Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Enterobacteriaceae adalah kelompok batang gram negatif yang besar dan heterogen, dengan
habitat alaminya di saluran cerna manusia dan hewan (Brooks et al, 2008). Kebanyakan
Enterobacteriaceae merupakan flora normal pada saluran pencernaan meskipun ada juga yang
beberapa tersebar luas di lingkungan sekitar.Enterobacteriaceae dapat menyebabkan beberapa
penyakit infeksi seperti septikemia, infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia, kolesistitis,
kolangitis, peritonitis, meningitis dan gastroenteritis (Brooks et al, 2008).
Familinya memilki banyak genus (Escherichia, Shigela, Salmonella, Enterobacter,
Klebsiella, Serratia, Proteus, dan lain-lain). Enterobacteriaceae terdiri dari 25 genus dan 110
spesies, namun hanya hanya 20-25 spesies yang memiliki arti klinis, dan spesies lainnya jarang
ditemukan (Brooks et al, 2008). Berikut adalah beberapa genus dari famili Enterobacteriaceae:
a. Enterobacter
Enterobacter terdiri dari 11 spesies, tetapi hanya 8 spesies yang berhasil diisolasi
dari material klinis. Mereka memfermentasikan glukosa dan juga menghasilkan asam dan
gas. Pada umumnya Enterobacter memliki flagel peritrik. Beberapa strain Enterobacter
yang memilki antigen K mempunyai kapsul sebagai pelindung dari bakteri (Brooks et al,
2008).
Escherichia terdiri dari enam spesies dimana empat diantaranya dikenal sebagai
penyebab penyakit pada manusia. Spesies yang paling banyak diisolasi adalah Escherichia
coli E. coli merupakan spesies yang bersifat fakultatif anaerob yang paling banyak terdapat
di saluran cerna manusia (109CFU/g feses) sehingga ditemukannya bakteri tersebut pada
jumlah tertentu dapat dijadikan sebagai indikator dari kontimanisasi fekal pada makanan
maupun minuman. Beberapa strain dari E. coli menghasilkan enterotoksin atau faktor
virulensi lainnya. Serotipe dan kelompok patogenitas dari E.coli dibuat berdasarkan
lipopolisakaridanya (O) dan antigen flagelanya (H). (Brooks et al, 2008)
b. Klebsiella
Genus Klebsiella terdiri dari lima spesies dan empat subspesies Seperti E.coli,
Klebsiella spesies biasanya ditemukan di traktus gastrointestinal manusia (104CFU/ g
feses). Faktor virulensi yang paling utama dari Klebsiella adalah kapsul polisakaridanya,
yang menyebabkan permukaan koloninya menjadi berlendir (mucoid). Klebsiella
pneumoniae adalah spesies yang paling banyak diisolasi dari infeksi pada manusia karena
dapat menyebabkan infeksi nosokomial seperti infeksi saluran kemih (ISK), septikemia,
kolesistitis, dan lain-lain (Brooks et al, 2008)
c. Proteus
Proteus terdiri dari empat spesies, dimana tiga diantaranya dapat menyebabkan
penyakit. Semua strain dari Proteus bersifat urease positif dan motil (NHS, 2014). Proteus
sering menjadi penyebab infeksi saluran kemih (ISK) terutama infeksi pada pasien yang
memakai indwelling catheters atau yang memilki kelainan anatomis atau fungsional pada
saluran kemihnya. Jika dibandingkan dengan E.coli, infeksi yang disebabkan oleh Proteus
cenderung akan lebih parah dan mengarah kepada kejadian pyelonefritis (Brooks et al,
2008)
d. Shigella
Shigella terdiri atas empat spesies, yaitu Shigella dysenteriae, Shigella flexnerri,
Shigella. boydii, dan Shigella sonnei. Keempat spesies ini bersifat motil dan cenderung
infeksius terutama S. dysenteriae (Brooks et al, 2008)
e. Salmonella
Salmonella teridiri dari dua spesies yaitu Salmonella bongori dan Salmonella
enteritica dan memiliki enam buah sub tipe. Hampir seluruh serotipe bersifat motil kecuali
S. typhi yang menghasilkan gas dari glukosa. Secara umum, Salmonella menghasilkan
hidrogen sulfida, kecuali S. paratyphi (Brooks et al, 2008)
Enterobactericeae adalah bakteri batang gram negatif pendek, tidak menghasilkan spora,
bersifat motil dengan flagel peritrika atau nonmotil, dan tumbuh secara fakultatif aerob atau
anaerob. Morfologi yang khas terlihat pada pertumbuhan di medium padat in vitro,tetapi
morfologinya sangat bervariasi pada spesimen klinis (Brooks et al, 2008)
Secara umum, Enterobactericeae tumbuh pada medium pepton atau ekstrak daging tanpa
penambahan natrium klorida atau suplemen lain dan juga pada agar MacConcey. E. coli dan
sebagian besar bakteri enterik lainnya membentuk koloni yang sirkular, konveks, dan halus dengan
tepi yang datar. Koloni Enterobacteriaceae sama dengan koloni tersebut tetapi lebih mukoid.
Koloni Klebsiella besar akan terlihat sangat mukoid dan cenderung bersatu pada inkubasi lama.
Salmonella dan Shigela akan membentuk koloni yang menyerupai E. coli tetapi tidak
memfermentasikan laktosa. Beberapa strain E. coli menyebabkan hemolisis pada darah (Brooks et
al, 2008).
Pada umumnya, Enterobacteriaceae melakukan fermentasi glukosa dan sering disertai
dengan produksi gas. Enterobacteriaceae juga bersifat katalase-positif, oksidasi negatif, dan dapat
mereduksi nitrat menjadi nitrit (Brooks et al, 2008).
Enterobacteriaceae memilki struktur antigenik yang kompleks. Enterobacteriaceae
digolongkan berdasarkan lebih dari 150 antigen somatik O (lipopolisakarida) yang tahan panas,
lebih dari 100 antigen K (kapsular) yang tidak tahan panas, dan lebih dari 50 antigen H (flagella)
(Radji, M. 2011)
Antigen O adalah bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel dan terdiri dari unit
polisakarida yang berulang. Beberapa polisakarida O-spesifik mengandung pola yang unik.
Antigen O resisten terhadap panas dan alkohol dan biasanya terdeteksi oleh aglutinasi bakteri.
Antibodi terhadap antigen O terutama adalah IgM (Radji, M. 2011)
Antigen K terletak di luar antigen O pada beberapa Enterobacteriaceae tetapi tidak
semuanya. Beberapa antigen K merupakan polisakarida, termasuk antigen K pada E.coli,
sementara yang lainnya. merupakan protein. Antigen K dapat mengganggu aglutinasi dengan
antiserum O, dan dapat berhubungan dengan virulensi (misalnya, strain E.coli yang menghasilkan
antigen K1 sering ditemukan pada meningitis neonatal) (Radji, M. 2011)
Klebsiella membentuk kapsul besar yang mengandung polisakarida (antigen K) yang
menutupi antigen somatik (O atau H) dan dapat diidentifikasi dengan menggunakan uji
pembengkakan kapsul dengan antiserum spesifik. Infeksi saluran napas pada manusia terutama
disebabkan oleh kapsular tipe 1 dan 2, sementara infeksi saluran kemih disebabkan oleh tipe
8,9,10, dan 24 (Radji, M. 2011)
Antigen H terdapat di flagela dan didenaturasi atau dirusak oleh panas atau alkohol. Antigen
ini dipertahankan dengan memberikan formalin pada varian bakteri yang motil. Antigen H seperti
ini akan beraglutinasi dengan antibodi anti-H, terutama IgG. Penentu dalam antigen H adalah
fungsi sekuens asam amino pada protein flagel (flagelin) (Radji, M. 2011)
DAFTAR PUSTAKA
Brooks., et al. 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Ed. 23. Jakarta : EGC.

Radji, M. 2011. Buku Ajar Mikrobiologi: Panduan Mahasiswa Farmasi & Kedokteran. Jakarta :
EGC