Anda di halaman 1dari 34

PENGANTAR PENDIDIKAN

1.Pengertian pendidikan dalam arti sempit, arti luas dan

ilmu pendidikan
A. Pengertian Pendidikan Dalam Arti Sempit
Pendidikan dalam arti mikro (sempit) merupakan proses interaksi antara pendidik
dan peserta didik baik di keluarga, sekolah maupun di masyarakat.

Dalam arti sempit, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:


1. Tujuan pendidikan dalam arti sempit ditentukan oleh pihak luar individu
peserta didik.
Sebagaimana kita maklumi, tujuan pendidikan suatu sekolah atau tujuan
pendidikan suatu kegiatan belajar-mengajar di sekolah tidak dirumuskan dan
ditetapkan oleh para siswanya.

2.Lamanya waktu pendidikan bagi setiap individu dalam masyarakat cukup


bervariasi, mungkin kurang atau sama dengan enam tahun, sembilan tahun
bahkan lebih dari itu. Namun demikian terdapat titik terminal pendidikan yang
ditetapkan dalam satuan waktu.
Pendidikan dilaksanakan di sekolah atau di dalam lingkungan khusus yang
diciptakan secara sengaja untuk pendidikan dalam konteks program pendidikan
sekolah. Dalam pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka yang
menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa) dari suatu lembaga pendidikan formal
(sekolah/perguruan tinggi).

Setiap disiplin ilmu memiliki objek formal yang berbeda.


1. Berdasarkan hasil studi terhadap objek formalnya masing-masing, setiap
disiplin ilmu menghasilkan perbedaan pula mengenai konsep atau definisi yang
identik dengan pendidikan.
2. Berdasarkan pendekatan sosiologi, pendidikan identik dengan sosialisasi
3. Berdasarkan pendekatan antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi
4. Berdasarkan pendekatan ekonomi, pendidikan identik dengan penanaman
modal padadiri manusia (human investment).
5. Berdasarkan pendekatan politik, pendidikan identik dengan civilisasi
6. Berdasarkan pendekatan psikologis, pendidikan identik dengan
personalisasi atau individualisasi
7. Berdasarkan pendekatan biologi, pendidikan identik dengan adaptasi

B. Pengertian Pendidikan Dalam Arti Luas


pendidikan dalam arti makro (luas) adalah proses interaksi antara manusia
sebagai individu/ pribadi dan lingkungan alam semesta, lingkungan sosial,
masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-budaya.

Dalam arti luas, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup individu, tidak ditentukan oleh
orang
lain.

2. Pendidikan berlangsung kapan pun, artinya berlangsung sepanjang hayat (life


long education). Karena itu pendidikan berlangsung dalam konteks hubungan
individu yang bersifat multi dimensi, baik dalam hubungan individu dengan
Tuhannya, sesama manusia, alam, bahkan dengan dirinya sendiri.

3. Dalam hubungan yang besifat multi dimensi itu, pendidikan berlangsung


melalui berbagai bentuk kegiatan, tindakan, dan kejadian, baik yang pada
awalnya disengaja untuk pendidikan maupun yang tidak disengaja untuk
pendidikan.

4. Berlangsung bagi siapa pun. Setiap individu anak-anak atau pun orang
dewasa, siswa/mahasiswa atau pun bukan siswa/ mahasiswa dididik atau
mendidik diri.

5. Pendidikan berlangsung dimana pun. Pendidikan tidak terbatas pada schooling


saja. Pendidikan berlangsung di dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan di
dalam lingkungan alam dimana individu berada. Pendidik bagi individu tidak
terbatas pada pendidik profesional.

C. Pengertian Pendidikan Alternatif


pendidikan alternatif adalah segala macam pendidikan yang beda dari bentuk
pendidikan tradisional. Jadi di model pendidikan alternatif, tidak terikat sama satu
sekolah dan biasanya kurikulumnya pun disesuaikan, tidak sama dengan sekolah
pada umumnya.

Menurut Jery Mintz, pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk,
yaitu:

1. Sekolah publik pilihan (public choice):

Yang dimaksud dengan sekolah publik pilihan adalah lembaga pendidikan


dengan biaya negara atau biasa kita sebut sekolah negeri yang
menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan
dengan program regular/konvensional, namun mengikuti tetap sejumlah aturan
baku yang telah ditentukan. Contoh, sekolah publik pilihan adalah sekolah
terbuka/korespondensi (jarak jauh). Kondisi sekarang adalah SMP Terbuka,
SMU Terbuka, Universitas Terbuka. Sekolah/lembaga

2.pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk):


Pengertian “siswa bermasalah” di sini meliputi mereka yang:

– Tinggal kelas karena lambat belajar,

– ‘Nakal’ atau mengganggu lingkungan (termasuk mereka yang sedang


menjalani masa pemasyarakatan di Lembaga Permasyarakatan Anak),

– Korban penyalahgunaan narkoba,


– Korban trauma dalam keluarga karena perceraian orang tua, ekonomi,
konflik etnis/budaya (termasuk bagi anak suku terasing, anak jalanan, dan anak
gelandangan),

– Putus sekolah karena berbagai sebab lain,

– Belum pernah mengikuti program sebelumnya

3. Sekolah/lembaga pendidikan swasta/independen:


Macam pendidikan alternatif yang kali ini mempunyai jenis, bentuk, dan program
yang sangat beragam, termasuk di dalamnya:

– Program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren dan sekolah


minggu

– Lembaga pendidikan bercirikan keterampilan fungsional seperti kursus atau


magang

– Lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia dini


seperti

penitipan anak, kelompok bermain, dan taman kanak-kanak

4. Pendidikan di rumah (home-based schooling):


Termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh
keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah,
misalnya dari kakak ke adik, orangtua ke anak, antarsepupu, keponakan, dan lain
sebagainya.
PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN
A.syarat-syarat berdirinya ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang sistematis dan metodis tentang
suatu hal atau masalah. Ilmu pengetahuan harus ada objeknya.. adapun objek
ilmu pengetahuan adalah obyek material dan formal. Obyek material adalah
bahan yang menjadi sasaran suatu ilmu pengetahuan sedangkan obyek formal
adalah sudut pembahasan suatu ilmu pengetahuan, misal: ilmu jiwa dan ilmu
manusia yang kedua macam ilmu pengetahuan itu mempunyai obek material
sama (manusia), akan tetapi obyek formalnya berbeda.

Oleh karena itu obyek material ilmu pengetahuan dapat sama sedang obyek
formalnya berbeda.Ilmu pengetahuan harus metodis : ilmu pengetahuan dalam
mengadakan pembahasan serta penyelidikan untuk suatu ilmu pengetahuan
harus menggunakan metode yang ilmiah.

Ilmu pengetahuan harus sistematis harus mempunyai dinamika : ilmu


pengetahuan harus tumbuh dan berkembang untuk mempunyai kesempurnaan.
Suatu ilmu pengetahuan harus memenuhi tiga persyaratan pokok dan
beberapa persyaratan tambahan, diantaranya :

Persyaratan Pokok
• Suatu ilmu harus mempunyai objek tertentu
• Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan metode-metode yang sesuai
• Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan sitematika tertentu
Persyaratan Tambahan
• Suatu ilmu pengetahuan harus mempunyai dinamika
• Suatu ilmu pengetahuan harus praktis
• Suatu ilmu pengetahuan harus diabdikan untuk kesejahteraan umat
manusia

B. Ilmu pendidikan sebagai ilmu normatif, teoritis, dan praktis

Ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan dimulaikan dengan meletakkan ilmu pendidikan
dalam sistematika ilmu pengetahuan. Menurut sistemnya, ilmu pengetahuan dibedakan
sebagai berikut :

1. Ilmu-ilmu Murni : berdiri sendiri lepas dari pada ilmu pengalaman (empiris). Contoh;
Matematika
2. Ilmu-Ilmu Pengalaman (Empiris) : diperoleh berdasarkan pengalaman. Jadi objeknya
adalah gejala-gejala kehidupan, baik yang Nampak ataupun yang tidak Nampak.
Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris yang diangkat dari pengalaman
pendidikan, kemudian disusun secara teoritis untuk digunakan secara praktis. Dengan
menempatkan kedudukan ilmu pendidikan di dalam sistematika ilmu pengetahuan, maka
uraian selanjutnya adalah ilmu pendidikan sebagai Ilmu Normatif dan Ilmu pendidikan
sebagai Ilmu Teoritis dan Praktis.

1. Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Normatif


Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan kaidah atau pedoman
atau ukuran tingkah laku manusia. Sesuatu yang normatif berarti berbicara masalah baik
atau buruk dari perilaku manusia. Ilmu Pendidikan merumuskan peraturan-peraturan tentang
bertingkah laku manusia untuk mencapai keteraturan hidup.Keteraturan hidup akan
menjamin kelangsungan keeratan (kohesi)antarmanusia (hubungan sosial manusia).
Ilmu pendidikan itu selalu berurusan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan
mengenai siapakah manusia itu biasanya termasuk bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi.
Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep serta
praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang
dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa yang melakukan pendidikan.
Nilai yang dijunjung tinggi ini dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingin
dicapai melalui praktik pendidikan Karena Ilmu Pendidikan bersifat normatif berarti pula
bersifat praktis karena ilmu pendidikan sebagai bahan ajar yang patut diterapkan sehingga
pendidik bertugas menanamkan sistem-sistem norma bertingkah laku manusia yang
dibanggakan, dihormati, dan dijunjung tinggi oleh masyarakat.

2. Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu yang Bersifat Teoritis dan Praktis


Ilmu Pendidikan termasuk pengetahuan normatif karena berkaitan erat dengan pandangan
tentang manusia, nilai dan norma hidup yang membentuk keperibadian manusia (anak didik).
Ilmu Pendidikan bersifat teoritis dan praktis karena berkaitan dengan strategi tindakan
mendidik atau praktek mendidik
Dalam ilmu mendidik teoritis para cerdik pandai mengatur dan mensistemkan di dalam
swapikirnya masalah yang tersusun sebagai pola pemikiran pendidikan. Jadi dari praktik-
praktik pendidikan disusun pemikiran-pemikiran secara teoritis. Pemikiran-pemikiran teoritis
inilah yang disusun dalam satu sistem pendidikan yang biasa disebut Ilmu Mendidik Teoritis.
Terdapat hubungan antara ilmu mendidik teoritis, sistematis dan histories. Apa sajakah yang
dapat disumbangkan sejarah pendidikan bagi teori pendidikan maupun praktik pendidikan?.
Meskipun ilmu mendidik sistematis mendahului ilmu mendidik histories, akan tetapi ilmu
mendidik histories juga memberikan bantuan dan memperkaya ilmu mendidik sistematis.
Selanjutnya adalah bagaimana hubungan antara ilmu mendidik histories dan ilmu mendidik
praktis. Seorang maha guru ilmu mendidik JM.Guning berkata : teori tanpa praktek adalah
baik pada human cerdik cendikiawan dan praktek tanpa teori hanya terdapat pada orang gila
dan penjahat – penjahat namun alangkah lebih sempurnanya ilmu pendidikan itu dilakukan
dengan cara teori dan praktek secara bersama-sama.

C. CABANG – CABANG DAN ILMU BANTU PENDIDIKAN

Menurut Langeveld (1952) mengklasifikasikan cabang ilmu pendidikan sebagai berikut:


1. Ilmu pendidikan Teoritis
1. Ilmu pendidikan sistematis
2. Sejarah pendidikan
3. Ilmu perbandingan pendidikan
4. Ilmu pendidikan praktis
1. Metodik
2. Pendidikan keluarga
3. Pendidikan keagamaan
Ilmu bantu yang diperlukan dalam ilmu pendidikan antara lain:
Ilmu-ilmu biologi, misalnya ; Embriologi, Anatomi, Fisiologi, dan lain sebagainya.
Ilmu jiwa, misalnya; Ilmu Jiwa Umum, Ilmu Jiwa Perkembangan, Ilmu Jiwa Sosial
Ilmu-ilmu sosial, misalnya; Sosial, Ekonomi, Hukum, dan lain sebagainya.

PENDIDIKAN SEBAGAI SEBUAH SISTEM


ALIRAN – ALIRAN DASAR TEORI DAN TEKNIK-TEKNIK MANAJEMEN

A. aliran –aliran dasar teori manajemen

 Aliran Klasik
Teori klasik berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sfatnya rasional, berfikir
logik, dan kerja suatu yang diharapkan. Salah satu teori klasik adalah manajemen
ilmiah ( scientific management) dipelopori oleh federik W Taylor (1856 – 1915).
Pendekatan ilmiah ini berpandangan yang menjadi sasaran manajemen adalah
mendapat kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawan.
Pelopor klasik lainnya yaitu Henri Fayol (1916) menerbitkan administrasion industrielle
et generale yang berisi lima pedoman manajemen, yaitu :
– Perencanaan
– Pengorganisasian
– Pengkomandoan
– Pengkoordinasiaan
– Pengawasan

Aliran klasik lainnya dipelopori oleh Max Weber (1947). Menurut Weber birokrasi merupakan
ciri dari pola organisasi yang strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga secara maksimal
dapat memanfaatkan tenaga ahli. Karakter birokrasi ini ditandai dengan :
– Adanya pembagian tugas dan spesialis.
– Hubungan yang terjadi dalam organisasi adalah hubungan impersonal.
– Dalam organisasi ada hirarki wewenang.
– Administrasi selalu didasarkan dan dilaksanakan dengan dokumen tertulis.
– Orientasi pembinaan pegawai adalah pengembangan karier.
– Setiap tindakan yang diambil dalam organisasi harus dikaitkan dengan besarnya
sumbangan terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Filley, Kerr dan Hous (1976) kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar
dikemukakan sebagai berikut :
– Teori klasik adalah teori yang terikat waktu.
– Teori klasik mempunyai ciri deterministik.
– Teori ini merumuskan asumsinya secara skeplistik.

 Aliran modren
Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang
berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi adalah suatu sistem
terbuka yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya.
Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950, Teori
modern, dengan tekanan pada perpaduan dan perancangan, menyediakan
pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.
Teori organisasi modern labih dinamis daripada teori-teori lainnya dan meliputi lebih
banyak variabel yang dipertimbangkan. Teori modern bisa disebut sebagai teori
organisasi dan manajemen yang memadukan teori klasik dan neoklasik dengan
konsep-konsep yang lebih maju. Teori modern menyebutkan bahwa kerja suatu
organisasi adalah sangat kompeleks, dinamis, multilevel, multidimensional,
multivariabel, dan probabilistik.

• DASAR PEMIKIRAN TEORI ORGANISASI MODERN


Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950 , banyak hal
yang mendasar berbeda dengan teori klasik :
1. Teori klasik memusatkan pandangannya pada analisa dan deskripsi organisasi .
Melalui analisa dan metode ilmiah , sasaran-sasaran organisasi telah dibagi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil sesuai hakekat pekerjaan itu sendiri.
2. Ilmu pengetahuan klasik telah membicarakan konsep koordinasi ,skalar dan vertikal .
Dengan berkembangnya teknologi dan majunya kegiatan-kegiatan perlu konsep sistem .
Maka timbullah perhatian pada operasi atau proses organisasi . Teori organisasi modern
lebih dinamis daripada teori-teori lainnya dan meliputi lebih banyak variabel yang
dipertimbangkan.
• Tokoh-tokoh dalam Aliran Modern
1. Abraham Maslow, yang mengemukakan adanya idquo, yaitu Ego dan Super Ego, dan
Hirarki Kebutuhan Manusia, dalama penjelasannya tentang perilaku manusia dan
dinamika motivasi.
2. Douglas McGregor, yang terkenal karena mengemukakan teori X dan teori Y.
3. Frederick Herzberg, yang mengemukakan teori motivasi higienis dan teori dua factor.
4. Robert Blak dan Jane Mounton, yang membahas lima gaya kepemimpinan dan kisi-kisi
manajerial (managerial grid).
5. Rensistlikert, yang telah mengidentifikasi dan melakukan penelitian secara ekstensive
mengenai Empat Sistem Manajemen, diantaranya Exploitif-Otoritatif sampai Partisipatif
Kelompok.
6. Chris Argyris, yang memandang organisasi sebagai sistem social atau sistem
hubungan antar budaya.
• Aplikasi Teori Aliran modern Pada Kehidupan Manusia
Pada aplikasi manajemen yang diterapkan pada tiap perusahaan dan organisasi
berbeda-beda. Perbedaan mencolok terjadi pada perusahaan berskala besar dengan
perusahaan kecil bahkan home industry. Perubahan kondisi ekonomi global disiasati oleh
para manajemen dengan menggunakan satu teori atau menggabungkan beberapa teori
manajemen yang paling sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.
Banyak perusahaan yang telah mengaplikasikan teori modern dalam sistem
manajemennya, terutama untuk berbagai kegiatan penting, seperti dalam hal
penganggaran modal, manajemen cash flow, penjadwalan produksi, strategi
pengembangan produksi, perencanaan sumber daya manusia dan sebagainya. Hal ini
untuk efisiensi waktu, tenaga dan biaya. Meskipun teori ini memiliki kelemahan karena
sisi kemanusiaan yang mulai tergeser.
Guna meminimalisir kekurangan dari teori ini, banyak perusahaan menggabungkan
beberapa teori manajemen baik klasik, neo klasik maupun modern. Pencapain tujuan
bersama organisasi dapat terakomodir, sehingga diharapkan kepuasan dapat dicapai
oleh masing-masing anggota dari suatu organisasi atau perusahaan.
B.prinsip – prinsip administrasi dan manajemen

Menurut Henry Fayol, ada 14 prinsip-prinsip manajemen, yaitu:

1. Pembagian Kerja (Devision of work)

2. Wewenamg dan Tanggung jawab (Authority and Responsibility)

3. Disiplin (Discipline)

4. Kesatuan Perintah (Unity of Command)

5. Kesatuan Arah (Unity of Direction)

6. Mengutamakan Kepentingan Umum Diatas Kepentingan Pribadi (Sub Ordination Of


Individual interest to The Command Good)

7. Pemberian Upah (Remuneration)

8. Pemusatan (Centralization)

9. Jenjang Jabatan (The Hierarchy)

10. Tata Tertib (Order)

11. Kesamaan (Equity)

12. Kestabilan Staf (Stability of staff)

13. Inisiatif (initiative)

14. Semangat Korps (Esprit de Corps)

Untuk lebih mudah diingat, bagi kita cukup membahas 7 (tujuh) prinsip manajemen sebagai
berikut:

1. Pembagian Kerja (Devision of Work)

Sebelum pekerjaan dilaksanakan, lebih dahulu diadakan pembagian kerja. Syarat


pembagian kerja:

a. Pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan atau keahlian dan pengalaman (The right man
on the right place).

b. Pekerjaan/tugas dibagi habis tanpa ada tumpang tindih.


c. Memperhatikan keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab.

d. Memperhatikan span of control (kemampuan atasan mengawasi bawahannya secara


langsung).

Dalam melaksanakan tugas senantiasa dilengkapi dengan wewenang dan tanggung jawab
“wewenang tanpa tanggung jawab buta, tanggung jawab tanpa wewenang pincang”.

Setiap wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada bawahan harus jelas
batasannya serta harus menganut prinsip keseimbangan. Apabila wewenang terlalu
berlebihan dibanding dengan tanggung jawab yang diterima akan terjadi kesewenang-
wenangan. Sebaliknya apabila tanggung jawab berlebihan dibanding dengan wewenang
yang diterimanya maka bawahan yang bersangkutan tidak dapat melaksanakan tugas
dengan baik.

2. Wewenang dan Tanggung Jawab (Authority and Responsibility)

Dalam pembagian pekerjaan harus disertakan dengan pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab. Setiap wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada bawahan harus jelas
batasannya serta harus menganut prinsip keseimbangan antara wewenang dan tanggung
jawab tersebut.

Apabila wewenang terlalu berlebihan dibandingkan dengan tanggung jawab yang diterima,
maka akan terjadi tindakan sewenang-wenang dari pejabat yang menerima wewenang
tersebut terhadap bawahannya. Sebaliknya apabila tanggung jawab berlebihan
dibandingkan dengan wewenang yang diterima maka bawahan yang menerima wewenang
dan tanggung jawab tersebut tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut
dengan sebaik-baiknya

3. Prinsip Kesatuan Komando (Unity of Command)

Komando atau perintah terhadap bawahan harus sama dari atas sampai bawah (satu
bahasa) serta harus berasal dari sumber yang sama/satu. Maksudnya agar dalam
pelaksanaan tugas, bawahan tidak bimbang dan ragu serta jelas kemana ia harus
bertanggung jawab.

4. Prinsip KISS (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplikasi)


Koordinasi ialah segala kegiatan untuk menghimpun dan sekaligus untuk mengarahkan
kegiatan-kegiatan semua sarana atau alat-alat (6M) untuk mencapai tujuan organisasi
Integrasi ialah usaha untuk menyatukan berbagai bagian atau unit dalam organisasi
sehingga merupakan suatu kebulatan pemikiran maupun tindakan ke arah satu sasaran.

Sinkronisasi ialah usaha untuk menyelaraskan atau menyesuaikan kegiatan dari berbagai
bagian guna mencapai keserasian atau keharmonisan tindakan dalam mencapai sasaran.

Simplikasi ialah usaha untuk melakukan penyederhanaan di dalam organisasi maupun


penyederhanaan dalam sistem atau cara kerja supaya terjadi penghematan tenaga, waktu
dan biaya sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Penyederhanaan ini perlu dilakukan
apabila terjadi kelesuan dalam bidang pemasaran, terjadi penurunan produksi sehingga
pemasukan tidak sesuai dengan pengeluaran.

5. Prinsip Tertib dan Disiplin

Suatu ketertiban dan disiplin dalam setiap usaha amat penting, sebab dengan menjalankan
tertib dan disiplin pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan. Dengan
disiplin dan tertib mutu kerja akan mengingkat pula.

Misal semboyan dalam bahasa Latin: UBI URDO DEFICIT NULIA VIRTUS SUFICIT, yang
artinya dimana tidak berlaku ketertiban disana tidak akan tercapai mutu yang tinggi.

6. Prinsip Semangat Kesatuan atau Prinsip Expirit De Korps

Setiap orang yang bekerja sama dalam suatu usaha perlu memiliki jiwa kesatuan, rasa
senasib dan seperjuangan, mulai dari tingkat yang paling atas sampai paling bawah. Dengan
semangat korps setiap orang akan bekerja dengan senang hati akan timbul inisiatif serta
prakarsa untuk memajukan usaha.

7. Prinsip Keadilan dan Kejujuran

Semangat kesatuan akan terbina jika dalam usaha itu berlaku keadilan dan kejujuran. Adil
pula dalam pembagian pendapatan (upah) sesuai dengan berat ringannya tugas dan
tanggung jawab seseorang. Kejujuran disini berarti bekerja pertama-tama untuk kepentingan
bersama dalam organisasi dan bukan mendahulukan kepentingan pribadi.
C. Teknik- teknik dalam manajemen

Menjalankan bisnis atau kantor membutuhkan berbagai keterampilan, namun yang paling penting
adalah kemampuan untuk mengelola orang yang bekerja di bawah Anda. Sebuah gaya
manajemen yang efektif dapat membuat semua perbedaan mampu menyelesaikan pekerjaan
dengan tepat waktu dan sesuai anggaran. Manajer yang baik harus memiliki beberapa teknik
yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

Delegasi
Tidak ada yang bisa melakukan segalanya. Inilah sebabnya mengapa Anda memiliki karyawan.
Manajer harus menahan keinginan untuk mencoba melakukan pekerjaan karyawan. Manajer
yang baik mampu melakukan delegasi terhadap pekerjaan yang dapat dilakukan oleh
bawahannya.

Manajemen konflik
Hal ini penting dikuasai karena orang-orang yang terlibat kadang-kadang terjadi konflik. Manajer
yang baik harus mampu menemukan cara untuk menenangkan keadaan tersebut.

Konsultasi
Tidak ada orang yang bisa tahu segalanya. Sementara manajer menjalankan kantor mungkin
menjadi orang yang paling berpengalaman, namun pengetahuan kolektif dan kemanfaatan dari
seluruh staf jauh lebih besar manfaatnya. Untuk alasan ini, merupakan ide yang baik bagi
manajer untuk berkonsultasi dengan karyawan, terutama ketika membuat keputusan yang
mungkin mempengaruhi bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka.

Otokratis
Dalam beberapa situasi, gaya konsultasi dan kerjasama yang santai harus dibuang. Manajer
yang baik tahu kapan waktunya untuk mulai mengeluarkan perintah tegas kepada karyawannya.
Ini semacam gaya otokratis yang paling sering dibutuhkan saat keadaan darurat atau beberapa
situasi yang tak terduga yang membutuhkan penyesuaian yang cepat. (*/AS)

PERENCANAAN

A.pengertian perencanaan
Pengertian Perencanaan adalah Suatu proses dalam menentukan tujuan organisasi
dan perumusan terkait cara atau metode yang tepat untuk meraih tujuan tersebut
yang melibatkan berbagai aspek seperti sinergi antara peraturan/pedoman dengan
Sumberdaya yang ada.

1. Pengertian Perencanaan Menurut Para Ahli


George R. Terry
Pengertian perencanaan adalah pemaparan suatu fakta dan usaha untuk mengubungkan antar
fakta.

Kemudian selanjutnya dibuat prediksi dan peramalan mengenai kondisi dan perumusan aktivitas
dimasa mendatang yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

W.H. Newman
Pengertian perencanaan adalah langkah dalam mengambil suatu keputusan pendahuluan terkait
kegiatan yang perlu dilaksanakan termasuk segala aktivitas sebelum kegiatan dilakukan.

Dr. SP. Siagian MPA


Pengertian perencanaan adalah segala proses pemikiran serta perumusan yang mendalam
mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu mendatang untuk meraih tujuan yang
ditetapkan.

Harold Koontz dan O’Donnell


Pengertian perencanaan adalah sebuah kewajiban dari seorang manajer dalam penentuan
pilihan yang diambil dari bermacam-macam alternatif, aturan, kebijaksanaan dan program.

2. Pengertian Perencanaan Secara Umum


Terdapat pula definisi perencanaan secara umum yang juga dikemukakan oleh berbagai macam
pihak yang fokus pada bidang ilmu manajemen.

Soekidjo (2003)
Pengertian perencanaan adalah aktivitas dalam proses analisa untuk memahami metode dalam
menyusun konsep dan program yang dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan di masa
mendatang.

Usman (2011)
Pengertian perencanaan adalah aktivitas yang akan dijalankan di waktu mendatang dalam
peraihan tujuan yang mencakup berbagai unsur seperti sejumlah aktivitas yang telah ditetapkan,
metode dan output yang akan diraih dan terkait periode pencapaian.

Schermerhorn (1996)
Definisi perencanaan adalah proses dalam menetapkan suatu tujuan dan penetapan langkah
yang perlu dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Samuel Certo (1997)


Pengertian perencanaan adalah proses penetapan terkait cara dari sistem manajemen
organisasi dalam rangka pencapaian tujuan

B. Pentingnya perencanaan
Ada beberapa alasan mengapa perencanaan begitu penting terhadap manajemen
organisasi, berikut:
1. Tujuan menjadi jelas dan terarah Perencanaan sebagai langkah awal dari pencapaian
tujuan akan memberikan arah dan kejelasan tujuan tersebut, sehingga semua komponen
ataupun elemen-elemen dalam organisasi mengetahui dengan baik tujuan yang hendak
dicapai.

2. Semua bagian yang ada dalam organisasi akan bekerja ke arah satu tujuan yang sama
Ketika semua elemen atau bagian dalam organisasi mengetahui tujuan organisasinya
dengan jelas dan benar, maka mereka akan bekerja ke satu arah yang sama. Artinya
mereka memahami prosedur apa saja yang akan dilakukan sebagaimana yang telah mereka
sepakati dalam perencanaan.

3. Menolong mengidentifikasikan berbagai hambatan dan peluang Dengan adanya


perencanaan maka organisasi mampu mengidentifikasi berbagai hambatan dan peluang
yang ada di lingkungan luar organisasi. Adanya hambatan dan peluang yang datang akan
menuntut organisasi mempersiapkan tindakan-tindakan antisipasi ke depan sehingga
mereka tetap berada di lajur menuju tujuan awal.

4. Membantu pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif Perencanaan memberikan


pandangan bagi organisasi mengenai tindakan apa saja yang harus mereka lakukan demi
tercapainya tujuan, termasuk di dalamnya biaya dan lamanya waktu yang dibutuhkan
sehingga tujuan terealisasi. Hal ini akan membantu organisasi menjadi lebih efektif dan
efisien dalam mencapai tujuan.

5. Perencanaan sendiri dapat diartikan aktivitas pengawasan Ketika prosedur kerja sudah
ada dan jelas, tentu hal ini menjadi sebuah control terhadap pelaksanaan di lapangan.
Artinya mereka akan bekerja sesuai prosedur sebab perencanaan sebagai pengawasan.

6. Perencanaan juga membantu untuk mengurangi resiko dan ketidakpastian Dalam


mencapai sebuah tujuan, terdapat berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang akan
menghadang dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, adanya perencanaan
akan memperjelas tindakan-tindakan dan prosedur kerja sehingga ketidakpastian tersebut
dapat diminimalisir.

C. Proses Perencanaan

Sebelum para manager dapat mengorganisasi, memimpin, atau mengendalikan, terlebih


dahulu mereka harus membuat rencana yang memberikan arah pada setiap kegiatan
organisasi. Pada tahap perencanaan manager menentukan Apa yang akan dikerjakan,
Kapan akan dikerjakan, Siapa yang akan mengerjakan dan Bagaimana mengerjakannya.

Kebutuhan akan perencanaan ada pada semua tingkatan manajemen dan semakin
meningkat pada tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai
kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan organisasi. Pada tingkatan top
manajer pada umumnya mencurahkan hampir semua waktu perencannannya jauh ke masa
depan dan pada strategi-strategi dari seluruh organisasi. Manajer pada tingkatan yang lebih
rendah merencanakan terutama untuk sub-unit mereka sendiri dan jangka waktu yang lebih
pendek.

Terdapat pula beberapa variasi dalam tanggung jawab perencanaan yang tergantung pada
ukuran dan tujuan organisasi dan pada fungsi atau kegiatan khusus manajer. Organisasi
yang besar dan berskala internasional lebih menaruh perhatian pada perencanaan jangka
panjang daripada perusahaahn local. Akan tetapi pada umumnya organisasi perlu
mempertimbangkan keseimbangan antara perencanaan jangka panjang maupun
perencanaan jangka pendek. Karena itu penting bagi para manajer untuk mengerti peranan
perencanaan jangka pendek dan jangka panjang dalam pola perencanaan secara
keseluruhan.

Menurut T. Hani Handoko (1999) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap
sebagai berikut:

1. Menetapkan tujuan

2. Merumuskan keadaan (proses-proses perencanaan)

3. Menentukan berbagai alternative tindakan

4. Mengembangkan rencana dan melaksanakannya

D. jenis – jenis perencanaan dalam organisasi

Jenis jenis perencanaan manajemen ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai sepeti tujuan strategis,
taktis dan operasional. Perbedaannya adalah pada periode waktu yang diperlukan.

Perencanaan Strategis
Pada perencanaan strategis, strategi, program dan kegiatan yang disusun didasari pada visi Organisasi.
Periode waktu pencapaian tujuan jangka panjang yaitu antara 3 hingga tahun atau lebih. Biasanya
perumus dari perencanaan strategis adalah para manajer puncak.Contoh perencanaan strategis adalah
perencanaan untuk menjadi market leader di pasar tertentu.

Perencanaan Taktis
Proses penyusunan rencana secara taktis adalah proses pembentukan rencana seperti metode dari tiap
manajer dalam peraihan sasaran yang telah ditetapkan oleh pimpinan puncak yang termaktub dalam
perencanaan strategis. Perencanaan ini memiliki periode waktu antara 1 hingga 3 tahun.Contoh
perencanaan taktis adalah perencanaan untuk peningkatan pangsa pasar.

Perencanaan Operasional
Perencanaan jangka pendek antara 6 bulan hingga 1 tahun atau maksimal 2 tahun yang digunakan
sebagai langkah pencapaian tujuan dari perencanaan strategis dan taktis. Contoh perencanaan
operasional adlah perencanaan untuk peningkatan penjualan di tiap outlet.

E. Hambatan dan kelemahan dalam perencanaan

1. Kurang pengetahuan tentang organisasi


2. Kurang pengetahuan tentang lingkungan
3. Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif
4. Kesulitan perencanaan operasi-operasi yang tidak berulang
5. Ketidaksediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif
6. Biaya
7. Takut gagal
8. Kurang percaya diri
Cara Mengatasi Hambatan
1. Melibatkan para pegawai, terutama mereka yang terkena pengaruh dalam proses
perencanaan.
2. Memberikan banyak informasi kepada para pegawai tentang rencana dan kemungkinan akibat-
akibatnya sehingga mereka memahami perlunya perubahan serta mendapat manfaat yang
diharapkan dan apa yang diperlukan untuk pelaksanaan yang efektif.
3. Mengembangkan suatu pola perencanaan dan penetapan yang efektif, suatu "track
record" yang berhasil mendorong kepercayaan kepada para pembuat rencana, serta menjadikan
rencana baru tersebut diterima.
4. Menyadari dampak dari perubahan-perubahan yang diusulkan kepada para anggota organisasi
dan memerkecil gangguan yang tidak perlu.

kelemahan perencanaan

Beberapa kelemahan perencanaan adalah :


1. Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada
kontribusi nyata
2. Perencanaan cenderung menunda kegiatan
3. Perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif
dan berinovasi
4. Kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penanganan
setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi
5. Ada beberapa rencana yang diikuti caracara yang tidak konsisten
PENGORGANISASIAN

A. Pengertian pengorganisasian

1. Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan


pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur
organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya.
Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
Pengorganisasian (Organizing) adalah suatu langkah untuk menetapkan,
menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan yang di pandang.
Seperti bentuk fisik yang tepat bagi suatu ruangan kerja administrasi, ruangan
laboratorium, serta penetapan tugas dan wewenang seseorang pendelegasian
wewenang dan seterusnya dalam rangka untuk mencapai tujuan.

Struktur Organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal


organisasi diolah. Struktur organisasi terdiri atas unsur spesialisasi kerja,
standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan
keputusan dan ukuran satuan kerja.

2. Pengorganisasian sebagai Salah satu Fungsi Manajemen


Setelah kita telah mempelajari perencanaan sebagai salah satu fungsi
manajemen, tentunya kita harus mempelajari fungsi manajemen lainnya. Salah
satu fungsi manajemen adalah mengetahui pengorganisasian yang merupakan
salah satu fungsi manajemen yang penting karena dengan pengorganisasian
berarti akan memadukan seluruh sumber-sumber yang ada dalam
organisasi,baik yang berupa sumber daya manusia maupun sumber daya
lainnya ke arah tercapainnya suatu tujuan.pentingnya pengorganisasian
sebagai fungsi yang dijalankan oleh setiap manajer atau orang-orang yang
menjalankan manajemendalam setiap organisasi.Fungsi manajemen lainnya
yaitu pengorganisasian.

B. Asas – asas, tujuan, dan prinsip pokok organisasi

suatu organisasi yang baik perlu dilandasi oleh suatu asas-asas atau prinsipprinsip tertentu.
Dengan pengetahuan tentang asas-asas atau prinsip-prinsip organisasi maka dalam setiap
usaha untuk mengorganisasi kalau tidak mau mengalami kesulitan atau kegagalan maka
prinsip-prinsip tersebut harus kita perhatikan. Adapun beberapa asas atau prinsip organisasi
yang perlu diketahui antara lain adalah sebagai berikut :

1. Asas perumusan tujuan

Dalam menyusun suatu organisasi, maka asas yang harus diperkirakan adalah asas
perumusan tujuan.
2. Asas pembagian kerja

Dimuka telah dikemukakan bahwa, dalam pembentukan atau penyusunan suatu organisasi
adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif.

3. Asas pendelegasian wewenang

Bagi manajer sulit untuk melakukan seluruh pekerjaan seorang diri baik karena keterbatasan
kemampuan waktu dan sebagainnya.

4. Asas koordinasi

Dengan adanya pembagian kerja dalam suatu organisasi maka diharapkan dalam
pelaksanaan tugas-tugasnya jangan sampai terjadi kesimpang siuran. Akan tetapi, dalam
praktek adanya koordinasi yang baik maka kemungkinan kesimpang siuran itu tetap ada,
sebab kecenderungan setiap orang atau setiap bagian mempunyai egoisme untuk berusaha
melaksanakan tugasnya sebaik mungkin.

5. Asas batas efisiensi pengawasan

Dalam meningkatkan tugas masing-masing orang / bagian tersebut mempunyai beberapa


orang yang dibawah pengawasannya untuk itu batas-batas efisiensi pengawasan harus
betul-betul diperhatiakan, artinya bila batas pengawasan orang hanya lima orang maka
janganlah orang tersebut dibebani untuk mengawasi delapan orang.

6. Asas pengawasan umum

Suatu organisasi tidak dapat terjamin kelancarannya bila pengawasannya kurang baik
untuk itu maka dalam penyusunan organisasi harus dilakukan sedemikian rupa misalnya
diusahakan penyusunan organisasi yang sederhana sehingga dengan demikian pimpinan
akan mampu melakukan pengawasan secara keseluruhan.

C. Langkah – langkah dan proses pengorganisasian

1. Penetapan dan Pengimbangan Aktivitas


Yang dimaksud dengan langkah ini pada hakikatnya adalah merupakan pembagian,
penggolongan,dan penyusunan aktivitas-aktivitas yang akan dilaksanakan, sehingga
menjadi kelompok-kelompok yang teratur berdasarkan kesamaan sifat dalam
pelaksanaan.

2. Penyusunan Organ atau Wadah


Dengan berpedoman pada langkah yang petama, langkah ini dimaksudkan untuk
membuat organ atau wadah yang diperlukan untuk mewadahi segenap kegiatan yang
telah tersusun. Di samping harus berpedoman pada hasil langkah pertama,
pembentukan wadah ini hendaknya berpangkal juga pada sesuatu ide.

3. Mengisi Organ dengan Tugas, Kekuasaan, Wewenang dan


Tanggung Jawab
Yang dimaksud dengan langkah ini adalah memasukkan kegiatan yang telah tersusun, ke
dalam organ yangtelah dibentuk. Dalam pengisian tugas, harus juga dilengkapi dengan
wewenang dan tanggung jawab yang sepadan. Dalam arti pejabat yang diserahi tugas harus
diberi wewenang pula untuk mengambil tindakan-tingakan yang diperlukan, agar tugasnya
dapat dilaksanakan dengan baik.
Penyerahan tugas dan wewenang berarti penyerahan tanggung jawab, maka berarti ada
keharusan untuk melaksanakan dengan selayaknya segala sesuatu yang telah diserahkan.

4. Menghubung-hubungkan Organ Satu dengan yang Lain


dengan Garis Wewenang dan Tanggung Jawab
Dari hasil langkah pertama, kedua, dan ketiga dapat terlihat gambaran visual kotak-kotak
organ yang telah berisi tugas, wewenang, dan tanggung jawab, maka selanjutnya kotak-kotak
organ itu perlu dihubung-hubungkan. Jadi langkah ini adalah suatu aktivita untuk menentukan
hubungan kekuasaan dan tanggung] awab berdasarkanatas wewenang formal. Manifestasi
dai hasil langkah ini adalah garis-garis hubungan kekuasaaan yang bersifat formal.

5. Melengkapi Organ dengan Alat Perlengkapan yang Diperlukan


Alat dan atau perlengkapan bukanlah harus baik, karena mempunyai nilai atau harga yang
tinggi. Tetapi yang diperlukan adalah alat yang tepat dipakai, karena sesuai dengan
corak pekerjaan.

6. Penempatan Orang yang Tepat Pada Masing-masing Organ


Dengan berakhirnya kelima langkah tersebut di atas, berbagai aktivitas organisasi telah
tersusun. Berbagai pekerjaan yang harus dilaksanakan antar individu, antar unit sudah
dialokasikan, lengkap beserta alat perlengkapan yang dibutuhkan

7. Membuat Bagan Organisasi


Langkah yang terakhir ini dimaksudkan untuk melukiskan atau menggambarkan struktur
organisasi di atas kertas, atau membuat bagan organisasi.

D. Desain struktur organisasi


Struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi.

Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara
posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai
tujuan atau bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara
formal.

Desain organisasi merupakan proses perkembangan hubungan dan


penciptaan struktur untuk mencapai tujuan organisasi sedangkan struktur merupakan
hasil dari proses desain yang merupakan suatu kegiatan yang bersifat kontinu dan
dirancang oleh manajer.
E. Jenis – jenis bagan organisasi

Adapun terdapat beberapa macam bentuk struktur organisasi yaitu


: A. Organisasi Lini
Organisasi Garis / Lini adalah suatu bentuk organisasi dimana
pelimpahan wewenang langsung secara vertical dan sepenuhnya
dari kepemimpinan terhadap bawahannya Bentuk lini juga disebut
bentuk lurus atau bentuk jalur. Organisasi Lini ini diciptakan oleh
Henry Fayol.

Ciri:
1. Hubungan antara pimpinan & bawahan masih bersifat
langsung melalui satu garis wewenang
2. Selain top manajer , manajer dibawahnya hanya sebagai
pelaksana
3. Jumlah karyawan sedikit
4. Sarana dan alatnya terbatas
5. Bentuk lini pada perusahaan perseorangan, pemilik
perusahaan adalah sebagai top manajer
6. Organisasi kecil

B. Organisasi Lini dan Staf


Organisasi Lini dan Staf adalah kombinasi dari organisasi lini dan
organisasi fungsional. Pelimpahan wewenang dalam organisasi ini
berlangsung secara vertikal dari seorang atasan pimpinan hingga
pimpinan dibawahnya.
Ciri:
1 Hubungan atasan dan bawahan tidak seluruhnya secara
langsung
2 Karyawan banyak
3 Organisasi besar
Ada dua kelompok kerja dalam organisasi sehingga ditekankan
adanya spesialisasi:
1. Personel lini
2. Personel staf

C. Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional diciptakan oleh F.W.Taylor yaitu suatu bentuk
organisasi di mana kekuasaan pimpinan dilimpahkan kepada para
pejabat yang memimpin satuan di bawahnya dalam satuan bidang
pekerjaan tertentu.

Ciri:
1 Organisasi kecil
2 Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok kerja staf ahli
3 Spesialisasi dalam pelaksanaan tugas
4 Target yang hendak dicapai jelas dan pasti
5 Pengawasan dilakukan secara ketat

D. Organisasi Lini dan Fungsional


Organisasi Lini dan Fungsional adalah organisasi yang masing-
masing anggota mempunyai wewenang yang sama dan pimpinannya
kolektif.

1. Tidak tampak
adanya pembedaan
tugas pokok dan
bantuan
2. Spesialisasi secara
praktis pada pejabat
fungsional
3.Pembagian kerja dan
wewenang tidak
membedakan
perbedaan tingkat eselon
4. Strukutur organisasi tidak begitu kompleks. Biasanya terdiri dari
ketua, sekretaris, bendahara, ketua-ketua seksi, dan para petugas
5. Struktur organisasi secara relatif tidak permanea.Organisasi ini
hanya dipakai sesuai kebutuhan atau kegiatan
6. Tugas pimpinan dilasanakan secara kolektif
7.Semua anggota pimpinan mempunyai hak, wewenang dan
tanggung jawab yang sama
8. Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas-tugas tertentu
dalam bentuk satgas

E. Organisasi Matrik
Organisasi matrik disebut juga sebagai organisasi manajemen proyek
yaitu organisasi di mana penggunaan struktur organisasi
menunjukkan di mana para spesialis yang mempunyai ketrampilan di
masing-masing bagian dari kegiatan perusahaan dikumpulkan lagi
menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek yang harus
diselesaikan
F. Organisasi Komite
Organisasi komite adalah bentuk organisasi di mana tugas
kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh
sekelompok pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board
dengan pluralistic manajemen.
Organisasi komite terdiri dari :

1 Executive Committe (Pimpinan komite)


Yaitu para anggotanya mempunayi wewenang lini

2 Staff Committee
Yaitu orang-orang yang hanya mempunyai wewenang staf
KEPEMIMPINAN

A. Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan itu termasuk kedalam suatu kerja sama didasarkan kepada
kemampuan orang tersebut, dan kepemimpinan itu juga di ratikan oleh para
pendapat ilmuwan diantaranya :

 Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian


Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar
mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut
untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang
diinginkan kelompok.

 Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu


bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup
mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang
berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian
khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.

 Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya


sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki
kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya.
Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung
memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh
secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok
sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari beberapa definisi diatas,disimpulkan bahwa kepemimpinan
merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau
kelompok, dan sebagainya. Untuk mencapai tujuan organisasi atau
kelompok tersebut.

B. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

1. Teori Sifat

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas
dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang
pemimpin yang berhasil.Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut
Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
– pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas,
obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
– sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi,
keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi
pendengar yang baik, kapasitas integratif;
– kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala
prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik,
dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat
deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan
efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun
apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya
mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat
diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.

2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah
pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri
ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima
usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat
dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih
mementingkan tugas organisasi.
b. berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan
pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan
kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan
perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi
memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan
penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada
dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan
berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur
melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap
bawahan/hubungan kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari
masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

3. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri
kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi
kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan
faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya
kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.

C. TIPE – TIPE KEPEMIMPINAN


Ada enam tipe kepemimpinan yang diakui keberadaannya secara luas.
1) Tipe pemimpin Otokratis
Yaitu seorang pemimpin yang otokratis adalah seorang pemimpin yang:
• Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
• Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
• Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
• Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
• Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
• Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung
unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
2) Tipe Militeristis
Yaitu seorang pemimpin yang bertipe militeristis adalah seorang pemimpin yang memiliki
sifat- sifat:
• Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
• Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
• Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihan
• Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
• Sukar menerima kritikkan dari bawahan
• Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan
3) Tipe Paternalistis
Yaitu seorang pemimpin yang:
• Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
• Bersikap terlalu melindungi
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan
inisiatif
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi
dan fantasinya.
• Sering bersikap maha tahu

4) Tipe Kharismatis
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab mengapa seorang
pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian
mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut
yang jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab
seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan bahwa pemimpin yang
demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers).
5) Tipe Laissez Faire
Yaitu seorang yang bersifat:
• Dalam memimpin organisasi biasanya mempunyai sikap yang permisif, dalam arti bahwa
para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati nurani, asal
kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisai tetap tercapai.
• Organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri
dari orang- orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi,
sasaran yang dicapai, dan tugas yang harus dilaksanakan oleh masing- masing anggota.
• Seorang pemimpin yang tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan
organisasional.
• Seorang pemimpin yang memiliki peranan pasif dan membiarkan organisasi berjalan
dengan sendirinya
6) Tipe Demokratis
Yaitu tipe yang bersifat:
• Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia
adalah makhluk termulia di dunia
• Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
• Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
• Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya.
• Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan
• Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
• Para bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran
sertanya dalam proses pengambilan keputusan.

MOTIVASI

A. PENGERTIAN MOTIVASI

Menurut Weiner, seorang ahli, motivasi adalah sebuah kondisi internal yang
dapat memberikan semangat untuk dapat bertindak, mampu mendorong
seseorang mencapai tujuan tertentu, dan membuat seseorang dapat tetap
tertarik dalam suatu kegiatan tertentu.

Menurut ahli lain yang bernama Uno, motivasi adalah suatu dorongan
internal dan juga dorongan eksternal yang asalnya dari dalam diri seseorang
dan diindikasikan dengan adanya suatu hasrat serta minat, dorongan serta
kebutuhan, cita-cita serta harapan, dan juga penghargaan berikut
penghormatan.

Motivasi adalah suatu bentuk mengenai apa yang membuat seorang individu
dapat bertindak sedemikian rupa yang nampak dari adanya sebuah interaksi
antara individu tersebut dengan situasi yang sedang dihadapinya.

B. TEORI-TEORI MOTIVASI

Terdapat beberapa teori motivasi yang dikenal dalam mempelajari motivasi,


yaitu :

1. Teori maslow

Teori ini menyatakan bahwa perilaku dan pekerjaan seseorang dipengaruhi


oleh adanya dorongan untuk dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan baik
itu yang sifatnya berjenjang maupun dalam sifatnya yang lain. jika kebutuhan
yang pertama terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan kedua yang menjadi
prioritas selanjutnya untuk segera dipenuhi. Hal ini akan terus berlanjut hingga
mencapai tingkatan kebutuhan yang kelima.

2. Teori keadilan

Teori keadilan yang dikembangkan oleh Adam Smith. Teori ini menyatakan
bahwa terdapat 3 komponen utama yang digunakan dalam membahas teori
keadilan, diantaranya adalah :

1. Outcome, yaitu suatu nilai yang dapat diperoleh dan dirasakan oleh
sebagian karyawan seperti contohnya adalah upah, kesempatan promosi,
ataupun bonus.
2. Input yang merupakan sebuah bentuk nilai yang dapat diterima oleh
karyawan sehingga mampu menunjang kinerja yang bersangkutan.
3. Equity in equity yang berarti puas atau tidaknya karyawan akan dilihat
dari hasil membandingkan berbagai macam input dan outcome karyawan
yang bersangkutan dengan input dan outcome dari karyawan lain.
4. Comparison person. Maksudnya adalah adanya seorang pegawai dalam
suatu perusahaan atau organisasi yang sama menjadi seorang karyawan
atau pegawai dalam organisasi atau perusahan lain yang berbeda.

3. Teori harapan

Teori ini menyatakan bahwa adanya motivasi adalah suatu akibat dari hasil
yang ingin diperoleh seseorang berikut perkiraan yang bersangkutan bahwa
tindakannya tersebut akan berdampak dan mengarah apda sebuah hasil yang
telah diinginkannya.

4. Teori motivasi

Teori motivasi prestasi yang dikemukakan oleh Hasibuan. Teori ini menyatakan
bahwa sebuah karyawan punyai suatu cadangan energi yang dinilai potensial
dalam dirinya sendiri.
C. JENIS-JENIS MOTIVASI

Motivasi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :

1. Motivasi eksternal dimana motivasi ini datang dari luar diri seseorang
dengan suatu harapan dapat menggapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya dan menguntungkan bagi individu yang bersangkutan.
2. Motivasi internal dimana motivasi ini dapat tumbuh dari dalam diri
seseorang tanpa harus dipengaruhi oleh orang lain untuk dapat
melakukan sesuatu yang berguna untuk mencpaai tujuan awal yang
telah ditentukan sebelumnya.
Motivasi dalam bekerja akan tampak dari dua segi yang berbeda, yaitu
dilihat dari segi aktif maupun pasif.

1. Dilihat dari segi pasif, motivasi akan tampak sebagai suatu kebutuhan
sehingga dapat menggerakkan dan mengerahkan sebuah potensi serta
daya kerja dari seseorang kearah yang telah diinginkan guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
2. Dilihat dari segi aktif atau dinamisnya, motivasi kerja akan tampak
sebagai suatu usaha yang bersifat positif dalam membantu
mengerahkan dan meggerakkan daya serta berbagai macam potensi
tenaga kerja menjadi lebih produktif dari sebelumnya sehingga dapat
mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi


di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005).
Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan
sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam
organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam
organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi.
Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara
sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara
individual.