Anda di halaman 1dari 2

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Pada bab ini menceritakan sebuah kisah dari Umar ibn Al Khatab dan Utsman bin
Affan, saat itu Umar ibn Al Khatab sedang berlari-lari mengejar unta zakat yang kabur di
padang pasir yang panas. Sedangkan Utsman bin Affan sedang beristirahat sambil
melantunkan Al Quran dengan menyanding air sejukdan buah-buah di dalam sebuah dangau
berjendela miliknya. Ketika melihat Umar ibn Al Khatab, Utsman bin Affan memanggilnya
dan menyuruhnya agar masuk karena angin saat itu deras sekali. Umar ibn Al Khatab dari
kejauhan berteriak menolaknya karena Umar takut Allah akan menanyakan kemana unta
zakat itu. Namun, Utsman memberi arahan agar unta zakat itu dicari oleh pembantunya saja,
tapi Umar tetap saja tidak mau karena merasa bahwa hal tersebut adalah tanggung jawabnya
kepada Allah swt.

Umar ibn Al Khatab dan Utsman bin Affan adalah orang yang tidak sama. Mereka
memiliki watak yang berbeda yang membuat mereka khas. Umar ibn Al Khatab adalah jago
bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras dan bani Adi nan jahat yang
membuatnya memiliki sifat kepemimpinan yang keras, jantan, tegas, tanggungjawab, dan
ringan tangan. Utsman bin Affan adalah lelaki pemalu, anak tersayang dari kabilahnya,
datang dari keluarga bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa.

Dari cerita tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia adalah dirinya
sendiri tidak bisa menjadi orang lain, tidak bisa memaksakan untuk menjadi sesiapa yang ada
dalam angannya. Dalam dekapa ukuwah berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang
diberi amanat memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia
terus menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat
pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara
menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan
membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang
menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari. Sungguh tidak bijak menuntut seseorang
untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh
lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya
jawaban yang telak dan lucu.

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk
kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu
Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash
melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri
kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku
sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain
tak mengikuti. Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan
kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam
dekapan ukhuwah. Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki
kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki
mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam
damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain
adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal
bukan asasi tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab”
dan “khatha”. Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi
antara satu dengan yang lain. Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak
seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,”
ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah,
namun bisa jadi mengandung kebenaran.”