Anda di halaman 1dari 81

E-LEARNING KEPERAWATAN ENDOKRIN II

“Trend dan Issue Terbaru Keperawatan Endokrin dan Metabolik : Obesitas


dan Sindrom Metabolik”

Fasilitator :

Praba Diyan Rachmawati, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok I Kelas A-2/Angkatan 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
Hasil review jurnal 1 “Hubungan Penggunaan Waktu Perilaku Kurang Gerak
(Sedentary Behaviour) Dengan Obesitas Pada Anak Usia 9-11 Tahun Di Sd Negeri Beji
02 Kabupaten Tulungagung”

Obesitas merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan penumpukan lemak tubuh
secara berlebihan. Obesitas yang dialami anak-anak merupakan keadaan patalogis. Anak
dengan obesitas menunjukan indeks masa tubuh (IMT) tidak sesuai menurut umurnya. Kasus
dalam jurnal yang diteliti ini pada anak-anak sekolah dasar usia 9-11 tahun di SDN Beji 02
Tulungagung. Responden yang digunakan sebanyak 34 siswa yang terdiri dari 17 anak
obesitas dan 17 anak berat badan normal yang dipilih dengan uji hipotesis perbedaan 2
proporsi.

Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui hubungan, kekuatan, dan arah
hubungan penggunaan waktu perilaku kurang gerak (sedentary behaviour) dengan obesitas
pada anak usia 9-11 tahun SD Negeri Beji 02 Kabupaten Tulungagung.

Di dalam jurnal perilaku yang menyebabkan anak-anak sekarang lebih sering


melakukan (sedentary behaviour) atau perilaku kurang gerak dipengaruhi beberapa faktor.
Faktor pertama yaitu, faktor sosial ekonomi orangtua, dalam peneletian tersebut orang tua
dengan tingkat pendidikan tinggi serta berpenghasilan tinggi menunjukan anak mereka sering
melakukan sedentary behaviour. Dengan pendidikan yang tinggi maka orangtua mampu
bekerja dan mendapat penghasilan yang tinggi, dimana anak mereka dapat menikmati
fasilitas teknologi seperti gadget, video games, komputer (Yu et al., 2012). Dimana dengan
hal itu, anak-anak mereka akan membatasi gerak fisik mereka, yang seharusnya mereka dapat
berlari dan bermain di halaman rumah dengan teman sebayanya, tetapi mereka akan duduk
bermain games dan gadget yang disediakan oleh orangtua. Perubahan gaya hidup anak-anak
dengan orangtua eknomi tinggi inilah yang membuat penurunan aktivitas fisik anak-anak
mereka dan meningkatkan hidup sedentary.

Faktor yang kedua adalah lingkungan tempat tinggal. Lingkungan tempat tinggal
memberikan kontribusi terhadap penggunaan waktu sedentary behaviour pada anak. Pola
hidup orang yang tinggal di perumahan mengadopsi gaya hidup serba instan seperti aktivitas
yang awalnya memerlukan tenaga fisik manusia kini semuanya dipermudah dengan bantuan
teknologi. Kemajuan berbagai bentukinstant menyebabkan peningkatan sedentary
behaviour (Magnusson et al., 2011).
Hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas berkaitan dengan pengeluaran energi
dimana lemak tubuh berhubungan dengan obesitas dipengaruhi secara langsung oleh asupan
energi dan total pengeluaran energi. Aktivitas fisik memberi peran penting dalam pengeluaran
energi karena 20-50% energi dikeluarkan dengan aktivitas fisik. Kurang aktivitas fisik
menyebabkan kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Obesitas anak
diprediksi berhubungan dengan kebiasaan yang tidak aktif yang mengarah pada perilaku
kurang gerak (sedentary behavior).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah case control yang membandingkan
antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian
berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan. Penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian kohort retrospektif, dimana mempelajari dinamika korelasi antara penggunaan
waktu sedentary behaviour dengan kejadian obesitas pada anak melalui
pendekatan retrospektif selama 7 hari. Instrumen dalam penelitian ini adalah timbangan injak
pegas dengan kapasitas 130 kg, microtoise, dan aplikasi WHO AntrhoPlus software versi
1.0.2 untuk menentukan status gizi anak dan kuesioner yang digunakan untuk mengetahui
penggunaan waktu sedentary behaviour.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21.08% anak berusia 9-11 tahun
mengalami obesitas di SD Negeri Beji 02 Tulungagung. Sebagian besar kelompok obesitas
berjenis kelamin laki-laki sebesar 82.35%, sedangkan pada kelompok berat badan normal
sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 76.47%. Kemajuan teknologi seperti
komputer dan internet mengakibatkan anak menjadi malas bergerak. Faktor lingkungan
tempat tinggal memberikan kontribusi terhadap penggunaan waktu sedentary behaviour pada
anak. Perilaku sedentary memberikan risiko terhadap pengurangan pengeluaran energi.
Semakin banyak waktu yang digunakan dalam melakukan kegiatan sedentary maka
memberikan peluang yang lebih besar dalam mengurangi pengeluaran energi. Hal ini dapat
berakibat terhadap peningkatan risiko gizi lebih dan obesitas.

Dengan demikian perawat diharapkan melakukan promosi kesehatan kepada keluarga


dalam rangka meningkatkan perilaku hidup sehat, melalui kerja sama dengan guru sekolah,
orangtua dan anak dalam merencanakan dan mengimplementasikan aktivitas fisik serta
pedoman nutrisi. Perawat juga harus bertindak sebagai pendidik kesehatan, mengajarkan
kepada keluarga baik secara formal maupun informal tentang kesehatan dan penyakit, serta
bertindak sebagai pemberi pelayanan kesehatan utama tentang informasi kesehatan,
termasuk overweight dan obesitas pada anak.

Perawat menjelaskan bahwa anak-anak usia sekolah dasar adalah anak-anak yang aktif
bergerak, mereka harus disediakan hal-hal yang mampu memicu mereka untuk aktif bergerak.
Ini dilakukan demi tumbuh kembang anak yang baik. Perawat mampu mengedukasi para
orang tua untuk mengawasi dan meluangkan waktu utnuk anak-anak mereka walaupun
mereka sibuk bekerja atau mengurus rumah, anak-anak mereka tidak boleh terlena dengan
kecanggihan teknologi dan berdiam diri di rumah. Ada kalanya mereka harus bersosialisasi
dan bergerak aktif dengan bermain bersama teman sebayanya. Perawat juga mampu
menunjukan hal-hal yang akan dialami apabila anak-anak mereka tidak aktif bergerak.
Misalnya, kemajuan teknologi seperti penggunaan gadget yang berisi banyak fitur yang
disukai anak-anak, dimana anak-anak yang lama kelamaan menggunakan gadget akan
megalami perubahan struktur tulang punggung anak menjadi melengkung karena terlalu
sering menghadap ke bawah, ke layar gadget. Perkembangan mental anak juga terhambat.
Penyakit emosional muncul, seperti anak akan mudah marah dan memberontak ketika mereka
kalah dari bermain game. Anak-anak juga tidak percaya diri karena kurang berhubungan
dengan orang lain.

Peran perawat yang lain sebagai upaya perawatan adalah memberikan asuhan
keperawatan terhadap individu, keluarga klien dan masyarakat yang sudah mengalami
obesitas. Perawat dapat membantu untuk mengatur pola makan dan pola aktivitas fisik yang
dilakukan klien untuk menjaga berat badannya serta memberikan intervensi keperawatan
yaitu pembimbingan terhadap keluarga (coaching) untuk mengatasi masalah kesehatan akibat
perilaku atau gaya hidup tidak sehat.

Hasil review jurnal 2 ”Aktivitas Fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada
anak sekolah dasar”

Meningkatnya kasus obesitas dewasa ini, sangat menimbulkan dampak yang serius
bagi kesehatan masyarakat saat ini. Obesitas pada anak adalah kondisi medis pada anak yang
ditandai dengan barat badan di atas rata-rata dari indeks massa tubuhnya (Body Mass Index)
yang di atas normal. Peningkatan prevalensi obesitas disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan antara masukan energi dengan keluaran energi. Aktivitas fisik pada anak-
anak baik di sekolah maupun di rumah berperan penting dalam penentuan status gizi anak,
termasuk risiko terjadinya obesitas.

Penelitian dalam jurnal ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik
dengan kejadian obesitas pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional
dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian yaitu semua anak kelas 3, 4, dan 5
SDN Ngebel, Tamantirto Kasihan Bantul. Sampel penelitian berjumlah 96 anak. Sebagian
besar responden dalam penelitian ini berusia 9-11 tahun dengan prevalensi murid laki-laki
sebesar 65,6% dan murid perempuan 54,2%. Prevalensi anak yang mengalami obesitas
sebanyak 12,5%. Tingkat aktivitas fisik pada anak lebih didominasi pada aktivitas sedang-
berat >1 jam/hari sebanyak 60,4%. Hipotesis penelitian diterima bahwa anak dengan aktivitas
fisik sedang-berat ≤1 jam/hari meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Durasi aktivitas
ringan pada siswa obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak obesitas, sedangkan rata-
rata aktivitas sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak obesitas. Hasil penelitian ini
menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas.

Obesitas pada anak SDN Ngebel, Tamantirto, Kasihan, Bantul dapat disebabkan oleh
beberapa hal, antara lain: rendahnya aktivitas fisik di sekolah, minimnya ekstrakurikuler
sehingga menurunkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anak, berkurangnya rasa
tertarik anak untuk bermain di luar rumah setelah pulang sekolah karena mereka lebih
memilih untuk menonton televisi atau bermain game yang menyebabkan aktivitas ringan
menjadi lebih tinggi dibandingkan aktivitas sedang bahkan tidak terdapat siswa yang
melakukan aktivitas berat.

Hasil dari penelitian tersebut diperoleh data rata-rata durasi aktivitas ringan pada
siswa obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak obesitas, sedangkan rata-rata aktivitas
sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak obesitas. Anak-anak yang mempunyai aktivitas
fisik di dalam rumah seperti halnya aktivitas berbasis layar dilaporkan mempunyai risiko
lebih tinggi untuk mengalami obesitas dibandingkan anak dengan aktivitas berbasis layar
rendah. Pola aktivitas yang kurang menyebabkan jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit
dibandingkan kalori yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, sehingga berpotensi
menimbulkan penimbunan lemak berlebih di dalam tubuh. Upaya meningkatkan aktivitas
fisik sejak anak-anak termasuk usia saat pra sekolah, akan dapat menjaga agar anak-anak
tetap memiliki aktivitas fisik yang cukup dalam upaya pencegahan obesitas.
Dalam hal ini peran perawat sangat dibutuhkan sebagai upaya pencegahan terjadinya
obesitas. Perawat dapat memberikan edukasi baik untuk anak maupun keluarga. Edukasi yang
diberikan dapat berupa sosialisasi bahwa anak-anak usia sekolah dasar seharusnya lebih
banyak beraktivitas agar mampu memicu mereka untuk aktif bergerak. Peran perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan langsung terhadap individu, keluarga, dan masyarakat yaitu
sebagai pendidik kesehatan: mengajarkan kepada keluarga baik secara formal maupun
informal tentang informasi kesehatan, termasuk obesitas anak. Sebagai pemberi pelayanan
atau pengawas: memberikan pelayanan langsung dan melakukan pengawasan/pembinaan
terhadap pelayanan yang diberikan, termasuk keluarga. Lalu bagi institusi sekolah
memberikan opsi kegiatan ekstrakurikuler yang beragam seperti sepak bola, bulu tangkis,
pencak silat, tenis meja dan bola voli agar siswa lebih tetarik untuk mengikuti kegiatan
sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya obesitas. Bagi keluarga dan masyarakat dapat
memberikan dukungan pada anak untuk lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah
seperti bersepeda, sepak bola, bulu tangkis, bola kasti serta mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah dan mengurangi aktivitas di dalam rumah seperti nonton TV dan
main game untuk mengontrol berat badan anak agar tidak mengalami obesitas.

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Saya Ayu Rahmawati (131511133075) ingin bertanya: Dari review jurnal 1 dijelaskan
bahwa "Perawat dapat membantu untuk mengatur pola makan dan pola aktivitas fisik
yang dilakukan klien untuk menjaga berat badannya."

Kita tahu bahwa anak-anak memiliki sifat ego yang tinggi dalam mempertahankan gaya
hidupnya. Bagaimana intervensi yang tepat dalam menjaga pola makan dan
mempertahankan pola aktivitas fisik tersebut?

Jawaban :

Saya Fifa Nasrul Ummah (131511133056) akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Ayu Rahmawati

Memang anak kecil sulit sekali untuk dikendalikan apalagi jika anak itu suka sekali
makan namun tidak mau berkatifitas dan waktu luangnya hanya digunakan dalam
melakukan kegiatan sedentary. Bagaimana intervensi yang tepat dalam menjaga pola
makan dan mempertahankan pola aktivitas fisik tersebut?

Perawat pediatri (anak) dalam tugasnya sebagai praktisi kesehatan berada pada garis
terdepan dalam mencegah terjadinya obesitas pada anak. Intervensi yang bisa dilakukan
perawat pada anak dengan obesitas yaitu menumbuhkan motivasi anak untuk ingin
menurunkan berat badan setelah anak mengetahui berat badan ideal yang disesuaikan
dengan IMT. Kemudian membuat kesepakatan bersama target penurunan berat badan
yang dikehendaki. Kemudian untuk latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan
tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Misalnya, aktifitas fisik
untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan keterampilan otot, seperti
bersepeda, berjalan, berenang, menari dan senam, dan lain sebagainya.

Namun, dalam menjalankan peran ini perawat harus melibatkan seluruh keluarga.
Perawat harus memiliki kemampuan dalam mengukur pola asuh orangtua, keyakinan
dari orangtua, dan kontrol orangtua terhadap pola makan anak. Intervensi yang bisa
dilakukan yaitu memberikan konseling kepada para orangtua, terutama ibu-ibu yang
diyakini dapat menjadi role model bagi anak-anaknya dalam hal penerapan pola makan.
Edukasi dan penyuluhan perlu dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran orang tua mengenai bahaya obesitas yang serius bagi anak baik di masa
sekarang maupun yang akan datang. Orang tua diharapkan meningkatkan aktivitas fisik
anak obesitas baik dengan cara mengajak anak berolahraga dan bermain, memberikan
anak berbagai tugas sederhana di rumah yang dapat membakar kalori dan mengurangi
aktivitas sedenter. Orang tua perlu mengurangi porsi makan anak dengan melakukan diet
rendah kalori dan rendah lemak, perbanyak konsumsi air, buah dan sayur.
Dengan demikian, upaya pencegahan dan penanganan obesitas pada anak dapat lebih
efektif dan dapat disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi keluarga saat ini.

Sumber :
Triana, Komang Yogi. 2015. Manajemen Obesitas dengan Pola Asuh Efektif sebagai
Upaya Preventif Penyakit Kronis pada Anak (Jurnal Dunia Kesehatan, Volume 5 Nomor
1)
Rombemba, Finna R. 2016. Pandangan Orang Tua Mengenai Intervensi Aktivitas Fisik
dan Diet pada Siswa Obesitas di Sekolah Dasar (Jurnal Kedokteran Komunitas dan
Tropik: Volume 4 Nomor 2).
2. Saya Ririn Arianta (131511133062) ingin bertanya terkait review jurnal dari diskusi I :
1. Intervensi apa yang seharusnya kita lakukan pada anak dan keluarga pasien untuk
mengatasi masalah psikososial yang terjadi anak dengan sedentary behaviour ?
2. Pada review jurnal yang pertama dikatakan bahwa rasio terjadinya obesitas pada anak
laki-laki lebih besar dibanding dengan anak perempuan, apa yang menjadi faktor
penyebab terjadinya masalah tersebut ?
jawaban :

Saya Elly Ardianti NIM 131511133058 dari kelompok 1 akan mencoba menjawab
pertanyaan saudari Ririn.

1. Saat bertemu dengan anak maupun ketika akan melakukan intervensi keperawatan,
perawat sebaiknya menyapa pasien anak dengan nama/panggilan yang disukainya.
Dalam interaksinya perawat harus bisa menjadi kawan bagi anak dengan
menunjukkan raut muka bersahaja, sikap hangat, mengerti kebutuhan serta perasaan
anak. Intervensi pertama yang dapat dilakukan yaitu menanamkan rasa percaya anak
terhadap perawat, di mana anak merasa bahwa perawat akan bermaksud baik
menolong dirinya. Saat berkomunikasi terapeutik dengan anak, secara verbal
perawat dapat menggunakan teknik bercerita dengan bahasa anak supaya ia tertarik
untuk mendengarkan dan perasaan tertekannya dapat terkurangi. Dengan teknik
bercerita perawat dapat mengetahui perasaan anak. Perawat memberikan
kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaannya, untuk melepaskan
ketegangannya. Biarkan dia berteriak dan marah tanpa harus dihukum.

Kemudian perawat dapat mengarahkan anak untuk menyalurkan rasa marahnya ke


dalam kegiatan yang produktif misalnya mengajak anak dalam suatu kegiatan olah
raga kegemarannya. Hal ini dapat menyalurkan tenaga dan menghabiskan waktunya,
serta menyerap minat dan vitalitasnya. Sebaiknya orang tua juga ikut terlibat atau
terjun dalam kegiatan tersebut. Hal ini sangat mempengaruhi hubungan orangtua
dengan anak. Setelah anak melakukan hal-hal positif, sebaiknya perawat dan orang
tua meberikan pujian atas prestasinya tersebut. Peran perawat terhadap keluarga
adalah memberikan edukasi dan penjelasan mengenai bagaimana cara menghadapi
anak yang sedang mengalami masalah psikosial. Keluarga harus bijaksana dala
mendampingi dan membimbing anaknya ke arah yang lebih baik.
2. Dalam sebuah teori dijelaskan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dengan
obesitas. Pada anak sekolah dasar, laki-laki cenderung lebih banyak mengonsumsi
energi, karbohidrat, protein, dan lemak daripada perempuan sehingga secara
langsung dapat berkontribusi terhadap kejadian obesitas (Marshall et al., 2005). Hal
ini kemungkinan disebabkan oleh anak perempuan lebih sering membatasi makan
untuk alasan penampilan.

Selain itu menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sartika 2011 yang
memperoleh proporsi obesitas pada anak laki-laki lebih tinggi sebesar 16,4 %
dibanding anak perempuan dengan proporsi sebesar 12,3%. Hal ini disebabkan oleh
karena adanya perbedaan tingkat aktifitas fisik dan asupan energi. Hasil analisis
antara jenis kelamin dengan asupan energi dan karbohidrat menunjukkan bahwa
rerata asupan energi total dan karbohidrat pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan
perempuan (p<0,05). Kebutuhan zat gizi anak laki-laki usia 10-12 tahun lebih besar
dibandingkan anak perempuan karena pengaruh aktivitas fisik dan growth spurt anak
laki-laki lebih besar, akibatnya kebutuhan energi menjadi lebih banyak.
Sumber :

Purba., dkk. 2015. Faktor Risiko Obesitas Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Dan
Lingkar Pinggang di Sma Katolik Palangkaraya. Jurnal vokasi Kesehatan, Volume I
Nomor 1, hlm. 1-8

Sartika. 2011. Faktor Risiko Obesitas Pada Anak 5-15 Tahun di Indonesia. Makara,
Kesehatan, Vol. 15, No. 1 hal : 37-43

3. Saya windi khoiriyah (131511133072) ingin bertanya pada hasil review jurnal pertama
dijelaskan bahwa "Terdapat 21.08% anak berusia 9-11 tahun mengalami obesitas di SD
Negeri Beji 02 Tulungagung" Apakah hanya pada anak usia 9-11 tahun saja yang
terkena obesitas, sedangkan kenyataan sekarang anak usia kurang dari 9 tahun sudah ada
yang obesitas?

Jawaban :

Saya Oktiana Duwi Firani (131511133061) akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Windi Khoiriyah
Tentu tidak hanya pada anak usia 9-11 tahun saja, karena pada kenyataannya untuk usia,
obesitas bisa terjadi pada usia berapa pun saja, namun hendaknya orangtua harus lebih
memperhatikan berat badan anaknya setelah usia 6 tahun.

Penyebab obesitas sendiri bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, asupan makan yang
berlebih, dan aktivitas yang kurang. Namun kadang orang tua yang kutrus bisa saja
mempunyai anak yang gemuk, karena selain faktor genetik tadi, pola makan yang salah
dan aktifitas yang kurang di dalaam keluarga (dalam hal ini orangtua) dapat
mempengaruhi anak. Peran Orang tua diharapkan meningkatkan aktivitas fisik anak
obesitas baik dengan cara mengajak anak berolahraga dan bermain, memberikan anak
berbagai tugas sederhana di rumah yang dapat membakar kalori dan mengurangi
aktivitas sedenter. Orang tua perlu mengurangi porsi makan anak dengan melakukan diet
rendah kalori dan rendah lemak, perbanyak konsumsi air, buah dan sayur. Dengan
demikian, upaya pencegahan dan penanganan obesitas pada anak dapat lebih efektif dan
dapat disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi keluarga saat ini.

Sumber:
Triana, Komang Yogi. 2015. Manajemen Obesitas dengan Pola Asuh Efektif sebagai
Upaya Preventif Penyakit Kronis pada Anak (Jurnal Dunia Kesehatan, Volume 5 Nomor
1)
Zamzani M, Hamam Hadi, dan Dewi Astiti. 2016. Aktivitas Fisik berhubungan dengan
Kejadian Obesitas pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia: Vol. 4,
No. 3.
Rombemba, Finna R. 2016. Pandangan Orang Tua Mengenai Intervensi Aktivitas Fisik
dan Diet pada Siswa Obesitas di Sekolah Dasar (Jurnal Kedokteran Komunitas dan
Tropik: Volume 4 Nomor 2).

4. Saya Ni Komang Ayu Santika (131511133066) dari kelompok 2 ingin bertanya:

1. Pada review jurnal yang kedua disebutkan bahwa: "Durasi aktivitas ringan pada siswa
obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak obesitas, sedangkan rata-rata aktivitas
sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak obesitas." Apakah bisa dijelaskan kriteria
aktivitas fisik yang ringan, sedang, dan berat itu yang bagaimana?
2. Sekarang ini, sedang berlangsung program full day school. Seperti yang diberitakan
bahwa full day school ini cenderung membuat anak-anak lelah karena kegiatan belajar-
mengajar disekolah yang bisa sampai sore hari. Anak-anak ini tentunya tidak ada waktu
lagi untuk berolahraga ataupun melakukan aktivitas fisik. Nah menurut anda bagaimana
solusi agar anak-anak tetap dapat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik agar tidak
mengalami obesitas?

Jawaban :
Saya Khulasotun Nuriyah (131511133042) anggota kelompok 1 akan mencoba
menjawab pertanyaan.

1. Apakah bisa dijelaskan kriteria aktivitas fisik yang ringan, sedang, dan berat itu
yang bagaimana? Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh
otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada
(kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit
kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global
(WHO, 2010; Physical Activity. In Guide to Community Preventive Services
Web site, 2008).

Menurut Nurmalina (2011) aktivitas fisik dapat digolongkan menjadi tiga


tingkatan, yaitu:

- Aktivitas Ringan, hanya memerlukan sedikit tenaga dan biasanya tidak


menyebabkan perubahan dalam pernapasan atau ketahanan (endurance),
pengeluaran kalori: 2,5 s/d 4,9 kcal per menit. Contoh: berjalan kaki, menyapu
lantai, mencuci piring, mencuci kendaraan, berdandan, duduk, les di sekolah,
les di luar sekolah, mengasuh adik, nonton TV, aktivitas main play station,
main komputer, belajar di rumah, nongkrong, tidur.

- Aktivitas Sedang, membutuhkan tenaga intens atau terus menerus, gerakan otot
yang berirama atau kelenturan (flexibility), pengeluaran kalori: 5 s/d 7,4 kcal
per menit. Contoh: berlari kecil, tenis meja, berenang, bermain dengan hewan
peliharaan, bersepeda, bermain musik, jalan cepat, mengerjakan tugas kuliah,
mencuci baju.
- Aktivitas Berat, biasanya berhubungan dengan olahraga dan membutuhkan
kekuatan (strength), membuat berkeringat, pengeluaran kalori: 7,5 s/d 12 kcal
per menit. Contoh: berlari, bermain sepak bola, aerobik, bela diri (misal karate,
taekwondo, pencak silat) dan outbond.

2. Menurut anda bagaimana solusi agar anak-anak sekolah program full day school
tetap dapat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik agar tidak mengalami
obesitas? Menurut pendapat saya hal yang harus diperhatikan selain mengontrol
aktivitas fisiknya yaitu dilakukan juga mengontrol asupan nutrisi atau kebutuhan
kalori yang dibutuhkan anak tersebut. Selanjutnya kita mengontrol agar tetap
berolahraga atau mealakukan aktifitas fisiknya. Aktifitas fisik yang dapat dilakukan
anak-anak yaitu aktifitas ringan pada sore hari setelah pulang sekolah misalnya
seperti meminta bantuan anak untuk membersihkan kamarnya atau meminta ibu
dapat meminta anak untuk membelikan garam di warung dengan berjalan kaki.
Selanjutnya pada hari libur dapat dilakukan aktivitas fisik sedang-berat seperti
bersepeda dipagi hari, berenang, bermain dengan hewan peliharaan, dan juga
bermain sepak bola.

Sumber:
Arisman. 2013. Obesitas, Diabetes Mellitus, dan Dislipidemia, Konsep, Teori, dan
Penanganan Aplikatif. Jakarta: EGC.

Rombemba, Finna R. 2016. Pandangan Orang Tua Mengenai Intervensi Aktivitas


Fisik dan Diet pada Siswa Obesitas di Sekolah Dasar (Jurnal Kedokteran
Komunitas dan Tropik: Volume 4 Nomor 2).

5. Saya Rifki fauzi maulida (131511133126) ingin bertanya mengenai review jurnal 2

Dalam review di sebutkan bahwa Obesitas pada anak SDN Ngebel, Tamantirto, Kasihan,
Bantul dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: rendahnya aktivitas fisik di
sekolah, minimnya ekstrakurikuler sehingga menurunkan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh anak, berkurangnya rasa tertarik anak untuk bermain di luar rumah
setelah pulang sekolah. Bagaimana cara pihak sekolah mengatasi masalah minimnya
ekstrakulikuler? Dan bagaimana cara sekolah untuk menarik rasa ketertarikan anak untuk
ikut serta dalam kegiatan ekstrakulikuler dan bermain sepulang sekolah? Bagaimana
peran keluarga dan bagi anak yang terkena sedentary behavior?
Jawaban :

Saya Fitria Kusnawati, NIM: 131511133038 dari kelompok 1 akan mencoba menjawab
pertanyaan dari saudara Rifki Fauzi Maulida.

Untuk pertanyaan saudara yang pertama, menurut saya hal utama yang dilakukan oleh
pihak sekolah untuk membantu menekan angka obesitas anak adalah dengan lebih
memperbanyak kegiatan ekstrakulikuler yang menyenangkan bagi anak, tidak hanya
olahraga, bisa juga berkaitan dengan seni dan budaya daerah setempat sehingga akan
banyak menimbulkan dampak positif, misal tari tradisional atau karawitan. Selain
memperbanyak tentunya pihak sekolah juga dapat mewajibkan kegiatan tersebut, baik
untuk syarat kenaikan kelas atau tambahan nilai, sehingga anak tidak hanya tertarik tapi
juga merasa butuh. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saudara yang kedua.

yang ketiga adalah sebagai perawat kita diharuskan untuk memberikan edukasi dan
meyakinkan terhadap kedua orangtua anak untuk tidak melarang anaknya bermain di luar
rumah bersama teman-temannya, tentunya juga dengan pengawasan dari orangtua
ataupun orang dewasa kepercayaan disekitarnya. Atau bisa juga dengan memfasilitasi
kegiatan bermain anak dengan memberikan tiruan arena bermain di dalam rumah untuk
mempermudah orangtua dalam hal melakukan pengawasan terhadap anak, namun hal ini
tentunya tidak sebaik saat anak bermain di luar rumahnya,
Bermain memungkinkan anak mengalami kemenangan dengan menyelesaikan teka-teki ,
berlatih memainkan peranan orang dewasa, meniru peran penyerang bukannya korban,
meniru kekuatan pahlawan super dan mendapatkan hal-hal yang ditolak dalam kehidupan
nyata. Hal seperti ini membuat imajinasi anak semakin luas berkembang dan membentuk
pola pikirnya.

Sumber:
Richard E, bherman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol.1.E/15. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Saya Auzan Muttaqin NIM 131511123030 ingin menambahkan jawaban dari teman saya
mengenai pendapat kami perihal Program Full Day School,
Program lima hari sekolah atau masyarakat biasa menyebutnya dengan Full Day School
bukan berarti siswa harus belajar di dalam kelas terus menerus. Ada beragam aktivitas
belajar yang dilakukan dengan bimbingan dan pembinaan guru. Beragam kegiatan yang
dapat dilakukan misalnya, mengaji, pramuka, palang merah remaja. Juga kegiatan yang
terkait upaya mendukung pencapaian tujuan pendidikan, seperti belajar budaya bangsa di
museum atau sanggar seni budaya juga menghadirkan mental sportif dengan olahraga.
Diharapkan aktivitas belajar peserta didik tidak membosankan karena dilakukan secara
tatap muka di kelas saja, namun dapat lebih menyenangkan karena melalui beragam
metode belajar yang dikelola guru dan sekolah. Beragam aktivitas yang dapat dilakukan
siswa dalam hari sekolah di antaranya kegiatan pengayaan mata pelajaran,
pembimbingan seni dan budaya. Selain itu, pengembangan potensi, minat, bakat, serta
kepribadian siswa juga dapat didorong melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Sehingga menurut kami Program Lima Hari Sekolah tidak akan mengganggu anak untuk
olahraga dan melakukan aktivitas fisik lainnya, bahkan program ini sangat baik sekali
untuk menunjang hal tersebut.

Sumber :

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/06/kemendikbud-lima-hari-sekolah-
bukan-full-day-school

6. Saya Rahmadanti Nur Fadilla (131511133074) dari kelompok 2 ingin bertanya mengenai
hasil review dari kelompok 1.

Pada review jurnal 2 terdapat pernyataan "Hasil dari penelitian tersebut diperoleh data
rata-rata durasi aktivitas ringan pada siswa obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak
obesitas, sedangkan rata-rata aktivitas sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak
obesitas." Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah, berapa rata-rata durasi yang didapat
dari hasil penelitian serta berapakah durasi aktivitas yang diperlukan anak-anak untuk
menghindari obesitas?

Jawaban :
Saya Umi Nafiatul Hasanah (NIM 131511133053) akan menjawab pertanyaan dari Sdri.
Rahmadanti.
Berdasarkan hasil analisis bivariat penelitian diketahui bahwa 60,4% anak-anak sekolah
melakukan aktivitas fisik sedang-berat durasi >1 jam/hari. Hasil uji Fisher’s
menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak
yang dibuktikan dengan nilai p=0,009 (<0,05) dan OR 5,69 (95% CI: 1,42-22,65).
Dengan kata lain, anak yang melakukan aktivitas sedang-berat durasi ≤1 jam/hari
berpeluang 5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas daripada anak dengan aktivitas
sedang-berat durasi >1 jam/hari (Zamzani dkk, 2016).

Durasi aktivitas yang diperlukan anak-anak untuk menghindari obesitas yaitu >1 jam
per/hari dengan melakukan aktivitas fisik sedang-berat. Beberapa saran bagi institusi
sekolah untuk memberikan opsi kegiatan ekstrakurikuler yang beragam seperti sepak
bola, bulu tangkis, pencak silat, tenis meja, dan bola voli agar siswa lebih tertarik untuk
mengikuti kegiatan sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya obesitas. Bagi keluarga
dan masyarakat dapat memberikan dukungan pada anak untuk lebih banyak melakukan
aktivitas di luar rumah seperti bersepeda, sepak bola, bulu tangkis, bola kasti serta
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengurangi aktivitas di dalam rumah
seperti menonton TV dan bermain game untuk mengontrol berat badan anak agar tidak
mengalami obesitas (Zamzani dkk, 2016).

Sumber: Zamzani M, Hamam Hadi, dan Dewi Astiti. 2016. Aktivitas Fisik berhubungan
dengan Kejadian Obesitas pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia:
Vol. 4, No. 3.

7. Saya Siti Lusiyanti (131511133073) ingin sedikit bertanya mengenai hasil review jurnal
2.
Dalam review disebutkan bahwa anak dengan aktivitas berbasis layar dilaporkan
mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami obesitas dibandingkan anak dengan
aktivitas berbasis layar rendah. Pada anak dengan kecanduan gadget parah biasanya sulit
sekali untuk lepas dari gadget, apalagi dengan sifat anak sekarang yang temperamental
dan sulit sekali diatur. Kira-kira bagaimanakah langkah/tahapan alternative yang harus
ditempuh seorang perawat untuk mengatasi hal tersebut jika edukasi sudah dilakukan
namun tetap tidak berhasil?
Jawaban :
Saya Bunga Novia, NIM 131511133057, dari kelompok diskusi 1 akan mencoba
menanggapi pertanyaan dari Saudari Siti Lusiyanti.

 Jika edukasi yang dilakukan tidak/kurang berhasil, maka perlu disertai dengan
tindakan dan kerjasama lingkungan. Mulai dari orang tua/keluarga, teman sebaya,
dan sekolah/lingkungan pendidikannya. Edukasi yang dilakukan tidak bisa satu kali,
tapi harus berulang. Awalnya perawat bekerjasama dengan orang tua untuk
menjelaskan tentang fungsi smartphone sebagai alat komunikasi dan menambah
wawasan serta relasi sosial sehingga penggunaannya perlu dibatasi. Orang tua
adalah role model anaknya. Jadi, jika orang tua ingin anaknya membatasi
penggunaan smartphone, maka orang tua juga harus membatasi penggunaan
smartphone untuk dirinya.

 Jika langkah edukasi seperti yang saya sebutkan masih kurang berhasil, maka kita
menggunakan peran perawat selanjutnya yaitu case manager. Keberhasilan
penanganan kecanduan gadget bisa juga dari peran orang tua. Beberapa orang tua
yang bekerja terkadang memiliki waktu yang singkat untuk bertemu ataupun
mendengar keluh kesah anaknya sehingga anak lebih bebas surfing di internet.
Perawat bisa membantu orang tua tersebut untuk merancang jadwal penggunaan
internet ataupun smartphone untuk anak dan jadwal rekreasi keluarga.

1. Yang terpenting bukan “apa” jenisnya tetapi kapan memerlukannya.


Sesuaikan usia anak dengan pemberian smartphone, buatkan peraturan atau
jadwal penggunaan internet dan/atau smartphone

2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas. Sesibuk apapun orang tua bekerja,
usahakan tetap melakukan dialog dengan anak, bisa sebelum tidur, ataupun saat
sarapan. Selain dialog, buat juga komitmen waktu mematikan smartphone
dan/atau internet

3. Tentukan sanksi jika anak melanggar komitmen. Orang tua harus konsisten
terhadap sanksi yang telah dibuat bersama dengan anak.
4. Lakukan rekreasi bersama keluarga minimal satu minggu sekali. Rekreasi
tidak harus keluar rumah, bisa juga dilakukan di dalam rumah. Misalnya
berenang, berkebun, ataupun merawat rumah bersama. Orang tua harus
menunjukkan bahwa masih banyak hal menyenangkan selain smartphone
dan/atau internet.

Sumber:

http://repository.ubaya.ac.id/3477/1/Penggunaan%20smartphone.pdf

http://repository.upy.ac.id/373/1/FK8_Yulia%20Palupi%20FIX%2047-50.pdf

http://ejournal.uin-suka.ac.id/dakwah/hisbah/article/view/1075/947

8. Saya Asti Pratiwi NIM 131511133069 dari kelompok 2 ingin bertanya pada kelompok 1.
Berdasarkan review jurnal yang pertama dengan judul Hubungan Penggunaan Waktu
Perilaku Kurang Gerak (Sedentary Behaviour) Dengan Obesitas Pada Anak Usia 9-11
Tahun Di Sd Negeri Beji 02 Kabupaten Tulungagung” bahwa sedentary behavior
dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal, lalu jika anda sebagai orang tua dan
sekaligus profesi anda sebagai perawat dari anak-anak dengan sedentary behavior
tersebut, bagiamanakah peran anda dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal
supaya anak-anak bisa terhindar dari sedentary behavior?? Dan jika anak-anak sudah
terkena dampak dari sedentary behaviuor tersebut apakah bisa dipulihkan, jika bisa
bagaimana upaya untuk memulihkan mereka kembali supaya tidak terjadi obesitas?

Jawaban :

Saya Rizka Maudy Julianti_131511133051 perwakilan dari kelompok 1 akan menjawab


pertanyaan dari saudari asti

- penciptaan lingkungan tempat tinggal anak yang dapat terhindar dari sedentary
behavior yaitu menyediakan taman bermain di lingkungan tersebut, perhatian orang tua
mengenai pola makan dan status gizi anak, permainan yang mengandung aktivitas fisik

- iya bisa, dengan cara mengalihkan perhatian anak pada aktivitas fisik, memberikan
permainan playstation dengan jam tertentu atau dibatasi, menonton tv dan memegang
gadget juga dibatasi, ajak anak untuk keluar rumah dan melakukan aktivitas fisik seperti
bermain bola dsb, serta dorong anak untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler
disekolahnya.

Sumber:
http://duniaanak.org/kesehatan-anak/obesitas-pada-anak-fakta-penanganannya.html

9. Saya Alip Nur Apriliyani (13151113063) ingin bertanya, dari kedua jurnal tersebut
dijelaskan bahwa prevalensi anak yang mengalami obesitas lebih banyak terjadi pada
anak laki-laki daripada anak perempuan. Mengapa demikian?

Lalu pada jurnal pertama dijelaskan bahwa anak yang tidak aktif bergerak akan
menyebabkan perkembangan mentalnya terhambat dan sering emosional. Bagaimana
peran perawat pada anak dan keluarga jika sudah terjadi seperti itu?

Jawaban :

Saya Siska Kusuma Ningsih (NIM. 1311511133037) dari kelompok 1 akan mencoba
menjawab pertanyaan dari saudari Alip.

Menurut WHO (2000), perempuan cenderung mengalami peningkatan penyimpanan


lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengonsumsi
sumber karbohidrat yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki lebih
cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi penelitian yang dilakukan
oleh Proper et al. (2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih
berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada wanita, karena laki-
laki cenderung untuk menghabiskan lebih bayak waktu untuk santai saat akhir minggu
atau waktu senggang.

Anak pasif adalah anak yang menerima saja, tidak giat, dan tidak aktif. Anak cenderung
lebih pendiam dibanding anak kebanyakan, biasanya anak tersebut juga tidak menyukai
suatu kelompok dan lebih suka sendiri. Aktif tidaknya seorang anak dipengaruhi oleh
perkembangan emosi yang terjadi padanya, perkembangan emosi ini akan berpengaruh
pada bagaimana anak menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya.
Peran perawat pada anak yang tidak aktif bergerak dengan cara mengedukasi anak
tersebut serta keluarganya untuk memilih kegitan yang disukai (hobi) anak tersebut.
Misalnya mengikutsertakan les basket, piano, menari, dll. Dengan kegiatan yang dia
sukai, anak akan merasa lebih nyaman dan merasa kegiatan tersebut sesuai dengan
passion anak. Selain itu kita sebagi perawat juga mengedukasi orangtua, dengan
memberikan contoh yang cepat ditiru oleh anak-anak. Apa yang diucapkan dan dilakukan
adalah cermin berjalan. Anak pasif hanya bisa menerima apa yang dia lihat dan
dikatakan.Oleh karena itu, sang anak harus dirangsang agar dapat memberikan pengaruh
untuk berinteraksi sendiri tanpa harus diminta, karena anak tersebut cenderung memiliki
kecerdasan yang kurang.

Sumber:
Purwandani, Lutfi Febri. “Keterkaitan Karakteristik Lingkungan Sekolah dengan
Konsumsi Pangan dan Aktivitas Fisik pada Anak Sekolah yang Obes”. 28 Agustus 2017.
http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/52932/3/BAB%20II%20Tinjauan
%20Pustaka.pdf

10. Saya Annisa Prabaningrum 131511133129 dari kelompok 2 ingin menanyakan mengenai
Hasil review jurnal 2 ”Aktivitas Fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak
sekolah dasar”.

1. Peningkatan prevalensi obesitas disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara


masukan energi dengan keluaran energi. Bagaimana upaya dan peran perawat untuk
menyeimbangkan masukan energi dengan keluaran energi pada anak? tindakan apa saja
yang perlu diedukasikan kepada keluarga ?

2. Aktivitas fisik pada anak-anak baik di sekolah maupun di rumah berperan penting
dalam penentuan status gizi anak, termasuk risiko terjadinya obesitas. Tolong jelaskan
dan berikan contoh bagaimana aktivitas fisik pada anak-anak berperan penting dalam
penentuan status gizi anak ?

Jawaban :

Saya Kifayatus Sa’adah (131511133047) dari kelompok 1 akan menjawab pertanyaan


dari Saudari Annisa Prabaningrum :
1. A. Upaya dan peran perawat sebagai educator, case manager, dan pemberi pelayanan
atau pengawas
- Sebagai educator : perawat memberikan edukasi seperti penyuluhan dan promosi
kesehatan pada anak-anak dan orang tua tentang cara menyeimbangkan masukan
energi dan keluaran energi pada anak.
- Sebagai case manager : perawat memberikan pendampingan dan saran bagi orang
tua dalam cara menyeimbangkan masukan energi dan keluaran energi pada anak.
- Sebagai pemberi pelayanan atau pengawas: memberikan pelayanan langsung dan
melakukan pengawasan/pembinaan terhadap pelayanan yang diberikan, termasuk
keluarga.
B. Edukasi pada orang tua meliputi :
- Orang tua harus membimbing, mengingatkan, dan mengawasi anak untuk
mengurangi perilaku sedentary.
- Orang tua harus mengajarkan pada anak untuk melakukan aktivitas fisik dan
bergerak aktif supaya hidup sehat, seperti berolahraga atau bermain di luar rumah
bersama teman-teman sebayanya seperti berkejar-kejaran, bersepeda, dan
sebagainya.
- Orang tua memberikan asupan nutrisi pada anak yang sehat dan seimbang sesuai
dengan indeks massa tubuh anak.
2. Aktivitas fisik pada anak-anak sangat berperan penting dalam penentuan status gizi
anak, seperti yang dijelaskan dalam jurnal ”Aktivitas fisik berhubungan dengan
kejadian obesitas pada anak sekolah dasar” bahwa pola aktivitas yang kurang
menyebabkan jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit dibandingkan kalori yang
diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, sehingga berpotensi menimbulkan
penimbunan lemak berlebih di dalam tubuh. Sehingga menyebabkan status gizi
anak semakin memburuk dan dapat berisiko obesitas. Oleh karena itu, anak yang
kurang beraktivitas fisik dan lebih cenderung berperilaku sedentary akan lebih
berisiko terkena obesitas. Sebab aktivitas fisik memberi peran penting dalam
pengeluaran energi karena 20-50% energi dikeluarkan dengan aktivitas fisik.
Sumber :
Jurnal ”Aktivitas Fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar”
Jurnal “Hubungan Penggunaan Waktu Perilaku Kurang Gerak (Sedentary Behaviour)
Dengan Obesitas Pada Anak Usia 9-11 Tahun Di Sd Negeri Beji 02 Kabupaten
Tulungagung” repository.unhas.ac.id

11. Saya Nanda Elanti (131511133128) mohon izin untuk bertanya,


Seperti yang telah dipaparkan pada jurnal diatas bahwa kejadian obesitas pada anak
usia sekolah diakibatkan oleh aktivitas olah gerak tubuh yang kurang dan makanan
yang tidak bergizi seimbang, Untuk itu proporsi aktivitas/olah gerak dan makanan
bergizi seimbang seperti apa yang bisa kita sarankan sebagai seorang perawat untuk
edukasi agar kejadian obesitas anak dapat ditangani secara tepat. Apakah keadaan
obesitas pada anak berpengaruh terhadap tingkat intelligent/kecerdasan anak?
Jawaban :

Nama saya Hesti Lutfia Arif (131511133050) dari kelompok 1 akan mencoba
menjawab pertanyaan dari saudari Nanda Elanti Putri.

Untuk proporsi aktivitas atau olah gerak yang dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas
fisik anak dengan melakukan aktivitas fisik seperti lari, bermain sepak bola, dan
olahraga lainnya. Dan untuk asupan gizi yang seimbang diharapkan anak kegemukan
juga mengurangi makanan siap saji baik di sekolah maupun di rumah, lebih banyak
mengkonsumsi sayur-sayuran dan mengkonsumsi air putih serta mengurangi makanan
yang banyak mengandung karbohidrat, dan lemak.

Untuk masalah obesitas apakah bepengaruh terhadap kecerdasan anak menurut


Mexitalia memang benar tetapi bukan karena otaknya yang bermasalah, namun fisiknya
yang tidak bugar atau mudah mengantuk yang menghambat kegiatannya, termasuk
kegiatan dalam menerima pelajaran.

Sumber:
Iswati Meriana. 2016. Aktivitas Fisik Pada Anak Kegemukan Di SD Muhammadiyah
Wirobrajan 3 Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/obesitas-gangguan-kecerdasan-anak/ diunduh
pada tanggal 28 Agustus 2017 pukul 11.30 WIB
12. Saya Regina Dwi Fridayanti (131511133130) dari kelompok 2 ingin bertanya mengenai
hasil review dari kelompok 1.

Pada review jurnal yang 2 disebutkan bahwa anak-anak di beri aktivitas fisik agar dapat
meminimalkan terjadinya obesitas, yang saya tanyakan aktivitas fisik apa yang cocok
untuk anak-anak diusia sekolah dasar ? agar aktivitas fisik yang dilakukan anak tersebut
tidak mempengaruhi kesehatannya. dan, zaman sekarang banyak orang tua yang
menganggap anak yang gendut itu lucu dan menggemaskan. Dengan adanya pemikiran
seperti itu, bagaimana peran perawat dalam menanggapi pemikiran yang seperti itu ?
Jawaban :
Saya Niswatus Sa’ngadah NIM 131511133060 dari kelompok 1, akan mencoba
menjawab pertanyaan dari saudari Regina

1. Aktifitas fisik merujuk pada segala pergerakan tubuh yang membutuhkan kalori baik
itu bekerja, belajar, bepergian dan lain-lain. Sementara berolahraga merupakan
bagian dari aktifitas fisik namun dilakukan dengan terencana, terstruktur dan
dilakukan berulang dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kebugaran (Cheung
and Hu, 2012)

Televisi dan video game termasuk salah satu penyebab kurangnya aktivitas fisik
anak sekolah. Karena waktu untuk melakukan aktivitas fisik diluar rumah atau
berolahraga sudah terpakai untuk bermain gadget atau menonton televisi. Selain itu
dapat pula meningkatkan asupan kalori dan lemak yang berasal dari makanan ringan
yang dikonsumsi oleh anak selama menonton televisi. Penelitian menghasilkan
bahwa semakin lama waktu dihabiskan untuk melakukan aktivitas pasif, akan
meningkatkan berat badan anak.

Aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh anak sekolah dasar diantaranya adalah
dengan berolahraga. Beberapa jenis olahraga yang bisa diikuti oleh anak-anak usia
sekolah diantaranya bersepeda, berenang, bulutangkis, sepak bola. Pastikan anak
berolahraga setiap hari. Untuk anak usia 6 tahun ke atas ini, mereka cukup
berolahraga selama satu jam atau lebih, yang dibagi dalam waktu 15 menit atau
lebih. Berolahraga setiap hari bisa menghindarkan anak dari berbagai gangguan
kesehatan, antara lain obesitas.
2. Semakin gemuk penampilan anak, orang tua merasa bangga dan merasa anaknya
sehat. Anak yang gemuk di masyarakat masih dipandang sebagai anak yang cukup
gizi dan justru menjadi kebanggaan orangtua karena dianggap sebagai cermin sukses
orangtuanya. Padahal, gemuk berlebih atau obesitas membuat anak berisiko terkena
berbagai penyakit.

Banyak cara dilakukan untuk memberikan pemahaman dan penyuluhan kepada


keluarga dengan anak obesitas, diantaranya pemberian nutrisi dengan gizi seimbang,
pemantauan grafik berat badan, dan konseling mengenai aktivitas fisiknya. Sarana
konsultasi dan manajemen nutrisi anak melalui media elektronik komunikasi online
diharapkan menjadi salah satu media yang digunakan orang tua dan perawat untuk
melakukan konsultasi dan komunikasi dengan menggunakan fasilitas teknologi yang
sekarang ini sudah sangat pesat berkembang. Penggunaan komunikasi online melalui
skreening dan manajemen obesitas menjadi kebutuhan dalam era sekarang ini.
Skreening obesitas pasien dilakukan dengan mengkaji riwayat kesehatannya dan
melaporkan chart pertumbuhannya selanjutnya dilakukan konseling anak obesitas
untuk memantau berat badannya, asupan makanan dan aktifitas fisiknya. Pasien
dengan mudah mengakses materi konseling dan dapat diprint out. Pasien dapat
mengidentifikasi status obesitasnya, mengingatkan dokter untuk advis selanjutnya,
pemberian terapi dan standarisasi perawatan. Penelitian selanjutnya diharapkan bisa
disesuaikan dengan materi edukasi dan sumber aktifitas fisik yang cocok sesuai
kondisi pasien.

Sumber :

http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2015-09/S46650-Fiona%20Sarah diakses pada 27


Agustus 2017 pukul 22:00 WIB

Damayanti, Diana 2010..Makanan anak usia Sekolah : Tips Memberi makan Anak
Usia Sekolah .Jakarta :PT. Gramedia Pustaka Utama

13. Saya Heny Oktora Safitri (131511133068) ingin bertanya terkait jurnal 1, di jurnal 1
disebutkan bahwa “Faktor pertama yaitu faktor sosial ekonomi orangtua, dalam
peneletian tersebut orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi serta berpenghasilan
tinggi menunjukan anak mereka sering melakukan sedentary behavior”. Yang ingin saya
tanyakan:
1. Sebagai perawat, intervensi maupun edukasi apa yang bisa kita berikan untuk orang
tua tersebut mengingat orang tua tersebut juga memiliki tingkat pendidikan yang
tinggi karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi harusnya orang tua sudah
mengerti dan memahami dampak memberikan fasilitas teknologi untuk anak?
2. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi obesitas pada anak karena rendahnya
aktivitas fisik di sekolah? Dan apakah hanya dengan melakukan promosi kesehatan
yang bekerja sama dengan guru sekolah dapat mengatasi masalah aktivitas fisik
yang rendah tersebut?
Jawaban :

Saya Agi Putri Alfiyanti NIM 131511133046 dari kelompok 1. saya akan menjawab
pertanyaan dari saudari Heny. terimaksih sebelumnya untuk pertanyaannya.

1. di dalam jurnal yang dimaksud orang tua yang berpendidikan tinggi adalah orang tua
yang karena pendidikan tinggi itu mereka memilih untuk bekerja dengan gaji yang
tinggi dan menyita waktu untuk bersama anaknya. orang tua sebenarnya tahu tetapi
tidak bisa meluangkan waktu untuk bersama anaknya dan hanya menuruti kemauan
anaknya dengan memberi gadget. sekarang adalah zaman modern dimana semua
menginginkan serba instan dan berteknologi. dalam kasus ini sebenarnya adalah
permasalahan yang setiap individu berbeda-beda tapi dalam jurnal ditemukan bahwa
orang berpenghasilan tinggi itu mampu memenuhi teknologi untuk anaknya agar tidak
ketinggalan zaman. tapi mereka tidak sadar bahwa ada bahaya yang mengancam saat
anak mereka menggunakan teknologi tanpa batas. karena anak-anak suka dengan yang
membuatnya senang dan itu banyak didapat dari berbagai fitur di dalam gadget.
intervensi yang perlu kita lakukan sebagai seorang perawat adalah kita mampu
menyadarkan orang tua, karena sebenarnya mereka mengetahui tetapi tidak paham.
belum tentu orang dengan pendidikan yang tinggi juga membuat orang tua paham
mengenai bahaya gadget. Perawat dapat mengkampanyekan bahaya dari pengaruh
negatif gadget untuk tumbuh kembang anak-anak. dapat melalui media sosial, web,
artikel taupun promosi kesehatan secara langsung di suatu daerah maupun dengan
sistem door to door.
2. menurut saya tidak, karena apabila tidak dilakukan secara nyata promosi akan hanya
sekedar penjelasan dan itu tidak akan membantu mengurangi kebiasaan sedentary.
maka dari itu promosi yang dimaksud dalam jurnal juga melibatkan aktivitas fisik
anak-anak secara langsung. promosi kesehatan dengan bekerjasama dengan guru
sekolah tentu dapat mengatasi permasalahan sedentary behavior. karena anak-anak
menghabiskan banyak waktu di sekolah, dengan adanya guru sebagai penyalur ilmu
maka guru dapat memberitahu dan mengarahkan muridnya. aktivitas atau pelajaran
yang melibatkan aktivitas untuk bergerak juga termasuk promosi kesehatan untuk
mengurangi kebiasaan sedentary. salah satunya dengan pelajaran olah raga serta
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. dan kegiatan di kelas yang dapat
dikombinasikan dengan aktivitas bergerak selain anak-anak merasa senang mereka
juga secara tidak langsung menghindari untuk melakukan sedentary behavior. guru
juga sebagai penyalur informasi ke wali murid atau orang tua saat ada pertemuan wali
murid. dimana guru juga akan menjelaskan bagaimana anak-anak harus menghindari
perilaku sedentary behavior, modivikasi gaya hidup yang sehat, serta diet makanan.
Sumber :
JURNAL GIZI DAN DIETETIK INDONESIA, Vol. 4, No. 3, September 2016: 123-
128. Aktivitas fi sik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar

M. Zamzani, Hamam Hadi, Dewi Astiti

buku : Kasinius. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Percetakan
Kasinius Yogyakarta.

14. Saya Dewita Pramesti (131511133125) ingin bertanya: Pada jurnal 1 “Hubungan
Penggunaan Waktu Perilaku Kurang Gerak (Sedentary Behaviour) Dengan Obesitas Pada
Anak Usia 9-11 Tahun Di Sd Negeri Beji 02 Kabupaten Tulungagung” diketahui
penyebab obesitas pada anak karena kurangnya gerak atau kurang beraktivitas, yang saya
ingin Tanyakan pada berat badan berapa anak dinyatakan obesitas ? lalu apakah jika ada
anak yang berat badannya besar(gendut) tapi geraknya banyak dikatakan obesitas?

Jawaban :

Saya Alfi Rahmawati Mufidah (131511133041) dari kelompok 1 akan mencoba


menjawab pertanyaan dari saudari Dewita.
Pada berat badan berapa anak dinyatakan obes? Anak bisa dikatakan obesitas jika
usianya sudah 2 tahun, tapi harus diteliti dulu, apakah anak obesitas atau bukan, di lihat
dari pengukuran antrometri. Untuk itu perlu memeriksa berat badan anak secara rutin.
Cara sederhana yang bisa diliakukan adalah memeriksa lingkar pinggang tepat di bawah
titik tulang pinggul. Cara lain, dengan mengetahui lewat indeks masa tubuh (IMT), yakni
berat badan (kg) dibagi tinggi badan ( m2 ) Perhitungan IMT:

< 18,5 = berat badan kurang

18,5 – 24,9 = berat badan normal

25 – 29,9 = berat badan lebih

30 – 34,9 = Obesitas I

35 – 39,9 = Obesitas II

>39,9 = Sangat obesitas

Lalu, apakah jika ada anak yang berat badannya besar (gendut) tapi geraknya banyak
dikatakan obesitas? Tidak. Justru anak-anak yang kurang bergerak mempunyai risiko
untuk mengalami obesitas. Pada anak-anak kurangnya aktivias gerak tampaknya terjadi
karena kurang berjalan kaki dan kurangnya olahraga, karena saat ini anak-anak lebih
suka bermain play station di dalam rumah. Anak-anak perlu olahraga supaya
metabolisme dan pembakarannya meningkat.

Sumber:
Novita, Windya. 2007. Serba-serbi Anak Yang perlu diketahui anak dari dalam
kandungan hingga masa sekolah (Tinjauan psikologis dan kedokteran). Jakarta: PT Elex
Media Komputindo

15. Saya Nopen Trijatmiko (131511133123) dari kelompok 2 ingin bertanya mengenai hasil
review jurnal pertama dari kelompok 1.

Di dalam review jurnal dijelaskan bahwa salah satu penyebab peningkatan resiko gizi
lebih dan obesitas adalah kemajuan teknologi seperti komputer dan internet yang
mengakibatkan anak menjadi malas bergerak. Kemudian, hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat 21.08% anak berusia 9-11 tahun mengalami obesitas di SD Negeri Beji
02 Tulungagung. Berapa besar/persenkah pengaruh kemajuan komputer dan internet
terhadap peningkatan risiko gizi lebih dan obesitas ?

Jawaban :

Saya Nensi Nur A NIM 131511133055 dari kelompok 1 akan mencoba menjawab
pertanyaan dari Sdr. Nopen.

Pertanyaannya adalah Berapa besar atau persenkah pengaruh kemajuan komputer dan
internet terhadap peningkatan risiko gizi lebih dan obesitas?

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kegemukan
dan obesitas pada anak. Keterbatasan lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas
untuk beraktivitas fisik menyebabkan anak memilih untuk bermain di dalam rumah.
Selain itu, kemajuan teknologi berupa alat elektronik seperti video games, playstation,
televisi dan komputer menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik. Hal
inilah yang menyebabkan anak kurang melakukan gerak badan sehingga menyebabkan
kelebihan berat badan.

Masalah kegemukan dan obesitas terjadi pada semua kelompok umur dan pada semua
strata sosial ekonomi. Pada anak, kejadian kegemukan dan obesitas merupakan masalah
yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa. Kegemukan dan obesitas pada
anak berisiko berlanjut ke masa dewasa, dan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai
penyakit metabolik dan degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus,
kanker, osteoartritis, dll. Pada anak, kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan
berbagai masalah kesehatan yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan
pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur, sleep apnea (henti napas sesaat) dan
gangguan pernafasan lain. Anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan
juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena
timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang.
Kegemukan/obesitas juga berdampak pada psikologis pada misalnya ejekan dari teman-
teman sekelas atau teman sepermainan.
Jadi kesimpulannya, kemajuan computer dan internet sangat berpengaruh besar bagi
anak dengan obesitas. Pengaruhnya pada anak meliputi kesehatan serta kualitas hidup
yang buruk pada masa yang akan datang, mengingat anak semakin lama semakin
bertumbuh dewasa.

Sumber:
http://www.yankes.kemkes.go.id/read-mencegah-obesitas-pada-anak-usia-sekolah--
dengan-pengaturan-makan-dan-aktivitas-fisik-2420.html diakses pada tanggal 08
Agustus 2017. Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

16. Saya Yenny Paramitha NIM 131511133071 ingin bertanya kepada kelompok 1.

Obesitas pada anak-anak memang sering kita jumpai akhir-akhir ini, bagaimana menurut
Anda peran yang dapat dilakukan perawat untuk membantu mengurangi presentasi
obesitas pada anak-anak selain promosi kesehatan ? Dan tindakan efektif seperti apa agar
saat kita memberikan edukasi kepada orang tua yang berpendidikan tinggi mau untuk
mengurangi pemberian gadget kepada anaknya?

Jawaban:
Saya Nurul Fauziyah NIM 131511133044, akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari.
Peran yang dapat dilakukan oleh perawat untuk membantu mengurangi presentasi
obesitas pada anak-anak selain promosi kesehatan yaitu dengan cara (1). Pencegahan
penyakit (Obesitas): Perawat melakukan tindakan pencegahan spesifik pada anggota
keluarga agar bebas dari penyakit/cidera melalui kegiatan program kebugaran fisik;
screening dan follow up overweight dan obesitas. (2). Intervensi keperawatan untuk
proses penyembuhan: Perawat memberikan intevensi keperawatan yaitu pembimbingan
terhadap keluarga (coaching) untuk mengatasi masalah kesehatan akibat perilaku atau
gaya hidup tidak sehat. (3). Pemulihan Kesehatan: Pemulihan kesehatan ini bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan anggota keluarga untuk berfungsi secara optimal dalam
pemeliharaan kesehatan.

Tindakan efektif untuk memberikan edukasi pada orang tua untuk mengurangi
pemberian gadget kepada anaknya yaitu dengan cara kita memberikan penjelasan secara
detail dan rinci kepada orang tua mengenai bahaya gadget untuk usia anak seperti
membuat anak menjadi lemah dalam hal practicall skill, rawan terhadap tindakan
kekerasan, membuat anak malas belajar dan mempengaruhi kesehatan anak. Lalu selain
kita memberikan penjelasan mengenai dampak negatif dari penggunaan gadget di usia
anak, kita juga memberikan solusi seperti orang tua menjadi fasilitator anak dan
mengajari anak tentang tanggung jawab, khususnya pada tugas masing-masing anggota
keluarga. Misalnya dalam hal penggunaan gadget, anak dibimbing dan difasilitasi tapi
harus bertanggung jawab dengan fasilitas yang dia miliki. Ketika anak melanggar
tanggung jawab yang diberikan, orang tua akan memberikan punishment.

Sumber:
Armayati, Lenidan Irawan, Jaka. (2013), Pengaruh Kegunaan Gadget Terhadap
Kemampuan Bersosialisai. Riau:Fakultas Pskologi Universitas Islam Riau.

Angel L, Nelly M, Franly O. (2013), Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian


Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar di Kota Manado. J Keperawatan.

17. Saya Alfian Gafar (131511133121) dari kelompok 2 ingin bertanya mengenai hasil
review jurnal pertama dari kelompok 1.

Di dalam review jurnal dijelaskan bahwa anak-anak usia sekolah dasar adalah anak-anak
yang aktif bergerak, mereka harus disediakan hal-hal yang mampu memicu mereka untuk
aktif bergerak. Saya tanyakan tindakan apa yg di lakukan perawat agar bisa memicu
anak-anak untuk aktif bergerak?

Jawaban :

Saya Damai Widyandari NIM 131511133054 akan mencoba menjawab pertanyaan


saudara Alfian Gafar

Tindakan yang dapat dilakukan perawat untuk memicu anak-anak lebih aktif bergerak
dengan beberapa cara diantaranya :

 Arahkan anak untuk makan di meja makan, bukan di depan TV atau didepan laar
computer
 Tetapkan aturan waktu dalam aktifitas bermain game, menonton video atau
penggunaan computer. Karena terlalu lama mereka asik melakukan hal-hal tersebut
yang membuat mereka malas bergerak

 Ajaklah anak anda untuk melakukan kegiatan diluar rumah yang berhubungan dengan
kegiatan fisik dan bersosialisasi dengan teman-temannya, seperti berenang, bersepeda,
jogging, bulu tangkis dan sebagainya.

 Jangan membiasakan menuruti kemauan mereka untuk makan sebelum tidur,


sebaiknya berikan susu dan buah untuk mereka sebagai penahanan rasa lapar namun
tidak berpengaruh pada kenaikan berat badan.

 Jika anak anda sudah sadar diri untuk mau ikut dalam sebuah kegiatan atau tim
olahraga setelah sekolah, anda akan mengarahkan kepada olahraga seperti lompat tali,
bersepeda, tenis, bulu tangkis, berenang, atau berjalan kaki.

 Yang terpenting jadikan upaya untuk mengatasi obesitas anak sebagai program
seluruh anggota keluarg dan bukan hanya untuk anak yang mengalami kelebihan berat
badan.

Sumber :

Spear BA, Barlow SE, Ervin C, Ludwig DS, Saelens BE, Schetzina KE, et al.
Recommendations for treatment of child and adolescent overweight and obesity.
Pediatrics. 2007;120:S254-88.

http://www.kesehatan-kulit.com/cara-mengatasi-obesitas-pada-anak-secara-cepat.html

18. Saya Nadia Nur Mar'atush Sholihah (131511133137) ingin berdskusi tentang review
jurnal diatas jurnal diatas menjelaskan tentang kurang gerak berhubungan dengan
obesitas dan kurangnya aktivitas fisik berhubungan dengan obesitas pada anak.
pada saat ini banyak orang tua yang tidak punya waktu untuk mengurusi anaknya karena
sibuk bekerja mencari uang, terus orang tersebut khawatir dengan anaknya karena
obesitas, dan mereka memberika opsi menyuruh anaknya minum, minuman detox. yang
katanya efektif. menurut anda sebagai perawat bagimana tanggapan tentang detox
tersebut? Apakah baik untuk tubuh?
Jawaban :

Saya Dyah Rohmatussolichah nim 131511133043 dari kelompok 1 akan menjawab


pertanyaan dari saudari Nadia.

Ada beberapa jenis minuman detox, misalnya saja teh hijau, infused water, atau hanya
sekedar air putih saja Air putih sangat baik bagi tubuh. Air putih dapat mendetoks semua
racun dalam tubuh. Detoks dengan air putih adalah dengan merendam buah buahan
dalam air yang telah dipotong terlebih dahulu dan meminumnya setelah beberapa jam
nanti. Cara ini baik dilakukan seminggu saja karena ini dapat menggangu nutrisi dalam
tubuh anda seperti protein dan serat.. Diet dengan air putih memang sangat baik. Diet
dengan air putih yaitu dengan banyak mengkonsumsi banyak air putih setiap harinya.
Dengan demikian semakin banyak mineral yang masuk kedalam tubuh kita semakin
banyak pula kalori yang terbakar. Dengan menambah volume air yang kita minum setiap
harinya ini sangat efektif terhadap penurunan berat badan. Diet ini sangat menganjurkan
kita untuk minum air putih yang banyak. Jadi seseorang dapat mengurangi
mengkonsumsi makanan yang manis manis atau yang banyak mengandung gula. Dengan
kebiasaan baru ini anda akan mengurangi kalori dalam tubuh anda. Selain perbanyak
minum air putih imbangi juga dengan mengkonsumsi buah dan sayur hijau. Namun
intake nutrisi anak juga harus tetap diperhatikan mengingat anak-anak masih dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan.

Source : http://dietsehat.co.id/cara-diet-dengan-air-putih

19. Saya Risniawati (131511133070) dari kelompok 2 ingin bertanya pada review jurnal 1
yang sudah dijelaskan.
Apa peran perawat selain health education di lingkungan masyarakat dengan pola hidup
orang yang tinggal disana mengadopsi gaya hidup serba instan seperti aktivitas yang
awalnya memerlukan tenaga fisik manusia kini semuanya dipermudah dengan bantuan
teknologi? Seperti yang sudah dijelaskan pada review jurnal 1 bahwa kemajuan berbagai
bentuk instant menyebabkan peningkatan sedentary behavior.
Jawaban : Saya Dinda Salmahella NIM 131511133039 mencoba menjawab pertanyaan
dari saudari Riris
Health Education merupakan hal pertama yang perlu kita sampaikan sebagai perawat
yaitu penejlasan mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadapt obesitas semakin rendah
aktivitas fisik semakin besar pula penumpukan BB diatas normal, sangat perlu juga
dijelaskan mengenai takaran kebutuhan gizi yang seimbang berdasarkan IMT
Selain hanya edukasi mengenai kesehatan hal yang perlu dilakukan perawatan adalah
intervensi/tindakan, mengimplementasikan Health Education tersebut dengan cara
melatih untuk membatasi aktivitas hidup serba instan yang menyebabkan kurangnya
aktivitas, misalnya dengan mengurangi jam untuk bermain gadget(mengendalikan akses),
menonton TV, bermain game dan sebagainya, semacam mengadakan terapi secara
disiplin untuk anak-anak, membuat jadwal untuk mereka lebih menekankan aktivitas
diluar, mungkin membentuk sebuah grup untuk anak-anak bermain yang menggunakan
aktivitas fisik (membutuhkan energi), bisa dengan mengadakan sebuah perlombaan kecil
dirumah basket atau sepak bola lalu memberi hadiah kepada anak memenangkan
lombanya, mungkin hal itu bisa menjadi permulaan memacu anak untuk lebih tertarik
beraktivitas diluar, setelah itu biasakan anak untuk menepati jadwal, pada jam tertentu
untuk bermain diluar dan ada waktu untuk beraktivitas didalam rumah, disamping itu
perlu juga untuk menghimbau kepada orang tua untuk memberikan/membuat quality
time bersama keluarga seperti mengadakan liburan di akhir pekan atau rekreasi supaya
anak tidak terpacu atau bosan dirumah yang dapat mempertahankan sedentary
behaviour.nya tersebut
Selain implementasi kegiatan/aktivitas fisik, buat jadwal untuk mengontrol pola makan
anak, berikan anak gizi yang cukup makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna
sesuai kebutuhan usia dan BB, menjadwalkan untuk wajib sarapan pagi dan meminum
segelas susu, makan sayur dan buah-buahan, perhatikan kandungan karbohidrat, serat
dan protein yang cukup.
Cek rutin kondisi anak, kenaikan/penurunan BB setelah terapi/implementasi tindakan
tersebut, perubahan kebiasaan anak, evaluasi dan menekankan untuk mempertahankan
pola hidup sehat yang demikian untuk jangka waktu kedepan
Sumber : http://tentremhipnoterapi.com/meminimalisir-penggunaan-gadget-pada-anak/

20. Saya Ika Septiana Arum P. D. NIM 131511133065 dari kelompok 2 ingin bertanya.
Dari pemaparan rewiew jurnal 1 kelompok menjelaskan bahwa orang tua dengan tingkat
pendidikan tinggi menunjukan anak mereka sering melakukan sedentary behaviour.
Terkadang orang tua dengan pendidikan tinggi membuat mereka khawatir berlebihan
mengenai kesehatan anaknya, hingga tidak memperbolehkan anak bermain diluar dengan
alasan takut anaknya sakit karena kondisi diluar rumah yang penuh dengan agen
penyakit. Hal tersebut akan membuat anak mengalami sedentary behaviour. Bagaimana
peran perawat untuk memberikan edukasi yang tepat sehingga membuktikan bahwa tidak
sepenuhmya hal tersebut benar bahkan, membuat anak mereka cenderung melakukan
sedentary behaviour yang dapat memicu obesitas hingga terjadi syndrome metabolik?

Pada review jurnal 1 menjelaskan bahwa gadget mengakibatkan perkembangan mental


anak terhambat. Perkembangan mental seperti apa yg terhambat? Mengapa hal tersebut
bisa terjadi?

Jawaban :

Saya Lely Suryawati nim 131511133049 dari kelompok 1 akan menjawab pertanyaan
dari saudari Ika

Kita sebagai perawat memberikan informasi tetang pentingnya olah raga bagi kesehatan.
Aktivitas fisik atau olahraga tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik anak dan
remaja seperti meningkatkan lean body mass, kekuatan otot dan tulang, meningkatkan
kesehatan jantung, peredaran darah, dan mengontrol berat badan. Lebih jauh, olah raga
memiliki manfaat nonfisik, antara lain meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan
belajar dan berlatih, meningkatkan kesehatan mental psikologis, dan membantu anak
mengurangi stres.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), seorang anak membutuhkan sekitar 60


menit berolahraga fisik setiap harinya. Total 60 menit ini tidak harus didapatkan dalam
satu waktu yang sama, tetapi dapat dijumlahkan dalam sehari menjadi 60 menit.

Bentuk olahraga yang dianjurkan antara lain jogging, olahraga aerobik, berlari, naik
sepeda cepat, berjalan menanjak, dan bela diri. Olahraga jenis ini termasuk dalam
vigorous-intensity activity, yang menggunakan energy lebih dari 7 kcal per menit dan
memiliki manfaat lebih baik dibandingkan dengan moderate-intensity yang
menggunakan energi sekitar 3,5-7 kcal per menit. Contoh dari olahraga moderate-
intensity antara lain berjalan hingga berjalan cepat, senam, dan naik sepeda santai.

Jika orangtua khawatir atau takut anaknya sakit karena kondisi luar rumah. Kita bisa
menyarankan kepada tua dengan untuk menyediakan alat gym atau olaharaga untuk anak
dirumah, agar anak tetap bisa berolahraga. Dapat juga dengan cara mengikutkan anak les
pada bidang olahraga yang disenangi, seperti les renang.

Perkembangan mental yang terhambat pada penggunaan gadget tidak teratur


menyebabkan peningkatan laju kecemasan anak, depresi, autisme, gangguan perhatian,
gangguan bipolar, dan gangguan perilaku pada anak. Jika gadget dikonsumsi secara
berlebihan dapat mengakibatkan stres pada anak. Biasanya anak stres akibat tidak dapat
memenangkan permainan di gadget nya.

Itu semua diakibatkan oleh Terjadinya penyusutan fungsi otak. Otak anak “dipaksa”
bekerja terus, ketika berhadapan dengan gadget dalam jangka waktu yang lama.
Sehingga akan mengakibatkan terjadinya defisit perhatian dan daya konsentrasi.

Sumber:

Bernie Endyarni (Ikatan Dokter Anak Indonesia). 2014. Manfaat Olahraga bagi
Kesehatan Anak dan Remaja.

The Huffington. 2015. Efek buruk penggunaan Gadget pada Anak. Asosiasi dokter anak
Amerika Serikat.

21. Saya Prisdamayanti Ayuningsih (131511133067) Saya ingin bertanya dalam jurnal 1

Disitu dijelaskan bahwa orang tua yang berpendidikan dan berpenghasilan tinggi
membuat anak sering melakukan sedentary behaviour. Yang ingin saya tanyakan adalah
Bagaimana dengan orang tua yang berpendidikan rendah dan berpenghasilan minim
apakah membuat anak juga melakukan sedentary behaviour?

Sedangkan yang kita tau sekarang orang tua yang berpendidikan tinggi maupun rendah
sama saja dalam mendidik perilaku anak masih kurang, dan bagaimana peran perawat
dalam mengatasi hal tersebut?

Jawaban :

Saya sri wulandari 131511133048, saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari
prisdamayanti.
Menurut sumber yang telah saya baca, sebenarnya perilaku dari anak dalam keluarga
tergantung pada perilaku dan memberikan ilmu yang positif dari orang tua kepada anak
tersebut tanpa melihat orang tua yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Contohnya
jaman sekarang ini jika orang tua berpendidikan tinggi memberikan ilmu yang terlalu
berlebihan ataupun diberikan mainan berlebihan maka anak akan menyimpulkan bahwa
mereka dapat berkuasa diatas segalanya, jika orang tua sibuk dengan urusan atau bekerja
berlebihan maka ilmu yang baik maka tidak didapatkan. Dama dengan orang tua yang
berpendidikan rendah seperti itu jika orang tua tidak dapat menempatkan anaknya di hal
dan contoh yang baik maka anak dapat mudah meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang
terdekatnya.

Ini adalah perilaku dan peran keluarga kepada anak :

1. Keluarga memiliki arti dan fungsi yang vital bagi kelangsungan hidup maupun dalam
menemukan makna dan tujuan hidupnya.
2. Untuk mencapai perkembangannya seorang anak membutuhkan kasih sayang,
perhatian dan rasa aman untuk berlindung dari orang tuanya. Tanpa sentuhan
manusiawi itu anak akan merasa terancam dan penuh rasa takut.
3. Keluarga merupakan dunia keakraban seorang anak. Sebab dalam keluargalah dia
mengalami pertama-tama mengalami hubungan dengan manusia dan memperoleh
representasi dari dunia sekelilingnya.
4. Dalam keluarga seorang dipertalikan dengan hubungan batin yang satu dengan
lainnya. Hubungan itu tidak tergantikan Arti seorang ibu tidak dapat dengan tiba-tiba
digantikan dengan orang lain.
5. Keluarga dibutuhkan seorang anak untuk mendorong, menggali, mempelajari dan
menghayati nilai-nilai kemanusiaan, religiusitas, norma-norma dan sebagainya. Nilai-
nilai luhur tersebut dibutuhkan sesuai dengan martabat kemanusiaannya dalam
penyempumaan diri.
6. Pengenalan di dalam keluarga memungkinkan seorang anak untuk mengenal dunia
sekelilingnya jauh lebih baik.
7. Keluarga merupakan tempat pemupukan dan pendidikan untuk hidup bermasyarakat
dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas dan kewajiban dan tanggung
jawabnya.
8. Keluarga menjadi fungsi terpercaya untuk saling membagikan beban masalah,
mendiskusikan pokok-pokok masalah, mematangkan segi emosional, mendapatkan
dukungan spritual dan sebagainya.
9. Dalam keluarga dapat terealisasi makna kebersamaan, solidaritas, cinta kasih,
pengertian, rasa hormat menghormati clan rasa merniliki.
10. Keluarga menjadi pengayoman dalam beristirahat, berekreasi, menyalurkan kreatifitas
dan sebagainya.

Sumber : Armstrong, Thomas. 2005. Setiap Anak Cerdas. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama

22. Saya Lilik Choiriyah 131511133064 ingin bertanya tentang kesimpulan review jurnal
"Aktivitas Fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar”
bagaimmana dengan anak yang memiliki aktivitas tinggi tetapi tetap menderita obesitas ?
mengapa hal tersebut terjadi ?

Jawaban:

Oleh Auzan Muttaqin

Selain aktifitas fisik, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi obesitas pada anak, selain
karena faktor genetik berikut tiga diantara faktor tersebut:

Faktor obesitas anak yang pertama ialah buruknya kualitas tidur atau kurangnya durasi tidur
pada anak. Yang kedua adalah orang tua yang kelebihan berat badan dan yang terakhir adalah
kurangnya pengawasan orang tua terhadap makanan yang dikonsumsi anak. kedua faktor
terakhir berhubungan erat dengan fungsi pengasuhan orang tua.

Sumber :

Brent McBride, profesor pengembangan manusia dan direktur Laboratorium Pengembangan


Anak di Universitas Illinois

23. Saya Nia Istianah NIM 131511133127. Saya ingin bertanya mengenai review jurnal
“Aktivitas Fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar”.
Pada hasil review dijelaskan bahwa “Upaya meningkatkan aktivitas fisik sejak anak-anak
termasuk usia saat pra-sekolah, akan dapat menjaga agar anak-anak tetap memiliki
aktivitas fisik yang cukup dalam upaya pencegahan obesitas.”

Saya ingin bertanya, apakah kiat-kiat yang harus dilakukan orang tua dalam
meningkatkan aktivitas fisik anak sebagai upaya pencegahan terhadap obesitas diusia
pra-sekolah? Lalu, bagaimana peran perawat dalam mengedukasi orang tua agar dapat
menjalankan kiat-kiat tersebut?

Jawaban:

Oleh Auzan Muttaqin

Terimakasih atas pertanyaannya saudari Nia

Berikut kiat-kiat bagi orang tua untuk mencegah obesitas pada anak:

Orangtua perlu melakukan 3M (Move, Model, dan Meet) sebagai pendekatan pada anak
dalam membatasi asupan makanannya. Orangtua harus membantu anak mengeluarkan
makanan dengan gerakan (Move), Model adalah cara orangtua harus menyontohkan dan cari
tahu anak sedang menyukai tokoh siapa agar ia mau melakukan hal yang orangtua inginkan,
dan terakhir adalah Meet dengan melakukannya secara bersama-sama. Olahraga bersama,
atau makan makanan sehat bersama. Selain itu untuk mengelola makan makanan sehat dan
memberikan takaran khusus pada konsumsi gula, garam, dan lemak dalam upaya pencegahan
obesitas pada anak.

Sumber :

Direktur P2PTM, Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily S. Sulistyowati, MM


E-LEARNING KEPERAWATAN ENDOKRIN II

“Trend dan Issue Terbaru Keperawatan Endokrin dan Metabolik : Diabetes Mellitus Tipe
II”

Fasilitator :

Praba Diyan Rachmawati, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok 2 Kelas A-2/Angkatan 2015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
Jurnal 1

Judul Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita
: Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar
Penulis : AIN FATHMI
Tahun : 2012

Review:

Latar Belakang:
Menurut Soegondo (2011) diabetes melitus merupakan kumpulan dari beberapa gejala
yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat
penurunan sekresi insulin yang progresif akibat adanya resistensi insulin.

Indonesia merupakan salah satu negara yang tergolong memiliki jumlah penderita
diabetes terbanyak setelah Amerika, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik jumlah penderita diabetes tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola
pertambahan penduduk diperkirakan 2030 ada 20,1 juta penderita diabetes.

Menurut Gibney (2009) obesitas merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya DM.
Obesitas dapat membuat sel tidak sensitif terhadap insulin, sedangkan dalam hal ini insulin
perannya adalah untuk membantu meningkatkan ambilan glukosa di dalam sel
(Guyton,2008).

Metode Penelitian:
Penelitian menggunakan desain penelitian observasi analitik cross-sectional. Variabel
yang akan diteliti hanya diukur pada satu kali pengukuran saja. Populasi dalam penelitian ini
adalah penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

Hasil Penelitian:
Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar gula darah puasa pada
pasien DM tipe 2. Semakin besar indeks massa tubuh, maka semakin tinggi kadar gula darah
puasanya. Dimana, semakin besar indeks massa tubuh menandakan penderita mengarah ke
obesitas.

Pada keadaan obesitas, akan terjadi peningkatan mRNA Lipopolysaccharides (LPS)-


induced TNF-α factor (LITAF). LITAF yang teraktivasi akan menginduksi inflamasi dan
resistensi insulin. LITAF berperan dalam mengatur ekspresi dari TNF-α, IL-6 and MCP-1.
Peningkatan TNF-α yang diobservasi pada jaringan lemak pasien obesitas menunjukkan
hubungan langsung timbulnya resistensi insulin (Zhong et al,2011). Selain itu, pada keadaan
obesitas dapat pula terjadi lipotoksisitas yang disebabkan sejumlah asam lemak bebas yang
dilepaskan triasilgliserol dalam upaya kompensasi penghancuran simpanan lemak yang
berlebihan. Lipotoksisitas akibat kelebihan asam lemak bebas ini juga dapat menurunkan
sekresi insulin dari sel β pancreas (Sudoyo et al, 2009).

Kesimpulan:
Indeks massa tubuh memiliki hubungan yang bermakna dengan kadar gula darah pada
penderita diabetes melitus tipe 2.

Peran Perawat
1. Pada pasien :
 Memberikan informasi mengenai cara mengontrol berat badan dengan pengaturan
makan menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pola diet sesuai
kebutuh penderita DM tipe 2 serta berolahraga secara teratur.
 Memantau pola diet yang dijalani pasien secara berkala
2. Pada keluarga :
Memberikan informasi terkait pola diet yang harus dijalani penderita
3. Masyarakat :
Memberikan penyuluhan tentang diabetes melitus dan cara pencegahan serta
penanganannya.
Jurnal 2

Judul Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and


: Nutritional Strategies
Penulis : Sylvia H Ley, Osama Hamdy,Viswanathan Mohan, Frank B Hu
Tahun : 2014

Review:

382 juta orang dewasa (8 · 3%) di seluruh dunia menderita diabetes, dan perkiraan
tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari 592 juta pada tahun 2035.
Setidaknya 147 miliar dolar dihabiskan untuk perawatan kesehatan diabetes di Eropa,
sedangkan Amerika Utara dan Karibia menghabiskan 263 dolar miliar pada tahun 2013.
Diabetes telah menjadi penyebab utama kematian pada orang yang berusia kurang dari 60
tahun. Peningkatan terjadinya DM tipe 2 terjadi akibat pola konsumsi individu itu sendiri.
Makanan seperti nasi putih, daging merah, dan sea food berpengaruh besar dalam
peningkatan penyakit tersebut.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade ini, nutrisi
individu, makanan, dan pola diet sangat penting dalam pencegahan dan pengelolaan Diabetes
Mellitus tipe 2. Diet yang dilakukan meliputi perencanaan gaya hidup dengan pembatasan
kalori dan olahraga dalam upaya menurunkan berat badan. Dengan melakukan diet tersebut
dapat meningkatkan kontrol glikemik lipid dan darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2.
Klien yang memiliki risiko DM tipe II tidak harus melakukan pembatasan mengenai
lemak secara berlebihan, karena menurut beberapa penelitian di jurnal ini dijelaskan bahwa
diet lemak yang dilakukan tidak mengandalkan kuantitas melainkan kualitas lemak. Lemak
yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan 6.
Untuk diet karbohidrat dijelakan bahwa serat dari sereal lebih banyak memberikan pengaruh
dari pada serat pada buah. Selain itu vitamin dan mineral juga dapat mengurangi risiko
terjadinya DM tipe II yaitu Magnesium dan Vitamin D. Konsumsi buah-buahan khusus
seperti bluberry, anggur, dan apel serta sayuran hijau dpat menurunkan resiko DM tipe 2.
Klien dengan DM tipe II dianjurkan mengonsumsi minuman rendah gula atau tanpa gula
seperti air putih. Selain itu kopi juga dapat memberikan pengaruh yang baik, karena kafein
dalam kopi berkaitan dengan penurunan terjadinya diabetes. sementara itu, alkohol harus
dihindari karena dapat mengubah sensitivitas dari insulin.
Beberapa pola diet seperti diet mediterania dan DASH juga dapat menjadi alternatif
dalam menjalakan diet sehat. Diet mediterania yaitu diet dengan menu sayuran, buah-buahan,
biji-bijian dan minyak zaitun. Diet ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga
mengurangi risiko DM tipe II. Sedangkan diet DASH adalah diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg per hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik. Selain itu,
diet yang dilaksanakan juga harus menyesuaikan budaya makanan dan kebutuhan kalori yang
dibutuhkan pasien diabetes mellitus untuk menjaga berat badannya tetap stabil.

Peran Perawat:
1. Individu:
 Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi klien dengan risiko DM
tipe II maupun klien yang telah didiagnosa DM tipe II.
 Memberikan edukasi secara komprehensif mengenai diet yang dianjurkan untuk
pasien DM dan berupaya untuk meningkatkan motivasi penderita agar dapat
melakukan pola hidup sehat.
2. Keluarga:
Memberikan edukasi mengenai pola diet ataupun nutrisi yang sesuai dengan
kebutuhan klien DM tipe II ataupun yang berisiko mengalaminya. Dapat pula
dijelaskan mengenai pola diet seperti mediterania dan DASH.
3. Masyarakat:
Melakukan penyuluhan pentingnya gaya hidup sehat dan olahraga untuk mengurangi
risiko DM tipe II

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Saya Agi Putri Alfiyanti NIM 131511133046 dari kelompok 1.

Di dalam kesimpulan diskusi disebutkan tentang diet untuk DM Tipe 2. Diet pada
penderita DM tipe 2 juga harus diimbangi dengan olahraga. Peran perawat dalam
masalah ini adalah untuk mengedukasi tentang gaya hidup dan pentingnya olahraga
untuk penderita diabetes tipe 2. Olahraga apa yang dapat menurunkan kadar gula
darah pada penderita DM 2, serta olah raga seperti apa yang frekuensinya lebih tepat
dan tidak membahayakan tubuh mengingat kebanyakan penderita DM tipe 2 juga
mengalami obesitas.. Tolong dijelaskan.
Terimakasih.

Jawaban:

Saya Heny Oktora Safitri (131511133068) mencoba menjawab pertanyaan dari


saudari Agi, sebelumnya terima kasih atas pertanyaannya.

Olahraga yang dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita DM 2 salah
satunya adalah olahraga aerobic. Sesuai dengan penelitian (Puji I., Heru S., Agus S.,
2007) yang menyebutkan bahwa pada DM tipe 2, latihan fisik berperan sebagai
glycemic control yaitu mengatur dan mengendalikan kadar gula darah. Latihan fisik
yang dianjurkan salah satunya adalah senam aerobic, yang bertujuan meningkatkan
dan mempertahankan kesegaran tubuh dan dilaksanakan sesuai prinsip F.I.T.T
(Frekuensi, Intensitas, Time dan Tipe). Jenis olah raga yang dianjurkan pada penderita
DM adalah olah raga aerobic seperti jogging, berenang, senam kelompok dan
bersepeda tepat dilakukan pada penderita DM karena menggunakan semua otot-otot
besar, pernapasan dan jantung. Pada senam aerobik misalnya, dari variasi gerakan-
gerakan yang banyak terutama gerakan dasar pada kaki dan jalan dapat memenuhi
kriteria CRIPE (continous, rhythmical, interval, progresif dan endurance) sehingga
sesuai dengan tahapan kegiatan yang harus dilakukan. Disamping itu senam aerobik
yang dilakukan secara berkelompok akan memberi rasa senang pada anggota dan juga
dapat memotivasi anggota yang lain untuk terus melakukan olah raga secara kontinue
dan teratur (Puji dkk dalam penelitian Pengaruh Latihan Fisik; Senam Aerobik
terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Penderita DM Tipe 2 di Wilayah
Puskesmas Bukateja Purbalingga, 2010).
Adanya pengaruh latihan fisik: senam aerobik terhadap penurunan kadar gula darah
ini disebabkan karena senam aerobik merupakan suatu proses yang sistematis dengan
menggunakan rangsangan gerak yang bertujuan untuk meningkatkan atau
mempertahankan kualitas fungsional tubuh yang meliputi kualitas daya tahan paru-
jantung, kekuatan dan daya tahan otot, kelenturan dan komposisi tubuh (Irianto,
2000), sehingga pada pelaksanaannya menggunakan seluruh otot-otot besar, dengan
gerakan yang terus menerus, berirama, progresif dan berkelanjutan yang diiringi
dengan musik yang antara lain berguna untuk meningkatkan motivasi latihan,
pengaturan waktu latihan, dan kecepatan latihan. Menurut Irianto (2000), bahwa salah
satu penentu keberhasilan kebugaran fisik adalah dosis latihan yang cukup yang
dikenal dengan konsep FIT (Frekuensi, Intensitas dan Time):
1. Frekuensi menunjukan banyaknya latihan persatuan waktu dan untuk
meningkatkan kebugaran fisik diperlukan latihan 3 – 5 kali per minggu yang
dilakukan berselang-seling.
2. Intensity yaitu kualitas yang menunjukan berat ringannya latihan. Intensitas latihan
untuk daya tahan paru jantung sebesar 60 – 70% detak jantung maksimal.
3. Time yaitu waktu atau durasi yang diperlukan setiap kali latihan sedangkan untuk
meningkatkan kebugaran fisik diperlukan waktu berlatih 20-60 menit yang
didahului 3-5 menit pemanasan dan diakhiri dengan 3-5 menit pendinginan.
Adapun waktu yang diperlukan selama latihan yaitu 30 menit dengan waktu untuk
pemanasan 5 menit dan pendinginan 5 menit sehingga latihan intinya 20 menit
sampai responden mencapai THR (Target Heart Rate). Apabila THR belum
terpenuhi, maka durasi latihan ditambah sampai maksimal 60 menit.

Sumber:
Puji I, dkk. 2007. Pengaruh Latihan Fisik; Senam Aerobik terhadap Penurunan
Kadar Gula Darah pada Penderita DM Tipe 2 di Wilayah Puskesmas Bukateja
Purbalingga. Media Ners, Volume 1, Nomor 2, hlm 49 – 99
Irianto,D.P. 2000. Panduan latihan kebugaran fisik (yang efektif dan aman).
Yogyakarta: Lukman Offset.

2. Perkenalkan saya Nurul Fauziyah NIM 131511133044 dari kelompok 1.

Didalam kesimpulan hasil diskusi dari kelompok 1 disebutkan bahwa diet lemak yang
dilakukan oleh penderita DM tipe II tidak mengandalkan kuantitas melainkan kualitas
lemak. Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang
mengandung Omega 3 dan 6. Yang ingin saya tanyakan disini adalah apa yang
dimaksud dengan lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II itu? apakah dengan
mengonsumsi lemak hewani seperti Omega 3 dan 6 pasien DM tipe II akan cepat
sembuh atau bagaimana? Dan berapa besar porsi yang pas untuk mengonsumsi lemak
hewani yang mengandung Omega 3 dan 6 bagi penderita DM tipe II ?
Jawaban:

Perkenalkan saya Ayu Rahmawati (131511133075) akan mencoba menjawab


pertanyaan dari saudara Nurul Fauziyah.

 Lemak menguntungkan yang dimaksud adalah HDL (High density lipoprotein). HDL
adalah partikel lipoprotein terkecil, memiliki densitas paling tinggi karena lebih
banyak mengandung protein dibandingkan kolesterol. Pada sebuah penelitian
dikatakan bahwa klien yang mengonsumsi lemak baik (HDL) maka terjadi penurunan
kadar glukosa darah dapat mencapai 76,7 %. Omega 3 dan 6 merupakan salah satu
dari jenis HDL. Diet akan lemak HDL ini bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa
darah pada klien dengan DM. Semua lemak esensial baik omega 3 dan 6 penting,
namun kecukupan omega 3 harus lebih diperhatikan. Omega 3 memiliki fungsi
khusus terkait dengan perannya untuk meningkatkan sensitivitas insulin yang
diperlukan klien dengan DM tipe 2. Konsumsi lemak yang dianjurkan pada klien
dengan DM tipe 2 yaitu 20-30% dari total kebutuhan energi total. Lemak yang
disarankan yaitu minyak zaitun, minyak kacang, alpukat, omega 3 dan 6. Omega 3
dapat diperoleh dari minyak ikan laut dan omega 6 dapat diperoleh dari minyak
jagung, minyak kacang tanah, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Sumber:

Muliani, Usdeka.2013. Asupan Zat-zat Gizi dan Kadar Gula Darah Penderita DM-
Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Jurnal Kesehatan, Volume IV No. 2, 2 Oktober 2013, hlm 325-332.

Idris, Andi M, dkk. 2014. Hubungan Pola Makan dengan Kadar Gula Darah Pasien
Rawat Jalan DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Makassar.

3. Assalamualaikum wr.wb saya Elly Ardianti NIM 131511133058 dari kelompok 1


ingin bertanya kepada kelompok Anda.

1. Dalam review jurnal tersebut dijelaskan bahwa mengonsumsi kopi dapat


memberikan pengaruh yang baik kepada penderita DM. Menurut Anda apakah kopi
ini bisa dijadikan sebagai salah satu terapi bagi penderita DM? Jika iya, mohon
dijelaskan jenis kopi dan takaran penyajiannya.
2. Ada sebagian orang yang tidak suka mengonsumsi sayur dan buah. Sedangkan
dalam diet mediterania pasien dianjurkan mengonsumsi buah dan sayur.
Bagaimana peran perawat dalam menyiasati pasien yang tidak suka makan buah
dan sayuran?

Mohon penjelasannya. Terimakasih

Jawaban:

Terimakasih atas pertanyaan. Saya Annisa Prabaningrum 131511133129 akan


mencoba menjawab pertanyaan anda.

 Kopi mengandung dua senyawa kompleks terbanyak, yaitu chlorogenic acid (asam
klorogenat) dan kafein. Chlorogenic acid memiliki mekanisme dalam menurunkan
hiperglikemia intraselular serta berperan sebagai senyawa polifenol yang bekerja
sebagai antioksidan kuat di dalam kopi. Tingginya kadar antioksidan kopi juga telah
dilaporkan oleh beberapa peneliti (Pellegrini et al., 2003; Richelle, 2001). Mereka
meyakini bahwa chlorogenic acid, yakni ester dari asam kafeat dan asam kuinat,
merupakan komponen polifenol yang bertanggung jawab sebagai antioksidan
(Winarsi, 2009). Chlorogenic acid mampu meningkatkan sensitivitas insulin terutama
yang bekerja di otot melalui senyawa quinida di dalamnya yang terbentuk saat kopi
dipanggang (Herry W, 2007). Selain menurunkan resistensi insulin, chlorogenic acid
juga menurunkan konsentrasi plasma glukosa darah (Gustavo 2009). Beberapa studi
menyatakan konsumsi kafein yang terkandung dalam kopi berhubungan dengan
penurunan berat badan dan meningkatkan rasa kenyang (Gustavo, 2009). Kafein pada
kopi dimetabolisme dalam hepar dan memungkinkan formasi menjadi 3 grup
methylxanthine salah satunya theophyline yang berperan dalam mengontrol
metabolisme glukosa darah (Kallow). Takaran dan jenisnya : jenisnya bisa kopi
robusta. Pemberian kopi dapat menurunkan secara signifikan kadar glukosa darah
pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2. Pada penelitian ini, dosis paling efektif
dalam menurunkan kadar glukosa darah kira-kira 600 ml/hari pada manusia.
 Peran perawat yaitu dengan menyajikan buah dan sayur dengan beberapa desain atau
tampilan yang menarik, agar pasien mau untuk memakan buah dan sayur Karena cara
memasak juga menyajikan beberapa buah dan sayur tertentu pastinya bisa membuat
pasien tertarik untuk memakannya. Bisa berbentuk salad buah atau salad sayur.
Perawat bisa mengambil inisiatif untuk membuat jus buah atau jus sayur atau bahkan
jus buah yang di campurkan dengan sayur. Karena jus akan membuat pasien
menghilangkan kesan bahwa buah dan sayur merupakan satu beban untuk di
konsumsi.

Sumber :

Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang Kota


Malang,"PENGARUH PEMBERIAN KOPI TERHADAP PENURUNAN KADAR
GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE 2" oleh Alifaneta Yustisiani,
dkk. JUNI 2013.

4. Saya Khulasotun Nuriyah (1315111042) anggota dari kelompok 1 ingin menanyakan


mengenai jurnal 1 “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies”. Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa Klien
yang memiliki risiko DM tipe II tidak harus melakukan pembatasan mengenai lemak
secara berlebihan, diet lemak yang dilakukan tidak mengandalkan kuantitas melainkan
kualitas lemak. Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani
yang mengandung Omega 3 dan 6. Yang ingin saya tanyakan yaitu bagaimana strategi
perawat saat memberikan penyuluhan kepada penderita/individu, keluarga maupun
masyarakat awam yang tidak paham mengenai diet lemak tersebut? Dan jika
penderita/individu, keluarga maupun masyarakat tersebut dalam keadaan ekonomi
yang kurang bagaimana solusinya supaya tetap mendapatkan management mengenai
diet lemak tersebut?

Mohon penjelasannya, Terimakasih

Jawaban:
Perkenalkan saya Ririn Arianta (131511133062) akan mencoba menjawab pertanyaan
dari saudari Khulasotun Nuriyah

 Srategi yang dapat dilakukan supaya penyuluhan dapat diterima oleh masyarakat
awam dan mudah untuk difahami salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan
komunikasi terapeutik. Aspek-aspek yang harus ada dalam komunikasi terapeutik
tersebut adalah

1. Mengetahui mitra bicara (audience). Dalam hal ini adalah masyarakat awam
sehingga kita harus menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah
difahami. Seperti dengan memberikan contoh-contoh makanan yang
mengandung lemak yang baik untuk penderita Diabetes yang akan disekitar
lingkungan audience atau yang biasa dijumpai oleh audience.

2. Mengetahui tujuan. Tujuan kita memberikan penyuluhan adalah supaya


masyarakat memperoleh informasi dan dapat mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehingga dalam penyuluhan harus kita buat semenarik dan sejelas
mungkin sehingga audience akan tertarik untuk menerapkannya.

3. Memperhatikan konteks. Konteks yang akan kita sampaikan adalah diet lemak
sehingga kita harus fokus pada pokok bahasan dan jangan sampai menyebar ke
konteks lainnya.

4. Pelajari kultur. Sebelum memberikan penyuluhan kita harus memahami budaya


yang dianut pada masyarakat sekitar sehingga apa yang kita sampaikan tidak
ditentang oleh masyarakat tersebut dan dapat diterima.

5. Pahami bahasa. Menggunakan bahasa sehari-hari masyarakat sekitar dan jangan


menggunakan bahasa medis yang susah difahami.

 Solusi yang dapat dilakukan supaya masyarakat dengan ekonomi kurang tetap
mendapatkan manajemen mengenai diet lemak yaitu dengan cara memilih bahan-
bahan makanan yang mengandung omega 3 dan 6 yang murah. Sumber makanan
asam lemak omega 6 yang dapat diperoleh dengan harga murah diantaranya adalah
kacang kedelai, telur, unggas dan jenis kacang-kacangan yang lainnya. Sedangkan
untuk bahan makanan yang mengandung asam lemak omega 3 diantaranya ASI,
kecambah, kedelai, gandum dan lain-lain. Tetapi dalam hal ini kita harus
memperhatikan jumlah konsumsi . Omega 3 dan 6 merupakan sama-sama lemak yang
menguntungkan bagi DM, namun kecukupan omega 3 harus diperhatikan karena
memiliki fungsi terhadap sensitivitas insulin. Jumlah lemak yang dianjurkan pada
pasien DM tipe 2 yaitu sekitar 20-30 %. Jadi untuk dapat mengkonsumsi bahan
makanan yang mengandung omega 3 dan 6 tidak harus berasal dari bahan-bahan yang
mahal seperti salmon tetapi dengan bahan yang ada disekitar dan mudah didapat juga
bisa mencukupi kebutuhan akan bahan tersebut.

Sumber :

Diana, Fivi Melva. Studi Literatur “Omega 3” : Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret
2012-September 2012, Vol 6, No. 2

Diana, Fivi Melva. Studi Literatur “Omega 6” : Jurnal Kesehatan Masyarakat,


September 2012- Maret2012, Vol 7, No. 1

https://ojantikareborn.wordpress.com/2011/11/08/komunikasi-teuapeutik-pada-
keperawatan-komunitas/ diakses pada tanggal 27 agustus 2017

Muliani, Uskeda.2013. Asupan Zat- zat Gizi dan Kadar Gula Darah penderita DM tipe
2 di poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jurnal
Kesehatan, Volume IV No. 2, 2 oktober 2013 hlm 325-332.

5. Perkenalkan saya, Rizka Maudy Julianti_131511133051 dari kelompok 1

Saya ingin bertanya pada jurnal 2 "Prevention and Management of Type 2 Diabetes:
Dietary Components and Nutritional Strategies" mengatakan bahwa, kopi dapat
memberikan pengaruh yang baik, karena kafein dalam kopi berkaitan dengan
penurunan terjadinya diabetes.

Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa banyak takaran kopi yang dapat di konsumsi
untuk menurunkan terjadinya diabetes? Lalu jika pada pasien diabetes, pasien tersebut
juga mengalami sakit jantung ataupun lambung apakah tetap meminum kopi juga?
karena seperti yang kita ketahui kafein dalam kopi tersebut dapat membuat asam
lambung naik dan dapat mempercepat aktifitas jantung.
Jawaban:

Saya Siti Lusiyanti (131511133073) akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari
Rizka Maudy

 Banyaknya takaran kopi yang dapat dikonsumsi untuk menurunkan terjadinya


diabetes tergantung dari toleransi serta kondisi tubuh masing-masing individu karena
setiap individu memiliki batas toleransi yang berbeda-beda. Selain itu, kita juga perlu
memperhatikan intake kalori yang dikandung oleh kopi yang akan dikonsumsi.
Biasanya konsumsi kopi sebelum makan pagi, siang, ataupun malam dapat
menormalkan kadar glukosa dalam darah. Sedangkan untuk pasien diabetes disertai
penyakit jantung ataupun lambung sebaiknya membatasi atau bahkan menghindari
kopi karena efek dari kopi dapat memperparah keadaan jantung atau lambung apabila
tubuh pasien tidak bisa mentoleransi.

Sumber:

http://www.sehatmagz.com/gizi/berapa-gelas-kopi-sehari-yang-aman-bagi-kesehatan/
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017

http://halosehat.com/penyakit/diabetes/kopi-bagi-penderita-diabetes diakses pada


tanggal 27 Agustus 2017

6. Selamat malam. Perkenalkan saya Bunga Novia Hardiana, NIM 131511133057, dari
kelompok diskusi 1:obesitas.
Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menanggapi jurnal 2 dengan judul “Prevention
and Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional
Strategies”.
1. Untuk peran perawat, bisa ditambahkan case manager. Peran perawat sebagai
case manager adalah merancang diet untuk pasien, mengawasi dan
mengevaluasi dampak diet tersebut. Jadi, bukan hanya sebagai educator dan
counselor, tetapi juga terjun langsung sebagai case manager.
2. Pada review jurnal dua dikatakan untuk diet karbohidrat: serat dari sereal lebih
banyak memberikan pengaruh daripada serat dari buah. Selain mengandung
serat, bukankah seral juga mengandung gula ataupun ekstrak
glukosa/maltose ? Kriteria sereal seperti apa yang dapat disarankan bagi
penderita diabetes melitus tipe 2 ?

Jawaban:

Saya Ika Septiana Arum P. D (131511133065) akan mencoba menjawab pertanyaan


dari saudara Bunga

Sereal merupakan karbohidrat kompleks dengan tinggi serat, dimana karbohidrat


kompleks dapat memperbaiki toleransi glukosa dan sensitivitas insulin. Selain itu,
sereal memiliki Indeks Glikemik yang rendah dan mengandung vitamin dan mineral
serta substansi lain yang penting bagi kesehatan. Indeks Glikemik yang rendah akan
memperbaiki kadar glukosa darah jangka pendek maupun jangka panjang yang
direfleksikan melalui penurunan secara signifikan kadar fruktosamine dan
hemoglobin A1C. Sereal juga mengandung glukosa dengan kadar rendah, serta
fruktosa dan glukosa yang memiliki efek kecil terhadap kenaikan kadar gula darah.
Serat yang terkandung sereal adalah serat larut air yang memiliki pengaruh
hipoglikemik karena memperlambat pengosongan lambung, memperpendek waktu
transit dalam saluran cernadan mengurangi absorbsi glukosa. Dengan mengonsumsi
serat dalam jumlah yang cukup dapat memberikan manfaat metabolik berupa
pengendalian gula darah, hiperinsulinemia dan kadar lipidplasma (faktor risiko
kardiovaskuler). Menurut American Diabetes Association (ADA), jumlah serat yang
dianjurkan untuk dikonsumsi bagi penderita DM yaitu 50 gram setiap harinya
terutama serat larut (soluble fiber) dari sereal (whole grain), kacang-kacangan, biji-
bijian, strawberry, blueberry, oat, apel, dan pear. Kriteria sereal yang baik bagi
penderita diabetes mellitus yaitu sereal yang memliki kandungan gizi seperti yang
dijelaskan pada uraian diatas, seperti whole grain, oat, dll.

Referensi:

Amanina, Azka. 2015. Hubungan Asupan Karbohidrat Dan Serat Dengan Kejadian
Diabetes Melitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwosari Surakarta. FIK
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Astuti, Mei Catur & Asih Setiarini. 2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
Pengendalian Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus Type 2 Rawat Jalan di
Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr.Soerojo Magelang Tahun 2013. FKM UI.

Azrimaidaliza. 2011. Asupan Zat Gizi Dan Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, September 2011-Maret 2011, Vol. 6, No.1

7. Perkenalkan saya Fifa Nasrul Ummah (131511133056) dari kelompok 1

Dalam kesimpulan Jurnal yang kedua ini mengatakan bahwa “Lemak yang
menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang mengandung Omega 3
dan 6”. Yang ingin saya tanyakan apakah jika mengkonsumsi lemak jenis ini secara
terus menerus tidak menyebabkan obesitas? Dan Apakah harus lemak yang
mengandung omega 3 dan 6? Apakah tidak ada alternative lain untuk memenuhi
kebutuhan lemak pada pasien DM tipe II namun lemak yang dikonsumsi tersebut
tetap menguntungkan. Karena mungkin bagi keluarga dengan ekonomi yang kurang
mampu sulit sekali mendapatkan lemak jenis ini.

Mohon penjelasannya, terima kasih

Jawaban:
Saya Windi Khoiriyah (131511133072) akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Fifa Nasrul.
Dapat diketahui bahwa lemak yang sehat akan meningkatkan jumlah kolesterol baik
( HDL ) dan akan mengurangi kolesterol jahat ( LDL ) sehingga pasien diabetes dapat
terhindar dari resiko komplikasi. Lemak yang menyehatkan untuk diabetesi adalah
lemak tak jenuh rantai tunggal, banyak mengandung omega 3, 6, 9 dan mengandung
banyak vitamin. Omega 3 bermanfaat untuk diabetes, Sebuah studi penelitian
menunjukkan Omega 3 dapat menurunkan trigliserida dan apoproteins, dan tidak ada
efek samping pada kontrol glikemik. Sedangkan Omega 6 membantu meningkatkan
kadar kolesterol baik (HDL), menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan
menurunkan tekanan darah. Bersama dengan omega 3, keduanya berperan penting
untuk perkembangan sel-sel dan saraf otak, kesehatan jiwa, serta pertumbuhan tubuh
yang normal. Namun jika mengkonsumsi lemak hewani yang mengandung omega 3
dan 6 secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping seperti perdarahan,
gangguan pencernaan, hipotensi, meningkatnya gula darah, alergi, dan stroke. Oleh
sebab itu disarankan untuk mengkonsumsi lemak yang mengandung omega 3 dan 6
supaya tidak berlebihan. Lemak yang mengandung omega 3 dan 6 tidak harus pada
hewani saja namun juga bisa mengkonsumsi seperti lemak yang terdapat pada minyak
zaitun, buah avocad, kacang-kacangan. Semuanya itu mudah untuk didapatkan dan
dikonsumsi. Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam journal of The American
Medical Association (2002) memberitakan bahwa wanita yang mengkonsumsi 5 porsi
kacang-kacangan setiap minggu kemungkinan terserang diabetes mellitus 27% lebih
rendah daripada mereka yang jarang memakannya.
Sumber:
Nurjannah, nunung dan Elisa.2006.Taklukkan Diabetes dengan Terapi Jus, Plus Menu
Sehat & Ramuan Tanaman Obat.Jakarta:Puspa Swara
http://www.fakta-kesehatan.com/2011/04/16-manfaat-dan-fungsi-omega-3-untuk.html
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017
https://diabetics1.com/2016/01/sumber-lemak-sehat-untuk-diabetes-melitus.html
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017

8. Perkenalkan saya Niswatus Sa’ngadah NIM 131511133060 dari kelompok 1.

Saya ingin bertanya, pada jurnal ke- 2 disebutkan bahwa “ Beberapa pola diet seperti
diet mediterania dan DASH juga dapat menjadi alternatif dalam menjalakan diet
sehat. Diet mediterania yaitu diet dengan menu sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan
minyak zaitun.” Yang ingin saya tanyakan apakah semua jenis sayuran, buah-buahan
dan biji-bijian dapat digunakan untuk diet mediterania ini ? jika tidak, jenis sayuran,
buah-buahan dan biji-bijian apa yang dapat dikonsumsi ? Kemudian berapa porsi yang
harus dikonsumsi klien ?
Jawaban:
Terimakasih atas pertanyaan yang telah diajukan, saya Yenny Paramitha NIM
131511133071 akan menjawab pertanyaan yang diajukan saudari.
Pada dasarnya karakteristik diet mediterania adalah tinggi minyak zaitun, buah-
buahan, kacang-kacangan, sayur-sayuran, ikan, daging putih, makanan manis
(permen, gula-gula, kue kering), dan konsumsi wine dengan intensitas sedang dan
disertai makanan. Dapat dikatakan hampir semua makanan termasuk dalam menu diet
mediterania, hanya saja porsinya yang harus sesuai. Berikut saya paparkan jenis menu
dari diet mediterania, antara lain:

a. Sayuran: brokoli, tomat, bayam, kembang kol, wortel, timun, kangkung, dll.

b. Buah: apel, pisang, jeruk, melon, stroberi, pir, anggur, kurma, semangka, dll.

c. Kacang dan biji-bijian: kacang tanah, almond, kacang hijau, kacang mede, kwaci, biji
labu, dll.

d. Umbi-umbian: kentang, ubi, kentang manis, turnip, dll.

e. Biji-bijian utuh: gandum utuh, nasi merah, oat utuh, jagung, roti, pasta dan nasi.

f. Ikan dan seafood: Ikan salmon, mackerel, tuna, sarden, kepiting, udang, dll.

g. Daging putih: daging ayam, bebek, burung dara, dll.

h. Telur: telur ayam, ayam telur puyuh dan telur bebek.

i. Susu dan olahan susu: keju dan yogurt.

j. Rempah-rempah: Bawang merah dan putih, daun mint, kayu manis, cabai, lada, dll.

k. Sumber minyak dan lemak: minyak zaitun, minyak alpukat.

Berikut adalah pedoman umum diet mediterania:

Makanan Ketentuan

Rekomendasi

Minyak zaitun ≥ 4 sdm/hari

Biji-bijian ≥ 3 sajian/minggu

Buah-buahan ≥ 3 sajian/minggu
Sayur-sayuran ≥ 2 sajian/minggu

Ikan, makanan laut ≥ 3 sajian minggu

Kacang-kacangan ≥ 3 sajian/minggu

Daging putih Lebih baik dibandingkan daging merah

Wine disertai makanan ≥ 7 gelas/minggu

Pembatasan

Minuman bersoda  1 sajian/hari

Roti, kemasan, permen/gula-gula, kue  3 sajian/minggu


kering

Makanan berlemak  1 sajian/hari

Daging merah dan daging olahan  1 sajian/hari

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania

Labibah, Zulfa dan Dian Isti Angraini. 2016. Diet Mediterania dan Manfaatnya terhadap
Kesehatan Jantung dan Kardiovaskular. Lampung: Fakultas Kedokteran Universitas
Lampung.
9. Saya Alfi Rahmawati Mufidah (131511133041) dari kelompok 1 ingin bertanya. Pada
review jurnal ke-2 “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies”

1. Dalam review jurnal disebutkan untuk diet mediterania yaitu diet dengan menu
sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan minyak zaitun. Apakah ada takaran per hari dari
masing-masing komponen untuk dikonsumsi pasien? Dan berapa lama diet tersebut
dappat dilakukan oleh pasien?

2. Pada peran perawat disebutkan salah satunya adalah memberikan edukasi untuk
meningkatkan motivasi penderita agar dapat melakukan pola hidup sehat. Motivasi
yang seperti apa yang dapat diberikan? Terutama bagi pasien yang sulit untuk berubah
ke pola hidup sehat.
Mohon penjelasannya, terimakasih

Jawaban:
Terimakasih pada saudari Alfi yang sudah bertanya, saya Alip Nur Apriliyani
(131511133063) akan mencoba menjawab pertanyaan Anda

 Diet mediterania hanya diberikan sekali dalam sehari yaitu waktu jam makan siang.
Pola konsumsi Mediterania dapat menggunakan berbagai sumber makanan alami,
pembatasan konsumsi hanya berdasarkan frekuensi dalam beberapa waktu dan
pemilihan sumber nutrisi yang lebih sehat. Rencana pola makan Mediterania dapat
diuraikan secara sederhana, sebagai berikut:

a. Konsumsi harian: Dapat disajikan setiap hari dengan frekuensi yang bervariasi
untuk dikonsumsi. Jenis makanan dapat disajikan setiap hari, seperti berbagai sayur
dan buah, minyak zaitun, biji-bijian, kacang, serta rempah-rempah yang digunakan
sebagai bumbu masakan. Konsumsi harian juga mencakup berbagai sumber
karbohidrat seperti gandum utuh, umbi-umbian sereal, biji-bijian, nasi, dan pasta.

b. Konsumsi harian dengan jumlah sedang: Merupakan jenis makanan yang dapat
dikonsumsi harian maupun mingguan dalam jumlah dan frekuensi yang tidak
terlalu banyak, misalnya satu kali dalam sehari atau beberapa hari sekali. Jenis
makanan yang mencakup dalam kelompok frekuensi ini antara lain berbagai
produk daging putih, telur, susu, dan produk olahan susu seperti keju dan yogurt.

c. Konsumsi mingguan: Merupakan kelompok makanan yang hanya disajikan dan


dikonsumsi sekitar dua hingga tiga kali dalam satu minggu, di antaranya berbagai
jenis ikan (darat maupun laut) dan berbagai seafood.

d. Konsumsi bulanan: Kelompok konsumsi yang dibatasi atau dapat dikonsumsi satu
hingga tiga kali dalam waktu satu bulan. Daging merah adalah salah satunya.
Selain itu berbagai makanan manis yang mengandung gula maupun pemanis juga
dikurangi hingga frekuensi hanya dalam satu atau dua kali dalam sebulan atau,
lebih baik lagi, dihindari.

 Sikap perilaku dalam kesehatan individu juga dipengaruhi oleh motivasi dari individu
untuk berperilaku yang sehat dan menjaga kesehatan. Tanpa motivasi dalam
pengaturan diet pasien DM akan mengalami ketidakpatuhan dalam mengatur pola
makan sehari-hari. Kepatuhan pasien dalam melaksanakan diet DM merupakan salah
satu hal terpenting dalam pengendalian DM. Pasien DM harus bisa mengatur pola
makannya sesuai dengan prinsip diet DM yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan,
karena dengan mengatur pola makan pasien bisa mempertahankan gula darah mereka
agar tetap terkontrol (Wade & Travis, 2008). Pasien perlu memiliki motivasi yang
tinggi untuk meningkatkan kepatuhan diet pada diabetes mellitus tipe II. Motivasi dari
keluarga mempunyai pengaruh terhadap sikap dan penerimaan pendidikan kesehatan
pasien DM. Pasien DM akan bersikap positif untuk mempelajari pengelolaan DM
apabila keluarga memberikan motivasi dan ikut berpartisipasi dalam pendidikan
kesehatan mengenai DM (Soegondo, 2006). Motivasi menjalankan diet yang
diberikan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi responden serta juga dipengaruhi oleh
motivasi diri dari seseorang untuk berperilaku yang sehat dan menjaga kesehatan.
Tanpa motivasi dalam pengaturan diet akan mengalami ketidakpatuhan dalam
mengatur pola makan sehari-hari. Maka dari itu motivasi dari keluarga sangatlah
dibutuhkan baik itu materi atau informasi dan juga penghargaan agar pasien tersebut
patuh dalam menjalankan terapi diabetes mellitus terutama kepatuhan menjalankan
diet.

Sumber:
https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania diakses pada
tanggal 27 Agustus 2017

Muflihatin, Siti Khoiroh. 2015. HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN


DIET DIABETES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI
PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA.

10. Saya Umi Nafiatul Hasanah (NIM 131511133053) dari kelompok 1, ingin bertanya
mengenai hasil review jurnal kedua yang berjudul "Prevention and Management of
Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies". Pada hasil review
jurnal tersebut disebutkan bahwa diet DASH adalah diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg per hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik.
Yang ingin saya tanyakan, apakah jumlah takaran sodium yang dibatasi pada semua
kategori berat badan (misal: normal, gemuk, obesitas) sama? Apabila berbeda mohon
dijelaskan.

Pada hasil review jurnal tersebut juga disebutkan bahwa terdapat dua macam diet
yaitu diet mediterania dan diet DASH. Diantara keduanya tersebut manakah yang
lebih efektif dilakukan ? Ataukah dapat dilakukan dengan kombinasi keduanya ?

Jawaban:

Saya Ni Komang Ayu Santika (131511133066) akan mencoba menjawab pertanyaan


anda.

DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) sebenarnya diterapkan khusus untuk


penderita hipertensi. Namun, DASH juga disarankan bagi penderita diabetes karena
dapat meningkatkan kesensitifan insulin hingga 50 % sehingga kadar gula dalam
darah dapat terkontrol. Diet DASH ini meliputi makanan rendah sodium (garam),
buah, sayuran, dan makanan susu rendah lemak. Untuk sodium disarankan hanya
dikonsumsi 2400 mg/ hari, nah pembatasan ini berlaku sama untuk semua berat badan
disesuaikan dengan usia pasien. Yang membedakan adalah kalori yang harus
dikonsumsi, orang dengan berat badan berlebih tentunya harus mengkonsumsi lebih
sedikit kalori dibanding dengan orang yang berat badannya rendah.
Sebenarnya, kedua jenis diet tersebut (DASH dan Mediterania) sama-sama efektif
untuk mengontrol kadar gula darah pada pasien DM karena dapat meningkatkan
sensitivitas insulin. Pada intinya kedua jenis diet tersebut berfokus pada pengaturan
makanan dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Kedua diet
tersebut juga dapat dikombinasikan, karena prinsip kedua diet sebenarnya sama.
Namun, pemilihan diet juga harus mempertimbangkan kondisi dan kemauan pasien.
Pasien harus nyaman dengan dietnya agar dapat menjalankan dietnya dengan
konsisten.

Sumber:

Ley, Sylvia H. et al. 2014. Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies. USA

Moore, Thomas J. et al. 2001. DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) Diet
Is Effective Treatment for Stage 1 Isolated Systolic Hypertension. America:
Hypertension. 2001;38:155-158.

11. Saya Oktiana Duwi Firani NIM 131511133061 dari kelompok 1 ingin bertanya..

Pada Jurnal 2 tentang " Prevention and Management of type 2 Diabetes : Dietary
Components and Nutritional Strategies". Pada Jurnal tersebut untuk diet karbohidrat
dijelaskan bahwa serat dari sereal lebih banyak memberikan pengaruh daripda serat
buah. Yang ingin saya tanyakan : Mengapa serat dari sereal lebih banyak memberikan
pengaruh daripada serat buah? Faktor apa saja yang mempengaruhinya dan pengaruh
apa saja nantinya yang dapat ditimbulkan pada penderita penderita DM Tipe II?

Jawaban:

Terimakasih atas pertanyaan yang telah diajukan oleh saudari okti, saya Dewita
Pramesti NIM 131511133125 akan menjawab pertanyaan
Menurut ADA gandum utuh seperti oatmeal yang mengandung karbohidrat kompleks
dan serat larut tinggi dibandingkan serat buah. Oatmeal juga kaya akan magnesium
yang membantu tubuh memanfaatkan glukosa dan mensekresi insulin dengan baik.
Serat ini lebih lambat dicerna oleh tubuh sehingga kadar glukosa darah pasien lebih
terkontrol. Pada pasien yang rutin mengonsumsi serat dari oatmeal dapat berpengaruh
menurunkan risiko terkena serangan jantung yang merupakan salah satu komplikasi
diabetes.

Sumber :
https://www.webkesehatan.com/18-makanan-terbaik-untuk-penderita-diabetes/

12. Saya Kifayatus Sa’adah (131511133047) dari kelompok 1

Sesuai kesimpulan dalam Jurnal kedua yang berjudul “Prevention and Management of
Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies”, dijelaskan bahwa
salah satu pola diet sehat adalah diet mediterania. Saya ingin menanyakan, apakah
lemak nabati yang dikonsumsi dalam diet mediterania juga menguntungkan bagi
penderita DM tipe II ?

- Jika iya, asam lemak esensial jenis apa yang harus ada dalam
kandungan lemak nabati supaya menguntungkan ?

- Jika tidak, apakah orang yang melakukan diet mediterania boleh tetap
mengkonsumsi lemak hewani yang mengandung omega 3 dan 6 ?

Selanjutnya, Berapakah porsi dalam mengkonsumsi lemak nabati pada


klien dengan diet mediterania ?

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan oleh saudara Kifa, saya Rahmadanti Nur
F (131511133074) akan mencoba menjawabnya.
 Ya. Lemak nabati mengandung 2 jenis lemak, yakni lemak jenuh dan lemak tidak
jenuh. Terdapat dua jenis lemak tidak jenuh, yaitu lemak jenuh tunggal dan lemak
jenuh ganda. Kedua lemak tidak jenuh tersebut bermanfaat untuk menjaga kesehatan
jantung dan mencegah terjadinya penumpukan lemak pada pembuluh darah karena
meningkatkan kadar lemak baik dalam tubuh. Konsumsi lemak yang dianjurkan
adalah lemak tidak jenuh yang berupa MUFA dan Poly Unsaturated Fatty Acid
(PUFA). MUFA berfungsi dalam menurunkan LDLC, sedangkan PUFA berfungsi
dalam menurunkan LDLC dan High Density Lipoprotein Colesterol (HDLC).
Konsumsi lemak tersebut menurut penelitian dapat menurunkan dosis pengobatan
terhadap obat anti diabetes pada pasien DMT2

 Jika iya, asam lemak esensial jenis apa yang harus ada dalam kandungan lemak nabati
supaya menguntungkan?

Omega 6. Lemak nabati dalam bentuk makanan dan minyak menjadi sumber lemak
tak jenuh tunggal dan jamak. Lemak tak jenuh ini mengandung asam lemak omega-6
yang dapat ditemui di dalam kacang kedelai, tahu, minyak tumbuhan, biji bunga
matahari, biji wijen, dan biji labu.

Lemak nabati juga kaya akan fitosterol. Kandungan ini banyak ditemukan dalam
minyak tumbuhan seperti minyak jagung. Sebuah studi menjelaskan bahwa fitosterol,
meski dalam jumlah kecil, memiliki dampak menguntungkan dalam menghambat
penyerapan kolesterol LDL (kolesterol jahat). Tujuan diet yang utama dalam
kaitannya dengan lemak makanan pada penyandang DM adalah membatasi asupan
lemak jenuh dan kolesterol dari makanan. Lemak jenuh merupakan determinan diet
yang penting untuk menentukan kadar LDL-kolesterol di dalam plasma. Adanya
rekomendasi kuat, yaitu tingginya risiko menderita penyakit kardiovaskuler pada
pasiendiabetes dan kenyataan bahwaasupanlemak lemakjenuh memberikanefek
terhadap metabolisme lemak (meningkatkan kolesterol LDL), resistensi insulin dan
tekanan darah.

 Jika tidak, apakah orang yang melakukan diet mediterania boleh tetap mengkonsumsi
lemak hewani yang mengandung omega 3 dan 6?
Konsumsi asam lemak omega-3 yang ber-asal dari ikan atau dari suplemen, terbukti
dapat menurunkan risiko kejadian kardio-vaskuler, sehingga dianjurkan penyandang
diabetes untuk mengkonsumsi ikan segar sebanyak dua atau tiga kali per minggu.
Sebuah studi penelitian menunjukkan Omega 3 dapat menurunkan trigliserida dan
apoproteins, sedangkan Omega 6 membantu meningkatkan kadar kolesterol baik
(HDL), menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan menurunkan tekanan darah.

Berapakah porsi dalam mengkonsumsi lemak nabati pada klien dengan diet
mediterania?

Makanan Ketentuan

Rekomendasi

Minyak zaitun ≥ 4 sdm/hari

Biji-bijian ≥ 3 sajian/minggu

Buah-buahan ≥ 3 sajian/minggu

Sayur-sayuran ≥ 2 sajian/minggu

Ikan, makanan laut ≥ 3 sajian minggu

Kacang-kacangan ≥ 3 sajian/minggu

Daging putih Lebih baik dibandingkan daging merah

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania
Labibah, Zulfa dan Dian Isti Angraini. 2016. Diet Mediterania dan Manfaatnya terhadap
Kesehatan Jantung dan Kardiovaskular. Lampung: Fakultas Kedokteran Universitas
Lampung.

https://hellosehat.com/lemak-nabati-hewani-mana-lebih-baik/

http://www.alodokter.com/jangan-tinggalkan-lemak-nabati-di-dalam-menu-dietmu

Rita Kurniasari. Hubungan Asupan Karbohidrat, Lemak, dan Serat dengan Kadar Glukosa
dan Trigliserida Darah pada Pasien DM Tipe II Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan
(Wahana Inovasi Volume 3 No.1 Jan-Juni 2014)

13. Saya Fitria Kusnawati, NIM: 131511133038 ingin bertanya mengenai review yang telah
dipaparkan kelompok 2 pada jurnal ke-2 berikut adalah peran perawat

Individu:

 Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi klien dengan risiko DM tipe
II maupun klien yang telah didiagnosa DM tipe II.
 Memberikan edukasi secara komprehensif mengenai diet yang dianjurkan untuk
pasien DM dan berupaya untuk meningkatkan motivasi penderita agar dapat
melakukan pola hidup sehat.
Perawat tidak akan selamanya memberikan edukasi dan berkolaborasi dengan pasien
DM tipe II tertentu, bahwa motivasi yang tumbuh dari diri klien sendirilah yg paling
utama untuk mengontrol dirinya sendiri, nah yang saya ingin tanyakan bentuk
motivasi seperti apa yang mungkin ampuh untuk klien yg keras kepala dan mudah
terpengaruh dengan kebiasaan lama?

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan dari Saudari Fitria. Saya Nopen Trijatmiko
(131511133123) dari kelompok 2 akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

 Kita sebagai petugas kesehatan diharuskan lebih intensif dalam melakukan sosialisasi
dan penyuluhan kesehatan tentang pengelolaan penyakit diabetes dengan
mengikutsertakan keluarga. Karena keluarga adalah motivator yang paling ampuh
dalam mendukung kesehatan penderita DM. Penelitian yang dilakukan oleh Diana Tri
Lestari, 2003 tentang Fenomena motivasi penderita DM melakukan latihan fisik di
Poliklinik RSU Unit Swadana Kabupaten Kudus didapatkan kesimpulan bahwa
motivasi terkuat yang mendasari penderita diabetes melakukan olahraga adalah
harapan untuk menormalkan gula darah yang didapat dari informasi dan motivasi
serta dukungan keluarga.

Sumber : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=119610&val=5478&

14. Saya Auzan Muttaqin NIM 131511123030 mohon ijin menanggapi kesimpulan dari
diskusi tentang jurnal yang berjudul Prevention and Management of Type 2 Diabetes:
Dietary Components and Nutritional Strategies
Disebutkan bahwa pola diet dan olahraga sangat penting dalam pencegahan dan
pengelolahan Diabetes Mellitus Tipe 2, yang ingin saya tanyakan bila kadar glukosa
pada darah klien tidak turun melalui cara tersebut, apakah dapat ditunjang dengan
penatalaksanaan obat dan obat-obat apa saja yang dapat diberikan serta bagaimana
peran perawat dalam hal ini?

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan dari Saudara Auzan Muttaqin. Saya Regina Dwi
Fridayanti (131511133130) dari kelompok 2 akan mencoba menjawab pertanyaan
tersebut.

 Selain penatalaksanaan non farmakologi, juga ada penatalaksanaan farmakologi pada


pasien diabetes mellitus tipe 2. Berikut penatalaksanaan farmakologi.

Golongan Contoh Cara Kerja

Sulfonilurea Gliburida/Glibenklamida Merangsang sekresi insulin di


Glipizida kelenjar pankreas, sehingga
hanya efektif pada penderita
Glikazida
diabetes yang sel-sel β
pankreasnya masih berfungsi
Glimepirida
dengan baik
Glikuidon

Meglitinida Repaglinide Merangsang sekresi insulin di

kelenjar pancreas

Turunan Nateglinide Meningkatkan kecepatan


sintesis insulin oleh pankreas
fenilalanin

Biguanida Metformin Bekerja langsung pada hati


(hepar), menurunkan
produksi glukosa hati. Tidak
merangsang sekresi insulin

oleh kelenjar pankreas.

Tiazolidindion Rosiglitazone Meningkatkan kepekaan


tubuh
Troglitazone
terhadap insulin. Berikatan
Pioglitazone
dengan PPARγ (peroxisome
proliferator activated
receptor-gamma) di otot,
jaringan lemak, dan hati
untuk menurunkan resistensi
insulin

Inhibitor α- Acarbose Menghambat kerja enzim-


glukosidase Miglitol enzim pencenaan yang
mencerna karbohidrat,
sehingga memperlambat
absorpsi glukosa ke dalam
darah

 Peran perawat dalam pemberian farmakologi pada pasien diabetes mellitus tipe 2,
yaitu sebagai educator. Perawat mengedukasi kepada pasien bagaimana efek dan
kapan pemberian obat dilakukan , agar dapat meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan pasien. Perawat juga membantu pasien dalam membangun pengetahuan
yang benar dan jelas tentang pengobatan yang di jalani oleh pasien. Selain dari
pasiennya, perawat juga mengedukasi keluarga pasien tentang nama obat, kegunaan
obat, berapa dosis yang harus diminum, jumlah total kali minum obat, bagaimana rute
pemberian obat, mengenalkan efek samping dari obat yang di konsumsi oleh pasien
tersebut.

Sumber :

http://www.fkep.unpad.ac.id/2008/11/peran-perawat-dalam-pemberian-obat/ diakses
pada 28 Agustus 2017

Suzanna Ndraha. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 dan Tatalaksana Terkini. Jakarta:
Leading Article. Vol. 27, No.2, Agustus 2014

15. Assalamualaikum wr.wb. Saya Dyah Rohmatussolichah NIM 131511133043 ingin


bertanya. 382 juta orang dewasa (8 · 3%) di seluruh dunia menderita diabetes, dan
perkiraan tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari 592 juta pada
tahun 2035. Menurut anda, bagaimana cara yang paling efektif agar hal tersebut tidak
sampai terjadi? Mengingat jaman sekarang ini restoran cepat saji dan makanan instan
tersebar dimana-mana dan seakan menjadi hal yang lumrah untuk dikonsumsi setiap
hari. Lalu disekitar kita masih banyak sekali warga yang tidak mau melakukan cek
gula darah secara rutin, karena merasa dirinya sehat dan baik-baik saja, setelah
komplikasi DM semakin parah (misalnya terjadi glaukoma,sering kesemutan), baru
mereka mau berobat. Menurut anda, bagaimana peran kita sebagai perawat untuk
mengatasi hal tersebut?

Jawaban:

Saya Asti Pratiwi NIM 131511133069 akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Dyah Rohmatussholicah

 Pertama untuk mencegah supaya tidak terjadi penambahan penderita Diabetes yaitu
dengan memberikan sosialiasi kepada masyarakat untuk merubah gaya hidupnya
seperti:

1. . Berhenti merokok bagi orang-orang yang suka merokok.

2. . Berhenti meminum alkohol.

3. . Menghindari kebiasaan tidak melakukan aktivitas apapun.

4. . Menurunkan berat badan supaya tidak terjadi obesitas.

5. . Mengganti sumber-sumber karbohidrat dengan biji-bijian.

6. . Menghindari terlalu sering mengkonsumsi minuman yang manis.

7. . Membatasi konsumsi daging merah yang terlalu banyak

8. . Melakukan berbagai macam aktivitas fisik atau olahraga yang teratur seperti
berrenang, bersepeda, jogging dan jalan cepat.

9. Mengkonsumsi makanan berserat seperti sayuran hijau, kacang-kacangan,


buah-buhan, dan biji-bijian.

10. . Mengatur porsi makan

11. .Membatasi makanan yang digoreng dan makanan yang cepat saji.

12. Membatasi makanan olahan


13. Kurangi makanan yang mengandung banyak protein, lemak, gula dan garam.

14. Rajin memeriksa kadar gula urin setiap tahun.

 Selain dengan cara diatas kita juga bisa mendirikan Posbindu PTM (Pos Pembinaan
Terpadu Penyakit tidak menular) yang merupakan program pengendalian factor resiko
penyakit tidak menular seperti Diabetes Mellitus dan tujuannya yaitu untuk
meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap factor resiko terjadinya Diabetes
Mellitus baik terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakat lingkungan sekitarnya.
Dalam Posbindu PTM tersebut kita bisa memberikan program seperti CERDIK dan
PATUH.

a. Adapun program CERDIK adalah:

C: Cek kondisi kesehatan secara berkala

E: Enyahkan asap rokok

R: Rajin aktivitas fisik

D: Diet sehat dengan kalori seimbang.

I: Istirahat yang cukup

K: Kendalikan stress

b. dan program PATUH adalah:

P: Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter

A: Atasi penyskit dengan pengobatan yang tepat dan teratur

T: Tetap diet sehat dengan gizi seimbang

U: Upayakan beraktivitas fisik dengan aman

H: Hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya.


Untuk pertanyaan kedua bagaimana peran kita sebagai perawat dalam mengatasi
orang yang tidak mau periksa gula darah karena merasa dirinya baik-baik saja dan jika
sudah terjadi komplikasi baru mau diperiksa?

Peran kita sebagai perawat yaitu tentunya memberikan edukasi pada orang-orang atau
masyarakat tentang bahayanya penyakit Diabetes Mellitus dan berbagai
komplikasinya, dan kita juga memberikan masukan atau dorongan pada orang orang
tersebut supaya mau diperiksa sehingga tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut jika
orang tersebut sudah menderita DM.

Sumber:

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
diabetes.pdf diakses pada 28 Agustus 2017

http://halosehat.com/penyakit/diabetes/cara-mencegah-diabetes diakses pada 28


Agustus 2017

Rudjianto, Achmad. 2009. Diabetes Siapa Takut. Jakarta: PT Mizan Pustaka

16. Saya Nensi Nur A NIM 131511133055, ingin menanggapi mengenai review jurnal
kelompok 2 dengan judul “Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Gula Darah
Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah
Karanganyar”.

Dijelaskan bahwa, pada keadaan obesitas dapat pula terjadi lipotoksisitas yang
disebabkan sejumlah asam lemak bebas yang dilepaskan triasilgliserol dalam upaya
kompensasi penghancuran simpanan lemak yang berlebihan. Lipotoksisitas akibat
kelebihan asam lemak bebas ini juga dapat menurunkan sekresi insulin dari sel β
pancreas.

Yang ingin saya tanyakan :


1. Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi lipotoksisitas tersebut?
2. Jika sudah terlanjur terjadi lipotoksisitas pada klien dengan keadaan obesitas
tersebut, bagaimana penatalaksaan lanjut yang seharusnya dilakukan?
Jawaban:
Saya Lilik Choiriyah 131511133064 akan mencoba menjawab pertanyaan saudara
Nensi

 Cara mencegah dengan mengatasi faktor-faktor dasar yang didapat seperti berat badan
lebih atau kegemukan, ketidakaktifan fisik, dan diet aterogenik.

Penatalaksanaan apabila telah terjadi, yaitu dengan mengatasi masalah

1. Obesitas abdominal. Pada tahun pertama dilakukan penurunan berat badan


10%, selanjutnya terus menurunkan atau mempertahankan berat badan.
Pembatasan kalori, kerja fisik teratur, perubahan perilaku.

2. Ketidakaktifan fisik. Melakukan Keaktifan fisik intensitas sedang dan teratur,


30-60 menit setiap hari.

3. Diet aterogenik. Kurangai asupan lemak jenuh, trans fats dan kolesterol.
Lemak jenuh < 7% dari kalori total, kurangi trans fat; kolesterol < 200 mg
sehari; lemak total 25-35% dari kalori total.

4. Penghrntian sama sekali merokok

5. LDL-C

a. Risiko tinggi*- kolesterol LDL < 100 mg/dL Pilihan terapi : kolesterol
LDL < 70 mg/dL Terapi gaya hidup sehat dan Obat penurunan kolesterol
LDL untuk mencapai sasaran.

b. Risiko tinggi sedang † kolesterol LDL < 130 mg/dL Pilihan terapi
kolesterol LDL < 100 mg/dL Terapi gaya hidup§ dan Obat penurun
kolesterol LDL untuk mencapai sasaran bila kolesterol dasar ≥ 130
mg/dL.

c. Risiko sedang † – kolesterol LDL < 130 mg/dL Terapi gaya hidup,
tambahkan obat penurunkolesterol LDL bila perlu untuk mencapai sasaran
jika semula ≥ 160 mg/dL.
Daftar Pustaka:

Eckel RH, Grundy SM, Zimmet PZ. The metabolic sundrome. Lancet 2005; 365:
1415-28.

Milionis H, Kostapanos MS, Liberopoulos EN, Goudevenos J, Athyros VG,


Mikhailidis DP, Elisaf MS. Different Definitions of the Metabolic Syndrome and
Risk of First-Ever Acute Ischaemic Non-Embolic Stroke In Elderly Subjects. Int J
Clin Pract. 2007; 61(4):545-551

Cameron AJ, Shaw JE, Zimmet PZ. The metabolic syndrome: prevalence in
worldwide populations. Endocrinol Metab Clin North AM 2004; 33: 351-75.

17. Saya Damai Widyandari NIM 131511133054 dari kelompok 1 ingin bertanya pada
kelompok 2 dari hasil review yang sudah dipaparkan pada jurnal ke 2 bahwa
“Peningkatan terjadinya DM tipe 2 terjadi akibat pola konsumsi individu itu sendiri.
Makanan seperti nasi putih, daging merah, dan sea food berpengaruh besar dalam
peningkatan penyakit tersebut”

Kemudian yang ingin saya tanyakan adalah mengapa sea food berpengaruh besar
daam peningkatan penyakit tersebut, sedangkan menurut salah satu sumber yang
pernah saya baca bahwa para pakar penyakit diabetes menganjurkan untuk memilih
ikan demi kesehatan. Salah seorang pakar mengatakan bahwa ikan merupakan pilihan
protein yang baik, sumber lemak sehat, serta mengandung vitamin dan mineral yang
penting untuk tubuh dalam memperbaiki membran sel yang rusak.
Jawaban:

Saya Nadia Nur Mar'atush Sholihah (131511133137) akan menanggapi pertanyaan


saudari damai

 Makanan seperti nasi putih, daging, dan seafood perlu dibatas, bukan sama sekali
tidak boleh di konsumsi. seperti yang selama ini kita tahu penderita diabetes harus
paham 3 J ( Jadwal makan, Jumlah yang dimakan, dan Jenis makanan yang di
konsumsi)
seperti teori Snehalatha,2009 mengatakan makanan yang mengandung lemak jenuh
tinggi yang perlu dibatasi adalah terutama dari daging, makanan laut (seafood),
produk susu. Teknik pengelolaannya juga penting dalam hal tersebut.

Sumber:
http://eprints.ums.ac.id/37813/23/10.%20KARYA%20TULIS%20ILMIAH
%20FULTEKS.pdf

18. Saya Siska Kusuma Ningsih (NIM. 1311511133037) dari kelompok 1 ingin bertanya
kepada kelompok 2. Pada kesimpulan review jurnal yang berjudul “Prevention and
Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies”
disebutkan bahwa Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani
yang mengandung Omega 3 dan 6. Apabila sesorang memiliki alergi terhadap salah
satu lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan 6, apakah ada makanan pengganti
yang menguntungkan bagi DM tipe II? Dan bagaimana peran perawat dalam
mengedukasinya?

Jawaban:
Perkenalkan saya Nia Istianah 131511133127. saya akan mencoba menjawab
pertanyaan dari Saudari Siska.
 Jika pasien mengalami alergi dengan lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan
6. Maka, dapat digantikan dengan lemak nabati yang kaya akan Omega 3 dan 6.
Seperti : kacang kenari, biji rami, biji chia, kedelai, kembang kol, minyak canola, dan
bayam.

Dalam mengedukasi pasien yang mengalami alergi dengan lemak hewani, kita sebagai
perawat harus memberi edukasi mengenai makanan apa saja yang baik untuk
penderita diabetes. Serta makanan yang harus dihindari dan untuk makanan yang
dapat membuat pasien mengalami alergi sebaiknya dihindari dan diganti dengan
makanan yang memiliki kandungan sama.

Sumber:
http://kesehatan.gen22.net/2013/03/11-makanan-sumber-omega-3-terbaik.html

19. Assalamu'alaikum wr wb. Saya Hesti Lutfia Arif (131511133050) dari kelompok 1
ingin bertanya pada kelompok 2 terkait dengan kesimpulan diskusi yang sebelumnya
telah dipaparkan olrh kelompok 2.

Pada review jurnal ke-2 menjelaskan tentang diet DASH yaitu diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg/hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik.

Yang ingin saya tanyakan adalah

Apakah dengan pembatasan sodium 200mg/perhari tersebut dapat dilakukan pada


semua umur? Apakah tidak terdapat perbedaan kebutuhan sodium pada anak, remaja,
dan dewasa? Apakah dampak yang akan timbul bila kebutuhan sodium perhari tidak
terpenuhi? Apabila terdapat perbedaan kebutuhan pada anak, remaja dan orang
dewasa mohon dijelaskan pula bagaimana tatalaksana diet DASH agar tetap bisa
dilaksanakan pada pasien dengan DM tipe 2 dan kebutuhan sodium pasien perhari
tetap terpenuhi.

Jawaban:
saya PRISDAMAYANTI AYUNINGSIH (131511133067) akan mencoba menjawab
pertanyaan dari saudari Hesti

 DASH adalah kependekan dari Dietary Approach to Stop Hypertension atau diet yang
diterapkan khusus untuk penderita hipertensi. Namun, ternyata DASH diet juga
berefek positif terhadap beberapa penyakit seperti stroke, obesitas, dan juga
diabetesserta memproteksi tubuh dari penyakit osteoporosis, kanker, diabetes, dan
penyakit jantung.
Di bawah ini adalah aturan frekuensi dan porsi makanan dalam diet DASH yang
hanya mencakup 2000 kalori per hari.
1. Karbohidrat dari Biji-bijian (6-8 Kali Konsumsi/hari)
Yang termasuk didalamnya adalah roti gandum, beras, sereal, dan pasta. 1 kali
konsumsi misalnya 1 lembar roti gandum, 100 gr sereal, atau 70 gr nasi/pasta.
Sebaiknya, disarankan untuk mengonsumsi beras merah ketimbang beras putih karena
mengandung indeks glikemik rendah (proses pencernaanya lama sehingga tidak
membuat cepat lapar). Dan lebih baik mengonsumsi pasta atau sereal berlabel
mengandung 100% gandum utuh. Sebenarnya bijian-bijian ini mengandung lemak
jenuh yang rendah jadi jangan menambahkan apapun seperti mentega, keju atau krim.
2. Sayuran (4-5 Kali Konsumsi/hari)
Tomat, wortel, brokoli, dan sayuran lainnya mengandung serat, vitamin, potassium,
dan magnesium. Untuk 1 kali konsumsi takarannya adalah 1 mangkuk sup untuk
sayuran mentah dan ½ mangkuk untuk sayuran yang telah diolah.
3. Buah-buahan (4-5 Kali Konsumsi/hari)
Seperti halnya sayur-sayuran, buahan-buahan mengandung banyak mineral yang
diperlukan tubuh. Untuk diet hipertensi dan diabetes, sayuran dan buah-buahan
memang makanan yang tepat. Perlu diketahui beberapa buah bersifat asam
kontradiktif terhadap beberapa obat. Karena itu, penting untuk selalu konsultasikan
pada dokter jenis buah yang akan dikonsumsi jika Anda sedang dalam pengobatan.
4. Produk Susu (2-3 Kali Konsumsi/hari)
Susu, yoghurt, keju, dan produk susu lainnya adalah sumber vitamin D dan kalsium.
Pilihlah produk olahan susu yang rendah lemak. Untuk olahan susu yang rendah
lemak, 1 kali konsumsi jumlah yang dianjurkan adalah 1 cangkir. Yoghurt beku yang
rendah lemak juga sangat baik apalagi jika ditambah buah-buahan.
5. Daging Tanpa Lemak, Unggas, Ikan (Kurang dari 6 Kali Konsumsi/hari)
Perlu diingat, sumber protein yang diperbolehkan adalah bebas lemak. Ayam dan
sejenisnya bisa dimasak tanpa kulit sedangkan daging harus dibuang lemaknya
terlebih dahulu. Per 1 kali konsumsi Anda dapat menyantap sumber protein ini
sejumlah 1 ons saja.
6. Kacang-kacangan (4-5 Kali Konsumsi/minggu)
Almond, lentil, kacang merah, dan kacang-kacangan lainnya penuh dengan protein
dan mineral seperti magnesium dan potasium. Jenis makanan ini harus dibatasi
konsumsinya per minggu sebab kacang-kacangan mengandung kalori tinggi dan
lemak, meskipun lemak yang dikandung adalah lemak baik. 1½ ons kacang-kacangan
per sekali konsumsi adalah porsi yang dianjurkan.
7. Lemak dan Minyak (2-3 Kali Konsumsi/hari)
Lemak masih tetap diperlukan tubuh untuk menyerap vitamin esensial untuk
meningkatkan sistem imunitas tubuh. Tetapi kebanyakan mengonsumsi lemak,
terutama lemak jenuh, juga tidak baik karena akan meningkatkan resiko darah tinggi,
obesitas, dan diabetes mellitus. Per 1 kali konsumsi jumlah yang diperbolehkan
adalah 1 sendok teh magarin atau 1 sendok makan mayones rendah lemak atau 2
sendok makan salad dressing.
8. Gula (Kurang dari 5 Kali Konsumsi/minggu)
Dalam menjalani diet DASH, tak perlu mengeluarkan segala yang manis-manis dari
menu diet Anda. Per satu kali konsumsi 1 sendok makan gula pasir sudah sangat
cukup untuk jelly atau jus Jeruk Nipis .

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sebanyak 26,2 persen penduduk
indonesia mengkonsumsi garam berlebih, dari tahun 2009 yakni 24,5 persen dan
lemak 40,7 persen naik dari tahun 2009 yakni 12,8 persen Batas konsumsi gula,
garam, dan lemak yang disarankan oleh kementrian Kesehatan RI (Kemenkes) per
orang perhari yaitu 50 gram (4sendok makan) gula, 2000 miligram natrium/sodium
atau 5 gram garam (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gram (5 sendok makan
minyak). Untuk anak usia 11 tahun- dewasa. Sedangkan untuk anak-anak sebagai
berikut:
a. Usia 1-3 tahun = 2 gram per hari
b. Usia 4-6 tahun = 3 gram per hari
c. Usia 7-10 tahun = 5 gram per hari

Sumber :

Kementrian Kesehatan RI tahun 2013


https://www.deherba.com/dash-diet-untuk-penyakit-hipertensi-dan-diabetes.html

20. Perkenalkan nama saya sri wulandari 131511133048

Terimakasih penjelasan sebelumnya, saya ingin bertanya tentang materi yang


dijelaskan oleh kelompok.

Tolong dijelaskan tentang Penelitian menggunakan desain penelitian observasi


analitik cross-sectional. Bagaimana cara kita sebagai perawat untuk menerapkan
kepada keluarga dengan penelitian tersebut?

Jawaban:

Terimakasih atas pertanyaan dari saudari Sri Wulandari, saya Nanda Elanti Putri
(131511133128) akan mencoba menjawab.

 Definisi studi cross-sectional:


Rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan
dengan cara mengamati status penyakit dan paparan secara bersamaan pada individu –
individu dengan populasi tunggal pada suatu saat atau periode.
Pemilihan Subyek studi cross-sectional: Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung
dengan rumus Snedecor dan Cochran.
Tujuan studi cross-sectional:
1. untuk mengetahui masalah kesehatan masyarakat di suatu wilayah
2. untuk mengetahui prevalensi penyakit tertentu di suatu daerah
3. untuk memperkirakan adanya hubungan sebab akibat bila penyakit itu
mengalami perubahan yang jelas dan tetap
4. untuk memperoleh hipotesis spesifik yang akan diuji melalui penelitian
analitis
Ciri-ciri studi cross-sectional:
1. Semua pengukuran variable (dependen dan indpenden) yang diteliti dilakukan
pada waktu yang sama
2. Tidak ada periode follow-up
3. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu
4. Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding
5. Hubungan sebab-akibat hanya merupakan perkiraan saja
6. Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis
7. Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis
Peran Perawat
Seperti yang telah dipaparkan pada hasil review jurnal kelompok II peran perawat
kepada keluarga sesuai dengan hasil penelitian tersebut adalah memberikan
informasi terkait pola diet yang harus dijalani penderita.
Sumber:
Prihastari, Lisa. 2014. Epidemiologi Umum dan Oral: Perbedaan Case Control,
Studi Cross Sectional dan Studi Cohort. Fakultas Magister Ilmu Kesehatan Gigi
Komunitas, Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Indonesia.

21. Saya Lely Suryawati nim 131511133049 dari kelompok 1 ingin bertanya

Pada review jurnal kelompok anda disebutkan bahwa peran perawat salah satunya
adalah memberikan informasi mengenai cara mengontrol berat badan dengan
pengaturan diet menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pada
penderita DM 2.

Tolong dijelaskan metode 3 J yang tepat untuk penderita DM tipe 2 beserta


contohnya.

Jawaban:
Saya Risniawati (131511133070) akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Lely.

 Pengaturan diit menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pada penderita
DM 2 yang dimaksud adalah jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan
dikurangi atau ditambah sesuai dengan kebutuhan, jadwal diit harus sesuai dengan
intervalnya yang dibagi menjadi 6 waktu makan, yaitu 3 kali makanan utama dan 3
kali makanan selingan, jenis makanan yang manis harus dihindari karena dapat
meningkatkan jumlah kadar gula darah. Contoh:
1. Tepat jumlah: banyaknya kalori harus dalam ukuran kkal yang dikonsumsi dalam 1
hari sesuai dengan angka basal metabolisme dan nilai IMT untuk mencukupi
kebutuhan kalori tubuh pada pasien DM 2.
2. Tepat jenis: makanan yang harus dihindari adalah makanan manis yang termasuk
pantangan buah golongan A seperti sawo, jeruk, nanas, rambutan, durian, nangka dan
anggur. Jenis dianjurkan adalah makanan manis termasuk buah golongan B yaitu
pepaya, kedondong, salak, pisang (kecuali pisang raja, pisang emas, pisang tanduk),
apel, tomat, semangka.
3. Tepat jadwal: jadwal makan penderita diabetes mellitus harus diikuti sesuai
intervalnya yaitu tiap 3 jam. Diit diabetes melitus diberikan dengan cara 3 kali
makanan utama dan tiga kali makanan selingan dengan jarak antara 3 jam.

Sumber:

Almatsier, Sunita. (2010). Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

22. Saya Dinda Salmahella NIM 131511133039 perwakilan dari kelompok 1 ingin
menanyakan

Bagaimana penanganan pada anak obesitas yang mengalami Diabetes Mellitus tipe 2
pada awal terdiagnosa? jelaskan untuk diet susu dan olahraga untuk pemula sementara
pada anak yang kelebihan BB olahraga belum bisa dilakukan maksimal dikarenakan
anak mudah lelah terkait beban tubuhnya
Jawaban:

Rifki Fauzi Maulida (131511133126) akan mencoba menjawab pertanyaan dari


saudari dinda.

 Untuk penangannya dapat kita lakukan yaitu:

1. Dengan menjaga gaya hidup seperti menjaga pola makan dan jenis makanan,

• Makan makanan yang kaya akan serat seperti roti gandum dan sereal, beras
merah, lentil, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran.

• Pilihlah makanan yang rendah lemak, baik itu lemak jenuh dan trans, misalnya
daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, susu non-lemak atau susu rendah
lemak, yogurt, serta keju.

• Pilihlah makanan yang dibakar, dikukus, atau yang dipanggang dan bukan
yang digoreng. • Pilih makanan yang rendah garam seperti buah-buahan,
sayuran, serta biji-bijian. Jangan menambahkan garam ke dalam makanan.

• Makan sayuran. Misalnya, salad dengan sayuran hijau, wortel, tomat, serta
paprika. Gunakan saus salad rendah lemak .

• Hindari minuman manis seperti soda, minuman isotonik, dan jus buah.

2. Istirahat yang cukup

3. Jenis olahraga yang disarankan adalah minimal yang berintensitas rendah sampai
sedang.Contoh olahraga intensitas rendah, adalah:

• Jalan santai

• Bersepeda santai

• Yoga.
4. Pengobatan medis

5. Melakukan pengecekan gula darah secara rutin

6. Susu mengandung kalsium, magnesium, potasium, dan vitamin D untuk tubuh yang
dibutuhkan untuk banyak fungsi penting. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa
susu bisa membantu menurunkan berat badan. Untuk diet susu, yang yang baik di
konsumsi bagi anak-anak adalah susu yang mengandung rendah lemak. Karena susu
dalam diet sehat bisa menurunkan tekanan darah sebanyak tiga sampai lima poin,
menurut penelitian dari Journal of the American College of Nutrition.

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2015/03/06/090000523/Minuman.Terbaik.Bagi.Pender
ita.Diabetes