Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Evaluasi hasil belajar ilmu pengetahuan sosial bertalian dengan tujuan
yang ingin dicapai. Tujuan ilmu pengetahuan sosial, seperti halnya dengan
tujuan pendidikan pada umumnya, bersifat komplek, karena itu penilaiannya
pun tidak mungkin sederhana, ada tujuan jangka panjang seperti “mendidik
anak menjadi warga negara yang baik” tak dapat dinilai dengan satu tes saja.
Tujuan itu dicapai melalui sejumlah tujuan jangka pendek yang harus
dirumuskan sejelas-jelasnya.
Dalam menilai ilmu pengetahuan sosial harus memperhatikan aspek-aspek
berikut :
1. Hasil belajar merupakan pengetahuan dan pengertian.
2. Hasil belajar dalam berntuk sikap dan kelakuan sebagai warga negara
yang baik.
3. Hasil belajar dalam bentuk kemampuan untuk menggunakan metode
ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah sosial.
4. Hasil belajar dalam bentuk keterampilan dalam menggunakan alat-alat
ilmu pengetahuan seperti peta, grafik, tabel dan lain sebagainya.

Bentuk menilai hasil belajar yang beraneka ragam itu diperlukan berbagai
macam alat evaluasi. Tak selalu misalnya tes objektif itu serasi. Misalnya
bahwa perang diponegoro terjadi pada tahun 1825 sampai 1830 tidak sulit.
Akan tetapi memahami bagaimana diponegoro mengambil keputusan,
kesulitan yang dihadapainya menyusun kekuatan, pengorbanan rakyat selama
peperangan, usaha belanda untuk mengatasi perlawanan itu, dan banyak lagi
hal-hal lain memerlukan pengertian yang lebih mendalam yang tak dapat
dicakup oleh pertanyaan kapan terjadi perang itu.

Evaluasi harus kontinu dan tidak hanya pada akhir suatu unit. Evaluasi
merupakan bagian yang tak terpisah dari proses mengajar dan belajar. Antara

1
tujuan, proses mengajar-belajar dan Evaluasi terdapat hubungan yang erat.
Kekurangan atau kelemahan pada salah satu aspek akan mempengaruhi
aspek lainnya. Oleh karena itu apa saja yang di ajarkan harus segera
dinilai untuk mengetahui sampai manakah hasil yang diperoleh sesuai
dengan tujuan yang ingin di capai.

Dengan evaluasi yang kontinu guru segera dapat menemukan kekurangan


dalam prosedur belajar mengajar dan berusaha mengadakan perbaikan,
bilamana anda menginginkan hasil prestasi belajar yang baik hendaklah
anda menyiapkan tujuan, proses pembelajaran dan alat ukur yang primer,
untuk mencapai tujuan tersebut maka pada bahan belajar mandiri ini
disajikan dua kegiatan belajar yaitu: KB 1 Pemberian Nilai dan Tehnik
Penilaian Non-Test dan KB 2 Tindak lanjut hasil penilaian dan penilaian
Portofolio pendidikan IPS di sekolah Dasar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengertian teknik non tes?
2. Apa sajakah manfaat dan tujuan penilaian non tes?
3. Apa sajakah macam-macam teknik nontes?
4. Bagaimana contoh penerapan penilaian non tes?

1.3 Tujuan
1. Untuk memahami pengertian teknik non tes.
2. Untuk mengetahui manfaat dan tujuan penilaian non tes.
3. Untuk mengetahui macam-macam teknik non tes.
4. Untuk mengetahui contoh penerapan penilaian non tes.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teknik Non Tes

Teknik nontes merupakan prosedur pengumpulan data untuk memperoleh


gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa yang
bersifat kualitatif. Selama ini teknik nontes kurang digunakan dibandingkan
teknik tes. Dalam proses pembelajaran, pada umumnya kegiatan penilaian
mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek
pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan
guru pada saat menentukan siswa.

Fungsi dari penilaian non test adalah sebagai berikut:


1. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional.
2. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar, perbaikan mungkin
dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan siswa, strategi mengajar
guru.
3. Dalam menyusun laporan pengajuan belajar siswa kepada para orang
tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan
belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi
yang didapatinya.
4. Dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek kognitif tetapi juga aspek
afektif dan psikomotorik.
5. Dapat memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak
sekolah kepada pihak lain, karena diperoleh langsung dari proses belajar
siswa baik di kelas, laboratorium, lapangan, dan lain-lain.

Teknik non-tes merupakan prosedur mengumpulkan data untuk memahami


pribadi siswa yang umumnya bersifat kualitatif. Teknik evaluasi nontes berarti
melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Umumnya digunakan
untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah

3
laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan
dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara
kelompok.

2.2 Manfaat dan Tujuan Penilaian Non Tes


A. Manfaat non tes
a. Mengetahui kemajuan dan kesulitan belajar siswa.
b. Mendapatkan informasi mengenai keaadaan obyek penelitian.
B. Tujuan penilaian non tes
Adapun tujuan dari penilaian non tes adalah:
a. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil
belajar peserta didik dari segi afektif dan psikomotor.
b. Untuk mengetahui kemampuan peserta didik dibidang afektif dan
psikomotor.

2.3 Macam-macam Teknik Non Tes


Dalam hubungannya dengan memahami kesulitan belajar siswa, berikut
macam – macam teknik non tes yang dapat dilakukan:
1. Observasi ( Pengamatan)
Observasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan
pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu
masalah sehingga diperoleh suatu pemahaman dan dilakukan secara
langsung, seksama dan sistematis. Sehingga pengamatan memungkinkan
untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan
kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Observasi yang intensif
bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar kelas. Pengamat mencatat
hal-hal yang berhubungan dengan perilaku siswa, terutama dalam
mengikuti pelajaran maupun dengan teman-temannya. Pengamatan ini
bertujuan untuk mengetahui keseharian peserta didik yang diduga
mengalami kesulitan belajar.

4
Dalam teknik observasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan,
diantaranya :
a) Rencanakan terlebih dahulu observasi yang akan dilakukan,
meliputi : Apa yang akan diobservasi , dimana letak lokasi
observasi, kapan observasi akan dilakukan, siapa yang akan
melaksanakan observasi tersebut, siapa yang akan diobservasi,
bagaimana melaksanakan observasi tersebut.
b) Lengkapilah dengan catatan selama observasi.
c) Kaji ulang hasil observasi dengan individu-individu yang terlibat.

Hal – hal yang tidak boleh dilakukan dalam observasi, yaitu:


 Menggangu kerja individu yang diobservasi maupun individu
lainnya.
 Terlalu menekankan pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting.
Tujuan utama observasi antara lain :
1) Mengumpulkan data dan inforamsi mengenai suatu fenomena, baik
yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam situasi yang
sesungguhnya maupun dalam situasi buatan.
2) Mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru maupun peserta
didik), interaksi antara peserta didik dan guru, dan faktor-faktor
yang dapat diamati lainnya, terutama kecakapan sosial (social
skill).
3) Menilai tingkah laku individu atau proses yang tejadi dalam situasi
sebenarnya maupun situasi yang sengaja dibuat.
Karakteristik teknik observasi antara lain :
1) Mempunyai arah dan tujuan yang jelas.
2) Bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis, logis, kritis,
objektif, dan rasional.
3) Terdapat berbagai aspek yang akan diobservasi.
4) Praktis penggunaannya.

5
Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai
proses dan hasil belajar peserta didik pada waktu belajar belajar,
berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Selain itu, observasi juga
dapat digunakan untuk menilai penampilan guru dalam mengajar, suasana
kelas, hubungan sosial sesama, hubungan sosial sesama peserta didik,
hubungan guru dengan peserta didik, dan perilaku sosial lainnya.

Kelebihan teknik observasi :


 Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai
keandalan yang tinggi. Kadang observasi dilakukan untuk
mengecek validitas dari data yang telah diperoleh sebelumnya dari
individu-individu.
 Dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan, aktivitas yang
rumit kadang-kadang sulit untuk diterangkan.
 Dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan,
misalnya tata letak fisik peralatan, penerangan, gangguan suara dan
lain-lain.
 Dapat mengukur tingkat suatu pekerjaan, dalam hal waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan satu unit pekerjaaan tertentu.
Kekurangan teknik observasi :
 Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang
kurang baik dari observer maupun observi.
 Masalah yang sifatnya pribadi sulit diamati.
 Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
 Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak
nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaannya dengan tidak
semestinya.
 Dapat mengganggu proses yang sedang diamati.
 Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan
lebih baik dari biasanya dan sering menutup-nutupi kejelekan-
kejelekannya.

6
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan
mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut
dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun
tidak langsung. Wawancara bisa dilakukan dengan peserta didik yang
bersangkutan atau dengan guru, wali kelas, orang tua maupun teman-
temannya bila hal ini diperlukan. Wawancara bertujuan untuk memperoleh
informasi untukk menjelaskan suatu kondisi tertentu, melengkapi
penyelidikan ilmiah atau untuk mempengaruhi situasi atau orang tertentu.

Adapun hal-hal yang perlu dilakukan/diperhatikan dalam wawancara,


yaitu :
a. Pewawancara harus mendengar, mengamati, menyelidiki,
menanggapi, dan mencatatapa yang sumber data berikan.Ia dapat
menjadi seperti seorang penginterogasi, secara tajam ia menyerang
dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang
diwawancarai, mengklarifikasi, menjadi pendengar yang baik.
Suksesnya suatu wawancara tergantung pada kemampuan
melakukan kombinasi berbagai keterampilan sesuai dengan
tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.
b. Dalam proses wawancara, pewawancara harus meredam egonya
dan melakukan pengendalian tersembunyi. Pewawancara
memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh orang
yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai
yakni suasana yang konduksif bagi berlangsungnya wawancara.
Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul dibenak pewawancara
ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti : Apa yang harus
saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang
diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah ia
terlihat bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?

Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan wawancara:

7
a. Merumuskan tujuan wawancara
b. Membuat pedoman wawancara
c. Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d. Melakukan uji coba
e. Melaksanakan wawancara

Kelebihan teknik wawancara antara lain :


1. Flexibility
Pewawancara dapat secara jelas mengajukan pertanyaan sesuai dengan
situasi yang dihadapi pada saat itu.Jika dia menginginkan informasi
yang mendalam maka dapat melakukan “probing”.Demikian pula jika
ingin memperoleh informasi tambahan, maka dia dapat mengajukan
pertanyaan tambahan, bahkan jika suatu pertanyaan dianggap kurang
tepat ditanyakan pada saat itu, maka dia dapat menundanya.
2. Nonverbal Behavior
Pewawancara dapat mengetahui perilaku nonverbal, misalnya rasa
suka, tidak suka atau perilaku lainnya pada saat pertanyaan diajukan
dan dijawaboleh sumber.
3. Question Order
Pertanyaan dapat diajukan secara berurutan sehingga sumber dapat
memahami maksud penelitian secara baik, sehingga dapat menjawab
pertanyaan dengan baik pula.
4. Respondent alone can answer
Jawaban tidak dibuat oleh orang lain tetapi benar oleh sumber yang
telah ditetapkan. Melalui wawancara, dapat ditanyakan hal-hal yang
rumit dan mendetail.
5. Completeness.
Pewawancara dapat memperoleh jawaban atas seluruh pertanyaan yang
diajukan.

Kelemahan teknik wawancara antara lain:

8
1. Mengadakan wawancara dengan individu satu persatu memerlukan
banyak waktu dan tenaga dan juga mungkin biaya.
2. Walau dilakukan secara tatap muka, namun kesalahan bertanya dan
kesalahan dalam menafsirkan jawaban, masih bisa terjadi. Sering
atribut (jenis kelamin, etnik, status sosial, jabatan, usia, pakaian,
penampilan fisik, dsb) sumber dan juga pewawancara mempengaruhi
jawaban.
3. Keberhasilan wawancara sangat tergantung dari kepandaian
pewawancara dalam melakukan hubungan antar manusia (human
relation).
4. Wawancara tidak selalu tepat pada kondisi-kondisi tempat tertentu,
misalnya di lokasi-lokasi ribut dan ramai.
5. Sangat tergantung pada kesediaan, kemampuan dan keadaan sementara
dari subyek wawancara, yang mungkin menghambat ketelitian hasil
wawancara.

3. Kuesioner / Angket
Angket(Questioner) adalah alat pengumpul data melalui komunikasi tidak
langsung, yaitu melalui tulisan.Angket ini berisi daftar pertanyaan yang
ditujukan kepada responden untuk dijawabnya, dimana peneliti tidak
langsung bertanya jawab dengan responden,yang bertujuan untuk
mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
responden.Karena angket dijawab atau diisi oleh responden dan peneliti
tidak selalu bertemu langsung dengan responden, maka dalam penyusunan
angket perlu diperhatikan beberapa hal.Pertama, sebelum butir-butir
pertanyaan atau pernyataan ada pengantar atau petunjuk pengisian.Kedua,
butir-butir pertanyaan dirumuskan secara jelas menggunakan kata-kata
yang lazim digunakan (popular), kalimat tidak terlalu panjang. Dan
Ketiga, untuk setiap pertanyaan atau pernyataan terbuka dan berstruktur
disediakan kolom untuk menuliskan jawaban atau respon dari responden
secukupnya.

9
Berikut ini merupakan langkah-langkah menyusun angket.
1) Menyusun kisi-kisi angket.
2) Menyusun pertaanyaan-pertanyaan dan bentuk jawaban yang
diinginkan.
3) Membuat pedoman cara menjawab.
4) Melakukan uji coba angket untuk mengetahui kelemahan angket
tersebut.
5) Merevisi angket berdasarkan hasil uji coba.
6) Menggandakan angket sesuai jumlah responden.

Kelebihan angket antara lain:


a) Bila lokasi responden jaraknya cukup jauh, metode pengumpulan
data yang paling mudah adalah dengan angket.
b) Pertanyaan-pertanyan yang sudah disiapkan adalah merupakan
waktu yang efisien untuk menjangkau responden dalam jumlah
banyak.
c) Dengan angket akan memberi kesempatan mudah pada responden
untuk mendiskusikan dengan temannya apabila menemui
pertanyaan yang sukar dijawab.
d) Responden dapat lebih leluasa menjawabnya dimana saja, kapan
saja, tanpa terkesan terpaksa karena tanpa dipengaruhi hubungan
dengan peneliti atau penilai.
e) Informasi yang terkumpul lebih mudah karena homogen.
f) Dapat mengumpulkan data dari jumlah responden yang relatif
banyak.

Kelemahan angket antara lain:


 Apabila penelitian membutuhkan reaksi yang sifatnya spontan
dengan metode ini adalah kurang tepat.
 Metode ini kurang fleksibel, kejadiannya hanya terpancang pada
pertanyaan yang ada.

10
 Jawaban yang diberikan oleh responden akan terpengaruh oleh
keadaan global dari pertanyaan. Sangat mungkin jawaban yang
sudah diberikan di atas secara spontan dapat berubah setelah
melihat pertanyaan dilain nomor.
 Ada kemungkinan terjadi respons yang salah dari responden. Hal
ini terjadi karena kurang kejelasan pertanyaan atau karena keragu-
raguan responden menjawab.
 Ada kemungkinan angker diisi oleh orang yang bukan menjadi
target.
 Target menjawab berdasarkan altternatif jawaban yang tersedia.

4. Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)


Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar
peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau
diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-
dokumen; misalnya dokumen yang memuat infomasi mengenai riwayat
hidup (auto biography).
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam
masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek
evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian
kebiasaan atau sikap dari obyek yang dinilai.
Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik, orangtua dan
lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat
diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan
evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik.

5. Sosiometri
Sosiometri adalah alat yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai
hubungan - hubungan sosial dan tingkah laku sosial murid (I. Djumhur dan
Muh.Surya). Sosiometri adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari
suatu kelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial
dan status sosial dari masing-masing anggota kelompok yang

11
bersangkutan (Depdikbud). Sosiometri adalah alat untuk dapat melihat
bagaimana hubungan sosial atau hubungan berteman seseorang (Bimo
Walgito).
Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang
hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai
sedang (10 – 50 orang), berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-
anggota kelompok (WS. Winkel). Sosiometri adalah suatu alat yang
dipergunakan mengukur hubungan sosial siswa dalam kelompok (Dewa
Ktut Sukardi,). Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan
pengertian sosiometri adalah suatu teknik untuk mengumpulkan data
tentang hubungan sosial seorang individu dengan individu lain, struktur
hubungan individu dan arah hubungan sosialnya dalam suatu kelompok.

Langkah dalam menggunakan sosiometri:


a) Memberikan petunjuk atau pertanyaan. Misal: tuliskan pada
selembar kertas nama temanmu yang paling baik.
b) Mengumpulkan jawab yang sesungguhnya dari peserta didik.
c) Memasukan jawaban ke dalam tabel.
d) Gambarkan jawaban dalam sebuah sosiogram.

Tahap pelaksanaan sosiometri yaitu:


a) Tahap Persiapan. Menentukan kelompok siswa yang akan
diselidiki. Memberikan informasi atau keterangan tentang tujuan
penyelenggaraan sosiometri. Mempersiapkan angket sosiometri.
b) Tahap Pelaksanaan. Membagikan dan mengisi angket sosiometri.
Mengumpulkan kembali dan memeriksa apakah angket sudah diisi
dengan benar.
c) Tahap Pengolahan. Memeriksa hasil angket, Mengolah data
sosiometri dengan cara menganalisa indeks, menyusun table
tabulasi, membuat sosiogram.\
Sosiometri dapat dipergunakan untuk :
a) Memperbaiki hubungan insani.

12
b) Menentukan kelompok kerja.
c) Meneliti kemampuan memimpin seseorang individu dalam
kelompok tertentuuntuk suatu kegiatan tertentu.
d) Mengetahui bagaimana hubungan sosial / berteman seorang
individu denganindividu lainnya.
e) Mencoba mengenali problem penyesuaian diri seorang
individudalamkelompok sosial tertentu.
f) Menemukan individu mana yang diterima / ditolak dalam
kelompok social tertentu.
Ciri khas penggunaan angket sosiometri:
Ciri khas penggunaan angket sosiomeri atau tes sosiometri , yang terikat
pada situasi pergaulan sosial atau kriterium tertentu.
1. Dijelaskan kepada siswa yang tergabung dalam suatu kelompok,
misalnya satuan kelas, bahwa akan dibentuk kelompok-kelompok lebih
kecil (4-6 orang ) dalam rangka mengadakan kegiatan tertentu, seperti
belajar kelompok dalam kelas, rekreasi bersama ke pantai, dsb. Kegiatan
tertentu itu merupakan situasi pergaulan social yang menjadi dasar bagi
pilihan-pilihan.
2. Setiap siswa diminta untuk menulis pada blanko yang disediakan nama
beberapa teman di dalam kelompok, dengan siapa dia ingin dan lebih suka
melakukan kegiatan itu. Jumlah teman yang boleh dipilih biasanya tiga
orang, dalam urutan pilihan pertama, kedua, dan ketiga.Yang terungkap
dalam pilihan-pilihan itu bukanlah jaringan hubungan sosial yang sekarang
ini sudah ada, melainkan keinginan masing-masing siswa terhadap
kegiatan-kegiatan tertentu dalam hal pembentukan kelompok. Pilihan-
pilihan itu dapat berubah, bila tes sosiometri diterapkan lagi pada slain
kesempatan terhadap kegiatan lain (kriterium berbeda ). Ada kemungkinan
siswa akan memilih teman-teman yang lain untuk belajar bersama di kelas,
dibanding dengan pilihan-pilihannya untuk pergi piknikbersama. Pilihan-
pilihan siswa tidak menyatakan alasan untuk memilih, kecuali bila hal itu
dinyatakan dalam tes. Pilihan-pilihan juga tidak menyatakan tentang
sering tidaknya bergaul dengan teman-teman tertentu, atau intim tidaknya

13
pergaulan dengan teman-teman tertentu; bahkan tidak mutlak
terungkapkan taraf popularitas siswa tertentu, dalam arti biasanya
mempunyai banyak teman, beberapa teman atau sama sekali tidak
mempunyai teman.
3. Setiap siswa dalam kelompok menangkap dengan jelas kegiatan apa
yang dimaksud, dan mengetahui bahwa kegiatan itu terbuka bagi semua.
4. Pilihan-pilihan dinyatakan secara rahasia dan hasil keseluruhan
pemilihan juga dirahasiakan. Hal ini mencegah timbulnya rasa tidak enak
pada siswa, yang tidak suka pilihannya diketahui umum atau akan
mengetahui bahwa ia tidak dipilih. Ciri kerahasiaan juga memungkinkan
bahwa dibentuk kelompok-kelompok kecil yang tidak seluruhnya sesuai
dengan pilihan-pilihan siswa.
5. Biasanya siswa diminta untuk menyatakan siapa yang mereka pilih,
bukan siapa yang tidak mereka pilih dalam urutan tidak begitu disukai,
kurang disukai, tidak disukai, sama sekali tidak disukai. menyatakan
pilihan yang negatif mudah dirasakan sebagai beban psikologis.
6. Tenaga kependidikan yang dapat menerapkan tes sosiometri adalah guru
bidang studi, wali kelas, dan tenaga ahli bimbingan, tergantung dari
kegiatan yang akandilakukan.

Manfaat Sosiometri dalam Bimbingan. Dengan mempelajari data sosiometri


seorang konselor dapat :
 Menemukan murid mana yang ternyata mempunyai masalah penyesuaian
diri dalam kelompoknya.
 Membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara murid-murid dengan
penerimaan sosialnya.
 Membantu meningkatkan pemahaman dan pengertian murid terhadap
masalah pergaulan yang sedang dialami oleh individu tertentu.
 Merencanakan program yang konstruktif untuk menciptakan iklim sosial
yang lebih baik dan sekaligus membantu mengatasi masalah penyesuaian
di kelas tertentu.

14
Cara untuk menciptakan suasana / iklim sosial yang baik : Membentuk
kelompok belajar / kelompok kerja, mempersatukan kelompok minoritas di
dalam satu kelas, Menciptakan hubungan baik dan harmonis, membangun
perasaan berhasil dan berprestasi, hendaknya ditanamkan rasa bahwa kalau
kompak, akan berhasil baik.

6. Study Kasus (case study)


Studi kasus adalah mempelajari individu dalam proses tertentu secara terus
menerus untuk melihat perkembangannya. Misalnya peserta didik yang sangat
cerdas, sangat lamban, sangat rajin, sangat nakal, atau kesulitan dalam belajar.
Untuk itu guru menjawab tiga percayaan inti dalam studi kasus, yaitu:
 Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
 Apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kasus tersebut?
 Bagaimana pengaruh tingkah laku seseorang terhadap lingkungan?

Studi kasus sering digunakan dalam evaluasi, bimbingan, dan penelitian. Studi ini
menyangkut integrasi dan penggunaan data yang komprehensif tentang peserta
didik sebagai suatu dasar untuk melakukan diagnosis dan mengartikan tingkah
laku peserta didik tersebut. Dalam melakukan studi kasus, guru harus terlebih
dahulu mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai
teknik dan alat pengumpul data. Salah satu alat yang digunakan adalah depth-
interview , yaitu melakukan wawancara secara mendalam, jenis data yang
diperlukan antara lain, latar belakang kehidupan, latar belakang keluarga,
kesanggupan dan kebutuhan, perkembangan kesehatan, dan sebagainya.

Namun, seperti halnya alat evaluasi yang lain, studi kasus juga mempunyai
kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah dapat mempelajari seseorang
secara mendalam dan komprehensif, sehingga karakternya dapat diketahui
selengkap-lengkapnya. Sedangkan kelemahannya adalah hasil studi kasus tidak
dapat digeneralisasikan, melainkan hanya berlaku untuk peserta didik itu saja.

15
2.4 Contoh Penerapan Penilaian Non Tes

A. Contoh penilaian wawancara

Tujuan :Memperoleh informasi mengenai cara belajar siswa


dirumah

Bentuk : Bebas

Responden : Siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi

Nama siswa : ……………….

Kelas : ……………….

Jenis kelamin : ……………….

Pertanyaan Jawaban siswa Komentar dan


kesimpulan hasil
wawancara
1. Kapan dan berapa lama
anda belajar dirumah?
2. Bagaimana anda
mempersiapkan diri untuk
balajar secara efektif?
3. Seandainya anda
mengalami kesulitan
dalam mempelajarinya,
usaha apa yang anda
lakukan untuk mengatasi
kesulitan tersebut?

16
B. Contoh Penilaian Observasi

Kelas/Semester : IV/Genap
Indikator : Mengindahkan kepentingan orang lain

No Perilaku yang diamati Hasil pengamatan


1 2 3 4 5
1 Mengganggu teman di kelas
2 Kataatan peserta didik terhadap peraturan
sekolah
3 Menunaikan tugas kelompok

Keterangan

1 = tidak pernah

2 = jarang

3 = kadang-kadang

4 = sering

5 = selalu

C. Contoh Penilaian Angket/ Kuisioner

No Pernyataan SS S KS TS STS
1 Saya bersungguh-sungguh mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru.
2 Saya sering tidak bersungguh-sungguh
dalam mengerjakan tugas.
3 Saya mengerjakan tugas dengan asal-
asalan.
4 Saya menanyakan materi yang belum

17
saya mengerti kepada Guru
5 Saya tidak terlalu suka bertanya tentang
materi karena tidak begitu penting bagi
saya

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan pembahasan di atas maka dapat di kemukakan


beberapa kesimpulan yaitu:
Teknik nontes merupakan prosedur pengumpulan data untuk memperoleh
gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa
yang bersifat kualitatif
Jenis-jenis teknik nontes meliputi:
a) Observasi
b) Wawancara / Interview
c) Kuesioner / Angket
d) Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)
e) Sosiometri
f) Study Kasus (case study)

3.2 Saran
Diharapkan para pendidik memahami bahwa evaluasi non tes juga sangat
penting disamping evaluasi tes. Karena tidak hanya dapat menilai berbagai
aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik dari peserta didik
sehingga dapat dijadikan panduan untuk meningkatkan kualitas kependidikan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Djojo Suradisastra, dkk (1992) Pendidikan IPS III: Jakarta Direktorat


Pendidikan Tinggi Proyak Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Nasoetion,Noehi, (1999 Evaluasi Pengajaran: Jakarta, Universitas Terbuka

Budimansyah, Dasina (2002): model Pembelajaran dan Penilaian:


Bandung, PT. Genesindo.

https://www.academia.edu/9495446/Makalah_instrumen_non_tes

https://mihwanuddin.wordpress.com/2011/09/17/intrumen-penilaian-non-tes-
wawancara-observasi-angketkuesioner-dan-unjuk-kerja/

20