Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KEPERAWATAN ANAK II

(PERUBAHAN SENSORI AKIBAT RETINOBLASTOMA)

DISUSUN OLEH :

NAMA : SUMARNI

NIM : 201801191

KELAS : NR/D

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


WIDYA NUSANTARA PALU
TAHUN 2019/2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………i

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………………………………………………………………...1
B. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………….2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori ……………………………………………………………………………3


1. Definisi………………………………………………………………………………...3
2. Etiologi ……………………………………………………………………………….4
3. Patofiologi ……………………………………………………………………………5
4. Manifestasi Klinis …………………………………………………………………….5
5. Penatalaksanaan ………………………………………………………………………6
6. Komplikasi ……………………………………………………………………………6
B. Tinjauan Asuhan Keperawatan ………………………………………………………….7
1. Pengkajian ……………………………………………………………………………7
2. Pathway ……………………………………………………………………………….9
3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………………………………...12
4 Intervensi dan Rasional………………………………………………………………12

BAB II PENUTUP

A. Kesimpula ……………………………………………………………………………….17
B. Saran ………………………………………………………………………………….....17

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………..…20


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sensori adalah stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh.
Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori ( panca indera).
Sensori integrasi merupakan proses mengenal, mengubah, dan membedakan sensasi dari
sistem sensori untuk menghasilkan suatu respons berupa “perilaku adaptif’’.
Pada tahun 1972, A. Jean Ayres memperkenalkan suatu model perkembangan
manusia yang dikenal dengan teori sensori integrasi (SI). Menurut teori Ayres, SI terjadi
akibat pengaruh input sensori, antara lain sensasi melihat, mendengar, taktil, vestibular,
dan proprioseptif. Proses ini berawal dari dalam kandungan dan memungkinkan
perkembangan respons adaptif, yang merupakan dasar berkembangnya ketrampilan yang
lebih kompleks, seperti bahasa, pengendalian emosi, dan berhitung. Adanya gangguan
pada ketrampilan dasar menimbulkan kesulitan mencapai ketrampilan yang lebih tinggi.
Prevalens gangguan proses sensori berkisar 5%- 10% pada anak tanpa kecacatan dan
mencapai 40%- 88% pada anak dengan berbagai kecacatan. Penelitian Ahn3 dan
Williames dkk4 pada populasi normal anak TK (taman kanak-kanak) di Amerika Serikat
memperlihatkan prevalens gangguan pemrosesan sensori 5,3%. Salah satu gangguan
dalam proses sensori adalah Retinoblastoma.
Retinoblastoma adalah salah satu penyakit kanker primer pada mata yang paling
sering dijumpai pada bayi dan anak. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan
kebutaan, melainkan juga kematian. Di Amerika penderita retinoblastoma 1 per 15.000
kelahiran hidup, di Eropa antara 44,2–67,9 per juta kelahiran dan di negara berkembang
Afrika dan Asia dilaporkan terjadi pada 1 per 18.000–34.000 kelahiran hidup.
Retinoblastoma terjadi baik unilateral atau bilateral yang ditandai kecenderungan untuk
berkembang keluar bola mata, keganasan ke intakranial disebut sabagai Trilateral
retinoblastoma sering pada retinobalstoma heredite. Manifestasi klinik pada
retinoblastoma meliputi lekokoria, strabismus, konjungtiva kemosis, proptosis, dan
sampai kebutaan.
Di Negara berkembang, upaya pencegahan dan deteksi dini belum banyak dilakukan oleh
para orang tua. Salah satu sebabnya adalah pengetahuan yang masih minim mengenai
penyakit kanker tersebut.
Dalam penelitian menyebutkan bahwa 5 – 10% anak usia prasekolah dan 10% anak usia
sekolah memiliki masalah penglihatan. Namun seringkali anak-anak sulit menceritakan
masalah penglihatan yang mereka alami. Karena itu, skrining mata pada anak sangat
diperlukan untuk mendeteksi masalah penglihatan sedini mungkin.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Teori Retinoblastoma
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Retinoblastoma
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Definisi
- Retinoblastoma merupakan tumor ganas intraokular yang ditemukan pada
anakanak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan
retino embrional (Mansjoer, 2005).
- Retinoblastoma adalah Tumor ganas dalam bola mata pada anak dan bayi sampai
5 tahun ( Sidarta Ilyas, 2002 ).
- Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel kerucut
sel batang) atau sel glia yang bersifat ganas.
- Retinoblastoma adalah tumor retina yang terdiri atas sel neuroblastik yang tidak
berdiferensiasi dan merupakan tumor ganas retina pada anak.

Jadi dari beberapa pengertian diatas disimpulakan bahwa retinoblastoma adalah


penyakit kanker mata (retina) pada anak usia kurang dari 5 tahun.

Merupakan tumor ganas intraokuler yang ditemukan pada anak-anak, terutama


pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retina embrional. Dapat
terjadi unilateral (70%) dan bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral bersifat
herediter yang diwariskan melalui kromosom. Massa tumor diretina dapat tumbuh
kedalam vitreus (endofitik) dan tumbuh menembus keluar (eksofitik). Pada beberapa
kasus terjadi penyembuhan secara spontan. Sering terjadi perubahan degeneratif,
diikuti nekrosis dan kalsifikasi. Pasien yang selamat memiliki kemungkinan 50%
menurunkan anak dengan retinoblastoma. Pewarisan ke saudara sebesar 4-7%.

2. Etiologi
Retinoblastoma disebabkan oleh mutasi gen RB1, yang terletak pada lengan
panjang kromosom 13 pada locus 14 (13q14) dan kode protein pRB, yang berfungsi
sebagai supresor pembentukan tumor. pRB adalah nukleoprotein yang terikat pada
DNA (Deoxiribo Nucleid Acid) dan mengontrol siklus sel pada transisi dari fase G1
sampai fase S. Jadi mengakibatkan perubahan keganasan dari sel retina primitif
sebelum diferensiasi berakhir. Retinoblastoma normal yang terdapat pada semua
orang adalah suatu gen supresor atau anti-onkogen. Individu dengan penyakit yang
herediter memiliki satu alel yang terganggu di setiap sel tubuhnya, apabila alel
pasangannya di sel retina yang sedang tumbuh mengalami mutasi spontan,
terbentuklah tumor. Pada bentuk penyakit yang nonherediter, kedua alel gen
Retinoblastoma normal di sel retina yang sedang tumbuh diinaktifkan oleh mutasi
spontan.
3. Patofiologi
Teori tentang histogenesis dari Retinoblastoma yang paling banyak dipakai
umumnya berasal dari sel prekursor multipotensial (mutasi pada lengan panjang
kromosom pita 13, yaitu 13q14 yang dapat berkembang pada beberapa sel retina
dalam atau luar. Pada intraokular, tumor tersebut dapat memperlihatkan berbagai pola
pertumbuhan yang akan dipaparkan di bawah ini.
 Pola Pertumbuhan
Retinoblastoma Intraokular dapat menampakkan sejumlah pola pertumbuhan,
pada pola pertumbuhan endofitik, ini tampak sebagai gambaran massa putih
sampai coklat muda yang menembus membran limitan interna.
Retinoblastoma Endofitik kadang berhubungan dengan vitreus seeding. Sel-
sel dari Retinoblastoma yang masih dapat hidup terlepas dalam vitreous dan
ruang sub retina dan biasanya dapat menimbulkan perluasan tumor melalui
mata. Vitreous seeding sebagian kecil meluas memberikan gambaran klinis
mirip endopthalmitis,vitreous seeding mungkin juga memasuki bilik mata
depan, yang dapat berkumpul di iris membentuk nodule atau menempati
bagian inferior membentuk Pseudohypopyon.
Tumor Eksofitik biasanya kuning keputihan dan terjadi pada ruang subretinal,
yang mengenai pembuluh darah retina dan sering kali terjadi peningkatan
diameter pembuluh darah dengan warna lebih pekat. Retinoblastoma eksofitik,
berasal dari lapisan luar retina dan meluas ke koroid menyebabkan solid RD,
dapat meluas hingga ke sklera. Retinoblastoma eksofitik ini dapat pula
menyebabkan retinal detachment.
 Invasi Saraf Optikus
Dengan penyebaran tumor sepanjang ruang sub arachnoid ke otak. Sel
Retinoblastoma paling sering keluar dari mata dengan menginvasi saraf
optikus dan meluas kedalam ruang sub arachnoid.
 Diffuse infiltration retina
Pola yang ketiga adalah Retinoblastoma yang tumbuh menginfiltrasi luas yang
biasanya unilateral, nonherediter, dan ditemukan pada anak yang berumur
lebih dari 5 tahun. Pada tumor dijumpai adanya injeksi conjunctiva, anterior
chamber seeding, pseudohypopyon, gumpalan besar sel vitreous dan tumor
yang menginfiltrasi retina, karena masa tumor yang dijumpai tidak jelas,
diagnosis sering dikacaukan dengan keadaan inflamasi seperti pada uveitis
intermediate yang tidak diketahui etiologinya. Glaukoma sekunder dan
Rubeosis Iridis terjadi pada sekitar 50% kasus.
 Penyebaran metastasis ke kelenjar limfe regional, paru, otak dan tulang.
Sel tumor mungkin juga melewati kanal atau melalui slera untuk masuk ke
orbita. Perluasan ekstraokular dapat mengakibatkan proptosis sebagaimana
tumor tumbuh dalam orbita. Pada bilik mata depan, sel tumor menginvasi
trabecular messwork, memberi jalan masuk ke limphatik conjunctiva.
Kemudian timbul kelenjar limfe preauricular dan cervical yang dapat teraba.
Di Amerika Serikat, pada saat diagnosis pasien, jarang dijumpai dengan
metastasis sistemik dan perluasan intrakranial. Tempat metastasis
Retinoblastoma yang paling sering pada anak mengenai tulang kepala, tulang
distal, otak, vertebra, kelenjar limphe dan viscera abdomen.
Tumor mata ini, terbagi atas IV stadium, masing-masing:
1. Stadium I: menunjukkan tumor masih terbatas pada retina (stadium tenang)
2. Stadium II: tumor terbatas pada bola mata.
3. Stadium III: terdapat perluasan ekstra okuler regional, baik yang melampaui
ujung nervus optikus yang dipotong saat enuklasi.
4. Stadium IV: ditemukan metastase jauh ke dalam otak.
Pada beberapa kasus terjadi penyembuhan secara spontan, sering terjadi
perubahan degeneratif, diikuti nekrosis dan klasifikasi. Pasien yang selamat
memiliki kemungkinan 50 % menurunkan anak dengan retinoblastoma.
4. Manifestasi Klinis
Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata. Bila letak tumor
dimakula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin
membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di vitreus
(Vitreous seeding) yang menyerupai endoftalmitis.
Bila sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata , akan
menyebabkan glaucoma atau tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema.
Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui
nervus optikus ke otak, melalui sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan
metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat
bercak kuning mengkilat, dapat menonjol kebadan kaca. Di permukaan terdapat
neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara
limfogen, ke kelenjar limfe preaurikular dan submandibula dan, hematogen, ke
sumsum tulang dan visera, terutama hati.
5. Penatalaksanaan
Pada terapi retinoblastoma berdasarkan prinsip umum bertujuan untuk
menghilangkan tumor dan menyelamatkan nyawa penderita, mempertahankan
penglihatan bila memungkinkan, menyelamatkan mata, menghindari tumor sekunder
yang dapat juga disebabkan karena terapi terutama pada anak yang mengalami
retinoblastoma yang diturunkan. Faktor terpenting yang menentukan pemilihan terapi
meliputi apakah tumor pada satu mata atau kedua mata, bagaimana penglihatannya,
dan apakah tumor telah meluas keluar bola mata. Secara keseluruhan lebih dari 90%
anak-anak yang dapat mengalami penyembuhan. Hasil terapi akan lebih baik bila
tumor masih terbatas dalam mata dan akan memburuk bila tumor telah menyebar.
Berikut adalah penatalaksanaan terapeutik retinoblastoma :
- Terapi di lakukan tergantung stadium dan diagnosis
- Stadium I, II, III biasanya dengan eksternal irradiassi
- Radiasi biasanya di berikan di atas 3-4 minggu
- Pembedahan (enukleasi) adalah pilihan karena pertumbuhan tumor, khususnya
pada saraf yang terlibat
- Chemotherapy pada kasus extraokuler, regional atau sudah metastase. Jenis
obat-obatannya atara lain : cytoxon, vincristine (oncovin), dactinomycin,
doxorubicin, cisplaxin, infosfamide, methotrexate.
6. Komplikasi
Tumor yang besar sering menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan endofilik dan
eksofilik. Bila tumor tumbuh cepat tanpa diikuti sistem pembuluh darah, maka
sebagian sel tumor akan mengalami nekrosis dan melepaskan bahan-bahan toksik
yang menyebabkan iritasi pada jaringan uvea, sehingga timbul uveitis disertai dengan
pembentukan hipopion dan hifema. Komplikasi lain berupa terhambatnya pengaliran
akuos humor, sehingga timbul glaukoma sekunder.
Pada metastase yang pertama terjadi penyebaran ke kelenjar preaurikuler dan kelenjar
getah bening yang berdekatan. Metastase kedua terjadi melalui lamina kribosa ke
saraf optik, kemudian mengadakan infiltrasi ke vaginal sheath subarachnoid masuk
kedalam intrakranial. Metastase ketiga dapat meluas ke koroid dan secara hematogen
sel tumor akan menyebar ke seluruh tubuh.
B. Tinjauan Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengkajian yang penting untuk retinoblastoma
Sejak kapan sakit mata dirasakan. Penting untuk mengetahui perkembangan
penyakitnya, dan sejauh mana perhatian klien dan keluarganya terhadap masalah
yang dialami. Retinoblastoma mempunyai prognosis baik bila ditemukan dini.
b. Riwayat trauma sebelum atau sesudah ada keluhan
Trauma dapat memberikan kerusakan pada seluruh lapis kelopak ataupun bola
mata. Trauma sebelumnya dapat juga memberikan kelainan pada mata tersebut
sebelum meminta pertolongan.
c. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama sebelumnya.
Retinoblastoma bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom, protein
yang selamat memiliki kemungkinan 50 % menurunkan anak dengan
retinoblastoma.
d. Apakah pasien merasakan adanya perubahan dalam matanya.
Retinoblastoma dapat menyebabkan bola mata menjadi besar.
e. Apakah ada keluhan lain yang menyertai
Keluhan sakit kepala merupakan keluhan paling sering diberikan oleh penderita.
Adanya keluhan pada organ lain juga bisa diakibatkan oleh tumor yang
bermetastase.
f. Penyakit mata sebelumnya.
Kadang-kadang dengan mengetahui riwayat penyakit mata sebelumnya akan
dapat menerangkan tambahan gejala-gejala penyakit yang dikeluhkan penderita.
g. Penyakit lain yang sedang diderita
Bila sedang menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk, dapat pula
memperburuk keadaan klien.
h. Usia penderita.
Dikenal beberapa jenis penyakit yang terjadi pada usia tertentu. Retinoblastoma
umumnya ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia di bawah 5 tahun
i. Riwayat Psikologi
Reaksi pasien dana keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang dialami
pasien: cemas, takut, gelisah, sering menangis, sering bertanya.
j. Pemeriksaan Fisik Umum
Diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya keadaan umum yang dapat
merupakan penyebab penyakit mata yang sedang diderita.
2. Pathway Retinoblastoma

Endogen Eksogen

Kesalahan replikasi gerakan Lingkungan berpolusi, bahan


atau perbaikan sel kimia, sinar UV, radiasi

Mutasi pada sel retina

Retinoblastoma

Endofilik Eksofilik

Tumor tumbuh ke Tumbuh keluar lapisan


dalam vitrenous retina / sub retina

Leukocaria Tumor mencapai Peningkatan Pembatasan


area macular massa aktivitas

Penurunan visus mata Strabismus Peningkatan TIO Proses sosialisasi


terganggu

Gangguan penglihatan Ketidakmampuan Mata menonjol Resiko perkembangan


untuk fiksasi terganggu
Perubahan persepsi Mata mengalami Nyeri Akut
sensori penglihatan deviasi

Penurunan lapang
pandang

Gangguan persepsi
sensori penglihatan

Resiko Cedera

Metastase

Melalui aliran darah

Mata kiri Otak

Mata Strabismus Leukokoria Gangguan pada Gangguan pada


menonjol serebelum Nervus Optikus Nyeri kepala

Gangguan Gangguan
ingatan persepsi sensori
penglihatan
Kemoterapi Operasi

Mual /
Hiperpigmentasi Post Operasi
muntah Alopesia Degradasi kulit Pre Operasi
sumsum
tulang

Perubahan
fisik mata
Gangguan Defisiensi
Citra Tubuh Ansietas Pengetahua
n
Resiko
Degradasi kulit Infeksi
menurun
Ketidakseimbangan
Nutrisi : Kurang dari
Kebutuhan Produksi eritrosit
terganggu Gangguan
Citra Tubuh

Destruksi sel
darah merah

Produksi sel darah


merah turun

Anemia

Viskositas darah
menurun Resistensi aliran darah perifer

Transport O2 jaringan turun

Intoleran Aktivitas

Hipoksia, pucat, lemah

Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer


3. Diagnosa Keperawatan
- Perubahan persepsi sensori: visual ( pandangan ) berhubungan dengan proses
penyakit dan enukleasi.
- Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
- Kecemasan orang tua berhubungan dengan diagnosis, pongabatan, implikasi
diagnosis genetic
- Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan keterbatasan pandangan
4. Intervensi dan Rasional
a. Perubahan persepsi sensori: visual ( pandangan ) berhubungan dengan proses
penyakit dan enukleasi.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Tentukan ketajaman penglihatan Kebutuhan individu dan pilihan
catat apakah 1 atau ke-2 mata intervensi bervariasi sebab kehilangan
terlibat. penglihatan terjadi lambat dan progresif
2 Orientasikan pasien terhadap Memberikan peningkatan kenyamanan
lingkungan, staff, orang lain di dan kekeluargaan serta menurunkan
lingkungannya. cemas.
3 Letakkan barang yang dibutuhkan Memungkinkan pasien melihat objek
/posisi bel pemanggil dalam lebih mudah dan memudahkan panggilan
jangkauan untuk pertolongan bila diperlukan.
4 Dorongan perasaan tentang Sementara intervensi dini mencegah
kehilangan/ kemungkinan kebutuhan, pasien menghadapi
kehilangan penglihatan. kemungkinan atau mengalami kehilangan
penglihatan sebagian atau total.
Meskipun kehilangan penglihatan telah
terjadi dan tak dapat diperbaiki,
kehilangan lanjut dapat di cegah.
5 Lakukan tindakan untuk Menurunkan bahaya keamanan
membantu pasien untuk sehubungan dengan perubahan lapang
menangani keterbatasan pandang/kehilangan penglihatan dan
penglihatan. contoh, atur perabot/ akomodasi pupil terhadap sinar
mainan, perbaiki sinar suram dan lingkungan.
masalah penglihatan malam.
6 Siapkan intervensi bedah sesuai Pengangkatan bola mata dilakukan
indikasi, enkulasi apabila tumor telah mencapai seluruh
vitreous atau visus 0, dilakukan untuk
mencegah tumor bermetastasis lebih
jauh.
7 Pelaksanaan kemoterapi, foto Dilakukan apabila tumor masih intra
koagulasi laser atau kombinasi okuler, untuk mencegah pertumbuhan
sitostatik. tumor akan mempertahan kanvisus.

b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis


NO INTERVENSI RASIONAL
1 Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi Informasi memberikan data dasar
nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas untuk mengevaluasi. Kebutuhan
(skala 0-10 ) tindakan penghilangan intervensi :pengalaman nyeri adalah
yang dilakukan. individual yang di gabungkan
dengan baik, respon baik dan
emosional
2 Evaluasi, sedari terapi tertentu Ke tidak nyamanan rentang masalah
misalnya, pembedahan, kemoterapi, adalah umum (nyeri, insis, sakit
radiasi, bioterapi, ajarkan pasien atau kepala tergantung pada prosedur/
orang terdekat apa yang diharapkan agen yang digunakan)
3 Berikan tindakan kenyamanan dasar Meningkatkan relaksasi dan
misal, reposisi aktivitas hiburan. membantu memfokuskan kembali
perhatian.
4 Dorong penggunaan keterampilan Memungkinkan pasien untuk
manajemen nyeri (misal, teknik berpartisipasi secara aktif untuk
relaksasi, visualisasi, bimbingan meningkatkan rasa kontrol.
imaginasi, tertawa, musik dan sentuhan
terapeutik).
5 Evaluasi penglihatan nyeri/control nilai Tujuan adalah control nyeri
aturan pengobatan bila perlu. maksimum dan pengaruh minimum
pada AKS.
Rencana terorganisasi
mengembangkan kesempatan untuk
control nyeri pertama dan nyeri
kronis.
6 Kembangkan rencana manajemen nyeri Komplikasi sering dari kanker
dengan pasien dan dokter rmeski setiap individual berbeda.
Berikan analgesic sesuai indikasi misal,
morfin dan metadon.

c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan diagnosis, pongabatan, implikasi


diagnosis genetic
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji tingkatan atau derajat Factor ini mempengaruhi presepsi pasien
pengalaman nyeri / timbul nya terhadap ancaman diri
gejala tiba-tiba dan kondisi
pengetahuan saat itu
2 Berikan informasi akurat dan jujur, Menurunkan ansietas sehubungan dengan
diskusikan dengan keluarga bahwa ketidak tahuan/harapan yang akan dating
pengawasan dan pengobatan dapat dan memberikan dasar fakta untuk
mencegah kehilangan penglihatan membuat pilihan informasi tentang
tambahan. pengobatan.
3 Dorong pasien untuk mengakui Memberikan kesempatan kepada pasien
dan mengekspresikan perasaan. menerima situasi nyata, mengklarifikasi
salah konsepsi dan pemecahan masalah
4 Identifikasi sumber/orang yang Memberikan keyakinan bahwa pasien
menolong. tidak sendiri dalam menghadapi masalah

d. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan keterbatasan pandangan.


NO INTERVENSI RASIONAL
1 Orientasikan pasien terhadap Memberi peningkatan kenyamanan,
lingkungan, staf, dan orang lain memudahkan adaptasi terhadap
yang ada di areanya lingkungannya dan mengetahui tempat
untuk meminta bantuan pada saat
membutuhkan.
2 Anjurkan keluarga memberikan Menurunkan resiko memecahkan mainan
mainan yang aman (tidak pecah) dan jatuh dari tempat tidur.
dan pertahankan pagar tempat
tidur
3 Arahkan semua alat mainan yang Memfokuskan lapang pandang dan
dibutuhkan klien pada tempat mencegah cedera pada saat berusaha
sentral pandangan klien, dan untuk menjangkau mainan.
mudah untuk dijangkau.

4 Pemberian analgetik : contoh Digunakan untuk mengatasi ketidak


acethamin ophen( tyenol), empirin, nyamanan ,meningkatkan istirahat dan
dengan kodein. mencegah gelisah.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sensori adalah stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh.
Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori ( panca indera). Salah satu
stimulus penyebab sensori tersebut adalah reninoblastoma.
Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel
kerucut sel batang) atau sel gila yang bersifat ganas. Merupakan tumor ganas
intraokuler yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima tahun.
Tumor berasal dari jaringan retina embrional. Dapat terjadi unilateral (70%) dan
bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral bersifat herediter yang diwariskan
melalui kromosom.
B. Saran
Pasien dengan retinoblastoma harus diberikan perawatan secara intensif dan
perlunya pengetahuan dari pihak keluarga agar penyakit tersebut tidak mengalami
komplikasi. Dan kita sebagai perawat harus mampu memberikan edukasi tentang
gejala dini retinoblastoma agar dapat segera tangani.
DAFTAR PUSTAKA

http://daisychie.blogspot.com/2014/10/askep-pada-klien-dengan-retinoblastoma.html

Agusnawati, 2013. Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Retinoblastoma. Kendari

Reres Laya, 2016. Retinoblastoma. Universitas Sam Ratulangi. Manado

Suriadi, SKp,MSN, dkk, 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 2; Jakarta