Anda di halaman 1dari 30

TUGAS : LAPORAN KMB II

DOSEN :

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN INFEKSI SALURAN


KEMIH AKIBAT PATOLOGIS SISTEM PERKEMIHAN
DI PUSKESMAS BUNGI

DISUSUN OLEH :

NAMA : AJIRASA

NIM : P00320018104

KELAS : A

REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU (RPL)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KENDARI


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2019

1
BAB I
TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme didalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih
tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih
dapat terjadi baik di pria maupun wanita dari semua umur dan dari kedua jenis
kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi daripada pria.
Jenis infeksi saluran kemih, antara lain :
1. Kandung kemih (Sistitis)
2. Uretra (Uretritis)
3. Prostat (Prostatitis)
4. Ginjal (Pielonefritis)
Klasifikasi menurut letaknya :
1. ISK bawah
- Perempuan (sistitis : presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai
bakteriuria bermakna)
- Sindrom uretra akut (SUA) : presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis bakterialis
2. ISK atas
- Pielonefritis akut (PNA) : proses infeksi parenkim ginjal yang
disebabkan infeksi bakteri
- Pieolonefritis kronik (PNK) : kemungkinan akibat lanjut dari infeksi
bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil
Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi :
1. ISK uncomplicated (simple) merupakan ISK sederhana yang terjadi pada
penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional
normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan
infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK complicated, sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali
kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap

2
beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock.
ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagai beriukut :
- Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko
uretral obstruksi, anatomi kandung kemih, paraplegia, kateter kandung
kencing menetap dan prostatitis
- Kelainan faal ginjal : GGA maupun GGK
- Gangguan daya tahan tubuh
- Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp
yang memproduksi urease

B. ETIOLOGI
ISK terjadi tergantung banyak faktor sebagai usia, gender, prevalensi
bakteriurinaria dan faktor presdiposisi yang menyebabkan perubahan struktur
saluran kemih termasuk ginjal. Berikut menurut jenis makroorganisme dan usia :
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain :
- Escherichia Coli : 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
- Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
- Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan lain-lain
2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain :
- Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif
- Mobilitas menurun
- Nutrisi yang sering kurang baik
- Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
- Adanya hambatan pada aliran urin
- Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

Komplikasi pada ISK selama kehamilan :


Kondisi Resiko Potensial
BAS (Basiluria Asimtomatik) tidak Pielonefritis
diobati Bayi premature
Anemia

3
Pregnancy-induced hypertension
ISK trimester III Bayi megalami retradarsi mental
Pertumbuhan bayi lambat
Cerebral palsy
Setal death

4
C. PATOFISIOLOGI

Akumulasi etiologi dan


faktor resiko (infeksi
mikroorganisme,
penggunaan steroid dalam Jaringan parut  total
Makanan terkontaminasi
jangkan panjang, usia lanjut, tersumbat
mikroorganisme masuk
anomaly saluran kemih,
lewat mulut
cidera uretra, riwayat ISK Obstruksi saluran kemih
yang bermuara ke vesika
HCL (lambung) urinarius

Hidup Tidak hidup

Usus terutama pleg player


Resiko infeksi Peningkatan tekanan VU

Kuman mengeluarkan
Mati Penebalan dinding VU
endotoksin

Bakteria primer Difagosit ↓ kontraksi otot VU

Procesia pada kulit dan


Tidak difagosit Kesulitan berkemih
tidak hipertemi

Bakteria sekunder Retensi urin


Kesulitan berkemih

Hipotalamus Ureter Reinteraksi abdominal

Menekan termoreguler Iritasi ureteral Obstruksi

Hipertermi Oliguria Mual muntah

Peradangan Gangguan eliminasi urin Kekurangan volume cairan

Peningkatan Depresi saraf


frekuensi/dorongan perifer
kontraksi uretral Nyeri

5
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Anyang-anyangan atau rasa ingin buang air kecil lagi, meski sudah dicoba
untuk berkemih namun tidak ada air kemih yang keluar
2. Sering kencing dan kesakitan saat kencing, air kencingnya bisa berwarna
putih, cokelat atau kemerahan dan baunya sangat menyengat
3. Warna iar seni kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada darah
4. Nyeri pada pinggang
5. Demam atau menggigil, yang dapat menandakan infeksi telah mencapai
ginjal (diiringi rasa nyeri disisi bawah belakang rusuk, mual atau muntah)
6. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak sembuh-
sembuh dapat menjadi pemicu terjadinya kaker kandung kemih
7. Pada neonatus 2 bulan, gejalanya dapat menyerupai infeksi atau sepsis
berupa demam, apatis, berat badan tidak naik, muntah, mencret, anoreksia,
problem minum dan sianosis (kebiruan)
8. Pada bayi gejalanya berupa demam, berat badan sukar naik atau anoreksia
9. Pada anak besar gejalanya lebih khas seperti sakit waktu kencing, frekuensi
kencing meningkat, nyeri perut atau pinggang, mengompol, anyang-
anyangan (polakisuria) dan bau kencing yang menyengat.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Analisa urin rutin, mikroskop urine segar tanpa putar, kultur urine serta
jumlah kuman/ml urine
2. Investigasi lanjutan harus berdasarkan indikasi klinis (lihat tabel) :
- Ultrasonogram (USG)
- Radiografi : foto polos perut, pielografi IV, Micturating cystogram
- Isotop scanning
Indikasi investigasi lanjutan setelah ISK
ISK kambuh (relapsing infection)
Pasien laki-laki
Gejala urologic : kolik hinjal, pluria, hematuria
Hematuria persisten
Mikroorganisme (MO) jarang : Pseudomonas spp dan Proreus spp

6
ISK berulang dengan interval ≤ 6 minggu

F. PENATALAKSANAAN
1. Non Farmakologi
- Istrahat
- Diet; perbanyak Vitamin A dan C untuk mempertahankan epitel
saluran kemih
2. Farmakologi
- Antibiotik sesuai kultur, bila hasil kultur belum ada dapat diberikan
antibiotik antara lain cefotaxime, ceftriaxon, kotrimoxsazol,
trimetoprin, fluoroquinolon, amoksisiklin, doksisiklin aminoglikosid
- Bila ada tanda-tanda urosepsis dapat diberikan imipenem atau
kombinasi penisilin dengan aminoglikosida
- Untuk ibu hamil dapat diberikan amoksisilin, nitrofurantoin atau
sefalosporin

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih ini adalah karena
adanya proses reflux atau mikroorganisme yang di dapat secara asendens, yaitu
menyebabkan :
1. Pyelonefritis
Infeksi yang naik dari ureter ke ginjal, tubulus reflux urethrovesikal dan
jaringan intestinal yang terjadi pada satu atau kedua ginjal.
2. Gagal Ginjal
Terjadi dalam waktu yang lama dan bila infeksi sering berulang atau tidak
diobati dengan tuntas sehingga menyebabkan kerusakan ginjal baik secara
akut dan kronik.

H. DISCHARGE PLANNING
1. Perbanyak minum air putih (8/10 gelas/hari)
2. Mengkonsumsi vitamin C secara teratur karena dapat mengurangi jumlah
bakteri dalam urin

7
3. Hindari konsumsi minuman beralkohol, makanan yang berempah dan kopi
karena semua makanan ini dapat mengiritasi kandung kemih
4. Berikan kompres hangat dengan bantal elektrik khusus atau botol berisi air
panas pada bagian abdomen untuk mengurangi rasa tegang pada kandung
kemih
5. Segera buang air kecil jika keinginan itu timbul
6. Cucilah alat kelamin sebelum dan sesudah hubungan kelamin
7. Jalani hidup bersih dengan mencuci sebagian anus dan genetalia sekurang-
kurangnya sekali sehari
8. Jika memakai kateter lakukan pergantian atau cek ke dokter dengan teratur
9. Untuk wanita :
- Kenali faktor penyebab/gejala-gejala yang menimbulkan ISK
- Basuh bagian kemaluan dari arah depan ke belakang (anus) agar
bakteri tidak bermigrasi dari anus ke vagina atau uretra
- Cuci setelah melakukan senggama diikuti dengan terapi antimikroba
takaran tunggal (misal trimetroprim 200 mg)
- Jika hamil segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan
sesegera mungkin
- Ganti pembalut atau tampon
- Hindari pemakaian celana ketat
- Hindari penggunaan parfum, deodorant atau produk kebersihan wanita
lainnya pada bagian kelamin karena dapat berpotensi mengiritasi
uretra.

8
BAB II
PEMBAHASAN KASUS

Tanggal :
No. Register :
Ruangan/RS :
Diagnosa Medis : Infeksi Saluran
Kemih (ISK)

1. PENGKAJIAN
I. BIODATA
A. Identitas Klien
Nama : An. C
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 6 Tahun
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Suku Bangsa : Buton
Pendidikan : PAUD
Pekerjaan : -
Alamat : Kel. Waliabuku
B. Penanggung Jawab
Nama : Ny. Z
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan Klien : Ibu Kandung
Alamat : Kel. Waliabuku

II. RIWAYAT KESEHATAN


A. Keluhan utama : Klien datang dengan keluhan urin tidak keluar, nafsu
makan dan mium menurun, tidak BAB dan BAK sejak 1 hari yang
lalu

9
B. Riwayat keluhan utama
1. Penyebab/faktor pencetus : Nyeri timbul saat kencing keluar
2. Sifat keluhan : Seperti ditusuk-tusuk
3. Lokasi dan penyebarannya : Nyeri pada darah perut di kuadran
ke IV sebelah kanan bwah
4. Skala keluhan : Skala 5-6
5. Mulai dan lamanya keluhan : ± 30 detik sampai 1 menit
6. Hal-hal yang meringankan/memperberat : -

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


a. Ibu klien mengatakan bahwa An. K tidak pernah mengalami penyakit
ini sebelumnya
b. Ibu klien mengatakan bahwa An. K tidak mempunyai riwayat
penyakit atauapun diopname di RS sebelumnya
c. An. K tidak ada memiliki alergi dengan obat maupun makanan
d. Klien mengatakan tidak ketergantungan rokok, alkohol, kopi dan obat-
obatan

IV. RIWAYAT KELUARGA / GENOGRAM (DIAGRAM 3 GENERASI)


A. Genogram

A K

C
Keterangan :
Perempuan
Laki-laki

10
B. Riwayat kesehatan anggota keluarga
Ibu klien mengatakan keluarga klien pernah menderita penyakit
demam biasa saja dan ibu klien mengatakan kelarga juga tidak ada
menderita penyakit seperti infeksi saluran kemih, DM, hipertensi
ataupun penyakit yang lainnya

V. PEMERIKSAAN FISIK
A. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Pernapasan : 22 kali/menit
Nadi : 86 kali/menit
Suhu : 36,4°C
B. Kepala
Inspeksi : Rambut berwarna hitam dan ikal, kepala tampak
kotor, tidak ada ketombe dan tidak ada kutu
Palpasi : Tidak ada terdapat pembengkakan dikepala
C. Penglihatan/mata
Pupil : Isokor
Scelera : Tidak ikrik
Konjungtiva : Tidak anemis
Gangguan penglihatan : Tidak ada gangguan penglihatan
D. Pendengaran/telinga
Bentuk telingan simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, tidak ada
gangguan pendengaran
E. Hidung/penciuman
Bentuk : Simetris kiri dan kanan
Sekresi : Tidak ada sekresi
Gangguan penciuman : Tidak ada gangguan penciuman
F. Mulut dan gigi
Kebersihan mulut tampak bersih, gigi tampak kotor, gigi tampak
berlobang, lidah tampak kotor

11
G. Leher
Tidak terdapat pembengkakan kelenjar tiroid
H. Pernapasan
Inspeksi : Pergerakan dada simetris kiri dan kanan
Palpasi : Tidak ada neri tekan, tidak ada lesi
Perkusi : Sonor dibagian kiri, redup dibagian kanan
Auskultasi : Normal, tidak ada suara tambahan pada pernafasan
I. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ics ke V
Perkus : Tidak ada pembengkakan pada jantung
Auskultasi : Tidak terdengar suara tambahan
J. Abdomen
Inspeksi : Tidak adabekas luka, tidak ada lesi
Auskultasi : Bising usus normal 12x/i, vasikuler
Palpasi : Nyeri pada saatditekan
Perkusi : Timpani
K. Reproduksi
Genetalia tampak kotor, terpasang kateter
L. Status neurologis
Kesadaran : Compos mentis
GCS : 15
BB/TB : 19 kg/110 cm
M. Musculoskeletal
Ekstermitas atas : Tampak terpasang infus outsu D5% 10 tetes/menit
Ekstermitas bawah : Tampak terpasang kateter

VI. POLA KEGIATAN SEHARI-HARI (ADL)


A. Nutrisi
Sebelum Sakit Setelah Sakit
- Menu : Nasi, lauk pauk + - Menu : MLPG
sayuran - Porsi : 2 sendok makan

12
- Porsi : 1 piring - Pantangan : Tidak ada
- Pantangan : Tidak ada

B. Minum / Cairan
Sebelum Sakit Setelah Sakit
- Jumlah : 3-5 gelas/hari - Jumlah : 2-3 gelas/hari
- Pantangan : Tidak ada - Pantangan : Tidak ada

C. Eliminasi BAB dan BAK


Sebelum Sakit Setelah Sakit
BAB BAB
- Frekuensi : 1x sehari - Frekuensi : 1x hari
- Warna : Kuning kecoklatan - Warna : Kuning kecoklatan
- Bau : Kas - Bau : has
- Konsistensi : Padat - Konsistensi : Padat
- Kesulitan : Tidak ada - Kesulitan : Ada
BAK BAK
- Frekuensi : 4-5x sehari - Frekuensi : 2-3x sehari
- Warna : Kuning jernih - Warna : Kuning pekat
- Bau : Pesing - Bau : Pesing
- Konsistensi : Cair - Konsistensi :Cair
- Kesulitan : Tidak ada - Kesulitan : Ada

D. Istrahat dan Tidur


Sebelum Sakit Setelah Sakit
- Waktu tidur : Malam - Waktu tidur : Malam
- Lama tidur : 8-10 Jam Sehari - Lama tidur : 4-3 jam sehari
- Kesulitan : Tidak ada - Kesulitan : Tidak ada

VII. KEADAAN PSIKOSOSIAL KLIEN


a. Persepsi klien tentang penyakitnya : Klien berusaha untuk sembuh dan
menerima keadaan dengan berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

13
b. Konsep diri
1. Gambaran diri : Klien mengatakan menyukai semua bagian
tubuhnya
2. Identitas diri : Selama sakit sebagian besar aktivitas klien
dibantu oleh ibu kandungna
3. Peran diri : Klien berperan sebagai anak
4. Ideal diri : Klien berharap agar ia cepat sembuh dan
dapat segera pulang agar dapat kembali berkumpul dengan
keluarganya
5. Harga diri : Klien mengatakan ia menerima keadaannya
sekarang
c. Keadaan emosi : Emosi klien dalam keadaan yang stabil

VIII. KEADAAN SPRITUAL KLIEN


a. Nilai dan kenyakinan : Klien menganut agama Islam
b. Kegiatan ibadah : Beribadah sholat 5 waktu

IX. KEADAAN SOSIAL / LINGKUNGAN PERUMAHAN KLIEN


a. Orang yang berarti : Klien mengatakan bahwa orang yang paling
berarti bagi dirinya adalah orang tua dan saudaranya
b. Hubungan dengan keluarga : Klien memiliki hubungan yang baik dan
harmonis dengan keluarga
c. Hubungan dengan orang lain : Klien berhubungan baik dengan orang
lain yang ada disekitarnya

X. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium
No Jenis Pemeriksaan Jumlah Satuan Nilai
Normal
1 HBG 13.1 g/dL 13.0-16.0
2 RBC 4.66 10^6/ul 4.5-5.5
3 HCT 39.5 % 40.0-48.0
4 WBC 14.25 10^3/ul 5.0-10.0

14
5 EO% 0.1 % 1-3
6 BASO% 0.2 % 0-1
7 NEUT% 83.7 % 50-70
8 LYMPH% 10.0 % 20-40
9 MONO% 6.0 % 2-8
10 LED 20 Mm/jam L<10
11 Kalsium darah 138.8 Meq/L 9-11
12 Kalium 108.0 Meq/L 3.5-5.5
13 Natrium 0.45 Mg/dl 135-147
14 Creatin 20 Mg/dl 8.6-10.3
15 Urea 14.25 10^3/uL 15-43

B. Studi diagnostik
USG abdomen, PatBNO

XI. TINDAKAN MEDIK / PENGOBATAN


Ceftiacone 1x1 gr
Paracetamol 3x250 mg
Dulcolak supos 1x1 mg
Infus D5%

2. ANALISA DATA
Diagnosa
No Data Penyebab
Keperawatan
1. Ds : Kuman mengeluarkan Nyeri akut
- Ibu klien mengatakan endotoksin
anaknya susah untuk buang
air kecil Bakteremia primer
- Klien mengatakan anakna
saat buang air kecil terasa Tidak difagosit
sakit
- Klien mngatakan nyeri pada Bakteremia sekunder
bagian perut dan pinggang
Do : Peradangan

15
- Klien tampak sakit ketika
saat mau buang air kecil Peningkatan
- Skala nyeri 5-6 frekuensi/dorongan
- Klien tampak terpsang kontraksi uretral
kateter
- Klien tampak kesakitan saat Depresi saraf perifer
dipegang bagian perutnya
- WBC : 14.25 10^3/uL Nyeri
2. Ds : Intake tidak adekuat Resiko gangguan
- Ibu klien mengatakan nafsu pemenuhan
makan menurun kebutuhan nutrisi
- Ibu klien mengatakan kurang
tenggorokan sakit saat
menelan
- Klien mengatakan badannya
terasa lemah dan letih
Do :
- Klien tampak tidak
menghabiskan makanannya
hanya dengan porsi 2 sendok
makan saja
- Klien tampak susah menelan
karena tenggorokan sakit
- Klien tampak lemah dan lesu
- Berat badan 19 kg
- Tinggi badan 110 cm
3. Ds : Intake tidak adekuat Resiko defisi
- Klien mengatakan badannya volume cairan
terasa lemah dan letih
Do :
- Mukosa bibir tampak kering
- Turgor kulit tampak lembab

16
- Intake 810 cc
- Output 200 cc
- Klien tampak terpasang
infus outsu D5% 10 tetes/i

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri b.d infeksi traktus urinarius
b. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang b.d intake tidak
adekuat
c. Resiko defisit volume cairan b.d intake tidak adekuat

17
4. PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri b.d infeksi traktus Tujuan : Nyeri berkurang 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
urinarius Kriteria hasil : termasuk lokasi, karakteristik,durasi, frekuensi,
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu kualitas dan faktor presipitasi
penyebab, mampu menggunakan 2. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
tehnik non farmakologi untuk 3. Gunakan tehnik relaksasi : nafas dalam
mengurangi nyeri, mencari 4. Berikan analgesik dan antibiotik
bantuan) 5. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang (batasi pengunjung, ciptakan suasana yang tidak
dengan menggunakan manajemen berisik)
nyeri 6. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
3. Mampu mengenali nyeri (skala, 7. Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk
intensitas, frekuensi dan tanda mengetahui pengalaman nyeri pasien
nyeri) 8. Kurangi faktor presipitasi nyeri
4. Tanda-tanda infeksi tidak terjadi, 9. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
calor (panas), dolor (rasa intervensi
sakit/nyeri), rubor (kemerahan), 10. Tingkatkan istrahat
tumor (pembengkakan), 11. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
functiolaesa (daya perubahan tindakan nyeri tidak berhasil

18
fungsi) 12. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
13. Lakukan pengkaian tanda-tanda infeksi
14. Lakukan perawatan kateter
15. Anjurkan ibu atau keluarga klien untukmelakukan
hand hygine
16. Anjurkan klien sering untuk mengganti celana
dalam
2. Resiko gangguan pemenuhan Asupan nutrisi tercukupi 1. Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan nutrisi kurang b.d Kriteria hasil : 2. Kolaborasikan dengan ahli gizi tentang nutrisi yang
intake tidak adekuat 1. Adanya peningkatan berat badan dibutuhkan
sesuai dengan tujuan 3. Anjurkan klien untuk meningkatkan protein dan
2. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi vitamin (minum jus jeruk dan mengkonsumsi buah-
3. Menunjukkan peningkatan fungsi buahan seperti pisang)
menelan 4. Monitor jumlah nutrisi dankandungan kalori
4. Tidak terjadi penurunan berat 5. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
badan yang berarti yang dibutuhkan
6. Menjelaskan kepada klien tentang pentingna
makanan bagi tubuh

19
7. Menganjurkan memberikan makanan ketika dalam
keadaan hangat
8. Menganjurkan memberikan makanan dalam bentuk
bervariasi
9. Menganjurkan memberikan makanan sedikit tapi
sering
3. Resiko difisit volume cairan Kebutuhan cairan adekuat 1. Monitor tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan
b.d intake tidak adekuat Kriteria hasil : 2. Kolaborasikan dalam pemberian cairan IV
1. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi 3. Monitor status dehidrasi (kelembaban mukosa
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh bibir, nadi adekuat) jika diperlukan
dalam batas normal 4. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung
intake kalori harian
5. Dorong keluarga untuk memantau makan
6. Monitor status nutrisi
7. Dorong masukan oral
8. Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian
terapi
9. Memanau tingkat Hb dan hematokrit
10. Monitor berat badan
11. Memonitor balance cairan

20
5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO
TGL / JAM IMPLEMENTASI KEPERAWATAN EVALUASI SOAP
DX
03/04/2019 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif S :
09.00 Wita termasuk lokasi, karakteritik, durasi, frekuensi, - Ibu klien mengatakan anaknya susah untuk buang air
kualitas dan faktor presipitasi kecil
2. Mengobservasi reaksi non verbal dari - Klien mengatakansaatbuang air kecil terasa sakit
ketidaknyamanan - Klien mengatakan nyeri pada bagian perut dan
3. Menggunakan tehnik relaksasi pinggang
4. Memberikan analgesik dan antibiotik - P : Nyeri timbul saat kencing keluar
5. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman - Q : Seperti ditusuk-tusuk
6. Melakkan pengkajian tanda-tanda infeksi - R : Nyeri pada daerah perut dikuadran ke IV sebelah
7. Melakukan perawatan kateter kanan bawah
8. Menganjurkan ibu atau keluarga klien untuk - S : Skala 5-6
melakukan hand hygine - T : ± 30 detik sampai 1 menit
9. Anjurkan klien sering untuk mengganti celana O :
dalam TTV
TD 110/70 mmHg
N : 86 kali/menit
S : 36,4°C

21
Pernapasan : 22 kali/menit
WBC : 14.25 10^3/uL
- Klien tampak sakit saat mau buang air kecil dengan
skala nyeri 5-6
- Klien tampak terpasang kateter
- Klien tampak kesakitan saat dipegang bagian perutnya
A : Nyeri b/d infeksi traktur urinarius
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6,7, 8, 9
03/04/2019 2. 1. Mengkaji adanya alergi makanan S:
10.00 2. Menantau tentang nutrisi yang dibutuhkan klien - Ibu klien mengatakan klien nafsu makan menurun
3. Menganjurkan klien untuk meningkatkan protein - Ibu klien mengatakan tenggorokan klien sakit saat
dan vitamin C menelan
4. Memonitor jumlah nutrisi - Klien mengatakan badannya terasa lemah dan letih
5. Menjelaskan kepada klien tentang pentingnya O :
makan bagi tubuh TD 110/70 mmHg
6. Menganjurkan memberikan makanan ketika dalam N : 86 kali/menit
keadaan hangat S : 36,4°C
7. Menganjurkan memberikan makanan dalam bentuk Pernapasan : 22 kali/menit
bervariasi BB : 19 kg
8. Menganjurkan memberikan makanan sedikit tapi TB : 110 cm

22
sering - Klien tampak tidak menghabiskan makanannya
- Klien hanya makan dengan porsi 2 sendok makan saja
- Klien tampak susah menelan karena tenggorokannya
sakit
- Klien tampak lemah dan lesu
A : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang b.d intake tidak adekuat
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
03/04/2019 3. 1. Monitor tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan S:
11.15 2. Memantau pemberian cairan IV - Klien mengatakan badannya terasa lemah dan letih
3. Melakukan pemberian terapi O:
4. Memonitor balance cairan TD 110/70 mmHg
5. Monitor masukan makanan N : 86 kali/menit
6. Mendorong keluarga untuk memantau makanan S : 36,4°C
Pernapasan : 22 kali/menit
- Mukosa bibir tampak kering
- Turgor kulit tampak lembab
- Intake 810 cc
- Output 200 cc
- Klien tampak terpasang infus outsu D5% 10 tts/i

23
A : Resiko defisit volume cairan b.d intake tidak adekuat
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6,
04/04/2019 1. 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif S :
08.15 termasuk lokasi, karakteritik, durasi, frekuensi, - Ibu klien mengatakan anaknya susah untuk buang air
kualitas dan faktor presipitasi kecil
2. Mengobservasi reaksi non verbal dari - Klien mengatakan saat buang air kecil terasa sakit
ketidaknyamanan - Klien mengatakan nyeri pada bagian perut dan
3. Menggunakan tehnik relaksasi pinggang masih ada
4. Memberikan analgesik dan antibiotik - P : Nyeri timbul saat kencing keluar
5. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman - Q : Seperti ditusuk-tusuk
6. Melakkan pengkajian tanda-tanda infeksi - R : Nyeri pada daerah perut dikuadran ke IV sebelah
7. Melakukan perawatan kateter kanan bawah
8. Menganjurkan ibu atau keluarga klien untuk - S : Skala 5-6
melakukan hand hygine - T : ± 30 detik sampai 1 menit
9. Anjurkan klien sering untuk mengganti celana O :
dalam TTV
TD 110/70 mmHg
N : 78 kali/menit
S : 36,4°C
Pernapasan : 24 kali/menit

24
- Klien tampak sakit saat mau buang air kecil dengan
skala nyeri 5-6
- Klien tampak terpasang kateter
- Klien tampak kesakitan saat dipegang bagian perutnya
A : Nyeri b/d infeksi traktur urinarius
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6,7, 8, 9
04/04/2019 2. 1. Mengkaji adanya alergi makanan S:
12.15 2. Menantau tentang nutrisi yang dibutuhkan klien - Ibu klien mengatakan anakna masih belum mau
3. Menganjurkan klien untuk meningkatkan protein makan
dan vitamin C - Ibu klien mengatakan tenggorokan klien sakit saat
4. Memonitor jumlah nutrisi menelan
5. Menjelaskan kepada klien tentang pentingnya - Klien mengatakan badannya terasa lemah dan letih
makan bagi tubuh O:
6. Menganjurkan memberikan makanan ketika dalam TD 110/70 mmHg
keadaan hangat N : 78 kali/menit
7. Menganjurkan memberikan makanan dalam bentuk S : 36,4°C
bervariasi Pernapasan : 24 kali/menit
8. Menganjurkan memberikan makanan sedikit tapi BB : 19 kg
sering TB : 110 cm
- Klien tampak tidak menghabiskan makanannya

25
- Klien hanya makan dengan porsi 2 sendok makan saja
- Klien tampak susah menelan karena tenggorokannya
masih sakit
- Klien tampak lemah dan lesu
A : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang b.d intake tidak adekuat
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
04/04/2019 3. 1. Monitor tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan S:
12.20 2. Memantau pemberian cairan IV - Klien mengatakan badannya terasa lemah dan letih
3. Melakukan pemberian terapi O:
4. Memonitor balance cairan TD 110/70 mmHg
5. Monitor masukan makanan N : 78 kali/menit
6. Mendorong keluarga untuk memantau makanan S : 36,4°C
Pernapasan : 24 kali/menit
- Mukosa bibir tampak kering
- Turgor kulit tampak lembab
- Intake 960 cc
- Output 300 cc
- Klien tampak terpasang infus outsu D5% 10 tts/i
A : Resiko defisit volume cairan b.d intake tidak adekuat

26
P : Intervensi dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5, 6,
05/04/2019 1. 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif S :
10.00 termasuk lokasi, karakteritik, durasi, frekuensi, - Ibu klien mengatakan anaknya susah untuk buang air
kualitas dan faktor presipitasi kecil
2. Mengobservasi reaksi non verbal dari - Klien mengatakan saat nyeri buang air kecil masih
ketidaknyamanan hilang timbul
3. Menggunakan tehnik relaksasi - Klien mengatakan nyeri pada bagian perut masih
4. Memberikan analgesik dan antibiotik hilang timbul
5. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman - P : Nyeri timbul saat kencing keluar
6. Melakkan pengkajian tanda-tanda infeksi - Q : Seperti ditusuk-tusuk
7. Melakukan perawatan kateter - R : Nyeri pada daerah perut dikuadran ke IV sebelah
8. Menganjurkan ibu atau keluarga klien untuk kanan bawah
melakukan hand hygine - S : Skala 4-3
9. Anjurkan klien sering untuk mengganti celana - T : ± 30 detik sampai 1 menit
dalam O:
TTV
TD 90/70 mmHg
N : 83 kali/menit
S : 36,8°C
Pernapasan : 26 kali/menit

27
- Klien tampak sakit saat mau buang air kecil dengan
skala nyeri 4-3
- Aff katter
A : Masalah tentang nyeri teratasi
P : Intervensi dihentikan
05/04/2019 2. 1. Mengkaji adanya alergi makanan S:
11.00 2. Menantau tentang nutrisi yang dibutuhkan klien - Ibu klien mengatakan anaknya sudah mau makan
3. Menganjurkan klien untuk meningkatkan protein - Ibu klien mengatakan tenggorokan sudah tidaksakit
dan vitamin C saat menelan
4. Memonitor jumlah nutrisi O:
5. Menjelaskan kepada klien tentang pentingnya TD 90/70 mmHg
makan bagi tubuh N : 83 kali/menit
6. Menganjurkan memberikan makanan ketika dalam S : 36,8°C
keadaan hangat Pernapasan : 26 kali/menit
7. Menganjurkan memberikan makanan dalam bentuk BB : 19 kg
bervariasi TB : 110 cm
8. Menganjurkan memberikan makanan sedikit tapi - Klien tampak sudah menghabiskan makanannya ½
sering porsi piring
- Klien tampak tidak susah menelan makanan
- Klien tampak lemah dan lesu

28
A : Masalah nutrisi teratasi
P : Intervensi dihentikan
05/04/2019 3. 1. Monitor tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan S:
12.30 2. Memantau pemberian cairan IV - Klien mengatakan letih sudah mulaiberkurang
3. Melakukan pemberian terapi - Klien mengatakan badan sudah mulai segar kembali
4. Memonitor balance cairan O:
5. Monitor masukan makanan - Mukosa bibir tampak kering
6. Mendorong keluarga untuk memantau makanan - Turgor kulit tampak lembab
- Intake 810 cc
- Output 500 cc
- Infus di aff
- Kateter aff
A : Masalah resiko defisit volume cairan teratasi
P : Intervensi dihentikan

29
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk


Perencanaan danPendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa: I Made
Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddart. Alih Bahasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit:
Pathophysiologi ClinicalConcept Of Disease Processes. Alih Bahasa: Peter
Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC
Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran
Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.
Kusuma Hardi dan Nurain Huda Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC (Jilid 2). Yogyakarta :
Media Action Publishing

30