Anda di halaman 1dari 12

Hari, Tanggal : Senin, 12 dan 19

Agustus 2019
Waktu : 10.00 – 12.30 WIB
Dosen : Drh. Usamah Afif, M.Si

IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB MASTITIS PADA SAPI PERAH

Kelompok 7

1. Bella Dinar Fauqii Cahyani (B04160017)


2. Muchamad Ichnoor (B04160019)
3. Sri Wahyuni (B04160020)

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN DAN KESEHATAN


MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu sapi merupakan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat
karena relatif terjangkau. Susu merupakan sumber protein hewani yang kaya akan
nutrisi. Susu bahkan dianggap sebagai pelengkap gizi untuk proses tumbuh
kembang. Selain tersedia dalam bentuk olahan, susu juga dapat dikonsumsi segar.
Susu merupakan cairan yang berasal dari ambing ternak perah sehat dan bersih
yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar dan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku (Meutia dkk., 2016). Kandungan alaminya tidak ditambah atau
dikurangi sesuatupun dan belum mendapat perlakuan apapun, kecuali proses
pendinginan. Menurut Hidayat (2010) susu harus memenuhi syarat ASUH yaitu
aman, sehat, utuh dan halal. Susu dipandang dari segi peternakan adalah suatu
sekresi kelenjar-kelenjar susu dari sapi yang sedang laktasi atau ternak yang
sedang laktasi dan dilakukan pemerahan yang sempurna.
Menurut SNI No. 3144.1: 2011 tentang syarat mutu susu segar, susu
segar yang baik untuk dikonsumsi harus memenuhi persyaratan dalam hal
kandungan gizi dan juga keamanan pangan. Terdapat syarat cemaran, kandungan
mikroba maksimum, residu antibiotika, dan cemaran logam berbahaya maksimum
yang telah ditetapkan Salah satu potensi bahaya yang terdapat pada susu dan
berbagai produk olahannya adalah bahaya mikrobiologis (microbial hazard),
khususnya keberadaan bakteri patogen (Winarso 2008). Berdasarkan penelitian
yang dilakukan Sugiri dan Anri (2014) menunjukkan 83,56% sampel yang
diperiksa di wilayah Jawa Barat (Lembang, Pangalengan, Cianjur) mengandung
bakteri penyebab mastitis.
Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Setidaknya
telah dikenal hingga kiniada 137 penyebab infeksi mastitis dan pada hewan besar
jenis patogen yang paling dikenal adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus
agalactiae, spesies Streptococcus lainnya dan Coliform (Sumathi BRet al. 2008).
Mastitis sering juga dihubungkan dengan organis melainnya seperti
Actinomycespyogenes, Pseudomonas aeruginosa, Nocardiaasteroides,
Clostridium perfringens, Mycobacterium, Mycoplasma, Pasteurella dan
Prototheca (Rodostitset al. 2007). Namun, sebagian besar kasus mastitis
disebabkan oleh beberapa spesies bakteri patogen yang sama, yaitu dari spesies
Staphylococcus, Streptococcus, Coliforms dan Actinomycespyogenes (Du Preeze
JH 2000; Quinn PJ et al. 2004).
Agar penanganan dan penentuan terapi pada kasus mastitis mudah
dilakukan, hal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi agen penyebab
mastitis.
Tujuan
Mengidentifikasi jenis bakteri penyebab mastitis pada sapi perah melalui
isolasi dan berbagai macam uji laboratorium.

TINJAUAN PUSTAKA

Ambing
Ambing pada sapi terletak di daerah inguinal. Ambing sapi terdiri dari
empat bagian. Bagian kiri dan kanan terpisah jelas, bagian ini dipisahkan oleh
ligament yang berjalan longitudinal yang disebut sulcus intermammaria.
Sedangkan bagian depan dan belakang jarang memperlihatkan batas yang jelas.
Tiap bagian dilihat dari segi jaringan kelenjarnya, merupakan suatu kesatuan yang
terpisah atau disebut juga kuartir. Antara kuartir yang satu tidak tergantung pada
kuartir yang lain, khususnya dalam hal suplai darah, saraf dan apparatus
suspensorius. Ambing memiliki beberapa sistem yang mendukung dalam
strukturnya, antara lain terdapat sistem peredaran darah, limfe, saraf, dan sistem
saluran yang berperan dalam penyimpanan dan sekresi susu ke dalam sel epitel
yang disebut juga dengan alveoli (Wiley J dan Sons 2009).
Struktur kelenjar ambing tersusun dari jaringan parenkim dan stroma
(connective tissue). Parenkim merupakan jaringan sekretori berbentuk kelenjar
tubulo-alveolar yang mensekresikan susu ke dalam lumen alveol. Lumen alveol
dibatasi oleh selapis sel epitel kuboid. Lapisan sel epitel ini dikelilingi oleh sel-sel
myoepitel yang bersifat kontraktil sebagai responnya terhadap hormon oxytocin
dan selanjutnya dikelilingi oleh stroma berupa jaringan ikat membrana basalis.
Pembuluh darah dan kapiler terdapat pada jaringan ikat di antara alveol-alveol ini.
Beberapa alveol bersatu membentuk suatu struktur lobulus dan beberapa lubulus
bergabung dalam suatu lobus yang lebih besar. Penyaluran susu dari alveol
sampai ke glandula sisterna melalui suatu sistem duktus yang disebut ductus
lactiferus (Hurley 2000).
Mastitis
Mastitis atau peradangan pada jaringan internal ambing umum terjadi pada
peternakan sapi perah di seluruh dunia (Duval 1997). Secara ekonomi, mastitis
banyak menimbulkan kerugian karena adanya penurunan produksi susu yang
mencapai 70% dari seluruh kerugian akibat mastitis. Kerugian lain timbul akibat
adanya residu antibiotika pada susu, biaya pengobatan dan tenaga kerja,
pengafkiran, meningkatnya biaya penggantian sapi perah, susu terbuang, dan
kematian pada sapi serta adanya penurunan kualitas susu (Kirk et al. 1994; Hurley
dan Morin 2000). Tingkat keparahan dan intensitas mastitis sangat dipengaruhi
oleh organisme penyebabnya (Duval 1997)
Mastitis adalah penyakit yang merupakan masalah di seluruh dunia yang
mengakibatkan kerugian yang besar pada peternakan sapi perah akibat kualitas
susu yang buruk, penurunan produksi susu, peningkatan biaya obat dan pelayanan
dokter hewan,tingginya jumlah ternak yang diafkir sebelum waktunya dan
kadangkadang terjadi kematian akibat penyakit tersebut (Kumar et al., 2010).
Penyebab utama mastitis pada sapi adalah bakteri Str.agalactiae, Str.dysgalactiae,
S.uberis, Str zooepidermicus. Bakteri lain yang dapat menyebabkan mastitis
adalah Escherichia coli (E.coli), E.feundeii, Aerobacter aerugenes dan Klebsiella
pneumoniae (Subronto, 2008). Hasil penelitian GrAhn YT et.al (2004),
menunjukkan sapi perah yang mendapatkan infeksi Streptococcus spp., S. aureus,
A. pyogenes, E. coli, dan Klebsiella spp. menunjukkan penurunan produksi susu
yang paling tinggi. Selain itu terjadi penurunan kualitas hasil olahan
susu,peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta pengafkiran ternak lebih
awal (Shim et al., 2004).
Berdasarkan gejalanya, mastitis dibedakan menjadi dua, yaitu mastitis
klinis dan mastitis subklinis. Mastitis klinis ditandai dengan gejala yaitu adanya
pembengkakan, kemerahan, sakit dan penurunan fungsi pada ambing.
Pemeriksaan fisik menunjukkan hewan mengalami kenaikan suhu tubuh, denyut
jantung dan laju pernapasan (Subronto 2003). Berbeda dengan mastitis klinis,
mastitis subklinis adalah peradangan jaringan internal ambing tanpa disertai gejala
klinis baik pada susu maupun pada ambing. Namun terjadi peningkatan jumlah sel
radang, ditemukan mikroorganisme patogen dan terjadi perubahan kimia pada
susu (Sudarwanto 1999).
Mastitis subklinis dapat diketahui hanya dengan melakukan uji
laboratorium, karena tidak ada perubahan pada jaringan ambing (Islam et al.
2011). Infeksi intramamary yang terjadi sejak laktasi sebelumnya dan infeksi baru
yang timbul pada periode kering sampai waktu beranak, masing-masing dapat
berkontribusi terhadap terjadinya mastitis klinis maupun subklinis pada laktasi
berikutnya (Bradley & Green 2004; Green et al. 2007). Bakteri (mikroorganisme)
yang paling banyak menyebabkan mastitis subklinis, 80% didominasi antara lain
oleh Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus
dysgalactiae, Streptococcus agalactiae dan Streptococcus uberis serta bakteri
Coliform terutama Escherichia coli dan Klebsiella (Hameed et al. 2006; Sharif et
al. 2009).

Bakteri Streptococcus aureus

Genus Staphylococcus terdapat tiga macam spesies yaitu: Staphylococcus


aureus, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus saprophyticus.
Staphylococcus epidermidis secara mikroskopis morfologinya tidak dapat
dibedakan dengan Staphylococcus aureus. Koloninya berbentuk bulat (spheres)
halus pada umumnya tidak menghasilkan pigmen dan warnanya putih pucat.
Staphylococcus aureus sering menyebabkan mastitis subklinis maupun
mastitis kronis, sehingga kejadian mastitis seringkali dihubungkan dengan infeksi
S. aureus (Swart et al., 1984; Watts et al., 1986). Staphylococcus aureus dalam
susu segar dan produk pangan dapat menyebabkan toxic schock syndrome akibat
keracunan pangan. Staphylococcal enterotoxin merupakan agen yang
menyebabkan sindrom keracunan dalam makanan pada manusia maupun hewan
(Dinges et al., 2000; Omoe et al., 2002; Purnomo, 2006). Bakteri tersebut
berbentuk menyerupai bola dengan garis tengah ± 1 µm tersusun dalam
kelompok-kelompok tidak teratur (menyerupai buah anggur), dapat pula tersusun
empat-empat (tetrad), membentuk rantai (3-4 sel), berpasangan atau satu-satu.
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif dan berbentuk kokus
Staphylococcus aureus bersifat non-motil, nonspora, anaerob fakultatif, katalase
positif dan oksidase negatif. Staphylococcus aureus tumbuh pada suhu 6,5-46º C
dan pada pH 4,2-9,3 (Todar, 1998; Nurwantoro, 2001; Paryati, 2002). Koloni
tumbuh dalam waktu 24 jam dengan diameter mencapai 4 mm. Koloni pada
perbenihan padat berbentuk bundar, halus, menonjol dan berkilau. Staphylococcus
aureus membentuk koloni berwarna abu-abu sampai kuning emas tua.
Staphylococcus aureus mudah tumbuh pada banyak pembenihan bakteri.
Berbagai tingkat hemolisis dihasilkan oleh S. aureus dan kadang-kadang oleh
spesies bakteri lain (Burrows, 1950; Jawetz et al., 2001). Staphylococcus aureus
pada media mannitol salt agar (MSA) akan terlihat sebagai pertumbuhan koloni
berwarna kuning dikelilingi zona kuning keemasan karena kemampuan
memfermentasi mannitol. Jika bakteri tidak mampu memfermentasi mannitol,
maka akan tampak zona. Staphylococcus mengandung polisakarida dan protein
yang bersifat antigenik dan merupakan substansi penting di dalam struktur
dinding sel. Peptidoglikan merupakan suatu polimer polisakarida yang
mengandung subunit-subunit yang tergabung, merupakan eksoskeleton yang kaku
pada dinding sel. Peptidoglikan dirusak oleh asam kuat atau lisozim. Hal tersebut
penting dalam patogenesis infeksi, yaitu merangsang pembentukan interleukin-1
(pirogen endogen) dan antibodi opsonik, juga dapat menjadi penarik kimia
(kemotraktan) leukosit polimorfonuklear, mempunyai aktifitas mirip endotoksin
dan mengaktifkan komplemen (Jawetz et.al 2005).

METODE

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum mata kuliah Penyakit Bakterial dan Mikal dilaksanakan pada hari
Senin, 12 dan 19 Agustus 2019, yaitu pada pukul 10.00-12.30 WIB. Praktikum
dilaksanakan di Ruang Praktikum Kitwan 1.

Bahan dan Alat


Alat dan bahan yang digunakan adalah ose, mikroskop, kaca objek,
lampu spiritus, cawan petri, aquades, NaCl Fisiologis, karbol gentian violet,
alcohol 95%, larutan fuschine, Blood Agar, Media Agar Miring, H2O2 3%,
glukosa, plasma darah kelinci dan Manitol Salt Agar (MSA).
Prosedur
Pewarnaan gram
Ose dipijarkan dan dipanaskan, diambil satu selalu di letakkan pada kaca
objek. Ose dipijarkan dan dipanaskan kembali, diambil aqudes dengan ose
beberapa tetes kemudian dihomogenkan. Dilakukan fiksasi dengan lampu spiritus.
Perparat ditetesi dengan karbol gentian violet 1 menit, dibilas dengan aquades,
ditetesi lugol, didiamkan selama 1 menit, kemudian dibias dengan alkohol 95%.
Lalu ditetesi dengan larutan fuschine 15 detik. Dibilas dengan aquades.

Penumbuhan bakteri di Media Blood Agar


Garis bantu dibuat pada bagian luar cawan petri dengan spidol.
Lempengan dibagi menjadi 3 bagin berbentuk huruf T, kemudian di tandai daerah
I, II, dan III. Ose dipijarkan, dibiarkan dingin lalu dilakukan inokulasi daerah I
sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung (goresan zigzag). Ose dipijarkan
kembali dan didinginkan kembali, dilakukan goresan ulang daerah I sebanyak 3-4
kali dan diteruskan goresan kedaerah II dengan goresan yang lebih renggang. Ose
dipijarkan dan dibiarkan dingin kembali.

Penumbuhan bakteri di media Agar Miring


Ose dipijarkan dan didinginkan, koloni terpisah pada bagian III diambil
kemudian dilakukan penggoresan pada agar miring dengan gerakan sinambung
(goresan zigzag)

Uji katalase
Ose dipijarkan dan didinginkan, dilakukan pengambilan isolate bakteri
pada agar miring kemudian diusapkan pada kaca objek. Ose dipijarkan dan
didinginkan kembali kemudian diambil dua ose H2O2 3% dan diteteskan pada
koloni bakteri.

Uji Fermentasi Glukosa Mikroaerofilik


Ose dipijarkan dan dipanaskan, diambil 1 ose isolate bakteri kemudian
diinokulasikan pada media Glukosa. Dilakukan perubahan lingkungan menjadi
anaerob dengan tabungan aerob.

Uji Koagulase
Ose dipijarkan dan didinginkan, diambil satu ose isolate bakteri
diinokulasikan kedalam 2 mL plasma darah kelinci yang telah diencerkan 1 : 5
dengan aquades. Diinkunasi pada suhu 37 oC selama 4–24 jam.

Pembiakan pada media Manitol Salt Agar (MSA)


Ose dipijarkan dan didinginkan, diambil satu ose isolate bakteri,
dilakukan inokulasi pada Manitol Salt Agar (MSA) dengan gerakan sinambung
(goresan zigzag).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Tabel 1. Hasil uji identifikasi bakteri susu penyebab mastitis
Uji Hasil Foto
Pewarnaan Gram Bakteri berwarna ungu,
berbentuk kokus dan
tersusun bergerombol (+)
(agalac berantai)

Penumbuhan bakteri Terjadi hemolysis (Beta),


pada media blood agar berwarna kuning, bentuk
koloni bulat dan ukuran
koloni sedang.

Uji Katalase Terbentuk gelembung udara


(agalactie -, aureus +, epi +)

Uji Fermentasi Glukosa Terjadi Fermentasi Glukosa


Mikroaerofilik (media berubah menjadi
kuning) (aureus merah)

Uji Koagulase Terjadi koagulase


Uji Hasil Foto
Pembiakan pada media Koloni yang terbentuk
Manitol Salt Agar berwarna kuning
(MSA)

PEMBAHASAN

Hasil pengamatan pewarnaan Gram pada sampel susu menunjukkan


adanya bakteri berbentuk bulat berwarna ungu. Bakteri gram positif akan
berwarna ungu ketika dilakukan pewarnaan Gram (Madigan MTet al. 2004).
Bakteri yang teramati merupakan kelompok bakteri coccus gram positif berbentuk
berbentuk bergerombol.
Pembiakan agar darah menunjukan tidak adanya aktifitas hemolysis.
Koloni yang terbentuk berwarna keabu-abuan, bentuk koloni bulat serta berukuran
sedang. Bakteri yang tumbuh pada agar miring, koloninya berwarna putih. Koloni
bakteri pada media agar miring diambil dan dilakukan pengujian kembali dengan
pewarnaan gram. Hasil pengamatan pewarnaan Gram pada biakan agar miring
menunjukkan bentuk bakteri coccus dengan koloni bergerombol.
Uji katalase penting untuk membedakan Famili Streptococcaceae
(katalase negatif) dengan Famili Micrococcaceae yang menghasilkan enzim
katalase (katalase positif). Uji katalase dilakukan dengan menambahkan H2O2 3%
ke isolat bakteri. Kultur yang menunjukkan katalase positif akan gelembung
udara. Berdasarkan uji yang dilakukan terhadap isolate bakteri, ketahui bahwa uji
katalase positif karena menghasilkan gelembung udara. Sejauh ini diketahui
bahwa bakteri tergolong kedalam bakteri dari Famili Micrococcaceae.
Hasil uji glukosa mikroaerofilik berupa warna merah menjadi kuning dan
tidak terbentuk gak pada tabung Durham, sehingga dapat diketahui bahwa bakteri
memiliki kemampuan memecah kerbohidrat (jenis glukosa, sukrosa, laktosa,
mannitol, dan maltosa). Berdasarkan positif uji glukosa mikroaerofilik maka dapat
diketahui bahwa bakteri termasuk kedalam bakteri Staphylococcus sp.
Prinsip uji koagulase yaitu fibrinogen pada plasma kelinci diubah
menjadi fibrin oleh koagulase. Koagulase merupakan protein ekstraseluler yang
mengikat prothrombin hospes dan membentuk komplek yang disebut
staphylothrombin. Hasil reaksi positif ditandai dengan terbentuknya gumpalan di
dalam tabung setelah diinkubasi dalam suhu 37 oC selama 24 jam (Quinn PJet al.
2002). Staphylococcus sp. Dapat bersifat pathogen dan kurang patogen/ non
patogen. Cara membedakan sifat tersebut dapat melalui uji koagulase.
Staphylococcus sp. yang bersifat pathogen akan membentuk gumpalan pada
plasma kelinci (reaksi positif) sedangkan Staphylococcus sp. non pathogen tidak
akan membentuk gumpalan pada plasma kelinci (rekasi negatif). Berdasarkan
percobaan diketahui bahwa terjadi gumpalan sehingga dapat disimpulkan bahwa
bakteri bersifat patogen.
Cara lain yang dapat digunakan untuk membedakan Staphylococcus sp.
Pathogen dengan Staphylococcus sp. non pathogen adalah dengan uji Mannitol
Salt Agar (MSA). Perubahan warna kuning menunjukan bahwa bakteri bersifat
patogen, sedangkan perubahan berwarna merah diketahui bahwa bakteri bersifat
non patogen. Berdasarkan uji yang dilakukan diketahui media berwarna kuning
sehingga diketahui bahwa bakteri dapat memfermentasi mannitol pada sediaan
agar MSA dan di pastikan bahwa bakteri bersifat patogen.
Berdasarkan semua uji yang dilakukan diketahui bahwa bacteria dalah
Staphylococcus sp. yang menjadi isolate bakteri selama pengujian adalah bakteri
patogen. Ciri koloni pada media blood agar dan MSA menunjukan bahwa bacteria
dalah Staphylococcus aureus.
Mastitis disebabkan oleh bakteri pathogen berupa Staphylococcus aureus
dan Streptococcus agalactiae. Karena diketahui bahwa sampel susu yang di uji
adalah susu yang mengalami mastitis maka diketahui bahwa bakteri yang dibiakan
bukan bakteri yang menyebabkan mastitis pada sapi. Staphylococcus epidermidis
dapat terbiakan karena bakteri tersebut merupakan bakteri flora normal yang dapat
tercampur pada susu yang terkena mastitis. Diketahui pula menurut Herlina N et
al. (2015) Staphylococcus aureus termasuk jenis bakteri yang tidak mudah untukd
iisolasi karena umumnya bercampur dengan flora normal coagulase negative
staphylococcus (CoNS) yaitu Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus
haemolyticus.

SIMPULAN

Bakteri biakan pada pengujian adalah bakteri dari Famili Microccaceae


yang bersifat pathogen dengan ciri yang merujuk pada bakteri Staphylococcus
aureus. Bakteri tersebut menyebabkan mastitis pada sapi.

DAFTAR PUSTAKA

Andreasen, C.B. 2008. Staphylococcosis dalam Diseases of Poultry. 12th ed.


Diedit oleh Saif Y.M, Fadly, A.M., McDougald, Nolan, L.K., Swayne,
D.E, USA: Blackwell publishing, hal. 892-896.
Boerlin, P., P. Kuhnert, D. Hussy and M. Schaellibaum. 2003. Methods for
Identification of Staphylococcus aureus Isolates in Cases of Bovine
Mastitis. Journal of Clinical Microbiology, Vol. 41. No. 2, hal 767 - 769.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2011. Susu Segar Bagian 1: Sapi. SNI 01-
3141-2011. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional.
Bradley AJ, Green MJ. 2004. The importance of the nonlactating period in the
epidemiology of intramammary infection and strategies for prevention.
Vet Clin North Am-Food Anim Pract. 20:547-568.
Burrows, W., Gordon, F.B., Porter, R.J., and Movider., J.W. (1950) Jordan-
Burrows Textbook thof Bacteriology 15 edition. W. B Saunders Company.
Philadelphia, USA.
Dinges, M.M., Orwin, P.M. and Schlievert, P.M. (2000) Enterotoxin of
Staphylococcus aureus. Clin. Microbiol. Rev. 13: 16-34.
Du Preeze JH. 2000. Bovine mastitis theraphy and why it fails. J. South Africa Vet
Assoc 71: 201-208.
Duval J. 1997. Treating mastitis without antibiotics. Ecological Agriculture
Projects. http://www.eap.mcgill.ca/Publications/EAP69.htm. [15-12-
2000].
Fox, M. T. 2000. Identification of Gram-Positive Bacteria: Normal Flora
Staphylococci. Journal Microbiology, Vol. 56, hal. 423-429.
GrÃhn YT, Wilson DJ, González RN, Hertl JA, Schulte H, Bennett G, Schukken
YH. 2004. Effect of pathogen-specific clinical mastitis on milk yield in
dairy cows. J Dairy Sci. 2004 Oct;87(10):3358-74
Hurley WL, Morin DE. 2000. Mastitis Lesson A.. Lactation Biology. ANSCI
308.http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [13-12-2001].
Hidayat A. 2010. Manajemen Kesehatan Pemerahan. Bandung: Dinas Peternakan
Jawa Barat.
Hurley WL Morin DE. 2000. Mastitis Lesson A Lactation Biology [internet].
[diunduh 2018 Sep 23]. Tersediapada:
http://classesaces.uiuc.edu/Ansci308/
Jawetz et al., 2008.Medical Microbiology. 24th ed. North America: Lange
Medical book.
Jawetz, E., Melnick, J.L. and Adelberg, E.A. (2001) Mikrobiologi kedokteran.
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Jawetz, E., Melnick, J.L. and Adelberg, E.A. (2005) Mikrobiologi kedokteran.
Buku 1. Penerbit Salemba Medika. Jakarta.
Kumar et al. 2010. Pathologic Basic of Disease. 8th Edition. Philadelphia :
Elsevier. p. 1131-1146
Kirk JH, De Graves F, Tyler J. 1994. Recent progess in : Treatment and control of
mastitis in cattle. JAVMA 204:1152-1158.
Meutia, N., Rizalsyah, T., Ridha, S. dan Sari, M.K. 2016. Residu Antibotika
Dalam Air Susu Segar Yang Berasal Dari Peternakan Di Wilayah Aceh
Besar. Jurnal Ilmu Ternak. Vol. 16. No.21.
Madigan MT, Martinko J, and Parker J. 2004. Brock Biology of
Microorganisms (10th Edition ed.). Philadlphia (US): Lippincott Williams
& Wilkins.
Nurwantoro dan Abbas, S. (2001) Mikrobiologi Pangan Hewani Nabati. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta
Omoe, K., Ishikawa, M, Shimoda, Y., Hu, D.L., Ueda,and Shinagawa, K. (2002)
Detection of seg, seh,and sei genes in isolates and determination ofthe
enterotoxin productivities of S. aureus isolates harbouring seg, seh, and sei
genes. J. Clin. Microbiol. 40: 857-862.
Paryati, S.P.Y. (2002) Patogenesis Mastitis Subklinis pada Sapi Perah yang
Disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Makalah Pengantar Falsafah
Sains. Institute Pertanian Bogor
Purnomo, A, Hartatik, Khusnan, Salasia, S.I.O. dan Soegiyono (2006) Isolation
and Characterization of Staphylococcus aureus of Milk of Ettawa
Crossbred Goat. Media Kedokteran Hewan.
Quinn PJ, Carter ME, Markey B, Carter GR. 2004. Clinical Veterinary
Microbiology.Lonodon (US): Mostby Publishing
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Edisi Kedua. Yogyakarta
(ID): Gadjah Mada University Press.\
Subronto. 2008. Ilmu Penyakit Ternak I-b. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press. 58-61
Sudarwanto M. 1999. Usaha peningkatan produksi susu melalui program
pengendalian mastitis subklinis. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu
Kesehatan Masyarakat Veteriner. Bogor (ID). Fakultas Kedokteran
Hewan-Institut Pertanian Bogor.
Sumathi BR, Veeregowda BM, Amitha R. 2008. Prevalence and
antibiogramprofile of bacterial isolates from clinical bovine mastitis. J. Vet
World. 1: 237-238.
Shim, E. H., R. D. Shanks & D. E. Morin. 2004. Milk loss and treatment costs
associated with two treatment protocols for clinical mastitis indairy cows.
J. Dairy Science 87: 2702-2708
Swartz, R., Jooste, P.J. and Novello, J.C. (1984) Prevalence and types of bacteria
associated subclinical mastitis in Bloem Fonte in dairy herds. Vet. Assoc.
51: 61
Todar, K. (1998) Bacteriology 330 Lecture Topics: Staphylococcus. Kenneth
Todar University of Wisconsin Department of Bacteriology, Wisconsin,
USA.
Todar, K. 2005. Todar’s Online Textbook of Bacteriology, Staphylococcus.
Diakses melalui http://textbookbacteriology.net/stap_2.html [20/4/2014].
Wiley J, Sons. 2009. Mammary Gland in The Seventh Edition of Anatomy
Physiology of Farm Animals by Rowen D. Frandson, W.Lee Wilke, Anna
Dee Fails. (US): Wiley-Blackwell.
Williams, Wilkins. 2000. Stedman’s Medical Dictionary 27th ed. Philadelphia
(US): Lippincott Williams & Wilkins
Winarso D. 2008. Hubungankualitassusudengankeragaman genetic danprevalensi
mastitis subklinis di daerahjalursusu Malang sampaiPasuruan. J Sain Vet.
26(2): 58-65.
Yurdakul, N.E., Erginkaya, Z., and Unal, E. 2013.Antibiotic Resistance of
Enterococci, Coagulase Negative Staphylococci and Staphylococcus
aureusIsolated from Chicken Meat.Czech J. Food Sci. Vol. 31, No.1, hal.
14- 19.