Anda di halaman 1dari 33

03

Khulafaur Rasyidin:
Pemerintahan yang Demokratis
Deti Suciati (14770004)

A. Pendahuluan
Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kelompok,
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu komunitas masyarakat, bangsa
dan Negara tidak akan maju, aman dan terarah jika tidak adanya pemimpin.
Maka pemimpin menjadi kunci keberhasilkan dalam suatu komunitas
masyarakat. Pemimpin yang mampu memberi rasa aman, tentram, mampu
mewujudkan keinginan rakyatnya. Maka dianggap sebagai pemimpin yang
sukses. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dicintai oleh yang
dipimpinnya, sehingga pikirannya selalu didukung, perintahnya selalu di ikuti
dan rakyat membelanya tanpa diminta terlebih dahulu. Figur kepemimpinan
yang mendekati penjelasan tersebut adalah Rasulullah beserta para sahabatnya
(khulafaur Rasyidin).
Khulafaur Rasyidin yaitu sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan
Nabi Muhammad SAW. Dalam memimpin pemerintahan. Dalam masa
pemerintahan Khulafaur Rasyidin banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang
pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu
dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Dari mulai cara
pengangkatan sebagai khalifah, sistem pemerintahan, pengelolaan administrasi,
hubungan sosial kemasyaratan dan lain sebagainya.
Meskipun hanya berlangsung 30 tahun, masa Khalifah Khulafaur-
Rasyidin adalah masa yang penting dalam sejarah Islam. Khulafaur-Rasyidin
berhasil menyelamatkan Islam, mengkonsolidasi dan meletakkan dasar bagi
keagungan umat Islam.
Dalam pembahasan ini dibahas secara terperinci salah satu khalifah, yaitu
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Khalifah pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang secara tidak
langsung dipilih secara demokrasi oleh para sahabat, walaupun pada saat itu
ada dua kubu yang berbeda, yang pada akhirnya bersatu.

B. Pembahasan
1. Pengertian Khulafaur Rasyidin
Dalam sejarah islam, Khulafaur rasyidin (yang mendapat bimbingan
dijalan lurus) adalah sebuah gelar yang diberikan kepada empat orang
sahabat pengganti Nabi.1 Yaitu sebagai pemimpin kaum muslimin dalam
memberikan petunjuk ke jalan yang benar dan melestarikan

1 Ali Mufrodi, Islam di KawasanKebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997, h. 46.

60
hukum-hukum Agama Islam. Dialah yang menegakkan keadilan yang
selalu berdiri diatas kebenaran.
Menurut bahasa, Khalifah ( ‫خليفة‬Khalīfah) merupakan mashdar dari
fi’il madhi khalafa, yang berarti : menggantikan atau menempati tempatnya.
Menurut istilah adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat Islam
setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Kata "Khalifah"
sendiri dapat diterjemahkan sebagai "pengganti" atau "perwakilan". Dalam
Al-Qur'an, manusia secara umum merupakan khalifah Allah di muka bumi
untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya. Sebagaimana
firman Allah dalam QS. Al-An’am: 165:
  
  
   
   
    
   
Artinya: Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan
Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk
mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.2

Sedangkan khalifah secara khusus maksudnya adalah pengganti Nabi


Muhammad saw sebagai Imam umatnya, dan secara kondisional juga
menggantikannya sebagai penguasa sebuah edentitas kedaulatan Islam
(negara). Sebagaimana diketahui bahwa Muhammad saw selain sebagai
Nabi dan Rasul juga sebagai Imam, Penguasa, Panglima Perang, dan lain
sebagainya.
Adapun yang dimaksud dengan Khulafaur Rasyidin adalah para
pemimpin pengganti Rosulullah dalam mengatur kehidupan umat manusia
yang adil, bijaksana, cerdik, selalu melaksanakan tugas dengan benar dan
selalu mendapat petunjuk dari Alloh. Tugas Khulafaur Rasyidin adalah
menggantikan kepemimpinan Rosulullah dalam mengatur kehidupan kaum
muslimin. Jika tugas Rosulullah terdiri dari dua hal yaitu tugas kenabian dan
tugas kenegaraan. Maka Khulafaur Rasyidin bertugas menggantikan
kepemimpinan Rasulullah dalam masalah kenegaraan yaitu sebagai kepala
Negara atau kepala pemerintahan dan pemimpin agama. Adapun tugas
kerosulan tidak dapat digantikan oleh Khulafaur Rasyidin karena
Rasulullah adalah Nabi dan Rosul yang terakhir. Setelah Beliau tidak ada
lagi Nabi dan Rosul lagi.
Tugas Khulafaur Rasyidin sebagai kepala Negara adalah mengatur
kehidupan rakyatnya agar tercipta kehidupan yang damai, adil, makmur,
aman, dan sentosa. Sedangkan sebagai pemimpin agama Khulafaur
Rasyidin bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan masalah
keagamaan. Bila terjadi perselisihan pendapat maka kholifah yang berhak
mengambil keputusan. Meskipun demikian Khulafaur Rasyidin dalam

2 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung:

Diponegoro, 2008, h. 150

61
melaksanakan tugasnya selalu mengutamakan musyawarah bersama,
sehingga setiap kebijakan yang diambil tidak bertentangan dengan kaum
muslimin.3

2. Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq


Abu Bakar Ash-Shiddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin
abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin
Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi al-Qurasyi. Berarti
silsilahnya dengan Nabi bertemu pada Murrah bin Ka’ab). Dilahirkan pada
tahun 573 M. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh
dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar.4 Ayahnya bernama
Utsman Ibn Amir dan di juluki Abu Quhafah, ibunya bernama Ummu Al-
Khair Salma binti Sakhr. Nasabnya bertemu Rasulullah Saw. Pada
kakeknya, Murrah Ibn Ka’ab Ibn Lu’ai. Abu bakar berasal dari Kabilah
Taim Ibn Murrah Ibn Ka’ab, Kabilah Taim adalah satu dari dua belas
cabang dari suku Quraisy. Namun, kabilah ini bukanlah kabilh yang besar.5
Disebutkan juga, bahwa sebelum Islam ia bernama Abdul Ka'bah.
Setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia dipanggil Abdullah. Ada juga yang
mengatakan bahwa tadinya ia bernama Atiq, karena dari pihak ibunya tak
pernah ada anak laki-laki yang hidup. Lalu ibunya bernazar jika ia
melahirkan anak laki-lak ia kan diberi nama Abdul Ka'bah dan akan
disedekahkan kepada Ka'bah. Sesudah Abu Bakr hidup dan menjadi besar,
ia diberi nama Atiq, seolah ia telah dibebaskan dari maut.
Tetapi sumber-sumber itu lebih jauh menyebutkan bahwa Atiq itu
bukan namanya, melainkan suatu julukan karena warna kulitnya yang putih.
Sumber yang lain lagi malah menyebutkan, bahwa ketika Aisyah putrinya
ditanyai: mengapa Abu Bakr diberi nama Atiq ia menjawab: Rasulullah
memandang kepadanya lalu katanya: Ini yang dibebaskan Allah dari neraka;
atau karena suatu hari Abu Bakr datang bersama sahabat-sahabatnya lalu
Rasulullah berkata: Barang siapa ingin melihat orang yang dibebaskan dari
neraka lihatlah ini. Mengenai gelar Abu Bakr yang dibawanya dalam hidup
sehari-hari sumber-sumber itu tidak menyebutkan alasannya, meskipun
penulis-penulis kemudian ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki begitu
karena ia orang paling dini dalam Islam dibanding dengan yang lain.6
Abu Bakar telah mengharamkan minuman keras untuk dirinya pada
masa jahiliyah. Bahkan, dia tidak pernah menyembah dan bersujud pada
sebuah berhala apapun. Dia adalah sahabat Rasullullah yang dianggap
sebagai orang kedua dalam islam setelah Rasullullah.7
Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di
makkah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja sebagai
pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda ini ia

3 http://abdimanfaat.blogspot.com/2014/02/peradaban-islam-pada-masa-
khulafaur.html
4 Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008, h. 67
5 Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar, 2003, h. 142
6 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakar As-Shiddiq, Jakarta: PT. Pustka Litera

Antarnusa, 2013, h. 3
7 Ahmad Al-usairy, Sejarah Islam,. . . h. 142.

62
menikah dengan Kutailah binti Abdul Uzza, dari perkawinan ini Abu Bakar
memiliki dua anak yaitu Abdullah dan Asma’ (Zatun-ni-taqoin). Sesudah
dengan Kutailah ia menikah lagi dengan Umm Rauman binti Amir bin
Awaimar dari perkawinan ini Abu Bakar memiliki anak Abdurrahman dan
Aisyah. Kemudian di Madinah Abu Bakar menikah dengan Habibah binti
Kharij, setelah itu menikah dengan Asma’ binti Umais melahirkan seorang
putra bernama Muhammad. 8
Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan
oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan sepa-sang
bahu yang kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung disertai dahi
yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas—begitulah
dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummul mukminin.
Begitu damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang
sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh sikapnya
yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikiran yang tajam,
banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak
diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pernah minum minuman
keras, dizaman jahiliah atau Islam, meskipun penduduk Mekah umumnya
sudah begitu hanyutke dalam khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli
genealogi—ahli silsilah bicaranya sedap dan pandai bergaul. Seperti
dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab Sirah:
"Abu Bakr adalah laki-laki yang akrab dikalangan masyarakatnya,
disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga Kuraisy yang paling dekat
dan paling banyak mengetahui seluk-beluk kabilah itu, yang baik dan yang
jahat. Ia seorang pedagang dengan perangai yangs udah cukup terkenal.
Karena suatu masalah, pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang
menemuinya, mungkin karena pengetahuannya, karena perdagangannya
atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak."
Ia tinggal di Mekah, dikampung yang sama dengan Khadijah bint
Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang membawa
perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas ke Syam dan
ke Yaman. Karena bertempat tinggal dikampung itu, itulah yang membuat
hubungannya dengan Muhammad begitu akrab setelah Muhammad kawin
dengan Khadijah dan kemudian tinggal serumah. Hanya dua tahun beberapa
bulan saja Abu Bakr lebih muda dari Muhammad.
Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak berjauhan itu,
persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan perangainya, disamping
ketidak senangannya pada kebiasaan-kebiasaan Kuraisy—dalam
kepercayaan dan adat—mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh
dalam persahabatan Muhammad dengan Abu Bakr. Beberapa sumber
berbeda pendapat, sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum
Muhammad menjadi Rasul. Diantara mereka ada yang menyebutkan bahwa
persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan bahwa
keakraban itu pula yang membuat Abu Bakr cepat-cepat menerima Islam.
Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya hubungan itu baru
kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya karena

8 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 3.

63
bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang
mendukung pendapat ini barang kali karena kecenderungan Muhammad
yang suka menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya
menjauhi orang banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul
teringat ia pada Abu Bakr dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara
dan diajaknya menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu Abu Bakr pun menerima
ajakan itu. Sejak itu terjadilah hubungan yang lebih akrab antara kedua
orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakr makin mendalam dan
kepercayaannya kepada Muhammad dan risalahnyapun bertambah kuat.
Seperti dikatakan oleh Aisyah: "Yang kuketahui kedua orangtuaku sudah
memeluk agama ini, dan setiap kali lewat didepan rumah kami, Rasulullah
selalu singgah ketempat kami, pagi atau sore."
Sejak hari pertama Abu Bakr sudah bersama-sama dengan
Muhammad melakukan dakwah demi agama Allah. Keakraban
masyarakatnya dengan dia, kesenangannya bergaul dan mendengarkan
pembicaraannya, besar pengaruhnya terhadap Muslimin yang mula-mula itu
dalam masuk Islam itu. Yang mengikuti jejak Abu Bakr menerima Islam
ialah Usman binAffan, Abdur-Rahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa'd
bin Abi Waqqas dan Zubair bin Awwam. Sesudah mereka yang kemudian
menyusul masuk Islam—atas ajakan Abu Bakr— ialah Abu Ubaidah bin
larrah dan banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah.
Adakalanya orang akan merasa heran betapa Abu Bakr. tidak merasa
ragu menerima Islam ketika pertama kali disampaikan Muhammad
kepadanya itu. Dan karena menerimanya tanpa ragu itu kemudian
Rasulullahberkata:
"Tak seorangpun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak
tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu Bakr bin
Abi Quhafah. Ia tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu ketika
kusampaikan kepadanya."
Sebenarnya tak perlu heran tatkala Muhammad menerangkan
kepadanya tentang tauhid dan dia diajaknya lalu menerimanya. Bahkan
yang lebih mengherankan lagi bila Muhammad menceritakan kepadanya
mengenai gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia mempercayainya tanpa
ragu. Malah keheranan kita bisa hilang, atau berkurang, bila kita ketahui
bahwa Abu Bakr adalah salah seorang pemikir Mekah yang memandang
penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah
mengenai benar Muhammad—kejujurannya, kelurusan hatinya serta
kejernihan pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya
untuk merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan
didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah kepadanya itu
dilihatnya memang sudah sesuai dengan pikiran yang sehat. Pikirannya
tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayainya dan menerima semua itu.
Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika
Islam mulai didakwakan. Baginya, tidaklah sulit untuk memercayai ajaran
yang dibawa oleh Muhammad SAW.9

9 Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, . . . h. 67

64
Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah
penghargaan kita atas keberaniannya tampil kedepan umum dalam situasi
ketika orang masih serba menunggu, ragu dan sangat berhati-hati.
Keberanian Abu Bakr ini patut sekali kita hargai, mengingat dia pedagang,
yang demi perdagangannya diperlukan perhitungan guna menjaga hubungan
baik dengan orang lain serta menghindari konfrontasi dengan mereka, yang
akibatnya berarti menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini
dikhawatirkan kelak akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan
para relasi itu. Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada
pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong yang
tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi atau berpura-
pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat, mencari keuntungan
dibalik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka. Sikap
munafik begini kita jumpai bukan dikalangan awamnya, tapi dikalangan
tertentu dan kalangan terpelajarnya juga. Bahkan akan kita jumpai di
kalangan mereka yang menamakan diri pemimpin dan katanya hendak
membela kebenaran. Kedudukan Abu Bakr yang sejak semula sudah
dikatakan oleh Rasulullah itu, patut sekali ia mendapat penghargaan,
patutdikagumi.
Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam itulah yang patut
dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia,
merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan
tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat,
berjalan lancar. Dan barang kali Muhammad pun merasa cukup puas dengan
sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji. Tetapi Abu Bakr dengan
menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu mengaja korang kepada
ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan dakwahnya untuk meyakinkan
kaum Muslimin yang mula-mula untuk mempercayai Muhammad dan
mengikuti ajaran agamanya, inilah yang belum pernah dilakukan orang;
kecuali mereka yang sudah begitu tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada
tingkat membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah
berada diatas kepentingan hidup pribadinya sehari-hari. Kita lihat, dalam
membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran dan
kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka. Demikianlah
keadaan Abu Bakr dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak ia
memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu
Bakrpun kemudian kembali kesisi-Nya.
Abu Bakar selalu senantiasa menemani Rasullullah sejak masuk islam
hingga wafat Rasullullah. Dia behijrah bersama Rasullullah ke Madinah dan
bersama-sama pula bersembunyi di gua Tsur, pada malam permulaan hijrah
sebelum melanjutkan perjalanan.10 Abu Bakar selalu terlibat dalam berbagai
peristiwa yang dialami Rasullullah. Dia adalah orang yang tidak lari dan
tetap pendirian ketika banyak pasukan melarikan diri pada saat perang
Hunain. Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu
gagah didalam segala medan perang, dia dikenal sebagai sosok yang
dermawan dan menginfakan sebagian hartanya di jalan Allah.

10 A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta Pusat: Pustaka Alhusna, h. 226.

65
Dalam menjalankan dakwah itu tidak hanya berbicara saja dengan
kawan-kawannya dan meyakinkan mereka, dan dalam menghibur kaum
duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan dianiaya oleh musuh-musuh
dakwah, tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang
lemah lembut, tetapi ia menyantuni mereka dengan hartanya. Digunakannya
hartanya itu untuk membela golongan lemah dan orang-orang tak punya,
yang telah mendapat petunjuk Allah kejalan yang benar, tetapi lalu dianiaya
oleh musuh-musuh kebenaran itu. Sudah cukup diketahui, bahwa ketika ia
masuk Islam, hartanya tak kurang dari empat puluh ribu dirham yang
disimpannya dari hasil perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus
berdagang dan mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke
Medinah sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal lima ribu
dirham. Sedang semua harta yang adapa danya dan yang disimpannya,
kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang kejalan Allah
dan demi agama dan Rasul-Nya. Kekayaannya itu digunakan untuk
menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang oleh
majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain hanya karena mereka
masuk Islam.
Suatu hari Abu Bakr melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya
dicampakkan keladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan
menindihkan batu didadanya lalu dibiarkannya agar ia mati dengan begitu,
karena ia masuk Islam. Dalam keadaan semacam itu tidak lebih Bilal hanya
mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad. Ketika itulah ia dibeli oleh Abu
Bakr kemudian dibebaskan! Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakr
ditebus dan ditugaskan menggembalakan kambingnya. Tidak sedikit budak-
budak itu yang disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakr dibeli lalu
dibebaskan.
Muhammad berbicara kepada penduduk Mekah bahwa Allah telah
memperjalankannya malam hari dari Masjidil haram keMasjidil aksa dan
bahwa ia bersembah yang disana. Oleh orang-orang musyrik kisah itu
diperolok, malah ada sebagian yang sudah Islampun merasa ragu. Tidak
sedikit orang yang berkata ketika itu: Soalnya sudah jelas . Perjalanan
kafilah Mekah-Syam yang terus-meneruspun memakan waktu sebulan pergi
dan sebulan pulang. Mana mungkin hanya satu malam saja Muhammad
pergi pulang keMekah!
Tidak sedikit mereka yang sudah Islam kemudian berbalik murtad,
dan tidak sedikit pula yang masih merasa sangsi. Mereka pergi menemui
Abu Bakr, karena mereka mengetahui keimanannya dan persahabatannya
dengan Muhammad. Mereka menceritakan apa yang telah dikatakannya
kepada mereka itu mengenaiIsra. Terkejut mendengar apa yang mereka
katakan itu Abu Bakr berkata:
"Kalian berdusta."
"Sungguh,"kata mereka."Dia dimesjid sedang berbicara dengan Orang
banyak."
"Dan kalaupun itu yang dikatakannya,"kata Abu Bakr lagi,"tentu ia
mengatakan yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita
dari Tuhan, dari langit kebumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya.
Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."

66
Abu Bakr lalu pergi kemesjid dan mendengarkan Nabi yang sedang
Melukiskan keadaan Baitul mukadas. Abu Bakr sudah pernah mengunjungi
kota itu. Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata:
"Rasulullah, saya percaya."
Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan "as-Siddlq".
Pernahkah suatu kali orang bertanya dalam hati: Sekiranya Abu Bakr
juga sangsi seperti yang lain mengenai apa yang diceritakan Rasulullah
tentang Isra itu, maka apa pula kiranya yang akan terjadi dengan agama
yang baru tumbuh ini, akiba tkesangsian itu? Dapatkah orang
memperkirakan berapa banyak jumlah orang yang akan jadi murtad, dan
goyahnya keyakinan dalam hati kaum Muslimin yang lain? Pernahkah kita
ingat, betapa jawaban Abu Bakr ini memperkuat keyakinan orang banyak,
dan betapa pula ketika itu ia telah memperkuat kedudukan Islam?
Kalau dalam hati orang sudah bertanya-tanya, sudah memperkirakan
dan sudah pula ingat, niscaya ia tak akan ragu lagi memberikan penilaian,
bahwa iman yang sungguh-sungguh adalah kekuatan yang paling besar
dalam hidup kita ini ,lebih besar dari pada kekuatan kekuasaan dan
despotisma sekaligus. Kata-kata Abu Bakr itu sebenarnya merupakan salah
satu inayah Ilahi demi agama yang benar ini. Kata-kata itulah sebenarnya
yang merupakan pertolongan dan dukungan yang besar, melebihi dukungan
yang diberikan oleh kekuatan Hamzah dan Umar sebelumnya. Ini memang
suatu kenyataan apabila didalam sejarah Islam Abu Bakr mempunyai tempat
tersendiri sehingga Rasulullah berkata: "Kalau ada diantara hamba Allah
yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakr-lah
khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai
tiba saatnya Allah mempertemukan kita."
Kata-kata Abu Bakar mengenai Isra’ Mi’raj menunjukkan
pemahamannya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat
ditangkap oleh kebanyakan orang. Disinilah pula Allah telah
memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang teman
dekat saat ia di pilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk menyampaikan
risalah-Nya kepada umat munusia. Itulah pula bukti kuat, bahwa kata yang
baik seperti pohon yang baik, akarnya tertanam kukuhdan cabangnya
(menjulang) ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman, dengan
karunia Allah. Ia tak akan di kalahkan oleh waktu, tak akan dilupakan.11
Pengorbanan Abu Bakar terhadap Islam tidak dapat diragukan. Ia juga
pernah ditunjuk Rasul sebagai penggantinya untuk mengimami shalat ketika
Nabi sakit. Pada tahun 623 M bersamaan dengan hari wafatnya Rasulullah,
beliau diangkat menjadi khalifah setelah dibai’at oleh kaum muslimin.
Setelah menjalankan tugas khalifah selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari,
beliau wafat pada tanggal 23 Agustus 624 M setelah lebih kurang 15 hari
terbaring ditempat tidur karena sakit.12

11 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 11.


12 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2013, h. 98

67
3. Sistem Pemilihan Khalifah

Subuh hari itu Rasulullah Sallallahn 'alaihi wasallam merasa sudah


sembuh dari sakitnya. Ia keluar dari rumah Aisyah kemesjid dan ia sempat
berbicara dengan kaum Muslimin. Dipanggilnya Usamah bin Zaid dan
diperintahkannya berangkat untuk menghadapi Rumawi.
Setelah tersiar berita bahwa Rasulullah telah wafat tak lama setelah
duduk-duduk dan berbicara dengan mereka, mereka sangat terkejut sekali.
Umar bin Khattab yang berada ditengah-tengah mereka berdiri dan
berpidato, membantah berita itu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah tidak
meninggal, melainkan sedang pergi menghadap Tuhan seperti halnya
dengan Musa bin Imran, yang menghilang dari masyarakatnya selama
empat puluh malam, kemudian kembali lagi setelah tadinya dikatakan
meninggal. Umar terus mengancam orang-orang yang mengatakan bahwa
Rasulullah telah wafat. Dikatakannya bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi
wasallam akan kembali kepada mereka dan akan memotong tangan dan kaki
mereka.
Abu Bakr sudah pulang kerumahnya di Sunh dipinggiran kota
Medinah setelah Nabi 'alaihis-salam kembali dari mesjid kerumah Aisyah.
Sesudah tersiar berita kematian Nabi orang menyusul Abu Bakr
menyampaikan berita sedih itu. Abu Bakr segera kembali. La melihat
Muslimin dan Umar yang sedang berpidato. Ia tidak berhenti tetapi terus
menuju kerumah Aisyah. Dilihatnya Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam
disalah satu bagian dalam rumah itu, sudah diselubungi kain. Ia maju
menyingkap kain itu dari wajah Nabi lalu menciumnya dan katanya:
"Alangkah sedapnya sewaktu engkau hidup, dan alangkah sedapnya
sewaktu engkau wafat. "la keluar lagi menemui orang banyak lalu berkata
kepada mereka: "Saudara-saudara! Barang siapa mau menyembah
Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa menyembah
Allah, Allah hidup selalu, tak pernah mati."Selanjutnya ia membacakan
firman Allah:
     
    
   
    
    
   
 
Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh
telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik
ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.

Setelah didengarnya Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh


tersungkur ketanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah
dia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat. Orang semua terdiam

68
setelah mendengar dan melihat kenyataan itu. Setelah sadar dari rasa
kebingungan demikian, mereka tidak tahu apa yang hendak merekaperbuat.
Setelah Nabi wafat, umat Islam terjadi konflik yang kritis mengenai
siapakah pengganti Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak menunjuk
siapa-siapa yang akan menggantikan Beliau, bahkan bagaimana memilih
dan mencari sosok tersebut Beliau tidak memberikan petunjuk.
Meskipun demikian, sebenarnya Nabi SAW telah memberikan contoh
bagaimana sebuah negara dijalankan, yaitu asas musyawarah. Beliau
senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat setiap akan menghadapi
sebuah peperangan, tidak semata-mata atas pemikiran Beliau. Beliau
senantiasa membuka lebar pendapat sahabat-sahabatnya. Sehingga tanpa
disusun adanya teori, Nabi Muhammad SAW menganjurkan bahkan
menurut ahli fiqih, anjuran Nabi SAW bisa berarti perintah asas
musyawarah yang tiada lain sama dengan demokrasi.
Dalam menanggapi masalah ini para sahabat yang terbagi menjadi
empat kelompok (Kaum Anshor, Muhajirin, keluarga dekat Nabi/Ahlul Bait
dan kelompok Aristokrat Mekkah)13berkumpul untuk membicarakan siapa
yang akan memegang kepemimpinan umat.
Khalifah Abu Bakar memangku jabatan berdasarkan pilihan yang
berlangsung secara demokratis dalam pertemuan di Tsaqifah (balairung)
Bani Sa’idah. Tata cara tersebut sesuai degan sistem perundingan yang
digunakan di zaman modern sekarang ini.
Tidak adanya pesan khusus Nabi Muhammad tentang calon
penggantian kepemimpinan negara mendorong umat islam pada waktu itu
secepatnya mencari penggantinya. Kaum anshar mengadakan pertemuan di
tsaqifah bani sa’idah yang menghasilkan kesimpulan sementara yaitu Kaum
Anshar, menekankan pada persyaratan jasa yang mereka telah berikan bagi
umat islam dan pengembangan islam. Dengan demikian, maka pengganti
kedudukan nabi sebagai kepala negara pantas di pilih dari golongan
mereka.14 Mereka mengajukan calon sebagai kandidat pemimpin yaitu
Sa’ad bin Ubadah.
Ketika itu Abu Bakr, Ali bin Abi Talib dan keluarga Nabi yang lain
sedang berada disekeliling jenazah, menyiapkan segala sesuatunya untuk
pemakaman. Umar, setelah yakin benar bahwa Nabi memang sudah wafat,
mulai berpikir apa yang akan terjadi sesudah itu. Tak terlintas dalam
pikirannya bahwa pihak Ansar sudah lebih dulu berpikir kearah itu, atau
mereka ingin menguasai keadaan diluar yang lain. Dalam at-Tabaqat Ibn
Sa'd mengatakan:
"Umar mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah dengan mengatakan:
'Bentangkan tanganmu akan ku baiat engkau. Engkaulah orang kepercayaan
umat ini atas dasar ucapan Rasulullah. Abu Ubaidah segera menjawab:
"Sejak engkau masuk Islam tak pernah kau tergelincir. Engkau akan
memberikan sumpah setia kepadaku padahal masih ada AbuBakr?'"

13 Muhaimin, Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Kawasan dan Wawasan Studi Islam,

Jakarta: Prenada Media, h. 233


14 Mahmud Maan Sadifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta: Bulan Bintang, 1978, h.

27.

69
Sementara mereka sedang berdialog demikian itu, berita tentang
Ansar serta pertemuan mereka di Saqifah Banu Sa'idah sampai kepada
Umar dan kawan-kawan. Umar mengutus orang menyusul Abu Bakr di
rumah Aisyah dan memintanya segera datang. Abu Bakr mengatakan
kepada utusan itu: Saya sedang sibuk. Tetapi Umar menyuruh kembali lagi
utusan itu dengan pesan kepada AbuBakr: "Ada suatu kejadian penting
memerlukan kedatanganmu."
Dengan penuh keheranan Abu Bakr datang menemui Umar. Ada
persoalan apa meminta ia datang sampai harus meninggalkan persiapan
jenazah Rasulullah.
"Engkau tidak tahu,"kata Umar kemudian, "bahwa Ansar sudah
berkumpul di Saqifah Banu Sa'idah. Mereka ingin menyerahkan pimpinan
ini ketangan Sa'd bin Ubadah. Ucapan yang paling baik ketika ada yang
mengatakan: Dari kami seorang amir dan dari Kuraisy seorang amir."
Mendengar itu, tanpa ragu lagi Abu Bakr bersama Umar berangkat
cepat-cepat ke Saqifah disertai juga oleh Abu Ubaidah bin Jarrah.
Bagaimana ia akan ragu sedang masalah yang dihadapinya kini masalah
Muslimin dan hari depannya, bahkan masalah agama yang telah
diwahyukan kepada Muhammad serta masa depannya juga. Dalam-
mengurus jenazah Rasulullah sudah ada keluarganya, mereka yang akan
mempersiapkan pemakaman. Maka sebaliknya ia dan kedua sahabatnya itu
pergi ke Saqifah. Ini sudah menjadi kewajiban; suatu hal yang tak dapat
dipikulkan kepada orang lain. Tak boleh seharipun dibiarkan tanpa suatu
tanggung jawab serta memikul beban yang betapapun beratnya, meskipun
harus dengan pengorbanan harta dan nyawa.
Tatkala ketiga orang itu tiba, pihak Ansar masih berdiskusi, belum
mengangkat Sa'd, juga belum mengambil suatu keputusan mengenai
kekuasaan itu. Seperti menyesali keadaan, orang-orang Ansar itu terkejut
melihat kedatangan mereka bertiga. Orang-orang Ansar berhenti bicara.
Ditengah-tengah mereka ada seorang laki-laki berselimut, yang oleh Umar
bin Khattab ditanya siapa orang itu.
"Ini Sa'd bin Ubadah, sedang sakit, "jawabmereka.
Abu Bakr dan kedua kawannya itu juga duduk ditengah-tengah
mereka dengan pikiran masing-masing sudah ditimbuni oleh pelbagai
pertanyaan, apa yang akan dihasilkan oleh pertemuan itu.
Sementara kaum Muhajirin, mendesak abu Bakar sebagai calon
mereka Karena dipandang paling layak untuk menggantikan Nabi. Sedang
Ahlul Bait menghendaki Ali bin Abi Thalib dicalonkan sebagai khalifah.
Pengajuan nama Ali dalam permusyawaratan tersebut didasari atas jasa,
kedudukan dan statusnya sebagai anak angkat sekaligus menantu
Rasulullah.15
Perdebatan siapa yang paling berhak menggantikan kedudukan Nabi
SAW. sebagai kepala pemerintahan, hampir menimbulkan konflik internal
dikalangan umat islam, antara Muhajirin dengan Anshar dan Bani Abbas.
Melalui perdebatan panjang dengan argumentasi masing-masing, akhirnya
Abu Bakar disetujui secara aklamasi menduduki jabatan khalifah.

15 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, . . . h. 92

70
Musyawarah yang menghasilkan “mufakat bulat” itu merupakan suatu
tradisi baru dalam musyawarah yag berdasarkan ukhuwah. Menurut Fazlur
Rahman bahwa sistem syura dalam Al-Qur’an adalah mengubah syura dari
sebuah institusi suku menjadi institusi komunitas, karena ia menggantikan
hubungan darah dengan hubungan iman.16 Dilihat dari perspektif ini, maka
pilihan kelompok muslim modernis kepada demokrasi bukanlah sesuatu
yang dibuat-buat, atau sesuatu yang bersifat akomodatif terhadap institusi
politik demokratik Barat, tetapi Al-Qur’an memang mengajar demikian,
sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada masa awal
kepemimpinan umat.
Selesai dipilih, Abu Bakar berpidato yang isinya: “Wahai manusia!
Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukan
orang yang terbaik diantara kamu. Maka jikalau aku menunaikan tugasku
dengan baik, bantulah aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah!
Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat
mengambil hak dari padanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku
pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka
hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-
Nya, namun bilamana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu
tidaklah perlu menaatiku.”17
Pidato tersebut menggambakan kepribadian Abu Bakar dan kejujuran
serta ketulusannya sebagai seorang pemimpin umat yang sangat demokratis.
Beliau merasa bahwa tugas yang diembannya tidak akan berjalan dengan
baik kalau tidak mendapat dukungan dari para sahabatnya. Karena itu, ia
menginginkan agar masyarakat ikut serta dalam mengontrol perjalanan
dalam kepemimpinannya agar pelaksanaan pemerintahan berjalan dengan
baik. Itulah tipe seorang pemimpin yang sangat demokratis, ia tidak gila
kedudukan, jabatan dan harta.
Kepemimpinan Abu Bakar sangat diwarnai jiwa yang demokratis.
Selama masa dua tahun memegang tampu pemerintahan, sangatlah nampak
kedemokrasian Abu Bakar. Kepemimpinannya dapat disimpulkan dari salah
satu isi pidatonya pada hari pembaiatan bahwa ia akan mengakui
kekurangan dan kelemahannya serta memberikan hak berpendapat untuk
menegur dan memperbaiki khalifah bila berbuat salah.18
Ketika pelantikan Abu Bakar selesai sudah di Saqifah, jenazah Nabi
di rumah masih dikelilingi keluarga: Ali Ibn Abi Talib, Abbas Ibn Abdul
Muttalib bersama beberapa orang yang ikut menyelenggarakan. Tidak jauh
dari mereka, di dalam masjid ada juga beberapa orang dari kalangan
Muhajirin.
Seperti kita lihat, bai’at ini selesai dalam keadaan yang membuat
beberapa sumber menghubungkan kata-kata ini pada Umar: “peristiwa
sangat tiba-tiba sekali.”

16 A. Syafi Ma’arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta, LP3ES, 1985, h. 50


17 A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru,
2003, h. 196
18 Muhaimin, Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, . .

. h. 242

71
Tetapi sumber-sumber lain berpendapat, bahwa Abu Bakar, Umar dan
Abu Ubaidah sudah sepakat, bahwa pimpinan memang akan berada di
tangan Abu Bakar. Apapun yang akan dikatakan kedua sumber itu, yang tak
jelas ialah, bahwa keputusan Saqifah ini telah menyelamatkan Islam yang
baru tumbuh itu dari malapetaka, yang hanya Allah saja yang tahu akan
segala akibatnya. 19
Abu Bakar telah meratakan jalan untuk menghilangkan segala
perselisihan dikalangan muslimin. Ia juga telah meratakan jalan menuju
politik yang polanya sudah diletakkan oleh Rasullullah untuk mencapai
keberhasialan sehingga membuka pula jalan kearah kedaulatan Islam di
kemudian hari. Dengan karunia Allah juga, akhirnya agama ini tersebar ke
segenap penjuru dunia.
Sejak kejadian Saqifah itu pihak Anshor sudah tidak lagi berambisi
untuk memegang pimpinan Muslimin. Baik pada waktu pelantikan Umar
Ibn Khatab, pelantikan Usman Ibn Affan sampai pada waktu terjadinya
pertentangan antara ali dengan Muawiya, hak anshar tidak berbeda dengan
apa yang sudah diperoleh oleh kalangan Arab lainnya, seolah mereka sudah
yakin benar apa yang pernah dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa dalam hal
ini orang-orang Arab itu hanya mengenal lingkungan Quraisy. Bahkan
sesudah itu mereka merasa cukup senang hidup disamping Muhajirin.
Merekapun puas sekali dengan wasiat Rasulullah dalam sakitnya yang
terakhir tatkala berkata: 20
“Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu dengan baik;
sebab selama orang bertamah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu
juga keadaanya, tidak bertambah. Mereka orang-orang tempat aku
menyimpan rahasiaku dan yang telah memberikan perlindungan kepadaku.
Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah
kesalahan mereka.”
Tak lama setelah selasai pelantikan itu Abu Bakar dan mereka yang
hadir di Tsaqifah kembali ke Masjid. Waktu itu sudah sore. Kaum Muslimin
sedang mengikuti berita-berita dari rumah Aisyah mengenai
penyelenggaraan pemakaman Rasulullah.
Keesokan harinya ketika Abu Bakr sedang duduk dimesjid, Umar
datang meminta maaf atas peristiwa kemarin tatkala ia berkata kepada kaum
Muslimin, bahwa Nabi tidak mati.
"Kepada Saudara-saudara kemarin saya mengucapkan kata-kata yang
tidak terdapat dalam Kitabullah, juga bukan suatu pesan yang diberikan
Rasulullah kepada saya. Ketika itu saya berpendapat, bahwa Rasulullah
yang akan mengurus soal kita, sebagai orang terakhir yang tinggal bersama-
sama kita. Tetapi Allah telah memberikan Qur'an untuk selamanya kepada
kita, yang juga menjadi penuntun Rasul-Nya. Kalau kita berpegang teguh
pada Qur'an, Allah akan membimbing kita yang juga telah membimbing
Rasulullah. Sekarang Allah telah menyatukan segala persoalan kita ditangan
sahabat Rasulullah—Sallallahu'alaihl wasallam—orang yang terbaik
diantara kita dan dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada
dalam gua. Maka marilah kita baiat dia, kita ikrarkan."
19 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 45.
20 Muhammad Husean Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 46.

72
4. Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah (pengganti Nabi)
sebagaimana dijelaskan pada peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah, merupakan
bukti bahwa Abu Bakar menjadi Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri,
tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Dengan terpilihnya Abu
Bakar menjadi Khalifah, maka mulailah beliau menjalankan
kekhalifahannya, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai
pemimpin pemerintahan.
Ucapan pertama ketika di bai’at, ini menunjukkan garis besar politik
dan kebijaksanaan Abu Bakar dalam Pemerintahan. Di dalamnya terdapat
prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan
keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari
takwa. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Abu bakar
melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik kebijaksanaan dalam
kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama, diantara kebijaksanaannya
ialah sebagai berikut:
a. Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama
Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang
datang dari umat Islam sendiri yang menentang kepemimpinannya.
Diantara perbuatan makar tersebut ialah timbulnya orang-orang yang
tidak mau mengeluarkan zakat, orang-orang yang mengaku menjadi
Nabi, dan pemberontakan dari beberapa Kabilah.
Ada beberapa kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar yang
menyangkut terhadap Agama antara lain :
1) Memerangi Nabi palsu, orang-orang yang murtad (Riddah) dan tidak
mengeluarkan zakat
a) Memerangi Kaum Murtad
Peristiwa kaum murtad ini dikenal dengan istilah “Ar-riddah”,
yang berarti kemurtadan atau beralih agama dari Islam kepada
kepercayaan semula. Secara politis, Ar-riddah merupakan
pembangkangan terhadap lembaga kekhalifahan. Gerakan ini muncul
sebagai akibat kewafatan Rasulullah Saw. Mereka melepaskan
kesetiaannya kepada khalifah, bahkan menentang agama Islam karena
menganggap bahwa perjanjian yang dibuat Rasulullah Saw. batal
disebabkan kewafatannya. Gerakan mereka mengancam stabilitas
keamanan wilayah dan kekuasaan Islam. Oleh karena itu, khalifah
dengan tegas melancarkan operasi pembersihan gerakan tersebut.21
kabilah-kabilah yang tinggal diantara Mekah, Medinah dan Ta'if
keislamannya sudah mantap. Mereka ini terdiri dari kabilah-kabilah
Muzainah, Gifar, Juhainah, Bali, Asyja', Aslam dan Khuza'ah. Sedang
kabilah-kabilah lain masih belum menentu. Diantara mereka, yang
baru masuk Islam, ada yang murtad, ada yang karena ajaran Islam
21Sulasman dan Suparman, Sejarah Islam di Asia dan Eropa, Bandung: Pustaka

Setia, 2013, h. 64.

73
belum meresap kedalam hati mereka, dan ada pula yang karena
memang keyakinannya yang sudah kacau. Disamping itu, yang terbaik
di antara mereka ada yang tetap berpegang pada Islam namun tidak
menyukai adanya kekuasaan Medinah, baik oleh kalangan Muhajirin
atau Ansar. Mereka itulah yang menganggap zakat itu sebagai pajak
yang dibebankan Medinah kepada mereka. Jiwa mereka yang mau
bebas dari segala kekuasaan menentang. Sejak masuk Islam mereka
mau melaksanakan kewajiban itu hanya kepada Rasulullah yang sudah
menerima wahyu, dan yang menjadi pilihan Allah sebagai Nabi
diantara hamba-Nya. Tetapi karena Nabi sudah berpulang
kerahmatullah, maka tak ada dari penduduk Medinah yang patut
dimuliakan. Selain Nabi, mereka tidak berhak memungut zakat.
Kabilah-kabilah yang merasa keberatan menunaikan zakat ialah
mereka yang tidak jauh dari Medinah, terdiri dari kabilah Abs dan
Dubyan serta kabilah-kabilah lain yang bergabung dengan mereka,
yakni Banu Kinanah, Gatafan dan Fazarah. Mereka yang tinggal jauh
dari Medinah lebih gigih lagi menentang. Sebagian besar mereka
mengikuti orang-orang yang mendakwakan diri nabi, seperti Tulaihah
dikalangan Banu Asad, Sajah dari BanuTamim, Musailimah di
Yamamah dan Zut TajLaqit bin Malik di Oman, disamping sejumlah
besar pengikut-pengikut Aswad al-Ansi di Yaman. Mereka menjadi
pengikutnya hanya sampai waktu orang itu sudah mati. Sesudah itu
mereka masih bersikeras dengan mengobarkan fitnah dan
pembangkangan hingga berakhirnya perang Riddah.22
Terjadinya pergolakan dikota-kota dan didaerah-daerah
pedalaman terhadap kekuasaan Kuraisy itu serta berbaliknya mereka
dariI slam, bukan karena letak geografisnya dengan Medinah saja,
tetapi karena faktor-faktor masyarakat Arab dan unsur-unsur asing
lainnya, yang bekasnya tampak sekali pada saat-saat terakhir masa
Rasulullah.
Islam tersebar dan masuk kedaerah-daerah yang jauh dari
Mekah dan Medinah di semenanjung itu baru setelah penaklukan
Mekah serta terjadinya ekspedisi Hunain dan pengepungan Ta'if.
Sampai pada waktu itu kegiatan Rasulullah terbatas disekitar kedua
kota suci itu, Mekah dan Medinah. Islam baru keluar perbatasan
Mekah tak lama sebelum hijr'ah keYasrib (Medinah). Sampai sesudah
hijrahpun selama beberapa tahun berikutnya kegiatan Nabi tetap
tertuju untuk menjaga kebebasan dakwah Islam ditempat yang baru
ini. Setelah kaum Muslimin berhasil menghilangkan kekuasaan
Yahudi di Yasrib, dan sesudah memperoleh kemenangan di Mekah,
barulah orang-orang itu mau menerima agama yang benar ini. Utusan-
utusan berdatangan dari segenap penjuru Semenanjung untuk
menyatakan telah masuk Islam. Nabipun mengutus wakil-wakilnya
untuk mengajarkan dan memperdalam ajaran Islam serta sekaligus
memungut zakat atau sedekah.

22 Muhammad Husean Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 59

74
Wajar saja bila agama ini tidak dapat mengakar kedalam hatika
bilah-kabilah itu seperti yang sudah dihayati oleh penduduk Mekah
dan Medinah serta masyarakat Arab yang berdekatan disekitarnya.
Ditempat asalnya Islam memerlukan waktu dua puluh tahun penuh
untuk menjadi stabil. Selama itu pula lawan-lawannya terus berusaha
mati-matian melancarkan permusuhan, yang berlangsung hingga
selama beberapa tahun. Akibat dari semua itu, kemudian permusuhan
berakhir dengan kemenangan ditangan Islam. Ajaran-ajarannya
sekarang dapat dirasakan dan meresap kedalam hati orang-orang Arab
Mekah, Ta'if, Medinah sertatempat-tempat dan kabilah-kabilah
berdekatan yang dapat berhubungan dengan Rasulullah dan sahabat-
sahabatnya. Tetapi mereka yang berada jauh dari daerah yang pernah
menyaksikan kegiatan Muhammad selama bertahun-tahun terus-
menerus itu, mengajak orang kepada ajaran Allah dan agama Allah,
agama baru itu tidak membekas pada mereka. Bahkan mereka
memberontak dan berusaha hendak kembali kepada kebebasan politik
dan agamanya yang lama.23
Dalam membangkit kan pergolakan ini faktor-faktor asing
sebenarnya tidak pula kurang pengaruhnya daripada faktor-faktor
setempat. Mekah dan Medinah serta para kabilah disekitarnya sama
sekali tidak mau tunduk pada kekuasaan Persia atau Rumawi yang
ketika itu memang sedang menguasai dunia. Bagian utara
Semenanjung itu bersambung dengan Syam, sebelah selatannya
bersambung dengan Persia dan berdekatan dengan Abisinia(Etiopia),
dan keduanya sudah berada dibawah pengaruh kedua imperium itu.
Bahkan kawasan itu dan beberapa keamiran sudah berada dibawah
kekuasaan mereka. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika
pihak yang merasa punya pengaruh dan kekuasaan itu mati-matian
berusaha hendak menentang agama baru ini dengan segala cara,
dengan jalan propaganda politik, menganjurkan kekuasaan otonomi,
dan dengan propaganda agama, kadang untuk kepentingan pihak
Nasrani, kadang untuk kepentingan pihak Yahudi dan adakalanya
untuk kepentingan paganisma Arab.
Kegiatan segala faktor itu tampak jelas pengaruhnya bcgitu
tersebar berita tentang kematian Nabi. Dengan cukup berhati-hati
kegiatan Itu sebenarnya memang sudah mulai tampak sebelum
Rasulullah wafat.

b) Gerakan Terhadap Orang-orang yang Enggan Membayar Zakat


Adapun orang-orang yang tidak mau membayar zakat di
antaranya ada yang semata-mata karena kedegilannya. Orang-orang ini
memandang zakat suatu pajak yang dipaksakan, karena itu mereka
tidak mau mematuhinya. Tetapi golongan terbesar dari mereka tidak
mau membayar zakat adalah karena salah memahamkan ayat suci QS
At-Taubah: 103:

23 Muhammad Husean Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 60

75
   
 
    
    
  
Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah
untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman
jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Mereka mengira bahwa hanya Nabi Muhammad sajalah yang


berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil
zakat pada ayat tersebut. Menurut paham mereka, hanya pemungutan
yang dilakukan Nabi Muhammad saja yang dapat membersihkan dan
menghapus kesalahan-kesalahan dari ayat suci tersebut, begitu juga
ayat-ayat lain yang lebih jelas lagi, seperti firman Allah QS. Al-
Ma’arij: 24-25:
  
  
 

Artinya: dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian
tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)

c) Gerakan Penumpasan Nabi Palsu


Setelah Rasulullah wafat, seluruh jazirah Arab murtad dari
agama Islam kecuali Makkah, Madinah, dan Thaif. Sebagian orang
murtad ini kembali kepada kekufuran lamanya dan mengikuti orang-
orang yang mengaku sebagai nabi, sebagian yang lain hanya tidak
mau membayar zakat.
Orang yang mengaku sebagai nabi sebenarnya sudah ada pada
hari-hari terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, walaupun
mereka masih sembunyi-sembunyi.
Dari kekacauan yang muncul di awal pemerintahan tersebut,
Abu Bakar bekerja keras untuk menumpasnya .
Untuk menumpas kelompok-kelompok tersebut di atas, Maka
Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin
menentukan apa tindakan yang harus diambil mengatasi kesulitan-
kesulitan ini.
Para sahabat menasehati Abu Bakar agar dia tidak memerangi
mereka karena kondisi ummat Islam yang sangat sulit dan karena
sebagian pasukan Islam sedang diberangkatkan untuk berperang
melawan tentara Ramawi yang dipimpin oleh Usama Ibn Zaid. Namun
Abu Bakar menolak usulan mereka.
Didalam kesulitan yang memuncak inilah kelihatan kebesaran
jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar. Dengan tegas dinyatakannya
seraya bersumpah, bahwa beliau akan memerangi semua golongan

76
yang telah menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, maupun
yang mengaku jadi nabi, ataupun yang tidak mau membayar zakat,
sehingga semuanya kembali kepada kebenaran, atau beliau gugur
sebagai syahid dalam memperjuangkan kemuliaan agama Allah.
Tatkala Abu Bakar mengantarkan pasukan Usama, para sahabat
segera keluar ketempat-tempat masuk kota Madinah untuk
menjaganya. Dia memerintahkan kepada kaum muslimin untuk selalu
siap siaga di masjid untuk bersiap-siap menjaga kemungkinan
terjadinya serangan mendadak di kota Madinah agar mereka akan
gampang mengusir musuh yang datang itu. Abu Bakar keluar sendiri
melihat kondisi pintu-pintu masuk kota Madinah.
Tak berapa lama datang sedekah dalam jumlah yang sangat
banyak dari berbagai pihak. Setelah berlangsung dua bulan, pasukan
Usamah kembali dengan membawa kemenangan.
Abu Bakr tinggal di Medinah sampai benar-benar ia merasa
yakin bahwa pasukan Usamah sudah berkumpul semua, kemudian
bersama mereka ia berangkat ke Zul-Qassah. Pasukan itu dibaginya
menjadi sebelas brigade dengan masing-masing dibawah pimpinan
satu orang. Kemudian ia mengeluarkan perintah kepada mereka
masing-masing agar memobilisasi Muslimin yang kuat-kuat dan
dipersiapkan untuk berangkat menghadapi kaum murtad.
Abu Bakr membagi brigade-brigade itu sehingga jumlah dan
pimpinan masing-masing berimbang dengan kekuatan kabilah yang
akan dihadapi serta berapa jauh kegigihan kabilah-kabilah itu dalam
melakukan kemurtadan. Karenanya ia menempatkan:
1. Khalid bin Walid memimpin brigade pertama untuk menggempur
Tulaihah bin Khuwailid dari Banu Asad. Selesai dari sana ia harus
berangkat menghadapi Malik bin Nuwairah, pemimpin Banu
Tamim di Butah. Banu Asad dan Banu Tamim ini kabilah-kabilah
murtad yang terdekat ke Medinah. Wajar sekali bila Muslimin
harus memulai dari mereka untuk memperlihatkan kehancuran
mereka dimata kekuatan-kekuatan yanglain. Khalid adalah
komandan yang paling pantas untuk memperoleh kemenangan.
2. Ikrimah bin Abi Jahl oleh Abu Bakr ditempatkan sebagai
komandan brigade kedua untuk menghadapi Musailimah dari Banu
Hanifah di Yamamah, dan
3. Syurah bil bin Hasanah pada brigade ketiga dengan perintah untuk
membantu Ikrimah dalam menghadapi Musailimah. Setelah tugas
itu selesai Syurah bil diperintahkan menyusul Amr bin As sebagai
bala bantuan dalam menghadapi Quda'ah. Buat Ikrimah dan Syurah
bil tampaknya Yamamah cukup alot, yang kemudian datang Khalid
bin Walid yang akhirnya dapat menumpas kaum murtad setelah
Musailimah terbunuh dalam pertempuran 'Aqriba'.
4. Abu Bakr menempatkan Muhajir bin Abi Umayyah al-Makhzumi
memimpin brigade keempat untuk menghadapi pasukan Aswad di
Yaman, Amr bin Ma' di Karibaz-Zubaidi dan Qais bin Maksyuh al-
Muradi. Bila tugas ini sudah diselesaikan, mereka harus berangkat

77
ke Kindah dan Hadra maut untuk menghadapi Asy'as bin Qais serta
para pemberontaknya.
5. Brigade kelima ditugaskan ke Tihamah Yaman, dipimpin oleh
Suwaid bin Muqarrin al-Awsi.
6. Brigade keenam dipimpin oleh Ala' bin al-Hadrami untuk
menyerbu Hutam bin Dabi'ah sekutu Banu Qais bin Sa'labah yang
murtad di Bahrain.
7. Huzaifah bin Mihsan al-Gilfani dari Himyar memimpin brigade
ketujuh untuk memerangi Zut-Taj Laqit bin Malik al-Azdi yang
mengaku nabi di Oman.
8. Brigade kedelapan dipimpin oleh Arfajah bin Harsamah menuju
Mohrah. Sudah wajar sekali bila brigade-brigade itu dikerahkan
keselatan mengingat kekuatan ada dibagian ini serta kegigihannya
yang bertahan sebagai kaum murtad.
9. Sedangkan Semenanjung bagian utara cukup dihadapi oleh tiga
brigade, salah satunya dipimpin oleh Amr bin As untuk
menghadapi Quda'ah, yang kedua dipimpin oleh Mi'an bin Hajiz
as-Sulami untuk menghadapi Banu Sulaim dans ekutu-sekutunya di
Hawazin, dan yang ketiga dipimpin oleh Khalid bin Sa'id bin As
untuk membebaskan dataran Syam.
Untuk melindungi kota Medinah Abu Bakr memperkuatnya
dengan brigade yang lebih kecil. Soalnya ketika itu Medinah sudah
aman dari kemungkinan adanya serangan dari luar. Kota yang
makmur membuat penduduk hidup lebih tenteram. Bagaimana
mungkin kabilah itu akan dapat menyerang Medinah sementara
serangan kota itu diarahkan ke segenap penjuru. Berita kemenangan
pasukannya sudah terdengar ke mana-mana disamping kekuatan dan
keberaniannya, yang selama sangat didambakan oleh para
pemberontak.24
Sejak itu Abu Bakr tidak lagi menginggalkan Medinah. Bukan
karena tidak ingin bersama-sama dengan Muslimin dalam segala
perjuangan itu, tetapi karena Medinah sudah menjadi markas
komando tertinggi seluruh pasukan, dan sumber semua pengiriman
perintah untuk bergerak dari tempat ketempat yang lain. Abu Bakr
mengeluarkan perintah kepada semua komandan pasukan agar jangan
ada yang pindah dari perang berkelompok yang sudah dimenangkan
untuk bergerak ketempat lain sebelum mendapat izin. Dia yakin sekali
bahwa kesatuan komando dalam perang merupakan salah satu taktik
yang paling kuat dan tepat, dan jaminan untuk mencapai kemenangan.
Brigade Khalid bin Walid adalah yang terkuat dari antara
sebelas brigade yang dibentuknya. Anggotanya terdiri atas para
pejuang pilihan dari Muhajirin dan Ansar. Dan barang kali Khalid
sendiri yang memilih mereka. Nanti akan kita lihat bahwa dalam
Perang Riddah mereka telah benar-benar berjuang mati-matian.
Kemudian dalam menghadapi Irak dan Syam perjuangan mereka juga
tiada taranya, tiada celanya.

24 Muhammad Husean Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 98-99.

78
Tidak heran jika demikian keadaan brigade yang dipimpin oleh
Khalid bin Walid. Allah telah memberi karunia berupa bakat
kepadanya, seperti yang diberikan kepada Iskandar Agung, Jengiz
Khan, Julius Caesar, Hannibal dan Napoleon. Ia seorang pahlawan
lapangan yang berani dan nekat, penilaiannya cepat dan tepat, tak
pernah mundur menghadapi bahaya, pandai mengelak dan menyerang
dalam perang. Sudah banyak orang yang menyaksikan kejelian dan
kehebatannya dimedan perang.
Rasulullah pernah memberikan gelar Saifullah—"Pedang Allah"
kepadanya tatkala ia memimpin pasukan di Mu'tah setelah
terbunuhnya Zaid bin Harisah, Ja'far bin Abi Talib dan Abdullah bin
Rawahah. Dalam menghadapi pasukan Rumawi ia pandai mengelak
dan menyerang, kemudian ia berbalik dan dapat melepaskan diri
dengan selamat. Meskipun tidak membawa kemenangan, tetapi juga
tidak dalam kekalahan yang memalukan. Khalid Saifullah selalu
berada dalam medan pertempuran sampai akhir hayatnya.
Sebelum menganut Islam Khalid adalah seorang pahlawan
Kuraisy yang ditakuti dan penunggang kuda yang hebat. Dalam
Perang Badr, Uhud dan Khandaq ia masih berada dalam barisan kaum
musyrik. Ia mempunyai sifat-sifat seorang prajurit yang berwatak
kasar, cenderung pada kekerasan dan mengandalkan kekuatan. Kalau
tidak karena punya penilaian yang tepat dan cepat, wataknya akan
membahayakan dirinya sendiri. Tak pernah ia gentar menghadapi
lawan dimedan perang, tak pernah takut kepada siapapun. Ketika
Rasulullah pergi ke Mekah dalam menunaikan umrah setelah
Perjanjian Hudaibiyah kemudian kembali ke Medinah, dihadapan
orang-orang Kuraisy Khalid berkata: "Bagi orang berpikiran sehat
sudah jelas sekarang bahwa Muhammad bukan tukang sihir dan bukan
penyair. Yang dikatakannya itu ialah firman Allah seru sekalian alam.
Sudah seharusnya orang yang punya hati nurani akan mengikutinya."
Pernah terjadi diskusi dia dengan Ikrimah bin Abi Jahl, tetapi
tak sampai terjadi kekerasan karena khawatir akan akibatnya. Dalam
pertemuan itu Abu Sufyan tidakh adir. Tetapi ketika mendengar
Khalid sudah masuk Islam, dipanggilnya Khalid dan ditanya:
Benarkah demikian?
Khalid menjawab bahwa memang benar, dia sudah masuk Islam
dan bersaksi tentang kerasulan Muhammad. Abu Sufyan berang, lalu
katanya:"Demi Lat dan Uzza, kalau aku tahu apa yang kau katakan itu
benar, sebelum Muhammad tentu kaulah yang akan kumulai. "Tetapi
sebagai orang yang punya harga diri Khalid menjawab dengan nada
keras: "DemiAllah, orang suka atau tidak, sungguh dia benar."
Khalid lalu pergi ke Medinah. La segera mendapat tempat dihati
Muslimin sebagai seorang panglima perang. Ketika terjadi perang
Mu'tah, dialah Pedang Allah disana, dan Pedang Allah sesudah itu.
Ditangannya Allah memberi kemenangan atas Irak dan Syam dan
menundukkan Persia dan imperium Rumawi, dua adi kuasa yang
menguasai dunia saat itu. Tidak heran jika Abu Bakr
menempatkannya untuk memimpin brigadenya yang paling tangguh.

79
Tidak pula heran jika juga Khalid yang harus menghadapi perang
Riddah dan yang sesudahnya, seperti yang akan kita uraikan nanti
lebih lanjut.
Sebelum pemberangkatan pertama, sudah lebih dulu
dipersiapkan suatu gerakan damai dengan sebaik-baiknya. Keseluruh
Semenanjung itu terlebih dulu disiarkan surat pengumuman yang
ditujukan kepada siapa saja yang mengetahui isi surat itu, yang awam
atau yang khas, yang tetap dalam Islam atau yang murtad. Surat itu
dimulai dengan ucapan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah.
Kemudian menyebutkan bahwa risalah Muhammad itu benar datang
dari Yang Maha kuasa sebagai berita baik dan peringatan. Kemudian
menyebutkan bahwa Rasulullah telah wafat setelah selesai
menyampaikan apa yang diperintahkan Allah kepada umat manusia,
dan Allah sudah menjelaskan itu kepada umat Islam denganfirman-
Nya:
   

Artinya: Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya
mereka akan mati (pula). (Qur'an, 39: 30).

    


    
 
Artinya: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang
manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati,
Apakah mereka akan kekal? (Qur'an,21:34).
    
    
   
  
    
    
  

Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika
Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan
memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
(Qur'an,3:144).
Maksud Abu Bakr menyebutkan ayat-ayat itu untuk menangkis
pangkal fitnah dan kekacauan karena mereka mengatakan: Kalau
Muhammad benar seorang rasul, tentu ia tidak akan mati. Kemudian
setelah mengingatkan supaya orang tetap bertakwa kepada Allah dan
bertahan dengan agama-Nya, iaberkata: "Kepada saya diberitahukan
adanya orang-orang yang telah meninggalkan agamanya setelah
berikrar dalam Islam dan menjalankan segala syariatnya, berbalik
tidak lagi mengindahkan Allah Subhanahu wata'ala dan perintah-Nya,

80
tetapi sebaliknya telah mengikuti kehendak setan... Saya sudah
mengeluarkan perintah kepada polan memimpin pasukan bersenjata
yang terdiri atas kaum Muhajirin, Ansar dan para pengikut yang baik,
kepadamu sekalian, dan saya perintahkan untuk tidak memerangi dan
membunuh siapapun sebelum diajak mematuhi ajaran Allah. Barang
siapa memenuhi ajakan itu, mengakui dan meninggalkan kesesatan,
lalu kembali mengerjakan pekerjaan yang baik, harus diterima dan
dibantu. Tetapi barang siapa tetap membangkang, maka harus
diperangi dan jangan ada yang ditinggalkan. Mereka harus dihujani
dan dibakar dengan api, dibunuh; perempuan dan anak-anak ditawan,
dan siapapun janganlah diterima kecuali kedalam Islam. Barang siapa
setuju, itulah yang baik untuk dirinya dan barang siapa mengelak
Allah tidak akan lemah karenanya. Aku sudah memerintahkan
utusanku untuk membacakan surat ini kepada setiap kelompok dari
kamu sekalian. Dan ajakan itu ialah dengan azan. "Ketika itu bila
Muslimin menyerukan azan dan orang menyambut azan itu, mereka
dibiarkan, dan kalau tidak menyerukan ditanya apa sebabnya. Kalau
menolak cepat-cepat ditindak.
Abu Bakr menyiarkan seruannya itu disegenap penjuru
Semenanjung. Dengan itu tujuannya supaya mereka yang masih ragu,
mendapat kesempatan berpikir. Ternyata banyak orang yang
mengikuti penganjur-penganjuru golongan murtad itu karena mereka
takut akibatnya bila tetap bertahan dalam Islam. Jika melihat dirinya
berada diantara dua kekuatan, mereka lebih cenderung kepada Islam,
atau setidak-tidaknya diam tidak membela pemimpin-pemimpin kaum
murtad itu. Mereka sudah tidak berdaya, dan tidak sedikit dari mereka
yang tidak mengadakan perlawanan. Pengaruh rencana Abu Bakr
dengan gerakan damainya itu hasilnya akan kita lihat jelas sekali.25
Dengan dua pucuk surat serta brigade-brigade yang dibentuk
oleh Abu Bakr itu persiapan memerangi kaum murtad selesai sudah.
Semua ini kita lihats ebagai gambaran yang lengkap tentang ketegasan
politik yang diterapkan oleh Abu Bakr dalam pemerintahannya.
Sebagian orang menganggap semua ini aneh sekali, mengingat Abu
Bakr yang terkenal dengan perangainya yang sangat halus, lemah
lembut dan biasanya banyak mengalah demi kebaikan bersama.
Tetapi sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Dengan
imannya yang kuat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya Abu Bakr tak
pernah mengenai arti ragu. Orang yang berwatak lembut memang
tidak menyukai kekerasan dengan sesama manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Tetapi bila sudah berhubungan dengan soal yang sudah
menjadi keyakinannya, ia tidak lag mengukur kekerasan dan kekuatan
itu dengan kekerasannya dan kekuatannya sendiri. Pada setiap pribadi
manusia sifat-sifat itu seolah sudah tersusun dengan ukuran yang
hampir berimbang antara kekerasan dengan kelembutan. Kemudian
dalam mengukur waktu dan kesempatan, harus dengan kekerasan atau
harus dengan kelembutan, terdapat peringkat yang berbeda-beda. Ada
25 Muhammad Husean Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, . . . h. 101-105.

81
yang wataknya lebih sering dikuasai oleh kekerasan, sehingga kita
mengira ia tidak akan pernah mengendur. Kebalikannya, ada yang
wataknya lebih sering dikuasai oleh sifat lemah lembut, dan kita
mengira ia tidak akan pernah menggunakan kekerasan. Tetapi dalam
kenyataan, orang yang kita lihat sering dikuasai oleh kekerasan
kadang jadi lemah lembut sedemikian rupa, sehingga pada orang lain
yang biasa begitu halus dan lembutpun tidak kita jumpai. Orang yang
lebih sering begitu halus perasaannya, sampai ia merasa pilu dan
menangisi penderitaan orang lain, kadang menjadi orang yang sangat
tegar dan keras tak mengenal ampun, sehingga tak akan kita jumpai
pada orang yang berwatak keras sekalipun.
2) Pengumpulan Al-Qur’an

Selama dua tahun satu kwartal pemerintahan Abu Bakar, Islam


sekali lagi kembali dihidupkan. Api pemberontakan di seluruh Arabia
telah dipadamkan dan kekuasaan Islam dengan mantap ditegakkan.
Tidak, suatu daya kekuatan baru disuntikkan kedalamnya, maka ketika
saatnya tiba, dia mampu dalam satu pukulan menjungkalkan dua
kekaisaran raksasa pada masa itu. Tetapi ini hanya satu sudut pandang
dari lukisan, satu fase dari pencapaian besar khalifah. Dia juga
melakukan kerja luar biasa dalam pelayanan besar di beberapa bidang
lain. Dalam masa pemerintahannya yang pendek itu diusung
pengumpulan Qur’an Suci.
Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman
Rasulullah, bahkan sejak masa awal diturukannya al-Qur’an yang
diwahyukan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Pada masa
Rasulullah, tulisan-tulisan itu belum dikumpulkan dalam satu mushaf,
tetapi masih berserakan.
Ada para sekretaris yang selalu siaga yang melakukan
penulisannya, ada juga yang menghafalkannya dalam ingatan. Sekarang
hendaknya dicatat baha wahyu dari surat-surat tertentu itu bisa
berlangsung bertahun, karena mereka itu diturunkan sedikit demi sedikit.
Jadi, pada saat satu wahyu segar turun yang merupakan bagian dari surat
yang sudah diwahyukan sebelumnya, Nabi, ketika mengarahkan
perintahnya untuk menulis dan mengingat, disana juga dan kemudian
akan menunjukkan disurat apa dan dikonteks mana dari surat itu harus
disisipkan. Jadi, seluruh Al-Qur’an diatur dan dibacakan dalam susunan
yang benar-benar asli sesuai dengan yang kita pegang sekarang ini.
Dengan susunan asli inilah al-Qur’an disimpan dalam ingatan manusia.
Susunan dan pengaturannya dilakukan dibawah arahan Nabi sendiri.
Satu-satunya perkara yang belum dilakukan adalah menjadikan perbagai
manuskrip itu dalam satu jilid. Hal itu tak mungkin bisa dijalankan ketika
Nabi masih hidup, ketika setiap saat suatu bagian yang baru boleh jadi
diwahyukan dan suatu pengaturan kembali harus dilakukan, sehingga
menuliskan perbagian karenanya menjadi perlu. Bagian-bagian ini
dituliskan pada daun kurna, kertas atau kulit.26

26 Maulana Muhammad Ali, Early Caliphate, . . . h. 63-65

82
Selama peperangan Riddah, banyak dari penghafal Al-Qur’an yang
tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-
Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti
beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu,
menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an
kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit
karena beliau paling bagus Hafalannya. Para ahli sejarah menyebutkan
bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari
khalifah Abu Bakar.27

3) Ilmu Pengetahuan
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa
Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi
materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan,
akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi
lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab.
Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid,
selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan
oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran
pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga
pendidik adalah para sahabat Rasul terdekat.
Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai
benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan
Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain
sebagainya.28

b. Kebijaksanaan kenegaraan
Dalam masalah penataan birokrasi pemerintahan khalifah Abu Bakar
masih meneruskan system pemerintahan yang bersifat sentral, yakni
sepertihalnya pemerintahan yang berjalan dimasa Rasululla, yaitu
kekuasaan eksekutif, legeslatif, yudikatif terpusat disatu tangan. Suyuthi
Pulungan ada beberapa kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan atau
kenegaraan,29 yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah
maupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin
Abi Thalib, Ustman bin Affan, dan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris dan
Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Untuk daerah-daerah kekuasaan
Islam, dibentuklah provinsi-provinsi, dan untuk setiap provinsi ditunjuk
seorang amir. Antara lain:
1) Itab bin Asid menjadi Amir dikota Mekkah, amir yang diangkat pada
masa Nabi

27 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, . . . h. 50


28 Badri Yatin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. h. 34
29 Suyuty pulungan, Fiqih Siasati, Sejarah dan Pemikiran Islam, Jakarta : PT Rajawali

Prees, 1994, h. 112-113

83
2) Ustman bin Abi Al-Ash, amir untuk kota Thaif, diangkat pada masa
nabi
3) Al-Muhajir bin Abi Umayyah, amir untuk San’a
4) Ziad bin Labid, amir untuk Hadramaut
5) Ya’la bin Umayyah, amir untuk khaulan
6) Abu Musa Al-Ansyari, amir untuk zubaid dan rima’
7) Muaz bin Jabal, Amir untuk Al-Janad
8) Jarir bin Abdullah, amir untuk Najran
9) Abdullah bin Tsur, amir untuk Jarasy
10) Al-Ula bin hadrami, amir untuk Bahrain, sedangakn untuk Iraq dan
Syam (Syria) dipercayakan kepada para pemimpin Militer.30
Para Amir tersebut bertugas sebagai pemimpin agama, juga
menetapkan hukum dan melaksanakan undang-undang. Artinya seorang
amir di samping sebagai ppemimpin agama, juga sebagai hakim dan
pelaksana tugas kepolisian. Namun demikian, setiap amir diberi hak untuk
mengangkat pembantu-pembantunya, seperti katib, amil, Dan sebagainya.

b. Pertahanan dan keamanan


Dengan mengorganisasika pasukan-pasukan yang ada untuk
mempertahankan eksistensi keagamaan dan pemerintahan. Pasukan itu
disebarkan untuk memelihara stabilitas didalam maupun diluar negri.
Diantara panglima yang ada ialah Khalid bin Walid, Musannah bin
Harisah, Amr bin ‘Ash, Zaid bin Tsabit, dll.

c. Yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khaththab dan selama
masa pemerintahan Abu Bakar tidak ditemukan suatu permasalahan yang
berarti untuk dipecahkan. Hal ini karena kemampuan dan sifat Umar
sendiri, dan masyarakat pada waktu itu dikenal ‘alim.

d. Sosial ekonomi
Sebuah lembaga mirip Bait Al-Mal, didalamnya dikelola harta benda
yang didapat dari zakat, infak, sedekah, ghanimah, dll. Penggunaan harta
tersebut digunakan untuk gaji pegawai negara dan untuk kesejahtraan
umat sesuai dengan aturan yang ada.31
Jadi dapat disimpulkan bahwa khalifah Abu bakar diangkat menjadi
Khalifah dengan jalan Musyawarah, walaupun diantara Sahabat ada yang
tidak ikut dalam pembai’atan dan pada akhirnya mereka melakukan sumpah
setia.32 Dengan demikian, secara nyata, pengangkatan Abu bakar sebagai
khalifah disetujui.

c. Penyebaran Islam pada masa Abu Bakar

30 Ali Mufradi, Islam dan Kawasan Kebudayaa Arab, Jakarta: Logos, Wacana

Ilmu,1997, h. 107
31 Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, . . . h. 70-71
32 D. Humam, Terjemah Islamic And History From Colture, Oleh Hasan Ibrahim,

Cetakan I, Yogyakarta Kota Kembang,1989. h. 32

84
Islam pada hakikatnya adalah agama dakwah, artinya agama yang
harus dikembangkan dan didakwahkan. Terdapat dua pola pengembangan
wilayah Islam, yaitu dengan dakwah dan perang.33 Setelah dapat
mengembalikan stabilitas keamanan jazirah Arabiah, Abu Bakar beralih
pada permasalahan luar negeri. Pada masa itu, di luar kekuasaan Islam
terdapat dua kekuatan adidaya yang dinilai dapat menganggu keberadaan
Islam, baik secara politisi maupun agama. Kedua kerajaan itu adalah Persia
dan Romawi. Rasulullah sendiri memerintahkan tentara Islam untuk
memerangi orang-orang Ghassan dan Romawi, karena sikap mereka sangat
membahayakan bagi Islam. Mereka berusaha melenyapkan dan
menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh sahabat Nabi.
Dengan demikian cikal bakal perang yang dilakukan oleh ummat Islam
setuju untuk berperang demi mempertahankan Islam.34
Pada tahap pertama, Abu Bakar terlebih dahulu menaklukkan persia.
Pada bulan Muharram tahun 12 H (6333 M), ekspedisi ke luar Jazirah
Arabia di mulai. Musanna dan pasukannya dikirim ke persia menghadapi
perlawanan sengit dari tentara kerajaan Persia. Mengetahui hal itu, Abu
Bakar segera memerintahkan Khalid bin Walid yang sedang berada di
Yamamah untuk membawa pasukannya membantu Musanna. Gabungan
kedua pasukan ini segera bergerak menuju wilayah persia. Kota Ubullah
yang terletak di pantai teluk Persia, segera duserbu. Pasukan Persia berhasil
diporak-porandakan. Perang ini dalam sejarah Islam disebut dengan
Mauqi’ah Zat as-Salasil artinya peristiwa untaian Rantai.
Pada tahap kedua, Abu Bakar berupaya menaklukkan Kerajaan
Romawi dengan membentuk empat barisan pasukan. Masing-masing
kelompok dipimpin seorang panglima dengan tugas menundukkan daerah
yang telah ditentukan. Kempat kelompok tentara dan panglimanya itu
adalah sebagai berikut :
a. Abu Ubaidah bin Jarrah bertugas di daerah Homs, Suriah Utara, dan
Antiokia
b. Amru bin Ash mendapat perintah untuk menaklukkan wilayah Palestina
yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Timur.
c. Syurahbil bin Sufyan diberi wewenang menaundukkan Tabuk dan
Yordania.
d. Yazid bin Abu Sufyan mendapat perintah untuk menaklukkan Damaskus
dan Suriah Selatan.
Perjuangan tentara-tentara Muslim tersebut untuk menaklukkan Persia
dan Romawi baru tuntas pada mas ke khalifaan Umar bin khathab.

d. Peradaban Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq


Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan
satu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah
penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan kepada
Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur’an dari pelepah kurma, kulit

33 Departemen Agama RI, Sejarah dan kebudayaan Islam, Ujung Padang : Proyek

Pembinaan PTA IAIN Alauddin, 1982, h. 65


34 Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994, h.

27

85
binatang, dan dari hapalan kaum muslimin. Hal yang dilakukan sebagai
usaha untuk menjaga kelestarian Al-Qur’an setelah Syahidnya beberapa
orang penghapal Al-Qur’an pada perang Yamamah. Umarlah yang
mengusulkan pertama kainya penghimpunan ini. Sejak saat itulah Al-Qur’an
dikumpulkan pada satu Mushaf.
Selain itu, peradaban Islam yang terjadi pada praktik pemerintahan
Abu Bakar terbagi pada beberapa Tahapan, yaitu sebagai berikut :
a. Dalam bidang penataan sosial ekonomi adalah mewujudkan keadilan
dan kesejahteraan sosial masyarakat. Untuk kemaslahatan rakyat ini, ia
mengelola zakat, infak, dan sedekah yang berasal dari kaum muslimin,
serta harta ghanimah yang dihasilkan dari rampasan perang dan jizyah
dari warga negara non-muslim, sebagai sumber pendapatan baitul Mal.
Penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan negara ini
dibagikan untuk kesejahteraan para tentara, gaji para pegawai negara, dan
kepada rakyat yang berhaq menerimanya sesuai dengan ketentuan Al-
Qur’an.
b. Praktik pemerintahan khalifah Abu Bakar yang terpenting adalah suksesi
kepemimpinan atas inisiatifnya sendiri dengan menunjuk umar sebagai
penggantinya. Ada beberapa faktor Abu Bakar menunjuk atau
mencalonkan Umar menjadi Khalifah. Faktor utama adalah kekhawatiran
akan terulang kembali peristiwa yang sangat menegangkan di Tsaqilah
Bani Saidah yang nyaris menyulut umat Islam kejurang perpecahan, bila
tidak merujuk seorang untuk menggantikannya.
Dari penunjukan Umar tersebut, ada beberapa hal yang perlu
dicatat :
a. Abu Bakar dalam menunjuk Umar tidak meninggalkan asa
musyawarah. Ia lebih dahulu mengadakan konsultasi untuk
mengetahui aspirasi rakyat melalui tokoh-tokoh kaum muslimin.
b. Abu Bakar tidak menunjuk salah seorang putranya ataupun
kerabatnya, melainkan memilih seorang yang mempunyai nama dan
mendapat tempat dihati masyarakat serta disegani oleh rakyat karena
sifat-sifat terpuji yang dimilikinya.
c. Pengukuhan Umar menjadi khilafah sepeninggal Abu Bakar berjalan
dengan baik dalam suatu baiat umum dan terbuka tanpa ada
pertentangan di kalangan kaum muslimin.35

e. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Abu Bakar


Kemajuan yang telah dicapai pada masa pemerintahan Abu Bakar
selama kurang lebih dua tahun, antara lain:
a. Perbaikan sosial (masyarakat)
b. Perluasan dan pengembangan wilayah Islam
c. Pengumpulan ayat-ayat Al Qur'an
d. Sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam
e. Meningkatkan kesejahteraan umat.
Perbaikan sosial yang dilakukan Abu Bakar ialah usaha untuk
menciptakan stabilitas wilayah Islam dengan berhasilnya mengamankan

35 Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, . . . h. 73-76

86
tanah Arab dari para penyeleweng (orang-orang murtad, nabi-nabi palsu
dan orang-orang yang enggan membayar zakat).
Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan
wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah ke luar Jazirah
Arab.
Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang berbatasan
langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Kedua daerah itu menurut
Abu Bakar harus ditaklukkan dengan tujuan untuk memantapkan
keamanan wilayah Islam dari serbuan dua adikuasa, yaitu Persia dan
Bizantium. Untuk ekspansi ke Irak dipimpin oleh Khalid bin Walid,
sedangkan ke Suriah dipimpin tiga panglima yaitu : Amr bin Ash, Yazid
bin Abu Sufyan dan Surahbil bin Hasanah.
Sedangkan usaha yang ditempuh untuk pengumpulan ayat-ayat Al
Qur'an adalah atas usul dari sahabat Umar bin Khattab yang merasa
khawatir kehilangan Al Qur'an setelah para sahabat yang hafal Al Qur'an
banyak yang gugur dalam peperangan, terutama waktu memerangi para
nabi palsu.
Alasan lain karena ayat-ayat Al Qur'an banyak berserakan ada yang
ditulis pada daun, kulit kayu, tulang dan sebagainya. Hal ini
dikhawatirkan mudah rusak dan hilang.36
Atas usul Umar bin Khattab tersebut pada awalnya Abu Bakar agak
berat melaksanakan tugas tersebut, karena belum pemah dilaksanakan
pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun karena alasan Umar yang
rasional yaitu banyaknya sahabat penghafal Al Qur'an yang gugur di
medan pertempuran dan dikhawatirkan akan habis seluruhnya, akhirnya
Abu Bakar menyetujuinya, dan selanjutnya menugaskan kepada Zaid bin
Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW, untuk mengerjakan
tugas pengumpulan itu.
Kemajuan yang diemban sebagai kepala negara dan pemimpin
umat Islam, Abu Bakar senantiasa meneladani perilaku rasulullah SAW.
Bahwa prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan seperti yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW selalu dipraktekkannya. Ia sangat
memperhatikan keadaan rakyatnya dan tidak segan-segan membantu
mereka yang kesulitan. Terhadap sesama sahabat juga sangat besar
perhatiannya.
Sahabat yang telah menduduki jabatan pada masa Nabi Muhammad
SAW tetap dibiarkan pada jabatannya, sedangkan sahabat lain yang
belum mendapatkan jabatan dalam pemerintahan juga diangkat
berdasarkan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki..
Sedangkan kemajuan yang dicapai untuk meningkatkan
kesejahteraan umum, Abu Bakar membentuk lembaga "Baitul Mal",
semacam kas negara atau lembaga keuangan. Pengelolaannya diserahkan
kepada Abu Ubaidah, sahabat Nabi SAW yang digelari "amin al-ummah"
(kepercayaan umat). Selain itu didirikan pula lembaga peradilan yang
ketuanya dipercayakan kepada Umar bin Khattab .37

36 Drs. Amir Abiyan dkk, Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI,

1990, hlm. 10
37 Drs. Amir Abiyan dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, . . . h. 40

87
Kebijaksanaan lain yang ditempuh Abu Bakar membagi sama rata
hasil rampasan perang (ghanimah). Dalam hal ini ia berbeda pendapat
dengan Umar bin Khattab yang menginginkan pembagian dilakukan
berdasarkan jasa tiap-tiap sahabat. Alasan yang dikemukakan Abu Bakar
adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam adalah akan
mendapat balasan pahala dan Allah SWT di akhirat. Karena itulah biarlah
mereka mendapat bagian yang sama.
Persoalan besar yang sempat diselesaikan Abu Bakar sebelum
wafat adalah menetapkan calon khalifah yang akan menggantikannya.
Dengan demikian ia telah mempersempit peluang bagi timbulnya
pertikaian di antara umat Islam mengenai jabatan khalifah. Dalam
menetapkan calon penggantinya Abu Bakar tidak memilih anak atau
kerabatnya yang terdekat, melainkan memilih orang lain yang secara
obyektif dinilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai khalifah,
yaitu sahabat Umar bin Khattab. Pilihan tersebut tidak diputuskannya
sendiri, tetapi dimusyawarahkannya terlebih dahulu dengan sahabat-
sahabat besar. Setelah disepakati, barulah ia mengumumkan calon
khalifah itu.
Abu Bakar dengan masa pemerintahannya yang amat singkat
(kurang lebih dua tahun) telah berhasil mengatasi tantangan-tantangan
dalam negeri Madinah yang baru tumbuh itu, dan juga menyiapkan jalan
bagi perkembangan dan perluasan Islam di Semenanjung Arabia.

88
C. SKEMATIKA

KHULAFAUR RASYIDIN:
PEMERINTAHAN YANG
DEMOKRATIS

KETIKA WAFATNYA KEBIJAKSANAAN ABU


PENGERTIAN BAKAR ASH- SHIDDIQ
KHULAFAUR RASULULLAH SAW
RASYIDIN

Kelompok yang
mengaku berhak sebagai Kebijaksanaan pengurusan
terhadap agama:
Yaitu: gelar yang pengganti Rasul: a. Memerangi Orang-orang
diberikan kepada empat murtad, Orang yang tidak
1. Muhajirin: Abu Bakar
orang sahabat pengganti mau membayar zakat,
Shiddiq Orang yang mengaku
Nabi. Yaitu sebagai
2. Anshar: Sa’ad bin sebagai nabi palsu
pemimpin kaum
Ubadah b. Pengumpulan Al-Qur’an
muslimin dalam 3. Keluarga dekat Rasul: c. Ilmu pengetahuan
memberikan petunjuk Ali bin Abi Thalib
ke jalan yang benar
dan melestarikan
hukum-hukum Agama
Kebijaksanaan
Islam kenegaraan:
a. Bidang eksekutif
b. Pertahanan dan
keamanan
c. Yudikatif
d. Sosial dan ekonomi

89
D. PENUTUP
1. Dalam catatan sejarah islam klasik, persoalan pertama yang muncul dan
menjadi masalah besar setelah Rasulullah wafat adalah soal suksesi.
Persoalan ini muncul karena sejak awal kepemimpinan Rasulullah hingga
akhir hayatnya, beliau tidak memberikan isyarat atau atau menunjuk kira-
kira siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai seorang kepala negara
dan kepala pemerintahan. Persoalan ini sepenuhnya diserahkan kepada
masyarakat muslim untuk melakukan proses pemilihan setelahnya dengan
mekanisme yang didasari atas prinsip syura. Prinsip dasar ini kemudian
diterapkan pada masa-masa awal ketika kelompok ketika masyarakat
Muhajirin dan Anshar tengah mendiskusikan persoalan khilafah di Tsaqifah
Bani Saidah. Dengan mekanisme dan prinsip syura, akhirnya terpilihlah
Abu Bakar sebagai pengganti jabatan Nabi Muhammad sebagai kepala
pemerintahan dan negara. Para pengganti Rasulullah sebagai dalam masalah
kepemimpinan negara dalam sejarah Islam disebut Khulafa Al-Rasyidin,
yaitu para khalifah yang mendapat petunjuk Allah untuk menjalankan
amanat demi kebenaran.
2. Nama Abu Bakar aslinya adalah Abdullah Ibnu Abi Quhafah at Tamimi. Di
masa jahiliyah bernama Abdul Ka’bah.
3. Abu Bakar diberi gelar Ash-Shiddiq artinya yang amat membenarkan.
Diberikan gelar itu karena Abu Bakar selalu membenarkan apa yang
diajarkan Rasulullah saw.
4. Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah merupakan hasil musyawarah
antara kaum muhajirin dan Anshar.
5. Abu Bakar menghadapi kaum riddah:
a. Orang-orang murtad.
b. Orang yang tidak mau membayar zakat.
c. Orang yang mengaku sebagai nabi palsu.
6. Perilaku politik lain yang di jalankan Abu Bakar adalah melakukan
ekspansi:
a. Ekspansi ke wilayah Persia di bawah pimpinan Khalid bin Walid.
b. Ekspansi ke Romawi di bawah empat panglima perang, yaitu Ubaidah,
Amr bin Ash, Yazid ibn Sufyan dan Syurahbil.
7. Jasa besar yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah pengumpulan mushaf Al
Qur’an.

90
8. Khalifah Abu Bakar ra. Meniggal dunia, senin, 23 agustus 634 M setelah
lebih kurang 15 hari terbaring di tempat tidur. Dia berusia 63 tahun dan
kekhalifahannya berlangsung 2 tahun 3 bulan 11 hari.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar, 2003


Ali Mufrodi, Islam di KawasanKebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997
A. Syafi Ma’arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta, LP3ES, 1985
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru,
2003
Badri Yatin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997
Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994,
h. 27
Drs. Amir Abiyan dkk, Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Departemen Agama
RI, 1990
D. Humam, Terjemah Islamic And History From Colture, Oleh Hasan Ibrahim,
Cetakan I, Yogyakarta Kota Kembang,1989
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008
Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung:
Diponegoro, 2008
Departemen Agama RI, Sejarah dan kebudayaan Islam, Ujung Padang : Proyek
Pembinaan PTA IAIN Alauddin, 1982
http://abdimanfaat.blogspot.com/2014/02/peradaban-islam-pada-masa-
khulafaur.html
Maulana Muhammad Ali, 2007, Early Caliphate, Jakarta: Darul Kutubil
Islamiyah.
Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakar As-Shiddiq, Jakarta: PT. Pustka Litera
Antarnusa, 2013
Muhaimin, Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Kawasan dan Wawasan Studi
Islam, Jakarta: Prenada Media
Mahmud Maan Sadifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2013
Sulasman dan Suparman, Sejarah Islam di Asia dan Eropa, Bandung: Pustaka
Setia, 2013
Suyuty pulungan, Fiqih Siasati, Sejarah dan Pemikiran Islam, Jakarta : PT
Rajawali Prees, 1994

91
92