Anda di halaman 1dari 4

Redefinisi Konsep Keamanan : Pandangan Realisme dan Neo-Realisme

Dalam Hubungan Internasional Kontemporer


M. Ngalibahrudin (151180020)
Anak agung Banyu Perwita
Berbagai kecenderungan baru yang secara substansional sangat berbeda dengan masa-
masa sebelumnya. Berbagai contoh kasus dapat kita sebut untuk memperkuat pernyataan
diatas, seperti berakhirnya perang dingin, konflik etnis dengan berbagai dimensi
internasionalnya, mengemukanya terorisme, menguatnya regionalisme dan transregionalisme,
tentunya membawa implikasi penting bagi perkembangan teori dan paradigma yang selama
ini digunakan dalam memahami dinamika hubungan internasional. Secara khusus bab ini
akan menyoroti perkembangan yang terjadi dalam Realisme dan neo-Realisme sebagai
‘paradigm, theory, analytical tools, conceptual prespectives, frameworks, or approaches.
REALISME, KEAMANAN TRADISIONAL DAN ‘HEGEMONIC POSITION’ DALAM
HUBUNGAN INTERNASIONAL
Dalam Realisme, elemen-elemen utama dalam hubungan internasional terdiri dari
berbagai gagasan utama, yakni aktor dominan tetap berada pada Negara-negara (nation
state).Realisme sangat menekankan tesis stabilitas hegemonik (hegemonic stability) yang bia
dimiliki suatu negara. Sebagai konsekuensinya, kerjasama antar negara dalam institusi
internasional pun akan semakin sulit terwujud. Kalaupun tercipa sebuah kerjasama
institusional yang bersifat multirateral, Realisme berpendapat untuk kerjasama multirateral
itu adalah hegemonic cooperation yang didominasi oleh kekuatan hegmoni. Alhasil, negara
hegemoni hanya akan memanfaatkan kerjasama multirateral ini untulk mencapai kepentingan
(keamanan) nasional dan tujuan politik liuar negerinya semata.
Relasi antar negara akan selalu bersifat konfliktual dan anarki sehingga Realisme
melihat kerjasama dalam institusi hanyalah sebegai sesuatu yang semu sifatnya. Menurut
realist, Institusi pada dasarnya merupakan sebuah refleksi dari distribution of power dan
didasarkan pada kalkulasi kepentingan nasional negara-negara besar da oleh karenanya
institusi tidak menjadi faktor penting dalam penciptaan perdamaian dunia. Lebih jauh, John
Mearsheimer juga berkeyakinan institusi internasional hanya memiliki pengaruh minimal
pada perilaku negara-bangsa dan oleh sebab itu kecil kemungkinannya akan tercipta stabilitas
dan perdamaian internasional pada era pasca perang dingin.
Realisme mrnyatakan bahwa konsep keamanan ( nasional ) merupakan sebuah kondisi
yang terbebas dari ancaman militer atau kemampuan suatu negara untuk melindungi negara-
bangsanya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan eksternalnya (the absence of a
military threat or with the protection of the nation from external overthrow or attack).
Dengan demikian, Realisme mendefinisikan studi /kajian keamanan dalam hubungan
internasional hingga masa Perang Dingin sebagai “the study of the threat, use and control of
military force”.
Posisi Realisme dalam hubungan internasional, sebagaimana digambarkan oleh Louis
Klarevas :
“For over half a century, realism has been the domination paradigm in international
realtions. Tracing its origins back to Thucidides’s The Peloponnesian Wars, realism posits:
first, the primary agents in international politics are states, especially major powers; second,
state selfishy pursue their national interest, the most vital being national security ; third, the
most important resources in the persuit of national interest are material capabilities; and
fourth. International politics is distinct from domestic politics because the former is anarchic.
In such a setting, non-state actors are discounted, unilateralism is favored over
multilateralism, military force is a privileged means to an end, and international law and
human rights are expendable in the final analysis because morality is never universal. In this
grim view, world politics is a state of war among states”.
NEO-REALISME : KRITIK TERHADAP REALISME DAN KOMPLEKSITAS
KEAMANAN BARU HUBUNGAN INTERNASIONAL.
Neo-Realisme pada dasarnya mengemuka sebagai kritik terhadap realisme yang
cenderung menganggap aktor non negara sebagai satu-satunya aktor dominan dalam
hubungan internasional. Sementara itu, globalisasi yang sangat dicirikan dengan revolusi
teknologi informasi, komunikasi diyakini akan mengubah secara signifikan peta hubungan
internasional. Realisme dengan kata lain dianggap sudah tidak mampu lagi menyediakan
“usable map of the world”.
Sebaliknya, globalisasi dengan berbagai variannya telah mengubah politik
internasional menjadi “post-international politics” dimana aktor non-negara mulai
mengemuka sebagai aktor dominan selain aktor negara dengan kapasitas dan kapabilitas
interaksi yang telah melebihi aktor negara. Sebagai konsekuensinya, tata interaksi
internasional semakin rumit dan kompleks dimana dunia menjadi semakin multi centric.
Aktor non-negara seperti kelompok teroris, perusahaan multinasinal, LSM
internasional mulai beroperasi dan berinteraksi secara interprnden melampaui batas-batas
tradisional negara. Dengan kata lain, para aktor non-negara ini secara meyakinkan telah
menunjukan bahwa dalam hubungan internasional berlaku “no fixed traditional boundaries”.
Agenda keamanan pun meluas meliputi pula aspek-aspek non militer lainnya.Dengan kata
lain, globalisasi telah memaksa aktor negara untuk meninjau kembali konsep keamanan dan
juga konsep power,.
Para teoritisi Hubungan Internasional seperti Ken Booth mulai memasukan isu-isu
seperti pera organisasi internasional, lingkungan hidup, demokrasi, terorisme, kebijakan
publik, kesenjangan yang terjadi antara negara-negara Utasa-Selatan, dan bahkan feminisme
sebagai bagian dari kajian keamanan.
Kajian ini, kemudian, tidak lagididominasi oleh aspek militer semata tetapi diwarnai
pula oleh studi perdamaian yang memfokuskan pada isu-isu pembangunan seperti;
kolonialisme baru, keterbelakangan ekonomi, kekerasan struktural, demokrasi dan konfllik
dodial-budaya. Perubahan-perubahan mendasar yang melanda dunia sejak akhir dekade 80-an
ini kemudian memunculkan suatu kombinasi baru antara kajian perdamaian dan
keamanan/strategis yang dikenal sebagai peace strategis. Konsep ini menekankan
pembahasannya pada upaya pencapaian keamanan dan perdamaian nasional, regional serta
internasional mellui suatu pendekatan holistik yanng menggabungkan penerapan teori
perdamaian, konlik, pembangunan dan peradaban umat manusia. Atau dengan kata lain,
peace strategies memfokuskan pencapaian keamanan dan perdamaian tanpa harus berperang
(security and peace without war). Dengan demikian, kajian keamanan, menurut Neo-
Realisme, dapat dikatakan sebagai suatu kajian yang indispensable dalam Hubungan
Internasional. Sumber ancaman tidak lagi hanya bersifat militer dan non-militer. Lebih
lanjut , keamanan pun bukan hanya ditujukan bagi kelangsungan negara saja tetapi juga
menjadi kebutuhan bagi semua aktor lainya termasuk individu.
LIMA DIMENSI KEAMANAN : DARI REALISME MENUJU NEO-REALISME
1. The Origin of Threats
Ancaman kontemporer dapat berasal dari lingkup domestik dan global, dimana ancaman
yang berasal dari dalam negeri biasanya terkait dengan isu-isu primordial, seperti, etnis,
budaya, dan agama.
Sejak tahun 1989 hingga 2004, 90 dari 118 konflik bersenjata yang terjadi di dunia
diakibatkan oleh sentimen budaya, agama, dan etnis. Sementara itu, 75% dari pengungsi
dunia yang mengalir ke berbagai negara lainnya didorong oleh alasan yang sama (sentimen
budaya, agama, dan etnis).
Dalam konteks komunal yang bernuansa agama, Robert A. Seiple dan Dennis R. Hoover
menegaskan bahwa “faktor agama semakin berperan dalam hubungan internasional
kontemporer. Kegagalan dalam menyikapi faktor agama dalam hubungan internasional akan
meningkatkan terjadinya konflik internasional yang mempengaruhi umat manusia dalam
menciptakan stabilitas keamanan dan perdamaian internasional”.

2. The Nature of Threats


Secara tradisional, dimensi ini menyoroti ancaman yang bersifat militer. Namun, persoalan
keamanan meluas karena juga menyangkut berbagai aspek lain, seperti:
a. Ekonomi,
b. Sosial-Budaya,
c. Lingkungan Hidup,
d. Demokratisasi,
e. HAM
Akibatnya, isu-isu global kontemporer makin beragam dengan kehadiran sejumlah isu
baru, seperti:
a. Konflik SARA,
b. Ketidakamanan ekonomi (Economic Insecurity)
c. Degradasi lingkungan termasuk adanya kemungkinan
penggunaan senjata pemusnah massal, seperti, senjata nuklir,
biologi, dan kimia oleh aktor negara serta aktor-aktor non- negara.

3. Changing Response
Isu-isu global kontemporer perlu diatasi dengan berbagai pendekatan non-militer, seperti,
ekonomi, politik, hukum, dan sosial budaya.

4. Changing Responsibility of Security


Tingkat keamanan yang tinggi sangat tergantung pada seluruh interaksi individu pada
tataran global. Tercapainya Human Security tidak hanya tergantung pada negara saja, tetapi
juga sangat ditentukan oleh kerjasama transnasional di antara aktor non-negara.

5. Core Values of Security


Nilai-nilai baru dalam tataran individual maupun global yang perlu dilindungi antara
lain:
a. Penghormatan pada HAM,
b. Demokratisasi,
c. Perlindungan terhadap lingkungan hidup,
d. Upaya memerangi kejahatan lintas-batas (transnational crime),
seperti, narkotika, money laundering, dan terorisme.