Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jumlah kasus Gagal Ginjal Kronik (GGK) saat ini bertambah dengan cepat, terutama di
negara berkembang. Pada tahapan tertentu progresivitas penyakit GGK cepat berubah menjadi
GGK tahap akhir. Penyakit GGK tahap akhir ini menjadi masalah kesehatan yang utama karena
akan memperburuk kondisi kesehatan seseorang dan meningkatkan biaya perawatan. Ada
beberapa alternatif terapi pengganti ginjal salah satunya Hemodialisa selain CAPD ( Continuous
Ambulatory Peritoneal Dialysis) dan Transplantasi Ginjal. Hemodialisa dilakukan 10-12 jam
seminggu atau 2 kali seminggu selama 4-5 jam .Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal
yang banyak dipilih . Berdasarkan estimasi WHO secara global lebih dari 5 juta orang
mengalami penyakit GGK, sekitar 1,5 juta orang harus bergantung hidupnya pada hemodialisa.

Di Indonesia , berdasarkan Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia, jumlah
pasien GGK diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa
dan usia lanjut.Menurut Depkes RI tahun 2009,terdapat sekitar 70 ribu pasien GGK yang
memerlukan penanganan hemodialisa.

Beberapa penelitian menyimpulkan presentase penyebab terjadinya GGK yaitu


Glomerulonefritis (36,4%), penyakit ginjal obstruktif dan infeksi ginjal (24,4%),penyakit ginjal
diabetes (19,9%), Hipertensi (9,1%),penyebab lainnya (5,2%), penyebab yang tidak diketahui
(3,8%) dan penyakit ginjal polikistik (1,2%).

Dengan meningkatnya prevalensi penyakit GGK tahap akhir, Rumah Sakit harus berupaya
menyediakan pelayanan hemodialisa untuk mengurangi mortalitas penderita GGK tahap akhir.
Hemodialisa menjadi terapi pengganti ginjal yang rutin bagi penderita GGK tahap akhir.

Buku pedoman pelayanan ini disusun dengan harapan dapat menjadi pedoman bagi unit terkait
dalam melaksanakan manajemen pelayanan, khususnya pada Unit Hemodialisa RSU Bali Royal.

Sesuai perkembangan IPTEK dan dinamika tuntutan pelanggan, tentunya kedepannya pedoman
pelayanan ini secara periodik perlu dilakukan evaluasi dan revisi guna penyempurnaan
materinya. Untuk hal tersebut diharapkan adanya saran yang konstruktif dari semua unit kerja /
pihak yang terkait.

B. Tujuan Pedoman

Umum: meningkatkan kualitas pelayanan pasien gagal ginjal melalui pedoman pelayanan
hemodialisis yang berorientasi pada keselamatan dan keamanan pasien.

Khusus:

1. Memberi acuan regulasi pelayanan Hemodialisa

2. Memberi acuan manajemen pelayanan Hemodialisa

3. Memberi acuan tugas pokok dan fungsi serta kompetensi masing – masing tenaga yang
terlibat dalam pelayanan hemodialisa

4. Memberi acuan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelayanan Hemodialisa

5. Memberi acuan pola pembiayaan yang berkaitan dengan pelayanan Hemodialisa .

C. Ruang Lingkup Pelayanan

Pelayanan tindakan hemodialisa akan dilakukan di unit pelayanan hemodialisa yang berada
di lantai 4 rumah sakit umum bali royal, dimana tempat tersebut berada di dekat ICU/HCU,
OK, ruang bersalin dan laboratorium dan ruang bayi. Di dalam Unit hemodialisa kami
mempunyai 6 buah mesin Belco dimana 4 buah mesin di sebelah timur dapat digunakan
untuk pasien HD konvensional dan HD SLEED dan 2 buah mesin di sebelah barat selain
dapat digunakan pada pasien dengan HD konvensional dan HD SLEED mesin ini juga dapat
melakukan tindakan HD HFR. Keunggulan dari hemodialisa yang kami miliki selain dapat
melakukan tindakan hemodialisa konvensional, juga dapat melakukan tindakan Hemodialisa
SLEED, dan HFR. Dimana HD SLEED dikerjakan pada pasien dengan kondisi tidak stabil
sedangkan HFR supaya hasil yang didapatkan dari pasien HD kulit tidak menjadi hitam dan
kualitas hidup pasien menjadi lebih baik.

D. Batasan Operasional

Pelayanan unit hemodialisa kami dapat melayani tindakan hemodialisa sehari 2 kali sesuai
dengan jadwal dinas yang berlaku. Seluruh persiapan yang dibutuhkan unit hemodialisa yang
berupa barang medis akan dilakukan pengamprahan seminggu 2 kali dan barang non medis
termasuk ATK dilakukan pengorderan seminggu 1 kali.

E. Landasan Hukum
a. Undang – undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

b. Undang – undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah

c. Undang – undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran

d. Peraturan Pemerintah RI No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

e. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 920// Menkes/SK/Per/XII/1986 tentang Upaya


Pelayanan Kesehatan Swasta Di Bidang Medik

f. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/SK/Per/IX/1989 tentang Persetujuan


Tindakan Medik

g. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749/ Menkes/SK/ Per/XII/1989 tentang Rekam


Medis/ Medical Record

h. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 436 tahun 1993 tentang berlakunya Standar
Pelayanan Medis Indonesia

i. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman


Organisasi Rumah sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan

BAB II

STANDAR KETENAGAAN HEMODIALISIS

Standar ketenagaan adalah untuk mencapai tujuan dan sasaran yang optimal dari program
pelayanan hemodialysis perlu ditata pengorganisasian pelayanan yang bertugas dan wewenang
yang jelas dan terinci baik secara administrative maupun tehnik.

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pada dasarnya kegiatan hemodialisa harus dilakukan oleh petugas yang memiliki kualifikasi
pendidikan dan pengalaman yang memadai, serta memiliki kewenangan untuk melaksanakan
kegiatan di bidang yang menjadi tugas atau tanggung jawabnya. Pemenuhan jenis dan jumlah
tenaga hemodialisa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan serta peraturan perundang-
undangan. Untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di unit hemodialisa di RS Bali
Royal diperlukan pembinaan dan pengembangan kompetensi.
Pembinaan/pengembangan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan
Tujuan pendidikan dan pelatihan adalah
1. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan pelaksanaan tugas dapat
meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja
2. Menambahkan pengetahuan wawasan perawat pelaksana
a. Pendidikan : perawat pelaksana berdasarkan kompetensi harus berpendidikan
minimal D3 keperawatan
b. Pelatihan : pelatihan untuk meningkatkan kompetensi petugas diunit hemodialisa,
dilaksanakan melalui :
- Pelatihan internal yaitu program Diklat yang dilaksanakan rutin oleh bagian
Diklat HRD
- Pelatihan eksternal yaitu pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak luar RS Bali
Royal, khususnya pelahian yang berhubungan dengan hemodialisis

N JABATAN KUALIFIKASI JUM


O LAH
1 Konsultan/Superv Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal 1
isor Hipertensi
2 Ka.Unit HD S 1 K e p e r a w a t a n 1
b e r s e r t i f i k a t
H D
3 Pelaksana HD S 1 / D 2
3 K e p e r a w a t a n
b e r s e r t i f i k a t
H D

B. Distribusi Ketenagaan

Jumlah perawat pada unit hemodialisa ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan
ketersediaan ventilasi mekanik. Perbandingan perawat dan pasien yang menggunakan
ventilasi mekanik adalah 1: 1, sedangkan Perbandingan perawat dan pasien yang tidak
menggunakan ventilasi mekanik adalah 1 : 2 (keputusan menteri kesehatan republic
Indonesia nomor 1778/MENKES/SK/VII/2010) setiap perawat di beri tangung jawab ekstra
akomodasi, inventaris, mesin reuse. Mengontrol dan mengevalusi dilakukan oleh Kepala
Ruangan, mengatur kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain Jumlah tenaga dokter
pelaksana minimal adalah 1 dokter untuk setiap 4 mesin hemodialisis dan jumlah tenaga
perawat minimal adalah 1 perawat untuk setiap 2 mesin hemodialisis.
C. Pengaturan Jaga

a. Pengertian

Suatu cara penyusunan jadwal dinas petugas di ruang HD

b. Tujuan

• Agar terlaksananya pelayanan HD yang efektif dan efisiensi

• Perawat HD mengetahui hak dan kewajibannya

• Dapat diketahui distribusi tenaga

• Memudahkan meminta pertanggungjawaban bila terjadi kesalahan prosedur


pelayanan

Dari penjelasan diatas kita dapat menentukan jadwal dinas untuk ruangan hemodialysis jadwal
yang akan di buat sesuai dengan peraturan perundang-undangan tenaga kerja yaitu:

1. Jadwal dinas disusun oleh Ka. Ruangan setiap bulan minggu III

2. Jadwal dinas dibuat rangkap3 (1 Manajer Pratama Pelayanan Rawat Jalan, 1 HRD, 1 Arsip di
Unit).

3. Pembagian libur perbulan:

• Tenaga HD : mendapat hak cuti 12 hari kerja dan mendapat libur tambahan sesuai dengan
libur kalender

4. Ketentuan rotasi tenaga shift, pagi 3x, sore 3x

5. Jadwal dinas dibagi dalam 2 shift

• Dinas Pagi : 07.30 s.d. 14.30 Wita

• Dinas Sore : 13.00 s.d. 20.00 Wita

6. Jadwal oncoll dibuat setiap bulan bersamaan dengan jadwal dinas harian, dimana karyawan
mendapatkan hak libur setelah menyelesaikan tugas tersebut.
BAB III

STANDAR FASILITAS RUANGAN HEMODIALISA

A. Denah Ruang
MESIN
Office

Ruang Office

Re Use 150 sq. ft.


BED PASIENOffice

TOILET
MESIN
Office
Office MESIN
148 sq. ft.

Office
BED PASIENOffice
150 sq. ft.
MESIN
Office

MESIN

BED PASIENOffice

MESIN
Office

B. Denah Ruang RO
73'-6"
6'-0"

8'-6" 8'-6"
18'-0"

5'-0"
RUANG RO

C. Standar Fasilitas

Fasilitas unit hemodialisa dibali royal sudah disesuaikan dengan standar pendirian unit
hemodialisa.

A. Pengertian
Unit Hemodialisa adalah suatu ruangan khusus untuk melaksanakan tindakan hemodialysis
baik akut maupun kronik

B. Persyaratan

Persyaratan unit Hemodialisa sebagai berikut :

1. Unit Hemodialis

A. Letak

Letak Hemodialisa dekat dengan ICU sebagai pendukung penanganan pasien ICU
maupun pasien gawat darurat

B. Kondisi Ruangan

- Suhu ruangan harus 22-25˚C

- Penerangan cukup terang

- Daya listrik sesuai dengan kebutuhan mesin

- Satu stop kontak satu mesin

- Mempunyai saluran pembuangan khusus (drainage rejeck)

- Mempunyai wastafel

- Lantai dan dinding mudah dibersihkan secara medis

2. Tersedia Water treatmen dengan ketentuan sebagai berikut:

- Kemampuan suplai air minimal 500ml/menit untuk satu mesin

- Memenuhi standart mutu air untuk dialysis

- Sistem pengaliran melalui kran air untuk dihubungkan dengan mesin hemodialysis

- Tersedia kran-kran air

3. Mesin Hemodialisa

- Lengkap dan kondisi siap

- Pasien dengan hepatitis B sebaiknya menggunakan mesin khusus dan unit HD BROS
sudah menerima pasien Hemodialisa dengan infeksius.

- Sesudah menggunakan mesin harus di desinfektan sesuai dengan ketentuan


- Kalibrasi mesin hemodialysis dilakukan secara periodic sesuai batas waktu
penggunaan.

- Bila mesin mati (posisi off) akibat gangguan listrik segera lakukan manual maksimal
20 menit, bila listrik tidak menyala stop hemodialysis.

4. Ketenagaan

- Perawat terlatih dan bersertifikat dari pelatihan dialysis

- Ada dokter terlatih sebagai penangung jawab

- Ratio perawat : mesin dianjurkan 1 : 2 ( referensi 1: 3)

- Model tim kerja terdiri dari Dokter Nefrologist, perawat, ahli gizi, dan teknisi mesin

5. Tersedia obat-obatan untuk keperluan hemodialisa

Dalam unit hemodialisa harus ada obat-obatan sebagai penunjang bila ada kondisi pasien
gawat yang terdiri dari :

- Obat khusus : heparin protamine, NaCl 0,9%

- Troly Emergenci lengkap

6. Peralatan

Semua peralatan yang ada di ruangan hemodialysis harus beroda memudahkan mobilisasi
dan mudah dibersihkan sedangkan untuk mesin hemodialysis petunjuk penggunaannya
harus di tempel pada alat tersebut dan mudah dibaca

7. Pasien

- Untuk pasien Hemodialisa harus mempunyai indikasi dialysis

- Harus ada permintaan dokter yang dilengkapi dengan pemeriksaan

- Surat izin atau persetujuan tindakan hemodialysis

- Pada kasus tertentu hemodialysis tidak dapat dilakukan sebelum ada hasil
pemeriksaan hemodialisis

C. Persyaratan Minimal Bangunan dan Prasarana

a. Unit Hemodialisa mempunyai bangunan dan prasarana yang terdiri dari :

- Ruangan hemodialysis
Ruangan hemodialysis sekurang-kurangnya mempunyai kapasitas 4 mesin
hemodialysis

Rasio mesin hemodialysis dengan luas ruangan sekurang-kurangnya 1 : 8m²

- Ruangan pemeriksaan/konsultasi

- Ruangan dokter dan Ruangan perawat (Nurse Station), Ruangan administrasi

- Ruangan reuse dan Spoelhok

- Ruangan pengolahan air (Water Treament)

- Ruangan steril alat

- Ruangan penyimpanan obat

- Ruangan penerimaan pasien dan Rekam medik

- Ruangan penunjang non medic yang sekurang kurangnya terdiri dari gudang, peralatan,
tempat cuci

- Toilet masing-masing terdiri dari toilet untuk petugas dan untuk penunggu pasien

b. Seluruh ruangan harus memenuhi persyaratan minimal untuk kebersihan, ventilasi,


penerangan dan mempunyai sistem keselamatan kerja dan kebakaran

c. Mesin hemodialysis yang digunakan untuk mempergunakan dan memberikan pelayanan


harus secara berkala di kalibrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

d. Mempunyai fasilitas listrik dan penyedian air bersih (Water treatment) yang memenuhi
persyaratan kesehatan

e. Mempunyai prasarana pengolahan limbah dan pembuangan sampah sesuai peraturan


yang berlaku (septic tank besar /rujukan limbah infecsius)

f. Mempunyai saluran limbah infecsius

g. Tiap unit hemodialysis sangat dianjurkan memiliki fasilitas akses internet untuk dapat
mengirim laporan berkala ke supervisor dan PERNEFRI pusat (Registrasi PERNEFRI)

D. Peralatan di Unit Hemodialisia


1. Perangkat Khusus Hemodialisis /set HD terdiri dari: Mesin hemodialysis, Dialiser / ginjal
buatan, Arteri blood line (ABL), Venous Blood Line (VBL), AV vistula abocath no G16,
Dialisat

2. Alat-alat kesehatan : Tempat tidur fungsional, Timbangan berat badan elektrik, Pengukur
tinggi badan, Stetoskop, Thermometer, EKG, Set pemberian O2, Suction set

Meja tindakan : Monitor tensi, Defebrilator, Bak instrument, Kassa steril, Arteri klem,
Sarung tangan steril, Verban, Gunting verban, Infus set, Alcohol swab, Betadhin dalam
tempat tertutup ukuran kecil, Spuit dengan berbagai ukuran, Bantal kecil, Maat kan,
Handsaplast, Plester, braunudrm

3. Obat-obatan dan cairan

• Obat-obatan hemodialysis : Heparin, Protamine sulfat, Lidocain untuk anastesi local

• Cairan infus : NaCl 0,9% → 500 ml, D5%, D10% → 500 ml, Dextrose 40%→ 25
ml

• Dialisat

- Desinfektan : Alcohol 70%; Iodine Povidin 10%; Sodium hypochlorite 5%; H2O2
3%

- Obat-obatan emergency yang perlu disediakan : Dexsametason, Dopamine, Kcl 1


meq/L, Anti histamine, Primperan, Adrenlin HCL, Diazepam, Calcium Gluconat,
Sulfas Atropin, Nifedin tab 10 mg, Isorbid Dinitrad 5 mg, Paracetamol, Captopril
12,5 mg

4. Alat tenun : Laken, Stik laken, Sarung bantal, Duk steril meliputi split dan duk lubang,
Selimut, Perlak

5. Alat-alat rumah tangga : Tempat sampah medis dan non medis, Perangkat pembersih
lantai, Plastic sampah hitam dan kuning,

6. Alat-alat kantor : ATK, Formulir HD, Persetujuan tindakan, Form Lab, Form Radiologi,
Resep

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN HEMODIALISIS

A. KONSEP PELAYANAN HEMODIALISIS

Konsep pelayanan hemodialysis dilakukan secara :

1. Komprehensif

2. Pelayanan dilakukan sesuai standar pasien safety

3. Peralatan yang tersedia harus memenuhi ketentuan

4. Semua tindakan harus di dokumentasikan dengan baik

5. Harus ada monitor evaluasi

B. PROSEDUR PELAYANAN HEMODIALISIS

Tindakan Hemodialisis (HD pertama) dilakukan setelah melalui pemeriksaan, konsultasi dengan
konsultan atau dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) yang bersertifikat HD.

Sebelum melakukan tindakan hemodialisis pasien harus sudah melakukan cek laboratorium yaitu
Darah Lengkap, Elektrolit, Albumin, Fungsi Ginjal, Hepatitis B dan Hepatitis C serta HIV dan
sudah berkordinasi dengan dokter konsultan HD. pasien yang melakukan hemodialisia harus
dengan keadaan umum baik.

Setiap tindakan yang akan dilakukan terdiri dari :

- Persiapan pelaksanaan hemodialysis 30 menit

- Pelaksanaan hemodialysis selama 4 jam 30 menit

- Evaluasi pasca hemodialysis 30 menit

Sehingga setiap pelaksanaan hemodialysis diperlukan waktu mulai dari persiapan sampai dengan
waktu pasca hemodialysis minimal 6 jam

Tindakan hemodialysis harus memberikan pelayanan sesuai standart profesi dan memperhatikan
hak pasien termasuk membuat informed consent.

C. PROSEDUR PELAYANAN TRAVELING DIALISIS


Traveling Dialisis adalah suatu bentuk tindakan dalam melayani pasien asing atau local yang
melakukan perjalanan keluar dari daerah pasien berasal sehingga mendapatkan kepastian jadwal
hemodialisa sebelum pasien datang ke unit hemodialisa yg baru.

Pasien atau keluarga pasien bisa mendapatkan informasi pelayanan HD di RSU Bali Royal
dengan mengirim e-mail Info@baliroyalhospital.co.id atau ke www.baliroyalhospital.co.id bisa
juga dengan no telp (0361) 247499 ditujukan ke pada dokter bagian Nefrologi.

Pasien dan dokter sudah sepakat untuk melakukan dialysis di RSU Bali Royal maka pasien akan
mengirimkan data traveling dan data medis melalui email, setelah itu pasien akan di hubungi
kembali oleh petugas untuk memastikan jadwal tindakan hemodialisa yg akan dilakukan.

Dokter akan mengisi formulir asuransi bila ada setelah itu pasien akan melakukan

D. ALUR PASIEN DALAM PELAYANAN HEMODIALISIS

Pasien hemodialysis dapat berasal dari :

1. Poli

2. IGD

3. Rawat Inap (termasuk ruangan intensif)

4. Rujukan Rumah Sakit lain

5. Travelling

E. PENGENDALIAN LIMBAH

Mengikuti pengendalian limbah di rumah sakit

BAB V
LOGISTIK

A. Prosedur Penyediaan Alat Kesehatan dan Obat di Unit Hemodialisa


1. Pengertian
Penyediaan Alat Kesehatan dan Obat di hemodialisa adalah permintaan obat dan
alat kesehatan ke instalasi farmasi (depo) atas permintaan dokter.
2. Prosedur :
a. Permintaan obat atau alat kesehatan ditulis pada resep rangkap 1 oleh dokter
DPJP.
b. Resep obat dilengkapi nama dokter, tanggal, nama pasien, ruangan dan nomor
rekam medis (sesuai Stiker).
c. Resep diberikan ke depo farmasi untuk proses dan selanjutnya di serahkan ke
petugas HD.
B. Perencanaan Peralatan
1. Pengertian
Suatu kegiatan untuk merencanakan pengadaan peralatan baru, sesuai kebutuhan
saat itu atau sebagai pengganti alat yang rusak atau harus diganti karena
keausannya.
2. Tujuan:
Tujuan dari perencanaan pengadaan dan peremajaan peralatan adalah agar
peralatan dapat digunakan setiap saat tanpa adanya hambatan dan menunjang
proses pelayanan di hemodialisa
3. Prosedur Kegiatan
a. Dilakukan pengecekan rutin, sehingga diketahui peralatan yang tidak dapat
digunakan atau tidak dapat diperbaiki, dan direncanakan dalam anggaran rutin
atau diganti yang baru.
b. Pengajuan pembelian peralatan baru sesuai dengan budget program tahunan,
diajukan oleh ka unit diketahui manajer pratama pelayanan rawat jalan di
teruskan ke budgeting, setelah disetujui budgeting akan diteruskan ke bagian
purchasing medis/non medis untuk di lakukan penawaran dan pembelian.

c. Bila sudah terealisasi kepala unit menerima alat dan menandatangani serah terima barang
serta menambahkan pada buku inventaris.

BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Keselamatan pasien (pasien Safety) adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman .system tersebut meliputi :

- Assessment resiko

- Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien

- Pelaporan dan analisis insiden

- Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut

- Implementasi solusi untuk meminimalkan timbul resiko

Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

Pasien yang melakukan tindakan hemodialisis memiliki resiko cukup besar terinfeksi hepatitis B
dan Hepatiitis C karena terpapar oleh tindakan ataupun produk darah. Cara penularannya
melalui:

1. Mesin HD

2. Dialiser yang digunakan

3. Ruang hemodialisis

4. peralatan lain

Agar pada waktu tindakan hemodialisis aman (SAFETY) maka harus dilakukan hal seperti
berikut :

1. Pada mesin

Setiap kali prosedur hemodialisis selesai dilakukan dekontaminasi pada mesin dialysis baik pada
bagian luar mesin maupun dalam mesin dengan mengunakan desinfectan kimia sesuai dengan
panduan masing – masing mesin.

2. Air RO (Reverse Osmosis)

• Air RO : air tanah /permukaan yang telah mengalami proses pemurnian sehingga
memenuhi standar AAMI (the Associstion Internasional Advencement of Medical
Instrumentation)

• Pipa – pipa RO harus dipisahkan jalurnya sesuai hasil serologi pasien

3. Pada dialiser
• Pemprosesan dialiser ulang dilakukan dengan menerapkan prinsip kewaspadaan universal
yang ketat

• Dialiser ulang tidak dibenarkan dipakai oleh pasien dengan HBsAg positif.

• Dialiser ulang pada prinsipnya dapat digunakan oleh pasien anti HCV positif dan HIV
positif, namun harus menerapkan prinsip kewaspadaan universal ketat.

• Setiap dialiser ulang diberi label nama jelas

• Tempat penyimpanan dialiser ulang dengan anti HCV positif atau anti HIV positif
dipisahkan dengan kedua marken negative

4. Ruang hemodialisis

• Ruang tempat penyimpanan peralatan medis maupun obat terpisah dari ruang pasien

• Seluruh aktifitas berkaitan dengan persiapan medis maupun obat dilakukan di ruang
khusus

• Jarak antara msing – masing tempat tidur atau kursi dan mesin HD tidak terlalu rapat

• Memiliki penerangan dan sirkulasi udara yang memadai

• Memiliki ruang khusus terpisah untuk pasien HBsAg positif

5. Peralatan lain

• Untuk mencegah, obat vital multi dosis hanya boleh digunakan berulang kali pada pasien
yang sama

• Semua peralatan medic steril yang dibawa ke ruang HD di batasi secukupnya dengan
keperluan saat itu

• Meja dorong yang berisi peralatan medic yang steril jangan di taruh dekat pasien

• Sampel darah dan cairan tubuh lainya dijauhkan dari area penempatan obat – obatan dan
peralatan medic

• Peralatan seperti kursi roda tempat tidur dialysis meja pasien dan yang lain dibersihkan
dengan klorin 10%

• Gorden fabric screen harus dicuci setiap 1 – 2 bulan. VHB dapat hidup sampai 7 hari di
tempat ini walaupun tidak ada darah yang jelas terlihat

• Linen :
- Sprei dan sarung bantal pasien harus diganti segera setelah dialysis

- Linen kotor di taruh di tempat khusus

- Bila linen terpercik darah, disiram terlebih dahulu dengan klorin 1% sebelum ditaruh di
tempat linen kotor

- Linen dengan HBsAg positif ditempatkan terpisah dan dicuci dengan larutan klorin 1%

B. Tujuan

1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit terutama di ruangan hemodialisa

2. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap masyarakat dan pasien

3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit

4. Terlaksananya program – program pencegahan sehingga tidak terjadi penanggulangan


kejadian tidak diharapkan

C. Sembilan solusi keselamatan pasien di RS

1. Perhatikan Nama Obat, rupa dan ucapan mirip (Look – like, Sound – Alike, Medication
Name)

2. Pastikan indentifikasi pasien

3. Komunikasi secara benar saat serah terima / pengoperan pasien

4. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar

5. Kendalikan cairan elektrolit pekat (concentrated)

6. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan

7. Hindari salah kateter dan salah sambung slang (Tube)

8. Gunakan alat injeksi sekali pakai

9. Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk mencegak infeksi nosokomial

BAB VII

KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian
Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat kerja/ aktifitas
karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya yang
disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit.
B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja di RS
2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
3. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya
4. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi

C. Tata laksana keselamatan karyawan


Setiap petugas medis dan non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi yaitu
1. Menganggap bahwa pasien dan dirinya sendiri dapat menularkan infeksi
2. Menggunakan alat pelindung diri( sarung tangan, kaca mata, sepatu boot, alat kaki
penutup, celemek, masker, dll) terutama bila terkontak dengan specimen pasien yaitu
urin, darah, muntahan, secret, dll)
3. Melakukan perasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang
ada, misalnya memasang kateter, menyuntik, menjahit luka, aff infuse
4. Terdapat tempat sampah infeksius dan non infeksius
5. Mencuci tangan dengan sabun anti septic sesuai dengan 5 momen
6. Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilisasi yaitu
a. Dekotaminasi dengan larutan klorin
b. Pencucian dengan sabun
c. Pengeringan
7. Menggunakan baju kerja yang bersih
8. Melakukan upaya-upaya medis yang tepat dalam menangani pasien hepatitis saat
hemodialisa

BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

A.Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang mengusahakan agar pekerjaan atau
kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana dan kebijakan yang ditetapkan dapat mencapai
sasaran yang dikehendaki. Pengawasan memberikan dampak yang positif berupa :

1. Menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan,


hambatan dan ketidaktertiban
2. Mencegah terulang kembali kesalahan penyimpangan, penyelewengan, pemborosan,
hambatan dan ketidaktertiban
3. Mencari cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik untuk mencapai tujuan dan
melaksanakan tugas yang dibebankan
B. Pengendalian
Pengendalian merupakan bentuk atau bahan untuk melakukan perbaikan yang terjadi
sesuai dengan tujuan arah pengawasan dan pengendalian. Bertujuan agar semua
kegiatan dapat tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna. Dilaksanakan sesuai
dengan rencana,pembagian tugas, rumusan kerja, pedoman pelaksanaan dan peraturan
yang berlaku.
Empat langkah yang dapat dilakukan dalam pengawasan dan pengendalian mutu
pelayanan yaitu
1. Penyusunan standar biaya, standar performance mutu, standar kualitas pelayanan
2. Penilaian kesesuaian yaitu membandingkan dari produk yang dihasilkan atau
pelayanan yang ditawarkan terhadap standar tersebut.
3. Melakukan koreksi bila diperlukan, yaitu dengan mengoreksi penyebab dan
factor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
4. Perencanaan peningkatan mutu, yaitu membangun upaya-upaya yang
berkelanjutan untuk memperbaiki standar yang ada.
C. Bentuk –bentuk pengawasan dan pengendalian mutu
Beberapa bentuk pengawasan dan pengendalian mutu di unit HD adalah sebagai
berikut :
1. Melakukan pertemuan ruangan untuk menentukan indicator mutu unit,indicator
mutu area klinis dan indicator sasaran keselamatan pasien dan insiden lain.
2. Menetapkan penanggung jawab untuk pengumpulan data, pencatatan, analisis dan
pelaporan data
3. Pelaporan data dilakukan setiap bulan kepada komite mutu dan keselamatan
pasien
4. Menyusun instrument penilaian staf dan melakukan penilaian kinerja setiap
bulannya
5. Melakukan analisis dan tindak lanjut hasil analisis kinerja staf
6. Melaporkan hasil analisis kinerja staf kepada manager
7. Melakukan penilaian kinerja unit dan analisis kinerja unit serta membuat laporan
dan rencan tindak lanjut serta rekomendasi kepada pelayanan medic
D. Pembinaan
Pembinaan terhadap staf dan karyawan RS bali royal khususnya unit hemodialisa
sangat diperlukan untuk menjaga mutu atau meningkatkan mutu layanan unit
hemodialisadengan melakukan :
1. Pertemuan rutin bulanan staf unit hemodialisa
2. Melakukan supervise atau komunikasi dengan konsultasi atau non medis lainnya
E. Pengembangan
1. Pengembangan sarana dan prasarana yang ada di unit hemodialisa berupa
penambahan jumlah mesin dan perluasan ruangan.
2. Peningkatan sumber daya manusia yang ada di unit hemodialisa dengan
mengikuti kegiatan keilmuan berupa :
a. Pelatihan hemodialisa
b. Mengikuti pertemuan ilmiah tahunan perhimpunan nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) maupun ikatan perawat dialisis Indonesia (IPDI)
c. Mengikuti seminar dan workshop khususnya bidang dialisis
d. Mengikuti pelatihan, seminar, dan workshop tentang kesehatan selain dialisis.

BAB IX

PENUTUP
Dengan meningkatnya jumlah penderita yang memerlukan pelayanan hemodialisis, maka
sepatutnya menjadi perhatian unsure-unsur pemberi pelayanan untuk meningkatkan dan
mengembangkan pelayanan demi pemenuhan kebutuhan tersebut. Selain sarana dan prasarana
pengembangan dan peningkatkan sumber daya manusia juga perlu diperhatikan.

Upaya terus menerus untuk mengacu pada standart pelayanan terbaik adalah harapan dari
para konsumen kesehatan. Melalui pelayanan prima diharapkan kualitas hidup para penderita
gagal ginjal kronis dapat ditingkatkan dan dapat berperan produktif pada bangsa dan Negara