Anda di halaman 1dari 35

Makalah Mata Kuliah

Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah


Sifat Kimia Tanah

Dosen :
Catur Puspawati, ST., M. KM.
Disusun Oleh :
Kelompok 8
1. Anggun Fortuna Dewi P21335118009
2. Azizah Berlianti P21335118012
3. Hisyam Fadhlurrahman P21335118024
4. Windy Alviani P21335118075

PROGRAM STUDI DIV KESEHATAN LINGKUNGAN


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II
Jl. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12120 Telp. 021-
7397641, 7397643 Fax. 021-7397769
Kata Pengantar

Segala puji dan syukur dihaturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
nikmat, rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, karena atas berkat rahmat-Nya lah
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar.
Berikut ini penulis akan mempersembahkan makalah mata kuliah Penyehatan
Tanah dan Pengelolaan Sampah yang menurut penulis dapat memberikan manfaat bagi
kita semua. Melalui kata pengantar ini penulis terlebih dahulu meminta maaf dan
mohon dimaklumi apabila dalam makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang
salah atau kurang tepat bagi para pembaca makalah ini.
Dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa
terimakasih pada pihak yang membantu dan semoga Allah SWT memberikan rahmat-
Nya agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Oktober , 2019

Penulis
A. Sifat-Sifat Kimia Tanah
Tanah memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik dan biologi tanah
dapat dilihat secara kasat mata dan diteliti dengan warna tanah, tekstur tanah, kepadatan
tanah,dan lain-lain. Sifat kimia tanah mengacu pada sifat dasar tanah yang memiliki derajat
keasaman tanah atau pH yang berbeda-beda, pemupukan yang dilakukan oleh manusia dan
kandungan organik serta mineral di dalam tanah itu sendiri. Sifat kimia tanah berperan
besar dalam menentukan sifat dasar inilah kemudian dapat diteliti bagaimana
memperlakukan dan pembubidayaan tanah (Anonim,2011).
Beberapa sifat kimia yang digunakan sebagai parameter dalam penelitian ini adalah
pH tanah, karbon tanah, nitrogen, C/N fosfat tersedia tanah. Beberapa sifat kimia tanah
dapat menilai apakah suatu tanah merupakan tanah yang potensial atau tidak ( Hanafiah,
2005). Bahan organik adalah semua bahan organik di dalam tanah baik yang mati maupun
yang hidup,walaupun organisme hidup (biomassa tanah) hanya menyumbang kurang dari
5% dari total bahan organik. Jumlah dan sifat bahan organik sangat menentukan sifat
biokimia, fisika, kesuburan tanah dan membantu menetapkan arah proses pembentukan
tanah. Bahan organik menentukan komposisi dan mobilitas kation yang terjerap, warna
tanah, keseimbangan panas, konsistensi, kerapatan partikel, kerapatan isi, sumber hara,
pemantap agregat, karakteristik air, dan aktifitas organisme tanah ( Mukhlis, 2007)

Komponen kimia tanah berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah
umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Bahan aktif dari tanah yang berperan dalam
menjerap dan mempertukarkan ion adalah bahan yang berada dalam bentuk koloidal, yaitu;
liat dan bahan organik. Kedua bahan koloidal ini berperan langsung atau tidak langsung
dalam mengatur dan menyediakan hara bagi tanaman.
Tanah terdiri dari komposisi kimia inorganik dari hasil pelapukan batuan dan kimia organik
dari basil dekomposisi bahan organik. Tanah yang berfungsi sebagai selimut bumi secara
geologis terletak di permukaan bumi yang proses pembentukannya dipengaruhi oleh bahan
induk, iklim, topografi, makhluk hidup terutama vegetasi termasuk biota tanah dan waktu
pembentukan tanah. Secara fisik, tanah terdiri dari fase padat (inorganik dan orga-nik), cair,
dan gas. dan tiga fase fisiknya memungkinkan tanah sangat cocok untuk media tumbuh
tanaman seperti
1. menjadi jangkar akar tumbuhan sehingga tumbuh te-gak,
2. tempat pemasok air baik untuk proses kimia, fisik dan biologi dalam tanah maupun
transportasi massa dari dalam tanah naik ke bagian atas tumbuhan,
3. menyediakan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman, dan
4. menyediakan udara dengan berbagai fungsinya untuk pertumbuhan tanaman.

Sifat kimia tanah menggambarkan karakteristik bahan kimia tanah dalam


lingkungannya yang sangat penting untuk memprediksi fungsi tanah dari sudut Pandang
kelarutan dan ketersediaan unsur dalam tanah. Proses kimia tanah merupakan semua proses
reaksi kimia yang dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat ketersediaan unsur hara
tanaman di satu pihak dan toksisitas/kontaminan di pihak lain. Reaksi-reaksi ini meliputi
absorpsi/desorpsi, pengendapan, polimerisasi, pelapukan, kompleksasi dan reduksi/ oksidasi.
B. Peranan Sifat Kimia Tanah

Komponen kimia tanah berperan dalam menentukan sifat dan ciri tanah pada umumnya
dan kesuburan tanah pada khususnya. Uraian kimia tanah bertujuan untuk menjelaskan reaksi-
reaksi kimia yang menyangkut masalah-masalah ketersediaan unsur hara bagi tanaman (Hakim
et al. 1986). Sehingga sifat kimia tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan, produksi dan
kualitas tanaman.
Sifat kimia tanah berperan besar dalam menentukan sifat dasar inilah kemudian dapat
diteliti bagaimana memperlakukan dan pembubidayaan tanah.

C. Macam- Macam Sifat Kimia Tanah

1. Koloid Tanah
Kolid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik yang sangat halus sehingga
mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Koloid tanah yang
berperan yaitu koloid anorganik (koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus).
Kedua koloid ini mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda. Koloid berukuran < 1 ,
sehingga tidak semua fraksi liat termasuk koloid. Koloid merupakan bagian tanah yang
sangat aktif dalam reaksi-reaksi fisikokimia di dalam tanah.

Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang disebut micell (microcell),


umumnya bermuatan negatif, karena itu ion-ion bermuatan positif (kation) tertarik
pada koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ion. Bagian dalam dari
lapisan ganda ion ini terdiri dari partikel koloid yang bermuatan negatif (anion)
sedang bagian luar merupakan kerumunan kation yang tertarik oleh partikel-
partikel koloid tersebut.

2. Koloid Liat

Ukuran fraksi liat (mineral liat) adalah kurang dari 2 mikron sedangkan liat

yang bersifat koloid berukuran < 2 , berarti tidak semua fraksi liat dapat dikatakan
koloid. Mineral liat dalam tanah terbentuk karena :

a) Rekristalisasi sintesis dari senyawa-senyawa hasil pelapukan mineral primer

b) Alterasi (perubahan) langsung dari mineral primer yang telah ada (misal mika
menjadi Ilit).
Liat dalam tanah dapat dibedakan menjadi :

a) Mineral liat Al-silikat

b) Oksida-oksida Fe dan Al

c) Mineral–mineral primer

Beberapa kemungkinan terhadap asal dan urutan perubahan dari suatu jenis mineral
lain dalam tanah, dapat dilihat pada bagan berikut :
Gambar .1 Bagan perubahan mineral tanah

Mineral liat Al- silikat dapat dibedakan menjadi :

a) Mineral liat Al-silikat yang mempunyai bentuk kristal yang baik (kristalin) misalnya
kaolinit, haloisit, montmorilonit dan Illit.
b) Mineral liat Al-silikat amorf. Misalnya alofon, yang banyak ditemukan pada tanah
yang berasal dari abu volkan seperti tanah Andisols.

Mineral liat Al-silikat mempunyai struktur berlapis-lapis, setiap unit terdiri dari lapisan Si-
tetrahedron dan Al-oktahedron. Berdasarkan atas banyaknya lapisan Si-tetrahedron dan Al-
oktahedron dalam setiap unit mineral, maka mineral liat silikat dibedakan menjadi:

a) Mineral liat 1 : 1 adalah mineral liat dimana setiap unitnya terdiri dari satu

lapis Si-tetrahedron dan satu lapis Al-oktahedron.

b) Mineral liat 2 : 1 adalah mineral liat dimana setiap unitnya terdiri dari dua

lapis Si-tetrahedron yang mengapit satu lapis Al-oktahedron.

c) Mineral liat 2 : 2 adalah mineral liat dimana setiap unitnya terdiri dari dua lapis
Si-tetrahedron dan dua lapis Al-oktahedron yang letaknya berselang-seling.
Sifat dan unsur koloid liat

a) Umumnya berbentuk kristal

(a) Kaolinit (b) Montmorillonite (c) Chlorite


Gambar 1 Tipe Mineral Liat
b) Bermuatan unsur dan sebagian kecil bermuatan positif

c) Menjerap air serta menjerap dan mempertukarkan kation

d) Mempunyai permukaan yang luas.

Adanya muatan unsur pada liat silikat disebabkan oleh beberapa hal:

a) Kelebihan muatan unsur pada ujung-ujung patahan kristal baik pada Si-
tetrahedron maupun Al-oktahedron.

b) Disosiasi H+ dari gugus OH yang terdapat pada tepi atau ujung kristal.

Pada pH rendah (masam) ion H + terikat erat tetapi bila pH naik, Ion H menjadi
mudah lepas sehingga muatan unsur meningkat, muatan ini disebut muatan
tergantung pH.

c) Substitusi Isomorfik, yaitu penggantian kation dalam struktur kristal oleh


kation lain yang mempunyai ukuran yang sama dengan muatan (valensi)
berbeda. Pada umumnya kation yang menggantikan mempunyai valensi
lebih rendah daripada yang digantikannya, unsur Mg2+ menggantikan Al3+
dalam Al-oktahedron atau Al3+ menggantikan Si4+ dalam Si-tetrahedron,
sehingga terjadi kelebihan muatan unsur pada liat.

3. Koloid Organik

Bahan unsur yang bersifat koloid adalah humus, koloid humus seperti halnya
koloid liat juga bermuatan negatif, perbedaan utama dari koloid unsur dengan
koloid anorganik adalah bahwa humus tersusun dari oleh C, H dan O, sedang liat
tersusun dari Al, Si, dan O. Humus bersifat amorft, mempunyai KTK yang lebih
tinggi dari mineral liat, sumber muatan unsur ini diduga berasal dari gugus
karboksil ( - COOH) dan Fenolik ( -- OH ).

Muatan dalam humus adalah muatan bergantung pH, dalam keadaan masam H+
diikat kuat dalam dalam gugusan karboksil atau phenol, tetapi ikatan tersebut
menjadi lemah apabila pH menjadi lebih tinggi, akibatnya disosialisasi H+
meningkat dengan naiknya pH tanah, sehingga muatan unsur dalam koloid humus
yang dihasilkan meningkat pula.

Humus diperkirakan disusun oleh tiga jenis bagian utama yaitu :

a) Asam Fulvik, berat molekul paling rendah, warna terang larut dalam asam
maupun alkali, serta aktif dalam reaksi kimia.

b) Asam Humik, berat molekul sedang, warna tidak terlalu terang dan tidak terlalu
gelap, larut dalam alkali tetapi tidak dalam asam, aktif dalam reaksi kimia.

c) Humin, berat molekul paling besar, warna paling kelam, tidak larut baik dalam
asam maupun alkali, tidak aktif dalam reaksi kimia.

4. Kapasitas Tukar Kation (KTK)


Kapasitas tukar kation (KTK) suatu tanah dapat didifinisikan adalah sebagai
suatu kemampuan koloid tanah menjerap dan mempertukarkan kation. Besarnya
KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan unsur tanah itu sendiri antara lain adalah:

a) Reaksi tanah atau pH

b) Tekstur tanah atau jumlah liat

c) Jenis mineral tanah

d) Bahan unsur

e) Pengapuran dan pemupukan

Kation adalah ion bermuatan positif seperti: Ca2+, Mg2+, Na+, NH4+, H+, Al3+. Di

dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau terjerap oleh
koloid-koloid tanah.

Banyaknya kation (dalam milliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan
berat tanah (per 100 gr) dinamakan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Kation-kation
yang telah dijerap oleh koloid tersebut sulit tercuci air gravitasi, tetapi dapat
digantikan oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah, hal ini yang
dinamakan pertukaran kation. Satuan KTK adalah me 100 gr-1.

Kapasitas Tukar Kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya
dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan
menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Karena
unsur hara terdapat pada kompleks jerapan koloid maka unsur-unsur hara tersebut
tidak mudah tercuci.

Tanah-tanah dengan kandungan bahan unsur tinggi atau dengan kadar liat tinggi
mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah dengan bahan unsur rendah atau tanah
berpasir. Jenis mineral liat montmorillonit mempunyai KTK yang lebih besar
daripada tanah dengan mineral liat kaolinit.

Tanah-tanah tua yang banyak didominir oleh mineral jenis seskuioksida, akan
memiliki KTK yang rendah, disamping itu besarnya nilai KTK tanah digunakan
sebagai penciri untuk klasifikasi tanah, misalnya Oxisols harus mempunyai KTK <
16 me 100 gr-1

5. Kejenuhan Basa (KB)

Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat


dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation asam, termasuk kation basa
adalah Ca2+, Mg2+, K+, Na2+, sedangkan kation asam adalah H+, Al3+.

Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kation-kation basa


dengan semua kation (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks
jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dapat dijerap tanah menunjukkan
besarnya nilai kapasitas tukar kation tanah tersebut.

Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman serta
kation basa ini mudah tercuci, sehingga bila tanah kejenuhan basanya tinggi unsur
tanah tersebut belum mengalami pencucian yang intensif dan merupakan tanah
yang subur.
Kejenuhan basa juga berhubungan erat dengan pH tanah, biasanya tanah
dengan:

a) pH rendah umumnya mempunyai kejenuhan basa rendah

b) pH tinggi maka kejenuhan basanya juga tinggi

6. Reaksi Tanah (pH Tanah)

Reaksi tanah menunjukkan kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan


dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion unsur (H+) di
dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah maka semakin masam tanah
tersebut. Selain ion H+ ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding
terbalik dengan banyaknya H+.

a) Pada tanah masam jumlah ion H+ > ion OH-.

b) Pada tanah Alkalis jumlah ion OH- > H+

c) Pada tanah netral jumlah ion H+ = OH-

Gambar 2 Hubungan konsentrasi H+, OH- dan pH


Pentingnya pH tanah :

a. Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman, umumnya


unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena
pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air.

Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh
Al, sedang pada pH alkalis unsur P difiksasi oleh Ca.

b) Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah-tanah


masam banyak ditemukan ion-ion Al di dalam tanah, disamping memfiksasi
unsur P juga merupakan racun bagi akar tanaman. Disamping itu pada reaksi
tanah yang masam, unsur-unsur mikro menjadi mudah larut, sehingga
ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro merupakan hara
yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sangat kecil, sehingga menjadi racun
kalau dalam jumlah besar.

c) Mempengaruhi perkembangan mikroorganisme. Bakteri, jamur yang


bermanfaat bagi tanah dan tanaman akan berkembang baik pada pH > 5,5
apabila pH tanah terlalu rendah maka akan terhambat aktivitasnya.

Mengubah pH tanah :

a) pH tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan nilai pH nya dengan


menambahkan kapur ke dalam tanah, sedangkan

b) Tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan nilai pHnya dengan penambahan
belerang.

Kisaran pH tanah :

a) Kisaran pH tanah mineral biasanya antara 3,5 – 10


b) Kisaran pH tanah gambut < 3,0

c) Kisaran pH tanah alkalis > 11,0

Kebanyakkan tanaman toleran terhadap pH tanah yang ekstrim rendah atau tinggi,
asalkan dalam tanah tersebut tersedia hara yang cukup. Beberapa unsur hara tidak
tersedia pada pH ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat meracun.

Unsur hara yang dapat dipengaruhi oleh pH antara lain :

a) Kalsium dan Magnesium ditukar

b) Aluminium dan unsur mikro

c) Ketersediaan Phosphor

d) Perharaan yang berkaitan dengan aktivitas jasad mikro.

Ion H+ berada di dua tempat yaitu dalam larutan tanah dan terjerap koloid.
Jumlah ion dalam larutan menunjukkan kemasaman efektif, sedangkan ion H+yang
terjerap menunjukkan kemasaman cadangan atau kemasaman dipertukarkan.

Kemasaman aktif jauh lebih rendah dari kemasaman cadangan, kemasaman


cadangan ini dapat mencapai 1000 kali lebih kuat dari kemasaman aktif, jadi
kemasaman cadangan inilah yang lebih berbahaya.

Tabel 3.1 Kemasaman Tanah

pH Reaksi

4,5 – 5,0 Keadaan tanah masam sekali


5,0 – 5,5 Masam
5,5 – 6,0 Agak masam
6,0 – 6,5 Masam Lemah
6,5 – 7,0 Netral

Komposisi unsur tanah yang ideal pada lapisan atas: air (25 %), udara (25 %), bahan
organik (5 %) dan mineral tanah (45 %). Terdapat dua jenis reaksi tanah, yaitu :

a) Kemasaman aktif

Konsentrasi ion hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah (pH H2O).

b) Kemasaman Potensial

Banyaknya kadar hidrogen dapat tukar yang dijerap oleh komplek koloid tanah
(pH KCl).

Tanah menjadi masam karena penyiraman yang berlebihan, drainase kurang baik
atau lancar, pemakaian pupuk dan tanah terlalu tua atau tanah-tanah terlalu lama
diusahakan.

C-organik

Dengan fotosintesis, tanaman mengumpulkan karbon yang ada di atmosfir yang


kadarnya sangat rendah, ditambah air yang diubah menjadi bahan organik oleh klorofil
dengan bantuan sinar matahari. Unsur yang diserap untuk pertumbuhan dan
metabolisme tanaman dinamakan hara tanaman. Mekanisme perubahan unsur hara
menjadi senyawa organik atau energi disebut metabolsime (Kaptan ADB, 2011).
Salah satu peranan bahan organik yang penting adalah kemampuanya bereaksi
dengan ion logam untuk membentuk senyawa kompleks. Dengan demikian ion logam
yang bersifat meracuni tanaman serta merugikan penyediaan hara pada tanah seperti
Al, Fe dan Mn dapat diperkecil dengan adanya bahan organik. Karakteristik bahan
organik tanah dapat dilakukan secara sederhana. Contoh secara kimia berdasarkan dari
kadar C-organik (Suridikarta, dkk, 2002).

Nitrogen Tanah

Analisis N total tanah didasari oleh prinsip mengubah N-organik menjadi N-


ammonium oleh asam sulfat yang dipanaskan sekitar 3800C dan menggunakan Cu-
sulfat + selenium + Na-sulfat sebagai katalisator. Proses ini disebut digestasi dan
hasilnya disebut digest; secara keseluruhan disebut kjeldahl digestasi. Asam digest yang
mengandung ammonium dibasakan dengan NaOH sehingga ion ammonium dikonversi
menjadi amoniak. Lalu didestilasi menjadi ammonium hidroksida. NH4OH ditentukan
jumlahnya dengan mentitrasi dengan HCl (Foth,1994).
Total N tanah (organik utama) umumnya diukur setelah didigestasi
menggunakan prosedur kjeldahl. Total bahan organik N (NH4+, NO3-, dan NO2-)
biasanya dideterminasi dengan destilasi menggunakan ekstrak tanah 2 M KCl. Dan
setelah didestilasi, N-NO3- bisa dideterminasi dengan sebuah prosedur asam
kromotropik (Tisdale, dkk.1985).

Rasio C/N

Laju dekomposisi sisa tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan nitrogen


dalam jaringan tanaman dimana senyawa protein yang kaya nitrogen akan mudah
terdekomposisi. Protein akan terdekomposisi membentuk asam amino. Laju
metabolisme yang menggunakan asam amino tergantung pada rasio C:N dalam jaringan
tanaman. Jika rasio C:N yang tersedia lebih besar dari 25, semua asam amino akan
dimanfaatkan oleh dekomposer, dan asam amino akan dimineralisasi membentuk
amoniak, dan kemudian amoniak akan ternitrifikasi membentuk nitrat (Barchia, 2009).

Perbandingan C:N sangat menentukan apakah bahan organik akan


termineralisasi atau sebaliknya nitrogen yang tersedia akan terimmobilisasi ke dalam
struktur sel mikroorganisme. Karena C:N rasio pada tanah relatif konstan maka ketika
residu tanaman ditambahkan ke dalam tanah yang memiliki C:N rasio relatif besar,
residu tanaman akan terdekomposisi dan meningkatkan evolusi CO2 ke atmosfer, dan
sebaliknya akan terjadi depresi pada nitrat tanah karena immobilisasi oleh kimia. Pada
lahan ini pada umumnya mempunyai C:N rasio lebih tinggi bila dibanding C:N rasio
pada lahan yang diubah menjadi agroekosistem. Tingginya rasio C:N pada lahan ini
mencerminkan kualitas substrat yang terurai relatif rendah, karena kualitas substrat
yang rendah mencerminkan laju respirasi yang rendah pula. Rendahnya laju pelepasan
karbon pada lahan ini dibanding pada alang-alang ini disebabkan bahwa tingginya rasio
C:N pada lahan hutan berkisar 13 – 16, sementara pada lahan alang-alang 5 tahun
berkisar 9 – 11, dan alang-alang > 10 tahun berkisar 10 – 13. Hubungan antara C:N
rasio dengan laju pelepasan karbon dalam bentuk CO2 melalui persamaan regresi
memiliki nilai r2 = 0.78 nyata (Anonim,2009).

Fosfat Tersedia Tanah

Secara umum, fungsi dari P dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Dapat mempercepat pertumbuhan tanaman

2. Dapat mempercepat perkembangan dan pemasakan buah, dan

3. Dapat meningkatkan produksi biji-bijian.

defisiensi unsur hara P akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem


perakaran, daun dan batang. Dalam tanah fungsi P terhadap tanaman sebagai zat
pembangunan dan terikat dalam senyawa-senyawa organis (Sutedjo, 2002).
Tanaman lebih banyak menyerap H2PO-4 dibandingkan HPO=4 dan PO43-.
Kesetimbangan ion-ion ini dalam larutan tanah dikendvalikan oleh pH tanah (Mas’ud,
1992). Sebagai tambahan pada pH tanah dan faktor-faktor yang ada hubungannya,
bahan organik dan mikroorganisme mempengaruhi tersedianya fosfor anorganik yang
tampak nyata sekali (Buckman and Brady, 1982).
Pada pH tanah yang kurang 6,5 akan banyak Al, dan Mn yang akan mengikat P
dalam tanah, reaksinya adalah sebagai berikut :
Al3+ + H2PO4- + 2H2O 2H+ + Al(OH)2 PO4

tidak larut

Cara mengurangi fiksasi fosfor di dalam tanah dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
a. Mengatur pH yaitu dengan pengapuran
b. Pemberian bahan organik, pemberian ini akan menghasilkan anion dan kation yang
akan mengurangi fiksasi
c. Mengurangi kontak langsung antara pupuk dengan tanah (Sutedjo dan
Kartasapoetra, 1997).
Ketersediaan fosfor tanah untuk tanaman terutama sangat dipengaruhi oleh sifat dan cirri
tanahnya sendiri. Pada ultisol tidak tersedia dan tidak larutnya fosfor disebabkan fiksasi oleh
mineral-mineral liat dan ion-ion Al, Fe, yang membentuk senyawa kompleks dan tidak larut.
Ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi ketersediaan fosfor tanah yaitu: (1) tipe liat,
(2) pH tanah, (3) waktu reaksi, (4) temperatur (5) dan bahan organik

D. PENGAMBILAN SAMPEL TANAH UNTUK PEMERIKSAAN KIMIA


TANAH

Pengambilan sampel tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah.
Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk mengukur kadar hara,
menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan
kapur secara efisien, rasional dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila
contoh tanah yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak
dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan sampel tanah merupakan tahapan terpenting
di dalam program uji tanah.
Sampel tanah dapat diambil setiap saat, tidak perlu menunggu saat sebelum tanam namun
tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah pemupukan. Keadaan tanah saat pengambilan
sampel tanah pada lahan kering sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah
sedang yaitu keadaan tanah kira-kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pengambilan
pada lahan sawah sebaiknya diambil pada kondisi basah.

 Peralatan untuk pengambilan contoh sampel tanah :


a) Alat untuk mengambil contoh tanah seperti bor tanah (auger, tabung), cangkul, sekop.
b) Alat untuk membersihkan bor, cangkul dan sekop seperti pisau dan sendok tanah untuk
mencampur atau mengaduk
c) Ember plastic untuk mengaduk kumpulan contoh tanah individu
d) Kantong plastic agak tebal yang dapat memuat 1 kg tanah, dan kantong plastic untuk
label.
e) Kertas manila karton untuk label dan benang kasur untuk mengikat label luar
f) Spidol (water proof) untuk menulis isi label
g) Lembaran informasi contoh tanah yang diambil.

 Hal- hal yang perlu diperhatikan :


a) Jangan mengambil contoh tanah dari galengan, selokan, bibir teras, tanah
tererosi sekitar rumah dan jalan, bekas pembakaran sampah/ sisa tanaman/ jerami,
bekas penimbunan pupuk, kapur dan bahan organic, dan bekas penggembalaan
ternak.
b) Permukaan tanah yang akan diambil contohnya harus bersih dari rumput-
rumputan, sisa tanaman, bahyan organic/ serasah, dan batu- batuan atau kerikil.
c) Alat- alat yang digunakan bersih dari kotoran- kotoran dan tidak berkarat.
d) Kantong plastic yang digunakan sebaiknya masih baru, belum pernah dipakai untuk
keperluan lain.

 Cara Pengambilan contoh Sampel Tanah


Sampel Sesaat (Grab Sample) : Sampel yng diambil secara langsung dr badan tanah
yang sedang dipantau. Sampel ini hanya menggmbarkan karakteritik tanah pada saat
pengambilan sampel.
Sampel komposit (Compsite sample) : Sampel campuran dari beberapa waktu
pengambilan. Pengambilan sampel komposit dapat dilakukan secara manual ataupun
secara otomatis dgn menggunakan peralatan yang dapat mengambil air pada waktu-
waktu tertentu. Pengambilan sampel scara otomatis hanya dilakukan jika ingi
mengetahui gambaran tentang karakteristik kualitas tanah secara terus-menerus
Sampel gambungan tempat (integrated sample) : sampel gabungan yang diambil
secara terpisah dari beberpa tempat, dengan volume yang sama. Selain itu ada juga
satu metode yang biasa digunakan dalam pengammbilan sampel penelitian yaitu:
Automatic Sampling (Pengambilan Contoh Otomatis), Cara ini dikembangkan
untuk memenuhi program pengamatan kualias sampel secara penyeluruh. Peralatan
memerlukan bangunan khusus dengan penampungan dan pemeliharaan yang baik alat
mengambil contoh otomatis biasanya bekerja dalam 24 jam.
Contoh tanah yang diambil dapat berbentuk contoh tanah terganggu (disturb soil
samples)
Contoh tanah utuh atau tidak terganggu (undisturb soil samples).
Contoh tanah utuh biasanya diperlukan untuk analisis sifat fisik tanah (bobot isi,
porisitas dan permeabilitas tanah), sedangkan contoh tanah terganggu diperlukan
untuk analisis sifat kimia tanah dan sifat fisik tanah lainnya (tekstur, kadar air
tanah/pF).
Pengambilan contoh tanah utuh (undisturb soil samples) harus menggunakan “ring
samples”, sedangkan contoh tanah terganggu dapat diambil dengan menggunakan
alat cangkul, sekop, atau auger (bor tanah).
Untuk keperluan evaluasi status kesuburan tanah, sebaiknya contoh yang diambil
merupakan contoh komposit yaitu contoh tanah campuran dari contoh-contoh tanah
individu (sub amples).
Suatu contoh komposit harus mewakili suatu bentuk/unit lahan yang akan
dikembangkan atau digunakan untuk tujuan pertanian.
Satu contoh komposit mewakili suatu hamparan lahan yang homogen (10 – 15 Ha).
Untuk lahan miring dan bergelombang satu contoh komposit dapat mewakili tidak
kurang dari 5 hektar.
Satu contoh komposit terdiri dari campuran 15 contoh tanah individu (sub
samples).

 Pengambilan Contoh Sampel Tanah Penelitian Kimia Dan Mikrobiologi


 Sampling Time
Contoh tanah dapat diambil setiap saat, dan langsung dilakukan analisis di
laboratorium. Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah sebaiknya pada kondisi kapasitas
lapang (keadaan kelembaban tanah sedang) yaitu keadaan tanah kira-kira cukup untuk
dilakukan pengolahan tanah). Pengambilan contoh tanah terkait erat dengan tujuan yang ingin
dicapai dalam suatu kegiatan perencanaan pengelolaan tanah-tanaman.

 Frekuensi Pengambilan Contoh


Secara umum contoh tanah diambil sekali dalam 4 tahun untuk sistem pertanaman di lapangan.
Untuk tanah yang digunakan secara intensif untuk budidaya pertanian, contoh tanah diambil
paling sedikit sekali dalam setahun.
Pada tanah-tanah dengan nilai uji tanah tinggi, contoh tanah disarankan diambil setiap 5 tahun
sekali.
 Cara Mengambil Sampel Tanah Komposit
1. Menentukan tempat pengambilan sampel tanah individu, terdapat dua cara
yaitu cara sistematik seperti sistem diagonal atau zig- zag dan cara acak.
2. Rumput rumput, batu batuan atau kerikil, sisa tanaman atau bahan organik
segar/ serasah yang terdapat dipermukaan tanah di bersihkan.
3. Untuk lahan kering keadaan tanah pada saat pengambilan sampel tanah
sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu
kondisi kira- kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang untuk lahan sawah
contoh tanah sebaiknya diambil pada kondisi basah atau seperti kondisi saat
terdapat tanaman.
4. Sampel tanah individu diambil menggunakan bor tanah (auger atau tabung)
atau cangkul dan sekop. Jika menggunakan bor tanah, sampel tanah individu
diambil pada titik pengambilan yang telah ditentukan, sedalam +20 atau
lapisan olah. Sedangkan jika menggunakan cangkul dan sekop, tanah
dicangkul sedalam lapisan olah (akan membentuk seperti huruf v), kemudian
tanah pada sisi yang tercangkul diambil setebal 1,5 cm dengan menggunakan
cangkul atau sekop (gambar 2)
5. Sampel- sampel tanah indivisu tersebut dicampur dan diaduk merata dalam
ember plastic, lalu bersihkan dari sisa tanaman atau akar. Setelah bersih dan
teraduk rata, diambil sampel seberat kira-kira 1 kg dan dimasukkan kedalam
kantong plastic (sampel tanah komposit). Untuk menghindari kemungkinan
pecah pada saat pengiriman, kantong plastic yang digunakan rangkap
dua.Pemberian label luar dan dalam. Label dalam harus dibungkus dengan
plastic dan dimasukkan diantara plastik pembungkus supaya tulisan tidak
kotor atau basah, sehingga label tersebut dapat dibaca sesampainya
dilaboratorium tanah. Sedangkan label luar disatukan pada sat pengikatan
plastic. Pada label diberi keterangan mengenai kode pengambilan, nomor
sampel tanah, asal dari (desa/kecamatan/kabupaten), tanggal pengambilan,
nama dan alamat pemohon. Selain label yang diberi keterangan, akan lebih
baik jika sampel tanah yang dikirim dilengkapi dengan peta situasi atau peta
lokasi .

 Pengambilan Contoh Tanah Terusik di Lapisan Permukaan.


a) Memilih tempat yang tidak tergenang air, tak terkena sinar matahari
langsung,datar dan mewakili tempat sekitarnya.
b) Membersihkan seresah, batuan dan benda alam lain di lapisan
permukaansehingga tubuh tanah terlihat.
c) Mengambil sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin dengan
menggunakan pacul,cethok dan memasukkannya kedalam plastik yang
beritiket: Kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan
ciri-ciri istimewa lainnya.

 Pengambilan Contoh Tanah Terusik dengan Bor.


1. Meletakkan mata bor di permukaan tubuh tanah.
2. Memutar pegangan bor perlahan-lahan ke arah kanan dengan disertai
tekanansampai seluruh kepala bor terbenam.
3. Kepala bor perlahan dikeluarkan dari tubuh tanah dengan memutar pegangan
bor tanah ke arah kiri dengan disertai tarikan.
4. Contoh tanah yang terbawa kepala bor dilepaskan perlahan sampai bersih
dandiusahakan tidak banyak merusak susunan tanah.
5. Pengeboran dilanjutkan lagi pada setiap ketebalan tanah 20 cm
sampaikedalaman yang dikehendaki.
6. Contoh tanah hasil pengeboran pada setiapketebalan 20 cm itu diletakkan
tersusun menurut kedalaman aslinya, sehingga akan diperoleh gambaran
profiltanah.

 Pemeriksaan Sampel Tanah untuk Pemeriksaan Kualitas Kimia


Prosedur kerja
Lakukan pengambilan sampel tanah dengan menggunakan auger / bor tangan
dengan kedalaman 15 – 25 cm
Lakukan pengambilan tanah yang ada pada auger / bor tangan dengan
mengunakan sekop kecil
Lakukan pelabelan pada kemasan sampel, dengan rincian:
d) Tanggal pengambilan sampel : ………………..
e) Lokasi pengambilan sampel : ………………..
f) Jenis sampel : Padatan /sampah / tanah *)
g) Jenis pemeriksaan : Fisik / kimia / mikrobiologi dan
parasitologi*)
h) Nama petugas : ....................
i) Tanda Tangan :
….................
Masukan kemasan sampel yang sudah diberi label ke box sampel
Prosedur analisis tanah dalam petunjuk teknis ini memberikan metode analisis yang
biasa digunakan sekarang. Beberapa jenis analisis baru ditambahkan, yaitu penetapan ion
nitrat dengan metode UV-spektrometri yang sederhana sebagai alternatif dari metode Brusin-
spektrometri. Analisis total untuk pengukuran logam berat ditambah metode Uap Dingin
untuk pengukuran raksa (Hg) dan metode Hidrida untuk arsen (As), selenium (Se) dan unsur-
unsur hidrida lainnya. Penetapan tekstur cara pipet yang semula hanya untuk tiga fraksi
ditambah dengan 10 fraksi.
Semua unsur logam dalam ekstrak yang dihasilkan diukur dengan alat
spektrofotometer serapan atom (SSA), kalium dan natrium diukur pula menggunakan cara
emisi selain cara absorpsi yang biasa. Fotometer nyala sudah tidak digunakan lagi dalam
pengukuran. Kepekaan alat ini yang ada sekarang tidak sesuai untuk keperluan laboratorium
tanah. Analisis pupuk disesuaikan dengan prosedur dalam SNI (Standar Nasional Indonesia)
terbaru bagi pupuk yang sudah memiliki SNI sisanya mengacu ke pustaka-pustaka yang
tersedia.
ANALISIS TANAH
1. Penetapan pH Tanah
1.1 Dasar penetapan
Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah, yang dinyatakan
sebagai –log[H+ ]. Peningkatan konsentrasi H+ menaikkan potensial larutan yang diukur oleh
alat dan dikonversi dalam skala pH. Elektrode gelas merupakan elektrode selektif khusus H+
, hingga memungkinkan untuk hanya mengukur potensial yang disebabkan kenaikan
konsentrasi H+ . Potensial yang timbul diukur berdasarkan potensial elektrode pembanding
(kalomel atau AgCl). Biasanya digunakan satu elektrode yang sudah terdiri atas elektrode
pembanding dan elektrode gelas (elektrode kombinasi). Konsentrasi H+ yang diekstrak
dengan air menyatakan kemasaman aktif (aktual) sedangkan pengekstrak KCl 1 M
menyatakan kemasaman cadangan (potensial).
1.2 Alat-alat
 Botol kocok 100 ml
 Dispenser 50 ml/gelas ukur
 Mesin pengocok
 Labu semprot 500 ml
 pH meter

1.3 Pereaksi
 Larutan buffer pH 7,0 dan pH 4,0
 KCl 1 M
 Larutkan 74,5 g KCl p.a. dengan air bebas ion hingga 1 l.

1.4 Cara kerja


Timbang 10,00 g contoh tanah sebanyak dua kali, masing-masing dimasukkan ke
dalam botol kocok, ditambah 50 ml air bebas ion ke botol yang satu (pH H2O) dan 50 ml
KCl 1 M ke dalam botol lainnya (pH KCl). Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit.
Suspensi tanah diukur dengan pH meter yang telah dikalibrasi menggunakan larutan sangga
pH 7,0 dan pH 4,0. Laporkan nilai pH dalam satu desimal.
Catatan:  Prosedur diatas menggunakan rasio tanah : pengekstrak sebesar 1:5  Rasio dapat
berubah sesuai jenis contoh dan permintaan
2. Penetapan Tekstur 3 Fraksi
2.1 Penetapan tekstur cara pipet
2.1.1 Dasar penetapan
Bahan organik dioksidasi dengan H2O2 dan garam garam yang mudah larut
dihilangkan dari tanah dengan HCl sambil dipanaskan. Bahan yang tersisa adalah
mineral yang terdiri atas pasir, debu, dan liat. Pasir dapat dipisahkan dengan cara
pengayakan basah, sedangkan debu dan liat dipisahkan dengan cara pengendapan
yang didasarkan pada hukum Stoke.
2.1.2. Alat-alat
 Piala gelas 800 ml  Pinggan aluminium
 Penyaring Berkefeld  Dispenser 50 ml
 Ayakan 50 mikron  Gelas ukur 200 ml
 Gelas ukur 500 ml  Stop watch
 Pipet 20 ml 12  Oven berkipas
 Pemanas listrik
 Neraca analitik
ketelitian empat desimal

2.1.3 Pereaksi
 H2O2 30%
 H2O2 10% H2O2 30% diencerkan tiga kali dengan air bebas ion.
 HCl 2N
Encerkan 170 ml HCl 37% teknis dengan air bebas ion dan diimpitkan
hingga 1 l.
 Larutan Na4P2O7 4%
Larutkan 40 g Na4P2O7.10 H2O dengan H2O dan diimpitkan hingga 1 l.
2.1.4. Cara kerja
Timbang 10,000 g contoh tanah < 2 mm, dimasukkan ke dalam piala gelas 800
ml, ditambah 50 ml H2O2 10% kemudian dibiarkan semalam. Keesokan harinya
ditambah 25 ml H2O2 30%, dipanaskan sampai tidak berbusa, selanjutnya
ditambahkan 180 ml air bebas ion dan 20 ml HCl 2N. Didihkan di atas pemanas listrik
selama lebih kurang 10 menit. Angkat dan setelah agak dingin diencerkan dengan air
bebas ion menjadi 700 ml. Dicuci dengan air bebas ion menggunakan penyaring
Berkefield atau dienap-tuangkan sampai bebas asam, kemudian ditambah 10 ml
larutan peptisator Na4P2O7 4%.
Pemisahan pasir
Suspensi tanah yang telah diberi peptisator diayak dengan ayakan 50 mikron
sambil dicuci dengan air bebas ion. Filtrat ditampung dalam silinder 500 ml untuk
pemisahan debu dan liat. Butiran yang tertahan ayakan dipindahkan ke dalam pinggan
aluminium yang telah diketahui bobotnya dengan air bebas ion menggunakan botol
semprot. Keringkan (hingga bebas air) dalam oven pada suhu 105oC, didinginkan
dalam eksikator dan ditimbang (berat pasir = A g).
Pemisahan debu dan liat
Filtrat dalam silinder diencerkan menjadi 500 ml, diaduk selama 1 menit dan
segera dipipet sebanyak 20 ml ke dalam pinggan aluminium. Filtrat dikeringkan pada
suhu 105oC (biasanya 1 malam), didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (berat
debu + liat + peptisator = B g). Untuk pemisahan liat diaduk lagi selama 1 menit lalu
dibiarkan selama 3 jam 30 menit pada suhu kamar. Suspensi liat dipipet sebanyak 20
ml pada ke 13 dalaman 5,2 cm dari permukaan cairan dan dimasukkan ke dalam
pinggan aluminium. Suspensi liat dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC,
didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (berat liat + peptisator = C g).
Catatan: Bobot peptisator pada pemipetan 20 ml berdasarkan penghitungan adalah 0,0095 g.
Bobot ini dapat pula ditentukan dengan menggunakan blanko. Angka 25 adalah faktor yang
dikonversikan dalam 500 ml dari pemipetan 20 ml.
2.1.5 Perhitungan
Fraksi pasir = A g
Fraksi debu = 25 (B - C) g
Fraksi liat = 25 (C - 0,0095) g
Jumlah fraksi = A + 25 (B - 0,0095) g
Pasir (%) = A / {A + 25 (B - 0,0095)} x 100
Debu (%) = {25(B - C)} / {A + 25 (B - 0,0095)} x 100
Liat (%) = {25 (C - 0,0095)} / {A + 25 (B - 0,0095)} x 100
Keterangan
A = berat pasir
B = berat debu + liat + peptisator
C = berat liat + peptisator 100 = konversi ke %

2.2 Penetapan Tekstur cara Hidrometer


2.2.1 Dasar penetapan
Penetapan tekstur cara hidrometer berdasarkan pengukuran berat jenis (BJ)
suspensi tanah. Kadar butiran tanah dapat diketahui dari selisih BJ suspensi dengan
BJ cairan media. Hidrometer yang digunakan dibuat khusus untuk pengukuran BJ
suspensi tanah. Hidrometer tipe 152 H memiliki pembagian skala yang dibuat
langsung dalam satuan kadar partikel g l-1 . Berdasarkan pengalaman di Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat tekstur tanah yang diperoleh dengan cara ini
hasilnya mendekati cara pipet.
2.2.2. Alat-alat
 Mesin pengaduk khusus dengan piala logam
 Silinder sedimentasi atau gelas ukur 500 ml.
 Pengaduk khusus untuk suspensi
 Alat hidrometer tanah tipe 152 H
 Timer atau stopwatch.

2.2.3 Pereaksi
 Larutan pendispersi natrium pirofosfat 4%
 Larutkan 40 g Na4P2O7.10 H2O dengan air bebas ion dan diimpitkan hingga 1l.

2.2.4. Cara kerja


Dalam piala gelas 100 ml ditimbang 25,00 g contoh tanah halus < 2 mm
ditambahkan 10 ml larutan pendispersi natrium pirofosfat. Dipindahkan ke dalam piala
logam dan diencerkan dengan air bebas ion sampai isi 200 ml. Diaduk dengan mesin
pengaduk kecepatan tinggi selama 5 menit. Setelah itu semuanya dipindahkan ke dalam
gelas ukur 500 ml (lakukan pembilasan), diencerkan dengan air bebas ion sampai isi 500
ml, diaduk dengan pengaduk khusus dan dibiarkan semalam. Dengan cara yang sama,
tetapi tanpa contoh, dibuat penetapan blanko.
Catatan: Bila mesin pengaduk tidak tersedia, timbang contoh ke dalam botol kocok,
tambahkan larutan pendispersi dan kocok dengan mesin kocok selama 1 malam.
Pindahkan seluruh suspensi ke dalam gelas ukur 500 ml dan cara kerja selanjutnya sama.
Pengukuran fraksi campuran debu+ liat
Keesokan harinya setiap suspensi tanah dalam gelas ukur diaduk selama 30 detik
dengan pengaduk. Setelah itu stopwatch disiapkan untuk pengukuran fraksi campuran
debu dan liat. Suspensi dikocok homogen dengan pengaduk (cukup 20 detik) setelah itu
hidrometer tanah segera dimasukkan ke dalam suspensi dengan perlahan dan hati-hati.
Tepat 40 detik setelah pengocokan, angka skala hidrometer yang berimpit dengan
permukaan suspensi dicatat (pembacaan 1). Angka tersebut menunjukkan jumlah g fraksi
campuran debu+liat per liter suspensi. Larutan blanko juga diukur untuk koreksi suhu
fraksi debu+liat.
Pengukuran fraksi liat
Suspensi tersebut dibiarkan selama 2 jam agar diperoleh suspensi liat dan segera
diukur dengan alat hidrometer. Angka skala hidrometer yang berimpit dengan permukaan
suspensi dicatat (pembacaan 2). Angka tersebut adalah jumlah g fraksi liat dalam 1 l
suspensi. Larutan blanko juga diukur untuk koreksi suhu fraksi liat.
2.2.5. Perhitungan
Selain koreksi kadar air, bahan organik dalam contoh perlu dikoreksi supaya fraksi
pasir yang dihitung lebih mendekati kebenaran. Dari hasil pengukuran pada pembacaan 1
diperoleh fraksi campuran debu - liat = A g/l dan blanko = a g/l, sedangkan pada pembacaan
2 diperoleh fraksi liat = B g/l dan blankonya = b g/l. Diketahui bahwa persen bahan organik =
C (% Corganik x 1,724) dan faktor koreksi kelembapan (faktor koreksi kadar air) = fk.
Dalam 25 g tanah kering udara terdapat:
Tanah kering 105oC = (25/fk) g
Bahan organik = (25C/100) g
Pasir + debu + liat = (25/fk) – (25C/100) g
Liat = {(B - b)/2} g Debu = {(A - a)/2 - (B - b)/2} g
Pasir = (25/Fk) – (25C/100) - (A - a) g

Dengan demikian:
Pasir (%) = [{(25/fk) - (25C/100) - (A - a)/2 g}/{(25/fk)-(25C/100) g}] x 100
Debu (%) = [{(A - a)/2 - (B -b)2 g} / {(25/Fk) – (25C/100) g}] x 100
Liat (%) = [ (B - b) g / {(25/Fk) – (25C/100) g}] x 100

Keterangan:
A = fraksi campuran debu – liat (g l-1) a = blanko pada pembacaan 1
B = fraksi liat (g l-1) b = blanko pada pembacaan 2
C = persen bahan organik (% C-organik x 1,724)
fk = faktor koreksi kadar air = 100 / (100 – % kadar air)
2 = konversi kadar suspensi dari g l-1 ke g 500 ml-1
100 = konversi ke %

3. Penetapan P dan K Ekstrak HCl 25%


3.1 Dasar penetapan
Fosfor dalam bentuk cadangan ditetapkan dengan menggunakan pengekstrak
HCl 25%. Pengekstrak ini akan melarutkan bentuk-bentuk senyawa fosfat dan kalium
mendekati kadar P dan K-total. Ion fosfat dalam ekstrak akan bereaksi dengan
amonium molibdat dalam suasana asam membentuk asam fosfomolibdat yang akan
bereaksi dengan asam askorbat menghasilkan larutan berwarna biru. Intensitas warna
biru larutan dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm,
sedangkan kalium diukur dengan SSA.
3.2 Alat-alat
 Botol kocok  Mesin kocok bolak-balik
 Alat sentrifus
 Tabung reaksi
 Dispenser 10 ml
 Pipet volume 0,5 ml
 Pipet volume 2 ml
 Pipet ukur 10 ml
 Spektrofotometer UV-VIS
 SSA
3.3 Pereaksi
 HCl 25 %
Encerkan 675,68 ml HCl pekat (37%) dengan air bebas ion menjadi 1 l.
 Pereaksi P pekat
Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam
labu ukur 1 l. Tambahkan 0,277 g H2O (SbO)C4H4O6 0,5 K dan secara
perlahan 140 ml H2SO4 pekat. Jadikan 1 l dengan air bebas ion.
 Pereaksi pewarna P
Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat, pereaksi P
ini harus selalu dibuat baru.
 Standar induk 1.000 ppm PO4 (Titrisol)
Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk PO4 Titrisol di dalam
ampul ke dalam labu ukur 1 l. Impitkan dengan air bebas ion sampai
dengan tanda garis, kocok.
 Standar induk 200 ppm PO4
Pipet 50 ml standar induk PO4 1.000 ppm Titrisol ke dalam labu 250 ml.
Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis lalu kocok.
 Standar induk 1.000 ppm K (Titrisol)
Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk K Titrisol di dalam
ampul ke dalam labu ukur 1.000 ml. Impitkan dengan air bebas bebas ion
sampai dengan tanda garis lalu kocok.
o Standar 200 ppm K
Pipet 50 ml dari standar induk 1.000 ppm K ke dalam labu ukur
250 ml. Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis
lalu kocok.
o Deret standar PO4 (0; 4; 8; 16; 24; 32; dan 40 ppm)
Pipet berturut turut 0; 2; 4; 8; 12; 16 dan 20 ml standar 200 ppm
PO4 ke dalam labu ukur 100 ml. Masing-masing ditambah 5 ml
HCl 25% dan air bebas ion hingga tanda garis lalu kocok.
o Deret standar K (0; 2; 4; 8; 12; 16; dan 20 ppm)
Pipet berturut turut 0; 1; 2; 4; 6; 8; 10 ml standar 200 ppm K ke
dalam labu ukur 100 ml. Masing-masing ditambah 5 ml HCl 25%
dan air bebas ion hingga tanda garis lalu kocok.
3.4 Cara kerja
Timbang 2,000 g contoh tanah ukuran < 2 mm, dimasukkan ke dalam botol
kocok dan ditambahkan 10 ml HCl 25% lalu kocok dengan mesin kocok selama 5
jam. Masukan ke dalam tabung reaksi dibiarkan semalam atau disentrifuse. Pipet 0,5
ml ekstrak jernih contoh ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 9,5 ml air bebas ion
(pengenceran 20 x) dan dikocok. Pipet 2 ml ekstrak contoh encer dan deret standar
masing-masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 ml
larutan pereaksi pewarna P dan dikocok. Dibiarkan selama 30 menit, lalu ukur
absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm. Untuk
kalium, ekstrak contoh encer dan deret standar K diukur langsung dengan alat SSA
secara Emisi.
3.5 Perhitungan
Kadar P potensial (mg P2O5 100 g-1)
= ppm kurva x (ml ekstrak/1.000 ml) x 100 g (g contoh)-1 x fp x
(142/190) x fk
= ppm kurva x 10/1.000 x 100/2 x 20 x 142/190 x fk
= ppm kurva x 10 x 142/190 x fk
Kadar K potensial (mg K2O 100 g-1)
= ppm kurva x 10 x 94/78 x fk
Keterangan:
ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar
dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko.
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air)
fp = faktor pengenceran (20)
142/190 = faktor konversi bentuk PO4 menjadi P2O5
94/78 = faktor konversi bentuk K menjadi K2O
4. Penetapan Fosfor Tersedia Metode Olsen
4.1 Dasar penetapan
Fosfat dalam suasana netral/alkalin, dalam tanah akan terikat sebagai Ca, Mg-
PO4. Pengekstrak NaHCO3 akan mengendapkan Ca, Mg-CO3 sehingga PO4 3-
dibebaskan ke dalam larutan. Pengekstrak ini juga dapat digunakan untuk tanah
masam. Fosfat pada tanah masam terikat sebagai Fe, Al-fosfat. Penambahan
pengekstrak NaHCO3 pH 8,5 menyebabkan terbentuknya Fe, Alhidroksida, sehingga
fosfat dibebaskan. Pengekstrak ini biasanya digunakan untuk tanah ber-pH >5,5.
4.2 Alat-alat
 Botol kocok 50 ml
 Kertas saring W 91
 Tabung reaksi
 Pipet 2 ml
 Dispenser 20 ml
 Dispenser 10 ml
 Mesin pengocok
 Spektrofotometer UV-VIS

4.3 Pereaksi
 Pengekstrak NaHCO3 0,5 M, pH 8,5
Larutkan 42,0 g NaHCO3 dengan air bebas ion menjadi 1 l, pH larutan
ditetapkan menjadi 8,5 dengan penambahan NaOH.
 Pereaksi P pekat
Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam
labu ukur 1 l. Tambahkan 0,277 g H2O (SbO)C4H4O6 0,5 K dan secara
perlahan 140 ml H2SO4 pekat. Jadikan 1 l dengan air bebas ion.
 Pereaksi pewarna P
Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat.
Tambahkan 25 ml H2SO4 4N, kemudian dijadikan 1 l dengan air bebas
ion. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru.
 Standar induk 1.000 ppm PO4 (Titrisol)
Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk PO4 Titrisol di dalam
ampul ke dalam labu ukur 1 l. Impitkan dengan air bebas ion sampai
dengan tanda garis, kocok.
 Standar induk 100 ppm PO4
Dipipet 10 ml larutan standar induk 1.000 ppm PO4 ke dalam labu 100 ml.
Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis lalu kocok.
 Deret standar PO4 (0-20 ppm)
Dipipet berturut-turut 0; 2; 4; 8; 12; 16; dan 20 ml larutan standar 100 ppm
PO4 ke dalam labu ukur 100 ml, diencerkan dengan pengekstrak Olsen
hingga 100 ml.
4.4 Cara kerja
Ditimbang 1,0 g contoh tanah < 2 mm, dimasukkan ke dalam botol kocok,
ditambah 20 ml pengekstrak Olsen, kemudian dikocok selama 30 menit. Disaring dan
bila larutan keruh dikembalikan lagi ke atas saringan semula. Ekstrak dipipet 2 ml ke
dalam tabung reaksi dan selanjutnya bersama deret standar ditambahkan 10 ml
pereaksi pewarna fosfat, kocok hingga homogen dan biarkan 30 menit. Absorbansi
larutan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm.
4.5 Perhitungan
Kadar P2O5 tersedia (ppm)
= ppm kurva x ml ekstrak/1.000 ml x 1.000 g (g contoh)-1 x fp x
142/190 x fk
= ppm kurva x 20/1.000 x 1.000/1 x 142/190 x fk
= ppm kurva x 20 x 142/190 x fk
Keterangan:
ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar
dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko.
fp = faktor pengenceran (bila ada)
142/190 = faktor konversi bentuk PO4 menjadi P2O5
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air)

5. Penetapan Fosfor Tersedia Metode Bray I


5.1. Dasar penetapan
Fosfat dalam suasana asam akan diikat sebagai senyawa Fe, Al-fosfat yang
sukar larut. NH4F yang terkandung dalam pengekstrak Bray akan membentuk
senyawa rangkai dengan Fe & Al dan membebaskan ion PO4 3- . Pengekstrak ini
biasanya digunakan pada tanah dengan pH < 5,5.
5.2. Alat-alat
 Dispenser 25 ml
 Dispenser 10 ml
 Tabung reaksi
 Pipet 2 ml
 Kertas saring
 Botol kocok 50 ml
 Mesin pengocok
 Spektrofotometer

5.3 Pereaksi
 HCl 5 N
Sebanyak 416 ml HCl p.a. pekat (37 %) dimasukkan dalam labu ukur
1.000 ml yang telah berisi sekitar 400 ml air bebas ion, kocok dan biarkan
menjadi dingin. Tambahkan lagi air bebas ion hingga 1.000 ml.
 Pengekstrak Bray dan Kurts I (larutan 0,025 N HCl + NH4F 0,03 N)
Ditimbang 1,11 g hablur NH4F, dilarutkan dengan lebih kurang 600 ml air
bebas ion, ditambahkan 5 ml HCl 5 N, kemudian diencerkan sampai 1 l.
 Pereaksi P pekat
Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam
labu ukur 1 l. Tambahkan 0,277 g H2O (SbO)C4H4O6 0,5 K dan secara
perlahan 140 ml H2SO4 pekat. Jadikan 1 l dengan air bebas ion.
 Pereaksi pewarna P
Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat, kemudian
dijadikan 1 l dengan air bebas ion. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru.
 Standar induk 1.000 ppm PO4 (Titrisol)
Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk PO4 Titrisol di dalam
ampul ke dalam labu ukur 1 l. Impitkan dengan air bebas ion sampai
dengan tanda garis, kocok.
 Standar induk 100 ppm PO4
Pipet 10 ml larutan standar induk 1.000 ppm PO4 ke dalam labu 100 ml.
Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis lalu kocok.
 Deret standar PO4 (0-20 ppm)
Pipet berturut-turut 0; 2; 4; 8; 12; 16; dan 20 ml larutan standar 100 ppm
PO4 ke dalam labu ukur 100 ml, diencerkan dengan pengekstrak Olsen
hingga 100 ml.
5.4 Cara kerja
Ditimbang 2,5 g contoh tanah < 2 mm, ditambah pengekstrak Bray dan Kurt I
sebanyak 25 ml, kemudian dikocok selama 5 menit. Disaring dan bila larutan keruh
dikembalikan ke atas saringan semula (proses penyaringan maksimum 5 menit).
Dipipet 2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung reaksi. Contoh dan deret standar masing-
masingditambah pengekstrak Bray dan Kurt I sebanyak 25 ml, kemudian dikocok
selama 5 menit. Disaring dan bila larutan keruh dikembalikan ke atas saringan semula
(proses penyaringan maksimum 5 menit). Dipipet 2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung
reaksi. Contoh dan deret standar masing-masing ditambah pereaksi pewarna fosfat
sebanyak 10 ml, dikocok dan dibiarkan 30 menit. Diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm.
5.5 Perhitungan
Kadar P2O5 tersedia (ppm)
= ppm kurva x ml ekstrak/1.000 ml x 1.000 g (g contoh)-1 x fp x
142/190 x fk
= ppm kurva x 25/1.000 x 1.000/2,5 x fp x 142/190 x fk
= ppm kurva x 10 x fp x 142/190 x fk
Keterangan:
ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar
dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko.
fp = faktor pengencera n (bila ada)
142/190 = faktor konversi bentuk PO4 menjadi P2O5
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air)
DAFTAR PUSTAKA
Sudjadi, M., I.M. Widjik S., dan M. Soleh. 1971. Penuntun Analisa Tanah. Publikasi
No.10/71, Lembaga Penelitian Tanah, Bogor. 166 hlm.
Bouyoucos, C.J. 1962. Hydrometer method improved for making particle size analysis of
soils. Agronomy Journal 54:464 - 465.
Bray, R.H. and L.T. Kurtz. 1945. Determination of total organik and available forms of
phosphorus in soils. Soil Sci. 59: 39 - 45.
ISRIC, 1993. Procedures for Soil Analysis. In van Reeuwijk, L.P. (Ed.) Technical Paper,
International Soil Reference and Information Centre. Wageningen, The Netherlands. 4th ed.
p.100.
Rayment, G.E. and F.R. Higginson. 1992. Australian laboratory handbook of soil and water
chemical methods. Australian soil and land survey handbook. Inkata Press, Melbourne,
Sydney. p. 330.
USDA. 2004. Soil Survey Laboratory Methods Manual. p.167-365, 616-643. In Burt, R.
(Ed.). Soil Survey Investigations Report No.42, Vers.4,0. Natural Resources Conservation
Service, United States Department of Agriculture.
Departeen Pertanian. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian
Tanah : Bogor.
http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/juknis%20kimia%20edisi%20
2/juknis_kimia2.pdf
http://repository.usu.ac.id