Anda di halaman 1dari 11

Tugas kelompok

Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen pengampuh :Elisabet Luju,SH,MM

Oleh:

Maria Cicilia Esperanda (062190038)

Marianus Ronal Dita (062190169)

Hermanus Yosep Kader (062190128)

Marianus Alfonsius Yosep (062190153)

Prodi Menejemen

Fakultas Ekonomi

Universitas Nusa Nipa

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji Tuhan, terima kasih kami ucapkan atas bantuan Tuhan yang telah mempermudah
dalam pembuatan makalah ini, hingga akhirnya terselesaikan tepat waktu. Tanpa bantuan dari
Tuhan, kami bukanlah siapa-siapa. Selain itu, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
orang tua, keluarga, serta pasangan yang sudah mendukung hingga titik terakhir ini.

Banyak hal yang akan disampaikan kepada pembaca mengenai “KLAIM BATIK INDONESIA
OLEH MALAYSIA”. Dalam hal ini, Saya ingin membahas mengenai sebab-sebab pengklaiman
budaya adat Indonesia oleh malaysia dan peran mahasiswa dalam menanggapinya. Untuk
membaca lebih lengkap, Anda dapat membaca hasil makalah kami.

Kami menyadari jika mungkin ada sesuatu yang salah dalam penulisan, seperti menyampaikan
informasi berbeda sehingga tidak sama dengan pengetahuan pembaca lain. kami mohon maaf
yang sebesar-besarnya jika ada kalimat atau kata-kata yang salah. Tidak ada manusia yang
sempurna kecuali Tuhan.

Demikian kami ucapkan terima kasih atas waktu Anda telah membaca hasil makalah kami.

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................i

KATA PENGANTAR .................................................................................................................ii

DAFTAR ISI................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................................1


2.1 Rumusan Masalah ............................................................................................................1
3.1 Tujuan Penulisan ..............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................2

2.1 Klaim Batik Indonesia Oleh Malaysia Ditinjau Dari Aspek HAM .................................2
2.2 Sebab-sebab pengklaiman budaya adat Indonesia oleh negara asing ..............................4
2.3 peran mahasiswa dalam mencegah upaya pengklaiman budaya oleh negara asing .......5

BAB III PENUTUP .....................................................................................................................7

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................7


3.2 Saran ................................................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................8

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia adalah negara yang sangat beragam sukunya, mulai dari suku Ambon, suku
Batak, suku Madura, suku Jawa, suku Betawi dan suku lainnya. Dengan keberagaman suku di
Indonesia maka banyak sekali kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kebudayaan
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia menjadikan negeri Indonesia adalah negeri yang kaya akan
identitas sehingga semakin kuat ciri yang dimiliki sebagai jati diri bangsa. Namun pada dewasa
ini masyarakat Indonesia sendiri sebagai pemilik jati diri telah lupa untuk merawat dan menjaga
kebudayaaan yang dimilikinya,sehingga banyak tangan dari negara lain yang ingin merebut
kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Salah satu kebudayaan Indonesia yang ingin direbut
adalah batik. Negara tetangga kita, yaitu Malaysia yang mengaku memiliki rumpun yang sama
dengan bangsa Indonesia mencoba untuk mengklaim batik sebagai kebudayaan yang
dimilikinya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, karena ketidak pedulian masyarakat
Indonesia terhadap budayanya sendiri, membuat kebudayaan yang dimilikinya dapat direnggut
dengan mudah oleh banngsa lain. Oleh karena itu sebagai suatu bangsa yang besar mari kita
memperjuangkan dan mempertahankan budaya yang menjadi milik kita dengan terus mencintai
dan melestarikannya, sehingga bangsa lain enggan dan tidak mungkin berani untuk mengklaim
kebudayaan yang dimilliki bangsa kita.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana uraian kasus klaim batik Indonesia oleh Malaysia ditinjau dari aspek HAM
2. Apa yang menyebabkan pengklaiman budaya adat Indonesia oleh negara asing?
3. Bagaimana peran serta mahasiswa dalam mencegah upaya pengklaiman budaya Indonesi
a oleh negara asing?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Menguraikan kasus klaim batik Indonesia oleh Malaysia ditinjau dari aspek HAM.
2. Menjelaskan penyebab pengklaiman budaya adat Indonesia oleh Negara asing
3. Menjelaskan peran mahasiswa dalam mencegah upaya pengklaiman budaya Indonesia ol
eh negara asing .

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KLAIM BATIK INDONESIA OLEH MALAYSIA DITINJAU DARI ASPEK HAM

Menurut segi historisnya Indonesia memiliki rumpun yang sama dengan Malaysia yaitu
melayu. Maka tidak heranlah jika Indonesia memiliki bahasa, agama, rumpun yang dikatakan
tidak begitu banyak perbedaan. Malaysia beranggapan juga bahwa karena Indonesia dan
Malaysia adalah rumpun yang sama, maka kebudayaan dan kebanyakan hal yang dimiliki
Indonesia juga merupakan milik Malaysia.

Jadi banyak sekali kasus klaim budaya yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia.
Salah satunya adalah batik. Walaupun dikatakan bahwa MALAYSIA TIDAK PERNAH
MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh
Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA. Namun sejak tanggal 2
Oktober 2009, batik Indonesia secara resmi telah diakui oleh UNESCO. Batik dimasukkan ke
dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia (representative list of
the intangible cultural heritage of humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah
(fourth session of the intergovernmental committee) tentang Warisan Budaya Tak Benda di Abu
Dhabi. Untuk mempertahankan budaya yang dimilikinya, bangsa Indonesia telah mengaturnya
dalam UUD 1945 amandemen ke empat, pasal 32 yg terdiri dari 2 ayat.

a. Ayat (1) berbunyi: "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah


peradaban dunia dengan menjamin kekebasan masyarakat dalam memelihara dan
mengembangkan nilai-nilai budayanya." Jika ayat (1) ini dirinci, ada 3 potongan makna
yang terkandung di dalamnya. Pertama, "Negara memajukan kebudayaan nasional
Indonesia….". Potongan kalimat kedua berbunyi,"…di tengah peradaban dunia…",
penegasan bahwa kebudayaan Indonesia adalah bagian dari kebudayaan dan perdaban
dunia. Potongan kalimat ketiga, "….dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk
memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya" merupakan cerminan
pemenuhan kehendak tentang perlunya kebebasan dalam mengembangkan nilai budaya
masing-masing suku bangsa.
b. Ayat (2) berbunyi, "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai
kekayaan budaya nasional", ini berarti bahwa masalah bahasa (daerah) sudah dengan
sendirinya merupakan salah satu kekayaan (bagian) dari kebudayaan bangsa.

2
Faktanya, Indonesia hingga saat ini tidak memiliki data lengkap mengenai identitas budaya yang
tersebar di setiap daerah. Perlindungan hak cipta terhadap seni budaya juga sangat lemah,
sedangkan publikasi multimedia secara internasional mengenai produk seni budaya masih sangat
minim. Dan yang paling parah Indonesia juga menghadapi persoalan buruknya birokrasi
pendataan hak cipta. Meskipun permohonan pendaftaran hak cipta mengenai seni budaya sudah
disampaikan, belum tentu permohonan tersebut segera diproses dan dipublikasikan. Sejak 2002
sampai Juni 2009, misalnya, sudah ada 24.603 permohonan pendaftaran hak cipta bidang seni
yang disampaikan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia (Depkum dan HAM). Namun, hingga saat ini, permohonan yang disetujui
belum dipublikasikan. Hal ini juga terkait dengan belum adanya dasar hukum formal.

Hak Cipta batik tradisional yang ada dipegang oleh negara (Pasal 10 ayat 2 UUHC Tahun 2002).
Hal ini berarti bahwa negara menjadi waki lbagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menguasai
kekayaan tradisional yang ada. Perwakilan oleh negara dimaksudkan untuk menghindari
sengketa penguasaan atau pemilikan yang mungkin timbul di antara individu atau kelompok
masyarakat tertentu. Selain itu penguasaan oleh negara menjadi penting khususnya apabila
terjadi pelanggaran Hak Cipta atas batik tradisional Indonesia yang dilakukan oleh warga negara
asing dari negara lain karena akan menyangkut sistem penyelesaian sengketanya.

Pasal 10 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa
Negara Indonesia memegang Hak Cipta atas karyakarya anonim, di mana karya tersebut
merupakan bagian dari warisan budaya komunal maupun bersama. Perlindungan pengetahuan
tradisional dan ekspresi kebudayaan biasanya dikaitkan dengan sistem perlindungan hak atas
kekayaan intelektual

Pembentukan perundang-undangan di bidang HKI merupakan bentuk perlindungan agar


masyarakat memperoleh kemanfaatan itu. Dengan kata lain, rezim HKI merupakan sebuah
bentuk kompensasi dan dorongan bagi orang untuk mencipta. Demikian pula halnya jika inisiatif
itu muncul dengan gagasan penggunaan rezim HKI, maka rezim HKI itu harus dapat menjamin
bahwa para pelaku seni dapat :

1. menikmati kebebasan berekspresi

3
2. dapat menikmati suatu kondisi di mana mereka dapat menciptakan kreasi-kreasi baru
dalam tradisi yang bersangkutan
3. mewariskan kemampuan kreatifnya itu dari generasi ke generasi.

Karya cipta seni batik sebagai ciptaan yang dilindungi, maka pemegang Hak Cipta seni
batik memperoleh perlindungan selama hidupnya dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh)
tahun setelah meninggal dunia (Pasal 29 ayat 1 UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta).
Selama jangka waktu perlindungan tersebut, pemegang Hak Cipta seni batik memiliki hak
eksklusif untuk melarang pihak lain mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya atau
memeberi izin kepada orang lain untuk melakukan pengumuman dan perbanyakan ciptaan yang
dipunyai tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Pasal 1 ayat 1 UUHC 2002). Jangka waktu perlindungan tersebut diberikan bagi
seni batik yang bukan tradisional, sedangkan bagi seni batik tradisional, misalnya motif “Parang
Rusak” tidak memiliki jangka waktu perlindungan.

2.2 Sebab-sebab pengklaiman budaya Indonesia oleh negara asing (Malaysia)

Terdapat dua faktor penyebab pengklaiman budaya Indonesia oleh negara asing khususn
ya oleh Malaysia, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri da
n faktor eksternal yang berasal luar bangsa Indonesia.

1) Faktor internal penyebab pengklaiman budaya Indonesia oleh bangsa lain :

1. Tidak adanya aturan yang jelas untuk mengatur bagaimana jalanya perlindungan kebuda
yaan. Kurangnya peran serta pemerintah untuk melestarikan budaya indonesia.Rendahny
a inisiatif pemerintah dan masyarakat indonesia untuk mendaftarkan dan mematenkan bu
daya Indonesia.
2. Realitas membuktikan bahwa pemuda saat ini telah banyak yang melupakan dan tidak ac
uh atas eksistensi budaya Indonesia. Apresasi yang kurang untuk melestarikan budaya, m
alu mempelajari dan anggapan bahwa budaya lokal itu kuno, ketinggalan zaman dan han
ya milik generasi tua saja.

4
3. Budayawan kita yang kurang mengerti akan kebudayaan sendiri , namun budayawan mal
aysia mengerti dan paham akan seluk beluk kebudayaan negara Indonesia (khususnya M
elayu).
4. Kurangnya sosialisasi budaya Indonesia dalam media. Padalah peran media sangat besar
dan efektif. Penyampaian budaya sendiri (minimal: khusus daerah jawa tengah mengerti
akan budaya jawa tengah) yang kurang tetapi penyampaian info di kancah internasional l
ebih luas dan terperinci.
5. Adanya kesamaan antara suku dan ras masyarakat Indonesia dengan Malaysia. Kesamaa
n ras yang mungkin mengakibatkan adanya ideologi bahwa Indonesia dan Malaysia itu s
atu di mata orang -
orang Malaysia jadi kepemilikan budaya pun bisa di samakan (intinya antara Indonesia
dan Malaysia itu sama semua jadi klaim mengklaim itu tidak salah di mata Malaysia ).
6. Faktor bisnis (terutama pengenalan visit malaysia kepada masyarakat dunia).

2) Faktor ekstenal penyebab pengklaiman budaya Indonesia oleh bangsa asing yaitu :

1. Terdapat negara yang sedang krisis Identitas sehingga mendorong untuk mengklaim atau
mencuri budaya bangsa lain.
2. Kuatnya Kapitalisme yang menguasai suatu negara yang mendorong untuk mengklaim bu
daya bangsa lain, semata-mata untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-
banyaknya dengan menarik dan mendatangkan pengunjung atau wisatawan.
3. Globalisasi yang membuat budaya menyebar kemana-mana, sehingga seakan-
akan sangat kabur darimana asal usul budaya tersebut.
4. Kemajuan teknologi transportasi dan informasi yang kemudian akhirnya mendorong infor
masi menyebar tanpa ada batasan tempat dan waktu.

2.3 Mengetahui peran mahasiswa dalam mencegah upaya pengklaiman budaya Indonesia
oleh negara asing

Mahasiswa memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian seni dan budaya
daerah.Hal ini didasari oleh asumsi bahwa mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi pen
erus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia.Sebagai intele

5
ktual muda yang kelak menjadi pemimpin-
pemimpin bangsa, pada mereka harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjut
an negara bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural mahasiswa an
tara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian seni dan budaya
daerah.

Optimalisasi peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah dapat dilakukan
melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler.Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan
menjadikan seni dan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikul
er dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsert
aan mahasiswa dalam kegiatan-
kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian seni dan b
udaya daerah.

6
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Indonesia memiliki rumpun yang sama dengan Malaysia yaitu melayu. Maka tidak heranl
ah jika Indonesia memiliki bahasa, agama, rumpun yang dikatakan tidak begitu banyak perbedaa
n.Jadi banyak sekali kasus klaim budaya yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia.Salah satu
nya adalah batik.Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, sebuah budaya adalah hasil karya, rasa
dan cipta dari suatu masyarakat.Kebudayaan itu lahir dari sekelompok masyarakat yang tinggal
disuatu wilayah. Sekelompok orang itu nantinya akan membentuk sebuah adat istiadat sendiri.

3.2 SARAN

Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang satu rumpun melayu.Namun, pada kenya
taannya masih terdapat konflik antara Indonesia dan Malaysia. Untuk itu, hubungan Indonesia de
ngan Malaysia perlu dieratkan, yaitu dengan cara menjalin kerjasama yang baik dalam segala hal
Agar budaya kita tidak tidak bisa tercampur atau diklaim bangsa lain maka pemerintah dan semu
a kalangan harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Mematenkan hak paten budaya Indonesia

2. Mempertunjukkan kesenian budaya lokal

3. Menyiarkan kepada publik mengenai budaya asli Indonesia

7
DAFTAR PUSTAKA

sharegoodwords.blogspot.com,

http://arumanis8.blogspot.com