Anda di halaman 1dari 13

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) (Gambar I.1)

Eceng gondok (Eichhornia crassipes www.plantamor.com ; Pieterse, 1997:

118)

1.1.1. Klasifikasi (Croncuist, 1981:1202; Pieterse, 1997:118)

Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : Eichhornia crassipes (Mart.) Solms
Sinonim : Pontederia crassipes Martius
Eichhornia speciosa Kunth

Nama umum : Water hyacinth, eceng gondok (Indonesia), eceng

gondok (sunda), kembang bopong (jawa), kelipuk

(Palembang) (Pieterse, 1997:118).

3
4

1.1.2. Asal Dan Penyebaran

Eceng gondok (Gambar I.1) berasal dari daerah tropis Amerika Selatan.

Selama paruh kedua abad ke-19 menyebar di luar habitat aslinya sebagai tanaman

hias dan kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia.

Tanaman ini pertama kali diperkenalkan ke Asia Tenggara pada tahun 1894 di

Jawa tepatnya di Kebun Raya Bogor, dari sanalah tanaman tersebut menyebar ke

seluruh kepulauan Indonesia. Tanaman tersebut dikenalkan dari Singapura ke

Hongkong pada tahun 1903 oleh orang-orang Cina. Dari Bangkok eceng gondok

menyebar melewati delta Chao Praya dan sepanjang sungai Mekong dan daerah

yang berbatasannya di Vietnam, Kamboja dan Laos dimana pada tahun 1908 telah

menjadi perhatian. Pada tahun 1962 eceng gondok diberitakan mulai tumbuh di

Papua New Guinea (Pieterse, 1997:118).

1.1.3. Deskripsi

Herba menahun tingginya 30-60 cm, mengapung atau menempel pada

lumpur yang dangkal. Sistem akar tersusun atas akar adventitif yang berasal dari

rimpang dan memiliki banyak cabang yang menyamping. Rimpangnya terdiri dari

beberapa nodus dan internodus dimana masing-masing nodus memiliki daun dan

menghasilkan stolon. Daunnya tesusun dari petiolus, bagian tipis antara petiolus

dan tulang daun disebut ismus, dan helai daun adalah perpanjangan dari petiolus.

Tangkai daun memanjang kalau tumbuhan berada di tanah atau tumbuh rapat atau

membentuk gelembung di tepinya. Helai daun berbentuk bulat telur melebar atau

jajaran genjang dengan dasar berbentuk jantung, dengan urat daun yang rapat

tidak berambut, panjang dan lebar 7-25 cm. Daunna tersusun oleh jaringan
5

pelindung (epidermis), jaringan dasar (mesofil) dan jaringan pengangkut (xylem

dan floem). Jaringan epidermis terletak pada bagian atas dan bawah daun.

Jaringan mesofil terletak di antara dua jaringan epidermis yang terdiri dari

parenkim palisade atas yang berbatasan dengan epidermis atas dan parenkim

palisade yang berbatasan dengan epidermis bawah. Di antara jaringan palisade

atas dan bawah terdapat jaringan spons dengan kristal kalsium oksalat berbentuk

jarum. Perbungaannya spika dengan tangkai yang panjang, ditopang oleh 2

braktea bunga-bunganya tersusun spiral dengan jumlah 5-35. Biasanya bunga-

bunganya tumbuh dan gugur secara bersamaan. Bunganya zigomorfik, periantium


1 3
berwarna ungu pucat berjumlah 6 segmen; dengan panjang tabung 12-14 cm

segmen posterior berukuran cukup besar panjangnya sekitar 3 cm dengan bintik

di tengah warna kuning terang, dibatasi warna biru ditepinya. Stamen berjumlah

6, memiliki panjang yang bervariasi; ovarium superius berbentuk kerucut, tiga

ruang dengan beberapa ovula. Stilus diakhiri dengan stigma berbentuk kepala

yang ketinggiannnya antara filamen yang panjang dan filamen yang pendek.

Buahnya kapsula mengandung sejumlah biji. Biji berbentuk bulat telur, berusuk,

berukuran 1 mm x 0.5 mm (Backer dan Bakhuizen Van Den Brink 1968: 97;

Pieterse, 1997: 119).

1.1.4. Ekologi

Di Jawa eceng gondok dapat tumbuh di ketinggian antara 1-1600 dpl

(Backer dan Bakhuizen Van Der Brink 2, 1968:97). Eceng gondok tumbuh subur

di berbagai habitat yang airnya tawar, kolam yang dangkal, rawa, danau dan

sungai yang besar. Tetapi pergerakan gelombang yang besar dapat mempengaruhi
6

pertumbuhan eceng gondok. Ketika kolam atau tempat yang dangkal mengalami

kekeringan maka eceng gondok akan mati. Eceng gondok akan tumbuh baik

dengan intensitas cahaya yang tinggi. Penyebaran geografi eceng gondok dari

equator sampai 38o lintang utara dan 38o lintang selatan. Eceng gondok dapat

hidup pada suhu 1o C sampai suhu 40o C. Daunnya akan membeku oleh udara

dingin tetapi tumbuhan akan bertahan sampai rimpangnya membeku. Eceng

gondok dapat bertahan pada air dengan rentang pH yang luas, tetapi pada vegetasi

yang padat terutama pada pH mendekati 7. Toleransi eceng gondok terhadap

garam relatif rendah (Pieterse, 1997:120).

1.1.5. Kandungan Kimia

Eceng gondok yang telah di keringkan mengandung protein berkisar antara

7.4-18.1 %. Selain itu eceng gondok juga mengandung natrium, potasium dan

kalsium yang cukup tinggi. Per 100 gr bahan kering mengandung Fe 0.3 gr, Na

0.4 gr, K 4.6 gr dan Ca 1.3 gr. Konsentrasi nitrogen dan fosfor setara dengan

konsentrasi logam berat berhubungan langsung dengan konsentrasinya dalam air

(Pieterse, 1997:120). Eceng gondok juga mengandung hidrogen sianida,

triterpenoid dan alkaloid (Perry, 1980:329). Meurut Inounu 1980, dalam Marina

dan Asakar 2001: 59 eceng gondok mengandung serat kasar 22.82, lemak kasar

2,87, Ca 2,13 dan posfor 0,58 dari persen bahan kering.

1.1.6. Manfaat

Eceng gondok kadang-kadang digunakan sebagai pakan ternak, di Asia

Tenggara sering terlihat kerbau air memakannya. Selain itu eceng gondok

digunakan sebagai perangkap ikan, untuk produksi kertas dan pembuatan biogas
7

melalui proses fermentasi. Dalam produksi biogas kelembaban yang tinggi pada

tanaman menguntungkan, karena kelembaban diperlukan dalam proses fermentasi.

Satu hektar eceng gondok dapat memproduksi sekitar 70.000 m3 biogas, 1 kg

bahan kering dapat memproduksi sekitar 370 l. Selain itu eceng gondok juga

digunakan sebagai agen pembersih air (Pieterse, 1997:118-119). Menurut

penelitian yang dilakukan oleh NASA hasil fermentasi dari eceng gondok dapat

menghasilkan gas metana. Penelitian yang dilakukan oleh NASA ini mengubah

tanaman gulma menjadi bahan bakar alternatif yang sangat berharga (National

Academy of Science, 1976:7). Bagian tanaman yang berwarna hijau dan

bunganya diklaim dapat mengobati penyakit kulit pada kuda (Perry, 1980:329).

1.2. Senyawa Nonpolar

Senyawa nonpolar telah banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi.

Asam lemak, steroid, terpenoid dan vitamin D merupakan senyawa nonpolar yang

telah digunakan dalam bidang farmasi. Steroid merupakan senyawa metabolit

sekunder dengan berbagai fungsi biologis yang penting dan tersebar luas dalam

jaringan tumbuhan maupun hewan. Pada hewan steroid umumnya bertindak

sebagai hormon sedangkan steroid sintetik digunakan sebagai bahan obat

(Fessenden, 1997 :423).

Senyawa nonpolar lain yang telah digunakan sebagai suplemen yaitu asam

lemak. Asam lemak merupakan senyawa nonpolar yang memilki peranan sangat

penting bagi kesehatan dan pertumbuhan, asam lemak beperan dalam

memperbaiki sistem sirkulasi dan dapat membantu pencegahan penyempitan dan


8

pengerasan pembuluh darah dan penggumpalan keping darah (Medina et al,

2003:575).

1.3. Ekstraksi

Ekstraksi adalah suatu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat

larut sehingga terpisahkan dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.

Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan

senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain.

Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam

minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain. Struktur kimia yang berbeda-beda

akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap

pemanasan, udara, cahaya, logam berat, dan derajat keasaman. Dengan

diketahuinya senyawa yang terkandung dalam suatu simplisia, maka akan

mempermudah pemilihan pelarut dan cara atau metode ekstraksi yang tepat

(Depkes RI, 2000 :1).

Ekstraksi bertujuan untuk memperoleh senyawa metabolit sekunder dari

suatu bahan biogenik dengan cara melepaskannya dari matriks. Karena sering kali

terkandung bahan yang kompleks dan beberapa jumlah keberadaan unsurnya,

pemilihan metode yang salah dapat menyebabkan seluruh proses isolasi menjadi

gagal jika beberapa atau semua senyawa yang diinginkan dari bahan tidak bisa

dilepaskan dari matriks dengan baik (Yrjönen, 2004:12).

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan melakukan proses

ekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan
9

pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan

massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku

yang telah ditetapkan (Depkes RI, 2000:5).

Menurut Sarker, et al (2006:7), proses ekstraksi yang khas untuk bahan

tanaman, menggabungkan langkah-langkah berikut :

a. Pengeringan dan penggilingan bahan tumbuhan atau homogenisasi bagian

tanaman segar (daun, bunga, dan lain-lain) atau dilakukan maserasi seluruh

bagian tumbuhan dengan menggunakan pelarut.

b. Pemilihan pelarut

1) Pelarut polar : air, etanol, methanol, dan sebagainya

2) Pelarut semi polar : etil asetat, diklorometana, dan sebagainya

3) Pelarut non polar : n-heksana, petroleum eter, kloroform, dan


sebagainya.

c. Pemilihan metode ekstraksi

1) Maserasi

2) Perkolasi

3) Dengan alat soxhlet

4) Ekstraksi fluida superkritis

5) Sublimasi

6) Destilasi uap

7) Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,

selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya

pendingin balik (Depkes RI, 2000: 11).


10

Ekstrak yang didapat, dihitung rendemennya. Rendemen ekstrak dihitung

dengan cara membandingkan jumlah ekstrak yang diperoleh dengan simplisia

awal yang digunakan. Rendemen ekstrak dapat digunakan sebagai parameter

standar mutu ekstrak pada tiap bets produksi maupun parameter efisiensi ekstraksi

(Depkes RI, 2000:10).

1.4. Fraksinasi

Fraksinasi merupakan proses pemisahan antara zat cair dengan zat cair.

Fraksinasi dilakukan secara bertingkat berdasarkan tingkat kepolarannya yaitu

dari non polar, semi polar, dan polar. Senyawa yang memiliki sifat non polar akan

larut dalam pelarut non polar, yang semi polar akan larut dalam pelarut semi

polar, dan yang bersifat polar akan larut ke dalam pelarut polar. Fraksinasi ini

dapat dilakukan dengan menggunakan Ekstraksi Cair - cair atau kromatografi

kolom (Harborne 1987; 4 - 8).

1.5. Kromatografi

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas

perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut di antara dua

fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Bila fase

diam berupa zat padat yang aktif, maka dikenal istilah kromatografi penjerapan.

Bila fase diam berupa zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi partisi

(Harborne 1987; 9 - 10).


11

1.5.1. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi lapis tipis merupakan teknik dari kromatografi yang

digunakan untuk analisis senyawa organik, isolasi senyawa murni dari suatu

bahan, analisis kuantitatif dan preparatif. Kromatografi lapis tipis memiliki prinsip

yaitu pemisahan komponen kimia berdasarkan adsorpsi dan partisi. Adsorpsi dan

partisi ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen

kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap

komponen-komponen kimia tidak sama, sehingga komponen kimia dapat bergerak

dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya dan hal inilah

yang menyebabkan terjadinya pemisahan. KLT juga dapat digunakan untuk

identifikasi senyawa secara kualitatif (Hajnos, et. al, 2008).

1.5.2. Kromatografi Cair Vakum

Cara ini pertama kali dipublikasikan oleh Coll dkk., pada tahun 1977

dengan menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek untuk

mengisolasi diterpena sembrenoida dari terumbu karang Australia. Kolom

kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan

kemasan maksimum. Vakum dihentikan, pelarut yang kepolarannya rendah

dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. Kolom dihisap sampai

kering dan sekarang siap dipakai (Hostettmann, et al., 1995:33).

Sampel dilarutkan dalam pelarut yang cocok, dimasukkan langsung pada bagian

atas kolom atau pada lapisan penjerap dan dihisap perlahan-lahan ke dalam

kemasan dengan memvakumkannya. Kolom dielusi dengan campuran pelarut

yang cocok, mulai dari pelarut yang kepolarannya rendah lalu kepolarannya
12

ditingkatkan perlahan-lahan, kolom dihisap sampai kering pada setiap

pengumpulan fraksi, oleh karena itu kromatografi cair vakum menggunakan

tekanan rendah untuk meningkatkan laju aliran fase gerak (Hostettmann, et

al.,1995:33).

1.6. Pemisahan dan Pemurnian (Isolasi)

Pemisahan merupakan aspek yang paling penting dalam bidang kimia karena

kebanyakan materi yang terdapat di alam berupa campuran, sehingga untuk

mendapatkan isolat murni dari suatu campuran maka dilakukan proses pemisahan

(Hendayana, 2006:1). Pemurnian harus dilakukan sebelum telaah spektrum dan

kandungan tumbuhan yang menunjukkan ciri serapan yang khas, pemurnian ini

harus diulangi hingga ciri tersebut tidak berubah lagi (Harborne, 1996:21-22).

Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan ini dapat dilakukan dengan

menggunakan salah satu atau gabungan dari beberapa teknik kromatografi, yaitu

kromatografi kertas (KKt), kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi gas cair

(KGC), kromatografi cair kinerja tinggi, kromatografi kolom. Pemilihan metode

kromatografi ini sebagian besar tergantung pada sifat kalarutan dan keatsirian

senyawa yang akan dipisahkan (Harborne, 1996: 8-9; bintang,2010:144).

Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah metode pemisahan fitokimia.

Lapisan yang memisahkan, terdiri dari bahan berbutir-butir (fase diam),

ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok.

Pada KLT preparatif, campuran yang akan dipisahkan berupa larutan ditotolkan

berupa garis atau pita pada salah satu sisi plat lapisan besar. Setelah plat atau
13

lapisan ditempatkan didalam bejana tertutup rapat berisi larutan pengembang yang

cocok (fase gerak) dan dielusi secara tegak lurus pada garis cuplikan sampai

campuran akan terpisah menjadi beberapa pita, pemisahan terjadi selama

perambatan kapiler (pengembangan). Pita ditampakkan dengan cara yang tidak

merusak jika senyawa tidak berwarna dan penjerap yang mengandung pita

dikerok dari pelat kaca. Senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan

(dideteksi). Untuk campuran yang tidak diketahui, fasa diam dan fasa gerak harus

dipilih dengan tepat karena keduanya bekerja sama dalam pemisahan (Gritter,

et.al., 1991:140; Stahl, 1985:3-4).

1.7. Uji Kemurnian Isolat

1.7.1. Kromatografi Lapis Tipis Dua Dimensi

KLT dua dimensi digunakan untuk mengidentifikasi kemurnian suatu

isolat dengan menggunakan eluen dengan kepolaran berbeda dan arah berbeda.

Untuk. KLT dua dimensi, dilakukan dengan komposisi kepolaran berbeda yaitu

yang bersifat kurang polar dan lebih polar. Tahapan pertama terlebih dahulu diuji

dengan menggunakan eluen non polar, kemudian dengan arah 90o dari arah

pertama kemudian dielusi menggunakan eluen yang lebih polar. Suatu isolat

murni hanya memberikan satu bercak (Gritter, et.al., 1991).

1.8. Karakterisasi Isolat dengan Spektrofotometer UV - sinar tampak

Spektrofotometer UV-sinar tampak sering dinamakan spektrometer

elektronik karena bekerja dalam penyerapan sinar ultra ungu dan sinar tampak
14

oleh suatu molekul organik yang akan menghasilkan transisi diantara tingkat

energi elektronik pada molekul tersebut. Transisi umumnya antara orbital ikatan

atau pasangan elektron bebas ke orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan

merupakan ukuran perbedaan tingkatan energi transisi elektronik dari orbital

tersebut. Agar elektron dalam ikatan sigma tereksitasi, maka diperlukan energi

paling tinggi dan akan memberikan serapan pada panjang gelombang 120-200 nm

(Supratman, 2010:9).

Prinsip kerja dari spektrofotometer UV-sinar tampak didasarkan pada

hukum Lambert-Beer yang menyatakan bahwa fraksi sinar yang diserap tidak

tergantung kepada intensitas sumber sinar melainkan tergantung kepada jumlah

molekul yang terserap (Supratman, 2010:14).


𝐼𝑜
A = log = ε.b.c (1)
𝐼

Keterangan :
A = absorbansi (serapan)
Io = intensitas radiasi yang masuk (sinar awal)
I = intensitas radiasi yang ditransmisi (sinar yang diteruskan)
c = konsentrasi zat (mol/jam)
b = panjang jalur/tebal sel yang dilalui sampel (cm)
ε = absorvitas molar (Lcm-4 . mol-1)

Elektron-elektron pada ikatan di dalam molekul mengalami eksitasi

sehingga akan menempati keadaan kuantum yang lebih tinggi dan dalam proses

penyerapan sejumlah energi yang melewati larutan tersebut. Semakin longgar

elektron tersebut ditahan di dalam ikatan molekul, semakin panjang juga panjang

gelombang radiasi yang diserap (Watson, 2010:105). Gelombang senyawa tidak

berwarna diukur pada jangka 200-400 nm dan senyawa berwarna pada jangka

400-800 nm. Panjang gelombang serapan maksimum dan minimum pada


15

spektrum serapan yang diperoleh direkam, demikian juga kekuatan absorbansi

(atau kerapatan optik) pada maksimal dan minimal yang khas. Spektrum serapan

kandungan tumbuhan dapat diukur dalam larutan yang sangat encer dengan

pembanding blanko pelarut serta menggunakan spektrofotometer yang direkam

otomatis (Harborne, 1996:21).