Anda di halaman 1dari 56

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn.S khususnya Ny.

C DENGAN
HIPERTENSI
DI DESA CITIMUN RT/RW: 01/01 KEC. CIMALAKA KAB. SUMEDANG
PADA TANGGAL 1 OKTOBER-12 OKTOBER 2019

Pembimbing : Acep Iman Super, S.Kep.,Ners

Disusun Oleh :
Komala Dewi
NIM 170822

Kelompok A3

PRODI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS DAERAH 2 SUMEDANG
2019
Kata Pengantar

Alhamdulillahirobillalamin, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT, yang telah melimpah curah kan karunia-Nya, Sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Tn.S
Khususnya Ny.C Dengan HIPERTENSI Di Desa Citimun RT/RW: 01/01 Kecamatan
Cimalaka Kabupaten Sumedang Pada Tanggal 1 Oktober – 12 Oktober 2019.” Dibuat
untuk memenuhi tugas akhir praktek lapangan Keperawatan Keluarga.
Dalam menyelesasikan penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan
dukungan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak untuk menyelesaikan makalah
ini. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan oleh
penulis guna perbaikan dimasa yang akan datang. Kami mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu, memberi masukan dan mendukung dalam
penulisan makalah ini, semoga segala amal kebaikan yang telah dilakukan mendapatkan
ganjaran dari Allah SWT yang berlimpah.
Meskipun kami telah menyusun secara maksimal, kami menyadari bahwasannya
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa mendatang. Demikian, dengan
segala kerendahan hati kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
khususnya pagi pembacanya.

Sumedang, 03 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1
A. Latar belakang................................................................................................ 1
B. Tujuan............................................................................................................ 1
C. Studi literature................................................................................................ 2
D. Sistematika penulisan....................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORITIS....................................................................................4
A. Konsep dasar penyakit...................................................................................4
B. Konsep keluarga............................................................................................ 13
C. Konsep asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan kasus kelolaan.........16
BAB III PEMBAHASAN............................................................................................. 26
Asuhan Keperawatan pada Keluarga Ny.C dengan Hipertensi...........................26
1. Pengkajian...................................................................................................... 26
2. Diagnosa Keperawatan..................................................................................36
3. Intervensi........................................................................................................ 37
4. Implementasi dan Evaluasi.............................................................................40
BAB IV PENUTUP..................................................................................................... 47
A. Kesimpulan..................................................................................................... 47
B. Saran.............................................................................................................. 47
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 48
LAMPIRAN

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90mmHg. Hipertensi tidak hanya
beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain.
Seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah,
makin besar resikonya . (sylvia A.price)
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan
hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini
berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan.
Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor yang
mempengaruhinya yaitu : genetik, lingkungan, hiperaktivitas saraf simpatis sistem
renin. Angiotensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor yang
meningkatkan resiko : Obesitas, meroko, alkohol, dan polisitemia.
Hipertensi sekunder
Penyebab yaitu : penggunaan ekstrogen, penyakit ginjal, sindrom, cushing dan
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :
Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140mmHg dan atau
distolik sama atau lebih besar dari mmHg.
Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160mmHg dan
tekanan diastolik lebih rendah dari 90mmHg.

B. Tujuan.
1. Tujuan Umum:
Mampu menerapkan asuhan keperawatan keluarga dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang komprehensif pada keluarga Ny.C dengan
hipertensi di desa Citimun RT 01 RW 01 kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang.
2. Tujuan Khusus
a Penulis mampu melakukan pengkajian keluarga pada Ny.C dengan hipertensi.
b Penulis mampu merumuskan diagnoseakeperawatan keluarga Ny.C dengan
hipertensi.

1
2

c Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan keluarga Ny.C dengan


hipertensi.
d Penulis mampu melakukan evaluasi keperawatan keluarga Ny.C dengan
hipertensi.
C. Studi Literatur
Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah metode deskriptif
berbentuk studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan. Adapun tehnik
pengumpulan data dengan cara:
1. Studi dokumentasi
Mempelajari data-data status klien dengan catatan-catatan yang berhubungan
dengan asuhan keperawatan.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan secara langsung dan spesifik mengkaji keadaan umum klien secara
menyeluruh melalui metode head to toe dengan inspeksi,palpasi, perkusi,auskultasi
untuk mendapatkan data mengenai keadaan klien sehingga dapat menentukan diagnosis
dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan klien.
3. Observasi
Pengumpulan data yang diperoleh dengan pengamatan langsung yaitu dengan
melakukan kunjungan ke keluarga yang menjadi subjek asuhan keperawatan.
4.Wawancara dan partisipasi aktif
3

Merupakan kegiatan aktif penulis melakukan langsung asuhan keperawatan


keluarga dengan menanyakan data yang diperlukan dari klien dan keluarga begitupun
dengan tenaga kesehatan yang terkait.

5. Studi perpustakaan
Merupakan kegiatan untuk mendapatkan teori konsep dan model yang
berhubungan dengan masalah yang akan dikaji.

D. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran singkat mengenai isi dari laporan ini,maka penulis
akan menguraikan secara singkat mengenai sistematika penulisan sebagai berikut:
1. BAB 1 PENDAHULUAN
Berisi tentang penjelasan mengenai latar belakang, tujuan, studi literature, dan
sistemtika penulisan yang akan digunakan dalam asuhan keperawatan.
2. BAB II TINJAUAN TEORI
Berisikan tentang penjelasan mengenai konsep dasar penyakit Hipertensi,
konsep keluarga, dan konsep asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi.
3. BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN
Pada bab ini berisikan tentang pembahasan kasus mengenai asuhan
keperawatan keluarga dengan hipertensi yang terdiri dari pengkajian, diagnose,
intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan.
4. BAB IV PENUTUP
Berisikan kesimpulan dari seluruh proses asuhan keperawatan keluarga dan juga
saran untuk beberapa pihak terkait.
5. DAFTAR PUSTAKA
Pada bagian ini,akan dipaparkan sumber-sumber literature dalam pembuatan
asuhan keperawatan keluarga ini.
6. LAMPIRAN
Pada bagian ini, akan dipaparkan hal-hal yang mendukung dan melengkapi
kasus yang menjadi bahan diskusi dalam makalah.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90mmHg. Hipertensi tidak hanya
beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain.
Seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah,
makin besar resikonya . (sylvia A.price)
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104
mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan
hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini
berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik.
2. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan.
1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor
yang mempengaruhinya yaitu : genetik, lingkungan, hiperaktivitas saraf simpatis
sistem renin. Angiotensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor
yang meningkatkan resiko : Obesitas, meroko, alkohol, dan polisitemia.
2. Hipertensi sekunder
Penyebab yaitu : penggunaan ekstrogen, penyakit ginjal, sindrom, cushing dan
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :

1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140mmHg dan
atau distolik sama atau lebih besar dari mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari
160mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90mmHg.

Penyebab hiperetensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya


perubahan-perubahan pada :

1. Elastisitas dinding aorta menurun.


2. Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya konraksi dan volumenya.

4
5

4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah hal ini terjadi karena kurangnya


efektifitas pembuluh darah periper untuk oksigenasi.
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah periper.
Secara klinis derajat Hipertensi dapat dikelompokan yaitu :

No Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


1. Optimal <120 <80
2. Normal 120-129 80-84
3. High normal 130-139 85-89
4. Hipertensi
Grade 1 (Ringan) 140-159 90-99
Grade 2 (sedang) 160-179 100-109
Grade 3 (Berat) 180-209 100-119
Grade 4 (sangat >210 >120
berat)
6

3. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejalas spesifik yang dapat dihubungkan dengan peringatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa.
Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.

Beberapa pasien yang menderita Hipertensi yaitu :

a. Mengeluh sakit kepala, pusing.


b. Lemas, kelelahan.
c. Sesak nafas.
d. Gelisah.
e. Mual.
f. Muntah.
g. Epistaksis.
h. Kesadaran menurun.
4. Pemeriksaan penunjang.
a. Pemeriksaan laboratorium.
 Hb/Ht : Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti :
hipokoagulabilitas, anemia.
 BUN/Kreatinin : memberikan informasi tentang perkusi atau fungsi ginjal.
 Glukosa : Hiperglikemi ( DM adalah pecentus Hipertensi) dapat di
akibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
 Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan difungsi ginjal danada
DM.
b. CT Scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
c. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian
glombang adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
d. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : batu ginjal,
perbaikan ginjal
e. Photo ada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran
jantung.
5. Penatalaksaan
7

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas


akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi

a. Terapi tanpa Obat  Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk
hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang
dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi: diet destriksi garam secara
moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah kolesterol dan rendah
asam lemak jenuh.
b. Penurunan berat badan
c. Penurunan asupan etanol
d. Menghentikan merokok
e. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan
untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat
prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik
antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi
maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 –
25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x
perminggu dan paling baik 5 x perminggu
f. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
1) Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh
yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan
somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan
psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
2) Tehnik relaksasi
3) Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi au kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan).
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya
sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.
g. Terapi dengan Obat
8

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah


saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu
dilakukan seumur hidup penderita.

6. Masalah yang lajim muncul


A. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokonstriksi,
hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard.
B. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral dan iskemia.
C. Kelebihan volume cairan.
D. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, ketidak seimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.
E. Ketidak ekfetifan koping.
F. Resiko ketidakekfetifan perfusi jaringan otak.
G. Resiko cedera.
H. Defesiensi pengetahuan.
I. Ansiotas.

7. Discharge planning
a. Berhenti merokok.
b. Pertahankan gaya hidup sehat.
c. Belajar untuk rilek dan mengendalikan stres.
d. Batasi konsumsi alkohol.
e. Penjelasan mengenai hipertensi.
f. Jika sudah menggunakan obat hipertensi terusan penggunaanya secara
rutin.
g. Diet garam serta pengendalian berat badan.
h. Eriksa tekanan drah secara teratur.
8. Cara Pencegahan
a. Pencegahan Primer
Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata,
adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas
dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:
1) Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak
terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.
2) Dilarang merokok atau menghentikan merokok.
3) Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam.
4) Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui
menderita hipertensi berupa:
1) Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat
maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.
2) Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara
normal dan stabil mungkin.
3) Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.
4) Batasi aktivitas.

9. Diit Hipertensi
9

a. Konsumsi lemak dibatasi


b. Konsumsi kolesterol dibatasi
c. Konsumsi kalori dibatasi untuk yang terlalu gemuk atau obese
d. Makanan yang boleh dikonsumsi
1) Sumber kalori (beras,tales,kentang,macaroni,mie,bihun,tepung-
tepungan, gula).
2) Sumber protein hewani (daging,ayam,ikan,semua terbatas kurang
lebih 50 gram perhari, telur ayam,telur bebek paling banyak satu butir
sehari, susu tanpa lemak).
3) Sumber protein nabati (kacang-kacangan kering seperti
tahu,tempe,oncom).
4) Sumber lemak (santan kelapa encer dalam jumlah terbatas).
5) Sayuran (sayuran yang tidak menimbulkan gas seperti
bayam,kangkung,buncis, kacang panjang, taoge, labu siam, oyong,
wortel).
6) Buah-buahan (semua buah kecuali nangka, durian, hanya boleh
dalam jumlah terbatas).
7) Bumbu (pala, kayu manis,asam,gula, bawang merah, bawang putih,
garam tidak lebih 15 gram perhari).
8) Minuman (teh encer, coklat encer, juice buah).
10. Makanan yang tidak boleh dikonsumsi
a. Makanan yang banyak mengandung garam.
b. Makanan yang banyak mengandung kolesterol
c. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh.
d. Lemak hewan: sapi, babi, kambing, susu jenuh, cream, keju,
mentega.
e. Makanan yang banyak menimbulkan gas.
11. Obat Tradisional Untuk Hipertensi
Banyak tumbuhan obat yang telah lama digunakan oleh
masyarakat secara tradisional untuk mengatasi hipertensi atau tekanan
darah tinggi. Hal yang perlu diinformasikan kepada masyarakat adalah
cara penggunaannya, dosis, serta kemungkinan adanya efek samping
yang tidak diketahui. Obat – obat tradisional tersebut diantaranya:
a. Buah Belimbing
Buah ini dapat mengontrol tekanan darah dalam keadaan normal
dan juga bisa menurunkan tekanan darah bagi mereka yang sudah
mengalaminya. Caranya yaitu buah belimbing yang sudah masak diparut
halus. Kemudian parutan belimbing diperas sehingga menjadi satu gelas
sari belimbing. Air perasan ini diminum setiap pagi, lakukan selama tiga
minggu sampai satu bulan. Setelah satu bulan sari belimbing ini dapat
diminum dua hari sekali. Tidak perlu menambahkan gula pasir atau sirup
pada air perasan. Bagi mereka yang sudah terlanjur menderita
hipertensi, sebaiknya gunakan buah belimbing yang besar sehingga air
perasannya lebih banyak.
10

b. Daun Seledri
Cara penggunaannya dengan menumbuk segenggam daun seledri
sampai halus, saring dan peras deengan kain bersih dan halus. Air
saringan usahakan satu gelas diamkan selama satu jam, kemudian
diminum pagi dan sore dengan sedikit ampasnya yang ada di dasar
gelas. Menurut penelitian daun seledri bisa memperkecil fluktuasi
kenaikan tekanan darah.
c. Bawang Putih
Caranya dengan memakan langsung tiga siung bawang putih
mentah setiap pagi dan sore hari. Pilih bawang putih yang kulitnya
berwarna coklat kehitaman karena mutunya lebih baik. Jika tidak mau
memakannya dalam keadaan mentah bisa direbus atau dikukus dulu.
Namun karena banyak zatnya yang bisa berkhasiat yang dapat ikut larut
ddalam air rebusannya, sebaiknya ditambaah menjadi 8 sampai 9 siung
sekali makan.
d. Buah Mengkudu / Pace
Buah ini sebagai alternatif untuk menekan hipertensi. Caranya
hampir sama dengan buah belimbing, yaitu dengan cara memarut halus,
kemudian diperas memakai kain kassa yang bersih, diambil airnya.
Minum sari mengkudu setiap pagi dan sore hari secara teratur
e. Avokad
Caranya lima daun avokad dicuci bersih, kemudian direbus
dengan 4 gelas air putih. Tunggu air rebusan hingga menjaadi 2 gelas,
saring. Satu gelas diminum pagi hari, satu gelas lagi diminum sore hari.
f. Melon
g. Semangka
h. Mentimun

12. Pengkajian Keperawatan


1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipnea.
2. Sirkulasi
Gejala : giwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner /
katup, penyakit serebrovaskuler.
Tanda : kenaikan TD, nadi (denyutan jelas), frekuensi / irama
(takikardia, berbagai disritmia), bunyi jantung (murmur, distensi vena jugularis,
ekstermitas, perubahan warna kulit), suhu dingin (vasokontriksi perifer),
pengisian kapiler mungkin lambat.
3. Integritas Ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria,
marah, faktor stress multiple (hubungsn, keuangan, pekerjaan).
11

Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,


tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata),
peningkatan pola bicara.
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi, obstruksi,
riwayat penyakit ginjal).
5. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi
garam, lemak dan kolesterol, mual, muntah, riwayat penggunaan diuretik.
Tanda : BB normal atau obesitas, edema, kongesti vena, peningkatan
JVP, glikosuria.
6. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing / pening, sakit kepala, episode kebas,
kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (penglihatan kabur,
diplopia), episode epistaksis.
Tanda : perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir
atau memori (ingatan), respon motorik (penurunan kekuatan genggaman),
perubahan retinal optik.
7. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat,
nyeri abdomen.
8. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea,
dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat
merokok.
Tanda : distress respirasi / penggunaan otot aksesoris pernapasan,
bunyi napas tambahan (krekles, mengi), sianosis.
9. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Tanda : episode parestesia unilateral transien.
10. Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala : faktor resiko keluarga (hipertensi, aterosklerosis, penyakit
jantung, DM , penyakit serebrovaskuler, ginjal), faktor resiko etnik,
penggunaan pil KB atau hormon lain, penggunaan obat / alkohol.

B. Konsep Keluarga
a Pengertian Keluarga
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan
darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi
satu sama lain (Harmoko, 2012). Menurut Departemen kesehatan RI, 1998
keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah
suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
12

Keluarga adalah suatu system sosial yang berisi dua atau lebih orang yang hidup
bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, tingga
bersama dan saling menguntungkan, empunyai tujuan bersama, mempunyai
generasi peneus, saling pengertian dan saling menyayangi (Achjar, 2010).
b Ciri-ciri Keluarga

Ciri keluarga Indonesia menurut (Setiadi, 2008) yaitu :

a. Mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi semangat gotong royong.
b. Dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran.
c. Umumnya dipimpim oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara
musyawarah.

c Tujuan Dasar Keluarga

a. Mewujudkan semua harapan dan kewajiban masyarakat dengan memenuhi


kebutuhan setiap anggota keluarga serta menyiapkan peran masyarakat
13

b. Membentuk anggota keluarga sebagai anggota masyarakat yang sehat bio


psiko sosial spiritual
c. Memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anggota masyarakat
d. Memperhatikan secara total segi-segi kehidupan anggotanya
e. Membentuk identitas dan konsep dari individu-individu yang menjadi
anggotanya.
d Konsep Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap I ( keluarga pasangan baru/ beginning family)
Keluarga baru di mulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami istri
membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan
keluarga masing-masing, secara psikologis keluarga tersebut sudah memiliki
keluarga baru.
b. Tahap II ( keluarga dengan kelahiran anak pertama/ child bearing family)
Tahap II mulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi
berusia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orangtua adalah salah satu kunci
dalam siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak pertama, keluarga
menjadi kelompok trio, membuat sistem yang permanen pada keluarga untuk
pertama kalinya (yaitu, sistem berlangsung tanpa memerhatikan hasil akhir
dari pernikahan).
c. Tahap III ( keluarga dengan anak prasekolah/ families with prescholl) Tahap III
siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan
diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat terdiri dari tiga
sampai lima orang, dengan posisi pasangan suami-ayah, istri-ibu, putra-
saudara laki-laki, dan putrisaudara perempuan. Keluarga menjadi lebih
kompleks dan berbeda.
d. Tahap IV ( keluarga dengan anak sekolah/ families with children)
Tahap ini dimulai pada saat anak tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun
dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai
jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain
aktifitas sekolah, masing-masing anak memiliki aktifitas di sekolah, masing-
masing akan memiliki aktifitas dan minat sendiri. Demikian pula orang tua
yang mempunyai aktifitas berbeda dengan anak.
e. Tahap V (keluarga dengan anak remaja/ families with teenagers)
Ketika anak pertama berusia 13 tahun, tahap V dari siklus atau perjalanan
kehidupan keluarga dimulai. Biasanya tahap ini berlangsung selama enam
atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meningglakan
keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak tetap tinggal di rumah pada usia
lebih dari 19 atau 20 tahun. Anak lainnya yang tinggal di rumah biasanya anak
usia sekolah. Tujuan utama keluarga pada tahap anak remaja adalah
melonggrakan kebebasan remaja yang lebih besar dalam mempersiapkan diri
menjadi seorang dewasa muda.
14

f. Tahap VI ( keluarga dengan anak dewasa/ launching center families)


Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lama tahap
ini bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak yang belum
berkeluarga dan tetap tinggal bersama orangtua. Tujuan utama pada tahap ini
adalah mengorganisasi kembali keluarga untuk tetap berperan dalam
melepaskan anaknya untuk hidup sendiri.
g. Tahap VII ( keluarga usia pertengahan/ middle age families) Tahapan ini
dimulai pada saat anak yang terakhir meningglakan rumah dan berakhir saat
pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Beberapa pasangan pada fase
ini akan dirasakan sulit karena masalah usia lanjut, perpisahan dengan anak,
dan perasaan gagal sebagai orang tua. Pada tahap ini semua anak
meninggallkan rumah, maka pasangan berfokus untuk mempertahankan
kesehatan dengan berbagai aktifitas.
h. Tahap VIII ( keluarga usia lanjut)
Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan pensiun salah satu
atau kedua pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan lainnya
4. peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga
Ada beberapa peran yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain :
a. pengenal kesehatan ( health monitor )
perawat membantu keluarga untuk mengenali penyimpangan dari keadaan
normal tentang kesehatannya dengan menganalisa data secara objektif serta
membuat keluarga sadar akan akibat masalah dalam perkembangan
keluarga.
b. pemberian pelaynan pada anggota keluarga yang sakit, dengan
memberikan asuhan keperawatan kepada anggota keluarga sakit.
c. koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga,
yaitu berperan dalam mengkoordinir pelayanan kesehatan keluarga baik
secara berkelompok maupun individu
d. fasilitator, yaitu dengan cara menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah
dijangkau oleh keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya.
e. pendidik kesehatan, yaitu merubah perilaku keluarga dan perilaku tidak sehat
menjadi perilaku sehat.
f. penyuluh dan konsultan, yang berperan dalam memberikan petunjuk tentang
asuhan keperawatan dasar dalam keluarga.
6. Tipe Keluarga
Tipe keluarga ((Harmoko, hal 23; 2012) sebagai berikut :

a. Nuclear Family, Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang tinggal
dalam satu rumah di tetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan
perkawinan, satu/ keduanya dapat bekerja di laur rumah.

b.Extended Family, Keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara, misalnya


nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, pama, bibi, dan sebagainya.
15

c.Reconstitud Nuclear, Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan


kembali suami/istri, tinggal dalam pembentuan satu rumah dengan anak-
anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan
baru. Satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
d.Middle Age/ Aging Couple, Suami sebagai pencari uang. Istri di rumah/ kedua-
duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meningglakan rumah karena
sekolah/perkawinan/meniti karier.
e.Dyadic Nuclear, Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak,
keduanya/ salah satu bekerja di rumah.
f.Single Parent, Satu orang tua sebagai akibat perceraian/ kematian pasangannya
dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah/ di luar rumah.
g.Dual Carier, Suami istri atau keduanya berkarier dan tanpa anak
h.Commuter Married, Suami istri/ keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada
jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
i. Single Adult, Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya
keinginan untuk menikah.
j. Three Generation, Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
k. Institutional, Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-
panti.
l. Comunal, Satu rumah terdiri atas dua/lebih pasangan yang monogami dengan
anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
m. Group Marriage, Satu perumahan terdiri atas orangtua dan keturunannya di
dalam satu kesatuan keluarga dan tiap indivisu adalah menikah dengan yang lain
dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
n. Unmarried paret and child, Ibu dan anak dmana perkawinan tidak dikehendaki,
anaknya di adopsi
o. Cohibing Cauple, Dua orang/ satu pasangan yang tinggal bersama tanpa
pernikahan.

C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga sesuai dengan kasus kelolan


A. Fokus Pengkajian
Format pengkajian keluarga model Friedman (2010) yang diaplikasikan
ke kasus dengan masalah utama hipertensi meliputi :
a. Data umum
Menurut Friedman (2010), data umum yang perlu dikaji adalah :
1. Nama kepala keluarga dan anggota keluarga, alamat, jenis
kelamin,umur, pekerjaan dan pendidikan.
2. Tipe keluarga Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta
kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe
keluarga
16

3. Status sosial ekonomi Keluarga Status sosial ekonomi keluarga


ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun
anggota keluarga lainnya. Selain itu social ekonomi keluarga
ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh
keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
b. Riwayat Keluarga dan Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini.Tahap perkembangan
keluarga ditentukan oleh anak tertua dari keluarga ini.
2. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi Menjelaskan
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi,
3. menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluaruarga yang
belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala-kendala mengapa tugas
perkembangan tersebut belum terpenuhi.
4. Riwayat keluarga inti Menjelaskan mengenai riwayat keluarga inti
meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masing anggota keluarga,perhatian keluarga terhadap pencegaha
penyakit termasuk status imunisasi, sumber pelayanan kesehatan
yang biasa digunakan keluarga dan pengalaman terhadapa
pelayanan kesehatan.
5. Riwayat keluarga sebelumnya Menjelaskan mengenai riwayat
kesehatan keluarga dari pihak suami dan istri.
c. Pengkajian lingkungan
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat tipe rumah,jumlah
ruangan, jenis ruang, jumlah jendela, jarak septic tankdengan sumber air,
sumber air minum yang digunakan, tanda catyang sudah mengelupas,
serta dilengkapi dengan denah rumah (Friedman, 2010).
d. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif Hal yang perlu dikaji seberapa jauh keluarga saling
asuh dan saling mendukung, hubungan baik dengan orang lain,
menunjukkan rasa empati, perhatian terhadap perasaan (Friedman,
2010).
2. Fungsi sosialisasiDikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam
keluarga, sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin,
penghargaan, hukuman, serta memberi dan menerima cinta
(Friedman, 2010).
3. Fungsi keperawatan
17

a. Keyakinan, nilai, dan prilaku kesehatan : menjelaskan nilai yang


dianut keluarga, pencegahan, promosi kesehatan yang dilakukan
dan tujuan kesehatan keluarga (Friedman, 2010).
b. Status kesehatan keluarga dan keretanan terhadap sakit
yangdirasa: keluarga mengkaji status kesehatan, masalah
kesehatan yang membuat kelurga rentan terkena sakit dan
jumlah kontrol kesehatan (Friedman, 2010).
c. Praktik diet keluarga : keluarga mengetahui sumber makanan
yang dikonsumsi, cara menyiapkan makanan, banyak makanan
yang dikonsumsi perhari dan kebiasaan mengkonsumsi
makanan kudapan (Friedman, 2010).
d. Peran keluarga dalam praktik keperawatan diri : tindakan yang
dilakukan dalam memperbaiki status kesehatan, pencegahan
perawatan keluarga dirumah dan keyakinan keluarga
dalam perawatan dirumah (Friedman, 2010).
e. Tindakan pencegahan secara medis : status imunisasi anak,
kebersihan gigi setelah makan, dan pola keluarga dalam
mengkonsumsi makanan (Friedman, 2010).
4. Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga
adalah :
berapa jumlah anak, apa rencana keluarga berkaitan dengan
jumlah
anggota keluarga, metode yang digunakan keluarga dalam
upaya
mengendalikan jumlah anggota keluarga (Padila, 2012).
5. Fungsi ekonomi
Data ini menjelaskan mengenai kemampuan keluarga dalam
memenuhi
sandang, pangan, papan, menabung, kemampuan peningkatan
status
kesehatan.
e. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga,
metode yang
digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik head to toe.
f. Fokus Diagnosa keperawatan Keluarga
18

a. Diagnosa keperawatan keluarga


Diagnosa keperawatan keluarga merupakan perpanjangan
diagnosis ke system keluarga dan subsitemnya serta merupakan
b. hasil pengkajian
keperawatan. Diagnosis keperawatan keluarga termasuk
masalah
kesehatan aktual dan potensial dengan perawat keluarga yang
memiliki
kemampuan dan mendapatkan lisensi untuk menanganinya
berdasarkan
pendidikan dan pengalaman ( Friedman, 2010). Tipologi dari
diagnosa
c. keperawatan adalah:
a. Diagnosa keperawatan keluarga aktual (terjadi
defisit/gangguan
kesehatan).
2) Diagnosa keperwatan keluarga resiko (ancaman) dirumuskan
apabila
sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan.
3) Diagnosa keperawatan keluarga sejahtera (potensial)
merupakan suatu
kedaan dimana keluarga dalam kondisi sejahtera sehingga
kesehatan
keluarga dapat ditingkatkan.
Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada
keluarga
dengan masalah hipertensi adalah (NANDA NIC-NOC 2013) :
1) Penurunan curah jantung
2) Intoleransi aktivitas
3) Nyeri (sakit kepala)
4) Kelebihan volume cairan
5) Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
6) Ketidakefektifan koping
7) Defisiensi pengetahuan
8) Ansietas
9) Resiko cidera b. Skala Prioritas Masalah
19

Table 2.3 Skala Prioritas Masalah Keluaga.


No. Kriteria Skor Bobot

1. Sifat masalah :
Skala :
 Tidak/kurang sehat 3 1
 Ancaman kesehatan 2
 Keadaan sejahtera
1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah :
Skala :
 Dengan mudah 2 2
 Hanya sebagian 1
 Tidak dapat
0
3. Potensi masalah untuk dicegah :
Skala :
 Tinggi 3 1
 Cukup 2
 Rendah
1
4. Menonjolnya masalah :
Skala :
 Masalah berat, harus ditangani 2 1
 Masalah tidak perlu segera 1
ditangani
 Masalah tidak dirasakan
0
Jumlah

Keterangan :
Total Skor didapatkan dengan: Skor (total nilai kriteria) x Bobot =Nilai Angka
tertinggi dalam skor Cara melakukan Skoring adalah :
1) Tentukan skor untuk setiap criteria
2) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot
20

3) Jumlah skor untuk semua criteria


4) Tentukan skor, nilai tertinggi menentukan urutan nomor diagnosa
keperawatan keluarga.
14. Fokus Intervensi Keperawatan Keluarga
Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian, diagnosis
keperawatan, pernyataan keluarga, dan perencanaan keluarga, dengan
merumuskan tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan
sumber, serta menentukan prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau
standar, tetapi dirancang bagi keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga
sedang bekerja (Friedman, 2010).
Rencana asuhan keperawatan keluarga (NANDA NIC-NOC 2013) dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel 2.4 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Berdasarkan NANDA NIC-
NOC 2013
No Diagnosa Tuajuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Penurunan curah NOC NIC
jantung Definisi :  Cardiac Pump Cardiac Care
ketidakadekuatan darah effectiveness  Evaluasi adanya nyeri
yang dipompa oleh  Circulation Status dada (intensitas, lokasi,
jantung untuk memenuhi  Vital Sign Status durasi)
kebutuhan metabolik Kriteria Hasil :  Catat adanya disritmia
tubuh  Tanda vital dalam jantung - Catat adanya
rentang normal tanda dan gejala
(Tekanan darah, penurunan cardiac putput.
Nadi, Respirasi).  Monitor status
 Dapat mentoleransi kardiovaskuler.
aktivitas, tidak ada  Monitor status pernafasan
kelelahan. yang menandakan gagal
 Tidak ada edema jantung.
paru, perifer dan  Monitor abdomen sebagai
tidak ada asites indicator penurunan perfusi
 Tidak ada  Monitor balance cairan
penurunan  Monitor adanya perubahan
kesadaran tekanan darah.
 Monitor respon pasien
terhadap efek pengobatan
21

antiaritmia.
 Atur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan.
 Monitor toleransi aktivitas
pasien.
 Monitor adanya dyspneu,
fatigue, tekipneu dan
ortopneu.
 Anjurkan untuk
menurunkan stress
Vital Sign Monitoring.
 Monitor TD, nadi, suhu dan
RR.
 Catat adanya fluktuasi
tekanan darah.
 Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri.
 Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan.
 Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas.
 Monitor kualitas dari nadi
2. Intoleransi aktivitas NOC NIC
Definisi :  Energy  Activity Therapy
Ketidakcukupan energi conservation  Kolaborasikan dengan
psikologis atau fisiologis  Activity tolerance tenaga rehabilitasi Medik
untuk melanjutkan atau  Self Care : ADLs dalam merencanakan
menyelesaikan aktivitas Kriteria Hasil : program terapi yang tepat
kehidupan sehari-hari  Berpartisipasi  Bantu klien untuk
yang harus atau yang dalam aktivitas fisik mengidentifikasi aktivitas
ingin dilakukan tanpa disertai yang mampu dilakukan
peningkatan  Bantu untuk memilih
tekanan darah, aktivitas konsisten yang
nadi, dan RR sesuai dengan
22

Mampu melakukan kemampuan fisik, psikologi


aktivitas sehari-hari dan social
(ADLs) secara  Bantu untuk
mandiri. mengidentifikasi dan
 Tanda tanda vital mendapatkan sumber yang
normal. diperlukan untuk aktivitas
 Energy psikomotor yang diinginkan
 Level kelemahan  Bantu untuk mendapatkan
 Mampu berpindah : alat bantuan aktivitas
dengan atau tanpa seperti kursi roda,krek
bantuan alat.  Bantu untuk
 Status kardio mengidentifikasi aktivitas
pulmunari adekuat yang disuka

 Sirkulasi status  Bantu klien untuk membuat


baik jadwal latihan diwaktu

 Status respirasi : luang.

pertukaran gas dan  Bantu pasien/keluarga


ventilasi adekuat untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas.
 Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan.
 Monitor respon fisik,
emosi, social dan spiritual
3. Nyeri Akut Definisi : NOC NIC
Pengalaman sensori  Pain Level  Pain Management
dan emosional yang  Pain Control  Lakukan pengkajian nyeri
tidak menyenangkan  Comfort level secara komprehensif
yang muncul akibat Kriteria Hasil : termasuk lokasi,
kerusakan jaringan.  Mampu mengontrol karakteristik, durasi,
yang aktual atau nyeri (tahu frekuensi, kualitas dan
potensial atau penyebab nyeri, faktor presipitasi.
digambarka dalam hal mampu  Observasi reaksi nonverbal
kerusakan sedemikian menggunakan dari ketidaknyamanan
23

rupa (internatioal tehnik  Gunakan tehnik


association for the study nonfarmakologi komunikasi terapeutik
of pain) : awitan yang untuk mengurangi untuk mengetahui
tiba-tiba atau lambat nyeri, mnecari pengalaman nyeri pasien
dari intensitas ringan bantuan)  Kaji kultur yang
hingga berat dengan  Melaporkan bahwa mempengaruhi respon
akhir yang dapat nyeri berkurang nyeri.
diantisipasi atau dengan  Evaluasi pengalaman nyeri
diprediksi dan menggunakan masa lampau.
berlangsung <6 bulan manajemen nyeri  Evaluasi bersama pasien
 Mampu mengenali dan tim kesehatan lain
nyeri (skala tentang ketidakefektifan
intensitas, kontrol nyeri masa lampau
frekuensi dan tanda  Bantu pasien dan keluarga
nyeri) untuk mencari dan
 Menyatakan rasa menemukan dukungan.
nyaman setelah  Kontrol lingkungan yang
nyeri berkurang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan.
 Kurangi faktor presipitasi
nyeri.
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal).
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi.
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi.
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
 Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri.
24

 Tingkatkan istirahat .
 Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil.
 Monitor penerimaan
pasien tentang manajemen
nyeri
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga : Tn. S
2. Umur : 67 Tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Alamat : RT.01 RW.01
Desa.Citimun
Kec. Cimalaka,Sumedang
5. Pekerjaan Kepala Keluarga : Pensiunan
6. Pendidikan Kepala Keluarga : SLTP
7. Komposisi Keluarga

HUB
NO NAMA J.K dgn UMUR PENDIDIKAN KET
K.K
1 Ny.C P Istrii 67 th SD

8. Genogram

Keterangan : : Perempuan

: Pasien
: Tinggal Serumah
: Garis Menikah
: Garis Keturunan

25
26

9. Tipe keluarga
Tipe keluarga Tn. S adalah tipe keluarga lanjut usia terdiri dari suami istri
lanjut usia.
10. Suku Bangsa : Sunda
11. Agama: Keyakinan yang dianut keluarga Ny.C dan keluarga adalah Islam.
Baik Tn.S dan Ny.C selalu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu.
12. Status sosial ekonomi keluarga
Tn.S penghasilannya perbulannya dari pensiunan dan mempunyai kerja
sampingan sebagai tani untuk kehidupannya dengan Ny.C yang sehari-hari
hanya menjadi IRT dirumah saja.
27

13. Aktivitas rekreasi keluarga


Tn.S dan Ny.C selalu menyempatkan melakukan kegiatan aktivitas rekreasi
keluarga bersama seusai Tn.S pulang bekerja seperti menonton TV
bersama maupun berjalan-jalan santai disekitar rumah. Selain itu, ketika ada
waktu luang mereka berkumpul dengan anak –anak dan cucunya.
14. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap Perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Ny.C berada pada tahap keluarga dengan midelleage
familly/keluarga usia pertengahan. Mempertahankan hubungan anak dan
cucu.
b. Tahap perkembangan yang belum terpenuhi
Keluarga tn.S dan Ny.C dalam masa perkembangan akhir.
c. Riwayat keluarga inti
Saat dikaji, beliau mengatakan bahwa ada anak klien menderita
hipertensi sama dengan klien.
d. Riwayat keluarga sebelumnya (suami istri)
Saat dikaji, beliau mengatakan bahwa ada orang tua klien menderita
hipertensi. sehingga menjadi faktor pendukung klien mempunyai
hipertensi juga.
15. Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi sebagai berikut:
1) Luas rumah
Luas rumah yang menjadi tempat tinggal Tn.S dan Ny.C adalah
dengan panjang 15m dan Lebar 6m atau sekitar 90m.
2) Tipe rumah
Tipe rumah tempat tinggal Tn.S dan Ny.C adalah permanen.
3) Jumlah ruangan
Jumlah ruangan yang ada di tempat tinggal Tn.S dan Ny.C adalah 7
ruangan yang terdiri dari 1 ruang keluarga, 3 kamar, 1 Wc dan 1
dapur, 1 paviliun.
4) Ventilasi rumah
Ventilasi rumah Tn.S dan Ny.C cukup baik. Mereka terbiasa
membukakan pintu dan jendela dan membiarkan udara segar
masuk .selain itu dalam beberapa waktu, mereka menghidupkan
kipas angina mereka supaya udara terus berganti-ganti di dalam
rumah.
5) Jarak septic tank dengan sumber air
Jarak septic tank dengan sumber air di tempat tinggal Tn.S dan Ny.C
adalah sekitar kurang lebih 2 meter.
6) Sumber air minum yang digunakan
Sumber air minum yang digunakan oleh keluarga adalah dengan
memasak air dari sumur.
7) Pengelolaan sampah
28

Pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal klien adalah


dengan cara di bakar setiap 2hari sekali. Setiap sore.
8) Denah rumah

Dapur

Kamar Mandi

Kamar

paviliun kamar
Ruang Tamu

Kamar

teras

Halaman

b. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


Keluarga Ny.C tinggal di lingkungan padat penduduk, mayoritas penduduk
adalah suku sunda. Keluarga Ny.C berada pada lingkungan yang memiliki
mata pencaharian yang beragam dan mereka satu sama lain hidup saling
menghormati lingkungan, tetangga yang akrab, tetangga sering
mengadakan kegiatan sosial bersama, mereka juga suka mengadakan
acara makan bersama dan ketika ada masalah yang diahadapi salah satu
tetangga maka akan dilaksnakan musyawarah bersama.
c. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn.S dan Ny.C sudah tinggal di lingkungan tersebut sejak lama.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Ny.C menyatakan bahwa ada kumpulin rutin keluarga yang
dilaksanakan satu minggu sekali . Interaksi keluarga dengan masyarakat
juga baik.
e. Sistem pendukung keluarga
Sistem pendukung di keluarga Ny.C cukup baik. Semua anggota keluarga
dapat tumbuh kembang dengan baik dan hidup dengan keadaan sehat. Ny.C
dan keluarga juga tidak segan-segan dalam menggunakan fasilitas-fasilitas
yang dapat menunjang kesehatan. Kepedulian masyarakat setempat juga
sangat baik pada keluarga Ny.C.
f. Pola komunikasi keluarga
29

Keluarga Ny.C sering menggunakan komunikasi terbuka satu sama lain


dengan Tn.S. selain terbuka, pola komunikasi keluarga juga jelas, langsung
dan jujur. Terlihat Tn.C berbicara lembut pada istrinya dan begitupun
sebalikya.
g. Struktur Kekuatan Keluarga
1) Respon kekuatan bila ada anggota keluarga yang mengalami
masalah
Respon kekuatan bila ada anggota keluarga yang sakit di keluarga
Ny.C adalah dengan sama-sama membuat keputusan terbaik dan
akhirnya membantu dalam penyelesaian masalah pada anggota
keluarga yang mengalami masalah.
2) Kekuatan yang digunakan keluarga dalam menangani masalah
Kekuatan yang digunakan keluarga dalam menangani masalah
adalah dengan affektif power, dimana lebih menekankan kepada
fungsi kasih sayang dan saling mendukung antar anggota keluarga.

h. Struktur Peran
Struktur dan peran didalam keluarga Ny.C cukup baik. Masing-masing
anggota keluarga melaksanakan perannya masing-masing. Dimana Tn.S
mencari nafkah dan Ny.C bertanggung jawab dalam hal memasak dan
urusan rumah tangga. Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai peran
yang tidak sesuai.
i. Nilai dan Norma Keluarga
Nilai dan norma yang dianut dalam keluarga Ny.C adalah keterbukaan dan
harus melaksanakan ibadah sesuai dengan waktunya. Tidak boleh ada
pembedaan dalam kualitas makanan, tidak boleh bicara keras, dan jika ada
masalah harus didiskusikan bersama. Harus diusahakan ada waktu untuk
makan bersama. Selain itu, sama-sama saling mengingatkan untuk tidak
melakukan kebiasaan buruk yang dapat
merugikan kesehatan.
16. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Keluarga Ny.C telah menjalankan fungsi kasih sayang dengan baik dan
begitupun dengan hal-hal yang beliau ajarkan kepada anak-anaknya
mengenai sopan santun dengan siapapun. Baik Ny.C dan Tn.S
menyayangi semua anak mereka dan juga bersepakat untuk tidak
membedakan kasih sayang diantara anak-anaknya meskipun dengan
latar belakang berbeda.
b. Fungsi sosialisasi
30

Keluarganya Ny.C aktif bersosialisasi dengan semua anak-anak dan


keluaarga, begitupun dengan tetangga-tetangga mereka.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
Ny.C saat ini sedang melakukan pengobatan Hipertensi . apabila
tekanan darah NY.C melebihi batas normal. Keluarga yaitu Tn.S
mendukung sepenuhnya kepada kepada Ny.C.
d. Fungsi Reproduksi
Ny.C memiliki 4 orang anak dan sebelumnya pernah menggunakan Kb
suntik bulan..
e. Fungsi Ekonomi
Ny.C sehari-hari mendapatkan penghasilan untuk sehari-hari dari hasil
pensiunan perbulan dan juga hasil dari sampingannya bertani.
5. Stress dan Koping Keluarga
a. Stresor jangka pendek dan panjang
Keluarga Ny.C sedang tidak ada stressor jangka pendek hanya saja
memikirkan bagaimana supaya kondisi Ny.C dapat pulih kembali. Dan
mengenai stressor jangka panjang saat ini tidak ada menurut Ny.C
b. Respon keluarga terhadap Stres
1) Strategi koping yang digunakan
Strategi koping yang digunakan oleh Ny.C dan keluarga adalah
dengan berdoa dan berdiskusi bersama Tn.S
2) Strategi adaptasi yang difungsional
Menurut Ny.C tidak ada strategi adaptasi fungsional seperti amuk dan
amarah, setiap ada masalah terutama masalah kesehatan langsung
segera dicari pemecahannya dan didiskusikan bersama keluarga.
6. Pemeriksaan Fisik

No. Aspek yang diperiksa Ny.C Tn.S

1. Pemeriksaan Umum

Penamplan Umum Baik Baik

TTV Td : 140/90mmHg S : 36.00 Td : 110/80mmHg S : 36.00


N : 88 x/m R : 18x/m N : 80x/m R : 18X/m

BB/TB BB : 84kg TB : 160cm BB : 55kg TB : 163cm

2. Kepala Normal Normal

Rambut Putih/merata, tidak ada ketombe Putih/merata, tidak ada ketombe


tampak berih. tampak bersih.

Mata Normal klien masih mampu Normal, klien masih mampu


membaca dengan jelas tampa membaca dengan jelas tampa
alat bantu. alat bantu.

Hidung Normal, tidak ada sianosis. Normal, tidak ada sianosis.


31

Mulut Normal, mukosa bibir lembab, Normal, mukosa bibir lembab,


tidak ada sariawan, terdapat gigi tidak ada sariawan, terdapat gigi
karies, jumlah gigi 26. karies. Jumlah gigi 20

Telinga Normal tidak ada serumen yang Normal, tidak ada serumen yang
keluar , tidak ada benjolan keluar, tidak ada benjolan

3. Leher Tidak ada pembesaran kelenjar Tidak ada pembesaran kelenjar


pada leher. pada leher

4. Dada Simetris, bunyi jantung normal, Simetris, bunyi jantung normal,


tidak ada bunyi tambahan, suara tidak ada bunyi tambahan, suara
nafas vesicular. nafas vesicular

5. Abdomen Tidak ada pembengkakan hepar, Tidak ada pembengkakan hepar,


ginjal, linfa. Tidak ada nyeri sat di ginjal, linfa. Tidak ada nyeri sat
x
tekan peristaltik usus 5 /m di tekan peristaltik usus 5x/m
ketebalan lemak perut lebih dari
3cm.

6. Ekstemitas Ekstremitas atas normal, tidak Ekstremitas atas normal, tidak


ada hambatan dalam peregrakan. ada hambatan dalam
Ekstremitas bawah sebelah pergerakan. Ekstermitas bawah
kanan menggunakan alat bantu normal kekuatan otot normal.
(tongkat ) karena tidak bisa
mempertahankan kekuatan otot.
Sedangkan sebelah kiri normal.
Terdapat parises di bagian kaki
dengan kekuatan otot 5 5

3 5

7. Harapan Keluarga
Harapan keluarga Ny.C selalu berharap dalam keluarganya tidak ada
masalah apalagi masalah tentang kesehatan. Dan selalu berharap sehat
seperti sebelumnya.
8. Data Tambahan
a. Nutrisi
Ny. C makan lebih dari 3-4x/hari, dengan minum kurang lebih
8gelas/hari. Nafsu makan sangat baik ny.c sering mengonsumsi
makanan yang tidak sehat dan yang banyak mengandung lemak .
b. Eliminasi
32

Ny.C mengataka BAB setiap hari, tidak ada kesulitan, tidak ada
menggunakan pencahar, konsistensi lembek, Ny.C mengatakan BAK
tidak ada kesulitan, tidak ada nyeri.
c. Istirahat Tidur.
Ny.C mengatakan tidur di malam hari sekitar pukul 20.00-04.00 ny.c tidur
selama 8jam.
d. Aktivitas Sehari-hari.
Aktivitas klien dan keluarga sering bersosialisasi dengan lingkungan
dengan lingkungan sekitar.
e. Merokok
Ny.c tidak merokok
9. Kriteria tingkat kemandirian keluarga (KM)

No Tingkat kemandirian keluarga

Kriteria
I II III IV

1. Menerima petugas perawatan 


kesehatan masyarakat
2. Menerima pelayanan keperawatan yang 
diberikan sesuai dengan rencana
keperawatan
3. Tahu dan dapat mengungkapkan 
masalah kesehatan secara benar
4. Melakukan tindakan keperawatan 
sederhana sesuai yang dianjurkan
5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan 
kesehatan secara aktif
6. Melaksanakan tindakan pencegahan 
sesuai anjuran
7. Melalukan tindakan promotif secara
aktif
Dalam pengisian keluarga mandiri pencontrengan disesuaikan dengan
kemandirian dari keluarga yang anda kelola .
Keluarga dinyatakan keluarga mandiri (KM I ) jika keluarga tersebut
memenuhi kriteria 1 dan 2
Keluarga dinyatakan keluarga mandiri (KM II ) jika keluarga tersebut
memenuhi kriteria 1-5
Keluarga dinyatakan keluarga mandiri (KM III) jika keluarga tersebut
memenuhi kriteria 1-6
Keluarga dinyatakan keluarga mandiri (KM IV) jika keluarga tersebut
memenuhi kriteria 1-7 (KM IV) jika keluarga tersebut memenuhi kriteria 1-7

ANALISA DATA
33

NO DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Data Subjektif : Intoleran aktivitas b.d ketidak
 Ny.C mengatakan sulit mampuan keluarga untuk
berjalan, tidak bisa berdiri merawat anggota keluarga
lama, dan ny.c dengan keterbatasan gerak.
mengatakan tidak
mampu berjalan jauh.
Data Objektif :
 Ny.C berjalan
menggunakan alat bantu
tongkat.Terdapat parises
di bagian kaki dengan
kekuatan otot 5 5

3 5
2. Data Subjektif : Resiko jatuh pada keluaga Tn.S
 Ny.C mengatakan sulit khususnya Ny. C b.d ketidak
berjalan, tidak bisa berdiri mampuan keluarga memodifikasi
lama, dan ny.c lingkungan rumah.
mengatakan tidak
mampu berjalan jauh.
Data Objektif :
 Ny.C berjalan
menggunakan alat bantu
tongkat.Terdapat parises
di bagian kaki dengan
kekuatan otot
5 5

3 5
3. Data Subjektif : Kesiapan meningkatkan nutrisi.
 Ny.C mengatakan Ny. C
makan lebih dari 3-
4x/hari, dengan minum
kurang lebih 8gelas/hari.
Nafsu makan sangat baik
ny.c sering mengonsumsi
makanan yang tidak
sehat dan yang banyak
mengandung lemak .
 Ny. C mengatakan
34

sebelumnya mempunyai
berat badan yang
berlebih.
Data Subjektif :
 Ny. C tampak gemuk,
ketebalan lemak lebih
dari 3cm.
 Dik :BB 84kg /TB
160cm.
 Indeks masa tubuh =
BB/TB2
84/1.602 = 32.8
Jadi IMT Ny.C masih
dalam ambang obesitas
atau berat badan
berlebih.

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Intoleran Aktivitas b.d ketidak mampuan keluarga untuk merawat anggota
keluarga dengan keterbatasan gerak.
2. Resiko jatuh pada keluarga Tn.S, khususnya Ny. C berhubungan dengan
keluarga ketidak mampuan keluarga memodifikasi lingkungan rumah.
3. Kesiapan meningkat nutrisi

B. PERENCANAAN (PLANNING)
1. Menentukan Prioritas Masalah Keperawatan Keluarga
a. Intoleran aktivitas b.d ketidak mampuan keluarga untuk merawat
anggota keluarga dengan keterbatasan gerak.

Skor Hasil
No. Kriteria Bobot
Perhitungan

1. Sifat masalah : 3/3 x 1


Skala :
 Tidak/kurang sehat 3 1 =1
 Ancaman kesehatan 2
 Keadaan sejahtera
1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah : 2/2 x 2
Skala :
 Dengan mudah 2 2 =2
 Hanya sebagian 1
 Tidak dapat
35

0
3. Potensi masalah untuk dicegah : 3/3 x 1
Skala :
 Tinggi 3 1 =1
 Cukup 2
 Rendah
1
4. Menonjolnya masalah : 2/2 x 1
Skala :
 Masalah berat, harus ditangani 2 1 =1
 Masalah tidak perlu segera 1
ditangani
 Masalah tidak dirasakan
0
Jumlah 5

b. Resiko jatuh Resiko jatuh pada keluarga Tn.S, khususnya Ny. C


berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga memodifikasi
lingkungan rumah.

Skor Hasil
No. Kriteria Bobot
Perhitungan

1. Sifat masalah : 2/3 x 1


Skala :
 Tidak/kurang sehat 3 1 = 2/3
 Ancaman kesehatan 2
 Keadaan sejahtera
1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah : 2/2 x 2
Skala :
 Dengan mudah 2 2 =2
 Hanya sebagian 1
 Tidak dapat
0
3. Potensi masalah untuk dicegah : 3/3 x 1
Skala :
 Tinggi 3 1 =1
 Cukup 2
 Rendah
1
4. Menonjolnya masalah : 1/2 x 2
Skala :
 Masalah berat, harus ditangani 2 1 =1
 Masalah tidak perlu segera 1
36

ditangani
 Masalah tidak dirasakan
0
Jumlah 4 2/3

c. Kesiapan meningkat Nutrisi

Skor Hasil
No. Kriteria Bobot
Perhitungan

1. Sifat masalah : 1/3 x 1


Skala :
 Tidak/kurang sehat 3 1 = 1/3
 Ancaman kesehatan 2
 Keadaan sejahtera
1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah : 2/2 x 2
Skala :
 Dengan mudah 2 2 =2
 Hanya sebagian 1
 Tidak dapat
0
3. Potensi masalah untuk dicegah : 3/3 x 1
Skala :
 Tinggi 3 1 =1
 Cukup 2
 Rendah
1
4. Menonjolnya masalah : 0x1
Skala :
 Masalah berat, harus ditangani 2 1 =0
 Masalah tidak perlu segera 1
ditangani
 Masalah tidak dirasakan
0
Jumlah 3
37

2. Menyusun rencana tindakan keperawatan keluarga

No Tanggal Diagnosa keperawatan Tujuan Rencana tindakan


1. 01-10-2019 Intoleran aktivitas b.d ketidak Tujuan umum : 1. Jelaskan penyebab
Setelah dilakukan tindakan
mampuan keluarga untuk keterbatasan gerak akibat
keperawatan selama 2 minggu,
merawat anggota keluarga hipertensi.
diharapkan klien bisa beraktifitas 2. Jelaskan kepada keluarga
dengan keterbatasan gerak.
normal. akibat dari keterbatasan
Tujuan khusus :
gerak apabila tidak diatasi.
Setelah di lakukan pertemuan
3. Jelaskan dan ajarkan teknik
4x30 menit diharapkan keluarga
non farmakologis dengan
mampu :
kompres panas.
1. Mampu mengenal
4. Mampu berpindah tampa
masalah yang di hadapi
bantuan alat.
klien. 5. Kaji ulang tingkat
2. Mampu mengatasi
pengetahuan klien .
masalah yang dihadapi
klien.
3. Mampu merawat
keluarga yang memiliki
masalah keterbatasan
bergerak.
2. 01-10- Resiko jatuh pada keluarga Tn.S, Tujuan umum : 1. Jelaskan gangguan kondisi
Setelah dilakukan tindakan
2019 khususnya Ny. C berhubungan fisik pasien yang dapat
keperawatan selama 2 minggu,
dengan keluarga ketidak meningkatkan potensi jatuh
38

mampuan keluarga memodifikasi diharapkan klien bisa beraktifitas dalam tingkungan tertentu.
2. Jelaskan prilaku dan fsktor
lingkungan rumah. normal.
Tujuan khusus : yang mempengaruhi resiko
Setelah di lakukan pertemuan
jatuh.
4x30 menit diharapkan keluarga 3. Ajarkan anggota keluarga
mampu : tentang faktor resiko.
1. Mampu mengenal 4. Intrukdikan kepada keluarga
atau mengetahu pentingnya pegangan tangan
untuk mencegah untuk kamar mandi tangan
resiko jatuh dan trotoar.
2. Mampu mengatasi
resiko jatuh dari
faktor lingkungan.
3. Mampu merawat
keluarga agar tidak
terjadi resiko jatuh.
3. 01-10-2019 Kesiapan meningkat nutrisi Tujuan umum : 1. Jelaskan manfaat dan
Setelah dilakukan tindakan
dampak dari makanan yang
keperawatan selama 2 minggu,
di konsumsi kepada keluarga
diharapkan klien bisa beraktifitas
dan klien.
normal. 2. Ajarkan klien dan keluarga
Tujuan khusus :
membuat catatan makanan
Setelah di lakukan pertemuan
harian.
4x30 menit diharapkan keluarga
3. Ajarkan klien dan keluarga
mampu :
tentang diet hipertensi.
1. Mampu mengetahui
4. Berikan kesempatan kepada
39

dampak makanan yang klien untuk bertanya .


5. Kaji ulang tingkat
di konsumsi.
2. Mampu melakukan pengetahuan.
perubahan gaya hidup.
3. Mampu menurunkan
berat badan di batas
amabang normal.

C. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No Tanggal Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi TTD


Perawat
1. 03-10-2019 Intoleran aktivitas b.d Hari kamis, 03-10-2-2019 Hari Jumat, 07-10-2019
1. Menjelaskan penyebab S:
ketidak mampuan keluarga
Klien mengatakan.klien
keterbatasan gerak akibat
untuk merawat anggota
dan keluarga
hipertensi.
40

keluarga dengan 2. Menjelaskan kepada keluarga memahami penjelasan


Komala Dewi
keterbatasan gerak. akibat dari keterbatasan gerak tentang hipertensi, dan
apabila tidak diatasi. klien mulai bisa
3. Menjelaskan dan mengajarkan
melakukan aktivitas,
teknik non farmakologis dengan
dengan sendirinya.
kompres panas. Keluarga klien
4. Mampu melakukan berpindah
mengatakan sering,
dengan atau tampa bantuan
memantau Ny.C dengan
alat.
aktivitasnya yang sudah
5. Mengkaji ulang tingkat
mulai tidak
pengetahuan klien
menggunakan tongkat.
O:
Setelah di lakukan
implementasi selama
4x2minggu pertemuan
Klien bisa menjawab
pertanyaan yang di
berikan. klien tampak
bisa berjalan sedikit-
sedikit tampa
menggunakan bantuan
alat.
Klien bisa berdiri agak
lama tampa
41

menggunakan alat
bantu.
A:
masalah teratasi
P:
Hentikan Intervensi.
2. 10-10-2019 Resiko jatuh pada keluarga Hari kamis, 10-10-2019 Hari Jumat, 10-10-2019
1. Menjelakan defisit kognitif atau S:
Tn.S, khususnya Ny. C
Klien mengatakan mulai
fisik pasien yang dapat
berhubungan dengan
mengetahui resiko dan
meningkatkan potensi jatuh
keluarga ketidak mampuan
faktor potensi resiko Komala Dewi
dalam tingkungan tertentu.
keluarga memodifikasi
2. menjelaskan prilaku dan fsktor jatuh di lingkungan
lingkungan rumah.
yang mempengaruhi resiko sekitar.
O:
jatuh.
Setelah di lakukan
3. Mengajarkan anggota keluarga
implementasi selama
tentang faktor resiko.
4. Intruksikan kepada keluarga 4x2minggu pertemuan
Keluarga dan klien bisa
pentingnya pegangan tangan
menjawab pertanyaan
untuk kamar mandi tangan dan
yang di lontarkan
trotoar
tentang resiko jatuh di
lingkungan.
Keluarga klien
mulaimemperdulikan
tenang pentingnya
pegangan di kamar
42

mandi.
A:
Masalah teratasi.
P:
Hentikan Intervensi.

3. 10-10-2019 Kesiapan meningkat nutrisi Hari kamis, 10-10-2019 Hari Jumat, 10-10-2019
1. Menjelaskan manfaat dan S:
Klien mengatakan
dampak dari makanan yang di
setelah di beri
konsumsi kepada keluarga dan
penjelasan klien mampu
klien.
Komala Dewi
2. Mengajarkan klien dan keluarga memilih, makanan
membuat catatan makanan rendah garam sedikit
harian. leamak.
3. Mengajarkan klien dan klien mulai paham
keluarga tentang diet tentang resiko
hipertensi. kekambuahan berat
4. Memberikan kesempatan
badan.
kepada klien untuk bertanya O:
5. Mengkaji ulang tingkat Setelah di lakukan
pengetahuan. implementasi selama 30
menit.klien mulai bisa
memilih makanan yang
baik dan sehat. Klien
mampu menjawab
pertanyaan yang di
43

berikan.
A:
masalah teratasi.
P : hentikan intervensi.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90mmHg. Hipertensi tidak hanya
beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain.
Seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan
darah, makin besar resikonya . (sylvia A.price). hipertensi sangat erat hubungan
nya dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Gaya hidup sangat berpengaruh
terhadap bentuk prilaku atau kebiasaan seseorang yang mempunyai pengaruh
positif atau pun negatif pada kesehatan
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan.
1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu : genetik, lingkungan, hiperaktivitas saraf
simpatis sistem renin. Angiotensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-
faktor yang meningkatkan resiko : Obesitas, meroko, alkohol, dan polisitemia.
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan
darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi
satu sama lain (Harmoko, 2012). Menurut Departemen kesehatan RI, 1998
keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat
dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah suatu system sosial yang berisi dua atau lebih orang yang
hidup bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi,
tingga bersama dan saling menguntungkan, empunyai tujuan bersama,
mempunyai generasi peneus, saling pengertian dan saling menyayangi (Achjar,
2010).

B. Saran
Saran untuk keluarga semoga dapat di terapkan pentinya menjaga
kesehatan tubuh . agar bisa hidup sehat dan keluarga diharapkan bisa
menerapkan pola makan yang baik dan sehat agar tidak terjadi penambahan
berab badan berlebih.

DAFTAR PUSTAKA
44
Amir, H.N. Hardi K. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA
NIC-NOC. Jilid 2. Jogjakarta.
Achjar , Komang Ayu,2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawan Keluarga. Keluarga
Cetakan I. Jakarta : Sagung Seto.
Friedman, M. 2010. Buku Ajaran Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, dan Praktek. Edisi
ke-5. Jakarta: EGC
Harmoko.2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hamid.2018. KTI Asuhan Keperawatan Keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A Di
Wilayah Puskesmas asinua Kabupaten Konawe. Kediri.
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Prores-proses Penyakit,Ed.6,volume 1&2, EGC, Jakarta.

LAMPIRAN
. SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

45
HIPERTENSI

Satuan Acara Penyuluhan yang dilakukan di Keluarga Ny.C di Desa Citimun


Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang. Adapula alasan dilakukan penyuluhan di
keluarga Ny.C, agar setiap anggota keluarga dapat mengetahui tentang apa yang
dimaksud dengan hipertensi, Tanda dan Gejala, dan Faktor Pendukung hipertensi. Selain
itu mengenai hal-hal yang mendukung proses penyembuhan di rumah.
Topik : HIPERTENSI
Sub Pokok Bahasan : Pengertian, Tanda dan Gejala, Penyebab dan Faktor
pendukung kesembuhan dari hipertensi.
Sasaran : Seluruh anggota keluarga
Waktu : Pukul 10:00-10.45 (selama 45 menit)
Hari,Tanggal : Rabu, 09 oktober 2019
Tempat : Keluarga Ny.C Desa Citimun kecamatan cimalaka
Kabupaten Sumedang
Penyuluh : Komala Dewi
A. Tujuan Intruksional Umum

Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan seluruh angota keluarga dapat


memahami dan mengerti tentang Pengertian, Tanda dan Gejala, Penyebab dan Faktor
pendukung kesembuhan dari hipertensi

B. Tujuan Intruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan tentang hipertensi , setiap anggota


diharapkan dapat:
1. menjelaskan pengertian hipertensi
2. menjelaskan tanda dan gejala hipertensi
3. menjelaskan faktor pendukung kesembuhan hipertensi

C. Materi Penyuluhan

1. pengertian hipertensi
2. tanda dan gejala Hipertensi.
3. penyebab Hipertensi.
4. cara diit hipertensi.
5. bahan makanan yang diperboleh dan tidak diperbolehkan.
D. Metode Penyuluhan
a. Ceramah
46
b. Tanya Jawab

E. Media Penyuluhan
a. Leaflet

F. Setting Tempat

AUDIENCE

PEMATERI

G. Kegiatan Penyuluhan

Tahap
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Sasaran
Pengkajian
1 Pembukaan 2 Menit 1. Membuka acara dengan1. Menjawab salam dan
mengucapkan salam dan mendengarkan
perkenalan perkenalan.
2. Menyampaikan topik dan tujuan2. Mendengarkan
Penyuluhan kepada sasaran penyampaian topik dan
3. Kontrak waktu untuk kesepakatan
tujuan
penyuluhan dengan sasaran 3. Menyetujui kesepakatan
pelaksanaan Penkes

2 Kegiatan Inti 35 Menit 1. Mengkaji ulang tingkat1. Menjawab pertanyaan


pengetahuan sasaran dari penyuluh
2. Memberikan reinforcement positif 2. Mendengarkan materi
3. Menjelaskan pengertian hipertensi
yang disampaikan
4. menanyakan sasaran apakah
3. Menanyakan hal – hal
mengerti atau tidak
yang belum dipahami.
5. memberikan kesempatan kepada
sasaran untuk bertanya
6. menjelaskan tentang hal-hal yang
belum dipahami sasaran
7. menjelaskan tanda dan gejala
hipertensi
8. menanyakan sasaran apakah

47
mengerti atau tidak
9. memberikan kesempatan kepada
sasaran untuk bertanya
10. menjelaskan tentang hal-hal yang
belum dipahami sasaran.
11. menjelaskan penyebab hipertensi
12. menanyakan sasaran apakah
mengerti atau tidak
13. memberikan kesempatan kepada
sasaran untuk bertanya
14. menjelaskan tentang hal-hal yang
belum dipahami sasaran.
15. menjelaskan tentang diit hipertensi.
Danmakanan yang boleh atau pun
tidak boleh.
16. menanyakan sasaran apakah
mengerti atau tidak
17. Memberikan kesempatan kepada
sasaran untuk bertanya
18. Menjelaskan tentang hal-hal yang
belum dipahami sasaran.

3 Evaluasi /8 Menit 1. Memberikan pertanyaankepada1. Menjawab pertanyaan


2. Mendengarkan
Penutup sasaran tentang materi yang telah
kesimpulan
disampaikan oleh penyuluh
3. Menjawab salam
2. Memberikan reinforcement positif
3. Menyimpulkan materi
4. Menutup acara dengan
mengucapkan salam

H. Evaluasi
1. Setiap anggota keluarga Ny.C memperhatikan dan mendengarkan materi dengan
baik
2. Setiap anggota keluarga Ny.C memahami dan mengerti tentang hipertensi
3. Setiap anggota keluarga Ny.C mampu menjawab pertanyaan yang diberikan
dengan benar :
1) apa yang dimaksud dengan hipertensi?
2) apa saja tanda dan gejala hipertensi?
3) apa saja penyebab dari hipertensi?
4) Bagaimana cari diit Hipertensi ?
5) Makanan apa saja yang boleh atauun tidak boleh ?

LAMPIRAN
HIPERTENSI

48
1.1 Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal
tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung
dan memompa keseluruh jaringan dan organ–organ tubuh secara terus–menerus
lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hipertensi merupakan peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari
90 mmHg pada dua kali pengukuran selang waktu lima menit dalam keadaan
cukup tenang/istirahat (Kemenkes RI, 2013). Hipertensi sering kali disebut silent
killer karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya
terlebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Gejala-gejala hipertensi yaitu
adalah sakit kepala atau rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung berdebar, mudah
lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan (Kemenkes
RI, 2013).
Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk
Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat
dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya
adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas
yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah
beberapa hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini.
Penyakit ini dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai
penyebab berbagai penyakit non infeksi (Anindya,2009).

1.1.1 Pengertian HIPERTENSI


Menurut Sheps (2005) dalam Masriadi (2016), hipertensi adalah penyakit
dengan tanda adanya gangguan tekanan darah sistolik maupun diastolik yang
naik diatas tekana darah normal. Tekanan darah sistolik adalah tekanan puncak
yang tercapai ketika jantung berkontraksi dan memompakan darah keluar
melalui arteri. Tekanan darah diastolik diambil tekanan jatuh ketitik terendah
saat jantung rileks dan mengisi darah kembali.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal
tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung
dan memompa keseluruh jaringan dan organ–organ tubuh secara terus–
menerus lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hal ini terjadi bila arteriol–
arteriol konstriksi.
Konstriksi arterioli membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan
tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan
arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh
darah (Udjianti, 2010). Hipertensi sering juga diartikan sebagai suatu keadaan
dimana tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih
dari 80 mmHg (Muttaqin, 2009).

1.1.2 Penyebab HIPERTENSI


a. Hipertensi primer atau esensial
Hipertensi primer atau esensial adalah tidak dapat diketahuin
penyebabnya.
Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermiten) pada
individu pada akhir 30-an dan 50-an dan secara bertahap “ menetap “ pada
suatu saat dapat juga terjadi mendadak dan berat, perjalanannya dipercepat atau
“maligna“ yang menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan
49
cepat. Penyebab hipertensi primer atau esensial adalah gangguan emosi,
obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, kopi, obat – obatan, faktor
keturunan (Brunner & Suddart, 2015). Sedangkan menurut Robbins
(2007), beberapa faktor yang berperan dalam hipertensi primer atau
esensial mencakup pengaruh genetik dan pengaruh lingkungan seperti
:stress, kegemukan, merokok, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi
garam dalam jumlah besar dianggap sebagai faktor eksogen dalam
hipertensi.
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah kenaikan tekanan darah dengan penyebab
tertentu seperti penyempitan arteri renalis, penyakit parenkim ginjal,
berbagai obat, disfungsi organ, tumor dan kehamilan (Brunner & Suddart,
2015). Sedangkan menurut Wijaya & Putri (2013), penyebab hipertensi
sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor, diabetes,
kelainan adrenal, kelainan aorta, kelianan endokrin lainnya seperti obesitas,
resistensi insulin, hipertiroidisme dan pemakaian obat-obatan seperti
kontasepsi oral dan kartikosteroid.

1.2.3 Faktor Resiko


Faktor-faktor resiko hipertensi yang tidak dapat diubah dan yang dapat
diubah oleh penderita hipertensi menurut Black & Hawks (2014) adalah
sebagai berikut :
a. Faktor-faktor resiko yang tidak dapat diubah
1) Riwayat keluarga
Hipertensi dianggap poligenik dan multifaktorial yaitu, pada seseorang
dengan riwayat keluarga, beberapa gen berinteraksi dengan yang
lainnya dan juga lingkungan yang dapat menyebabkan tekanan darah
naik dari waktu ke waktu. Klien dengan orang tua yang memiliki
hipertensi berada pada risiko hipertensi yang lebih tinggi pada usia
muda.
2) Usia
Hipertensi primer biasanya muncul antara usia 30-50 tahun. Peristiwa
hipertensi meningkat dengan usia 50-60 % klien yang berumur lebih
dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
Diantara orang dewasa, pembacaan tekanan darah sistolik lebih dari
pada tekanan darah diastolic karena merupakan predictor yang lebih
baik untuk kemungkinan kejadian dimasa depan seperti penyakit
jantung koroner, stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal.
3) Jenis kelamin
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai
kira-kira usia 55 tahun. Resiko pada pria dan wanita hamper sama
antara usia 55 sampai 74 tahun, wanita beresiko lebih besar.

50
4) Etnis
Peningkatan pravelensi hipertensi diantara orang berkulit hitam
tidaklah jelas, akan tetapi penigkatannya dikaitkan dengan kadar rennin
yang lebih rendah, sensitivitas yang lebih besar terhadap vasopressin,
tinginya asupan garam, dan tinggi stress lingkungan.
b. Faktor-faktor resiko yang dapat diubah
1) Diabetes mellitus
Hipertensi telah terbukti terjadi lebih dua kali lipat pada klien diabetes
mellitus karena diabetes mempercepat aterosklerosis dan menyebabkan
hipertensi karena kerusakan pada pembuluh darah besar.
2) Stress
Stress meningkat resistensi vaskuler perifer dan curah jantung serta
menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Stress adalah permasalahan
persepsi, interpretasi orang terhadap kejadian yang menciptakan
banyak stressor dan respon stress.
3) Obesitas
Obesitas terutama pada tubuh bagian atas, dengan meningkatnya
jumlah lemak disekitar diafragma, pinggang dan perut, dihubungkan
dengan pengembangan hipertensi. Kombinasi obesitas dengan faktor
faktor lain dapat ditandai dengan sindrom metabolis, yang juga
meningkatkan resiko hipertensi.
4) Nutrisi
Kelebihan mengosumsi garam bias menjadi pencetus hipertensi pada
individu. Diet tinggi garam menyebabkan pelepasan hormone
natriuretik yang berlebihan, yang mungkin secara tidak langsung
menigkatkan tekanan darah. Muatan natrium juga menstimulasi
mekanisme vaseoresor didalam system saraf pusat. Penelitan juga
menunjukkan bahwa asupan diet rendah kalsim, kalium, dan
magnesium dapat berkontribusi dalam pengembangan hipertensi.
5) Penyalahgunaan obat
Merokok sigaret, mengosumsi banyak alcohol, dan beberapa
penggunaan obat terlarang merupakan faktor-faktor resiko hipertensi.
pada dosis tertentu nikotin dalam rokok sigaret serta obat seperti kokain
dapat menyebabkan naiknya tekanan darah secara langsung.
1.2.5 Diit Hipertensi
A. Macam-macam

1. Diit Rendah Garam I


51
Diberikan kepada pasien
dengan pembengkakan atau hipertensi berat. Pada pengolahan
makanannya tidak ditambahkan garam dapur.
2. Diit Rendah Garam II
Diberikan kepada pasien
dengan pembengkakan atau hipertensi sedang . Pada pengolahan
makanannya boleh ditambahkan garam dapur ½ sendok teh.
3. Diit Rendah Garam III
Diberikan kepada pasien
dengan pembengkakan atau hipertensi ringan . Pada pengolahan
makanannya boleh ditambahkan garam dapur 1 sendok teh

B. Syarat-syarat Diit Hipertensi

1. Cukup energi, protein mineral dan vitamin

2. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit

3. Jumlah garam disesuaikan dengan berat tidaknya timbunan garam


atau air

C. Bahan Makanan yang Diperbolehkan dan Tidak Diperbolehkan


1. Bahan makanan yang diperbolehkan adalah semua bahan makanan
segar atau di olah tampa garam, terigu, kacang-kacangan.dan hasil
olahannnya, beras, ketan, ubi, mie tawar, margarine tampa garam,
buah-buahan segar seperti : semangka, melon, pepaya, pier, dan
lain-lain.
2. Bahan makanan yang perlu di batasi :
A. Daging atau ikan paling banyak 100gram (2 potong sedang
=2x6x4cm untuk daging dan 2x6x2cm untuk ikan).
B. Telur ayam atau bebek maksimal 1butir.
C. Susu maksimal 2gelas.
D. Bahan makanan yang tidak boleh adalah :
1. Roti, cracker atau kue yang dimasak denga garam
dapur atau soda.
2. Jerohan, dengdeng, abon, ikan asin, ikan pindang,
ikan sarden, telur asin.
3. Keju, margarine, mentega.
4. Terasi,vetsin, kecap, petis.

52
5. Coklat.
1.2.5 Komplikasi

Hipertensi yang tidak ditanggulangi dalam jangka panjang akan menyebabkan


kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri
tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada

organ-organ tubuh menurut Wijaya & Putri (2013), sebagai berikut :

a. Jantung
Hipertensi dapat menyebab terjadinya gagal jantung dan penyakit jantung
koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat,
otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut
dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak lagi mampu memompa sehingga
banyaknya cairang yang tetahan diparu maupun jaringan tubuh lain yang
dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut gagal
jantung.
b. Otak
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke, apabila tidak
diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
c. Ginjal
Hipertensi juga menyebabkan kerusakan ginjal, hipertensi dapat
menyebabkan kerusakan system penyaringan didalam ginjal akibat lambat
laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh
yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.
d. Mata
Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan dapat
menimbulkan kebutaan.

53