Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian


1) Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian ini adalah peserta didik kelas X Kimia
Industri SMK Negeri Mojoagung yang berjumlah 36 peserta didik
terdiri dari 15 laki – laki dan 21 perempuan. Subjek penelitian dipilih
berdasarka permasalahan yang di dapatkan selama proses belajar
mengajar pada mata pelajaran produktif Kimia Industri TDPLK.
2) Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri Mojoagung
khususnya di kelas X jurusan Kimia Industri.
3) Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran
2019/2020.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Penelitian ini mengacu pada penelitian tindakan kelas dengan pusat
penekanan pada upaya penyempurnaan dan peningkatan kualitas proses
serta praktek pembelajaran. Penelitian ini lebih menfokuskan pada
penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi
stoikiometri di kelas X Kimia Industri SMK Negeri Mojoagung tahun
pelajaran 2019/2020.
Dalam kegiatannya yang berbentuk Randoms Siclus, sebanyak 2 (dua)
siklus, dengan mengacu pada model yang diadaptasi dari Suharsini Arikunto
( 2006 : 16 ) ”PenelitianTindakan Kelas secara garis besar terdapat empat
tindakan yang lazim dilalui , yaitu (1) Perencanaan ,(2) Pelaksanaan, (3)
Pengamatan , dan (4) Refleksi” dan selanjutnya dikatakannya juga ”
Penelitian tindakan harus sekurang – kurangnya dalam dua siklus tindakan

19
yang berurutan . Informasi dari siklus terdahulu menentukan bentuk siklus
berikutnya ”.
Prosedur atau langkah – langkah penelitian tindakan kelas ini terdiri
dari siklus – siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang
dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor – faktor yang telah
diselidiki.
Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan dengan menggunakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Istilah dalam bahasa Inggris adalah
Classroom Action Research (CAR). Ada tiga pengertian yang diterangkan
antara lain:
(1) Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek
dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk
memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam
meningkatkan suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
(2) Tindakan, menunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja
dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk
rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
(3) Kelas, dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi
dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal
dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan
istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama,
menerima pelajaran yag sama dari guru yang sama pula (Suharsimi
dkk, 2012).
Penelitian tindakan kelas (PTK) dapat didefiniskan sebagai suatu
penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang
sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain
(kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan
tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk
memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di
kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus.
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata guru
dalam kegiatan pengembangan profesinya (Kunandar, 2013).

20
Gambar 1 Tahapan Pelaksanaan PTK (Suharsimi dkk, 2012)

Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dalam PTK
antara lain :
(1) Tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan (planning)
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, apan,
dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
(2) Tahap 2 : Pelaksanaan tindakan (acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksaan yang merupakan
implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan
tindakan di kelas. Guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang
sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar
dan tidak dibuat-buat.

21
(3) Tahap 3 : Pengamatan (observing)
Tahap ke-3 yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh pengamat.
Kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat agar
melakukan “pengamatan balik” terhadap apa yang terjadi ketika
tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini, guru
pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar
memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
(4) Tahap 4 : Refleksi (reflection)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa
yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan
ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian
berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi
rancangan tindakan.

C. Rencana Pembelajaran Pra Siklus


Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus. Siklus
pertama adalah materi konsentrasi larutan, stoikiometri larutan dan reaksi.
Materi tersebut direncanakan selama 2 x 5 jam pelajaran. Pembelajaran pada
siklus I membahas mengenai satuan apa yang digunakan dalam konsentrasi
larutan, persamaan yang digunakan dalam mencari besarnya molaritas, serta
perhitungan atau stoikiometri dalam persamaan reaksi kimia. Pembelajaran
PBL dilakukan dengan diskusi kelompok dan praktikum. Diskusi kelompok
pada siklus pertama adalah mengenai pembahasan konsentrasi larutan serta
stoikiometri larutan dan reaksi.
Pelaksanaan pembelajaran adalah pembelajaran PBL yang berpusat
pada peserta didik, guru bertindak sebagai fasilitator. Pada setiap pertemuan,
guru memberikan apersepsi untuk menyiapkan peserta didik masuk ke
dalam materi. Guru dan peserta didik melakukan diskusi informasi
mengenai materi pada pertemuan tersebut. Kemudian, guru memberikan
permasalahan kepada siswa, yaitu permasalahan nyata yang ada di
lingkungan. Peserta didik kelas X KI dibagi menjadi 6 kelompok. Peserta
didik diberikan waktu untuk mendiskusikan permasalahan tersebut dengan

22
bimbingan guru. Setelah itu, peserta didik diberikan waktu untuk
mempresentasikan hasil diskusi. Guru mengevaluasi hasil pemecahan
masalah bersama peserta didik dan menganalisis, serta menyimpulkan hasil
pemecahan masalah tersebut. Guru memberikan tugas kepada peserta didik
untuk membuat jurnal untuk praktikum pada pertemuan selanjutnya.
Kegiatan observasi dilakukan oleh dua orang observer (pengamat).
Hal yang diamati antara lain, aktivitas, karakter, praktikum yang dilakukan
oleh peserta didik, sikap dan psikomotorik peserta didik. Pengamatan
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengisi lembar
observasi keaktifan siswa sesuai indikator, antara lain oral activity, listening
activity, dan sebagainya. Pengamatan sikap siswa dari lembar penilaian
sikap. Pengamatan psikomotorik siswa dilihat dari lembar penilaian
keerampilan yaitu pada saat peserta didik melakukan praktikum.
Pada setiap siklus dilakukan evaluasi. Evaluasi tersebut dilakukan
setelah pertemuan selesai, yaitu pada akhir pembelajaran pada hari itu. Hasil
evaluasi tersebut dilakukan untuk perbaikan pada siklus selanjutnya.

D. Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus I


Prosedur pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini setiap siklus
meliputi: Perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
a. Perencanaan Tindakan
Guru dan pengamat mendiskusikan tentang pelaksanaan rencana
pembelajaran mengacu dari siklus pertama yang telah diperbaiki serta
menyampaikan alat – alat pendukung beserta lembar pengamatan.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada pelaksanaan ini guru dan pengamat melaksanakan sesuai rencana
yang ada dalam rencana pembelajaran.
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama tindakan berlangsung pengamatan
mencangkup aktifitas peserta didik dan aktifitas guru dengan lembar
pengamatan. Adapun perolehan data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :

23
1) Teknik Pengumpulan Data
Data yang akan diambil selama kegiatan pembelajaran
diperoleh dengan cara melakukan observasi, dokumentasi, dan tes.
(a) Observasi
Dilaksanakan dengan menggunakan instrument pengukuran
kinerja afektif maupun psikomotor, untuk mengukur indikator-
indikator kerja, efisiensi, dan kerja sama antara peserta didik,
guru dan kolaborator dalam proses pembelajaran.
(b) Tes
Dilaksanakan dengan menggunakan tes tertulis dan tes unjuk
kerja untuk mengukur kemampuan dan keterampilan peserta
didik dalam menguasai materi.

2) Alat Pengumpul Data


(1) Butir soal penjajakan diambil dari soal- soal materi yang
berkaitan dengan materi pokok. Untuk mengidentifikasi
kemampuan peserta didik sebelum diberi tindakan dan
sekaligus untuk menentukan tingkatan/rangking tiap-tiap
peserta didik guna membentuk kelompok kooperatif.
(2) Butir soal evaluasi untuk mengetahui kemajuan dan prestasi
hasil belajar setiap siklusnya dibuat sesuai materi pokok yang
dipelajari.
(3) Instrumen observasi, yaitu berupa skala penilaian yang akan
diisi oleh pengamat pada saat proses pembelajaran yang
berhubungan perilaku, pengajar dan aktifitas belajar peserta
didik.
d. Refleksi
Guru dan pengamat mendiskusikan tentang hasil pembelajaran,
jalannya pembelajaran, dan mengkaji ulang tentang kekurangan ataupun
kelebihan pada siklus ini. Selanjutnya penyempurnaan dari kekurangan
siklus ini dilaksanakan pada siklus berikutnya.

24
E. Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II
a. Perencanaan
Guru dan pengamat mendiskusikan tentang pelaksanaan rencana
pembelajaran mengacu dari siklus pertama yang telah diperbaiki serta
menyampaikan alat – alat pendukung beserta lembar pengamatan.
b. Pelakasanaan Tindakan
Pada pelaksanaan ini guru dan pengamat melaksanakan tindakan yang
mengacu pada refleksi yang telah diperbaiki / disempurnakan.
c. Pengamatan
Guru dan pengamat mengamati dampak pelaksanaan. Apakah telah
sesuai dengan rencana dan hambatan atau kendala apa yang dihadapi peserta
didik maupun guru.
d. Refleksi
Diskusi bersama guru dan pengamat tentang pelaksanaan. Apakah
pelaksanaan telah membawa hasil peningkatan motivasi belajar peserta
didik kelas X KI SMK Negeri Mojoagung, Kabupaten Jombang? Dan masih
adakah kekurangan ( kelemahan ) dari siklus ini? Jika kekurangan (
kelemahan ) dirasa sudah tidak ada dan hasil telah memenuhi batas minimal
ketuntasan maka tindakan berakhir. Namun jika masih ada kekurangan
(kelemahan) dalam pelaksanaan pembelajaran dan belum terlihat adanya
peningkatan hasil belajar maka dilanjutkan dengan tindakan siklus ke – 2
dan siklus selanjutnya yang langkah - langkahnya seperti pada siklus
sebelumnya.

25
Untuk lebih jelasnya pelaksanan antar siklus dapat dilihat pada
gambar berikut :

Permasalahan Alternatif Pemecahan Pelaksanaan tindakan


I I
(Rencana Tindakan)

Terselesaikan
Siklus I

Belum Alternatif Pemecahan Pelaksanaan tindakan


Terselesaikan II II
(Rencana Tindakan

Siklus II

Refleksi II Analisis Data II Observasi II

Gambar 2. Skenario Penerapan Model Pembelajaran

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat
kuantilatif, karena terdiri dari teknik kuantitatif dan kualitatif. Teknik
kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kemampuan memecahkan
masalah dan hasil belajar peserta didik. Sedangkan teknik kualitatif
digunakan pada saat melakukan refleksi pada setiap siklus tindakan. Dalam
refleksi tersebut akan dibandingkan kemampuan memecahkan masalah dan
hasil belajar peserta didik antara sebelum dengan setelah dilakukan
tindakan. Sehingga diketahui apakah sudah terjadi peningkatan kualitas
pembelajaran ataukah belum. Adapun analisis data adalah sebagai berikut.

26
1. Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik ditentukan berdasarkan skor yang
diperoleh peserta didik pada ranah kognitif. Hasil kognitif peserta didik
ditentukan dari skor perolehan nilai hasil tes pada masing-masing siklus.
Purwanto (2005:25) menyimpulkan bahwa ”penilaian hasil belajar
digunakan untuk dasar pertimbangan membuat keputusan tentang
perbaiakan program pengajaran. Khusus untuk fungsi ini dan fungsi-
fungsi lain yang sangat penting, sebaiknya digunakan pendekatan PAP,
dan bukan PAN agar hasilnya lebih akurat”. Berdasarkan pendapat
tersebut maka penilaian hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan
PAP (Pedoman Acuan Patokan). Adapun prosedur penilaian hasil belajar
adalah sebagai berikut.

a. Ranah kognitif
Hasil belajar ranah kognitif diukur dengan menggunakan
instrumen soal tes. Jawaban yang diberikan oleh peserta didik akan
diskor berdasarkan rubrik hasil belajar ranah kognitif dan rubrik
kemampuan memecahkan masalah. Soal tes yang digunakan adalah soal
esai yang berjumlah 4 butir soal. Apabila semua soal dikerjakan dengan
benar, maka skor tertinggi yang diperoleh adalah 4x4= 16.
Penggunaan PAP dapat dilakukan dengan 4 model. Dalam
penelitian ini akan digunakan model I. Purwanto (2005:16) menyebutkan
bahwa penggunaan PAP model I adalah dengan cara sebagai berikut.
Model I menggunakan rumus:

∑𝐵
𝑛 = 𝑆𝑀𝑖 𝑥 𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠

Keterangan:
n = nilai akhir peserta didik
∑B = jumlah skor yang diperoleh peserta didik
SMi = skor maksimal ideal (skor tertinggi apabila semua soal dapat
dikerjakan dengan benar)
n maks = nilai maksimum yang digunakan, misalnya 100.

27
Arikunto (2003:236) menyimpulkan bahwa ketuntasan klasikal
dengan rumus:
∑ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 ≥75
𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑟𝑎𝑝 𝑘𝑙𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑙 = ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
𝑥100%

Apabila hasil belajar peserta didik yang dimiliki peserta didik


lebih besar atau sama dengan 75%, maka peserta didik dinyatakan telah
mencapai ketuntasan belajar. Dan apabila setidaknya 85% dari
keseluruhan jumlah nilai peserta didik telah mencapai nilai 75, maka
ketuntasan klasikal sudah terpenuhi.

2. Kemampuan Memecahkan Masalah


Kemampuan memecahkan masalah yang dimiliki oleh peserta didik
diukur dengan menggunakan lembar observasi. Skor yang diperoleh oleh
peserta didik berdasarkan lembar observasi kemampuan memecahkan
masalah akan diolah menjadi nilai dengan menggunakan PAP Model I.
Penggunaan PAP dapat dilakukan dengan 4 model. Dalam penelitian ini
akan digunakan model I. Purwanto (2005:16) menyebutkan bahwa
penggunaan PAP model I adalah dengan cara sebagai berikut.
Model I menggunakan rumus:

∑𝐵
𝑛 = 𝑆𝑀𝑖 𝑥 𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠

Keterangan:
n = nilai akhir peserta didik
∑B = jumlah skor yang diperoleh peserta didik
SMi = skor maksimal ideal (skor tertinggi apabila semua soal dapat
dikerjakan dengan benar)
n maks = nilai maksimum yang digunakan, misalnya 100.

Apabila kemampuan memecahkan masalah yang dimiliki yang


dimiliki peserta didik lebih besar atau sama dengan 60, maka peserta
didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan proses belajar dalam
memecahkan masalah. Dan apabila setidaknya 70% dari keseluruhan

28
jumlah peserta didik telah mencapai nilai 60, maka ketuntasan klasikal
sudah terpenuhi. Penentuan standar tersebut disesuaikan dengan kualitas
input peserta didik SMK Negeri Mojoagung, sarana prasarana penunjang
pembelajaran di SMK Negeri Mojoagung, serta kondisi guru SMK
Negeri Mojoagung.

29