Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH ANATOMI PERBANDINGAN

EVOLUSI ORGANIK
Diajukan sebagai tugas mata kuliah Anatomi Perbandingan (Teori)

OLEH:

Ni Made Lalita Manohari 1713041016 VA


Yustia Andarini 1713041021 VA
I Putu Yudha Widiastika 1713041039 VA
Ayuning Tyastuti Mailiyani 1713041047 VA

JURUSAN BIOLOGI DAN PERIKANAN KELAUTAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat, rahmat, dan anugrah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Evolusi Organik” tepat pada waktunya. Penyusunan makalah ini bertujuan
untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Anatomi Perbandingan (Teori). Isi
dari makalah ini adalah pemaparan pengetahuan tentang Evolusi Organik dan proses-
proses yang terjadi berkaitan dengan Evolusi Organik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun demi kesempurnaan malakah ini. Akhir kata penulis mengucapkan
terimakasih dan semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas kepada
pembaca

Singaraja, 31 Agustus 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................... i


Kata Pengantar ............................................................................................. ii
Daftar Isi ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 4
2.1 Pengertian Evolusi ........................................................................... 4
2.2 Prinsip Bio Modern tentang Evolusi ................................................ 7
2.3 Perkembangan Ide-Ide Evolusi Organik .......................................... 8
2.4 Dasar Penyebab Evolusi ................................................................. 19
2.5 Bukti-Bukti Evolusi ....................................................................... 22
2.6 Mekanisme Terjadinya Evolusi ..................................................... 29
BAB III PENUTUP .................................................................................... 44
3.1 Simpulan ........................................................................................ 44
3.2 Saran ............................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kata evolusi mungkin tidak asing lagi di telinga kita semua, sebab mendengar
evolusi maka kita akan mengingat Charles Darwin. Evolusi dalam kajian biologi berarti
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme gen yang diwariskan
kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi.
Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.
Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar
populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi
gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan
variasi antara organisme.
Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum
atau langka dalam suatu populasi. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi
proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Evolusi didorong oleh 2 mekanisme
utama, yaitu seleksi alam dan variasi genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses
yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan
reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan sebaliknya, sifat
yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-
sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak
individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini.
Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi, perubahan kecil sifat
yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu,
hanyutan genetik merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak
pada frekuensi sifat suatu populasi.
Variasi genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan
ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi. Walaupun perubahan yang
dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan
menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai

1
puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Sebenarnya, kemiripan antara
organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies
yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang
terjadi secara perlahan ini.
Peristiwa seleksi alam sesungguhnya tidaklah cukup sempurna menjelaskan
evolusi dari seluruh ciri atau struktur. Peristiwa seleksi alam bukanlah penyebab utama
terjadinya evolusi organik. Suatu peristiwa seleksi baru dapat berlangsung, bila terlebih
dalu telah ada keanekaragaman (varian) antar individu. Peristiwa seleksi alam hanyalah
faktor yang mengukuhkan varian-varian yang sesuai, dan bukanlah sebagai faktor yang
menjadi sebab timbulnya varian-varian yang sesuai. Maka dari itu banyak hal yang
perlu dijelaskan mengani evolusi utamanya evolusi organik, mengenai penyebab
sampai mekanisme bagaimana terjadinya evolusi organik.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai
berikut.

1. Apa pengertian dari evolusi?


2. Bagaimana prinsip-prinsip bio modern terhadap evolusi organik?
3. Bagaimana perkembangan ide-ide evolusi organik?
4. Apa dasar penyebab terjadinya evolusi?
5. Apa bukti-bukti dari evolusi?
6. Bagaimana mekanisme terjadinya evolusi?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini, antara lain:

1. Untuk memahami pengertian dari evolusi.


2. Utuk memahami bagaimana prinsip-prinsip bio modern terhadap evolusi
organik.
3. Untuk memahami bagaimana perkembangan ide-ide evolusi organik.
4. Untuk memahami dasar penyebab terjadinya evolusi.

2
5. Untuk memahami bukti-bukti evolusi.
6. Untuk memahami bagaimana mekanisme terjadinya evolusi.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Evolusi
Evolusi berasal dari bahasa Latin “Evolvere” yang berarti “membuka
gulungan”. Pengertian evolusi adalah suatu teori yang mengemukakan hipotesis
tentang perjalanan perkembangan suatu makhluk hidup sejak sel pertama hingga
menjadi bentuk makhluk hidup yang sekarang. Setiap jenis makhluk hidup yang
berubah cirinya akibat pengaruh seleksi alam dan perubahan yang sifatnya berbeda
dengan induknya dan diturunkan disebut mengalami evolusi. Teori evolusi ditunjang
adanya suatu fakta bahwa makhluk hidup mempunyai variasi dalam keturunannya,
adanya homology di antara golongan makhluk hidup dan makhluk hidup dapat
mengalami mutasi gen atau mutasi kromosom, dan lingkungan selalu memberikan
seleksi terhadap makhluk hidup.
Sudarno (1994) memiliki pendapat lain yakni, “Evolusi” mempunyai arti suatu
proses perubahan atau perkembangan secara bertahap dan perlahan-lahan. Perubahan
yang terjadi menuju ke arah semakin kompleksnya struktur dan fungsi makhluk hidup
dan semakin banyak ragam jenis yang ada. Definisi lain tentang evolusi adalah proses
perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit, memakan waktu lama, dan
menghasilkan perkembangan spesies baru. Evolusi juga dapat diartikan sebagai suatu
perubahan secara bertahap dalam waktu yang lama akibat seleksi alam terhadap variasi
gen dalam suatu individu hingga menghasilkan perkembangan spesies baru. Spesies
baru yang terbentuk mengalami perkembangan dari sederhana menuju kompleks.
Sedangkan (Hendriani, Y. 2008) berpendapat bahwa, evolusi adalah perubahan
bertahap pada rentang waktu yang sangat panjang. Di dalam biologi, pengertian evolusi
telah mengalami perkembangan, dimana menurut Darwinisme: evolusi adalah
perubahan bertahap pada rentang waktu yang sangat panjang. Dengan berkembangnya
genentika molekuler, para ilmuwan mengembangkan teori evolusi komprehensif yang
menggabungkan Darwinisme dengan Mendelisme yang selanjutnya dikenal sebagai
sintesis modern (modern syntesis), yang artinya evolusi adalah perubahan frekuensi
alel dari suatu populasi persatuan waktu. Pengertian Evolusi adalah perubahan-

4
perubahan dalam frekuensi gen suatu populasi dalam jangka waktu tertentu. Dan dalam
bahasa inggris evolution artinya perkembangan bertahap. Juga sebagai pemahaman
terhadap evolusi secara singkat yaitu suatu unit yang berubah dalam jangka waktu
tertentu. Selain itu, unit tersebut terdiri dari individu yang mengadakan perkawinan dan
yang keturunan merupakan unit yang reproduktif disebut populasi mendel. Ciri-cirinya
ialah komposisi genetiknya berubah-ubah sepanjang masa yang bisa saja meliputi
jutaan tahun. Perubahan komposisi genetik yang mengakibatkan perubahan fenotip
disebut evolusi. Adapun karakteritik evolusi sebagai berikut :
1. Survival yang berbeda pada setiap generasi
2. Mekanisme inheritance
3. Reproduksi seksual
4. Mekanisme isolasi atau barrier
5. Lingkungan
Evolusi biologi mencakup 2 hal yaitu :
1. Evolusi anorganik, merupakan evolusi mengenai asal usul makhluk hidup yang
ada di muka bumi ini berdasarkan fakta dan penalaran teoritis.
2. Evolusi organik (evolusi biologis) merupakan evolusi filogenetis, yaitu
mengenai asal usul spesies dan hubungan kekerabatannya. Dalam konteks
biologi, evolusi dimaksudkan sebagai ‘evolusi makhluk hidup, evolusi biologis,
atau evolusi organik’ untuk menyatakan bahwa yang mengalami perubahan itu
adalah makhluk hidup.
Setelah mengetahui dan memahami mengenai arti dari kata evolusi itu sendiri, ada
juga beberapa jenis evolusi yang perlu Anda ketahui. Inilah jenis-jenis evolusi yang
ada di dunia ini:
1. Jenis Evolusi Berdasarkan Arahnya
Menurut arahnya, ada 2 jenis evolusi yang bisa kita ketahui, yaitu:
a. Evolusi Progresif
Evolusi progresif merupakan suatu evolusi yang memungkinkan makhluk hidup
tersebut dapat berjuang atau bertahan hidup. Contohnya, yaitu burung Finch. Anda bisa
melihat di setiap daerah terdapat burung finch dengan bentuk paruh yang berbeda-beda.

5
Hal ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar sehingga burung tersebut dapat
bertahan hidup di lingkungan yang ditinggalinya.
b. Evolusi regresif
Evolusi regresif sendiri merupakan evolusi yang tidak dapat membantu makhluk
hidup untuk bertahan hidup sehingga dapat mengalami kepunahan dalam jumlah besar.
Contohnya yaitu evolusi pada hewan dinosaurus, yang hingga saat ini sudah punah.
2. Jenis Evolusi Berdasarkan Skala Perubahannya
Berdasarkan skala perubahannya, evolusi terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Makroevolusi
Makroevolusi merupakan perubahan suatu makhluk hidup dalam perubahan
dengan skala yang lebih besar. Adanya evolusi yang satu ini sangat memungkinkan
untuk terbentuknya spesies baru.
b. Mikroevolusi
Sedangkan mikroevolusi ialah proses perubahan pada makhluk hidup yang terjadi
dalam skala kecil. Proses evolusi ini hanya terjadi pada perubahan kromosom atau gen
pada makhluk tertentu.
3. Jenis Evolusi Berdasarkan Hasil Akhirnya
Ditinjau dari hasil akhirnya, evolusi terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Evolusi Divergen
Evolusi divergen merupakan proses perubahan pada makhluk hidup yang
perubahannya terbentuk dari satu spesies tertentu dan berkembang menjadi banyak
spesies baru. Contohnya yaitu keluarga hewan vetebrata yang memiliki jari 5. Saat ini,
makhluk hidup vertebrata yang masih memiliki jari 5 yaitu hewan primata.
b. Evolusi Konvergen
Evolusi konvergen merupakan proses perubahan bentuk suatu makhluk hidup yang
memiliki kesamaan struktur antara dua organisme atau organ yang memiliki famili
yang sama ataupun yang berbeda. Contohnya yaitu ikan duyung, lumba-lumba, dan
ikan hiu. Ketiga ikan tersebut terlihat sama namun mereka memiliki kelompok spesies
yang berbeda-beda. Ikan duyung dan ikan hiu termasuk dalam kelompok pisces.
Namun, lumba-lumba termasuk dalam kelompok mamalia.

6
2.2 Prinsip-prinsip Bio Modern Tentang Evolusi
1. Prinsip pengorganisasian molekul-organel-sel-jaringan-organisme-
individu-populasi-masyarakat.
Maksudnya adalah pengorganisasian atau organizing yang merupakan
suatu proses untuk penentuan, pengelompokkan, pengaturan dan pembentukan
pola hubungan kerja dari molekul-organel-sel-jaringan-organisme-individu-
populasi-masyarakat untuk mencapai tujuan hubungan tersebut.
2. Kelangsungan hidup melalui hereditas dan evolusi

Organisme mirip satu dengan yang lain karena organisme tersebut


menerima unsur-unsur hereditas dari nenek moyangnya. Filogeni adalah
sejarah evolusi kelompok organisme yang saling terkait. Filogeni diwakili oleh
pohon filogenetik yang menunjukkan bagaimana mereka terkait. Filogenetika
diartikan sebagai model untuk merepresentasikan sekitar hubungan nenek
moyang organisme, sekuen molekul. atau keduanya. Salah satu tujuan dari
penyusunan filogenetika adalah untuk mengkonstruksi dengan tepat hubungan

7
antara organisme dan mengestimasi perbedaan yang terjadi dari satu nenek
moyang kepada keturunannya.
Konstruksi pohon filogenetika adalah hal yang terpenting dan menarik
dalam studi evolusi. Pohon filogenetik adalah pendekatan logis untuk
menunjukkan hubungan evolusi antar organisme. Filogenetika dapat
menganalisis perubahan yang terjadi dalam evolusi organisme yang berbeda.
Berdasarkan analisis, yang mempunyai kedekatan dapat diidentifikasi dengan
menempati cabang yang bertetangga pada pohon. Hubungan filogenetika di
antara gen dapat memprediksikan kemungkinan yang satu mempunyai fungsi
yang ekuivalen.

2.3 Perkembangan Ide-Ide Evolusi Organik


Berbicara mengenai teori evolusi, tentu sangat erat kaitannya dengan teori
evolusi yang dicetuskan oleh Charles Darwin. Padahal, teori mengenai evolusi
sudah dipikirkan dan dicetuskan oleh para ahli. Teori-teori tersebut mengalami
perkembangan sampai dicetuskannya teori evolusi oleh ahli berkebangsaan
Inggris, Charles Robert Darwin. Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut,
perkembangan teori evolusi dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa pra-teori
evolusi Darwin, masa teori evolusi Darwin, dan pasca teori evolusi Darwin.
Pemikiran mengenai adanya evolusi sebenarnya sudah ada sejak abad ke-6
SM oleh seorang filsuf Yunani bernama Anaximander. Anaximander
dipandang sebagai pelopor dari ajaran desendensi (ajaran penurunan), yaitu
kosmos terbentuk dari suatu kekacauan (chaos), kehidupan itu timbul dari zat
mati, sedangkan makhluk yang tinggi tingkatannya berasal dari makhluk hidup
yang lebih rendah tingkatannya (Wijana, 2017). Hasil pemikiran para ahli
sebelum dicetuskannya teori evolusi sebagian besar memperkirakan bahwa
sejak kehidupan muncul di bumi, telah terjadi suatu proses yang saling
berkesinambungan. Makhluk hidup yang hidup berasal dari makhluk hidup
sebelumnya. Variasi-variasi yang terbentuk merupakan hasil respons makhluk
hidup terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan, dapat berupa perubahan

8
struktur maupun fungsi tubuh makhluk hidup yang kemudian akan diteruskan
kepada generasi-generasi berikutnya (Mariyam, 2012). Pernyataan tersebut
tentu menandakan bahwa teori evolusi sudah lama ada sebelum teori evolusi
yang dicetuskan oleh Charles Darwin.
Secara garis besar, masa pra-teori evolusi Darwin dibagi menjadi dua
tahapan yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1. Masa Fiksisme
Masa fiksisme yaitu masa dengan pemikiran yang memiliki kedekatan
dengan mitos sehingga pendapat-pendapat yang disampaikan lebih bercorak
fiksi ilmiah. Adapun konsep-konsep yang berkembang pada masa fiksisme ini
yaitu: 1) organisme adalah sebagai ciptaan Tuhan, sehingga dalam bahasa
biologi “Asal-Usul Kehidupan” disebut dengan teori Ciptaan Khusus (The
Special Creation), dan 2) adanya kelainan atau cacat tubuh adalah sebagai
kutukan bukan sebagai perubahan makhluk hidup yang dilatarbelakangi oleh
seleksi alam maupun perubahan genetik (mutasi) makhluk hidup. Berikut
merupakan ahli-ahli yang menyampaikan pendapatnya pada masa fiksisme
(Wijana, 2017).
a. Plato (428 – 384 SM)
Pandangan plato lebih mengarah kepada teori penciptaan dan
penghancuran. Plato menyatakan bahwa adanya suatu penciptaan setelah
terjadinya kehancuran. Kehidupan diawali dengan penciptaan dewa-dewa,
kemudian diciptakanlah manusia laki-laki. Wanita dan hewan berasal dari
reinkarnasi jiwa laki-laki. Adapun makin cacat jiwa itu maka akan semakin
rendah reinkarnasinya.
b. Aristoteles (384 – 322 SM)
Aristoteles menyusun setiap organisme dalam bentuk skala alam yaitu
memposisikan organisme dari tingkatan yang paling sederhana ke tingkatan
dengan bentuk organisme yang paling kompleks.

9
c. Carolus Linnaeus (1707)
Carolus Linnaeus merupakan seorang ahli botani berkebangsaan Swedia
yang juga dikenal dengan Bapak Taksonomi karena penemuannya yang
mengembangkan sistem dua tata nama (binomial nomenclature) dalam
menamai organisme menurut genus dan species dan masih digunakan hingga
saat ini. Selain sistem klasifikasi dan penamaan makhluk hidup, Carolus
Linnaeus juga menyampaikan “Semua tanaman dan binatang yang hidup pada
saat ini dahulu dengan serentak diciptakan di atas bumi oleh satu cipta saja.
Mereka diciptakan dalam bentuk yang ada pada saat ini. Tidak pernah ada
tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang hidup sampai sekarang”.
d. Cuvier (1769 – 1832)
Cuvier merupakan seorang ahli paleontologi berkebangsaan Perancis yang
menemukan berbagai fosil termasuk salah satunya yaitu fosil mammouth yang
dikeluarkan dari dalam timbunan es di Rusia. Akibat penemuan fosil-fosil
tersebut yang ditemukan seiring dengan pekerjaan Cuvier sebagai ahli
paleontologi, ia mencetuskan bahwa setiap stratum ditandai dengan suatu
kelompok spesies fosil yang unik, dan semakin dalam (semakin tua) stratum
maka semakin berbeda flora (kehidupan tumbuhan) dan fauna (kehidupan
hewan) dari kehidupan modern. Dari stratum ke stratum, spesies yang baru dan
berbeda muncul sedangkan spesies yang sudah ada sebelumnya menghilang.
Berdasarkan penemuan tersebut, Cuvier juga menyampaikan teorinya yang
dikenal dengan Teori Cataclysma. Dalam teori tersebut, Cuvier beranggapan
bahwa tiap-tiap periode dari sejarah bumi selalu diakhiri dengan suatu bencana
alam seperti banjir, kekeringan, dan kemarau hebat yang memusnahkan banyak
spesies yang hidup pada masa tersebut. Selanjutnya disampaikan jika Tuhan
nantinya akan menciptakan kembali tumbuhan dan hewan dengan jenis yang
baru. Namun, Cuvier juga menambahkan jika bencana alam yang terjadi secara
periodik tersebut terjadi hanya terbatas pada suatu wilayah geografi lokal,
sehingga tumbuhan dan hewan yang hidup pada daerah tersebut mungkin dapat

10
berpindah dan daerah yang mengalami bencana lokal tersebut akan dihuni
kembali oleh jenis tumbuhan dan hewan yang lain.
2. Masa Adaptasi dan Transformasi
Adapun masa yang kedua yaitu adaptasi dan transformasi. Pada masa ini,
konsep yang berkembang cukup berbeda dengan konsep pada masa fiksisme.
Konsep tersebut didasari oleh perbedaan antara makhluk satu dengan makhluk
yang lainnya. Dalam buku yang berjudul “Zoonomia” yang merupakan karya
dari kakek Charles Robert Darwin disampaikan bahwa kehidupan itu berasal
dari asal mula yang sama. Adapun respons fungsional yang dimiliki oleh
individu makhluk hidup akan diwariskan kepada keturunannya. Beberapa
pendapat ahli yang termasuk ke dalam masa adaptasi dan transformasi yaitu
sebagai berikut.
a. Lamarck (1744 – 1829)
Lamarck atau Jean Baptist Pierre Antoine merupakan seorang ahli
berkewarganegaraan Perancis yang dikenal karena pendapatnya dalam teori
tentang evolusi kehidupan. Teori yang disampaikan Lamarck antara lain yaitu
1) Bahwa di bumi ini mula-mula timbul makhluk hidup yang sederhana, yang
mungkin berasal dari benda-benda mati (generatio spontanea), akan tetapi dari
makhluk yang sederhana itu kemudian dalam tempo yang sangat panjang akan
memunculkan jenis-jenis makhluk hidup yang hidup sampai sekarang. Teori ini
dimaksudkan tanpa adanya penghentian jalannya kehidupan seperti yang
disampaikan dalam teori Cuvier. Teori Lamarck selanjutnya yaitu 2) diantara
sebab-sebab yang menyelenggarakan perubahan-perubahan dan
penyempurnaan makhluk hidup, Lamarck mengemukakan bahwa pentingnya
mempergunakan dan tidak mempergunakan bagian tubuh tertentu. Jika bagian
tubuh sering digunakan maka bagian tubuh tersebut akan tumbuh sempurna,
namun jika tidak dipergunakan maka akan terhambat pertumbuhannya dan
perubahan-perubahan tersebut akan diturunkan kepada keturunannya sehingga
bagian tubuh yang terhambat pertumbuhannya tersebut akan sempurna
ditemukan pada keturunannya. Beberapa contoh hewan yang dijelaskan oleh

11
Lammarck yaitu ular, tanduk menjangan, dan jerapah. Ular merupakan
binatang yang mempunyai kebiasaan untuk merayap dengan cepat masuk ke
dalam tanah jika akan bersembunyi dari predator atau keadaan lingkungan yang
tidak menguntungkan. Adanya kaki tentu akan menghambat gerakan ular.
Sehingga, kebiasaan gerak ular tersebut yang menyebabkan lenyapnya kaki-
kaki pada tubuh hewan tersebut. Hal serupa juga dianggap Lammarck terjadi
pada tanduk menjangan. Awalnya, menjangan tidak memiliki tanduk, namun
karena kebiasaan sering beradu kepala maka tumbuh tanduk yang semakin
panjang pada menjangan. Begitu pula yang terjadi pada jerapah. Pada awalnya
jerapah memiliki leher pendek namun karena kebiasaan makan jerapah yaitu
mengambil daun-daunan dari pohon yang tinggi menyebabkan leher jerapah
semakin panjang seperti yang hidup pada saat ini. Contoh lain yaitu hewan yang
hidup di gua-gua atau di tempat dengan intensitas cahaya yang kurang atau
bahkan tidak ada sama sekali akan kehilangan fungsi penglihatannya.

Gambar (…) Teori Evolusi Lammarck

b. Charles Lyell (1797 – 1875)


Lyell merupakan seorang ahli berkebangsaan Skotlandia. Ia menyampaikan
jika organisme-organisme yang hidup pada saat ini merupakan hasil modifikasi
spesies-spesies sebelumnya yang hidup pada masa geologi sebelumnya.
c. Wilhelm Hofmeister (1824 – 1877)
Dalam bukunya mengenai sejarah perkembangan Cryptogamae (tumbuhan
paku dan lumut) disampaikan jika perubahan dari Jungermanniaceae (suku dari
lumut hati) yang tidak memiliki daun ke Jungermanniaceae yang berdaun

12
terjadi sangat lambat dan perubahan tersebut terjadi sedikit demi sedikit
sehingga terbentuk beberapa jenis yang memiliki perbedaan bentuk dan fungsi
sampai akhirnya terbentuk bagian yang sempurna yang dapat ditemukan pada
saat ini.
d. Robert Chambers (1802 – 1871)
Robert Chambers juga menyampaikan hal yang sama dengan ahli-ahli lain
yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada makhluk hidup terjadi secara
perlahan dan makhluk hidup yang hidup pada saat ini merupakan hasil
perkembangan dari makhluk hidup yang hidup pada masa geologi sebelumnya.
Namun, Robert Chambers tidak setuju dengan pendapat Lammarck bahwa
penggunaan dan tidak penggunaan bagian tubuh menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan pada makhluk hidup tersebut. Menurutnya, perubahan
yang terjadi pada makhluk hidup terjadi karena keinginan yang sewajarnya dari
makhluk hidup itu sendiri.
Masa perkembangan ide evolusi organik selanjutnya adalah masa teori
evolusi Darwin. Dapat dikatakan jika Charles Darwin telah memberikan
sumbangan yang sangat besar terhadap ilmu biologi khususnya mengenai teori
evolusi. Bagaimana Charles Robert Darwin dapat merumuskan teori evolusi
yang dijadikan acuan hingga saat ini? Pemikiran tersebut muncul akibat
ekspedisi yang dilakukan oleh Darwin yang pada awalnya dilakukan oleh
Darwin untuk mendata daerah-daerah di sepanjang rentangan garis pantai
Amerika Selatan yang masih kurang dikenal pada saat itu. Penjelasan mengenai
ekspedisi yang dilakukan oleh Darwin sampai akhirnya dapat mencetuskan
teori evolusi khususnya mengenai seleksi alam dapat dijelaskan sebagai
berikut.
1. Pelayaran Beagle
Ekspedisi ini dikenal dengan pelayaran Beagle karena berkaitan dengan
nama kapal yang digunakan oleh Darwin yaitu HMS Beagle dan pelayaran ini
dilakukan pada bulan Desember 1831.

13
Gambar (…) Rute Pelayaran yang Dilakukan oleh Charles Darwin

Pada saat anak buah kapal mengadakan suvei pesisir, Darwin


menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai, mengamati dan
mengumpulkan berbagai jenis tumbuhan dan hewan di Amerika Selatan yang
eksotik dan beragam. Darwin mengamati adanya berbagai macam jenis
adaptasi yang dilakukan oleh tumbuhan dan hewan tersebut. Ia menemukan
bahwa tumbuhan dan hewan yang hidup di Amerika Selatan memiliki ciri khas
yang berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di Benua Eropa tepatnya
Inggris yang merupakan tempat tinggal Charles Darwin. Selain itu, Darwin juga
menemukan fakta bahwa tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah beriklim
tropis pada Benua Amerika tersebut memiliki hubungan kekerabatan yang lebih
dekat dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah beriklim sedang
namun tetap berada pada satu lingkup benua Amerika dibandingkan dengan
tumbuhan dan hewan yang hidup di Benua Eropa. Kemiripan juga ditemukan
oleh Darwin antara fosil yang ditemukan di Benua Amerika tersebut dengan
tumbuhan dan hewan yang ditemuinya pada masa hidupnya tersebut. Hasil
pengamatan yang ia temukan cukup membingungkan. Hal mencengangkan lain
yang ia temukan selama pelayaran terjadi pada saat Darwin sampai di
Kepulauan Galapagos.

14
Gambar (…) Peta Kepulauan Galapagos

Sebagian spesies hewan di Kepulauan Galapagos tidak ditemukan di tempat


lain, meskipun terdapat kemiripan antara hewan-hewan tersebut dengan hewan
lain yang hidup di daratan Amerika Selatan. Ia menduga bahwa tumbuhan dan
hewan yang hidup di Kepulauan Galapagos merupakan tumbuhan dan hewan
yang bermigrasi dari daratan Amerika Selatan dan berkembang biak menjadi
beraneka ragam spesies di pulau-pulau yang berbeda. Diantara sebagian banyak
jenis burung yang diamati dan dikumpulkan oleh Darwin di kepulauan tersebut,
terdapat tiga belas jenis burung finch yang meskipun mirip nampaknya
merupakan spesies yang berbeda.

Gambar (…) Jenis Burung Finch di Kepulauan Galapagos

15
2. Darwin Memfokuskan pada Adaptasi
Setelah kembali dari perjalanannya, Darwin mulai mengevaluasi kembali
segala hal yang ia amati. Ia pun mulai memahami adanya keterkaitan antara
munculnya spesies dengan proses adaptasi yang dilakukan oleh spesies tersebut
terhadap lingkungannya. Menurut Darwin, spesies yang baru muncul terbentuk
dari spesies sebelumnya atau nenek moyangnya yang kemudian beradaptasi
dengan lingkungan yang berubah-ubah sehingga akumulasi dari adaptasi
tersebut akan membentuk spesies yang baru. Ia pun memberikan contoh adanya
populasi yang dipisahkan oleh selat atau laut dan kemudian mengisolasi
populasi tersebut sehingga kedua populasi tersebut lama kelamaan akan
semakin berbeda dalam penampakannya karena masing-masing populasi akan
menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan lokalnya. Selama beberapa
generasi, dua populasi tersebut akan menjadi cukup berbeda sehingga akhirnya
akan dipisahkan menjadi dua spesies yang berbeda. Faktor itulah yang
kemudian menjadi alasan terbentuknya spesies burung finch yang berbeda-beda
khususnya dari segi paruh yang diadaptasikan dengan makanan khas yang
tersedia di pulau-pulau tempat burung tersebut tinggal. Berdasarkan penemuan-
penemuan tersebut, Darwin mengeluarkan buku yang berjudul The Origin of
Species. Dalam bukunya tersebut terdapat dua pokok pikiran utama yaitu
sebagai berikut.
a. Pewarisan dengan Modifikasi
Pada edisi pertama buku The Origin of Species, Charles Darwin tidak
menggunakan istilah evolusi sampai pada alinea terakhir. Darwin
menyampaikan ungkapan pewarisan dengan modifikasi, yang artinya semua
organisme berkerabat melalui garis keturunan dari organisme sebelumnya yang
hidup pada zaman dahulu kala. Ketika keturunan dari organisme tersebut
terpencar ke berbagai habitat yang berbeda selama jutaan tahun, organisme ini
akan mengakumulasi modifikasi atau adaptasi yang beranekaragam yang
membuat organisme tersebut cocok dengan suatu cara hidup tertentu. Darwin
juga menyampaikan jika sejarah kehidupan dapat diibaratkan dengan pohon

16
dengan banyak cabang. Cabang-cabang tersebut memiliki banyak ranting
hingga sampai pada ujung ranting yang paling muda sebagai suatu simbol
keanekaragaman makhluk hidup. Pada setiap titik percabangan tersebut,
terdapat nenek moyang yang sama untuk beberapa titik percabangan. Spesies
dengan sifat dan ciri yang sama dapat disebabkan karena kedua spesies tersebut
memiliki garis keturunan nenek moyang yang sama.
b. Seleksi Alam dan Adaptasi
Dari buku The Origin of Species yang ditulis oleh Darwin dapat diambil
ringkasan mengenai seleksi alam yaitu terjadi melalui suatu interaksi antara
lingkungan dan keanekaragaman yang melekat diantara individu-individu
organisme yang menyusun suatu populasi. Adapun produk dari seleksi alam
yaitu adaptasi populasi suatu organisme dengan lingkungannya. Darwin
memberikan penegasan bahwa seleksi alam mampu melakukan modifikasi
yang sangat banyak pada spesies selama ratusan atau ribuan generasi. Meskipun
keuntungan beberapa sifat yang diwariskan dibandingkan dengan sifat lain
yang hanya sedikit, variasi yang menguntungkan akan terakumulasi dalam
populasi setelah sekian banyak generasi. Seleksi alam menghilangkan variasi
yang kurang menguntungkan. Darwin menggabungkan konsep gradualisme
(suatu konsep yang sangat penting dalam konsep geologi Lyell) ke dalam teori
evolusinya. Ia memandang kehidupan sebagai sesuatu yang berkembang
melalui suatu akumulasi perubahan-perubahan kecil secara bertahap dan ia
membuat dalil bahwa seleksi alam yang bekerja pada konteks yang berbeda
selama rentang waktu yang panjang dapat menyebabkan keanekaragaman
kehidupan secara keseluruhan. Adapun beberapa catatan penting mengenai
seleksi alam yaitu 1) pentingnya populasi dalam evolusi. Seleksi alam
melibatkan interaksi antara individu dalam lingkungannya, seleksi alam bekerja
pada populasi, bukan pada suatu individu. Evolusi dapat diukur hanya dengan
melihat perubahan dalam pembagian relatif variasi dalam satu populasi selama
beberapa generasi. Catatan penting selanjutnya yaitu 2) seleksi alam akan
memperbesar atau memperkecil variasi yang dapat diwariskan. Seperti sudah

17
disampaikan sebelumnya jika suatu organisme dapat dimodifikasi melalui hal-
hal yang dialaminya sendiri selama masa hidupnya dan ciri yang didapatkannya
itu mungkin lebih menguntungkan organisme tersebut dengan lingkungannya
namun tidak ada bukti bahwa ciri-ciri atau sifat yang didapat selama hidup
dapat diwariskan. Sehingga, perlu adanya pemahaman untuk membedakan
antara adaptasi yang didapat oleh organisme tersebut melalui tindakannya
sendiri dengan adaptasi yang diwariskan dan berkembang dalam suatu populasi
selama beberapa generasi akibat adanya proses seleksi alam. Adapun yang
terakhir yaitu 3) ciri khas seleksi alam tergantung pada situasi, faktor
lingkungan yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lain dan dari suatu masa
ke masa yang lain. Suatu adaptasi dalam suatu situasi mungkin tidak berguna
atau bahkan merugikan pada keadaan yang lain yang berbeda. Namun beberapa
contoh lain akan memperkuat kualitas seleksi alam yang tergantung pada
situasi.
Adapun contoh dari mekanisme seleksi alam yaitu sebagai berikut. Dalam
suatu penyelidikan mengenai mekanisme seleksi alam, para saintis menguji
hipotesis Darwin bahwa paruh burung finch di Kepulauan Galapagos
merupakan hasil adaptasi evolusioner terhadap sumber makanan yang berbeda.
Selama lebih dari 20 tahun, Peter dan Rosemary Grant telah mempelajari
populasi burung finch darat berukuran sedang dengan nama ilmiah yaitu
Geospisa fortis di Daphane Major yaitu sebuah pulau sangat kecil dalam
gugusan Kepulauan Galapagos. Burung finch tersebut menggunakan paruhnya
yang kuat untuk menghancurkan biji-bijian dan mereka lebih senang memakan
biji yang kecil yang dihasilkan oleh spesies tumbuhan tertentu yang tumbuh
dengan subur pada musim dengan curah hujan yang tinggi. Pada musim kering,
semua biji-bijian tersebut mengalami penurunan dari segi produksi sehingga
burung finch tersebut terpaksa memakan biji-bijian kecil yang sedikit
jumlahnya juga memakan biji-bijian yang lebih besar dengan jumlah yang lebih
banyak dihasilkan namun lebih sulit untuk dihancurkan. Grant menemukan jika
ketebalan paruh yang dapat dihitung dengan melihat jarak antara paruh atas dan

18
paruh bawah pada populasi burung tersebut berubah seiring dengan berubahnya
tahun. Saat musim kering, ketebalan paruh burung meningkat dan akan
menurun pada musim hujan. Hal ini disebabkan karena faktor makanan dengan
ukuran biji-bijian yang lebih besar ditemukan pada musim kemarau
dibandingkan dengan musim hujan. Hasil pengamatan ini memperkuat
pendapat yang mengatakan jika seleksi alam tergantung pada situasi yaitu apa
yang bekerja paling baik pada lingkungan tertentu bisa jadi kurang sesuai dalam
situasi yang berbeda. Proses seleksi alam akan memperbaiki populasi.
Perbandingan burung finch berparuh tebal meningkat selama musim kering
karena rata-rata individu-individu dengan paruh tebal menurunkan gen yang
lebih banyak kepada keturunannya dibandingkan dengan burung-burung yang
berparuh tipis.
Pasca ditemukannya teori evolusi oleh Charles Darwin, banyak ilmuwan
yang akhirnya mempelajari dan memahami teori evolusi tersebut. Dua orang
ilmuwan yaitu De Vries dan Tachernov menghubungkan teori evolusi yang
disampaikan oleh Charles Darwin dengan hukum pewarisan sifat yang
disampaikan oleh Gregor Johan Mendel. Pada masa Darwin, teori genetika dan
evolusi merupakan dua disiplin ilmu yang berkembang bersama dan terpisah
satu dengan lainnya. Namun, kedua ilmuwan ini membuktikan jika kedua teori
tersebut saling berhubungan. Sehingga, teori evolusi mampu menjelaskan
bagaimana perubahan sifat yang terjadi itu dilatarbelakangi oleh mutasi gen
yang kemudian akan diwariskan kepada keturunannya, yang mana hal ini tidak
mampu dijelaskan oleh Darwin.

2.4 Dasar Penyebab Evolusi


Secara umum terdapat lima penyebab dasar terjadinya evolusi, yaitu:
1. Mutasi gen
Mutasi gen menyebabkan terjadinya penyimpangan sifat-sifat individu dari
sifat yang normal. Terjadinya mutasi ini ada yang dipengaruhi oleh faktor luar
dan ada juga yang dipengaruhi oleh faktor dalam (rekombinasi gen-gen).

19
Variasi genetika berasal dari mutasi yang terjadi pada genom suatu
organisme. Mutasi merupakan perubahan pada urutan DNA sel yang
diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu radiasi, virus, ataupun bahan kimia
mutagenik, serta dapat pula terjadi karena adanya kesalahan selama proses
meiosis atau replikasi DNA. Mutagen-mutagen tersebut menghasilkan
beberapa jenis perubahan pada urutan DNA. Hal ini dapat mengakibatkan
perubahan produk gen, mencegah gen berfungsi, ataupun dapat pula tidak
menghasilkan efek sama sekali. Kajian pada hewan Drosophila melanogaster
menunjukkan bahwa sebuah mutasi mengubah protein yang dihasilkan oleh
sebuah gen. Kejadian ini menyebabkan adanya efek yang merugikan sebesar
70%, sisanya netral, dan ada pula yang menguntungkan namun sangat jarang
ditemukan. Oleh karena efek-efek yang merugikan dari mutasi terhadap sel,
organisme memiliki mekanisme reparasi DNA untuk menghilangkan mutasi.
Mutasi dapat melibatkan duplikasi fragmen DNA yang besar, yang merupakan
sumber utama bahan baku untuk gen baru yang berevolusi, dengan puluhan
sampai ratusan gen yang terduplikasi pada genom hewan setiap satu juta tahun.
Kebanyakan gen merupakan bagian dari famili gen leluhur yang sama yang
lebih besar.
2. Perubahan struktur dan jumlah kromosom

Perubahan pada struktur dan jumlah kromosom menyebabkan-perubahan


perubahan pada individu.

3. Rekombinasi genetik

Rekombinasi gen terjadi melalui perkawinan yang menyebakan perubahan


frekuensi gen pada generasi berikutnya. Melalui perkawinan silang, akan
dihasilkan varietas baru. Varietas baru ini terjadi akibat pembuahan atau
penyerbukan dari individu lain sehingga terjadi rekombinasi gen.

20
4. Seleksi Alam
Kenyataannya keberhasilan hidup pada setiap individu itu berbeda. Ada
individu yang dapat bertahan hidup karena memiliki ciri yang sesuai dengan
lingkungannya dan ada individu yang tidak mampu bertahan hidup karena tidak
mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ada. Individu yang
lebih berhasil memiliki peluang yang lebih besar untuk melanjutkan keturunan
sekaligus mewariskan ciri tersebut kepada keturunannya. Sebaliknya, individu
yang kurang mampu untuk mempertahankan hidupnya akan semakin tersisih
dari generasi ke generasi.
Adanya perubahan lingkungan yang terjadi dari masa ke masa
mengakibatkan individu-individu yang hidup pada masa-masa tersebut
mengalami perubahan pula. Alam mengadakan seleksi terhadap makhluk hidup
yang ada di dalamnya. Makhluk hidup yang dapat teradaptasi yang mampu
bertahan hidup dan berkembangbiak, sedangkan yang tidak mampu teradaptasi
akan punah dan gagal melangsungkan kehidupannya.

Salah satu contoh yang dapat menggambarkan peristiwa seleksi alam yaitu
Biston betularia. Sebelum masa revolusi industri, Biston betularia yang
berwarna putih memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan Biston
betularia yang berwarna hitam. Hal ini disebabkan karena Biston betularia
yang berwarna putih mampu berkamuflase pada tanaman-tanaman yang
berwarna cerah sehingga mampu terhindar dari predator. Namun, sejak masa
revolusi industri, Biston betularia yang berwarna putih semakin menurun
jumlahnya dan digantikan oleh Biston betularia yang berwarna hitam. Hal ini
disebabkan kondisi lingkungan yang tidak lagi menguntungkan Biston
betularia putih. Banyaknya asap yang ditimbulkan oleh masa revolusi industri
di Inggris menyebabkan warna batang pohon menjadi gelap akibatnya ngengat
yang berwarna putih ini menjadi semakin mudah terlihat oleh predator
dibandingkan dengan ngengat berwarna hitam yang mampu berkamuflase pada
batang pohon yang gelap. Akibatnya, semakin lama populasi Biston betularia

21
tidak lagi dapat ditemui atau punah akibat ketidakmampuannya untuk
beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
5. Isolasi
Isolasi merupakan proses pembentukan individu baru dengan batasan-
batasan tertentu. Isolasi khususnya isolasi geografi merupakan salah satu
penyebab dasar lain terjadinya evolusi. Terpisahnya satu spesies yang sama
oleh keadaan geografis misalnya oleh gunung atau lautan menyebabkan
terbentuknya dua atau lebih populasi yang berbeda. Adanya perbedaan iklim
dan jenis makanan menyebabkan setiap kelompok populasi akan mengalami
berbagai perubahan yang cukup besar. Sehinnga, jika dua kelompok populasi
yang berbeda tersebut yang sebenarnya terbentuk dari populasi yang sama, jika
dikumpulkan kembali ke dalam satu lingkup yang sama tidak mampu untuk
melakukan reproduksi. Sehingga, dapat pula dikatakan jika isolasi geografis ini
nantinya akan menyebabkan terjadinya isolasi reproduksi. Contoh yang dapat
menjelaskan peristiwa isolasi geografis ini adalah burung finch yang ditemukan
dengan 13 speises yang berbeda di Kepulauan Galapagos seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya.

2.5 Bukti-bukti Adanya Evolusi


Evolusi biologi meninggalkan tanda-tanda yang dapat diamati, yang
merupakan bukti pengaruh evolusi pada kehidupan di masa lalu dan sekarang.
Berikut adalah bukti-bukti terjadinya evolusi.
1. Bukti Paleontologi
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari fosil. Fosil adalah replika atau
peninggalan bersejarah organisme dari masa lalu, yang mengalami mineralisasi
di dalam batuan. Cabang biokimia, biologi molekuler, dan biologi sel
menempatkan prokariota sebagai nenek moyang semua kehidupan dan
memperkirakan bahwa bakteri mendahului semua kehidupan eukariota dalam
catatan fosil. Fosil tertua yang diketahui adalah prokariota. Fosil ikan adalah
yang paling tua dari semua vertebrata lain, disusul kemudian oleh amphibia,

22
diikuti oleh reptilia, kemudian burung dan mamalia. Urutan ini sesuai dengan
sejarah keturunan vertebrata sebagaimana diungkapkan oleh banyak jenis bukti
yang lain. Sementara itu, ide bahwa semua spesies diciptakan satu demi satu
pada waktu yang hampir sama seharusnya menunjukkan fakta bahwa kelas
vertebrata pada catatan fosil muncul dalam bebatuan dengan umur yang sama,
tetapi hal tersebut berlawanan dengan apa yang sesungguhnya diamati oleh para
ahli paleontologi.

Pandangan Darwinian mengenai kehidupan juga memperkirakan bahwa


transisi evolusioner harus meninggalkan tanda-tanda dalam catatan fosil. Para
ahli paleontologi telah menemukan banyak bentuk transisi yang
menghubungkan fosil yang lebih tua dengan spesies modern. Sebagai contoh,
serangkaian fosil mendokumentasikan perubahan bentuk dan ukuran tengkorak
yang terjadi ketika mamalia berevolusi dari reptilia. Hampir setiap tahun, ahli
paleontologi menemukan kaitan atau hubungan penting lainnya antara bentuk
modern dengan nenek moyangnya. Pada beberapa tahun belakangan ini
misalnya, para peneliti telah menemukan paus yang telah menjadi fosil yang
menghubungkan mamalia air ini dengan leluhurnya yang hidup di daratan.

2. Bukti Taksonomi

Taksonomi adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan penamaan


dan klasifikasi spesies yang didasarkan pada skema yang lebih formal. Skema
tersebut terdiri dari tingkatan klasifikasi yang bermacam-macam, setiap
tingkatan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan tingkatan yang di
bawahnya. Sistem taksonomi ini dipelopori oleh Carolus Linnaeus seorang ahli
botani Swedia. Beliau bekerja dengan mencari keseragaman di antara
keanekaragaman. Seabad kemudian sistem taksonominya ternyata menjadi titik
fokus pendapat Darwin mengenai evolusi. Linnaeus memakai suatu sistem
untuk pengelompokan spesies yang mirip ke dalam jenjang suatu kategori yang
semakin umum. Sebagai contoh, spesies yang mirip dikelompokkan ke dalam
genus yang sama, genus yang mirip dikelompokkan ke dalam famili yang sama

23
dan selanjutnya. Bagi para ahli evolusi, skema Linnaeus tersebut merefleksikan
geneologi bercabang dari pohon kehidupan, dengan organisme pada level
taksonomik yang berbeda dihubungkan melalui turunan dari nenek moyang
yang sama. Spesies yang memiliki sifat dan ciri yang sama, misalnya singa dan
harimau ternyata memiliki hubungan yang erat dan ternyata garis turunan nenek
moyangnya sama. Jika kita bisa mengakui singa dan harimau lebih erat
hubungan kekerabatannya dibandingkan antara singa dan kambing, maka kita
telah mengakui bahwa evolusi telah meninggalkan tanda dalam bentuk derajat
kekerabatan yang berbeda di antara spesies modern. Taksonomi merupakan
penemuan manusia dengan sendirinya taksonomi tidak dapat mengukuhkan
keturunan yang sama. Akan tetapi, bersama dengan bukti-bukti yang lain,
implikasi taksonomi pada evolusi tidak mungkin keliru. Analisis genetik
misalnya, membeberkan bahwa spesies singa dan harimau merupakan kerabat
yang sangat dekat dengan latar belakang hereditas yang mirip kekerabatan dari
genus yang sama untuk suatu ordo atau lebih dekat jika dibandingkan dengan
ordo yang berbeda.

3. Bukti Anatomi Perbandingan

Pewarisan dengan modifikasi sangat jelas terlihat pada kemiripan anatomi


antara spesies yang dikelompokkan ke dalam kategori taksonomi yang sama.
Sebagai contoh elemen kerangka yang sama menyusun tungkai depan manusia,
kadal, kucing, paus, kelelawar, katak dan burung. Meskipun tungkai tersebut
memiliki fungsi yang sangat berbeda. Tentunya, cara terbaik untuk membangun
infrastruktur sayap kelelawar bukan merupakan cara terbaik untuk membangun
sirip paus. Perbedaan anatomi seperti itu tidak masuk akal jika struktur tersebut
secara unik direkayasa dan tidak saling berhubungan. Suatu penjelasan yang
lebih mungkin adalah kemiripan tungkai depan ini akibat diturunkannya semua
vertebrata dari suatu leluhur yang sama. Tungkai depan, sirip, dan lengan dari
vertebrata yang berbeda adalah variasi dari pokok struktur dasar yang sama.
Akibat fungsi yang berbeda pada setiap spesies, maka struktur dasarnya

24
dimodifikasi. Kemiripan dalam ciri khusus yang dihasilkan dari leluhur yang
sama disebut homologi, dan tanda-tanda anatomis seperti itu disebut dengan
struktur homolog. Anatomi perbandingan konsisten dengan bukti-bukti lain
dalam memberikan bukti bahwa evolusi adalah suatu proses pemodelan ulang
di mana struktur leluhur yang berfungsi dalam suatu kapasitas dimodifikasi
ketika mereka mengemban fungsi baru. Beberapa struktur homolog yang lebih
menarik adalah organ vestigial (organ sisa yang tidak berguna lagi), yaitu
struktur dengan arti penting yang kecil, jika ada, bagi organisme tersebut.
Organ vestigial merupakan sisa-sisa historis dari struktur yang memiliki fungsi
penting pada leluhurnya. Sebagai contoh, paus masa kini tidak memiliki
tungkai belakang tetapi memiliki sisa tulang pelvis dari kaki leluhur daratnya
yang berkaki empat.

Pada tingkat dasar, organ vestigial tampaknya bisa mendukung konsep "use
dan disuse" yang dikemukakan oleh Lamarck, tetapi sebagaimana telah kita
bahas, pengaruh penggunaan struktur tubuh oleh suatu individu tidak
diwariskan ke keturunan individu tersebut. Sebaliknya, organ vestigial
merupakan bukti evolusi melalui seleksi alam. Tubuh akan merugi jika harus
terus menyediakan darah, zat-zat makanan, dan ruang bagi organ yang tidak
lagi memiliki fungsi penting, maka seleksi alam cenderung menguntungkan
individu yang memiliki organ tersebut dalam bentuk tereduksi, dengan
demikian cenderung akan menghilangkan struktur yang tidak berfungsi lagi.
Akhirnya perubahan struktur (seperti adaptasi ekor sebagai suatu struktur
pendorong utama dan reduksi tungkai belakang pada paus) melibatkan pola
ekspresi gen selama perkembangan embrio. Karena berbagai proses yang
terjadi pada perkembangan embrio mempengaruhi fungsi organisme dewasa,
maka organisme itu sendiri merupakan pokok dari proses seleksi alam. Organ
vestigial mewakili perubahan dalam perkembangan embrio organisme yang
ditempa atau dibentuk oleh seleksi alam.

25
4. Bukti dari Embriologi Perbandingan
Organisme yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat akan
mengalami tahapan yang sama dalam perkembangan embrionya. Sebagai
contoh, semua embrio vertebrata akan mengalami suatu tahapan di mana
mereka memiliki kantung insang dan rongga tulang belakang. Pada tahapan
perkembangan ini, ikan, salamander kura-kura, ayam, babi, sapi, kelinci,
manusia dan semua vertebrata lain lebih banyak kesamaannya dari
perbedaannya. Pada perkembangan selanjutnya menjadi semakin bervariasi,
akhirnya akan memiliki ciri khas dari kelasnya. Pada ikan misalnya, kantung
insang berkembang menjadi insang; pada vertebrata darat, struktur embrio
tersebut akan dimodifikasi untuk fungsi-fungsi lain, seperti saluran eustachius
yang menghubungkan telinga tengah dengan tenggorokan pada manusia.
Embriologi perbandingan sering kali membentuk homologi pada beberapa
struktur, seperti kantung insang, yang menjadi sedemikian berubah pada
perkembangan selanjutnya sehingga asal mulanya yang sama, tidak lagi terlihat
dengan jelas saat membandingkan dengan bentuknya yang telah berkembang
secara lengkap.

Diilhami oleh prinsip Darwinian mengenai pewarisan yang dimodifikasi,


ahli embriologi pada akhir abad ke-19 mengemukakan pandangan yang ekstrim
"ontogeni merupakan ikhtisar filogeni". Pendapat ini menganggap bahwa
perkembangan organisme individu, atau ontogeni, merupakan ulangan sejarah
evolusioner spesies, atau filogeni. Teori rekapitulasi ini adalah suatu pernyataan
yang berlebihan. Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri
perkembangan embrio yang sama, tidak benar kalau mamalia pertama tama
mengalami tahap perkembangan ikan kemudian tahap amfibia dan seterusnya.
Ontogeni dapat memberikan petunjuk untuk filogeni, tetapi penting untuk
diingat bahwa semua tahapan perkembangan itu bisa berubah sepanjang
rentetan proses evolusi yang panjang.

26
5. Bukti dari Biokimia dan Serologi Perbandingan

Studi anatomi perbandingan memperlihatkan adanya homologi anatomi,


demikian pula studi biokimia dari macam-macam organisme telah
mengungkapkan homologi biokimia. Persamaan biokimia organisme hidup
adalah satu ciri yang mencolok dari kehidupan.

Hubungan evolusi di antara spesies dicerminkan dalam DNA dan


proteinnya (gen dan produk gen). Jika dua spesies memiliki pustaka gen dan
protein dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu disalin
pasti dari nenek moyang yang sama. Jika ada dua paragraf panjang yang sama
hanya beda satu atau dua huruf di beberapa tempat, tentunya kita akan
mengatakan bahwa paragraf itu berasal dari sumber yang sama.

Biologi molekular merupakan pendukung Darwin yang paling berani,


bahwa semua bentuk kehidupan saling berhubungan sampai tingkat tertentu
melalui cabang-cabang keturunan dari organisme yang paling awal. Bahkan
organisme yang secara taksonomi berbeda jauh, seperti manusia dan bakteri,
memiliki beberapa protein yang sama.

Enzim-enzim sitokrom terdapat pada hampir setiap organisme hidup. Salah


satu dari enzim ini, yaitu sitokrom c, adalah rantai polipeptida yang terdiri atas
104 sampai 112 asam amino (bergantung pada organisme yang
menyandangnya). Pada tahun-tahun belakangan ini telah diketahui urutan asam
amino yang pasti dalam rantai sitokrom c dan beragam organisme seperti
manusia, kelinci, pinguin raja, ular gerincing, ikan tuna, ngengat, kapang
oncom merah (Neurospora) dan yang lainnya.

Meskipun terdapat variasi dalam urutan, terutama antar organisme yang


berkerabat jauh, ternyata ada juga sejumlah besar persamaannya. Urutan asam
amino pada manusia berbeda dengan urutan monyet rhesus hanya pada satu
tempat dalam rantai. Dengan gandum berbeda 35 asam amino, tetapi 35 asam
amino lainnya terbukti sama. Hal ini termasuk satu bagian yang terdiri atas 11

27
asam amino yang beruntun (No. 70 - 80) yang terdapat pada semua organisme
yang kita kenal. Kita mengetahui bagaimana urutan nukleotida dalam molekul
DNA menyandi urutan asam amino dalam protein. Terdapatnya gen untuk
sitokrom c pada begitu banyak jenis organisme, tidakakan dapat dijelaskan
tanpa menggunakan teori evolusi. Dan fenomena ini jelaslah, kita semua
mewarisi gen ini dari nenek moyang yang sama, sekalipun dengan akumulasi
mutasi.

Alasan yang sama dapat diterapkan pada persamaan biokimia lain di antara
organisme-organisme. Studi mengenai urutan asam amino pada hemoglobin
mamalia memperlihatkan persamaan yang dekat, terutama pada spesies-spesies
yang diduga berkerabat dekat.

Jadi dalam biokimia ada juga hal-hal yang paralel seperti halnya homologi
organ tubuh yang telah kita bahas sebelumnya; ini berarti hormon juga
diwariskan dari moyang yang sama tetapi dengan fungsi yang berubah sesuai
dengan cara kehidupan setiap hewan. Contoh perbandingan lainnya adalah
reaksi antibodi manusia. Kalau kita menyuntikkan protein serum manusia pada
kelinci (kelinci contoh hewan yang mudah digunakan, tetapi pakai hewan lain
pun bisa), kelinci akan membuat berbagai molekul antibodi yang sangat
bervariasi terhadap semua determinan antigen yang asing baginya. Bila serum
darah kelinci yang mengandung antigen manusia ini dicampur dengan serum
manusia dalam tabung reaksi, terbentuklah kompleks antigen antibodi yang tak
larut yang terdapat sebagai endapan. Jumlah endapan yang terbentuk dapat
diukur dengan mudah. Apa yang membuat reaksi ini menarik, ternyata antibodi
manusia ini juga akan bereaksi dengan serum darah mamalia lainnya.

Metode ini (disebut serologi perbandingan) tidak saja membenarkan


hubungan evolusi yang telah disetujui, tetapi juga memastikan hubungan,
karena bukti anatomi tidak dapat memberikan jawaban yang jelas. Misalnya,
kelinci memperlihatkan beberapa persamaan struktur dengan hewan pengerat,
tetapi walaupun demikian mereka diletakkan dalam ordo tersendiri (ordo

28
Lagomorpha). Satu alasan penting untuk ini ialah bahwa uji serologi
memperlihatkan sedikit afinitas antara kelinci dengan hewan pengerat; kelinci
tampaknya berkerabat lebih dekat dengan ungulata berkuku genap seperti babi.
Demikian pula paus, secara serologi memperlihatkan hubungan yang lebih
dekat dengan ungulata berkuku genap dari pada dengan ordo mamalia lainnya.
Sekarang protein tumbuhan pun telah digunakan sebagai antigen dan beberapa
teka-teki evolusi dengan teknik ini telah menjadi jelas.

6. Bukti dari Fisiologi Perbandingan

Fisiologi adalah ilmu dari cabang biologi yang mempelajari fungsi dari alat-
alat tubuh. Benarkah fisiologi dapat menjadi petunjuk adanya evolusi? Ada
faktor tak terkendali dalam membuat hubungan evolusioner dengan cara
mengevaluasi tingkat kemiripan. Ternyata tidak semua tingkat kemiripan
diwariskan dari nenek moyang yang sama. Spesies dari cabang evolusi yang
berbeda bisa saja pada kenyataannya mirip satu sama lainnya jika mereka
memiliki peranan lingkungan yang mirip dan seleksi alam telah membentuk
adaptasi yang analog. Hal seperti ini disebut sebagai evolusi konvergensi, dan
kemiripan akibat konvergensi disebut dengan analogi. Sirip depan dan ekor
ikan hiu dengan sirip depan dan ekor paus misalnya, adalah organ renang
analog yang berevolusi secara independen dan dibangun dari struktur yang
berbeda secara keseluruhan. Evolusi konvergen juga menghasilkan kemiripan
analog antara marsupial Australia tertentu dengan hewan berplasenta yang
mirip dan telah berevolusi secara independen pada benua lain.

2.6 Mekanisme Terjadinya Evolusi


Terjadinya evolusi memerlukan waktu dan proses yang cukup lama, para
ahli merumuskan proses hingga evolusi terjadi dengan beberapa fakta dan
kemungkinan yang telah diperhitungkan secara ilmiah. Dalam hal ini evolusi
sendiri tidak terjadi karena satu ataupun dua mekanisme dan factok terdapat
beberapa mekanisme yang cukup memungkinkan dan saling melengkapi untuk
terjadinya evolusi yang mana dalam hal ini tentu membutuhkan waktu yang

29
sangat lama hingga jutaan tahun. Terdapat beberapa mekanisme evolusi
diantaranya:

1. Mutasi
Mutasi berasal dari kata mutare yang berarti berubah. Mutasi adalah
peristiwa perubahan susunan materi genetik (gen atau kromosom) pada suatu
organisme dan sifat yang dihasilkan akan diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Dengan adanya mutase maka gen dapat berubah sehingga
turut juga menyebabkan perubahan pada induvidu mutan itu sendiri. Berbagai
macam mutasi dapat terjadi seperti pada mutasi gen tubuh atau autosomal gen
maupun pada sel gamet. Perubahan struktur kimia dari adanya mutasi dapat
menyebabkan suatu perubahan sifat dan dan dapat menurun pada generasi
berikutnya. Adapun beberapa macam mutasi yang dapat saja terjadi yaitu:
a. Berdasarkan tempat terjadinya
1. Mutasi kecil ( point mutation)

Mutasi kecil adalah perubahan yang terjadi pada susunan


molekul (ADN) gen. Lokus gen sendiri tetap. Mutasi jenis ini yang
menimbulkan perubahan alel. Mutasi gen diartikan sebagai suatu
perubahan fisiokimiawi gen. Perubahan fisiokimiawi gen yang
terjadi antara lain dapat berupa perubahan atau pergantian pasangan
basa. Misalnya pasangan A-T diganti menjadi G-C: peristiwa
semacam ini antara lain disebabkan karena terjadi satu basa purin
ataupun pirimidin oleh senyawa lain yang analog semacam
zaguanin atau bromouracil C-G. Sebagai akibat peristiwa lain.

2. Mutasi besar (gross mutation)

Mutasi besar adalah perubahan yang terjadi pada stuktur dari --


. Istilah khusus mutasi kromosom yakni aberasi. Sehingga untuk
selanjutnya istilah aberasi dipakai untuk mutasi kromosom,
sedangkan istilah mutasi khusus untuk mutasi gen saja.

30
b. Berdasarkan macam sel yang mengalami mutase
1. Mutasi somatis (mutasi vegetatif)
Mutasi somatis adalah mutasi yang terjadi pada sel soma. Bila
perubahan sel somatis demikian besar, sel-sel dapat mati. Dan, kalau
dapat bertahan hidup memiliki kelainan atau tak berfungsi secara
normal. Bila sel somatis tidak tidak meliputi daerah yang luas, yang
kurang penting, tidak membahayakan. Tetapi bila meliputi daerah
yang luas atau alat yang amat penting dapat membahayakan bahkan
dapat mematikan. Bila perubahan sel itu terjadi ketika sel somatis
sedang giat membelah seperti dalam embrio dapat mengakibatkan
karakter abnormal waktu lahir, tetapi tidak diturunkan kepada
generasi berikutnya. Makin muda jaringan yang mengalami
perubahan genetis, makin luas akibat abnormal yang
ditimbulkannya, sebaliknya makin dewasa jaringan itu ketika
mengalami keabnormalan dan dapat ditolerir.
Dalam bidang pertanian mutasi vegetatif banyak dipakai untuk
meninggikan produksi dan mutu, seperti terhadap apel, anggur, dan
jeruk. Dibuat perubahan induksi pada suatu cabang pohon dewasa
(misalnya dengan colchicine). Lalu cabang distek atau dicangkok,
dan dibiakkan secara vegetatif pula. Sedangkan secara alamiah
perubahan vegetatif pada tumbuhan dapat menimbulkan beraneka
warna (belang) pada endosperm (biji), daun dan mahkota bunga.
Misalnya pada ercis dan bunga pukul 4.
2. Mutasi germinal (mutasi gametis/ generatif)
Mutasi germinal adalah mutasi yang terjadi sel germinal
(terdapat di dalam gonad). Hal ini terjadi terdapat pada mahkluk
hidup bersel banyak dan bukan yang bersel satu. Atau strukturnya
yang lebih sederhana. Bila perubahan berlangsung pada gamet,
maka akibat yang ditimbulkan begitu hebat dan gametpun segera
mati.

31
Kadang, menyebabkan gamet tidak mampu melakukan
pembuahan dengan wajar. Oleh karena itu tak diteruskan pada
keturunananya. Tetapi bila perubahan tidak begitu hebat dan gamet
dapat melakukan pembuahan, terjadi generasi baru yang menerima
peruahan bahan genetik tersebut. Bila gonad terkena langsung
radiasi atau diberi bahan kimia seperti gas murtad, maka
kemungkinan besar mengalami perubahan genetis pada gamet.
Namun, kalau radiasi terjadi pada bagian tubuh yang lain, bukan
langsung ke gonad, suatu saat gonad menerima akibat radiasi secara
tidak langsung itu bila radiasi menimbulkan ionisasi berantai pada
jaringan dan akhirnya mencapai inti sel gamet. Makin dekat bagian
tubuh yang kena radiasi ke gonad, makin besar kemungkinan gamet
menerima perubahan genetis. Sebaliknya, semakin jauh bagian
tubuh yang kena radiasi dari gonad, makin kecil kemungkinan
gamet menerima perubahan genetik itu.
c. Berdasarkan faktor penyebab mutase
1. Mutasi alami (spontan)
Mutasi alam adalah mutasi yang terjadi secara alami (tanpa
dibuat dan disengaja manusia). Penyebab dari mutasi alamiah antara
lain:
a. Sinar Kosmos
b. Batuan Radioaktif
c. Sinar ultraviolet matahari
Sesuatu yang tidak jelas dalam metabolisme sehingga terjdi
kekeliruan dalam sintesis bahan genetik. Dan, Radiasi ionisasi
internal dari bahan radioaktif yang mungkin terkandung dalam
jaringan (lewat makanan atau minuman yang terkena pencemaran
zat radioaktif). Sinar kosmos berasl dari angkasa luar, meradiasi
bumi dengan partikel (butiran) berenergi tinggi, yakni proton,
positron, (bagian jumlah perubahan spontan).

32
2. Mutasi buatan

Mutasi spontan merupakan mutasi yang sengaja dibuat oleh


manusia, yang biasa diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu.
Misalnya di bidang budidaya, perakitan bibit dan lain-lain. Usaha-
usaha manusia dalam perubahan genetik dalam bentuk bahan
makanan antara lain: pemakaian bahan radioaktif untuk diagnosis,
terapi, deteksi, sterelisasi dan pengawetan bahan makanan, dan
penggunaan senjata nuklir, roket, televisi, reaktor yang
menggunakan bahan bakar radioaktif.

Mutasi buatan tidak selalu berakibat buruk. Banyak sekali jasa


bahan radioaktif terhadap kesejahteraan hidup manusia. Terutama
mengembangkan keturunan baru tanaman. Perubahan mutasi buatan
yang dilakukan pada gandum, buncis, tomat, ternyata dapat
meningkatkan mutunya. Banyak tanaman panen (padi, jagung
gandum) yang dikembangkan sehingga tahan terhadap suatu jenis
hama.

d. Berdasarkan jumlah faktor keturunan


1. Mutasi bertahap (mutasi mikro)

Mutasi mikro adalah mutasi yang terjadi atas satu atau


sekelompok kecil faktor keturunan. Mutasi lompatan (mutasi
makro). Mutasi makro merupakan mutasi yang terjadi atas sejumlah
besar atau mungkin seluruh faktor keturunan. Dalam ruang lingkup
mekanisme evolusi, terdapat dua macam pendapat tentang dampak
perubahan yang efektif supaya evolusi mahkluk hidup dapat
berlangsung, pendapat pertama, mengatakan bahwa penyebab
variasi (penyebab perubahan) yang lebih efektif adalah perubahan
bertahap. Dalam kurun waktu yang cukup lama sedikit demi sedikit

33
akan terjadi akumulasi demikian banyak variasi yang mengarah
pada timbulnya kelompok-kelompok baru (yang ditinjau dari sudut
tinjauan tingkat takson tertentu mungkin sudah berbeda dengan
sebelumnya).

Dalam hubungan dengan ini dikatakan bahwa mutasi lompatan,


skala perubahan adalah demikian besar sehingga turunan yang
mewarisi banyak ciri yang sekaligus berubah, relatif tidak
beradaptasi. Pendapat kedua mengatakan bahwa penyebab variasi
yang efektif adalah mutasi lompatan: dikatakan bahwa yang terjadi
karena mutasi bertahap tidak dapat mengarah kepada terbentuknya
spesies baru (spesiasi). Namun demikian, dari pendapat tersebut yang
paling banyak dianut adalah pendapat yang pertama.

e. Berdasarkan manfaat bagi individu atau populasi yang mengalami

1. Mutasi yang merugikan


Mutasi yang merugikan adalah mutasi yang berakibat timbulnya ciri
dan kemampuan yang kurang atau tidak adaptip pada individu
(populasi)
2. Mutasi yang menguntungkan
Mutasi yang menguntungkan adalah mutasi yang berakibat timbulnya
ciri dan kemampuan yang semakin adaptip pada individu (populasi),
diantara kedua mutasi itu, yang paling banyak terjadi adalah mutasi
yang merugikan: akan tetapi dalam ruang lingkup mekanisme evolusi,
dampak perubahan karena mutasi efektif adalah mutasi yang
menguntungkan.

Mutasi tidak terjadi begitu saja terdapat beberapa factor yang dapat menyebabkan
terjadinya mutasi. Adapun beberapa penyebab terjadinya mutasi diantaranya
yaitu:

34
1. Faktor fisika (radiasi)
Agen mutagenik dari faktor fisika brupa radiasi. Radiasi yang bersifat
mutagenik antara lain berasal dari sinar kosmis, sinar ultraviolet, sinar gamma,
sinar –X, partikel beta, pancaran netron ion- ion berat, dan sina- sinar lain yang
mempunyai daya ionisasi.Radiasi dipancarkan oleh bahan yang bersifat
radioaktif. Suatu zat radioaktif dapat berubah secara spontan menjadi zat lain
yang mengeluarkan radiasi. Ada radiasi yang menimbulkan ionisasi ada yang
tidak. Radiasi yang menimbulkan ionisasi dapat menembus bahan, termasuk
jaringan hidup, lewat sel-sel dan membuat ionisasi molekul zat dalam sel,
sehingga zat- zat itu tidak berfungsi normal atau bahkan menjadi rusak. Sinar
tampak gelombang radio dan panas dari matahari atau api, juga mem,bentuk
radiasi, tetapi tidak merusak.
2. Faktor kimia
Banyak zat kimia bersifat mutagenik. Zat- zat tersebut antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Pestisida
 DDT, insektisida dipertanian dan rumah tangga.
 DDVP, insektisida, fumigam, helminteik ternak
 Aziridine, dipakai pada industri tekstil, kayu dan kertas untuk membasmi
lalat rumah, mutagen pada tawon, mencit, neurospora, E, coli, dan
bakteriofage T4.
 TEM, dipakai dalam teskstil dan medis (agen antineoplastik). Membasmi
lalat rumah.mutagen pada mencit dan serangga, jamur, aberasi pada
memcit, allium e coli dan lekosit.
b. Industri

 Formadehid. Zat ini digunakan dalam pabrik resin, tekstil, kertas dan
pupuk, disenfektan benih, dan fungisida, anti pai , anti kusut pada tekstil.
Banyak dijumpai pada asap tembakau, asap mobil, mesin serta buangan
pabrik tekstil. Mutagen pada drosophila, neuspora dan E coli.

35
 Glycidol. Zat yang digunakan untuk membuat zat kimia yang lain seperti,
eter, ester, amin untuk farmasi, dan tekstil bersifat antibakteri dan
antijamur pada makanan, mutagen pada drosophila, neuspora, aberasi dan
jaringan mencit.
 DEB (butadiene deipoxide), mencegah mikroba, untuk tekstil dan farmasi,
mutagen pada drosophila, neuspora dan E, coli .
salmonella, penicillium, lalat rumah ragi, jagung, tomat dan mamalia.
Aberasi pada allium, drosophila dan mamalia.

c. Makanan dan minuman

 Caffein. Banyak didapatkan pada minuman, kopi, teh, cokelat, dan limun
yang mengandung cola. Pada bidang medis untuk antihistamin dan
obat pusing, pengembang pembuluh darah, koroner. Mutagen lemah pada
drosophila, mutagen letal adan aberasi pada bakteri, bakteriofage, dan
kultur sel orang,
 Siklamat dan sikloheksilamin. Banyak dipakai untuk penyedap makanan
dan minuman, aberasi secara invitro pada orang dan tikus.
 Natriun nitrit dan asam nitrit zat ini digunakan mengawetkan daging, ikan
dan keju, mutagen pada bakteri dan jamurdan virus: menghalangi
replikasi ADN.

d. Obat

 Siklofosfamid. Pelawan berbagai jenis tumor. Toragen pada tikus,


mutagen pada drosophila, mencit. Aberasi pada kultur jaringan orang.
 Metil di-kloro etil amin. Banyak digunakan diklinik. Mutagen pada
mencit, drosophila, aberasi pada Allium.
 Antibiotik . sebagian berasal dari streptomyces, seperti mitomysin C,
azaserine, streptonigrin, phleomycin. Anti neoplasma.

36
 Penghalang replikasi DNA. Mutagen pada drosophila. Aberasi pada
kultur lekosit orang.
 Aminopterin 4- aminoflic dan methoteraxate. Kedua zat antagonis
terhadap asam folat. Banyak dipakai pengobatan kanker, seperti
leukimia, dan choriocarcinoma, aberasi pada kultur lekosit..

3. Faktor biologi
Lebih dari 20 macam virus penyebab kerusakan kromosom. Misalnya
virus hepatitis menimbulkan aberasi pada darah dan sumsum tulang. Virus
campak, demam kuning, dan cacar juga dapat menimbulkan aberasi.

1. Seleksi alam
Seleksi alam adalah kemampuan alam untuk menyeleksi organisme yang
hidup di dalamnya sehingga hanya organisme yang mampu menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya yang dapat bertahan. Mekanisme ini terjadi secara
berangsur-angsur dalam periode berjuta-juta tahun yang lalu. Hidup dalam
cakupan alam semesta tidak luput dari adanya seleksi alam yang mana akan
menjadi tahapan bagi mahluk hidup dengan kondisi yang sesuai. Adanya
seleksi alam akan menyebakan mahluk hidup yang memiliki kondisi yang
kurang sesuai dengan kedaan alam akan mengalami kepunahan sedangkan bila
suatu mahluk hidup dapat menyesuaikan diri maka dapat bertahan dai seleksi
alam dan bahkan mengembangkan organ-organ yang paling dibutuhkan untuk
bertahan hidup. Terdapat beberapa factor terjadinya seleksi alam diantarannya:
a. Suhu Lingkungan
Suhu yang sesuai sangat penting bagi kehidupan suatu
organisme untuk bertahan hidup. Hewan yang berbulu tebal akan
nyaman dengan suhu dingin, sedangkan hewan yang berbulu tipis
nyaman pada suhu panas dan biasanya memiliki habitat di daerah
tropis.
b. Keterbatasan Makanan

37
Makanan adalah kebutuhan pokok yang paling utama untuk
makhluk hidup. Jika tidak adanya asupan maka organisme akan mati
kelaparan. Berlomba-lomba adalah suatu cara bagi organisme untuk
memperoleh makanan. Organisme yang lemah akan tertinggal dan
punah seiring dengan berjalannya waktu.
c. Keterbatan Tempat Tinggal
Tempat tinggal atau habitat merupakan hal penting yang
menyokong kehidupan makhluk hidup. Lahan makhluk hidup saat ini
menjadi sangat terbatas akibat keserakahan manusia. Keterbatasan
tempat tinggal atau habitat ini akan menyebabkan beberapa spesies
berkurang atau bahkan bisa sampai punah.
d. Cahaya Matahari
Setiap makhluk hidup memerlukan adanya fotosintesis.
Fotosintesis terjadi pada tumbuhan yang berklorofil atau mempunyai
zat hijau. Zat hijau ini membantu tumbuhan untuk membuat
makanannya sendiri dengan adanya energi dari cahaya matahari.
Fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan dapat mengubah substrat
karbondioksida (C02) dan air (H2O) menjadi karbohidrat dan gas
oksigen. Kurangnya cahaya matahari akan menyebabkan tidak
terjadinya fotosintesis yang akan menyebabkan berkurangnya
pasokan makanan dan oksigen bagi makhluk hidup lainnya.

Seleksi alam dapat menyebabkan kepunahan, mahluk hidup yang tidak


dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan alam tidak akan dapat
mempertahankan spesiesnya. Kepunahan spesies terjadi terhadap spesies yang
tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan di sekitarnya.

Salah satu contoh hewan yang mengalami kepunahan yaitu Biston


betularia, sejenis ngengat yang gemar menempel di pepohonan. Biston
betularia memiliki dua varian warna berbeda yaitu warna hitam dan putih.
Awalnya Biston warna hitam sangat sedikit keberadaanya dan jarang terlihat.

38
Hal ini disebabkan karena pada batang pohon berwarna cerah Biston warna
hitam jadi lebih mudah diincar pemangsa. Berbeda dengan Biston putih yang
mampu berkamuflase di batang pohon berwarna cerah. Namun semenjak
Inggris melakukan revolusi industri batang pohon cenderung semakin gelap
akhirnya Biston putih mengalami penurunan populasi. Hal ini menyebabkan
Biston hitam menjadi lebih dominan daripada Biston putih. Kasus kepunahan
spesies lainnya terjadi pada berbagai spesies dinosaurus.

Pada 65 juta tahun lalu, bumi kita dipenuhi dinosaurus. Menurut para
ahli kepunahan dinosaurus disebabkan jatuhnya meteorit raksasa yang turun ke
bumi. Akibatnya, muncul awan debu tebal yang menyelimuti bumi sehingga
cahaya matahari sulit menerobosnya. Faktor itulah yang mendorong punahnya
dinosaurus karena lingkungan di sekitarnya tidak mampu memasok makanan
dan sumber energi akibat dari tidak adanya fotosintesis yang terjadi.Seleksi
alam terjadi tak hanya dahulu kala saja, tetapi sekarang pun masih tetap terjadi
dan akan terus terjadi sampai bumi ini berakhir.

2. Migrasi

Migrasi adalah pergerakan organisme musiman terarah yang dilakukan selama


perjalanan bulak-balik diantara area reproduksi (breeding site) dan area masa musim
dingin (wintering site). Hal ini terjadi pada semua bentuk kehidupan dari hewan dan
tanaman, baik besar maupun kecil. Migrasi merupakan suatu respon makhluk hidup
terhadap pergantian musim. Burung pemangsa mencari kondisi yang sesuai terhadap
suhu, cahaya, dan makanan (Bildstein, 2006). Dengan adanya migrasi maka akan
terjadi perpindahan mahluk hidup dari satu tempat ke tempat lain inilah yang
menyebabkan dibutuhkan penyesuaian diri kembali oleh mahluk hidup tersebut di
tempat yang baru, hal inilah yang menyebabkan perubahan sifat yang kemudian lambat
laun dapat menyebabkan evolusi

39
Selama beberapa tahun, banyak teori migrasi yang telah menjelaskan tentang
asal-usul dari sistem migrasi. Teori tersebut menyatakan bahwa sistem migrasi
berkembang ketika populasi nenek moyang yang menetap membangun perilaku
bermigrasi yang kemudian individu memulai untuk bermigrasi baik menuju maupun
keluar dari area breeding yang baru (belahan utara), atau menuju dan keluar dari area
non-breeding yang baru (belahan selatan). Teori komprehensif menunjukkan bahwa
kecenderungan migrasi telah berkembang, dan terus berlanjut untuk berkembang
(Bildstein, 2006). Migrasi tahunan terjadi dengan perubahan garis lintang dan
ketinggian (Kendeigh, 1961).

Dalam terminologi habitat burung pemangsa yang bermigrasi, terdapat tiga


jenis residen, di antaranya: residen permanen, residen musim panas, dan residen musim
dingin. Residen permanen adalah spesies yang ada di suatu area sepanjang tahun
walaupun spesies lain bermigrasi. Residen musim panas adalah spesies yang ada hanya
pada area yang hangat (tropis), termasuk juga musim reproduksi yang terjadi pada awal
musim semi sampai akhir musim gugur. Residen musim dingin adalah spesies yang
ada hanya pada musim dingin atau periode nonreproduksi (Kendeigh, 1961).

3. Genetik Drift

Genetic drift adalah hilangnya/lepasnya frekuensi allele secara kebetulan atau


dapat dikatakan merupakan perubahan acak pada frekuensi gen pada populasi kecil
yang disebabkan oleh kematian, migrasi atau isolasi. Pada populasi kecil kehilangan
sedikit anggotanya akan membuat perbedaan besar. Geneti drift dapat disebabkan oleh
dua kategori situasi yaitu the bottleneck effect dan the founder effect.

a. The bottleneck effect. Bencana alam seperti kebakaran, gempa bumi,


habisnya cadangan makanan dan penyakit yang mewabah dapat
mengurangi sejumlah individu dalam populasi. The bottleneck effect

40
terjadi ketika populasi yang bertahan hidup sangat sedikit, misal tinggal
satu dosen sehingga gen pool (komposisi genetik suatu populasi) tidak
merepresentasikan populasi awal.
b. The founder effect. Ketika sejumlah kecil organisme bermigrasi dari
populasi yang besar dann menetap sebagai populasi yang baru di suatu
tempat the founder effect dapat terjadi. Jelasnya adalah gen pool
kelompok migrasi yang lebih kecil biasanya tidak merepresentasikan
gen pool populasi yang besar. Beberapa allele akan absen sementara itu
yang lain akan ada secara sedikit atau berlebihan. Sebagai konsekuensi,
ketika individu-individu bereproduksi dan jumlah founding population
meningkat, frekuensi gennya berbeda dari populasi awalnya.

4. Genetic flow

Gene Flow (Aliran Genetik adalah pelanggaran syarat Kesetimbangan Hardy-


Weinberg yang mengatakan bahwa populasi harus terisolasi dari populasi lain.
Misalkan ada dua populasi bunga liar. Jika serbuk sari aa dari populasi pertama tertiup
ke populasi kedua, frekuensi alel aa akan meningkat terus pada populasi kedua. Aliran
gen dapat terjadi melalui proses interbreeding. Imigran dapat menambah allele baru ke
dalam gen pool sehingga dapat merubah frekuensi allele. Aliran gen dapat terjadi dari
kisaran imigran yang sangat rendah sampai kisaran imigran yang sangat tinggi
tergantung dari jumlah individu yang datang dan seberapa banyak perbedaan genetik
inidividu-individu yang dapat bergabung. Bagaimanapun bila informasi genetik sangat
berbeda imigrasi kecil pun dapat menghasilkan perubahan frekuensi allele yang sangat
besar.

5. Hukum Hardy-Weinberg

Godfrey Harold Hardy seorang matematikawan Inggris dan Wilhelm Weinberg


seorang dokter dari Jerman. Tahun 1908 secara terpisah menemukan dasar-dasar

41
frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi terpisah menemukan suatu hubungan
matematik dari frekuensi gen dalam populasi, yang kemudian dikenal dengan hukum
Hardy-Weinberg (prinsip kesetimbangan). Pernyataan itu menegaskan bahwa
frekuensi alel dan genotip suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke
generasi dengan kondisi tertentu. Hukum ini digunakan sebagai parameter untuk
mengetahui apakah dalam suatu populasi sedang berlangsung evolusi ataukah tidak.

Hukum Hardy-Weinberg menyatakan,“Di bawah suatu kondisi yang stabil,


baikfrekuensi gen maupun perbandingan genotip akan tetap (konstan) dari generasi
ke generasipada populasi yang berbiak secara seksual”.Syarat berlakunya asas Hardy-
Weinberg yaitu :

a. Setiap gen mempunyai viabilitas dan fertilitas yang sama


b. Perkawinan terjadi secara acak
c. Tidak terjadi mutasi gen atau frekuensi terjadinya mutasi, sama besar.
d. Tidak terjadi migrasi
e. Jumlah individu dari suatu populasi selalu besar

Jika lima syarat yang diajukan dalam kesetimbangan Hardy Weinberg tadi
banyak dilanggar, jelas akan terjadi evolusi pada populasi tersebut, yang akan
menyebabkan perubahan perbandingan alel dalam populasi tersebut. Definisi evolusi
sekarang dapatdikatakan sebagai: ”Perubahan dari generasi ke generasi dalam hal
frekuensi alel atau genotipe populasi”. Dalam perubahan dalam kumpulan gen ini
(yang merupakan skalaterkecil), spesifik dikenal sebagai mikroevolusi.

Persamaan hukum Hardy-Weinberg dapat dijelaskan berikut ini. Pada suatu


lokus, gen hanya mempunyai dua alel dalam satu populasi. Para ahli genetika populasi
menggunakan huruf p untuk mewakili frekuensi dari satu alel dan huruf q untuk
mewakili frekuensi alel lainnya. Bila frekuensi gen yang satu dinyatakan dengan
simbolpdan alelnya dengan simbolq, maka secara matematis hukum tersebut dapat
ditulis sebagai berikut:

42
P+q=1

(+ q) = 1

P2 + 2pq + q2 = 1

Pp + 2pq + qq = 1

Dimana :

pp = alel yang homozigot dominan

2pq = alel yang heterozigot

qq = alel yang homozigot resesif

43
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1. Evolusi merupakan perubahan yang dialami mahluk hidup yang terjadi secara
perlahan menuju kompleksitas dan keberagamana jenis, dimana evolusi
terdapat 2 macam jenis yaitu evolusi anorganik dan evolusi organic.
2. Ada 2 tanggapan prinsip bio modern terhadap evolusi organic yaitu prinsip
pengorganisasian dan prinsip asal usul dan hereditas mahluk hidup yang
mengalami evolusi.
3. Perkembangan ide evolusi organik dapat dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa
sebelum dicetuskannya teori evolusi Darwin yang dapat pula dibagi menjadi
dua masa yakni masa fiksisme dan masa adaptasi dan transformasi, masa
dicetuskannya teori evolusi Darwin, dan masa pasca dicetuskannya teori
evolusi Darwin yang mengaitkan teori evolusi dengan teori genetika.
4. Dasar penyebab evolusi yaitu mutasi gen, perubahan struktur dan jumlah
kromosom, rekombinasi genetik, seleksi alam, dan isolasi geografis yang
menyebabkan adanya isolasi reproduksi.
5. Bukti-bukti terjadinya evolusi yaitu bukti paleontologi, bukti taksonomi, bukti
anatomi perbandingan, bukti embriologi perbandingan, bukti biokimia dan
serologi, dan bukti fisiologi perbandingan.
6. Evolusi tidak terjadi begitu saja terdapat beberapa proses dalam mencapai tahap
evolusi membutuhkan waktu yang sangat lama dan proses rumit mengenai
perubahan gen untuk mencapai evolusi itu sendiri, mekasimme terjadinya
evolusi cukup bermacam-macam yang mana satu sama lain saling
berhubungan. Dimana diantaranya mekanisme evolusi dapat terjadi dengan
adanya Mutase, Seleksi Alam, Genetic Drif, Genetic Flow dan Hukum Hardy-
Weinberg.

3.2 Saran
1. Bagi Pemerintah
Diharapkan dengan adanya penulisan makalah ini dapat menyadarkan mengenai
pentingnya penyediaan sarana belajar dan pewadahan bagi para pelajar untuk terus

44
menggali info dan mempelajari mengenai teori-teori evolusi secara lebih mendalam
dan detail.
2. Bagi Masyarakat
Dengan ditulisnya makalah ini maka diharapkan informasi mengenai evolusi ini
dapat bermanfaat dan membuka pikiran dari masyarakat itu sendri sehingga lebih
mempertimbangkan menggunakan teori-teori saintis dibandingkan non-saintis.
3. Bagi Pelajar
Melalui makalah ini selaku penulis mengharapkan bagi para pembaca untuk bias
mengenbangkan maksud dari evolusi dan berperan dalam menggali evolusi yang mana
kita mengetahui bila evolusi merupakan sebuah teori perkiraan mengenai kehidupan
sebelum manusia ada.

45
DAFTAR PUSTAKA
Ristasa, R. 2013. Sejarah Perkembangan Teori Evolusi Makhluk Hidup. Universitas
Terbuka. Diakses pada tanggal 30 September 2019.
<repository.ut.ac.id/4251/>.
Siti, M, Victoria, H, Sudjoko, Tutiek, R. 2012. Evolusi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Diakses pada tanggal 30 Agustus 2019.
Sudarno.1994.Biologi.Surakarta:PT Pabelan Surakarta
Suroso. 2003. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan. Jakarta: Tarity Samudra Berlian.
Wijana, N. 2017. Evolusi. Singaraja: Innosain

46