Anda di halaman 1dari 9

Standar Auditing

Mata Kuliah : EKA 439 B2 Pengauditan I


Dosen : Dr. I Dewa Badera, S.E., M,Si., Ak

Disusun Oleh :
Kelompok 2

Siti Sharah Fadhila 1607531181 ( )

Ni Wayang Yundari Putri 1707531018 ( )

Ajeng Winda Febryanti 1707531055 ( )

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN AJARAN 2018/2019


I. Standar umum

Standar umum berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya sehingga bersifat
pribadi. Standar ini mencakup tiga bagian diantaranya:

1. Audit harus dilaksankan oleh seorang atau lebih yang memilki keahlian dan pelatihan
teknis cukup dalam auditor.

Seorang auditor diharapkan senantiasa bertindak sebagai seorang yang ahli dalam bidang
akuntansi dan pada bidang audit.

Keahlian auditor bisa didapat melalui pendidikan formal ditambah dengan pengalaman-
pengalaman yang didapatkan saat mengikuti pelatihan teknis yang cukup.

Auditor junior atau asisten auditor yang baru memasuki karir bidang auditing harus mendapatkan
pengalaman profesionalnya dengan mendapatkan supervisi yang memadai serta review atas
pekerjaan yang diterima dari atasan yang lebih berpengalaman.

2. Auditor harus mempertahankan mental dari segala hal yang berhubungan dengan
perikatan, independensi.

Pada standar ini mewajibkan bagi auditor bersikap independen dalam arti seorang auditor tidak
boleh dipengaruhi oleh oknum tertentu karena pekerjaannya sangat berguna untuk kepentingan
umum.

Masyarakat umum pun memberikan kepercayaan atas sikap independensi auditor yang sangat
penting bagi perkembangan profesi akuntan publik.

Sikap intelektual dan jujur sangat dijunjung tinggi sebagai profesi auditor. Profesi akuntan publik
telah menetapkan aturan yang disebut sebagai Kode Etik Akuntan Indonesia agar setiap anggota
menjaga diri dari kehilangan kepercayaan dan persepsi independensi dari masyarakat.
Sebenarnya sikap independensi secara intristik adalah masalah mutu pribadi, sehingga bukan
merupakan aturan yang dirumuskan untuk diuji secara objektif.

3. Auditor wajib menggunakan keahlian profesionalnya dalam melaksanakan pelaksanaan


audit dan pelaporan dengan cermat dan seksama.

Penggunaan keahlian profesional menekankan tanggung jawab setiap professional yang bekerja
dalam organisasi auditor. Seorang auditor juga harus memiliki tingkat keterampilan yang dimiliki
oleh setiap auditor pada umumnya dan diharuskan menggunakan keterampilan yang dimiliki
dengan kecermatan dan keseksamaan yang wajar. Oleh karena itu auditor dituntut untuk memiliki
sikap professional dan keyakinan dalam mengevaluasi bukti audit.

II. Standar Pekerjaan Lapangan

Standar pekerjaan laporan berisi tentang sikap dan pengetahuan yang wajib dimiliki seorang
akuntan publik (auditor). Standar ini terdiri dari 3 point diantaranya:

1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus


disupervisi dengan semestinya.

Pada point ini menjelaskan bahwa penyerahan tanggungjawab dan penunjukkan secara dini auditor
independen akan memberikan banyak sekali manfaat bagi auditor ataupun klien. Semakin dini
auditor ditunjuk maka akan memberikan kemantapan bagi auditor untuk merencanakan hal-hal
yang terkait dengan pekerjaan sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat diselesaikan
dengan cepat dan efisien sehingga dapat di perkirakan selesai sebelum tanggal neraca.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan
audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

Pemahaman mendalam tentang pengendalian internal harus dimiliki oleh auditor untuk
merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur dan memahami desain pengendalian yang
relevan dengan audit atas laporan keuangan dan dapat diketahui apakah pengendalian internal
tersebut dapat dioperasikan.

3. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi pengamatan, permintaan
keterangan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk dapat memberikan
pernyataan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.

Pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan adalah
meliputi usaha untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti audit.

Bukti audit bersifat sangat variatif atas pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor
independen guna memberikan pernyataan pendapat (opini) atas laporan keuangan yang diaudit.

Objektivitas, relevansi, ketepatan waktu dan kelengkapan bukti lain yang dapat menguatkan
kesimpulan seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.

III. Standar Pelaporan

1. Pernyataan kesesuaian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum
Standar pelaporan pertama berbunyi:
“Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disususn sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.”
Istilah prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam standar
pelaporan pertama dimaksudkan meliputi tidak hanya prinsip dan praktik akuntansi, tetapi
juga metode penerapannya.
2. Pernyataan ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Standar Pelaporan kedua berbunyi:
“Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan
prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya.”
Tujuan standar ini untuk memberikan jaminan bahwa
1. Jika daya banding laporan keuangan di antara dua periode dipengaruhi secara material
oleh perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut
dalam laporannya.
2. Prinsip akuntansi tersebut telah diamati konsistensi penerapannya dalam setiap periode
akuntansi yang bersangkutan.
3. Daya banding laporan keuangan diantara dua periode akuntansi tidak dipengaruhi
secara material oleh perubahan prinsip akuntansi.
4. Prinsip akuntansi tersebut telah diterapkan secara konsisten diantara dua atau lebih
periode akuntansi baik karena:
a. Tidak terjadi perubahan prinsip akuntansi
b. Terdapat perubahan prinsip akuntansi atau metode penerapannya, namun dampak
perubahan prinsp auntansi terhadap daya banding laporan keuangan tidak material.
Standar konsistensi menuntut auditor independen untuk memahami hubungan antara
konsistensi dengan daya banding laporan keuangannya. Walupun ketidakkonsistenan
peneraan prinsip akuntansi dapat menyebabkan kurang daya banding laporan keuangan,
namun faktor lain yang tidak berhubungan dengan konsistensi dapat pula menyebabkan
kurangnya daya banding laporan keuangan.

Perbandingan laporan keuangan suatu entittas diantara beberapa periode dapat dipengaruhi
oleh:

1. Perubahan akuntansi, yang merupakan suatu perubahan dalam


a. Prinsip akuntansi
b. Estimasi akuntansi
c. Entitas yang membuat laporan keuangan
2. Kesalahan dalam laporan keuangan ynag diterbitkan dalam periode sebelumnya
3. Perubahan penggolongan
4. Peristiwa atu transaksi yang sangat berbeda dengan yang dipertanggungjawabkan
dalam laporan keuangan yang disajikan dalam periode sebelumnya.
Perubahan dalam prinsip akuntansi yang mempengaruhi kematerialan atas laporan
keuangan memerlukan penjelasan dalam laporan auditor independen dengan cara
menambahkan paragraph penjelasan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi daya banding
laporan keuangan mungkin membutuhkan pengungkapan, tetapi pada umumnya tidak
perlu diberi komentar dalam laporanauditor independen.

1. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan


Standar Pelaporan ketiga berbunyi:
“Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai,
kecuali dinyatakan lapin dalam laporan auditor.”

Pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material mencakup

a. Bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan,


b. Termasuk catatan atas laporan keuangan, prinsip dan metode yang digunakan dan
fakta-fakta yang dianggap penting bagi pemakai.
Agar tidak menyestakan pemakai. Auditor harus mempertimbangkan apakah masih
terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan
fakta yang diketahuinya pada saat audit.

Bila manajemen menghilangkan informasi dalam laporan keuangan termasuk catatan


atas laporan keuangan, yang seharusnya diungkapkan dalam laporan keuangan sesuai
dengan prinsip akuntansi, auditor harus memberikan pendapat wajar dengan
pengecualian atau pendapat tidak wajar karena alasan tersebut dan harus memberikan
informasi yang cukup dalam laporannya.

Di daam mempertimbangkan cukup atau tidaknya pengngkapan, auditor menggunakan


informasi yang diterima dari kliennya atas dasar keprcayaan. Auditor akan
merahasiakan informasi tersebut. Tanpa kepercayaan demikian auditor akan sulit
untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan. Oleh karena itu tanpa izin kliennya, auditor tidak boleh
mengungkapakan informasi yang tidak diharapkan untuk diungkapkan dalam laporan
keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2. Pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.


Standar pelaporan keempat berbunyi sebagai berikut:
“Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersei bahwa pernyataan demikian
tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan
maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan
laporan keuangan maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas
mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan,.”
Tujuan standar pelaoran keempat adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat
tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan
keuangan.
Pernyataan yang dihasilkan dalam laporan audit:
1. Pernyataan pendapat atau tidak memberikan pendapat
2. Pendapatan mengenai kewajaran laporan keuangan

IV. Hubungan Standar Auditing dengan Standar yang Lainnya

Dalam Standar Profesional Akuntansi Publik (SPAP) terdapat beberapa standar sebagai kodifikasi
pernyataan standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagi Akuntan Publik
di Indonesia, yaitu:

a. Standar Auditing: pedoman untuk membantu para auditor dalam memenuhi


tanggungjawab professional mereka dalam pengauditan laporan keuangan historis.
b. Standar Atestasi: suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang diberikan oleh
seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan apakah asersi (assertion) suatu
entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Standar atestasi membagi tiga
tipe perikatan atestasi pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati
(agreed-upon procedures).
c. Standar Jasa Akuntansi dan Review: rerangka untuk fungsi non-atestasi bagi jasa akuntan
publik yang mencakup jasa akuntansi dan review dengan biaya yang lebih murah. Karena
memerlukan lebih sedikit bukti. Sehingga hanya menghasilkan asurans yang moderat atas
laporan keuangan.
d. Standar Jasa Konsultansi: panduan bagi praktisi (akuntan publik) yang menyediakan jasa
konsultasi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa konsultasi, para
praktisi menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Sifat dan lingkup pekerjaan jasa
konsultasi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan kliennya.
e. Standar Pengendalian Mutu: panduan bagi kantor akuntan publik di dalam melaksanakan
pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai
standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan
Publik Indonesia (DSPAP IAPI) dan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang
diterbitkan oleh IAPI. Unsur-unsur pengendalian mutu yang harus harus diterapkan oleh
setiap KAP pada semua jenis jasa audit, atestasi dan konsultansi.

Hubungan Standar Auditing dengan standar yang lain yaitu:

a. Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.


b. Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi pemeriksaan (examination), review,
dan prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures). Salah satu tipe pemeriksaan
adalah audit atas laporan keuangan historis yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi
yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur berdasarkan standar auditing.
c. Kantor akuntan publik juga harus mematuhi standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, kantor akuntan publik harus
membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu untuk memberikan keyakinan
memadai tentang kesesuaian penugasan audit dengan standar auditing yang ditetapkan
Ikatan Akuntan Indonesia.
d. Standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia berkaitan dengan pelaksanaan
penugasan audit secara individual, standar pengendalian mutu berkaitan dengan
pelaksanaan praktik audit kantor akuntan publik secara keseluruhan. Oleh karena itu,
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan standar pengendalian mutu
berhubungan satu sama lain, dan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang
diterapkan oleh kantor akuntan publik berpengaruh terhadap pelaksanaan penugasan audit
secara individual dan pelaksanaan praktik audit kantor akuntan publik secara keseluruhan.
Daftar Pustaka

Siti Kurnia Rahayu, Suhayati Ely, 2010. Auditing : “Konsep Dasar dan Pedoman Pemeriksaan
Akuntan Publik”, Bandung, September 2009.

Jusup, Al. Haryono.2014.Auditing.Yogyakarta: STIE YKPN

Anonim.Standar professional Akuntan Publik. [http://iapi.or.id] Diunduh pada tanggl 9 Februari


2019 pukul 20.30 WITA

Anonim.2018.Standar Profesional Akuntan Publik.


[https://id.wikipedia.org/wiki/Standar_Profesional_Akuntan_Publik] Diunduh pada tanggl 9
Februari 2019 pukul 19.30 WITA