Anda di halaman 1dari 3

Nama : Mutmainah

Kelas : 1B
Prodi : D3 Kebidanan

Jenis jenis Abortus

1. Abortus Imminent (Threatened abortion)


Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama
kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta
dapat mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan,
sekitar setengah dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus (Cunningham et
al., 2005).
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang dari pada
20 minggu mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut
beberapa hari atau dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah
atau nyeri punggung bawah seperti saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina,
karsinoma serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan trofoblast harus dibedakan
dari abortus iminens karena dapat memberikan perdarahan pada vagina.
Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip, ulserasi vagina atau karsinoma
serviks, sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi
(Sastrawinata et al., 2005).

Penatalaksanaan

o Pertahankan kehamilan
o Tidak perlu Pengobatan khusus
o Jangan Melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
o Jika perdarahan berhenti pantau kondisi ibu selanjutnya pada pemeriksaan
antenatal (kadar Hb dan USG panggul serial setiap 4 minggu). Nilai ulang bila
perdarahan terjadi lagi.
o Jika perdarahan tidak berhenti : nilai kondisi janin dengan USG. Nilai
kemungkinan adanya penyebab lain

2. Abortus insipiens (Inevitable abortion)


Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan
perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena
kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa
dapat masuk dan ketuban dapat teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat
menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan
infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan
mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan
kontraindikasi (Sastrawinata et al., 2005).
.
Penatalaksanaan

o Lakukan konseling untuk menjelaskan kemungkinan risiko dan rasa tidak nyaman
selama tindakan evakuasi, serta memberikan informasi mengenai kontrasepsi pasca
keguguran.
o Jika usia kehamilan <16 minggu : lakukan evakuasi isi uterus.
Jikaevakuasitidakdapatdilakukansegera:
- Berikanergometrin0,2mgIM(dapatdiulang15menitkemudianbilaperlu)
- Rencanakanevakuasisegera.
o Jika usia kehamilan ≥ 16minggu :
Nama : Mutmainah
Kelas : 1B
Prodi : D3 Kebidanan

- Tunggu pengeluaran hasil konsepsi secara spontan dan evakuasi sisa hasil
konsepsi dari dalam uterus.
- Bila perlu, berikan infus 40Iuoksitosin dalam 1 liter NaCl0,9% atau Ringer
Laktat dengan kecepatan 40 tetespermenit untuk membantu pengeluaran
hasil konsepsi
- Berikan misoprostol
3. Abortus inkompletus
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau
teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). Perdarahan
biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap
terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
(corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan
mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada
abortus insipiens.

Penatalaksanaan

o Jika usia kehamilan <16 minggu dengan perdarahan ringan atau sedang :
- Keluarkan hasil konsepsi yang tampak muncul dari ostium uteri eksterna
dengan jari atau forcep cincin.
- Rekomendasi FIGO : misoprotol 600μg peroral dosis tunggal atau 400μg
sublingual dosis tunggal.
o Jika usia kehamilan ≥16 minggu :
- Berikan infus 40IU oksitosin dalam 1 liter NaCl0,9% atauRinger Laktat
dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu pengeluaran hasil
konsepsi.

4. Abortus kompletus
Abortus kompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau
teraba pada vagina dan hasil konsepsi lahir dengan lengkap. Pada keadaan ini kuretasi
tidak perlu dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah
isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti
sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah
selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus
masih ada perdarahan juga, abortus inkompletus atau endometritis pasca abortus harus
dipikirkan (Sastrawinata et al., 2005).

Penatalaksanaan

o Tidak diperukan evakuasi.


o Lakukan konseling untuk memberikan dukungan emosional dan menawarkan
kontrasepsi pasca keguguran.
o Observasi keadaan ibu.
o Apabila terdapat anemia lihat tatalaksana anemia pada ibu hamil.
o Evauasi keadaan ibu setelah 2 minggu.
Nama : Mutmainah
Kelas : 1B
Prodi : D3 Kebidanan

5. Abortus habitualis
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan
kelainan struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis
(Jauniaux et al., 2006). Menurut Mochtar (1998), abortus habitualis merupakan
abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Etiologi abortus ini adalah
kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan,
hasilnya adalah patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan
kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesterone
sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari abortus habitualis.

6. Abortus Infeksius /Septik


Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau
toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada
abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa
memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat
menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes,
Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci dan
Staphylococci (Mochtar, 1998; Dulay, 2010).

Penatalaksanaan

o Bila terdapat tanda-tanda abortus septik maka berikan kombinasi anti biotika
sampai ibu bebas demam untuk 48jam:
- Ampicillin 2gIV/IM kemudian 1g diberikan setiap 6jam
- Gentamicin 5mg/kg BBIV setiap 24jam
- Metronidazol 500mg IV setiap 8jam

7. Abortus Tertunda (Missed abortion)


Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap
berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus
tertunda akan dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada
permulaannya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi,malahan tambah
rendah. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar,
1998).

Penatalaksanaan

o Lakukankonseling.
o Jikausiakehamilan<12minggu:
- evakuasidenganAVMatausendokkuret.
- Rekomendasi FIGO : Misoprostol 800μg pervaginam setiap 3jam
(maksimalx2) atau 600μg sublingual setiap 3jam (maksimalx2)

o Jikausiakehamilan≥12minggunamun<16minggu:
- Pastikan serviks terbuka,bila perlu lakukan pematangan serviks sebelum
dilakukan dilatasi dan kuretase. Lakukan evakuasi dengan tang abortus dan
sendok kuret.