Anda di halaman 1dari 21

PENGERTIAN PLANNING , ORGANIZING, ACTUATING,

CONTROLLING

PLANING (perencanaan)

Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai
beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E.
Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa:planning may be defined as the proses by which
manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish
these objective.Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : “ Perencanaan
(planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi,
kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”

ORGANIZING (pengorganisasian)

Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertain , istilah tersebut dapat


digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut ini :
a. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber
daya keuangan , fisik , bahan baku , dan tenaga kerja organisasi.
b. Hubungan-hubungan antara fungsi , jabatan , tugas dan para karyawan.
c. Cara dalam mana para manager lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam
departemen mereka dan mendelagasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan
tugas tersebut.
Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian merupakan suatu proses
untuk merancang struktur formal , mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-
tugas atau pekerjaan diantara organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien.

ACTUATING (penggerakan)

Menggerakkan (actuating) menurut Tery berarti merangsanganggota-anggota kelompok


melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dankemauan yang baik25. Tugas menggerakkan
dilakukan oleh pemimpin.Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah mempunyai
perananpenting dalam menggerakkan personal sekolah melaksanakan programkerjanya.
Menurut Keith Davis, actuating adalah kemampuan membujukorang-orang mencapai tujuan-
tujuan yang telah ditetapkan dengan penuhsemangat. Menggerakkan dalam organisasi
sekolah adalah merangsangguru dan personal sekolah lainnya melaksanakan tugas dengan
antusiasdan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat.Pemimpin
yang efektif cenderung mempunyai hubungan denganbawahan yang sifatnya mendukung
(suportif) dan meningkatkan rasapercaya diri menggunakan kelompok membuat keputusan.
Keefektifankepemimpinan menunjukkan pencapaian tugas pada rata-rata
kemajuan,keputusan kerja, moral kerja, dan kontribusi wujud kerja. Prinsip utama dalam
penggerakan adalah bahwa perilaku dapatdiatur, dibentuk, atau diubah dengan sistem
imbalan yang positif yangdikendalikan dengan cermat.
Dalam melaksanakan tugas penggerakankepala sekolah merencanakan cara untuk
memungkinkan guru, tenagakependidikan dan personal sekolah lainnya secara teratur
mempelajariseberapa baik ia telah memenuhi tujuan sekolah yang spesifik
dapatmeningkatkan mutu sekolah.Penggerakan yang dilakukan kepala sekolah ini dengan
pengakuandan pujian atas prestasi kerja personal tersebut, karena ancaman ataskesalahan
yang dilakukan oleh para personalnya hanya akan berdampakburuk dan negatif terhadap
manajemen sekolah. Sanksi hanya akandiberikan, jika betul-betul ada bukti dan tidak
mungkin lagi untuk dibina,jauh efisien membentuk perilaku guru, tenaga kependidikan, dan
personalsekolah lainnya dengan menghargai hasil yang positif dan memberimotivasi kearah
yang positif pula.

CONTROLLING (pengawasan)

Pengertian Controlling di dalam bahasa Indonesia dapat ditafsirkan sebagai


pengawasan atau pengendalian sehingga dalam bahasa Inggris pengertian
pengawasan dan pengendalian tetap dipergunakan dengan Istilah controlling.
Controlling baik yang dalam pengertian pengawasan atau
pengendalian oleh sebagian besar masyarakat sering ditafsirkan sebagai usaha dari manajer
atau lembaga pengawasan sebagai kegiatan untuk mencari
kesalahan.22
Padahal fungsi pengawasan atau pengendalian tersebut adalah sebagai
salah satu keguatan untuk mengadakan perbaikan bila hasil atau jasa yang
sudah distandarisasi itu tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Standarisiasi merupakan salah satu tindakan awal dari proses
perencanaan dan standar itu harus terandalkan dan dapat dipercayai sebagai
dasar untuk mengevaluasi dan membandingkan dalam kegiatan pengawasan.
Standarisasi dari proses perencanaan ditujukan untuk pencapaian
sasaran atau efektifitas organisasi. Sedang kontrol baik dalam pengertian
pengawasan atau pengendalian itu lebih difokuskan pada hasil atau
produktifitas baik yang berupa barang atau jasa agar hasil usaha suatu
organisasi itu sangat efisien.
Jadi kontrol dapat disimpulkan lebih memusatkan pada efisiensi dan
perencanaan atau planning lebih memusatkan pada efektivitas.
Beberapa pakar memberikan definisi controlling sebagai berikut:
a. George R. Terry
Pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai,
mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tindakan
korektif, bila diperlukan, untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan
rencana. b. Newman
Pengawasan adalah suatu usaha untuk menjamin agar pelaksanaan sesuai
dengan rencana.
c. Henry Fayol
Pengawasan terdiri dengan maksud untuk memperbaikinya dan mencegah
terulangnya kembali.
d. Soejamto
Segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui sasaran obyek yang
diperiksa.
e. Sondang Siagian
Proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi
untuk menjamin agar dimana pekerjaan yang sedang dilaksanakan
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya
f. Soekarno K
Suatu proses yang menentukan tentang apa yang harus dikerjakan agar apa
yang diselenggarakan sejalan dengan rencana.
Fungsi-Fungsi Manajemen (POAC)

BAB 1

POAC

1.1 POAC Sebagai Proses Manajemen

Dalam bahasan kelompok kami terdapat dua sub bab, yaitu POAC dan POSDCORBE.

Hal yang perlu ditekankan dalam materi kali ini adalah, POAC merupakan sebuah proses.

Sedangkan POSDCORBE adalah sebuah fungsi. Karena POAC sebuah proses, maka di

dalam organisasi keberadaan POAC akan selalu berputar dan tidak akan pernah berhenti.

Pendekatan membantu untuk memahami apa yang manajer lakukan, yaitu

menganggap pekerjaan mereka sebagai suatu proses. Proses adalah serangkaian tindakan

untuk mencapai sesuatu. Misalnya, membuat keuntungan atau menyediakan layanan. Untuk

mencapai tujuan, manajer menggunakan sumber daya dan melaksanakan empat fungsi

manajerial utama, yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).

POAC diterapkan dalam setiap organisasi di seluruh dunia guna mempertahankan

kelanjutan organisasi. POAC adalah dasar manajemen untuk organisasi manajerial. Terdapat

beberapa konsep proses manajemen, misalnya saja PDCE (Plan, Do, Check, Evaluate), dan

PDCA (Plan, Do, Check, Action). Namun, konsep POAC lebih banyak digunakan dan

diterapkan karena lebih sesuai untuk setiap tingkat manajemen.

1.2 Pengertian tiap Fungsi POAC

Fungsi POAC sendiri dalam suatu organisasi adalah untuk meningkatkan efektifitas

dan efisiensi suatu organisasi dalam pencapaian tujuannya. Berikut adalah pemaparan singkat

tentang tiap bagian dari POAC, yang mana akan dibahas lebih dalam di bab lain:

A. Planning
Planning meliputi pengaturan tujuan dan mencari cara bagaimana untuk

mencapai tujuan tersebut. Planning telah dipertimbangkan sebagai fungsi utama manajemen

dan meliputi segala sesuatu yang manajer kerjakan. Di dalam planning, manajer

memperhatikan masa depan, mengatakan “Ini adalah apa yang ingin kita capai dan

bagaimana kita akan melakukannya”.

Membuat keputusan biasanya menjadi bagian dari perencanaan karena setiap pilihan

dibuat berdasarkan proses penyelesaian setiap rencana. Planning penting karena banyak

berperan dalam menggerakan fungsi manajemen yang lain. Contohnya, setiap manajer harus

membuat rencana pekerjaan yang efektif di dalam kepegawaian organisasi.

B. Organizing

Organizing adalah proses dalam memastikan kebutuhan manusia dan fisik

setiap sumber daya tersedia untuk menjalankan rencana dan mencapai tujuan yang

berhubungan dengan organisasi. Organizing juga meliputi penugasan setiap aktifitas,

membagi pekerjaan ke dalam setiap tugas yang spesifik, dan menentukan siapa yang

memiliki hak untuk mengerjakan beberapa tugas.

Aspek utama lain dari organizing adalah pengelompokan kegiatan ke departemen atau

beberapa subdivisi lainnya. Misalnya kepegawaian, untuk memastikan bahwa sumber daya

manusia diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Memekerjakan orang untuk pekerjaan

merupakan aktifitas kepegawaian yang khas. Kepegawaian adalah suatu aktifitas utama yang

terkadang diklasifikasikan sebagai fungsi yang terpisah dari organizing.

C. Actuating

Actuating adalah peran manajer untuk mengarahkan pekerja yang sesuai

dengan tujuan organisasi. Actuating adalah implementasi rencana, berbeda dari planning dan

organizing. Actuating membuat urutan rencana menjadi tindakan dalam dunia organisasi.
Sehingga tanpa tindakan nyata, rencana akan menjadi imajinasi atau impian yang tidak

pernah menjadi kenyataan.

D. Controlling

Controlling, memastikan bahwa kinerja sesuai dengan rencana. Hal ini

membandingkan antara kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan. Jika terjadi

perbedaan yang signifikan antara kinerja aktual dan yang diharapkan, manajer harus

mengambil tindakan yang sifatnya mengoreksi. Misalnya meningkatkan periklanan untuk

meningkatkan penjualan.

Fungsi dari controlling adalah menentukan apakah rencana awal perlu direvisi,

melihat hasil dari kinerja selama ini. Jika dirasa butuh ada perubahan, maka seorang manajer

akan kembali pada proses planning. Di mana ia akan merencanakan sesuatu yang baru,

berdasarkan hasil dari controlling.


BAB 2

PLANNING

2.1 Pengertian Planning

Kesuksesan organisasi adalah mencapai tujuan yang telah disusun oleh manajer pada

periode awal membentuk organisasi. Planning adalah sebuah proses di mana seorang manajer

memutuskan tujuan, menetapkan aksi untuk mencapai tujuan (strategi) itu, mengalokasikan

tanggung jawab unutk menjalankan strategi kepada orang tertentu, dan mengukur

keberhasilan dengan membandingkan tujuan.

Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang perencanaan terlebih dahulu mengenal

perbedaan visi, misi, nilai dasar, dan tujuan. Misi, visi, nilai dasar dan tujuan adalah titik awal

dari perencanaan strategi. Keempat hal ini mengatur konteks landasan dari suatu proses dan

untuk menjalankan sesuatu serta unit perencana yang tertanam dalam suatu organisasi.

Perbedaan misi menggambarkan tujuan dari suatu organisasi sedangkan visi menggambarkan

keinginan untuk masa depan, seringkali digambarkan dengan jelas, menggugah, singkat oleh

manajemer suatu organisasi.

Nilai dasar menyatakan secara filosofis komitmen yang diprioritaskan oleh manajer,

sedangkan tujuan adalah keinginan masa depan dari suatu organisasi yang di usahakan untuk

di wujudkan. Empat karakteristik tujuan :

1. Tepat dan terukur. Tujuan yang terukur dapat memberikan seorang manajer standar

pembanding terhadap hasil yang telah dilaksanakan.

2. Menyebutkan issue yang penting. Untuk membangun manajer harus memilih beberapa tujuan

major untuk menaksir kinerja organisasi.


3. Menantang tetapi realis. Memberikan sebuah tantangan tersendiri bagi semua karyawan,

anggota organisasi untuk mengiprovisasi kinerja dalam organisasi. jika tujuan tidak realis

atau terlalu mudah akan membuat putus asa dan bosan pada diri karyawan atau anggota

organisasi.

4. Menetapkan dalam periode waktu tertentu yang seharusnya dapat dicapai. Tenggat waktu

dapat menyuntikkan rasa urgensi dalam pencapaian tujuan dan bertindak sebagai motivator.

Namun, tidak semua tujuan memerlukan kendala waktu.

2.2 Prinsip Perencanaan

Berikut ini adalah prinsip dari perencanaan:

A. Prinsip Kontribusi

Tujuan perencanaan adalah untuk memastikan pencapaian efektif dan efisien tujuan

organisasi, dalam kenyataannya, kriteria dasar untuk perumusan rencana untuk mencapai

Tujuan utama perusahaan. Pencapaian tujuan selalu tergantung pada rencana dan jumlah

kontribusi organisasi terhadap perencanaan.

B. Prinsip Suara dan Konsisten Premising

Bangunan adalah asumsi mengenai kekuatan lingkungan seperti kondisi ekonomi dan pasar,

sosial, politik, aspek hukum dan budaya, tindakan pesaing, dll Ini adalah lazim selama

periode pelaksanaan rencana. Oleh karena itu, Rencana yang dibuat atas dasar tempat sesuai,

dan masa depan perusahaan tergantung pada tingkat kesehatan rencana yang mereka buat

sehingga untuk menghadapi keadaan tempat.

2.3 Metode Pengambilan keputusan

A. Elementary Methods (Metode dasar)

Metode pendekatan ini sangat simpel, dan membutuhkan perhitungan untuk mendukung

analisis. Metode ini sesuai untuk keadaan di mana masalah hanya diselesaikan oleh satu
orang saja, alternatif yang terbatas dan ada karakter yang unik di lingkungan pembuatan

keputusan.

B. MAUT (Multi-Attribute Utility Theory)

Metode ini menggunakan skala prioritas antara 0-1 untuk membantu dalam pembuatan

keputusan di organisasi. Hasil dari prioritas itu dapat digunakan sebagai pembuat keputusan.

C. SMART ( Simple Multi Attribute Rating Technique)

Metode pengambilan keputusan ini menggunakan fungsi nilai yang dihitung secara

matematis. Adanya skala penilaian yang telah diketahui oleh banyak orang.

D. Basic Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA)

MCDA umumnya mempunyai masalah yang memiliki salah satu dari sejumlah alternatif.

Alternatif tersebut didasarkan pada seberapa baik dalam penilaian hal yang dipilih. Kriteria

dan nilai atau skornya dibuat oleh si pembuat keputusan. Setelah memberikan penilaian

terhadap alternatif dijumlahkan sesuai masing-masing kriteria dan kemudian diurutkan

sesuai jumlah skor. Urutan hasil yang telah didapatkan oleh pembuat keputusan adalah hasil

keputusan.

E. NGT (Nominal Group Technic)

NGT adalah suatu metode untuk mencapai konsensus dalam suatu kelompok dalam membuat

keputusan. Teknik ini mengumpulkan ide-ide dari tiap peserta atau anggota organisasi

kemudian memberikan voting dan rangking terhadap ide-ide yang mereka pilih. Ide yang

dipilih adalah ide yang paling banyak skornya, yang berarti merupakan konsensus bersama.

2.4 Metode Menentukan Prioritas

A. Metode USG (Urgent, Seriousness, and Growth)

1) Urgent

Tingkat kegawatan suatu masalah, artinya apabila masalah tidak segera ditanggulangi akan

semakin gawat.
2) Seriousness

Tingkat keseriusan sebuah masalah, apabila masalah tidak diselesaikan akan berakibat serius

pada masalah lainnya.

3) Growth

Besar atau luasnya masalah berdasarkan pertumbuhan atau perkembangan, artinya apabila

masalah tersebut tidak segera diatasi pertumbuhannya akan berjalan terus.

B. Metode MCUA (Multi Criteria Utility Assesment)

MCUA adalah metode kuantitatif untuk memilih intervensi terbaik di antara banyak pilihan

kandidat yang berbeda.

C. Metode CARL (Capability, Accessability, Readiness, and Leverage)

Metode CARL merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan untuk menentukan prioritas

masalah jika data yang tersedia adalah data kualitatif. Metode ini dilakukan dengan

menentukan skor atas criteria tertentu, seperti kemampuan (capability), kemudahan

(accessibility), kesiapan (readiness), serta pengungkit (leverage). Semakin besar skor

semakin besar masalahnya, sehingga semakin tinggi letaknya pada urutan prioritas.

Penggunaan metode CARL untuk menetapkan prioritas masalah dilakukan apabila pengelola

program menghadapi hambatan keterbatasan dalam menyelesaikan maslah. Penggunaan

metode ini menekankan pada kemampuan pengelola program.

D. Metode Hanlon

Metode Hanlon merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan untuk menentukan

prioritas masalah dengan menggunakan empat kelompok kriteria, yaitu besarnya masalah

(magnitude), kegawatan masalah (emergency), kemudahan penanggulangan masalah

(causability), dan faktor yang menentukan dapat tidaknya program dilaksanakan (PEARL
factor). Tujuan Metode Hanlon adalah meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta

dalam meningkatakan penentuan masalah.

2.5 Implementasi

(Koontz & Weihrich, 1990, p. 55)

A. Menyadari kesempatan.

Penting sekali bagi seorang manajer untuk mengetahui kesempatan atau peluang di

lingkungan eksternal dengan sangat baik dalam organisasi sebagai awal perencanaan.

Menjadi bagian penting melihat terhadap kesempatan masa depan.

Manajer harus tahu di mana kondisi pasar, kompetisi antar organisasi, permintaan konsumen

atau pelanggan, kekuatan mereka sendiri, dan kelemahan.

B. Menentukan tujuan.

Langkah kedua adalah menetukan tujuan untuk seluruh organisasi dan setiap sub unit di

dalamnya. Tujuan memberikan arahan terhadap setiap departemen atau sub unit di dalamnya.

C. Mengembangkan dasar pikiran.

Dasar pikiran di sini adalah sebuah asumsi yang ada dalam pikiran organisasi. Mengenal dan

memahami dengan baik rencana akan berjalan di lingkungan yang sesuai, eksternal maupun

internal.

D. Menentukan tindakan alternatif.

Memikirkan tindakan alternatif jika dalam pelaksanaan perencanaan terdapat permasalahan

hambatan.
E. Mengevaluasi tindakan alternatif.

Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi tindakan alternatif dengan menimbang dengan

cermat, tindakan alternatif yang memberikan peluang yang paling bagus tentang pencapaian

tujuan, biaya yang paling murah dan keuntungan yang paling tinggi.

F. Memilih tindakan alternatif yang telah ditentukan atau dirumuskan dan dievaluasi.

G. Merumuskan pendukung tujuan. Saat keputusan telah dibuat, perencanaan telah selesai, dan

tujuah langkah telah dilakanakan, maka memerlukan daftar atau hal yang diperlukan untuk

mendukung tujuan. Contoh pendukung tujuan adalah alat, bahan, memperkerjakan dan

melatih pegawai, dan mengembangkan sebuah produk baru.

H. Penghitungan anggaran dana perencanaan, seperti volum dan harga penjualan, biaya operasi

perencanaan, pengeluaran untuk peralatan dan lainnya.


Bab 3

Organizing

3.1 Pengertian

Organizing, atau dalam bahasa Indonesia pengorganisasian merupakan proses

menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan

didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan

organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat

bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

Definisi sederhana dari pengorganisasian ialah seluruh proses pengelompokan orang,

alat, tugas, serta wewenang dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu

organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka

pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Pengorganisasian adalah penentuan pekerjaan yang harus dilakukan, pengelompokan

tugas dan membagi pekerjaan kepada setiap karyawan, penetapan berbagai departemen serta

penentuan hubungan. Tujuan pengorganisasian ini adalah untuk menetapkan peran serta

struktur dimana karyawan dapat mengetahui apa tugas dan tujuan mereka.

3.2 Prinsip Pengorganisasian

Proses pengorganisasian dapat dilakukan secara efisien jika manajer memiliki

pedoman tertentu sehingga mereka dapat mengambil keputusan dan dapat bertindak. Untuk

mengatur secara efektif, prinsip-prinsip organisasi berikut dapat digunakan oleh seorang
manajer.

A. Prinsip Spesialisasi

Menurut prinsip, pekerjaan seluruh perhatian harus dibagi di antara bawahan atas dasar

kualifikasi, kemampuan dan keterampilan. Ini adalah melalui pembagian kerja dapat dicapai

yang menghasilkan organisasi yang efektif. Pembagian kerja adalah pemecahan tugas

kompleks menjadi komponen-komponennya sehingga setiap orang bertanggung jawab untuk

beberapa aktivitas terbatas bukannya tugas secara keseluruhan.

Tidak semua orang secara fisik dan psikologi mampu melaksanakan semua operasi yang

menyusun kebanyakan tugas kompleks, bahkan dengan anggapan seseorang dapat

memperoleh semua keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tadi.

Sebaliknya, pembagian pekerjaan menciptakan tugas yang lebih sederhana yang dapat

dipelajari dan diselesaikan dengan relatif cepat.

Jadi hal ini memperkuat spesialisasi, ketika setiap orang menjadi pakar dalam pekerjaan

tertentu. Karena tindakan ini menciptakan variasi pekerjaan, orang dapat memilih atau

ditugaskan pada suatu posisi yang sesuai dengan bakat dan minat mereka.

B. Prinsip Definisi Fungsional

Menurut prinsip ini, semua fungsi dalam kekhawatiran harus benar dan jelas kepada manajer

dan bawahan. Hal ini dapat dilakukan dengan jelas mendefinisikan tugas-tugas, tanggung

jawab, wewenang dan hubungan orang terhadap satu sama lain. Klarifikasi dalam otoritas-

tanggung jawab membantu dalam mencapai hubungan koordinasi dan dengan demikian

organisasi dapat berlangsung efektif. Sebagai contoh, fungsi utama dari produksi, pemasaran

dan keuangan dan hubungan tanggung jawab wewenang dalam departemen ini harus jelas

didefinisikan untuk setiap orang agar melekat dalam pemikiran karyawan. Klarifikasi dalam
hubungan otoritas- tangggung jawab membantu dalam organisasi yang efisien.

C. Prinsip Rentang Pengendalian atau Pengawasan

Menurut prinsip ini, rentang kendali adalah rentang pengawasan yang menggambarkan

jumlah karyawan yang dapat ditangani dan dikontrol secara efektif oleh seorang manajer

tunggal. Menurut prinsip ini, seorang manajer harus dapat menangani jumlah karyawan yang

dibawahinya. Keputusan ini dapat diambil dengan memilih baik rentang lebar atau sempit

froma. Ada dua jenis rentang kendali: -

1) Rentang kendali yang luas adalah salah satu di mana seorang manajer dapat mengawasi

dan mengendalikan secara efektif sebuah kelompok besar orang pada satu waktu.

2) Rentang kendali yang sempit rentang ini, pekerjaan dan wewenang dibagi antara banyak

bawahan dan manajer tidak mengawasi dan mengendalikan kelompok yang sangat besar dari

orang di bawah dia. Manajer sesuai dengan rentang yang sempit mengawasi sejumlah

karyawan yang dipilih pada satu waktu.

3) Prinsip Rantai Skalar

Rantai skalar adalah rantai komando atau otoritas yang mengalir dari atas ke bawah. Otoritas

dan tanggung jawab harus berjalan dalam garis yang tegas dan tidak terputus dari eksekutif

tertinggi sampai yang paling rendah. Sebuah rantai skalar memfasilitasi alur kerja di sebuah

organisasi yang membantu dalam pencapaian hasil yang efektif. Sebagai otoritas mengalir

dari atas ke bawah, hal itu akan menjelaskan posisi kewenangan untuk manajer di semua

tingkatan dan yang memfasilitasi organisasi yang efektif.

D. Prinsip Kesatuan Perintah

Ini menyiratkan satu bawahan-satu hubungan yang superior. Setiap bawahan bertanggung

jawab kepada satu manajer. Hal ini membantu dalam menghindari kesenjangan komunikasi

dan kesimpangan tanggung jawab. Jika atasan yang lebih tinggi ingin memberikan perintah

atau hal-hal lain kepada para bawahan yang berada beberapa tangga di bawah dalam hierarki
organisasi, seyogianya hal itu dilakukan melalui atasan langsung orang yang bersangkutan.

Paling tidak dengan sepengetahuan atasan langsung tersebut.

3.3 Implementasi

Pentingnya pengorganisasian, menyebabkan timbulnya sebuah struktur organisasi, yang

dianggap sebagai sebuah kerangka sebuah kerangka yang masih dapat menggabungkan

usaha-usaha mereka dengan baik.

Dengan kata lain, salah satu bagian penting tugas pengorganisasian adalah

mengharrmonisasikan kelompok orang yang berbada, mempertemukan macam-macam

kepentingan dan memanfaatkan kemampuan-kemampuan kesemuanya kesuatu arah tertentu.

(Terry 1979)

Maksud dari hal tersebut adalah dapat dihasilkannya sinergisme, yang berarti perlu adanya

tindakan-tindakan untuk mengelompokkan semua kemampuan yang sesuai menjadi satu

tempat dan memanfaaatkan kemampuan tersebut agar dapat berguna bagi organisasi tersebut.

Akan tetapi suatu pengorganisasian tidak hanya mengelompokkan sumber daya manusia saja,

akan tetapi juga dengan sumber daya lainnya agar dapat efektif. Jadi pengorganisasian

merupakan sebuah kasus yang dapat menimbulkan efek yang sangat baik dalam upaya

menggerakan seluruh aktivitas dan potensi yang bisa diwadahi serta sebagai pengawasan

manajerial.

BAB 4

ACTUATING
4.1 Definisi Actuating

Actuating, dalam bahasa Indonesia artinya adalah menggerakkan. Maksudnya, suatu

tindakan untuk mengupayakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai

sasaran sesuai dengan tujuan organisasi. Jadi, actuating bertujuan untuk menggerakkan orang

agar mau bekerja dengan sendirinya dan penuh dengan kesadaran secara bersama- sama

untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Dalam hal ini dibutuhkan

kepemimpinan (leadership) yang baik.

Actuating merupakan upaya untuk merealisasikan suatu rencana. Dengan berbagai

arahan dengan memotivasi setiap karyawan untuk melaksanakan kegiatan dalam organisasi,

yang sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawab. Maka dari itu, actuating tidak lepas

dari peranan kemampuan leadership.

4.2 Leadership dan Actuating

Actuating jelas membutuhkan adanya kematangan pribadi dan pemahaman terhadap

karakter manusia yang memiliki kecenderungan berbeda dan sifatnya dinamis. Maka dari itu,

fungsi actuating ternyata jauh lebih rumit dari kelihatannya, karena harus melibatkan fungsi

dari leadership. Premis yang terkenal pernah diungkapkan oleh Doghlas McGregor, bahwa

seorang karyawan selalu diasumsikan negatif dan positif.

Untuk pembahasan masalah teori leadership, akan dijelaskan lebih detail dalam bab

POSDCORBE. Di dalam proses actuating ini, keberadaan leadership adalah sebagai

pendukung. Karena actuating sendiri memiliki tujuan sebagai penggerak, yang nantinya akan

bertujuan mengefektifkan dan mengefisienkan kerja dalam organisasi.

4.3 Prinsip Actuating

A. Pelaksanaan dan Penugasan.


Langkah lanjutan dari penetapan program kerja pengawasan adalah pelaksanaan pengawasan

dalam bentuk pemberian tugas. Tjuan utama penugasan adalah untuk mencapai

keseimbangan antara beberapa faktor: persyaratan dan kualifikasi personal, keseimbangan

untuk pengembangan profesi, dan lain-lain.

B. Pengawasan Pengelolaan Dana.

Pengelolaan terhadap dana atau anggaran yang digunakan oleh organisasi penting dilakukan

agar dana tidak disia-siakan.

C. Penyediaan dan Pemanfaatan Sarana Pengawasan.

Pengawasan juga membutuhkan saran dan alat untuk melakukan pengawasan, misalnya

teknologi yang digunakan untuk memantau kerja anggota organisasi atau pekerja.

D. Dokumentasi Pengawasan.

Hal ini diperlukan unutuk mendapatkan bukti yang nyata bila terjadi pelanggaran, kesalahan

dalam melakukan aktivitas di dalam organisasi.

E. Supervisi Audit.

4.4 Implementasi

Hal penting yang dipertimbangkan dalam melakukan actuating adalah untuk

memotivasi seorang karyawan untuk melakukan sesuatu, misalnya saja:

A. Merasa yakin dan mampu melakukan suatu pekerjaan,

B. Percaya bahwa pekerjaan telah menambahkan nilai untuk diri mereka sendiri,

C. Tidak terbebani oleh masalah pribadi atau tugas lain yang lebih penting atau mendesak,

D. Tugas yang diberikan cukup relevan,

E. Hubungan harmonis antar rekan kerja.


BAB 5

CONTROLING

5.1 Definisi Controling

Menurut G.R Terry, pengawasan dapat didefinisikan sebagai proses penentuan, apa

yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai

pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai

dengan rencana yaitu selaras dengan standar.

Jelas sekali bahwa fungsi pengawasan yang diambil dari sudut pandang definisi

sangat vital dalam suatu perusahaan. Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

ketentuan dari rencana. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan. Hal ini

dilakukan untuk pencapaian tujuan sesuai dengan rencana.

Jadi pengawasan dilakukan sebelum proses, saat proses, dan setelah proses. Dengan

pengendalian diharapkan juga agar pemanfaatan semua unsur manajemen menjadi efektif dan

efisien.

5.2 Proses dalam Controlling

Dalam controlling ada beberapa proses dan tahapan, yaitu pengawasan. Proses

pengawasan dilakukan secara bertahap dan sistematis melalui langkah sebagai berikut:

A. Menentukan standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.

B. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang sudah dicapai.


C. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan

jika ada.

D. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan

sesuai dengan rencana.

E. Meninjau dan menganalisis ulang rencana, apakah sudah realistis atau tidak. Jika ternyata

belum realistis maka perlu diperbaiki.

5.3 Implementasi

Beberapa cara pengendalian yang harus dilakukan oleh seorang manajer yang meliputi

pengawasan langsung, adalah pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh

seorang manejer. Manajer memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui

apakah dikerjakan dengan benar dan hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.

Pengawasan tidak langsung, adalah pengawasan jarak jauh, artinya dengan melalui

laporan secara tertulis maupun lisan dari karyawan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasil

yang dicapai. Pengawasan berdasarkan pengecualian, adalah pengawasan yang dikhususkan

untuk kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan. Pengawasan ini

dilakukan dengan cara kombinasi langsung dan tidak langsung oleh manajer.

Pengawasan juga bisa dibedakan menurut sifat dan waktunya:

A. Preventive control, adalah pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dilakukan untuk

menghindari terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaannya. Pengawasan ini merupakan

pengawasan terbaik karena dilakukan sebelum terjadi kesalahan namun sifatnya prediktif.

B. Repressive control, adalah pengawasan yang dilakukan setelah terjadinya kesalahan dalam

pelaksanaanya. Dengan maksud agar tidak terjadi pengulangan kesalahan, sehingga hasilnya

sesuai dengan yang diinginkan.

C. Pengawasan saat proses dilakukan, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan.


D. Pengawasan berkala, adalah pengawasan yang dilakukan secara berkala, misalnya perbulan,

persmester, dll.

E. Pengawasan mendadak (sidak), adalah pengawasan yang dilakukan secara mendadak untuk

mengetahui apa pelaksanaannya dilakukan dengan baik atau tidak.

F. Pengawasan Melekat (waskat), adalah pengawasan/pengendalian yang dilakukan secara

integratif mulai dari sebelum, pada saat, dan sesudah kegiatan dilakukan.

Ada beberapa dasar proses dalam pengawasan, diantaranya adalah teknik pengendalian

dan sistem yang pada dasarnya sama untuk kas, prosedur kantor, moral, kualitas produk atau

apa pun. Bisa diasumsikan bahwa baik rencana dan struktur organisasi yang jelas, lengkap,

dan terintegrasi akan tercipta jika manajer yakin akan tugasnya. Jika manajer tidak yakin dari

tugasnya atau bawahan tidak memiliki kekuatan atau tidak tahu bahwa dia memiliki kekuatan

untuk melaksanakan tugasnya, akan menjadi sulit untuk menentukan siapa yang bertanggung

jawab.

CONCLUSION

POAC is a management proccess. Which consist of planning, organizing, actuating and

controlling. POAC still connected with POSDCORBE ( management function). Both are

different, but in every element of POAC there always be management function.

The first element in POAC is planning. Planning is an proccess where a manager make
a decision, decided some strategy to reach the goals, alocate the responsibility to someone
else, to measure between success and the goal.
To make a good plan, there are several principles, such as the contribution principle and
premising consistence. In planning proccess a manager also need to make a decision. There
are methods in planning, such as elementary methods, MAUT, SMART, MCDA, NGT and
others. When planning is made, manager also need to decided the priority. They can use the
‘Deciding Methods’.
The second element is organizing. Organizing is a proccess about how a strategy and
tactics which have been created in planning proccess, was well designed onto an
organizational structure. Also to ensure that all people in organization can work effectively
and efficiency which aims to reach the organization goals. To do a good organizing, manager
should not missed the principle of organizing.
The third is actuating. Actuating is some actions to seek everyone in organization to
work for reach the goals. So, actuating aimed is to seek everyone so they want to work with
awarness, some kind like realizing a plan. Actuating also need a good leadership too, because
the manager is managing a lot of people here.
The fourth is controlling. Controlling is a decide proccess like, what an organization
must reached, what should organization do, to assess the activity and compare it with the
standart. Controlling is done in every time, before a proccess, while the proccess is working
and also after the proccess.

Anda mungkin juga menyukai