Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN HASIL TUTORIAL KEPERAWATAN KRITIS KASUS

CEDERA KEPALA

Dosen Pengampu : Ns. Eny Erlinda W, M.Kep.,Sp.Kep MB

Dosen Mentor : Ns. Eny Erlinda W, M.Kep.,Sp.Kep MB

Nama Kelompok 3

a. Cahya Lystiani (171440102)


b. Juwita Maharani (171440109)
c. Kurniahasmita (171440111)
d. Nabila Amelia (171440114)
e. Nurrahmadina (171440117)
f. Nefi Faradina (171440115)
g. Rio Syahputra (171440121)
h. Shela Oktavia (171440125)
i. Shinta Nirwana (171440129)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG

TAHUN 2019
KASUS
Seorang laki-laki berusia 32 tahun mengalami kecelakaan kerja jatuh dari lantai 2
gedung tempat bekerja dan segera dilarikan ke RS terdekat. Saat di RS,
didapatkan penurunan kesadaran, GCS 8 E2V2M4, tampak perdarahan dari
hidung dan telinga, bunyi nafas stridor, HR: 150/80 mmHg, RR: 36x/menit, tidak
teratur HR: 112 x/menit. Hasil CT scan menunjukkan adanya subdural hematoma.
Pasien kemudian dilakukan perawatan intensif untuk dilakukan persiapan operasi
cito evakuasi perdarahan
Diskusikan:
a. Pengertian cedera kepala dan subdural hematoma
b. Mekanisme cedera kepala
c. Komplikasi subdural hematoma
d. Apa hubungan antara subdural hematoma dengan penurunan kesadaran
pasien
e. Apakah jenis pemeriksaan diagnostic pada kasus cedera kepala
f. Apakah masalah keperawtan yang muncul pada kasus di atas
g. Buatlah rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnose yang
ditemukan
Jawab :
a. Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang
menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural
dan atau gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat, 2009).
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif,
tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois, Rutland-Brown, Thomas,
2006).
Cedera kepala (trauma capitis) adalah cedera mekanik yang secara
langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka
di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan
kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta mengakibatkan gangguan
neurologis (Sjahrir, 2012).
Cedera kepala merupakan sebuah proses dimana terjadi cedera langsung
atau deselerasi terhadap kepala yang dapat mengakibatkan kerusakan
tengkorak dan otak (Pierce dan Neil, 2014).
Subdural hematoma (SDH) adalah akumulasi darah yang terjadi antara
bagian dalam duramater dengan arachnoid.
Subdural hematoma atau juga disebut perdarahan subdural adalah kondisi
di mana darah menumpuk di antara 2 lapisan di otak: lapisan arachnoidal
dan lapisan dura atau meningeal. Kondisi ini dapat menjadi akut alias
terjadi tiba-tiba, atau kronis alias muncul dengan perlahan.
b. Pada waktu terjadi kecelakaan tersebut ada dua mekanisme pokok yang
mengakibatkan cedera pada otak: karena kontak langsung dan karena
pengaruh aselerasi dan deselerasi. Masing masing mekanisme itu
menimbulkan dampak cedera yang berbeda.
Pada waktu jatuh dari lantai 2 maka akan mengalami benturan. Apabila
kepalanya membentur suatu benda, seperti permukaan jalan, kepala
yang bergerak karena seseorang terjatuh itu mendadak berhenti, tetapi
otak yang didalamnya karena memiliki massa tertentu tetap bergerak
sampai membentur dinding tempurung kepala sebelah dalam.
Kemudian otak ini akan membal kembali dan membentur dinding
tempurung kepala sebelah dalam disisi seberangnya. Keadaan semacam
ini dapat mengakibatkan cedera ringan seperti gegar otak/trauma ringan
sampai cedera kepala yang mengakibatkan kematian.

Cedera kepala yang diakibatkan oleh kontak langsung atau gerakan –

aselerasi maupun deselerasi – dikelompokkan ke dalam dua kategori:

cedera terbuka dan cedera tertutup. Bagian terbesar dari cedera kepala
yang mengakibatkan trauma pada otak disebabkan oleh cedera tertutup
– yaitu tidak terjadi luka terbuka pada otak contoh akibat dari masing-

masing kategori – dari yang ringan sampai yang paling berat.

c. Komplikasi hematoma subdural dapat terjadi segera setelah cedera atau


beberapa saat setelah cedera telah diobati. Komplikasi ini bisa meliputi:
1) Herniasi otak, yang bisa menyebabkan koma atau kematian
2) Kejang
3) Kelemahan otot, yang bersifat permanen atau mati rasa
d. Cedera kepala yang berat dapat merobek, meremukkan atau
menghancurkan saraf, pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di
sekeliling otak. Bisa terjadi kerusakan pada jalur saraf, perdarahan atau
pembengkakan hebat. Perdarahan, pembengkakan dan penimbunan cairan
(edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh pertumbuhan
massa di dalam tengkorak. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas,
maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan
otak. Karena posisinya di dalam tengkorak, maka tekanan cenderung
mendorong otak ke bawah, otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam
lubang yang menghubungkan otak dengan batang otak, keadaan ini disebut
dengan herniasi. Sejenis herniasi serupa bisa mendorong otak kecil dan
batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen magnum)
kedalam medulla spinalis. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang
otak mengendalikan fungsi fital (denyut jantung dan pernafasan). Cedera
kepala yang tampaknya ringan kadang bisa menyebabkan kerusakan otak
yang hebat. Usia lanjut dan orang yang mengkonsumsi antikoagulan,
sangat peka terhadap terjadinya perdarahan di sekeliling otak.
Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif.
Akibat dari perdarahan subdural, dapat meningkatkan tekanan intrakranial
dan perubahan dari bentuk otak. Naiknya tekanan intrakranial
dikompensasi oleh efluks dari cairan cerebrospinal ke axis spinal dan
dikompresi oleh sistem vena. Pada fase ini peningkatan tekanan intra
kranial terjadi relatif perlahan karena komplains tekanan intrakranial yang
cukup tinggi. Meskipun demikian pembesaran hematoma sampai pada
suatu titik tertentu akan melampaui mekanisme kompensasi tersebut.
Komplains intrakranial mulai berkurang yang menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan intra kranial yang cukup besar. Akibatnya perfusi
serebral berkurang dan terjadi iskemik serebral. Lebih lanjut dapat terjadi
herniasi transtentorial atau subfalksin. Herniasi tonsilar melalui foramen
magnum dapat terjadi jika seluruh batang otak terdorong ke bawah melalui
incisura tentorial oleh meningkatnya tekanan supra tentorial. Pada
hematoma subdural kronik, didapatkan juga bahwa aliran darah ke
thalamus dan ganglia basalia lebih terganggu dibandingkan dengan daerah
otak yang lainnya.
e. Pemeriksaan diagnostik cedera kepala :
1) Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium minimal meliputi, pemeriksaan darah
rutin, elektrolit, profil hemostasis/koagulasi.
2) Foto tengkorak
Pemeriksaan foto tengkorak tidak dapat dipakai untuk
memperkirakan adanya SDH. Fraktur tengkorak sering dipakai
untuk meramalkan kemungkinan adanya perdarahan intrakranial
tetapi tidak ada hubungan yang konsisten antara fraktur tengkorak
dan SDH. Bahkan fraktur sering didapatkan kontralateral terhadap
SDH.
3) CT-Scan
Pemeriksaan CT scan adalah modalitas pilihan utama bila disangka
terdapat suatu lesi pasca-trauma, karena prosesnya cepat, mampu
melihat seluruh jaringan otak dan secara akurat membedakan sifat
dan keberadaan lesi intra-aksial dan ekstra-aksial. 2
4) MRI (Magnetic resonance imaging)
Magnetic resonance imaging (MRI) sangat berguna untuk
mengidentifikasi perdarahan ekstraserebral. Akan tetapi CT-scan
mempunyai proses yang lebih cepat dan akurat untuk mendiagnosa
SDH sehingga lebih praktis menggunakan CT-scan ketimbang MRI
pada fase akut penyakit. MRI baru dipakai pada masa setelah
trauma terutama untuk menetukan kerusakan parenkim otak yang
berhubungan dengan trauma yang tidak dapat dilihat dengan
pemeriksaan CT-scan. MRI lebih sensitif untuk mendeteksi lesi
otak nonperdarahan, kontusio, dan cedera axonal difus. MRI dapat
membantu mendiagnosis bilateral subdural hematom kronik karena
pergeseran garis tengah yang kurang jelas pada CT-scan.
5) Pungsi lumbal untuk memastikan adanya meningitis bila pasien
memperlihatkan tanda-tanda iritasi meningeal (demam, rigiditas
nukal, kejang).
6) Cerebral Angiography : Menunjukan anomali sirkulasi cerebral,
seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema,
perdarahan dan trauma.
7) Serial EEG : Dapat melihat perkembangan gelombang yang
patologis.
8) X-Ray : Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan
struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.
9) BAER : Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil.
10) PET : Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak.
11) CSF, Lumbal Punksi : Dapat dilakukan jika diduga terjadi
perdarahan subarachnoid.
12) ABGs : Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan
(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intracranial.
13) Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit
sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial.
14) Screen Toxicologi : Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga
menyebabkan penurunan kesadaran.
f. Masalah Keperawatan :
1) penurunan kapasitas adaptif intrakranial
2) Pola nafas tidak efektif
3) Risiko perfusi serebral tidak efektif

g. Intervensi

No Diagnosa SLKI SDKI

1. Penurunan Setelah dilakukan Manajemen peningkatan


kapasitas adaptif intervensi keperawatan tekanan intrakranial
intrakranial b.d selama 3x24jam maka 1. Identifikasi penyebab
edema serebral kapasitas adaptif peningkatan TIK.
intrakranial meningkat, 2. Identifikasi
dengan kriteria hasil: tanda/gejala peningkatan
TIK.
1. Tingkat kesadaran (4)
3. Monitor MAP (Mean
2. Pola napas (4) Arterial Pressure).
4. Berikan posisi
3. Tekanan darah (4)
semifowler.
4. Tekanan Nadi (4) 5. Kolaborasi pemberian
sedasi dan anti
Keterangan
konvulsan, jika perlu.
1 = memburuk

2 = cukup memburuk

3 = sedang

4 = cukup membaik

5 = membaik

2. Pola nafas tidak Setelah dilakukan tindakan Monitor pola nafas


efektif b.d keperawatan selama 3x24 (frekuensi,
hambatan upaya jam dapat memenuhi kriteri kedalaman, usaha
nafas hasil sebagai berikut : napas)
Berikan terapi oksigen
Frekuensi nafas (4)
Lakukan fisioterapi
Kedalaman nafas 4)
dada
Dispea (4)
Kolaborasi pemberian
Keterangan :
bronkodilator,
= Meningkat ekspektoran,
mukolotik jika perlu
= Cukup meningkat

= Sedang

= Cukup menurun

= Menurun