Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA

(Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan)

Dosen Pengampu : Adjat Sudrajat

oleh :

Ayi Asma Fauziah (1187020006)

Dwinda Andini (1187010017)

Hilyah Aulia (1187020000)

Laila Nur Fadhilah (1187020038)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat
pada waktunya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai “Implementasi Nilai-nilai Pancasila
dalam Kehidupan Sehari-hari di Masyarakat”.

Makalah ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak untuk membantu
menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih yang kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat memberikan
contoh tentang implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Selain itu, kami meminta kritik dan sarannya untuk kebaikan dalam menyusun makalah di
kemudian hari.

Bandung, 3 oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii

A. BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1

1. Latar Belakang ..................................................................................................................... 1

2. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 1

3. Tujuan .................................................................................................................................. 1

4. Manfaat ................................................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 2

A. Pengertian pancasila............................................................................................................. 2

B. Implementasi nilai-nilai pancasila ..................................................................................... 11

BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 17

A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 17

B. Saran .................................................................................................................................. 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara yuridis-konstitusional kedudukan Pancasila sudah jelas, bahwa Pancasila adalah
pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia, dan sebagai ideologi nasional.
Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang kebenarannya
diakui, dan menimbulkan tekad untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah telah
mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan
hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin
yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu
diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur yang
terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta
setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah terbentuknya Pancasila?
2. Bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat?
C. Tujuan
1. Mengetahui sejarah terbentuknya Pancasila.
2. Mengetahui penerapan / implementasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari di masyarakat
D. Manfaat
1. Memberikan informasi tentang sejarah terbentuknya Pancasila.
2. Memberi contoh penerapan/ implementasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari yang telah diterapkan oleh masyarakat di masa sekarang.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian pancasila
1. Pengertian Pancasila secara Etimologis
Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta dari India. Menurut Muhammad Yamin, dalam
bahasa Sansekerta kata Pancasila memiliki dua macam arti secara leksikal, yaitu : pañca berarti
lima dan śīla berarti prinsip, asas, batu sendi, alas, dasar, peraturan tingkah laku yang
baik/senonoh. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara etimologis kata Pancasila berasal dari Pancasila yang memiliki arti secara harfiah
dasar yang memiliki lima unsur. Kata Pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan Budha di
India. Dalam ajaran Budha terdapat ajaran moral untuk mencapai nirwana dengan melalui
Samadhi dan setiap golongan mempunyai kewajiban moral yang berbeda. Ajaran moral tersebut
adalah Dasasyiila, Saptasyiila, Pancasyiila.

Pancasila lahir sebagai produk kebudayaan Indonesia dan bukan penarikan atau sublimasi
dari negara lain. Istilah “Pancasila” pertama kali dapat ditemukan dalam buku “Sutasoma” karya
Mpu Tantular yang ditulis pada zaman Majapahit (abad ke-14). Dalam buku itu istilah Pancasila
diartikan sebagai perintah kesusilaan yang jumlahnya lima (Pancasila karma) dan berisi lima
larangan untuk :

a) Melakukan kekerasan;
b) Mencuri;
c) Berjiwa dengki;
d) Berbohong; dan
e) Mabuk akibat minuman keras.

Selanjutnya, istilah “sila” itu sendiri dapat diartikan sebagai :

a) Aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa;


b) Kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun);
c) Dasar adab;
d) Akhlak; dan

2
e) Moral.
2. Pengertian Pancasila secara Historis
Pembahasan historis Pancasila dibatasi pada tinjauan terhadap perkembangan rumusan
Pancasila sejak tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan keluarnya Instruksi Presiden RI No.12
Tahun 1968.
3. Sejarah Terbentuknya Pancasila

Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh
Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak,
maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada
bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat
Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura).

Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan
mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat
dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.

Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang pertama
pada tanggal 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini yang dibicarakan khusus
mengenai calon dasar negara untuk Indonesia merdeka nanti. Pada sidang pertama itu, banyak
anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah Muhammad Yamin dan Bung Karno, yang
masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka. Muhammad Yamin
mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu:

a) Peri Kebangsaan
b) Peri Kemanusiaan
c) Peri Ketuhanan
d) Peri Kerakyatan
e) Kesejahteraan Rakyat

Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas
lima hal, yaitu:

3
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung
Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:

a) Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)


b) Internasionalisme (Perikemanusiaan)
c) Mufakat atau Demokrasi
d) Kesejahteraan Sosial
e) Ketuhanan yang Berkebudayaan

Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno
mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:

a) Sosio nasionalisme
b) Sosio demokrasi
c) Ketuhanan

Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong
Royong. Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat untuk
membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk dan
memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi
kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945.
Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:

1. Ir. Soekarno

2. Ki Bagus Hadikusumo

3. K.H. Wachid Hasjim

4. Mr. Muh. Yamin

4
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo

6. Mr. A.A. Maramis

7. R. Otto Iskandar Dinata

8. Drs. Muh. Hatta

Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para
anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya
dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas
sembilan orang, yaitu:

1. Ir. Soekarno

2. Drs. Muh. Hatta

3. Mr. A.A. Maramis

4. K.H. Wachid Hasyim

5. Abdul Kahar Muzakkir

6. Abikusno Tjokrosujoso

7. H. Agus Salim

8. Mr. Ahmad Subardjo

9. Mr. Muh. Yamin

Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan
sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal
dengan sebutan “Piagam Jakarta”.

Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah
merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang
menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan.
Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia,

5
yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari
setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1)
mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambule-nya (Pembukaannya) dan (2) memilih
Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan
Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore
hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang
menemuinya.

Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di
belakang kata “ketuhanan” yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya” dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik
memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta
disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam,
antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh.
Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat
Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya “dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang kata Ketuhanan
dan diganti dengan “Yang Maha Esa”.

4. Dasar Hukum Pancasila


Pancasila mulai dibicarakan sebagai dasar negara mulai tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang
BPUPKI oleh Ir. Soekarno dan pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila resmi dan sah menurut
hukum menjadi dasar negara Republik Indonesia. Kemudian mulai Dekrit Presiden 5 Juli
1959 dan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 berhubungan dengan Ketetapan No.
I/MPR/1988 No. I/MPR/1993, Pancasila tetap menjadi dasar falsafah Negara Indonesia hingga
sekarang. Akibat hukum dari disahkannya Pancasila sebagai dasar negara, maka seluruh
kehidupan bernegara dan bermasyarakat haruslah didasari oleh Pancasila. Landasan hukum
Pancasila sebagai dasar negara memberi akibat hukum dan filosofis; yaitu kehidupan negara dari
bangsa ini haruslah berpedoman kepada Pancasila.

6
Falsafah Pancasila sebagi Dasar Negara merupakan nilai dasar spiritual keagamaan,
kemanusiaan, dan kesatuan bangsa yang menjadi landasan dasar dalam pembangunan bangsa
baik pembangunan sumber daya manusia maupun pembangunan fisik. Pancasila kita jadikan
sebagai sumber dari segala sumber hukum. Nilai-nilai Pancasila harus mewarnai secara dominan
setiap produk hukum, baik pada tataran pembentukan, pelaksanaan maupun penegakannya.
Konsep Negara hukum Pancasila itu harus mampu menjadi sarana dan tempat yang nyaman bagi
kehidupan bangsa Indonesia.
5. Pancasila sebagai Ideologi Negara
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu eidos dan logos. Eidos berarti
gagasan dan logos berarti berbicara. Maka secara etimologis ideologi adalah berbicara
tentang gagasan/ ilmu yang mempelajari tentang gagasan. Gagasan yang dimaksud disini
adalah gagasan yang murni ada dan menjadi landasan atau pedoman dalam kehidupan
masyarakat yang ada atau berdomisili dalam wilayah negara di mana mereka berada. Ideologi
adalah kumpulan ide atau gagasan.
Kata ideologi sendiri diciptakan oleh destutt de trascky pada akhir abad ke-18 untuk
mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif,
sebagai cara memandang segala sesuatu, sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan
filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan
kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme). Pancasila sebagaimana kita
yakini merupakan jiwa, kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Disamping itu juga
telah dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahawa Pancasila merupakan sumber kekuatan bagi
perjuangan karena menjadikan bangsa Indonesia bersatu. Karena Pancasila merupakan ideologi
dari negeri kita. Dengan adanya persatuan dan kesatuan tersebut jelas mendorong usaha dalam
menegakkan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ini membuktikan dan meyakinkan tentang
Pancasila sebagai suatu yang harus kita yakini karena cocok bagi bangsa Indonesia.
Dalam beberapa kamus atau referensi, dapat terlihat bahwa definisi idelogi ada beberapa
macam. Keanekaragaman definisi ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang keahlian dan fungsi
lembaga yang memberi definisi tersebut. Keanekaragaman dimaksud antara lain terlihat pada
definisi yang berikut :
a) Definisi idelogi menurut BP-7 Pusat (kini telah dilikuidasi) adalah ajaran, doktrin, teori yang
diyakini kebenarannya yang disusun secara sistematis dan diberi petunjuk pelaksanaan

7
dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam masyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
b) Definisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Maswadi Rauf, ahli ilmu Politik Universitas
Indonesia :

Ideologi adalah rangkaian (kumpulan) nilai yang disepakati bersama untuk menjadi landasan
atau pedoman dalam mencapai tujuan atau kesejahteraan bersama.

Berdasarkan definisi Ideologi Pancasila di atas, dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah
kumpulan nilai/norma yang meliputi sila-sila Pancasila sebagaimana yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945, alinea IV yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

6. Pancasila sebagai Ideologi Negara


a) Pengertian Ideologi :
Berbicara tentang ilmu yang mempelajari tentang gagasan. Ideologi adalah rangkaian nilai
yang disepakati bersama untuk menjadi landasan atau pedoman dalam mencapai tujuan atau
kesejahteraan bersama.Pancasila sebagai Ideologi terbuka diartikan sebagai ideologi yang dapat
mengikuti perkembangan ideologi negara lain yang berbeda.
b) Nilai Pancasila :
- Nilai dasar (representasi norma masyarakat),
- Nilai Instrumental (mengikuti perkembangan jaman),
- Nilai Praktis.

Pengertian sifat dasar Pancasila sebagai ideologi negara diperoleh dari sifat dasarnya yang
pertama dan utama (pokok), yakni dasar negara yang dioperasionalkan secara individual maupun
sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai cita-cita
kemerdekaan Indonesia yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Untuk
mencapai cita-cita itulah Pancasila berperanan sebagai ideologi negara. Sedemikian pentingnya
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara dijelaskan melalui Ketetapan MPR
No.XX/MPRS/1966 (dan berbagai penegasannya hingga kini) sebagai berikut: “Pembukaan
UUD 1945 sebagai Pernyataan Kemerdekaan yang terperinci yang mengandung cita-cita luhur
dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan yang memuat Pancasila sebagai Dasar
Negara merupakan satu rangkaian dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan oleh
sebab itu tidak dapat diubah oleh siapa pun juga, termasuk MPR hasil pemilihan umum, yang

8
berdasarkan pasal 3 UUD berwenang menetapkan dan mengubah UUD, karena mengubah isi
Pembukaan berarti pembubaran negara.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila hanya berperanan sebagai ideologi
negara jika segala tindakan individual maupun sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, yang mencakup aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain,
dilaksanakan secara rasional berdasarkan Pancasila.

Ideologi juga diartikan sebagai kesatuan gagasan-gagasan dasar yang disusun secara
sistematis dan dianggap menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya, baik sebagai individu,
social, maupun dalam kehidupan bernegara. Eksistensi Pancasila sebagai dasar negara, simbol
pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan, harus terus dijaga
kesinambungannya. Tidak ada pilihan lain, Pancasila dan pilar-pilar kehidupan bernegara lainnya
harus terus dimasyarakatkan. terjadinya berbagai konflik kekerasan dan gerakan separatis di
sejumlah daerah di Indonesia adalah cermin belum meresapnya kesadaran nasional di kalangan
masyarakat.

c) Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka :

Pancasila jika dilihat dari nilai-nilai dasarnya, dapat dikatakan sebagai ideologi terbuka.
Dalam ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar, bersifat tetap dan tidak
berubah. Pancasila sebagai Ideologi memberi kedudukan yang seimbang kepada manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat
berinteraksi dengan ideologi yang lain. Artinya, ideologi Pancasila dapat mengikuti
perkembangan yang terjadi pada negara lain yang memiliki ideologi yang berbeda dengan
Pancasila dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan karena ideologi
Pancasila memiliki nilai-nilai yang meliputi:

- Nilai Dasar : Nilai dasar adalah nilai yang ada dalam ideologi Pancasila yang merupakan
representasi dari nilai atau norma dalam masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Nilai
dasar merupakan nilai yang tidak bisa berubah-ubah sepanjangbangsa Indonesia
berpedoman pada nilai tersebut. Contoh nilai dasar adalah sila-sila Pancasila yang ada dalam
alinea IV, UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

9
- Nilai Instrumental : Nilai instrumental adalah nilai yang merupakan pendukung utama dari
nilai dasar (Pancasila). Nilai ini dapat mengikuti setiap perkembangan zaman, baik dalam
negeri maupun dari luar negeri. Nilai ini ini dapat berupa TAP MPR, UU, PP dan peraturan
perundangan yang ada untuk menjadi tatanan dalam pelaksanaan ideologi Pancasila sebagai
pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai dapat berubah sesuai
perkembangan zaman.
- Nilai Praktis : Nilai ini adalah nilai yang harus ada dalam bentuk praktik penyelenggaraan
negara. Sifat ini adalah abstrak. Artinya berupa semangat para penyelenggara negara dari
pusat hingga ke tingkat yang terbawah dalam struktur sistem pemerintahan negara
Indonesia. Semangat yang dimaksud adalah semangat para penyelenggara negara untuk
membangun sila-sila dalam Pancasila secara konsekuen dan istiqomah. Contoh, memberi
teladan untuk tidak KKN, dan lain-lain.
Ciri khas ideologi terbuka ialah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakatnya sendiri.
Dasarnya dari konsensus masyarakat, tidak diciptakan oleh negara, melainkan ditemukan dalam
masyarakatnya sendiri. Oleh sebab itu, ideologi terbuka adalah milik dari semua rakyat dan
masyarakat dapat menemukan dirinya di dalamnya. Ideologi terbuka bukan hanya dapat
dibenarkan melainkan dibutuhkan. Nilai-nilai dasar menurut pandangan negara modern bahwa
negara modern hidup dari nilai-nilai dan sikap-sikap dasarnya.
Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman dan
adanya dinamika secara internal. Sumber semangat ideologi terbuka itu sebenarnya terdapat
dalam Penjelasan Umum UUD 1945. Pancasila berakar pada pandangan hidup bangsa dan
falsafah bangsa, sehingga memenuhi prasyarat sebagai suatu ideologi terbuka. Sekalipun suatu
ideologi itu bersifat terbuka, tidak berarti bahwa keterbukaannya adalah sebegitu rupa sehingga
dapat memusnahkan atau meniadakan ideologi itu sendiri, yang merupakan suatu yang tidak
logis.
d) Fungsi dan Peranan Pancasila :

1) Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia;

2) Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia

3) Pancasila sebagai dasar negara RI;

10
4) Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia;

5) Pancasila sebagai perjanjian luhur Indonesia;

6) Pancasila sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia;

7) Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia;

8) Pancasila sebagai moral pembangunan;

9) Pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.

B. Implementasi nilai-nilai pancasila


1. Implementasi / penerapan Sila Ke-1 :
a) Beriman, dan bertakwa yaitu secara sadar patuh melaksanakan perintah Tuhan. Setiap umat
harus mempelajari agama dan mengamalkannya;
b) Walaupun berbeda agama, rakyat Indonesia harus dapat bekerjasama dalam bidang sosial,
perekonomian, dan keamanan lingkungan;
c) Setiap pemeluk agama tidak boleh menghalangi ibadah agama lain;
d) Mengembangkan toleransi agama sejak dini;
e) Tidak menyebarkan agama kepada manusia yang sudah ber-Tuhan.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu :

a) Kehidupan bernegara bagi Negara Republik Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Maha
Esa;
b) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama serta untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaannnya;
c) Negara menghendaki adanya toleransi dari masing-masing pemeluk agama dan aliran
kepercayaan yang ada serta diakui eksistensinya di Indonesia;
d) Negara Indonesia memberikan hak dan kebebasan setiap warga negara terhadap agama dan
kepercayaan yang dianutnya.

11
Arti dan Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah :

Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan
oleh penciptanya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta wajib melaksanakan perintah Tuhan
dan menjauhi larangan-Nya.

2. Implementasi / penerapan Sila Ke-2 :


a) Sesama manusia tidak boleh saling melecehkan;
b) Sesama manusia punya rasa memiliki (mau berkorban);
c) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban;
d) Tidak semena-mena terhadap orang lain;
e) Mengakui adanya masyarakat majemuk; melakukan musyawarah dan kompromi;
mempertimbangkan moral; berbuat jujur; tidak curang;
f) Gemar kegiatan kemanusiaan: donor darah, menyantuni anak yatim dll ;
g) Mentaati hukum dan tidak diskriminatif.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab,
antara lain :

a) Pengakuan negara terhadap hak bagi setiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri;
b) Negara menghendaki agar manusia Indonesia tidak memeperlakukan sesama manusia
dengan cara sewenang-wenang sebagai manifestasi sifat bangsa yang berbudaya tinggi;
c) Pengakuan negara terhadap hak perlakuan sama dan sederajat bagi setiap manusia;
d) Jaminan kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan serta kewajiban
menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan yang ada bagi setiap warga negara.

Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah :

- Manusia ditempatkan sesuai dengan harkatnya.


- Hal ini berarti bahwa manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan hukum.
3. Implementasi / penerapan Sila Ke-3 :
a) Menempatkan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan ;
b) Berkorban demi negara: bekerja keras, taat membayar pajak, tidak KKN;
c) Cinta tanah air: meningkatkan prestasi di segala bidang ;
d) Bangga sebagai bangsa Indonesia: percaya diri sebagai Orang Indonesia.

12
Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Persatuan Indonesia, yaitu :

a) Perlindungan negara terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia;
b) Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiba dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;
c) Negara mengatasi segala paham golongan dan segala paham perseorangan, serta pengakuan
negara terhadap kebhineka-tunggal-ikaan dari bangsa Indonesia dan kehidupannya.
4. Implementasi / penerapan Sila Ke-4 :
a) Aktif dalam musyawarah, memberikan hak suara, dan mengawasi wakil rakyat ;
b) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;
c) Mengutamakan musyawarah dengan menggunakan akal sehat;
d) Menerima hasil musyawarah apapun hasilnya dan melaksanakan dengan tanggungjawab;
e) Mempunyai itikad baik dalam melakukan sesuatu.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawarata perwakilan, yaitu :

a) Penerapan kedaulatan dalam negara Indonesia yang berada di tangan rakyat dan dilakukan
oleh MPR;
b) Penerapan asas musyawarah dan mufakat dalam pengambilan segala keputusan dalam
negara Indonesia, dan baru menggunakan pungutan suara terbanyak bila hal tersebut tidak
dapat dilaksanakan;
c) Jaminan bahwa seluruh warga negara dapat memperoleh keadilan yang sama sebagai
formulasi negara hukum dan bukan berdasarkan kekuasaan belaka, serta penyelenggaraan
kehidupan bernegara yang didasarkan atas konstitusi dan tidak bersifat absolute.

Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan adalah :

- Permusyawaratan diusahakan agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang diambil


secara bulat.
- Kebijaksaan ini merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan itu memang bermanfaat
bagi kepentingan rakyat banyak.

13
5. Implementasi / penerapan Sila Ke-5 :
a) Mengembangkan perbuatan luhur: saling membantu dan gotong royong;
b) Berbuat adil: tidak pilih kasih ;
c) Menghormati orang lain: tidak menghalangi orang lain hidup lebih baik ;
d) Suka memberi pertolongan: tidak egois dan individualistis;
e) Bekerja keras: tidak pasrah kepada takdir Tuhan;
f) Menghargai karya orang lain: tidak membajak dan membeli produk bajakan;
g) Tidak merusak prasarana umum dan menjaga kebersihan ditempat umum.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Keadlan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, antara lain :

a) Negara menghendaki agar perekonomian Indonesia berdasarkan atas asas kekeluargaan;


b) Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara serta menguasai hajat hidup
orang banyak oleh negara, negara menghendaki agar kekayaan alam yang terdapat di atas
dan di dalam bumi dan air Indonesia dipergunakan untuk kemakmuran rakyat banyak;
c) Negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia mendapat perlakuan yang adil di
segala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual;
d) Negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia memperoleh pengajaran secara
maksimal;
e) Negara Republik Iindonesia mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran
nasional yang pelaksanaannya diatur berdasarkan Undang-Undang;
f) Pencanangan bahwa pemerataan pendidikan agar dapat dinikmati seluruh warga negara
Indonesia menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga;
g) Negara berusaha membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah :

- Keadilan berarti adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain.
- Jadi seseorang bertindak adil apabila dia memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai
dengan haknya.

Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Nilai tersebut
mengantarkan kita untuk melakukan segala sesuatunya dalam rangka menjalankan kehidupan

14
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa
Indonesia. Nilai tersebut akan bermanfaat apabila nilai itu diterapkan atau diimplementasikan
secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi tersebut dapat diwujudkan dengan
perilaku kita sebagai masyarakat selaku subyek pelaku implementasi.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dapat dijabarkan melalui sila-silanya. Contohnya


adalah penerapan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” yaitu dengan shalat berjamaah,
toleransi antar umat beragama, dan membina kerukunan antar umat beragama. Contoh penerapan
sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” yaitu tolong menolong dalam masyarakat.
Contoh penerapan sila ketiga “Persatuan Indonesia” yaitu tidak membuat kerusuhan atau perang
antar suku. Contoh sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan” adalah ikut serta dalam Pemilu. Contoh penerapan sila kelima
“Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” adalah berlaku adil dalam semua aspek dalam
kehidupan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa satu kegiatan dapat mencerminkan
implementasi dari semua sila Pancasila. Seperti contoh membantu sesama itu dapat
mencerminkan penerapan sila 1,2,3,4, dan 5 dari Pancasila, karena antar sila-sila dalam Pancasila
itu terdapat suatu keterkaitan yang kuat yang tak terpisahkan dimana apabila salah satu nilai dari
sila tersebut diamalkan, maka nilai-nilai sila yang lainpun akan teramalkan pula.

Indonesia kini berada di era globalisasi yang memungkinkan segala sesuatunya dapat
diakses dengan begitu mudahnya, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun. Hal tersebut
menyebabkan banyak informasi dam budaya dari luar Imdonesia dapat masuk dengan mudah.
Tentu masuknya hal tersebut memiliki dampak positif dan dampak negatif sebagai konsekuensi
yang harus diterima oleh semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
komunikasi. Apabila produk globalisasi tersebut membawa dampak yang baik dalam artian
positif, kita bisa menerima dan menyambut baik serta menyesuaikan hal tersebut untuk dapat
diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Akan tetapi apabila itu membawa dampak
yang tidak baik dalam artian dapat menimbulkan pengaruh negatif, kita sebagai warga negara
Indonesia tidak boleh langsung menerimanya begitu saja. Kita harus melakukan penyaringan
secara selektif agar dampak negatifnya tidak masuk ke dalam masyarakat Indonesia. Filter yang

15
dapat kita gunakan adalah Pancasila. Apabila hal tersebut sudah sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila maka hal tersebut boleh diterapkan.

Walaupun sudah ada Pancasila yang berfungsi sebagai filter, tetapi kenyataan bahwa
nilai-nilai dari sila-sila Pancasila yang sudah mulai tidak diterapkan atau dalam artian sudah
banyak terjadi penyimpangan terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila tidak dapat dipungkiri
lagi. Hal ini terjadi kebanyakan pada kalangan muda. Banyak generasi muda yang terkena
dampak negatif dari globalisasi yang akhirnya melakukan tindakan negatif seperti minum-
minuman keras, mengonsumsi narkoba, seks bebas, kurang santun dalam bertindak, dan lain
sebagainya. Di kalangan masyarakat umum juga tejadi banyaktindak kriminal, korupsi,
dekadensi moral, dan hal negatif lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Implementasi dari nilai-nilai Pancasila akan dapat terlaksana dengan baik dengan adanya
kemauan kita untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut untuk perbaikan kehidupan di
masyarakat dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup. Penanaman akan pentingnya
implementasi nilai-nilai Pancasila yang baik harus ditanamkan sejak dini. Penanaman itu dapat
dimulai dengan pemberian contoh perilaku yang sesuai dengan nilai Pancasila di lingkungan
keluarga, lalu diterapkan di masyarakat. Penanaman akan pentingnya Pancasila juga dapat
dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun non formal, contohnya adalah dengan adanya
pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) di tingkat sekolah dan mata kuliah Pendidikan
Pancasila di tingkat perguruan tinggi.

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nilai-nilai luhur dari sila-sila Pancasila dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah,
yang mewakili kepribadian bangsa Indonesia. Akan tetapi dewasa ini penerapan atau
implementasi nilai-nilai Pancasila sudah mulai luntur, yang diakibatkan semakin pesatnya arus
globalisasi, dekadensi moral, dan sebagainya. Sebenarnya akan dapa tercipta kehidupan
masyarakat Indonesia yang baik apabila nilai-nilai Pancasila tersebut diamalkan sebgan baik
pula. Apabila salah satu sila Pancasila diterapkan, maka nilai dari sila yang lain akan terlaksana
juga karena antar sila yang satu dengan sila yang lain dalam Pancasila memiliki keterkaitan yang
kuat. Pancasila dapat berfungsi sebagai filter untuk menyaring pengaruh buruk dari luar agar
tidak masuk kedalam masyaraka Indonesia. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah
penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini, bisa melalui keluarga dan masyarakat, ataupun
melalui pelajaran PKn dan kuliah Pendidikan Pancasila.

B. Saran
Hendaknya kemauan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara baik
ditumbuhkan dalam diri pribadi manusia Indonesia, ditanamkan dalam jiwa pemuda Indonesia,
lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi insan yang pancasilais.

17