Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Baja merupakan bahan bangunan yang berupa campuran dari bijih besi, mangan dan karbon.
Semakin tinggi nilai karbon pada baja maka akan semakin keras namun mudah patah. Akan
tetapi semakin rendah nilai karbon maka baja akan mudah bengkok. Sebagai bahan bangunan
yang berhubungan dengan kekuatan struktur ataupun tidak, sangat banyak diperlukan dalam
pekerjaan yang dilakukan dalam bidang teknik sipil misalnya; kuda-kuda, tulang beton, kerangka
jembatan dan masih banyak lagi.

Baja termasuk logam yang sangat kuat, keras, dan kokoh sehingga digunakan sebagai
penyokong di hampir seluruh bangunan-bangunan bertingkat di dunia. Kelebihan logam baja ini
seharusnya mengundang rasa penasaran atau rasa keingintahuan kita sebagai mahasiswa yang
sedang bergerak dibidang akademik dengan menimba ilmu. Seharusnya selalu ada pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat kritis dari para mahasiswa/mahasiswi,Seberapaka kuatkah baja itu,apa
yang membuat dia kuat dan apa saja pengolahan yang didapat dari baja tersebut hingga dapat
bermanfaat bagi banyak orang

Baja diperlukan dalam bentuk yang beraneka ragam dan ukuran yang berbeda pula sehingga
sangatlah mustahil baja itu dibuat dalam keadaan pasif, tentulah kita harus membuat sambungan-
sambungan untuk mendapatkan bentuk yang kitainginkan.

Pada jaman dahulu orang menyambung suatu baja dengan menggunakan cara yang sangat
sederhana. Tetapi makin lama peradaban manusia makin berkembang, begitu juga dalam bidang
teknologi. Manusia berusaha menganalisa dan menggali serta memproduksi bahan-bahan yang
diperlukan untuk suatu tujuan tertentu. Perkembangan teknologi menuntut manusia untuk dapat
melakukan penyambungan yang kuat dengan menggunakan tenaga listrik. Untuk dapat
menyambung baja tersebut menjadi satu dengan yang lainnya, maka baja tersebut disambung
dengan cara dilas.

Las adalah melelehkan dengan panas. Sedangkan mengelas adalah suatu cara menyambung
dua buah plat atau logam atau lebih dengan melelehkan logam dengan menggunakan panas, baik

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 1


menggunakan bahan tambah atau tanpa bahan tambah sehingga menyatu. Pengelasan pada
umumnya memerlukan panas yang sangat tinggi temperaturnya untuk mencairkan bagian-bagian
bahan yang akan disambung atau dilapisi.

Indonesia yang negaranya termasuk negara berkembang sudah saatnya bagi Indonesia untuk
sesegera mungkin dan secepat mungkin untuk memajukan bidang di sektor industrinya tersebut
untuk bisa bersaing dengan negara-negara.

Untuk itu ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat mendorong terwujudnya
industri baja yang besar dan berwawasan ilmu pengetahuan. Industri mengolah bahan baku
menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi melibatkan banyak proses yang komplek. Hal
ini erat kaitannya dengan sumber daya manusia sebagai pelaku industri itu sendiri. Oleh karena
itu perlu adanya pelatihan baik hardskill maupun sofskill demi kelancaran proses industri.
Pengenalan industri baja pada mahasiswa merupakan proses awal untuk membuka inspirasi
akan terciptanya produk-produk baru yang lebih menguntungkan kedepannya. Hal ini
bertujuan agar mahasiswa mampu berpikir kritis,mampu mengembangkan dengan segala
peluang dan potensi yang ada untuk menghadapi era globalisasi yang kian merebak.
Hal ini sangat menguntungkan negara-negara maju, karena dilihat dari sistem produksi yang
mereka gunakan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan negara-negara berkembang
karena produksi dilakukan secara maksimal oleh negara-negara maju dengan memanfaatkan
teknologinya sebagai hasil rekayasa pengembangan riset dan sains.
Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang dan berusaha untuk membangun
dan mengejar ketertinggalannya disegala bidang dari negara-negara lainnya terutama dari
negara maju. Salah satunya diusahakan dengan meningkatnya permintaan pasar dan
tingginya biaya produksi serta ketatnya persaingan di dunia Industri, para pekerja industri
berusaha untuk mengoptimalkan produk industri yang akan dihasilkannya, baik itu secara
kualitas maupun kuantitas tanpa mengabaikan selera konsumen.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 2


1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Pembuatan Laporan

Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah :

1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pekerjaan baja dengan baik.


2. Untuk mengetahui langkah kerja yang benar dan baik dalam suatu pekerjaan sambungan.

1.2.2 Tujuan Kunjungan industri

Ada beberapa tujuan diadakannya kunjungan industri sebagai berikut:

1. Memperluas pengatahuan mahasiswa dalam lingkungan dunia kerja.


2. Mendorong mahasiswa agar mempunyai minat bekerja di perusahaan.
3. Memberi informasi tentang cara kerja dan tenaga kerja perusahaan.
4. Mendorong mahasiswa agar mempunyai rasa kedisiplinan dan tanggung jawab.
5. Membantu mahasiswa melaksanakan program diklat.
6. Untuk mengetahui proses metalurgi pembuatan baja.
7. Memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang dunia industri.

1.3 Manfaat Kunjungan

Kunjungan ke pabrik ini diharapkan dapat memiliki manfaat bagi para siswa diantaranya
siswa dapat mengetahui dan lebih mengerti sistem manajemen pabrik, proses dan pengolahan
baja menjadi bentuk sesuai dengan kebutuhan, tata letak atau lay out perancangan tempat dan
alatdalam pabrik, dan juga mengetahui informasi - informasi dunia kerja.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 3


1.4 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

1.4.1 BENGKEL LAS KONSTRUKSI BAJA CATUR TUNGGAL

Hari, tanggal : Senin, 16 April 2018

Waktu : 13.00 WIB - selesai

Tempat : Bengkel las konstruksi baja Catur Tunggal

1.4.2 PT HUMAIRA

Hari, tanggal : Rabu, 25 April 2018

Waktu : 10.00 WIB - selesai

Tempat : PT Humaira

1.5 Luaran Yang Diharapkan

Adapun luaran/hasil yang diharapkan dari kunjungan ini yaitu:


1. Melalui kunjungan industri pabrik baja ini, diharapkan mahasiswa/mahasiswi semester 4
jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dapat meningkatkan
pemahaman, menambah wawasan mengenai konstruksi baja, dari bahan pengolahan,
profil, dan penggunaan serta proses produksi dalam industri tersebut.
2. Diharapkan mahasiswa/mahasiswi mampu menjalik kerja sama dalam menghadapi
persaingan global, kemajuan iptek dan industri terutama di bidang konstruksi.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 4


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Baja
 Pada sekitar tahun 1500 SM, Besi ditemukan dan digunakan untuk pertama kalinya.
 Pada tahun 1100 SM, Bangsa hittites yang merahasiakan pembuatan tersebut selama
400 tahun dikuasai oleh bangsa asia barat, pada tahun tersebut proses peleburan besi
mulai diketahui secara meluas.
 Pada tahun 1000 SM, bangsa yunani, mesir, dan roma mulai mempelajari peleburan
dan menggunakan besi dalam kehidupannya.
 Pada tahun 800 SM, India berhasil membuat besi setelah di invansi oleh bangsa arya.
 Pada tahun 700 – 600 SM, Cina mulai belajar membuat besi.
 Pada tahun 400 – 500 SM, baja sudah ditemukan penggunaannya di eropa.
 Pada tahun 250 SM bangsa India menemukan cara membuat baja
 Pada tahun 1000 M, baja dengan campuran unsur lain ditemukan pertama kali pada
tahun 1000 M pada kekaisaran fatim yang disebut dengan baja damascus.
 Pada tahun 1300 M, rahasia pembuatan baja damaskus hilang.
 Pada tahun 1700 M, baja diteliti penggunaan dan pembuatannya di eropa.

2.2 Profil Industri


Berbicara tentang “konstruksi bangunan” tentunya akan merujuk pada kegiatan
mewujudkan segala prasarana fisik yang dibutuhkan manusia dalam mempertahankan dan
mengembangkan peradabannya. Kita dapat melihat tingkat kemajuan suatu bangsa dari
konstruksi bangunan yang ditinggalkannya. Sebagai buktinya, di level internasional misalnya,
piramida Giza di Mesir yang dibangun + 5000 tahun lalu, maka tentunya dapat dibayangkan
bagaimana tingginya peradaban bangsa tersebut dibanding bangsa lain yang mungkin pada
masa tersebut masih hidup seperti jaman batu (tidur di goa). Karena itu pula, Indonesia tidak
kalah bangganya mempunyai peninggalan kuno abad 9 M, yaitu Borobudur dan Prambanan.
Bukti fisik seperti itu tentu dapat dijadikan petunjuk bahwa bangsa Indonesia pernah menjadi
bangsa yang maju tingkat peradabannya pada suatu masa dahulu. Berkaitan dengan hal itu,
berbagai bahan material telah banyak diteliti dan digunakan untuk material konstruksi
bangunan, mulai yang sederhana, yang tersedia di alam bebas, maupun bahan material khusus

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 5


buatan pabrik yang mahal. Bahan material yang dimaksud misalnya berupa tanah, batuan,
kayu, bambu, beton, baja dan lainnya.
Meskipun demikian, jika fokus pembahasan konstruksi bangunan dibatasi
pada bangunan yang dekat dengan masyarakat, seperti konstruksi bangunan jembatan dan
gedung, maka jenis material konstruksi yang dapat dipilih untuk digunakan (apalagi di
Indonesia) menjadi terbatas, yaitu kayu, beton, baja atau kombinasi dari ketiganya itu saja.
Pemilihan bahan material konstruksi, apakah kayu, beton atau baja adalah tahapan penting
dalam suatu perencanaan. Kriteria dasar yang digunakan adalah:
[1] kekuatan (tegangan);
[2] kekakuan (deformasi); dan
[3] daktilitas (perilaku runtuh).
Tetapi material yang unggul pada ke-tiga kriteria di atas ternyata tidak mesti
mendominasi pemakaiannya pada proyek konstruksi bangunan, banyak faktor lain
mempengaruhi. Seperti misalnya, material baja yang jelas menurut kriteria di atas lebih
unggul dibanding beton ataukayu, tetapi fakta-fakta lapangan menunjukkan bahwa konstruksi
baja belum mendominasi proyek bangunan Indonesia, kalah populer dibanding konstruksi
beton. Itu dapat dilihat pada proyek-proyek gedung tinggi, juga pada konstruksi bangunan
jembatan. Konstruksi beton prategang terkesan mulai banyak dipakai sebagai alternatif
digunakannya jembatan baja.

2.1.1 Bengkel Catur Tunggal


Sebagai salah satu contoh industri baja/penyedia konstruksi baja yaitu Bengkel Catur
Tunggal. Bengkel ini merupakan salah satu perseroan yang bergerak didalam bidang
konstruksi baja, pembangunan, perbengkelan, dan perindustrian baja.
Industri ini berlokasi di Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah
50276, dengan luas bengkel 120 m2.
Pengalaman pekerjaan yang telah dikerjakan seperti Pembangunan gudang di Kedungmundu
dan Pembangunan tower Telkomsel.
Struktur Organisasi Bengkel Catur Tunggal :
1. Pemilik & Direktur Utama : Bpk Catur Winarno
2. Mandor : Bpk Suripno

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 6


Bengkel Catur Tunggal mempunyai 8 orang pekerja/karyawan. Didalam industri
tersebut terdapat beberapa peralatan,mesin dengan berbagai merk dan spesifikasi alat.
a. Mesin utama :
 Alat Las oksigen berjumlah 5 buah,
 Tabung oksigen 6 buah
 Tabung LPG 3 kg 4 buah
 Gerinda potong besar 3 buah
 Mesin genset 3 buah merk
b. Mesin pendukung:
 Gerinda potong 4 buah merk makita
 Gerinda amplas 4 buah merk makita
c. Peralatan Las :
 Mesin listrik genset kecil 3 buah mmerk kubota
 Mesin las kawat 3 buah
d. Peralatan K3 :
 Helm pelindung
 Sarung tangan
 Sepatu boot
 Sabuk/tali pengikat
 Kacamata las dan baju anti bakar
 Rambu peringatan dan pagar pengaman

2.2.2 PT HUMAIRA
Salah satu industri baja/penyedia konstruksi baja yaitu PT. HUMAIRA. PT tersebut
merupakan salah satu perseroan yang bergerak didalam bidang konstruksi baja,
pembangunan, perbengkelan, dan perindustrian baja.
Industri ini berlokasi di Jl. Kumudasmoro Utara III No. 6 Semarang dan bengkel
berlokasi di Jl. Gatot Subroto No. 3033 Semarang dengan luas bengkel 300 m2
Namun selain bergerak dalam bidang jasa konstruksi baja, Industri ini juga bergerak di
beberapa bidang yang lain seperti jasa konstruksi beton, bangunan, pengeboran sumur atetis,
serta Penyewaan alat berat (truck, dam truck, excavator, backhoe, dan lain-lain).
TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 7
Pengalaman pekerjaan yang telah dikerjakan sangatlah banyak seperti Pembuatan Trotoar
Jalan, Pengkerasan Jalan Beton, Pembangunan Waduk Wonolopo,Peningkatan Jembatan
Glodak.
Struktur Organisasi PT. HUMAIRA :
1. Komisaris : AZIZ GHANI, ST
2. Direktur Utama : M. WILDAN AJI GHANI
3. Direktur Lapangan : ZULFIGAR YUDAN AGHNI
4. Direktur Pelaksana : ZULFIGAR YUDAN AGHNI
Bengkel PT. HUMAIRA mempunyai 16 orang pekerja/karyawan. Didalam industri
tersebut terdapat beberapa peralatan,mesin dengan berbagai merk dan spesifikasi alat.
a. Mesin utama :
 Alat Las oksigen berjumlah 5 buah,
 Tabung oksigen 6 buah
 Tabung LPG 3 kg 4 buah
 Gerinda potong besar 3 buah merk makita
 Mesin genset 3 buah merk kubota
b. Mesin pendukung:
 Gerinda potong 4 buah merk makita
 Gerinda amplas 4 buah merk makita
c. Peralatan Las :
 Mesin listrik genset kecil 3 buah mmerk kubota
 Mesin las kawat 3 buah
d. Peralatan K3 :
 Helm pelindung
 Sarung tangan
 Sepatu boot
 Sabuk/tali pengikat
 Kacamata las dan baju anti bakar
 Rambu peringatan dan pagar pengaman

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 8


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Penemuan Baja


Teknik peleburan logam telah ada sejak zaman Mesir kuno pada tahun 3000 SM. Bahkan
pembuatan perhiasan dari besi telah ada pada zaman sebelumnya. Proses pengerasan pada
besi dengan heat treatment mulai diperkenalkan untuk pembuatan senjata pada zaman
Yunani 1000 SM.
Proses pemaduan yang dibuat mulai ada sejak abad 14 yang diklasifikasikan sebagai besi
tempa. Proses ini dilakkan dengan pemanasan sejumlah besar bijih besi dan charchoal dalam
tungku atau furnance. Dengan proses ini bijih besi mengalami reduksi menjadi besi sponge
metalik yang terisi oleh slag yang merupakan campuran dari pengotor metalik dan abu
charcoal. Spone iron ini dipindahkan dari furnance pada saat masih bercahaya dan diselimuti
oleh slag yang tebal lalu slagnya dihilangkan untuk memperkuat besi. Pembuatan besi
meggunakan metode ini menghasilkan kandingan slag sekiar 3 persen dan 0,1 persen
pengotor lain. Kadang kala hasil produksi dengan metode ini menghasilkan baja bukannya
besi tempa. Parapembuat besi belajar untuk membuat baja dengan memanaskan besi tempa
dan charcoal pada boks yang terbuat dar tanah liat selama beberapa hari. Dengan proses ini
besi akan menyerap cukup karbon untuk menjadi baja sebenarnya.
Setelah abad ke 14 tungku atau furnance yang digunakan mulai mengalami peningkatan
ukuran dan draft yang digunakan untuk pembakaran gas melewati “charge,” pada
pencampuran material mentah. Pada tungku yang lebih besar ini, bijih besi pada bagian
bagian atas furnance akan direduksi pertama kali direduksi menjadi besi metalik dan
menghasilkan banyak karbon sebagai hasil dari serangan gas yang dilewatinya. Hasil dari
furnance ini adalah pig iron, yaitu paduan yang meleleh pada temperatur rendah. Pig iron
akan dproses lebih lanjut untuk membuat baja.
Pembuatan baja modern menggunakan blast furnance yang juga digunakan untuk
memurniakan besi oleh pembuat besi yang lamapu. Proses pemurnian besi cair dengan
peledakan udara diakui oleh penemu Inggris Sir Henry Bessemer yang
mengembangkan Bessemer furnance, atau pengkonversi, pada tahun 1855. Sejak tahun
1960 telah diproduksi baja dari besi bekas secara kecil-kecilan pada furnance elektrik,

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 9


sehingga dinamakan mini mills. Mini mills adalah komponen yang sangat sangat penting
bagi produksi baja Amerika. Mills yang lebih besar digunakan pada produksi baja dari bijih
besi.

3.2 Proses Pembuatan Baja


Baja diproduksi didalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat maupun cair,
besi bekas ( Skrap ) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses pembuatan baja
antara lain :

3.2.1 Proses Konvertor


Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap
kesamping.

Sistem kerja
 Dipanaskan dengan kokas sampai ± 1500 0C,
 Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. (± 1/8 dari volume konvertor)
 Kembali ditegakkan.
 Udara dengan tekanan 1,5 – 2 atm dihembuskan dari kompresor.
 Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengelaurkan hasilnya.

a. Proses Bassemer (asam)


Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam
atau aksid asam (SiO2), Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak
ditambahkan sebab dapat bereaksi dengan SiO2, SiO2 + CaO = CaSiO3

b. Proses Thomas (basa)


Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit
[kalsium karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3)], besi yang diolah besi kasar
putih yang mengandung P antara 1,7 – 2 %, Mn 1 – 2 % dan Si 0,6-0,8 %.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 10


Setelah unsur Mn dan Si terbakar, P membentuk oksida phospor (P2O5), untuk
mengeluarkan besi cair ditambahkan zat kapur (CaO), 3 CaO + P2O5 Ca3(PO4)2 (terak
cair).

3.2.2 Proses Siemens Martin


Menggunakan sistem regenerator (± 3000 0C.) fungsi dari regenerator adalah:
1. Memanaskan gas dan udara atau menambah temperatur dapur
2. Sebagai Fundamen/ landasan dapur
3. Menghemat pemakaian tempat
Bisa digunakan baik besi kelabu maupun putih,
 Besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silika (SiO2),
 Besi putih dilapisi dengan batu dolomit (40 % MgCO3 + 60 % CaCO3)

3.2.3 Proses Basic Oxygen Furnace


 Logam cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan)
 Oksigen (± 1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan kecepatan
tinggi. (55 m3 (99,5 %O2) tiap satu ton muatan) dengan tekanan 1400 kN/m2.
 Ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S.

Keuntungan dari BOF adalah:


 BOF menggunakan O2 murni tanpa Nitrogen
 Proses hanya lebih-kurang 50 menit.
 Tidak perlu tuyer di bagian bawah
 Phosphor dan Sulfur dapat terusir dulu daripada karbon
 Biaya operasi murah

3.2.4 Proses Dapur Listrik


Temperatur tinggi dengan menggunkan busur cahaya electrode dan induksi listrik.

Keuntungan :
 Mudah mencapai temperatur tinggi dalam waktu singkat

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 11


 Temperatur dapat diatur
 Efisiensi termis dapur tinggi
 Cairan besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh lingkungan sehingga kualitasnya
baik
 Kerugian akibat penguapan sangat kecil

3.2.5 Proses Dapur Kopel/Dapur Kupola (Cupola Furnace)


Dapur Cupola (Cupola Funace) digunakan untuk peleburan besi kasar kelabu dan
besi bekas menjadi baja atau besi tuang, pada umumnya digunakan untuk
menghasilkan peleburan sehari-hari berdasarkan pada kapasitas dari pabrik (foundry).
Cupola (kubah-kubahnya) biasanya dioperasikan secara berpasangan, jadi
pemeliharaannya bisa diatur pada satu kubah dankubah yang lainnya tetap bisa
beroperasi, demikian seterusnya secara bergantian.

Proses
 Pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair.
 Bahan bakar(arang kayu dan kokas) dinyalakan selama ± 15 jam.
 Kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai
700 – 800 mm dari dasar tungku.
 Besi kasar dan baja bekas kira-kira 10 – 15 % ton/jam dimasukkan.
 15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran.

Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S ditambahkan batu kapur
(CaCO3) dan akan terurai menjadi:
Akan bereaksi dengan karbon:
Gas CO yang dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat dimanfaatkan untuk
pembangkit mesin-mesin lain.

3.2.6 Proses Dapur Cawan


 Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi kasar
dalam cawan,

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 12


 Kemudian dapur ditutup rapat.
 Kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling cawan dan
muatan dalam cawan akan mencair.
 Baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan
menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan

3.3 Pengertian Pengelasan


Mengelas adalah menyambung dua bagian logam secara permanen dengan menggunakan
tenaga panas. Tenaga panas diperlukan untuk memanaskan bahan dasar yang akan
disambung dan kawat sebagai pengisi.

3.3.1 Macam – Macam Proses Pengelasan


Proses pengelasan digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :
a. Las Lumer (Cair)
Proses las cair dasar dan kawat las dipanaskan hingga keduanya mencair dan
terpadu satu sama lain, cara pengelasan yang termasuk las cair adalah sebagai berikut :
b. Las Gas
Las gas adalah cara pengelasan dimana panas yang digunakan untuk pengelasan
diperoleh dari nyala api hasil pembakaran gas oksigen (Zat Asam). Bahan bakar yang
digunakan adalah gas astelin (Gas Karbit).
c. Las Tahanan Listrik
Las Tahan Listrik adalah cara pengelasan dengan menggunakan tahanan
(hambatan) listrik yang terjadi antara dua bagian logam yang akan disambungkan.
Cara pengelasan ini dipergunakan pada las listrik, las tekan, atau las rol.
d. Solder atau Brazing
Penyolderan adalah penyambungan logam dibawah pengaruh penyeluruhan panas
dengan bantuan logam Penyambung (solder) yang mempunyai titik lebur logam yang
akan disambungkan.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 13


3.3.2 Macam – macam Mesin Las
a. Mesin Las Arus AC (Bolak-Balik)

Mesin las ini membutuhkan arus bolak-balik atau biasa disebut arus AC. Arus ini
adalah arus yang dihasilkan oleh pembangkit lisrik , listrik PLN, atau listrik hasil
generator AC. Biasanya tegangan listrik yang dihasilkan dari sumber listrik ini belum
sesuai dengan tegangan listrik yang dibutuhkan alat las, bisa jadi tegangan lebih besar
atau pun lebih kecil sehingga dibutuhkan alat untuk menurunkan atau menaikkan
tegangan listrik ini, alat tersebut ialah transformator atau biasa disingkat trafo. Gambar
di samping ini merupakan contoh jenis las arus AC.

Trafo yang digunakan pada alat las listrik di pasaran menggunakan trafo step
down yaitu trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik. Mengapa
menggunakan trafo step down? Karena listrik yang disalurkan PLN masih berupa
tegangan tinggi. Biasanya tegangan listrik yang didistribusikan ke daerah bisnis sekitar
20 kV sedangkan yang disalurkan ke konsumen rumah tangga sekitar 220 V. Alat las
listrik di pasaran hanya membutuhkan tegangan listrik berkisar 55 hingga 85 Volt.

Trafo yang digunakan pada alat las listrik memiliki daya yang cukup besar. Agar
alat las listrik dapat mencairkan sebagian logam induk dan elektroda maka dibutuhkan
energi yang besar. Dikarenakan tegangan listrik pada bagian terminal kumparan
sekunder hanya kecil, maka untuk menghasilkan daya yang besar perlu arus besar.
Arus yang digunakan untuk peralatan las sekitar 10 ampere sampai 500 ampere.
Besarnya arus listrik dapat diatur sesuai dengan keperluan las. Untuk keperluan daya
besar diperlukan arus yang lebih besar pula, dan sebaliknya.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 14


Arus pada transformator dapat disetel sesuai kebutuhan dengan memutar ulir
penyetel arus. Desain ini biasanya memungkinkan tukang las untuk dapat memilih
arus keluaran dengan menggerakkan kumparan primer mendekat atau menjauh dari
kumparan sekunder, menggerakkan magnetic shunt (gulungan magnetik) ke dalam
atau ke luar dari inti trafo, menggunakan rangkaian seri dari transduktor. Pada
transformator las AC, terdapat dua kabel yaitu kabel busur dan kabel masa, dimana
jika kedua kabel tersebut tertukar, tidak akan mempengaruhi perubahan temperature
yang timbul.

Kelebihan dari mesin las arus searah

 Perlengkapan dan perawatan lebih murah


 Kabel massa dan kabel elektroda dapat ditukar untuk mempengaruhi keluaran
 Busur yang menyala kecil sehingga dapat mengurangi timbulnya keropos pada
gerigi las

Kekurangan dari mesin las arus searah

 Tidak dapat dipergunakan untuk semua jenis elektroda


 Tidak dapat digunakan untuk mengelas semua jenis logam
 Suara yang dihasilkan lebih bising
 Nyala busur tidak terlalu stabil

b. Mesin Las Arus DC (Searah)

Selain arus bolak balik, arus searah atau arus DC juga dapat menjadi sumber listrik
untuk mesin las listrik. Arus listrik ini berasal dari mesin berupa dinamo listrik searah.
Dinamo dapat digerakkan oleh motor listrik, motor bensin, motor diesel, atau alat
penggerak yang lain. Mesin arus yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak
pada mulanya memerlukan peralatan yang berfungsi sebagai penyearah arus.
Penyearah arus atau rectifier berfungsi dalam mengubah arus bolak-balik (AC)
menjadi arus searah (DC). Arus bolak-balik yang diubah menjadi arus searah pada

Proses pengelasan mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 15


 Nyala busur listrik yang dihasilkan lebih stabil,
 Dapat menggunakan berbagai jenis elektroda,
 Tingkat kebisingan lebih rendah,
 Lebih fleksibel, karena dapat diubah ke arus bolak-balik atau arus searah.
 Dapat digunakan untuk mengelas plat logam yang lebih tipis

Gambar di atas merupakan jenis las AC. Di pasaran terdapat 2 jenis mesin las DC,
yaitu mesin las stasioner atau mesin las portabel. Mesin las stasioner dapat Anda
gunakan pada tempat atau bengkel yang mempunyai jaringan listrik permanen, misal
listrik PLN.

Adapun mesin las portable yang mempunyai bentuk relatif kecil bisa Anda gunakan
untuk melakukan las di tempat-tempat yang tidak terjangkau jaringan listrik, seperti
pulau atau daerah terpencil yang jaringan listriknya belum permanen atau listrik yang
dihasilkan tidak stabil seperti listrik hasil sel tenaga surya, angina, dan sumber energi
terbarukan lainnya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian mesin las adalah penggunaan
yang sesuai dengan prosedur yang dikeluarkan oleh prabrik pembuat mesin, perawatan
yang sesuai dengan anjuran. Acap kali gangguan-gangguan dapat timbul pada mesin
las, antara lain mesin tidak mengeluarkan arus listrik atau nyala busur listrik yang
dihasilkan lemah.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 16


c. Mesin Las Ganda (AC – DC)

Jenis yang terakhir ialah mesin las ganda, dimana mesin las ini mampu mengelas
dengan menggunakan sumber listrik arus searah (DC) maupun dengan arus bolak-
balik. Mesin las ganda mempunyai transformator satu fasa dan sebuah penyearah
atau rectifier dalam satu unit mesin.

Output arus bolak-balik diambil dari terminal lilitan sekunder transformator melalui
regulator arus. Adapun arus searah diambil dari keluaran rectifier. Pengaturan untuk
memilih keluaran arus bolakbalik atau arus searah dapat dilakukan dengan mudah,
yaitu hanya dengan memutar alat pengatur arus dari mesin las. Gambar di samping ini
adalah mesin las ganda (AC-DC).

Mesin las AC-DC lebih fleksibel karena mempunyai semua kemampuan yang
dimiliki masing-masing mesin las DC atau mesin las AC. Mesin las jenis ini sering
digunakan untuk bengkel-bengkel yang mempunyai jenis-jenis pekerjaan yang lebih
bervariasi, sehingga tidak perlu mengganti-ganti jenis las untuk pengelasan berbeda.

Mesin las arus ganda dapat menyuplai arus antara 25 ampere sampai 140 ampere
yang digunakan untuk mengelas plat – plat tipis, baja anti karat (stainless steel) dan
alumunium. Dalam melakukan pengelasan benda kerja yang tebal, arus dapat diatur
dari 60 hingga 300 ampere.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 17


3.4 Proses Cutting (Pemotongan)

Pemotongan adalah tahap pekerjaan pemotongan bahan baku profil dan pelat baja
sesuai dengan tanda potong yang telah ditetapkan pada proses penandaan. Jenis – jenis
mesin potong yaitu :

a. Mesin Gerinda Tangan

Mesin gerinda tangan merupakan mesin yang berfungsi untuk menggerinda benda
kerja. Menggerinda dapat bertujuan untuk mengasah benda kerja seperti pisau dan
pahat, atau dapat juga bertujuan untuk membentuk benda kerja seperti merapikan hasil
pemotongan, merapikan hasil las, membentuk lengkungan pada benda kerja yang
bersudut, menyiapkan permukaan benda kerja untuk dilas, dan lain-lain. Mesin

Gerinda didesain untuk dapat menghasilkan kecepatan sekitar 11000 – 15000 rpm.
Dengan kecepatan tersebut batu gerinda, yang merupakan komposisi aluminium
oksida dengan kekasaran serta kekerasan yang sesuai, dapat menggerus permukaan
logam sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Dengan kecepatan tersebut
juga, mesin gerinda dapat digunakan untuk memotong benda logam dengan
menggunakan batu gerinda yang dikhususkan untuk memotong.

b. Mesin Gerinda Duduk

Bukan cuma wc duduk gan, mesin gerinda juga punya yang versi duduknya. Fungsi
utama gerinda duduk adalah untuk mengasah mata bor, tetapi dapat juga digunakan
untuk mengasah pisau lainnya, seperti mengasah pisau dapur, golok, kampak, arit,
mata bajak, dan perkakas pisau lainnya. Selain untuk mengasah, gerinda duduk dapat
juga untuk membentuk atau membuat perkakas baru, seperti membuat pisau khusus
TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 18
untuk meraut bambu, membuat suku cadang mesin jahit, membuat obeng, atau alat
bantu lainnya untuk reparasi turbin dan mesin lainnya.

c. Gergaji Cut off saw

Adalah gergaji yang dioprasikan dengan tangan, atau ditempelkan ke mesin, dengan
tujuan memotong bahan seperti Besi ,kayu dll. Tentu saja untuk masing – masing
bahan , memiliki mata potongnya masing – masing .

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 19


d. Pemotongan dengan menggunakan oxy flame cutting

Pemotongan dengan menggunakan oxy flame cutting adalah dimana pemotongan


terjadi karena adanya reaksi antara oksigen dan baja. Pada permulaan pemotongan,
baja dipanaskan lebih dahulu dengan api oxy flame cutting sampai mencapai suhu
antara 800o-900o C. Kemudian gas oksigen tekanan tinggi atau gas pemotong lainnya
disemburkan ke bagian yang dipanaskan tersebut dan terjadilah proses pembakaran
yang membentuk oksida baja. Karena titik cair oksida baja lebih rendah dari baja,
maka oksida tersebut mencair dan terhembus oleh gas pemotong dengan ini terjadilah
pemotongan.

3.5 Mesin Bor


Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat pemotong yang
arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin tersebut (pengerjaan pelubangan).
Sedangkan Pengeboran adalah operasi menghasilkan lubang berbentuk bulat dalam
lembaran-kerja dengan menggunakan pemotong berputar yang disebut bor dan
memiliki fungsi untuk Membuat lubang, Membuat lobang bertingkatm, Membesarkan
lobang.
Jenis – jenis mesin bor yaitu :
a. Bor Tangan

Mesin Bor Tangan merupakan mesin bor yg pengoperasiannya dgn memakai


tangan & wujudnya seperti pistol. Mesin bor tangan rata-rata diperlukan untuk
melubangi kayu, tembok ataupun pelat logam. Khusus Mesin bor ini tidak cuma
dipakai untuk menciptakan lubang namun juga dapat dipakai untuk mengencangkan
TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 20
baut ataupun melepas baut lantaran di lengkapi 2 putaran yakni kanan & kiri. Mesin
bor ini tersedia dalam beraneka ukuran, bentuk, kapasitas & juga fungsinya masing-
masing.

b. Mesin Bor Duduk

Mesin Bor Duduk merupakan mesin bor yang wujudnya seperti orangyang sedang
duduk. Mesin bor duduk ini dipakai untuk membuat lubang benda kerja dengan
diameter yang kecil (terbatas hingga diameter nya 16 milimeter).

Prinsip kerja mesin bor duduk ini adalah putaran motor listrik yang diteruskan ke
poros mesin hingga poros dapat berputar. Kemudian poros berputar yang sekaligus
juga sebagai pemegang mata bor duduk ini mampu digerakkan naik turun bersama
bantuan roda gigi lurus dan gigi rack yang akan mengatur tekanan pemakanan ketika
pengeboran

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 21


3.6 Pengertian Sambungan

Tiap mesin atau konstuksi terbentuk dari beberapa suku bagian,macam-macam


bagian. Sesamanya dihubungkan, salah satu cara menghubungkan suatu bagian ke suku
bagian yang lain diperlukan / memberikan sambungan. Sambungan adalah hasil dari
penyatuan beberapa bagian / konstruksi dengan menggunakan suatu cara tertentu.

3.7 Macam-macam sambungan


3.7.1 Sambungan Tetap A

Adalah sambungan yang dapat dilepas dengan cara merusaknya, contoh:


sambungan keeling dan sambungan las.

3.7.2 Sambungan Tidak Tetap

Adalah sambungan yang dapat kita lepas dan dapat kita bongkar tanpa merusaknya
sesuatu,contohnya:sambungan pasak,sambungan pena,dan sambungan ulir.

3.7.3 Sambungan Las

Proses pengelasan adalah proses penyambungan logam dengan menggunakan


energi panas. Sambungan las mempunyai tingkat kerapatan yang baik serta
mempunyai kekuatan sambungan yang memadai. Sambungan las ini juga mempunyai
tingkat efisiensi kekuatan sambungan yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan
sambungan yang lainnya. Di samping itu segi operasional pengerjaan sambungan
konstruksi las lebih sederhana dan relatif murah.

Ada beberapa macam jenis pengelasan yang dilakukan untuk menyambung logam:

1. Las Resistensi Listrik (Tahanan)

Las resistensi listrik adalah suatu cara pengelasan dimana permukaan pelat yang
disambung ditekankan satu sama lain dan pada saat yang sama arus listrik dialirkan
sehingga permukaan tersebut menjadi panas dan mencair karena adanya resistensi
listrik. Sambungan las resistensi listrik dibagi atas dua kelompok sambungan yaitu
sambungan tumpang dan sambungan tumpul. Las resistensi ini sangan baik
digunakan untuk menyambung pelat-pelat tipis.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 22


2. Las Titik (Spot Welding)

Pengelasan dengan las titik ini hasil pengelasannya membentuk seperti titik.
Elektroda penekan terbuat dari batang tembaga yang dialiri arus listrik yakni,
elektroda atas dan bawah. Elektroda sebelah bawah sebagai penumpu plat dalam
keadaan diam dan elektroda atas bergerak menekan pelat yang akan disambung.
Agar pelat yang akan disambung tidak sampai bolong sewaktu proses terjadinya
pencairan maka kedua ujung elektroda diberi air pendingin.

3. Las Resistansi Rol (Rolled Resistance Welding)

Proses pengelasan resistansi tumpang ini dasarnya sama dengan las resistansi
titik, tetapi dalam pengelasan tumpang ini kedua batang elektroda diganti dengan
roda yang dapat berputar sesuai dengan alur/garis pengelasanyang dikehendaki

4. Las Busur Listrik

Energi masukan panas las busur listrik bersumber dari beberapa alternatif
diantaranya energi dari panas pembakaran gas, atau energi listrik.Panas yang
ditimbulkan dari hasil proses pengelasan ini melebihi dari titik lebur bahan dasar
dan elektroda yang di las. Kisaran temperatur yang dapat dicapai pada proses
pengelasan ini mencapai 2000-3000º C. Pada temperatur ini daerah yang
mengalami pengelasan melebur secara bersamaan menjadi suatu ikatan metalurgi
logam lasan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelasan las busur
listrk adalah pemilihan elektroda yang tepat. Secara umum semua elektroda
diklasifikasikan menjadi lima kelompok utama yaitu mild steel, hight carbon steel,
special alloy steel, cast iron dan non ferrous. Rentangan terbesar dari pengelasan
busur nyala dilakukan dengan elektroda dalam kelompok mild.

5. Penyambungan Dengan Las Oxy-Asetilen

Pengelasan dengan gas oksi-asetilen dilakukan dengan membakar bahan bakar


gas C2 H2 dengan O2, sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat
mencair logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat digunakan gas-
gas asetilen, propan atau hidrogen. Diantara ketiga bahan bakar ini yang paling

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 23


banyak digunakan adalah asetilen, sehingga las pada umumnya diartikan sebagai las
oksi-asetilen.

6. Las TIG (Tungsten Inert Gas)/GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)

Pengelasan dengan gas pelindung Argon (Tungsten Iner Gas) merupakan salah
satu pengembangan dari pengelasan yang telah ada yaitu pengembangan dari
pengelasan secara manual yang khususnya untuk pengelasan non ferro (alumunium,
magnesium kuningan dan lain-lain, baja spesial (Stainless steel) dan logam-logam
anti korosi lainnya. Pengelasan Tungsten Inert Gas (TIG) ini tidak menggunakan
proses elektroda sekali habis (non consumable electrode). Temperatur yang
dihasilkan dari proses pengelasan ini adalah 3000 0F atau 1664,8 0C dan fungsi gas
pelindung adalah untuk menghidari terjadinya oksidasi udara luar terhadap cairan
logam yang dilas.

7. Las MIG (Metal Inert Gas Arc Welding)/Gas Metal Arc Welding (GMAW)

Gas Metal Arc Welding (GMAW) adalah proses pengelasan yang energinya
diperoleh dari busur listrik. Busur las terjadi di antara permukaan benda kerja
dengan ujung kawat elektroda yang keluar dari nozzle bersamasama dengan gas
pelindung.

Jenis-Jenis Sambungan Las

Jenis sambungan tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran dan profil batang
yang bertemu di sambungan, jenis pembebanan, besarnya luas sambungan yang
tersedia untuk pengelasan, dan biaya relatif dari berbagai jenis las. Sambungan las
terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi dan kombinasi yang
banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah sambungan sebidang (butt),
lewatan (lap), tegak (T), sudut, dan sisi.

1. Sambungan Sebidang

Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung


plat datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama
jenis sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 24


sambungan lewatan tunggal seperti dalam Gambar 6.16(b). Bila digunakan
bersama dengan las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld),
sambungan sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya
lebih estetis dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung
yang akan disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau
dimiringkan) dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit
penyesuaian dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus
diperinci dan dibuat secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang
dibuat di bengkel yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.

2. Sambungan Lewatan

Sambungan lewatan pada Gambar 6.17 merupakan jenis yang paling


umum.

Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama:

- Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak memerlukan


ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan jenis sambungan
lain. Potongan tersebut dapat digeser untuk mengakomodasi kesalahan
kecil dalam pembuatan atau untuk penyesuaian panjang.
- Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak
memerlukan persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala
(api) atau geseran. Sambungan lewatan menggunakan las sudut
sehingga sesuai baik untuk pengelasan di bengkel maupun di lapangan.
Potongan yang akan disambung dalam banyak hal hanya dijepit
(diklem) tanpa menggunakan alat pemegang khusus. Kadang-kadang
potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan beberapa baut
pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali setelah dilas.
- Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk
menyambung plat yang tebalnya berlainan.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 25


3. Sambungan Tegak

Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-


up) seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau
penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Umumnya
potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti pada Gambar
6.16(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan
penampang yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut
maupun las tumpul.

4. Sambungan Sudut

Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk


boks segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang memikul
momen puntir yang besar.

5. Sambungan Sisi

Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai


untuk menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau untuk
mempertahankan kesejajaran (alignment) awal.

Seperti yang dapat disimpulkan dari pembahasan di muka, variasi dan


kombinasi kelima jenis sambungan las dasar sebenarriya sangat banyak.
Karena biasanya terdapat lebih dari satu cara untuk menyambung sebuah
batang struktural dengan lainnya, perencana harus dapat memilih sambungan
(atau kombinasi sambungan) terbaik dalam setiap persoal.

Keuntungan Sambungan Las Listrik dibanding dengan Paku keling / Baut :

a. Pertemuan baja pada sambungan dapat melumer bersama elektrode las


dan menyatu dengan lebih kokoh (lebih sempurna).
b. Konstruksi sambungan memiliki bentuk lebih rapi.
c. Konstruksi baja dengan sambungan las memiliki berat lebih ringan.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 26


d. Dengan las berat sambungan hanya berkisar 1 -1,5% dari berat
konstruksi, sedangkan dengan paku keling / baut berkisar 2,5 – 4% dari
berat konstruksi.
e. Pengerjaan konstruksi relatif lebih cepat (tak perlu membuat
lubanglubang pk/baut, tak perlu memasang potongan baja siku / pelat
penyambung, dan sebagainya ).
f. Luas penampang batang baja tetap utuh karena tidak dilubangi,
sehingga kekuatannya utuh.

3.7.4 Sambungan Ulir


Sambungan ulir adalah sambungan yang menggunakan kontruksi ulir
untuk mengikat dua atau lebih komponen permesinan. Sambungan Ulir
merupakan jenis dari sambungan semi permanent (dapat dibongkar pasang).
Sambungan ulir terdiri dari 2 (dua) bagian, yakni Baut (Inggris=Bolt, yakni yang
memiliki ulir di bagian luar) dan Mur (Inggris = Nut , yakni yang memiliki ulir di
bagian dalam).
Dilihat dari kontruksi yang memiliki ulir (yang dapat di bongkar pasang)
sambungan ulir memiliki fungsi teknis utama, yaitu :
¾ Digunakanu untuk bagian mesin yang memerlukan sambungan dan
pelepasan tanpa merusak bagian mesin perawatan. ¾ Untuk memegang dan
penyesuaian dalam perakitan

Keuntungan dan Kerugaian Sambungan Ulir


Ditinjau dari sisi teknik sambungan ulir memiliki keuntungan dan
kerugian sebagai berikut :
Keuntungan Sambungan Ulir
1 . Mempunyai reliabilitas (kehandalan) tinggi dalam operasi.
2 . Sesuai untuk perakitan dan pelepasan komponen.
3. Suatu lingkup yang luas dari sambungan baut diperlukan untuk beberapa kondisi
operasi.
4 . Lebih murah untuk diproduksi dan lebih efisien.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 27


3.7.5 Sambungan Paku Keling

Paku keling / rivet adalah salah satu metode penyambungan yang sederhana.
sambungan keling umumnya diterapkan pada jembatan, bangunan, ketel, tangki,
kapal Dan pesawat terbang. Penggunaan metode penyambungan dengan paku keling ini
juga sangat baik digunakan untuk penyambungan pelat-pelat alumnium. Pengembangan
Penggunaan rivet dewasa ini umumnya digunakan untuk pelat-pelat yang sukar dilas dan
dipatri dengan ukuran yang relatif kecil. Setiap bentuk kepala rivet ini mempunyai
kegunaan tersendiri, masing masing jenis mempunyai kekhususan dalam penggunaannya.
Sambungan dengan paku keling ini umumnya bersifat permanent dan sulit untuk
melepaskannya karena pada bagian ujung pangkalnya lebih besar daripada batang paku
kelingnya.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 28


BAB IV
PENUTUP

Dari kunjungan kerja yang kelompok kami lakukan terhadap PT HUMAIRA dan Bengkel
Las Konstruksi Baja CATUR TUNGGAL ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan seperti
kelengkapan peralatan yang dimiliki cukup lengkap seperti mesin utama berupa mesin las, diesel
kemudian mesin pendukung berupa mesin pemotong (gerinda) yang terdiri dari beberapa ukuran
besar dan kecil sesuai skala pemotongan yang dibutuhkan, dan bahan las seperti batang las,
kawat peralatan dan kelengkapan las beserta alat sambung baja yang sering digunakan berupa
paku keling,baut maupun sabungan las.

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 29


DAFTAR PUSTAKA

https://plus.google.com/103544668433675570498/posts/U2cso9txqHJ
https://www.scribd.com/document/374915014/LAPORAN-SURVEY-BAJA-doc
http://ayudianagustin.blogspot.co.id/2014/08/laporan-hasil-kunjungan.html

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 30


LAMPIRAN
DOKUMENTASI BENGKEL LAS CATUR TUNGGAL

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 31


DOKUMENTASI PT. HUMAIRA

TEKNIK SIPIL 2016 | STRUKTUR BAJA 1 32