Anda di halaman 1dari 42

Lampiran Keputusan Direktur Utama

Rumah Sakit Umum Bali Royal


Nomor :297/BROS/SK-DIR. RS/II/2018
Tanggal : 15 Februari 2018
Tentang : Pedoman Pelayanan Instalasi
Gawat Darurat di Rumah Sakit
Umum Bali Royal.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumh Sakit merupakan sebuah organisasi yang dalam tujuannya
adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada semua elemen yang
membutuhkan. Pelayanan ksehatan sendiri diartikan sebagai sebuah upaya
yang diselenggarakan oleh suatu organisasi ( Rumah sakit ) untuk memelihara
dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah, menyembuhkan penyakit
serta memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Unutk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal, Rumah sakit
melakukan berbagai upaya dan menyiapkan berbagai fasilitasuntuk
mendukung upaya tersebut. Dalam organisasinya Rumah sakit terdiri dari
beberapa Divisi dan Unit yang akan bekerja secara bersama – sama untuk
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata – rata
penduduk, serta yang menyelenggarakannya sesuai dengan kode etik dan
standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
unit Instalasi Gawat Darurat berada di bawah divisi Rawat jalan yang
dikepalai oleh seorang kepala unit dengan atasan langsung seorang manajer.
Penyusunan buku Pedoman Pelayanan Unit Instalasi Gawat Darurat ini
sangat penting sebagai acuan untuk pelaksanaan pelayanan yang ada di unit
Instalasi Gawat darurat, sehingga mampu memberikan pelayanan yang

1
bermutu dan berkualitas sesuai dengan Visi dari RSU Bali Royal yaitu “
Menjadi pusat pelayanan kesehatan yang unggul ( Center of exelent ) dengan
mengutamakan kepuasan dan keselamatan pasien.”

B. Tujuan
Umum :
Meningkatkan mutu pelayanan di Instalasi Gawat Darurat sesuai standar.
Khusus:
1. Adanya perencanaan pelayanan keperawatan gawat darurat,
2. Adanya pelaksanaan pelayanan keperawatan gawat darurat,
3. Adanya asuhan keperawatan gawat darurat,
4. Adanya pembinaan pelayanan keperawatan gawat darurat,
5. Adanya pengendalian mutu pelayanan keperawatan gawat darurat
C. Ruang Lingkup Pelayanan
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Gawat Darurat sesuai dengan pedoman
kegawat daruratan yang memakai sistem ATS ( Australasian Triage Scale ),
dimana kategori ATS didasarkan pada kondisi klinis pasien yang didapat dari
pemeriksaan fisik dan anamnesa.
1. ATS I ( Australasian Triage Scale I )
 Mengancam kehidupan, tindakan segera
 Tempat ruang resusitasi
2. ATS II (Australasian Triage Scale II )
 Ancaman terhadap kehidupan / organ tubuh akan rusak / gagal
 Penanganan dalam waktu ± 10 menit
 Tempat ruang resusitasi
3. ATS III (Australasian Triage Scale III )
 Potensi mengancam nyawa kehidupan
 Penanganan dalam waktu 30 menit
 Tempat ruang resusitasi / bedah / non bedah
4. ATS IV( Australasian Triage Scale IV )
 Mengancam nyawa kehidupan pasien
 Wakru penanganan 60 menit

2
 Tempat ruang bedah / non bedah
5. ATS V ( False Emergency )
 Waktu penanganan 120 menit
 Tempat ruang non bedah

D. Batasan Operasional
1. Instalasi Gawat Darurat
Adalah unit pelayan di rumah sakit yang memberikan pelayanan
pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara
terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin.
2. Triage
Triage adalah seleksi pasien sesuai tingkat kegawatdaruratan
sehingga pasien terseleksi dalam mendapatkan pertolongan sesuai dengan
tingkat kegawatdaruratannya. Triage bertujuan untuk memastikan bahwa
pasien dirawat sesuai dengan urgensi klinis mereka yang mengacu pada
perlunya intervensi waktu kritis. Urgensi klinis tidak identik dengan
kompleksitas atau keparahan.
Triage adalah titk point pertama kontak pasien dengan IGD.
Pengkajian triage harus dilakukan secara cepat dan akurat dan tidak lebih
dari 5 menit. Triage dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih yang
meliputi keluhan utama dan keadaan umum pasien.
3. Prioritas
Adalah penentuan mana yang harus di dahulukan mengenai
penanganan dan pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang
timbul.
4. Survey Primer
Adalah deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang
mengancam nyawa
5. Survey Sekunder
Adalah melengkapi Survey primer dengan mencari perubahan –
perubahan anatomi yang akan berkembang menjadi semakin parah dan

3
memperberat perubahan fungsi vital yang ada berakhir dengan
mengancam jiwa bila tidak segera diatasi.
6. Pasien Gawat Darurat
Pasien yang tiba – tiba berada dalam keadaan gawat atau akan
menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan
menjadi cacat ) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
7. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadan gawat tetapi tidak memerlukan
tindakan darurat misalnya kanker stadium lanjut.
8. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba – tiba tetapi tidak
mengancam nyawa dan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.
9. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misalnya pasien dengan ulkus pepticum, TBC kulit dan sebagainya.
10. Kecelakaan ( Accident )
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang
datangnya mendadak, tidak di kehendaki sehingga menimbulkan cedera
fisik, mental dan sosial.
Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :
1. Tempat kejadian :
 Kecelakaan lalu lintas
 Kecelakaan di lingkungan rumah tangga
 Kecelakaan dilingkungan pekerjaan
 Kecelakaan di sekolah
 Kecelakaan di tempat – tempat umum lain seperti
halnya : tempat rekreasi, perbelanjaan, di area olah raga,
dan lain – lain.

2. Mekanisme kejadian
Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing, tersengat,
terbakar baik karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi
3. Waktu kejadian

4
a. Waktu perjalanan ( traveling / transport time )
b. Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain – lain.

11. Cidera
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat
kecelakaan.
12. Bencana
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan
atau manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia,
kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan
prasaran umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan
masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan
dan bantuan.
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau
kegaglan dari salah satu system / organ di bawah ini, yaitu :
1. Susunan saraf pusat
2. Pernafasan
3. Kardiovaskuler
4. Hati
5. Ginjal
6. Pancreas
Kegagalan ( kerusakan ) System / organ tersebut dapat disebabkan oleh :
1. Trauma / cedera
2. Infeksi
3. Keracunan ( poisoning )
4. Degenerasi ( failure )
5. Asfiksi
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar ( exsessive loss
of water and electrolit )
7. Dan lain – lain
Kegagalan sistem susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan
hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat,

5
sedangkan kegagalan sistem / organ yang lain dapat menyebabkan
kematian dalam waktu yang lama.
Dengan demikain keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat
Darurat ( PPDG ) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan :
1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat
2. Kecepatan meminta pertolongan
3. Kecepat an dan kualitas pertolongan yang di berikan
a. Di tempat kejadian
b. Dalam perjalanan pulang ke rumah sakit
c. Pertolongan selanjutnya secara mantap di rumah sakit
E. Landasan Hukum
Sebagai acuan dasar pertimbangan dalam penyelenggaraan pelayanan IGD di
rumah sakit diperlukan peraturan perundang-undangan pendukung (aspek
legal). Beberapa ketentuan perundang-undangan yang digunakan adalah
sebagai berikut:
1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan ( Lembar Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor
144 );
2. Undang – Undang Republik Indonsia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah sakit ( Lembar Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor
153 );
3. Peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
159b/Menkes/Per/II/188 tentang Rumah sakit;
4. Keputusann Menteri Kesehatan RI Nomor 265/ Menkes/Per/III/2008
tentang Rekam medis;
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 856 / Menkes/ SK/ IX / 2009
Standar Instalasi Gawat Darurat ( IGD ) Rumah sakit;

6
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IGD adalah :

Nomor Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan


Formal
1 Ka. Instalasi Gawat Dokter Umum Bersertifikat ACLS/ ATLS
Darurat
2 Wa. Ka. IGD DIII. Kep / S1 Bersetifikat
Ners BLS/BTCLS/PPGD
3 Dokter IGD Dokter IGD Bersertifikat ACLS/ ATLS
4 Perawat Pelaksana IGD DIII kep./ S1 Bersetifikat
Ners BLS/BTCLS/PPGD

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu :
a. Untuk Dinas Pagi :
Perawat :
Yang bertugas sejumlah 4 s/d 5 ( empat sampai dengan lima ) orang
dengan standar minimal bersertifikat BLS
Kategori :
1 orang wa.ka.IGD
1 orang Penanggung Jawab Shif
2-3 orang pelaksana
Dokter :
1 orang ka.unit
1 orang dokter RIPAC
1 orang poliklinik
1 dokter ruangan
1 dokter casemix’
1 atau 2 dokter IGD
b. Untuk Dinas Sore :

7
Perawat :
Yang bertugas sejumlah 4 s/d 5 orang dengan standar minimal bersetifikat
BLS
Kategori :
1 orang Penanggung Jawab Shif
3-4 orang pelaksana
Dokter :
1 orang dokter MOD
1 orang poliklinik
2 dokter IGD
1 dokter casemix

c. Untuk Dinas Malam :


Yang bertugas sejumlah 4 orang dengan standar minimal bersetifikat BLS
Kategori :
Perawat :
1 orang Penanggung Jawab Shif
3 orang pelaksana
Dokter :
1 Dokter IGD
1 Dokter MOD

C. Pengaturan Jaga
1. Pengaturan Jaga Perawat IGD
 Pengaturan jadwal dinas perawat IGD di buat dan di
pertanggungjawabkan oleh wakil kepala IGD dan di setujui oleh
Manajer Pratama Rawat Jalan dan di ketahui oleh Manajer
Keperawatan, juga di ketahui oleh Manajer SDM & Pemasaran.
 Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu periode 21 s/d 20 bulan
selanjutnya, dan di realisasikan ke perawat & perawat IGD.
 Untuk staf yang memiliki keperluan penting pada hari – hari
tertentu , maka staf tersebut dapat mengajukan permohonan cuti

8
sebelum jadwal bulan selanjutnya di buat. Permintaan akan
disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada.
 Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas
malam, libur dan cuti. Untuk ketentuan jumlah libur mengikuti
ketentuan dari HRD.
 Apabila ada staf yang karena sesuatu hal tidak bisa jaga sesuai
jadwal akan menginfokan ke ka. Unit / wa.ka IGD .
 Apabila ada tenaga perawat tiba-tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal
yang telah ditetapkan ( tidak terencana ), maka wa.ka IGD akan
mencari perawat pengganti yang libur pada saat tersebut atau
meminta bantuan perawat yang bisa jaga full time.
 Bagi staf yang melakukan pertukeran jaga, akan menulis pada
kolom tukar dinas, untuk cuti pada kolom cuti, pada kolom
komunikasi jika ada sesuatu hal yang perlu dikomunikasikan
( exc : telat, ijin pulang cepat, dll ) yang di setujui oleh ka. IGD
/wa.ka.IGD dan manajer pratama Rajal / Yanmed.
II.Pengaturan Jaga Dokter IGD
 Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung
jawab Ka. Instalasi Gawat Darurat , disetujui oleh Manajer
Pelayanan & Penunjang dan di ketahui oleh Manajer SDM &
Pemasaran.
 Dokter jaga akan di bagi menjadi dokter IGD, dokter
poli, dokter RIPAC, dan ruangan, dan dokter MOD.
 Untuk jadwal jaga dokter di buat untuk periode 21 s/d
20 bulan selanjutnya
 Apabila dokter jaga karena sesuatu dan hal sehingga
tidak dapat jaga sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
o Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan bisa
melakukan pertukaran dinas / meminta perbantuan kepada
teman yang lain untuk tukar dinas / menggantikan jaga saat
tersebut dengan tetap pemberitahuan kepada ka. Unit.

9
o Untuk yang tidak terencana , dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Ka Instalasi Gawat Darurat dan
diharapkan dokter tersebut dapat mencarikan solusi dengan
menunjuk dokter lain libur pada saat itu atau di rangkap oleh
dokter Ripac / oleh Ka.Unit sendiri.
o Bagi dokter yang melakukan pertukeran jaga, akan menulis
pada kolom tukar dinas, untuk cuti pada kolom cuti, pada
kolom komunikasi jika ada sesuatu hal yang perlu
dikomunikasikan ( exc : telat, ijin pulang cepat, dll ) yang di
setujui oleh Ka IGD dan manajer Pelayanan & Penunjang.

BAB III
STANDAR FASILITAS

10
A. Denah Ruangan

Gambar 3.1 Denah Instalasi Gawat Darurat

B. Standar Fasilitas
I. Fasilitas & Sarana
IGD Rumah Sakit Bali Royal berlokasi di lantai 1 gedung utama
yang terdiri dari ruang resusitasi, ruang tindakan medik, ruang observasi,
ruang tindakan, kamar mandi, spoolhock.
Ruangan resusitasi terdiri dari 1 ( satu ) tempat tidur, ruangan
tindakan medik terdiri dari 2 ( dua ) tempat tidur, ruangan observasi
terdiri dari 2 ( dua ) tempat tidur, ruang bedah minor terdiri dari 1 ( satu )
tempat tidur.
2. Peralatan

11
Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada Buku Pedoman
Pelayanan Gawat Darurat Departemen Kesehatan RI untuk penunjang
kegiatan pelayanan terhadap pasien Gwat Darurat.
Alat yang harus tersedia adalah bersifat live saving untuk kasus
kegawatan jantung seperti monitor dan defibrilator.

a. Alat – alat untuk ruang resusitasi :


1. Mesin suction ( 1 set )
2. Oksigen lengkap dengan flowmeter ( 1 set )
3. Laringoscope anak dan dewasa ( 1 set )
4. Spuit semua ukuran ( masing – masing 5 Buah )
5. Oropharingeal air way ( sesuai kebutuhan )
6. Infuset mikro/makro/blood set ( masing – masing 1 buah )
7. Brancard fungsional di atur posisi trendelemberg, ada gantungan
infus & safety bed ( 1 buah )
8. Defibrilator
9. Monitor ECG (1 buah)
10. Trolly emergency yang berisi alat-alat untuk melakukan
resusitasi ( 1 buah )
11. Ambubag ( 1 buah )
b. Alat – alat tambahan di ruang IGD
1. Tensi meter mobile dewasa 2 buah
2. Tensi meter mobile anak 1 buah
3. Oksigen sentral + humidi fire 5 buah
4. Termometer 2 buah
5. Stetoskop anak 1 buah dan dewasa 2 buah
6. Infus set (1 set)
7. 1V catetr segala ukuran ( 1 set )
8. Spuit sesuai kebutuhan
- 1cc ( 5 buah )
- 3cc ( 5 buah )
- 5cc ( 5 buah )

12
- 10cc ( 5 buah )

9. Alat ECG (1 buah )


10. Alat Nebulizer ( 1 buah )
11. Otoscope (1 buah )
12. Emergency lamp ( 2 buah )
13. Tiang infus ( 3 buah )

c. Ambulance
Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien di Rumah Sakit
Bali Royal , saat ini memiliki 1 unit ambulance advance, 1 unit
ambulance travelo dan 1 unit ambulance transfer.

3. Fasilitas & Saranan untuk Ambulance


a. Perlengkapan Ambulance
1. Ac
2. Sirine
3. Lampu rotater
4. Sabuk pengaman
5. Sumber lisrik / stop kontak
6. Lemari untuk alat medis
7. Lampu ruangan
8. wastafel
b. alat & Obat
1. Tabung oksigen sentral
2. Mesin suction
3. Monitor ECG
4. Scope strecher
5. Tas emergency
c. Pemeliharaan , perbaikan, dan kalibrasi peralatan
Setiap peralatan yang ada baik medis dan non medis harus di
lakukan pemeliharaan , perbaikan, dan kalibrasi sgsr peralatan

13
dapat tetap terpelihara dan dapat di gunakan sesuai dengan
fungsinya.
i. Tujuan :
a. Agar peralatan yang ada dapat digunakan sesuai
dengan fungsi dan tujuan
b. Agar nilai yang dikeluarkan dari alat medis sesuai
dengan nilaio yang diinginkan
c. agar peralatan yang ada dapat tetap terpelihara dan
siap digunakan
d. sebagai bahan informasi untuk perencanaan
peremajaan peralatan medis yang diperlukan
ii. Prosedur
a. untuk perbaikan peralatan yang rusak petugas
membuatkan formulir work order , dikirim via email
ke petugas engeenering, kemudian menghubungi
bagian engineering untuk melaporkan adanya
kerusakan alat
b. petugas engeneering akan menindaklnjuti laporan
dengan mengecek alat yang di laporkan mengalami
kerusakan kemudian menjawab di lembar work
order yang sudah di buatkan
c. bila alat tidak dapat diperbaiki oleh teknisi internal,
maka petugas engenering akan menghubungi
vendor alat yang punya.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

14
Pasien

GERBANG IGD
(Entrace Receptionist)
“ VISUAL TRIAGE “

TIDAK GAWAT GAWAT DARURAT


(non critical) (severe critical)

REGISTRASI TRIAGE REGISTRASI RESUSITASI


“ OBJECTIVE TRIAGE “ “ RESUSITATION AND STABILISATION “

TIDAK GAWAT DARURAT DARURAT


(NON EMERGENCY) ( INTERMEDIATE CARE )
“ AMBULATOIRE “ “ NON AMBULATOIRE ”

Ruang resusitasi
ADMINISTRASI NON BEDAH BEDAH

PULANG OBSERVASI MENINGGAL


Maksimal 6 jam

RAWAT INAP

PENITIPAN JENASAH RSAD /


RSUP

Gambar 4.1 Alur Pengaturan Pasien pada Pelayanan IGD

A. TATA LAKSANA REGISTRASI PASIEN IGD

15
Suatu proses / alur bagaimana pasien yang datang ke IGD melakukan
registrasi baik rawat jalan maupun rawat inap.
Rawat jalan :
- Arahkan keluarga pasien ke bagian admission ( jika pasien
belum registrasi )
- Bila tidak ada keluatga , petugas igd akan menghubungi
petugas admission untuk melakukan pendaftaran di IGD
- Peugas IGD akan mengambil bukti registrasi yang
diserahkan oleh admission lewat lorong penghubung
- Untuk pasien asing, petugas igd akan menghubungi bagian
RIPAC untuk melakukan pendaftaran di IGD
- Petugas IGD akan mengambil les pasien yang di serahkan
petugas RM lewat lorong penghubung
Rawat Inap :
- Buatkan formulir pengantar rawat inap dan kriteria
tindakan ( bila pasien perlu tindakan operasi )
- Arahkan keluarga pasien ke bagian CRO untuk pencarian
kamar dan persetujuan biaya dengan membawa formulir
yang sudah di buatkan
- Hubungi petugas CRO untuk memfollow up apakah
pasien sudah ACC biaya kamar & tindakan
- Petugas IGD mengambil form FSP pasien yang diserahkan
petugas CRO lewat lorong
- Untuk pasien asing, petugas IGD menghubungi bagian
RIPAC dan menginformasikan pasien memerlukan
tindakan rawat inap.
B. TATA LAKSANA SKRINING PASIEN
Skrining adalah suatu penerapan tes / upaya mendeteksi terhadap
pasien tanpa / dengan gejala yang bertujuan untuk menentukan seseorang
memiliki kemungkinan menderita suatu penyakit atau kondisi tertentu. Skring
dilakukan start dari awal pasien tiba di rumah sakit atau berada di tempat
kejadian. Petugas melakukan anamnesa terhadap keluhan dan kebutuhan

16
pasien. Dokter melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
( jika di perlukan ). Lakukan tindakan medis sesuai kondisi pasien ( mis.
Pasang neck coller pada kasus trauma ).
Sesuaikan pelayanan yang dibutuhkan pasien dengan fasilitas pelayanan yang
ada di Rumah Sakit Umum Bali Royal. Dokter IGD akan memutuskan
paaisen bisa di rawat di BROS atau di rujuk ke RS lain.

C. TATA LAKSANA PELAYANAN TRIAGE


Triage adalah suatu cara pemilahanpasien berdasarkan kondisi
kegawatannya. Kemudian baru ditentukanprioritas penanganan dan
kebutuhan therapinya, baik pada pasien trauma maupun non trauma dengan
tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan pasien.
Triage di bros menggunakan ATS ( Australian Triage Score ) dan dilakukan
oleh dokter IGD pada saat pasien baru masuk.
Triage dengan ATS di bagi menjadi 5 yaitu :
1. ATS ( Australacian Triage Scale ) I
Keadaan mengancam kehidupan, harus segera di lakukan tindakan.
Gambaran Klinis :
a. Henti jantung
b. Henti nafas
c. Distress pernafasan
d. Frekwensi pernafasa < 10 x/menit
e. Sesak berat
f. Tekanan darah < 80 mmHg atau shock pada anak dan bayi
g. Tidak ada respon / respon hanya dengan rangsang nyeri ( GCS
<9)
h. Kejang yang sedang berlangsung
i. Gangguan jiwa, dengan ancaman kekerasan yang segera
j. Overdosis obat intravena atau hipoventilasi
Pasien Ditempatkan di Ruang Resusitasi
2. ATS (Australacian Triage Scale) II

17
Ancaman terhadap kehidupan / organ tubuh akan rusak atau gagal
jika tidak dilakukan tindakan dalam 10 menit
Gambaran Klinis :
a. Risiko gangguan pada jalan nafas, ngorok berat
b. Sesak nafas
c. Sirkulasi terganggu
- Kulit dingin, perfusi buruk
- HR < 50 atau > 150 x/mnt
- Hipotensi
- Kehilangan banyak darah
- Nyeri dada
d. Nyeri hebat dengan penyebab lain
e. BSL < 2 mmol / lt
f. GCS < 13, penurunan respon
g. Hemiparese / dyphasia mendadak
h. Ddemam dengan tanda – tanda kejang
i. Asam atau basa yang mengenai mata
j. Multiple trauma , trauma lokal berat ( fraktur berat, amputasi )
k. Riwayat risiko tinggi ( pemakaian sedative atau obat toksik
lainnnya )
l. Keracunan
m. Nyeri hebat pada kehamilan di laur kandungan ( extra uterine
gravidarum )
n. Kasus – kasus psychiatri :
- Kekerasan / agresivitas
- Ancaman terhadap diri sendiri
- Kecanduan atau beringas
Pasien ditempatkan di ruang resusitasi
3. ATS (Australacian Triage Scale) III
Pemeriksaan dan pengobatan di mulai dalam waktu 30 menit
berpotensi mengancam nyawa kehidupan :
Gambaran klinis :

18
a. Hipertensi berat
b. Kehilangan darah banyak
c. Nafas pendek
d. SPO2 90-95 %
e. BSL > 16 mmol / lt
f. Demam sebab lain misalnya akibat kekebalan yang menurun,
reaksi steroid
g. Muntah persisten
h. Kurang cairan ( dehidrasi )
i. Cedera kepala
j. Nyeri hebat dengan sebab lain sehingga memerlukan obat
analgesik
k. Nyeri dada bukan karena jantung
l. Nyeri perut, usia pasien > 65 tahun
m. Cedera extremitas sedang ( deformitas, laserasi berat )
n. Terganggunya sensasi raba pada extremitas ( denyut nadi tidak
teraba )
o. Trauma dengan riwayat resiko tinggi
p. Anak – anak beresiko
q. Pcsychiatri
- Sangat stres, risiko untuk melukai diri sendiri
- Psikotic mendadak
- Krisis keadaan
- Ketagihan / potensi untuk menyerang
r. Riwayat kejang
Pasien ditempatkan di ruang resusitasi atau ruang bedah / non
bedah
4. ATS (Australacian Triage Scale) IV
Pemeriksaan dan pengobatan di mulai dalam waktu 60 menit
berpotensi mengancam jiwa
Gambaran klinis :
a. Perdarahan sedang

19
b. Aspirasi benda asing, tidak ada ditres pernafasan
c. Cedera pada dada tanpa gangguan pada pernafasan
d. Cedera kepala ringan tanpa penurunan kesadaran
e. Nyeri sedang
f. Muntah atau diare tanpa dehidrasi
g. Visus nirmal, inflamasi atau benda asing pada mata
h. Rauma extremits ringan, pergelangan kaki terkilir
i. Nyeri abdomen tidak spesifik
j. Psychiatri
- Masalah kesehatan mental
- Dalam pengawasan dan tidak ada risiko langsung terhadap
diri sendiri atau orang lain
Pasien di tempatkan di ruang bedah / non bedah
5. ATS (Australacian Triage Scale) V
Penilaian dan pengobatan di mulai dalam waktu 120 menit
Gambaran klinis :
a. Nyeri ringan
b. Risiko ringan dan tidak ada gejala klinis
c. Gejala ringan dari sakit yang stabil
d. Gejala ringan dari kondisi risiko rendah
e. Luka lecet yang ringan ( tidak memerlukan penjahitan luka )
f. Imunisasi
g. Psikiatri
- Gejala kronik
- Krisis sosial, secara klinis pasien sehat
Pasien ditempatkan di ruang non bedah

D. TATA LAKSANA KONSULTASI DOKTER SPESIALIS


Suatu prosedur / tata cara mengkonsulkan pasien igd ke dokter
spesialis. Dokter KIE pasien / keluarga perlunya penanganan spesialistik.
Konsulkan pasien ke dokter spesialis yang sebelumnya merawat ( jika kasus
sama ), atau dokter organik ( pada pagi hari ). Beri pasien / keluarga informasi

20
dokter yang ada di bros & berikan kesempatan untuk memilih ( jika belum
punya DPJP ). Mintakan formulir permintaan DPJP ( jika pasien minta di
konsulkan ke dokter tidak sesuai jadwal ).

E. TATA LAKSANA PEMAKAIAN AMBULANCE


Suatu prosdur penggunaan ambulace rimah sakit untuk mendukung
kegiatan medis. Jika ada permintaan ambulance atau rencana transfer pasien
yang memerlukan mobil ambulance, maka petugas IGD akan menghubungi
petugas driver ( Ext.799 ), kemudian menginformasikan akan rencana
pemakaian ambulance. Perawat menyiapkan kelengkapan medis ambulance
seperti tas on coll, O2, dll. Untuk unit lain yang memerlukan ambulance
setelah menghubungi driver akan tetap berkoordinasi dengan peugas untuk
kelengkapan obat dan alat di ambulance. Petugas ruangan akan mencatat obat
dan alat yang dipkai pada cek list pemakaian obat.

F. TATA LAKSANA PELAYANAN PASIEN FALSE EMERGENCY


Suatu prosedur penanganan pasien yang tergolong tidak emergency /
kondisi dalam keadaan stabil / sadar. Pasien datang ke IGD tetap di lakukan
triage. Setelah di triage , arahkan pasien ke tempat tidur, kemudian di beri
penanda triage pada tempat tidur dengan kertas warna ( sesuai warna
triage ). Lakukan anamnesa dan vital sign. Jika belum administrasi, arahkan
keluarga untuk melakukan registrasi di admission. Setelah dilakukan
pemeriksaan dokter memutuskan boleh pulang, lengkapi kelengkapan
berkas pulang pasien, dokter meresepkan obat, perawat membawa resep
kefarmasi. Keluarga di antar ke bagian casier beserta balngko IT yang
sudah di IT untuk penyelesaian administrasi.
Tapi jika pasien perlu rawat inap, buatkan formulir pengantar rawat inap dan
kriteria tindakan ( jika pasien perlu tindakan pembedahan ) kemudian
arahkan ke bagian CRO. Dokter menghubungi dokter DPJP ( sesuai
prosedur konsul spesialis ) dan mencatat pada form CPT. Perawat
melaksanakan instruksi dari DPJP, melengkapi berkas rawat inap pasien.

21
Perawat menghubungi ruangan untuk menanyakan tentang kesiapan kamar
pasien. Jika kamar sudah siap pasien di antar keruangan.
Semua data pasien baik yang rawat jalan / rawat ianp di dokumentasikan
pada register IGD.

G. TATA LAKSANA PELAYANAN VISUM ET REPERTUM


Pasien datang ke igd baik dengan kasus trauma maupun non trauma
tetap akan dilakukan triage. Setelah itu diberikan penanganan sesuai dengan
kasus penyakit pasien dan di dokumentasikan pada rekam medis pasien.
Saat ps memerlukan visum , staf igd akan berkoordinasi dengan petugas
rekam medis untuk pembuatan visum. Pasien harus membawa surat
permintaan visum dari petugas kepolisian. Dokter igd akan melengkapi data
pada rekam medis pasien dengan selengkap – lengkapnya seperti pada ksus
trauma, keadaan luka, panjang, lebar, bentuk luka, dll.

H. TATA LAKSANA PELAYANAN DEATH ON ARRIVAL ( DOA )


Death On Arrival ( DOA ) adalah suatu kondisi pasien pada saat
diterima di IGD ( saat dilakukan triage ) sudah tidak teraba nadi, respirasi
tidak ada , dimana kemungkinan pasien sudah meninggal dalam perjalanan.
Saat di igd akan tetap di berikan penanganan secara optimal, dilakukan RJP,
baging sambil di evaluasi kesadaran pasien. Salah satu dokter IGD akan
KIE keluarga pasien tentang kondisi pasien saat di terima serta penanganan
yang akan di berikan.
Saat sudah di nyatakan meninggal, perawat akan melakukan perawatan
jenasah.
Karena saat ini Bros tidak memiliki ruang penitipan jenasah maka petugas
akan KIE keluarga untuk penitipan di ruang penitipan jenasah RSAD atau
RSUP sanglah. Jenasah saat dijemput akan melewati basemane. Dokter
membuatkan surat kematian yang di mintakan kepada petugas RM,
kemudian di serahkan kepada keluarga setelah di tandatangai oleh keluarga (
pastikan yang menandatangi & menerima keluarga inti pasien ). Petugas igd

22
akan menghubungi petugas ambulance jenasah ( sesuai permintaan keluarga
)
I. TATA LAKSANA TRANSFER PASIEN ANTAR UNIT
Suatu prosedur pemindahan pasiendari satu unit ke unit lain untuk
perawatan selanjutnya.
Petugas melengkapi berkas rekam medis rawat inap pasien. Perawat
melakukan koordinasi dengan unit yang akan di tuju tentang kesiapan kamar
serta menginformasikan tentang rencana pemindahan pasien, yang meliputi :
- Identitas pasien ( nama , umur, jenis kelamin )
- Diagnosa medis dan riwayat penyakit
- Kesadaan umum pasien
- Dokter yang merawat
- Alasan pasien dipindahkan
Buatkan formulir transfer pasien antar unit. Cek kembali kondisi pasien
sebelum di transfer keruangan, kemudian sipakan peralatan yang akan di
bawa saat transfer ( sesuaikan dengan kondisi pasien ). Informasikan kepada
pasien dan keluarga tentang rencana pemindahan pasien. Lakukan observasi
selama perjalanan transfer. Lakukan serah terima pasien dengan perawat
ruangan dengan menggunakan form transfer yang sudah di siapkan dan
tandatangani formulir serah terima.

K. TATA LAKSANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pasien IGD setelah di lakukan triage, di berikan penanganan
memerlukan pemeriksaan penunjang baik laboraorium, radiologi ataupun
USG. Dokter KIE pasien, melengkapi formulir permintaan penunjang.
Petugas menghubungi unit terkait dan menginformasikan adanya
permeriksaan. Untuk sampel akan di ambil oleh petugas igd ( jika ada instrusi
pasang infus ). Untuk permintaan CT Scan, petugas igd akan KIE pasien /
keluarga mengenai harga kemudian memintakan persetujuan tindakan resiko
tinggi begitupun denganpemeriksaan lain yang harganya di atas Rp 500 ribu.
Untuk pemeriksaan radiologi/ USG, petugas IGD akan mengantar pasien

23
keruang radiologi sedangkan pemeriksaan lab, petugas yang akan turun ke
IGD.
L. TATA LAKSANA PASIEN KEBIDANAN
Ruang IGD saat ini belum memiliki ruang kebidanan secara khusus
sedangkan ruang kebidanan berada di lantai IV. Saat ada pasien kebidanan
( jika emergency ) petugas IGD akan tetap menangani keemergencyan
pasien, kemudian menghubungi ruang kebidanan dan menginformasikan
kondisi pasien saat itu. Petugas kebidanan akan turun ke igd dengan
membawa set partus. Jika pasien sudah stabil akan di pindahkan keruang
kebidanan dengan di antar oleh perawat dan di dampingi oleh dokter IGD,
sebelumnya 1 tenaga perawat sudah menuju lif pasien untuk membukanan
dan menahan lift sehingga pasien bisa langsung naik.

M. TATA LAKSANA CODE BLUE


Petugas IGD menerima panggilan Code Blue dari line telpon 777 baik
dari ruang rawat ataupun sekitar lingkungan rumah sakit akan adanya
kegawatan pasien. 2 perawat IGD dan 1 dokter akan langsung menuju ke
tempat panggilan dengan membawa alat DC Shock dan kelengkapan lainnya
( jika pasien berada di lingkungan basemane S/d lantai 2. Salah satu petugas
akan menghubungi petugas ICU melalui HT & menginformasikan adanya
panggilan CODE BLUE. 2 petugas ICU akan langsung menuju ketempat
panggilan dengan membawa alat DC shock, O2, Ambubag ( untuk wilayah
lantai 3 ke atas ) sedangkan untuk obat akan di bawa dari IGD.

N. TATA LAKSANA OBERVASI PASIEN DI IGD


Pasien setelah dilakukan penanganan diputuskan memerlukan
tindakan observasi. Observasi dilakukan oleh dokter dan perawat IGD setiap
5 – 15 menit ( sesuai dengan tingkat kegawatannya ). Yang perlu dilakukan
observasi yaitu : keadaan umum pasien, kesadaran paisen, GCS, dan tanda –
tanda vital pasien . perawat melaporkan ke dokter jaga jika ada perburukan.
Dokter jaga melakukan Re- Asesment terhadap kondisi pasien jika terjadi

24
perburukan. Observasi di IGD maksimal 6 jam kemudian di putuskan rawat
inap atau pulang. Hasil observasi terdokumentasi pada rekam medis pasien.

O. TATA LAKSANA TRANSFER PASIEN ANTAR RS


Adalah suatu proses pemindahan pasien dari rsu bali royal ke rs lain untuk
pindah perawatan karena tidak tersedianya sumber daya atau fasilitas sesuai
kebutuhan. Dokter akan KIE keluarga tentang kondisi pasien, rencana
rujukan dan alasan pasien dirujuk. Dokter menghubungi rumah sakit rujukan,
menyampaikan rencana rujukan kemudian menginformasikan identitas
pasien, kondisi saat ini, therapi yang sudah diberikan serta tujuan pasien
dirujuk. Pastikan adanya tempat & pelayanan yang di butuhkan. Tanyakan
nama petugas yang menerima. Buatkan surat rujukan, isi nomor rujukan
( minta pada petugas RM ). Hubungi petugas driver dan informasikan adanya
rencana rujukan. Anjurka keluarga ke bagian kasier untuk penyelesaian
administrasi. Antar pasien ke RS tujuan, tetap monitor kondisi pasien selama
di perjalanan. Operkan pasien kepada dokter jaga di RS tujuan dengan form
transfer antar unit yang sudah di buat.

P. TATA LAKSANA PASIEN PRE – OP


Suatu prosedur penanganan pasien rencana tindakan operasi baik
kiriman maupun langsung dari igd. Perawat akan melakukan penimbangan
BB & TB. Dokter tetap melakukan anamnesa, tanyakan makan minum
terakhir pasien, riwayat alergi, riwayat operasi, juga riwayat pengobatan
pasien. Dokter menghubungi dokter DPJP memastikan rencana tindakan,
kriteria tindakan serta instruksi pre op. Buatkan formulir kriteria operasi +
pengantar rawat inap ( kalau pasien perlu rawat inap ). Hubungi petugas OK
untuk booking ruangan dan menginformasikan adanya rencana tindakan
( tanyakan nama petugas yang menerima ). mintakan tanda – tangan
persetujuan tindakan, anastesi dan persetujuan lainnya ke pasien. Lakukan
pemeriksaan EKG ( pasien umur ≥ 35 tahun & riwayat jantung ) .
pemeriksaan thorax foto ( ps umur ≥ 40 tahun & riwayat penyakit paru ).

25
Serta pemeriksaan BSA untuk pasien riwayat gula darah tinggi. Dokter
melakukan konsul anastesi, internis, paru jantung ( sesuai instruksi DPJP )

Q. TATA LAKSANA KONSULTASI VIA SOSIAL MEDIA


Suatu prosedur dimana staf konsultasi melalui sosial media
( WhatsApp , Line, dll ) untuk kelancaran proses pelayanan. Dokter
memberikan penanganan kepada pasien sesuai dengan triage yang di
tetapkan. Setelah di berikan penanganan pasien perlu konsul spesialistik.
DPJP meminta hasil rontgen / ECG, Lab , dll. Dokter IGD mengirim hasil
yang diminta melalui sosmed. Dokter IGD melakukan konfirmasi ke DPJP
apakah data sudah terkirim / belum. KIE pasien hasil konsultasi kemudian
catat instruksi yang diberikan pada form CPT.

R. TATA LAKSANA PENANGANAN PASIEN GAWAT DARURAT


( EMERGENCY )
Merupakan suatu prosedur penanganan pasien gawat darurat di IGD,
dimana pasien memerlukan penanganan cepat / segera untuk menyelamatkan
nyawa pasien.
Dokter melakukan triege, kemudian arahkan pasien keruang resus. Cek
respon dan kasadaran pasien. Berikan tindakan bantuan hidup dasar atau
tindakan resusitasi. Pasang monitor jantung, berikan therapi O2, pasang infus
( sesuai instruksi dokter ). Beri KIE pada keluarga tentang kondisi pasien,
rencana tindak lanjut, serta perlunya penanganan spesialistik.
Konsul dokter anastesi bila pasien memerlukan tindakan intubasi / rawat
ruang intensif.

S. TATA LAKSANA PERMINTAAN ON CALL


Prosedur permintaan tenaga medis dan ambulance dari costumer
untuk pelayanan pemeriksaan di rumah atau permintaan jemput pasien
kerumah dan di bawa ke rumah sakit.
Telpon diterima oleh operator di sambungkan ke IGD, kemudian klien
menginformasikan kebutuhan akan pelayanan tim medis ke rumah. Petugas

26
yang menerima akan menanyakan kondisi pasien saat ini, alamat , nomor
telpon yang bisa di hubungi. Petugas juga akan menginformasikan biaya on
coll. Petugas menghubungi driver, menginformasikan adanya permintaan on
coll. Siapkan kelengkapan obat dan alat ( sesuai keluhan pasien ). Dokter dan
perawat diantar driver berangkat ke tempat tujuan dan memberikan
penanganan dan therapy sesuai keluhan. Buatkan nota kwitansi, serahkan ke
pasien / keluarga untuk pembayaran di tempat. Lakukan registrasi pasien,
resepkan semua pemakaian obat dan diserahkan ke farmasi. Nota kwitansi
beserta uang diserahkan kebagian casier. Lengkapi berkas rekam medis
pasien dan catat pada log book IGD.
Untuk pasien yang memerlukan rawat inap , KIE pasien untuk rujuk
ke RS agar mendapat penanganan lanjutan. Lakukan observasi selama
perjalanan di ambulance dan catat pada form monitoring transfer
pasien.Hubungi petugas yang stanbay di IGD saat dalam perlananan dan
informasikan kondisi pasien serta kebutuhan pasien.

BAB V

LOGISTIK

1. Prosedur pengorderan barang persediaan di masing-masing unit melalui


sistem

27
2. Prosedur pengorderan barang non persediaan /asset dilakukan dengan
mengisi form permintaan barang dengan mencantumkan nama barang,
spesifikasi barang dan jumlah barang yang diminta dengan jelas, yang
disetujui oleh kepala unit, manajer bersangkutan serta persetujuan
anggaran
3. Jadwal pengorderan dan pengambilan barang oleh unit dapat dilakukan
setiap seminggu sekali (Senin/Rabu/Jumat) mulai jam 08.00 wita - 15.00
Wita
4. Setiap unit melakukan pemakaian barang persediaan pada system setiap
harinya maksimal tgl 25 setiap bulannya
5. Setiap unit melakukan stock opname per tanggal 30/31 setiap bulannya
dan laporkan hasil stok opname ke bagian akunting. Paling lambat setiap
tgl 5 bulan berikutnya

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Keselamatan pasien (pasien safety)
Adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih
aman.

28
System tersebut meliputi :
a. Asesmen resiko
b. Identifikasi pasien.
c. Pelaporan dan analisis insiden.
d. Tindak lanjut dari insiden.
e. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko
B. Tujuan
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
b. Menurunkan kejadian tidak diharapkan di rumah sakit.
c. Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak tidak terjadi
pengulangan KTD.
Sasaran keselamatan pasien :
1. Ketepatan identifikasi pasien.
2. Peningkatan komunikasi yang efektif.
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai( high-alert
medications).
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi.
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan.
6. Pengurangan risiko pasien jatuh.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Rumah sakit memiliki kewajiban dalam menjamin kondisi dan fasilitas yang
aman, nyaman dan sehat bagi sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien
pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan Rumah Sakit melalui
pengelolaan fasilitas fisik, peralatan, teknologi medis secara efektif dan efisien.

29
Dalam rangka melaksanakan kewajiban tersebut harus sesuai dengan standar
K3RS
Keselamatan adalah suatu tingkatan keadaan tertentu dimana gedung,
halaman/ground, peralatan, teknologi medis, informasi serta sistem di lingkungan
Rumah Sakit tidak menimbulkan bahaya atau risiko fisik bagi pegawai, pasien,
pengunjung serta masyarakat sekitar. Keselamatan merupakan kondisi atau situasi
selamat dalam melaksanakan aktivitas atau kegiatan tertentu. Sedangkan
keamanan adalah suatu kondisi yang melindungi properti milik Rumah Sakit,
sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung,
maupun lingkungan Rumah Sakit dari bahaya pengrusakan dan kehilangan atau
akses serta penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang. keamanan kerja
adalah unsur-unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana kerja yang
aman, baik berupa materil maupun non materil.

Standar keselamatan dan keamanan di Rumah Sakit bertujuan untuk mencegah


terjadinya kecelakaan dan cidera serta mempertahankan kondisi yang aman bagi
sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung,
maupun lingkungan Rumah Sakit.

Langkah-Langkah Keselamatan dan Keamanan di Rumah Sakit


Langkah-langkah yang dilakukan untuk melaksanakan standar keselamatan dan
keamanan sebagai berikut:
a. Identifikasi dan penilaian risiko yang komprehensif menyangkut keselamatan
(lantai licin, terjebak lift, lift anjlok, dan lain-lain) dan keamanan (pencurian,
penculikan bayi, kerusuhan, dan lain-lain)

b. Pemetaan area berisiko terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan di


Rumah Sakit.

c. Melakukan upaya pengendalian dan pencegahan lain pada kejadian tidak aman :

1) Menghilangkan kondisi yang tidak standar, contohnya:

a) Tidak cukup batas pengaman atau pagar

b) Tidak cukup atau benar alat pelindung diri

30
c) Alat atau material rusak

d) Tempat kerja atau gerakan terbatas

e) Bahaya kebakaran atau peledakan

f) Lingkungan kerja, bahaya gas, uap, asap dan lain-lain

g) Bising, radiasi, suhu ekstrim

h) Kurangnya penerangan

i) Kurang ventilasi
2) Menghilangkan tindakan yang tidak standar, contohnya:
a) Operasikan mesin atau alat tanpa ijin
b) Operasikan tidak sesuai SOP, misalnya kecepatan
c) Lalai mengingatkan
d) Lalai mengamankan
e) Melepas atau membuat pengaman alat tidak berfungsi
f) Memakai alat yang rusak atau tidak semestinya

g) Lalai memakai APD

h) Tidak sesuai dalam meletakkan/mengangkat/ mengambil posisi

i) Merawat peralatan yang sedang beroperasi

j) Bercanda

k) Dalam pengaruh alkohol atau narkoba

3) Mengurangi unsur kesalahan oleh manusia, contohnya:

a) Tidak cukup kemampuan fisik atau mental

b) Stres fisik atau mental

c) Kurang pengetahuan (tidak memahami SOP)

d) Kurang keterampilan

e) Motivasi yang salah

4) Mengurangi unsur kesalahan dari pekerjaan, contohnya:

a) Tidak cukup kepemimpinan atau pengawasan

b) Tidak cukup engineering

31
c) Tidak cukup pembelian

d) Tidak cukup perawatan

e) Rusak atau aus (wear and tear)

f) Salah penggunaan

5) Mengurangi unsur kesalahan dari pengendalian, contohnya:

a) Program tidak sesuai atau cukup (kurang pengawasan dan pengarahan)

b) Standar program tidak cukup atau spesifik

c) Pelaksanaan program tidak sesuai standar

6) Sosialisasi enam unsur keamanan, meliputi sarana, lingkungan, tempat,


prosedur, tindakan dan anggaran

7) Memastikan prinsip kewaspadaan standar :

a) Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD), sesuai dengan jenis pekerjaan


yang dilakukan.

b) Cara kerja aman, dengan selalu berpedoman pada Standar Operasional


Prosedur (SOP), serta dilindungi oleh peraturan-peraturan yang ada.

c) Pengelolaan lingkungan untuk selalu menyesuaikan dengan lingkup


pekerjaan yang dilakukan, dengan substitusi, eliminasi dan administrasi.
d) Penempatan pasien yang tepat, dengan pemberian pengaman tempat tidur
yang cukup, pegangan khusus pada kamar mandi, dengan tujuan
menghindari pasien jatuh (patient safety).

e) Pencegahan kecelakaan dan cidera, dengan pemberian atau penempatan


tanda-tanda bahaya atau risiko yang jelas di setiap sudut Rumah Sakit,
agar memudahkan pasien, staf dan pengunjung mendapatkan pelayanan
yang diharapkan.

f) Pemeliharaan kondisi yang aman, dengan mensosialisasikan kode-kode


yang disepakati dan harus dipahami oleh seluruh pekerja (kebijakan
diserahkan kepada unit kerja terkait), untuk menjamin keamanan Rumah
Sakit, sebagai contoh :

⁻ Kode merah untuk bahaya kebakaran

32
⁻ Kode biru untuk serangan jantung atau kondisi tidak sadar

⁻ Kode hitam untuk penculikan bayi

⁻ Kode orange untuk kondisi darurat

8) Menginspeksi semua bangunan perawatan pasien dan memiliki rencana


untuk mengurangi risiko yang sudah jelas dan menciptakan fasilitas fisik
yang aman bagi pasien, keluarga pasien, staf dan pengunjung.

9) Melakukan dokumentasi pemeriksaan fasilitas fisiknya yang terbaru, akurat


terhadap fasilitas fisiknya.

10) Melakukan pengkajian keselamatan dan keamanan selama terdapat proyek


konstruksi dan renovasi serta penerapan strategi-strategi untuk mengurangi
risiko.

11) Melakukan pemantauan dan pengamanan area-area yang diidentifikasi


berisiko keamanan.

12) Memastikan semua staf, pegawai pihak ketiga, dan vendor sudah
diidentifikasi.

13) Memberikan tanda pengenal sementara selama di area Rumah Sakit.

14) Semua area berisiko tinggi keamanan dan area-area yang terbatas sudah
diidentifikasi, didokumentasi dan
dipantau serta terjaga keamanannya. Contohnya ruang bayi, ICU, utililitas,
dan lain-lain.
15) Rencana dan anggaran Rumah Sakit disusun dengan memperhatikan
kebutuhan yang menunjang aspek keselamatan dan keamanan.

16) Rencana dan anggaran Rumah Sakit disusun untuk perbaikan atau
penggantian sistem, bangunan, atau komponen-komponen yang diperlukan
agar fasilitas dapat beroperasi dengan selamat, aman, dan efektif secara
berkesinambungan.

17) Pimpinan Rumah Sakit menerapkan anggaran sumber daya yang sudah
ditetapkan untuk menyediakan fasilitas yang selamat dan aman sesuai
dengan rencana-rencana yang sudah disetujui.

33
18) Memastikan perlindungan setiap orang yang ada di Rumah Sakit terhadap
kerugian pribadi dan dari kehilangan atau kerusakan properti.

19) Mengelola, memelihara dan mensertifikasi sarana, prasarana dan peralatan


Rumah Sakit, terutama penyediaan listrik, air, pembuangan limbah,
ventilasi dan pengelolaan gas medik

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Pemantauan Indikator Mutu dan Keselamatan Pasien


Indikator mutu dan keselamatan pasien yang menjadi prioritas rumah sakit
dilakukan evaluasi dalam upaya melakukan perbaikan dan peningkatan
kualitas pelayanan. Pemilihan indikator yang akan diambil sebagai indikator
mutu rumah sakit diprioritaskan berdasarkan nilai tertinggi pada skala
prioritas. Data indikator dikumpulkan oleh penanggung jawab di masing-

34
rnasing unit / bagian kemudian dilakukan analisis dengan pendekatan PDCA
kemudian dilaporkan kepada Komite PMKP dan ditembuskan ke Komite
PMKP untuk kemudian dilaporkan kepada Direktur RSU Bali Royal dalam
rapat triwulan dan rapat tahunan. Komite PMKP bertanggung jawab dalam
proses validasi, benchmarking serta pelaporan dan tindak lanjut hasil
rekomendasi
1. Indikator Nasional
Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah
sakit ,perlu disusun suatu indicator yg akan mengukur kualitas pelayanan di
rumah sakit.Kementrian kesehatan telah menetapkan 12 indikator terpilih
mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit,di laporkan melalui system
Sismadak yg ditentukan berdasarkan hal hal sebagai berikut :
1. Kepatuhan Identifikasi pasien
2. Emergency Respon Time ( EMT)
3. Waktu tunggu rawat jalan
4. Penundaan operasi elektif
5. Ketepatan jam,visite dokter spesialis
6. Waktu Lapor Hasil Tes Kritis Laboratorium
7. Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional ( FORNAS)
8. Kepatuhan cuci tangan
2. Indikator Area Klinis
3.Indikator Manajemen
4.Indikator Sasaran Keselamatan Pasien
5.Indikator KTD (kejadian yang tidak diharapkan)
B. Program Pengendalian Mutu Unit Kerja
Program PMKP di unit kerja dibuat berdasarkan indikator mutu dan
keselamatan pasien di unit kerja tersebut,dari data data permasalahan yang
ada di unit,system dan proses yang memperlihatkan variasi proses penerapan
pelayanan dan hasil pelayanan yang paling banyak,perbaikan yg berdampak
pada efisiensi dan dampak pada perbaikan system. Program mencakup proses
identifikasi indikator, melakukan prioritas indikator, pengumpulan data,
analisis data dan pelaporan hasil, serta metode perbaikan mutu dengan
pendekatan PDCA. Program PMKP di masing-masing unit kerja sebagai
dasar menentukan indikator rumah sakit dalam program PMKP RSU Bali
Royal.Pelaporan indicator dilakukan di system SIMUTU. Pelaporan program

35
ditujukan kepada Direktur RSU Bali Royal berkoordinasi dengan komite
PMKP dan ditembuskan kepada komite PMKP ke direktur yang disetujui
oleh pemilik.
Berikut ini adalah indicator di unit IGD :
1. Waktu Tanggap Pelayanan Petugas ( Dokter & Perawat )

JUDUL INDIKATOR Waktu Tanggap Pelayanan Petugas ( Dokter & Perawat ) di IGD

DIMENSI MUTU Safety TIPE INDIKATOR Proses & Outcome

TUJUAN Terwujudnya pelayanan yang cepat ,responsive dan mampu menyelamatkan


pasien gawat darurat.

DEFINISI Waktu tanggap petugas IGD terhadap pasien gawat darurat ( emergency) yang
OPERASIONAL dilayani dengan tindakan life saving kurang atau sama dengan 5 menit, yang
dihitung sejak saat pasien datang di IGD.

ALASAN/ Keterlambatan pertolongan pasien gawat darurat dapat berakibat memperburuk


IMPLIKASI/
prognosis, kecacatan dan kematian.
RASIONALISAS
I

FORMULA Jumlah pasien gawat darurat yang mendapat pertolongan pertama kurang atau
sama dengan 5 menit ÷ jumlah semua pasien emergency yang mendapat
pertolongan pertama dalam periode waktu yang sama x 100 = … %

NUMERATOR Jumlah pasien emergency yang mendapat pertolongan pertama kurang atau
sama dengan 5 menit

DENOMINATOR Jumlah semua pasien emergency yang mendapatkan pertolongan pertama


dalam periode waktu yang sama.

TARGET 100 %

SAMPLING Pengambilan sampel dilakukan di IGD

KRITERIA Semua pasien gawat darurat (Emergency )


INKLUSI

KRITERIA Pasien urgen, non urgent & False Emergency


EKSKLUSI

PENCATATAN Pencatatan dilakukan setiap ada pasien gawat darurat yang datang ke
IGD,kemudian di rekap setiap bulan oleh PIC.

36
Data ditabulasi dan diserahkan ke UPM

ANALISA & Analisa dan pelaporan dilakukan tiap 3 bulan oleh UPM
PELAPORAN

AREA IGD

PENANGGUNG Kepala Unit IGD


JAWAB

2. Angka Kegagalan Pemasangan Infus di IGD

JUDUL Angka kegagalan pemasangan infuse di IGD


INDIKATOR

DIMENSI Safety TIPE INDIKATOR Proses & Outcome


MUTU

TUJUAN Terjaminnya skill dan ketrampilan perawat IGD dalam hal pemasangan
infus, baik pada pasien bayi, anak maupun dewasa.
DEFINISI Angka kejadian kegagalan petugas IGD dalam melakukan tindakan pemasangan
OPERASIONA infuse terhadap pasien yang mendapat therapy I.V line baik pasien bayi, anak,
L dewasa.

ALASAN/ Terjaminnya kemampuan & ketrampilan tenaga perawat dalam


IMPLIKASI/
RASIONALIS pemasangan infuse.
Terjaminnya kepuasan pasien terhadap pelayanan IGD.
ASI

FORMULA Jumlah total tindakan pemasangan infuse yang lebih dari satu kali tusuk ÷ jumlah
total tindakan pemasangan infuse di IGD dalam periode waktu yang sama x 100 =
…%

NUMERATOR Jumlah pasien yang dilakukan pemasangan infus > 1x tusuk dalam satu

37
bulan
DENOMINAT Jumlah total pasien yang dilakukan tindakan pemasangan infus dalam satu
OR
bulan
TARGET < 1%

SAMPLING Pengambilan sampel dilakukan di IGD

KRITERIA
INKLUSI Semua Pasien yang terpasang infus

KRITERIA Pasien yang tidak terpasang infus, Pasien kiriman yang sudah terpasang
EKSKLUSI
infus
PENCATATAN Pencatatan dilakukan setiap ada tindakan pemasangan infuse di IGD, di rekap
setiap bulan oleh PIC, kemudian data ditabulasi dan diserahkan ke UPM

ANALISA & Analisa dan pelaporan dilakukan tiap 3 bulan oleh UPM
PELAPORAN

PIC IGD

PENANGGUN Kepala IGD


G
JAWAB

3. Tingkat Kepuasan Pelanggan terhadap Pelayanan Pasien

JUDUL Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan IGD


INDIKATOR

DIMENSI MUTU Safety TIPE INDIKATOR Proses & Outcome

TUJUAN Untuk memantau mutu pelayanan IGD baik dari staf, skill maupun fasilitas
DEFINISI Tingkat kepuasan pelanggan/ pasien yang datang berobat ke IGD harus lebih
OPERASIONAL dari ≥ 70 %
ALASAN/ Dengan mengetahui tingkat ketidakpuasan pasien selama ditangani di IGD kita bisa
IMPLIKASI/
mengukur mutu pelayanan IGD sehingga kita bisa
RASIONALISASI
meningkatkan mutu dari pelayanan

FORMULA Total jumlah pasien yang puas terhadap pelayanan IGD ÷ total jumlah pasien yang
di layani di IGD dalam periode waktu yang sama x 100 = … %

NUMERATOR Jumlah pasien yang puas tehadap pelayanan IGD dalam satu bulan

38
DENOMINATOR Jumlah kunjungan pasien IGD dalam satu bulan
TARGET ≥ 70%

SAMPLING Dari total jumlah pasien yang puas terhadap pelayanan IGD ( ini di dapat setelah di
kurangi dengan jumlah pasien yang komplin terhadap pelayanan IGD, yang di
sampaikan lewat guest comment/ penyampaian langsung ke bagian hupel
keperawatan )

KRITERIA
INKLUSI Semua Pasien IGD

KRITERIA
EKSKLUSI Pasien yang komplin lewat guest comment / per lisan

PENCATATAN Pencatatan dilakukan setiap ada keluhan dari pelanggan baik yang di tulis melalui
guest comment atau penyampaian langsung ke bagian hupel keperawatan, di rekap
setiap bulan oleh PIC, kemudian data ditabulasi dan diserahkan ke UPM

ANALISA & Analisa dan pelaporan dilakukan tiap 3 bulan oleh UPM
PELAPORAN

AREA IGD

PENANGGUNG Kepala IGD


JAWAB

4. Pemberi Pelayanan Kegawatdaruratan yang bersertifikasi & masih Berlaku


BLS/PPGD/BTCLC

JUDUL Pemberi Pelayanan Kegawatdaruratan yang bersertifikasi & masih Berlak

39
INDIKATOR BLS/ PPGD/ BTCLS
DIMENSI MUTU Safety TIPE INDIKATOR Proses & Outcome

TUJUAN Untuk memantau mutu pelayanan IGD terutama dari skill / keterampilan
DEFINISI Pemberi pelayanan, untuk memberikan pelayanan yang berkualitas terutama di
OPERASIONAL unit emergency harus terlatih kegawatdaruratan dan tersertifikasi BLS/ PPGD/
BTCLS
ALASAN/ Dengan adanya tenaga yang terlatih dan tersertifikasi kegawatdaruratan akan menjamin
IMPLIKASI/
mutu layanan IGD.
RASIONALISASI

FORMULA Total jumlah tenaga perawat IGD yang tersertifikasi BLS/PPGD/BTCLS yang masih
berlaku ÷ total jumlah tenaga perawat IGD x 100 = … %

NUMERATOR Jumlah total tenaga perawat yang tersertifikasi BLS/PPGD/BTCLS yang masih
berlaku
DENOMINATOR Jumlah total tenaga perawat IGD saat ini
TARGET 100 %

SAMPLING Dari sertifikat pelatihan BLS / PPGD / BTCLS semua tenaga perawat yang terkumpul

KRITERIA
INKLUSI Semua sertifikat tenaga perawat

KRITERIA
EKSKLUSI Tenaga yang belum punya sertifikasi dan yang masa berlakunya sudah expired

PENCATATAN Pemantauan dilakukan setiap bulannya dari sertifikasi yang terkumpul dan di revisi, d
rekap setiap bulan oleh PIC, kemudian data ditabulasi dan diserahkan ke UPM

ANALISA & Analisa dan pelaporan dilakukan tiap 3 bulan oleh UPM
PELAPORAN

AREA IGD

PENANGGUNG Kepala IGD


JAWAB

Indikator mutu Rumah Sakit dibuatkan sensus harian setiap hari dan
dimasukkan kesismadak setiap minggu. Untuk pemantauan Indikator mutu
unit dibuatkan sensus harian setiap hari dalam bentuk excel kemudian pada
akhir bulan dilakukan rekap, hasil rekap di masukkan ke Simutu. Seluruh data

40
bisa di akses langsung oleh PMKP. Hasil capaian indikator unit harus
dibuatkan grafik dalam bentuk line kemudian di tampilkan di unit terkait.

BAB IX
PENUTUP

Demikian Pedoman Pelayanan unit IGD di susun, sebagai acuan di dalam


pelayanan unit Instalasi Gawat darurat, untuk meningkatkan kualitas pelayanan
secara keseluruhan. Pedoman ini akan mengalami perbaikan dalam upaya
peningkatan kualitas dari waktu ke waktu sehingga diperlukan suatu evaluasi
secara teratur dan berkelanjutan.

41
Ditetapkan di : Denpasar
Pada Tanggal : 15 Februari 2018
Rumah Sakit Umum Bali Royal

dr. Dwi Ariawan


Direktur RS

42