Anda di halaman 1dari 19

KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI ( TRANSFORMATIF DAN

TRANSAKSIONAL)
Makalah ini akan dipresentasikan pada mata kuliah
Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

Oleh:

Rohmat Al Fanani (182520078)

Dosen Pengampu:

Dr. EE. Junaedi Sastradiharja, M.Pd

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PTIQ JAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Organisasi merupakan instrument penting dalam masyarakat modern yang
kehadirannya tak mungkin terelakkan. Menurut Weber organisasi adalah salah satu
sistem otorita yang ditetapkan secara rasional oleh berbagai aturan. Didalam
pengorganisasian terdapat adanya pembagian tugas-tugas, wewenang, dan
tanggung jawab secara terinci menurut bidang-bidang dan bagian-bagian, sehingga
terciptalah adanya hubungan kerjasama yang harmonis dan lancar menuju
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi tidak mungkin bisa berjalan
dengan efektif dan efesien sesuai dengan visi dan misi jika keberadaannya tidak
didukung oleh kepemimpian yang ideal.

Pemimpin menjadi sebuah komponen penting yang selalu ada dalam


kehidupan manusia. Pemimpin muncul karena adanya perbedaan perbedaan dalam
kehidupan manuisa yang heterogen, yang kemudian butuh untuk disatukan,
diselaraskan dan diarahkan agar perbedaan-perbedaan itu tidak melahirkan sebuah
konflik atau banyaknya masalah. Adaya pemimpin untuk mencari solusi itu.

Dia adalah “orang terpilih” karena semua pihak yang berbeda pendapat
setuju untuk menjadikannya penengah. Oleh sebab itu kebanyakan pemimpin sejati
yang kita kenal adalah orang yang memiliki kelebihan-kelebihan sifat maupun
kemampuan dibanding manusia kebanyakan.

Di antara jenis Kepemimpinan itu adalah kepemimpinan transaksional dan


tranformasional. Kedua jenis kepemimpinan ini pertama kali dipaparkan oleh Burn
pada tahun 1978 dalam konteks politik, yang kemudian dikembangkan oleh Bass
1985 serta Berry dan Houston (1993”) yang membawanya dalam konteks
organisasional.

Kepemimpinan tranformasinal dan transaksional sering disebutkan secara


berdampingan satu dengan yang lainnya ini karena pada dasarnya keduanya

2
memiliki perspektif yang sama dalam hal “seorang pemimpin harus memberikan
sesuatu agar anggota bergerak menuju tujuan organisasi”..

Dalam makalah ini akan disajikan berbagai pemaparan tentang


kepemimpinan tranformasional dan transaksional baik dari perspektif umum
maupun pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang diatas, penulis merumuskan beberapa


permasalahan yang akan kami bahas, yaitu:
1. Pengertian kepemimpinan tranformasional dan transaksional.
2. Karakteristik transformasional dan transaksional dalam kepemimpinan
berorganisasi.

C. Tujuan Penulisan Makalah


Dalam makalah ini penulis bertujuan untuk mencoba menggali hubungan
antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional serta
implementasinya dalam berorganisasi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Konsep Dasar Kepemimpinan

Pengertian kepemimpinan

1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi. kepemimpinan hanya ada


dalam proses relasi dengan orang lain (para pengikut) . Apabila tidak ada
pengikut, maka tidak ada pemimpin. tersirat dalam definisi ini adalah premis
bahwa pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan
inspirasi dan berralasi dengan para pengikut mereka.
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. agar bisa mempimpin, pemimpin
harus melakukan sesuatu. sprti telah diobservasi oleh john gardner (1986-
1988) kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati
posisi otoritas yang diformalkan mungkin sangat mendorong suatu proses
kepemimpinan, namun sekedar menduduki posisi itu tidak menandai
seseorang untuk menjadi pemimpin.
3. Kepemimpinan harus membujuk orang lain untuk mengambil tindakan.
Pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui berbagai cara, seoerti
menggunakan otoritas yang terelegitimasi, menciptakan model (menjadi
teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukum, restrukturisasi
organisasi dan mengkomonikasikan visi.

Sehingga dapat disimpulkan, kepemimpinan adalah setiap perbuatan


yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengoordinasi dan memberi
arah kepada individu atau kelompok yang tergabung di dalam wadah tertentu
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.1

Empat keterampilan dan keahlian dalam seni memimpin:


1. Kemampuan menggunakan kekuasaan secara efektif dan dalam perilaku
yang bertanggung jawab.
2. Kemampuan memahami manusia yang memiliki kekuatan motivasi yang
berbeda pada waktu yang berbeda dan dalam situasi yang berbeda pula.
3. Kemampuan memberikan dan memicu inspirasi pihak lain.
4. Kemampuan bertindak dengan suatu perilaku yang dapat
mengembangkansuatu iklim yang kondusif untuk merespon dan
meningkatkan motivasi.2

1
Sudarwan, Danim, Visi Baru Manejemen Sekolah: dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 205.
2
Dr. Z. Heflin Frincess, BSc, MSc. Soc, MA, Kepemimpinan Berbasis Kewirausahaan
Entrepreneurial-Based Leadership, (Yogyakarta: Mida Pustaka, 2009), hal. 81
4
2. Transformasional dan Transaksional dalam Kepemimpinan Berorganisasi
A. Kepemimpinan Transformasional
1. Pengertian

Istilah transformasional berinduk dari kata to transform, yang bermakna


mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda/
Misalnya, mentransformasikan visi menjadi realita, panas menjadi energi, potensi
menjadi aktual, laten menjadi manifes, dan sebagainya. Transformasional,
karenanya, mengandung makna sifat-sifat yang dapat mengubah sesuatu menjadi
bentuk lain, misalnya, mengubah energi potensial menjadi energi aktual atau motif
berprestasi menjadi prestasi riil.

Dengan demikian, seorang kepala sekolah disebut menerapkan kaidah


kepemimpinan transformasional, jika dia mampu mengubah energi sumber daya;
baik manusia, instrumen, maupun situasi untuk mencapai tujuan-tujuan reformasi
sekolah. Kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin
dalam bekerja dengan dan/atau melalui orang lain untuk mentransformasikan secara
optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna
sesuai dengan target capaian yang telah ditetapkan. Sumber daya dimaksud dapat
berupa SDM, fasilitas, dana, dan faktor-faktor eksternal keorganisasian. Dalam
organisasi pembelajaran, SDM dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan,
tenaga ahli, guru, dosen, peneliti, dan Iain-lain.

Berkaitan dengan kepemimpinan transformasional ini, Leithwood dkk.


(1999) menulis:

Transformational leadership is seen to be sensitive to organization building,


developing shared vision, distributing leadership and building school culture
necessary to current restructuring efforts in schools.

Kutipan ini menggariskan bahwa kepemimpinan transformasional


menggiring SDM yang dipimpin ke arah tumbuhnya sensitivitas pembinaan dan
pengembangan organisasi, pengembangan visi secara bersama, pendistribusian

5
kewenangan kepemimpinan, dan membangun kultur organisasi sekolah yang
menjadi keharusan dalam skema restrukturisasi sekolah itu.3

Menurut Bass dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa


kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan
untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu. Dengan penerapan
kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal
dan tanggap kepada pimpinannya.
Kepemimpinan transformasional adalah tipe pemimpin yang
menginsprirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi
mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi yang luar biasa, Aspek utama
dari kepemimpinan transformasional adalah penekanan pada pembangunan
pengikut.

2. Ada tiga cara seorang pemimpin transformasional memimpin organisasi


yaitu:
a. Mendorong bawahan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
b. Mendorong bawahan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
c. Meningkatkan kebutuhan bawahan yang lebih tinggi seperti harga diri
dan aktualisasi diri.
3. Bass dalam Robbin dan Judge, (2008) mengemukakan adanya empat ciri
karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:

a. Kharisma (Charisma) / Pengaruh yang Ideal

Merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan


menimbulkan emosi-emosi yang kuat, Kharisma atau pengaruh yang
ideal berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin. Pemimpin di
identifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan,
dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut

3
Sudarwan, Danim Visi Baru Manejemen Sekolah: dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal 58-60

6
persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard
yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan.

Kharisma dan pengaruh yang ideal dari pemimpin menunjukkan


adanya pendirian, menekankan kebanggan dan kepercayaan,
menempatkan isu-isu yang sulit, menunjukkan nilai yang paling penting
dalam visi dan misi yang kuat, menekankan pentingnya tujuan,
komitmen dan konsekuen etika dari keputusan serta memiliki sence of
mission. Dengan demikian pemimpin akan diteladani, membangkitkan
kebanggaan, loyalitas, hormat, antusiasme, dan kepercayaan
bawahan. Selain itu pemimpin akan membuat bawahan mempunyai
kepercayaan diri. Sunarsih, (2001)4

b. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)

Berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik dan


cermat, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang
masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif.
Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan
rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati. Pemimpin yang
mendorong bawahan untuk lebih kreatif, menghilangkan keengganan
bawahan untuk mengeluarkan ide-idenya dan dalam menyelesaikan
permasalahan yang ada menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang
lebih menggunakan intelegasi dan alasan-alasan yang rasional dari pada
hanya didasarkan pada opini-opini atau perkiraan-perkiraan semata. Bass
dalam Sunarsih, (2001).

c. Inspirasi (Inspiration)

Pemimpin yang inspirasional adalah seorang pemimpin yang


bertindak dengan cara memotivasi dan menginspirasi bawahan yang
berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari
bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada
kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.

4
http://erdiyansyah.wordpress.com,
7
Pemimpin mempunyai visi yang menarik untuk masa depan,
menetapkan standar yang tinggi bagi para bawahan, optimis dan
antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap apa yang perlu
dilakukan. Sehingga pemimpin semacam ini akan memperbesar
optimisme dan antusiasme bawahan serta motivasi dan menginspirasi
bawahannya untuk melebihi harapan motivasional awal melalui
dukungan emosional dan daya tarik emosional.

d. Perhatian Individual (Individualized consideration)

Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh


pemimpin untuk memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai
pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan secara
pribadi kepada bawahannya.

4. Ciri Kepemimpinan Tranformasional

a. Unsur pemimpin

Pemimpin memiliki karisma dimata pengikut, visi atau idelisme yang


sesuai dengan harapan, mampu memberikan pengaruh kepada
pengikut.

b. Unsur pengikut
Pengikut memiliki inspirasi dalam dirinya dan memandang
pemimpin mampu membawanya untuk mewujudkan inspirasi
tersebut dan memiliki motivasi dan pemimpin memotivasi hal
tersebut untuk diarahkan menjadi tujuan bersama.u7

c. Unsur kerja sama


Di dalam melaksanakan pekerjaannya, pemimpin mampu
merangsang atau memicu kreatifitas intelektual dari para pengikut.

8
d. Unsur keputusan
Di dalam kerja sama tranformasional, pengikut bebas mengambil
keputusan dan bukan karena ada tekanan.5

Pemimpin mampu memperlakukan orang lain sebagai individu,


mempertimbangkan kebutuhan individual dan aspirasi-aspirasi, mendengarkan,
mendidik dan melatih bawahan. Sehingga pemimpin seperti ini memberikan
perhatian personal terhadap bawahannya yang melihat bawahan sebagai
individual dan menawarkan perhatian khusus untuk mengembangkan bawahan
demi kinerja yang bagus. Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada
bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan
menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi.6

B. Kepemimpinan Transaksional
1. Burns 1978
Model kepemimpinan yang terjadi ketika pola relasi antara
pemimpin konstituen maupun antara pemimpin dengan elit politiknya
lainnya dilandasi oleh semangat pertukaran kepentingan
ekonomi ataupolitik untuk memelihara atau melanjutkan status quo.

2. Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995).


a. Pengertian
Kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang
pemimpin memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara
pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran.
Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepekatan mengenai klasifikasi
sasaran, standar kerja, dan penghargaan.
Sehingga dapat diartikan, kepemimpinan Transaksional sebagai cara
yang digunakan seorang pemimpin dalam menggerakkan anggotanya dengan
menawarkan imbalan atau akibat kontribusi yang diebrikan oleh anggota
kepada organisasi.

5
Lensufiie, Tikno. 2010. Leadership untuk Profesional dan Mahasiswa..... hal. 82-83.
6
http://erdiyansyah.wordpress.com
9
b. Unsur-Unsur kepemimpinan:
1. Unsur kerja sama antara pengikut dan pemimpin yang bersifat
kontraktual.
2. Unsur prestasi yang terukur.
3. Unsur reward atau upah yang dipertukarkan dengan loyalitas.
Pola kepemimpinan ini akan berjalan dengan baik apabila ketiga
unsur diatas terpenuhi.sekaligus memuaskan kedua belah pihak.7

c. Karakteristik kepemimpinan transaksional ditunjukkan dengan


perilaku atasan sebagai berikut (Bass dalam Robbins – Judge, 2008) :

1. Imbalan Kontinjen (Contingensi Reward).


Pemimpin melakuka kesepakatan tentang hal-hal apa saja
yang dilakukan oleh bawahan dan menjanjikan imbalan apa yang
akan diperoleh bila hal tersebut dicapai.
2. Manajemen dengan pengecualian aktif (Active Manajemen By
exception)
Pada manajemen eksepsi aktif pemimpin memantau deviasi dari
standar yang telah ditetapkan dan melakukan tindakan perbaikan,
serta melakukan tindakan perbaikan.
3. Manajemen pengecualian pasif (Pasive Manajemen By
exception).
Pada manajemen pasif pemimpin melakukan tindakan jika
standar tidak tercapai.
4. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja adalah sesuatu perasaan yang dimiliki masing-
masing individu khususnya dalam menilai pekerjaan dan proses serta
hasil kerja.

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat


individual, setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda
sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi

7
Tikno Lensufiie, Leadership untuk Profesional dan Mahasiswa, (Jakarta: Erlangga,2010), hal.
88-89.
10
penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu,
maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut, dengan
demikian kepuasan merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang
atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas atau tidak puas
dalam bekerja.

Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau


tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya
maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan
pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima,
kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya,
penempatan kerja,jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu
pengawasan. Sedangkan perasaan yang berhubungan dengan dirinya,
antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.

Hian Chye Koh menyatakan bahwa kepuasan kerja didukung oleh


lima faktor yang meliputi: pekerjaan, rekan kerja, gaji, promosi, dan
pemimpin. Berangkat dari pendapat itu, diantara kepuasan kerja yang
didapat karyawan, faktor pemimpin mempunyai andil dalam membentuk
loyalitas karyawan agar tetap berjalan sesuai dengan apa yang dihapkan
oleh perusahaan.

11
3. Hubungan antara persepsi gaya kepemimpinan transaksional dan
transformasional

Perbedaan
Transaksional Tranformasional

1. Kepemimpinan transaksional 1. untuk menjadi pemimpin yang

menggunakan pendekatan transaksi sukses, dia harus membangkitkan

untuk disepakati bersama antara komitmen pengikutnya untuk dengan

pemimpin dengan karyawan. Disini kesadarannya membangun nilai-nilai

pemimpin mengambil inisiatif untuk organisasi, mengembangkan visi

menawarkan beberapa bentuk organisasi, melakukan perubahan,

pemuasan kebutuhan karyawan seperti dan mencari terobosan-terobosan

peningkatan upah, promosi, baru untuk meningkatkan

pengakuan dan perbaikan kondisi produktivitas organisasi. Untuk

kerja. Sebaliknya apabila karyawan menjadi pemimpin transformasional,

mau menerima tawaran itu mereka ia harus melakukan tugasnya

harus bekerja keras untuk melalui:

meningkatkan produktivitas kerjanya. Pertama, Membangun keadaran

Apabila kedua belah pihak telah pengikutnya akan pentingnya semua

menyepakati transaksi tersebut, pihak mengembangkan dan perlunya

pemimpin menindaklanjuti dengan semua pihak harus bekerja keras

merumuskan dan mendiskripsikan untuk meningkatkan produktivitas

tugas-tugas dengan jelas dan organisasi. Kedua mengembangkan

operasional, menjelaskan target yang komitmen berorganisasi dengan

harus dicapai, menawarkan berbagai mengembangkan kesadran ikut

bentuk imbalan yang dapat memilki organisasi, kesadran

memotivasi karyawan untuk bekerja bertanggung jawab menjaga

keras. kebutuhan dan kehidupan organisasi,


serta berusaha memlihar dan
2. Kepemimpinan transaksional
memajukan organisasi.
memotivasi pengikut dengan minat-
Pada kepemimpinan transaksional
minat pribadi, melibatkan nilai-nilai
pemimpin memang berperan sebagai
yang relevan dalam proses pertukaran
penampung aspirasi anggotanya, akan
dan tidak langsung menyentuh
tetapi lebih fokus pada aspirasi para
substansi perubahan yang
individu, bukan lembaga. Jadi pemimpin
dikehendaki. Selain tujuan antara
bekerja sepenuh tenaga untuk sebesar
transformasional dengan transaksionl
mungkin memenuhi aspirasi para
berbeda, kontuniutas perilaku juga
individu. Pemimpin bekerja pada sistem
berbeda. Keperbedaan kedua
yang sudah terbangun, tanpa dituntut

12
pendekatan kepemimpinan tersebut punya inisiatif mengembangkan
bukanlah bersifat dikotomis melainkan komunitas lebih lanjut. Singkatnya,
lebih bersifat stuasional, sehingga dalam kepemimpinan transaksional,
tampilannya lebih berupa sebuah pemimpin lebih bertindak sebagai
kontinium atau kontingensi. seorang manajer dengan berpedoman
kuat pada nilai-nilai yang sudah
terbangun secara mapan. Akad hubungan
dengan anggota yang ditekankan adalah
“reward” (imbalan) dan “punishmen”
(hukuman) yang bersifat konvesional.
2. Pemimpin transformasional bisa
melakukan perilaku transaksional
dalam situasi tertentu guna
menciptakan perubahan, sehingga
proses penggabungan dua model
kepemimpinan tersebut terjadi.
Sementara dalam kepemimpinan
transformasional, selain menjadi representasi
keinginan bersama para anggotanya,
pemimpin juga dituntut untuk selalu aktif
melakukan inisiasi perubahan (envisioning).
Memang dia akan berpijak sistem yang sudah
ada, akan tetapi bersamaan dengan itu, dia
juga aktif mempromosikan visi baru yang
progresif berlandaskan pada moralitas dan
tujuan luhur bersama. Pemimpin menjadi
motivator kegairahan anggotanya untuk
bersama mendorong kemajuan lembaga.
Dalam proses kepemimpinannya, ada proses
dialektika aktif antara pemimpin dan anggota
untuk mendiskusikan visi baru organisaisi.
Dalam proses tersebut anggota memberikan
standar “capaian” bersama organisasi, dan
pada saat yang sama pemimpin menstimulasi
diskursus yang mengarah pada capaian
standar baru yang lebih tinggi. Jadi, ada
tambahan peran pemimpin transformational
yaitu envisioning, energizing, dan enabling
(Burns 2003). Envisioning artinya pemimpin
menstimulus terbentuknya visi baru organisasi

13
yang lebih maju. Energizing berarti berarti
kekuatan karakter yang menjadi sumber
energi (spirit) bagi anggota untuk bergairah
bekerja mewujudkan cita-cita lembaga. Dan
dengan enabling Pemimpin bekerja bersama
dengan anggota sehingga memberikan
keyakinan akan terwujudnya cita-cita lembaga
(bukan cita-cita individu).8

Persamaan
Keduanya memiliki kesamaan dalam hal perlunya memberikan “sesuatu”
kepada anggota agar mereka bergerak sesuai tujuan organisasi, selain itu ada
juga tiga perbedaan antara jenis kepemimpinan ini, yakni :
a. Transaksional memberi imbalan berupa kebutuhan fisiologis bagi para
anggotanya sedangkan transformasional memberi inspirasi dan motivasi
untuk mendapatkan self esteem/harga diri dan aktualisasi diri.
b. Dalam hal kepentingan yang didahulukan, kepemimpinan transaksional
mementingkan kepentingan pribadi anggota untuk ditukar dengan imbalan
agar ia mau bekerja demi kepentingan bersama sedangkan transformasional
mementingkan kepentingan bersama dengan menjelaskan betapa pentingnya
hal tersebut sehingga anggota rela mengesampingkan kepentingan
pribadinya.
c. Dalam hal situasi internal dan eksternal organisasi, transaksional biasanya
dipakai dalam situasi yang stabil dan dalam hal-hal teknis yang telah baku
prosedurnya sedangkan Transformasional dipakai dalam keadaan tak stabil
dan atau terpuruk serta dalam hal-hal yang bersifat strategis dan tak baku.

Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) mengemukakan bahwa gaya


kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat dipilah secara tegas
walaupun keduanya merupakan gaya kepemimpinan yang saling bertentangan
karena kepemimpinan transformasional dan transaksional sangat penting dan
dibutuhkan setiap organisasi.

8
http://www.majalahpendidikan.com//03/kepemimpinan-transformasional-dan.html diakses
pada hari jum’at 18 okt 2019 pukul 13.00

14
Pada dasarnya, kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin untuk
mempengaruhi karyawan dalam sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi
untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam memberikan penilaian
terhadap gayakepemimpinan yang diterapkan pemimpin, karyawan melakukan
proses kognitif untuk menerima, mengorganisasikan, dan memberi penafsiran
terhadap pemimpin (Solso, 1998).
Berbagai penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kepuasan kerja
terutama dalam hubungannya dengan gaya kepemimpinan transformasional dan
transaksional. Penelitian yang dilakukan oleh Koh dkk. (1995) menunjukkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan
transaksional dengan kepuasan kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Popper dan
Zakkai (1994) menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional
terhadap organisasi sangat besar.

Bagan Hubungan Kepemimpinan Transaksional dan Tranformasional

Karisma Motivasi Stimulasi Perhatian


Idealisme Inspirasiona Intelektual Individual
l

Kepemimpinan
Hasil yang Hasil yang
Transaksional
diharapkan terjadi
Management By-Expection

Contingent Reward

15
PENUTUP

KESIMPULAN

Karakteristik kepemimpinan secara umum: sederhana, jujur, percaya diri, cerdas,


adil, luwes, bertanggung jawab dan masih banyak lagi.9 Kepemimpinan Transaksional
dapat diartikan sebagai cara yang digunakan seorang pemimpin dalam menggerakkan
anggotanya dengan menawarkan imbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang
diberikan oleh anggota kepada organisasi.
Karakteristik Kepemimpinan Transaksional terdiri dari:
- Pengadaan Imbalan, pemimpin menggunakan serangkaian imbalan untuk memotivasi
para anggota, Imbalannya berupa kebutuhan tingkat fisiologis (maslow).
- Eksepsi/pengecualian, dimana pemimpin akan memberi tindakan koreksi atau
pembatalan imbalan atau sanksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang
ditetapkan
Karakteristik Pemimpin Transaksionalis terdiri dari:
1. Mengetahui keinginan bawahan
2. Terampil Memberikan imbalan atau janji yang tepat
3. Responsif terhadap kepentingan bawahan
Kondisi yang dianggap pas dalam menerapkan Kepemimpinan
Transaksional:
- Internal
1. Struktur Organisasi (mekanistik, peraturan, prosedur jelas, sentralisasi tinggi)
2. Teknologi Organisasi (teknologi proses, kontinue, mass-production)
3. Sumber kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumber kekuasaaan di
dalam struktur, hubungan formal)
4. Tipe kelompok kerja(kerja tim, sifat pekerjaan umumnya engineering/teknis)
- Eksternal
1. Struktur lingkungan luar (baik, norma kuat, status quo)
2. Kondisi perubahan (lambat, tidakstabil, ketidakpastian rendah)
3. Kondisi pasar( stabil)

9
Imam Munawwir, Asas-asas Kepemimpinan dalam Islam, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994),
hal 167.
16
Sedangkan Kepemimpinan Transformasional adalah kepemimpinan yang
membawa organisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belum pernah
dicapai sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dan keyakinan kepada para
anggota agar mereka bergerak secara sungguh-sungguh menuju tujuan bersama tersebut
dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.
Karakteristik Kepemimpinan Transformasional:
1. Adanya pemberian wawasan serta penyadaran akan misi, membangkitkan
kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan pada para
bawahannya (Idealized Influence - Charisma)
2. Adanya proses menumbuhkan ekspektasi yang tinggi melalui pemanfaatan
simbol-simbol untuk memfokuskan usaha dan mengkomunikasikan tujuan-
tujuan penting dengan cara yang sederhana (Inspirational Motivation),
3. Adanya usaha meningkatkan intelegensia, rasionalitas, dan pemecahan masalah
secara seksama (Intellectual Stimulation),
4. Pemimpin memberikan perhatian, membina, membimbing, dan melatih setiap
orang secara khusus dan pribadi (Individualized Consideration).
Karakteristik Pemimpin Transformasionalis:
1. Kharismatik
2. Inspiratif dan motivatif
3. Percaya diri
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Visioner
6. Memiliki idealisme yang tinggi
Kondisi yang dianggap pas dalam menerapkan Kepemimpinan
Transformasional:
- Eksternal
1. Struktur lingkungan luar (ada tekanan terhadap situasi, Ketidakpuasan
masyarakat)
2. Kondisi perubahan (berubah cepat, bergejolak, ketidakpastian)
3. Kondisi pasar (sering terjadi perubahan dan tak stabil)
4. Pola hubungan kepemimpinan (pemimpin sebagai orang tua yang
membimbing ke pencapaian tujuan, hubungan emosional dengan anggota
kental dan dekat)

17
- Internal
1. Struktur Organisasi (organik, prosedur adaptif, otoritas tidak jelas,
desentralisasi)
2. Teknologi Organisasi (teknologi batch/satu kali pengerjaan)
3. Sumber kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumber
kekuasaan penguasaan informasi, hubungan informal)
4. Tipe kelompok kerja (kerja tim-variatif, sifat pekerjaan umumnya yang
memerlukan kreativitas tinggi, craft:keahlian, heuristic:tidak terstruktur,
manajemen atas dan menengah)

Keduanya memiliki kesamaan dalam hal perlunya memberikan “sesuatu”


kepada anggota agar mereka bergerak sesuai tujuan organisasi, selain itu ada juga tiga
perbedaan antara jenis kepemimpinan ini, yakni :
1. Transaksional memberi imbalan berupa kebutuhan fisiologis bagi para
anggotanya sedangkan transformasional memberi inspirasi dan motivasi untuk
mendapatkan self esteem/harga diri dan aktualisasi diri.
2. Dalam hal kepentingan yang didahulukan, kepemimpinan transaksional
mementingkan kepentingan pribadi anggota untuk ditukar dengan imbalan agar
ia mau bekerja demi kepentingan bersama sedangkan transformasional
mementingkan kepentingan bersama dengan menjelaskan betapa pentingnya hal
tersebut sehingga anggota rela mengesampingkan kepentingan pribadinya.
3. Dalam hal situasi internal dan eksternal organisasi, transaksional biasanya
dipakai dalam situasi yang stabil dan dalam hal-hal teknis yang telah baku
prosedurnya sedangkan Transformasional dipakai dalam keadaan tak stabil dan
atau terpuruk serta dalam hal-hal yang bersifat strategis dan tak bakuDalam
sistem yang dibentuk di dalam sebuah organisasi, selama sistem digunakan
untuk mengatur manusia, maka tetap diperlukan campur tangan manusia.
Campur tangan manusia tersebut berguna untuk menimbulkan pengaruh
terhadap hasil yang diharapkan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2007. Visi Baru Manejemen Sekolah: dari Unit Birokrasi ke
Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara.
Danim, Sudarwan. 2007. Menjadi komunitas pembelajar: kepemimpinan
transformasioanl dalam komunitas organisasi pembelajaran.jakarta: Bumi Aksara.
Lensufiie, Tikno. 2010. Leadership untuk Profesional dan Mahasiswa. Jakarta:
Erlangga.
Frinces, Heflin. 2009. Kepmimpinan Berbasis Kewirausahaan Entrpreurial-
Based Leadership. Yogyakarta: Mida Pustaka.
Munawwir, Imam. 1994. Asas-Asas Kepemimpinan dalam Islam. Surabaya:
Usaha Dunia.
http://www.majalahpendidikan.com//03/kepemimpinan-transformasional-dan.html

19