Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

SUNGAI DAN MATA AIR

Disusun oleh:
Kelompok 1
Perikanan B
Putri Milenia Damayanti 230110180067
Norma Rizki Silviana 230110180066
Fathia Nur Islamay Hafizh 230110180074
Alin Shelina Nirashila 230110180093
Tsaury Syidad Putra Sopiandy 230110180111

UNIVERSITAS PADJAJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan
sehingga makalah yang berjudul “sungai dan mata air” ini bisa selesai pada
waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah


berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Jatinangor, 5 september 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .......................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Tujuan .............................................................................................. 1
1.3 Manfaat. ........................................................................................... 1

II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ..................................................................................... 2
2.2 Tipe-Tipe ...................................................................................... 5
2.3 Karakteristik .................................................................................. 8
2.4 Berbagai Jenis Organisme ............................................................. 9
2.5 Contoh-Contoh ............................................................................. 10
III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan .................................................................................. 12
3.2 Saran ............................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 13

iii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan lingkungannya Kata ekologi sendiri berasal dari
dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos artinya rumah atau
tempat tinggal, sedangkan logos artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi semula
ekologi artinya “ilmu yang mempelajari organisme di tempat tinggalnya”.
Umumnya yang dimaksud dengan ekologi adalah “ilmu yang mempelajari
hubungan timbal balik antara organisme atau kelompok organisme dengan
lingkungannya”. Saat ini ekologi lebih dikenal sebagai ”ilmu yang mempelajari
struktur dan fungsi dari alam”. Bahkan ekologi dikenal sebagai ilmu yang
mempelajari rumah tangga makhluk hidup.
Dalam ekologi perairan diantaranya menjelaskan tentang perairan tawar
yaitu contohnya sungai dan mata air.
1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk melengkapi tugas mata kuliah ekologi perikanan
1.2.2 Untuk mengetahui dan memahami sungai dan mata air

1.3 Manfaat

Makalah ini digunakan untuk menambah wawasan tentang sungai dan mata air
2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
A. Sungai
Sungai merupakan saluran terbuka yang terbentuk secara alami di
atas permukaan bumi, tidak hanya menampung air tetapi juga
mengalirkannya dari bagian hulu menuju ke bagian hilir dan ke muara
(Junaidi 2014). Menurut Putra (2014), sungai dapat diartikan sebagai
aliran terbuka dengan ukuran geometrik seperti tampak lintang, profil
memanjang dan kemiringan lembah yang dapat berubah seiring waktu,
tergantung pada debit, material dasar dan tebing, serta jumlah dan jenis
sedimen yang terangkut oleh air. Berdasarkan pendapat diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa sungai merupakan wadah atau alur alami
maupun buatan yang didalamnya tidak hanya menampung air akan
tetapi juga mengalirkan mulai dari hulu menuju muara.
Menurut Junaidi (2014), proses terbentuknya sungai berasal dari
mata air yang mengalir di atas permukaan bumi. Proses selanjutnya
aliran air akan bertambah seiring dengan terjadinya hujan, karena
limpasan air hujan yang tidak dapat diserap bumi akan ikut mengalir ke
dalam sungai. Perjalanan dari hulu menuju hilir, aliran sungai secara
berangsur-angsur menyatu dengan banyak sungai lainnya,
Penggabungan ini membuat tubuh sungai menjadi semakin besar.
Peraturan Pemerintah RI No. 38 tahun 2011, suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang
berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal
dari curah hujan ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan
pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan disebut dengan daerah aliran
sungai (DAS).
Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA memaparkan
bahwa DAS memiliki bagian yang disebut dengan sub DAS yaitu yang
menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai
utama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub-sub DAS. Adapun pada
sempadan sungai memiliki aturan untuk perlindungan kawasan sungai
dan sekitarnya sungai yang terdapat di kawasan sendiri dengan
sempadan 5 – 10 meter berupa jalur hijau atau jalan inspeksi. Menurut
Asdak (2007: 4), DAS merupakan suatu wilayah daratan yang secara
topografik dibatasi oleh punggung punggung gunung yang menampung
dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya kelaut
melalui sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah
tangkapan air (catchment area) yang merupakan suatu ekosistem yang
unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam (tanah, air dan vegetasi)
dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumber daya alam.
Norhadi, dkk., (2015) dalam penelitian mengklasifikasikan sungai
menurut para ahli maupun lembaga seperti Kern, Okologie, Helfrich et
al, dan LFU. Kern (1994) mengklasifikasikan sungai berdasarkan
lebarnya, mulai dari kali kecil yang bersumber dari mata air hingga
bengawan dengan lebar lebih dari 220 meter. Heinrich dan hergt dalam
Atlas Okologie (1999) mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebar
sungai dan luas DAS. Sungai kecil disebut juga dalam bahasa inggris
brooks, branceches, creeks, forks, dan runs, tergantung bahasa lokal
masing-masing daerah yang ada. Semuanya berarti sungai kecil
sedangkan terminologi yang membedakan antara sungai kecil (stream)
dan sungai besar (river) hanya tergantung kepada pemberi nama pada
pertama kalinya (Helfrich et al. dalam Atlas Okologie, 1999).
Selanjutnya sungai kecil didefinisikan sebagai air dangkal yang
mengalir di suatu daerah dengan lebar aliran tidak lebih dari 40 m pada
muka air normal, sedangkan kondisi yang lebih besar dari sungai kecil
disebut sungai atau sungai besar. LfU (2000) mengklasifikasi sungai
kecil atau sungai besar berdasarkan kondisi vegetasi alamiah di
pinggirnya. Disebut sungai kecil bila dahan dan ranting vegetasi pada
kedua sisi tebingnya bertautan dan dapat menutupi sungai yang

3
bersangkutan. Sedangkan pada sungai besar, dahan vegetasi pada kedua
sisi tebingnya tidak dapat bertautan karena terpisah cukup jauh.
B. Mata Air
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya
kepermukaan tanah. Mata air dapat terjadi karena air permukaan
meresap ke dalam tanah dan menjadi air tanah. Air tanah kemudian
mengalir melalui retakan dan celah di dalam tanah yang dapat berupa
celah kecil sampai gua bawah tanah. Air tersebut pada akhirnya akan
menyembur keluar dari bawah tanah menuju permukaan dalam bentuk
mata air. Keluarnya air menuju permukaan tanah, dapat merupakan
akibat dari akuifer terbatas, dimana permukaan air tanah berada di
elevasi yang lebih tinggi dari tempat keluar air.
Menurut Bryan (1919) dalam Todd (1980) klasifikasi mata air
dibedakan berdasar tenaga keluarnya air dari dalam tanah. Klasifikasi
ini dibedakan menjadi tenaga gravitasi dan tenaga non gravitasi.
Mata air yang berasal dari tenaga non gravitasi (non gravitational
spring) meliputi:
 mata air vulkanik
 mata air celah
 mata air hangat
 mata air panas

Sedangkan, mata air yang berasal dari tenaga gravitasi dibedakan


menjadi:

 mata air depresi (depresion spring) yang terbentuk apabila


permukaan air tanah (water table) terpotong oleh topografi
 mata air kontak (contact spring) terjadi apabila lapisan yang tidak
kedap air berada di atas lapisan kedap air sehingga air keluar dari
dalam tanah
 mata air artesis (artesian spring) terjadi karena air yang berada
dalam lapisan akuifer tertekan muncul ke atas permukaan akibat
adanya kebocoran pada lapisan batuan kedap air

4
 mata air turbuler (turbulence spring) merupakan saluran-saluran
alami pada formasi kulit bumi, seperti gua lava atau joint.
2.2 Tipe-Tipe Sungai dan Mata Air

A. Tipe-tipe sungai
Ada berbagai bentuk atau tipe sungai diantarannya yaitu :
a. Sungai Consequent Lateral, yakni sungai yang arah alirannya menuruni
lereng-lereng asli yang ada di permukaan bumi seperti dome,
blockmountain, atau dataran yang baru terangkat.
b. Sungai Consequent Longitudinal, yakni sungai yang alirannya sejajar
dengan antiklinal (bagian puncak gelombang pegungungan).
c. Sungai Subsequent, yakni sungai yang terjadi jika pada sebuah sungai
consequent lateral terjadi erosi mundur yang akhirnya akan sampai ke
puncak lerengnya, sehingga sungai tersebut akan mengadakan erosi ke
samping dan memperluas lembahnya. Akibatnya akan timbul aliran
baru yang mengikuti arah strike (patahan).
d. Sungai Superimposed, yakni sungai yang mengalir pada lapisan
sedimen datar yang menutupi lapisan batuan di bawahnya. Apabila
terjadi peremajaan, sungai tersebut dapat mengikis lapisan-lapisan
penutup dan memotong formasi batuan yang semula tertutup, sehingga
sungai itu menempuh jalan yang tidak sesuai dengan struktur batuan.
e. Sungai Antecedent, yakni sungai yang arah alirannya tetap karena dapat
mengimbangi pengangkatan yang terjadi. Sungai ini hanya dapat terjadi
bila pengangkatan tersebut berjalan dengan lambat.
f. Sungai Resequent, yakni sungai yang mengalir menuruni dip slope
(kemiringan patahan) dari formasi-formasi daerah tersebut dan searah
dengan sungai consequent lateral. Sungai resequent ini terjadi lebih
akhir sehingga lebih muda dan sering merupakan anak sungai
subsequent.
g. Sungai Obsequent, yakni sungai yang mengalir menuruni permukaan
patahan, jadi berlawanan dengan dip dari formasi-formasi patahan.
h. Sungai Insequent, yakni sungai yang terjadi tanpa ditentukan oleh
sebabsebab yang nyata. Sungai ini tidak mengalir mengikuti perlapisan

5
batuan. Sungai ini mengalir dengan arah tidak tentu sehingga terjadi
pola aliran dendritis.
i. Sungai Reverse, yakni sugai yang tidak dapat mempertahankan arah
alirannya melawan suatu pengangkatan, sehingga mengubah arahnya
untuk menyesuaikan diri.
j. Sungai Composit, yakni sungai yang mengalir dari daerah yang
berlainan struktur geologinya. Kebanyakan sungai yang besar
merupakan sungai composit.
k. Sungai Anaclinal, yakni sungai yang mengalir pada permukaan, yang
secara lambat terangkat dan arah pengangkatan tersebut berlawanan
dengan arah arus sungai.
l. Sungai Compound, yakni sungai yang membawa air dari daerah yang
berlawanan geomorfologinya.

B. Tipe-tipe Mata Air


Klasifikasi mata air dikelompokkan berdasarkan pada berbagai
karakteristiknya maupun pada proses pembentukannya atau genesa-nya,
sehingga di alam terdapat berbagai macam sebutan pada mata air – mata air
yang ada, tergantung dasar pengelompokkannya.
Klasifikasi mata air berdasarkan kontinuitas keluarnya air tanah pada mata
air, maka mata air dapat dibedakan menjadi :
 Mata air intermittent, mata air yang mengeluarkan air tanah secara tidak
menerus.
 Mata air musiman, mata air yang mengeluarkan air tanah hanya pada
musim basah/musim penghujan, sedangkan pada musim kering/musim
kemarau mata air tidak berair.
 Mata air tahunan, mata air yang mengeluarkan air tanah secara menerus,
baik pada musim penghujan maupun pada musim kemarau.
 Mata air periodik, mata air ini dijumpai pada bentang alam karst, yaitu
mata air yang mengeluarkan airtanah secara tidak menerus dan tidak
konstan, pada waktu berair umumnya mempunyai interval perioda yang
relatif sama dan selaras dengan air permukaan.

6
Klasifikasi mata air berdasarkan jenis akuifer yang mengeluarkan
airtanahnya, maka mata air dibedakan:
 Mata air artesis, yaitu mata air yang airtanahnya berasal dari akuifer
tertekan.
 Mata air bebas, yaitu mata air yang airtanahnya berasal dari akuifer tidak
tertekan.
Klasifikasi mata air berdasarkan suhu airtanah yang dikeluarkan oleh mata
air, maka mata air dibedakan:
 Mata air dingin/normal, yaitu mata air yang airtanahnya mempunyai suhu
yang sama dengan suhu udara rata-rata di lingkungan mata air setempat.
 Mata air panas, yaitu mata air yang airtanahnya mempunyai suhu yang
lebih tinggi 6 sd 10 derajat celcius lebih tinggi daripada suhu udara rata-
rata di lingkungan mata air setempat. Air dari mata air dipanaskan oleh
proses alamiah, yaitu oleh adanya proses geothermal yang berkaitan
dengan panas bumi di bawah permukaan tanah.
Klasifikasi mata air berdasarkan sifat fisik batuan akuifer yang mengeluarkan
airtanah, maka mata air dibedakan menjadi :
 Mata air akuifer berpori, yaitu mata air yang airtanahnya berasal dari akuifer
batuan berpori, seperti lapisan tanah tebal, sedimen lepas : pasir dan gravel.
 Mata air “fractured” atau “fissured”, yaitu mata air yang airtanahnya berasal
dari akuifer batuan yang retak-retak, joints, cleavages, patahan, seperti
batuan sediment kompak, breksi, konglomerat, batuan beku, aliran lava.
 Mata air “tubular” atau “cave spring”, yaitu mata air yang airtanahnya
berasal dari akuifer batuan yang berlubang-lubang terbuka ataupun batuan
batugamping yang mengalami pelarutan, seperti pada bentang alam karst.
Klasifikasi mata air berdasarkan sebab terjadinya mata air yang
didasarkan pada perbedaan tekanan hidraulik pada akuifer dengan lokasi
munculnya mata air di permukaan tanah, dapat diklasifikasikan menjadi 2,
yaitu:
 Mata air gravitasi, yaitu mata air di bawah kondisi tanpa tekanan, tidak
tertekan, dimana muka airtanah terpotong oleh topografi, mata air ini

7
disebut juga “descending spring”. Aliran airtanah yang muncul pada mata
air ini terjadi karena gaya gravitasi dan berarah relatif horizontal.
 Mata air artesis (artesian springs), yaitu mata air di bawah kondisi tekanan
karena adanya akuifer tertekan, mata air ini disebut juga “ascending spring
atau rising spring”. Aliran airtanah yang muncul pada mata air ini berarah
relatif vertikal, karena adanya tekanan hidraulik dari bawah.
2.3 Karakteristik
A. Sungai
Ekositem sungai bersifat lebih terbuka, metabolisme komunitasnya bersifat
heterotrofik dan tekanan oksigen disungai lebih seragam serta sedikit sekali atau
sama sekali tidak didapatkan stratifikasi suhu atau kimia. Karakteristik warna
air sungai di Indonesia berwarna kecoklatan, kecuali didaerah hulu sungai dekat
ke mata air, warna air masih jernih. Kondisi sebuah sungai dipengaruhi oleh
aktivitas manusia yang ada di daerah aliran sungai (DAS) yang bersangkutan.
Sebagai contoh warna air yang kecoklatan disebabkan oleh erosi dan
sedimentasi di daerah hulu sungai karena banayk mengandung lumpur,
turbiditas atau kekeruhan tinggi, daya tembus cahaya atau transparensi rendah
dan fotosintesis rendah.
Forman dan Gordon (1983), menyebutkan bahwa dasar sungai sangat
bervariasi dan sering mencerminkan batuan dasar yang keras, jarang
ditemuakan bagian yang rata, kadangkala bentuknya bergelombang, landai atau
dari bentuk keduanya. Ketebalan dasar sungai sangat dipengaruhi oleh batuan
dasarnya. Di daerah yang tersusun oleh batuan intrusif, dengan tekstur kasar,
menunjukkan kerapatan aliran sungai yang rendah. Namun sebaliknya pada
aliran sungai didominasi oleh batuan sedimen, memperlihatkan kerapatan yang
tinggi (Zuidam 1983 dan Sandy 1985 dalam T. Waryono 2008).
Cotton (1949), menyatakan bahwa letak, bentuk dan arah aliran sungai
dipengaruhi oleh lereng dan ketinggian , perbedaan erosi, struktur jenis buatan,
patahan dan lipatan. Secara umum, temperatur air sungai secara horizontal
dipengaruhi oleh ketinggian tempat (elevasi). Pada daerah hulu air sungai relatif
dingin sedangkan dibagian tengah dan hilir semakin tinggi suhunya (Sandy
1985 dalam T. Waryono 2008). Salinitas bernilai tinggi di bagian hilir
sedangkan dibagian huku dan tengah hampir tidak dipengaruhi oleh salinitas.

8
Tingginya salinitas di bagian hilir disebabkan oleh pengaruh pasang surut air
laut dan kandungan unsur hara yang bersifat basa.
B. Mata Air
Mata air mempunyai karakteristik hidrologi yang khusus, sehingga tidak
dapat ditemukan disemua wilayah. Karakteristik mata air biasanya mempunyai
air yang jernih dan bersih, sedikit unsur hara, dan hanya sedikit organisme yang
hidup serta suhunya relatif konstan. Titik pemunculan mata air biasanya
dibendung dengan bak atau dam tertutup yang langsung dipasang dengan pipa.
Di Indonesia terdapat banyak mata air panas karena indonesia merupakan
wilayah vulkanik dan banyak gunung berapi. Mata air panas umumnya
mengandung belerang dan panas serta berbau belerang. Menurut Odum (1998),
mata air panas umumnya bersalinitas tinggi, dan terdapat didaerah vulkanik.
2.4 Berbagai Jenis Organisme
Organisme yang hidup di sungai terdiri dari berbagai jenis yaitu
plankton (Fitoplankton dan Zooplankton), Perifiton, benthos
(Makrobenthos, Meiobenthos, dan Mikrobenthos), serangga air, reptilia,
amphibia, dan ikan. Ikan mas khususnya, umumnya ikan dari family
Cyprinidae merupakan jenis ikan yang dapat beradaptasi dengan adanya
arus. Odum (1998) mengategorikan beberapa jenis organisme air tawar
Menurut niche/ relung atau kedudukan organisme akuatik:
a. Autotrof (produsen) seperti jasa renik khemosintetik yaitu fitoplankton.
Contohnya Spermatofita akuatik, Hydrilla vercillata, potamogeton sp.,
najas indica hidup melayang terendam di dalam kolam air.
b. Fogototrof (produsen makro) terdiri dari primer, sekunder, herbivora,
predator, dan parasite.
c. Saprofit (konsumen renik/ dekomposer) merupakan bahan organic
seperti lemak, karbohidrat, dan protein diuraikan menjadi anorganik
NO3, NO2, NH3, dam PO4.
Menurut modus hidup organisme air
a. Benthos (Makrobenthos, meiobenthos, mikrobenthos)
b. Perifiton merupakan prganisme yang melekat pada batang tempat
melekatnya.
c. Plankton yang hidupnya melayang (Fitoplankton dan zooplankton)

9
d. Nekton contohnya seperti ikan, amphibia, dan reptilian
e. Neuston merupakan serangga air.
Menurut KLH (2008), di sungai Barito terdapat lebih dari 104 jenis
ikan (Prasetyo et al, 2004 dalam Rahardjo et al, 2006), sedangkan di
Sungai Kapuas terdapat lebih dari 200 jenis ikan. Berdasarkan data yang
dikumpulkan oleh KLH (2008) dari berbagai sumber, di perairan darat
Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi,
terdarap lebih dari 1000 jenis ikan (Kottelat et al, 1993).
Di segmen hulu sungai citarum mulai dari mata air sampai ke waduk
saguling dilaporkan terdapat 24 spesies ikan termasuk ke dalam 15
famili yang dikategorikan sabagai ikan liar(non budi daya) maupun ikan
budi daya. Beberapa spesies ikan liar yaitu golsom (Aequidens pulcher),
impun paris beureum (Xiphohorus sp.) dan impugn paris (Xiphophorus
bhelleri), merupakan ikan hias. Ikan sapu-sapu relative banyak
ditemukan di Sungai Citarum hulu menunjukkan bahwa perairan ini
termasuk yang sudah tercemar. Banyak juga ditemukan di Sungai
cimanuk dan situ di daerah jabodetabek. Ikan sapu-sapu bukan
merupakan ikan asli Indonesia, melainkan ikan dari panama di utara
Montevideo dan Uruguay Selatan (Hoedeman, 1975 dalam Dhahiyat et
al, 2001).
2.5 Contoh-Contoh
Contoh-contoh sungai berdasarkan Jenisnya menurut jumlah air
dibedakan menjadi :
1. Sungai Permanen,
Merupakan sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap.
Contoh sungai permanen diantaranya adalah sungai Kapuas, Kahayan,
Barito. Mahakam. di kalimantan Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di
Sumatera.
2. Sungai Periodik.
Merupakan sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak,
sedangkan pada musim kemarau airnya kecil. Contoh sungai jenis ini
banyak terdapat di pulau Jawa misalnya sungai Bengawan Solo, dan sungai

10
Opak di Jawa Tengah. Sungai Progo dan sungai Code di Daerah Istimewa
Yogyakarta serta sungai Brantas di Jawa Timur.
3. Sungai Intermittent atau Sungai Episodik
merupakan sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan
pada musim hujan airnya banyak. Contoh sungai jenis ini adalah sungai
Kalada di pulau Sumba.
4. Sungai Ephemeral
Merupakan sungai yang airnya hanya ada pada saat musim hujan.
Pada hakekatnya sungai jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya
saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak.

11
12

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan dapat di pahami tentang pengertian Sungai


dan mata air dari berbagai ahli dengan garis besar sungai saluran terbuka
yang terbentuk secara alami di atas permukaan bumi, sedangkan mata air
memiliki arti yaitu air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan
tanah, dengan berbagai karakteristik, tipe dan jenis organisme yang ada di
dalamnya sangat berhubungan erat dengan hubungan timbal balik
organisme dengan lingkungannya.

3.2 Saran
Dengan mengetahui arti dari sungai dan mata air yang menjadi
sumber daya yang sangat penting bagi manusia, itu berarti kita berkewajiban
untuk menyeimbangankan alam dengan menjaganya.
DAFTAR PUSTAKA

Akmalia S, 2016. Potensi Penggunaan Sumber Mata Air Blok Sisir Dukun Kawasan
Taman Nasional Gunung Merapi Di Desa Keningar, Kecamatan Dukun,
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah Hardiana. Universitas Gadjah
Mada
Dhahiyat, Yayat. 20013. Ekologi Perairan. Bandung : Unpad Press.

Junaidi, Fathona Fajri. (2014). Analisis Distribusi Kecepatan Aliran Sungai Musi
(Ruas Jembatan Ampera Sampai Dengan Pulau Kemaro). Jurnal Teknik
Sipil dan Lingkungan, Vol. 2, No. 3, 542 – 552.
KLH (Kementrian Lingkungan Hidup). 2008. Status Lingkungan Hidup Indonesia
2007. Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI.
Kottelat, M., A. J. Whitten, S. N. Kartikasari & S. Wiroatmodjo. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Edisi Dwi Bahasa Inggris
Indonesia. Periplus Edition (HK) Ltd. Bekerjasama dengan Kantor
Menteri KLH, Jakarta.

Odum, E.P. 1998, Dasar-dasar Ekologi. Alih Bahasa : Samingan, T dan B.

Putra, A. 2014. Estimasi Pencemaran Air Sumur yang Disebabkan Oleh Intrusi Air
Laut Di Daerah Pantai Tiram Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten
Padang Pariaman. Jurnal Fisika UNAND, Vol. 3, No. 4. Fakultas MIPA.
Universitas Andalas.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai


Norhadi, Ahmad, dkk. 2015. Studi Debit Aliran pada Sungai Antasan
Keluruhan Sungai Andai Banjarmasin Utara. Jurnal POROS TEKNIK
Volume 7 No. 1 Juni 2015 : 1-53.
Rahardjo et al., Hemodialisis, Dalam : Aru W. Sudoyo et al, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, (Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI,
2006).
Srigandono. Edisi Ketiga Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta, 824
hlm.
Syarifah, K., Purnama, S. Karakteristik dan Potensi Mata Air Untuk Memenuhi
Kebutuhan Domestik dan Perikanan di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten
Klaten. Universitas Gadjah Mada.

13
Todd, D. K., 1980, Groundwater Hydrology, 2nd Edition, John Wiley & Sons, New
York.
Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Waryono, T. 2008. Bentuk Struktur dan Lingkungan Bio-Fisik Sungai. FMIPA
Universitas Indonesia.

14