Anda di halaman 1dari 25

PERKEMBANGAN ABNORMAL

PERKEMBANGAN ABNORMAL Disusun Oleh : Nama : Muhammad Hafidz NIM Nama : Rosita Dwi Utami NIM

Disusun Oleh :

Nama : Muhammad Hafidz

NIM

Nama : Rosita Dwi Utami

NIM

Nama : Adhani Miftachul Jannah

NIM

Nama : Berlian Shoofa Kamila

NIM

: 190210102079

: 190210102060

: 190210102077

: 190210102083

Program studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Jember

2019

i
i
i

i

DAFTAR ISI

Halaman Judul………….…………………… ……

………

….i

Daftar Isi………………………

…………… ….…………

….ii

Kata Pengantar……………………

………

….……………

…iii

BAB. I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

……

……

….……………

1

1.2. Rumusan Masalah…………

……….…

……

2

1.3. Tujuan

……

………… …….………

2

BAB. II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perkembangan Abnormal

 

3

2.2 Gangguan Fungsi Fisik dan Psikomotorik

 

3

2.3 Cacat Mental

4

2.4 Gangguan Psiko Sosoal dan Prilaku

 

6

2.5 Anak Berbakat

9

2.6 Program Pendidikan Untuk Anak Berbakat

 

12

2.7 Moralitas dan Keagamaan dan Tugas Tugas Peserta Didik

Abnormal Serta Implikasinya Dalam Pendidikan BAB. III PENUTUP

 

13

5.1. Kesimpulan………….………………………….…

21

5.2. Saran…………………………………………………

21

DAFTAR PUSTAKA…………

……………………………

22

ii
ii
ii

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim, Alahamdulillahirobbil’alamin Segala puji bagi Allah Ta’ala Tuhan yang maha Esa, dimana atas nikmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “ PERKEMBANGAN ABNORMAL dengan lancar tanpa ada suatu kendala apapun. Kedua kalinya sholawat serta salam tetap kami haturkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. beserta keluarganya, sahabat beliau, dan kepada umatnya yang senantiasa menjaga Sunnahnya hingga hari kiamat Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan kami selama penyelesaian makalah ini dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami menanti saran dan kritik yang dapat menyempurnakan makalah kami dari semua pembaca. Oleh karena itu, semoga makalah yang kami sampaikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya dan bangsa indonesia umumnya. Sekian, terima kasih.

Jember, 12 Oktober 2019

Penyusun

iii
iii
iii

iii

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan dibaratkan seperti suatu proses yang dinamis/berubah-ubah,

oleh karena itu jika terjadi ketidak dinamisan perkembangan maka terjadi gangguan

perkembangan. Gangguan perkembangan ini sering disebut sebagai kecacatan.

Kecacatan tersebut bisa berupa cacat fisik, cacat monorik, cacat sosial, cacat mental,

dan lain sebagainya. Tidak jarang kecacatan ini dianggap sebagai hukuman atas

kesalahan-kesalahan orang tua pada masa lalu. Sehingga mengakibatkan anak yang

lahir tidak tumbuh dengan sempurna karea dihubungkan dengan dosa para orang tua

yang pernah mencelakai orang lain dengan memotong tangannya pada saat istrinya

hamil atau ucapan orang tua yang bisa menyinggung perasaan orang lain, sehingga

orang itu merasa tersinggung.

Perkembangan itulah yang dinamakan perkembangan abnormal.

Perkembangan abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Akan

tetapi, perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih

cepat atau yang lebih bagus dari pada rata-rata. Oleh karena itu, perkembangan anak

yang luar biasa, khususnya anak genius atau anak berbakat dapat disajikan dalam

satu kesatuan dengan perkembangan abnormal.

Gangguan perkembangan tidaklah terbatas pada kecacatan (handicap).

Gangguan yang luas dapat pula berupa gangguan perilaku yang lain seperti

penyalahgunaan obat (drug abuse) pada remaja dan orang dewasa. Gangguan

perkembangan yang akan dibicarakan disini merupakan gangguan fungsi fisik dan

psikomotorik, gangguan fungsi intelektual, dan gangguan yang Nampak pada

perilaku psikososial dan moral.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis dapat mengangangkat judul

“PERKEMBANGAN ABNORMAL” dengan tujuan memberikan informasi kepada

para pembaca tentang perkembangan abnormal yang terjadi pada anak

1
1
1

1

1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa

sajakah

gangguan

fungsi

fisik

dan

psikomotor

yang

terjadi

pada

perkembangan abnormal?

 

2.

Bagaimanakah yang abnormal?

cacat

mental

yang

terjadi

pada

perkembangan

anak

3.

Apa

sajakah

gangguan

psiko

sosial

dan

perilakunya

yang

terjadi

pada

perkembangan abnormal?

 

4.

Bagaimanakah perkembangan anak berbakat pada perkembangan abnormal?

5.

Bagaimanakah terjadinya gangguan moralitas dan keagamaan dan tugas tugas peserta didik abnormal serta implikasinya terhadap dunia pendidikan?

1.3 Bagaimanakah Tujuan Penulisan

1. Mengetahui Apa sajakah gangguan fungsi fisik dan psikomotor yang terjadi pada perkembangan abnormal

2. Mengetahui cacat mental yang terjadi pada perkembangan anak yang abnormal

3. Mengetahui Apa sajakah gangguan psiko sosial dan perilakunya yang terjadi pada perkembangan abnormal

4. Mengetahui perkembangan anak berbakat pada perkembangan abnormal

5. Mengetahui terjadinya gangguan moralitas dan keagamaan dan tugas tugas peserta didik abnormal serta implikasinya terhadap dunia pendidikan

2
2
2

2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perkembangan Abnormal

Perkembangan Abnormal adalah perkembangan yang menyimpang dari perkembangan yang normal. Sehingga dapat menyebabkan kecacatan, kecacatan tersebut dapat berupa cacat fisik, cacat motorik, cacat sosial, cacat mental, dan lain sebagainya.

2.2 Gangguan Fungsi Fisik dan Psikomotorik

Cacat fisik adalah jenis cacat dimana salah satu atau lebih anggota tubuh bagian tulang atau persendian mengalami kelainan, sehingga timbul rintangan dalam melakukan fungsi gerak. Gangguan fungsi fisik dan psikomotor pada umumnya disebabkan oleh kerusakan-kerusakan otak atau organ perifer yaitu kerusakan pada susunan syaraf pusat atau pada anggota badan, urat daging atau pada panca indra.

1. Terminologi Cacat (handicaped)

A. Impairement

Adalah suatu kehilangan atau suatu keadaan abnormalitas dari psikis atau fisik baik struktur maupun fungsinya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah gangguan mata, yaitu buta keseluruhan maupun sebagian, gangguan pendengaran baik yang sukar mendengar maupun tuli, gangguan bicara atau tuna wicara, dan lumpuh atau tuna grahita.

B. Disability

Adalah suatu hambatan atau gangguan dari kemampuan untuk melaksanakan aktivitas yang biasanya dapat dikerjakan oleh orang yang normal sebagai akibat dari impairement.

3
3
3

3

C. Handicaped

Adalah suatu kerugian yang diderita oleh individu akibat impairement dan disability. Kerugian ini dapat timbul dari dirinya sendiri (intrinsic handicaped) dan dapat pula dari lingkungan (extrinsic handicaped).

Jadi Impairement, Disability, Handicaped

Contohnya

: Seorang anak yang menjadi buta karena kekurangan Vitamin A

Impairement

: Buta

Disability

: Kehilangan kemampuan untuk melihat

Handicaped

: Kehilangan kemampuan bekerja yang menggunakan mata

Penyebab dari keadaan cacat dapat berasal dari kelainan bawaan (genetic) sehingga merupakan penyakit keturunan yang diwariskan oleh orang tua dan dapat pula berasal dari perjalanan kehidupannya setelah lahir (acquired) sehingga bukan merupakan warisan baik merupakan penyakit maupun kecelakaan. Menurut WHO penyebab terjadinya kecacatan dapat berasal dari maenutrisi, penyakit yang tidak menular, penyakit menular, kelainan bawaan (fisik, mental, non genetic), rudapaksa, psikiatrik, dan kecanduan obat, alcohol, dan lain sebagainya. Pada sebagian orang yang menderita cacat fisik bawaan akan lebih mudah menghadapi kenyataan hidup ini dibandingkan dengan mereka yang mengalami cacat fisik perolehan. Pada orang yang menderita cacat fisik setelah lahir dapat dengan mudah terkena stress atau bahkan dapat berakibat pada shock berat. Cacat fisik juga mengakibatkan seseorang kurang dapat menyesuaikan diri secara personal maupun sosial dalam pekerjaan, dalam perkawinan dan dalam kehidupan sosial lainnya. Selain itu, penderitaan batin yang sering ditemui pada orang yang menderita cacat fisik, mudah tersinggung dan cepat bersedih hati.

2.3 Cacat Mental

Pengertian umum dari gangguan macam ini adalah deviansi. Deviansi menunjuk pada suatu pola tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma dapat dilihat dari pandangan system sosial. Perkembangan yang terganggu ditandai oleh

4
4
4

4

penyimpangan dari keadaan normal. Gangguan perkembangan ini dapat terjadi secara perlahan-lahan, namun juga dapat terjadi secara mendadak. Termasuk dalam Pengertian deviansi adalah gangguan mental (retardasi) sehingga anak mengalami kesulitan belajar.

Pada anak yang mengalami retardasi mental ini terjadi gangguan terutama meliputi aspek intelektualnya dan juga kekurangan dalam perkembangan kepribadian atau gangguan perilaku lainnya. Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan imflikasi yang cukup besar. Tingkatan retardasi mental, yaitu: Tingkat batas atau borderline, tingkat ringan yang masih mampu di didik, tingkat sedang, tingkat berat, dan tingkat sangat berat. Anak dengan retardasi mental menjadi sumber kecemasan. Sehingga, anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa, karena cara berfikirnya yang terlalu sederhana, daya tangkap dan daya ingatnya rendah, demikian pula dengan Pengertian bahasa dan berhitungnya sangat lemah.

Faktor faktor yang potensial pada reterdasi mental, yaitu :

1. Faktor non organik

a.

Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis

Kebanyakan dari anak yang mengalami retardasi mental adalah berasal dari golongan ekonomi rendah atau miskin serta keluarga yang tidak harmonis. Kemiskinan yang berkaitan dengan pendidikan dan penghasilan yang rendah. Pada keadaan ini kemampuan untuk memenuhi kecukupan gizi ibu hamil sangat kurang, padahal gizi ibu hamil sangat penting bagi perkembangan otak anak yang dikandung.

b.

Faktor Sosiokultural.

c.

Interaksi anak dengan pengasuh yang kurang baik dan penelantaran anak ( Chlid abuse ).

5
5
5

5

2.

Faktor Organik

a. Faktor Prakonsepsi

abnormalitas gen, penyakit metabolic, kelainan kromosom seks.

b. Factor prenatal

Yaitu: gangguan Pertumbuhan otak pada trimester I akibat zat-zat teratogen, idiopatik dan disfungsi plasenta, gangguan otak trimester II dan gangguan otak trimester III.

c. Factor perinatal premature asfiksi, meningitis, dan hiperbilirubin.

d. Factor post natal

Factor post natal yang berupa trauma berat pada kepala, neuro toksin, kecelakaan otak, infeksi otak, dan metabolic. Untuk kepentingan pemberian pertolongan yang baik dan untuk mencegah gangguan sekunder perlu diusahakan untuk mengenal gangguan perkembangan itu seawall mungkin. Pengenalan gangguan seawal mungkin dilakukan dengan buatan yang multidisipliner dari ahli kedokteran, psikologi, sosial dan pendidikan dengan tujuan penganganan yang integral. Sehingga, masyarakatpun harus memberi kemungkinan sehingga anak lemah mental dapat menjadi bagian yang integral dari masyarakat atau menganut prinsip “ ucommunity containment ”.

2.4 Gangguan Psiko Sosial dan Perilaku

1.

Autistik

Autisme digolongkan oleh banyak ahli sebagai psikopat. Psikopat adalah suatu golongan bawaan yang menyebabkan orang tidak dapat mengadakan hubungan afektif yang normal dan selalu merupakan problem bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.

Gangguan perkembangan autisme sudah nampak tanda-tandanya pada masa awal perkembangan. Ciri khas dari autisme adalah bahwa mereka sejak

6
6
6

6

dilahirkan mempunyai kontak sosial yang sangat terbatas. Kotak sosial yang sangat terbatas itu karena adanya kecemasan, perasaan tak terlindung, keraguan, rasa terasing dan ketidak mampuan mengerti masalah sosial.

Dugaan akan penyebab autisme ada bermacam-macam, diantaranya schizoprenia yaitu golongan penyakit mental yang ditandai dengan banyak simptom. Oleh karena itu, terapinya memerlukan banyak ahli yang bekerja secara sistematis.

2. Anak Sukar Didik

Mendidik adalah memberikan bantuan kepada orang lain. Salah satu lembaga pendidikan yang fundamental adalah keluarga dan sekolah. Salah satu factor kesulitan dalam pendidikan adalah karakteristik anak, yaitu anak yang memiliki karakter sukar didik.

Anak yang sukar didik menunjukkan tanda-tanda “acting out” yang berbahaya dan sering kali agresif serta sukar diajak berkomunikasi dialog untuk diminta diminta keterangan mereka. Keadaan sukar didik berkaitan dengan penolakan terhadap norma masyarakat dan penolakan terhadap apa yang dianggap “benar” oleh masyarakat.

3. Anak dengan Gangguan Belajar

Gangguan belajar adalah penyimapangan dalam proses belajar yang berhubungan dengan deskrepansi yang signifikan antara kemampuan yang diperlukan dalam bahasa dan berfikir logika matematika dengan tingkat prestasi yang nyata dalam bahasa dan matematika.

Gangguan bahasa sudah dapat dilihat pada perkembangan awal. Gangguan bahasa ini terwujud dalam ganggua bicara (bisu, gagap). Kemampuan bahasa merupakan indicator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan bahasa sensitive terhadap keterlambatan atau kerusakan pada system lainnya, sebab kemampuan bahasa melibatkan kemampuan kognitif, sensori-motorik, psikologis, emosi, dan lingkungannya.

7
7
7

7

4.

Anak Nakal/delinkuensi

Ciri dari anak nakal adalah tindakannya melawan hukum dan sering cenderung kriminal. Hubungan antara delinkuen dengan remaja putus sekolah mungkin dapat ditelusuri kebenarannya, meskipun begitu anak remaja yang putus sekolah dan berkeliaran belum tentu delinkuen. Anak-anak nakal benar-benar melakukan kejahatan dan pelanggaran yang serius.

Delinkuen ditemukan pada anak remaja yang berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi dan bukan dari kelas sosial sosial ekonomi rendah saja. Anak- anak delikuen mempunyai kepercayaan yang lebih kuat, memberontak dan ambivalen otoritas, mendendam, dan menunjukkan sikap bermusuhan, curiga, destruktif, impulsive, dan menunjukkan kontrol batin yang kurang.

Upaya untuk mengatasi masalah delinkuensi membutuhkan terapi yang menyangkut perilaku. Perlu diterapkan prinsip reinforcement seperti membiarkan atau tidak menghukum kesalahan atau kegagalan, memuji tingkah laku yang positif dan belajar model atau role playing. Untuk delinkuensi ringan hal ini mungkin cukup mujarab, tetapi untuk delinkuensi berat hal ini perlu mendapatkan pembuktian.

5. Alienasi atau Pecandu

Alienasi adalah perasaan menjadi asing terhadap sesuatu. Alienasi merupakan problematik identitas kepribadian anak, sehingga mereka “lari” dari kenyataan hidup yang sebenarnya untuk mendapatkan kenikmatan baru. Oleh karena itu, alineasi juga sering disebut sebagai pecandu. Pada remaja sering kali mereka melepaskan diri dari keluarga, hal ini merupakan penanda awal dari dari kemungkinan terjadinya alienasi.

Merasa asing dapat bersifat parsial atau total. Pada tingkat terakhir alienasi dapat berwujud ekstrim. Refleksi dari alienasi sering berwujud kecanduan akan minuman keras dan terutama obat. Oleh karene itu, ada hubungan yang erat antara alienasi dengan kecanduan’’drug hard’’. Kalau udah demikian maka susah

8
8
8

8

untuk melakukan penanganan. Sehingga, diperlukan pengobatan individual yang dilakukan atau dilaksanakan diklinik-klinik khusus.

6. Rehabilitasi Cacat

Upaya untuk memperbaiki keadaan cacat disebut sebagai rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan secara medis, edukatif, sosial, dan psikologis. Rehabilitasi terhadap penderita cacat membutuhkan kerja yang tekun dari berbagai bidang, seperti ahl kesehatan, ahli kejiwaan, dan ahli pendidikan.

Tujuan dari rehabilitas meliputi upaya perbaikan dan pencegahan sehingga rehabilitasi bersifat promotif, preventif, dan kuratif. Tujuan umum dari upaya rehabilitasi adalah mencegah terjadinya kecacatan dengan memberikan rehabilitasi sedini mungkin, mengurangi terjadinya kecacatan dengan memberikan latihan-latihan serta memberikan alat-alat seperti protesa, alat penyanggah dan lain-lain, serta mengembalikan kemampuan bekerja dari penderita cacat dengan mempersiapkan kemampuan jasmani, rohani dan terutama kemampuan mengurus diri sendiri.

Rehabilitasi terhadap penderita cacat diselenggarakan oleh pemerintah

cacat

melalui

pendidikan

dan

rehabilitasi

medis.

Pendidikan

bagi

anak

diIndonesia dibagi menjadi 5, yaitu:

a. SLB bagian A: untuk anak dengan kelainan penglihatan atau tuna netra.

b. SLB bagian B: untuk anak dengan kalainan pendengaran dan bicara.

c. SLB bagian C: untuk anak dengan keterbelakangan mental atau tuna grahita.

d. SLB bagian D: untuk anak dengan kelainan anggota tubuh atau tuna daksa.

e. SLB bagian E: untuk anak dengan tuna laras atau mempunyai kalainan emosi.

2.5 Anak Berbakat

Peserta didik yang mampu menumbuh kembangkan berbagai potensi kemanusiaannya pada taraf yang tinggi disebut sebagai peserta didik yang berbakat. Keberbakatan merupakan konsep yang berakar biologis, yang menunjuk

9
9
9

9

pada adanya taraf yang tinggi dari inteligensi sebagai hasil integrasi fungsi-fungsi otak.

Keberbakatan intelektual biasanya ditandai dengan skore IQ 13 atau lebih menurut skala WISC. Akan tetapi, anak yang mempunyai IQ diatas rata-rata pun dapat dinyatakan sebagai peserta didik berbakat, jika disertai dengan high task commitment dan high creativity. Oleh karena itu, Pengertian anak berbakat adalah anak yang mencapai kemampuan superior dalam suatu bidang yang dianggap bernilai oleh masyarakat.

2.5.1 Alasan perlunya menumbuhkembangkan keberbakatan peserta didik, yaitu:

a. Tanpa Adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menumbuh kembangkan keberbakatan peserta didik, kekerabatan tersebut tidak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Aktualisasi berbagai potensi kemanusiaan dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan. Stimulasi tidak hanya berpengaruh pada perilaku tetapi juga pada berpengaruh pada taraf sel otak.

b. Peserta didik yang memiliki keberbakatan adalah sumber daya yang sangat penting, yang jika dapat dikembangkan dapat digunakan untuk memecahkan masalah nasional maupun global.

c. Tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan keberbakatan peserta didik terutama pada usia sekolah dasar dan usia sekolah lanjutan, keberbakatan mungkin akan hilang percuma.

d. Tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan keberbakatan peserta didik secara nasional, mungkin keberbakatan peserta didik dari keluarga yang tidak mampu akan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan secara optimal.

10
10
10

10

2.5.2

Ciri-ciri Anak Berbakat

a. Ciri Fisik: sehat dan perkembangan psikomotorik lebih cepat dari rata- rata, terutama dalam kemampuan koordinasi.

b. Ciri Mental Intelektual: usia mental lebih tinggi dari pada rata-rata anak normal. Daya tangkap dan pemahaman lebih cepat dan luas. Dapat berbicara lebih dini. Hasrat ingin tau lebih besar, selalu ingin mencari jawaban. Kreatif, mandiri dalam bekerja dan belajar serta mempunyai cara belajar yang khas.

c. Ciri Mental Emosional: mempunyai kepercayaan diri yang kuat, persisten sampai keinginannya terpenuhi atau gigih. Peka terhadap situasi disekitarnya, senang terhadap hal-hal yang baru dan ciri ini dapat berkembang menjadi negatif bosan dengan hal-hal rutin, egois dan sebagainya.

d. Ciri Sosial: senang bergaul dengan anak yang lebih tua, suka bermain dengan permainan yang mengandung pemecahan masalah, suka bekerja sendiri, sukar bergaul dengan teman sebaya, sukar menyesuaikan diri.

2.5.3 Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh ciri-ciri anak berbakat, yaitu:

a. Kemampuan berfikir kritis dapat mengarah ke sikap skeptis dan sikap kritis terhadap diri sendiri maupun orang lain.

b. Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal baru bisa menyebabkan anak berbakat tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin.

c. Perilaku ulet dan terarah pada tujuan sering tampak pada anak berbakat dapat menjurus pada Keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatannya.

d. Kepekaan anak-anak berbakat bisa membuatnya mudah tersinggung atau peka terhadap kritik orang lain.

11
11
11

11

e. Semangatnya yang tinggi dan kesiagaannya serta inisiatipnya dapat membuat kurang sabar atau kurang toleran jika tidak ada kegiatan atau kurang nampak kemajuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung.

f. Tidak mudah tunduh kepada orang lain, bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya.

2.6 Program Pendidikan untuk Anak Berbakat.

Program pendidikan untuk anak berbakat dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu:

1. Pengayaan atau enrichment

Adalah pembinaan anak berbakat dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat ekstensif dan intensif. Pengayaan diberikan pada anak setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan untuk anak-anak sekelasnya. Pengayaan dapat diberikan seperti tugas perpustakan, independent study, proyek penelitian, study kasus, dan lain sebagainya.

2. Percepatan atau akselerasi

Cara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkan naik kelas secara meloncat atau menyelesaikan program regular dalam jangka waktu yang lebih singkat. Variasi bentuk percepatan ini antara lain:

- Eraly admission atau masuk lebih awal.

-

Advanced

kenaikan kelas.

placement atau

naik

kelas

sebelum

waktunya,

mempercepat

- Advanced courses atau mempercepat pelajaran atau merangkap kelas dam lain-lain.

3. Pengelompkan khusus atau segregation yang dapat dilakukan sepenuhnya atau sebagiannya itu bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan

12
12
12

12

untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan

potensinya. Kegiatan dimaksud dapat berlangsung seminggu sekali atau selama

satu semester penuh. Macam segregation antara lain: homogenous grouping,

cluster grouping, sub grouping dan ceross grouping.

2.7 Moralitas dan Keagamaan dan Tugas Tugas Peserta Didik Abnormal Serta

Impilkasinya dalam Pendidikan

A. Karakteristik Pendidikan

Perkembangan

1. Pengertian Moral

Moralitas

Remaja

Serta

Implikasinya

Dalam

Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Moral dapat juga diartikan sebagai ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik, perlu dilakukan,dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari.

Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (immoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, dalam pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara, teman sebaya, atau guru), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu, seperti:

a. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan

13
13
13

13

b. Larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum-minumanan keras dan berjudi.

Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh masyarakat dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak.

B. Faktor Faktor yang Menghambat Perkembangan Moralitas Peserta Didik

Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral:

a. Hubungan harmonis dalam keluarga, yang merupakan tempat penerapan pertama sebagai individu. Begitupula dengan pendidikan agama yang diajarkan di lingkungan keluarga sangat berperan dalam perkembangan moral remaja.

b. Masyarakat, tingkah laku manusia bisa terkendali oleh kontrol dari yang mempunyai sanksi-sanksi buat pelanggarnya.

c. Lingkungan sosial, lingkungan sosial terutama lingkungan sosial terdekat yang bisa sebagai pendidik dan pembina untuk memberi pengaruh dan membentuk tingkah laku yang sesuai.

d. Perkembangan nalar, makin tinggi penalaran seseorang, maka makin tinggi pula moral seseorang.

e. Peranan media massa dan perkembangan teknologi modern. Hal ini berpengaruh pada moral remaja. Karena seorang remaja sangat cepat untuk terpengaruh terhadap hal-hal yang baru yang belum diketahuinya.

14
14
14

14

C. Impilkasi perkembangan moralitas perserta didik abnormal dalam pendidikan

- Akan timbul sikap moralitas dan etika yang sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain

- Akan menyebabkan peserta didik lebih cendrung untuk introver atau berdiam diri dan mengasingkan terhadap orang lain

- Akan sulit menentukan minat dan bakat

- Proses pembelajaran agak sedikit terhambat karena kurangnya komunikasi dll

- Ketidak aktifan dalam proses belajar mengajar

D. Karakteristik Perkembangan Keagamaan Remaja Serta Implikasinya Dalam Pendidikan.

1.

Pengertian

Agama memang tidak mudah untuk didefinisikan secara tepat, karena agama mengambil bentuk bermacam-macam diantara suku-suku dan bangsa- bangsa di dunia. Secara etimologi, religion (agama) berasal dari bahasa latin religio, yang berarti suatu hubungan antara manusia dan Tuhan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Adams dan Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya, agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini, agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.

Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama remaja sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan

15
15
15

15

dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan kedalam peribadatan kepada-Nya.

Kebutuhan remaja akan Allah kadang-kadang tidak terasa ketika remaja dalam keadaan tenang, aman, dan tentram. Sebaliknya Allah sangat dibutuhkan apabila remaja dalam keadaan gelisah, ketika ada ancaman, takut akan kegelapan, ketika merasa berdosa.

Jadi kesimpulannya, perasaan remaja pada agama adalah ambivalensi. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya pada Tuhan, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh dan menentang (Zakiyah Darajat, 2003:96-96 dan Sururin, 2002:70)

2. Faktor faktor yang mempengaruhi

Tidak sedikit remaja yang bimbang dan ragu dengan agama yang diterimanya, W. Sturbuck meneliti mahasiswa Middle Burg College. Dari 142 remaja yang berusia 11-26 tahun, terdapat 53% yang mengalami keraguan tentang:

a) Ajaran agama yang mereka terima.

b) Cara penerapan ajaran agama.

c) Keadaan lembaga-lembaga keagamaan.

d) Para pemuka agama

Menurut analisis yang dilakukan W.Starbuck, keraguan itu disebabkan oleh faktor:

-

Kepribadian

Tipe kepribadian dan jenis kelamin, bisa menyebabkan remaja melakukan salah tafsir terhadap ajaran agama.

Bagi individu yang memiliki kepribadian yang introvert, ketika mereka mendapatkan kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan, maka akan

16
16
16

16

menyebabkan mereka salah tafsir terhadap sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Tuhan.

Misalnya: Ketika berdoa’a tidak terkabul, maka mereka akan menjadi ragu akan kebenaran sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan tersebut. Kondisi ini akan sangat membekas pada remaja yang introvert walau sebelumnya dia taat beragama.

Untuk jenis kelamin

Wanita yang cepat matang akan lebih menunjukkan keraguan pada ajaran agama dibandingkan pada laki-laki cepat matang.

- Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama

Kesalahan ini dipicu oleh “dalam kenyataannya, terdapat banyak organisasi dan aliran-aliran keagamaan”. Dalam pandangan remaja hal itu mengesankan adanya pertentangan dalam ajaran agama. Selain itu remaja juga melihat kenyataan “Tidak tanduk keagamaan para pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti tuntutan agama”.

- Pernyataan Kebutuhan Agama

Pada dasarnya manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang sudah ada), namun disisi lain, manusia juga memiliki dorongan curiosity (dorongan ingin tahu).

Kedua sifat bawaan ini merupakan kenyataan dari kebutuhan manusia yang normal. Apa yang menyebabkan pernyataan kebutuhan manusia itu berkaitan dengan munculnya keraguan pada ajaran agama?

Dengan dorongan Curiosity, maka remaja akan terdorong untuk mempelajari/mengkaji ajaran agamanya. Jika dalam pengkajian itu terdapat perbedaan-perbedaan atau terdapat ketidaksejalanan dengan apa yang telah dimilikinya (konservatif) maka akan menimbulkan keraguan.

17
17
17

17

- Kebiasaan

Remaja yang sudah terbiasa dengan suatu tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu untuk menerima kebenaran ajaran lain yang baru diterimanya/dilihatnya.

- Pendidikan

Kondisi ini terjadi pada remaja yang terpelajar. Remaja yang terpelajar akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya. Terutama yang banyak mengandung ajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi jika mereka memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agama yang dianutnya secara lebih rasional.

- Percampuran Antara Agama dengan Mistik

Dalam kenyataan yang ada ditengah-tengah masyarakat, kadang-kadang tanpa disadari ada tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopangi oleh mistik dan praktek kebatinan. Penyatuan unsur ini menyebabkan remaja menjadi ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik.

Penyebab keraguan remaja dalam bidang agama yang dikemukakan oleh Starbuck diatas, adalah penyebab keraguan yang bersifat umum bukan yang bersifat individual. Keraguan remaja pada agama bisa juga terjadi secara individual. Keraguan yang bersifat individual ini disebabkan oleh:

a. Kepercayaan

Yaitu: Keraguan yang menyangkut masalah ke-Tuhanan dan implikasinya. Keraguan seperti ini berpeluang pada remaja agama Kristen,,yaitu: tentang ke- Tuhanan yang Trinitas.

b. Tempat Suci

Yaitu: keraguan yang menyangkut masalah pemuliaan dan pengaguman tempat-tempat suci.

18
18
18

18

c. Alat Perlengkapan Agama

Misalnya: Fungsi salib pada ajaran agama Kristen

d. Fungsi dan Tugas dalam Lembaga Keagamaan

Misalnya: Fungsi pendeta sebagai penghapus dosa

e.

Pemuka agama, biarawan dan biarawati

f.

Perbedaan aliran dalam keagamaan

Jadi,

Tingkat keyakinan dan ketaatan remaja pada agama sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang terjadi dalam dirinya.

Dalam upaya mengatasi konflik batin, para remaja cenderung untuk bergabung dalam peer groups-nya dalam rangka berbagi rasa dan pengalaman. Kondisi inipun akan mempengaruhi keyakinan dan ketaatan remaja pada agama (Jalaluddin, 2002:78-81)

Faktor lain yang mempengaruhi adalah, adanya motivasi dari dalam diri remaja itu sendiri. Menurut Yahya Jaya, motivasi beragama adalah usaha yang ada dalam diri manusia yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tindak keagamaan dengan tujuan tertentu atau usaha yang menyebabkan seseorang beragama.

Menurut Nico

Syukur,

manusia

termotivasi

untuk

beragama

melakukan tindak keagamaan dalam 4 hal:

atau

1. Didorong oleh keinginan untuk mengatasi frustasi dalam kehidupan, baik:

a. Frustasi karena kesukaran alam;

b. Frustasi karena sosial;

c. Frustasi karena moral;

19
19
19

19

2.

d. Frustasi karena kematian.

Didorong

masyarakat

oleh

keinginan

untuk

menjaga

kesusilaan

dan

tata

tertib

3. Didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu atau intelek ingin tahu manusia.

 

4. Didorong

oleh

keinginan

menjadikan

agama

sebagai

sarana

untuk

mengatasi ketakutan.

 

3.

Implikasi

Perkembangan

Keagamaan

Peserta

Didik

Abnormal

Dalam

Pendidikan

- Peserta didik akan kehilangan nilai nilai religius dalam penerapannya dalam dunia akademisi

- Peserta didik akan mudah melakukan hal hal buruk di dalam dunia akademisi

- Peserta didik akan berpotensi mengakibatkan terkontaminasi dengan aliran radikal serta menebarkannya dalam dunia akademisi

- Peserta didik akan mudah menghakimi iman/kepercayaan seseorang

20
20
20

20

BAB III

PENUTUP

A.

Kesimpulan Perkembangan Abnormal adalah perkembangan yang menyimpang dari perkembangan yang normal. Dalam perkembangan abnormal terdapat gangguan fungsi fisik dan psikomotor, yaitu berupa Impairement, Disability, dan Handicaped. Selain gangguan fungsi fisik dan psikomotor, perkembangan abnormal juga terdapat gangguan perkembangan berupa cacat mental. Terjadinya cacat mental disebabkan oleh dua factor, yaitu factor organic dan factor non organic. Factor organic berupa factor prakonsepsi, factor prenatal, factor prenatal premature asfiksi, dan factor post natal. Sedangkan factor non organic berupa kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis, factor sosiokultural, interaksi anak dengan pengasuh kurang baik, dan lain sebagainya. Selain gangguan fungsi fisik dan psikomotor serta cacat mental, gangguan yang lain yang ditimbulkan akibat perkembangan abnormal, yaitu gangguan psiko sosial dan perilaku. Dalam gangguan ini dapat menimbulkan Autistik, anak sukar didik, anak dengan gangguan belajar, anak nakal/delinkuensi, alienasi atau pecandu, dan rehabilitasi cacat. Selain itu, anak yang abnormal juga dapat menyebabkan anak yang berbakat. Serta dalam perkembangan anak abnormal yang berbakat juga terdapat program pendidikan untuk anak berbakat.

B.

Saran

1.

Agar mahasiswa dapat memahami tentang perkembangan abnormal

2.

Mahasiswa dan guru dapat memberikan perhatian khusus pada anak yang abnormal

3.

Mahasiswa dan guru dapat menerapkan ilmunya ketika terjun langsung berhubungan dengan anak/peserta didik yang abnormal

21
21
21

21

DAFTAR PUSTAKA

Mudyahardjo, Redja. 1995. Pengantar Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Wahyudin, Dinn. dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Tirtarahardja, Umar. 2012. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Umar Tirtarahardja dan La Sula. 2012. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. • Wens Tanlain dkk. 1996. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Redja Mudyahardjo. 2001. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada.

Santrock, Jhon W. 2003. Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga. Supratiknya.A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.

22
22
22

22