Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesiasecara umum diperkirakan
termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di
bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya
saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit
menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja
(produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu
tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi
dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus
bersifat manusiawi atau bermartabat.

Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama. Faktor
keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada
gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020 mendatang,
kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan
ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara
anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan
perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu
gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan
perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat
mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan
pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan
yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non
kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan
dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan
kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya
kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja
yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar
tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan
karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri,
keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam
kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban
dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari
pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

B. Permasalahan

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah bagaimana peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja
dan mencegah kecelakaan kerja guna meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran tenaga kesehatan dalam menangani
korban kecelakaan kerja dan mencegah kecelakaan kerja guna meningkatkan kesehatan dan
keselamatan kerja.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan
manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera.
Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam
usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa
maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesiamerdeka menimbulkan
konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko
kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah
terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan
itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun
1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi
UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.

Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak
untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan dan
perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.

Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundangan-


undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya
yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi
kemajuan dan perkembangan yang ada.

Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang ruang
lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air, di dalam
air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari perencanaan,
pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan,
pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi yang
mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan, sumber daya manusia K3
serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk memberdayakan lembaga-
lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial
guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan baik.

1. Sebab-sebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang
tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik
keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan dalam
melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Hal tersebut menunjukkan
cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran
mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik.

Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan, ventilasi yang memasukkan
debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan pekerja, pelindung mesin yang tak
sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti helm dan gudang
yang kurang baik.
Diantara tindakan yang kurang aman salah satunya diklasifikasikan seperti latihan sebagai kegagalan
menggunakan peralatan keselamatan, mengoperasikan pelindung mesin mengoperasikan tanpa izin
atasan, memakai kecepatan penuh, menambah daya dan lain-lain. Dari hasil analisa kebanyakan
kecelakaan biasanya terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman, tidak
hanya satu saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk tingkat efektivitas
maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan peralatan keselamatan.

2. Faktor - faktor Kecelakaan

Studi kasus menunjukkan hanya proporsi yang kecil dari pekerja sebuah industri terdapat kecelakaan
yang cukup banyak. Pekerja pada industri mengatakan itu sebagai kecenderungan kecelakaan. Untuk
mengukur kecenderungan kecelakaan harus menggunakan data dari situasi yang menunjukkan
tingkat resiko yang ekivalen.

Begitupun, pelatihan yang diberikan kepada pekerja harus dianalisa, untuk seseorang yang berada di
kelas pelatihan kecenderungan kecelakaan mungkin hanya sedikit yang diketahuinya. Satu lagi
pertanyaan yang tak terjawab ialah apakah ada hubungan yang signifikan antara kecenderungan
terhadap kecelakaan yang kecil atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering
dilakukan untuk seorang manager untuk salah satu faktor kecelakaan terhadap pekerja adalah
dengan tidak membayar upahnya. Bagaimanapun jika banyak pabrik yang melakukan hal diatas akan
menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan, dan tidak membayar upah pekerja akan
membuat pekerja malas melakukan pekerjaannya dan terus membahayakan diri mereka ataupun
pekerja yang lain. Ada kemungkinan bahwa kejadian secara acak dari sebuah kecelakaan dapat
membuat faktor-faktor kecelakaan tersendiri.

3. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga
komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat
merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai
suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat
ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan
akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.

a) Kapasitas Kerja

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari
beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40% masyarakat pekerja kurang kalori
protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan
seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal.
Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi
oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk
dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK
dan kecelakaan kerja.

b) Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari,
dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja
bergilirdan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang
meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut
memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif
rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban
psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres.

c) Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat
menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat
Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases).

B. Tinjauan Tentang Tenaga Kesehatan

1. Pengertian Tenaga Kesehatan

Kesehatan merupakan hak dan kebutuhan dasar manusia. Dengan demikian Pemerintah mempunyai
kewajiban untuk mengadakan dan mengatur upaya pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau
rakyatnya. Masyarakat, dari semua lapisan, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk
mendapat pelayanan kesehatan.

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan
gelar-D3, S1, S2 dan S3-; pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus kejuruan khusus
seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah yang membedakan jenis tenaga ini
dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai pendidikan atau keahlian khusus-lah yang
boleh melakukan pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta
lingkungannya.

Tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak dan sekaligus pelaksana pembangunan
kesehatan sehingga tanpa tersedianya tenaga dalam jumlah dan jenis yang sesuai, maka
pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan secara optimal. Kebijakan tentang
pendayagunaan tenaga kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan sektor lain, seperti:
kebijakan sektor pendidikan, kebijakan sektor ketenagakerjaan, sektor keuangan dan peraturan
kepegawaian. Kebijakan sektor kesehatan yang berpengaruh terhadap pendayagunaan tenaga
kesehatan antara lain: kebijakan tentang arah dan strategi pembangunan kesehatan, kebijakan
tentang pelayanan kesehatan, kebijakan tentang pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, dan
kebijakan tentang pembiayaan kesehatan. Selain dari pada itu, beberapa faktor makro yang
berpengaruh terhadap pendayagunaan tenaga kesehatan, yaitu: desentralisasi, globalisasi,
menguatnya komersialisasi pelayanan kesehatan, teknologi kesehatan dan informasi. Oleh karena
itu, kebijakan pendayagunaan tenaga kesehatan harus memperhatikan semua faktor di atas.

2. Jenis Tenaga Kesehatan

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan
gelar-D3, S1, S2 dan S3-; pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus kejuruan khusus
seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah yang membedakan jenis tenaga ini
dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai pendidikan atau keahlian khusus-lah yang
boleh melakukan pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta
lingkungannya.

Jenis tenaga kesehatan terdiri dari :

a. Perawat

b. Perawat Gigi

c. Bidan

d. Fisioterapis

e. Refraksionis Optisien

f. Radiographer

g. Apoteker

h. Asisten Apoteker

i. Analis Farmasi

j. Dokter Umum

k. Dokter Gigi

l. Dokter Spesialis

m. Dokter Gigi Spesialis

n. Akupunkturis

o. Terapis Wicara dan

p. Okupasi Terapis.

C. Peran Tenaga Kesehatan Dalam Menangani Korban Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang menderita gangguan
kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan kerja.
Menengok ke negara-negara maju, penanganan kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka
sangat menyadari bahwa kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu
kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya
di bidang kesehatan dan keselamatan kerja.

Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan kerja dan banyak buku serta hasil
penelitian yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja yang telah diterbitkan. Di era globalisasi ini
kita harus mengikuti trend yang ada di negara maju. Dalam hal penanganan kesehatan pekerja,
kitapun harus mengikuti standar internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar
global. Dengan berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja merupakan hal yang sangat strategis.
Ditinjau dari segi apapun niscaya akan menguntungkan baik bagi perkembangan ilmu, bagi tenaga
kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional serta untuk menghadapi persaingan global.

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah sakit pekerja akan menjadi pelengkap dan
akan menjadi pusat rujukan khususnya untuk kasus-kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Diharapkan di setiap kawasan industri akan berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua
pekerja mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu
perlu adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal ini juga
harus didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi. Kelemahan
dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja dapat diperbaiki kemudian dan jika ada
penyimpangan dari misi utama berdirinya rumah sakit tersebut harus kita kritisi bersama.

Kecelakaan kerja adalah salah satu dari sekian banyak masalah di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja yang dapat menyebabkan kerugian jiwa dan materi. Salah satu upaya dalam perlindungan
tenaga kerja adalah menyelenggarakan P3K di perusahaan sesuai dengan UU dan peraturan
Pemerintah yang berlaku. Penyelenggaraan P3K untuk menanggulangi kecelakaan yang terjadi di
tempat kerja. P3K yang dimaksud harus dikelola oleh tenaga kesehatan yang professional.

Yang menjadi dasar pengadaan P3K di tempat kerja adalah UU No. 1 Tahun 1970 tentang
keselamatan kerja; kewajiban manajemen dalam pemberian P3K, UU No.13 Tahun 2000 tentang
ketenagakerjaan, Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.03/Men/1982 tentang
Pelayanan Kesehatan Kerja ; tugas pokok meliputi P3K dan Peraturan Mentri Tenaga Kerja No.
05/Men/1995 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

D. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)

Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) Yaitu upaya untuk menemukan gangguan
sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang
dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya
gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya.
Dengan deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan
mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini diperlukan system
rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-
treatment). Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang
meliputi :

1. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang


calon/pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan
mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan
yang akan ditugaskan kepadanya. Anamnese umumüPemerikasaan kesehatan awal ini meliputi:

a. Anamnese pekerjaan

b. Penyakit yang pernah diderita

c. Alrergi

d. Imunisasi yang pernah didapat

e. Pemeriksaan badan

f. Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu :

- Tuberkulin test

- Psiko test

2. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan
jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar
resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini
meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila
diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi
dalam pekerjaan.

3. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu
pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat
mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya
untuk intern laboratorium kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus
merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan
promotif dan preventif. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi
pekerja atau masyarakat disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan
unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan dan
keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap timbulnya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3
diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit
akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya
sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit
akibat hubungan kerja.

Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah menjadi melalui
pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi
pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya
kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan
keselamatan kerja.

B. Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan
kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu
kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan
tetapi seluruh masyarakat.
Isu-isu Keselamatan Pasien Tahun 2016

FacebookTwitterLineWhatsApp

Sumber gambar: http://biz570.com

Data yang dirilis oleh Health and Human Service (HHS) menunjukkan bahwa sepanjang 2010-2014 di
Amerika telah terjadi penurunan kejadian terkait patient safety di RS sebesar 17%. Hal ini telah
memberi kontribusi utama terhadap menurunnya kematian pasien (akibat kejadian tidak diinginkan)
sebanyak 87 ribu kasus. Ini merupakan langkah yang baik menuju zero patient harm bagi pelayanan
kesehatan di Amerika. Namun sepanjang tahun 2015 ada beberapa situasi yang menunjukkan
adanya tantangan lain bagi patient safety.

Berikut ini ada sepuluh isu keselamatan pasien yang perlu dipertimbangkan di sepanjang tahun 2016
bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, berdasarkantrend yang terjadi di tahun 2015.

1. Medical errors, merupaan satu dari berbagai error yang paling banyak terjadi, dimana setiap
tahun setidaknya ada 5% pasien rawat inap yang mengalami kejadian tak diinginkan terkait
dengan pemberian obat. Ini tidak hanya terjadi pada pasien rawat inap, tapi juga pada
pasien yang sedang menjalani dioperasi. Sebuah studi oleh Massachusetts General Hospital
yang diterbitkan pada bulan Oktober lalu menyebutkan bahwa separuh operasi mengalami
berbagai jenis medication errors. Kesalahan dalam pelabelan, dosis tidak tepat, mengabaikan
tindakan yang harus dilakukan berdasarkan tanda vital pasien dan documentation
errors adalah yang tersering terjadi.
2. Diagnostic errors terungkap dengan adanya laporan penelitian “Improving Diagnosis in
Health Care” yang dibuat oleh Institute of Medicine. Laporan ini menyebutkan bahwa 6 dari
17 persen kejadian tak diinginkan di RS merupakan diagnostic error dan merupakan
penyebab dari 10% kematian pasien. Tingginya angka error dan kematian yang
diakibatkannya ini menyebabkan diagnostic error menjadi salah satu isu yang mendapat
perhatian khusus. Solusi yang telah terpikirkan antara lain kemitraan dengan pasien dan
keluarganya serta meningkatkan kerjasama tim antar-tenaga kesehatan dan antar-pemberi
layanan kesehatan.

3. Merumahkan pasien (home-care) pasca akut, dimana memulangkan pasien merupaan


momen kritis dalam perawatan pasien. Studi pada awal tahun 2000-an menemukan bahwa
hampir 20% pasien mengalami adverse eventtiga minggu setelah dipulangkan dari RS, dan
banyak diantaranya yang sebenarnya bisa dicegah. Pada April lalu sebuah model
“comprehensive care for joint replacement” memungkinkan adanya perhatian yang lebih
tinggi terhadap jenis error Model ini membuat RS bertanggung jawab terhadap mutu
pelayanan dan biaya bagi pasien dengan kasus penggantian sendi selama 90 hari setelah
pasien dipulangkan dari RS yang bersangkutan.

4. Keselamatan di tempat kerja. Tanggung jawab RS adalah memastikan keselamatan pasien,


sementara itu para ahli lain berargumentasi bahwa pasien tidak bisa selamat jika petugas
kesehatan tidak merasa aman pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, jika RS aman, maka
pasien juga akan lebih aman. Hal ini berdasarkan kejadian dimana petugas terkena tusukan
jarum, atau cedera saat mengangkat pasien, atau merasa takut diserang oleh pasien.

5. Keselamatan di fasilitas RS yang seringkali menempatkan keselamatan pasien pada risiko


tinggi. Beberapa kali di tahun 2015 keselamatan di RS dikompromikan, atau hampir
dikompromikan, karena masalah bangunan atau pemeliharaan. Badan Administrasi
Kesehatan Florida melaporkan bahwa sebuah RS gagal menangani kebocoran limbah
termasuk gagal memastikan bahwa kotoran dibersihkan dengan benar serta gagal
melakukan penilaian risiko pengendalian infeksi. Investogator juga menemukan adanya
tikus-tikus yang hidup di langit-langit rumah sakit yang dapat mencemari meja tempat
menyiapkan makanan melalui lubang ventilasi AC. Wabah Legionnaires juga merupakan
masalah yang umumnya terkait dengan struktur bangunan dan sistem perpipaan/saluran air
yang kompleks seperti di RS.

6. Pemrosesan ulang. ECRI Institute memasukkan “pembersihan endoskop fleksibel yang tidak
adekuat sebelum diberi desinfektan” dalam daftar 10 Bahaya Teknologi Kesehatan
terbanyak. Para ahli menekankan pentingnya menggunakan alat yang tepat dan mengikuti
protokol untuk mencegah infeksi. Beberapa RS bahkan sudah mulai melakukan kultur untuk
mengamati perkembangan bakteri. Sementara itu, beberapa anggota panel penasihan FDA
merekomendasikan bahwa duodenoscope harus disterilisasi untuk mencegah penyebaran
infeksi.

7. Sepsis terjadi lebih dari 1 juta kasus per tahun menurut CDC, dan setengah dari jumlah
tersebut meninggal yang menyebabkan sepsis menjadi penyebab kematian nomer 9.
Meskipun sepsis bukan isu baru dalam keselamatan pasien, namun di tahun 2016 ini
menjadi pusat perhatian baru dengan ditambahkannya Severe Sepsis and Septic Shock Early
Management Bundle ke dalam aturan final sistem pembayaran prospektif rawat inap di
tahun anggaran 2016.

8. Bakteri super didefinisikan oleh Brian K. Coombes, PhD sebagai bakteri yang tidak dapat
ditanggulangi dengan menggunakan dua atau lebih antibiotik, berlanjut menyerang pasien
dan tampak menjadi lebih kuat. Laporan CDC yang dipublikasikan pada Desember lalu
mengungkapkan adanya strain Enterobacteriaceae yang resisten. Beberapa ahli
menyebutnya sebagai “phantom menace”. Bukan hanya para ahli penyakit dan pemberi
pelayanan kesehatan yang mengamati superbugs ini, namun para peneliti di Cina juga telah
menemukan bakteri ini ada di babi, ayam broiler dan manusia yang mengandug gen yang
membuatnya resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk antibiotik terbaru dan
terkuat. Gen yang bertanggung jawab terhadap resistensi bakteri itu disebut mcr-1, dan juga
telah teridentifikasi di Denmark. Gen tersebut ditemukan juga di E.coli dan bakteri Klebsiella
pneumonia, menurut hasil studi di Cina tersebut. Langkah kecil seperti meningkatkan
pengaturan penggunaan antibiotik perlu dilakukan tahun ini untuk membantu memerangi
organisme ini.

9. Ketidakamanan maya perangkat medis. Pada Bulan Juli lalu Administrasi Obat dan Makanan
AS mengeluarkan peringatan agar RS meninjau penggunaan Hospira Sybiq Infusion System,
yaitu sebuah pompa terkomputerisasi yang digunakan secara luas pada terapi infus umum,
setelah didapati bahwa ternyata hacker dapat secara jarak jauh mengakses alat tersebut dan
mengubah dosis. Para ahli telah mengeluarkan peringatan serupa beberapa kali. Tahun 2011
seorang konsultan analis dan peneliti pada sebuah perusahaan analitis dan keamanan data
mencengangkan audiens konferensi saat dia meretas pompa insulinnya sendiri. Cyber-
security telah bergeser dari kecemasan seorang ahli IT ke isu yang mengancam keselamatan
pasien secara serius dan perlu menjadi perhatian setiap orang. Banyak sekali peralatan RS
yag terkoneksi dengan dan beroperasi dalam jaringan internet RS yang sesungguhnya rentar
terhadap peretasan. Meskipun sasarannya bukan pasien, namun peretas dapat masuk ke
dalam jaringan sistem informasi RS dan mengekspliotasi serta menyalahgunakan data
sensitif yang ada di dalamnya.

10. Transparansi data medis. Banyak RS yang menanyakan ke pasien tentang pengalaman dan
kepuasan mereka terhadap dokter selama dirawat. Namun sangat sedikit yang menaruh
informasi ini secara online agar bisa diakses oleh semua orang, sekalipun hal ini dipercaya
dapat meningkatkan keselamatan pasien. Seorang peneliti patient safety di Harvard
University’s School of Public Health mengatakan bahwa jika semua orang (dokter, pasien,
institusi bahkan pers) tidak merahasiakan data kinerja, maka dokter akan mengembangkan
rasa akuntabilitas yang lebih besar untuk menghasilkan pelayanan yang lebih berkualitas.
Peringkat agregat dapat membantu instrument pembelajaran untuk mereview kinerja
individu, dan mereka juga diberi insetif untuk melakukan cek ulang pekerjaan mereka dan
lebih memperhatikan area-area dimana sering terjadi kesalahan yang berdampak pada
peringkat mereka, dan tentu saja pasien-pasien yang menjadi tanggung jawab mereka. Di
beberapa institusi, hasil ratingdipampang secara internal, dapat digunakan untuk
membandingkan secara berdampingan yang akan memunculkan praktek terbaik (best
practice) dan mendorong pada rasa persaingan sehat. Di masa depan, keterbukaan ini bisa
menjadi kebutuhan bagi RS dan sistem kesehatan yang ingin berkompetisi dalam situasi
pasar yang fokus pada transparansi. (pea)

Disadur dari: 10 top patient safety issues for 2016 (Becker’s ASC Review).