Anda di halaman 1dari 3

Baik pada situasi ekonomi normal maupun krisis, subsector perkebunan merupakan salah satu

subsector yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Peran penting tersebut mencakup
penyediaan lapangan kerja, devisa, pengentasan kemiskinan, pembangunan pedesaan, dan pelestarian
lingkungan.Sebagai salah satu subsector penting dalam sector pertanian, subsector perkebunan
mempunyai konstribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara berkembang
yang memiliki masalah mendesak seperti penyediaan lapangan kerja, subsector perkebunan mempunyai
konstribusi yang cukup signifikan.
Hingga tahun 2003, jumlah tenaga kerja pada subsektor perkebunan diperkirakan mencapai 17
juta jiwa. Konstribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah tersendiri, karena subsektor
perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil. Subsector perkebunan menjadi
salah satu subsector yang memiliki konstribusi penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin
dari konstribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dimana PDB perkebunan terus meningkat
sekitar Rp 33.7 triliun pada tahun 2000, atau mengalami peningkatan sekitar 11,7% per tahun. Dengan
peningkatan tersebut, konstribusi PDB subsektor perkebunan terhadap PDB sector pertanian adalah
sekitar 16%. Terhadap PDB secara nasional tanpa migas, konstribusi sector perkebunan adalah sekitar
2.9% atau sekitar 2.6% PDB total. Sejalan dengan pertumbuhan PDB, subsektor perkebunan mempunyai
peran strategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi pada 1997,
Di saat kebanyakan sektor ekonomi mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan ketika ekonomi
Indonesia mengalami krisis di tahun 1998. Saat itu, subsektor perkebunan kembali menunjukkan
konstribusinya. Hal ini terlihat dengan laju pertumbuhan subsektor perkebunan selalu diatas laju
pertumbuhan ekonomi secara nasional. Contohnya, pada tahun 2001, ketika laju pertumbuhan ekonomi
secara nasional sekitar 3,4% subsektor perkebunan tumbuh dengan laju sekitar 5,6%. Subsektor
perkebunan merupakan salah satu subsektor andalan dalam menyumbang devisa karena mempuyai
orientasi pasar ekspor. Produk karet, kopi, kakao, teh dan minyak sawit adalah produk – produk yang
lebih dari 50% total produksi ditujukan untuk ekspor.
Terhadap isu global seperti kemiskinan, ketahanan pangan, dan isu lingkungan. Subsektor
perkebunan mempunyai konstribusi yang juga tak dapat diabaikan. Pengembangan berbagai program
perkebunan juga telah terbukti mampu mengurangi jumlah kemiskinan. Studi oleh Susila (2004)
menunjukkan bahwa jumlah orang miskin di wilayah perkebunan kelapa sawit secara umum kurang dari
6% sedangkan secara nasional mencapai 17%. Peran strategis lain juga nampak dalam isu lingkungan
yang merupakan isu global yang secara konsisten gaungnya semakin menguat. Pengembangan komoditas
perkebunan di areal marginal merupakan wujud konstribusi subsektor perkebunan dalam memelihara
lingkungan/konservasi. Contoh, pengembangan tanaman teh di daerah pegunungan dengan kemiringan
tajam dan kondisi lahan kritis, berperan penting dalam konservasi lingkungan. Pegembangan komoditas
karet di lahan kering dan kritis juga memberi konstribusi nyata dalam memelihara bahkan memperbaiki
lingkungan.

Perubahan Struktur Ekonomi


Peran Sektor Pertanian.
Suatu negara, seberapapun kecil wilayahnya seperti Singapura, pasti mempunyai sektor pertanian.
Dengan pembangunan ekonomi, peran sektor pertanian biasanya mengalami penurunan yang dibarengi
dengan makin meningkatnya peran sektor lain, terutama sektor industri. Oleh karena itu, perubahan
struktur ekonomi satu negara biasanya dimulai dengan sektor pertanian kemudian industri dan jasa. Pada
umumnya sektor pertanian memegang peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu
negara, seperti :
1. Menyediakan surplus pangan yang semakin besar kepada penduduk yang kian meningkat. Di
banyak negara, terutama negara berkembang, produksi pangan mendominasi sektor pertanian.
Jika output meningkat karena meningkatnya produktivitas, maka pendapatan para petani
meningkat. Peningkatan laju pertumbuhan penduduk akibat adanya penurunan tingkat kematian
penduduk dan penurunan tingkat kesuburan, akan meningkatkan permintaan akan bahan
makanan. Disamping itu, permintaan akan bahan makanan juga meningkat karena perkembangan
penduduk di kota – kota dan kawasan industri.
2. Meningkatnya permintaan akan produk industri dan dengan demikian mendorong keharusan
diperluasnya sektor sekunder dan tersier. Kenaikan daya beli daerah pedesaan sebagai akibat
surplus pertanian, merupakan perangsang kuat terhadap perkembangan industri. Meningkatnya
daya beli daerah pedesaan sebagai hasil perluasan output dan produktivitas pertanian akan
meningkatkan permintaan akan barang manufaktur dan memperluas ukuran pasar. Ini akan
menyebabkan perluasan di sektor industri.
3. Menyediakan tambahan penghasilan devisa untuk impor barang modal bagi pembangunan
melalui ekspor hasil pertanian. Kebanyakan negara berkembang memfokuskan diri pada beberapa
barang pertanian untuk ekspor. Begitu output dan produktivitas barang – barang meningkat,
ekspor akan naik dan selanjutnya memperbesar penerimaan devisa. Dengan demikian surplus
pertanian mendorong pembentukan modal jika barang – barang modal diimpor dengan
menggunakan devisa.
4. Meningkatnya pendapatan desa untuk dimobilisasi oleh pemerintah (tabungan). Setiap negara
memerlukan sejumlah modal untuk membiayai pembangunan, perluasan infrastruktur,
pengembangan industri dasar dan industri berat. Pada tahap awal, modal dapat disediakan dengan
meningkatkan surplus barang yang bisa dipasarkan sektor pedesaan tanpa mengurangi tingkat
konsumsi penduduk. Meningkatkan penerimaan pertanian barangkali merupakan jalan terbaik
bagi pembentukan modal.
5. Memperbaiki kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kenaikan pendapatan daerah pedesaan akibat
surplus hasil pertanian cenderung memperbaiki kesejahteraan daerah pedesaan. Para petani mulai
mengonsumsi lebih banyak bahan makanan khususnya yang mengandung nutrisi lebih tinggi,
membangun rumah yang lebih bagus dengan perabotan modern seperti listrik dan radio serta
menerima pelayanan jasa seperti sekolah, pusat kesehatan, irigasi dan perbankan. Dengan
demikian surplus hasil pertanian yang semakin meningkat dapat meningkatkan standar kehidupan
rakyat desa.
Perubahan Struktur
Perubahan struktur suatu perekonimian biasanya ditandai oleh besarnya sumbangan masing –
masing sektor penghasilan nasional atau terhadap PDB. Jika dalam suatu perekonimian sumbangan sektor
pertanian lebih dominan, sekitar 50 – 60% maka negara yang bersangkutan termasuk negara agraris.
Sedangkan jika sumbangan sektor industri yang menonjol, maka negara yang bersangkutan disebut
negara industri dan jika sektor yang paling menonjol adalah sektor jasa, maka negaranya disebut negara
jasa. Jadi perubahan struktur ekonomi yang umum adalah dari negara agraris – industri – jasa. Namun
pada umumnya cukup dari agraris ke industri saja, tidak perlu ke negara jasa. Tetapi karna terdapat negara
yang tidak perlu industrialisasi terlebih dahulu, melainkan lebih menonjolkan sektor jasa maka perubahan
struktur negara tersebut adalah dari agraris ke jasa seperti halnya singapura.