Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH FORMULASI

POTIO ALBA CONTRA TUSSIM (OBP)

Untuk memenuhi sebagian persyaratan


Mata Kuliah FTS Liquid
yang dibina oleh Ibu Mardiyah

OLEH

HILDA AMALIA NIM 13.069

WINGGAR PALUPI NIM 13.179

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG

Maret 2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Batuk adalah refleks yang terangsang oleh iritasi paru / salulran pernapasan,
bila terdapat benda asing selain udara yang masuk /merangsang saluran pernapasan,
otomatis batuk akan mengeluarkan / menghilangkan benda tsb. Batuk juga
merupakan cara untuk menjaga jalan pernapasan tetap bersih. Macam batuk terbagi
menjadi 2. Yaitu batuk berdahak dan batuk kering. Batuk berdahak adalah batuk
yang disertai dengan keluarnya dahak, dari batang tenggorokan. Sedang batuk
kering adalah batuk yang tidak disertai keluarnya dahak.
Biasanya batuk dapat sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Tetapi bila
batuk tidak kunjung sembuh, maka perlu adanya penanganan lebih lanjut. Yaitu
dengan pemberian obat batuk. Dalam dunia farmasi terdapat berbagai macam
sediaan obat yang dapat dikonsumsi untuk meredakan batuk. Ada sediaan obat
batuk padat yang biasanya berupa tablet, ada pula sediaan obat batuk cair yang
biasanya berupa larutan. Obat batuk dalam sediaan cair lebih banyak dipergunakan
di pasaran untuk usia anak – anak dibanding sediaan padat. Karena anak-anak
seringkali mendapatkan kesukaran dalam menelan obat berupa padatan ataupun
sediaan tablet. Obat batuk terbagi menjadi dua macam berdasarkan sifatnya , yaitu
ekspektoran (obat batuk berdahak) dan antitusif (menekan batuk). Oleh karena itu
jika berbicara mengenai obat-obatan tidak terlepas dari berbagai macam bentuk
sediaannya yang kerap diperbincangkan, akan tetapi bagaimana kenyamanannya
untuk diminum bagi setiap pasien terutama bagi anak-anak yakni sediaan yang
berupa Obat minum (potio).
Potio tergolong dalam sediaan cair. Obat batuk yang dijual di pasaran ada dua
macam, yaitu OBH dan OBP. Obat batuk putih merupakan salah satu obat yang
biasa digunakan untuk mengobati batuk pada anak – anak. Obat batuk putih berguna
untuk menyembuhkan batuk berdahak. Obat batuk putih penggunaannya lebih aman
terhadap anak – anak karena OBH mampu mengeluarkan (menimbulkan) dahak,
dan dahak ini bagi anak kecil sulit dikeluarkan. Bisa jadi malah menyumbat saluran
pernapasan. Karena OBP lebih dikhususkan untuk penggunaan usia anak anak,
perlu ada perhatian khusus pada proses pembuatan sediaan ini mengingat anak –
anak lebih rentan terhadap alergi, dan efek samping obat.
Oleh karena itu, dalam pembuatan potio sediaan OBP diperlukan perhatian
yang tepat, misalnya cara melarutkan, faktor yang mempengaruhi kelarutan, dan
perhitungan dosisnya maupun karakteristik bahannya dan akan lebih diulas dalam
landasan teori dalam makalah ini.

1.2 Tujuan
1. Untuk mempermudah mahasiswa dalam praktek pembuatan sediaan larutan.
2. Untuk mengetahui komponen-komponen bahan potio alba contra tussim (OBP)
3. Untuk mengetahui standar obat yang dibuat

1.3 Manfaat
1. Agar mahasiswa mengetahui komponen-komponen obat batuk putih
2. Untuk mengaplikasikan suatu bahan obat untuk menjadi sediaan obat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Larutan


Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam
pelarut air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksudkan untuk pemakaian obat
dalam, obat luar atau untuk dimasukkan dalam rongga tubuh.
- Menurut FI Edisi III hal 32, Larutan adalah sediaan cair yang mengandung
bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air
suling.
- Menurut FI Edisi IV hal 15, Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat kimia terlarut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut
yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur
- Menurut IMO hal 95, Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia
terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain.
Sehingga, larutan adalah sediaan cair yang dibuat dengan melarutkan satu jenis obat
atau lebih dalam pelarut, dimaksudkan untuk digunakan sebagai obat dalam, obat
luar atau untuk dimasukkan ke dalam rongga tubuh.
2.1.1 Tipe – tipe larutan ( Ilmu Resep, 81-93)
a. Secara umum
1. Larutan sederhana : larutan yang hanya terdiri dari satu jenis zat terlarut
2. Larutan campuran : larutan yang terdiri dua jenis atau lebih zat terlarut
3. Larutan stok :larutan yang dibuat sebagai bahan/ pelarut pada pembuatan
resep.
b. Berdasarkan tujuan penggunaannya
1. Larutan Steril, meliputi larutan untuk pemakaian luar. Semua alat yang
digunakan dalam pembuatan larutan steril, termasuk wadahnya, harus
betul-betul bersih sebelum digunakan. Obat dilarutkan dalam pelarut yang
tersedia dan larutan dijernihkan dengan menyaring, masukkan dalam
wadah yang kemudian ditutup dan sterilkan dengan cara sterlisasi yang
sesuai. Larutan steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi
syarat yang tertera pada Injectiones. Wadah harus dapat dikosongkan
dengan cepat. Kemasan boleh lebih dari 1 liter. Larutan steril harus
memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada Farmakope Indonesia.
2. Larutan nonsteril, meliputi larutan untuk obat dalam, baik obat larutan
yang langsung diminum atau pun larutan yang harus diramu lebih dahulu.
Selama pembuatan harus diperhatikan agar sedapat mungkin harus
dihindarkan terjadinya kontaminasi jasad renik.
3. Larutan antiseptikum mudah sekali dicemari jasad renik yang telah
resistan. Karena itu dalam pembuatan larutan ini harus diperhatikan hal
berikut :
- Larutan harus dibuat menggunakan air suling atau air yang baru saja
dididihkan dan wadah yang digunakan harus betul-betul bersih, lebih
baik disterilkan labih dahulu, tutup gabus jangan digunakan.
- Larutan ini tidak boleh digunakan lebih lama dari satu minggu sejak
tutupnya telah dibuka pertama kali.
c. Berdasarkan jumlah zat terlarut
1. Larutan encer jumlah zat yang terlarut adalah kecil
2. Larutan pekat larutan mengandung fraksi yang besar dari zat A
3. Larutan jenuh : suatu larutan dimana zat terlarut berada pada fase
kesetimbangan (jumlah maksimum) yang dapat dilarutkan oleh zat
pelarut. Contohnya : dibuat 30 ml asam borat jenuh dalam alkohol, 1 gram
asam borat larut dalam 18 ml alkohol. Jadi jumlah asam borat yang tepat
larut = 30/18 ml x 1 gram = 1,67 gram
4. Larutan tidak jenuh : suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam
konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan
sempurna pada temperature tertentu. Yang dapat dibagi lagi atas larutan
encer dan larutan kental (dekat kejenuh)
5. Larutan lewat jenuh : suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam
konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperature
tertentu. Terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.
d. Berdasarkan pelarutnya
- Sediaan farmasi dengan pelarut air
Contohnya : aqua aromatika dan sirup
- Sediaan farmasi dengan pelarut non air
Contohnya : spirit dan eliksir.
e. Berdasarkan cara penggunaan
1. Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,
mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma,
pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air.
Contohnya : elixir, sirup, netralisasi, saturatio, spirit, tingtur. pediatrik drops.
a) Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sukrosa.
Kadar sukrosa tidak kurang dari 64% tidak lebih dari 66%.
Selain sakrosa dan gula lain,dapat di tambahkan pula senyawa poli
ol, seperti sorbitol dan gliserin, dan dapat di tambahkan juga zat anti
mikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.
- Jenis Sirup
1) Sirup simpex adalah sirup yang mengandung 65% gula dalam air
nipagin 0,25% b/v.
2) Sirup obat adalah sirup yanng mengandung satu atau lebih jenis
obat dengan atau tanpa zat tambahan.
3) Sirup pewangi sirup yanga mengandung pewangi atau zat pewangi
lain, tidak mengandung obat. Contoh: sir thyamin.
- Fungsi Sirup
1) Sebagai Obat. Contohnya : Chlorfeniramini maleatis sirupus
2) Sebagai Corigensia Saporis. Misalnya: Sirupus simplex
3) Sebagai Corigensia Odoris. Misalnya: Sirupus aurantii
4) Sebagai Corigensia Coloris. Misalnya: Sirupus Rhoedos, sirupus
rubi idaei
5) Pengawet. Misalnya: Sediaan dengan bahan pembawa sirup karena
konsentrasi gula yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri.
- Komponen Sirup
1) Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk
memberi rasa manis dan kental
2) Pengawat antimikroba, Jumlah pengawet yang dibutuhkan untuk
menjaga sirupterhadap pertumbuhan mikroba berbeda-beda sesuai
dengan banyaknya air yang tersedia untuk pertumbuhan, sifat dan
aktifitas sebagai pengawet yang dipunyai beberapa bahanformulasi
dan dengan kemampuan pengawet itu sendiri.Pengawet-pengawet
yang umum digunakan sebagai pengawetsirup adalah asam benzoat
(0,1-0,2%), natrium benzoat (0,1-0,2%) dan berbagai campuran
metil, propil dan butil paraben(total ± 0,1%).
3) Pengaroma, Untuk menambah pengaroma harus memilih yang
cocok untuk obat dan tidak mengganggu zat aktif obat tersebut.
Hampir semua sirup di sedapkan dengan pemberian rasa buatan
atau bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup
memiliki rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair, pemberi
rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup.
Pengaroma ditambahkan ke dalam sirup untuk memberi aroma
yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma harus sesuai dengan
rasa sediaan sirup, misalnya sirup dengan rasa jeruk di beri aroma
citrus.
4) Pewarna, Untuk menambah daya tarik sirup, umumnya digunakan
zat pewarna yang berhubungan dengan pemberi rasa yang
digunakan (misalnya hijau untuk rasa permen, coklat untuk rasa
coklat dan sebagainya)
5) Perasa, Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi
rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal dari alam seperti
minyak-minyak menguap (contoh minyak jeruk), vanili dan lain-
lainnya. Untuk membuat sirup yang sedap rasanya karena sirup
adalah sediaan cair, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan
dalam air yang cukup. Contoh perasa adalah sukrosa, glukosa.
b) Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis
dimasukkan untuk penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk
menambah kelezatan. Dibandingkan dengan sirup eliksir biasanya
kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang
lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibanding sirup dalam
menutupi rasa senyawa obat. Sebagai pelarut utama eliksir adalah
etanol.
2. Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi
seringkali mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol. Contohnya :
epithema, lotions, mixture.
3. Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut
lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan pada telinga luar. Contoh :
solutio otic, guttae auricu lares.
2.1.2 Penggolongan Berdasarkan Sistem Pelarut dan Zat terlarut
a) Spirit : larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dai
zat mudah menguap, umumnya digunakan sebagai bahan pengaroma.
b) Tingtur : larutan mengandung etanol atau hidroalkohol yang
dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.
c) Air aromatic : sediaan cair yang mengandung bahan berbau harum
(minyak atsiri) yang pelarutnya air atau larutan jernih dan jenuh dalam air,
dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatic, atau bahan mudah
menguap lainnya. Contohnya adalah aquarosae.
2.2 Syarat – syarat larutan
Sebagai salah satu bentuk sediaan obat, larutan harus memenuhi beberapa kriteria
standar yang harus dipenuhi agar larutan dapat dipergunakan oleh pasien. Yaitu :
1. Komponen berupa : cairan, gas, padatan
2. Pelarutnya berupa cairan
3. Zat terlarut harus larut sempurna dalam pelarutnya
4. Zat harus stabil, baik pada suhu kamar dan pada penyimpanan
5. Jernih, tidak keruh dan tidak terdapat endapan
6. Bahan pelarut adalah inert (tak beraksi, dan higenis)
2.3 Faktor yang mempengaruhi larutan
- Sifat polaritas zat terlarut dan pelarut, hal ini berkaitan dengan aturan like
dissolves like. Larutan dengan molekul distribusi muatan yang sama dapat larut
secara timbal balik. Molekul polar akan larut pada media serupa, molekul
nonpolar akan larut ada medium nonpolar.
- Co-solvency, campuran 2 zat untuk melarutkan zat aktif. Misal luminal tak larut
dalam air, tapi larut dalam campuran air-glliserin.
- Sifat kelarutan, zat yang mudah larut membutuhkan sedikit pelarut, tapi zat
yanng sukar melarut butuh banayk pelarut. Kelarutan zat anorganik dalam
farmasi umumnya sebagai berikut:
a. Larut dalam air, semua garam klorida(kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2 ); semua
garam nitrat(kecuali nitrat basah/ bismut subnitrat); semua garam
sulfat(kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4).
b. Tak larut dalam air, semua garam karbonat(kecuali K2CO3, Na2CO3); semua
oksida dan hidroksida (kecuali KOH,NaOH,NH4OH,BaO); semua garam
fosfat(kecuali K3PO4, Na3PO4)
Istilah kelarutan :
Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 – 10
Larut 10 – 30
Agak sukar larut 30 – 100
Sukar larut 100 – 1000
Sangat sukar larut 1000 – 10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.1000

- Temperatur, zat padat bertambah larut jika temperaturnya dinaikkan bersifat


eksoterm. Tapi jika zat padat tidak larut jika temperaturnya dinaikkan bersifat
endoterm. Contoh zat yang bersifat endotem adalah CaSO4, Ca-hiposilfit, Ca-
gliserofosfat, minyak atsiri.
- Salting out dan salting in; salting out peristiwa adanya zat terlarut dengan
kelarutan lebih besar dibanding zat utama.; saltinng in peristiwa adanya zat
terlarut dengan kelarutan lebih keil dibanding zat utama.
- Ukuran partikel; makin halus zat terlarut makn kecil ukuran partikel, dan makin
luas permukaannya sehingga zat terlarut makin cepat larut.
2.4 Cara Melarutkan Zat (M.Anief, IMO, 99)
1. Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol
2. Zat-zat yang agak sukar dilarutkan dengan pemanasan
3. Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu dalam
erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat.
4. Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar dalam
dasar erlenmeyer atau botol maka perlu dalam melarutkkan digoyang-
goyangkan atau di gojok untuk mempercepat larutnya zat tersebut.
5. Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan
pemanasan dan dilarutkan secara dingin.
6. Zat-zat mudah menguap bila dipaanasi, dilarutkan dalam botol tertutup dan
dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan.
7. Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri, untuk meyakini apakah sudah larut
semua, dapat dilakukan ditabung reaksi lalu bilas.
8. Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya diperlukan untuk mempercepat
larutnya suatu zat, tidak untuk menambah kelarutan, sebab bila keadaan
menjadi dingin maka akan terjadi endapan.
2.5 Komposisi sediaan larutan
1. Zat aktif / obat (solut)
Larutan memiliki bahan padat yang terlarut sempurna dalam pelarut. Bahan
padat yang dimaksud salah satunya adalah zat aktif. Zat Aktif merupakan
bahan yang diharapkan memberikan efek terapetik atau efek lain yang
diharapkan. Zat aktif untuk sediaan obat larutan bersifat larut air atau dipilih
bentuk garamnya yang larut air. Contoh zat aktif : paracetamol, ibuprofen,
kamfer, sublimat, iodin, fosfor, mentol, macam-macam garam. Sifat-sifat
fisikokimia yang harus diperhatikan dalam memilih garam untuk formulasi
larutan yaitu: kelarutan, stabilitas, kompatibilitas dengan bagian lain dalam
formula.
2. Bahan pelarut (solvent)
- Air untuk melarutkan bermacam garam
- Spiritus untuk melarutkan kamfer, iodin, mentol
- Gliserin untuk melarutkan tanin, boraks, fenol
- Eter untuk melarutkan kamfer, fosfor, sublimat
- Minyak untuk melarutkan kamfer, menthol
- Paraffin liq untuk melarutkan cera, cetasium, minyak, kamfer, mentol,
klorbutanol
- Kloroform untuk melarutkan minyak dan lemak
3. Bahan tambahan/ pembantu
1) Anticaplocking, digunakan untuk kristalisasi gula di cap botol atau
mencegah larutan menempel pada tutup botol wadah penyimpanan.
Biasanya digunakan alkohol polyhydric sebagai anticaplocking 10 %.
Contohnya adalah sorbitol, gliserol, propilenglikol.
2) Pewarna; Pewarna dalam sediaan farmasi sangat berguna untuk identifikasi
selama proses embuatan dan pendistribusian. Selain itu, membantu pasien
mengenal obat yang diresepkan serta memperbaiki warna sediaan agar lebih
menarik, khusunya bagi anak – anak. Jumlah zat warna yang boleh
ditambahkan dalam suatu formulasi berkisar antara 0,1% - 3,5%. contohnya
metilen blue, karminum, karamel, tinture crocl, karatenoid, tartrazin
Kriteria penggunaan zat warna:
- Innert
- Stabil
- Mudah diinkoporasikan dalam sistem
- Tidak menimbulkan bau dan rasa pada produk.
3) Flavoring agent merupakan zat tambahan yang digunakan untuk
memperbaiki bau sediaan, contohnya oleum cinnamommi oleum citri,
peppermint(mentha piperata), minyak essensial, vanilin kristal, dll.
4) Penutup rasa, tidak mudah untuk menutupi rasa zat aktif obat yang sngat
pahit, terutama zat yang sangat larut dalam air. Berdasar sumber yang
diperoleh, zat pemanis terbagi dalam dua kelompok besar yaitu, yang
diperoleh dari alam dan sintesis. Penutup rasa (taste masking) ditujukan
untuk mengurangi rasa tidak enak, secara ideal dilakukan dengan cara
menngurangi rasa pahit, menggunakan penghambat rasa pahit secara
universal yang tidak mempengaruhi khasiat, stabilitas, dan penampilan
sediaan, serta memberi rasa tertentu untuk mencirikan suatu produk. Cara
penutupan rasa ahit sediaan obat oral secara umum dapat dilakukan dengan
menggunakan flavor, pemanis, dan asam amino; menggunakan pembawa
lipofilik; kompleksasi-inklusi; resin penukar-ion.
Jenis penutup rasa dalam sediaan farmasi terbagi menjadi dua yaitu :
a) Bahan pemanis
Pemanis memegang peran penting dalam formulasi sediaan yang
digunakan melalu oral dengan cara menambah rasa. Secara umum tentu
saja bahan pemanis yang ditambahkan tidak boleh berinteraksi dengan
tiap bahan yang ada ada formula. Konsentrasi pemanis dalam larutan
oral rata – rata 10% - 50% pada formula. Ketika pemnais buatan
digunkana, ada peningkatan risiko kontaminasi mikroba dalam formulasi
sediaan cair. Selain itu risiko bahwa pemanis dalam sedian cair bisa
menngkristal dngan berubahnya suhu dan waktu. Tapi hal tersebut dapat
diatasi dengan penambahan humektan seperti sorbitol. Contoh pemanis
buatan : Acesulfamek, aspartam, saccharin, sukcralose, siklimat Na.
b) Pemanis alami
Pemanis yang didapat alam. Contohnya adalah sornitol. Sorbitol ini
memiliki tingkat kemanisan di bawah sukrosa, tetapi tidak dapat
dihidrolisisoleh mikroorganisme saluran cerna. Sehingga dapat
digunakan oleh pasien diabetes karena ia tidak dapat diabsorpsi sebagai
karbohidrat. Contoh lain : dekstrosa,fruktosa, gliserin, laktitol, maltitol,
manitol, xylitol.
5) Antioksidan adalah senyawa yang dapat menunda atau memperkecil laju
reaksi oksidasi pada bahan yang mudah teroksidasi. Sinar matahari juga
salah satu penyebab teroksidasinya suatu senyawa. Antioksidan terbagi
menjadi dua. Yaitu antioksidan sintetik (yang diperoleh dari hasil sintesa
reaksi kimia) dan antioksidan alami (hasil ekstraksi bahan alami).Senyawa
antioksidan alami umumnya adalah senyawa fenolik, atau polifenolik, yang
dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, dan
tokofenol. Antioksidan yang ideal bersifat: nontoksik, noniritan, efektif pada
konsentrasi rendah, larut dalam fase pembawa dan stabil.
- Contoh antioksidan alami : asm. Askorbat, asm. Sitrat, Asm. Sinamat,
Na-sulfit.
- Contoh antioksidan buatan : BHA(Butil hidroksi annisol), BHT (Butil
hidroksi toluena), propil galat.
6) Pendapar/Buffer, Zat yang range pH stabilitasnya kecil, maka harus di dapar
dengan dapar yang sesuai dengan memperhatikan :
1. ketercampuran dengan kandungan larutan
2. inert
3. tidak toksik
4. kapasitas dapar yang bersangkutan
Larutan yang mengandung asam kuat atau basa kuat adalah larutan yang
mempunyai kapasitas dapar. Kebanyakan dapar terdiri dari campuran asam
lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya. Buffer/ dapar adalah
suatu material yang ketika dilarutkan dalam suatu pelarut, senyawa ini
mampu mempertahankan pH ketika suatu asam atau basa ditambahakan.
Buffer yang sering digunakan adalah: karbonat, sitrat, glukonat, laktat,
posfat atau tartrat. Kriteria untuk buffer adalah: mempunyai kapasitas yang
cukup dalam rentang pH yang diinginkan; aman untuk penggunaan jangka
panjang; memiliki sedikit/ tidak ada efek yang mengganggu stabilitas
sediaan jadi; dapat menerima flavouring dan warna dari produk; haruslah
bersifat inert, dan nontoksik. Contohnya adalah karbonat, sitrat, laktat,
tartrat.
7) Bahan pengawet adalah zat tambahan yang dimaksudkan untuk
meningkatkan kestabilan selama life-time product suatu sediaan dengan
mencegah atau melawan pertumbuhan mikrobiologi. Penggunaan pengawet
metal paraben 0,25 % propel paraben 0,18 %. Contoh bahan pengawet metal
paraben, asam benzoate, natrium benzoat, nipagin, nipasol, asam sorbat.
Pengawet yang dapat digunakan antara lain nipagin dan nipasol dengan
perbandingan 0,18 : 0,02 (nipagin bersifat fungistatik dan nipasol bersifat
bakteriostatik) kombinasi ini efektif untuk pencegahan terjadinya
pertumbuhan bakteri dan jamur.
(Sumber : Eksipien dalam Dalam Sediaan Farmasi hal: 274-326)
9. Keuntungan Dan Kerugian Larutan
- Kerugian sediaan larutan
1. Larutan bersifat voluminous, sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut dan
disimpan. Apabila kemasan rusak, keseluruhan sediaan tidak dapat digunakan.
2. Stabilitas dalam bentuk larutan biasanya kurang baik dibandingkan bentuk sediaan
tablet atau kapsul, terutama jika bahan mudah terhidrolisis.
3. Larutan merupakan media ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme, oleh karena
itu memerlukan penambahan pengawet.
4. Ketetapan dosis tergantung pada kemampuan pasien untuk menakar.
5. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika diberikan dalam
larutan dibandingkan dalam bentuk padat. Walaupun demikian, larutan dapat
diberi pemanis dan perasa agar penggunaannya lebih nyaman.
- Keuntungan sediaan larutan :
1. Lebih mudah ditelan dibanding bentuk padat sehingga dapat digunakan utnuk
bayi, anak-anak, dan usia lanjut.
2. Segera diabsorbsi karena sudah berada dalam bentuk larutan sehingga tidak
mengalami proses disintegrasi dan pelarutan.
3. Obat secara homogen terdistribusi ke seluruh sediaan
4. Mengurangi resiko iritasi pada lambung oleh zat-zat iritan karena larutan akan
segera diencerkan oleh isi lambung.
5. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.
BAB III

PRAFORMULASI DAN FARMASI

3.1 Formula standar (FORNAS edisi kedua Hal 250)


Komposisi standart (100 ml)

R/ Ammoniac Anisi spiritus 1 gram

Oleum Menthae Piperitae gtt 1

Sirupus simplex 10 gram

Aqua destillata add 100 ml

Boleh ditambahkan metil paraben sebagai zat pengawet


Keterangan :
cth : cochlear thea (sendok the 3 ml)
gtt : guttae (tetes)

3.2 Formula rancangan


Komposisi potio alba contra tussim 1% dibuat 60 ml

R/ Codein HCl (zat aktif) 100 mg

Ammoniac Anisi spiritus (pengaroma) 0.6 g

Oleum Menthac Piperitae (perasa) 11.4 mg AMP

Sirupus simplex (pemanis) 6g

Aqua destillata hingga (pelarut) ad 60 ml

Boleh ditambahkan metil paraben sebagai zat pengawet


3.3 Karakteristik Bahan
a) CODEIN HCl (FI Edisi III Hal 172)
Nama resmi : CODEINI HYDROCHLORIDUM
Nama sinonim : kodeina hidroklorida
Pemerian : serbuk hablur putih atau hablur jarum tidak berwarna
Kelarutan : larut dalam 20 bagian air dan dalam lebih kurang 90 bagian
etanol (90%) p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
K/P : antitusivum

b) SIRUPUS SIMPLEKS (FI Edisi III Hal. 567)


Nama resmi : SIRUPUS SIMPLEKS
Nama sinonim : sirop gula
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna,
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk
Pembuatan : larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben
0.25% b/v secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirop.
K/P : zat tambahan
- Metil paraben
Pemerian : hablur kecil, tidak berwarna, atau serbuk hablur, putih; tidak
berbau, atau berbau khas lemah; mempunyai rasa terbakar.
Kelarutan : sukar larut dalam air,dalam benzena, dan karbon tetraclorida;
mudah larut dalam etanol atau eter. Larut dalam 500 bagian air, dalam 20
bagian air mendidih, 3,5 bagian eter (95%), dan dalam 3 bagian aseton, larut
dalam eter dan larut dalam alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan(pengawet)
(FI IV hal. 551. Pharmaceutical Excipient hal. 184, Anonim, 1979)
c) OLEUM MENTHAE PIPERATAE (FI Edisi III Hal.458)
Nama resmi : OLEUM MENTHAE PIPERATAE
Nama sinonim : minyak permen
Pemerian : cairan, tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauan,
bau aromatic, rasa pedas dan hangat, kemudian dingin.
Kelarutan : dalam etanol larut dalam 4 bagian volume etanol (70%) P,
opalesensi yang terjadi tidak lebih kuat dari opalesensi
larutan yang dibuat dengan menambahkan 0.5 ml perak
nitrat 0.1 N pada campuran 0.5 ml natrium klorida 0.02 N
dan 50 ml air.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari
cahaya
K/P : zat tambahan; karminativum (untuk mengeluarkan angin
dari dalam tubuh)
1 tetes OMP ≈ 19 mg AMP (pharmacope ed V hal 720)

d) AQUADEST (FI Edisi III Hal 96)


Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim : air suling, air murni
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18.02
Pemerian : cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
K/P : zat tambahan
e) SASA (solutio Ammoniae Spiritusa Anisata)
Berdasarkan formularium nasional Hal 25
Komposisi tiap 100 gram mengandung :
Oleum anisi 4 gram
Aethanolum 90% 76 gram
Ammonium liquidum 20 gram
1) OLEUM ANISI (FI Edisi III Hal. 451)
Nama resmi : OLEUM ANISI
Nama sinonim : minyak adas manis
Pemerian : Cairan; tidak berwarna atau warna kuning pucat; bau
menyerupa buahnya, rasa manis dan aromatic, menghablur
jika didinginkan.
Kelarutan : Dalam etanol larut dalam 3 bagian volume etanol (95%) P,
larutan menunjukkan opalesensi tidak lebih kuat dari
opalesensi yang terjadi jika 0.5 ml perak nitrat 0.1 N
ditambahkan pada campuran 0.5 ml natrium klorida 0.02 N
dan 50 ml air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari
cahaya
K/P : zat tambahan
2) AETHANOLUM 90% (FI Edisi III Hal. 66)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama sinonim : Etanol, Alkohol
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah
bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan
memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan dalam
eter P
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari cahaya, di
tempat sejuk, jauh dari nyala api.
K/P : zat tambahan
3) AMMONIA LIQUIDA (FI Edisi III Hal. 86)
Nama resmi : AMMONIA LIQUIDA
Nama sinonim : Amonia encer
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk
K/P : zat tambahan

3.4 Perhitungan Bahan


Codein HCl 5 mg x 60 ml = 100 mg = 0.1 gram ≈ 0.1 ml
3 ml
Ammoniac Anisi spiritus (SASA) 1 gram x 60 ml = 0.6 gram ≈ 0.6 ml
100 ml
Oleum Menthac Piperitae 1 gtt x 60 ml = 0.6 gtt
100 ml
0.6 gtt = 19 gram x 0.6 = 11.4 gram AMP
Sirupus simplex 10 gram x 60 ml = 6 gram ≈ 6 ml
100 ml
Aqua destillata hingga 60 ml – (0.1 + 0.6 + 6 + 11.4)
60 ml – 18.1 ml = 41.9 ml
Perhitungan bahan pembuatan SASA
Larutkanlah :
4 bagian minyak adas manis ..... 4 x 0.6 gram = 0,024 gram = 24 mg
100 ml
Dalam 76 bagian spiritus .......... 76 x 0.6 gram = 0,456 gram = 456 mg
100 ml
Tambahkan 20 bagian amonia.... 20 x 0.6 gram = 0,12 gram = 120 mg
100 ml

Perhitungan bahan sirup simplex


65
Sukrosa = 100 𝑋 6𝑔 = 3,9 𝑔𝑟𝑎𝑚 ≈ 3900 𝑚𝑔
0,25
Nipagin = 100 𝑋 6𝑔 = 0,015𝑔𝑟𝑎𝑚 ≈ 15 𝑚𝑔

Pengenceran Nipagin
Nipagin 1 bagian 30 ml air
BAB IV

METODOLOGI

4.1 Alat dan bahan


Alat:
 Mortir dan stemper
 Botol 60 ml
 Serbet
 Tissue
 Batang pengaduk
 Sendok tanduk
 Anak timbangan
 Kertas perkamen
 Tabung reaksi
 Gelas ukur
 Timbangan
Bahan :
 Aquadest
 Codein HCl
 Ammoniac anisi spiritus(SASA)
 Oleum Menthae piperitae
 Sirupus simpleks
 Oleum anisi
 Aethanolum 90%
 Ammonium liquidum
4.2 Prosedur Kerja
4.2.1 Cara pembuatan SASA
1) Disiapkan botol tertutup
2) Dilarutkan terlebih dahulu ammonia
3) Kemudian ditambahkan spiritus fortiori
4) Dan terakhir ditambahkan minyak adas
4.2.2 Cara pembuatan sirup simplex
1) Dipanaskan air 30 ml untuk melarutkan nipagin 50 mg dalam erlemeyer dalam
suhu 80OC, dilarutkan hingga homogen.
2) Diambil larutan nipagin x ml
3) Dilarutkan sukrosa 3,9 g dan dicampur dengan sisa aquades pengambilan tadi
sebanyak x ml
4) Campur hingga homogen
5) Buat sirup simplek dengan cara, masukan saccarosa ke erlemeyer, tambhkan
nivagin, tambahkan air panas, goyang ad larut. sisihkan
4.2.3 Cara pembuatan potio alba contra tussim
1) Siapkan alat dan bahan
2) Disetarakan timbangan
3) Di kalibrasi botol 60 ml
4) Ditimbang 0.1 gram codein HCl, dimasukkan ke dalam tabung reaksi
5) Dilarutkan dengan 20 bagian air (2 ml) sambil digoyang – goyangkan agar
memudahkan codein untuk larut
6) Setelah codein larut, lalu dimasukkan ke dalam botol
7) Ditimbang sirup simplex 6 gram menggunakan kaca arloji yang sudah ditara
8) Dimasukkan ke dalam botol yang telah berisi larutan codein HCl, digoyang –
goyangkan agar homogen
9) Ditimbang kaca arloji ditara dan ditimbang 0.6 gram SASA pada kaca arloji
tersebut.
10) Dimasukkan SASA yang telah ditimbang ke dalam botol yang telah berisi
larutan codein HCl dan sirup simplex
11) Ditambahkan aquadest sampai volumenya 60 ml
12) Diteteskan 1 tetes OMP (oleum methaec piperitae) dengan pipet khusus
13) Dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquades dan bahan lainnya, dan kocok
hingga homogen
14) Diberi etiket putih
4.3 Evaluasi
1) Organoleptis
Pengujian ini didasarkan pada proses pengindraan. Tujuannya untuk mengetahui
fisik sediaan. Uji ini meliputi :
- Uji bentuk sediaan mengamati dengan kasat mata
- Uji rasa dengan indra kecap
- Uji bau dengan indra pembau
2) Kelarutan
Kelarutan merupakan ukuran banyaknya zat terlarut yang akan melarut dalam
pelarut pada suhu tertentu. Uji ini biasanya berkaitan kejernihan sediaan dan
homogenitas. Dapat diuji secara langsung tanpa alat bantu. Senyawa yang polar
akan larut dalam pelarut polar, begitu pula dengan senyawa non polar akan larut
dalam pelarut non polar. Sediaan sirup dikatakan larut jika tidak terdapat partikel
yang masih nampak, ataupun mengapung pada permukaannya.
3) Viskositas atau kekentalan
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang behubungan erat dengan
hambatan untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang di perlukan
untukmenggerakkan secara berkisinambungan suatu permukaan datar melewati
permukaan datar lain dalam kondisi dengan cairan yang akan ditentukan
kekentalannya. Dalam formulasi dan analisisa sediaan farmasi, viskositas
digunakan untuk:
a. stabilitas fisika.
b. Produksi (saat pencampuran dan aliran bahan obat)
c. Pengambilan dalam wadah
d. Pemeliharaan
Hubungan viskositas dan temperature
1. Viskositas gas meningkat dengan kenaikan temperature
2. Viskositas zat cair menurun dengan kenaikan temperature
Uji viskositas dapat dilakukan dengan menggunakan alat viskometer brookfield.
Dimana viskometer ini menggunakan spindel – spindel tertentu. Skala yang
tersedia menunjukkan nilai kekentalan dari sediaan sirup yang diuji
4) Bobot Jenis
Uji bobot jenis bertujuan untuk mengetahui mutu fisik dan kemurniaan sediaan.
Dalam uji ini digunakan alat piknometer yang diuji pada suhu 25OC. Pengujiannya
dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Menggunakan piknometer yang kering dan bersih
2. Menimbang piknometer kosong di timbangan analitik
3. Aquadest dimasukkan kedalam pikometer dan ditimbang lalu dibersihkan
4. Setelah kering zat cair (sirup) dimasukkan ke dalam piknometer
5. Menimbang pikno berisi sirup
6. Melakukan perhitungan bobot jenis
Rumus perhitungan bobot jenis:
𝐶−𝐴 (𝐵−𝐴)
𝜌 = , dimana V = 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟⁄𝜌 𝑎𝑖𝑟 =
𝑉 𝜌 𝑎𝑖𝑟

A = pikno kosong
B = pikno + aquades
C = pikno + zat cair
5) pH
Uji pH dapat dilakukan dengan alat pH meter. Uji ini bertujuan untuk mengetahui
kadar pH sediaan sirup. Sediaan sirup OBP haruslah memiliki pH yang tidak
melebihi pH asam lambung anak – anak agar tidak terjadi nyeri lambung. Dan
harus sesuai dengan pH usus. Selain itu, pH ini mampu menjaga stabilitas sediaan
atau komposisi formulasi. Bila pH sirup OBP terlalu asam, ditakutkan akan terjadi
pengendapan zat aktif (kodein). Bila terlalu basa juga kurang baik pada sediaan.
6) Volume terpindahkan
Hal ini bertujuan untuk mengetahui volume dari sediaan sudah sesuai dengnan
yang tercantum pada etiket apa tidak. Uji volume terpindahkan hanya
membutuhkan gelas ukur, lalu menuang sediaan (sirup) pada gelas ukur tersebut
dan mengukur voume sirup sudah sesuai dengan yang tertera pada etiket apa
tidak.
7) Etiket = putih
8) Botol dengan tutup cup
BAB V
PEMBAHASAN

Dalam pembuatan obat batuk putih dipergunakan komposisi seperti Codein HCl,
SASA, Oleum Menthac Piperite, Sirup simplex, dan Aqua destila. Karena OBP merupakan
obat batuk yang dikhususkan bagi anak – anak maka penggunaan Codein HCl diformulasi ini
mampu menekan batuk bukan memperlancar pengeluaran dahak. Usia anak – anak adalah
usia yang cukup susah untuk mengeluarkan dahak ketika batuk. Kalaupun dahak bisa
dikeluarkan oleh usia anak – anak dikhawatirkan bukannya malah menyembuhkan tetapi
akan menyumbat saluran pernapasan mereka. Selain itu juga ditambahkan Oleum Menthac
Piperite sebagai perasa pada formulasi rancangan ini. Oleum Menthac Piperite mampu
menyegarkan tenggorokan saat dikonsumsi. Pemberian rasa segar ini mampu mengurangi
batuk, dan melegakan saluran napas. Sirup simplex juga ditambahkan dalam formulasi
rancangan sebagai pemanis. Hal ini dikarenakan bahan aktif / Codein HCl yang rasanya
pahit. Rasa pahit ini tidak disukai anak – anak. Maka dari itu dipergunakan sirup simplex
sebagai pemanis untuk menutupi rasa pahit bahan aktif. Selain itu penambahan sirup simplex
pada formulasi tidak mengubah kestabilan bahan aktif, sehingga cocok bila digunakan.
Bahan tambahan lain adalah SASA. SASA ini sebagai bahan pengaroma yang mengandung
minyak adas, spirtus, dan ammonia, serta air. Pengaroma ini dibutuhkan untuk membuat
sediaan sirup ini lebih menarik. Karena bahan aktif Codein HCL ini berbau khas yang
tentunya kurang disukai anak – anak. Aqua destila dipergunakan dalam formulasi rancangan
ini sebagai bahan pelarut yang bersifat universal karena mampu melarutkan semua bahan.

Dalam pembuatan OBP perlu di perhatikan cara-cara pembuatan larutannya.


Contohnya SASA yang mudah menguap dan mudah larut. Ia haruslah dilarutkan di dalam
botol tertutup dan ditambahkan terakhir. Pada saat menimbang SASA, harus di jaga supaya
pada waktu menuangkan tidak mengenai dinding botol. Pada proses pembuatan SASA
dimasukkan terlebih dahulu ammonia karena ammonia tidak menguap sehingga masukkan
terlebih dahulu larutannya kemudian spiritus fortiori (ethanol), lalu ditambahkan minyak
adas karena minyak adas mengandung minyak atsiri yang mudah menguap sehingga
ditambahkan terakhir. Dalam menghomogenkan SASA dengan bahan lain, SASA ini
dimasukkan setelah sirup simplex, dan harus dalam botol tertutup karena SASA ini
mengandung minyak atsiri yang mudah menguap.

Codein HCl bersifat antitusif dan larut dalam 20 bagian air, mudah larut dalam air
panas. Codein HCl dilarutkan terlebih dahulu dalam tabung reaksi karena Codein HCl
merupakan obat keras yang harus dilarutkan dalam wadah tersendiri serta kelarutan Codein
HCl sebagai zat aktif harus benar-benar diperhatikan. Dan juga karena jumlahnya sangat
sedikit, dan tidak mudah menguap sehingga setelah larut dimasukkan terlebih dahulu ke
dalam botol. Codein HCl yang memiliki kandungan garam alkaloid ini memiliki kelarutan
basa cukup besar, sehingga bila dicampur dengan SASA yang notabennya larutan basa tidak
akan menimbulkan endapan alkaloid basa.
Sirup simplex cocok sebagai pemanis hanya digunakan 10%, ditambahkan ke dalam
botol setelah penambahan codein pada botol. Hal ini dikarenakan sirup simplex mampu
melarutkan garam-garam sehingga kelarutan kodein tetap stabil. Selain itu sirup simplex
berperan melapisi dindinng botol agar saat SASA dituang dalam botol tidak menegndap.
Aquadest ditambahkan setelah penambahan SASA pada botol karena aquadest
adalah pelarut utama dari zat-zat tersebut. Sedangkan OMP dimasukkan paling akhir karena
ia sangat mudah menguap dan jumlahnya sangat sedikit sekali. Meskipun OMP adalah
minyak tetapi jumlahnya yang hanya setetes tidak mempengaruhi kestabilan dari sirup atau
larutan.
Pada saat pembuatan potio alba Contra Tussim (Obat Batuk putih) dilakukan
langkah – langkah sesuai dengan langkah yang ada pada cara pembuatan di atas. Tetapi saat
melarutkan Codein HCl haruslah dilarutkan dalam wadah tersendiri mengingat bahwa
Codein adalah obat narkotik atau tergolong obat keras. Saat menuang larutan codein yang
sudah homogen tersebut, dikhawatirkan masih ada sisa – sisa larutan yang menempel pada
dinding tabung reaksi. Sehingga perlu dilakukan pembilasan terlebih dahulu dengan sedikit
aquadest agar tidak ada yang tertinggal di tabung reaksi.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang
terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang homogen pada saat di aplikasikan.
Sediaan cair atau sediaan liquid lebih banyak diminati oleh kalangan anak-anak dan
usia lansia, sehingga satu keunggulan sediaan liquid dibandingkan dengan sediaan-
sediaan lain adalah dari segi rasa.salah satu bentuk sediaan larutan yaitu OBP.
Obat batuk putih adalah obat batuk untuk batuk berdahak atau batuk yang tidak
mengeluarkan lender. Tetapi OBP lebih dikhususkan untuk tidak mengelurkan dahak
melainkan menekan batuk. OBP memiliki kandungan atau komposisi codein HCl
yang berfungsi sebagai bahan utama obat batuk putih sekaligus bahan aktif, amoniae
anisi spiritus sebagai pengaroma yang mengandung minyak adas, etanol 10% dan
ammonia, sirup simplex sebagai perasa dan air sebagai pelarut universal. Kompsisi
ini cocok untuk sediaan larutan obat baruk antitussive.

6.2 Saran
Dalam pembuatan sediaan cair Obat batuk putih terdapat kelebihan dan kekurangan.
Di harapkan agar dapat mempertahankan kelebihannya dan mengatasi kekurangannya
dengan baik. Ketika membuat sediaan potio alba contra tussim haruslah benar – benar
memperhatikan cara pembuatannya. Terutama pada saat pembuatan dan pencampuran
SASA. Karena SASA mengandung minyak atsiri yang mudah menguap. Saat meracik
SASA dalam sediaan cair dimungkinkan akan mengalami pengendapan, sehingga
perlu adanya pengolesan pada botol yang akan digunakan. Dapat juga botol dilapisi
Sirup Simplex. Hal ini dapat mengurangi pengendapan SASA dalam botol sehingga
SASA dapat tepat campur dengan larutan yang lain dalam sediaan obat cair tersebut.
Selain itu bila membutuhkan penggunaan OMP dalam jumlah yang cukup besar pada
pembuatan sediaan ini, hendaknya diganti dengan Aqua Menthae PIP(AMP), sebab
dalam resep ini pelarut yang digunakan yaitu Aqua destillata. Dimana minyak tidak
dapat larut dengan Aqua Menthae PIP.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Anonim. 1971. Formularium Medicamentorum Selectum. Ikatan Sardjana Farmasi


Indonesia: Surabaya

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:
Jakarta

Ansel, Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Erlangga: Jakarta

Anwar, Effionora. 2012. Eksipien dalam Sediaan Farmasi. PT Dian Rakyat: Jakarta

Duin, van C.F. (1947). Ilmu resep, Penerbit Soeorengan: Jakarata.

Handbook Of Pharmaceutical Exipient

Pharmakope V

Saktiani, Nuya. 2013. Teknik Compounding dan Problem Compounding Sediaan Liquid
diakses dari http://wahyunsaktiani.blogspot.com/2013/06/semoga-bermanfaat.html
pada 17 Juni 2014

Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta

Warni. 2010. Praktikum Resep diakses dari https://www.google.co.id/pemerian+codein+


hcl ada 17 juni 2014.

Anda mungkin juga menyukai