Anda di halaman 1dari 10

Dalam tenggang waktu sekitar 20-an tahun, mulai dari wafatnya Nabi Saw sampai

pengumpulan al-Qur’an di masa Utsman, hanya sekitar empat mushaf sahabat yang

berhasil memapankan pengaruhnya di kalangan masyarakat. Asal-muasal pengaruh ini

tentunya terpulang kepada individu-individu yang dengan namanya mushaf-mushaf itu

dikenal. Keempat sahabat Nabi Saw yang dimaksud di sini adalah: (1) Ubay bin Ka‘ab,

yang kumpulan al-Qur’annya berpengaruh di sebagian besar daerah Syiria; (2) Abdullah

bin Mas‘ud, yang mushafnya mendominasi daerah Kufah; (3) Abu Musa al-Asy‘ari, yang

mushafnya memperoleh pengakuan masyarakat Bashrah; dan (4) Miqdad bin Aswad (w.

33H), yang mushafnya diikuti penduduk Kota Hims.1

Manuskrip mushaf keempat sahabat Nabi Saw itu sayangnya tidak sampai ke

tangan kita, sehingga permasalah tentang bentuk lahiriah dan kandungan tekstualnya

hanya bisa dijawab melalui sumber-sumber sekunder2 atau tidak langsung. Bahkan,

Mushaf Miqdad bin Aswad tidak dapat ditelusuri jejaknya sama sekali dalam berbagai

sumber.

Berikut ini akan dijelaskan tiga mushaf di atas (Ubay, Abdullah bin Mas’ud, Abu

Musa) ditambah dengan mushaf Ibnu Abbas yang walaupun tidak menjadi otoritas pada

masanya, tapi kiranya juga perlu mendapatkan perhatian, mengingat signifikansinya yang

nyata dalam perkembangan kajian al-Qur’an.

MUSHAF UBAY BIN KA’AB

Ubay bin Ka‘ab adalah seorang Anshar dari bani Najjar, yang masuk Islam pada

masa cukup awal dan turut serta dalam sejumlah pertempuran besar di masa Nabi, seperti

dalam Perang Badar dan Uhud. Ia merupakan salah seorang yang mengkhususkan diri dalam
mengumpulkan wahyu dan merupakan salah satu di antara empat sahabat3 yang

disarankan Nabi agar umat Islam mempelajari al-Qur’an darinya.

1
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), h. 185
2
Arthur Jeffery mengklasifikasikan mushaf-mushaf lama ke dalam dua kategori, yaitu mushaf primer dan
mushaf sekunder. Mushaf-mushaf primer ialah mushaf-mushaf yang dikumpulkan secara individual/pribadi
oleh para sahabat, sedangkan mushaf-mushaf sekunder adalah mushaf-mushaf yang dikumpulkan para
tabiin yang sangat bergantung pada mushaf primer.
3
Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, dan Salim, budak Abu Huzaifah.
(HR. al-Bukhari
Dalam beberapa hal, otoritasnya tentang masalah-masalah al-Qur’an bahkan lebih

besar dari Ibnu Mas‘ud. Selain itu, ia juga dikenal sebagai Sayyid al-Qurra` (pemimpin

para pelafal/penghafal al-Qur’an).

Tidak dapat diketahui secara pasti kapan ia mengumpulkan materi-materi wahyu

ke dalam mushafnya. Barangkali, ketika ditunjuk Nabi untuk menyalin wahyu, kegiatan

pengumpulan al-Qur’an telah dimulainya. Tetapi, kapan ia selesai menyusun bahanbahan wahyu
yang membentuk kodeksnya4 tidak dapat dipastikan. Yang pasti adalah

bahwa sebelum kemunculan mushaf standar utsmani, mushaf Ubay telah populer di

Syiria.5

Mushaf Ubay dikabarkan turut dimusnahkan ketika dilakukan standardisasi teks

al-Qur’an pada masa Utsman. Ibnu Abi Dawud menuturkan suatu riwayat bahwa

beberapa orang datang dari Irak menemui putra Ubay, Muhammad, untuk mencari

keterangan dalam mushaf ayahnya. Namun, Muhammad mengungkapkan bahwa mushaf

tersebut telah disita Utsman. Sekalipun demikian, dari berbagai riwayat yang sampai

kepada kita, dapat ditelusuri aransemen surat-surat di dalam mushafnya, bacaanbacaannya yang
berbeda dari varian bacaan dalam tradisi teks utsmani. Di antaranya

perbedaan vokalisasi, kerangka konsonan teks, penempatan kata yang diakhirkan atau

didahulukan, pembolak-balikan urutan ayat, penambahan atau pengurangan kata atau

ayat banyak dijumpai dalam mushaf Ubay. Bahkan ditemukan ayat alternatif atau ayat

ekstra dalam mushaf Ubay.

Contohnya, huruf “alif” dan “nun” bisa dibaca “inna”, “anna”, ataupun “an”.

“Mim” dan “nun” dibaca “man” atau “min”. Dalam surat 4:171, “an yakûna”, dalam

mushaf Utsmani misalnya, telah dibaca oleh Ubay menjadi “in yakûnu”. Perbedaan

vokalisasi ini terkadang juga bisa mengakibatkan perbedaan arti. Dalam surat 13:43, “Wa man
‘indahû ‘ilmul kitâbi, yang bermakna, “dan orang

yang ada padanya (atau memiliki) ilmu al-kitab,” terbaca dalam mushaf Ubay, “wa min

‘indihî ‘ilmul kitâbi, yang berarti, “dan yang darinya (datang) ilmu al-kitab.”

Perbedaan lainnya, kalimat dalam surat 2:18 dan 171, “shummun bukmun

‘umyun”, dibaca “shumman bukman ‘umyan”. Lalu dalam surat al-Fâtihah, “wa ladh

4
Kodeks ialah naskah kuno yang berupa tulisan tangan
5
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), h. 186
dhâlîn”, disalin dalam mushaf Ubay dengan, “ghairidh dhâlîn. Dalam surat 16:112, katakata “libâsal
jû’i wal khaufi, dibalik menjadi, “libâsal khaufi wal jû’i”.

Berikut beberapa contoh lain perbedaan dalam mushaf Ubay dengan mushaf

Utsmani:6

lgf e d c b a m •

)7(‫َفال ُجنَ َ اح َع َلـ ْي ِه َأ ال َي ط و َف ِبـ ِه َمـا‬

l_ ^ ] \ [ Z m •
ْ ‫ب ِه‬
)8(‫ِمن ُه ن إِ َلى َأ َج ٍل ُم َس مى‬ ِ ‫َفـ َمـا ْ اس َت ْم َت ْع ُت ْم‬
Dalam kaitannya dengan susunan surat, terdapat perbedaan yang relatif kecil

antara mushaf Ubay dengan mushaf utsmani.

Dalam kitab al-Itqân surat-surat dalam mushaf Ubay dapat dikemukakan sebagai

berikut:7

‫ ثم يونس‬,‫ ثم الـمـائدة‬,‫ ثم األعراف‬,‫ ثم األنعام‬,‫ ثم آل عمران‬,‫ ثم النساء‬,‫ ثم البقرة‬,‫الـحمد‬,

‫ ثم‬,‫ ثم الكهف‬,‫ ثم يوسف‬,‫ ثم الـحج‬,‫ ثم الشعراء‬,‫ ثم مريم‬,‫ ثم هود‬,‫ ثم براءة‬,‫ثم األنفال‬


‫ ثم‬,‫ ثم النور‬,‫ ثم األنبياء‬,‫ ثم طه‬,‫ ثم الزمر أولـها حم‬,‫ ثم بني إسرائيل‬,‫ ثم أحزاب‬,‫النحل‬
‫ ثم‬,‫ ثم النمل‬,‫ ثم القصص‬,‫ ثم الرعد‬,‫ ثم الـمؤمن‬,‫ ثم العنكبوت‬,‫ ثم سبأ‬,‫الـمؤمنون‬
Dalam al-Itqân, dijelaskan surat-surat dalam mushaf Ubay berjumlah 116 surat,

karena terdapat tambahan surat al-Khal dan al-Hafd. Ada pula yang menyatakan bahwa

jumlah suratnya sebanyak 115 surat, karena surat al-Fiil dan Quraisy digabung menjadi 1

surat, sebagaimana yang dinyatakan oleh as-Sakhawi.

Susunan surat dalam mushaf Ubay –sekalipun dengan sejumlah perbedaan yang

relatif cukup besar jika dibandingan dengan mushaf Utsmani– secara garis besarnya

memperlihatkan prinsip yang umumnya dipegang dalam penyusunan tata urutan surat

dalam mushaf-mushaf al-Qur’an yang awal, termasuk mushaf Utsmani, yakni: mulai dari

surat-surat panjang ke arah surat-surat yang lebih pendek. Hal ini bisa dilihat pada bagian

permulaan dan bagian penghujung daftar surat.

6
Ibnu Abi Dawud, Kitâbul Mashâhif, (Beirut: Darul Basya`ir al-Islamiyah), 2002, h. 292
7
Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fî ‘Ulûmil Qur’ân, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2008), c. I, h. 141.
MUSHAF IBNU MAS’UD

Ibnu Mas‘ud merupakan salah satu otoritas terbesar dalam al-Qur’an.

Hubungannya yang intim dengan Nabi telah memungkinkannya mempelajari sekitar 70

surat secara langsung dari mulut Nabi. Riwayat mengungkapkan bahwa ia merupakan

salah seorang yang pertama-tama mengajarkan bacaan al-Qur’an. Ia dilaporkan sebagai

orang pertama yang membaca bagian-bagian al-Qur’an dengan suara lantang dan terbuka

di Makkah, sekalipun mendapat tantangan yang keras dari orang-orang Quraisy yang

melemparinya dengan batu. Lebih jauh, sebagaimana telah disinggung, hadits juga

mengungkapkan bahwa ia merupakan salah seorang dari empat sahabat yang

direkomendasikan Nabi sebagai tempat bertanya tentang al-Qur’an. Otoritas dan

popularitasnya dalam al-Qur’an memuncak ketika bertugas di Kufah, di mana mushafnya

memiliki pengaruh yang luas.

Tidak ada informasi yang jelas kapan Ibnu Mas‘ud mengawali pengumpulan

mushafnya. Kelihatannya, ia mulai mengumpulkan wahyu-wahyu pada masa Nabi dan

melanjutkannya sepeninggal Nabi. Setelah ditempatkan di Kufah, ia berhasil

memapankan pengaruh mushafnya di kalangan penduduk kota tersebut. Ketika Utsman

mengirim salinan resmi teks al-Qur’an standar ke Kufah dengan perintah untuk

memusnahkan teks-teks lainnya, dikabarkan bahwa Ibnu Mas‘ud menolak menyerahkan

mushafnya, karena sebuah teks yang disusun seorang pemula seperti Zaid bin Tsabit

lebih diutamakan dari mushafnya. Padahal, ia telah menjadi Muslim tatkala Zaid masih

tenggelam dalam alam kekafiran. Namun, akhirnya ia ridha dengan apa yang dilakukan

Utsman.

Di Kufah sendiri, sejumlah Muslim menerima keberadaan mushaf baru yang

dikeluarkan Utsman. Tetapi, sebagian besar penduduk kota ini tetap memegang mushaf

Ibnu Mas‘ud, yang ketika itu telah dipandang sebagai mushaf orang-orang Kufah.

Kuatnya pengaruh mushaf Ibnu Mas‘ud bisa dilihat dari sejumlah mushaf sekunder –

misalnya mushaf Alqamah bin Qais, Mushaf al-Rabi‘ bin Khutsaim, mushaf al-Aswad,

mushaf al-A‘masy, dan lainnya yang mendasarkan teksnya pada mushaf Ibnu Mas’ud.

Salah satu karakteristik mushaf Ibnu Mas‘ud adalah ketiadaan 3 surat pendek,

yakni surat 1, 113 dan 114 di dalam teksnya. Riwayat lain mengungkapkan bahwa hanya 2 surat,
yakni surat 113 dan 114 yang tidak terdapat dalam mushafnya. Ibnu Nadim
mengungkapkan bahwa ia telah melihat sebuah manuskrip mushaf Ibnu Mas‘ud yang

berusia sekitar 200 tahun yang mencantumkan pembuka kitab (surat ke-1).8

Karakteristik lainnya dari mushaf Ibnu Mas‘ud terletak pada susunan surat di

dalamnya yang berbeda dari mushaf utsmani.

Dalam kitab al-Itqân surat-surat dalam mushaf Ibnu Mas’ud adalah sebagai

berikut:9

‫تأليف مصحف عبد هللاا بن مسعود‬:

‫ ويونس‬,‫ والـمـائدة‬,‫ واألنعام‬,‫ واألعراف‬,‫ وآل عمران‬,‫ والنساء‬,‫ البقرة‬:‫الطوال‬.

‫ وطه‬,‫ واألنبياء‬,‫ وبني إسرائيل‬,‫ والكهف‬,‫ ويوسف‬,‫ وهود‬,‫ والنحل‬,‫ براءة‬:‫والـمئين‬,

‫ والصافات‬,‫ والشعراء‬,‫والـمؤمنون‬.

‫ ومريم‬,‫ واألنفال‬,‫ والنور‬,‫ النمل‬,‫ وطس‬,‫ والقصص‬,‫ والـحج‬,‫ األحزاب‬:‫والـمثاني‬,

‫ وص‬,‫ وإبراهيم‬,‫ والـمالئكة‬,‫ وسبأ‬,‫ والرعد‬,‫ والـحجر‬,‫ والفرقان‬,‫ ويس‬,‫ والروم‬,‫والعنكبوت‬,

‫ وحم عسق‬,‫ والسجدة‬,‫ والزخرف‬,‫ حم الـمؤمن‬:‫ والـحواميم‬,‫ والزمر‬,‫ ولقمان‬,‫والذين كفروا‬,

‫ ون‬,‫ والطالق‬,‫ وتنزيل السجدة‬,‫ والـحشر‬,‫ وإنا فتحنا لك‬,‫ والدخان‬,‫ والـجاثية‬,‫واألحقاف‬
‫ وقل‬,‫ والصف‬,‫ والـجمعة‬,‫ وإذا جاءك الـمنافقون‬,‫ والتغابن‬,‫ وتبارك‬,‫ والـحجرات‬,‫والقلم‬
‫ ويا أيـها النبي لـم تـحرم‬,‫ والـممتحنة‬,‫ والـمجادلة‬,‫ وإنا أرسلنا‬,‫أوحى‬.

‫ والنازعات‬,‫ والواقعة‬,‫ واقتربت الساعة‬,‫ والذاريات‬,‫ والطور‬,‫ والنجم‬,‫ الرحمن‬:‫والمفصل‬,

‫ والقيامة‬,‫ والـمرسالت‬,‫ وهل أني‬,‫ وعبس‬,‫ والـمطففين‬,‫ والـمزمل‬,‫ والـمدثر‬,‫وسأل سائل‬,

‫ والفجر‬,‫ والليل‬,‫ َ وس ِب ِح‬,‫ والغاشية‬,‫ وإذا السماء انفطرت‬,‫ وإذا الشمس كورت‬,‫وعم يتساءلون‬
Dalam al-Itqân, mushaf Ibnu Mas’ud hanya memiliki 108 surat dalam daftarnya.

Di samping surat 1; 113 dan 114, hilang juga dalam daftar tersebut sebanyak 3 surat –

surat 50; 57 dan 69– kemungkinan disebabkan terlewatkan secara tidak sengaja dalam

periwayatannya atau sekadar kesalahan penulisan. Namun, ketiga surat tersebut terdapat

dalam daftar kitab Fihrist.

Kemudian, beberapa perbedaan bacaan dengan mushaf Utsmani ialah seperti

adanya sisipan atau penghilangan partikel gramatik yang juga turut mempengaruhi

vokalisasi. Contoh, kalimat “tathawwa’a khairan”, disisipkan huruf “ba”, sehingga

dibaca “tathawwa’a bi khairin” (QS. 2:184). Penghilangan “‘an” dalam “yas`alûnaka

‘anil anfâl”, menjadi, “yas`alûnakal anfâl” (QS. 8:1). Penggantian kata dengan kata lain

8
Ibnu Nadim, al-Fihris, (Beirut: Darul Ma’rifah, t.t.), h. 39-40
9
Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fî ‘Ulûmil Qur’ân, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2008), c. I, h. 142
yang bermakna sama, seperti kata “aydiyahumâ” (tangan keduanya) dalam QS. 5:38,

dibaca “aymânahumâ” (tangan kanan keduanya). Dan ada yang bermakna lain, seperti

kata “ilyâsa” dan “ilyâsîn” (QS. 37:123 dan 130), dibaca dengan “idrîsa” dan “idrâsîn,

keduanya menunjuk kepada nama dua Nabi yang berbeda. Penyisipan beberapa kata

seperti dalam (QS. 33:6), “wa azwâjuhû ummahâtuhum (+ wa hua ’abun lahum),” “dan

istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (+ dan dia –Muhammad- adalah bapak mereka).”

Dalam (QS. 5:89), fashiyâmu tsalâtsati ayyâmin (+ mutatâbi‘âtin), “maka berpuasalah

selama tiga hari (+ berturut-turut)”. Pengurangan atau penghilangan kelompok kata,

bahkan, ketika satu ayat dihilangkan seluruhnya, seperti dalam 94:6 yang merupakan

satu-satunya kasus dalam teks Ibnu Mas‘ud, yaitu “inna ma‘al ‘usri yusran,” maka

maknanya juga tidak terdistorsi, karena ayat ini merupakan pengulangan dari ayat

sebelumnya (94:5), dan posisinya di sini barangkali hanya untuk memberi penekanan

atau penegasan.

Adapun beberapa contoh lain perbedaan dalam mushaf Ibnu Mas’ud dengan

mushaf Utsmani yaitu:10

lkjihgfm•

)13(‫ِإ ن هللااَ َال َي ْظ ِل ُم ِم ْث َق َ ال َن ْم َلة‬

l¦ ¥ ¤ £ m •

)14( ‫َو ْ اس ُج ِدي َو ْ ار َك ِعي ِفي الس ِ اج ِد ْين‬

l ¡~ } | { m •

)15(‫ِم ْن َب ْق ِل َها َو ِق ث ِ ائ َها َو ُث ِ وم َها َو َع َد ِس َها َو َب َص ِل َها‬

•‫ ِإ ال ال ِذ َ ين َ آمنُوا َو َع ِم ُلوا‬,‫ َو ِإ ن ُه فِ ْي ِه إِ َلى آ ِخ ِر الد ْه ِر‬,‫ إِ ن ْ اإل ْن َس َ ان َل ِفي ُخ ْ ٍسر‬,‫َو ْ ال َع ْ ِصر‬

16(‫ب الص ْ ِبر‬


ِ ‫ََ َ الصالِـ َح ِ ات َو َت َو َ اص ْوا‬
l¥¤£¢m•

)17(‫َو َأ ِق ْ ـيـ ُموا ْ ال َ ـح ج َو ْ ال ُع ْم َر َة ِل ْل َب ْيت‬

10
Ibnu Abi Dawud, Kitabul Mashâhif, (Beirut: Darul Basya`ir al-Islamiyah), 2002, h. 294
MUSHAF IBNU ABBAS

Dalam peta perkembangan tafsir al-Qur’an di kalangan kaum Muslimin, Ibnu

Abbas, keponakan Nabi menduduki posisi yang sangat terkemuka. Hal ini terlihat dari

figurisasi dirinya sebagai penafsir al-Qur’an terbaik, berilmu sedalam lautan, dan

intelektual umat. Ibnu Abbas memperoleh kemasyhuran bukan lantaran aktivitasnya di

panggung politik, tetapi karena pengetahuan agamanya yang luas, terutama dalam al-Qur’an. Dari
kebesaran semacam ini, seseorang bisa menduga bahwa kodeksnya akan

sama terkenal dengan mushaf sahabat-sahabat Nabi lainnya, seperti Ibnu Mas‘ud atau

Ubay. Tetapi kenyataan sejarah menunjukkan hal berbeda: mushaf Ibnu Abbas terlihat

tidak pernah menjadi panutan masyarakat kota tertentu, sekalipun sejumlah mushaf

sekunder seperti mushaf Ikrimah, Atha’, dan Sa‘id bin Jubair dipandang meneruskan

tradisi teksnya.

Ketenarannya dalam tafsir terjadi pada tahap belakangan dalam karirnya, ketika ia

berupaya memanfaatkan syair-syair pra Islam untuk menjelaskan makna al-Qur’an dalam

tradisi teks utsmani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kodeks al-Qur’annya

dikumpulkan pada masa mudanya.

Nama Ibnu Abbas sering muncul dalam daftar orang yang mengumpulkan alQur’an pada masa Nabi.
Tetapi, kenyataan bahwa usianya masih sangat muda pada waktu

itu jelas menegaskan kemungkinan aktivitas pengumpulannya. Paling jauh, hal ini hanya

mencerminkan bahwa ia dikenal sebagai salah satu pengumpul al-Qur’an pada masa pra

Utsman.

Jeffery menduga bahwa teks mushaf Ibnu Abbas mencerminkan salah satu bentuk

tradisi teks Madinah. Dari hubungan dekatnya yang resmi dengan Utsman pada masa

persiapan kodifikasi al-Qur’an, dapat dipastikan bahwa mushaf Ibnu Abbas juga telah

diserahkan untuk dimusnahkan bersama mushaf-mushaf lainnya. Itulah sebabnya, seperti

terlihat dalam pentas historis, mushaf Ibnu Abbas tidak memainkan peran yang signifikan

dalam sejarah awal teks al-Qur’an.

Salah satu karakteristik mushaf Ibnu Abbas adalah eksisnya dua surat ekstra, yaitu

surat al-Khal dan surat al-Hafd di dalamnya, sebagaimana yang terdapat dalam mushaf

Ubay dan Abu Musa. Dengan demikian, jumlah keseluruhan surat yang ada di dalam

mushaf Ibnu Abbas adalah sebanyak 116 surat. Sekalipun demikian, kedua surat ekstra
ini tidak muncul dalam daftar susunan surat mushafnya, jadi jumlahnya 114. Ibnu Abbas

berpedoman urutan kronologis dalam menyusun tartib surat. Berawal dari surat Iqra` dan

berakhir dengan surat an-Nâs. Berikut susunan surat dalam mushaf Ibnu Abbas dalam

kitab Tarikh al-Qur’an:11

‫ الـم‬,‫ والفجر‬,‫ والليل‬,‫ األعلى‬,‫ كورت‬,‫ تبت‬,‫ الفاتـحة‬,‫ الـمدثر‬,‫ الـمزمل‬,‫ والضحى‬,‫ ن‬,‫رأ‬
‫ النحل‬,‫ اإلخالص‬,‫ الكافرون‬,‫ الفيل‬,‫ الدين‬,‫ التكاثر‬,‫ الكوثر‬,‫ والعصر‬,‫ الرحمن‬,‫نشرح‬,

‫ ق‬,‫ الـمرسالت‬,‫ الـهمزة‬,‫ القيامة‬,‫ القارعة‬,‫ قريش‬,‫ التين‬,‫ البروج‬,‫ والشمس‬,‫ القدر‬,‫األعمى‬,

‫ الشعراء‬,‫ طه‬,‫ مريم‬,‫ الـمالئكة‬,‫ الفرقان‬,‫ يس‬,‫ الـجن‬,‫ األعراف‬,‫ ص‬,‫ القمر‬,‫ الطارق‬,‫البلد‬,

‫ لقمـان‬,‫ الصافات‬,‫ األنعام‬,‫ الـحجر‬,‫ يوسف‬,‫ هود‬,‫ يونس‬,‫ بنى إسرائيل‬,‫ القصص‬,‫النمل‬,

‫ األحقاف‬,‫ الـجاثية‬,‫ الدخان‬,‫ الزحرف‬,‫ حم عسق‬,‫ حم السجدة‬,‫ الـمؤمن‬,‫ الزمر‬,‫سبأ‬,

‫ الطور‬,‫ الرعد‬,‫ الـمؤمنون‬,‫ األنبياء‬,‫ إبراهيم‬,‫ نوح‬,‫ النحل‬,‫ الكهف‬,‫ الغاشية‬,‫الذاريات‬,

‫ العنكبوت‬,‫ الروم‬,‫ انشقت‬,‫ انفطرت‬,‫ والنازعات‬,‫ النساء‬,‫ الـمعارج‬,‫ الـحاقة‬,‫الـملك‬,

‫ إذا‬,‫ النساء‬,‫ الفتح‬,‫ الـممتحنة‬,‫ النور‬,‫ األحزاب‬,‫ الـحشر‬,‫ آل عمران‬,‫ األنفال‬,‫ البقرة‬,‫الـمطففين‬
‫ الـمنافقون‬,‫ الم السجدة‬,‫ الـجمعة‬,‫ لم يكن‬,‫ الطالق‬,‫ اإلنسان‬,‫ مـحمد‬,‫ الـحديد‬,‫ الـحج‬,‫زلزلت‬,

‫ الواقعة‬,‫ النصر‬,‫ التوبة‬,‫ الـمـائدة‬,‫ الصف‬,‫ التغابن‬,‫ التحريم‬,‫ الـحجرات‬,‫الـمجادلة‬,

‫ الناس‬,‫ الفلق‬,‫والعاديات‬

Beberapa perbedaan antara mushafnya dengan mushaf Utsmani dicontohkan

seperti: perbedaan vokalisasi dengan kerangka konsonantal kata yang sama, seperti “fi

‘ibâdi (QS. al-Fajr: 29), dibaca “fî ‘abdî”. Kemudian perbedaan baca sejumlah kata

dalam bentuk jamak oleh Ibnu Abbas atau sebaliknya. Contoh dalam QS. 30:41, yakni

“al-barri wal bahri” (tunggal), yang dibaca oleh Ibnu Abbas dalam bentuk jamak “alburûri wal
buhûri”. Kata “matsalu” ( )‫مثل‬dalam QS. 47:15, dibaca dengan amtsâlu ( . )‫أمثال‬

Kasus sebaliknya, ketika teks Utsmani mengungkapkan suatu kata dalam bentuk jamak,

tetapi dibaca dalam bentuk tunggal oleh Ibnu Abbas, contoh “âyâtun bayyinâtun” dalam

QS. 3:97, dibaca Ibnu Abbas dengan âyatun bayyinatun. Penambahan kata dalam ayat

juga ditemukan dalam mushaf Ibnu Abbas seperti dalam QS. 19:24, “fanâdâhâ min

tahtihâ” disisipi kata “malakun”, sehingga dibaca “fanâdâha malakun min tahtihâ”

Bentuk-bentuk sisipan semacam ini tidak banyak mempengaruhi makna keseluruhan

11
Ibrahim al-Abyari, Târîkh al-Qur’ân, (Kairo: Darul Kitab al-Mishri, 1991), h. 87
ayat, karena ia merupakan penjelasan.

Berikut beberapa contoh lain perbedaan dalam mushaf Ibnu Abbas dengan

mushaf Utsmani:12

lIHGFEDCBAm•

)20(‫َحافِ ُظوا َع َلى الص َل َو ِ ات َو الص َال ِة ْ ال ُو ْس َطى َو َص َال ِة ْ ال َع ْصر‬

l V U T S Rm •

)21(‫إِ نـ َمـا َذ ِل ُك ُم الش ْي َط ُ ان ُيـ َخ ِو ُف ُ ـك ْم َأ ْو ِل َي َ اء ُه‬

l ° ¯ ® ¬ « ª ©¨ § ¦ ¥ ¤ m •

)22(‫ب ِه‬
ِ ‫َو َما َي ْع َل ُم َت ْأ ِو َ يل ُه ِإ الهللااُ َو َي ُق ُ ول الر ِ اس ُخ ْو َن َ آمنا‬
lj i h g f e d c m •

)2(‫َل ْي َس َع َل ْي ُك ْم ُجنَ اح َأ ْن َت ْب َت ُغوا َف ْض ال ِم ْن َر ِب ُك ْم ِفي َم َو ِ اس ِم ْ ال َ ـح ِج‬

MUSHAF ABU MUSA AL-ASY’ARI

Abu Musa pernah menjadi gubernur di Bashrah pada masa khalifah Umar bin

Khattab, lalu dipindahtugaskan ke Kufah pada masa khalifah Utsman bin Affan. Abu

Musa mulai menyusun mushafnya sejak zaman Nabi Saw dan diselesaikan setalah Nabi

Saw wafat. Mushafnya yang dikenal dengan sebutan Lubab al-Nuqul menjadi kuat dan

otoritaif di kalangan penduduk Bashrah kala ia menjabat sebagai gubernur. Dalam Kitab

al-Mashahif disebutkan seorang utusan datang membawa mushaf resmi Utsmani yang

akan diajdikan mushaf standar, Abu Musa berkata bahwa bagian apa pun dalam mushafnya yang
bersifat tambahan bagi mushaf Utsmani jangan dihilangkan, dan bila ada

bagian mushaf Utsmani yang tidak terdapat dalam mushafnya agar ditambahkan.

Mushaf Abu Musa terlihat semakin memudar pengaruhnya di kalangan muslimin

seiring dengan diterimanya mushaf Utsmani sebagai mushaf resmi umat. Tidak ada

riwayat yang menuturkan susunan surat mushaf Abu Musa.

Jeffery menelusuri varian bacaan Abu Musa dan hanya menghasilkan jumlah

yang tidak banyak. Ia hanya menemukan 4 varian bacaan Abu Musa yang berbeda, dan

kesemuanya secara subsatnsial tidak berbeda maknanya dengan kodeks Utsmani.

12
Ibnu Abi Dawud, Kitabul Mashâhif, (Beirut: Darul Basya`ir al-Islamiyah), 2002, h. 339.
Yang pertama adalah dalam QS. 2:124, di mana kata “ibrâhîma” –demikian

bacaan resmi utsmani– telah dibaca “Ibrahâma” oleh Abu Musa, dan bacaan ini

dipertahankan dalam keseluruhan bagian al-Qur’an. Yang kedua adalah ungkapan “lâ

ya’qilûna” dalam QS. 5:103, dibaca “lâ yafqahûna” yang tentunya merupakan sinonim.

Yang ketiga adalah kata “shawâffa” dalam QS. 22:36, dibaca “shawâfiya”, yang tidak

mempengaruhi makna umum. Dan terakhir adalah ungkapan “man qablahu” dalam QS.

69:9, dibaca “man tilqâ`ahu” yang juga merupakan sinonim. Jadi varian-varian ini

memperlihatkan tidak ada perbedaan substansial antara mushaf Abu Musa dan kodeks

Utsmani.13

13
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), h. 211.