Anda di halaman 1dari 6

Sirkulasi dan Parkir (Sirculation and Parking)

Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan
mengoontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan system
transportasi dari jalan public, pedestrian way, dan tempat-tempat transit yang saling
berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota
merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan
karena dapat membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan pola aktivitas dalam kota.
Selain itu sirkulasi dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain
sebagainya.
Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada
kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada
beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi
efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota.

Elemen ruang parkir memiliki dua efek langsung pada kualitas lingkungan, yaitu :

1. Kelangsungan aktivitas komersial.


2. Pengaruh visual yang penting pada bentuk fisik dan susunan kota.

Dalam merencanakan tempat parkir yang benar, hendaknya memenuhi persyaratan

1. Keberadaan strukturnya tidak mengganggu aktivitas di sekitar kawasan


2. Pendekatan program penggunaan berganda
3. Tempat parkir khusus
4. Tempat parkir di pinggiran kota

Dalam perencanaan untuk jaringan sirkulasi dan parkir harus selalu memperhatikan

1. Jaringan jalan harus merupakan ruang terbuka yang mandukung citra


kawasan dan aktivitas pada kawasan.
2. Jaringan jalan harus member orientasi pada pengguna dan membuat
lingkungan yang legible.
3. Kerjasama dari sector kepemilikan dan privat dan public dalam
mewujudkan tujuan dari kawasan.

Menurut Fumihiko Maki (dalam Trancik, 1986) sistem sirkulasi dan parkir adalah
karakteristik yang sangat penting dari eksterior ruang kota. Selain itu juga merupakan
perekat bagi kota. Ia adalah tindakan dimana kita menyatukan seluruh lapisan aktifitas
dan menghasilkan bentuk fisik dari kota,

Maki (1964) berpendapat bahwa arsitektur kota merupakan perwujudan ruang-ruang


dan bentuk-bentuk kolektif yang dipadukan diantara keaneka ragaman. Kuncinya
adalah bagaimana mengaitkan (linkages) satu kegiatan dengan kegiatan lainnya. Atau
diantara satu yang tidak/belum berubah dengan perubahan yang akan dilakukan
berikutnya, satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Di sini diperlukan pemahaman
akan adanya “kaitan terbuka” (open linkages). Kesimpulannya kota harus dipandang
sebagai pola peristiwa-peristiwa.
Dalam teori ini Maki menyebutkan bahwa sistem sirkulasi dan parkir merupakan bagian
karakteristik terpenting dari ruang luar yang membentuk kerangka/jaringan hubungan
ruang (spatial datum). Maki membedakan bentuk/tipe ruang kota sebagai sistem
sirkulasi dan parkir menjadi tiga tipologi yaitu: Compositional form, Megaform dan
Groupform.

Menurut Danisworo (1992) sistem sirkulasi dan parkir merupakan sistem yang
menghubungkan berbagai jenis peruntukkan lahan baik secara makro maupun mikro.
Sistem ini sangat vital dan membuat fungsi kawasan bekerja secara efisien. Dalam
sistem ini jalur-jalur sirkulasi baik kendaraan bermotor maupun pejalan kaki diwadahi.
Dengan demikian semua aktifitas masyarakat dapat berlangsung dengan baik.

Secara fisik ruang kota merupakan kumpulan dari beberapa bagian dan ruang kota atau
kumpulan dari beberapa kelompok bangunan. Sistem sirkulasi dan parkir merupakan
pengikat antar bagian tersebut, wadah interaksi sosial bagi segenap lapisan
masyarakatnya sehingga menjadi sarana yang memungkinkan terjadi interaksi sosial.
Dengan demikian sistem sirkulasi dan parkir ruang kota dapat mencakup aspek fisik
(mengenai tata guna lahan) dan non fisik (mengenai karakteristik kegiatan yang
diwadahi).

Sistem sirkulasi dan parkir dalam perencanaan makro adalah merupakan bagian dari
sistem transportasi. Sistem ini timbul karena kebutuhan pergerakan manusia, barang
dan jasa dari satu tempat ke tempat lain yang terjadi karena keterpisahan antara lokasi
aktivitas satu dengan yang lainnya (Jhon R.Short,1984). Dalam sistem transportasi
unsur-unsurnya meliputi manusia, barang, kendaraan, jalan dan organisasi yang
mengelola. (warpani, 1990:4).

Prinsip Perencanaan Sistem Sirkulasi dan Parkir

Menurut Buchanan (1963) beberapa hal yang biasanya menjadi pokok permasalahan
yaitu:

1. Warisan Sistem Jalan : warisan sistem jaringan jalan dari jaman kendaraan tak
bermotor terbukti tidak mampu menampung kebutuhan kendaraan bermotor
terutama jalan di kawasana perkotaan. Hal ini karena tata jaringan jalan tidak lagi
tuntutan persyaratan perkembangan kendaraan bermotor.

2. Daya hubung (akses) yaitu tingkat kemudahan berhubungan dari satu tempat ke
tempat lain. Akses juga dapat menjadi pertanda atau ukuran keadaan sistem
sirkulasi dan parkir kota

3. Lingkungan : masuknya kendaraan bermotor telah menimbulkan berbagai akibat


yang tidak diinginkan seperti kecelakaan lalu lintas, kekawatiran dan kecemasan
oleh besar dan cepatnya kendaraan yang tidak seimbang dengan lingkungan,
ganggguan suara motor, asap kendaraan, getaran dan debu yang melampaui batas.

4. Lalu lintas pejalan : dalam perencanaan sistem sirkulasi dan parkir kota, pejalan
merupakan bagian yang penting. Untuk itu sarana trotoar mutlak perlu ada. Namun
kepentingan pejalan ini sering bantrok dengan kepentingan sektor informal yang
juga turut memanfaatkan trotoar. Menghapus sektor ini adalah tidak mungkin maka
perlu dilakukan pengaturan agar pejalan dapat melakukan akitfitasnya dangan
nyaman dan aman.

5. Benturan kepentingan. Dalam perencanaan sistem sirkulasi dan parkir akan selalu
terjadi benturan kepentingan yaitu tuntutan akses yang baik dan lingkungan yang
nyaman. Untuk itu perlu dirumuskan lebih jelas masalah perancangan yaitu:
- Mencari cara agar terjadi penyaluran lalu lintas yang efisien
- Meningkatkan akses ke sejumlah bangunan tanpa merusak lingkungan.

Dari uraian di atas dapat ditunjukan unsur kegiatan perencanaan sistem sirkulasi
dan parkir terdiri dari 3 unsur yaitu: penduduk (manusia), kegiatan dan teknologi
yang saling mempengaruhi.manusia, kegiatan, teknologi

Elemen parkir dapat memberikan dampak pada lingkungan yaitu menentukan hidup
dan mati tidaknya suatu kawasan di pusat kota serta memberikan dampak visual
yang kuat pada bentuk fisik kota.

Dua hal yang penting dalam perancangan adalah ;


 Pencapaian pada lahan pribadi
 Parkir.

Jenis parkir adalah :


 Parkir di jalan (on street parkir).
 Parkir di luar jalan (off street parking) baik dalam bentuk parkir terbuka
maupun gedung parkir.

Untuk merancang fasilitas parkir perlu dipahami :


 Tujuan dan lama parkir.
 Keinginan akan sarana parkir
 Pengaruh parkir terhadap kapasitas jalan.
 Pola gerak kendaraan pribadi.
 Jenis kendaraan dan luas parkir yang dibutuhkan.

Beberapa cara yang dapat mengatasi masalah perparkiran adalah (Shirvani, 1985) :
 Membuat gedung-gedung parkir.
 Pendekatan program penggunaan berganda (Multi use program).
 Pengadaan tempat parkir khusus bagi suatu perusahaan atau instansi yang
sebagai besar karyawannya berkendaraan (package-plan parking).
 Pengadaan fasilitas parkir di perbatasan kota (urban edge parking).
Persyaratan Parkir

Untuk perencanaan parkir setidaknya memenuhi persyaratan berikut (Irvine


Company, dalam Shirvani, 1985):
 Keberadaan strukturnya tidak mengganggu aktifitas disekitarnya bahkan
bila memungkinkan mendukung kegiatan street level dan menambah
kualitas visual lingkungan.
 Pendekatan program penggunaan berganda yaitu memaksimalkan
penggunaan tempat parkir dengan pelaku dan waktu yang berbeda
secara simultan.
 Tempat parkir di pinggiran kota yang dibangun oleh swasta dan atau
pemerintah.

Definisi Kenyamanan

 Menurut Weisman (1981), kenyamanan adalah suatu keadaan


lingkungan yang memberi rasa yang sesuai dengan panca indra dan
antropemetry disertai fasilitas yang sesuai dengan kegiatannya.
Antropemetry adalah proporsi dan dimensi tubuh manusia serta karakter
fisiologis laninya dan sanggup berhubungan dengan berbagai kegiatan
manusia yang berbeda-beda dan mikro lingkungan.

 Menurut Hakim (2002), kenyamanan adalah segala sesuatu yang
memperlihatkan penggunaan ruang secara harmonis, baik dari segi
bentuk, tekstur, warna, aroma, suara, bunyi, cahaya, atau lainnya.
 Kenyamanan dapat pula diartikan sebagai kenikmatan atau kepuasan
manusia dalam melaksanakan kegiatannya. (Albert Rutlegde, Anatomy
of Park)
 Dapat diambil kesimpulan bahwa, kenyamanan ialah suatu keadaan
yang memperlihatkan penggunaan ruang yang sesuai dengan keinginan
sehingga memberikan rasa puas dan nikmat baik secara fisik maupun
non fisik.
Definisi Arsitektur
ii
Kota
Persyaratan Faktor
Parkir Kenyamanan Sirkulasi
(Hakim 2002) dan Parkir

Kenyamanan

Sirkulasi

Aksesibilitas

Gaya Alam
dan Iklim

Fisik dan
Non Fisik

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF DAN RENCANA SURVEI

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan
teknik primer-sekunder, adapun teknik didapat melalui primer tahap-tahap sebagai
berikut:

 Observasi atau pengamatan yaitu pengumpulan data dengan melakukan


pengamatan langsung secara sistematis terhadap objek penelitian,
Menggunakan Kamera untuk menyimpan foto hasil penelitian dan mencatat
gejala-gejala yang diteliti yang berhubungan dengan Disfungsi Jalur
Pedestrian di Jalan Kebon Sirih, sehingga diperoleh fakta-fakta yang jelas.

 Wawancara, yaitu berkomunikasi langsung dengan melakukan tanya jawab


kepada informan untuk mendapatkan keterangan dalam penelitian,
berdasarkan indikator penelitian yang telah ditentukan.

 Dokumentasi yaitu melihat dan mempelajari dokumen-dokumen atau catatan


yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan. Penggunaan teknik ini
bertujuan untuk mempelajari dokumen, laporan, dan catatan, serta buku
referensi yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Disfungsi
Jalur Pedestrian di Jalan Kebon Sirih.
Kemudian data primer tersebut didukung oleh data sekunder. Sumber data sekunder
dalam penelitian ini berupa undang-undang atau peraturan, surat-surat keputusan, arsip-
arsip, laporan kegiatan, dan foto-foto di lapangan yang berkaitan dengan tema
penelitian.

Teknik Analisa

Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah data dari seluruh responden
atau sumber data lain terkumpul. Penulis memilih dan mengelompokkan data menurut
jenisnya kemudian diolah dengan metode deskriptif yaitu suatu analisis yang berusaha
menggambarkan gambaran secara rinci berdasarkan kenyataan yang ditemui
dilapangan dan disajikan dalam bentuk tabel dan disertakan pembahasannya. Teknik
analisis data penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif maka teknik analisa
data melalui tiga tahapan, yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction), yaitu membuat rangkuman, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data
yang telah direduksi akan memberikan pengertian yang lebih jelas, dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung.
Selanjutnya membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugusan-gugusan.

Pada tahapan ini, penulis memilah-milah mana data yang berkaitan dan dibutuhkan dalam
penelitian Disfungsi Jalur Pedestrian di dan mana yang bukan. Kemudian penulis
memisahkan data yang tidak perlu dan memfokuskan data yang benar-benar berhubungan
dengan Disfungsi Jalur Pedestrian

2. Penyajian Data (Data Display), merupakan sekumpulan informasi tersusun yang berguna
untuk memudahkan peneliti memahami gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu
dari penelitian. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,
hubungan antar kategori dan flowchart. Dengan begitu maka data akan lebih
terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.
Penyajian data dilakukan dengan cara memaparkan hasil temuan dalam wawancara
terhadap informan yang memahami terkait disfungsi jalur pedestrian di lokasi.