Anda di halaman 1dari 19

Periodisasi Sastra Indonesia

Sastra Indonesia berkembang dari waktu ke waktu, bahkan sebelum bahasa Indonesia
diresmikan pada 28 Oktober 1928. Pada zaman dahulu bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa
kerajaan dan bahasa sastra (Purwoko, 2004: 84), hasil-hasil sastra berbahasa Melayu yang
tidak tertulis juga sudah ditemukan sejak abad ke-19. Sementara itu, pondasi pendirian sastra
Indonesia baru tegak berdiri pada tahun 1920-an dengan munculnya Balai Poestaka. Sejak
saat itu sastra berkembang sampai saat ini, sastra Indonesia secara umum terbagi oleh
beberapa periode, yaitu angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan
1950, angkatan 1966, dan angkatan 1970—sekarang. Di era 2000-an seperti sekarang mulai
dikenal cyber sastra, yaitu sastra yang beredar luas di dunia cyber atau internet. Berikut akan
dipaparkan satu demi satu penjelasan terkait periodisasi sastra Indonesia.

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

 Angkatan Pujangga Lama


 Angkatan Sastra Melayu Lama
 Angkatan Balai Pustaka
 Angkatan Pujangga Baru
 Angkatan 1945
 Angkatan 1950 - 1960-an
 Angkatan 1966 - 1970-an
 Angkatan 1980 - 1990-an
 Angkatan Reformasi
 Angkatan 2000-an

Pujangga Lama

Salah satu halaman Hikayat Abdullah

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang


dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya sastra di dominasi oleh syair, pantun,
gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat
meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera
bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya
keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan
Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik
selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf
Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]

Karya Sastra Pujangga Lama

Sejarah

 Sejarah Melayu (Malay Annals)


 Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga) karya Raja Ali Haji

Hikayat

 Hikayat Abdullah  Hikayat Kalila dan Damina


 Hikayat Aceh  Hikayat Masydulhak
 Hikayat Amir Hamzah  Hikayat Pandawa Jaya
 Hikayat Andaken Penurat  Hikayat Pandja Tanderan
 Hikayat Bayan Budiman  Hikayat Putri Djohar Manikam
 Hikayat Djahidin  Hikayat Sri Rama
 Hikayat Hang Tuah  Hikayat Tjendera Hasan
 Hikayat Iskandar Zulkarnain  Tsahibul Hikayat
 Hikayat Kadirun

Syair

 Syair Bidasari
 Syair Hukum Nikah karya Raja Ali Haji
 Syair Ken Tambuhan
 Syair Siti Shianah karya Raja Ali Haji
 Syair Sultan Abdul Muluk karya Raja Ali Haji
 Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji
 Syair Raja Mambang Jauhari
 Syair Raja Siak

Gurindam

 Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji


Kitab agama

 Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri


 Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
 Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
 Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri

Sastra Melayu Lama


Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang
dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah
Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang
terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Melayu Lama

 Robinson Crusoe (terjemahan)


 Lawan-lawan Merah
 Mengelilingi Bumi dalam 80 hari
(terjemahan)
 Nona Leonie
 Graaf de Monte Cristo
 Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
(terjemahan)
 Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
 Kapten Flamberger (terjemahan)
 Cerita Rossina
 Rocambole (terjemahan)
 Nyai Isah oleh F. Wiggers
 Nyai Dasima oleh G. Francis
 Drama Raden Bei Surioretno
(Indo)
 Syair Java Bank Dirampok
 Bunga Rampai oleh A.F van
 Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
Dewall
 Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
 Kisah Perjalanan Nakhoda
 Tambahsia
Bontekoe
 Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
 Kisah Pelayaran ke Pulau
 Nyai Permana
Kalimantan
 Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti
 Kisah Pelayaran ke Makassar dan
(indo)
lain-lainnya
 dan masih ada sekitar 3000 judul karya
 Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R
sastra Melayu-Lama lainnya
Kommer (Indo)
 Cerita Nyi Paina
 Cerita Nyai Sarikem
 Cerita Nyonya Kong Hong Nio
Angkatan Balai Pustaka

Abdul Muis sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920,
yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama)
dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam
khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan
liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian
(cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga
bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah
terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak
sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para
pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini
adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]Pada masa ini, novel
Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan
kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam
perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada
masa itu.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:

 Merari Siregar

 Azab dan Sengsara (1920)


 Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
 Cinta dan Hawa Nafsu

 Marah Roesli

 Siti Nurbaya (1922)


 La Hami (1924)
 Anak dan Kemenakan (1956)

 Muhammad Yamin

 Tanah Air (1922)


 Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
 Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
 Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

 Nur Sutan Iskandar

 Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)


 Cinta yang Membawa Maut (1926)
 Salah Pilih (1928)
 Karena Mentua (1932)
 Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
 Hulubalang Raja (1934)
 Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Tulis Sutan Sati

 Tak Disangka (1923)


 Sengsara Membawa Nikmat (1928)
 Tak Membalas Guna (1932)
 Memutuskan Pertalian (1932)

 Djamaluddin Adinegoro

 Darah Muda (1927)


 Asmara Jaya (1928)

 Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati

 Pertemuan (1927)

 Abdul Muis

 Salah Asuhan (1928)


 Pertemuan Djodoh (1933)

 Aman Datuk Madjoindo

 Menebus Dosa (1932)


 Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
 Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru

Sutan Takdir Alisjahbana pelopor Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai
Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra
yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah
sastra intelektual, nasionalistis dan elitis.

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir
Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman
Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya
Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra
Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der
Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.

Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :

1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir
Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir
Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

 Sutan Takdir Alisjahbana  Roestam Effendi


o Dian Tak Kunjung Padam (1932) o Bebasari: toneel dalam 3
o Tebaran Mega - kumpulan sajak pertundjukan
(1935) o Pertjikan Permenungan
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang  Sariamin Ismail
Penyamun (1940) o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)

 Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah  Anak Agung Pandji Tisna
(1938) o Ni Rawit Ceti Penjual
o Tenggelamnya Kapal Van der Orang (1935)
Wijck (1939) o Sukreni Gadis Bali (1936)
o Tuan Direktur (1950) o I Swasta Setahun di
o Di dalam Lembah Kehidoepan Bedahulu (1938)
(1940)
 J.E.Tatengkeng
 Armijn Pane o Rindoe Dendam (1934)
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa  Fatimah Hasan Delais
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak o Kehilangan Mestika (1935)
(1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara  Said Daeng Muntu
(1950) o Pembalasan
o Kisah Antara Manusia - kumpulan o Karena Kerendahan Boedi
cerpen (1953) (1941)
o Habis Gelap Terbitlah Terang -
Terjemahan Surat R.A. Kartini  Karim Halim
(1945) o Palawija (1944)

 Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit
(1933)
o Kertajaya (1932)

 Tengku Amir Hamzah


o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)

Angkatan 1945

Chairil Anwar pelopor Angkatan 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan


Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga
baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang
perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan
angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang".
Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam
kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave
Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa
Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945

 Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)

 Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar


o Tiga Menguak Takdir (1950)

 Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan

 Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)

 Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)

 Utuy Tatang Sontani


o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)

 Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)

Angkatan 1950 - 1960-an


Kesusastraan Indonesia Periode 1950-1965.
Pramoedya Ananta Toer novelis generasi 1950-1960

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri
angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi.
Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya,
Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam
Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis.

Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di


Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena
masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di
Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an

 Pramoedya Ananta Toer  Toto Sudarto Bachtiar


o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947) o Etsa sajak-sajak (1956)
o Bukan Pasar Malam (1951) o Suara - kumpulan sajak
o Di Tepi Kali Bekasi (1951) 1950-1955 (1958)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan  Ramadhan K.H
(1951) o Priangan si Jelita (1956)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)  W.S. Rendra
o Gadis Pantai (1962-65) o Balada Orang-orang
Tercinta (1957)
 Nh. Dini o Empat Kumpulan Sajak
o Dua Dunia (1950) (1961)
o Hati jang Damai (1960) o Ia Sudah Bertualang (1963)
 Sitor Situmorang  Subagio Sastrowardojo
o Dalam Sadjak (1950) o Simphoni (1957)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga
sandiwara (1954)  Nugroho Notosusanto
o Pertempuran dan Saldju di Paris o Hujan Kepagian (1958)
(1956) o Rasa Sajangé (1961)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan o Tiga Kota (1959)
sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan  Trisnojuwono
sadjak (1955) o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
 Mochtar Lubis o Laki-laki dan Mesiu (1951)
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)  Toha Mochtar
o Tanah Gersang (1964) o Pulang (1958)
o Si Djamal (1964) o Gugurnya Komandan
Gerilya (1962)
 Marius Ramis Dayoh o Daerah Tak Bertuan (1963)
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)  Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
 Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)  Bokor Hutasuhut
o Ditengah Keluarga (1956) o Datang Malam (1963)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua
(1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)

 Ali Akbar Navis


o Robohnya Surau Kami - 8 cerita
pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita
pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)

Angkatan 1966 - 1970-an


Taufik Ismail sastrawan Angkatan 1966

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3]
Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada
angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra
beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat
banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada
angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye,
Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi
Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B.
Jassin.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta,
Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma,
Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi
yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966

 Taufik Ismail  Djamil Suherman


o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Tirani dan Benteng o Manifestasi (1963)
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung  Titis Basino
o Kenalkan o Dia, Hotel, Surat Keputusan
o Saya Hewan (1963)
o Puisi-puisi Langit o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
 Sutardji Calzoum Bachri o Pelabuhan Hati (1978)
o O o Pelabuhan Hati (1978)
o Amuk
o Kapak  Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
 Abdul Hadi WM o Catatan Putih (1975)
o Meditasi (1976) o Di Bawah Bayangan Sang
o Potret Panjang Seorang Kekasih (1978)
Pengunjung Pantai Sanur (1975) o Hukla (1979)
o Tergantung Pada Angin (1977)
 Iwan Simatupang
 Sapardi Djoko Damono o Ziarah (1968)
o Dukamu Abadi (1969) o Kering (1972)
o Mata Pisau (1974) o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
 Goenawan Mohamad o RT Nol/RW Nol
o Parikesit (1969) o Tegak Lurus Dengan Langit
o Interlude (1971)  M.A Salmoen
o Potret Seorang Penyair Muda o Masa Bergolak (1968)
Sebagai Si Malin Kundang
(1972)  Parakitri Tahi Simbolon
o Seks, Sastra, dan Kita (1980) o Ibu (1969)

 Umar Kayam  Chairul Harun


o Seribu Kunang-kunang di o Warisan (1979)
Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk  Kuntowijoyo
o Lebaran di Karet o Khotbah di Atas Bukit
o Pada Suatu Saat di Bandar (1976)
Sangging
o Kelir Tanpa Batas  M. Balfas
o Para Priyayi o Lingkaran-lingkaran Retak
o Jalan Menikung (1978)
 Danarto
o Godlob  Mahbub Djunaidi
o Adam Makrifat o Dari Hari ke Hari (1975)
o Berhala
 Nasjah Djamin  Wildan Yatim
o Hilanglah si Anak Hilang (1963) o Pergolakan (1974)
o Gairah untuk Hidup dan untuk
Mati (1968)  Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut
(1976)

 Putu Wijaya  Ismail Marahimin


o Bila Malam Bertambah Malam o Dan Perang Pun Usai (1979)
(1971)
o Telegram (1973)  Wisran Hadi
o Stasiun (1977) o Empat Orang Melayu
o Pabrik o Jalan Lurus
o Gres
o Bom

Angkatan 1980 - 1990an


Hilman Hariwijaya penulis cerita remaja pada dekade 1980 dan 1990

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya
roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga
T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan
penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah:
Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet
Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman
Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.

Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada
dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko,
La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol
pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh
utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi
romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel
mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih
dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk
menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu
mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran
pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan
serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar
baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.

Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang
dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de
Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an

 Ahmadun Yosi Herfanda


o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)

 Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)

 Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)

 Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)

 Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)

 Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)

 Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)

 Dorothea Rosa Herliany


o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)

 Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)

 Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)

 Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)

 Templat:Lintang Sugianto
o Templat:Matahari Di atas Gilli (1997)
o Templat:Kusampaikan kumpulan puisi (2002)
o Templat:Menyapa Pagi Anak Aceh (2004)

Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH
Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang
"Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-
karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar
reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik
sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan
penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada
akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang
dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra—puisi,
cerpen, dan novel—pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema
sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam
Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut
meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi

 Widji Thukul
 Puisi Pelo
 Darman
Angkatan 2000-an

Andrea Hirata salah satu novelis tersukses pada dekade pertama abad ke-21

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak
berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun
2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal
tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002.
Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke
dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti
Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada
akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000

 Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
o Ranah 3 Warna (2011)
o Rantau 1 Muara (2013)

 Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)

 Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)

 Cucuk Espe
o Para Pejabat (1995)
o Monolog Sang Penari (1997)
o Bukan Mimpi Buruk (1998)
o Mengejar Kereta Mimpi (2001)
o Rembulan Retak (2003)
o Juliet dan Juliet (2004)
o 13 Pagi (2010)
o Trilogi monolog JENDERAL MARKUS (2010)
o INONG dongeng rumah jalang (2011)
o Wisma Presiden (2012)
o Ganasrev (2013)
o Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)
o Revolusi Senyap (2014)
o 3 Repertoar Cucuk Espe (2015)

 Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2: Akar (2002)
o Supernova 3: Petir (2004)
o Supernova 4: Partikel (2012)

 Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Di atas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)

 Herlinatiens
o Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
o Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
o Jilbab Britney Spears (2004)
o Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
o Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
o Rebonding (2005)
o Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
o Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
o Sebuah Cinta yang Menangis (2006)

 Raudal Tanjung Banua


o Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
o Ziarah bagi yang Hidup (2004)
o Parang Tak Berulu (2005)
o Gugusan Mata Ibu (2005)

 Seno Gumira Ajidarma


o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai

Cybersastra
1. ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004. London:
MacMillan. p. 117.
2. ^ Mahayana, Maman S, Oyon Sofyan (1991). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia
Modern. Jakarta: Grasindo. p. 370.
3. ^ Yudiono (2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo. p. 167.