Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN MENGENAI PLASENTA PREVIA

PERIODE 7 SEPTEMBER – 13 SEPTEMBER 2019

DIRUANG OK PONEK RSUD. Dr. H. ABDOEL MOELOEK

DISUSUN OLEH :

ASTRI YORA NITA (1715301013)

JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
TA. 2019/2020
BAB I
TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan
jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus.
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus,
baik posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang
sempurna menutupi os serviks.

2. Etiologi
Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat
diterangkan. Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang, atau perubahan atrofi
pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta
previa didapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas tinggi.
Memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup
atau diperlukan lebih banyak seperti pada kehamilan kembar, plasenta yang
letaknya normal sekalipun akan memperluaskan permukaannya, sehingga
mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir.
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan – keadaan yang
endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau
kurang baiknya vaskularisasi desidua. Keadaan ini bias ditemukan pada :
a. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
b. Mioma uteri.
c. Kuretasi yang berulang.
d. Umur lanjut.
e. Bekas seksio sesarea.
f. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau
pemakaian kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada
perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari
tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat
ostiumuteri internum. Plasenta previa juga dapat terjadi plasenta yang besar
dari yang luas, seperti pada eritroblastis, diabetes mellitus, atau kehamilan
multiple.

3. Klasifikasi
Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta
melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Disebut plasenta previa
totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta. Plasenta
previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta,
dan Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada tepat pada
pinggir pembukaan. Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah
uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir, disebut
Plasenta letak rendah. Pinggir plasenta berada kira – kira 3 atau 4 cm di atas
pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.
Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan
fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Umpamanya,
plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi
plasenta previa parsialis pada pembukaan 8 cm. Tentu saja observasi seperti
ini akan terjadi dengan penanganan yang baik.

4. Tanda dan Gejala


Tanda utama plasenta previa adalah perdarahan pervaginam yang terjadi tiba-
tiba dan tanpa disertai nyeri. Ini terjadi selama trimester ketiga dan
kemungkinan disertai atau dipicu oleh iritabilitas uterus. Seorang wanita yang
tidak sedang bersalin, tetapi mengalami perdarahan pervaginam tanpa nyeri
pada trimester ketiga, harus dicurigai mengalami plasenta previa.
Malpresentasi (sungsang, letak lintang, kepala tidak menancap) adalah
kondisi yang umum ditemukan karena janin terhalang masuk ke segmen
bawah rahim.
Gejala – gejala yang dialami jika pada ibu plasenta previa, yaitu:
A. Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri. Pasien mungkin
berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun; baru waktu ia
bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya perdarahan karena
plasenta previa baru timbul setelah bulan ketujuh. Hal ini disebabkan
oleh:
 Perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak
berbeda dari abortus.
 Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara
plasenta dan dinding rahim. Keterangannya sebagai berikut :
Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi
rahim lebih cepat tumbuhnya dari rahim sendiri; akibatnya istmus
uteri tertarik menjadi bagian dinding korpus uteri yang disebut
segmen bawah rahim. Pada plasenta previa, tidak mungkin terjadi
tanpa pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan
bergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada
istmus uteri. Jadi, dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk
menimbulkan perdarahan, tetapi sudah jelas dalam persalinan his
pembukaan menyebabkan perdarahan karena bagian plasenta di atas
atau dekat ostium akan terlepas dari dasarnya. Perdarahan pada
plasenta previa terjadi karena terlepasnya plasenta dari dasarnya.
Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang – ulang karena
setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Oleh
karena itu, regangan dinding rahim dan tarikan pada serviks
berkurang, tetapi dengan majunya kehamilan regangan bertambah lagi
dan menimbulkan perdarahan baru. Darah terutama berasal dari ibu
ialah dari ruangan intervilosa, tetapi dapat juga berasal dari anak jika
jonjot terputus atau pembuluh darah plasenta yang lebih besar terbuka.
B. Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub
bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu
atas panggul.
C. Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada
plsenta previa lebih sering disertai kelainan letak jika perdarahan
disebabkan oleh plasenta previa lateral dan marginal serta robekannya
marginal, sedangkan plasenta letak rendah, robekannya beberapa
sentimeter dari tepi plasenta.
1. Perdarahan berulang.
2. Warna perdarahan merah segar
3. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
4. Timbulnya perlahan-lahan.
5. Waktu terjadinya saat hamil
6. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
7. Denyut jantung janin ada
8. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
9. Presentasi mungkin abnormal.

5. Patofisiologi
a. Proses patologi tampaknya berhubungan dengan kondisi – kondisi yang
mengubah fungsi normal desidua uterus dan vaskularisasinya.
b. Perdarahan yang terjadi akibat robekan vili plasenta dari dinding uterus
karena kontraksi dan dilatasi segmen bawah uterus,dapat terjadi ringan
atau berat. ( Keperawatan Ibu – Bayi Baru Lahir,E/3.2005.hal.250 )
Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20
minggu saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta
menipis. Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah
uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran SBR dan
pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya
plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari
plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarikan karena ketidakmampuan
serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada
plasenta letak normal.

6. Gambaran Klinis
Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan
pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur
atau bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak
akan berakibat fatal. Akan tetapi, perdarahan berikutnya hamper selalu lebih
banyak daripada sebelumnya,apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan
pemeriksaan dalam. Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada
triwulan ketiga, akan tetapi tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20
minggu karena sejak itu SBR telah terbentuk dan mulai melebar serta
menipis. Dengan bertambah tuanya kehamilan, SBR akan lebih melebar lagi,
dan serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada SBR, pelebaran
SBR dan pembukaan serviks tidak dapat di ikuti oleh plasenta yang melekat
disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu
mulailah terjadi perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, berlainan
dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam –
hitaman. Sumber Perdarahanan ialah sinus uterus yang terobek karena
terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis
dari plasenta. Perdarahannya tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan
serabut otot SBR untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak
sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III
dengan plasenta yang terletak normal. Makin rendah letak plsenta, makin dini
perdarahan terjadi. Oleh karena itu perdarahan pada plasenta previa totalis
akan terjadi lebih dini daripada plasenta letak rendah, yang mungkin baru
berdarah setelah persalinan dimulai. Turunnya bagian terbawah janin ke
dalam PAP akan terhalang karena adanya plasenta di bagian bawah uterus.
Apabila janin dalam presentasi kepala, kepalanya akan didapatkan belum
masuk PAP yang mungkin karena plasenta previa sentralis: mengolak ke
samping karena plasenta previa parsialis : menonjol diatas simpisis karena
plasenta previa posterior : atau bagian terbawahh janin sukar di tentukan
karena plasenta previa anterior. Tidak Jarang terjadi kelainan letak, seperti
letak lintang atau letak sungsang. Nasib janin tergantung dari banyaknya
perdarahan dan tuanya kehamilan pada waktu persalinan. Perdarahan
mungkin masih dapat diatasi dengan transfusi darah, akan tetapi persalinan
terpaksa diselesaikan dengan janin yang masih premature tidak selalu dapat
dihindarkan. Apabila janin telah lahir, plasenta tidak selalu mudah dilahirkan
karena sering mengadakan perlekatan yang erat dengan dinding uterus.
Apabila plasenta telah lahir, perdarahan postpartum sering kali terjadi karena
kekurang- mampuan serabut otot SBR untuk berkontraksi menghentikan
perdarahan dari bekas insersio plasenta atau karena perlukaan serviks dan
SBR yang rapuh dan mengandung banyak pembuluh darah besar , yang dapat
terjadi bila persalinan berlangsung per vaginam.

7. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Ultasonografi ( USG )
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak
tepi palsenta terhadap ostium. USG: Penentuan letak plasenta dengan cara
ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan
janinnya dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
 Bila tidak dijumpai plasenta previa, lakukan pemeriksaan inspekulo untuk
melihat sumber perdarahan lain (serviks, fornik, atau dinding vagina).
 Pemeriksaan darah
Hemoglobin dan hematokrit.

8. Diagnosa
a. Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan berulang. Klinis
kelainan letak dari perabaan fornises teraba bantalan lunak pada
presentasi kepala.
b. Pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan bila dilakukan
di kamar operasi yang telah siap untuk melakukan operasi segera.
c. Diagnosis palsenta previa (dengan perdarahan sedikit) yang terapi
ekspektatif ditegakkan dengan pemeriksaan USG.
d. Anamnesis perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu
berlangsung tanpa rasa nyeri, tanpa alasan terutama pada multigravida.
Banyaknya perdarahan tidak dapat di nilai dari anamnesa, melainkan dari
pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan Luar atau Inspeksi, yaitu :
 Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau
sedikit, darah beku dan sebagainya
 Kalau telah berdarah banyak maka ibu kelihatan anemis
Palpasi
 Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah
 Sering dijupai kesalahan letak janin
 Bagian terbawah janin belum turun , apabila letak kepala, biasanya
kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak di atas
pintu atas panggul
 Bila cukup pengalaman, dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen
bawah rahim terutama pada ibu yang kurus.
Pemeriksaan dalam sangat berbahaya sehingga kontraindikasi untuk
dilakukan kecuali fasilitas operasi segera tersedia.

9. Penatalaksanaan
a. Perawatan konservatif berupa :
 Istirahat.
 Memberikan hematinik dan spasmolitik untuk mengatasi anemia.
 Memberikan antibiotik bila ada indikasi.
 Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit
 Pemantauan tanda – tanda vital.
b. Terapi, Pengobatan plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu:
 Ekspektatif, yaitu: dilakukan apabila janin masih kecil sehingga
kemungkinan hidup di dunia luar banginya kecil sekali. Syarat terapi
ini keadaan ibu dan anak masih baik ( Hb- nya normal ), perdarahan
tidak banyak, kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit, belum
ada tanda – tanda inpartu. Pada terapi ini, pasien dirawat di rumah
sakit sampai berat anak ± 2500 gram atau kehamilan sudah sampai 37
minggu. Selama terapi dilakukan pemeriksaan USG untuk
menentukan letak plasenta.Pemberian antibiotic mengingat
kemungkinan terjadi infeksi yang besar akibat perdarahandan tindaka
– tidakan intrauterine serta diberikan Betamethason 24 mg IV dosis
tunggal untuk pematangan paru janin.
 Terminasi : Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan
yang membawa maut, miksalnya : kehamilan cukup bulan, perdarahan
banyak, parturien, dan anak mati. Dengan cara : seksio sesarea.
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk
menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak
punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan.

10. Komplikasi
a. Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan,anemia
karena perdarahan, plasentitis, endometritis pascasalin.
b. Pada Janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti
asfiksia berat.
c. Plasenta akreta. Pada kondisi ini, plasenta implantasi terlalu dalam dan
kuat pada dinding uterin, yang menyebabkan sulitnya plasenta terlepas
secara spontan plasenta saat melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan
perdarahan hebat dan perlu operasi histerektomi. Keadaan ini jarang,
tetapi sangat khas mempengaruhi wanita dengan plasenta previa atau
wanita dengan sesar sebelumnya atau operasi uterus lainnya.
d. Bahaya untuk ibu pada plasenta previa, yaitu :
– Syok hipovolemik
– Infeksi – sepsis
– Emboli udara ( jarang )
– Kelainan Koagulopati sampai syok
– Kematian
e. Bahaya untuk anak, yaitu :
– Hipoksia
– Anemi
– Gawat janin

11. Prognosis
Dengan penanggulangan yang baik seharusnya kematian ibu karena plasenta
previa rendah sekali atau tidak sama sekali. Sejak diperkenalkannya
penanganan pasif pada tahun 1945 , kematian perinatal berangsur-angsur
dapat diperbaiki. Walaupun demikian, hingga kini kematian perinatal yang
disebabkan prematuritas tetap memegang peranan utama. Penanganan pasif
maupun aktif memerlukan fasilitas tertentu, yang belum dicukupi pada
banyak tempat di tanah air kita, sehingga beberapa tindakan yang sudah lama
ditinggalkan oleh dunia kebidanan mutakhir masih terpaksa dipakai juga
seperti pemasangan cunam Wiilett , dan versi Braxton-Hicks. Tindakan-
tindakan ini juga sekurang-kurangnya masih dianggap penting untuk
menghentikan perdarahan dimana fasilitas seksio sesarea belum ada. Dengan
demikian tindakan-tindakan itu lebih banyak ditujukan demi keselamatan ibu
daripada janinnya.
BAB II

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S KEHAMILAN 28 MINGGU DENGAN


PLASENTA PREVIA TOTALIS RSUD Dr. ABDUL MOELOEK

PENGKAJIAN DATA
Hari/tanggal : Selasa, 03 September 2019
Pukul : 11.30 WIB

Subjektif (S)
1. Identitas
Istri Suami
Nama : Ny. S Nama : Tn.
Umur : 26 tahun Umur : 28 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama : Islam Agama : Islam


Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wirawasta
Alamat : jl. Imam bonjol gg. Mawar sumber rejo, lampung

2. Keluhan Utama
Ibu mengetakan mengalami perdarahan sedikit-sedikit sejak tadi malam dengan
warna merah segar.

3. Riwayat Kehamilan Sekarang


A. Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
Disminorhe : tidak ada

B. Riwayat Kehamilan Sekarang


HPHT : 1-01-2019
TP : 8-09-2019
Kehamilan yang ke- : pertama
Umur kehamilan : 29 minggu
Mulai merasakan gerakan janin : 16 minggu

4. Riwayat Kesehatan
A. Riwayat kesehatan ibu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC,
Hepatitis, HIV/AIDS dan penyakit keturunan lainnya.
B. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dari keluarga baik dari ibu maupun suaminya tidak pernah
menderita penyakit menular seperti TBC, Hepatitis, HIV/AIDS dan
penyakit keturunan lainnya.

5. Riwayat Sosial Ekonomi


A. Status Perkawinan
Kawin : Ya
Usia kawin : 19 tahun
Lamanya : 8 tahun
Dengan suami sekarang : Ya
Istri yang ke berapa dari suami yang sekarang : Pertama

6. Data Biologis
A. Pola Nutrisi
Sebelum hamil
Jenis : Nasi, lauk-pauk, sayuran
Porsi : 1 piring
Frekuensi : 3 x seharian
Pantangan : Tidak ada
Masalah : Tidak ada
Sekarang
Jenis : Nasi, lauk-pauk, sayuran, susu
Porsi : 1 piring
Frekuensi : 3 x seharian
Pantangan : Tidak ada
Masalah : Tidak ada

B. Personal Hygiene
Sebelum hamil
Frekuensi mandi : 2 x sehari
Frekuensi gosok gigi : 2 x sehari
Frekuensi ganti pakaian : 2 x sehari
Kebersihan vulva : Setiap kali BAB, BAK, dan pada saat mandi
Masalah : Tidak ada
Sekarang : Tidak ada perubahan selama hamil

C. Pola Eliminasi
BAB sebelum hamil
Frekuensi : 1 x sehari
Warna : Kuning Kecoklatan
konsistensi : Lembek
Masalah : Tidak ada
Perubahan selama hamil : Tidak ada perubahan selama hamil
BAK Sebelum hamil
Frekuensi : 2-3 x sehari
Warna : Kuning jernih
Bau : Amoniak
Masalah : Tidak ada
Perubahan selama hamil : Frekuensi BAK 5-6 kali sehari
D. Pola Aktivitas
Sebelum Hamil
Ibu mengatakan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
memasak, mencuci.
Perubahan selama hamil
Ibu mengatakan aktifitasnya sehari – hari seperti menyapu, memasak dan
mencuci sedikit dikurangi.

E. Pola Tidur dan Istirahat


Tidur Siang : 2 jam
Tidur Malam : 8 jam
F. Pola Seksual
Sebelum Hamil : 2 x seminggu
Selama hamil : 1 x seminggu
Masalah : Tidak ada

7. Data Psikologis
a. Respon ibu terhadap kehamilan
Ibu sangat bahagia karena ini sangat diharapkan dan ditunggu oleh ibu.
b. Respon suami terhadap kehamilan
Suami mengatakan sangat bahagia dan selalu memperhatikan kondisi
istrinya, khususnya saat kehamilan sekarang.
c. Dukungan keluarga
Keluarga menerima mendukung dan bahagia atas kehamilannya.
d. Pengambilan keputusan
Ibu mengatakan pengambilan keputusan adalah suami.

8. Data Spiritual
Ibu mengatakan selalu berdoa agar kondisi kehamilannya selalu baik dan
dimudahkan dalam proses persalinan.
9. Data Sosial Budaya
Ibu mengatakan di lingkungan tempat tinggal tidak ada tradisi atau kebiasaan
yang merugikan kesehatan ibu maupun janinnya.

Objektif (O)
1. Pemeriksaan Umum
A. Keadaan Umum
Kesadaran : Compos Mentis
Keadaan emosional : Baik
BB sebelum hamil : 45 cm
BB sekarang : 52 cm
TB/Lila : 150 cm / 24 cm

B. Tanda – Tanda Vital


TD : 100 / 70 mmHg
Suhu : 37oc
Nadi : 82 x/m
Pernapasan : 22 x/m

2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Kepala : bersih, rambut lurus, warna hitam, tidak ada ketombe, dan
tidak terlihat benjolan abnormal.
Muka : tidak ada odema, tidak pucat, tidak ada cloasma
gravidarum
Mata : bentuk simetris, kanan dan kiri, konjungtiva tidak pucat
dan sklera tidak ikterik.
Telinga : simetris, bersih, tidak ada cairan atau serumen yang keluar
Mulut : bersih, tidak ada sianosis, gigi tidak karies, bibir tidak
pucat
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan limfe, tidak
ada pelebaran vena jugularis
Mamae : payudara simetris, papila mamae menonjol, areola
coklat kehitaman, kolosterum belum keluar
Abdomen : tidak terdapat luka sikatrik, terdapat hiperpigmentasi dan
linea nigra
Ekstemitas : bersih, tidak ada odema dan varises, kuku jari tangan dan
kaki tidak pucat dan lengkap

b. Palpasi
Muka : tidak teraba odema
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan limfe
Mamae : papila mamae menonjol keluar, tidak teraba
benjolan abnormal
Abdomen
Leopold I : TFU 26 cm, pertengahan pusat dan prx, pada fundus
teraba bagian yang bulat, keras dan tidak melenting
Leopold II : disebelah kanan teraba bagian-bagian kecil dan tidak
penuh. Di sebelah kiri teraba bagian yang keras, datar dan
terasa ada tekanan (punggung kiri)
Leopold III : bagian terbawah janin teraba keras, bulat dan melenting
(Pres-kep)
Leopold IV : bagian terbawah janin belum masuk pintu atas
panggul (konvergen)
TBJ = (TFU – 12) 155
= (26 – 12) 155
= (14) 155
= 2.170 gram

c. Auskultrasi
DJJ : positif (+)
Frekuensi : 145 x/menit
d. Perkusi
Reflek patella : positif kiri/kanan (+/+)
Cek ginjal : negatif (-), tidak ada keluhan pada ginjal

3. Pemeriksaan Laboratorium
Hb : 12 gr %

4. Pemeriksaan Penunjang
USG : dilakukan pada tanggal 22 januari 2015, pada USG terlihat
bagian plasenta di segmen bawah rahim, bagian tepi plasenta
menutupi jalan lahir.

Analisa Data
Ny. T G1P0A0 umur 26 tahun UK 29 minggu janin tunggal hidup intrauterine
presentasi kepala dengan perdarahan pervaginam belum inpartu dengan plasenta
previa totalis.

Planning
1. Membina hubungan baik dan saling percaya antara bidan dengan pasien
dengan cara bersikap ramah sehingga hubungan baik sudah terjalin.
2. Menjelaskan kepada ibu bahwa saat ini ibu sedang mengalami komplikasi
kehamilan yang berhubungan dengan plasenta yaitu plasenta menutupi jalan
lahir, sehingga menyebabkan pengeluaran darah segar pervaginam yang
disertai gumpalan tanpa rasa nyeri.
3. Menjelaskan kepada ibu kemungkinan tidak bisa melahirkan secara
pervaginam maka dilakukan SC karena plasenta menutupi jalan lahir.
4. Menganjurkan ibu untuk beristirahat total (bed rest) karena dengan istirahat
memungkinkan otot berelaksasi dan mengurangi beban kerja jantung yang
meningkat selama kehamilan serta dapat mengurangi frekuensi perdarahan,
dimana pada saat istirahata berbaring sum-sum tulang belakang bekerja
menghasilkan sel darah merah.
5. Melakukan observasi denyut jantung janin, tanda-tanda vital dan
perdarahannya.
6. Memberitahukan hasil pemeriksaan yaitu TD : 100/70 mmHg, suhu : 37oC, R
: 22 x/m, N : 82 x/m dan kehamilan ibu mengalami komplikasi dimana
plasenta berada di bagian bawah rahim. Ibu sudah mengetahui.
7. Mengobservasi jumlah tetesan cairan infus tetap mengalir dengan baik.
8. Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium dan persiapan
transfus darah jika diperlukan.
9. Bekerja sama dengan anggota keluarga untuk memberikan dorongan
psikologis pada ibu untuk mengurangi kecemasan dan kekhawatiran yang
sedang dialami ibu.
10. Menganjurkan ibu untuk makan sedikit-sedikit tetapi sering.
11. Melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG untuk mnentukan terapi apa yang
akan diberikan.
12. Memberikan terapi obat-obatan kepada ibu:
a. Melakukan pemberian MgSO4 40% dalam RL
b. Melakukan pemberian terapi dexametason 2x12 mg secara IV
c. Melakukan pemberian nipedipine 2x1 amp
d. Melakukan pemberian oksigen kepada ibu agar janin didalam
kandungannya mengalami rileksasi
13. Mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan dalam bentuk SOAP.
Hasil asuhan telah didokumentasikan ke dalam asuhan kebidanan.
14. Mengantarkan pasien keruang delima atau ruang perawatan.