Anda di halaman 1dari 2

Nama; I Wayan Gita Riesta

No; 13
Kelas; XI IPA 2
EKALAWYA

एएएएएए
Ejaan Dewanagari
Ejaan IAST ékalavya
Kerajaan
Asal
Nishada
Suku
Golongan
Nisadha
Senjata Panah

Ekalawya (Sanskerta: एएएएएए, ékalavya),Dalam bahasa Sanskerta, kata Ekalavya secara harfiah
berarti "ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran". Sesuai dengan arti
namanya, Ekalawya adalah seorang kesatria dan seorang pangeran dari kaum Nisada(Kaum ini adalah
kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu) yang memusatkan perhatiannya kepada ilmu memanah.
Dalam pedalangan jawa Ekalawya disebut Bambang Ekalaya atau Bambang Ekawaluya atau dengan
sebutan Bambang Palgunadi

Keinginannya yang kuat untuk menimba ilmu panah lebih jauh, menuntun dirinya untuk datang ke
Hastina dan berguru langsung pada Drona. Namun niatnya ditolak, dikarenakan kemampuannya yang
bisa menandingi Arjuna, dan keinginan dan janji Drona untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya
ksatria pemanah paling unggul di jagat raya, yang mendapat pengajaran langsung dari sang guru. Ini
menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-
muridnya, dimana Drona sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Penolakan sang guru tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan, ia kemudian
kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri dan membuat patung Drona serta memujanya dan
menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru. Berkat kegigihannya
dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit yang gagah dengan kecakapan yang luar biasa dalam
ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona. Suatu hari,
di tengah hutan saat ia sedang berlatih sendiri, ia mendengar suara anjing menggonggong, tanpa
melihat Ekalawya melepaskan anak panah yang tepat mengenai mulut anjing tersebut. Saat anjing
tersebut ditemukan oleh para Pandawa, mereka bertanya-tanya siapa orang yang mampu melakukan ini
semua selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalawya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid
dari Guru Drona.
Dalam pewayangan Jawa, Ekalawya atau Ekalaya atau Ekalya (dalam cerita pedalangan dikenal
pula dengan nama "Palgunadi") adalah Raja negara Paranggelung. Ekalaya mempunyai isteri
yang sangat cantik dan sangat setia bernama Dewi Anggraini, puteri hapsari (bidadari) Warsiki.

Ekalaya seorang raja kesatria, yang selalu mendalami olah keprajuritan dan menekuni ilmu
perang. Ia sangat sakti dan sangat mahir mampergunakan senjata panah. Ia juga mempunyai
cincin pusaka bernama Mustika Ampal yang menyatu dengan ibu jari tangan kanannya. Ekalaya
berwatak jujur, setia, tekun dan tabah, sangat mencintai istrinya.

Ekalaya adalah seseorang yang gigih dalam menuntut ilmu. Suatu ketika Prabu Ekalaya
mendapatkan bisikan ghaib untuk mempelajari ilmu atau ajian Danurwenda yang kebetulan
hanya dimiliki oleh Resi Drona. Sedangkan Sang Resi sudah berjanji tidak akan mengajarkan
ilmu tersebut kepada orang lain melainkan kepada para Pandawa dan Korawa saja. Dengan
kegigihannya Prabu Ekalaya belajar sendiri dengan cara membuat patung Sang Resi dan belajar
dengan sungguh-sungguh sehingga berhasil menguasai ajian tersebut.

Istri Prabu Ekalaya sangat cantik jelita sehingga membuat Arjuna berhasrat padanya, Dewi
Anggraini mengadukan hal tersebut kepada suaminya sehingga terjadi perselisihan dengan
Arjuna. Prabu Ekalaya mempertahankan haknya sehingga bertarung dengan Arjuna yang
menyebabkan Arjuna sempat mati yang kemudian dihidupkan kembali oleh Prabu Batara Sri
Kresna

Dalam perselisihannya dengan Arjuna, Ekalaya ditipu untuk merelakan ibu jari tangan kanannya
dipotong oleh 'patung' Resi Drona, yang mengakibatkan kematiaannya karena cincin Mustika
Ampal lepas dari tubuhnya. Menjelang kematiaanya, Ekalaya berjanji akan membalas
kematiannya pada Resi Drona.

Dalam perang Bharatayuddha, kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya menyatu
dalam tubuh Arya Drestadyumena, kesatria Panchala, yang memenggal putus kepala Resi Drona
hingga menemui ajalnya.