Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

saat ini cukup tinggi, 25% dari penduduk dunia pernah menderita masalah

kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan jiwa berat, potensi seseorang mudah

terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang di seluruh dunia

terkena dampak permasalahan jiwa, saraf maupun perilaku (Siswandi, Triyono, &

Yuliastuti 2011).

Kesehatan jiwa menurut Undang-UndangNo 3 tahun 1996, adalah suatu

kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang

optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain.

Dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah suatu keadaan sejahtera yang

optimal secara subyektif, dalam penilaian diri, kemampuan pengendalian diri serta

sehat secara mental, psikologis, jiwa yang minimal dan tidak merasa tertekan atau

depresi (Purwanto & Riyandi, 2009).

Fungsi perawat jiwa adalah memberikan asuhan keperawatan secara langsung

dan asuhan keperawatan tidak langsung yang berkualitas untuk membantu pasien

beradaptasi terhadap stress yang dialami dan bersifat terapeutik (Dalami, 2010).

Komunikasi dalam keperawatan disebut juga dengan komunikasi terapeutik,

merupakan komunikasi yang dilakukan perawat pada saat melakukan intervensi

keperawatan sehingga memberikan terapi untuk proses penyembuhan pasien dan

membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi. Melalui

komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mempersepsikan, dan


menghargai keunikan pasien (Nurhasanah, 2009).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1 Apa pengertian komunikasi terapeutik ?


2 Apa tujuan komunikasi terapeutik?
3 Apa faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik?
4 teknik komunikasi terapeutik?
5 Bagaimana Apa saja tahap-tahap komunilasi terapeutik?

1.3 TUJUAN

1 Mengetahui pengertian komunikasi terapeutik


2 Mengetahui tujuan komunikasi terapeutik
3 Mengetahui faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik
4 Mengetahui teknik komunikasi terapeutik
5 Mengetahui tahap-tahap komunikasi terapeutik

1.4 MANFAAT
1. Bagi institusi pendidikan, hasil makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di
bidang kesehatan sebagai bahan informasi.
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai materi tentang sindrom
nefrotik
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Menurut Roger dan D. Lawrence Kincaid (2009), Komunikasi merupakan
suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi satu sama lain, yang pada gilirannya akan muncul rasa saling pengertian yang
mendalam. Sementara itu, Terapeutik menurut Homby (2005) yang dikutip oleh
Nurjannah (2009), merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari
penyembuhan. Dengan demikian komunikasi terapeutik dimaknai sebagai kegiatan
pertukaran informasi antara perawat dan klien yang dilakukan dengan sadar dalam
rangka proses penyembuhan. Hal ini berarti bahwa kegiatan yang dilakukan oleh
perawat adalah mencari informasi tentang keluhan yang dirasakan klien hingga
tindakan yang dilakukan berdasarkan keluhan yang dirasakan hingga evaluasi.
Kegiatan klien adalah memberikan informasi yang sejelas-jelasnya mengenai keluhan
yang dirasakan agar dapat dijadikan pegangan perawat dalam menjalankan tindakan
keperawatan.
Aspek yang perlu terpenuhi dalam komunikasi efektif dalam buku komunikasi dalam
keperawatan oleh Nasir dkk (2009), antara lain sebagai berikut.
1. Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap
menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa
hormat dan saling menghargai merupakan hokum pertama dalam kita berkomunikasi
dengan orang lain.

2. Emphaty
Empati (emphaty) adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada
situasi
atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu persyaratan utama dalam
memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti
terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus ,
Steven Covey menaruh kemampuan kita untuk mendangarkan sebagai salah satu dari
tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti telebih
dahulu , baru dimengerti (Seek First Understand- understand then be understandtood
to build the skills pf emphathetic listening that inspires openness and trust). inilah yang
disebut dengan komunikasi empatik. Dengan memahami dan mendengarkan orang
lain terlebih dahulu, kita dapat membentuk keterbukaan dan kepercayaan yang kita
perlukan dalam membangun kerja sama atau sinergi dengan orang lain.

3. Audible
Makna dri audible antara lain dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.
Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima
umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapt diterima
oleh penerima pesan. Orang dengan karakter ini memiliki prinsip “adalah pendengar
yang menentukan bagaimana sebaiknya sebuah pesan dimengerti”.
4. Clarity
Selain bahwa pesan harus dimengerti dengan baik maka hukum keempat yang
terkait dengan hal itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak
menimbulkan muti-interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan karena akan
menimbulkan dampak yang tidak sederhana.clarity dapat pula berarti keterbukaan dan
transparansi.

5. Humble
Hokum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah
hati. Sikap rendah hati yang dimiliki perawat bertujuan agar klien tidak merasa rendah
diri, menolak berkomunikasi, dan selalu care dengan perawat. Rendah hati bisa
diartikan mensejajarkan respon emosi perawat dank lien sehinggs didapatkan rasa
saling mengerti dan mengahrgai sebagai manusia yang punya perasaan yang sama dan
terhadap stimulus. Sikap rendah hati mutlak harus dimiliki seorang perawat.

2.2 TUJUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan pasien meliputi:
1) Realisasi diri,penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri
2) Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri
3) Kemampuan membina hubungan interpesrsonal, saling tergantung dan intim
dengan kapasitas untuk mencintai dan di cintai.
4) Peningkatan fungsi dankemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta
mencapai kebutuhan personal yang realistis. (stuart ,Gail W)

2.3 MACAM - MACAM KOMUNIKASI


Ada beberapa tipe komunikasi yang sering digunakan oleh seorang
komunikator dalam berkomunikasi. Berdasarkanpenggunaan kata, pesan yang
disampaikan oleh pengirim kepada penerima dapat dikemas secara verbal dengan kata-
kata atau nonverbal tanpa kata-kata. Komunikasi yang pesannyadikemassecara verbal
disebutkomunikasi verbal, sedangkan komunikasi yang pesannya dikemas secara
nonverbal disebut komunikasi nonverbal.
1. Komunikasi Verbal Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan
kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Komunikasiini paling banyak dipakai
dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, komunikator
mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka,
menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar
perasaan dan pemikiran, saling ber debat.
2. Komunikasi Non-verbal Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang
pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal, tanpa kata-kata. Dalam hidupnya
komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai dari pada komuniasi verbal.
Dalam berkomunikasi hamper secara otomatis komunikasi nonverbal
ikutterpakai. Karenaitu, komunikasi nonverbal bersifattetapdanselaluada.
Komunikasi nonverbal biasanya bersifat spontan dan lebih jujur
mengungkapkan hal yang mau disampaikan. Termasuk pada komunikasi non
verbal seperti penampilan fisik sikap tubuh, cara berjalan, ekspresi wajah, dan
sentuhan.

2.4 HAMBATAN PADA KOMUNIKASI TERAPEUTIK


1. Hambatan dari proses komunikasi
a. Hambatan dari pengirim pesanPesan yang akan disampaikan belum
jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh
perasaan atau situasi emosional
b. Hambatan dalam penyediaan atau symbol. Hal ini dapat terjadi
karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai
arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara pengirim dan
penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit
c. Hambatan media Hambatan yang terjadi dalam penggunaan media
komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliranlistrik
sehingga tidak dapat mendengarkan pesan
d. Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan
sandi oleh si penerima
e. Hambatan dari penerima pesan . Kurangnya perhatian pada saat
penerima atau mendengarkan 2 pesan, sikap prasangka tanggapan
yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut
f. Hambatan dalam memberikan umpan balik . Balikan yang diberikan
tidak menggambarkan apaadanya akan tetapi memberikan
interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan fisik . Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang


efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain-lain. Misalnya: gangguan
kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya
3. Hambatan semantic.Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi
kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau
berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.
4. Hambatan psikoogis.Hambatan psikologis dan social kadang-kadang
mengganggu komunikasi, misalnya: perbedaan nilai-nilai serta harapan
yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan
2.5 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Dalam buku ini, realitas komunikasi antarpribadi dianalogikan seperti


“fenomena gunung es”(the communication iceberg). Fenomena gunung es
menggambarkan bahwa komunikasi antarpribadi selalu mengedepankan siapa yang
terlibat dalam komunikasi, apa bahasa yang digunakan, dan apa media yang digunakan.
Dengan tampilan seperti itu seaka-akan sudah diketahui seberapa besar tingkatan atau
kualitas komunikasinya. Akan tetapi, seseoran yang terlibat dalam proses komunikasi
antarpribadi jarang sekali menggali ha-hal yang lebih kecil di mana jumblahnya lebih
besar dan lebih penting arti maknanya. Justru yang terkecil itu sering ditinggalkan dan
tidak pernah diperhatikan seperti fenomena gunung es tersebut yang dampaknya hanya
sebagian kecil saja. Analogi ini menjelaskan bahwa ada berbagai hal yang
memengaruhi atau memberi konstribusi pada bagaimana bentuk setiap tampilan
komunikasi. Gunung es yang tampak, dianalogikan sebagai bentuk komunikasi yang
teramati atau terlihat (visible/observable aspect). Komponen yang dapat digunakan
untuk berkomunikasi adalah sebagai berikut:

1. Ineractant, yaitu orang yang terlibat dalam ineraksi komunikasi seperti


pembicara,penulis, pendengar, dan pembaca dengan berbagai situasiyang
berbeda.
2. Symbol, yang terdiri atas symbol bisa(huruf, angka, kata-kata, tindakan) dan
symbolic language (bahasa Indonesia, bahasa inggris)
3. Media, saluran yang digunakan dalam setiap situasi komunikasi.

Sementara itu, bahwa gunung es yang menjadi penyangga gunung e situ tidak
tampak atau tidak teramati. Inilah yang disebut sebagai invisible/un observable
aspect.justru bagian inilah yang terpenting. Walaupun tidak tampak kerena tertutup air,
dia menyangga tampilan gunung es yang muncul menyembul ke permukaan air. Tanpa
bagia ini gunung es tidak aka nada. Demikia halnya dengan komunikasi, dimana
tampilan komunikasi yang teramati/tampak dipengaruhi oleh berbagai

factor yang tidak terlihat namun terasa pengaruhnya. Hal yang menjadi bagian
ini adalah sebgai berikut :

1. Meaning. Ketika ada symbol, maka terdapat makna dan bagaimana cara
menanggapinya. Intonasi suara,mimic muka, kata-kata, gambar, dan sebagainya
merupakan symbol yang mewakili suatu makna. Minsalnya intonasi yang tinggi
dimkanai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan, dan lain-lain.
2. Learning. Berikut ini adalah beberapa makna dari learning.
a. Interpertasi mkna terhadap symbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi
yang diasosiasikan denga pengalaman. Interpretasi muncul dari belajar yang
diperoleh berdasarkan pengalaman. Interpertasi muncul oleh tindakan yang
mengikuti aturan dan diperoleh melalui pengalaman.
b. Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang
kita pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar.
c. Pola-pola atau perilaku komunikasi tidak bergantungbpada keturunan/genetic,
tetapi makna dan informasi merupakan hasil belajar terhadap symbol-simbol
yang ada di lingkungannya.
d. Membaca, menulis, dan menghitung adalah proses belajar pada linkungan
formal.
e. Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar)dari
lingkungan.

3. Subjectivity

a. Pengalaman tiap individu tidak akan pernah benar-benar sama sehingga


individu dalam meng-encode(menyusun atau merancang) dan men-
decode(menerima dan mengartikan)pesan tidak ada yang benar-benar sama.
b. Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang
sama.

4.Negotiation. Komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang


berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain.
Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan symbol dan makna sehingga
tercapai rasa saling pengertian. Dengan demikian, dapata disimpulkan bahwa
negotiation :

a. Pertukaran symbol sama dengan proses pertukaran makna


b. Masing-masing pihak harus menyesuaikan makna stu sama lain.
5.Culture

a. Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain.
b. Individu adalah partisipan dari kelompok,organisasi dan anggota masyarakat.
c. Melalui partisipasi berbagai symbol dengan orang lain, kelompok, dan
masyarakat.
d. Symbol dan makna adlah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan
kita adaptasi.
e. Melalui komunikasi, budaya diciptakan, dipertahankan, dan diubah
f. Budaya menciptakan cara pandang(point of view)

6. Interacting level and context. Komunikasi antar manusia berlangsung dalam


bermacam konterks dan tingkatan. Lingkup komunikasi setiap individu sangat
beragam mulai dari komunikasi antar pribadi, kelompok,organisasi, dan masa.

7. Self reference. Perilaku dan symbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan


pengalaman yang dimilikinya. Artinya, sesuatu yang kita katakan dan lakukan serta
cara kita menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna,
pengalaman, kebutuhan, dan harapan-harapan kita.

8. Self Reflexifity. Kesadaran diri (self –costiousnes) merupakan keadaan dimana seorang
memandang dirinya sendiri(cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan inti dari proses
komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari
lingkungannya dan hal tersebut berpengaruh pada komunikasi.

9. Inevptability. Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan
apapun tetapi diam kita akan tercermin dari non verbal yang terlihat, dan itu
mengungkap suatu makna komunikasi.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Buat pesan anda mudah untuk dimengerti


2. Focus pada informasi yang penting.
3. Gunakan ilistrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut.
4. Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan disekitar
anda.
5. Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul.
6. Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (back up).
2.6 TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Tiap klien tidak ada yang sama. Oleh karena itu,diperlukan penerapan teknik
berkomunikasi yang berbeda pula. Teknik komunikasi berikut ini, terutama
penggunaan referensi dari shives (1994),stuart & sundeen (1950),dan wilson &
kneisi(1920) yang dikutip oleh nasir,A., dkk (2009),yaitu sebagai berikut.

1. Mendengarkan dengan penuh perhatian.


Kesan pertama ketika perawat mau mendengarkan keluhan klien dengan seksama
adalah perawat akan memperhatikan klien. Dengan demikian,kepercayaan klien
terhadap kapasitas dan kapabilitas perawat akan tenaga terjaga. Menurut varcaloris
dalam nurjannah, I., (2001), bahwa dengan mendengarkan akan ciptakan situasi
interpersonal dalam keterlibatan maksimal yang di anggap aman dan membuat
klien merasa bebas. Pencapaian hasil untuk mendapatkan kondisi riil dari klien akan
lebih maksimal dan memudahkan perawat dalam menentukan intervensi yang tepat.
Maksimal dan memudahkan perawat dalam menentukan intervensi yang tepat. Oleh
karena itu, di perlukan konsentrasi yang maksimal dan terlibat secara aktiv dalam
mempersepsikan pesan orang lain dengan menggunakan semua indra. Seluruh
gerak gerik yang di tampilkan dan seluruh yang di ucapan yang di utarakan
menjadikan rujukan dalam mempersepsikan isi pesan tersebut. Ada beberapa sikap
untuk menunjukan cara mendengarkan penuh perhatian,antara lain sebagai berikut.
a. Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non verbal bahwa
perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien.
b. Mendengarkan penuh dengan berhatian merupakan upaya untuk mengerti
seluruh pesan verbal dan nonverbal yang sedang di komunikasikan.
c. Keterampilan mendengarkan penuh perhtian adalah dengan memandang
klien ketika sedang berbicara.
d. Pertahan kan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk
mendengarkan.
e. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki
atau tangan.
f. Hindarkan gerakan yang tidak perlu.
g. Anggukkan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan
umpan balik.
h. Condongkan tubuh kearah lawan bicara,bila perlu duduk attau minimal
sejajar dengan klien.
i. Meninggalkan emosi dan perasaan kita dengan cara menyisihkan
perhatian,ketakutan,atau masalah yang sedang kita hadapi.
j. Mendengarkan dan memperhatikan intonasi kata yang di ucapkan yang
menggambarkan sesuatu yang berlebihan.
k. Memperhatikan dan mendengarkan apa-apa yang tidak terucap oleh klien
yang menggambarkan sesuatu yang sulit dan menyakitkan klien.

2. Menunjukkan penerimaan
Menerima berati menyetujui. Menerima berati menyetujui, sedangkan
menyetujui belum berati menerima,. Perilaku apa yang di tampilkan oleh klien dan
keluhan apa saja yang di sampaikan klien merupakan masukan yang berharga bagi
perawat, walaupun terkadang apa yang diucapkan tidak sesuai dengan penyakit
yang di derita atau tanda dan gejala masalah yang di hadapi klien. Perawat tidak
perlu menampakkan penolakan maupun keraguan terhadap apa yang di sampaikan
klien yang membuat klien merasa tidak bebas dalam mengutarakannya. Semua ide
dan perasaan yang disampaikan di tampung semua,dan selanjutnya perlu verifikasi
dan validasi data bila ada yang kurang mengenal dan tidak sesuai sehingga di
dapatkan kesimpulan dalam menegakkan diagnosis keperawatan. Berikut ini
menunjukkan sikap perawat yang menunjukkan penerimaan.

a. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.


b. Memberikan umpan balik verbal yang menampakkan pengertian.
c. Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal.
d. Menghindari perdebatan, mengekspresikan keraguan,atau mencoba untuk
mengubah pikiran klien. Perawat dapat menganggukkan kepalanya atau
berkata “ya” saya mengikuti apa yang anda ucapkan”.

3. Menanyakan pernyataan yang berkaitan dengan pertanyaan buka.


Tujuan perawat bertanya dengan pertanyaan terbuka (broad opening) adalah
untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai kondisi rill dari klien dengan
menggali penyebab klien mencari pertolongan atau penyebab klien datang ke
tempat pelayanan kesehatan. Di harapkan klien dan keluarga mempunyai inisiatif
untuk membuka diri dengan menyeleksi topik yang akan di bicarakan secara
berurutan dan sistematis. Pertanyaan terbuka memberikan peluang maupun
kesempatan klien untuk menyusun dan mengorganisir pikirannya dalam
mengungkapkan keluhannya seusai dengan apa yang di rasakan. Kesan yang di
dapatkan dengan pertanyaan terbuka adalah tidak menginterograsi atau menyidik,
dan jawabannya tidak mengesankan “yes and now question”. Akan tetapi, dengan
cara ini memberikan peluang bagi klien untuk mengekpresikan keluhannya tanpa
adanya tekanan dari luar sehingga data yang didapatkan merupakan data terapiotik,
yaitu data yang dapat digunakan sebagai acuan dasar untuk melakukan asuhan
keperawatan dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia melalui
perumusan diaknosis keperawatan yang tepat dan akurat. Hal ini yang dikatakan
klien sebagai objek bukan subjek. Untuk pertanyaan dengan jawaban yes and now
question perawat di tuntut untuk mampu mendalami topik yang akan di bicarakan,
itupun hasilnya mungkin akan samar karena dalam pengkajian keperawatan yang
paling baik adalah pengkajian fokus untuk mendapatkan masalah utama. Perawat
harus menghindari pertanyaan yang bersifat inapropiate quantity question adalah
sebagai berikut:
a. Pertanyaan terlalu banyak.
b. Pertanyaan tidak berfokus pada masalah.
c. Klien menjadi bingung.

4. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.


Dengan mengulang kembali ucapan klien (restarting), harapan perawat adalah
memberikan perhatian terhadap apa yang telah diucapkan. Stuart and sundeen
(1995) mendefinisikan pengulangan (restarting) adalah pengulangan pikiran,
terutama yang di ekspresikan klien prngulangan pikiran utama yang di maksud bisa
memaknai sebagai pengulangan apa yang diucapkan dan pengulangan apa yang di
maksudkan. Tujuan pengulangan pikiran adalah memberikan penguatan dan
memperjelas pada pokok penjelasan atau isi pesan yang telah disampaikan oleh
klien sebagai umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti
dan diperhatikan, srta mengharapkan komunikasi bisa berlanjut, hal ini dilakukan
karna kita sering salah persepsi terhadap perilaku klien atau apa yang di ucapkan
klien. Perawat harus berhati-hati ketika menggunakan metode ini karena pengertian
bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda. Untuk itu perlu
adanya klarifikasi, falidasi, maupun pengulangan kata yang dismpaikan agar pesan
yang disampaikan sesuai dengan maksud dan tujuan. Oleh karena bila tidak ada
klarifikasi maupun falidasi kata/pesan kemungkinan pesan yang disampaikan
menjadi biasa karena banyaknya kegaduhan (noice) disklilingnya. Menurut boyd &
nihart dalam nurjannah, I., 2001 , teknik ini menjadi tidak terapeotik bila perawat
kurang melakukan validasi terhadap interpretasi pesan, menilai dan meyakinkan,
serta bertahan.

5. Klarifikasi
Apabila terjadi kesalahpahaman, perawat perlu menghentikan pembicaraan
untuk mengklarisifikasi dengan menyamakan pengertian, maksud dan ruang
lingkup pembicaraan karena informasi sangat penting dalam memberikan
pelayanan keperawatan. Geldard dalam suryani (2006), berpendapat bahwa
klarifikasi (clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang
tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapan nya. Hal ini
berati klarifikasi dapat di artikan sebagai upaya untuk mendapatkan persamaan
persepsi antara klien dan perawat mengenai perasaan yang di hadapi dalam rangka
memperjelas masalah untuk menfokuskan perhatian. Klarifikasi identik dengan
validasi,yaitu menanyakan pada klien terhadap apa yang belum di mengerti agar
pesan yang di sampaikan menjadi lebih jelas.upaya yang di lakukan perawat
terhadap apa yang belum di pahami terhadap pesan dan kesan yang di tampakkan
klien merupakan upaya perawat untuk memahami situasi yang di gambarkan klien
agar tidak terjadi miskomunikasi hubungan klien-perawatan. Menurut nurjannah
(2001),klarisifikasi dilakukan apabila pesan yang di sampaikan oleh klien belum
jelas bagi perawat dan perawat mencoba memahami situasi yang di gambarkan
klien. Namun demikian, agar pesan dapat sampai dengan benar,perawat perlu
memberikan contoh yang konkret dan mudah di mengerti klien dengan
memperhatikan pokok pembicaraan sehingga demostrasi terhadap apa yang telah
di jelaskan merupakan bentuk klarifikasi terhadap apa yang telah di ucapkan.

6. Menfokuskan
Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga
lebih spesifik dan di mengerti. Materi yang akan di sampaikan ataupun yang akan
di diskusikan mengerucut pada salah satu masalah saja,yang penting adalah
konsisten dan kontinu atau berkesinabungan,serta tidak menyimpang dari topik
pembicaraan dan tujuan komunikasi. Focusing dalam rangka mempersempit
pembicaraan yang tertuju pada topik pembicaraan saja dan tidak melebar dengan
prinsip bekerja sampai tuntas atau membicarakan sesuatu sampai tuntas mengingat
yang di kerjakan perawat yang di pelayanan cukup menyita waktu dan perhatian
yang serius. Menurut cangara (2004),prinsip kotinunitas dan konsistensi dalam
proses interaksi mengandung arti bahwa pesan yang di sampaikan bersifat
konsisten dan berkesinabungan,serta tidak menyimpang dari topik dan tujuan
komunikasi yang telah di tetapkan.

7. Menyampaikan hasil observasi.


Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan
hasil pengamatan dehingga dapat diketahui apakah pesan di terima dengan benar.
Kesan yang disampaikan perawat kepada klien merupakan hasil pengamatan yang
di cerminkan kesan yang tidak biasa pada diri klie. Stuart & sundeen
(1995)menganjurkan penyampaian hasil observasi pada klien apabila terdapat
konflik antara verbal dan nonverbal klien,serta tingkah laku verbal dan nonverbal
nyata dan tidak biasa ada pada klien. Hal ini dalam menyampaian hasil observasi
tidak serta merta menyampaikan hasil observasi diharapkan agar klien menyadari
perilaku yang merusak maupun perilaku yang tidak produktif sehingga
menyampaikan hasil observasi tidak bertujuan untuk memberikan penilaian, tetaoi
semata-mata mengharapkan agar perilaku yang di perbuat itu disadari sebagai
perilaku yang tidak menguntungkan dalam kelangsungan proses penyembuhan
penyakit dengan memperhatikan perasaan dan konsep diri.

8. Menawarkan informasi.
Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien
terhadap keadaanya. Memberikan tambahan informasi merupakan pendidikan
kesehatan bagi klien. Selain itu, hal ini juga akan menambah rasa percaya klien
terhadap perawat karena perawat terkesan menguasai masalah yang di hadapi klien.
Akan tetapi menahan informasi saat klien membutuhkan, akan membuat klien tidak
percaya kepada perawat. Oleh karena itu, perawat harus menguasai ilmu
pengetahuan yang memadai tentang maslaah yang dihadapi klien, sebagai bekal
dalam memberikan pelayanan keperawatan.
9. Diam
Diam yang di lakukan perawat terhadap klien bertujuan menunggun respons
klien untuk mengungkapkan perasaannya. Teknik komunikasi yang dilakukan
perawat dengan tidak bicara apapun (diam) merupakan teknik komunikasi yang
memberikan kesempatan kepada klien untuk mengorganisir dan menysun pikiran
atau ide sebelum di ungkapkan kepada perawat. Hal ini memungkin kan klien
mengekspresikan ide dan pikirannya dengan detail dan sistematis. Penggunaan
metode diam memerlukan keterampilan dan menetapkan waktu. Jika tidak, maka
akan menimpulkan perasaan tidak enak. Boyd & nighart dalam nurjannah, I
(2001:58)
10. Meringkas
Adalah pengulangan ide utama yang telah di komunikasikan secara singkat
dalam rangka meningkatkan pemahaman. Meringkas berati mengindentifikasi poin-
poin penting selama diskusi ataupun pembicaraan, sehingga di dalamnya sekaligus
ada proses klarifikasiatas ide dalam pikirannya. Meringkas bisa diartikan sebagai
proses obstraksi dimana terdapat kesimpulan atas diskusi maupun pembicaraan yag
telah dilakukan sehingga ada kesamaan ide dalam pikiran. Meringkas berati
memberi kesempatan untuk mengklarisifikasi komunikasi agar sama dengan ide
dalam pikiran (varcarolis,1990 dan nurjannah, 2001)

11. Memberikan penghargaan.


Reinforcement positif atas hal-hal yang mampu dilakukan klien dengan baik dan
benar merupakan bentuk pemberian penghargaan. Upaya yang dilakukan dalam
pemberian Reinforcement positif bertujusn untuk meningkatkan motivasi kepada
klien agar berbuat yang lebih baik lagi sehingga dapat dikatakan bahwa
Reinforcement positife merupakan motivasi atau bentuk dorongan kepada klien
dengan cara membanggakan diri untuk berbuat dan berperilaku yang lebih baik
lagi.demikian juga dengan memberi salam dengan menyebut
namanya,menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi pada diri klien,
menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung
jawab atas dirinya sendiri sebagai individu merupakan bentuk dari pemberian
Reinforcement positif yang mampu mengunggah semangat klien. Penghargaan
tersebut jangan sampai menjadi beban baginya, dalam arti kata jangan sampai klien
berusaha keras dan melakukannya segalanya demi mendapatkan pujian atau
persetujuan atas perbuatannya.

12. Menawarkan diri.


Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang
lain atau klien tidak mampu untuk melihat dirinya dimengerti. Menawarkan diri
merupakan kegiatan untuk memberikan respons agar seseorang menyadari
perilakunya yang merugikan, baik dirinya sendiri maupun orsg laintanpa ada rasa
permusuhan. Sering kali perawat hanya menawarkan kehadirannya. Teknik
komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.

13. Memberikan kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.


Memberikan kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik
pembicaraan.biarkan klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang
peranannya dalam interaksi ini. Perawat dapat menstimulasi untuk mengambil
inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.

14. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.


Teknik ini untuk menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh
pembicaraan yang mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang
sedang di bicarakan dan tertarik dengan apa yang dibicarakan selanjutnya. Perawat
lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan diskusi/pembicaraan.

15. Menempatkan kejadian secara teratur.


Menempatkan kejadian secara teratur Akan menolong perawat dan klien untuk
melihat dalam suatu perspektif. Kelanjutan dari suatu kejadian secara teratur akan
menolong perawat dan klien untuk melihat kejadian selanjutnya sebagai akibat
kejadian yang pertama. Perawat dapat menentukan pola kesulitan interpersoanal
dan memberikan data tentang pengalaman yang memuaskan dan berati bagi klien
dalam memenuhi kebutuhannya.
16. Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsinya.
Apabila perawat ingin mengerti klien,maka ia harus melihat segala sesuatunya
dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya
kepada perawat. Ketikan menceritakan pengalamannya,perawat harus waspada
akan timbulnya gejala ansietas.
17. Refleksi.
Menganjurkan klien untuk mengemukakan serta menerima ide dan perasaannya
sebagai bagian dari dirinya sendiri

2.7 TAHAP-TAHAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Tahap-tahap komunikasi terdapat empat tahap atau fase dalam komunikasi


terapeutik menurut Stuart dan Sundeen (1998), yang dapat dijelaskan dibawah ini
1. Tahap PreOrientasi
Tahap pertama ini merupakan tahap dimana perawat belum bertemu dengan pasien.
Tugas perawat dalam tahap ini adalah menggali perasaan, fantasi dan rasa takut dalam
diri sendiri; menganalisis kekuatan dan keterbatasan profesional diri sendiri;
mengumpulkan data tentang klien jika memungkinkan; dan merencanakan untuk
pertemuan pertama dengan klien
2. Tahap Orientasi

Yakni tahap dimana perawat pertama kali bertemu dengan klien. Tugas perawat dalam
tahap ini meliputi: menetapkan alasan klien untuk mencari bantuan; membina rasa
percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka; menggali pikiran, perasaan dan tindakan-
tindakan klien; mengidentifikasi masalah klien; menetapkan tujuan dengan klien; dan,
merumuskan bersama kontrak yang bersifat saling menguntungkan dengan
mencakupkan nama, peran, tanggung jawab, harapan, tujuan, tepat pertemuan, waktu
pertemuan, kondisi untuk terminasi dan kerahasiaan.

3. Tahap Kerja
Tahap komunikasi yang ketiga ini adalah tahap dimana perawat memulai kegiatan
komunikasi. Tugas perawat pada tahap ini adalah menggali stresor yang relevan;
meningkatkan pengembanganpenghayatan dan penggunaan mekanisme koping klien
yang konstruktif; serta membahasdanatasiperilakuresisten.
4. Tahap Terminasi
Tahap terminasi adalah tahap dimana perawat akan menghentikan interaksi dengan
klien, tahap ini bisa merupakan tahap perpisahan atau terminasi sementara ataupun
perpisahan atau terminasi akhir. Tugas perawat pada tahap ini adalah: membina
realitas tentang perpisahan; meninjau kemampuan terapi dan pencapaian tujuan-
tujuan; serta menggali secara timbal balik perasaan penolakan, kesedihan dan
kemarahan serta perilaku yang terkait lainnya.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
komunikasi terapeutik dimaknai sebagai kegiatan pertukaran informasi antara
perawat dan klien yang dilakukan dengan sadar dalam rangka proses penyembuhan.
Hal ini berarti bahwa kegiatan yang dilakukan oleh perawat adalah mencari
informasi tentang keluhan yang dirasakan klien hingga tindakan yang dilakukan
berdasarkan keluhan yang dirasakan hingga evaluasi. Kegiatan klien adalah
memberikan informasi yang sejelas-jelasnya mengenai keluhan yang dirasakan agar
dapat dijadikan pegangan perawat dalam menjalankan tindakan keperawatan.

3.2 SARAN
Diharapkan kepada pembaca agar mampu memahaki konsep komunikasi
terapeutik pada pasien dengan gangguan jiwa , makalah ini dibuat untuk
mempermudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan saat pengkajian.

DAFTAR PUSTAKA

Stuart,Gail W buku saku keperawatan jiwa buku kedokteran EGC:2007

Nasir ,abdul dan Muhid,Abdul dasar dasar keperawatan jiwa salemba medika
2011 jakarta