Anda di halaman 1dari 10

Nama : Indri Liasna Br.

Sembiring

Riski Mutiara Purba

Tingkat/Jurusan : III.C/Teologi

Mata Kuliah : Pengantar Filsafat

Dosen Pengampu : Dr. Jadiaman Prangin-angin.

Deduktif

(Pengejawantahan kebenaran umum ke dalam situasi Khusus)

I. Pendahuluan

Jika pada kesempatan sebelumnya kita sudah membahas mengenai penalaran

induktif maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai Deduktif

(Pengejawantahan kebenaran umum ke dalam situasi Khusus) lebih mendalam lagi.

Semoga sajian ini bermanfaat bagi kita semua.

II. Pembahasan

2.1. Pengertian Deduktif

Penalaran deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa

prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat

umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan

cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, mengacu kepada hal-hal yang

khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif
tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang

kongkrit.1

Penalaran deduktif biasanya diawali dengan adanya suatu pernyataan/premis

yang bersifat umum kemudian diikuti dengan pernyataan/premis yang bersifat

khusus. kemudian kita dapat menarik kesimpulan dari premis yang ada sebelumnya,

dengan cara menggabungkan kesamaan dari premis umum dan khusus tersebut.

Biasanya penalaran deduktif disebut juga sebagai silogisme. Hanya penalaran yang

membawa ke penyimpulan deduktif dapat dikatakan sahih (valid). Suatu

penyimpulan bersifat sahih kalau premis-premisnya benar dan kesimpulan yang

ditarik daripadanya juga terjamin benar. Hanya penalaran deduktif membawa ke

penarikan kesimpulan yang bersifat niscaya. Maka, pe nalaran induktif dan abduktif

tidak dapat dikatakan sahih atau tak sahih, melain kan terjamin atau tidak, dilakukan

secara baik atau tidak baik, tergantung dari apakah penympulannya dilakukan

sesuai hukum-hukum penalaran atau tidak. Hanya penyimpulan deduktif

mempunyai aturan kesahihan. Kajian atas aturan tersebut dilakukan dalam Logika

Formal.2

2.2. Macam-macam Penalaran Deduktif

2.2.1. Silogisme

Argumen deduktif biasanya diungkapkan dalam bentuk silogisme. Setiap

Silogisme mempunyai dua macam premis (yakni premis mayor dan premis mi nor)

dan satu kesimpulan. Sebuah silogisme dapat bersifat kategoris, hipotetis, atau

disjungtif. Silogisme kategoris adalah silogisme yang terdiri dateproposisi-

proposisi yang bersifat kategoris, yakni proposisi yang berbentuk S itu P atau S itu

1
Adelbert Snijders, Manusia dan kebenaran, (Yogyakarta : Kanisius, 2006) 149-151
2
J. Sudarminta, Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta : Kanasius: 2002, 40-
42
bukan P. Di samping kesimpulan, ada premis mayor dan premis minor. Premis

mayor mengandung term mayor, sedangkan premis minor mengandung term minor.

Term mayor menjadi predikat kesimpulan, sedangkan term minor menjadi subjek

kesimpulan. Term yang sama pada premis mayor dan minor disebut term penengah

atau term pengantara (terminus medius).

Contoh:

Semua manusia dapat mati

Ken Arok seorang manusia

Ken Arok dapat mati

Contoh di atas adalah silogisme kategoris yang bersifat afirmatif atau positif.

Silogisme kategoris juga dapat bersifat negatif. Selain itu, subjek dan predikati nya

pun dapat ada perbedaan kuantitas. Maka, secara umum ada empat silogismei

kategoris sejajar dengan empat jenis proposisi kategoris.

Afirmatif universal (A) : Semua manusia dapat mati

Negatif universal (E) : Semua manusia tidak dapat hidup terus di dunia

Afirmatif partikular (I) : Beberapa orang dapat berenang

Negatif partikular (O): Beberapa orang tidak dapat berenang.

Silogisme hipotetis adalah silogisme dalam proposisi bersyarat. Premis mayor

dalam silogisme hipotetis adalah suatu implikasi; suatu pernyataan dalam bentuk:

Kalau ... maka ... Premis minor atau meneguhkan yang dipersyaratkan atau menolak

akibatnya, dan kemudian menarik kesimpulan, entah dalam bentuk yang

meneguhkan akibatnya atau menolak yang dipersyaratkan.3

3
J. Sudarminta, Pengantar Filsafat Pengetahuan, 43-44
Silogisme sendiri memiliki beberapa yang menjadi hukumnya yaitu:

1. Hukum pertama

Silogisme tidak boleh kurang ataupun lebih dari tiga kondisi (term).

Apabila kurang dari tiga term berarti bukan silogisme. Jika terdapat empat

term, apakah yang akan menjadi pokok perbandingan? tidak mungkinlah

orang membandingkan dua hal denga dua hal pula, dan lenyaplah dasar

perbandingan.

2. Hukum kedua

Term antara atau tengah (medium) tidak boleh masuk (terdapat) dalam

kesimpulan. Term medium hanya dimaksudkan untuk mengadakan

perbandingan dengan term-term. Perbadingan ini terjadi dalam premis-

premis. Karena itu term medium hanya berguna dalam premis-premis saja.

3. Hukum ketiga

Wilayah term dalam konklusi tidak boleh lebih luas dari wilayah term

itu dalam premis. Hukum ini merupakan peringatan, supaya dalam konklusi

orang tidak melebih-lebihkan wilayah yang telah diajukan dalam premis.

Sering dalam praktek orang tahu juga, bahwa konklusi tidak benar, oleh

karena tidak logis (tidak menurut aturan logika), tetapi tidak selalu mudah

menunjuk, apa salahnya itu.

4. Hukum keempat

Term antara (medium) harus sekurang-kurangnya satu kali universal.

Jika term antara paticular, baik dalam premis mayor maupun dalam premis

minor, mungkin saja term antara itu menunjukkan bagian-bagian yang

berlainan dari seluruh luasnya. Kalau demikian term antara, tidak lagi
berfungsi sebagai term antara, dan tidak lagi menghubungkan atau

memisahkan subyek dengan predikat.

Contoh :

1. Beberapa pengusaha pembohong

2. Amir adalah pengusaha

Jadi Amir adalah pembohong.4

Bentuk-bentuk silogisme

1. Silogisme kategorial

Silogisme Kategorial adalah silogisme yang semua posisinya

merupakan proposisi kategorik , Demi lahirnya konklusi maka pangkal

umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal ,

sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus

partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia

diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya . Pangkalan khusus bisa

menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya , tapi

bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan

umumnya dengan demikian satu pangalan umum dan satu pangkalan khusus

dapat di hubungkan dengan berbagai cara tetapi hubungan itu harus di

perhatikan kwalitas dan kantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi

atau natijah yang valid.

2. Silogisme Hipotesis

Silogisme Hipotesis adalah argument yang premis mayornya berupa

proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik

4
https://girlycious09.wordpress.com/tag/penalaran-deduktif/
yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem

konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidk

memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis

mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis

minor itu mengandung term subyek pada konklusi.5

Macam tipe silogisme hipotetik

a. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent,

seperti:

Jika hujan , saya naik becak

Sekarang Hujan .

Jadi saya naik becak.

b. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya ,

seperti :

Bila hujan , bumi akan basah

Sekarang bumi telah basah .

Jadi hujan telah turun

c. Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti :

5
Anna PoedjiadidanSuwarma,FilsafatIlmu, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), 4-10
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa , maka kegelisahan akan

timbul .

Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa ,

Jadi kegelisahan tidak akan timbul

d. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian

konsekwensinya , seperti:

Bila mahasiswa turun kejalanan , pihak penguasa akan gelisah

Pihak penguasa tidak gelisah

Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan

2.2.2. Entimen

Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan

pula sologisme yang premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena

sudah sama-sama diketahui.

Contoh:

Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.

Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua:

a. menipu adalah dosa


b. karena (menipu) merugikan orang lain.

Kalimat a merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis

minor (karena bersifat khusus). Maka silogisme dapat disusun:

Mn : menipu merugikan orang lain

K :menipu adalah dosa.

Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor.

Untuk melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat

lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknya menipu. Kita dapat menalar

kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan

orang lain adalah dosa. Untuk mengubah entimem menjadi silogisme,

mula-mula kitacari dulu ke- simpulannya. Kata-kata yang menandakan

kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi,maka, karena itu, dengan demikian,

dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang dihilangka6

2.3. Ciri-ciri Logika Deduktif7

a. Analistis

Kesimpulan daya tarik hanya dengan menganalisa proposisi-

proposisi atau premis-premis yang sudah ada.

b. Tautologies

Kesimpulan yang ditarik sesungguhnya secara tersirat sudah

terkandung dalam premis-premisnya.

c. Apirori

6
http://dararialbajillykb04.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-macamnya.html
7
Benyamin Molan, Logika: Ilmu dan Seni Berfikir Krisis,(Jakarta: INDEKS, 2012),116
Kesimpulan di tarik tanpa pengamatan indrawi atau oprasi kampus

d. Tergantung pada premisnya , jika premisnya salah mungkin akan

membawa kita pada hasil yang slaah. Diawali dengan penyataan

umum disusul dengan pernyataan umum disusul dengan uraian

atau penjelasan khusus.

e. Diakhiri dengan penjelasan

2.4. Hubungan Deduktif dan Induktif

Antara induksi dan deduksi sangat erat hubunganya. Malahan tiap-

tiap pemikiran sebenarnya praktis bercampur antara pemikiran induksi

dengan pemikiran deduksi tersebut. misalnya kita melihat seekor kuda kita

memikirkanya secara khusus tentang kuda itu. Bagaimana giginya,

bagaimana mulutnya, bagaimana suaranya, dan lain sebagainya. Itu

namanya berpikir induktif. Tapi dari mana kita mengetahui bahwa kuda

itu mempunyai mulut, punya gigi, punya suara? Sebenarnya kita sudah

mengetahui hal itu dari pengertian umum tentang kuda. Sesuatu

kesimpulan umum tentang kuda yakni suatu pengertian umum tentang

kuda. Sesuatu kesimpulan umum tentang kuda yakni suatu pengertian

umum tentang kuda umum yang harus ada pada semua kuda. Kalau begitu

ketika kita mengetahui secara khusus tentang seekor kuda tertentu,

sebenarnya kita mengetahuinya dari induksi.

Induksi senantiasa berdampingan dengan deduksi. Keduanya selalu

bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak akan ada tanpa deduksi.

Deduksi juga akan selalu dijiwai oleh induksi. Hanya saja dalam proses

memproleh pengetahuan induksi biasanya mendahuli deduksi. Sedangkan


dalam ilmu logika bisanya deduksilah yang terutama dibicarakan terlebih

dahulu. Deduksi dipandang lebih penting untuk latihan dalam

pengembangan pikiran.8

III. Kesimpulan

Deduktif adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum

ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Metode deduksi adalah cara penanganan

terhadap sesuatu objek tertentu dengan jalan menarik kesimpulan mengenai hal-hal

yang bersifat umum. Selain itu juga antara deduktif dan induktif tidak dapat

dipisahkan akan selalu berdampingan bahwasanya induksi tidak akan ada tanpa

deduksi.

IV. Daftar Pustaka

Snijders, Adelbert, Manusia dan kebenaran, Yogyakarta : Kanisius, 2006

Sudarminta, J,. Pengantar Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta : Kanasius: 2002

https://girlycious09.wordpress.com/tag/penalaran-deduktif/

Suwarma, dan Anna Poedjiadi, FilsafatIlmu, Jakarta: Universitas Terbuka, 2008

http://dararialbajillykb04.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-

macamnya.html

Molan, Benyamin, Logika: Ilmu dan Seni Berfikir Krisis,Jakarta: INDEKS, 2012

Tiam, Sunardji Dahri, Langkah-langkah Berpikir Logis, Pemekasan : STAIN Pemekasan

2006

8
Sunardji Dahri Tiam, Langkah-langkah Berpikir Logis, ( Pemekasan : STAIN Pemekasan 2006), 45-46