Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BAHAN DAN KOROSI


UJI TARIK LOGAM

Oleh Kelompok 3 / 2D-D4 TKI :


Chrisly Dyzha Prianti (1841420034)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


D-IV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018 / 2019
BAB I
PENDAHULUAN

Hari, Tanggal : Senin, 7 Oktober 2019


A. Tujuan Praktikum
Praktikum ini ditujukan untuk :
1. Mengetahui standar prosedur pengujian tarik dengan baik benar
2. Mengetahui kekuatan tarik suatu material
3. Mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi dari pengujian tarik
4. Mampu mengolah data dari hasil pengujian

B. Latar Belakang
Suatu logam mempunyai sifat-sifat tertentu yang dibedakan atas sifat fisik, mekanik,
thermal, dan korosif. Salah satu yang penting dari sifat tersebut adalah sifat mekanik. Sifat
mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan, dan ketangguhan. Sifat mekanik
merupakan salah satu acuan untuk melakukan proses selanjutnya terhadap suatu material,
contohnya untuk dibentuk dan dilakukan proses permesinan. Untuk mengetahui sifat mekanik
pada suatu logam harus dilakukan pengujian terhadap logam tersebut. Salah satu pengujian
yang dilakukan adalah pengujian tarik.
Pengujian ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar sifat mekanik dari
material, sehingga dapat dlihat kelebihan dan kekurangannya. Material yang mempunyai sifat
mekanik lebih baik dapat memperbaiki sifat mekanik dari material dengan sifat yang kurang
baik dengan cara alloying. Hal ini dilakukan sesuai kebutuhan konstruksi dan pesanan.
Uji tarik merupakan salah satu pengujian mekanik yang paling luas digunakan di
industri dan di dunia pendidikan karena kemudahan dalam menganalisa data yang didapatkan
dan memperoleh informasi mengenai sifat mekanik suatu material. Pada proses pengujian
tarik ini, pembebanan berupa beban uniaksial dengan kecepatan pembebanan yang statis.
Pengujian ini dilakukan dimaksudkan untuk mengetahui sifat – sifat mekanik suatu bahan
atau logam terhadap pembebanan tarik. Sehingga Mahasiswa dapat melakukan percobaan ini
karena mengetahui karakteristik benda. Kekuatan tarik dari pada spesimen akan diuji,
seberapa besar gaya yang bekerja pada spesimen tersebut hingga spesimen dapat patah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
Pengujian tarik yaitu pengujian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang sifat-
sifat dan keadaan dari suatu logam. Pengujian tarik dilakukan dengan penambahan beban secara
perlahan-lahan, kemudian akan terjadi pertambahan panjang yang sebanding dengan gaya yang
bekerja. Kesebandingan ini terus berlanjut sampai bahan sampai titik propotionality limit. Setelah
itu pertambahan panjang yang terjadi sebagai akibat penambahan beban tidak lagi berbanding
lurus, pertambahan beban yang sama akan menghasilkan penambahan panjang yang lebih besar
dan suatu saat terjadi penambahan panjang tanpa ada penambahan beban, batang uji bertambah
panjang dengan sendirinya. Hal ini dikatakan batang uji mengalami yield (luluh). Keadaan ini
hanya berlangsung sesaat dan setelah itu akan naik lagi.

Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan.
Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi
terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Alat
eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan
yang tinggi (highly stiff).

Kenaikan beban ini akan berlangsung sampai mencapai maksimum, untuk batang yang ulet
beban mesin tarik akan turun lagi sampai akhirnya putus. Pada saat beban mencapai maksimum,
batang uji mengalami pengecilan penampang setempat (local necting) dan penambahan panjang
terjadi hanya disekitar necking tersebut. Pada batang getas tidak terjadi necking dan batang akan
putus pada saat beban maksimum.
Pada pengujian tarik nantinya akan diperoleh sifat mekanik dari logam. Beberapa sifat mekanik
tersebut adalah:

A. Sifat Mekanik di daerah Elastis :


 Kekuatan elastis : kemampuan batang untuk menerima beban / tegangan tanpa berakibat
terjadinya deformasi plastis (perubahan bentuk yang permanen). Ditunjukkkan oleh titik luluh
(yield).
 Kekakuan (stiffness) : suatu batang yang memiliki kekakuan tinggi bila mendapat beban
(dalam batas elastisnya) akan mengalami deformasi plastis, tetapi hanya sedikit.
 Resilience : kemampuan bahan untuk menyerap energi tanpa menyebabkan
terjadinya deformasi plastis. Dinyatakan dengan besarnya luasan di bawah grafik daerah
elastik (Modulus Resilien)
B. Sifat mekanik di daerah plastis :
 Kekuatan tarik (Tensile strength)
Kemampuan batang untuk menerima beban/ tegangan tanpa mengakibatkan batang rusak atau
putus. Kekuatan tarik maksimum ditunjukkan sebagai tegangan maksimum (ultimate stress) pada
kurva tegangan-regangan.
 Keuletan (Ductility)
Kemampuan bahan untuk berdeformasi tanpa menjadi patah. Dapat diukur dengan besarnya
tegangan plastis yang terjadi setelah batang uji putus. Ditunjukkan sebagai garis elastik pada grafik
tegangan-regangan.
 Ketangguhan (Toughness)
Kemampuan menyerap energi tanpa mengakibatkan patah, dapat diukur dengan besarnya energi
yang diperlukan untuk mematahkan batang uji. Ketangguhan dinyatakan dengan modulus
ketangguhan yaitu banyaknya energi yang dibutuhkan untuk mematahkan satu satuan volume
bahan. Ditunjukkan sebagai keseluruhan luasan di bawah kurva tegangan-regangan.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus menarik suatu
bahan (dalam hal ini suatu logam) sampai putus, kita akan mendapatkan profil tarikan yang
lengkap yang berupa kurva seperti digambarkan pada Gambar 1. Kurva ini menunjukkan
hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang. Profil ini sangat diperlukan dalam
desain yang memakai bahan tersebut.

Uji tarik bertujuan untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh


pengguna bahan logam, informasi yang akan diperoleh antara lain :
1. Tegangan Luluh (Yield Strength),
2. Tegangan Tarik Maksimum,
3. Kekuatan Patah (Fracture Strength),
4. Elongasi,
5. Modulus Elastisitas, dan
6. Kontraksi.
Untuk mengetahui data-data daitas, biasanya mesin penguji yang telah dihubungkan
dengan komputer, diprogram untuk mengolah data diatas, namun untuk memberikan
informasi data yang lebih beberapa data perlu dihitung secara manual menggunakan rumus
persamaan matematis.
Persamaan matematis yang digunakan meliputi :
1. Tegangan Luluh
Untuk mencari tegangan luluh, dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode,
yaitu :
a. Metode Tangensial
Metode ini menggunakan cara menarik garis berhimpt dengan garis proporsional.
b. Metode Offset
Metode ini menggunakan cara menarik garis sejajar berjarak = 0.02 dari garis
proporsional.

Tegangan luluh dengan satuan


2. Tegangan Tarik Maksimum
Untuk mencari tegangan tarik maksimum, dapat menggunakan persamaan :

Tegangan tarik maksimum dengan satuan :


3. Kekuatan Patah (Fracture Strength)
Untuk mencari kekuatan patah dapat menggunakan persamaan :

Kekuatan patah dengan satuan

4. Elongasi
Untuk mencari elongasi dapat menggunakan persamaan :
Elongasi dengan satuan persen (%)
5. Modulus Elastisitas
Untuk mencari modulus elastisitas menggunakan persamaan :

Modulus elastisitas dengan satuan


6. Kontraksi
Untuk mencari kontraksi dapat menggunakan persamaan :

Kontraksi dengan satuan persen (%)


BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat : - Mesin tarik TARNO GROCKI TYPE UPH.100 kN


- Mistar ukur
- Ampelas

B. Bahan : Baja karbon rendah (ST 37 pelat)

C. Prosedur Percobaan

Putar
 switch saklar mode auto/manual pada panel utama ke arah M, kemudian tekan
 tombol on

 Putar switch ON/OFF pada angka 1 ON


Tekan tombol start

 Atur posisi nol pada pengukuran penambahan panjang (lihat mistar ukur) dengan
 memutar tuas UP searah jarum jam dan/atau tombol Down

Nol-kan
 dial indikator dengan memutar frame dial indikator hingga angka nol berada
 pada posisi jarum

 Tekan powe ON pada layar penampil gaya

 Pasang benda kerja


Lakukan
 Preload dengan memutar ulir penggerak dudukan gripper bawah berlawanan
 arah jarum jam

Tekan tombol zero pada layar penampil gaya


 Atur katup kecepatan penguji dengan memutar searah jarum jam


Catat gayanyang bekerja pada setiapsatuan penambahan
 panjang benda kerja hingga
 benda kerja terputus
Nol-kan kembali katup gaya saat benda kerja telah

putus dengan memutar berlawanan
arah jarum jam


Lepas benda kerja


 Matikan mesin dengan menekan tombol stop


 Putar switch ON/OFF mesinke angka 0 (OFF)


Tekan tombol OFF pada panel utama dan putar switch saklar mode auto/manual pada
 arah 0
BAB IV
DATA PENGAMATAN

Modulus Young
No F (Kgf) ΔL (mm/100) ΔL koreksi Regangan Tegangan
(E)
0,69162989 31,0704355
1 50 37,31343284
1676,25 5 9 0,022260064
1,52158576 42,9870250
2 110 82,08955224
2319,15 9 2 0,035396396
1,75673993 49,1835032
3 127 94,7761194
2653,45 3 4 0,035718072
3,63797324 53,8294717
4 263 196,2686567
2904,1 8 3 0,067583298
3,59647545 57,0250231
5 260 194,0298507
3076,5 4 7 0,063068373
3,87312741 59,2354031
6 280 208,9552239
3195,75 2 5 0,065385347
5,38088058 60,7349397
7 389 290,2985075
3276,65 3 6 0,088596129
6,36299503 61,8266913
8 460 343,2835821
3335,55 4 8 0,102916635
7,88458080 62,4569045
9 570 425,3731343
3369,55 3 4 0,126240339
8,85286265 62,7590361
10 640 477,6119403
3385,85 6 4 0,141061163
62,7590361
11 700 522,3880597 9,68281853
3385,85 4 0,154285648
10,5819373 62,9101019
12 765 570,8955224
3394 9 5 0,168207284
11,4118932 62,6960148
13 825 615,6716418
3382,45 7 3 0,182019436
15,0083687 62,2659870
14 1085 809,7014925
3359,25 2 3 0,24103639
23,3770904
15 1690 1261,19403 60,6218721
3270,55 5 0,385621388
23,7920683 56,9453197
16 1720 1283,58209
3072,2 9 4 0,417805511
25,4519801 2,77108433
17 1840 1373,134328
149,5 4 7 9,184845006
Kurva Tegangan Regangan
70
60
50
40
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25 30

ΔL ΔL Modulus Young
No F (Kgf) Regangan Tegangan
(mm/100) koreksi (E)
1 1676,25 50 37,31343 0,672314 31,07044 0,021638387
2 2319,15 110 82,08955 1,479091 42,98703 0,034407848
3 2653,45 127 94,77612 1,707678 49,1835 0,034720541
4 2904,1 263 196,2687 3,536372 53,82947 0,065695837
5 3076,5 260 194,0299 3,496033 57,02502 0,061307004
6 3195,75 280 208,9552 3,764959 59,2354 0,06355927
7 3276,65 389 290,2985 5,230604 60,73494 0,086121823
8 3335,55 460 343,2836 6,18529 61,82669 0,100042387
9 3369,55 570 425,3731 7,664381 62,4569 0,122714708
10 3385,85 640 477,6119 8,605621 62,75904 0,137121617
11 3385,85 700 522,3881 9,412397 62,75904 0,149976769
12 3394 765 570,8955 10,28641 62,9101 0,163509603
13 3382,45 825 615,6716 11,09318 62,69601 0,17693601
14 3359,25 1085 809,7015 14,58922 62,26599 0,234304743
15 3270,55 1690 1261,194 22,72422 60,62187 0,374851781
16 3072,2 1720 1283,582 23,12761 56,94532 0,406137068
17 149,5 1840 1373,134 24,74116 2,771084 8,928331316
Judul Bagan
70

60

50

40

30

20

10

0
0 5 10 15 20 25 30
BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Pembahasan
Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan.
Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi
terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Alat
eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan
yang tinggi (highly stiff).
Pada praktikum ini menggunakan alat yang bernama TARNO GROCKI TYPE UPH.100 kN
dengan menggunakan bahan Baja karbon rendah (ST 37 pelat). Praktikum ini baja akan putus
pada pengamatan Diale ke-17 dan pada saat angka di layar display menunjukkan 149,5 KgF.

Uji tarik bertujuan untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengguna
bahan logam, informasi yang akan diperoleh antara lain :
1. Tegangan Luluh (Yield Strength),
2. Tegangan Tarik Maksimum,
3. Kekuatan Patah (Fracture Strength),
4. Elongasi,
5. Modulus Elastisitas, dan
6. Kontraksi.
Kenaikan beban akan berlangsung sampai mencapai maksimum, untuk batang yang
ulet beban mesin tarik akan turun lagi sampai akhirnya putus. Pada saat beban mencapai
maksimum, batang uji mengalami pengecilan penampang setempat (local necting) dan
penambahan panjang terjadi hanya disekitar necking tersebut. Pada batang getas tidak
terjadi necking dan batang akan putus pada saat beban maksimum.
Kesimpulan
• Dalam uji tarik yang telah dilaksanakan, ada beberapa besaran yang didapat.
Meliputi : Tegangan Luluh (Yield Strength), Tegangan Tarik Maksimum, Kekuatan
Patah (Fracture Strength), Elongasi, Modulus Elastisitas, dan Kontraksi.
• Didalam proses uji tarik, terjadi peristiwa “necking”, dimana terjadinya pengecilan
diameter spesimen hingga akhirnya putus.
• Baja akan putus pada pengamatan Diale ke-17 dan saat angka pada layar display
menunjukkan 149,5 KgF.
Referensi :
1. https://teknikforever.wordpress.com/2013/04/21/pengujian-tarik-pengujian-
logam-teknik/
2. https://sersasih.wordpress.com/2011/07/21/laporan-material-teknik-uji-tarik/
3. https://jurnal.unma.ac.id/index.php/JE/article/download/309/288
4. http://journal2.um.ac.id/index.php/jurnal-teknik-
mesin/article/viewFile/510/323
5. http://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/reaktom/article/download/272/264
6. Modul Ajar Praktikum Uji Tarik Logam Teknik Mesin Politeknik Negeri
Malang

Mengetahui, 14 Oktober 2019

(DR. Luchis Rubiantoro, LRSC, MMT)


NIP. 196609061992031003