Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

Tentang

Al-muhkam Wal mutasyabih

Dosen Pengampu :

Dr. AGUS SHOLIKHIN,S.Si., M.Pd.I.

DISUSUN:
SUSTINA

NIM : 2019 11 0013

PRODI : MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )


AS-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2019
JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sum-Sel
30657
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Segala puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, shalawat
dan salam juga disampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
Serta sahabat dan keluarganya, seayun langkah dan seiring bahu dalam
menegakkan agama Allah. Dengan kebaikan beliau telah membawa kita dari alam
kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan.
Dalam rangka melengkapi tugas dari mata kuliah Ulumul Quran pada Di
Kampus STAI As-Shiddiqiyah, dengan ini penulis mengangkat judul “Al-
muhkam Wal Mutasyabih”.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan, maupun isinya.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran-saran yang
dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
.Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua,
karenakesempurnaanhanyamilik Allah SWT semata.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Lempuing Jaya, Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Muhkam Dan Mutasyabih ............................................. 2
B. Karakteristik Al-Muhkan Dan Al-Mutasyabih ................................ 3
C. Perbedaan Pendapat Para Ulama Terhadap
Muhkam Dan Mutasyabih ............................................................... 4
D. Sebab-Sebab Adanya Ayat Mutasyabih .......................................... 5
E. Macam-Macam Ayat Muhkam Dan Mutasyabih ............................ 7
F. Hikmah Adanya Ayat-Ayat Muhkan Dan Mutasyabih .................... 8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..................................................................................... 12
B. Saran ................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 13

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Karena itu, untuk


memahami hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an diperlukan
pemahaman dalam kebahasaan. Para ulama’ yang ahli dalam bidang ushul
fiqh, telah mengadakan penelitian secara sesama terhadap nash-nash al-
Qur’an, lalu hasil penelitian itu diterapkan dalam kaidah-kaidah yang
menjadi pegangan umat Islam guna memahami kandungan al-Qur’an
dengan benar.
Adapun ilmu yang mempelajari tentang muhkam dan mutasyabih
adalah Ilmu muhkam wal Mutasyabih. Ilmu ini dilatar belakangi oleh
adanya perbedaan pendapat ulama tentang adanya hubungan ayat atau surat
yang lain. Sementara yang lain mengatakan bahwa didalam Al-Qur’an ada
ayat atau surat yang tidak berhubungan. Oleh karenanya, suatu ilmu yang
mempelajari ayat atau surat Al-Qur’an cukup penting kedududkannya.
Sementara itu muhkam dan mutasyabih adalah Sebuah kajian yang sering
menimbulkan kontroversial dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, karena
perbedaan ’interpretasi’ antara ulama mengenai hakikat muhkam dan
mutasyabih.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Yang Dimaksud Dengan Muhkam Dan Mutasyabih?
2. Bagaimana Karakteristik Al-Muhkan Dan Al-Mutasyabih?
3. Bagaiaman Perbedaan Pendapat Para Ulama Terhadap Muhkam Dan
Mutasyabih?
4. Apa Yang Menyebabkan Adanya Ayat Mutasyabih?
5. Sebutkan Macam-Macam Ayat Muhkam Dan Mutasyabih?
6. Apakah Hikmah Adanya Ayat-Ayat Muhkan Dan Mutasyabih?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MUHKAM DAN MUTASYABIH


Muhkam berasal dari kata Ihkam, yang berati kekukuhan,
kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara
terminologi, Muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak
memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. Mutasyabih berasal dari kata
tasyabuh, yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang
biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.
Sedangkan secara terminoligi Mutasyabih berarti ayat-ayat yang
belum jelas maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya,
maknanya yang tersembunyi dan memerlukan keterangan tertentu, atau
hanya Allah yang mengetahuinya.1
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui
dengan gamblang, baik melalui takwil ataupun tidak. Sedangkan ayat-
ayatmutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah,
seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf-huruf
muqatha’ah. (Kelompok Ahlussunnah)
Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat
yang harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah
ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
Mayoritas Ulama Ahlul Fiqh yang berasal dari pendapat Ibnu Abbas
mengatakan, lafadz muhkam adalah lafadz yang tak bisa ditakwilkan
melainkan hanya satu arah/segi saja. Sedangkan lafadz yang mutasyabbih
adalah lafadz yang bisa ditakwilkan dalam beberapa arah/segi, karena masih
samar.2
Menurut Ibnu Abbas, Muhkam adalah ayat yang penakwilannya
hanya mengandung satu makna. Sedangkan Mutasyabihat adalah ayat yang

1
Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2012, hlm. 121
2
Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008, hal. 239

2
mengandung pengertian bermacam-macam.. Menurut Imam as Suyuthi
muhkam adalah suatu yang jelas artinya, sedangkan mutasyabih adalah
sebaliknya.
Sedangkan menurut Manna’ Al-Qaththan, Muhkam adalah ayat yang
maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan
lain. Sedangkan Mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan
dengan menunjuk kepada ayat lain.
Dengan demikian muhkam adalah ayat yang terang makna serta
lafaznya dan cepat di pahami. Sedangkan Mutasyabih, ialah ayat-ayat yang
bersifat global yang memerlukan ta’wil dan yang sukar dipahami.3

B. KARAKTERISTIK AL-MUHKAN DAN AL-MUTASYABIH


Banyaknya perbedaan pendapat mengenai muhkan dan mutasyabih,
menyulitkan untuk membuat sebuah kriteria ayat yang termasuk muhkan
dan mutasyabih.
J.M.S Baljon mengutip pendapat Zamakhsari yang berpendapat barwa
yang termasuk kriteria ayat-ayat muhkam adalah apabia ayat-ayat tersebut
berhubungan dengan hakikat (kenyataan). Sedangkan ayat-ayat mutasyabih
adalah yang menuntut penelitian.
Ar-Raghib al-Ashfihani memberikan kriteria ayat-ayat muhkam dan
mutasyabih sebagai berikut :
1. Muhkam
a. Yakni ayat-ayat yang membatalkan ayat-ayat yang lain
b. Ayat-ayat yang menghalalkan atau membatalkan ayat-ayat lain.
c. Ayat-ayat yang mengandung kewajiban yang harus diimani dan
diamalkan.

2. Mutasyabih
a. Yakni ayat-ayat yang tidak diketahui hakikat maknanya seperti
tibanya hari kiamat.

3
Kamaluddin Marzuki, Ulumul Qur’an, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992, hlm. 113

3
b. Ayat-ayat yang dapat diketahui maknanya dengan sarana bantu
baik dengan hadits atau ayat muhkam.
c. Ayat yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang dalam
ilmunya, sebagaimana diisyaratkan dalam doa Rosululloh untuk
ibnu Abbas “Ya Alloh, karuniailah ia ilmu yang mendalam
mengenai agama dan limpahkanlah pengetahuan tentang ta’wil
kepadanya,”. 4

C. PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA TERHADAP MUHKAM


DAN MUTASYABIH
Dalam al-Qur’an sering kita temui ayat-ayat mutasyabihat yang
penjelasannya memerlukan penjelasan dari ayat-ayat yang lain. Mengenai
hal tersebut, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Antara lain :
1. Ulama golongan Hanafiyah mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz
yang jelas petunjuknya, dan tidak mungkin telah dinasikh kan. Sedang
lafadz mutasyabih adalah lafadz yang sama maksud petunjuknya
sehingga tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Sebab lafadz
mutasyabih itu termasuk hal-hal yang diketahui Allah saja artinya.
Contohnya seperti hal-hal yang ghaib.
2. Mayoritas ulama golongan ahlu fiqh yang berasal dari pendapat
sahabat Ibnu Abbas mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang
tidak bisa dita’wil kecuali satu arah. Sedangkan lafadz mutasyabih
adalah artinya dapat dita’wilkan dalam beberapa segi, karena masih
sama.5
3. Madzhab salaf, yaitu para ulama dari generasi sahabat. Mereka
berusaha untuk mengimaninya dan menyerahkan makna serta
pengertiannya hanya kepada Allah SWT. Bagi kaum salaf, ayat – ayat
mutasyabihat tidak perlu dita'wilkan. Sebab yang mengetahui

4
Hasbi Ash-Shiddieqy, ilmu-ilmu Al-Qur’an, Jakarta:Bulan Bintang, 1993, hlm 166
5
Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008, hal. 239

4
hakikatnya hanyalah Allah SWT, mereka hanya berusaha
mengimaninya.
4. Madzhab khalaf, seperti Imam Huramain. Mereka berpendapat bahwa
ayat – ayat mutasyabihat harus ditetapkan maknanya dengan
pengertian yang sesuai dan sedekat mungkin dengan dzat-Nya.
Mereka menta'wil lafdz istiwa' (besemayam) dengan maha berkuasa
menciptakan sesuatu tanpa susah payah. Kalimat ja'a rabbuka
(kedatangan Allah) dalam Qs. Al-Fajr: 22, dita'wilkan dengan
kedatangan perintah-Nya. 6

D. SEBAB-SEBAB ADANYA AYAT MUTASYABIH


Sebab adanya ayat Muhkam dan Mutasyabih ialah karena Allah SWT
menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat – ayat yang Muhkam
dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan
ayat yang Mutasyabih.
Imam Ar-Raghib Al- Asfihani dalam kitabnya Mufradatil Qur’an
menyatakan bahwa sebab adanya kesamaran dalam Alquran terdapat 3 hal,
yaitu sebagai berikut:
1. Kesamaran dari aspek lafal saja. Kesamaran ini ada dua macam, yaitu
sebagai berikut:
a. Kesamaran dari aspek lafal mufradnya, karena terdiri dari lafal
yang gharib (asing), atau yang musyatarak (bermakna ganda),
dan sebagainya.
b. Kesamaran lafal murakkab disebabkan terlalu ringkas atau
terlalu luas. Contoh tasyabuh (kesamaran) dalam lafal murakkab
terlalu ringkas, terdapat di dalam surah An-Nisa ayat 3:

‫اء‬
ِ ‫س‬َ ِ‫اب لَ ُك ْم ِمنَ الن‬
َ ‫ط‬َ ‫طوا فِي ْاليَتَا َم ٰى فَا ْن ِك ُحوا َما‬ُ ‫َو ِإ ْن ِخ ْفت ُ ْم أ َ اَّل ت ُ ْق ِس‬
‫ع‬َ ‫ث َو ُربَا‬ َ ‫َمثْن َٰى َوث ُ ََل‬

6
http://nuhudhiyyah.blogspot.com/2016/06/makalah-ulumul-quran-tentang-al-muhkam.html?m=1
Diakses Pada tanggal 17 Oktober 2019 Pukul 10.00 WIB

5
Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku
adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi: dua, tiga atau empat…”
Ayat di atas sulit diterjemahkan. Karena takut tidak dapat
berlaku adil terhadap anak yatim, lalu mengapa disuruh
menikahi wanita yang baik-baik, dua, tiga atau empat.
Kesukaran itu terjadi karena susunan kalimat ayat tersebut
terlalu singkat.

2. Kesamaran dari aspek maknanya, seperti mengenai sifat-sifat Allah


SWT, sifat-sifat hari kiamat, surga, neraka, dan sebagainya. Semua
sifat-sifat itu tidak terjangkau oleh pikiran manusia.
3. Kesamaran dari aspek lafal dan maknanya. Kesamaran ini ada lima
aspek, sebagai berikut:
a. Aspek kuantitas (al-kammiyyah), seperti masalah umum atau
khusus. Contohnya, ayat 5 surah At-Taubah:
  ....
 
....... 
Artinya: “Maka bunuhlah kaum musyrikin itu di manapun
kalian temukan mereka itu”.
Di sini batas kuantitasnya yang harus dibunuh masih samar.
b. Aspek cara (al-kaifiyyah), seperti bagaimana cara melaksanakan
kewajiban agama atau kesunahannya. Contohnya, ayat 14 surah
Thoha:
  ......
 
Artinya: “Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku
(Allah)”.

6
Dalam ayat ini terdapat kesamaran, dalam hal bagaimana cara
salat agar dapat mengingatkan kepada Allah SWT.
c. Aspek waktu, seperti batas sampai kapan melaksanakan sesuatu
perbuatan. Contohnya, dalam ayat 102 surat Ali Imran:
 
 
   
  
 
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama
Islam”.

Dalam ayat ini terjadi kesamaran, sampai kapan batas taqwa


yang benar-benar itu.
d. Aspek tempat, seperti tempat mana yang dimaksud dengan balik
rumah, dalam ayat 189 surah Al-Baqarah:
):‫وليس البر بآن تآتوا البيو ت من ظهور ها (البقة‬
Atinya: “Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-
rumah, juga samar”.
Tempat mana yang dimaksud dengan baliknya rumah, juga
samar.7

E. MACAM-MACAM AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH


Menurut Abdul Jalal, macam-macam ayat Mutasyabihat ada tiga
macam:
1. Ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat
manusia, kecuali Allah SWT. Contoh:
  
  
     
  

7
Acep Hermawan, Ulumul Quran, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2011,hal. 146

7
   
   
   
    
  
Artinya :”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib;
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun
pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfudz)"

3. Ayat-ayat yang Mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang


dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam. Seperti
pencirian mujmal, menentukan mutasyarak, mengqayyidkan yang
mutlak, menertibkan yang kurang tertib.
4. Ayat-ayat Mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar
ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apa lagi orang awam. Hal ini
termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui Allah SWT dan orang-
orang yang rosikh (mendalam) ilmu pengetahuan.8

F. HIKMAH ADANYA AYAT-AYAT MUHKAN DAN MUTASYABIH


Al-Quran adalah rahmat bagi seluruh alam, yang didalamnya terdapat
berbagai mukzijat dan keajaiban serta berbagai misteri yang harus
dipecahkan oleh umat di dunia ini. Alloh tidak akan mungkin memberikan
sesuatu kepada kita tanpa ada sebabnya. Dibawah ini ada beberapa hikmah
tentang adanya ayat-ayat muhkan dan mutasyabih, diantaranya adalah :
1. Muhkam
a. Jika seluruh ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat muhkamat,
maka akan sirnalah ujian keimanan dan amal karena pengertian
ayat yang jelas.

8
http://myrealblo.blogspot.com/2015/11/ulumul-quran-al-muhkam-wal-mutasyabih.html?m=1
Diakses Pada Tanggal 17 Oktober 2019 Pukul 11.30 WIB

8
b. Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya yang kemampuan
bahasa Arabnya lemah. Sebab arti dan maknanya sudah cukup
terang dan jelas.
c. Memudahkan manusia mengetahui arti , maksud dan
menghayatinya.
d. Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati dan
mengamalkan isi al-Qur'an sebab ayatnya mudah dimengerti dan
dipahami.
e. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam
mempelajari isinya.
f. Mempercepat usaha tahfidzul Qur'an.9
g. Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan
bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang
sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi
mereka.
h. Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya.
Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna
maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-
ajarannya.
i. Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan
mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-
ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas
pula untuk diamalkan.
j. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam
mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan
sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus
menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah
yang lain.10

9
http://ebdaaprilia.wordpress.com/2013/05/21/makalah-ulumul-quran-muhkam-mutasyabih/
Diakses Pada Tanggal 17 Oktober 2019 Pukul 11.45 WIB
10
Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008, hal. 230

9
2. Mutasyabih
a. Apabila seluruh ayat Al-Qur’an mutasyabihat, niscaya akan
padamlah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi
manusia orang yang benar keimanannya yakin bahwa Al-Qur’an
seluruhnya dari sisi Allah, segala yang datang dari sisi Allah
pasti hak dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan.
b. Menjadi motivasi untuk terus menerus menggali berbagai
kandungan Al-Quran sehingga kita akan terhindar dari taklid,
membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan
berpikir.
c. Ayat-ayat Mutasyabihat mengharuskan upaya yang lebih banyak
untuk mengungkap maksudnya sehingga menambah pahala bagi
orang yang mengkajinya.
d. Jika Al-Quran mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka untuk
memahaminya diperlukan cara penafsiran antara satu dengan
yang lainnya. Hal ini memerlukan berbagai ilmu seperti ilmu
bahasa, gramatika, ma’ani, ushul fiqh dan sebagainya11
e. Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba
untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana
Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya
akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji,
tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan
menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada
naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana
bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya
akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat
mutasyabih itu.
f. Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat
mutasybih. Sebagaimana Allah menyebutkan wa ma
yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-
orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya
11
Syaih Muhammad Jamil, Bagaimana Memahami Al-Quran, Jakarta :Pustaka Al-Kautsar, 1995
hlm 121

10
Allah memberikan pujian bagi orang-orang yang mendalami
ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa
nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga
mereka berkata rabbana la tuzighqulubana. Mereka menyadari
keterbatasan akalnya dan mengharapkan ilmu ladunni.
g. Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar
apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan
kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa besar
kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.
h. Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra
dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa
kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu
ciptaan Allah SWT.
i. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan
yang bermacam-macam.

11
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Muhkam merupakan ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan
keterangan dari ayat-ayat lain. Sedangkan Mutasyabih berarti ayat-ayat yang
belum jelas maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya,
atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan keterangan tertentu,
atau hanya Allah yang mengetahuinya
Sebab adanya ayat Mutasyabih ialah karena Allah SWT menjadikan
demikian. Imam Ar-Raghib Al- Asfihani dalam kitabnya Mufradatil Qur’an
menyatakan bahwa sebab adanya kesamaran dalam Alquran terdapat 3 hal,
yaitu sebagai berikut:Kesamaran dari aspek lafal saja, kesamaran dari aspek
maknanya, kesamaran dari aspek lafal dan maknanya.
Manfaat adanya ayat muhkan dan mutasyabih diantaranya jika seluruh
ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat muhkamat, maka akan sirnalah ujian
keimanan dan amal karena pengertian ayat yang jelas, Apabila seluruh ayat
Al-Qur’an mutasyabihat, niscaya akan padamlah kedudukannya sebagai
penjelas dan petunjuk bagi manusia

B. SARAN
Bagi semua umat Islam, agar kiranya untuk lebih memahami ‘Ulumul
Qur’an lebih mendalam agar bertambah pula iman kita. Dan mengamalkan
ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anwar .Rosihon.2013.”Ulum Al- Qur’an”. Bandung:CV Pustaka Setia


Ash-Shiddieqy, Hasbi.1993. “Ilmu-ilmu Al-Qur’an”. Jakarta:Bulan Bintang,
Hermawan,Acep. 2011. “Ulumul Quran”.Bandung : Remaja Rosdakarya
Jalal, Abdul. 2008. “Ulumul Qur’an”. Surabaya: Dunia Ilmu
Marzuki, Kamaluddin. 1992. “Ulumul Qur’an”. Bandung: Remaja Rosdakarya
Muhammad,Syaih Jamil.1995. “Bagaimana Memahami Al-Quran”. Jakarta :
Pustaka Al-Kautsar
http://nuhudhiyyah.blogspot.com/2016/06/makalah-ulumul-quran-tentang-al-
muhkam.html?m=1 Diakses Pada tanggal 17 Oktober 2019 Pukul 10.00
WIB
http://myrealblo.blogspot.com/2015/11/ulumul-quran-al-muhkam-wal-
mutasyabih.html?m=1 Diakses Pada Tanggal 17 Oktober 2019 Pukul
11.30 WIB
http://ebdaaprilia.wordpress.com/2013/05/21/makalah-ulumul-quran-muhkam-
mutasyabih/ Diakses Pada Tanggal 17 Oktober 2019 Pukul 11.45 WIB

13