Anda di halaman 1dari 10

PAPER AGAMA

MANUSIA MERUT PERJANJIAN LAMA

OLEH :

Hermanus Yoseph Kader (062190128)

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NUSA NIPA

2019
Manusia Menurut Kitab Suci Perjanjian Lama

(Kejadian, 1:26-28; 3 :1-24)

Kejadian, 1:26-28.

Di dalam kisah penciptaan, digambarkan bahwa manusia merupakan bagian integral


dari dunia. Ia mempunyai tempatnya di antara semua makhluk yang lain dan hidup dalam
pelbagai hubungan dan dan keterikatan dengan ciptaan sekitarnya. Tetapi manusia
digambarkan sebagai makhluk istimewa yang merupakan puncak atau pusat dari seluruh
ciptaan dan mempunyai hubungan khusus dengan Allah pencipta. Manusia bersifat khas di
antara segala makhluk lain. Kekhassan yang diterima manusia secara jelas dinyatakan dalam
Kej. 1:26, “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita...” dan dilanjutkan ay 27, “Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya,
menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka”. Hal ini berarti, manusia diciptakan dengan kualitas-kualitas yang tidak dimiliki oleh
ciptaan lain, sebab manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Oleh karena manusia
diciptakan seturut gamabaran Allah, maka secara spiritual manusia memiliki hubungan yang
erat dengan penciptanya.

Hubungan antara Allah dan manusia sebagai pencipta (creator) dan yang dicipta
merupakan sebuah hubungan personal.1 hal ini berarti, bahwa manusia dipanggil, disapa
dengan nama unik, bahwa manusia diperlakukan sebagai pribadi oleh Allah pencipta. karena
Allah pencipta menyapa manusia secara pribadi dengan firman-Nya yang kreatif dan
memperlakukan manusia sebagai pribadi, maka manusia menjadi pribadi dan memperoleh
personalitas.

Kalau atas latar belakang ini kita refleksikan penciptaan melalui firman Allah, maka
kita melihat dengan jelas bahwa manusia merupakan puncak dan tujuan seluruh ciptaan.
Penciptaan melalui firman berarti, Allah melalui suatu dialog. Tetapi dialog baru terjadi kalau
firman pertama itu dijawab. Memang seluruh ciptaan merupakan suatu jawaban bisu atas
firman pencipta, ciptaan itu menjawab dengan berada. Tetapi secara sadar, bebas dan pribadi
jawaban itu baru bisa diberikan oleh manusia. Karena itu, dalam pujian Allah Pencipta yang

1
Kees Maas, Teologi Moral Seksualitas (Ende: Penerbit Nusa Indah, 1998), hlm. 31.
diungkapkan manusia secara sadar, manusia membawakan pujian seluruh ciptaan kepada
Allah. berarti, baru dalam diri manusia maksud Allah dengan ciptaan itu sungguh terlaksana,
yaitu dialog antara Allah dengan apa yang diciptakan-Nya.

Namun dialog antara Allah dengan ciptaan melalui manusia selalu mengalami banyak
hambatan juga, sering kali manusia tidak menjawab sebagaimana mestinya. Karena itu Allah
dalam ciptaan-Nya masih maju selangkah lebih jauh lagi untuk menciptakan dialog sempurna
antara ciptaan dengan diri-Nya di dalam inkarnasi. Dalam inkarnasi, Firman Allah yang asli
dan Ilahi sendiri menjadi manusia, firman atau gambaran Allah tercipta, sehingga dalam
penjelmaan itu terjadi manusia yang paling sempurna, yang memberikan jawaban sempurna
dari pihak ciptaan dalam dialog cinta dengan Allah, sebab itu inkarnasi merupakan puncak
dari seluruh ciptaan.

Sebagai ciptaan, manusia dituntut untuk senantiasa melaksanakan apa yang


dikehendaki Allah. Maka dari itu, pada bagian ini akan dijelaskan sedikit inti hakikat dan
panggilan manusia seturut tiga aspek dasariah yang mewarnai kehidupan manusia. Tiga aspek
dasariah hidup manusia yaitu; Manusia pembangun, manusia pencinta dan manusia pendoa2.

1. Manusia Pembangun
Kita mendengar dari kisah penciptaan dalam kitab suci, bahwa manusia
diciptakan untuk bekerja, untuk menaklukan bumi, untuk mengolah dan memelihara
taman yang ditanami Allah untuknya.
Didalam kebanyakan mitos mengenai penciptaan manusia dinyatakan, bahwa
manusia diciptakan sebagai hamba para dewa. Manusia mesti melayani para dewa itu,
supaya mereka dapat hidup enak. Berbeda dengan pandangan itu, didalam kitab suci
manusia digambarkan sebagai partner Allah yang boleh juga mengambil bagian
didalam kreativitas Allah. kerja dilihat sebagai berkah, didalamnya manusia bisa
merealisir diri sebagai “pencipta yang tercipta”.
Karena itu, Konsili Vatikan II dalam konstitusi gaudium et spes mengajar
melalui kerjanya manusia bisa mengubah dunia, bisa membuatnya menjadi lebih
manusiawi. Dan karena manusia merupakan citra Allah, maka perkembangan yang

2
Georg Kirchberger, Allah Menggugat; Sebuah Dogmatik Kristiani (Maumere: Penerbit Ledalero, 2012), hlm.
285-289.
diusahakan manusia, sejauh sungguh bersifat manusiawi, membawa dunia lebih dekat
kepada tujuannya, Allah pencipta. Kerja manusia mempunyai nilai yang tinggi,
karena manusiayang melakukannya merupakan subyek yang dihargai dan dicintai
Allah. tetapi konsili juga tidak buta terhhadap kenyataan, bahwa kemajuan yang
dialami oleh manusia itu bukannya selalu serba beres, malahan banyak yang tidak
beres, karena dosa yang berpengaruh terhadapnya daripada kehendak Allah
penciptanya. Karena itu, Gereja mesti menawarkan dengan tekun dan tabah,
“bahwa segala kegiatan manusia, yang senantiasa dibahayakan oleh kesombongan
dan cinta diri yang tidak sehat, harus dimurnikan dan di sempurnakan dengan
kekuatan salib dan kebangkitan Kristus”. (GS a.37).
Salib disini berarti semangat korban, semangat cinta, semangat persaudaraan
sejati yang relamenjadi sumber hidup bagioranglain. Kalau kita sebagai geraja tetap
berusaha memasukan semangat itu kedalam usaha pembangunan dunia, maka kita
memberikan sumbangan sangat berharga, sekaligus khas Kristen.
Akhirnya pembangunan yang dilakukan manusia, sejauh sungguh membangun
dan melawan perusakan dosa, masih mempunyai dimensi dan arti yang lebih dalam
lagi. Karna sabda Allah yang menciptakan alam semesta sendiri sudah masuk dalam
ciptaan itu dan mengambil seluruh ciptaan sebagai tubuh-Nya, maka segala usaha
yang benar untuk membangun dunia, turut membangun tubuh Kristus paripurna.
Dalam kebangkitan Kristus sudah tercipta dunia baru, dan dalam kebangkitan itu kita
mempunyai jaminan yang pasti, bahwa kebangkitan akan menang, bahwa segala
usaha manusia kearah yang lebih baik, segala sesuatu yang dilakukan dalam semangat
cinta, tidak sia-sia.
Sebab itu konsili mengatakan:
Kemudian, setelah maut dikalahkan, maka anak-anak Allah akan dibangkitkan dalam
kelemahan dan kehancuran akan dikenakan dengan kebakaan. Tapi cinta dan buah-
buah kasihNya akan bertahan, dan segala ciptaan yang diadakan Allah untuk
kepentingan manusia akan dibebaskan dari belenggu kesia-siaan. (GS a.39)
Apa yang kita lakukan dalam semangat cinta akan bertahan, dalam segala
kegiatan cinta, kita sekarang ini sudah membangun kerajaan Allah yang kekal.
Dengan ini, kita sudah lihat seberapa sentral semangat cinta didalam hidup manusia
dan itu mengantar kita kepada dimensi dasariah kedua dalam hidup manusia.

2. Manusia Pencinta
Kalau manusia sudah mempunyai kerja dan memperoleh rezeki dari kerjanya,
ia belum lengkap, relasinya dengan dunia meteriil belum cukup untuk mewujudkan
diri. Sesudah menempatkan manusia didalam taman eden dan member kerja
kepadanya, Allah melihat, masih tetap ada kekurangan,karena “tidak baik, kalau
manusia itu sendiri saja”. Sebab itu, penciptaan manusia baru selesai, ketika manusia
menerima partnernya yang sepadan dengan dia.

Baru dalam kebersamaan sosial, manusia menjadi manusia. Karena manusia


diciptakan menurut citra Allah yang bersifat Tritunggal, bersifat dialog cinta dalam
diri-Nya, maka manusia juga pada intinya bersifat dialog atau sosial. Ia seorang
partner pribadi bagi Allah yang menciptakan manusia sebagai pribadi unik, seolah-
olah harus dikonkretkan dalam sapaan ibu-bapa dan orang lain yang memungkinkan
kita berkembang.

Betapabesar dan dalamnya pengaruh sosial terhadap perkembangan pribadi


seseorang, kita lihat dengan lebih jelas dewasa ini berkat berbagai penyelidikan
sosiologis dan psikologis. Sungguh bisa dikatakan, kita menjadi pribadidengan kontak
dengan pribadi-pribadi lain, sehingga pribadi-pribadi itu menjadi bagian integral dari
diri kita.

Sudah lazim diketahui, bahwa manusia bersifat luarbiasa terbuka menurut


pembawaan biologisnya. Ia tidak ditetapkan menurut salah satu spesialisasi seperti
binatang. Karena itu, kalau seorang bayi ditinggalkan sendirian,ia tidak tahu
bagaimana bertindak di dunia ini untuk mempertahankan hidupnya. Binatang agak
cepat tahu semua hal yang penting, karena dikuasai dan dikendalikan oleh naluri
bawaan, sehingga dengan agak pasti dia bisa meramalkan reaksi mereka atas
rangsangan tertentu.

Manusia bersifat terbuka, hanya sedikit saja diatur oleh naluri alamiah.
Kebanyakan pola tingkah laku diambil alih dari lingkungan sosial, pribadi-pribadi
lain. Dalam kontak hidup dengan pribadi lain seorang menjadi pribadi. Bawaan
biologisnya bisa dan terus di bentuk menurut pola-pola yang disajikan oleh
lingkungan sosial. Tetapi demi suatu perkembangan yang matang, manusia terutama
membutuhkan penerimaan emosional, kehangatan cinta yang biasanya diberikan oleh
mama dan bapa dan anggota-anggota keluarga lainnya yang paling dekat dengan dia.
Manusia membutuhkan cinta dari orang lain, supaya ia bisa berkembang
sebagai pribadi, tetapi di pihak lain untuk menjadi pribadi matang, ia sendiri juga
harus membuka diri dan menyerahkan diri kepada orang lain dalam cinta. Ia harus
dicintai dan mencintai. Sebab itu, perkembangan pribadi dan perkembangan
masyarakat tidak bisa di pertentangkan, keduanya hanya bisa berkembang secara
sehat, kalau seirama.

Persekutuan harus memperhatikan dengan sungguh dan secara positif


kepentingan dan perkembangan setiap anggota, setiap anggota perlu diberikan
kehangatan cinta. Di pihak lain, setiap individu, setiap pribadi, hanya bisa menjadi
matang, kalau ia tidak mengurung diri didalam dirinya dan hanya mencari
kepentingan sendiri, tetapi mencintai orang lain dan turut mengembangkan pribadi
lain dan seluruh persekutuan lewat pengorbanan cinta. Persekutuan hidup dari pribadi
dan pribadi hidup dari persekutuan.

Sayang, bahwa manusia dalam kenyataan jarang mencapai keseimbangan ini.


Hidup bersama dan perkembangan diri masing-masing mengalami kemandekan
karena program ogoisme yang sangat berat sebelah mencari kepentingan diri sendiri
dan dengan demikian menghilangkan kematangan diri pribadi dan hidup sosial yang
sehat.

Keseimbangan dalam cinta yang dibutuhkan manusia demi perkembangan


sehat sebagai pribadi dan sebagai persekutuan,hanya bisa tercapai, kalau manusia
hidup dalam hubungan positif dengan sumber eksistensinya, Allah, kalau manusia
hidup sebagai pendoa.

3. Manusia Pendoa

Doa berarti, bahwa manusia dengan sadar dan bebas berusaha untuk membuka
diri terhadap Tuhan dan mengikat diri pada Tuhan. Menurut ajaran Kristen yang kita
timba dari Kitab Suci dan menurut pengalaman rohani setiap banyak orang yang
mempraktikan ajaran itu didalam hidup mereka, menjadi jelas, bahwa manusia yang
menyerahkan diri kepada Allah dan mengikat diri kepada Allah, tidak kehilangan
dirinya atau kehilangan kebebasannya, melainkan justru menjadi diri yang matang
dan memperoleh diri yang sejati. Ia mengalami suatu kepunahan eksistensi yang
membahagiakan.
Didalam pengalaman itu menjadi nyata apa yang kita imani mengenai pencipta
manusia sebagai gambaran Allah. Kalau manusia dalam doa membuka diri terhadap
Allah, maka ia mengalami bahwa Allah tidak asing untuk dia, melainkan
sesuaidengan intinya yang terdalam.dan kalau ia membiarkan dirinya dibentuk oleh
Allah dalam doa maka ia menjadi diri, karena menurut hakikatnya ia merupakan suatu
pikiran pribadi, suatu gambaran dari Allah.

Karena menurut hakikat kita yang terdalam, kita merupakan suatu gambaran
Allah, maka sikap doa, keterbukaan terhadap Allah, sumber dan tujuan hidup kita,
harus menjiwai segala usaha kita dalam perjalanan dan hidup sosial kita antar
manusia. Hanya dari sumber itulah segala kegiatan bisa disembuhkan dan bisa
dibentuk menurut ideal Kristen yang kita gambarkan diatas.

Dan karena doa kita sebagai orang Kristen mencapai puncanknya didalam
ekaristi, dimana kita ssesudah memurnikan hati dalam tobat, mendengarkan sabda
Tuhan dengan hati terbuka dan membawakan diri seutuhnya kepada Bapa bersama
Kristus dalam kekuatan Roh kudus, serta akhirnya menerima Kristus dari Bapa
sebagai makanan yang mengubah kita menjadi anggota tubuh Kristus, maka ekaristi
merupakan pusat dan inti hidup kita sebagai orang Kristen. Kesana kita bawakan
segala sesuatu yang kita lakukan, seluruh diri kita, disana kita dibentuk, dikonsekrir,
diubah menjadi serupa Kristus, sehingga dapat dijiwai oleh semangat Kristus, kita
hidup didalam dunia sebagai manusia baru, sebagai manusia benar, yang bisa turut
mengubah seluruh dunia menjadi tubuh Kristus yang universal.
Kejadian, 3:1-24.

Pada bagia awal tulisan ini dikatakan bahwa manusia merupakan bagian integral dari
dunia. Karena manusia merupakan ciptaan yang paling istimewa dari ciptaan yang lain.
Berbicara tentang manusia sebagai ciptaan yang istimewa, berarti kita tidak terlepas dari
pembiacraa tentang dosa. Fenomena dosa juga merupakan suatu bagian integral dalam
kehidupan setiap manusia di atas bumi ini. Dalam ajaran gereja kenyataan itu tampak dalam
gagasan tentang dosa asal.

Berbicara tentang dosa, Kejadian 3:1-14 sudah terlebih dahulu menceritakan


bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa. Dalam bab 2-4 kitab Kejadian menggambarkan
manusia sebagai makhluk kesayangan Allah yang bisa digoda dan jatuh dalam godaan itu,
serta memperlihatkan akibat yang diderita manusia setelah ia berdosa. Oleh sebab itu ada
beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam bagian ini yaitu:3

Proses penggodaan dan dosa. Dalam kejadian 3:1-14 dimulai dengan munculnya
ular. Ular mulai dengan sebuah pertanyaan: “Tentu Allah berfirman: semua pohon dalam
taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Bila kita mengerti suara ular tu sebagai satu
suara dalam batin manusia, maka di sisni kita bertemu dengan suatu kenyataan yang umum
pada kita manusia. Kalau ada larangan atau batas yang mengganggu kita , akhirnya sesudah
beberapa waktu, kita hanya melihat larangan saja dan merasa segala sesuatu serba terlarang.
Dengan adanya perasaan macam itu manusia ssudah mulai merasa tidak enak dengan Allah
dan dihantui pertanyaan.

Tetapi pada waktu yang sama manusia tetap sadar, bahwa ia bergantung dari Allah
sebagai pemberi hidup. Supaya lebih aman, wanita mempertegas larangan itu: lrangan untuk
makan dijadikan tabuS untuk meraba. Tetapi penegasan macam ini hanya mempertajam
konflik dalam batin. Akhirnya manusia semakin jauh masuk ke dalam kecurigaan terhadap
Allah dan objek terlarang itu semakin menarik perhatian.

Maka manusia menjadi yakin bahwa Allah bermaksud jahat dengan larangan itu.
Manusia merasa Allah mau menyembunyikan yang terbaik bagi manusia. Kalau makan,
manusia tidak akan mati tetapi memperoleh kesungguhan hidup, menjadi seperti Allah.
Manusia lalu mengambil dan memakan buah itu. dalam proses penggodaan itu sikap manusia
terhadap Allah dan gambaranya tentang Allah berubah secara fundamental. Selama manusia

3
Ibid., hlm.300-302.
bisa percaya, ia mencintai Allah ssebagai dasar dan pemberi hidup, dalam sikap curiga yang
akhirnya menang dalam diri manusia, manusia menakuti Allah sebagai anccaman teerhadap
hidupnya. Allah pemberi hidup menjadi Allah pengancam dan sikap cinta menjadi sikap
takut.

Setelah manusia berdosa, Allah masih bersikap sama seperti sebelumnya. Allah
berjalan-jalan di dalam taman, ingin bertemu dengan manusia. Tetapi manusia sudah berubah
sikapnya, ia takut dan lari menyembunyikan diri. Perlu diperhatikan bahwa: dosa tidak
mengubah sikap Allah, tetapi sikap dan kondisi manusia. Bukan Allah menjadi marah,
melainkan manusia menjadi takut dan kepribadiannya menjadi dilukai dan rusak.

Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk mengakui dosanya supaya bisa
baik kembali dengan Allah. allah bertanya: “Adam, dimanakah engkau”. Dengan demikian
Adam diberikan kesempatan untuk mengaku, bahwa ia sudah menempatkan dirinya jauh dari
Allah. tetapi dalam sikap takut yang menghantui manusia, ia tidak sanggup lagi untuk
mengakui kebenaran tentang dirinya, bahwa dia sudah berdosa. Dia coba menutup tanggung
jawabnya dan mempersalahkan pihak lain. Adam mempersalahkan Hawa dan secara implisit
juga mempersalahkan Allah senndiri dan Hawa mempersalahkan ular.

Hukuman. Hukuman yang diucapkan Allah atas diri manusia tidak merupakan satu
penetapan dari pihak allah, melainkan hukuman itu merupakan akibat langsung dari dosa itu
sendiri dan Allah menyatakan dengan terang apa yang akan harus terjadi atas diri manusia
setelah mereka berdosa. Hukum Allah ialah hakikat manusia. Allah memebrikan hukum-
Nyadengan menciptkan manusia. Ketika menciptakan manusia, Allah memberikan hakikat
dan tujuan hidup tertentu kepada manusia, itula hukum Allah. sebab itu, bila manusia hidup
tidak menurut hukum Allah, bila ia berdosa, hai itu berarti ia melawan hakikatnya sendiri, ia
hidup atas suatu cara yang berlawanan dengan hakikat jati dirinya ssendiri. Sebab itu setiap
perbuatan dosa merusak diri manusia dan membawa akibat negatif bagi dirinya, itulah
hukuman atas dosa.

Kerusakan atau hukuman ini menyangkut manusia dalam inti pribadinya. Sebagai
akibat dosa, dalam manusia mencurigai Allah, sebagai sumber dan dasar hidup, manusia pada
akhirnya harus menjamin dan mendasari hidupnya sendiri dengan daya upaya yang ada
padanya. Sebab itu, dia harus berjuang keras selama hidupnya, namun perjuangan itu pada
akhirnya sia-sia, karena dalam kematian akan menjadi jelas, bahwa manusia tidak sanggup
untuk memperoleh dan menjamin apa yang diusahakan sepanjang hidup, yakni menjamin
hidupnya. Manusia ternyata Cuma menghasilkan semak berduri.

Ketika mereka berdosa, mata, manusia terbuka dan mereka mengerti, bahwa mereka
telanjang, mereka menjadi sadar akan kemiskinan dan kefanaan mereka tanpa Allah. Mereka
menjadi malu satu terhadap yang lain.karena dalam situasi dosa, dimana Allah dicurigai
sebagai pemberi hidup, manusia sendiri harus mengupayakan hidupnya dengan daya upaya
yang ada pada dirinya, sementara itu dalam suasana persaingan segala kelemahan dan
kerapuhan yang memalukan harus disembunyikan oleh sesama.

Justru wanita menjadi korban dari suasana persaingan itu. Ia yang dimaksudkan Allah
sebagai partner yang sepadan dengan pria, dalam keadaan setelah dosa malah ditindas dan
diperlakukan secara tidak adil dalam hampir semua kebudayaan.

Akhirnya manusia diusir dari taman eden. Inipun adalah pernyataan dari apa yang
telah dibuat oleh manusia sendiri, ia melarikan diri dari Allah yang mau mendekatinya.
Sehingga ia menempatkan diri diluar taman pergaulan akrab antara Allah dan manusia.

Permusuhan dalam Persaingan. Dengan memberikan pakian dari kulit (Kej 3:13)
Allah seakan-akan merestui kenyataan bahwa sekarang dalam suasana persaingan, manusia
harus melindungi diri satu terhadap yang lain. Dengan demikian Allah ingin berusaha agar
persaingan itu tidak membawa akibat yang lebih buruk lagi bagi manusia. Namun Allah tidak
berhasil membendung akibat dosa.

Dari pemahaman di atas, dapat dijelaskan bahwa manusia merupaka makhluk


kesayangan Allah yang diciptakan dan dilengkapi Allah dengan penuh perhatian serta
ditentukan untuk suatu hidup dalam pergaulan akrab dan dialog cinta dengan Allah . karena
batas yang ia alami sebagai makhluk yang rohani badaniah,4 manusia mulai mencurigai Allah
dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak dapat dipercayai sebagai pendasar
dan penjamin hidup, melainkan harus ditakuti sebagai penghancur hidup manusia

Dalam situasi ketidakpercayaan itu manusia dipaksa untuk melakukan usaha-usaha


untuk menjamin hidupnya, tetapi dalam kenyataan selalu merusakkan pribadi manusia, hidup
sosial dan lingkungan hidup. Tetapi manusia tidak bisa bebas dari lingkaran setan yang
merugikannya, kecuali ia bisa ditobatkandari ketidakpercayaan kepada kepercayaan.

4
Kees Maas., Op.Cit, hlm. 29.