Anda di halaman 1dari 37

E-LEARNING KEPERAWATAN ENDOKRIN II

“Trend dan Issue Terbaru Keperawatan Endokrin dan Metabolik:


Diabetes Mellitus Tipe II”

Fasilitator :

Praba Diyan Rachmawati, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok 2 Kelas A-2/Angkatan 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
Jurnal 1

Judul Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita
: Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar
Penulis : AIN FATHMI
Tahun : 2012

Review:

Latar Belakang:
Menurut Soegondo (2011) diabetes melitus merupakan kumpulan dari beberapa gejala
yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat
penurunan sekresi insulin yang progresif akibat adanya resistensi insulin.

Indonesia merupakan salah satu negara yang tergolong memiliki jumlah penderita
diabetes terbanyak setelah Amerika, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik jumlah penderita diabetes tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola
pertambahan penduduk diperkirakan 2030 ada 20,1 juta penderita diabetes.

Menurut Gibney (2009) obesitas merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya DM.
Obesitas dapat membuat sel tidak sensitif terhadap insulin, sedangkan dalam hal ini insulin
perannya adalah untuk membantu meningkatkan ambilan glukosa di dalam sel
(Guyton,2008).

Metode Penelitian:
Penelitian menggunakan desain penelitian observasi analitik cross-sectional. Variabel
yang akan diteliti hanya diukur pada satu kali pengukuran saja. Populasi dalam penelitian ini
adalah penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

Hasil Penelitian:
Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar gula darah puasa pada
pasien DM tipe 2. Semakin besar indeks massa tubuh, maka semakin tinggi kadar gula darah
puasanya. Dimana, semakin besar indeks massa tubuh menandakan penderita mengarah ke
obesitas.

Pada keadaan obesitas, akan terjadi peningkatan mRNA Lipopolysaccharides (LPS)-


induced TNF-α factor (LITAF). LITAF yang teraktivasi akan menginduksi inflamasi dan
resistensi insulin. LITAF berperan dalam mengatur ekspresi dari TNF-α, IL-6 and MCP-1.
Peningkatan TNF-α yang diobservasi pada jaringan lemak pasien obesitas menunjukkan
hubungan langsung timbulnya resistensi insulin (Zhong et al,2011). Selain itu, pada keadaan
obesitas dapat pula terjadi lipotoksisitas yang disebabkan sejumlah asam lemak bebas yang
dilepaskan triasilgliserol dalam upaya kompensasi penghancuran simpanan lemak yang
berlebihan. Lipotoksisitas akibat kelebihan asam lemak bebas ini juga dapat menurunkan
sekresi insulin dari sel β pancreas (Sudoyo et al, 2009).

Kesimpulan:
Indeks massa tubuh memiliki hubungan yang bermakna dengan kadar gula darah pada
penderita diabetes melitus tipe 2.

Peran Perawat
1. Pada pasien :
 Memberikan informasi mengenai cara mengontrol berat badan dengan pengaturan
makan menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pola diet sesuai
kebutuh penderita DM tipe 2 serta berolahraga secara teratur.
 Memantau pola diet yang dijalani pasien secara berkala
2. Pada keluarga :
Memberikan informasi terkait pola diet yang harus dijalani penderita
3. Masyarakat :
Memberikan penyuluhan tentang diabetes melitus dan cara pencegahan serta
penanganannya.
Jurnal 2

Judul Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and


: Nutritional Strategies
Penulis : Sylvia H Ley, Osama Hamdy,Viswanathan Mohan, Frank B Hu
Tahun : 2014

Review:

382 juta orang dewasa (8 · 3%) di seluruh dunia menderita diabetes, dan perkiraan
tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari 592 juta pada tahun 2035.
Setidaknya 147 miliar dolar dihabiskan untuk perawatan kesehatan diabetes di Eropa,
sedangkan Amerika Utara dan Karibia menghabiskan 263 dolar miliar pada tahun 2013.
Diabetes telah menjadi penyebab utama kematian pada orang yang berusia kurang dari 60
tahun. Peningkatan terjadinya DM tipe 2 terjadi akibat pola konsumsi individu itu sendiri.
Makanan seperti nasi putih, daging merah, dan sea food berpengaruh besar dalam
peningkatan penyakit tersebut.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade ini, nutrisi
individu, makanan, dan pola diet sangat penting dalam pencegahan dan pengelolaan Diabetes
Mellitus tipe 2. Diet yang dilakukan meliputi perencanaan gaya hidup dengan pembatasan
kalori dan olahraga dalam upaya menurunkan berat badan. Dengan melakukan diet tersebut
dapat meningkatkan kontrol glikemik lipid dan darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2.
Klien yang memiliki risiko DM tipe II tidak harus melakukan pembatasan mengenai
lemak secara berlebihan, karena menurut beberapa penelitian di jurnal ini dijelaskan bahwa
diet lemak yang dilakukan tidak mengandalkan kuantitas melainkan kualitas lemak. Lemak
yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan 6.
Untuk diet karbohidrat dijelakan bahwa serat dari sereal lebih banyak memberikan pengaruh
dari pada serat pada buah. Selain itu vitamin dan mineral juga dapat mengurangi risiko
terjadinya DM tipe II yaitu Magnesium dan Vitamin D. Konsumsi buah-buahan khusus
seperti bluberry, anggur, dan apel serta sayuran hijau dpat menurunkan resiko DM tipe 2.
Klien dengan DM tipe II dianjurkan mengonsumsi minuman rendah gula atau tanpa gula
seperti air putih. Selain itu kopi juga dapat memberikan pengaruh yang baik, karena kafein
dalam kopi berkaitan dengan penurunan terjadinya diabetes. sementara itu, alkohol harus
dihindari karena dapat mengubah sensitivitas dari insulin.
Beberapa pola diet seperti diet mediterania dan DASH juga dapat menjadi alternatif
dalam menjalakan diet sehat. Diet mediterania yaitu diet dengan menu sayuran, buah-buahan,
biji-bijian dan minyak zaitun. Diet ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga
mengurangi risiko DM tipe II. Sedangkan diet DASH adalah diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg per hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik. Selain itu,
diet yang dilaksanakan juga harus menyesuaikan budaya makanan dan kebutuhan kalori yang
dibutuhkan pasien diabetes mellitus untuk menjaga berat badannya tetap stabil.

Peran Perawat:
1. Individu:
 Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi klien dengan risiko DM
tipe II maupun klien yang telah didiagnosa DM tipe II.
 Memberikan edukasi secara komprehensif mengenai diet yang dianjurkan untuk
pasien DM dan berupaya untuk meningkatkan motivasi penderita agar dapat
melakukan pola hidup sehat.
2. Keluarga:
Memberikan edukasi mengenai pola diet ataupun nutrisi yang sesuai dengan
kebutuhan klien DM tipe II ataupun yang berisiko mengalaminya. Dapat pula
dijelaskan mengenai pola diet seperti mediterania dan DASH.
3. Masyarakat:
Melakukan penyuluhan pentingnya gaya hidup sehat dan olahraga untuk mengurangi
risiko DM tipe II

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Saya Agi Putri Alfiyanti NIM 131511133046 dari kelompok 1.


Di dalam kesimpulan diskusi disebutkan tentang diet untuk DM Tipe 2. Diet pada
penderita DM tipe 2 juga harus diimbangi dengan olahraga. Peran perawat dalam
masalah ini adalah untuk mengedukasi tentang gaya hidup dan pentingnya olahraga
untuk penderita diabetes tipe 2. Olahraga apa yang dapat menurunkan kadar gula
darah pada penderita DM 2, serta olah raga seperti apa yang frekuensinya lebih tepat
dan tidak membahayakan tubuh mengingat kebanyakan penderita DM tipe 2 juga
mengalami obesitas.. Tolong dijelaskan.
Terimakasih.
Jawaban:
Saya Heny Oktora Safitri (131511133068) mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Agi, sebelumnya terima kasih atas pertanyaannya.

Olahraga yang dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita DM 2 salah
satunya adalah olahraga aerobic. Sesuai dengan penelitian (Puji I., Heru S., Agus S.,
2007) yang menyebutkan bahwa pada DM tipe 2, latihan fisik berperan sebagai
glycemic control yaitu mengatur dan mengendalikan kadar gula darah. Latihan fisik
yang dianjurkan salah satunya adalah senam aerobic, yang bertujuan meningkatkan
dan mempertahankan kesegaran tubuh dan dilaksanakan sesuai prinsip F.I.T.T
(Frekuensi, Intensitas, Time dan Tipe). Jenis olah raga yang dianjurkan pada penderita
DM adalah olah raga aerobic seperti jogging, berenang, senam kelompok dan
bersepeda tepat dilakukan pada penderita DM karena menggunakan semua otot-otot
besar, pernapasan dan jantung. Pada senam aerobik misalnya, dari variasi gerakan-
gerakan yang banyak terutama gerakan dasar pada kaki dan jalan dapat memenuhi
kriteria CRIPE (continous, rhythmical, interval, progresif dan endurance) sehingga
sesuai dengan tahapan kegiatan yang harus dilakukan. Disamping itu senam aerobik
yang dilakukan secara berkelompok akan memberi rasa senang pada anggota dan juga
dapat memotivasi anggota yang lain untuk terus melakukan olah raga secara kontinue
dan teratur (Puji dkk dalam penelitian Pengaruh Latihan Fisik; Senam Aerobik
terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Penderita DM Tipe 2 di Wilayah
Puskesmas Bukateja Purbalingga, 2010).

Adanya pengaruh latihan fisik: senam aerobik terhadap penurunan kadar gula darah
ini disebabkan karena senam aerobik merupakan suatu proses yang sistematis dengan
menggunakan rangsangan gerak yang bertujuan untuk meningkatkan atau
mempertahankan kualitas fungsional tubuh yang meliputi kualitas daya tahan paru-
jantung, kekuatan dan daya tahan otot, kelenturan dan komposisi tubuh (Irianto,
2000), sehingga pada pelaksanaannya menggunakan seluruh otot-otot besar, dengan
gerakan yang terus menerus, berirama, progresif dan berkelanjutan yang diiringi
dengan musik yang antara lain berguna untuk meningkatkan motivasi latihan,
pengaturan waktu latihan, dan kecepatan latihan. Menurut Irianto (2000), bahwa salah
satu penentu keberhasilan kebugaran fisik adalah dosis latihan yang cukup yang
dikenal dengan konsep FIT (Frekuensi, Intensitas dan Time):
1. Frekuensi menunjukan banyaknya latihan persatuan waktu dan untuk
meningkatkan kebugaran fisik diperlukan latihan 3 – 5 kali per minggu yang
dilakukan berselang-seling.
2. Intensity yaitu kualitas yang menunjukan berat ringannya latihan. Intensitas latihan
untuk daya tahan paru jantung sebesar 60 – 70% detak jantung maksimal.
3. Time yaitu waktu atau durasi yang diperlukan setiap kali latihan sedangkan untuk
meningkatkan kebugaran fisik diperlukan waktu berlatih 20-60 menit yang
didahului 3-5 menit pemanasan dan diakhiri dengan 3-5 menit pendinginan.
Adapun waktu yang diperlukan selama latihan yaitu 30 menit dengan waktu untuk
pemanasan 5 menit dan pendinginan 5 menit sehingga latihan intinya 20 menit
sampai responden mencapai THR (Target Heart Rate). Apabila THR belum
terpenuhi, maka durasi latihan ditambah sampai maksimal 60 menit.

Sumber:
Puji I, dkk. 2007. Pengaruh Latihan Fisik; Senam Aerobik terhadap Penurunan
Kadar Gula Darah pada Penderita DM Tipe 2 di Wilayah Puskesmas Bukateja
Purbalingga. Media Ners, Volume 1, Nomor 2, hlm 49 – 99
Irianto,D.P. 2000. Panduan latihan kebugaran fisik (yang efektif dan aman).
Yogyakarta: Lukman Offset.

2. Perkenalkan saya Nurul Fauziyah NIM 131511133044 dari kelompok 1.


Didalam kesimpulan hasil diskusi dari kelompok 1 disebutkan bahwa diet lemak yang
dilakukan oleh penderita DM tipe II tidak mengandalkan kuantitas melainkan kualitas
lemak. Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang
mengandung Omega 3 dan 6. Yang ingin saya tanyakan disini adalah apa yang
dimaksud dengan lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II itu? apakah dengan
mengonsumsi lemak hewani seperti Omega 3 dan 6 pasien DM tipe II akan cepat
sembuh atau bagaimana? Dan berapa besar porsi yang pas untuk mengonsumsi lemak
hewani yang mengandung Omega 3 dan 6 bagi penderita DM tipe II ?

Jawaban:

Perkenalkan saya Ayu Rahmawati (131511133075) akan mencoba menjawab


pertanyaan dari saudara Nurul Fauziyah.
 Lemak menguntungkan yang dimaksud adalah HDL (High density lipoprotein). HDL
adalah partikel lipoprotein terkecil, memiliki densitas paling tinggi karena lebih
banyak mengandung protein dibandingkan kolesterol. Pada sebuah penelitian
dikatakan bahwa klien yang mengonsumsi lemak baik (HDL) maka terjadi penurunan
kadar glukosa darah dapat mencapai 76,7 %. Omega 3 dan 6 merupakan salah satu
dari jenis HDL. Diet akan lemak HDL ini bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa
darah pada klien dengan DM. Semua lemak esensial baik omega 3 dan 6 penting,
namun kecukupan omega 3 harus lebih diperhatikan. Omega 3 memiliki fungsi
khusus terkait dengan perannya untuk meningkatkan sensitivitas insulin yang
diperlukan klien dengan DM tipe 2. Konsumsi lemak yang dianjurkan pada klien
dengan DM tipe 2 yaitu 20-30% dari total kebutuhan energi total. Lemak yang
disarankan yaitu minyak zaitun, minyak kacang, alpukat, omega 3 dan 6. Omega 3
dapat diperoleh dari minyak ikan laut dan omega 6 dapat diperoleh dari minyak
jagung, minyak kacang tanah, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Sumber:
Muliani, Usdeka.2013. Asupan Zat-zat Gizi dan Kadar Gula Darah Penderita DM-
Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung. Jurnal Kesehatan, Volume IV No. 2, 2 Oktober 2013, hlm 325-332.
Idris, Andi M, dkk. 2014. Hubungan Pola Makan dengan Kadar Gula Darah Pasien
Rawat Jalan DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Makassar.
3. Assalamualaikum wr.wb saya Elly Ardianti NIM 131511133058 dari kelompok 1
ingin bertanya kepada kelompok Anda.
1. Dalam review jurnal tersebut dijelaskan bahwa mengonsumsi kopi dapat
memberikan pengaruh yang baik kepada penderita DM. Menurut Anda apakah
kopi ini bisa dijadikan sebagai salah satu terapi bagi penderita DM? Jika iya,
mohon dijelaskan jenis kopi dan takaran penyajiannya.
2. Ada sebagian orang yang tidak suka mengonsumsi sayur dan buah. Sedangkan
dalam diet mediterania pasien dianjurkan mengonsumsi buah dan sayur.
Bagaimana peran perawat dalam menyiasati pasien yang tidak suka makan buah
dan sayuran?
Mohon penjelasannya. Terimakasih

Jawaban:
Terimakasih atas pertanyaan. Saya Annisa Prabaningrum 131511133129 akan
mencoba menjawab pertanyaan anda.

 Kopi mengandung dua senyawa kompleks terbanyak, yaitu chlorogenic acid (asam
klorogenat) dan kafein. Chlorogenic acid memiliki mekanisme dalam menurunkan
hiperglikemia intraselular serta berperan sebagai senyawa polifenol yang bekerja
sebagai antioksidan kuat di dalam kopi. Tingginya kadar antioksidan kopi juga telah
dilaporkan oleh beberapa peneliti (Pellegrini et al., 2003; Richelle, 2001). Mereka
meyakini bahwa chlorogenic acid, yakni ester dari asam kafeat dan asam kuinat,
merupakan komponen polifenol yang bertanggung jawab sebagai antioksidan
(Winarsi, 2009). Chlorogenic acid mampu meningkatkan sensitivitas insulin terutama
yang bekerja di otot melalui senyawa quinida di dalamnya yang terbentuk saat kopi
dipanggang (Herry W, 2007). Selain menurunkan resistensi insulin, chlorogenic acid
juga menurunkan konsentrasi plasma glukosa darah (Gustavo 2009). Beberapa studi
menyatakan konsumsi kafein yang terkandung dalam kopi berhubungan dengan
penurunan berat badan dan meningkatkan rasa kenyang (Gustavo, 2009). Kafein pada
kopi dimetabolisme dalam hepar dan memungkinkan formasi menjadi 3 grup
methylxanthine salah satunya theophyline yang berperan dalam mengontrol
metabolisme glukosa darah (Kallow). Takaran dan jenisnya : jenisnya bisa kopi
robusta. Pemberian kopi dapat menurunkan secara signifikan kadar glukosa darah
pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2. Pada penelitian ini, dosis paling efektif
dalam menurunkan kadar glukosa darah kira-kira 600 ml/hari pada manusia.
 Peran perawat yaitu dengan menyajikan buah dan sayur dengan beberapa desain atau
tampilan yang menarik, agar pasien mau untuk memakan buah dan sayur Karena cara
memasak juga menyajikan beberapa buah dan sayur tertentu pastinya bisa membuat
pasien tertarik untuk memakannya. Bisa berbentuk salad buah atau salad sayur.
Perawat bisa mengambil inisiatif untuk membuat jus buah atau jus sayur atau bahkan
jus buah yang di campurkan dengan sayur. Karena jus akan membuat pasien
menghilangkan kesan bahwa buah dan sayur merupakan satu beban untuk di
konsumsi.

Sumber :
Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang Kota
Malang,"PENGARUH PEMBERIAN KOPI TERHADAP PENURUNAN KADAR
GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE 2" oleh Alifaneta
Yustisiani, dkk. JUNI 2013.

4. Saya Khulasotun Nuriyah (1315111042) anggota dari kelompok 1 ingin menanyakan


mengenai jurnal 1 “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies”. Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa Klien
yang memiliki risiko DM tipe II tidak harus melakukan pembatasan mengenai lemak
secara berlebihan, diet lemak yang dilakukan tidak mengandalkan kuantitas melainkan
kualitas lemak. Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani
yang mengandung Omega 3 dan 6. Yang ingin saya tanyakan yaitu bagaimana strategi
perawat saat memberikan penyuluhan kepada penderita/individu, keluarga maupun
masyarakat awam yang tidak paham mengenai diet lemak tersebut? Dan jika
penderita/individu, keluarga maupun masyarakat tersebut dalam keadaan ekonomi
yang kurang bagaimana solusinya supaya tetap mendapatkan management mengenai
diet lemak tersebut?
Jawaban:
Perkenalkan saya Ririn Arianta (131511133062) akan mencoba menjawab pertanyaan
dari saudari Khulasotun Nuriyah

 Srategi yang dapat dilakukan supaya penyuluhan dapat diterima oleh masyarakat
awam dan mudah untuk difahami salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan
komunikasi terapeutik. Aspek-aspek yang harus ada dalam komunikasi terapeutik
tersebut adalah
1. Mengetahui mitra bicara (audience). Dalam hal ini adalah masyarakat awam
sehingga kita harus menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah
difahami. Seperti dengan memberikan contoh-contoh makanan yang
mengandung lemak yang baik untuk penderita Diabetes yang akan disekitar
lingkungan audience atau yang biasa dijumpai oleh audience.
2. Mengetahui tujuan. Tujuan kita memberikan penyuluhan adalah supaya
masyarakat memperoleh informasi dan dapat mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehingga dalam penyuluhan harus kita buat semenarik dan sejelas
mungkin sehingga audience akan tertarik untuk menerapkannya.
3. Memperhatikan konteks. Konteks yang akan kita sampaikan adalah diet lemak
sehingga kita harus fokus pada pokok bahasan dan jangan sampai menyebar ke
konteks lainnya.
4. Pelajari kultur. Sebelum memberikan penyuluhan kita harus memahami budaya
yang dianut pada masyarakat sekitar sehingga apa yang kita sampaikan tidak
ditentang oleh masyarakat tersebut dan dapat diterima.
5. Pahami bahasa. Menggunakan bahasa sehari-hari masyarakat sekitar dan jangan
menggunakan bahasa medis yang susah difahami.
 Solusi yang dapat dilakukan supaya masyarakat dengan ekonomi kurang tetap
mendapatkan manajemen mengenai diet lemak yaitu dengan cara memilih bahan-
bahan makanan yang mengandung omega 3 dan 6 yang murah. Sumber makanan
asam lemak omega 6 yang dapat diperoleh dengan harga murah diantaranya adalah
kacang kedelai, telur, unggas dan jenis kacang-kacangan yang lainnya. Sedangkan
untuk bahan makanan yang mengandung asam lemak omega 3 diantaranya ASI,
kecambah, kedelai, gandum dan lain-lain. Tetapi dalam hal ini kita harus
memperhatikan jumlah konsumsi . Omega 3 dan 6 merupakan sama-sama lemak yang
menguntungkan bagi DM, namun kecukupan omega 3 harus diperhatikan karena
memiliki fungsi terhadap sensitivitas insulin. Jumlah lemak yang dianjurkan pada
pasien DM tipe 2 yaitu sekitar 20-30 %. Jadi untuk dapat mengkonsumsi bahan
makanan yang mengandung omega 3 dan 6 tidak harus berasal dari bahan-bahan yang
mahal seperti salmon tetapi dengan bahan yang ada disekitar dan mudah didapat juga
bisa mencukupi kebutuhan akan bahan tersebut.

Sumber :
Diana, Fivi Melva. Studi Literatur “Omega 3” : Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret
2012-September 2012, Vol 6, No. 2

Diana, Fivi Melva. Studi Literatur “Omega 6” : Jurnal Kesehatan Masyarakat,


September 2012- Maret2012, Vol 7, No. 1

https://ojantikareborn.wordpress.com/2011/11/08/komunikasi-teuapeutik-pada-
keperawatan-komunitas/ diakses pada tanggal 27 agustus 2017
Muliani, Uskeda.2013. Asupan Zat- zat Gizi dan Kadar Gula Darah penderita DM
tipe 2 di poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Jurnal Kesehatan, Volume IV No. 2, 2 oktober 2013 hlm 325-332.

5. Perkenalkan saya, Rizka Maudy Julianti_131511133051 dari kelompok 1


Saya ingin bertanya pada jurnal 2 "Prevention and Management of Type 2 Diabetes:
Dietary Components and Nutritional Strategies" mengatakan bahwa, kopi dapat
memberikan pengaruh yang baik, karena kafein dalam kopi berkaitan dengan
penurunan terjadinya diabetes.
Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa banyak takaran kopi yang dapat di konsumsi
untuk menurunkan terjadinya diabetes? Lalu jika pada pasien diabetes, pasien tersebut
juga mengalami sakit jantung ataupun lambung apakah tetap meminum kopi juga?
karena seperti yang kita ketahui kafein dalam kopi tersebut dapat membuat asam
lambung naik dan dapat mempercepat aktifitas jantung.

Jawaban:

Saya Siti Lusiyanti (131511133073) akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari
Rizka Maudy

 Banyaknya takaran kopi yang dapat dikonsumsi untuk menurunkan terjadinya


diabetes tergantung dari toleransi serta kondisi tubuh masing-masing individu karena
setiap individu memiliki batas toleransi yang berbeda-beda. Selain itu, kita juga perlu
memperhatikan intake kalori yang dikandung oleh kopi yang akan dikonsumsi.
Biasanya konsumsi kopi sebelum makan pagi, siang, ataupun malam dapat
menormalkan kadar glukosa dalam darah. Sedangkan untuk pasien diabetes disertai
penyakit jantung ataupun lambung sebaiknya membatasi atau bahkan menghindari
kopi karena efek dari kopi dapat memperparah keadaan jantung atau lambung apabila
tubuh pasien tidak bisa mentoleransi.

Sumber:

http://www.sehatmagz.com/gizi/berapa-gelas-kopi-sehari-yang-aman-bagi-kesehatan/
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017
http://halosehat.com/penyakit/diabetes/kopi-bagi-penderita-diabetes diakses pada
tanggal 27 Agustus 2017

6. Selamat malam. Perkenalkan saya Bunga Novia Hardiana, NIM 131511133057, dari
kelompok diskusi 1: obesitas. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menanggapi
jurnal 2 dengan judul “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies”.
1. Untuk peran perawat, bisa ditambahkan case manager. Peran perawat sebagai
case manager adalah merancang diet untuk pasien, mengawasi dan
mengevaluasi dampak diet tersebut. Jadi, bukan hanya sebagai educator dan
counselor, tetapi juga terjun langsung sebagai case manager.
2. Pada review jurnal dua dikatakan untuk diet karbohidrat: serat dari sereal lebih
banyak memberikan pengaruh daripada serat dari buah. Selain mengandung
serat, bukankah seral juga mengandung gula ataupun ekstrak glukosa/maltose
? Kriteria sereal seperti apa yang dapat disarankan bagi penderita diabetes
melitus tipe 2 ?

Jawaban:

Saya Ika Septiana Arum P. D (131511133065) akan mencoba menjawab pertanyaan


dari saudara Bunga

Sereal merupakan karbohidrat kompleks dengan tinggi serat, dimana karbohidrat


kompleks dapat memperbaiki toleransi glukosa dan sensitivitas insulin. Selain itu,
sereal memiliki Indeks Glikemik yang rendah dan mengandung vitamin dan mineral
serta substansi lain yang penting bagi kesehatan. Indeks Glikemik yang rendah akan
memperbaiki kadar glukosa darah jangka pendek maupun jangka panjang yang
direfleksikan melalui penurunan secara signifikan kadar fruktosamine dan
hemoglobin A1C. Sereal juga mengandung glukosa dengan kadar rendah, serta
fruktosa dan glukosa yang memiliki efek kecil terhadap kenaikan kadar gula darah.
Serat yang terkandung sereal adalah serat larut air yang memiliki pengaruh
hipoglikemik karena memperlambat pengosongan lambung, memperpendek waktu
transit dalam saluran cernadan mengurangi absorbsi glukosa. Dengan mengonsumsi
serat dalam jumlah yang cukup dapat memberikan manfaat metabolik berupa
pengendalian gula darah, hiperinsulinemia dan kadar lipidplasma (faktor risiko
kardiovaskuler). Menurut American Diabetes Association (ADA), jumlah serat yang
dianjurkan untuk dikonsumsi bagi penderita DM yaitu 50 gram setiap harinya
terutama serat larut (soluble fiber) dari sereal (whole grain), kacang-kacangan, biji-
bijian, strawberry, blueberry, oat, apel, dan pear. Kriteria sereal yang baik bagi
penderita diabetes mellitus yaitu sereal yang memliki kandungan gizi seperti yang
dijelaskan pada uraian diatas, seperti whole grain, oat, dll.

Referensi:

Amanina, Azka. 2015. Hubungan Asupan Karbohidrat Dan Serat Dengan Kejadian
Diabetes Melitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwosari Surakarta. FIK
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Astuti, Mei Catur & Asih Setiarini. 2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
Pengendalian Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus Type 2 Rawat Jalan di
Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr.Soerojo Magelang Tahun 2013. FKM UI.

Azrimaidaliza. 2011. Asupan Zat Gizi Dan Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, September 2011-Maret 2011, Vol. 6, No.1

7. Perkenalkan saya Fifa Nasrul Ummah (131511133056) dari kelompok 1


Dalam kesimpulan Jurnal yang kedua ini mengatakan bahwa “Lemak yang
menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan
6”. Yang ingin saya tanyakan apakah jika mengkonsumsi lemak jenis ini secara terus
menerus tidak menyebabkan obesitas? Dan Apakah harus lemak yang mengandung
omega 3 dan 6? Apakah tidak ada alternative lain untuk memenuhi kebutuhan lemak
pada pasien DM tipe II namun lemak yang dikonsumsi tersebut tetap menguntungkan.
Karena mungkin bagi keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu sulit sekali
mendapatkan lemak jenis ini.

Jawaban:

Saya Windi Khoiriyah (131511133072) akan mencoba menjawab pertanyaan dari


saudari Fifa Nasrul.
Dapat diketahui bahwa lemak yang sehat akan meningkatkan jumlah kolesterol baik (
HDL ) dan akan mengurangi kolesterol jahat ( LDL ) sehingga pasien diabetes dapat
terhindar dari resiko komplikasi. Lemak yang menyehatkan untuk diabetesi adalah
lemak tak jenuh rantai tunggal, banyak mengandung omega 3, 6, 9 dan mengandung
banyak vitamin. Omega 3 bermanfaat untuk diabetes, Sebuah studi penelitian
menunjukkan Omega 3 dapat menurunkan trigliserida dan apoproteins, dan tidak ada
efek samping pada kontrol glikemik. Sedangkan Omega 6 membantu meningkatkan
kadar kolesterol baik (HDL), menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan
menurunkan tekanan darah. Bersama dengan omega 3, keduanya berperan penting
untuk perkembangan sel-sel dan saraf otak, kesehatan jiwa, serta pertumbuhan tubuh
yang normal. Namun jika mengkonsumsi lemak hewani yang mengandung omega 3
dan 6 secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping seperti perdarahan,
gangguan pencernaan, hipotensi, meningkatnya gula darah, alergi, dan stroke. Oleh
sebab itu disarankan untuk mengkonsumsi lemak yang mengandung omega 3 dan 6
supaya tidak berlebihan. Lemak yang mengandung omega 3 dan 6 tidak harus pada
hewani saja namun juga bisa mengkonsumsi seperti lemak yang terdapat pada minyak
zaitun, buah avocad, kacang-kacangan. Semuanya itu mudah untuk didapatkan dan
dikonsumsi. Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam journal of The American
Medical Association (2002) memberitakan bahwa wanita yang mengkonsumsi 5 porsi
kacang-kacangan setiap minggu kemungkinan terserang diabetes mellitus 27% lebih
rendah daripada mereka yang jarang memakannya.

Sumber:

Nurjannah, nunung dan Elisa.2006.Taklukkan Diabetes dengan Terapi Jus, Plus Menu
Sehat & Ramuan Tanaman Obat.Jakarta:Puspa Swara

http://www.fakta-kesehatan.com/2011/04/16-manfaat-dan-fungsi-omega-3-untuk.html
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017

https://diabetics1.com/2016/01/sumber-lemak-sehat-untuk-diabetes-melitus.html
diakses pada tanggal 27 Agustus 2017

8. Perkenalkan saya Niswatus Sa’ngadah NIM 131511133060 dari kelompok 1.


Saya ingin bertanya, pada jurnal ke- 2 disebutkan bahwa “ Beberapa pola diet seperti
diet mediterania dan DASH juga dapat menjadi alternatif dalam menjalakan diet
sehat. Diet mediterania yaitu diet dengan menu sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan
minyak zaitun.” Yang ingin saya tanyakan apakah semua jenis sayuran, buah-buahan
dan biji-bijian dapat digunakan untuk diet mediterania ini ? jika tidak, jenis sayuran,
buah-buahan dan biji-bijian apa yang dapat dikonsumsi ? Kemudian berapa porsi yang
harus dikonsumsi klien ?

Jawaban:

Terimakasih atas pertanyaan yang telah diajukan, saya Yenny Paramitha NIM
131511133071 akan menjawab pertanyaan yang diajukan saudari.

Pada dasarnya karakteristik diet mediterania adalah tinggi minyak zaitun, buah-
buahan, kacang-kacangan, sayur-sayuran, ikan, daging putih, makanan manis
(permen, gula-gula, kue kering), dan konsumsi wine dengan intensitas sedang dan
disertai makanan. Dapat dikatakan hampir semua makanan termasuk dalam menu diet
mediterania, hanya saja porsinya yang harus sesuai. Berikut saya paparkan jenis menu
dari diet mediterania, antara lain:

a. Sayuran: brokoli, tomat, bayam, kembang kol, wortel, timun, kangkung, dll.
b. Buah: apel, pisang, jeruk, melon, stroberi, pir, anggur, kurma, semangka, dll.
c. Kacang dan biji-bijian: kacang tanah, almond, kacang hijau, kacang mede, kwaci,
biji labu, dll.
d. Umbi-umbian: kentang, ubi, kentang manis, turnip, dll.
e. Biji-bijian utuh: gandum utuh, nasi merah, oat utuh, jagung, roti, pasta dan nasi.
f. Ikan dan seafood: Ikan salmon, mackerel, tuna, sarden, kepiting, udang, dll.
g. Daging putih: daging ayam, bebek, burung dara, dll.
h. Telur: telur ayam, ayam telur puyuh dan telur bebek.
i. Susu dan olahan susu: keju dan yogurt.
j. Rempah-rempah: Bawang merah dan putih, daun mint, kayu manis, cabai, lada,
dll.
k. Sumber minyak dan lemak: minyak zaitun, minyak alpukat.

Berikut adalah pedoman umum diet mediterania:


Makanan Ketentuan
Rekomendasi
Minyak zaitun ≥ 4 sdm/hari
Biji-bijian ≥ 3 sajian/minggu
Buah-buahan ≥ 3 sajian/minggu
Sayur-sayuran ≥ 2 sajian/minggu
Ikan, makanan laut ≥ 3 sajian minggu
Kacang-kacangan ≥ 3 sajian/minggu
Daging putih Lebih baik dibandingkan daging merah
Wine disertai makanan ≥ 7 gelas/minggu
Pembatasan
Minuman bersoda  1 sajian/hari
Roti, kemasan, permen/gula-gula, kue  3 sajian/minggu
kering
Makanan berlemak  1 sajian/hari
Daging merah dan daging olahan  1 sajian/hari

Sumber: https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania

Labibah, Zulfa dan Dian Isti Angraini. 2016. Diet Mediterania dan Manfaatnya
terhadap Kesehatan Jantung dan Kardiovaskular. Lampung: Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung.

9. Saya Alfi Rahmawati Mufidah (131511133041) dari kelompok 1 ingin bertanya. Pada
review jurnal ke-2 “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies”
1. Dalam review jurnal disebutkan untuk diet mediterania yaitu diet dengan menu
sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan minyak zaitun. Apakah ada takaran per hari dari
masing-masing komponen untuk dikonsumsi pasien? Dan berapa lama diet tersebut
dappat dilakukan oleh pasien?
2. Pada peran perawat disebutkan salah satunya adalah memberikan edukasi untuk
meningkatkan motivasi penderita agar dapat melakukan pola hidup sehat. Motivasi
yang seperti apa yang dapat diberikan? Terutama bagi pasien yang sulit untuk berubah
ke pola hidup sehat.

Jawaban:
Saya Alip Nur Apriliyani (131511133063) akan mencoba menjawab pertanyaan Anda
 Diet mediterania hanya diberikan sekali dalam sehari yaitu waktu jam makan siang.
Pola konsumsi Mediterania dapat menggunakan berbagai sumber makanan alami,
pembatasan konsumsi hanya berdasarkan frekuensi dalam beberapa waktu dan
pemilihan sumber nutrisi yang lebih sehat. Rencana pola makan Mediterania dapat
diuraikan secara sederhana, sebagai berikut:
a. Konsumsi harian: Dapat disajikan setiap hari dengan frekuensi yang bervariasi
untuk dikonsumsi. Jenis makanan dapat disajikan setiap hari, seperti berbagai sayur
dan buah, minyak zaitun, biji-bijian, kacang, serta rempah-rempah yang digunakan
sebagai bumbu masakan. Konsumsi harian juga mencakup berbagai sumber
karbohidrat seperti gandum utuh, umbi-umbian sereal, biji-bijian, nasi, dan pasta.
b. Konsumsi harian dengan jumlah sedang: Merupakan jenis makanan yang dapat
dikonsumsi harian maupun mingguan dalam jumlah dan frekuensi yang tidak
terlalu banyak, misalnya satu kali dalam sehari atau beberapa hari sekali. Jenis
makanan yang mencakup dalam kelompok frekuensi ini antara lain berbagai
produk daging putih, telur, susu, dan produk olahan susu seperti keju dan yogurt.
c. Konsumsi mingguan: Merupakan kelompok makanan yang hanya disajikan dan
dikonsumsi sekitar dua hingga tiga kali dalam satu minggu, di antaranya berbagai
jenis ikan (darat maupun laut) dan berbagai seafood.
d. Konsumsi bulanan: Kelompok konsumsi yang dibatasi atau dapat dikonsumsi satu
hingga tiga kali dalam waktu satu bulan. Daging merah adalah salah satunya.
Selain itu berbagai makanan manis yang mengandung gula maupun pemanis juga
dikurangi hingga frekuensi hanya dalam satu atau dua kali dalam sebulan atau,
lebih baik lagi, dihindari.
 Sikap perilaku dalam kesehatan individu juga dipengaruhi oleh motivasi dari individu
untuk berperilaku yang sehat dan menjaga kesehatan. Tanpa motivasi dalam
pengaturan diet pasien DM akan mengalami ketidakpatuhan dalam mengatur pola
makan sehari-hari. Kepatuhan pasien dalam melaksanakan diet DM merupakan salah
satu hal terpenting dalam pengendalian DM. Pasien DM harus bisa mengatur pola
makannya sesuai dengan prinsip diet DM yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan,
karena dengan mengatur pola makan pasien bisa mempertahankan gula darah mereka
agar tetap terkontrol (Wade & Travis, 2008). Pasien perlu memiliki motivasi yang
tinggi untuk meningkatkan kepatuhan diet pada diabetes mellitus tipe II. Motivasi dari
keluarga mempunyai pengaruh terhadap sikap dan penerimaan pendidikan kesehatan
pasien DM. Pasien DM akan bersikap positif untuk mempelajari pengelolaan DM
apabila keluarga memberikan motivasi dan ikut berpartisipasi dalam pendidikan
kesehatan mengenai DM (Soegondo, 2006). Motivasi menjalankan diet yang
diberikan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi responden serta juga dipengaruhi oleh
motivasi diri dari seseorang untuk berperilaku yang sehat dan menjaga kesehatan.
Tanpa motivasi dalam pengaturan diet akan mengalami ketidakpatuhan dalam
mengatur pola makan sehari-hari. Maka dari itu motivasi dari keluarga sangatlah
dibutuhkan baik itu materi atau informasi dan juga penghargaan agar pasien tersebut
patuh dalam menjalankan terapi diabetes mellitus terutama kepatuhan menjalankan
diet.

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania diakses pada


tanggal 27 Agustus 2017

Muflihatin, Siti Khoiroh. 2015. HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN


DIET DIABETES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI
PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA.

10. Saya Umi Nafiatul Hasanah (NIM 131511133053) dari kelompok 1, ingin bertanya
mengenai hasil review jurnal kedua yang berjudul "Prevention and Management of
Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies". Pada hasil review
jurnal tersebut disebutkan bahwa diet DASH adalah diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg per hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik.
Yang ingin saya tanyakan, apakah jumlah takaran sodium yang dibatasi pada semua
kategori berat badan (misal: normal, gemuk, obesitas) sama? Apabila berbeda mohon
dijelaskan.
Pada hasil review jurnal tersebut juga disebutkan bahwa terdapat dua macam diet
yaitu diet mediterania dan diet DASH. Diantara keduanya tersebut manakah yang
lebih efektif dilakukan ? Ataukah dapat dilakukan dengan kombinasi keduanya ?

Jawaban:
Saya Ni Komang Ayu Santika (131511133066) akan mencoba menjawab pertanyaan
anda.
DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) sebenarnya diterapkan khusus untuk
penderita hipertensi. Namun, DASH juga disarankan bagi penderita diabetes karena
dapat meningkatkan kesensitifan insulin hingga 50 % sehingga kadar gula dalam
darah dapat terkontrol. Diet DASH ini meliputi makanan rendah sodium (garam),
buah, sayuran, dan makanan susu rendah lemak. Untuk sodium disarankan hanya
dikonsumsi 2400 mg/ hari, nah pembatasan ini berlaku sama untuk semua berat badan
disesuaikan dengan usia pasien. Yang membedakan adalah kalori yang harus
dikonsumsi, orang dengan berat badan berlebih tentunya harus mengkonsumsi lebih
sedikit kalori dibanding dengan orang yang berat badannya rendah.
Sebenarnya, kedua jenis diet tersebut (DASH dan Mediterania) sama-sama efektif
untuk mengontrol kadar gula darah pada pasien DM karena dapat meningkatkan
sensitivitas insulin. Pada intinya kedua jenis diet tersebut berfokus pada pengaturan
makanan dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Kedua diet
tersebut juga dapat dikombinasikan, karena prinsip kedua diet sebenarnya sama.
Namun, pemilihan diet juga harus mempertimbangkan kondisi dan kemauan pasien.
Pasien harus nyaman dengan dietnya agar dapat menjalankan dietnya dengan
konsisten.
Sumber:
Ley, Sylvia H. et al. 2014. Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary
Components and Nutritional Strategies. USA
Moore, Thomas J. et al. 2001. DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) Diet
Is Effective Treatment for Stage 1 Isolated Systolic Hypertension. America:
Hypertension. 2001;38:155-158.

11. Saya Oktiana Duwi Firani NIM 131511133061 dari kelompok 1 ingin bertanya..
Pada Jurnal 2 tentang " Prevention and Management of type 2 Diabetes : Dietary
Components and Nutritional Strategies". Pada Jurnal tersebut untuk diet karbohidrat
dijelaskan bahwa serat dari sereal lebih banyak memberikan pengaruh daripda serat
buah. Yang ingin saya tanyakan : Mengapa serat dari sereal lebih banyak memberikan
pengaruh daripada serat buah? Faktor apa saja yang mempengaruhinya dan pengaruh
apa saja nantinya yang dapat ditimbulkan pada penderita penderita DM Tipe II?

Jawaban:
Terimakasih atas pertanyaan yang telah diajukan oleh saudari okti, saya Dewita
Pramesti NIM 131511133125 akan menjawab pertanyaan

Menurut ADA gandum utuh seperti oatmeal yang mengandung karbohidrat kompleks
dan serat larut tinggi dibandingkan serat buah. Oatmeal juga kaya akan magnesium
yang membantu tubuh memanfaatkan glukosa dan mensekresi insulin dengan baik.
Serat ini lebih lambat dicerna oleh tubuh sehingga kadar glukosa darah pasien lebih
terkontrol. Pada pasien yang rutin mengonsumsi serat dari oatmeal dapat berpengaruh
menurunkan risiko terkena serangan jantung yang merupakan salah satu komplikasi
diabetes.
Sumber :
https://www.webkesehatan.com/18-makanan-terbaik-untuk-penderita-diabetes/

12. Saya Kifayatus Sa’adah (131511133047) dari kelompok 1


Sesuai kesimpulan dalam Jurnal kedua yang berjudul “Prevention and Management of
Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies”, dijelaskan bahwa
salah satu pola diet sehat adalah diet mediterania. Saya ingin menanyakan, apakah
lemak nabati yang dikonsumsi dalam diet mediterania juga menguntungkan bagi
penderita DM tipe II ?
- Jika iya, asam lemak esensial jenis apa yang harus ada dalam kandungan lemak
nabati supaya menguntungkan ?
- Jika tidak, apakah orang yang melakukan diet mediterania boleh tetap
mengkonsumsi lemak hewani yang mengandung omega 3 dan 6 ?
Selanjutnya, Berapakah porsi dalam mengkonsumsi lemak nabati pada klien
dengan diet mediterania ?
Jawaban:
Saya Rahmadanti Nur F (131511133074) akan mencoba menjawabnya.
 Ya. Lemak nabati mengandung 2 jenis lemak, yakni lemak jenuh dan lemak tidak
jenuh. Terdapat dua jenis lemak tidak jenuh, yaitu lemak jenuh tunggal dan lemak
jenuh ganda. Kedua lemak tidak jenuh tersebut bermanfaat untuk menjaga kesehatan
jantung dan mencegah terjadinya penumpukan lemak pada pembuluh darah karena
meningkatkan kadar lemak baik dalam tubuh. Konsumsi lemak yang dianjurkan
adalah lemak tidak jenuh yang berupa MUFA dan Poly Unsaturated Fatty Acid
(PUFA). MUFA berfungsi dalam menurunkan LDLC, sedangkan PUFA berfungsi
dalam menurunkan LDLC dan High Density Lipoprotein Colesterol (HDLC).
Konsumsi lemak tersebut menurut penelitian dapat menurunkan dosis pengobatan
terhadap obat anti diabetes pada pasien DMT2
 Jika iya, asam lemak esensial jenis apa yang harus ada dalam kandungan lemak nabati
supaya menguntungkan?
Omega 6. Lemak nabati dalam bentuk makanan dan minyak menjadi sumber lemak
tak jenuh tunggal dan jamak. Lemak tak jenuh ini mengandung asam lemak omega-6
yang dapat ditemui di dalam kacang kedelai, tahu, minyak tumbuhan, biji bunga
matahari, biji wijen, dan biji labu.
Lemak nabati juga kaya akan fitosterol. Kandungan ini banyak ditemukan dalam
minyak tumbuhan seperti minyak jagung. Sebuah studi menjelaskan bahwa fitosterol,
meski dalam jumlah kecil, memiliki dampak menguntungkan dalam menghambat
penyerapan kolesterol LDL (kolesterol jahat). Tujuan diet yang utama dalam
kaitannya dengan lemak makanan pada penyandang DM adalah membatasi asupan
lemak jenuh dan kolesterol dari makanan. Lemak jenuh merupakan determinan diet
yang penting untuk menentukan kadar LDL-kolesterol di dalam plasma. Adanya
rekomendasi kuat, yaitu tingginya risiko menderita penyakit kardiovaskuler pada
pasiendiabetes dan kenyataan bahwaasupanlemak lemakjenuh memberikanefek
terhadap metabolisme lemak (meningkatkan kolesterol LDL), resistensi insulin dan
tekanan darah.
 Jika tidak, apakah orang yang melakukan diet mediterania boleh tetap mengkonsumsi
lemak hewani yang mengandung omega 3 dan 6?
Konsumsi asam lemak omega-3 yang ber-asal dari ikan atau dari suplemen, terbukti
dapat menurunkan risiko kejadian kardio-vaskuler, sehingga dianjurkan penyandang
diabetes untuk mengkonsumsi ikan segar sebanyak dua atau tiga kali per minggu.
Sebuah studi penelitian menunjukkan Omega 3 dapat menurunkan trigliserida dan
apoproteins, sedangkan Omega 6 membantu meningkatkan kadar kolesterol baik
(HDL), menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan menurunkan tekanan darah.
Berapakah porsi dalam mengkonsumsi lemak nabati pada klien dengan diet
mediterania?

Makanan Ketentuan
Rekomendasi
Minyak zaitun ≥ 4 sdm/hari
Biji-bijian ≥ 3 sajian/minggu
Buah-buahan ≥ 3 sajian/minggu
Sayur-sayuran ≥ 2 sajian/minggu
Ikan, makanan laut ≥ 3 sajian minggu
Kacang-kacangan ≥ 3 sajian/minggu
Daging putih Lebih baik dibandingkan daging merah

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/140453-panduan-diet-mediterania

Labibah, Zulfa dan Dian Isti Angraini. 2016. Diet Mediterania dan Manfaatnya
terhadap Kesehatan Jantung dan Kardiovaskular. Lampung: Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung.

https://hellosehat.com/lemak-nabati-hewani-mana-lebih-baik/

http://www.alodokter.com/jangan-tinggalkan-lemak-nabati-di-dalam-menu-dietmu

Rita Kurniasari. Hubungan Asupan Karbohidrat, Lemak, dan Serat dengan Kadar
Glukosa dan Trigliserida Darah pada Pasien DM Tipe II Rawat Inap di RSUP H.
Adam Malik Medan (Wahana Inovasi Volume 3 No.1 Jan-Juni 2014)

13. Saya Fitria Kusnawati, NIM: 131511133038 ingin bertanya mengenai review yang telah
dipaparkan kelompok 2 pada jurnal ke-2 berikut adalah peran perawat
Individu:
 Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi klien dengan risiko DM tipe
II maupun klien yang telah didiagnosa DM tipe II.
 Memberikan edukasi secara komprehensif mengenai diet yang dianjurkan untuk
pasien DM dan berupaya untuk meningkatkan motivasi penderita agar dapat
melakukan pola hidup sehat.
Perawat tidak akan selamanya memberikan edukasi dan berkolaborasi dengan pasien
DM tipe II tertentu, bahwa motivasi yang tumbuh dari diri klien sendirilah yg paling
utama untuk mengontrol dirinya sendiri, nah yang saya ingin tanyakan bentuk
motivasi seperti apa yang mungkin ampuh untuk klien yg keras kepala dan mudah
terpengaruh dengan kebiasaan lama?
Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan dari Saudari Fitria. Saya Nopen Trijatmiko
(131511133123) dari kelompok 2 akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
 Kita sebagai petugas kesehatan diharuskan lebih intensif dalam melakukan sosialisasi
dan penyuluhan kesehatan tentang pengelolaan penyakit diabetes dengan
mengikutsertakan keluarga. Karena keluarga adalah motivator yang paling ampuh
dalam mendukung kesehatan penderita DM. Penelitian yang dilakukan oleh Diana Tri
Lestari, 2003 tentang Fenomena motivasi penderita DM melakukan latihan fisik di
Poliklinik RSU Unit Swadana Kabupaten Kudus didapatkan kesimpulan bahwa
motivasi terkuat yang mendasari penderita diabetes melakukan olahraga adalah
harapan untuk menormalkan gula darah yang didapat dari informasi dan motivasi
serta dukungan keluarga.
Sumber : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=119610&val=5478&

14. Saya Auzan Muttaqin NIM 131511123030 mohon ijin menanggapi kesimpulan dari
diskusi tentang jurnal yang berjudul Prevention and Management of Type 2 Diabetes:
Dietary Components and Nutritional Strategies Disebutkan bahwa pola diet dan
olahraga sangat penting dalam pencegahan dan pengelolahan Diabetes Mellitus Tipe
2, yang ingin saya tanyakan bila kadar glukosa pada darah klien tidak turun melalui
cara tersebut, apakah dapat ditunjang dengan penatalaksanaan obat dan obat-obat apa
saja yang dapat diberikan serta bagaimana peran perawat dalam hal ini?
Jawaban:
Saya Regina Dwi Fridayanti (131511133130) dari kelompok 2 akan mencoba
menjawab pertanyaan tersebut.
 Selain penatalaksanaan non farmakologi, juga ada penatalaksanaan farmakologi pada
pasien diabetes mellitus tipe 2. Berikut penatalaksanaan farmakologi.

Golongan Contoh Cara Kerja


Sulfonilurea Gliburida/Glibenklamida Merangsang sekresi insulin di

Glipizida kelenjar pankreas, sehingga


hanya efektif pada penderita
Glikazida diabetes yang sel-sel β
pankreasnya masih berfungsi
Glimepirida
dengan baik

Glikuidon
Meglitinida Repaglinide Merangsang sekresi insulin di

kelenjar pancreas

Turunan Nateglinide Meningkatkan kecepatan


sintesis insulin oleh pankreas
fenilalanin
Biguanida Metformin Bekerja langsung pada hati
(hepar), menurunkan
produksi glukosa hati. Tidak
merangsang sekresi insulin

oleh kelenjar pankreas.


Tiazolidindion Rosiglitazone Meningkatkan kepekaan
tubuh
Troglitazone
terhadap insulin. Berikatan
Pioglitazone
dengan PPARγ (peroxisome
proliferator activated
receptor-gamma) di otot,
jaringan lemak, dan hati
untuk menurunkan resistensi
insulin
Inhibitor α- Acarbose Menghambat kerja enzim-
enzim pencenaan yang
glukosidase Miglitol
mencerna karbohidrat,
sehingga memperlambat
absorpsi glukosa ke dalam
darah
 Peran perawat dalam pemberian farmakologi pada pasien diabetes mellitus tipe 2,
yaitu sebagai educator. Perawat mengedukasi kepada pasien bagaimana efek dan
kapan pemberian obat dilakukan , agar dapat meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan pasien. Perawat juga membantu pasien dalam membangun pengetahuan
yang benar dan jelas tentang pengobatan yang di jalani oleh pasien. Selain dari
pasiennya, perawat juga mengedukasi keluarga pasien tentang nama obat, kegunaan
obat, berapa dosis yang harus diminum, jumlah total kali minum obat, bagaimana rute
pemberian obat, mengenalkan efek samping dari obat yang di konsumsi oleh pasien
tersebut.

Sumber :

http://www.fkep.unpad.ac.id/2008/11/peran-perawat-dalam-pemberian-obat/ diakses
pada 28 Agustus 2017

Suzanna Ndraha. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 dan Tatalaksana Terkini. Jakarta:
Leading Article. Vol. 27, No.2, Agustus 2014

15. Assalamualaikum wr.wb. Saya Dyah Rohmatussolichah NIM 131511133043 ingin


bertanya. 382 juta orang dewasa (8 · 3%) di seluruh dunia menderita diabetes, dan
perkiraan tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari 592 juta pada
tahun 2035. Menurut anda, bagaimana cara yang paling efektif agar hal tersebut tidak
sampai terjadi? Mengingat jaman sekarang ini restoran cepat saji dan makanan instan
tersebar dimana-mana dan seakan menjadi hal yang lumrah untuk dikonsumsi setiap
hari. Lalu disekitar kita masih banyak sekali warga yang tidak mau melakukan cek
gula darah secara rutin, karena merasa dirinya sehat dan baik-baik saja, setelah
komplikasi DM semakin parah (misalnya terjadi glaukoma,sering kesemutan), baru
mereka mau berobat. Menurut anda, bagaimana peran kita sebagai perawat untuk
mengatasi hal tersebut?

Jawaban:
Saya Asti Pratiwi NIM 131511133069 akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari Dyah Rohmatussholicah
 Pertama untuk mencegah supaya tidak terjadi penambahan penderita Diabetes yaitu
dengan memberikan sosialiasi kepada masyarakat untuk merubah gaya hidupnya
seperti:
1. . Berhenti merokok bagi orang-orang yang suka merokok.
2. . Berhenti meminum alkohol.
3. . Menghindari kebiasaan tidak melakukan aktivitas apapun.
4. . Menurunkan berat badan supaya tidak terjadi obesitas.
5. . Mengganti sumber-sumber karbohidrat dengan biji-bijian.
6. . Menghindari terlalu sering mengkonsumsi minuman yang manis.
7. . Membatasi konsumsi daging merah yang terlalu banyak
8. . Melakukan berbagai macam aktivitas fisik atau olahraga yang teratur seperti
berrenang, bersepeda, jogging dan jalan cepat.
9. Mengkonsumsi makanan berserat seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-
buhan, dan biji-bijian.
10. . Mengatur porsi makan
11. .Membatasi makanan yang digoreng dan makanan yang cepat saji.
12. Membatasi makanan olahan
13. Kurangi makanan yang mengandung banyak protein, lemak, gula dan garam.
14. Rajin memeriksa kadar gula urin setiap tahun.
 Selain dengan cara diatas kita juga bisa mendirikan Posbindu PTM (Pos Pembinaan
Terpadu Penyakit tidak menular) yang merupakan program pengendalian factor resiko
penyakit tidak menular seperti Diabetes Mellitus dan tujuannya yaitu untuk
meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap factor resiko terjadinya Diabetes
Mellitus baik terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakat lingkungan sekitarnya.
Dalam Posbindu PTM tersebut kita bisa memberikan program seperti CERDIK dan
PATUH.
a. Adapun program CERDIK adalah:

C: Cek kondisi kesehatan secara berkala


E: Enyahkan asap rokok
R: Rajin aktivitas fisik
D: Diet sehat dengan kalori seimbang.
I: Istirahat yang cukup
K: Kendalikan stress

b. Program PATUH adalah:


P: Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
A: Atasi penyskit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
T: Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
U: Upayakan beraktivitas fisik dengan aman
H: Hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya.
Untuk pertanyaan kedua bagaimana peran kita sebagai perawat dalam mengatasi
orang yang tidak mau periksa gula darah karena merasa dirinya baik-baik saja dan jika
sudah terjadi komplikasi baru mau diperiksa?

Peran kita sebagai perawat yaitu tentunya memberikan edukasi pada orang-orang atau
masyarakat tentang bahayanya penyakit Diabetes Mellitus dan berbagai
komplikasinya, dan kita juga memberikan masukan atau dorongan pada orang orang
tersebut supaya mau diperiksa sehingga tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut jika
orang tersebut sudah menderita DM.

Sumber:
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
diabetes.pdf diakses pada 28 Agustus 2017

http://halosehat.com/penyakit/diabetes/cara-mencegah-diabetes diakses pada 28


Agustus 2017

Rudjianto, Achmad. 2009. Diabetes Siapa Takut. Jakarta: PT Mizan Pustaka

16. Saya Nensi Nur A NIM 131511133055, ingin menanggapi mengenai review jurnal
kelompok 2 dengan judul “Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Gula Darah
Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah
Karanganyar”.
Dijelaskan bahwa, pada keadaan obesitas dapat pula terjadi lipotoksisitas yang
disebabkan sejumlah asam lemak bebas yang dilepaskan triasilgliserol dalam upaya
kompensasi penghancuran simpanan lemak yang berlebihan. Lipotoksisitas akibat
kelebihan asam lemak bebas ini juga dapat menurunkan sekresi insulin dari sel β
pancreas.
Yang ingin saya tanyakan :
1. Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi lipotoksisitas tersebut?
2. Jika sudah terlanjur terjadi lipotoksisitas pada klien dengan keadaan obesitas
tersebut, bagaimana penatalaksaan lanjut yang seharusnya dilakukan?
Jawaban:
Saya Lilik Choiriyah 131511133064 akan mencoba menjawab pertanyaan saudara
Nensi
 Cara mencegah dengan mengatasi faktor-faktor dasar yang didapat seperti berat badan
lebih atau kegemukan, ketidakaktifan fisik, dan diet aterogenik.
Penatalaksanaan apabila telah terjadi, yaitu dengan mengatasi masalah
1. Obesitas abdominal. Pada tahun pertama dilakukan penurunan berat badan 10%,
selanjutnya terus menurunkan atau mempertahankan berat badan. Pembatasan
kalori, kerja fisik teratur, perubahan perilaku.
2. Ketidakaktifan fisik. Melakukan Keaktifan fisik intensitas sedang dan teratur, 30-
60 menit setiap hari.
3. Diet aterogenik. Kurangai asupan lemak jenuh, trans fats dan kolesterol. Lemak
jenuh < 7% dari kalori total, kurangi trans fat; kolesterol < 200 mg sehari; lemak
total 25-35% dari kalori total.
4. Penghrntian sama sekali merokok
5. LDL-C
a. Risiko tinggi*- kolesterol LDL < 100 mg/dL Pilihan terapi : kolesterol LDL
< 70 mg/dL Terapi gaya hidup sehat dan Obat penurunan kolesterol LDL
untuk mencapai sasaran.
b. Risiko tinggi sedang † kolesterol LDL < 130 mg/dL Pilihan terapi kolesterol
LDL < 100 mg/dL Terapi gaya hidup§ dan Obat penurun kolesterol LDL
untuk mencapai sasaran bila kolesterol dasar ≥ 130 mg/dL.
c. Risiko sedang † – kolesterol LDL < 130 mg/dL Terapi gaya hidup,
tambahkan obat penurunkolesterol LDL bila perlu untuk mencapai sasaran
jika semula ≥ 160 mg/dL.
Daftar Pustaka:
Eckel RH, Grundy SM, Zimmet PZ. The metabolic sundrome. Lancet 2005; 365:
1415-28.

Milionis H, Kostapanos MS, Liberopoulos EN, Goudevenos J, Athyros VG,


Mikhailidis DP, Elisaf MS. Different Definitions of the Metabolic Syndrome and
Risk of First-Ever Acute Ischaemic Non-Embolic Stroke In Elderly Subjects. Int J
Clin Pract. 2007; 61(4):545-551

Cameron AJ, Shaw JE, Zimmet PZ. The metabolic syndrome: prevalence in
worldwide populations. Endocrinol Metab Clin North AM 2004; 33: 351-75.

17. Saya Damai Widyandari NIM 131511133054 dari kelompok 1 ingin bertanya pada
kelompok 2 dari hasil review yang sudah dipaparkan pada jurnal ke 2 bahwa
“Peningkatan terjadinya DM tipe 2 terjadi akibat pola konsumsi individu itu sendiri.
Makanan seperti nasi putih, daging merah, dan sea food berpengaruh besar dalam
peningkatan penyakit tersebut”
Kemudian yang ingin saya tanyakan adalah mengapa sea food berpengaruh besar
daam peningkatan penyakit tersebut, sedangkan menurut salah satu sumber yang
pernah saya baca bahwa para pakar penyakit diabetes menganjurkan untuk memilih
ikan demi kesehatan. Salah seorang pakar mengatakan bahwa ikan merupakan pilihan
protein yang baik, sumber lemak sehat, serta mengandung vitamin dan mineral yang
penting untuk tubuh dalam memperbaiki membran sel yang rusak.
Jawaban:
Saya Nadia Nur Mar'atush Sholihah (131511133137) akan menanggapi pertanyaan
saudari damai

 Makanan seperti nasi putih, daging, dan seafood perlu dibatas, bukan sama sekali
tidak boleh di konsumsi. seperti yang selama ini kita tahu penderita diabetes harus
paham 3 J ( Jadwal makan, Jumlah yang dimakan, dan Jenis makanan yang di
konsumsi)
seperti teori Snehalatha,2009 mengatakan makanan yang mengandung lemak jenuh
tinggi yang perlu dibatasi adalah terutama dari daging, makanan laut (seafood),
produk susu. Teknik pengelolaannya juga penting dalam hal tersebut.
Sumber:
http://eprints.ums.ac.id/37813/23/10.%20KARYA%20TULIS%20ILMIAH%20FULT
EKS.pdf

18. Saya Siska Kusuma Ningsih (NIM. 1311511133037) dari kelompok 1 ingin bertanya
kepada kelompok 2. Pada kesimpulan review jurnal yang berjudul “Prevention and
Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies”
disebutkan bahwa Lemak yang menguntungkan bagi DM tipe II yaitu lemak hewani
yang mengandung Omega 3 dan 6. Apabila sesorang memiliki alergi terhadap salah
satu lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan 6, apakah ada makanan pengganti
yang menguntungkan bagi DM tipe II? Dan bagaimana peran perawat dalam
mengedukasinya?
Jawaban:
Perkenalkan saya Nia Istianah 131511133127. saya akan mencoba menjawab
pertanyaan dari Saudari Siska.
 Jika pasien mengalami alergi dengan lemak hewani yang mengandung Omega 3 dan
6. Maka, dapat digantikan dengan lemak nabati yang kaya akan Omega 3 dan 6.
Seperti : kacang kenari, biji rami, biji chia, kedelai, kembang kol, minyak canola, dan
bayam.
Dalam mengedukasi pasien yang mengalami alergi dengan lemak hewani, kita
sebagai perawat harus memberi edukasi mengenai makanan apa saja yang baik untuk
penderita diabetes. Serta makanan yang harus dihindari dan untuk makanan yang
dapat membuat pasien mengalami alergi sebaiknya dihindari dan diganti dengan
makanan yang memiliki kandungan sama.

Sumber:
http://kesehatan.gen22.net/2013/03/11-makanan-sumber-omega-3-terbaik.html

19. Hesti Lutfia Arif (131511133050) dari kelompok 1 ingin bertanya pada kelompok 2
terkait dengan kesimpulan diskusi yang sebelumnya telah dipaparkan olrh kelompok
2.
Pada review jurnal ke-2 menjelaskan tentang diet DASH yaitu diet dengan melakukan
pembatasan sodium 2400 mg/hari yang bertujuan dalam mengontrol glikemik.
Apakah dengan pembatasan sodium 200mg/perhari tersebut dapat dilakukan pada
semua umur? Apakah tidak terdapat perbedaan kebutuhan sodium pada anak, remaja,
dan dewasa? Apakah dampak yang akan timbul bila kebutuhan sodium perhari tidak
terpenuhi? Apabila terdapat perbedaan kebutuhan pada anak, remaja dan orang
dewasa mohon dijelaskan pula bagaimana tatalaksana diet DASH agar tetap bisa
dilaksanakan pada pasien dengan DM tipe 2 dan kebutuhan sodium pasien perhari
tetap terpenuhi.
Jawaban:
Saya Prisdamayanti Ayuningsih (131511133067) akan mencoba menjawab
pertanyaan dari saudari Hesti
 DASH adalah kependekan dari Dietary Approach to Stop Hypertension atau diet yang
diterapkan khusus untuk penderita hipertensi. Namun, ternyata DASH diet juga
berefek positif terhadap beberapa penyakit seperti stroke, obesitas, dan juga
diabetesserta memproteksi tubuh dari penyakit osteoporosis, kanker, diabetes, dan
penyakit jantung. Di bawah ini adalah aturan frekuensi dan porsi makanan dalam diet
DASH yang hanya mencakup 2000 kalori per hari.
1. Karbohidrat dari Biji-bijian (6-8 Kali Konsumsi/hari)
Yang termasuk didalamnya adalah roti gandum, beras, sereal, dan pasta. 1
kali konsumsi misalnya 1 lembar roti gandum, 100 gr sereal, atau 70 gr
nasi/pasta. Sebaiknya, disarankan untuk mengonsumsi beras merah ketimbang
beras putih karena mengandung indeks glikemik rendah (proses pencernaanya
lama sehingga tidak membuat cepat lapar). Dan lebih baik mengonsumsi pasta
atau sereal berlabel mengandung 100% gandum utuh. Sebenarnya bijian-bijian
ini mengandung lemak jenuh yang rendah jadi jangan menambahkan apapun
seperti mentega, keju atau krim.
2. Sayuran (4-5 Kali Konsumsi/hari)
Tomat, wortel, brokoli, dan sayuran lainnya mengandung serat, vitamin,
potassium, dan magnesium. Untuk 1 kali konsumsi takarannya adalah 1
mangkuk sup untuk sayuran mentah dan ½ mangkuk untuk sayuran yang telah
diolah.
3. Buah-buahan (4-5 Kali Konsumsi/hari)
Seperti halnya sayur-sayuran, buahan-buahan mengandung banyak mineral
yang diperlukan tubuh. Untuk diet hipertensi dan diabetes, sayuran dan buah-
buahan memang makanan yang tepat. Perlu diketahui beberapa buah bersifat
asam kontradiktif terhadap beberapa obat. Karena itu, penting untuk selalu
konsultasikan pada dokter jenis buah yang akan dikonsumsi jika Anda sedang
dalam pengobatan.
4. Produk Susu (2-3 Kali Konsumsi/hari)
Susu, yoghurt, keju, dan produk susu lainnya adalah sumber vitamin D dan
kalsium. Pilihlah produk olahan susu yang rendah lemak. Untuk olahan susu
yang rendah lemak, 1 kali konsumsi jumlah yang dianjurkan adalah 1 cangkir.
Yoghurt beku yang rendah lemak juga sangat baik apalagi jika ditambah buah-
buahan.
5. Daging Tanpa Lemak, Unggas, Ikan (Kurang dari 6 Kali Konsumsi/hari)
Perlu diingat, sumber protein yang diperbolehkan adalah bebas lemak. Ayam
dan sejenisnya bisa dimasak tanpa kulit sedangkan daging harus dibuang
lemaknya terlebih dahulu. Per 1 kali konsumsi Anda dapat menyantap sumber
protein ini sejumlah 1 ons saja.
6. Kacang-kacangan (4-5 Kali Konsumsi/minggu)
Almond, lentil, kacang merah, dan kacang-kacangan lainnya penuh dengan
protein dan mineral seperti magnesium dan potasium. Jenis makanan ini harus
dibatasi konsumsinya per minggu sebab kacang-kacangan mengandung kalori
tinggi dan lemak, meskipun lemak yang dikandung adalah lemak baik. 1½ ons
kacang-kacangan per sekali konsumsi adalah porsi yang dianjurkan.
7. Lemak dan Minyak (2-3 Kali Konsumsi/hari)
Lemak masih tetap diperlukan tubuh untuk menyerap vitamin esensial untuk
meningkatkan sistem imunitas tubuh. Tetapi kebanyakan mengonsumsi lemak,
terutama lemak jenuh, juga tidak baik karena akan meningkatkan resiko darah
tinggi, obesitas, dan diabetes mellitus. Per 1 kali konsumsi jumlah yang
diperbolehkan adalah 1 sendok teh magarin atau 1 sendok makan mayones
rendah lemak atau 2 sendok makan salad dressing.
8. Gula (Kurang dari 5 Kali Konsumsi/minggu)
Dalam menjalani diet DASH, tak perlu mengeluarkan segala yang manis-
manis dari menu diet Anda. Per satu kali konsumsi 1 sendok makan gula pasir
sudah sangat cukup untuk jelly atau jus Jeruk Nipis .

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sebanyak 26,2 persen penduduk
indonesia mengkonsumsi garam berlebih, dari tahun 2009 yakni 24,5 persen
dan lemak 40,7 persen naik dari tahun 2009 yakni 12,8 persen Batas konsumsi
gula, garam, dan lemak yang disarankan oleh kementrian Kesehatan RI
(Kemenkes) per orang perhari yaitu 50 gram (4sendok makan) gula, 2000
miligram natrium/sodium atau 5 gram garam (1 sendok teh), dan untuk lemak
hanya 67 gram (5 sendok makan minyak). Untuk anak usia 11 tahun- dewasa.
Sedangkan untuk anak-anak sebagai berikut:
a. Usia 1-3 tahun = 2 gram per hari
b. Usia 4-6 tahun = 3 gram per hari
c. Usia 7-10 tahun = 5 gram per hari
Sumber :
Kementrian Kesehatan RI tahun 2013
https://www.deherba.com/dash-diet-untuk-penyakit-hipertensi-dan-diabetes.html

20. Perkenalkan nama saya sri wulandari 131511133048


Tolong dijelaskan tentang Penelitian menggunakan desain penelitian observasi
analitik cross-sectional. Bagaimana cara kita sebagai perawat untuk menerapkan
kepada keluarga dengan penelitian tersebut?
Jawaban:
Saya Nanda Elanti Putri (131511133128) akan mencoba menjawab.

 Definisi studi cross-sectional:

Rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan


dengan cara mengamati status penyakit dan paparan secara bersamaan pada individu –
individu dengan populasi tunggal pada suatu saat atau periode.

Pemilihan Subyek studi cross-sectional: Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung


dengan rumus Snedecor dan Cochran.

Tujuan studi cross-sectional:

1. untuk mengetahui masalah kesehatan masyarakat di suatu wilayah


2. untuk mengetahui prevalensi penyakit tertentu di suatu daerah
3. untuk memperkirakan adanya hubungan sebab akibat bila penyakit itu
mengalami perubahan yang jelas dan tetap
4. untuk memperoleh hipotesis spesifik yang akan diuji melalui penelitian
analitis

Ciri-ciri studi cross-sectional:

1. Semua pengukuran variable (dependen dan indpenden) yang diteliti dilakukan


pada waktu yang sama
2. Tidak ada periode follow-up
3. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu
4. Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding
5. Hubungan sebab-akibat hanya merupakan perkiraan saja
6. Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis
7. Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis

Peran Perawat

Seperti yang telah dipaparkan pada hasil review jurnal kelompok II peran perawat
kepada keluarga sesuai dengan hasil penelitian tersebut adalah memberikan
informasi terkait pola diet yang harus dijalani penderita.

Sumber:

Prihastari, Lisa. 2014. Epidemiologi Umum dan Oral: Perbedaan Case Control,
Studi Cross Sectional dan Studi Cohort. Fakultas Magister Ilmu Kesehatan Gigi
Komunitas, Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Indonesia.

21. Saya Lely Suryawati nim 131511133049 dari kelompok 1 ingin bertanya
Pada review jurnal kelompok anda disebutkan bahwa peran perawat salah satunya
adalah memberikan informasi mengenai cara mengontrol berat badan dengan
pengaturan diet menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pada penderita
DM 2. Tolong dijelaskan metode 3 J yang tepat untuk penderita DM tipe 2 beserta
contohnya.
Jawaban:
Saya Risniawati (131511133070) akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari
Lely.
 Pengaturan diit menggunakan metode 3 J (tepat jumlah, jenis, jadwal) pada penderita
DM 2 yang dimaksud adalah jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan
dikurangi atau ditambah sesuai dengan kebutuhan, jadwal diit harus sesuai dengan
intervalnya yang dibagi menjadi 6 waktu makan, yaitu 3 kali makanan utama dan 3
kali makanan selingan, jenis makanan yang manis harus dihindari karena dapat
meningkatkan jumlah kadar gula darah. Contoh:
1. Tepat jumlah: banyaknya kalori harus dalam ukuran kkal yang dikonsumsi dalam
1 hari sesuai dengan angka basal metabolisme dan nilai IMT untuk mencukupi
kebutuhan kalori tubuh pada pasien DM 2.
2. Tepat jenis: makanan yang harus dihindari adalah makanan manis yang termasuk
pantangan buah golongan A seperti sawo, jeruk, nanas, rambutan, durian, nangka
dan anggur. Jenis dianjurkan adalah makanan manis termasuk buah golongan B
yaitu pepaya, kedondong, salak, pisang (kecuali pisang raja, pisang emas, pisang
tanduk), apel, tomat, semangka.
3. Tepat jadwal: jadwal makan penderita diabetes mellitus harus diikuti sesuai
intervalnya yaitu tiap 3 jam. Diit diabetes melitus diberikan dengan cara 3 kali
makanan utama dan tiga kali makanan selingan dengan jarak antara 3 jam.
Sumber:
Almatsier, Sunita. (2010). Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

22. Saya Dinda Salmahella NIM 131511133039 perwakilan dari kelompok 1 ingin
menanyakan
Bagaimana penanganan pada anak obesitas yang mengalami Diabetes Mellitus tipe 2
pada awal terdiagnosa? jelaskan untuk diet susu dan olahraga untuk pemula sementara
pada anak yang kelebihan BB olahraga belum bisa dilakukan maksimal dikarenakan
anak mudah lelah terkait beban tubuhnya

Jawaban:
Rifki Fauzi Maulida (131511133126) akan mencoba menjawab pertanyaan dari
saudari dinda.

 Untuk penangannya dapat kita lakukan yaitu:

1. Dengan menjaga gaya hidup seperti menjaga pola makan dan jenis makanan,
• Makan makanan yang kaya akan serat seperti roti gandum dan sereal, beras
merah, lentil, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran.
• Pilihlah makanan yang rendah lemak, baik itu lemak jenuh dan trans, misalnya
daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, susu non-lemak atau susu rendah
lemak, yogurt, serta keju.
• Pilihlah makanan yang dibakar, dikukus, atau yang dipanggang dan bukan yang
digoreng. • Pilih makanan yang rendah garam seperti buah-buahan, sayuran, serta
biji-bijian. Jangan menambahkan garam ke dalam makanan.
• Makan sayuran. Misalnya, salad dengan sayuran hijau, wortel, tomat, serta
paprika. Gunakan saus salad rendah lemak .
• Hindari minuman manis seperti soda, minuman isotonik, dan jus buah.
2. Istirahat yang cukup
3. Jenis olahraga yang disarankan adalah minimal yang berintensitas rendah sampai
sedang.Contoh olahraga intensitas rendah, adalah:
• Jalan santai
• Bersepeda santai
• Yoga.
4. Pengobatan medis
5. Melakukan pengecekan gula darah secara rutin
6. Susu mengandung kalsium, magnesium, potasium, dan vitamin D untuk tubuh yang
dibutuhkan untuk banyak fungsi penting. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa
susu bisa membantu menurunkan berat badan. Untuk diet susu, yang yang baik di
konsumsi bagi anak-anak adalah susu yang mengandung rendah lemak. Karena susu
dalam diet sehat bisa menurunkan tekanan darah sebanyak tiga sampai lima poin,
menurut penelitian dari Journal of the American College of Nutrition.

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2015/03/06/090000523/Minuman.Terbaik.Bagi.Penderita.
Diabetes