Anda di halaman 1dari 10

“TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL

DI RUMAH SAKIT JIWA”.

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Disusun Oleh:
Alfiani
Aminarsih Husmin
Dwi Pitrianingsih
Feby Febriyanti
Haswanto
Marwati
Komang Rudi Adnyana
Rusfin
Sulmawati
Wisa Erwinda Kusuma Wardani
Wawan Gunawan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI
BANDUNG
2019
A. Pendahuluan
Sosialisasi adalah kemampuan untuk berhubungan dan berinteraksi dengan
orang lain (Gail W. Stuart, 2007). Penurunan sosialisasi dapat terjadi pada individu
yang menarik diri, yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain
(Rowlins, 1993). Dimana individu yang mempunyai mekanisme koping adaptif, maka
peningkatan sosialisasi lebih mudah dilakukan. Sedangkan individu yang mempunyai
mekanisme koping maladaptif (skizofrenia), bila tidak segera mendapatkan terapi atau
penanganan yang baik akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih banyak dan
lebih buruk. (Keliat dan Akemat, 2005) menjelaskan bahwa untuk peningkatan
sosialisasi pada klien skizofrenia bisa dilakukan dengan pemberian Terapi Aktifitas
Kelompok sosialisasi.
Hampir di seluruh dunia terdapat sekitar 450 juta (11%) orang yang
mengalami skizofrenia (ringan sampai berat) (WHO, 2006). Hasil survey Kesehatan
Mental Rumah Tangga di Indonesia menyatakan bahwa 185 orang per 1000 penduduk
di Indonesia mengalami skizofrenia (ringan sampai berat). Berdasarkan survey di
rumah sakit jiwa, masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah menarik
diri (17,91 %), halusinasi (26,37 %), perilaku kekerasan (17,41 %), dan harga diri
rendah (16,92 %) (Pikiran Rakyat Bandung, 2007). GEDONGTATAAN-Rumah Sakit
Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung yang terletak di Kabupaten Pesawaran kebanjiran pasien.
Untuk bulan April 2011 ini saja, jumlah penderita baru yang mengidap gangguan jiwa
mencapai 85 pasien. Hal ini diungkapkan Humas RSJ Provinsi Lampung ke Rakyat
Lampung, kemarin (29/5) melalui telepon gengamnya ,"Untuk bulan ini saja sudah
mencapai 85 pasien. Jumlah pasien ini berdasarkan data yang ada direkam medik RSJ
Kurungan Nyawa," ujar Humas RSJ Propinsi Lampung David yang dihubungi via
teleponya.David menjelaskan, setiap harinya rata-rata tiga orang pasien baru berobat ke
RSJ Provinsi Lampung. Hal tersebut yang menjadi indikator utama semakin
bertambahnya penderita gangguan jiwa di Provinsi Lampung. "Bertambahnya penderita
gangguan jiwa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya semakin
beratnya beban kehidupan yang dihadapi masyarakat saat ini," jelasnya.(
rakyatlampung.co.id)
Dampak yang dapat ditimbulkan oleh menarik diri pada klien skizofrenia
adalah ; 1) Kerusakan komunikasi verbal dan non verbal, 2) Gangguan hubungan
interpersonal, 3) Gangguan interaksi sosial, 4) resiko perubahan persepsi sensori
(halusinasi). Bila klien menarik diri tidak cepat teratasi maka akan dapat
membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain (Budi Anna Kelliat, 2006).
Penatalaksanaan klien dengan riwayat menarik diri dapat dilakukan salah
satunya dengan pemberian intervensi Terapi Aktivitas Kelompok sosialisasi, yang
merupakan salah satu terapi modalitas keperawatan jiwa dalam sebuah aktifitas secara
kolektif dalam rangka pencapaian penyesuaian psikologis, prilaku dan pencapaian
adaptasi optimal pasien. Di RSJ Provinsi Lampug sendiri prosedur TAKS sama halnya
seperti pada teori Budi Anna Keliat dan dilaksanakan 3 kali dalam seminggu. Dalam
kegiatan aktifitas kelompok, tujuan ditetapkan berdasarkan akan kebutuhan dan
masalah yang dihadapi oleh sebagian besar peserta. Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)
sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan klien dalam meningkatkan
sosialisasi. Dari latar belakang tersebut diatas penulis tertarik membuat penelitian untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) sosialisasi
terhadap peningkatan sosialisasi pada klien skizofrenia dengan riwayat menarik diri di
ruang cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampug.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
2. Tujuan Khusus
1) Klien mampu memperkenalkan diri
2) Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
3) Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
4) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
5) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang
lain
6) Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
7) Klien mampu menyampikan pendapat tentang manfaat kegiatan tentang TAKS
yang telah dilakukan

C. Waktu dan Tempat


Hari/ tanggal : Kamis , 11Juli 2019
Jam : 09.30-10.00 WIB
Tempat : Ruang kelas
D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/ simulasi

E. Media/ Alat
1. Laptop
2. Musik/ lagu
3. Bola pimpong
4. Buku catatan dan pulpen
5. Kartu kwartet
6. Jadwal kegiatan klien

F. Setting Tempat

Keterangan gambar:
= Leader
= Co Leader
= Fasilitator
= Observer
= Pasien

Pembagian Tugas
1. Leader :
Tugas:
o Menyiapkan proposal kegiatan TAKS
o Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum
kegiatan dimulai.
o Menjelaskan permainan.
o Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan memperkenalkan
dirinya.
o Mampu memimpin terapi aktilitas kelompok dengan baik dan tertib
o Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok.

2. Co-leader :
Tugas :
o Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas klien.
o Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.

3. Fasilitator :
Tugas:
o Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung.
o Memotivasi klien yang kurang aktif.
o Membantu leader memfasilitasi anggota untuk berperan aktif dan memfasilitasi
anggota kelompok
4. Observer :
Tugas :
o Mengobservasi jalannya proses kegiatan
o Mencatat perilaku Verbal dan Non- verbal klien selama kegiatan berlangsung

G. Klien
1. Kriteria klien
a. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal
b. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan
stimulus
2. Proses seleksi
a. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.
b. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.
c. Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi: menjelaskan
tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan aturan main dalam
kelompok

H. Susunan Pelaksanaan
1. Susunan perawat pelaksana TAKS sebagai berikut:
a. Leader : Wawan Gunawan
b. Co. Leader : Alfiani
c. Fasilitator : Komang
d. Observer : Aminarsih Husmin

2. Klien peserta TAKS sebagai berikut:


a. Wisa Erwinda
b. Marwati
c. Feby
d. Sadahisman
e. Haswanto
f. Rusfin
g. Sulmawati
h. Dwi Pitrianingsih

I. Tata tertib dan Antisipasi Masalah


Tata Tertib
1. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK.
2. Peserta wajib hadir 5 menit sebelum acara dimulai.
3. Peserta berpakaian rapih, bersih dan sudah mandi.
4. Tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama kegiatan (TAK)
berlangsung.
5. Jika ingin mengajukan/menjawab pertanyaan, peserta mengangkat tangan kanan
dan berbicara setelah dipersilahkan oleh pemimpin.
6. Peserta yang mengacaukan jalannya acara akan dikeluarkan.
7. Peserta dilarang keluar sebelum acara TAK selesai.
8. Apabila waktu TAK sesuai kesepakatan telah habis, namun Tak belum selesai,
maka pemimpin akan meminta persetujuan anggota untuk memperpanjang waktu
TAK kepada anggota.

J. Proses Keperawatan
Kemampuan memperkenalkan diri
1. Tujuan
Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, nama
panggilan, asal dan hobi.
2. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
3. Alat
a. Handphone
b. Musik
c. Tip-x
d. Buku catatan dan pulpen
e. Jadwal kegiatan klien
4. Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Bermain peran/simulasi
5. Langkah kegiatan
 Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu isolasi sosial
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
 Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik : salam dari terapis
b. Evaluasi/validasi : menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak :
- Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu memperkenalkan diri
- Menjelaskan aturan main/terapi :
 Jika ada klien yang meninggalkan kelompok harus minta izin kepada
terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
 Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu hidupkan handphone dan play musik serta tip-X
diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam (yaitu kearah kiri) dan pada
saat musik dimatikan maka anggota kelompok yang memegang Tip-X
memperkenalkan dirinya.
b. Hidupkan musik kembali dan edarkan Tip-X berlawanan dengan arah jarum
jam
c. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola
mendapat giliran untuk menyebutkan : salam, nama lengkap , nama
panggilan, hobi, dan asal, dimulai oleh terapis sebagai contoh.
d. Tulis nama panggilan pada kertas/papan nama dan tempel/pakai.
e. Ulangi b, c, dan d sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.
f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan.
 Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti tak
2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
1. Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan diri
pada orang lain di kehidupan sehari-hari.
2. Memasukan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal kegiatan harian
klien.
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu berkenalan dengan anggota
kelompok
2. Menyepakati waktu dan tempat
6. Evaluasi dan dokumentasi
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada saat proses tak berlangsung, khususnya pada tahap
kerja untuk menilai kemampuan klien untuk melakukan tak. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK sesi
1, dievaluasi kemampuan klien memperkenalkan diri secara verbal dan
nonverbal dengan menggunakan formulir evaluasi berikut.
Kemampuan memperkenalkan diri
1) Kemampuan verbal
NO Aspek yang dinilai YA TIDAK
1 Menyebutkan nama lengkap
2 Menyebutkan nama
panggilan
3 Menyebutkan asal
4 Menyebutkan hobi

2) Kemampuan nonverbal
NO Aspek yang dinilai YA TIDAK
1 Kontak mata
2 Duduk tegak
3 Menggunakan bahasa tubuh
yang sesuai
4 Mengikuti kegiatan dari awal
sampai akhir

Petunjuk
1. Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang ikut TAKS.
2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda [√] jika
ditemukan pada klien atau tanda [x] jika tidak ditemukan.
3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 4 klien mampu,
dan jika nilai 0, 1, atau 2 klien belum mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Misalnya, klien mengikuti sesi 1 TAKS, klien mampu
memperkenalkan diri secara verbal dan nonverbal, dianjurkan klien memperkenalkan
diri pada klien lain di ruang rawat (buat jadwal).
DAFTAR PUSTAKA

Kelaiat BA dan Akemat. (2005). Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta:EGC

Keliat BA, Panjaitan RA, Helena N, (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2.

Jakarta : EGC