Anda di halaman 1dari 46

Studi Kritis Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Tujuan Pembelajaran Khusus :

 Peserta memahami konsep pengaturan Negara Indonesia


 Peserta memiliki kedalaman problematika (latar belakang, perkembangan, unsur-unsur
yang mempengaruhi, kekuatan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi)

Pokok bahasan

 Teori – teori ketatanegaraan


 Realitas yang terjadi di Indonesia
 Problem dalam bidang ketatanegaraan
 Solusi
SISTEM KETATANEGARAAN PASCA REFORMASI
Oleh : Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.

A. SUMBER HUKUM TERTINGGI

1. Pancasila dan UUD 1945 merupakan Dokumen Pemersatu. Sebagai warga masyarakat kita
berbeda-beda, tetapi sebagai warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dalam hukum dan pemerintahan.
2. UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi yang harus tercermin dalam segala
peraturan perundang-undangan dan kebijakan-kebijakan kenegaraan, dan harus ditegakkan
sebagaimana mestinya dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan negara.
3. Sekilas Sejarah Konstitusi Indonesia
a. UUD 1945
b. Konstitusi RIS 1949
c. UUDS NKRI 1950
d. UUD 1945 Dekrit 5 Juli 1959, Orde Lama (Demokrasi Terpimpin) = Rule of Man
e. Orde Baru (Demokrasi Pancasila) = Rule of Man
4. Perubahan UUD 1945
a. Perubahan substanial dan penyempurnaan 300%
b. Dari Supremasi Institusi ke Supremasi Konstitusi, Rule of the Law & Constitution
c. Dari Sistem Pembagian Kekuasaan ke Checks and Balances
d. Penguatan Sistem Presidentil
e. Desentralisasi, Otonomi Daerah, dan Kebhinekaan
f. Penguatan Peradilan dan Pelembagaan Peradilan Konstitusi

B. PEMBUATAN DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN

1. Pembuatan Kebijakan (Policy Making)


2. Pelaksanaan Kebijakan (Policy Executing)
3. Peradilan atas Pembuatan Kebijakan (Judicial Review)
a. Peradilan atas Konstitutionalitas UU di MK
b. Peradilan atas Legalitas Peraturan di bawah UU di MA.
4. Peradilan atas Pelaksanaan Kebijakan (Peradilan):
a. Peradilan Umum:
- Peradilan Pidana
- Peradilan Perdata
b. Peradilan Agama
c. Peradilan Tata Usaha Negara
d. Peradilan Militer

C. BENTUK NORMA HUKUM PENUANGAN KEBIJAKAN

1. Pengaturan (regelingen, regulations)


a. UUD 1945
b. UU/PERPU/TAP-MPR/S
 UU disusun dan ditetapkan oleh DPR dg persetujuan bersama Presiden (dapat
menjadi objek judicial review oleh MK atau legislative review oleh DPR)
 Perpu disusun dan ditetapkan oleh Presiden dengan meminta persetujuan DPR
belakang, yaitu pada masa persidangan berikutnya (hanya dapat menjadi objek
legislative review, dan tidak dapat dijadikan objek judicial review).
 TAP-MPR/S tersisa dan masih berlaku setara dengan UU sehingga dapat diubah
dengan UU melalui legislative review, sedangkan melalui judicial review masih
dapat diperdebatkan).
c. Peraturan Pelaksana UU yang bersifat structural-hirarkis yang keberadaannya
didasarkan atas prinsip delegasi atau sub-delegasi (legislative delegation of rule-
making power), seperti:
 PP
 Perpres
 Perda Provinsi
 Perda Kabupaten/Kota
d. Peraturan Pelaksana UU yang bersifat fungsional-nonhrarkis yang keberadaannya
didasarkan atas prinsip delegasi atau sub-delegasi (legislative delegation of rule-
making power), seperti:
 PERMA
 PMK
 Peraturan KPU
 PBI
 Peraturan KPU
 Perdasus dan Qanun
 Peraturan Menteri tertentu
 Peraturan Direktur Jenderal tertentu.
2. Penetapan (beschikkings, administrative decisions)
a. Keputusan Presiden
b. Keputusan Menteri
c. Keputusan Direktur Jenderal
d. Keputusan Kepala LPND
e. Dan lain sebagainya.
3. Putusan Pengadilan (vonnis)
a. Putusan Pra-Peradilan
b. Putusan Pengadilan Tingkat Satu
c. Putusan Pengadilan Tingkat Dua
d. Putusan Pengadilan Tingkat Tiga
e. Putusan Peninjauan Kembali (PK).
4. Aturan Kebijakan (Beleidsregels, Policy Rules)
a. Instruksi Presiden (Inpres)
b. Petunjuk Pelaksanaan (Juklak)
c. Petunjuk Teknis (Juknis)
d. Buku Pedoman
e. Manual
f. Kerangka Acuan
g. Dan lain sebagainya.
5. Rule of Ethics:
a. Code of Ethics dan Code of Conduct
b. Institusi Penegak Kode Etik & Perilaku, seperti:
- Komisi Yudisial, Komisi Kepolisian, dan Komisi Kejaksaan,
- Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum,
- Badan Kehormatan DPR, dan Badan Kehormatan DPD,
- Majelis Kehormatan Mahkamah Agung,
- Majelis Kehormatan Peradi, dsb.
D. KELEMBAGAAN DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA

1. Bagan Organisasi Utama (lihat buku Risalah MPR-MK)


2. Cabang Kekuasaan Eksekutif
a. Presiden dan Wakil Presiden (satu kesatuan institusi, single executive)
b. Wakil Presiden (i) membantu, (ii) mendampingi, (iii) mewakili untuk sementara, (iv)
mewakili secara tetap, dan (v) kegiatan mandiri.
c. Menteri Kabinet
 prinsip pembagian pekerjaan secara habis
 Puncak kepemimpinan adminisi pemerintsahan di bawah Presiden dan Wapres.
d. Semua lembaga independen dan cabang-cabang kekuasaan yang bersifat campuran
serta lembaga-lembaga pemerintahan non-departemen harus dikoordinasikan oleh
menteri yang berfungsi sebagai tameng dan payung politik dalam berhubungan dengan
Presiden, DPR/DPD, dan lembaga peradilan.
3. Cabang Kekuasaan Legislatif (Legislature)
a. Dari supremasi institusi (MPR) ke supremasi konstitusi.
b. Pergeseran kekuasaan legislative dari Presiden ke DPR
c. Problem perpu sebagai kewenangan legislasi oleh Presiden
d. Konsep legislasi dalam arti luas: trikameralisme, satu institusi dengan tiga forum
(kamar):
 MPR (lembaga membuat undang-undang dasar)
 DPR (lembaga penyalur aspirasi rakyat dalam rangka penyusunan kebijakan dan
program serta pengawasan pelaksanaannya)
 DPD (mitra DPR dalam rangka penyaluran aspirasi konstituen dan pengawasan
terhadap jalannya pemerintahan)
e. Problem penggabungan pimpinan dan secretariat bersama
f. DPRD sebagai lembaga legislative atau bukan.
 Pimpinan dan anggota DPRD pejabat Negara atau bukan
4. Cabang Kekuasaan Kehakiman (Judiciary)
a. Hakikat pengadilan sebagai cabang kekuasaan yang tersendiri dalam rangka tegaknya
rule of law sebagai pengimbang demokrasi yang engagungkan kebebasan untuk
kesejahteraan.
b. MK (the guardian of the constitution)
c. MA (the guardian of the state’s law)
d. BPK (state’s auditor) (bercorak semi-judikatif dalam menunjang fungsi legislative)
5. Lembaga-Lembaga Independen
a. KY
b. KPU
c. Tentara Nasional Indonesia
d. Kepolisian
e. Kejaksaan
f. Bank Sentral
g. KPK
h. Komisi-Komisi yang diatur UU (Komnasham, Komisi Ombudsman, Komisi Penyiaran
Indonesa, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Lembaga Perlindungan Saksi dan
Korban, dan lain-lain sebagainya). Sekarang berjumlah tidak kurang dari 50 buah. Usul
kepada anggota DPR untuk menghentikan kreatifitas membuat lembaga2 baru.
6. Hubungan antara Eksekutif dan Legislatif
a. Penyusunan kebijakan dalam bentuk undang-undang
b. Penyusunan anggaran
c. Pengawasan/kontrol politik atas pelaksanaan kebijakan:
 Dalam bentuk peraturan-peraturan pelaksanaan (executive acts).
 Dalam bentuk tindakan-tindakan pelaksanaan (executive actions).
d. Pengawasan/kontrol politik atas pelaksanaan anggaran.
7. MK dan Hubungan antara Lembaga
a. Pengawal konstitusi
b. Pengawal demokrasi
c. ‘arbitrase’ konstitusional
d. Pelindung hak konstitusional warga Negara
e. Penafsir akhir atas UUD (Final interpreter of the constitution)
8. Independensi Peradilan dan Penegakan Hukum
a. Kekuasaan kehakinan: independensi structural dan fungsional
b. Pejabat dan lembaga penegak hukum:
 Hakim (pengadilan)
 Penuntut (kejaksaan dan KPK)
 Penyidik (Polisi dan PPNS)
 Pembela (Advokat)
 Lembaga Pemasyarakatan (LP)

E. TATA-KELOLA YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE)

1. Indonesia sebagai Negara Pengurus (Welfare State)


2. Sepuluh Prinsip Good Governance
a. Tegaknya rule of law
b. Efisiensi dan Efektifitas
c. Terbukanya Partisipasi Masyarakat
d. Transparansi
e. Akuntabilitas
f. Responsive
g. Kesetaraan (Equality)
h. Beorientasi ke depan
i. Berjalannya fungsi pengawasan
j. Profesionalisme
k. Efisiensi dan Effektifitas.
3. Tertib administrasi keuangan sebagai pangkal tolak
4. Penerapan Teknilogi Informasi secara bersengaja
5. Efisiensi dan pemangkasan jadwal pelayanan

F. REKOMENDASI

1. Perlunya bagi setiap pejabat public selalu menjadikan UUD 1945 sebagai pegangan dalam
pelaksanaan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Bila perlu UUD 1945 selalu ada di
saku atau di tas kerja masing-masing.
2. UUD 1945 pasca Perubahan ke-IV, masih banyak kekurangan dan kelemahan, tetapi
sebelum ketentuan dimaksud disempurnakan, apa yang ada sekarang tulah yang berlaku
dan diberlakukan dalam praktik.
3. UU yang terkait kepentingan politik praktis parpol diprioritaskan:
a. UU Susduk MPR, DPR, DPD, dan DPRD
b. UU Pemilu, UU Pilpres dan UU Pemda yang memuat ketentuan pemilukada supaya
diintegrasikan dan dilengkapi dalam satu UU, misalnya, menjadi UU tentang Pemilihan
Pejabat Publik.
4. Sesuai dengan tuntutan zaman, semua Lembaga Negara perlu mengadakan evaluasi untuk
memperbaiki governance masing-masing dengan pelayanan yang semakin efektif dan
efisien dan dengan memanfaatkan jasa teknologi modern.
Kuliah Persiapan DM3
Studi Kritis Sistem Ketatanegaraan RI
Oleh : Sony Lokus PSKH

Assalamualaikum

Selamat malam kawan2 calon/ peserta DM3, semoga dalam keadaan sehat walafiat,
diberikan semangat untuk terus menimba ilmu, dimanapun, dengan siapapun, dan sampai
kapanpun. Pertama-tama saya sampaikan rasa terimakasih kepada Ketua KAMMI Pontianak
yang memberikan kesempatan kepada saya, terutama pada PSKH Kammi, semoga niat baik
beliau bias memberikan kontribusi terhadap perkembangan kawan-kawan Kammi Pontianak
khususnya dan perkembangan Indonesia pada umumnya.

Perkenalkan nama saya Sony Gusti Anasta, saya sebagai pegiat dari Lokus PSKH
(Pusat Studi Hukum dan Kebijakan KAMMI) seorang alumni dari FH UNJA, yang punya cita-
cita membuat startup berbasis hukum, dan jaringan kemasyarakatan. Saat ini berdomisili di
Jakarta, akan rencananya akan melanjutkan S2 di UI pada awal tahun depan, sebelum ini
bantu2 advokasi di LSM Jakarta dan kasus structural individu.

Dengan sadar saya sampaikan, bahwa tujuan saya disini adalah untuk sharing ilmu dan
pengetahuan, terutama di bidang hukum yang sampai saat ini dan inshaAllah kedepannya akan
terus saya geluti. Sebagaimana bunyi pepatah taka da gading yang tak retak, atau sepandai-
pandainya tupai melompat, suatu waktu pasti akan jatuh juga, maka saya sampaikan saya penuh
kekurangan, saya sadar bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, dan saya yakin
kawan2 peserta DM3 merupakan orang-orang berkualitas yang kedepan akan menjadi pewaris
kepemimpinan dan pelaku peradaban di masa yang akan datang. Baik tanpa memperpanjang
waktu saya mulai.

Saya diminta untuk membahas isu Hukum Tata Negara. Sebagai kajian singkat untuk
menambah pemahaman kita semua dan merangsang beberapa teman yang akan melaksanakan
DM3. HTN adalah sebuah cabang dalam ilmu hukum yang mempelajari Negara dalam keadaan
diam, maksudnya adalah HTN mengkaji Negara berkaitan dengan bentuk dan system sebuah
negara, dalam bahasa inggris, HTN mendapatkan padanan kata Constitutional Law atau yang
dalam bahasa indonesia artinya hukum konstitusi. Hal itu relecan dan dapat diterima karena
memang konstitusi merupakan sumber hukum yang paling atas dalam sebuah negara yang
mengatur system, bentuk, dan hubungan antara lembaga negara, negara dengan warga negara
HAM dan sesama warga negara, pemilu, jenis dan mcam kekuasaan dalam pembagian urusan
pemerintahan dll.

Karena kajian dalam HTN sangat banyak dan tidak mungkin dijelaskan dalam waktu
dan ruang yang sangat terbatas pada kali ini, maka saya mencoba akan membahasnya
berdasarkan isu terapan yang hangat diperbincangkan baik di kalangan pengambil kebijakan,
awam maupun ahli hukum itu sendiri, saya berusaha untuk mengakajinya berbasis teori dan
aturan hukum yang tercakup dalam kajian HTN, sehingga memudahkan teman-teman untuk
mengerti pola, alasan, dan alur pemikirannya, sehingga teman-teman dapat menggunakannya
untuk menganalisis masalah lain yang serupa. Saya akan mencoba mengkaji beberapa hal
yakni:

1. PERPPU ORMAS.
2. HAK ANGKET DPR TERHADAP KPK
3. KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK.

a.d.1. PERPPU Ormas

Pembahasan PERPPU Ormas saya ambil, karena terkait dengan Negara Hukum, HAM,
Pembagian Kekuasaan sebagaimana sedikit banyakya merupakan bahasan dari HTN. Perppu
nomor 2 tahun 2017 menggantikan UU Kemasyarakatan yang ada sebelumnya, Perppu secara
ketatanegaraan merupakan salah satu sumber hukum tata hukum dalam penyelenggaran
pemerintahan di Indonesia. Kalau teman-teman buka UU 12 tahun 2011 tentang Peraturan
Pembentukan Perundang-Undangan, disana dikatakan bahwa ada beberapa sumber hukum dan
atta urutannya.

1. UUD 1945 dibuat oleh MPR


2. TAP MPR dibuat oleh MPR
3. UU/PERPPU dibuat oleh DPR bersama pemerintah
4. Peraturan Pemerintah dibuat oleh pemerintah
5. Perpres dibuat oleh Presiden
6. Perda Provinisi dibuat oleh DPRD dan kepala Daerah
7. Perda Kabupaten atau Kota dibuat oleh DPRD dan Kepala Daerah

Selain beberapa aturan dibawah ini, terdapat juga beberapa aturan lain yang juga
berlaku secara umum namun bersifat agak khusus karena bersifat megatur ke dalam atau hal
tertentu saja, dan merupakan perpanjangan tangan dari aturan di atas. Contohnya adalah seperti
Perka LKPP, Peraturan Menteri, Peraturan KPK, Perkapolri, Peraturan MA, Peraturan Ketua
KY, Peraturan BNN, Peraturan Gubernur, Walikota, dan masih banyak yang lainnya.

Dalam tata urutannya terdapat sebuah teori bernama Stufenbau Theory yang dicetuskan
oleh Hans Kelsen, dia berkata bahwa peraturan yang berada di paling atas merupakan sumber
dan inspirasi dari peraturan yang ada dibawahnya, dan peraturan yang berada di bawah tidak
boleh bertentangan dengan peraturan yang ada di atasnya. Teori ini juga merupakan
pembenaran dari asa hukum Belanda yang berbunyi Lex Superior Derogat Lex Imperior yang
berarti aturan hukum yang berada di atas mengenyampingkan aturan yang berada di bawahnya
jika mengatur hal yang sama.

Nah terkait dengan PERPPU Ormas ini, harus diketahui ada beberapa hal krusisal yang
harus diperhatikan, yang pertama soal formil pembentukan PERPPU dan yang kedua soal
pemberlakuan asas contrarius actus.

Soal formil pembentukan PERPPU, UUD telah menyaratkan bahwa PERPPU dibuat
dalam keadaan genting dan memaksa. Karena aturan ini belum jelas, maka MK dalam
putusannya menafsirkan bahwa yang dimaksud kegentingan yang memaksa adalah 1.) sebuah
perbuatan tidak ada dasar hukumnya, 2.) sebuah perbuatan ada dasar hukumnya, namun tidak
lengkap atau memadai dalam meyentuh sebuah perbuatan. 3.) hal itu harus dilakukan sesegera
mungkin, mengingat estimasi waktu untuk membuat sebuah aturan lewat uu memakan waktu
yang lama.

Dalam pemberlakuannya terkait PERPPU Ormas banyak pendapat yang berseliweran,


beberapa yang mayoritas mengatakan banyak ideologi yang merongrong ideologi pancasila
dan harus segera dibuat aturan untuk menghukumnya, mereka berangapan keadaan genting dan
memaksa tidak berarti ketika negara berada dalam keadaan konflik sectarian atau ideologis
yang memakan korban terlebih dahulu. Keadaan genting dan memaksa mereka tafsirkan ketika
terdapat ancaman yang berpotensi menjadi konflik di masa yang akan dating.

Yang selanjutnya adalah soal asas contratius actus. Asas contrarius actus maksudnya
adalah pemerintah sebagai entitas yang memberikan izin terhadap sebuah subjek hukum
termasuk organisasi masyarakat juga berhak untuk mencabut izin tersebut secara lagsung tanpa
harus melibatkan pengadilan, jika dalam bentuk pelaksanaan izin tersebut, terdapat
pelanggaran yang dilakukan oleh pemegang izin. Ada beberapa hal yang penting untuk dilihat
disini.
1.) Dalam teori pembagian kekuasaan Trias Politica, Montesqie dan Jhon Locke
mengatakan bahwa dalam hal pembagian urusan kekuasaan, maka penyelenggaraan negara
dilakukan oleh 3 entitas kekuasaan, yang pertama adalah legislative (DPR, DPRD, MPR, DPD)
sebagai pembuat aturan atau uu, yang kedua adalah eksekutif (Presiden dan menteri, Gubernur,
Walikota dll) sebagai pihak yang menjalankan aturan atau uu yang telah dibuat oleh legislative,
dan yudikatif (MA, MK, KY) sebagai pihak yang menguji dan megawasi apakah perbuatan
eksekutif, legislative, dan warga negara telah sesuai dengan uu yang ada.

Aturan asas contratius actus menurut beberapa orang disebut sebagai bentuk
penyahgunaan kewenangan oleh pemerintah (presiden) karena telah melampui tugas dari
eksekutif itu sendiri, pemerintah dengan PERPPU ormas kini dapat memberikan tafsiran
apakah sebuah organisasi ini bertentangan dengan pancasila atau tidak yang secara teoretik
milik kekuasaan yudikatif (MA dan MK)

Dalam hal ini pemerintah telah melampaui batas, menurut pendapat saya

2.) Kemudian asas contrarius actus sebenarnya hanya digunakan untuk perbuatan
yang sebelumnya membuthkan izin. Izin kalau teman-teman cari definisinya, bak secara literal
maupun yuridis berarti “sebuah pengecualian dari sebuah perbuatan yang dilarang” jadi izin
merupakan sebuah instrument yang dikeluarkan pemerintah untuk subjek hukum termasuk
warga negara untuk dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya dilarang. Hakikatnya, izin
menghapuskan perbuatan melawan hukum.

Saya kasih ilustrasi. Si A memiliki sebuah motor, dan B tidak. Bagi A, memakai motor
adalah hal yang diperbolehkan, karena itu miliknya, itu haknya. Bagi si B memakai motor A
adalah perbuatan yang dilarang, karena itu bukan hak miliknya. Namun apakah si B bisa
memakai motor A? jawabannya adalah bisa, asalkan si B mendapat izin dari si A. izin dari si
A kepada si B menghapuskan perbuatan melawan hukum si B.

Atau contoh yang lain, misalnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Dalam UUD,
pegelolaan sumber daya alam merupakan hak pemerintah, warga negara termasuk perusahaan
(swasta) tidak dapat melakukan eksplorasi sumber daya alam seperti menambang dll. namun
apabila perusahaan ingin melakukan eksplorasi pertambangan sumber daya alam, itu dapat
dilakukan jika perusahaan mendapat izin dari pemerintah. Izin tersebut yang kemudian
menghapuskan perbuatan melawan hukum dari perusahaan.
Sama dengan hak berkumpul dan berserikat yang menjadi domain dalam pembahasan
perppu ormas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah berkumpul dan berserikat merupakan
perbuatan yang dilarang, sehingga dalam pelaksanaanya memerlukan izin dari pemerintah?
Dalam konsep HAM yang saya pelajari dari teori hukum alam yang berbasis kepada penalaran
liberal, hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada setiap manusia sampai kapanpun dan
dalam keadaan apapun. Tugas dari pemerintah Indonesia kalau teman-teman buka di UUD
adalah untuk menghormati, memenuhi, melindungi, hak tersebut. Jadi negara tidak
memberikan hak asasi manusia, hak asasi manusia ada dengan sendirinya sejak seorang
manusia itu lahir kedunia, negara tidak boleh mencabut, melainkan diwajibkan untuk
mengjormati, melindungi dan memenuhi.

Dalam konteks demikian, oleh sebab itu perbuatan yang sifatnya adalah pelaksanaan
hak asasi manusia tidak memerlukan izin, seperti hak untuk hidup, hak untuk berkeluarga,
termasuk hak untuk berkumpul dan berserikat. Dan oleh karenanya asas contrarius actus tidak
dapat diterapkan pada ormas. Ya jika pakai logika demikian, terkait hak untuk hidup misalnya,
apakah setiap orang yang hidup harus mita izin dulu, kemudian kalau dalam hidupnya dia
melanggar, berarti negara boleh mencabutnya? Atau dalam konteks perkawinan, apakah ketika
melangsungkan perkawinan seorang harus meminta izin dulu kepada negara? Ataukah ketika
sudah perkawinan pemerintah dapat mencabutnya izinnya tersebut?

Kemudian soal asas contrarius actus yang dianut dalam PERPPU ormas ini kemudian
menghilangkan kewajiban pemerintah utuk megajukan permohonan pembubaran ormas
kepada pengadilan. Hal ini sangat disayangkan karena meunjukkan penyelewana negaea
terjadap prinsip negara hukum. Soal negara hukum ada banyak definisinya, yang paling
popular ada 2 pendapat, dari AV Dicey, dan Julius Stahl. Julius Stahl menyebutnya Rechstaat,
menurut dia ada ciri2 Rechstaat, yakni :

1. Perlindungan hak asasi manusia.


2. Pembagian kekuasaan.
3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang.
4. Peradilan tata usaha Negara

Sedangkan menurut AV Dicey, negara hukum disebutnya dengan Rule Of Law, yang
mempunyai ciri adalah sebagai berikut:

1. Supremasi atas hukum


2. Persama Kedudukan di Depan Hukum.
3. Due Process of Law, atau proses hukum yang adil.

Asas contrarius actus dalam perppu ormas secara jelas bertentangan degan konsep
negara hukum dari kedua sarjana hukum di atas.

a.d.2 Hak Angket Terhadap KPK

Kaitan hak angket terhadap KPK dengan diskusi kita kali ini adalah, saya ingin
menjelaskan bagaimana soal perkembangan teori kelembagaan negara, dan oligarki politik.

Yang pertama teman-teman saya di kampus dulu begitu gencarya medukung agket
terhadap KPK, saya tidak tahu pasti, namun kebanyakan dikarenakan keberpihakannya
terhadap Fahri Hamzah. Beberapa pakar hukum seperti romli atmasasmita dan yuzril ihza
mahendra pernah didatangkan tim angket dan megatakan bahwa KPK dapat diangket. Soal
pegertian hak agket, merupaka salah satu hak yang dimiliki lembaga legslatif selain hak Tanya
dan Interplasi, teman2 boleh cari pengertian dan pengaturan formalnya di UU MD3. Namun
singkatnya, hak angket adalah hak yang dimiliki oleh DPR untuk mengawasi, dan meyelidiki
pelaksanaan uu oleh pemerintah (dalam arti luas), yang artinya menyelidiki semua kebijakan
atau masalah yang timbul pada lembaga eksekutif, tidak terkecuali KPK.

Ada dua pendapat soal ini, yang pertama KPK dapat dilakukan angket karena ia
lembaga yang bekerja atas dasar uu. Hak angket secara hakikat dibuat untuk menyelidiki
dugaan kesalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan uu tersebut. Yang kedua, ada yang
mengatakan bahwa KPK tidak bias diangket karena KPK merupakan bukan bagian dari
eksekutif, beberapa ahli menyebutnya sebagai lembaga independen yang tidak termasuk dalam
3 ruas pembagian urusan pemerintahan seperti yang diteorikan dalam Trias Politica, atau KPK
sebagai lembaya yudikatif.

Tentu saja setiap argument memiliki dasar hukum dan dasar teori masing-masing,
namun saya lebih cenderung kepada pendapat yang tengah, yaitu yang menggap KPK sebagai
lembaga negara independent yang keberadaanya diluar eksekutif, legislative, dan yudikatif.
Ada beberapa alasan bagi saya, hang pertama secara political will, saya yakin dan percaya
angket dibuat sebagai balasan dari dewan terhadap upaya KPK dalam menggasak puluhan
anggota DPR yang disebut Miryam dalam keterangannya, dan Johanes Marliem dalam
pengakuannya kepada KPK dan Tempo Group. Teori kasusnya saya meganggap sebagai upaya
pelemahan KPK, bak secara kebijakan maupun secara mengguras dan melemahkan upaya
admiistratif penegakan hukum terhadap kasus KTP elektronik.
Yang kedua adalah pasca reformasi, bermunculan banyak lembaga independent, seperti
komnas ham, komisi yudisial, LPSK, Ombudsman, Komisi Perempuan, KPK, BPK, KPU dan
Bawaslu. Hal ini seperti menegaskan bahwa teori trias politica yang disebut beratus tahun silam
sudah mulai kuno, dan masyarakat modern demokratis mulai mencari konsep baru untuk
menghadapi tantangan. Seamon seperti yang beberapa kali dikutip Jimly Asidiqie
menyebutnya sebagai lembaga quasi yudikatif.

Komisi lembaga independent pertama kali dicetus oleh Bruce Akerman, seoang sarjana
dari amerika, menurutnya ada beberapa ciri lembaga independent yang membedaka lembaga
ini dengan lembaga negara dari 4 cabang kekuasaan lainnya, yakni 1) independesinya
dijelaskan dalam aturan pembentukanya, 2.) karena independent, dia tidak bias masuk di salah
satu kategori dari 3 cabang kekuasaan trias politica, 3.) pemimpinnya tak tuggal, tapi kolegial
(KPK banyak pimpinan) dan proses pemilihan dan pemberhntia pimpinanya melibatkan tak
hanya satu cabang kekuasaan 4.) keberadaanya ad hoc, dan beberapa ada juga diatur dalam
kostitusi. 5.) kewenangannya mugkin beririsan dengan cabang kekuasaan negara lain, namun
dia bukan merupakan bagian dari cabang keuasaan itu.

Kemudian soal oligarki politik, bahwa oligarki merupakan bentuk pemerosotan dari
aristokrasi dalam teori Polibius. Yang artinya sebagian orang memerintah dan membuat
kebijakan hanya untuk sebagian sebagian orang. Dalam hal ini oligarki kerap melakukan
upaya-uoaya untuk memenangkan perjuaangan diriya dan kelompoknya dengan
menyalahgunakan kedudukannya, mereka berkelompok dan saling membantu utuk tujuan
pribadiya, selebihnya mungkin teman dapat mencari sendiri, namun jika boleh memberi saran,
James Winter, researcher dari amerika punya judul bagus soal oligarki. ia meneliti pola oligarki
politik bisnis Soeharto di masa orde baru.

a.d.3 kenaikan tarif dasar listrik

Soal kenaikan tariff dasar listrik, saya hanya ingi berbagi soal bagaimana peguasaan
negara terhadap sumber daya alam di Indonesia dan soal kedaulatan rakyat sebagai pemegang
tampuk kekuasaan tertinggi dalam urusan pemerintahan. Saya akan mencoba memerbikan
potongan tulisan saya beberapa bulan yang lalu yang terbit di salah satu media cetak. Berikut.

Kewarganegaraan VS Konsumeritas

Yang pertama Permen Tentang Tarif Tenaga Listrik vis a vis dengan Undang-Undang
Nomor Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan menggeser makna warga negara
menjadi konsumen. Dalam rezim warga negara, sumber daya alam merupakan kepunyaan
rakyat, pemerintah sebagai organisasi sah yang menyelenggarakan kepentingan negara hanya
memiliki tugas untuk mengelola agar sumber daya tersebut dapat dimaanfaatkan untuk
kepentingan rakyat itu sendiri. Oleh sebab itu, pemenuhan hak akses terhadap listrik murah dan
terjangkau dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup warga negara merupakan tugas dan
tanggung jawab negara (lihat pasal 28I ayat (4) UUD 1945). Dengan kata lain, mendapat akses
listrik dengan harga terjangkau adalah hak setiap manusia, tidak perduli apakah seorang
tersebut itu berada dalam rumah tangga mampu atau tidak, karena listrik merupakan sumber
daya yang secara fundamental milik rakyat Indonesia secara kolektif. Sama seperti air,
komersialisasi terhadap listrik merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Penarifan
air dan juga listrik maksimal hanya sebatas kepada biaya administrasi, distribusi dan
pengemasan, lebih dari itu air dan listrik tidak boleh dijual.

Sedangkan dalam rezim konsumen, warga negara diposisikan setara dengan negara dan
perusahaan listrik negara, akses terhadap listrik dapat dinikmati jika terdapat hubungan jual-
beli antara produsen yang dalam hal ini adalah negara dan PLN dengan konsumen yang dalam
hal ini adalah warga masyarakat. Prinsip konsumen dalam UU Ketenagalistrikan dan Permen
Tentang Tarif Dasar Listrik membuat negara tidak memiliki tanggung jawab untuk memenuhi
hak atas listrik warga negara, dia menyerahkan hubungan tesebut kepada relasi perniagaan
yang memiliki prinsip ‘ada uang maka ada barang’. Kewajiban negara untuk memberikan akses
terhadap listrik berlaku apabila masyarakatnya membayar kepada pihak swasta/ PLN. Dalam
hubungan seperti itu, produsen memiliki otoritas untuk menentukan harga, sebaliknya
konsumen juga dapat secara merdeka untuk menentukan ke produsen mana mereka akan
membeli. Pergeseran paradigma dari konsep kewarganegaraan ke konsep kosumeritas dalam
pengelolaan sumber daya alam membuat jarak antara masyarakat dengan akses terhadap listrik
semakin jauh. Menjauhnya akses terhadap listrik tersebut secara tidak langsung mengalienasi
rakyat dari sumber daya alam. Rakyat tersingkir dan termarjinalkan dari tanah dan air yang
merupakan hak miliknya sendiri. Hal ini tentu bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD
1945 yang berbunyi “bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” dalam konteks pengelolaan
ketenagalistrikan, justru sumber daya hanya ditujukan untuk sebagian orang saja.

Mekanisme Pasar = Kebijakan Kapitalis


Alasan kedua adalah, Permen tentang tarif dasar listrik menyerahkan harga listrik
kepada mekanisme pasar, artinya Pemerintah bukan otoritas tunggal dalam melakukan kontrol
terhadap harga listik. Pasal 6 ayat (2) Permen bersangkutan mengatakan bahwa “penyesuaian
tarif listrik akan ditentukan perbulan (setelah bulan juni 2017) berdasarkan perubahan terhadap
(1) Nilai Tukar Mata Uang Dollar Amerika terhadap Rupiah, (2) Indonesia Crude Price, dan
(3) Laju Inflasi.”

Penyerahan harga listrik kepada mekanisme pasar merupakan bentuk rasa kekalahan
negara terhadap sistem kapitalis, ia kemudian memberikan akses penuh terhadap pasar dan
pelaku bisnis untuk menentukan harga dasar listrik. Hilangnya peran negara digantikan dengan
dominasi pasar dalam penentuan harga listrik menyebabkan terlanggarnya hak warga negara
atas kepastian hukum, dan jaminan kesejahteraan. Padahal Pasal 33 ayat (2) UUD 1945
mengatakan “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara”. Dan Pasal 33 ayat (4) “bumi, air, dan segala
kekayaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Listrik dan PLN merupakan cabang penting yang menguasai hajat hidup untuk orang
banyak, ia merupakan ekses sumber daya alam yang memiliki peran penting terhadap
pembangunan ekonomi, infrastruktur, dan pembangunan manusia Indonesia. Oleh sebab itu,
dalam konteks perlindungan dan pemenuhan HAM, negara mesti hadir dan menjadi pelindung
dan pemenuh hak asasi tersebut, bukan kemudian lari dari tugas serta tanggung jawab dan
kemudian menyerahkannya kepada pemilik modal. Membiarkan rakyat miskin, buta
pengetahuan, tidak memiliki kuasa apapun berhadapan dengan pasar yang penuh modal,
spekulatif, mafia, kepentingan ekonomi yang tinggi dan sekaligus ‘rakus’ bukan merupakan
langkah yang tepat untuk negara yang sumber daya alamnya melimpah ruah seperti Indonesia.

Minus Partisipasi Publik

Yang terakhir, pembentukan dan implementasi Permen Tentang Tarif Dasar Listrik
tidak memenuhi prinsip keterbukaan yang dikehendaki oleh negara hukum dan demokrasi,
dalam penyusunannya pemerintah tidak memberi ruang partisipasi masyarakat, pemerintah
juga tidak memosisikan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, dan sebagai pihak-
pihak yang terimbas ketika kebijakan diterapkan, atau pada intinya pemerintah gagal dalam
merumuskan kebijakan yang kontekstual dan sejalan dengan keinginan dan kebutuhan
masyarakat. Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014 tentang administrasi
pemerintahan (UU Administrasi Pemerintahan) mengatakan “Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan memberikan sosialisasi kepada pihak-pihak yang terlibat mengenai dasar
hukum, persyaratan, dokumen, dan fakta yang terkait sebelum menetapkan dan/atau
melakukan Keputusan dan/atau Tindakan yang dapat menimbulkan pembebanan bagi Warga
Masyarakat.” Dalam ayat 2 disebutkan, sosialisasi tersebut harus dilakukan seminimal-
minimalnya 10 hari sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob) yang
diratifikasi lewat UU Nomor 11 tahun 2005 dan Kovenan Hak Sipil dan Politik yang
diratifikasi lewat UU Nomor 12 tahun 2005 secara implisit menyebutkan bahwa setiap orang
berhak untuk mendapatkan informasi, serta berhak untuk ikut serta berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan mengenai rencana dan kebijakan yang apabila diterapkan memiliki
dampak kepadanya dan lingkungannya. Prinsip partisipasi masyarakat dalam pengambilan
kebijakan ini merupakan langkah penting untuk melihat apakah kebijakan yang akan
diterapkan telah memenuhi unsur keadilan di masyarakat terdampak. Dalam pembangunan,
prinsip partisipasi masyarakat sangat sering dilanggar, terutama dalam hal pemanfaatan hutan,
alih fungsi lahan, penertiban liar, penggusuran paksa, dan lain sebagainya.”

Mungkin demikian untuk penghantar diskusi. Jika ada yang mau di sharing berkaitan
dengan bahan di atas, atau di luar itu silahkan asal masih dalam konteks HTN, mohon maaf
atas prolog yang kepanjangan, sungguh untuk materi dan bahasan yang menurut saya penting,
saya belum memiliki cara yang pendek untuk meyampaikannya. Mohon maaf juga jika
terkesan menggurui, tidak ada niat seperti itu, saya pikir setiap orang punya kelebihan di
masing-masing. Saya doakan semoga taman2 lancar DM3 nya. Sekian dan terimaksih.

Ahmad Jundi Khalifatullah Politeknik Piksi Ganesha Informatika Rekam Medis 2013
😎: Mantap. Makanya kalau aksi itu surat pemberitahuan ya, bukan surat izin.. 😁👌🏻

Sony Lokus Pskh Hukum: Iya

Andika Indra Purwantoro: Monggo bertanya

Ahmad Jundi Khalifatullah : Secara yg pernah ane baca mngkin sama sih smaa yg di
jelaskan di bbrp poin di atas.. Cmn 1 pertanyaan, bagaimana nasib trias politica dngn hadir
nya berbagai macam lembaga independent yg trus bermunculan?
Apa trias politica masih relevan? Apa bisa trias politica terus berjalan beriringan dngn
lembaga independent lain tadi? Sdangkan td smpat d singgung kalau lembaga independent ini
kerja ny beririsan dngn lmbga pemerintah

Sony Lokus Pskh Hukum: Sy coba jawab ya.

Trias politica ini hanya pembagian urusan pemerintahan, saya fikir 3 lembaga
sebelumnya akan tetap ada, namun ditambah oleh komisi independent. Soal kerja sebenarnya
tinggal diatur saja dalam peraturan perundang-undangan.

Namun kan konteksnya ini angket terhadap komisi independent, dalam hal pelaksanaan
anggran, kpk bisa saja dievaluasi oleh dpr, namun dalam konteks kebijakan, pelaksanaan uu,
seharusnya ada mekanisme khusus untuk menanyakan kebijakan komisi indendent selain
mekanisme pengawasan di internal lembaga masing2.

Kalo pemaknaan trias politica menganggap komisi independent sebagai bagian dari
kekuasaan eksekutif maka trias politica tidak relevan lagi

Ahmad Jundi Khalifatullah : Berarti hak angket tidak tepat sasaran krna menyasar
kebijakan kpk ya? Mekanisme khsus yg abg maksud maksud ny gmn? Gk di maknai bgitu tp
rasany memang bgitu hehe. Sama apa ada lembaga yg menghimpun lembaga" independent ini
kg?

Sony Lokus Pskh Hukum: Karena ia independent dia tidak boleh dihimpun. Jika dia
dihimpun maka ia akan kekurangan legitimasi sebagai komisi independent Iya betul jundikh.
Mekanisme khusus untuk pembuatannya butuh penelitian dan studi case kepustakaan dan studi
dri lembaga negara lain. Saat ini yang paling paling relevan jika kpk salah, ajukan gugatan atau
tuntutan di pengadilan. Secara politik mungkin penghukumannya lewat politik anggaran, dan
pembatasan kewenangan lewat uu.

Ahmad Jundi Khalifatullah : 1 pertanyaan lg kang.. Tp agk d luar htn sih 😁 Kpk
lembaga ad hoc kan ya? Indikator keberhasilan kpk itu ap ya, apakah koruptor yg smakin bnyk
tertangkap atau gimana? Dalam keadaan seperti apa kpk dpt d bubarkan hehe

Sony Lokus Pskh Hukum: Ini soal politik sebenarnya 😂

Korupsi ini sebenarnya gak hanya tanggung jawab kpk, tapi juga polisi, parpol, lsm,
dan pejabat pemerintahan, ada banyak cara untuk mengukur korupsi ini. Beberapa ngo nasional
seperti infid dan ti merilis indeks persepsi korupsi, atau barometer korupsi, icw juga punya
divisi korupsi politik, dimana ada thesia kalau korupsi bukan hanya pelanggaran hukum
semata, tapi dia noktah hitam beesumber dari sistem politik yang buruk, contoh tidak adanya
pengawasan, tidak adanya sistem hukum yang bagus untuk membuat jera koruptor, sistem
pemilu, sistem perekrutan parpol, aturan lelang barang dan jasa. Dll. Jadi teryangkapnya
banyaknya koruptor tidak satu2nya indikator keberhasilan kpk.

Kalau pendapat saya, malah seharusnya kpk harus dipermanenkan, bamun diatur
mekanisme pengawasannya biar lebih kredibel, beberapa kasus terakhir emang agak
mengkhawatirkan. Tapi singkatnya, kalau mau nyari tikus jangan bakar lumbungnya lah.

Sony Lokus Pskh Hukum: Baik, sudah 2 jam berlalu, saya izin pamit, mohon maaf atas
kesalahan, terimkasih ataa atensinya, sukses terus buat teman2, semoga dm3 berkah.
Diskusi Online AB2 Muntijah KAMMI Daerah Pontianak
Presidential Threshold, Ancaman atau Solusi?
Bersama Anis Maryuni Ardi, S.IP, M. Si (Han)

Sebelum nya kita kuis dulu ya.. untuk pemanasan. Pertanyaannya mudah.. Boleh
langsung jawab aja di sini: Pada Tahun berapa Indonesia melaksanakan pemilihan presiden
secara langsung?

A. 2004 kak.. Memilih SBY


B. Melalui amandemen Uud ke 4 tahun 2004

Benar, jawaban saudara Arif dan Hajai benar. Walaupun pemilihan umum dimulai
tahun 1959 namun pilpres langsung baru tahun 2004. Berarti udah ready yaaa

Bahasa mudah untuk Presidential Threshold adalah ambang batas pencalonan Presiden
dan wakil presiden. PT (Presidential Threshold) diatur dalam Undang-undang Pilpres no 42
tahun 2008. Pada tahun 2014 sampe sekarang 9 fraksi yang ada di DPR menolak revisi UU
ini.. Yaitu:

1. Demokrat
2. PDIP
3. Golkar
4. PAN
5. PKB

Sedangkan yang menginginkan Revisi UU adalah:

1. PPP
2. PKS
3. Gerindra
4. Hanura

Selanjutnya saya mau share tautan ini untuk teman2 terkait Presidential Threshold

Pengamat: Pemilu 2019 Hanya Rutinitas Semu

Jakarta, Aktual.com – Menjelang pemilihan umum 2019, Pengamat Sosial Politik, Anis
Maryuni Ardi merasa pesimis akan terjadi akselerasi pembangunan nasional jika sistem
presidential threshold, ketentuannya masih sama seperti UU Nomor 42 Tahun 2008 yang
menetapkan ambang batas partai politik harus memiliki 20 kursi DPR RI atau 25 persen suara
nasional.

Menurut Anis; regulasi yang memungkinkan banyaknya unsur dukungan partai politik
untuk mengusung calon Presiden akan memperlambat pengambilan kebijakan pembangunan
dalam artikulasi kepentingan umum.

“Kondisi ini masih belum memungkinkan akan terselenggaranya pemerintahan yang


cocok ala sistem presidensiil, karena membuka peluang semaraknya kursi DPR yang penuh
warna-warni kepentingan. Bagaimana tidak, multipartai di Indonesia dengan peserta pemilu
terakhir sebanyak 12 partai politik masih terlalu banyak untuk proses artikulasi dan agregasi
kepentingan umum,” katanya dalam keterangan yang diterima Aktual.com di Jakarta, Minggu
(2/7).

Baginya melihat sistem presidensiil kurang cocok jika dilekatkan dengan sistem
multipartai yang ekstrim. Sedangkan sistem pemilu di Indonesia adalah sistem pemilihan
proporsional, yang bahkan negara Amerika pun tidak berani menggunakannya.

Oleh karena itu, kendati kultur Partai Politik di Indonesia diantaranya terbentuk oleh
kesadaran agama, dia berharap partai politik, baik ‘aliran’ nasionalis dan agama maupun hanya
nasionalis, hendaknya menemui jalan mufakat agar lebih efisien.

Selain itu dia menekankan agar partai politik betul-betul mempunyai idiologi dan
sistem pengkaderan yang kuat untuk mencetak karakter pemimpin nasional, sehingga euphoria
pemilihan umum bukan hanya mengandalkan populisme eksklusif dari sosok seorang pigur.

“Bisa jadi 2019 adalah titik cerah bagi bangsa Indonesia jika pesta elektoral ini
disiapkan betul-betul oleh kontestan aktif pemilu. Berbeda dengan pilpres 2014 dimana
pertarungan dikategorikan menjadi populisme inklusif Jokowi dan populisme eksklusif
Prabowo,” pungkasnya.

Membaca Peta Politik Indonesia 2019

Oleh : Anis Maryuni Ardi

Tahun 2019 sebentar lagi, artinya masih ada waktu bersih 1 tahun untuk
mempersiapkan kontestasi politik paling elite bagi partai politik dan bakal calon capres
cawapres.
Indeks demokrasi Indonesia turun dari 73,04 poin pada tahun 2014, ke 72,82 poin di
tahun 2015. Ini artinya Indonesia masuk dalam level "sedang". Dalam tingkat Propinsi, 3
propinsi dengan indeks demokrasi tertinggi adalah: DKI, DIY dan Jatim. Ini artinya membaca
peta politik nasional tidak boleh terlepas dari beberapa propinsi tersebut.

Namun sebagai ruang pembacaan aktual, saya ingin melihat dari fenomena DKI sebagai
center of gravity. Dimana masih terdapat euforia partisipasi politik yang tinggi.

Sebagai negara dengan sistem pemerintahan presidensiil dan multipartai, aturan


pemilu: presidential threshold yang dirumuskan saat ini sama dengan UU Nomor 42 Tahun
2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Ambang batas dalam UU ini, partai politik
harus memiliki 20 kursi DPR RI atau 25 persen suara nasional.

Sedangkan pada aturan Parliamentary Threshold angka yang ditawarkan berkisar


antara 4%-5%.

Kondisi ini masih belum memungkinkan akan terselenggaranya pemerintahan yang


cocok ala sistem presidensiil, karena membuka peluang semaraknya kursi DPR yang penuh
warna-warni kepentingan. Bagaimana tidak, multipartai di Indonesia dengan peserta pemilu
terakhir sebanyak 12 partai politik masih terlalu banyak untuk proses artikulasi dan agregasi
kepentingan umum.

Kesalahan politik adalah kesalahan yang bisa dibilang berefek luas dan lama, secara
teori sistem presidensiil kurang cocok jika dilekatkan dengan sistem multipartai yang ekstrim.
Sedangkan sistem pemilu di Indonesia adalah sistem pemilihan proporsional, yang bahkan
negara Amerika pun tidak berani menggunakannya.

Menurut Prof Maswadi Rauf, Partai Politik di Indonesia banyak diciptakan oleh
kesadaran agama dan ikatan kesukuan, berangkat dari kesadaran tersebut, eskhalasi kekuatan
primordial (meminjam istilah Clifford Geertz) menjadi kekuatan Nasional. Jadi tanpa politik
aliran, kesadaran berbangsa ini tumbuh bersamaan dengan kesadaran demokrasi.

Hemat saya, mengira bahwa agama dan ras adalah isu yang mampu merusak
kebhinekaan adalah logical fallacy. Selama masih ada partai politik, iklim demokrasilah yang
akan memelihara kesatuan NKRI. Karena secara historis kohesi sosial dibentuk dari
keanekaragaman entitas budaya dan politik.
Bisa jadi 2019 adalah titik cerah bagi bangsa Indonesia jika pesta elektoral ini disiapkan
betul-betul oleh kontestan aktif pemilu.

Berbeda dengan pilpres 2014 dimana pertarungan dikategorikan menjadi populisme


inklusif Jokowi dan populisme eksklusif Prabowo. 2019 tren yang berlaku adalah "tesis dan
anti-tesis" Capres yang menang adalah capres yang melampaui indikasi kultural-internal
(identitas nilai) dan kultural eksternal (citra publik)

Kolaborasi inilah yang akan menjadi antitesis dari Presiden yang sekarang.

Lagipula sudah jarang ditemukan pemimpin dengan kualitas filsuf dan negarawan
seperti George Washington, Lenin, Soekarno, maupun Mao.

Sehingga pekerjaan berat bagi partai adalah mempersiapkan kandidat yang mendekati
ekspektasi publik sesuai teori tesis dan anti-tesis.

Partai politik juga harus berbenah dan melakukan pendidikan politik sedini mungkin,
dan jika boleh usul, partai politik yang lolos peserta pemilu 2019 sebaiknya adalah partai yang
mampu merepresentasikan politik aliran : Islam konservatif, Islam Modernis, Nasionalis
Tengah dan Nasionalisme kerakyatan dengan batas toleransi tambahan tiga partai.

Insyaallah sistem presidensiil akan sukses dengan multipartai yang sederhana.


Wallahu'alam

Apakah aturan tentang ambang batas pencalonan Presiden ini ancaman atau peluang?

Dalam aturannya, Presiden hanya boleh dicalonkan dari partai politik atau gabungan
fraksi di DPR dan memiliki kursi 20% parlemen atau parpol/gabungan parpol memiliki 25%
suara Nasional.

Ancaman: menurut peneliti LIPI Bu Siti Zuhro, regulasi PT ini multitafsir, dan distorsif,
karena aturan konstitusi itu harus mengikuti aturan umum dan paling dasar, yakni pasal 6A dan
pasal 9 UUD yg menyatakan bahwa parpol peserta pemilu berhak untuk mengajukan capres
dan cawapres

Sesi Tanya Jawab

Andika - untan

1. Di pemilu serentak antara legislatif dan presiden gimana ngitung pt nya?


2. Beda saint league murni dan kuota hare bagaimana?
Jawab

Terimakasih Andika...

1. Cara ngitungnya adalah berdasarkan jumlah parlemen saat ini.. Sehingga jika dihitung
hitung akan muncul 3 variasi capres cawapres dari partai2 besar: PDIP Golkar Demokrat,
dan 1 Paslon alternatif dari partai minoritas. Dengan PT ini akan menghindari terpilih nya
presiden dari partai kecil atau politik dagang sapi alias jual suara. Untuk sistem politik
multipartai dgn sistem pemerintahan presidensial, dukungan parlemen amat penting bagi
harmonisasi pemerintah, misalnya kita lihat jaman SBY JK yg partainya hanya memiliki
kuota 9% di legislatif, sehingga pemerintahan yg kebijakannya baik kadang ga didukung
oleh parlemen.
2. Saint league murni sama kuota hare adalah metode konversi suara sesuai angka pembagi
yang diukur dari nilai 1 kursi di DPR. Bedanya kalo saint ini suara dibagi habis dulu baru
sisa suara banyak banyakan sehingga bisa ditempati oleh yg sisa suaranya lebih banyak,
Kalo kuota hare bilangan pembagi yang senilai dengan nilai suara 1 kursi nanti dijadikan
pembagi juga untuk sisa suara. Pokoknya ribet ngitungnya.. hehe..

Tanya

#hambaAllah

Assalammualaikum kak. Mau nanya jadi sebenarnya kebijakan presiden treshold itu jd
ancaman atau peluang bagi indonesia sndiri ? Dan bagi "kita" umat muslim di Indonesia ?

Jawab

Pertanyaan dari Hamba Allah tentang ancaman dan peluang ini sangat subyektif, karena
subyek politik di negeri ini banyak sekali. Kalo menurut prof Jimly Asshiddiq, PT ini
memungkinkan dan masih relevan untuk membangun kekuatan presiden yang kuat, yaitu lahir
dari parpol mayoritas.Tapi coba kita lihat, umat muslim kan mayoritas di Indonesia, namun
secara politik, umat muslim menjadi subyek politik yg minoritas,

Hanya ada 3 partai yg berasaskan Islam: PKS, PPP dan PBB, dan partai yg berbasis
umat Islam misalnya PAN n PKB belum representatif tentang aspirasi umat Islam. sayangnya
partai berasas Islam ini elektabilitas nya kecil, dibawah 8%. Sehingga jika pun digabung belum
bisa mengirim capres dan cawapres yg sesuai dengan cita2 umat.
Jadi PT ini ancaman bagi demokrasi dan juga umat Islam karena hak pencalonan
menjadi terbatas.

Tanya :

Niah _Untan

Pertanyaan saya mba

1. Rasionalitas 20 % suara ambang batas itu dari mana datangnya mba? Kenapa gak 15 %
atau 21 % ?
2. Suara ambang batas presidensial treshold ini menurt sy justru akan menguntungkan partai
besar dan ini sebernya bentuk pengekangan terhadap partai partai kecil, namun ada juga
statment yang mengatakan bahwa adanya ambang batas 20% ini justru munguntungkan
negara dan mengurangi APBN utk anggaran parpol, ini juga akan mengurangi kebingungan
masyarakat karna banyak nya pilihan partai2 saat pemilu dan kalo gak dibatasi jumlah
partai2 bisa semakin banyak.

Bagaimana pendapatnya mba?

Jawab

1. kalo soal rasionalisasi 20% ambang batas ini aku kurang paham, soalnya aturan di UU
pilpres no 42 sudah diinstrumentalisasikan KPU sedemikian rupa, sehingga peserta pemilu
harus taat. Tapi ya kita kan tahu pemerintah saat ini rasionalitasnya entah gimana.. lha wong
Perppu ormas aja HTI dibubarin hehe. Biasanya, aturan itu diciptakan oleh the rulling class
atau orang yg mayoritas dan penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, sesuai teorinya
machiavelli.. Soal angka.. karena DPR itu 560 jadi prosentase 21% mungkin agak susah
soalnya nanti hasilnya koma koma hehe...
2. Konsekuensi dari demokrasi adalah adanya partai politik. Saat ini pemerintah kita bingung,
kan indeks demokrasi kita masih di angka 72 poin. Terbilang sedang, sehingga banyak
usaha untuk meningkatkan demokratisasi terutama memfasilitasi parpol sebagai peserta
pemilu.

Namun, atas nama penghematan APBN jumlah parpol ditekan.. pake Presidential
Threshold, kan harusnya pake electoral Threshold, sehingga pemerintahan ga bayarin parpol.
Tapi sebenernya Anggaran pemerintah buat parpol itu sedikit lho, kalo ga salah hanya
100rupiah per kepala per tahun. Dan sumbangan kecil lain.
Kalo untuk hemat APBN harusnya kan bikin kebijakan fiskal dan moneter yg pro
pribumi dan ekonomi makro, bukan malah utang dan buka investasi tanpa pengalihan
teknologi.

Bahkan masing2 kita orang Indonesia sebenarnya punya utang 17juta bahkan bayi yg
belum lahir juga punya utang segitu, hiks😭

Tanya :

Andika - untan

Menurut mas hanta yuda dalam buku nya, sekarang ini sistem presidential di indonesia
sistem presidential setengah hati atau reduktif, menurut mba anis bagaimana?

Jawab

Terimakasih Andika. Andika sudah baca buku Presidential Setengah Hati ya? Di artikel
yg saya lampirkan tadi ada penjelasannya, Jadi Indonesia ini dpt kritik besar2an dari pak
Lawrence pakar pemilu dan guru besar ilmu politik dan pemerintahan.

Karena Indonesia ini aneh, presidential tapi partainya banyak alias pluralisme ekstrim.
Harusnya presidential didukung dengan zaken kabinet dan parlemen yang mapan. Bahkan
Amerika aja partai peserta pemilu hanya 2, Inggris maksimal 4, Perancis 5, dan kutub ideologi
nya jelas.

Nah kalo Indonesia ini campur2 ada yg ngaku religius tapi sekuler, ada yg sekuler tapi
menerbitkan perda syariah. Sehingga parlemen dan presiden saling mereduksi satu sama lain,
dan akan berefek pada artikulasi kebijakan publik

Tanya :

Dita Meilina- Untan

1. Jika adanya PT bs memperkuat kedudukan presiden dan menjaga keharmonisan ekdekutif


dg legislatif, apakh msh bs kita katakan bhwa Ind msh menganut sistem presidensil mbk?
2. Byk yg bilang bhw melalui PT ini Jkw bs mjdi calon tunggal d pilpres 2019 krn sebagian
besar KIH menduduki parlemen. Apkah PT ini memang dibuat utk mengarah ke situ mbk?
3. Sebenarnya d mn letak kekurangan yg krusial mbk. Kita tau bhwa ind mayoritas muslim
tpi elektabilitas parpol yg berbasis agama Islam cenderung kecil. Melalui PT ini otomatis
mjd ancamn bgi parpol tsb sprti yg sudah mbk jelaskn sebelumnya. Bagian mana yg perlu
dibenahi dri sisi parpol itu sendiri mbk?

Jawab

Makasih Dita dari Untan

1. Indonesia tetap akan jadi negara dengan bentuk pemerintahan presidensial, ini sesuai
amanat undang-undang dasar dan tidak bisa diganggu gugat. Walaupun dulu pernah ada
presiden dan perdana menteri jaman 1955 dan Alhamdulillah ulama kita Pak Mohammad
Natsir melakukan mosi integral dan mengembalikan NKRI secara konstitusional.
2. Ini disebabkan karena koalisi partai yg mendukung pemerintah banyak, dan suaranya besar.
Sedangkan partai yg oposisi sedikit, dan suara kecil. Sehingga ancaman itu menjadi nyata..
karena politik juga membincang soal kalkulasi peluang.
3. kekurangan yg krusial adalah "kekurangan suara". Suara diproduksi dari opini publik
melalui media dan lembaga survei, buzzer medsos, dan media meanstream lainnya. dulu
media kita dikuasai politisi macam Surya Paloh n Aburizal, sekarang saham mereka dibeli
sama James Riyadi (orang Cina) hiks. Sehingga isu2 terorisme dan radikalisme turut
mendegradasi eksistensi umat muslim secara besar-besaran.

Dari sisi parpol yg perlu dibenahi adalah komunikasi politik dan strategi kebudayaan..
banyak partai Islam yg berpolitik secara kuno, sehingga kurang bisa mendulang suara dari
pemilih pemula, dan generasi milenial, dan jumlahnya besar lho.. sekitar 40%.

Tanggapan

Andika :

Sekarang partai2 islam marketing nya pakai metode inbound marketing padahal era
milenial mainnya marketing by content. Mba anis

1. Partisipasi masyarakat milenial di amrik cuma 17% di pemilu lalu, kira2 apa
penyebabnya? Ini angka ny lupa. “Young people still care about our country,” said Harvard
Institute of Politics Polling Director John Della Volpe last year. “But we will likely see more
volunteerism than voting in 2014.”

Jawab
Pertama : Amrik pake electoral Collage, agak ribet, karena ada representasi personal
dan senat, Kalo aku baca baca, isu2 yg jadi bahan kampanye di Amrik juga ga ada yg
menyangkut kebutuhan anak muda, sehingga partisipasi mereka menurun.
Bedah Buku Presidensialisme Setengah Hati

Dalam buku ini pembahasan paling utama adalah sebuah


studi yang mengkombinasikan tentang sistem Presidensil dan
Multipartai di Indonesia era pemerintahan SBY-JK. Pembahasan tentang
kepartaian selalu menjadi perbincangan publik.
Sebelumnya pembahasan ini berawal dari sebuah sistem
pemerintahan Presidensil. Sistem pemerintahan Presidensil merupakan
sistem yang berpanduan terhadap negara Amerika. Dalam sistem ini
Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Dalam sistem
ini terdapat sebuah pemisahan kekuasaan antara Legislatif dan Eksekutif. Presiden sebagai
pelaksana kebijakan menjadi kepala Eksekutif.
Pemilihan Langsung bertujuan agar Rakyat dapat memilih kepala Negara dan kepala
pemerintahannya secara Langsung. Dan termasuk di Indonesia, sistem Presidensil ini baru
penuh dijalankan oleh Indonesia pada tahun 2004. Dan rakyat bisa memilih langsung kepala
Negara dan kepala Pemerintahannya. Dan baru memiliki roh pada era Reformasi sejak
Amandemen UUD 1945.
Presiden adalah kepala pemerintahan dan kepala negara. Dalam sistem Presidensil
Presiden adalah kepala Pemerintahan dan kepala Negara. Dimana kedua jabatan tersebut
diemban oleh satu orang yaitu Presiden. Sehingga Presiden memiliki hak-hak sebagai kepala
pemerintahan dengan mengendalikan birokrasi yang ada dalam ranah eksekutif dan dia juga
sebagai kepala Negara yang dia juga dihormati oleh warga negaranya dan negara-negara lain.
Sejarah dan Budaya Politik
Pembahasan selanjutnya adalah Sistem Multipartai yang saat ini dianut oleh Indonesia.
Semua itu ada klasifikasi kenapa Indonesia menjalankan sebuah sistem Multipartai. Indonesia
bisa menjalankan sistem ini karena sejarah dan budaya politik dari Indonesia itu sendiri. Bahwa
sejarah merupakan faktor yang memberi pengaruh terhadap pelembagaan sistem kepartaian
secara tidak langsung. Misalnya perjalanan kepartaian suatu negara yang telah lama
melembagakan sistem multipartai, masyarakat secara tidak langsung sudah terinternalisasi
dengan perbedaan dan heterogenitas, sehingga akan memengaruhi konstruksi budaya politik
mastarakat. Selain itu budaya politik di Indonesia yang memang sudah berakar sejak jaman
penjajahan. Budaya politik yang tumbuh dan berkembang melalui interaksi antar berbagai
macam struktur. Budaya politik tampak mencair dalam berbagai bentuk momen politik
contohnya pemungutan suara saat pemilihan umum. Dan budaya politik yang sangat
berpengaruh di Indonesia adalah Politik aliran, realitas ini melihat bahwa Indonesia adalah
negara yang majemuk.
Untuk dapat melihat ideologi formil di Indonesia adalah melalui pendekatan prespektif
Giovani Sartori. Berdasarkan jarak Ideologi dan membaginya menjadi tiga bagian yaitu
Pluralisme Sederhana, Pluralisme Moderat dan Pluralisme Ekstrem. Indonesia terletak dalam
Pluralisme Ekstrem dengan menggunakan sistem Multipartai tersebut. Dan Pluralisme Ekstrem
selalu berada didalam negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Karena secara sosio-
kultural terbilang majemuk. Dan banyaknya partai tersebut menjadikan banyaknya ideologi di
Indonesia. Era Reformasi ini Indonesa menganut sistem Pluralisme Ekstrem yang bergerak ke
arah Sentrifugal dimana berpotensi mengalami perpecahan menjadi partai-partai baru. Dan
dalam sistem ini sangat mengandalkan Koalisi antar Partai.

Sistem Partai Kutub Polarisasi Arah


Sederhana Bipolar Tidak ada Setripetal
Moderat Bipolar Kecil Sentripetal
Ektrem Multipolar Besar Sentrifugal

Selanjutnya adalah terfragmentasinya kekuatan politik dalam parlemen. Rendahnya


tingkat pelembagaan partai akan berpengaruh dalam terfragmentasinya partai. Partai di luar
dan didalam parlemen akan menghiasi multipartai di Indonesia. Selain itu persaingan didalam
parlemen juga demikian, antar fraksi-fraksi di parlemen bersaing antara partai eksekutif dan
partai oposisi. Selanjutnya adalah fenomena Koalisi. Fenomena ini menjelaskan tentang
koalisinya partai agar mendapatkan suara mayoritas. Karena apabila tidak dilakukan koalisi
partai dalam pemerintah, maka suara Presiden terpilih akan minoritas dalam parlemen.
Corak Koalisi partai dalam sistem Presidensial dan Multipartai terbilang rapuh. Dimana
dalam koalisi pemerintah jumlah partai bisa semakin bertambah. Sistem multipartai merupakan
heterogenitas golongan dan kepentingan masyarakat. Selanjutnya adalah konsensus dari
pemerintah koalisi multipartai adalah koalisi pemerintah tidak menjadikan ideologi partai atau
sebagai faktor determinan, tetapi lebih didasarkan pada political interest kekuasaan saja.
Karakterisik institusionalisasi sistem multipartai di Indonesia adalah rendahnya tingkat
pelembagaan, terfragmentasinya kekuatan politik di Parlemen dan munculunya koalisi parpol
dengan ikatan yang rapuh dan pragmatis.
Implikasi Perpaduan Presidensialisme dan Multipartai
Sistem Multipartai merupakan sebuah struktur politik. Sedangkan sistem Presidensil
merupakan struktur konstitusi. Keduanya akan berpengaruh dalam corak dan perilaku institusi
kepresidenan dan personalia kepresidenan, begitu juga sebaliknya. Implikasi utama penerapan
multipartai di Indonesia adalah pelembagaan partai yang rendah dan terfragmentasinya
kekuatan politik di Parlemen. Dalam problematikan politik, muncul beberapa aspek kompromi
pola relasi Presiden dan Parlemen. Aspek kompromi ini akan berpengaruh terhadap relasi
antara presidensial dan struktur Presiden baik secara Institusi maupun personal Presiden.
Pertama, Intervensi partai politik atau sebaliknya terhadap Presiden, akomidasi
Presiden terhadap kepentingan partai Politik dalam pengangkatan/pemberhentian partai
Politik. Kedua, Rapuhnya ikatan koalisi partai. Ketiga, Adanya kontrol Parlemen terhapat
pemerintah yang cenderung keblabasan atau berlebihan sehingga mengganggu stabilitas
pemerintah. Keempat, perjalanan sering kali dibayangi ancaman impeachment dari parlemen
dan presiden masih rentan dimakzulkan karena alasan politis/adanya kebijakan yang ditentang
parlemen. Implikasi selanjutnya, empat aspek politik yang mereduksi struktur kekuasaan
presiden secara eksternal itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan
mempengaruhi struktur kekuasaan Presiden secara Internal.
Intervensi Partai Politik dalam kabinet akan mereduksi kontruksi kekuasaan dan
kewenangan Presiden (hak preogratif). Akibatnya pengangkatan kabinet yang seharusnya
menganggkat orang-orang yang Profesional cenderung mengedepankan akomodasi politik.
Selain itu untuk menjaga stabilitas politik, koalisi antar parpol di parlemen harus mengikuti
koalisi parpol di kabinet. Sehingga komposisi dan konfigurasi secara internal menjadi kabinet
koalisi dan pelangi. Presiden haru mengakomodasi kepentingan partai politik melalui
pengangkatan menteri dari unsur partai politik.
Ada empat aspek kompromi internal, pola interaksi Presiden dengan wakil, relasi
Presiden dengan menteri, komposisi struktur kabinet dan hak preogatif Presiden yang
berpotensi muncul dilema perpecahan Presidensialisme dan multipartai pragmatis. Pertama,
tereduksi hak progesif Presiden. Kedua, komposisi kabinet koalisi. Ketiga, adanya dualisme
loyalitas menteri dari unsur parpol. Keempat, penyesuaian relasi Presiden dan wakil Presiden.
Kompromi Eksternal
Penerapan Presidensialisme dalam konteks multipartai pragmatis atau presidensialisme
kompromis cenderung memunculkan intervensi partai politik dan presiden cenderung
mengakomodasi kepetingan partai politik. Sistem Presidensialisme dan multipartai juga dapat
menyebabkan disharomnisasi antara Presiden dan Parlemen karena sulitnya mendapatkan
mayoritas didalam Parlemen.
Pengangkatan dan pemberhentian kabinet merupakan hak mutlak oleh Presiden.
Presiden tidak seenaknya dalam penentuan kabinet tersebut. Ada intervensi-intervensi yang
dilakukan oleh Partai Politik. Karakteristik Presidensial dan multipartai yang pragmatis
cenderung rapuh. Kerapuhan tersebut karena, pertama, kedekatan partai politik tidak
bedasarkan Ideologi melainkan kekuasaan saja. Kedua, komposisi dan jumlah partai koalisi
selalu berubah ubah. Presidensialisme dalam sistem multipartai justru memiliki posisi antara
eksekutif dan legislatif seimbang. Seharusnya Presiden mempunyai kekuatan lebih dari pada
parlemen. Sedangkan sebaliknya apabila disuatu negara tersebetut tidak multi partai, justru
Partai tidak terfragmentasi, pelembagaan baik dan idelogi juga kuat.
Selain itu dalam sistem Presidensil ini terjadi pemilihan eksekutif dan legislatif secara
terpisah sehingga bisa saja Presiden berasal dari partai kecil atau partai minoritas.
Konsekuensinya Preiden harus melakukan kompromi untuk menjalin hubungan harmonis
kepada Parlemen. Pasang surut hubungan legislatif dan eksekutif adalah keniscayaan sistem
demokrasi. Kebijakan Publik yang diambil oleh eksekutif memang semestinya diawasi oleh
legislatif. Namun tarik menarik kepentingan politik dan konflik legislatif serta eksekutif dalam
sistem presidensil dapat menyebabkan pemerintahan menjadi tidak efektif.
Dalam sistem Parlementer memang sangat mudah untuk menjatuhkan kabinet dengan
cara memberikan mosi tidak percaya. Namun dalam sistem Presidensil, Presiden bisa jatuh
apabila presiden melanggar hukum. Dan ini bisa saja menjadi permainan Parlemen untuk
menjatuhkan Presiden atau biasa di sebut pemazulan Presiden. Ada juga tentang dualisme
loyalitas menteri. Seharusnya kabinet adalah pembantu Presiden sehingga loyalitas menteri
harus penuh. Namun karena memiliki sistem Multipartai, Menteri tidak hanya loyalitas di
kabinet melainkan juga mereka loyalitas terhadap Partai.
Dalam sistem Presidensil dengan sistem Multipartai juga dapat menimbulkan keretakan
antara Presiden dan Wakil Presiden. Diamana keduanya adalah satu paket yang nantinya akan
dipilih oleh Rakyat. Presiden memang salah satu pimpinan tertinggi. Namun apabila Presiden
sebagai pimpinan memiliki suara minoritas partainya di parlemen dibandingkan wakil
Presidennya, maka bisa saja keretakan itu terjadi. Karena tingginya proses tawar wakil
presiden. Padahal Presiden adalah kepala negara dan kepala pemerintahan yang memiliki hak
prerogratif namun ternyata wakil Presiden memiliki kekuatan Parlemen mayoritas lebih besar.
Tipologi Presidensialisme
Dalam sistem Presidensialisme yang multipartai mengalami penurunan efektivitas
sistem presidensial dengan multipartai. Namun penurunan tersebut bukan berarti gagalnya
sistem Presidensil. Jadi memang dalam sistem in bisa saja Presiden merupakan minoritas di
parlemen. Tapi semua itu bukan berarti gagal, melainkan bisa saja sebaliknya. Bahwa apabila
Presiden hegemonik dan bisa mengendalikan partai dan parlemen, pemerintah akan mengarah
pada keotoriteran. Seperti yang pernah dilakukan oleh Soeharto pada masa Orde baru. Dan
disini benar-benar presiden sangat kuat sehingga pemerintahan menjadi efektiv, melahirkan
stabilitas pemerintahan dan memperkuat demokrasi.
Berdasarkan tingkat efektivitasnya, ada empat tipologi institusionalisasi sistem
Presidensialisme efektif, yaitu desain Institusi Politik dan bangunan sistemnya (struktur
konstitusi dan struktur politik) kokoh, personalitas dan gaya kepemimpinan presiden juga kuat.
Selanjutnya adalah Presidensialisme akomodatif, yaitu desain institusi Politik dan bangunan
sistemnya kokoh, tetapi personalitas kepemimpinan presiden lemah. Selanjutnya
Presidensialisme konfrontatif, yaitu desain institusi politik dan bangunan sistemnya rapuh,
tetapi personalitas kepemimpinan presiden kuat. Dan yang terakhir adalah Presidensialisme
reduktif (setengah hati), yaitu desain isntitusi politik dan bangunan sistemya rapuh dan
personalitas kepemimpinan presiden lemah.
Personalitas Struktur Struktur
Ideologi Kontrol Karakter
Tipologi kepemimpinan Konstitusi dan kepartaian di
partai Parlemen koalisi
Presiden desain institusi Parlemen
Presidensialisme Kuat kokoh Multipartai kuat Efektif Solid
efektif sederhana atau (Checks and
dua partai Balances)
Presidensialisme Lemah kokoh Multipartai lemah Efektif solid
Akomodatif sederhana atau (Checks and
dua partai Balances)
Presidensialisme Kuat rapuh Multipartai lemah Over Cair
Konfrontatif tidak sederhana (legislative
(ekstrem) heavy)
Presidensialisme Lemah rapuh Multipartai lemah Over Cair
Reduktif tidak sederhana (legislative
(Setengah hati) (ekstrem) heavy)
Selanjutnya adalah Presidensial efektif merupakan prinsip-prinsip sistem presidensial
bersinergi dengan sistem kepartaian, ditopang personalitas dan gaya kepemimpinan presiden
yang kuat. Selain ditopang personalitas kepemimpinan presiden yang kuat, struktur konstitusi
dan desai institusi politik juga kuat dan tertata sesuai prinsip presidensialisme. Penerapan
presidensialisme kompromis (kombinasi presidensialisme dan multipartai) tidak selamanya
berakhir pada tereduksinya prinsip normatif presidensialisme. Kompromi penerapan
presidensialisme dalam konteks multipartai memungkinkan sistem presidensial dan pemerintah
berjalan efektif jika multipartai tidak terlalu terfragmentasi atau multipartai sederhana dengan
ikatan koalisi yang kuat dan solid. Meskipun Presiden tersebut posisinya minoritas.
Selanjutnya adalah presidensialisme akomodatif secara umum desain institusi politik
dan bangunan struktur sistemnya sudah memenuhi karakteristik ideal, tetapi personalitasnya
dan gaya kepemimpinan presiden sangat lemah dan belum memenuhi karakteristik
presidensialisme secara umum. Konstruksi konstitusi dan desai isntitusi politik sudah kokoh,
tetapi personalitas dan gaya kepemimpinan presiden cenderung lemah. Hal ini terjadi apabila
efektifitas sistem kosntitusi dan sistem politik berjalan sesuai prinsip presidensialisme tetapi
tidak ditopang personalitas dan gaya kepemimpinan presiden yang kuat. Personalitas
kekuasaan presiden lemah, cenderung kompromistik dan akomodatif terhadap kepentingan
partai politik atau parlemen. Meskipun bangunan konstitusi sudah solid dan kokoh, presiden
cenderung masih memiliki kekhawatiran sehingga mendorong presiden untuk tetap
akomodatif.
Selanjutnya adalah Presidensialisme konfrontatif, terjadi apabila bangunan kosntitusi
dan desain institusi politik masih rapuh, serta sistem kepartaian juga kurang kondusif.
Sementara personalitas dan gaya kepemimpinan presiden relatif kuat dan cenderung
melakukan perlawanan secara konfrontatif dalam berhadapa dengan parlemen. Kompromi-
kompromi politik yang muncul dalam presidensialisme konfrontasi akan mengarah pada
penurunan kualitas dan efektifitas sistem presidensial. Pemerintahan tetap sulit berjalan secara
karena terlaku kuatnya posisi parlemen dan parpol. Karena itu, presidensialisme konfrontatif
juga ditandai dengan kuatnya posisi partai politik dan parlemen dihadapan presiden. Namun,
presiden cenderung melakukan perlawanan.
Selanjutnya adalah presidensialisme reduktif (setengah hati) terjadi apabila desain
institusi politik dan struktur konsitusi masih rapuh dan munculnya undang-undang di bawah
kosntitusi yang mereduksi prinsip presidensialisme dalam konstitusi. Presidensialisme dalam
situasi ini tidak bisa berjalan secara efektif. Presidensialisme setengah hati juga mungkinkan
bergeser menuju presidensialisme efektif jika struktur konstitusi dan desain institusi politik
yang menopangnya sudah kokoh melalui amandemen konstitusi dan revisi perundanganan.
Metamorfosis Presidensialisme Indonesia
Perjalanan isntitusionalisasi sistem presidensial di Indonesia mengalami pergolakan
dan pasang surut dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Jika dicermati, baik praktik politik
maupun prinsip presidensial dalam konstitusi, pelembagaan sistem presidensial sudah dimulai
sejak sehari stelah Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka dan berdaulat. Beberapa
prinsip dasar sistem presidensial yang sudah dirumuskan dalam kosntitusi UUD 1945
diantaranya adalah posisi presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, posisi
presiden dan parlemen yang bersifat mandiri, dan kekuasaan presiden membentuk kabinet.
Karakteristik itu disebabkan faktor sistem politik yang sedang berlaku maupun faktor
corak kepemimpinan saat itu. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, sistem presidensial
lebih diposisikan sebagai sistem percobaan bagi negara yang sedang mencari bentuk
menjalankan demokrasi yang sangat fluktualif. Bahkan berdasarkan konsensus para elite
politik saat itu, sistem presidensial sempat diganti dengan sistem parelementer. Era
pemerintahan Presiden Soeharto, sistem presidensial diterapkan secara pincang tanpa disertai
checks and balances antara presiden dan parlemen. Substansi sistem presidensial tenggelam
dibawah penguasa yang otoriter dan hanya dijadikan sebagai simbol tanpa roh sistem
pemerintahan. Sistem presidensial mulai mengalami metamorfosisi ketika diterapkan diera
reformasi seiring dengan diamandemennya UUD 1945.
Kesimpulan
Jadi, pada kesimpulannya adalah bahwa sistem Presidensil dan sistem Multipartai dapat
menimbulkan kerapuhan dalam kondisi Politik di Indonesia. Karena saat ini Partai-partai masih
terfragmentasi yaitu masih mudahnya adanya perpecahan dalam kubu partai sehingga dapat
menimbulkan partai baru. Pelembagaan partai yang masih lemah. Selain itu Koalisi yang
mementingkan sebuah kekuasaan dari pada Ideologi Partai. Dapat menimbulakan sebuah
pemerintahan Terbelah. Inilah yang saat ini terjadi dalam Indonesia era kepemimpinan Jokowi-
JK. Dimana Pemerintahan terbelah telah terjadi yaitu kekuasaan legislatif yang dikuasai oleh
Oposisi Pemerintahan Jokowi-JK. Selain itu bisa saja terjadinya pemakzulan Presiden oleh
partai. Dan adanya sebuah Kompromi Partai yang saat ini juga masih terjadi. Kompromi partai
adalah sebuah kepentingan partai jauh lebih penting dari pada kepentingan profesional
sehingga Hak Progresif Presiden menjadi hilang. Contohnya dalam penyusunan Kabinet dan
Resufle Kabinet. Dimana Partai Koalisi berperan dalam mengurusi itu. Disaat Partai tidak
dilibatkan dalam penyusunan kabinet dan nama orang partai yang dapat masuk ke kabinet maka
partai bisa saja oposisi dan malah berbalik menyerang Presiden. Selain itu dalam fenomena
pemerintahan terbelah juga dapat menimbulkan sebuah pengawasan terhadap eksekutif yang
sangat ketat sehingga pemerintahan menjadi tidak efektif. Memang sangat sulit dengan kondisi
yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Indonesia adalah negara berkembang yang masih
menganut sebuah multipartai sehingga memang mengandalkan sebuah koalisi dalam partai
untuk mengusung salah satu calon dalam pemilihan Presiden. Namun semua itu dapat
dikategorikan dalam sistem Presidensil yang memiliki empat tipologi. Dimana empat tipologi
ini akan mencirikan apakah Indonesia dengan dipimpin Presiden Jokowi dapat menciptakan
Presidensil yang Efektif, ataukan Akomodatif, Konfrontatif atau malah justru Setengah Hati
atau reduktif. Kita telah mengalami sebuah era kepemimpinan SBY yang mungkin bisa di
simpulkan sendiri kira-kira SBY adalah Presiden yang seperti apa dalam memimpin Indonesia
dalam sistem Presidensil. Dan sekarang era Jokowi juga demikian kira-kira Jokowi termasuk
dapat menjalankan sistem Presidensil dengan kategori yang seperti apa.
Penguatan Trias Politika
Indonesia merupakan negara hukum, hal tersebut telah ditegaskan dalam konstitusi,
penegasan negara Indonesia merupakan negara hukum tercantum pada pasal 1 ayat (3)
Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Hal tersebut menunjukan bahwa artinya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun penyelenggaraan pemrintahan terdepat
aturan- aturan hukum yang berfungsi untuk mengatur segala tindak laku kehidupan di negara
Indonesia.
Sebagai bangsa yang merdeka Indonesia jelas memiliki tujuan dalam berkehidupan
pada negara ini. Tujuan negara Indonesia telah jelas tercantum pada pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia di alinea ke empat.
Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan negara yang menganut prinsip
demokrasi konstitusional menegaskan tujuan negara Indonesia adalah: (1) Melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) Memajukan kesejahteraan umum;
(3) Mencederdaskan kehidupan bangsa; (4) Mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.[1]
Dalam rangka mencapai tujuan yang telah dijelaskan diatas, diperlukan adanya aparat
yang berwenang dalam melaksanakan tugasnya untuk pencapaian suatu negara hukum yang
bermartabat.
Untuk mencapai negara hukum yang bermartabat idealnya dimulai dari dalam bangsa
dahulu untuk menciptakan stabilitas kehidupan negara demi tercapainya negara hukum yang
bermartabat. Bangsa yang bermartabat (prestigeous nation) menandai tingkat keberadaban
suatu bangsa (civilized nation) yang tergambar dalam sikap dan perilaku sebagai individu dan
masyarakat yang beragama dan berbudaya juga dalam menjaga kehidupan sesama manusia.
Untuk memahami tentang negara hukum dengan baik, terlebih dahulu dibahas
mengenai definisi dan ide awal tentang negara hukum. Ide lahirnya konsep negara hukum
berawal ketika Plato melihat keadaan negaranya yang dipimpin oleh pimpinan yang haus akan
harta, kekuasaan dan haus akan kehormatan. Pemerintah sewenang- wenang terhadap rakyat
dan tidak memperhatikan penderitaan rakyatnya.[2]
Dari permasalahan yang dikemukakan Plato, dapat dipahami bahwa arti dari konsep
negara hukum adalah negara yang berlandaskan atas hukum dan keadilan bagi warganya.
Dalam artian bahwa segala kewenangan dan tindakan alat- alat perlengkapan negara atau
penguasa, semata- mata berdasarkan hukum atau dengan kata lain dalam pelaksanaan
kewenangannya diatur oleh hukum, dan hal tersebut akan mencerminkan sautu keadilan bagi
kehidupan warga negara dalam suatu negara.[3]
Menurut Prof. Dr. Sudargo Gautama, SH, terdapat tiga ciri- ciri atau unsur dari negara
hukum, yakni:[4]
1. Terdapat pembatasan kekuatan negara terhadap perorangan, maksudnya negara tidak
dapat bertindak sewenang- wenang, tindakan negara dibatasi oleh hukum, individu
mempunyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak terhadap penguasa.
2. Azas Legalitas, maksudnya setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah
diadakan terlebih dahulu yang harus ditaati juga oleh pemerintah atau aparaturnya.
3. Pemisahan kekuasaan, dimaksudkan agar hak asasi benar- benat terlindungi adalah dengan
pemisahan kekuasaan yaitu badan yang membuat peraturan perundang- undangan,
melaksanakan, mengadili harus terpisah satu sama lain tidak berada dalam satu tangan.
Imanuel Kant sendiri berpendapat bahwa dalam teorinya “negara hukum”. Bahwa
tujuan negara adalah menegakkan hak- hak dan kebebasan warga negaranya.
Untuk mencapai jaminan atas hak- hak dan kebebasan itu sebagai sistem Trias
Politicamaka harus diadakan pemisahan kekuasaan yang oleh Imanuel Kant sendiri disebut
sebagai potestas legislatora, recoria et judiciare, dimana satu dan yang lainnya harus
seimbang.
Trias Politica sendiri pertama kali dikembangkan oleh John Locke, kemudian
disempurnakan’ oleh Montesquieu dilandasi oleh pemikiran bahwa kekuasaan yang memusat
pada pihak tertentu akan cenderung disalahgunakan. Oleh karena itu, muncul ide agar
kekuasaan negara dipisah dan dibagi kepada lembaga negara yang berbeda, sehingga ada
mekanisme kontrol secara sistemik.
Montesquieu sendiri membagi tiga pemisahan kekuasaan berupa:
1. Fungsi Legislatif;
2. Fungsi Eksekutif;
3. Fungsi Yudikatif
Pemisahan kekuasaan, dapat dipahami sebagai doktrin konstitusional atau doktrin
pemerintahan yang terbatas dan membagi kekuasaan pemerintahan ke dalam cabang kekuasaan
legislatif, eksekutif dan yudikatif. Ketiganya saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan
dalam pengertian check and balances, yang mengatakan bahwa masing- masing cabang
pemerintahan membagi sebagian kekuasaannya pada cabang lain dalam rangka membatasi
tindakan- tindakannya. Ini berarti kekuasaan dan fungsi dari masing- masing cabang adalah
terpisah dan dijalankan oleh orang yang berbeda, tidak ada agen tunggal yang dapat
menjalankan otoritas penuh karena masing- masing bergantung satu sama lain.kekuasaan yang
terbagi ini adalah mencegah absolutisme atau diktator ketika semua cabang terpusat pada satu
otoritas atau mencegah korupsi kekuasaan yang timbul karena kemungkinan kekuasaan tanpa
pengawasan.[5]
Membahas permasalahan kebebasan dan hak- hak yang dapat diperoleh erat kaitannya
dengan sistem demokrasi maupun pelaksanaan Hak Azasi Manusia dalam suatu negara demi
menjamin kebebabasan masyarakat dalam bertindak namun tetap pada koridor hukum yang
telah ditetapkan.
Demokrasi dipahami sebagai sebuah ruang lingkup yang sangat luas.Apapun
bentuknya, fenomena demokrasi sangat menarik untuk dibicarakan.Apalagi jika dikaitkan
dengan kenyataan, bahwa negara Indonesia merupakan negara yang masih menjadikan proses
demokratisasi sebagai sebuah tumpuan. demokrasi tidak akan berjalan dengan efektif tanpa
berkembangnya kebebasan ataupun hak individu maupun kelompok.
Demokrasi pertama- tama merupakan gagasan yang mengandaikan bahwa kekuasaan
itu adalah dari, oleh dan untuk rakyat. Dalam pengertian yang lebih partisipatif demokrasi itu
bahkan disebut sebagai kekuasaan dari, oleh, untuk dan bersama rakyat, dan karena itulah
rakyat yang sebenarnya menentukan dan memberi arah serta sesungguhnya menyelenggarakan
kehidupan kenegaraaan. Keseluruhan penyelenggaraan negara itu pada dasarnya juga
diperuntukan bagi seluruh rakyat itu sendiri. Bahkan negara yang baik diidealkan pula agar
diselenggarakan bersama rakyat dalam arti melibatkan masyarakat yang seluas- luasnya.[6]
Dikaitkan dengan HAM dalam kehidupan benegara, Demokrasi dan HAM merupakan
konsepsi kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban manusia di
seluruh penjuru dunia. Demokrasi dan HAM juga dapat dimaknai sebagai hasil perjuangan
manusia untuk mempertahankan dan mencapai harkat kemanusiaannya.[7]
Konsepsi Demokrasi dan HAM dalam perkembangannya sangat terkait dengan negara
hukum. Dalam suatu negara hukum, sesungguhnya yang memerintah adalah hukum, bukan
manusia. Hukum dimaknai sebagai kesatuan hierarkis tatanan norma hukum yang berpuncak
pada konstitusi.[8]
Sebagaimana telah dirumuskan dalam naskah perubahan kedua Undang- Undang Dasar
1945, ketentuan mengenai hak asasi manusia telah mendapatkan jaminan konstitusional yang
sangat kuat dalam Undang- Undang Dasar. Jika dirumuskan kembali, maka materi yang sudah
diadopsikan ke dalam Undang- Undang Dasar pada pasal 27.[9]
Kembali ke persoalan Negara Indonesia, saat ini Indonesia menganut konsep Trias
Politica yang berujung pada kekuasaan yang terletak pada legislatif, eksekutif maupun
yudikatif. jika dikaitkan ketiga lembaga tersebut memiliki peranan penting dalam melakukan
perannya masing- masing demi mencapai suatu negara hukum yang demokratis serta
menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia untuk dapat menjadi negara hukum yang bermartabat.
Pelaksanaan Konsep Trias Politica di Indonesia
Sebagai negara demokrasi Indonesia menerapkan trias politica, trias politica sendiri
seperti yang sudah dibahas adalah pembagian kekuasaan pemerintah menjadi tiga bidang yang
memilki kedudukan sejajar. Ketiga bidang tersebut dalam artian secara umum adalah:[10]
1. Legislatif, yang bertugas membuat undang- undang
2. Eksekutif, bertugas menerapkan atau melaksanakan Undang- Undang
3. Yudikatif, bertugas mempertahankan pelaksanaan Undang- Undang
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemisahan
kekuasaan dapat dibedakan menjadi pemisahan kekuasaan dalam arti material dan pemisahan
kekuasaan dalam arti formal. Pemisahan kekuasaan dalam arti material adalah pemisahan
kekuasaan secara tegas dalam tiga cabang kekuasaan, artinya antara kekuasaan legislatif,
kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan Yudikatif benar-benar terlepas antara tugas cabang yang
satu dengan cabang lainnya. Tidak boleh ada hubungaan kerjasama yang dapat menimbulkan
penyimpangan pelaksanaan kekuasaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Prinsip pemisahan kekuasaaan yang dianut dalam Undang- Undang Dasar disertai
prinsip hubungan saling mengawasi dan mengimbangi antar lembaga negara, kekuasaan
legislatif dipegang oleh DPR dan DPD. DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan
fungsi pengawasan terhadap pemerintahan.
Pasca amandemen UUD 1945,ada beberapa lemabag baru yang muncul khususnya
pada kekuasaan legislatif dan kekusaan yudikatif, seperti adanya Komisi Yudisial, Dewan
Perwakilan Daerah serta Mahkamah Konstitusi.
Komisi yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim
agung dan memiliki kewenangan lain dalam rangka menjaga, menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat serta perilaku para hakim. Melalui lembaga ini diharapkan muncul
putusan- putusan hukum yang dapat mewujudkan penegakan hukum dan mencapai keadilan
melalui hakim yang mengeluarkan putusan.[11]
Hadirnya DPD juga dimaksudkan untuk a) memperkuat ikatan daerah- daerah dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; b) meningkatkan agregasi dan akomodasi aspirasi
dan kepentingan daerah dalam perumusan kebijakan daerah; c) mendorong percepatan
demokrasi, pembangunan dan kemajuan daerah secara serasi dan seimbang.[12]
Begitupun dengan adanya Mahkamah Konstitusi yang diberi wewenang untuk
mengadili pada tingkat pertama dan akhir serta kekuatan hukum dari putusannya bersifat final
untuk menguji undang- undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus pembubaran partai politik dan
memutus tentang perselisihan tentang hasil pemilu. Selain itu, Mahakamah Konstitusi wajib
memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan
Wakil Presiden menurut UUD.[13]
Setelah perubahan Undang- Undang Dasar 1945 sebagi bagian dari purifikasi sistem
pemerintahan presidensial, Pasal 20 ayat (1) Undang- Undang Dasar 1945 dapat dikatkan
sebagai upaya menempatkan fungsi legislasi sebagai hak ekslusif lembaga legislatif, yaitu
dengan menyatakan bahwa DPR memegang kekuasaan membentuk Undang- Undang.[14]
Dengan berkembangnya gagasan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat,maka badan
legislatif menjadi badan yang berhak menyelenggarakan kedaulatan itu dengan jalan
menentukan kebijakan umum dan menuangkannya kedalam undang-undang. Sehingga badan
eksekutif hanya berperan sebagai penyelenggara dari kebijakan umum.
Beberapa perubahan dalam sistematika kinerja DPR berawal dari asumsi executive
heavy pada zaman orde baru, oleh karena itu diperkenalkanlah berbagai paradigma baru
tentang jabatan Presiden. Paradigma- paradigma tersebut mencakup paradigma tata cara
mengisi jabatan presiden ( dan wakil presiden), check and balances, pembatasan dan sistem
penindakan terhadap presiden (dan wakil presiden). Melalui paradigma- paradigma baru
tersebut di satu pihak dapat mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan di pihak lain untuk
menjamin tegaknya prinsip- prinsip demokrasi dan negara hukum.[15]
DPR sebagai lembaga legislatif adalah badan atau lembaga yang berwenang membuat
undang-undang dan sebagai kontrol terhadap pemerintahan atau eksekutif sedangkan
Kekuasaan eksekutif merupakan lembaga penyelenggara negara yang bertugas menjalankan
roda pemerintahan. Dari fungsinya tersebut maka pihak legisaltif dan eksekutif dituntut untuk
melakukan kerjasama, apalagi di Indonesia memegang Prinsip pembagian kekuasaan. Dalam
hal ini, maka tidak boleh ada suatu kekuatan yang mendominasi. Berfungsinya pengawasan
tersebut akan memberikan warna dinamika hubungan antara eksekutif dengan legislatif,
dimana secara garis besar dinamika tersebut terpola dalam hubungan yang seimbang antara
eksekutif dengan legislatif dan hubungan yang dominatif dari legislatif atas eksekutif. Posisi
seimbang dapat terjadi apabila eksekutif dan legisaltif masing-masing memiliki posisi tawar-
menawar yang seimbang.
Sesuai dengan konsep dasarnya check and balances bertujuan saling mengawasi agar
masing- masing cabang kekuasaan yang terpisah tidak sewenang- wenang dan sebagai cara
meningkatkan mutu ( kualitas) putusan. Dalam konteks perubahan Undang- Undang Dasar
1945, konsep check and balances dimaksudkan untuk penguatan DPR agar ada keseimbangan
dengan kekuasaan presiden. Hal ini dapat dilakukan dilakukan dengan mengurangi kekuasaan
presiden atau menambah kekuasaan DPR tanpa mengurangi kekuasaan presiden.[16]
Check and balances antara eksekutif dan legilatif merupakan instrumen menjaga atau
mencegah tindakan sewenang- wenang, tindakan melampaui wewenang atau tindakan tanpa
weweanang dalam sistem presidensil untuk menjamin kelangsungan penyelenggaraan negara
dan pemerintahan secara demokratis, negara hukum dan berdasarkan konstitualisme. Dalam
sistem parlementer tidak perlu sistem check and balances karena ada hubungan pertanggung
jawaban eksekutif kepada legislatif yang dijalankan melalui sistem pengawasan. Pada sistem
presidensil, Legislatif dan eksekutif berdiri sendiri, terpisah satu sama lain,kecuali
dalam check and balances. Kalaupun ada pengawasan dilakukan secara tidak langsung melalui
penggunaan hak anggaran dan kekuasaan membentuk Undang- Undang.[17]
Begitupun dengan kekuasaan yudikatif menurut UUD 1945 pasca amandemen
menyatakan kekuasaan kehakiman merupaan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Untuk merealisasikan
harpan tersbut, maka dibutuhkan adanya badan- badan atau lembaga peradilan yang sanggup
bekerja dengan penuh profesionalitas dan integritas tinggi guna menegakkan hukum di
Indonesia.[18]
Penguatan Konsep Trias Politica Dalam Rangka Mewujudkan Negara Hukum
Yang Bermartabat.
Berbagai kalangan berpendapat bahwa terjadinya krisis di Indonesia saat ini bermuara
kepada ketidak jelasan konsep yang dibangun oleh UUD 1945, tidak adanya check and
balances antara alat kelengkapan negara. Hal tersebut memang beberapa kali terjadi sehingga
seperti ada kedigdayaan pad asalah satu alat kelengkapan negara, hal tersebut jelas tidak cukup
baik dalam efektivitas penyelenggaraan negara, dikarenakan ketika adanya kekuatan besar
yang terpusat, maka kekuatan besar tersebut dapat saja menghambat kinerja alat kelengkapan
negara yang lain.
Seperti contoh, secara subtantif, UUD 1945 banyak sekali mengandung kelemahan. Hal
itu dapat diketahui antara lain, kekuasaan eksekutif terlalu besar tanpa ada disertai
prinsip check and balances yang memadai, sehingga hal tersebut dikenal dengan executive
heavy.[19]
Berbicara masa pemerintahan era sekarang di Indonesia, penguatan hubungan tiga
kelembagaan ini mutlak dibutuhkan meskipun secara konsep trias politica juga dibuthkan
adanya pemisahan kekuasaan dari legislatif, eksekutif dan yudikatif agar tidak terjadi tumpang
tindih wewenang yang justru berakibat kebingungan masyarakat dalam melihat kinerja dari
tiga kekuasaan yang seharusnya menjadi penopang kehidupan bangsa dan bernegara.
Melihat minimnya dukungan Presiden di parlemen saat ini, hubungan baik antara
legislatif dan eksekutif sangat dibutuhkan demi menopang dan mensukseskan program-
program yang memiliki potensi positif terhadap kemajuan negara.
Jangan terkesan dengan adanya sentimen politik yang ada di parlemen justru menjadi
penghambat eksekutif dalam menjalankan programnya, begitupun sebaliknya, jika ada
sentimen sepertinya hal tersebut juga jangan sampai eksekutif menerobos kewenangan demi
menjalankan program yang telah dirancang namun tanpa prosedural yang berlaku.
Menurut Montesquieu, masing-masing fungsi pemerintahan mempunyai posisi tidak
saling menjatuhkan. Keduanya melakukan tugas sesuai fungsinya. Legislatif, eksekutif dan
yudikatif mempunyai kedudukan seimbang (checks and balances).
Ketiga cabang kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif itu sama- sama sederajat
dan salimg mengontrol satu sama lain sesuai prinsip check and balances. Dengan adanya
prinsip check and balances ini maka kekuasaan negara dapat diatur, dibatasi bahkan dikontrol
dengan sebaik- baiknya sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penyelenggara negara
maupun secara pribadi yang kebetulan sedang menduduki jabatan dalam lembaga negara yang
bersangkutan dapat dicegah dan ditanggulangi dengan sebaik- baiknya.[20]
Dengan adanya kesimbangan diantara ketiganya maka permasalahan- permasalahan
dalam ketatanegaraan Indonesia tidak akan menjadi pelik dan memiliki efek positif dalam
penegakan supremasi hukum, peningkatan ekonomi serta hal lain yang diinginkan demi
tercapainya suatu negara hukum yang bermartabat.
Keutuhan dan hubungan baik diantara ketiga lembaga tersebut dapat menjadi awal dan
fondasi terciptanya seluruh cita- cita negara Indonesia yang telah diidamkan seluruh warga
negara dan semakin menegaskan eksestensi Indonesia dalam hubungan ke luar negeri karena
memiliki intern ketatanegaraan yang kuat. sehingga Indonesia benar- benar menjadi Negara
hukum yang bermartabat.
Referensi :
[1] Ni’matul Huda, 2010, Ilmu Negara, Jakarta, Rajawali Pers. Halaman 57
[2] Abdul Aziz Hakim, 2011, Negara Hukum Dan Demokrasi Di Indonesia, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar, Halaman 115
[3] Ibid
[4] Ibid, Halaman 117- 118
[5] Ibid. Halaman 67- 68
[6] Jimly Asshiddie, 2005,Hukum Tata Negara dan Pilar- Pilar Demokrasi, Jakarta,
Konstitusi Press, Halaman 241
[7] Ibid, Halaman 198
[8] Ibid. Halaman200
[9] Ibid, Halaman 201
[10] Kaka Alvian Nasution, 2014, Lembaga- Lembaga Negara, Yogyakarta, Saufa, Halaman
8
[11] Ni’matul Huda, 2005 Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
Halaman 112-113
[12] Ibid. Halaman 114
[13] Ibid. Halaman 115
[14] Saldi Isra,2010, Pergeseran Fungsi Legislasi (Menguatnya Model Legislasi Parlementer
Dalam Sistem Presidensil Indonesia), Jakarta, Raja Grafindo Persada, Halaman 210
[15] Bagir Manan, 2014, Memahami Konstitusi: Makna dan Aktualisasi, Jakarta, Raja
Grafindo Persada, Halaman 87
[16] Ibid, Halaman 84
[17] Ibid, Halaman 88
[18] Nomensen Sinamo, 2014, Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta, Permata Akasara,
Halaman 82
[19] Ni’matul Huda, 2005 Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
Halaman 105
[20] Ibid, Halaman 115