Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PEMERIKSAAN FISIK ANAK

Disusun Oleh :
kelompok 3
Dini Rahmatul Husna (142012017062)
Dwi Shelly Fitriani (142012017063)
Ema Efriyanti (142012017064)
Feno Maelani (142012017065)
Fitria Ida Kurniasih (142012017066)
Hani Yulita Vitri (142012017067)
Icha Resti Pamungkas (142012017068)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PROGRAM S1 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK
2018/2019
KATA PENGANTAR

Asslamualaikum, Wr.Wb
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “pemeriksaan fisik anak” guna sebagai tugas mata kuliah
keperawatan anak.
Dalam Makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada :
1. sebagai dosen mata kuliah keperawatan anak.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun Makalah secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan serta bantuan yang telah diberikan hingga saya
dapat menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap Makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis dan pembaca.
Wassalamualaikum, Wr.Wb

Pringsewu, September 2019


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi ....................................................................................... 2
B. Jenis-Jenis Pemeriksaan Fisik ..................................................... 3
C. Indikasi Dan Kontraindikasi ...................................................... 8
D. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan ................................................ 8
E. SOP Pemeriksaan Fisik ............................................................... 8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................. 14
B. Saran ............................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemeriksaan fisik lebih dari satu rangkaian latihan tehnikal. Hal itumerupakan
tuntutan yang sama sensitifnya dengan kebutuhan fisik danpsikologis anak yang sulit
dikenal dan tidak sama dengan yang lainnya.Pendekatan dalam pemeriksaan fisik
bergantun pada umur danperbedaan anak. Pada bayi dan anak kecil akan merasa lebih
aman danberkurang rasa takutnya dengan kehadiran orang tua, misalnya ibu. Cara
pemeriksaan bayi dan anak pada umumnya sama dengan pemeriksaan pada orang dewasa,
yaitu inspeksi, palpasi (periksaraba ). perkusi ( periksa ketuk ), dan auskultasi (periksa
dengar dengan menggunakan stetoskop), observasi (pengamatan secara seksama)
Pemeriksaan dilakukan pada seluruh tubuh, dari ujung rambut sampai ujung kaki, namun
tidak harus dengan urutan tertentu. Pemeriksaan yangmenggunakan alat seperti
pemeriksaan tengkorak, mulut, telinga, suhutubuh, tekanan darah, dan lain-lainnya
sebaiknya dilakukan palingakhir,karena dengan melihat atau memakai alat-alat, umumnya
anak menjadi takut atau merasa tidak nyaman, sehingga menolak diperiksa lebih lanjut.

B.TUJUAN
Tujuan pemeriksaan fisik adalah memperoleh informasi yang akurat tentang
keadaan fisik pasien. Karena sifat alamiah bayi dan anak, urutan pemeriksaan tidak harus
menuruti sistematika yang lazim pada orangdewasa. Dalam pemeriksan anak harus
memperhatikan kebutuhan perkembangan mental anak. Penggunaan perkembanagn mental
dan kronologi umur sebagai kriteria utama dalam pengkajian tiap sistem tubuh
memudahkan/menyelesaikan dari beberapa tujuan, diantaranya :
a. Memahami pengertian pemeriksaan fisik

b. Jenis-jenis emeriksaan fisik

c. Indikasi dan kontrkaindikasi pemeriksaan fisik

d. SOP pemeriksaan fisik


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis
memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan
dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam
penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien. Biasanya, pemeriksaan fisik
dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak
yaitu kaki. Pemeriksaan secara sistematis tersebut disebut teknik head to toe. Setelah
pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi,
beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi. Dalam Pemeriksaan fisik
daerah abdomen pemeriksaan dilakukan dengan sistematis inspeksi, auskultasi, palpasi,
dan perkusi.
Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat
menyususn sebuah diagnosis diferensial,yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin
menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab
tersebut. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri diri penilaian kondisi pasien
secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam praktiknya, tanda vital atau
pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalu dilakukan pertama kali.
1. Pemeriksaan antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan
metros artinya ukuran. Antropometri berarti ukuran dari tubuh (Mediague.wordpress.
com).
Metode antropometri adalah menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat
menentukan status gizi manusia. Konsep dasar yang harus dipahami dalam
menggunakan antropometri secara antropometri adala konsep pertumbuhan.
Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi
tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi(Mediague.wordpress. com).
a. Jenis Parameter Antropometri Pada Anak
- Umur
Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi. Menurut Puslitbang
Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh dan untuk
anak 0-2 tahun digunakan bulan penuh. Contoh : tahun usia penuh. Umur : 7 tahun
2 bulan dihitung 7 tahun 6 tahun 11 bulan dihitung 6 tahun.
Contoh : bulan penuh
Umur : ~ 5 bulan 5 hari di hitung 5 bulan ~ 7 bulan 14 hari dihitung 7 bulan

- Berat badan
Merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi
baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau
BBLR. Penurunan berat badan merupakan yang sangat penting karena mencerminkan
masukan kalori yang tidak adekuat. Berat badan merupakan pilihan utama karena
berbagai pertimbangan:
1) Parameter yang baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat.
2) Memberi gambaran status gizi sekarang dan gambaran yang baik tentang pertumbuhan
3) Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas
4) Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan pengukur
5) KMS (Kartu Menuju Sehat) yang digunakan sebagai alat yang baik untuk pendidikan
dan monitor kesehatan anak menggunakan juga berat badan sebagai dasar pengisian.
Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:
1) Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.
2) Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.
3) Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg
4) Skala mudah dibaca
5) Cukup aman untuk menimbang anak balita
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang berat badan anak:
1) Pemeriksaan alat timbangan
2) Anak balita yang ditimbang
3) Keamanan
4) Pengetahuan dasar petugas.

- Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan
skeletal. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan. Tinggi badan relative
kurang sensitive pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi
zat gizi terhadap tinggi badan akan tampak dalam waktu yang relative lama. Pada
keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pada anak
dibawah usia lima tahun dilakukan secara berbaring. .Pengukuran dilakukan dari telapak
kaki sampai ujung puncak kepala.
Cara Pengukurannya :
a. Letakkan kepala bayi pada garis tengah alat pengukur. Letakkan lutut bayi secara
lembut
b. Dorong sehingga kaki ekstensi penuh dan mendatar pada meja ukuran
c. Hitung berapa panjang bayi tersebut dengan melihat angka pada tumit bayi.
Jika pengukuran dilakukan saat berdiri maka posisi anak harus berdiri tegak lurus,
sehingga tumit, bokong dan bagian atas punggung terletak pada dalam 1 garis vertical,
sedangkan liang telinga dan bagian bawah orbita membentuk satu garis horizontal.
Cara mengukur:
1) Tempelkan dengan paku mikrotoa tersebut pada dinding yang lurus datar sehingga
tepat 2 meter.
2) Lepaskan sepatu atau sandal.
3) Anak harus berdiri tegak seperti sikap siap sempurna
4) Turunkan mikrotoa sampai rapat pada kepala bagian atas, siku-siku harus lurus
menempel pada dinding.
5) Baca angka pada skala yang nampak pada lubang dalam gulungan mikrotoa.
Pertambahan berat badan dan tinggi badan sesuai umur anak dapat dilihat melalui table
berikut :
NO. USIA BERAT BADAN TINGGI BADAN

1. Baru lahir – 6 bulan Bertambah 140-220 gr (2XBBL) Bertambah


2,5cm/bulan

2. 6-12 bulan 85-140gr (3XBBL) 1,25cm/bulan

3. Balita 2-3 kg/tahun Pada tahun kedua


kira-kira 12cm

Pada tahun ketiga


kira-kira 6-8 cm

4. Pra sekolah 2-3 kg/tahun 6-8 cm/tahun

5. Usia sekolah 2-3 kg/tahun 5-25 cm/tahun


- Lingkar Lengan Atas (LILA)
Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah, dan
cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. LILA memberikan
gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. LILA
mencerminkan cadangan energy, sehingga dapat mencerminkan :
a. Status KEP pada balita
b. KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: resiko bayi BBLR
Kesalahan pengukuran LILA (ada berbagai tingkat ketrampilan pengukur) relatif lebih
besar dibandingkan dengan tinggi badan, mengingat batas antara baku dengan gizi
kurang, lebih sempit pada LILA dari pada tinggi badan.
Ambang batas pengukuran LILA pada bayi umur 0-30 hari yaitu ≥ 9,5 cm. sedangkan
pada balita yaitu < 12,5cm.
Cara mengukur LILA pada bayi:
1. Tentukan posisi pangkal bahu
2. Lengan dalam keadaan bergantung bebas, tidak tertutup kain atau pakaian
3. Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak tangan kea rah
perut.
4. Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku siku dengan menggunakan
pita LILA,dan beri tanda dengan pulpen (sebelumnya minta izin kepada pasien).
Sebelumnya perhatikan titik nolnya.
5. Lingkarkan pita LILA sesuai dengan tanda pulpen di sekeliling lengan responden
sesuai tanda.
6. Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LiLA
7. Pita di tarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar
8. Baca angka yang di tunjukkan oleh tanda panah pada pita LiLA (kea rah angka yang
lebih besar)
9. Tulis hasil pembacaannya.

- Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak praktis, yang
biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan
ukuran kepala. Lingkar kepala bayi yang baru lahir di Indonesia rata-rata 3 cm dan di
Negara maju 3,5 cm. kemudian pada usia 6 bulan menjadi 40 cm (bertambah 1,5 cm
setiap bulan). Pada umur 1 tahun lingkar kepala mencapai 45-47 cm (bertambah 0,5 cm
tiap bulan). Pada usia 3 tahun menjadi 50 cm dan pada umur 10 tahun 53 cm.
Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak pun
meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak
menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan
tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai keadaan gizi.
Alat dan tehnik pengukuran:
Alat yang sering digunakan dibuat dari serat kaca (fiber glas) dengan lebar kurang dari 1
cm, fleksibel, tidak mudah patah, pengukuran sebaiknya dibuat mendekati 1 desimal,
caranya dengan melingkarkan pita dari pertengahan dahi (frontalis) ke tulang telinga
terus ke oksipitalis.kembali ke frontalis.

- Lingkar Dada
Dilakukan pada bayi/anak dalam keadaan bernafas biasa dengan titik ukur pada areola
mammae. Biasanya dilakukan pada anak berumur 2-3 tahun, karena rasio lingkar kepala
dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini lingkar kepala lebih lambat
dari pada lingkar dada. Pada anak yang mengalami KEP terjadi pertumbuhan lingkar
dada yang lambat : rasio dada dan kepala < 1.

2. Pemeriksaan Nyeri Pada Anak Dengan Deteksi Wajah


Pengkajian awal pada anak meliputi riwayat nyeri dan informasi kompherensif
tentang pengalaman nyeri anak pada masa lalu, strategi perawatan, dan segala sesuatu
yang disukai anak perawat perlu menanyakan kepada anak dan pengasuh anak (mis,
orang tua) tentang intevensi dan strategi koping yang telah berhasil dimasa lalu.
Pengkajian nyeri meliputi PQRST (Perensence Of Pain, Quality, Radiation, Saverity,
Timing) yang dilakukan oleh perawat dengan cara mewawancarai orang tua (atau
primary kare provider) dan anak. Dan kemudian anak diberi kesempatan untuk
menggambarkan dan menilai rasa nyerinya dengan menggunakan skala pengukuran
nyeri. Pada anak-anak secara perkembangan kognitif belum mampu menggambarkan
atau mengungkapkan nyeri yang dirasakannya, perawat melakukan pengkajian kepada
orang tuanya. Informasi yang diberikan orang tua harus dihargai sebagai jawaban klien
Pengkajian nyeri secara sistematis untuk memperoleh riwayat nyeri akan menunjukan
penilaian yang lebih komprehensif (Potts & Mandleco, 2012)
Pengkajian nyeri berdasarkan tingkat perkembangan (James & Ashwill, 2007) yaitu:
A. Pra sekolah
1. Sakit dirasakan sebagai hukuman atas sesuatu yang mereka lakukan
2. Cenderung menangis
3. Menggambarkan lokasi dan intensitas nyeri
4. Menunjukan regresi untuk prilaku sebelumnya, seperti kehilangan kontrol
5. Menolak rasa sakit untuk menghindari kemungkinan di injeksi
B. Sekolah
1. Menggambarkan rasa sakit dan mengukur intensitas nyeri
2. Menunjukan fostur tubuh kaku
3. Menunjukan penarikan
4. Menunda untuk melakukan prosedur
C. Remaja
1. Merasakan nyeri pada tingkat fisik, emosi dan kognitif
2. Mengerti sebab dan efeknya
3. Menggambarkan rasa sakit dan menguur intensitas nyeri
4. Meningkatkan tegangan otot
5. Menunjukan penurunan aktivitas mototrik
6. Menyebutkan kata sakit atau berdebar untuk menjelaskan nyeri
3. Nama Alat Untuk Pemeriksaan Fisik Anak

a. Stetoskop
b. Handscon
c. Baju periksa
d. Selimut
e. Penlight
f. timbangan BB
g. Thermometer

5. Indikasi

• Klien ARDS
• Emfisema
• Infeksi saluran pernafasan saluran atas
• Infeksi saluran pernafasan bawah

6. Kontraindikasi

• Klien mengalami fraktur

• Riwayat medis klien yang abnormal sejak lahir

• Adanya lesi atau luka didaerah yang akan dipalpasi dan diperkusi

• Tingkat kesadaran klien rendah

7. Sop Pemeriksaan Fisik Pada Anak

I. PERSIAPAN
A. PERSIAPAN ALAT
1. Bengkok
2. Stetoskope
3. GarputalaBak steril kecil
4. Tongue spatel
5. Meteran
6. Kassa/tissue
7. Stop watch
8. Pen light
9. Reflek hammer
10. Perlak dan alas
11. Otoskope
12. Specculum hidung
13. Snellen chart
14. Tes penciuman : minyak kayuputih, alkohol
15. Tes perasa : gula, garam, kopi

B. PERSIAPAN PASIEN
1. Menjelaskan prosedur dan tujuan tidaka pada anak/orangtua
2. Mengatur posisi anak

C. PERSIAPAN LINGKUNGAN
1. Pengaturan ruangan/tempat
2. Menutup sampiran untuk menjaga privacy anak

II. PELAKSANAAN
1. Kulit : warna, texture, turgor, pigmentasi, temperatur, lesi, kelembaban, edema.
2. Kuku : wara, bentukm keadaan kuku, CRT,Clubbing fingers

3. Kepala
a. Rambut : Warna, kualitas, ketebalan, distribusi, kelembaban.
b. Kulit kepala : ketombe, seborrhea, pembengkakan, benjolan, lesi.
c. Bentuk kepala : simetris, ukur lingkar kepala pada anak < 1 tahun.
4. Wajah : asimetri, pembengkakan, lesi.

5. Mata
a. Alis : normal: ada diatas kedua mata, bergerak simetris, warna, distribusi, lesi,
rontok.
b. Bulu mata : warna, kondisi/distribusi, posisi, peradanga (hordeolum).
c. Kelopak mata : warna, edema, lesi, posisi, ectropion, entropion.
d. Bola mata : posisi (dalam/cekung, menonjol/exopthalmus,
tenggelam/enopthalmus).
e. Conjungtiva : warna (N : merah muda, lembab, bercahaya, ada pembuluh darah
kecil – kecil, jernih), peradangan.
f. Sclera : warna (N : putih dan jernih), benda asing, discharge,lesi.
g. Cornea dan iris : abrasi, kejernihan, ( normal : licin dan transparan, sensitivitas
kornea (test Nervous V)).
h. Pupil : bentuk (n: bulat), kesamaan ukuran, warna (gelap, keruh, dan tidak
berwarna, katarak), reflek pupil terhadap cahaya,consensual reaction,refleks
akomodai, kelenjar air mata.
i. Ketajaman penglihatan : snellen chart/gambar.
j. Lapang pandang.

6. Hidung
a. Struktur luar : ukuran, bentuk nares, simetris (lurus tidaknya septum hidung),
flaring (pengembangan cuping hidung), discharge, oedema.
b.Struktur dalam : membran mukosa warna (N: merah muda), inflamasi, alergi,
septum (N: ditengah – tengah), warna, eksudat, edema, polip, epistaksis.
c. Passage udara (menutup lubang hidung).
d. Palpasi sinus.
e. Penciuman.

7. Telinga
a.Struktur luar : warna, lesi, strumen, ukuran telinga, membran tympani (warna
N: abu – abu tua,intact :tidak ada perforasi/tidak tembus cahaya),
discharge.Bau, edema tulang mastoid.
b.Pendengaran : tes rine, tes webber, detik jam tangan, gesekan kertas, dan
bisikan suara.

8. Mulut dan pharing dan laring


a. Bibir : wara (N : merah muda), simetris (sudut dengan sudut sejajar),
kelembaban, lesi, ulkus, massa,labiapalastokizis.
b. Mukosa : warna, kelembaban, lesi.
c. Gigi :carries¸letak, wara, posisi,extractio sites ( daerah yang tidak ada gigi).
d. Gusi : warna, edema,retracsi,perdarahan, lesi.
e. Lidah : warn, posisi, ukuran (macroglosia/microglosia), lesi, texture
permukaan, fisura/belahan, papila/bintil – bintil, pergerakan dan hipersaliva.
f. Pharynx : mukosa membran, adanya edema, faring,hiperemia,
pseudomembrane,uvula,tonsil.
g. Bau mulut.
h. Reflex : GAG reflex, reflex menelan.

9. Laring : obtruksi laring.

10. Leher : adanya tekanan vena jugularis, ada tidaknya massa dalam leher, kulit
leher, ROM, trachea, kelenjar tyroid, kelenjar getah bening.

11. Dada
a. Inspeksi : bentuk dada, kesimetrisan, gerakan dada, adanya deformitas atau
tidak.
b.Palpasi : adanya penonjolan, pembengkakan.
c.Pmeriksaan payudara : kaji ukuran, bentuk, lesi, adanya penonjolan,
pembegkakan, putting usu dan areola, adanya ginecomastia, pengeluaran
ASI (pada puttting neonatus).

12. Paru
a. Inspeksi : kesimetrisan pengembangan paru, diameter antero-posterior, dan
transversal, kelainan tulang belakang : lordosis, kiposis, dan skoliosis.
b. Palpasi : pengembangan dada, adanya nyeri tekan, masa, peradangan,
kesimetrisan ekspansi paru,tactil/vocal vremitus.
c. Perkusi : batas anterior dan posterior paru
d. Auskultasi : bunyi paru, suara nfas tambahan.

13. Jantung
a. Inspeksi : area perikordial
b. Palpasi : area aorta, area pulmonal, area trikuspid, area apikal.
c. Perkusi : batas jantung.
d. Aauskultasi : bunyi jantung, bunyi tambahan, murmur.
14. Abdomen
a. Inspeksi : kulit, umbilikus, bentuk, simetris, pembesaran organ, adanya
massa, adanya pulsasi.
b. Auskultasi : bising usus, desiran aorta, arteri renalis, arteri iliaka, arteri
femoralis,friction rubs.
c. Perkusi : timpani
d. Palpasi : adanya massa dan nyeri teka, palpasi hepar, palpasi limfa, palpasi
ginjal.

15. Ekstremitas atas dan bawah


a. Inspeksi : kulit, pembengkakan, simetrisitas, kuku, polidaktili, sindaktili,
pesequinovarus/vagus.
b. Palpasi : edema. Capilary Refill Time (CRT).
c. Refleks biseps, trisep, patela, babinski.

16.Genetalia wanita dan pria


a. Genetalia wanita
-Inspeksi :epispadia,labia, klitoris, orifisium uretra, introitus vagina,
keluarn/sekret.
-Palpasi : adanya pembesaran atau nyeri tekan.
b. Genetalia pria
-Penis Inspeksi : Perkembangan penis, prepusium, adaya fimosis, gland
penis, metaus uretral, adanya hipospadia. Palpasi : adanya lesi yang terlihat,
korpus penis.
-Skrotum dan isinya Inspeksi : kontur dari skrotum, kulit skrotum. Palpasi :
testis perhatikan adanya benjolan, adanya nyeri tekan, adabta hidrocele.

17. Anus dan rectum


a. Inspeksi : jaringan perineal, atresia ani.
b. Palpasi : kulit sekitarnya.

18.Bereskan alat dan cuci tangan.


19.Rapikan pasien dan beri posisi yang nyaman.
20.Dokumentasikan hasil tindakan
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya
bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan
komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan
merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien.
Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien yang baru
masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat, secara rutin pada klien yang sedang
di rawat, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting
dan harus di lakukan pada kondisi tersebut, baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak
sadar.
Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik untuk untuk
menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat untuk proses
keperawatan, maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.

B. Saran
Agar pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan baik, maka perawat harus memahami ilmu
pemeriksaan fisik dengan sempurna dan pemeriksaan fisik ini harus dilakukan secara
berurutan, sistematis, dan dilakukan dengan prosedur yang benar.
DAFTAR PUSTAKA

Strauss RG, Pemeriksaan Fisik Anak, dalam Nelson Ilmu Kesehatan Anak (Nelson
Textbook of Pediatrics), 1996, Jakarta, EGC, volume 2, Edisi 15, halaman: 1727-
1732 2.
Djajadiman Gatot, Penatalaksanaan Pemeriksaan Fisik Pada Anak dalam Updates in
Pediatrics Emergency, 2002, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, halaman: 28-41