Anda di halaman 1dari 6

Tabel 6.

3 : Produksi Beberapa Jenis Tanaman Perkebunan, 2002 - 2007 (ribu ton)


Jenis $ $ $ $ $
tanaman 2,002.00 2,003.00 2,004.00 2,005.00 2,006.00 2007*
Karet Kering 403,7 396,1 403,8 432,2 450,4 191,2
$
Minyak Sawit 6.195,6 6.923,5 8.479,3 10.12 10.869,4 4.505,3
$
Biji Sawit 1.209,7 1.529,2 1.86 2.115,9 2.315,8 966,3
Kakao 48,2 56,6 54,9 55,1 55,6 22,2
$
Kopi 26,7 29,4 29,2 24,8 25,1 2.00
$ $
The 120,4 126,2 125.50 128,2 114,4 54.00
Kulit Kina 0,6 0,8 0,7 0,8 1,4 0,1
Gula Tebu 1.901,3 1.991,6 2.051,6 2.241,7 2.266,7 287,2
$
Tembakau 5,3 5,2 2,7 4.00 3,9 1,2

Baik pada situasi ekonomi normal maupun krisis, subsector perkebunan merupakan salah satu
subsector yang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Peran penting tersebut mencakup
penyediaan lapangan kerja, devisa, pengentasan kemiskinan, pembangunan pedesaan, dan pelestarian
lingkungan.

Sebagai salah satu subsector penting dalam sector pertanian, subsector perkebunan secara
tradisional mempunyai konstribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara
berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsector
perkebunan mempunyai konstribusi yang cukup signifikan. Sampai dengan tahun 2003, jumlah tenaga
kerja yang terserap oleh subsekto perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 17 juta jiwa. Jumlah
lapangan pekerjaan tersebut belum termasuk yang bekerja pada industri hilir perkebunan. Konstribusi
dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah tersendiri, karena subsektor perkebunan
menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil.

Subsector perkebunan merupakan salah satu subsector yang mempunyai konstribusi penting
dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari konstribusinya terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB). Dari segi nilai absolut berdasarkan harga yang berlaku. PDB perkebunan terus meningkat dari
sekitar Rp 33.7 triliun pada tahun 2000, atau mengalami peningkatan sekitar 11,7% per tahun. Dengan
peningkatan tersebut, konstribusi PDB subsektor perkebunan terhadap PDB sector pertanian adalah
sekitar 16%. Terhadap PDB secara nasional tanpa migas, konstribusi sector perkebunan adalah sekitar
2.9% atau sekitar 2.6% PDB total.

Sejalan dengan pertumbuhan PDB, subsektor perkebunan mempunyai peran strategis terhadap
pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, subsektor
perkebunan kembali menunjukkan peran strategisnya. Pada saat itu, kebanyakan sektor ekonomi
kemunduran bahkan kelumpuhan dimana ekonomi Indonesia mengalami krisis dengan laju prtumbuhan
-13% pada tahun 1998. Dalam situasi tersebut, subsektor perkebunan kembali menunjukkan
konstribusinya debgan laju pertumbuhan antara 4% - 6% per tahun. Ketika ekonomi Indonesia mulai
membaik, konstribusi dalam hal pertumbuhan terus menunjukkan kinerja yang konsisten. Selam periode
2002 – 2003, laju pertumbuhan subsektor perkebunan selalu diatas laju pertumbuhan ekonomi secara
nasional. Senagai contoh, pada tahun 2001, ketika laju pertumbuhan ekonomi secara nasional sekitar
3,4% subsektor perkebunan tumbuh dengan laju sekitar 5,6%.

Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor andalan dalam menyumbang devisa
karena mempuyai orientasi pasar ekspor. Produk karet, kopi, kakao, teh dan minyak sawit adalah produk
– produk yang lebih dari 50% total produksi adalah utuk ekspor.

Terhadap isu global yang kini menjadi sorotan internasional seperti kemiskinan, ketahanan
pangan, dan isu lingkungan atau pembangunan berkelanjutan, subsektor perkebunan mempunyai
konstribusi yang juga tak dapat diabaikan. Pengembangan berbagai program perkebunan juga telah
terbukti mampu mengurangi jumlah penduduk miskin. Studi oleh Susila (2004) menunjukkan bahwa
jumlah orang miskin di wilayah perkebunan kelapa sawit secara umum kurang dari 6% sedangkan seacra
nasional jumlah penduduk miskin adalah sekitar 17%.

Peran strategis lain dari subsektor perkebunan juga berperan penting dalam hal isu lingkungan
yang merupakan isu global yang secara konsisten gaungnya semakin menguat. Pengembangan
komoditas perkebunan di areal yang marginal merupakan wujud konstribusi subsektor perkebunan
dalam memelihara lingkungan/konservasi. Sebagai contoh, pengembangan tanaman teh di daerah
pegunungan dengan kemiringan yang tajam dengan kondisi lahan yang kritis, berperan penting dalam
konservasi lingkungan. Pegembangan komoditas karet di lahan kering dan kritis juga memberi
konstribusi nyata dalam memelihara bahkan memperbaiki lingkungan. Pengembangan komoditas kelapa
sawit di lahan rawa juga merupakan wujud konstribusi subsektor perkebunan dalam memelihara
lingkungan.

6.6 Perubahan Struktur Ekonomi

6.6.1 Peran Sektor Pertanian.

Suatu negara, betapapun kecil wilayahnya seperti Singapura dan Brunai Darussalam, pasti
mempunyai sektor pertanian. Dengan adanya pembangunan ekonomi, peran sektor pertanian biasanya
mengalami penurunan yang dibarengi dengan makin meningkatnya peran sektor lain, terutama sektor
industri. Oleh karena itu, petubahan struktur ekonomi satu negara biasanya dimulai dengan setor
pertanian untuk kemudian sektor industri dan jasa. Pada umumnya sektor pertanian memegang peran
yang sangat penting dala pembangunan ekonomi suatu negara.

Peranan tersebut antara lain :

1. Menyediakan surplus pangan yang semakin besar kepada penduduk yang kian meningkat. Di
banyak negara, terutama negara berkembang, produksi pangan mendominasi sektor pertanian.
Jika output meningkat karena meningkatnya produktivitas, maka pendapatan para petani
meningkat. Kenaikan pendapatan perkapita akan sangat meningkatkan permintaan pangan.
Peningkatan laju pertumbuhan penduduk akibat dari penurunan angka kematian penduduk dan
penurunan angka kesuburan, akan meningkatkan permintaan akan bahan makanan. Disamping
itu, permintaan akan bahan makanan juga meningkat karena perkembangan penduduk di kota –
kota dan kawasan industri.
2. Meningkatnya permintaan akan produk industri dan dengan demikian mendorong keharusan
diperluasnya sektor sekunder dan tersier. Kenaikan daya beli daerah pedesaan sebagai akibat
surplus pertanian, merupakan perangsang kuat terhadap perkembangan industri. Pasar bagi
barang manufaktur sangat kecil di negara berkembang, dimana para petani, pekerja di ladang
dan keluarganya yang merupakan dua pertiga atau empat perlima dari keseluruhan penduduk
sangat miskin untuk dapat membeli barang – barang hasil pabrik. Rendahnya daya beli ini
merupakan sempitnya pasar untuk barang industri. Meningkatnya daya beli daerah pedesaan
sebagai hasil perluasan output dan produktivitas pertanian akan meningkatkan permintaan akan
barang manufaktur dan memperluas ukuran pasar. Ini akan menyebabkan perluasan di sektor
industri.
3. Menyediakan tambahan penghasilan devisa untuk impor barang modal bagi pembangunan
melalui ekspor hasil pertanian. Kebanyakan negara berkembang mengkhususkan diri pada
beberapa barang pertanian untuk ekspor. Begitu outut dan produktivitas barang – barang yang
dapat diekspor meningkat, ekspor akan naik dan selanjutnya memperbesar penerimaan devisa.
Dengan demikian surplus pertanian menorong pembentukan modal jika barang – barang modal
diimpor dengan menggunakan devisa ini.
4. Meningkatnya pendapatan desa untuk dimobilisasi oleh pemerintah (tabungan). Setiap negara
memerlukan sejumlah modal untuk membiayai pembangunan, perluasan infrastruktur,
pengembangan industri dasar dan industri berat. Pada tahap awal, modal dapat disediakan
dengan meningkatkan surplus barang yang bisa dipasarkan sektor pedesaan tanpa mengurangi
tingkat konsumsi penduduk. Meningkatkan penerimaan pertanian barangkali merupakan jalan
terbaik bagi pembentukan modal.
5. Memperbaiki kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kenaikan pendapatan daerah pedesaan
akibat surplus hasil pertanian cenderung memperbaiki kesejahteraan daerah pedesaan. Para
petani mulai mengonsumsi lebih banyak bahan makanan khususnya yang mempunyai nutrisi
yang lebih tinggi, membangun rumah yang lebih bagus dengan perabotan modern seperti listrik
dan radio serta menerima pelayanan jasa seperti sekolah, pusat kesehatan, irigasi dan
perbankan. Dengan demikian surplus hasi pertanian yang semakin meningkat dapat
meningkatkan standar kehidupan rakyat desa.

6.6.2 Perubahan Struktur

Perubahan struktur suatu perekonimian biasanya ditandai oelh besarnya sumbangan dari
masing – masing sektor penghasilan nasional atau terhadap PDB. Jika dalam suatu perekonimian
sumbangan sektor prtanian yang paling besar, maka negara yang bersangkutan termasuk negara agraris.
Sedangkan jika sumbangan sektor industri yang menonjol, maka negaranya disebut negara industri dan
jika sektor yang paling menonjol adalah sektor jasa, maka negaranya disebut negara jasa. Jadi
perubahan struktur ekonomi yang umum adalah dari negara agraris – industri – jasa. Namun pada
umumnya cukup dari agraris ke industri saja, tidak perlu ke negara jasa. Tapi karna ada negara yang
tidak perlu adanya industrialisasi terlebih dahulu, melainkan lebih menonjolkan sektor jasa maka
perubahan struktur negar tersebut adalah dari agraris ke jasa seperti halnya singapura.

Tabel 6.4 Produk Domestik Bruto menurut Sektor Asal (dalam %)


1960 1977 2007
(Agustus)
1. pertanian, pertambangan dan penggalian 57,6 46,9 22,5
2. Industri pengolahan 8,4 11,9 27,4
3. Jasa (Listrik, Air, Gas, Konstruksi,
Pengangkutan, Perdagangan dan Jasa lain 34 53,2 50,1
Jumlah 100 100 100

Tabel diatas adalah data mengenai sumbangan masing – masing sektor dalam pembentukan
PDB di Indonesia untuk tahun 1960, 1977, dan 2007 (Agustus). Dari data diatas dapat dikatakan bahwa
peran sekor pertanian dalam pembentukan PDB telah mengalami penurunan dari 57,6% pada tahun
1960 menjadi 46,9% pada tahun 1977 dan menjadi 22,5% pada tahun 2007. Sedangkan sumbangan
sektor industri mengalami kenaikan, dari 8,4% di tahun 1960 menjadi 11.9% di tahun 1977 dan pada
2007 telah mencapai lebih dari 27%. Jika diperhatikan, peran sektor jasa yan tertinggi pada 1977. Ini
tidak berarti bahwa negara Indonesia adalah negara jasa sejak 1977.

Tabel 6.5 Perubahan Struktur Jangka Panjang di Beberapa Negara Asia (1970 - 1998)
Tenaga Kerja di
Nilai Tambah Pertanian Pertanian
(% dari Total Tenaga
(% dari PDB) Kerja)
Negara 1970 1998 1970 1998
Bangladesh 42 22 81 65
Cina 35 18 78 72
India 45 29 71 64
Indonesia 45 20 66 55
Jepang 6 2 20 7
Korea Selatan 26 5 49 18
Malaysia 29 13 54 27
Myanmar 38 53 78 73
Nepal 67 40 94 83
Pakistan 37 26 59 52
Papua New Guinea 37 24 86 79
Filipina 30 17 58 46
Sigapura 2 0 3 0
Sri Lanka 28 21 55 48
Thailand 26 11 80 64
Vietnam - 26 77 71
Cara ini terkadang memberikan gambaran membingungkan. Hal ini disebabkan oleh serapan
sektor idustri yang sangat pelan terhadap tenaga kerja, karena teknologi yang dipakai adalah teknologi
padat modal. Oleh karenanya, jumlah tenaga kerja di sektor industri masih belum dominan, meski
peranan sektor industri terhadap pembentukan PDB telah besar. Hal ini ditunjukkan pada tabel dibawah
ini.

Tenaga kerja sektor industri tahun 2007 hanya 12% dari seluruh tenaga kerja yang diserap
perekonomian Indonesia, dan di sektor pertanian angkanya mencapai lebih dari 42%. Ternyata tidaklah
tepat jika kita mengatakan bahwa perekonomian Indonesia adalah agraris pada tahun 2007. Untuk
menghindari gambaran yang keliru seperti ini, kita harus berhati – hati dalam memilih data untuk
menunjukkan perubahan struktur ekonomi.

Tabel 6.6 Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor, 2007 (Agustus)

Sektor 2007 (Agustus)


Ribu orang % dari total
1. Pertanian, Pertambangan dan Penggalian 42.201,1 42,23
2. Industri pengolahan 12.368,7 12,38
3. Jasa (Listrik, Air, Gas, Konstruksi, 45.360,4 45,39
Pengangkutan, Perdagangan, Hotel,
Restoran, dan Jasa lain)
Jumlah 99.930,2 100

6.7 Kesimpulan

Berbeda dengan negara induknya di Eropa yang membiarkan sektor pertaniannya di tangan
swasta, pemerintahan jajahannya sementara membiarkan sektor perkebunannya seperti di negara
induknya, mempunyai kebijakan yang berbeda terhadap perkembangan sektor pangan, khususnya
beras. Hal ini disebabkan oleh karena beras adalah bahan makanan pokok di Indonesia, dan pegawai
pemerintahan jajahan serta pegawai swasta perkebunan besar dibayar dengan beras sebagai bagian dari
gajinya. Pemerintah negara jajahan Belanda mempunyai kepentingan agar harga selalu murah.
Kebijakan sektor pangan pmerintah jajahan Belanda merupakan pelajaran berharga bagi pemerintahan
selajutnya, sehingga engan penyesuaian tertentu kebijakan tersebut diperbaiki dan dilanjutkan pada
masa orde Lama. Misalnya tahun 1952 Program Kesejahteraan Kasino yang bertujuan mencapai
swasembada beras sebelum tahun 1956, menggunakan pendekatan program penyuluhan percontohan.
Namun gagal. Pada 1959 Program Padi Sentra dimulai dengan tujuan mencapai swasembada sebelum
1963; satu program yang juga mengalami kegagalan. Keadaan perberasaan makin menyedihkan
sehingga persediaan beras perkapita untuk dikonsumsi hanya mencapai 92 kg di tahun 1966/67.

Krisis beras yang terjadi d tahun 1966/67 ini ikut memicu pemerintahan Orde Baru untuk
memberikan prioritas utama pada sktor pertanian untuk mencapai swasembada beras dalam rencana
pembangunan lima tahunannya. Setelah dicapainya swasembada beras pada 1984 ekonomi Indonesia
malah mengalami kemajuan pesat yang semu, sehingga dilanda krisis pada 1997/8. Sejak iu, kebijakan
pangan telah dikelabui oleh kebijakan pemulihan dan perbaikan ekonomi masa krisi, meskipun dasar –
dasar kebijakan pangan masih tetap seerti sebelumnya. Terobosan dalam meningkatkan produksi padi
meskipun konversi lahan pertanian tetap dijalankan. Pada tahun 2008 swasembada beras diraih kembali
dan di tahun 2009 Indonesia telah siap untuk melakukan ekspor beras.

Sementara tanaman padi mendapat perhatian khusus dari pemerintah, tanaman non padi dan
tanaman perkebunan rakyat juga mendapat perhatian pemerintah hanya saja salam skala lebih kecil.
Pendekatan yang digunakan juga hampir sama seperti padi, yaitu menyuntikkan teknologi tanpa kredit
atau dengan kredit dalam skala lebih kecl jika diandingkan dengan padi. Pendekatan peingkatan
produksi pada tanaman perkebunan ternyata mengalami masalah dalam hal stabilitas harga dank arena
kemampuan keuangan pemerintah, terpaksa dibiarkan ditangan swasta yang berakibat pada
pemotongan tanaman (cengkeh) atau biaya petani. Namun terlepas dari semua hambatan tersebut
sektor perkebunan mempunyai konstribusi yang cukup dapat diandalkan dalam pembangunan ekonomi.

Meskipun peranan sektor pangan pertanian pangan (padi dan palawijaya) dan sektor pertanian
pada umumnya sangat penting untuk pembangunan ekonomi Indonesia, ternyata peran sektor ini
terhadap PDB makin menurun dibandingkan dengan sektor industri pengolahan. Keadaan ini yang
mengakibatkan terjadinya perubahan struktur perekonomian dari negara agraris ke negara industri.