. Mekanisme
Paparan pertama terhadap alergen

Aktivasi antigen sel Tfh dan sel Th2 dan rasangan perubahan kelas IgE pada sel B

Produksi IgE
Peningkatan IgE ke FceRI di sel mast
Paparan berulang pada alergen Amine vasoaktif ,mediator lipid
Aktivasi sel mast: pelepasan mediator Sitokin
Interaksi ikatan silang antara Fce-RI dan IgE pada permukaan sel mast memacu aktivasi Syk.
Sinyal dari Syk dengan cepat ditransduksi yang menimbulkan degranulasi,produksi LT dan
transkripsi gen sitokin/kemokin. Penglepasan mediator inflamasi tersebut berperan dalam gejala
akut dan kronis penyakit alergi
Pajanan dengan antigen mengaktifkan sel Th2 yang merangsangsel B berkembang menjadi sel
plasma yang memproduksi IgE. Molekul IgE yang dilepas diikat oleh FceR1 pada sel mast dan
basofil (banyak molekul IgE dengan berbagai spesifisitas dapat diikat FceR1). Pajanan kedua
dengan alergen menimbulkan ikatan silang antara antigen dan IgE yang diikat sel mast,memacu
penglepasan mediator farmakologis aktif (amin vasoaktif ) dari sel mast dan basofil. Mediator-
mediator tersebut menimbulkan kontraksi otot polos, meningkatkan permeabilitas vaskular dan
vasodilatasi , kerusakan jaringan dan anfilaksis.
(Imunologi Abbas, 2016)

Terdapat 3 fase :
1. Fase Sensitasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikat silang oleh
reseptor spesifik pada permukaan sel mast/basofil
2. Fase Aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik
dan sel mast/ basofil melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. Hal ini
terjadi oleh ikatan silang dan IgE
3. Fase Efektor, yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-
mediator yang dilepas sel mast/ basofil dengan aktivas farmakologik
(Imunologi UI Ed 11,2014)
Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas Tipe II
Hipersensitivitas Tipe II (sitotoksik atau sitolitik)
Hipersensitivitas tipe II terjadi karena pembentukan kompleks antigen-antibodi antara
antigen asing dan immunoglobulin IgM atau IgG. Hipersensitivitas tipe II juga dapat
dipicu oleh obat dan dapat terjadi selama pemberian penisilin (sebagai contoh).
Mekanisme
1.1. Mekanisme
Reaksi tipe II juga disebut reaksi sitotoksik atau sitolitik, terjadi karena dibentuk
antibody jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu.
Reaksi diawali oleh reaksi antara antibodi dan determinan antigen yang merupakan
bagian dari membran sel tergantung apakah komplemen atau molekul asesori dan
metabolisme sel dilibatkan.
Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fcγ-R dan juga
sel NK yang dapat berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui
ADCC. (Imunologi UI Ed 11,2014)
Manifestasi Klinis
• Reaksi transfusi
Sejumlah besar protein dan glikoprotein pada eritrosit disandi oleh berbagai
gen. Reaksi transfusi terjadi apabila individu mendapat transfusi darah dari
golongan yang berbeda jenis dengan darahnya. Hal ini menimbulkan kerusakan
direk oleh hemolisis masif intravaskular.
Reaksi cepat biasanya disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah
ABO yang dipacu IgM. Dalam beberapa jam, hemoglobin bebas dapat ditemukan
dalam plasma dan disaring melalui ginjal dan menimbulkan hemoglobinuria.
Beberapa hemoglobin diubah menjadi bilirubin yang pada kadar tinggi bersifat
toksik. Gejala khasnya berupa demam, menggigil, nausea, bekuan dalam
pembuluh darah, nyeri pinggang bawah dan hemoglobinuria.
• Reaksi hemolitik bayi baru lahir
Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir ditimbulkan oleh inkompatibilitas
Rh dalam kehamilan, yaitu pada ibu dengan golongan darah Rhesus negatif dan
janin dengan Rhesus positif.
• Anemia hemolitik
Antibiotik tertentu seperti penisilin, sefalosporin dan streptomisin dapat
diabsorbsi nonspesifik pada protein membran eritrosit yang membentuk kompleks
serupa kompleks molekul hapten pembawa. Pada beberapa penderita, kompleks
membentuk antibodi yang selanjutnya mengikat obat pada eritrosit dan dengan
bantuan komplemen menimbulkan lisis dengan dan anemia progresif.
(Imunologi UI Ed 11,2014)
Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas Tipe III
Hipersensitivitas Tipe III (tipe kompleks imun)
Hipersensitivitas Tipe III terjadi karena adanya peningkatan kadar kompleks antigen-
antibodi dalam darah yang akhirnya mengendap di membran basal di jaringan dan
pembuluh darah. Pengendapan kompleks imun mengaktifkan komplemen untuk
menghasilkan komponen-komponen dengan aktivitas anafilatoksik dan kemotaktik
yang meningkatkan permeabilitas vaskular dan merekrut neutrophil ke tempat
kompleks mengendap.
4.1 Mekanisme
Dalam keadaan normal kompleks imun dalam sirkulasi diikat dan diangkut eritrosit ke hati,limpa
dan disana dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear, terutama di hati,limpa dan paru tanpa
bantuan komplemen. Pada umumnya kompleks yang besar dapat dengan mudah dan cepat
dimusnahkan oleh makrofag dalam hati. Kompleks kecil dan larut suliy utk dimusnahkan . karena
lebih lama dalam sirkulasi. Diduga bahwa gangguan fungsi fagosit merupakan salah satu penyebab
mengapa kompleks tersebut dimushakan.
1. Kompleks imun mengendap di pembuluh darah
Antigen berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten (malaria) , bahkan yang terhirup (jamur
yang menimbulkan alveolitis alergik ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri. Infeksi yang disebabkan
oleh antigen dlam jumlah yang berlebihan, tetapi tanpa adanya respons antibodi yang efektif.
Makrofag yang diaktifkan kadang belum dapat menyingkirka kompleks imu n sehingga makrofag
dirangsang terus untuk melepas berbagai bahan yang dpat merusak jarigan. Kompleks imun IgM
atau IgG3 dapat juga IgA diendapkan di membran basal vaskular dan membran basal ginjal yang
menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan luas. Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan agregrasi
trombosit ,aktivasi makrofag , perubahan peremeabilitas vaskular dll.
Endapan kompleks imun dalam vaskular bed menimbulkan agregasi trombosit, aktivasi
komplemen yang disusul oleh infiltrasi PMN. Faktor yang dilepas oleh PMN yang diaktifkan
menimbulkan kerusakan pada jaringan serta gambaran patologi kerusakan akibat komplemen
(MAC) atau memluli lisis oleh penglepasan granul sitotoksik

Jenis-jenis Reaksi (Contoh)


A. Reaksi Lokal atau Fenomena Arthus
Pada mulanya, Arthus menyuntikkan serum kuda ke kelinci secara berulang di
tempat yang sama. Dalam waktu 2-4 jam, terdapat eritema ringan dan edem pada
kelinci. Lalu setelah sekitar 5-6 suntikan, terdapat perdarahan dan nekrosis di tempat
suntikan. Hal tersebut adalah fenomena Arthus yang merupakan bentuk reaksi
kompleks imun. Antibodi yang ditemukan adalah presipitin. Reaksi Arthus dalam
kilinis dapat berupa vaskulitis dengan nekrosis.
Mekanisme pada reaksi arthus adalah sebaga berikut :
1. Neutrofil menempel pada endotel vaskular kemudian bermigrasi ke jaringan
tempat kompleks imun diendapkan. Reaksi yang timbul yaitu berupa
pengumpulan cairan di jaringan (edema) dan sel darah merah (eritema) sampai
nekrosis.
2. C3a dan C5a yag terbentuk saat aktivasi komplemen meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah sehingga memperparah edema. C3a dan C5a juga bekerja sebagai
faktor kemotaktik sehingga menarik neutrofil dan trombosit ke tempat reaksi.
Neutrofil dan trombosit ini kemudian menimbulkan statis dan obstruksi total
aliran darah.
3. Neutrofil akan memakan kompleks imun kemudian akan melepas bahan-bahan
seperti protease, kolagenase dan bahan-bahan vasoaktif bersama trombosit
sehingga akan menyebabkan perdarahan yang disertai nekrosis jaringan setempat.
B. Reaksi Sistemik atau Serum Sickness
Antibodi yang berperan dalam reaksi ini adalah IgG atau IgM dengan mekanisme
sebagai berikut:
1. Komplemen yang telah teraktivasi melepaskan anafilatoksin (C3a dan C5a) yang
memacu sel mast dan basofil melepas histamin.
2. Kompleks imun lebih mudah diendapkan di daerah dengan tekanan darah yang
tinggi dengan putaran arus (contoh: kapiler glomerulus, bifurkasi pembuluh
darah, plexus koroid, dan korpus silier mata)
3. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk
mkrotrombi kemudian melepas amin vasoaktif. Bahan-bahan vasoaktiv tersebut
mengakibatkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan
inflamasi.
4. Neutrofil deikerahkan untuk menghancurkan kompleks imun. Neutrofil yang
terperangkap di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks tetapi akan tetap
melepaskan granulnya (angry cell) sehingga menyebabkan lebih banyak
kerusakan jaringan.
5. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut juga meleaskan mediator-
mediator antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan.

Dari mekanisme diatas, beberapa hari – minggu setelah pemberian serum asing akan
mulai terlihat manifestasi panas, gatal, bengkak-bengkak, kemerahan dan rasa sakit
di beberapa bagian tubuh sendi dan kelenjar getah bening yang dapat berupa
vaskulitis sistemik (arteritis), glomerulonefritis, dan artiritis. Reaksi tersebut
dinamakan reaksi Pirquet dan Schick.
(Imunologi UI,2014)
Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas Tipe IV
Hipersensitivitas Tipe IV (tipe lambat)
Hipersensitivitas Tipe IV diperantarai oleh sel, dan respons terjadi 2-3 hari setelah
pajanan ke antigen pemeka.
Mekanisme
Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV:
a. Fase sensitasi
Membutuhkan waktu 1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th
diaktifkan oleh APC melalui MHC-II. Berbagai APC (sel Langerhans/SD pada
kulit dan makrofag) menangkap antigen dan membawanya ke kelenjar limfoid
regional untuk dipresentasikan ke sel T sehingga terjadi proliferasi sel Th1
(umumnya).
b. Fase efektor
Pajanan ulang dapat menginduksi sel efektor sehingga mengaktifkan sel Th1 dan
melepas sitokin yang menyebabkan :
1) Aktifnya sistem kemotaksis dengan adanya zat kemokin (makrofag dan sel
inflamasi). Gejala biasanya muncul nampak 24 jam setelah kontak kedua.
2) Menginduksi monosit menempel pada endotel vaskular, bermigrasi ke
jaringan sekitar.
3) Mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai APC, sel efektor, dan
menginduksi sel Th1 untuk reaksi inflamasi dan menekan sel Th2.
Mekanisme kedua reaksi adalah sama, perbedaannya terletak pada sel T yang teraktivasi. Pada
Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV, sel Th1 yang teraktivasi dan pada T Cell Mediated
Cytolysis, sel Tc/CTL/ CD8+ yang teraktivasi.
(Imunologi UI,2014)
Jenis-jenis Reaksi
1.1. Jenis-Jenis Reaksi
Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV
Reaksi Tipe IV merupakan hipersensitivitas granulomatosis. Biasanya terjadi
terhadap bahan yang tidak dapat disingkirkan dari rongga tubuh seperti talcum dalam
rongga peritoneum dan kolagen sapi dari bawah kulit. Ada beberapa fase pada respons
Tipe IV yang dimulai dengan fase sensitasi yang membutuhkan 1-2 minggu setelah
kontak primer dengan atigen. Dalam fase itu, Th diaktifkan oleh APC melalui MHC-
II. Reaksi khas DTH seperti respons imun lainnya mempunyai 2 fase yaitu fase
sensitasi dan fase efektor.
Berbagai APC seperti sel Langerhans (SD di kulit) dan makrofagyang menangkap
antigen dan membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk dipresentasikan ke sel T.
sel T yang diaktifkan pada umumnya adalah sel CD4+ terutama Th1, tetapi pada
beberapa hal sel CD8+ dapat juga diaktifkan. Pajanan ulang dengan antigen
menginduksi sel efektor. Pada fase efektor, sel Th1 melepas berbagai sitokin yang
mengerahkan dan mengaktifkan makrofag dan sel inflamasi non spesifik lain. Gejala
biasanya baru Nampak 24 jam sesudah kontak kedua dengan antigen. makrofag
merupakan efektor utama respon DTH. Sitokin yang dilepas sel Th1 menginduksi
monosit menempel ke endotel vaskular, bermigrasi dari sirkulasi darah ke jaringan
sekitar.
Influx makrofag yang diaktifkan berperan pada DTH terhadap parasite dan bakteri
intraseluler yang tidak dapat ditemukan oleh antibodi. Enzim litik yang dilepas
makrofag menimbulkan destruksi nonspesifik pathogen intraseluler yang hanya
menimbulkan sedikit kerusakan jaringan pada beberapa hal, antigen tidak mudah
dibersihkan sehingga respon DTH memanjang dan dapat merusak jaringan penjamu
dan menimbulkan reaksi granuloma. Granuloma terbentuk bila makrofag terus
menerus diaktifkan dan menempel satu dengan lainnya yang kadang berfusi
membentuk sel datia multinuclear yang disebut sel datia. Sel datia tersebut mendorong
jaringan normal dari tempatnya, membentuk nodul yang dapat diraba dan melepas
sejumlah besar enzim litik yang merusak jaringan sekitar. Pembuluh darah dapat
dirusak dan menimbulkan nekrosis jaringan.
Respon terhadapt M. tuberculosis merupakan respon DTH yang bermata dua.
Imunitas terhadap M. tuberculosis menimbulkan respon DTH yang mengaktifkan
makrofag untuk memasang batasan kuman dari paru, kuman diisolasi dalam lesi
granuloma yang disebut tuberkel. Enzim litik yang sering dilepas makrofag yang
diaktifkan dalam tuberkel merusak jaringan paru sehingga terjadi kerusakan jaringan
yang lebih besar dibanding keuntungan yang diperoleh dari DTH. Granuloma
terbentuk pada tuberculosis, lepra, skistosomiasis, lesmaniasis dan sarkoidosis.

Sitokin yang berperan pada DTH


Di atantara sitokin yang diproduksi, sel Th1 berperan dalam menarik dan
mengaktifkan makrofag ke tempat infeksi. IL-3 dan GM-CSF menginduksi
hematopoiesis lokal dari sel garis granulosit-monosit. IFN-𝛾 dan TNF-𝛽beserta sitokin
asal makrofag (TNF-𝛼 dan IL-1) memacu sel endotel untuk menginduksi sejumlah
perubahan yang memudahkan ekstravasasi sel seperti monosit dan sel nonspesifik lain.
Neutrofil dan monosit dalam sirkulasi menempel pada molekul adhesi sel endotel dan
bergerak keluar dari vaskular menuju rongga jaringan. Neutrophil Nampak dini pada
reaksi memuncak pada 6 jam. Infiltrasi monosit terjadi antara 24-48 jam setelah
pajanan dengan antigen. Monosit yang masuk jaringan menjadi makrofag yang ditarik
ke tempat DTH oleh kemokin seperti MCP-1/CCL2. MIF mencegah makrofag untuk
bermigrasi keluar dari lokasi reaksi DTH.

IFN-𝛾 dan TNF-𝛽 yang diproduksi sel CD4+ Th1 mengaktifkan makrofag lebih
aktif berperan sel efektor dan sebagai APC melepas IL-12. Yang akhir menginduksi
Th1 dan lebih efektif menginduksi IFN-𝛾 yang menekan aktifitas sel Th2 dan
mengaktifkan makrofag yang meginduksi inflamasi. Pada DTH, kerusakan jaringan
disebabkan oleh produksi makrofag yang diaktifkan seperti enzim hidrolitik, oksigen
reaktif intermediet, oksida nitrat dan sitokin proinflamasi. IL-18 adalh sitokin lain
yang diproduksi makrofag yang bersama IL-12 memacu Th1 untuk lebih banyak
memproduksi IFN-𝛾. Respon yang sifat proteksi yang menguntungkan dan respons
yang merusak yang ditandai oleh kerusakan jaringan.
MM ANTIHISTAMIN & KORTIKOSTEROID
L.I 2.1 Memahami dan menjelaskan farmakokinetik Antihistamin

Generasi I CTM (klorfeniramin)

AH1
Terfenadin, Astemizol,
Generasi II Loratadin, Akrivastin,
Antihistamin
Setirizin

1. Simetidin
AH2 2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin
terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor –histamin (penghambatan saingan).
Antagonis Reseptor Antihistamin dibedakan menjadi 2 yaitu AH1 dan AH2.

A. Antagonis Reseptor H1 (AH1)

FARMAKODINAMIK
AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, bermacam otot polos.
Selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang
disertai penglepasan histamin endogen berlebihan. Obat AH1 dibedakan menjadi 2 yaitu
AH1 generasi pertama dan AH2 generasi kedua. Obat AH1 generasi pertama adalah
klorfeniramin (CTM). AH1 generasi kedua tidak menyebabkan efek samping karena tidak
menembus sawar otak sehingga tidak menyebabkan efek pada SSP seperti kantuk,
inkoordinasi, dll. Contoh obat AH1 generasi kedua adalah terfenadin, astemizol, loratasin,
akrivastin, dan setirizin. Obat antihistamin yang digunakan untuk anestesi local adalah
prometazin dan pirilamin.

FARMAKOKINETIK
Efek yang ditimbulkan dari antihistamin 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal
setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 umumnya 4-6 jam. Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru
sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama
biotransformasi AH1 ialah hati. AH1 disekresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam
bentuk metabolitnya. Meminum obat saat makan akan mengurangi efek samping.

 INDIKASI
- Untuk alergi debu yang tidak parah
- Mengatasi urtikaria akut, dermatitis atopic, dermatitis kontak dan gigitan serangga
- Untuk anti muntah pasca bedah atau hamil dan setelah radiasi
- Untuk paralisis agintans (Parkinson)
- Untuk mabuk perjalanan
- Kontraindikasi untuk pasien penderita penyakit hati

 EFEK SAMPING
- Mengentalkan sekresi bronkus sehingga menyulitkan ekspektorasi (sehingga tidak efektif
untuk penderita asma
- Sedasi (mengantuk parah). Namun ada obat non-sedasi yaitu Astemizol, Terfenadin,
Loratadin
- Vertigo, Insomnia, Tremor, Nafsu makan menurun, inkoordinasi, pandangan kabur,
diplopia, euphoria, gelisah, lemah, penat, mulut kering, disuria, hipotensi, sakit kepala, dll.
- Astemizol yang berlebihan menyebabkan gemuk
- Pemberian astemizol, terfenadin yang diberikan bersama makrolida (eritromisin) seperti
ketokonazol, itrakonazol akan menyebabkan keadaan fatal yaitu aritmia ventrikel.

KONTRAINDIKASI

 Bagi wanita hamil atau sedang menyusui, sesuaikan jenis dan dosis antihistamin dengan
anjuran dokter.
 Bagi anak-anak, penggunaan tiap-tiap jenis obat antihistamin berbeda-beda dan
disesuaikan dengan usia.
 Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, gangguan hati, tukak lambung,
obstruksi usus, infeksi saluran kemih, pembengkakan prostat, dan glaukoma.
 Apabila Anda diresepkan obat antihistamin golongan pertama, hindari mengonsumsi zat
alkohol atau minuman beralkohol karena dapat memperparah efek rasa kantuk.
 Jangan menggunakan antihistamin bersamaan dengan obat-obatan lainnya termasuk
produk herba tanpa petunjuk dari dokter karena dikhawatirkan dapat menyebabkan efek
samping yang membahayakan (misalnya dosis yang berubah menjadi sangat tinggi
apabila kita mengonsumsi salah satu jenis antihistamin berbarengan dengan dekongestan,
parasetamol, atau jenis antihistamin lainnya).
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis saat menggunakan suatu jenis obat antihistamin,
segera temui dokter.

A. Antagonis Reseptor H2 (AH2)

AH2 menghambat sekresi asam lambung. AH2 dibedakan menjadi 4 golongan yaitu :
1. Simetidin
2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin
1. SIMETIDIN DAN RANITIDIN

 FARMAKODINAMIK
Simetadin dan ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Kerjanya
menghambat sekresi asam lambung. Simetadin dan ranitidin juga mengganggu volume dan
kadar pepsin cairan lambung.

 FARMAKOKINETIK
Absorpsi simetidin diperlambat oleh makan, sehingga simetidin diberikan bersama atau
segera setelah makan dengan maksud untuk memperanjang efek pada periode pascamakan.
Ranitidn mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam jumlah cukup besar setelah
pemberian oral. Ranitidin dan metabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya
melalui tinja. Masa paruh simetidin adalah 2 jam sedangkan masa paruh ranitidine adalah
1,75-3 jam dan bisa makin lama pada orang tua, pasien gagal ginjal dan pasien yang
mempunyai penyakit hati.

 INDIKASI
Efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat penyembuhannya.
Selain itu, juga efektif untuk mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan tukak
lambung. Dapat pula untuk gangguan refluks lambung-esofagus.
Untuk melakukan pencegahan digunakan dosis yang lebih kecil, sedangkan untuk mencegah
kekambuhkan dosis nya setengah.

 EFEK SAMPING
Efek sampingnya rendah, yaitu penghambatan terhadap resptor H2, seperti nyeri kepala,
pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam, kulit, pruritus, kehilangan libido dan
impoten.
2. FAMOTIDIN

 FARMAKODINAMIK
Famotidin merupakan AH2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung pada
keadaan basal, malam, dan akibat distimulasi oleh pentagastrin. Famotidin 3 kali lebih poten
daripada ramitidin dan 20 kali lebih poten daripada simetidin.

 FARMAKOKINETIK
Famotidin mencapai kadar puncak di plasma kira kira dalam 2 jam setelah penggunaan
secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam. Metabolit utama adalah famotidin-S-oksida. Pada
pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi dapat melibihi 20 jam.

 INDIKASI
Efektifitas Obat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis, dan untuk
pasien dengan sindrom Zollinger-Ellison.

 EFEK SAMPING
Efek samping ringan dan jarang terjadi, seperti sakit kepala, pusing, konstipasi dan diare,
dan tidak menimbulkan efek antiandrogenik.

3. NIZATIDIN

 FARMAKODINAMIK
Potensi nizatin daam menghambat sekresi asam lambung.

 FARMAKOKINETIK
Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam, masa paruh plasma
sekitar 1,5 jam dan lama kerja sampai dengn 10 jam, disekresi melalui ginjal.

 INDIKASI
Efektifitas untuk tukak duodenum diberikan satu atau dua kali sehari selama 8 minggu, tukak
lambung, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellion.
 Kontraindikasi : Kehamilan & Ibu menyusui

 EFEK SAMPING
Efek samping ringan saluran cerna dapat terjadi, dan tidak memiliki efek antiandrogenik.

2.2. Memahami dan Menjelaskan Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah hormon kelas steroid yang dihasilkan di korteks adrenal.


Kortikosteroid terlibat dalam berbagai sistem fisiologis seperti respon stres, respon imun dan
regulasi inflamasi, metabolisme karbohidrat, katabolisme protein, kadar elektrolit darah, dan
tingkah laku.Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul
hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif.
 FARMAKODINAMIK
- Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.selain itu juga
mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf dan organ lain.
- Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu
glukokortikoid dan mineralokortikoid.
 Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan efek anti-
inflamasi, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil.
Contohnya adalah kortisol.
 Efek pada mineralokortikoid ialah terhadap keseimbangan air dan elektrolit,
sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar sangat kecil. Contohnya
adalah aldosteron atau desoksikortikosteron.
- Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan massa kerjanya.
 Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam.
 Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis antara 12-36 jam.
 Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.

- Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis, makin besar dosis,
makin besar dosis terapi makin besar efek yang didapat. Mekanismenya adalah melalui
pengaruh steroid terhadap pembentukan protein yang mengubah respons jaringan terhadap
hormon lain.

 FARMAKOKINETIK
 Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor dan ikatan protein.
 Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik. Untuk
mencapai kadar tinggi sebaiknya diberikan secara IV, untuk mendapatkan efek yang lama
kortisol dan esternya diberikan secara IM. Perubahan struktur kimia sangat
mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja karena juga mempengaruhi
afinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein. Prednison adalah prodrug yang dengan
cepat diubah menjadi prednisolon bentuk aktifnya dalam tubuh.
 Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang
 sinovial. Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat
 menyebabkan efek sistematik, antara lain supresi korteks adrenal.

 INDIKASI
Dari pengalaman klinis diajukan 6 prinsip yang harus diperhatikan sebelum obat ini
digunakan :
1. Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial dan
error dan harus di evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit.
2. Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya.
3. Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik,
tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar.
4. Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih dari hingga dosis melebihi
dosis substisusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah.
5. Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan merupakan terapi
kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek anti-inflamasinya.
6. Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar,
mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa pasien.

 EFEK SAMPING

Berikut efek samping kortikosteroid sistemik secara umum.

Tabel 5.0

1. Saluran cerna Hipersekresi asam lambung, mengubah proteksi


gaster, ulkus peptikum/perforasi, pankreatitis, ileitis
regional, kolitis ulseratif.
2. Otot Hipotrofi, fibrosis, miopati panggul/bahu

3. Susunan saraf pusat Perubahan kepribadian (euforia, insomnia, gelisah,


mudah tersinggung, psikosis, paranoid, hiperkinesis,
kecendrungan bunuh diri), nafsu makan bertambah
4. Tulang Osteoporosis,fraktur, kompresi vertebra, skoliosis,
fraktur tulang panjang.
5. Kulit Hirsutisme, hipotropi, strie atrofise, dermatosis
akneiformis, purpura, telangiektasis
6. Mata Glaukoma dan katarak subkapsular posterior

7. Darah Kenaikan Hb, eritrosit, leukosit dan limfosit

8. Pembuluh darah Kenaikan tekanan darah

9. Kelenjar Atrofi, tidak bisa melawan stres


adrenal bagian
kortek

10. Metabolisme Kehilangan protein (efek katabolik), hiperlipidemia,gula


Protein dan Karbohidrat meninggi, obesitas, buffao hump, perlemakan hati.

11. Elektrolit Retensi Na/air, kehilangan kalium (astenia, paralisis,


tetani, aritmia kor)

12. Sistem Menurun, rentan terhadap infeksi, reaktivasi Tb dan


immunitas herpes simplek, keganasan dapat timbul.
- Pemberian kortikosteroid jangka lama yang
dihentikan tiba-tiba dapat menimbulkan
insifisiensi adrenal akut dengan gejala demam,
malgia, artralgia dan malaise.
- Komplikasi yang timbul akibat pengobatan
lama ialah gangguan cairan dan elektrolit ,
hiperglikemia dan glikosuria, mudah mendapat
infeksi terutama tuberkulosis, pasien tukak
peptik mungkin dapat mengalami pendarahan
atau perforasi, osteoporosis dll.
- Alkalosis hipokalemik jarang terjadi pada
pasien dengan pengobatan derivat
kortikosteroid sintetik.
- Tukak peptik ialah komplikasi yang kadang-
kadang terjadi pada pengobatan dengan
kortikosteroid. Sebab itu bila bila ada
kecurigaan dianjurkan untuk melaakukan
pemeriksaan radiologik terhadap saluran cerna
bagian atas sebelum obat diberikan.

http://www.bmb.leeds.ac.uk/teaching/icu3/lecture/24/image82.gif

 KLASIFIKASI OBAT KORTIKOSTEROID

Tabel 6.0

Masa bekerja Nama obat

Short Acting (8-12 hours) - Cortisone


- Hydrocortisone
Intermediate Acting (18-36 hours) - Prednisolone
- Triamcinolone
- Methylprednisolone
- Fludrocortisone
Long Acting (36-54 hours) - Dexamethasone
- Betamethasone
 Short Acting

1. Cortisone
Cortisone adalah jenis steroid yang diproduksi secara alami oleh kelenjar dalam
tubuh yang disebut kelenjar adrenal. Cortisone berfungsi untuk meredakan inflamasi.
Efek samping yang biasa ditimbulkan adalah rasa nyeri.

2. Hydrocortisone
Hydrocortisone adalah kostikosteroid topical yang mempunyai efek anti-inflamasi,
anti alergi dan antipruritus pada penyakit kulit. Indikasi pemberian obat ini adalah untuk penderita
dermatitis atopi, dermatitis alergik, dermatitis kontak, pruritus anogenital dan neurodermatitis.
Hydrocortisone tidak boleh diberikan kepada penderita yang hipersensitif, herpes simplex,
varicella dan infeksi jamur. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari obat ini adalah rasa
terbakar, gatal, kekeringan, atropi kulit dan infeksi sekunder

 Intermediate Acting
1. Prednisolone
Prednisolone diberikan untuk pasien penekanan jangka pendek peradangan pada
gangguan alergi dan pengobatan jangka pendek peradangan pada mata . Efek samping yang
ditimbulkan adalah mual, dyspepsia, malaise, cegukan, reaksi hipersensitifitas termasuk
anafilaksis, dll.

2. Triamcinolone
Triamcinolone mempunyai efek antiinflamasi dan pembentukan glikogen yang lebih
besar, dan berkurangnya efek samping retensi garam. Efek samping yang dapat timbul adalah
fraktur spontan, ulkus peptik/tukak lambung, perubahan cushingoid, purpura, flushing, sering
berkeringat, jerawat, striae, hirsutisme, vertigo, sakit kepala, tromboembolisme, nekrosis aseptik,
pangkreatitis akut, kelemahan otot, esofagitis ulseratif, peningkatan tekanan intrakranial,
papiledema, katarak subkapsular.

3. Methylprednisolone
Methylprednisolone adalah suatu obat glukokortikoid alamiah (memiliki sifat
menahan garam (salt retaining properties)), digunakan sebagai terapi pengganti pada defisiensi
adrenokortikal. Methylprednisolone dikontraindikasikan pada infeksi jamur sistemik dan pasien
yang hipersentitif terhadap komponen obat.

4. Fludrocortisone
Fludrocortisone merupakan mineralokortikoid yang paling banyak digunakan.
Mempunyai aktivitas retensi garam yang kuat dan efek anti-inflamasi yang berarti walaupun
digunakan dalam dosis yang sedikit.

 Long Acting

1. Dexamethasone
Obat ini digunakan sebagai glucocorticoid khususnya untuk Anti inflamasi,
Pengobatan rematik arthritis, dan penyakit kolagen lainnya, Alergi dermatitis, Penyakit kulit, dll.
Pengobatan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek katabolik steroid seperti kehabisan
protein, osteoporosis, dan penghambatan pertumbuhan anak. Penimbunan garam, air dan
kehilangan potassium jarang terjadi bila dibandingkan dengan glucocorticoid lainnya.
Penambahan nafsu makan dan berat badan lebih sering terjadi.

2. Betamethasone
Betamethasone digunakan untuk meringankan inflamasi dari dermatosis yan
responsive terhadap kortikosteroid. Penggunaan kostikosteroid topical dapat menyebabkan efek
samping local seperti kulit kering, gatal-gatal, rasa terbakar, iritasi, hipopigmentasi, dermatitis
alergi, dll.

L.O 3 Memahami dan menjelaskan Pandangan Islam dalam berobat

Kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali mengemukakan penjelasan tentang al-


maslahah yaitu: “Pada dasarnya al-maslahah adalah suatu gambaran untuk mengabil
manfaat atau menghindarkan kemudaratan, tapi bukan itu yang kami maksudkan, sebab
meraih manfaat dan menghindarkan kemudaratan terseut bukanlah tujuan kemasalahatan
manusia dalam mencapai maksudnya. Yang kami maksud dengan maslahah adalah
memelihara tujuan syara.

Ungkapan al-Ghazali ini memberikan isyarat bahwa ada dua bentuk kemaslahatan, yaitu:
 Kemasalahatan menurut manusia, dan
 Kemaslahatan menurut syari‟at.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah dikisahkan bahwa seorang Anshar terluka
di perang Uhud. Rasulullah pun memanggil dua orang dokter yang ada di kota Madinah,
lalu bersabda, “Obatilah dia.”
Dalam riwayat lain ada seorang sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah ada
kebaikan dalam ilmu kedokteran?” Rasullah menjawab, “Ya,”
Begitu pula yang diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf bahwa seorang lelaki menderita
sakit di zaman Rasulullah. Mengetahui hal itu, beliau bersabda, “Panggilkan dokter.” Lalu
Hilal bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah dokter bisa melakukan sesuatu untuknya?”
“Ya,” jawab beliau. (HR Ahmad dalam Musnad: V/371 dan Ibnu Abi Syaibah dalam
Mushannaf: V/21)
Hilal meriwayatkan bahwa Rasulullah mnjenguk orang sakit lalu bersabda,
“Panggilkan dokter!” kemudian ada yang bertanya, “Bahkan engkau mengatakan hal itu,
wahai Rasulullah?” “Ya,” jawab beliau.
Berdasarkan pemaparan di atas, tampak jelas bagaimana Rasulullah menganjurkan
kita untuk berobat dan berusaha menggunakan ilmu kedokteran yang diciptakan Allah
untuk kita. Kita juga ditekankan agar tidak menyerah pada penyakit karena Rasulullah
bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin
yang lemah.” (HR Muslim (34) dan Ahmad: II/380)
Di antaranya yang ada di Musnad Ahmad. Hadits Ziyadah bin Alaqah dari Usamah
bin Syuraik menuturkan,”Aku berada bersama Nabi lalu datanglah sekelompok orang
Badui dan bertanya,’Wahai Rasulullah, apakah kita boleh berobat?’ Rasulullah menjawab,
‘Ya, wahai hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit
kecuali Allah menciptakan obatnya, kecuali satu macam penyakit.’ Mereka bertanya,’Apa
itu?’ Rasulullah menjawab,’Penyakit tua’.”(HR Ahmad dalam Musnad : IV/278, Tirmidzi
dalam Sunan (2038))
Nabi bersabda,”Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jika obat tepat pada penyakitnya
maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR Muslim: I/191)
Abu Hurairah meriwayatkan secara marfu’, “Tidaklah Allah menurunkan panyakit kecuali
menurunkan obatnya.”(HR Bukhari: VII/158)
Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, “Kesembuhan ada pada tiga hal, minum madu,
pisau bekam, dan sengatan api. Aku melarang umatku menyengatkan api.” (HR Bukhari
dan Muslim)

Dari firman Allah disini dapat dipahami: bahwasanya agama islam di bagun untuk
kemaslahatan artinya : semua syari’at dalam perintah dan larangannya serta hukum-
hukumnya adalah untuk mashoolihi (manfaat-manfaat) dan makna masholihi adalah :
jamak dari maslahat artinya : manfaat dan kebaikan.

Misal : Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih
besar dari pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219

‫اس َو ِإثْ ُم ُه َما أَ ْك َب ُر ِم ْن نَ ْف ِع ِه َما‬ ِ ‫سأَلُونَكَ ع َِن ا ْل َخ ْم ِر َوا ْل َم ْيس ِِر قُ ْل ِف‬
ٌ ‫يه َما ِإثْ ٌم َك ِب‬
ِ َّ‫ير َو َمنَا ِف ُع ِللن‬ ْ ‫َي‬

2:219. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya.